Anda di halaman 1dari 150

ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PADA NY.

A UMUR 19 TAHUN P1 A0 3 HARI


POST PARTUM DENGAN BENDUNGAN ASI DI BPS IRMAYANI AMD.KEB
BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015

KARYA TULIS ILMIAH

NAMA : HILDA PEBRINA RAMBE


NIM

: 201207023

AKADEMI KEBIDANAN ADILA


BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015

AKADEMI KEBIDANAN ADILA

ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PADA NY. A UMUR 19 TAHUN P1A0 3 HARI
POST PARTUM DENGAN BENDUNGAN ASI DI BPS IRMAYANI AMD.KEB
BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015

KARYA TULIS ILMIAH


Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Kebidanan

HILDA PEBRINA RAMBE


201207023

AKADEMI KEBIDANAN ADILA


BANDAR LAMPUNG
2015

LEMBAR PENGESAHAN

Diterima dan disahkan oleh Tim Penguji Ujian Akhir Program Pendidikan
Diploma III Kebidanan Adila Pada :

Hari

: Kamis

Tanggal

: 09 Juli 2015

Penguji I

Penguji II

Silvia Anggraini S.ST.M.Kes.

Margareta Rinjani S.ST


NIK. 2015021057

Direktur Akademi Kebidanan Adila


Bandar Lampung

Dr.Wazni Adila,MPH
NIK.2011041008

Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Pada Ny. A Umur 19 Tahun


P1A0 3 Hari Post Pastum Dengan Bendungan ASI
di BPS Irmayani Amd.Keb Bandar Lampung
Tahun 2015
Hilda Pebrina Rambe
Penguji 1 : Silvia Anggraini S.ST. M.Kes , Penguji 2 : Margareta Rinjani S.ST.
INTISARI
Cakupan bayi mendapatkan ASI Eksklusif di provinsi lampung tahun 2012 sebanyak 29,24%
dimana angka ini masih di bawah target yang di harapkan yaitu 60%. Pada permulaan nifas,
apabila bayi belum menyusu dengan baik,atau kemudian apabila kelenjar tidak dikosongkan
dengan sempurna terjadi bendungan asi. Bendungan disebabkan oleh pengeluaran air susu
yang tidak lancar, karena bayi tidak cukup untuk menyusui, produksi meningkat, terlambat
menyusukan, adanya pembantasan waktu menyusu. Tujuan penelitian ini adalah penulis
dapat melakukan Asuhan Kebidanan pada ibu nifas terhadap Ny.A umur 19 tahun P1A0 3 hari
post partum dengan bendungan ASI di BPS Irmayani Amd.Keb. Bandar Lampung tahun
2015.
Metodelogi penelitian dalam penyusunan studi kasus ini menggunakan metode penelitian
deskritif yaitu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat
gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif. Subjek penelitian terhadap ibu
nifas dengan bendungan ASI .Objek penelitian ini yaitu Ny. A umur 19 tahun,P1A0 3 hari
post partum, tempat di BPS Irmayani Amd.Keb.Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah
penulis telah melakukan asuhan sesuai 7 langkah varney, dan masalah yang di alami Ny. A
telah teratasi.

Kata Kunci

: Bendungan ASI

Kepustakaan

: 20 Referensi

MOTTO

UNTUK MENDAPATKAN SEBUAH KESUKSESAN


KEBERANIAN HARUS LEBIH BESAR DARIPADA
KETAKUTANMU......

PERSEMBAHAN
Bismilahirohmanirohim Allhamdulillahirabilallamin ku ucapkan
puji syukur kehadirat Tuhan YME yang merupakan kekuatan
tertinggi dalam hidup ku yang tidak pernah berhenti mencurahkan
Anugerah-Nya dalam setiap untaian langkah perjalanan hidup ku
sampai saat ini.
Untuk kedua orang tuaku, ayah Huzzah Rambe S.H. dan mama
Masjaleha Siregar S.Pd. adalah motivator utama dalam hidup ku,
setiap untaian deraian peluh keringat kalian adalah merupakan
gambaran usaha untuk mengahantarkan ku pada gerbang
kesuksesan, karya tulis ilmiah ini aku persembahkan untuk kalian
ayah dan mama ku tercinta
Untu adik-adik ku Abdul Malik Rambe dan Zahra Rosalina Rambe
yang selalu membuat hari-hari ku indah dan selalu menyemangati
ku ,terimakasih untuk doa dan dukungan kalian yang tiada pernah
habis untuk ku.
Untuk pembimbingku terimakasih atas kesediaannya untuk
meluangkan waktu membimbing dan berbagi ilmu serta berdiskusi,
banyak hal yang bisa saya ambil dari ini semua, terimakasih ibu
Untuk teman-teman yang tidak dapat ku sebutkan satu persatu
namanya disini khususnya angkatan ke tujuh terimakasih untuk
kebersamaan yang telah kita lewati selama tiga tahun yang akan
terukir indah menjadi sebuah kenangan dikemudian hari nanti,
semoga kita bisa selalu menjadi pribadi yang lebih baik untuk
kedepannya amin.
Untuk almamaterku tercinta Akademi Kebidanan Adila Bandar
lampung tempatku menuntut ilmu .

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat TuhanYang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah yang berjudul : Asuhan
Kebidanan Pada Ibu Nifas Terhadap Ny.A Umur 19 Tahun P 1 A0 dengan
Bendungan Asi di BPS Irmayani Amd.Keb. Bandar Lampung Tahun 2015
Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dr.Wasni Adila MPH, selaku direktur Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung
2. Ibu Silvia Anggraini S.ST. M.Kes dan ibu Margareta Rinjani S.ST selaku penguji karya
tulis ilmiah.
3. Ibu Irmayani Amd.Keb selaku tempat saya mengambil kasus di lahan praktek.
4. Serta staf dosen yang membantu saya dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini.
Penulis menyadari dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak. Akhirnya penulis
berharap semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca.

Bandar Lampung,

Penulis.

2015

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..........................................................................

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................

ii

INTISARI...

iii

CURICULUM VITAE .......................................................................

iv

MOTTO ..............................................................................................

PERSEMBAHAN. .

vi

KATA PENGANTAR ........................................................................

vii

DAFTAR ISI ......................................................................................

viii

DAFTAR TABEL .....

ix

DAFTAR LAMPIRAN .

DAFTAR GAMBAR..................................................... .......................

xi

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .........................................................................

1.2 Rumusan Masalah ....................................................................

1.3 Tujuan ......................................................................................

1.4 Ruang Lingkup .........................................................................

1.5 Manfaat Penelitian ....................................................................

1.6 Metodelogi Dan Tehnik Memperoleh Data ..............................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Tinjauan Teori Medis ...............................................................

2.2 Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan ............................................

47

2.3 Landasan Hukum Kewenangan Bidan................................... .....

74

BAB III TINJAUAN KASUS


3.1. Pengkajian............................................................................ .......

78

3.2 .Matrik.............................................................................. ............

81

BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Pengkajian ................................................................................

91

4.2 Interpretasi Data Dasar .............................................................

98

4.3 Identifikasi Diagnosa/ Masalah Potensial ..................................

127

4.4 Tindakan Segera .......................................................................

128

4.5 Perencanaan .............................................................................

128

4.6 Pelaksanaan ..............................................................................

132

4.7 Evaluasi ....................................................................................

142

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ..............................................................................

