Anda di halaman 1dari 4

Kultur rotifera skala massal

1. Persiapan Wadah/Bak
Dalam melakukan kultur rotifera skala massal pertama-tama dilakukan
persiapan wadah/bak. Bak harus dibersihkan dari kotoran, lumut-lumut
yang menempel pada dinding bak maupun dasar bak, dan bibit penyakit
agar dalam pengkulturan rotifera berhasil dan memperoleh hasil yang
baik.
Bak dibersihkan dengan menggunakan sikat dan detergen. Bak
terlebih dahulu di bilas dengan air kemudian di sikat dan di beri detergen
agar kotoran, lumut-lumut terlepas dari dinding bak. Detergen juga dapat
berfungsi sebagai desinfektan untuk membunuh bibit penyakit yang
terdapat pada bak. Setelah bak disikat kemudian dibilas dengan air hingga
bersih hingga busa detergen tersebut hilang. Pipa paralon dan selang
aerasi juga harus di cuci hingga bersih.
Bak harus dicek apakah terdapat kebocoran, apabila bak tersebut
bocor segera diperbaiki dan pengecekan paralon dan selang aerasi agar
dalam proses pengkulturan rotifera tidak terjadi kendala.
Setelah dibersihkan bak dijemur dibawah sinar matahari 2-3 hari.
Setelah itu baru dilakukan pengisian air.
2. Pengisian air
Air yang di isi adalah air yang mengandung phytoplankton jenis
nannochloropsis (chlorella sp). Nannochloropsis berfungsi sebagai pakan
rotifera dan sebagai penyeimbang kualitas air. Plankton tersebut berasal
dari bak kultur phytoplankton skala massal yang berada sekitar 100
meter dari bak kultur rotifera. Air tersebut dialirkan dengan menggunakan
pompa submersible dan kemudian ditampung pada bak penampungan
yang telah tersedia. Setelah ditampung air tersebut kemudian di alirkan
pada bak-bak kultur.
Air yang mengandung nannochloropsis di isi setengah dari bak 50
cm dan kemudian diisi dengan air laut biasa yang telah disaring dengan
menggunakan saringan UV (ultraviolet). Air laut tersebut di isi hingga
batas yaitu 100 cm. Air yang di isi dialirkan dengan pipa paralon 3 inch.
3. Pemberian bibit

Bibit rotifera yang diberikan berasal dari bak-bak yang lain yang telah
dipanen dan kemudian ditebar pada bak tersebut. Bibit di tebar secara
merata dan setelah itu aerasi dihidupkan dan diatur agar tidak berlebihan.
Apabila bibit tidak tersedia, bibit dapat diambil dari laboraturium
zooplankton.
Setelah di kultur rotifera dapat di panen setelah 24 jam.
4. Kualitas air
Dalam membudidayakan rotifer kualitas air sangat penting untuk
diperhatikan agar rotifer berkembang dengan baik. Air yang dipasok ke
dalam wadah pemeliharaan harus disucihamakan (steril) dengan cara
menyaring air menggunakan saringan yang telah di setting sedemikian
rupa dan menggunakan sinar UV. Dan pada pipa pemasukaan diberi
saringan agar air yang masuk kedalam wadah benar-benar steril.
Parameter kualitas air seperti suhu, DO 2 (Desolved Oksigen), pH,
salinitas harus sesuai dengan dengan kebutuhan rotifera. Untuk lebih jelas
kisaran parameter kualitas air dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini:
Tabel 1. Kisaran Parameter Kualitas Air
Parameter
Suhu
DO2
pH
Salinitas

Kisaran
27o - 28o C
4,5 6,2 ppm
7 7,5
31 33 ppt

5. Pemberian pakan
Pakan yang diberikan akan berpengaruh terhadap rotifer yang di
pelihara. Apabila kualitas pakan baik yang mengandung nutrisi yang cukup
maka rotifera akan tumbuh dengan baik, sebaliknya apabila kualitas pakan
yang di berikan kurang baik maka perkembangan rotifera menurun.
Pakan yang diberikan untuk rotifera yaitu phytoplankton jenis
nannochloropsis dan tetraselmis chuii. Setiap jenis pakan memiliki
kelbihan dan kekurangan masing-masing. Diantara kedua jenis pakan
tersebut, nannochlopsis merupakan pakan yang baik untuk rotifera karena
selama diberikan nannochloropsis rotifera lebih padat dibandingkan
diberikan pakan jenis tetraselmis

Cara pemberian pakan dialirkan dengan menggunakan pipa


berukuran 2 inch

yang sudah dirangkai untuk memudahkan dalam

pemberiannya. Untuk lebih jelas pemberian pakan dapat dilihat pada


gambar

dibawah

ini:

Gambar 1. Pemberian pakan


6. Aerasi
Aerasi pada pemeliharaan rotifera menggunakan sistem seri
dengan menggunakan pipa inch yang diletakkan pada dasar bak.
Pemberian aerasi seperti ini mudah dan praktis.
Aerasi di setting sesuai dengan kebutuhan tidak berlebihan. Untuk
lebih jelas pemberian aerasi dapat dilihat pada gambar 2 dibawah ini:

Gambar 2. Pemberian aerasi


7. Panen

Proses pemanenan rotifera dilakukan pada pagi hari dan rotifera akan
digunakan sebagai pakan larva ikan seperti kerapu bebek, kerapu macan,
kakap putih, dan lain-lain.
Pada proses pemanenan pertama aerasi dimatikan kemudian siapkan alat
panen dan tempat penampungan, selanjutnya air dialirkan dengan
menggunakan pipa. Dari pipa dialirkan ke saringan berukuran 35 mikron
dan pada saringan tersebut rotifera akan tersaring, dari saringan tersebut
rotifera diambil dengan gayung dan di saring lagi dengan menggunakan
saringan santan dan saringan kopepoda agar rotifera yang dihasilkan
murni rotifera.
Setelah dipanen rotifera dibagikan pada hatchery untuk pakan larva
berumur D3 D23. Untuk lebih jelas proses panen dapat dilihat pada
gambar 3 dibawah ini:

Gambar 3. Panen rotifera