147

5.2 Saran .......................................................................................

148

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Program Masa Nifas........................................................................10


Tabel 2.2 Tinggi Fundus Uteri Dan Berat Uterus ........................................... 13
Tabel 3.1 Matriks. ......................................................................................... 91

DAFTAR LAMPIRAN

1. Surat Izin Penelitian


2. Lembar Konsul
3. Dokumentasi
4. SAP dan Leaflet

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Anatomi Payudara ...................................................................... 36


Gambar 2.2 Bentuk-bentuk puting susu ..........................................................39

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang
Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam
organik yang disekresi oleh kedua kelenjar payudara ibu dan merupakan makanan terbaik
untuk bayi (Bahiyatun, 2009; h. 29).

Kandungan gizi dari ASI sangat khusus dan sempurna (Dewi, 2011; h. 19) ASI eksklusif
adalah pemberian ASI saja pada bayi sampai usia 6 bulan tanpa tambahan cairan ataupun
makanan lain seperti susu formula, jeruk, airteh dan airputih, serta tanpa tambahan
makanan padat seperti pisang, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan nasi tim. Setelah 6
bulan baru mulai diberikan makanan pendamping ASI (MPASI). ASI dapat diberikan
sampai anak berusia 2 tahun atau lebih (Ambarwati, 2010; h. 30).

Menurut Word Health Organization (WHO), secara gobal pada tahun 2012 hanya 38%
bayi di dunia yang mendapatkan ASI eksklusif hingga 6 bulan pertama seperti yang
dianjurkan (UNICEF, 2014).
Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, cakupan pemberian ASI di Indonesia hanya
30.2% Angka ini berada jauh dibawah target kementrian kesehatan yaitu cakupan ASI
eksklusif bagi bayi 0- 6 per 2014 sebesar 80%.
(asipasti.info, 2014).

Pemberian air susu pada bayi usia 0-1 tahun mempunyai arti sangat penting terutama
menyangkut pemenuhan zat gizi dan zat lain pembentuk kekebalan tubuh terhadap
penyakit.pemberian ASI Eksklusif di usia 0-6 bulan di pandang sangat strategis,karena
pada kondisi tersebut kondisi bayi masih sangat labil dan rentan terhadap berbagai
penyakit.Cakupan bayi mendapatkan ASI Eksklusif di provinsi lampung tahun 2012
sebanyak 29,24% dimana angka ini masih di bawah target yang di harapkan yaitu 60%.
(Profil Dinkes provinsi Lampung, 2012).
Pada tahun 2012 terjadi peningkatan pencapaian ASI eksklusif di kota Bandar lampung
yaitu sebesar yaitu 67,93% namun di tahun 2013 sampai bulan Agustus pencapaian
pemberian Asi eksklusif mengalami penurunan yaitu hanya 64,55% .Angka ini bila di
bandingkan dengan target Nasional masih di bawah target yang di inginkan (80%).(Dinas
kesehatan.Kota Bandar lampung, 2013)

Pada permulaan nifas, apabila bayi belum menyusu dengan baik,atau kemudian apabila
kelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna terjadi bendungan asi (Sulistyawati, 2009;
h. 190). Bendungan Air Susu adalah terjadinya pembengkakan pada payudara karena
peningkatan aliran vena dan limfe sehingga menyebabkan bendungan ASI dan rasa nyeri
disertai kenaikan suhu badan (Rukiyah, 2010; h. 345). Bendungan air susu dapat terjadi
pada hari ke- 2 atau ke-3 ketika payudara telah memproduksi air susu. Bendungan
disebabkan oleh pengeluaran air susu yang tidak lancar, karena bayi tidak cukup untuk
menyusui, produksi meningkat, terlambat menyusukan, hubungan dengan bayi(bounding)
kurang baik, dan dapat pula karena adanya pembantasan waktu menyusu. Gejala
bendungan air susu adalah terjadinya pembengkakan pada payudara bilateral dan secara
palpasi teraba keras, kadang terasa nyeri serta seringkali disertai peningkatan suhu badan
ibu, tetapi tidak ada tanda-tanda kemerahan dan demam.(Prawirohardjo, 2010; hal 652)

Faktor-faktor penyebab bendungan ASI adalah pengosongan mamae yang tidak


sempurna, faktor hisapan bayi yang tidak aktif, faktor menyusui bayi yang tidak benar,
puting susu terbenam, puting susu terlalu panjang (Rukiyah, 2010; h. 346).

Masalah Bendungan ASI jika tidak ditangani dapat berpotensi terjadinya mastitis
(Rukiyah, 2010; h. 349).

Berdasarkan hasil studi pendahuluan di BPS Irmayani, Amd.Keb. Bandar Lampung pada
tanggal 8 April 2015 didapatkan 1 ibu nifas yang mengalami bendungan ASI karena itu
penulis tertarik mengambil judul Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Ny. A umur 19 tahun
P1A0 3 Hari Post Partum dengan Bendungan ASIuntuk meminimalkan Kurangnya
pemberian ASI eksklusif pada bayi yang diakibatkan oleh bendungan ASI.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah asuhan kebidanan pada ibu nifas pada Ny.A 19 tahun P1 A0 3 hari Post
Partum dengan Bendungan ASI di BPS Irmayani Amd.Keb. Bandar Lampung Tahun
2015?

1.3 Tujuan penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Diperolehnya pengalaman nyata dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada
Ny.A 19 tahun P1A0 3 hari Post Partum dengan bendungan ASI di BPS. Irmayani
Amd.Keb. Bandar Lampung dengan menggunakan pendekatan manajemen
kebidanan.

1.3.2 Tujuan Khusus


a. Diharapkan penulis dapat melakukan pengkajian pada ibu nifas khususnya
pada Ny.A usia 19 tahun P1 A0 3 hari Post Partum dengan bendungan ASI di
BPS. Irmayani Amd.Keb Bandar Lampung
b. Diharapkan penulis dapat menentukan interpretasi data pada ibu nifas
khususnya pada Ny.A 19 tahun P1 A0 3 hari Post Partum dengan bendungan
ASI di BPS. Irmayani , Amd.Keb. Bandar Lampung.
c. Diharapkan

penulis dapat menentukan diagnose potensial pada ibu nifas

khususnya pada Ny.A. 19 tahun P1 A0 3 hari Post Partum dengan bendungan


ASI di BPS. Irmayani, Amd.Keb. Bandar Lampung
d. Diharapkan penulis dapat melakukan tindakan segera pada ibu nifas
khususnya pada Ny. A 19 tahun P1 A0 3 hari Post Partum dengan bendungan
ASI di BPS. Irmayani , Amd.Keb. Bandar Lampung
e. Diharapkan penulis dapat menentukan rencana asuhan pada ibu nifas
khususnya pada Ny.A 19 tahunP1 A0 3 hari Post Partum dengan bendungan
ASI di BPS. Irmayani, Amd.Keb. Bandar Lampung
f. Diharapkan penulis dapat melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu nifas
khususnya pada Ny.A usia 19 tahun P1 A0 3 hari Post Partum dengan
bendungan ASI di BPS. Irmayani Amd.Keb. Bandar Lampung
g. Diharapkan penulis dapat melakukan evaluasi asuhan kebidanan pada ibu
nifas khususnya pada Ny.A usia 19 tahunP1 A0 3 hari Post Partum dengan
bendungan ASI di BPS. Irmayani Amd.Keb. Bandar Lampung

1.4 Ruang lingkup


1. Sasaran
Subyek yang diambil dalam Karya Tulis Ilmiah ini ialah satu orang ibu

nifas yaitu Ny.A 19 tahun P1A0 3 hari Post Partum dengan bendungan ASI
di BPS.Irmayani Amd.Keb. Bandar Lampung
2. Tempat
Dalam Karya Tulis Ilmiah ini penulis mengambil kasus di BPS Irmayani, Amd.Keb.
Bandar Lampung
3. Waktu
Pelaksanaan asuhan kebidanan dalam Karya Tulis Ilmiah dilaksanakan pada tanggal 8
April 2015

1.5 Manfaat Penelitian


1. Bagi institusi pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber bacaan bagi mahasiswi
Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung dalam menerapkan ilmu dan sebagai
acuan penelitian berikutnya.
2. Bagi lahan praktek
Sebagai bahan masukkan dan bahan informasi untuk meningkatkan upaya pencegahan
dan penanganan pada

kasus Bendungan ASI pada ibu nifas di BPS Irmayani

Amd.Keb Bandar Lampung.


3. Bagi masyarakat
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang penatalaksanaan
pada ibu dengan bendungan ASI.
4. Bagi Penulis berikutnya
Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang ibu nifas
dengan Bendungan ASI dan sebagai bahan perbandingan antara teori yang diperoleh
dibangku kuliah dengan dilahan praktek.

1.6 Metodologi dan Teknik Memperoleh Data


Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini, menggunakan metode penelitian deskriptif.
Metode penulisan deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan untuk
mendeskripsikan atau menggambarkan suatu fenomena yang terjadi di dalam masyarakat.
Metode penelitian deskriptif digunakan untuk menggambarkan atau memotret masalah
kesehatan serta yang terkait dengan kesehatan sekelompok penduduk atau orang yang tinggal
dalam komunitas tertentu (Notoatmodjo, 2012; h. 35-37).
1. Teknik memperoleh data
Untuk memperoleh data tehnik yang digunakan sebagai berikut:
a. Data primer
1) Wawancara
Wawancara adalah suatu metode yang digunakan untuk menggumpulkan data,
dimana peneliti mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari
seseorang sasaran penelitian (responden), atau bercakap-cakap berhadapan muka
dengan muka dengan orang tersebut (face to face) (Notoatmodjo, 2012; h. 139).
2) Pengkajian Fisik
Data yang di peroleh dari pemeriksaan fisik berupa data objektif, data ini di
dapatkan melalui teknik inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi (Tambunan,
2011; h. 3)
b.

Data Sekunder
Sumber informasi yang bukan dari tangan pertama, dan yang bukan mempunyai
wewenang dan tanggung jawab terhadap informasi atau data tersebut.
(Notoatmodjo, 2005; h. 63)

1. Studi pustaka
Bahan-bahan pustaka merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang
latar belakang teoritis dari suatu penelitian. Hasil penelitian yang baik perlu
di tunjang dengan bahan perpustakaan yang memadai dan yang baik. Bahanbahan perpustakaan yang dapat di gunakan untuk menunjang latar belakang
masalah, kerangka teoritis, dan hipotesi penelitian adalah buku yang di
terbitkan, berbagai jenis penerbitan berkala seperi majalah, jurnal, bulletin,
brosur, atau sebagainya, berbagai harian atau surat kabar, karangan atau
makalah ilmiah yang tidak di terbitkan seperti makalah, skripsi, tesis, dan di
sertai laporan-laporan penelitian dan instansi. (Notoatmodjo, 2005; h. 63-65)
2. Studi dokumentasi
Semua bentuk informasi yang berhubungan dengan dokumen, baik dokumendokumen resmi maupun tidak resmi seperti laporan, atau catatan-catatan di
dalam kartu klinik (Notoatmodjo, 2005; h. 62-63)

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 TINJAUAN TEORI MEDIS


2.2.1 NIFAS
2.2.1.1 Pengertian
Masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan semula sebelum Masa nifas adalah
masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat alat
kandungan kembali seperti kehamil (Dewi, 2011; h.1).
adaan semula (sebelum hamil).Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6
minggu (Sulistyawati, 2009; h.1).
Masa nifas (puerpurium) adalah masa pulih kembali ,mulai persalinan
selesai hingga alat alat kandungan kembali seperti prahamil. Lama masa
nifas ini, yaitu 6-8 minggu.
(Bahiyatun, 2009; h.2)
2.2.1.2 Tujuan Asuhan Masa Nifas
Asuhan yang diberikan kepada ibu nifas bertujuan untuk:
a. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan psikologis bagi ibu dan bayi..
b. Pencegahan, diagnose dini, dan pengobatan komplikasi pada ibu.
c. Merujuk ibu ke asuhan tenaga ahli jika perlu.
d. Mendukung dan memperkuat keyakinan ibu serta memungkinkan ibu
untuk mampu melaksanakan perannya dalam situasi keluarga dan
9

budaya yang khusus.

e. Imunisasi ibu terhadap tetanus.


f. Mendorong pelaksanaan metode yang sehat tentang pemberian makan
anak, serta peningkatan pengembangan hubungan yang baik antara ibu
dan anak.
(Sulistyawati, 2009; h. 2-3).

2.2.1.3 Tahapan Masa Nifas


Masa nifas dibagi menjadi 3 tahap, yaitu puerperium dini, puerpurium
intermadial, danremote puerperium. Dengan penjelasan sebagai berikut:
a. Puerperium dini
Pueperium dini merupakan masa kepulihan, yang dalam hal ini ibu
tetap diperbolehkan berdiri dan berjalan- jalan. Dalam agam islam,
dianggap bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
b. Puerperium intermedial
Puerperium intermedial merupakan masa kepulihan menyeluruh alatalat genetalia, yang lamanya sekitar 6-8 minggu.
c. Remote puerperium
Remote puerperium merupakan masa yang diperlukan untuk pulih dan
sehat sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu persalinan
mempunyai komplikasi.Waktu untuk sehat sempurna dapat berlansung
selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun
(Sulistyawati, 2009; h. 5).

2.2.1.4 Kebijakan Program Nasional Masa Nifas


Table 2.1 Program Masa Nifas
Kunjungan

Waktu

Tujuan

6-8
jam
setelah
persalinan

6
hari
setelah
persalinan

2
minggu
setelah
prsalinan
6
minggu
setelah
persalinan

1. Pencegah perdarahan masa nifas karena atonia


uteri.
2. Mendeteksi dan merawat penyebab lain
prdarahan;rujuk jika perdarahan berlanjut.
3. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu
anggota keluarga mengenai bagaimana cara
mencegah perdarahan masa nifas karena atonia
uteri.
4. Pemberian ASI awal
5. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru
lahir.
6. Menjaga bayi agar tetap sehat dengan cara
mencegah hypotermi
7. Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia
harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir
selama 2 jam pertama setelah klahiran atau
sampai ibu dan bayinya dalam keadaan stabil.
1. Memastikan
involusi
uterus
berjalan
normal:uterus berkontraksi, funus dibawah
umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak
ada bau.
2. Menilai adanya tanda-tanda demam,infeks, atau
perdarahan abnormal.
3. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan,
cairan, dan istirahat.
4. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak
mmperlihatkan tanda tanda penyulit.
5. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan
pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat,
dan merawat bayi sehari-hari.
Sama seperti diatas

1. Menanyakan pada ibu tentang kesulitan-kesulitan


yang ia atau bayinya alami.
2. Memberikan konseling Kb secara dini

(Sulistyawati, 2009; h. 6-7)


2.2.1.5 Perubahan Fisiologis Masa Nifas
a. Perubahan sistem reproduksi
a) Uterus
1. Pengerutan rahim (involusi)

Involusi merupakan suatu proses kembalinya uterus pada kondisi


sebelum hamil. Dengan involusi uterus ini, lapisan luar dari
desidua

yang

mengelilingi situs plasenta akan menjadi

neurotic(layu/ mati). Perubahan ini dapat diketahui dengan


melakukan pemeriksaan palpasi untuk meraba TFU-nya. Pada
saat bayi lahir, fundus uteri setinggi pusat dengan

berat 1000

gram.
2. Pada akhir kala III, TFU teraba 2 jari dibawah pusat.
3. Pada 1 minggu post partum, TFU teraba pertengahan pusat
simpisis dengan berat 500 gram.
4. Pada 2 minggu post partum,TFU teraba di atas simpisis dengan
berat 350 gram.
5. Pada 6 minggu post partum, fundus uteri mengecil(tak teraba)
dengan berat 50 gram.

Proses involusi uterus adalah sebagai berikut :


1. Autolysis
Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi
didalam otot uteri. Enzim proteolitik akan memendekkan
jaringan otot yang telah sempat mengendur hingga 10 kali
panjangnya dari semula dan lima kali lebar dari semula selama
kehamilan. Sitoplasma sel yang berlebihan akan tercerna
sendiri sehingga tertinggal jaringan fibro elastis dalam jumlah
renik sebagai bukti kehamilan.
2. Atrofi jaringan

Jaringan yang berpoliferasi dengan adanya estrogen dalam


jumlah besar, kemudian mengalami atrofi sebagai reaksi
terhadap penghentian produksi estrogen yang menyertai
pelepasan plasenta. Selain perubahan atrofi pada otot otot
uterus, lapisan desidua akan mengalami atrofi dan terlepas
dengan meninggalkan lapisan basal yang akan beregenerasi
menjadi endometrium yang baru.
3. Efek oksitosin (kontraksi)
Hormon oksitosin yang terlepas dari kelenjar hipofisis
memperkuat dan mengatur kontraksi uterus,

mengompresi

pembuluh darah dan membantu proses hemostatis. Kontraksi


dan retraksi otot uterus akan mengurangi suplai darah ke uterus.
Proses ini akan membantu mengurangi suplai darah keuterus.
(Sulistyawati,2009;h.73-75)
Tabel 2.2 Involusi Uterus
Involusi
Bayi lahir
Uri lahir
Satu minggu
Dua minggu
Enam minggu
Delapan
minggu

Tinggi
Fundus
Uteri
Setinggi pusat
2 jari dibawah
pusat
Pertengahan pusat
dan simpisis
Tak teraba diatas
simpisis
Bertambah kecil
Sebesar normal

Berat
Uterus (gr)
1000
750

Keadaan Serviks

500

Beberapa hari setelah


postpartum
dapat
dilalui 2 jari.
Akhir minggu pertama
dapat dimasuki 1 jari.

350
50-60
30

Lembek

(Dewi, 2011; h. 57)


Involusi uteri dari luar dapat diamati yaitu dengan memeriksa
fundus uteri dengan cara:

1) Segera setelah persalinan, tinggi fundus uteri 2 cm dibawah


pusat, 12 jam kemudian kembali 1 cm diatas pusat dan
menurun kira- kira 1 cm setiap hari.
2) Pada hari kedua setelah persalinan tinggi fundus uteri 1 cm
dibawah pusat. Pada hari ketiga sampai hari keempat tinggi
fundus uteri 2 cm dibawah pusat. Pada hari kelima sampai
hari ketujuh tinggi fundus uteri pertengahan antara pusat dan
simpisis. Pada hari kesepuluh tinggi fundus uteri tidak teraba
(Ambarwati, 2010; h.77)
4. Lokhea
Lokhea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas.Lokhea
mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dari
dalam uterus.Lokhea mempunyai reaksi basa atau alkalis yang
dapat membuat organisme berkembang lebih cepat dari pada
kondisi asam yang ada pada vagina normal. Lokhea berbau
amis atau anyir dengan volume yang berbeda- beda pada setiap
wanita. Lokhea yang berbau dan tidak sedap menandakan
adanya infeksi. Lokhea mempunyai perubahan warna dan
volume karena adanya proses involusi (Sulistyawati, 2009; h.
76).
Lokhea dibedakan menjadi 6 jenis berdasarkan warna dan waktu
keluarnya :
1) Lokhea rubra / merah
Lokhea ini keluar pada hari pertama sampai hari ke-4 masa post
partum. Cairan yang keluar berwarna merah karena terisi darah

segar , jaringan sisa-sisa plasenta , dinding rahim , lemak bayi ,


lanugo (rambut bayi) , dan mekonium.
2) Lokhea sanguilenta
Lokhea ini berwarna merah kecokelatan dan berlendir, serta
berlangsung, dari hari keempat dan hari ketujuh post partum.
3) Lokhea serosa
Lokhea ini berwarna kuning kecoklatan karena mengandung
serum , leukosit , dan robekan atau laserasi plasenta.Keluar
pada hari ke-7 sampai hari ke-14.
4) Lokhea alba
Lokhea ini mengandung leukosit, sel desidua,sel epitel selaput
landir servik, dan serabut jaringan yang mati. Lokhea alba ini
dapat berlangsung selama 2-6 minggu postpartum.
5) Lokhea Purulenta
Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah dan berbau busuk.
6) Lokheastatis
Pengeluaran lokhea yang tidak lancer.
(Sulistyawati, 2009; h. 76-77)
b. Perubahan di serviks dan Segmen Bawah Uterus
Setelah kelahiran, miometrium segmen bawah uterus yang sangat
menipis berkontraksi dan bertraksi tetapi tidak sekuat korpus
uteri.Segera setelah melahirkan, serviks menjadi lembek, kendor,
terkulai dan berbentuk seperti corong. Hal ini disebabkan korpus uteri
berkontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi sehingga perbatasan
antara korpus dan serviks uteri berbentuk cincin

(Rukiyah, 201; h. 60-61).

c.

Vulva dan vagina


Vulva dan vagina mengalami penekanan, serta peregangan yang
sangat besar selama proses melahirkan bayi. Dalam beberapa hari
pertama sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap dalam keadaan
kendur. Setelah 3 minggu, vulva dan vagina kembali keadaan tidak
hamil dan rugae dalam vagina.

d. Perenium
Segera setelah melahirkan, perenium menjadi kendur karena
sebelumnya terenggang oleh tekanan bayi yang bergerak maju. Pada
post natal hari kelima, perineum sudah mendapatkan kembali
sebagian tonus-nya, sekalipun tetap kendur daripada keadaan sebelum
hamil (Sulistyawati, 2009; h.77-78)
e.

Perubahan Sistem Pencernaan


Biasanya, ibu akan mengalami konstipasi setelah persalinan hal ini
disebabkan karena pada waktu persalinan, alat pencernaan mengalami
tekanan yang menyebabkan kolon menjadikosong, pengeluaran cairan
berlebih pada waktu persalinan,kurangnya asupan cairan dan
makanan, serta kurangnya aktifitas tubuh.Supaya buang air besar
kembali normal, dapat diatasi diet tinggi serat, peningkatan asupan
cairan, dan ambulasi awal. Jika tidak berhasil, dalam 2-3 hari dapat
diberikan obat laksansia.Selain konstipasi, ibu juga mengalami
anoreksia akibat penurunan dari sekresi kelenjar pencernaan dan

mempengaruhi perubahan sekresi, serta penurunan kebutuhan kalori


yang menyebabkan kurang nafsu makan.

f.

Perubahan Sistem Perkemihan


Setelah proses persalinan berlangsung, biasanya ibu akan

sulit

untuk buang air kecil dalam 24 jam pertama. Kemungkinan penyebab


dari keadaan ini adalah terdapat spasme sfinkter dan edema leher
kandung kemih sesudah bagian ini mengalami kompresi (tekanan)
antara

kepala

janin

dan

tulang

pubis

selama

persalinan

berlansung.Urine dalam jumlah besar akan dihasilkan dalam 12-36


jam postpartum. Kadar hormon estrogen yang bersifat menahan air
akan mengalami penurunan yang mencolok. Keadaan tersebut disebut
deuresis. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam 6
minggu.
Dinding

kandung

kemih

hyperemia,kadang-kadang

odem

memperlihatkan
trigonum

yang

odem

dan

menimbulkan

aloktasi dari uretra sehingga retensio urine.Kandung kemih dalam


masa nifas menjadi kurang sensitif dan kapasitas bertambah sehingga
setiap kali kencing masih tertinggal urine residual (normal kurang
lebih 15 cc). Dalam hal ini ,sisa urine dan trauma pada kandung
kemih sewaktu persalinan dapat menyebabkan infeksi. ( Sulistyawati,
2009; h. 78-79)
g.

Perubahan Sistem Muskuloskeletal


Ligamen, fasia, dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu
persalinan, setelah bayi lahir, secara berangsur-angsur menjadi ciut

dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh kebelakang dan
menjadi retrofleksi, karena ligamen rotundum menjadi kendor.

h.

Perubahan Sistem Endokrin


Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan pada
sistem endokrin, terutama pada hormon-hormon yang berperan dalam
proses tersebut.
a) Oksitosin
Oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang.Selama
tahap ketiga persalinan, hormon oksitosin berperan dalam
pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi, sehingga
mencegah pendarahan.Isapan bayi dapat merangsang produksi ASI
dan sekresi oksitosin.Hal tersebut membantu uterus kembali ke
bentuk normal.
b) Prolaktin
Menurunnya kadar estrogen menimbulkan terangsangnya kelenjar
pituitary bagian belakang untuk mengeluarkan prolaktin, hormon
ini berperan dalam pembesaran payudara untuk merangsang
produksi susu.
c) Estrogen dan Progesteron
Selama hamil volume darah normal meningkat walaupun
mekanismenya secara penuh belum dimengerti.Diperkirakan
bahwa tingkat estrogen yang tinggi memperbesar hormon
antidiuretik yang meningkatkan volume darah.Di samping itu,
progesteron

mempengaruhi

otot

halus

yang

mengurangi

perangsangan dan peningkatan pembuluh darah.Hal ini sangat


mempengaruhi saluran kemih, ginjal, usus, dinding vena, dasar
panggul, perineum dan vulva, serta vagina.(Saleha, 2009; h. 60).
i. Perubahan Tanda-Tanda Vital
1. Suhu
Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,20C. sesudah partus
dapat naik kurang dari 0,50C dari keadaan normal, namun tidak akan
melebihi 80C. Sesudah dua jam pertama melahirkan umumnya suhu
badan akan kembali normal. Bila suhu ibu lebih dari 380C, mungkin
terjadi infeksi pada klien.(Saleha, 2009: h.61)
Peningkatan suhu badan mencapai pada 24 jam pertama pada masa
nifas pada umumnya di sebabkan oleh dehidrasi, yang disebabkan
oleh keluarnya cairan pada waktu melahirkan, selain itu bisa juga di
sebabkan karena istirahat dan tidur yang di perpanjang selama awal
persalinan.
(Ambarwati, 2010; h.138).
2. Nadi dan pernafasan
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 x/menit setelah
partus.Pada masa nifas umumnya denyut nadi labil dibandingkan
dengan suhu tubuh, sedangkan pernafasan akan sedikit meningkat
setelah partus kemudian kembali seperti keadaan semula.
(Saleha, 2009; h. 61)
Nadi Berkisar antara 60- 80x/menit denyut nadi di atas 100x/menit
pada masa nifas adalah mengindikasikan adanya suatu infeksi, hal

ini salah satunya bisa di akibatkan oleh proses persalinan sulit atau
karena kehilangan darah yang berlebih.
(Ambarwati, 2010; h.138)
Denyut nadi normal pada orang dewasa adalah 60-80 kali
permenit.Setiap denyut nadi yang melebihi 100 kali per menit
adalah abnormal dan hal ini menunjukkan adanya kemungkinan
infeksi. (Sulistyawati, 2009; h. 81)
Normal frekuensi pernapasan pada orang dewasa adalah 16 24 kali
permenit, pada ibu post partum umumnya pernapasan lambat atau
normal karna dalam keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat.
Bila pernapasan pada masa post partum lebih cepat kemungkinan
adanya tanda tanda syok. (Rukiyah, 2011; h. 69)
3. Tekanan darah
Tekanan darah biasanya tidak berubah. Kemungkinana tekanan
darah akan lebih rendah setelah ibu melahirkan karena ada
perdarahan. Tekanan darah tinggi pada saat postpartum dapat
menandakan terjadinya pre-eklamsi postpartum.(Dewi dan Sunarsih,
2011; h.60)
Pada beberapa kasus di temukan keadaan hipertensi post partum,
tetapi keadaan ini akan menghilang dengan sendirinya apabila tidak
ada penyakit-penyakit lain yang menyertainya dalam 2 bulan
pengobatan.
(Ambarwati, 2010; h. 139).
Tekanan darah normalnya adalah sistolik 90 120 dan diastolnya 60
80 mmHg. Tekanan darah menjadi lebih rendah pasca melahirkan

dapat diakibatkan oleh perdarahan. Sedangkan tekanan darah tinggi


pada post partum merupakan tanda pre eklampsia post partum.
(Rukiyah, 2011; h. 69)
j. Perubahan Sistem Kardiovaskuler
Setelah terjadi diuresis yang mencolok akibat penurunan kadar
estrogen, volume darah kembali kepada keadaan tidak hamil. Jumlah
sel darah merah dan kadar hemoglobin kembali normal pada hari ke5.Meskipun kadar estrogen mengalami penurunan yang sangat besar
selama masa nifas, namun kadarnya masih tetap lebih tinggi daripada
normal. Plasma darah tidak begitu mengandung cairan dengan
demikian daya koagulasi meningkat. Pembekuan darah harus dicegah
dengan penanganan yang cermat dan penekanan pada ambulasi dini.

k. Perubahan Sistem Hematologi


Pada ibu masa nifas 72 jam pertama biasanya akan kehilangan volume
plasma daripada sel darah, penurunan plasma ditambah peningkatan sel
darah pada waktu kehamilan diasosikan denganpeningkatan hematoktir
dan haemoglobin pada hari ketiga sampai tujuh hari setelah persalinan.
(Rukiyah, 2011; h. 71)
l. Perubahan Payudara
Pada semua wanita yang telah melahirkan proses laktasi terjadi secara
alami. Proses menyusui mempunyai dua mekanisme fisiologi, yaitu
produksi susu dan sekresi susu atau let down..Selama Sembilan bulan
kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan menyiapkan fungsinya untuk
menyediakan makanan bagi bayi baru lahir.Setelah melahirkan, ketika

hormon yang dihasilkan plasenta

lalu

mengeluarkan hormon

prolaktin.Sampai hari ketiga setelah melahirkan, efek prolaktin pada


payudara mulai bisa dirasakan.Pembuluh darah payudara menjadi
bengkak terisi darah, sehingga timbul rasa hangat, bengkak, dan sakit.
Sel-sel acini yang menghasilkan ASI juga mulai berfungsi. Ketika bayi
menghisap putting, refleks saraf merangsang lobus posterior pituitari
untuk mengsekresi hormon oksitosin. Oksitosin merangsang reflek let
down (mengalirkan), sehingga menyebabkan infeksi ASI melalui sinus
laktiferus payudara ke duktus yang terdapat pada putting. Ketika ASI
dialirkan karena isapan bayi atau dengan dipompa sel-sel acini
terangsang untuk menghasilkan ASI lebih banyak.Refleks ini dapat
berlanjut sampai waktu yang cukup lama. (Saleha, 2009; h. 58) .

2.2.1.6 Kebutuhan dasar ibu masa nifas


a. Nutrisi dan cairan.
Gizi pada ibu menyusui sangat erat kaitannya dengan produksi air susu,
yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang janin.
1) Kebutuhan kalori selama menyusui proporsional dengan jumlah air
susu ibu yang dihasilkan dan lebih tinggi selama ibu menyusui
dibandingkan selama ibu hamil. Rata-rata kandungan kalori ASI
yang dihasilkan ibu dengan nutrisi baik adalah 70 kal/100 ml dan
kira-kira 85 kal diperlukan oleh ibu untuk tiap 100 ml yang
dihasilkan rata-rata ibu menggunakan kira-kira 640 kal/hari untuk
6 bulan pertama dan 510 kal/hari selama 6 bulan kedua untuk
menghasilkan

jumlah

susu

normal.

Rata-rata

mengkonsumsi 2.300-2.700 kla ketika menyusui.

ibu

harus

2) Ibu memerlukan tambahan 20 gr protein diatas kebutuhan normal


ketika menyusui jumlah ini hanya 16 % dari tambahan 500 kallori
yang dianjurkan pada ibu nifas. Protein diperlukan untuk
membawa oksigen didalam sel darah merah serta pertumbuhan dan
penggantian sel-sel yang rusak dan mati. Sumber protein diperoleh
dari protein hewani ndan nabati. Protein hewani antara lain :
seperti telur, daging, ikan, udang, kerang, susu dan keju.
Sementara itu protein nabati banyak terkandung dalam tahu,
tempe, kacang-kacangan.
3) Nutrisi lain yang diperlukan selama laktasi adalah asupan cairan.
Ibu menyusui dianjurkan minum 2-3 liter perhari dalam bentuk air
putih, susu, dan jus buah. Mineral, air, dan vitamin digunakan
untuk kelancaran metabolisme di dalam tubuh. Sumber zat
pengatur tersebut bisa diperoleh dari semua jenis sayur dan buahbuahan segar.
4) Pil zat besi (FE) harus diminum 1x1 sehari, untuk menambah zat
besi selama 40 hari pascapersalinan.
5) Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) sebanyak 2 kali yaitu pada
1 jam setelah melahirkan dan 24 jam setelahnya agar dapat
memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI ( Dewi dan
Sunarsih,2011;h.71 )

Mengkonsumsi vitamin A 200.000 IU.Pemberian vitamin A dalam


bentuk

suplementasi

dapat

meningkatkan

kualitas

asi,

meningkatkan daya tahan tubuh dan meningkatkan kelangsungan

hidup anak. Pada bulan- bulan pertama kehidupan bayi bergantung


pada vitamin A yang terkandung dalam asi
( Suherni, 2009; h. 101 ).

b. Ambulasi
Ambulasi dini (early ambulation) ialah kebijaksanaan agar secepat
mungkin bidan membimbing ibu postpartum bangun dari tempat
tidurnya

dan

membimbing

ibu

secepat

mungkin

untuk

berjalan.Sekarang tidak perlu lagi menahan ibu postpartum terlentang


ditempat tidurnya selama 7-14 hari setelah melahirkan.Ibu postpartum
sudah diperbolehkan bangun dari tempat tidurnya dalam 24-48 jam
postpartum.
Keuntungan (early ambulation) adalah sebagai berikut:
a) Ibu merasa lebih sehat dan kuat dengan early ambulation.
b) Faal usus dan kandung kemih lebih baik.
c) Early ambulation memungkinkan kita mengajarkan ibu cara
merawat anaknya selama ibu masih di rumah sakit. Misalnya
memandikan, mangganti pakaian dan memberi makan.
d) Lebih sesuai dengan keadaan Indonesia ( sosial ekonomis).
Menurut penalitian-penelitian yang seksama, early ambulation
tidak mempunyai pengaruh yang buruk, tidak menyebabkan
perdarahan yang abnormal, tidak memengaruhi penyembuhan luka
episiotomi

atau

luka

diperut,

serta

kemungkinan prolapsus atau retrotexto uteri.

tidak

memperbesar

Early ambulation tentu tidak dibanarkan pada ibu postpartum


dengan penyulit, misalnya anemia, penyakit jantung, penyakit
paru-paru, demam dan sebagainya.Panambahan kegitan dengan
early ambulation harus berangsur-angsur, jadi bukan maksudnya
ibu segera setelah bangun dibanarkan mencuci, memasak dan
sebagainya.
(Saleha, 2009; h. 71-72)
c. Eliminasi
a) Buang air kecil
Eliminasi di anggap normal bila dapat BAK spontan tiap 3-4 jam
post partum. (Dewi, 2011; h. 73). Ibu diminta untuk buang air kecil
(miksi) 6 jam postpartum. Jika dalam 8 jam postpartum belum
berkemih atau sekali berkemih belum melebihi 100 cc, maka
dilakukan kateterisasi. Akan tetapi jika kandung kemih penuh,
tidak perlu menunggu 8 jam untuk berkemih.
Berikut ini sebab-sabab terjadinya kesulitan berkemih (Retensio
urine) pada ibu postpartum.
1. Berkurangnya tekanan intraabdominal
2. Otot-otot perut masih lemah
3. Edema dan uretra (Saleha, 2009; h. 72-73).
b) Buang air besar
Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah persalinan. Hal ini
disebabkan karena pada waktu melahirkan alat pencernaan
mendapatkan tekanan yang menyebabkan colon menjadi kosong,
pengeluaran cairan berlebih pada waktu persalinan, kurangnya

asupan cairan dan makanan serta kurangnya aktifitas tubuh


(Sulistyawati, 2009; h. 78).

Ibu diharapkan dapat BAB sekitar 3-4 hari post partum. Apabila
mengalami kesulitan BAB, lakukan diet teratur, cukup cairan,
konsumsi makanan berserat, olahraga, berikan obat rangsanagan
per oral atau per rectal atau klisma bilamana perlu (Yanti, 2011; h.
83).
Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan
diri ibu postpartum adalah sebagai berikut.
1. Anjurkan kebersihan seluruh tubuh, terutama perineum.
2. Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin
dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ibu mengerti untuk
membersihkan membersihkandaerah disekitar vulva terlebih
dahulu , dari depan ke belakang , kemudian membersihkan
daerah sekitar anus. Nasihati ibu untuk membersihkan vulva
setiap kali selesai buang air kecil atau besar.
3. Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut
setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang setelah
dicuci dengan baik dan dikeringkan dibawah matahari dan
disetrika.
4. Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air
sebelum dan sesudah membersihkan alat kelaminnya.
5. Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan
kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah tersebut
(Saleha, 2009; h. 73-74).

d. Istirahat dan tidur


Ibu post partum sangat membutuhkan istirahat yang berkualitas untuk
memulihkan kembali keadaan fisiknya. Keluarga disarankan untuk
memberikan kesempatan kepada ibu untuk beristirahat yang cukup
sebagai persiapan untuk energi menyusui bayinya nanti.
Kurangnya istirahat pada ibu post partum akan mengakibatkan
beberapa kerugian, misalnya :
a) Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
b) Memperlambat

proses

involusi

uterus

dan

memperbanyak

perdarahan.
c) Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat
bayi dan dirinya sendiri.
Ibu nifas memerlukan istirahat yang cukup , istirahat tidur yang
dibutuhkan ibu nifas sekitar 8 jam pada malam hari dan 1 jam pada
siang hari.
Hal-hal yang dapat dilakukan ibu dalam memenuhi kebutuhan
istirahatnya antara lain:
1. Anjurkan ibu untuk cukup istirahat.
2. Sarankan ibu untuk melakukan kegiatan rumah tangga secara
perlahan.
3. Tidur siang atau istirahat saat bayi tidur.
(Yanti, 2011; h. 84).
Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien , berapa jam pasien
tidur , kebiasaan sebelum tidur misalnya membaca , mendengarkan
music , kebiasaan mengkonsumsi obat tidur, kebiasaan tidur siang ,

penggunaan waktu luang. Istirahat sangat penting bagi ibu masa nifas
karena dengan istirahat cukup dapat mempercepat penyembuhan.
(Ambarwati, 2010; h. 136)
e. Aktivitas seksual
Aktifitas seksual yang dapat dilakukan oleh ibu nifas harus memenuhi
syarat sebagai berikut:
a) Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu
darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua
jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri, maka ibu aman untuk
memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap.
b) Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami
istri sampai masa waktu terrtentu, misalnya setelah 40 hari atau 6
minggu setelah persalinan. Keputusan ini bergantung pada
pasangan yang bersangkutan.
(Saleha, 2009; h. 75).
f. Latihan dan senam nifas
Senam nifasadalah senam yang dilakukan ibu-ibu setelah melahirkan
setelah keadaan tubuhnya pulih kembali.
senam nifas bertujuan untuk:
a) Mempercepat penyembuhan
b) Mencegah timbulnya komplikasi
c) Memulihkan dan menguatkan otot-otot punggung, otot dasar
panggul dan otot perut
Pada saat hamil, otot perut dan sekitar rahim, serta vagina telah
teregang dan melemah.Latihan senam nifas dilakukan untuk membantu
mengencangkan otot-otot tersebut.Hal ini untuk mencegah terjadinya

nyeri punggung dikemudian hari dan terjadinya kelemahan pada otot


panggul sehingga dapat mengakibatkan ibu tidak bisa menahan BAK.
Gerakan senam nifas ini dilakukan dari gerakan yang paling sederhana
hingga yang tersulit. Sebaiknya dilakukan secara bertahap dan terus
menerus (kontinu). Lakukan pengulangan setiap 5 gerakan dan
tingkatkan setiap hari sampai 10 kali (Dewi, 2011; h. 81).
g.

Adaptasi Psikologis Pada Masa Nifas


Dorongan dan perhatian dari seluruh anggota keluarga lainnya
merupakan dukungan yang positif bagi ibu. Dalam menjalani adaptasi
setelah melahirkan ibu akan mengalami fase-fase sebagai berikut :
1. Fase taking in
Fase taking in yaitu periode ketergantungan yang berlangsung
pada hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan, pada sat
itu fokus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. Pengalaman
ibu selama proses persalinan berulang kali diceritakannya. Hal ini
membuat ibu cenderung menjadi pasif terhadap lingkungan sekitar.
Kemampuan mendengarkan dan menyediakan waktu yang cukup
merupakan dukungan yang tidak ternilai bagi ibu. Kehadiran suami
dan keluarga sangat diperlukan pada fase ini.
2. Fase taking hold
Fase taking hold adalah priode yang berlangsung antara 3-10 hari
setelah melahirkan. Pada fase ini ibu merasa khawatir akan
ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat
bayi. Ibu memiliki perasaan yang sangat sensitif sehingga mudah
tersinggung sehingga kita perlu berhati-hati dalam berkomunikasi

dengan ibu berhati-hati dalam tindakan. Pada fase ini ibu


memerlukan dukungan karena saat ini merupakan kesempatan
yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat
diri dan bayinya sehingga timbul percaya diri.
3. Fase letting go
Fase letting go merupakan fase menerima tanggung jawab akan
peran barunya yang berlangsung sepuluh hari setelah melahirkan.
Ibu sudah dapat menyesuaikan diri, merawat diri dan bayinya.
Serta kepercayaan dirinya sudah meningkat. Pendidikan kesehatan
yang kita berikan pada fase sebelumnya akan sangat berguna bagi
ibu, ibu lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan diri dan
bayinya (Dewi, 2011; h. 65-66).
2.2.1.7 Tanda tanda bahaya pada masa nifas
Diperkirakan bahwa 60 % kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah
persalinan. Ole karena itu, penting bagi bidan/perawat untuk memberikan
informasi dan bimbingan pada ibu untuk dapat mengenali tanda-tanda
bahaya pada masa nifas yang harus diperatikan.
Tanda-tanda bahaya yang perlu diperhatikan pada masa nifas ini adalah :
1. Demam tinggi hingga melebihi 380C
2. Perdarahan vagina yang luar biasa atau tiba-tiba bertambah banyak (
lebih dari perdarahan haid biasa atau bila memerlukan penggantian
pembalut 2 kali dalam setengah jam ), disertai gumpalan darah yang
besar-besar dan berbau busuk.
3. Nyeri perut hebat/rasa sakit di bagian bawah abdomen atau punggung,
serta nyeri ulu hati

4. Sakit kepala parah/terus menerus dan pandangan nanah/masalah


penglihatan
5. Pembengkakan pada wajah, jari-jari atau tangan
6. Rasa sakit, merah, atau bengkak dibagian betis atau kaki.
7. Payudara membengkak ,kemerahan,lunak disertai demam.
8. Putting payudara berdarah atau merekah, sehingga sulit untuk
menyusui
9. Tubuh lemas dan terasa seperti mau pingsan merasa sangat letih atau
nafas terengah-engah
10. Kehilangan nafsu makan dalam waktu lama
11. Tidak bisa buang air besar selam tiga hari atau rasa sakit waktu buang
air kecil
12. Merasa sangat sedih atau tidak mampu mengasuh bayinya

atau diri

sendiri (Anik Maryunani, 2009; h. 139-140 ).


2.2.2 Proses Laktasi Dan Menyusui
2.2.2.1 Anatomi Payudara
Payudara yang matang adalah salah satu tanda pertumbuhan sekunder dari
seorang perempuan dan salah satu organ yang indah dan menarik.Lebih
dari itu, untuk mempertahankan kelangsungan hidup keturunannya, maka
organ ini menjadi sumber utama kehidupan, karena Air Susu Ibu (ASI)
adalah makanan bayi yang paling penting.
Payudara adalah kelenjar yang terletak dibawah kulit, diatas otot dada.
Fungsi dari payudara adalah memproduksi susu untuk nutrisi bayi.
Manusia yang mempunyai sepasang kelenjar payudara, yang beratnya

kurang lebih 200 gram, saat hamil 600 gram, dan saat menyusui 800
gram.

Gambar. 2.1 Anatomi payudara


a) Letak

: Setiap payudara terletak pada sternum dan


meluas setinggi kosta kedua dan keenam. Payudara ini
terletak pada fascia superficialis dinding rongga dada
yang disangga oleh ligamentum sospensorium

b) Bentuk

:Bentuk masing-masing payudara berbentuk


tonjolan setengah bola dan mempunyai ekor (cauda)
dari jaringan yang meluas keketiak atau aksila

c) Ukuran

: Ukuran payudara berbeda pada setiap


individu, juga tergantung pada stadium perkembangan
dan umur. Tidak jarang salah satu payudara
ukurannya agak lebih besar daripada yang lain.

1. Struktur Makroskopis
Struktur makroskopis payudara adalah sebagai berikut
a. Cauda Aksilaris

Adalah jaringan payudara yang meluas ke arah aksila.


b. Areola
Adalah daerah lingkaran yang terdiri dari kulit yang longgar
dan mengalami pigmentasi. Areola pada masing-masing
payudara memiliki garis tengah kira-kira 2.5 cm. Letaknya
mengelilingi puting susu dan berwarna kegelapan yang
disebabkan oleh penipisan dan penimbunan pigmen pada
kulitnya.
c. Papila Mamae
Terletak setinggi interkosta IV, tetapi berhubung adanya
variasi bentuk dan ukuran payudara, maka letaknya akan
bervariasi. Pada tempat ini terdapat lubang-lubang kecil
yang merupakan muara dari duktus laktiferus, ujung-ujung
serat saraf, pembuluh darah, pembuluh getah bening, seratserat otot polos yang tersusun secara sirkuler sehingga bila
ada kontraksi duktus laktiferus akan memadat dan
menyebabkan puting susu ereksi , sedangkan otot-otot yang
Longitudinal akan menarik kembali puting susu tersebut.
Bentuk puting ada empat macam yaitu bentuk yang normal,
pendek atau datar, panjang dan terbenam.
(Dewi, 2011; h. 7-9)

Gambar. 2.2 Bentuk-bentuk puting susu


2. Struktur Mikroskopis
Payudara tersusun atas jaringan kelenjar , tetapi juga
mengandung sejumlah jaringan lemak dan ditutupi oleh kulit.
Jaringan kelenjar ini dibagi menjadi kira-kira 15-25 lobus yang
dipisahkan secara sempurna satu sama lain oleh lembaranlembaran jaringan fibrosa. Struktur dalamnya dikatakan
menyerupai segmen buah anggur atau jeruk yang dibelah.
Setiap lobus merupakan satu unit fungsional yang berisi dan
tersusun atas bangunan-bangunan sebagai berikut.
a. Alveoli

:Alveolus

merupakan

unit

terkecil

yang

memproduksi susu. Bagian dari alveolus adalah sel Aciner ,


jaringan lemak , sel plasma , sel otot polos, dan pembluh
darah. Payudara terdiri atas 15-25 lobus. Masing-masing
lobus terdiri atas 20-40 lobulus. Selanjutnya masing-masing
lobules terdiri atas 10-100 alveoli.

b. Ductus lactiferus:saluran sentral yang merupakan muara


beberapa tubulus lactiferus.
c. Ampulla :bagian dari ductus lactifer yang melebar, yang
merupakan tempat menyimpan air susu. Letaknya di bawah
areola.
d. Lanjutan setiap duktus laktiferus :meluas dari ampula
sampai muara papilla mammae (Dewi, 2011; h. 9).

2.2.2.2 Fisiologi Laktasi


Proses ini timbul setelah plasenta lepas. Plasenta mengandung hormon
penghambat prolaktin (hormon plasenta) yang menghambat pembentukan
ASI setelah plasenta lepas, hormon plasenta tersebut tak ada lagi,
sehingga susu pun keluar.
Hormon hormon yang terlibat dalam pembentukan ASI adalah sebagai
berikut:
a. Progesterone
Mempengaruhi pertumbuhan dan ukuran alveoli..Kadar progesterone
dan estrogen menurun sesaat setelah melahirkan. Hal ini menstimulus
produksi ASI secara besar-besaran
b. Estrogen Menstimulus system saluran ASI untuk membesar. Kadar
estrogen dalam tubuh menurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk
beberapa bulan selama tetap menyusui
c. Prolaktin
Berperan dalam membesarnya alveoli pada masa kehamilan.
d. Oksitosin

Mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat melahirkan dan


setelahnya,seperti halnya juga dalam organisme. Setelah melahirkan,
oksitosin juga mengencangkan otot halus disekitar alveoli untuk
memeras ASI menuju saluaran susu. Oksitosin berperan dalam proses
turunnya susu (let-down/milk ejection reflex).
e. Human Placental Lactogen (HPL)
Sejak bulan kedua kehamilan, plasenta mengeluarkan banyak HPL
yang berperan dalam pertumbuhan payudara, putting dan areola
sebelum melahirkan.Pada bulan kelima dan keenam kehamilan,
payudara siap memproduksi ASI.Namun, ASI juga bisa diproduksi
tanpa kehamilan (induced lactation)(Saleha, 2009; h. 11-13).
2.2.2.3 Proses Produksi Air Susu
Pengeluaran ASI merupakan suatu interaksi yang sangat kompleks antara
rangsangan mekanik , saraf dan bermacam-macam hormon. Pengaturan
hormon terhadap pengeluaran ASI dapat dibedakan menjadi 3 bagian ,
yaitu:
a. Produksi air susu ibu (prolaktin).
b. Pengeluaran air susu ibu (oksitosin).
c. Pemeliharaan air susu ibu.
Pada seorang ibu yang hamil dikenal dua refleks yang masing-masing
berperan dalam pembentukan dan pengeluaran air susu, yaitu: refleks
prolaktin dan refleks let down.
d. Refleks Prolaktin
Akhir kehamilan hormon prolaktin memegang peranan penting dalam
proses pembuatan kolostrum, namun jumlah kolostrumnya masih

terbatas , karena aktivitas prolaktin dihambat

oleh estrogen

dan progesteron yang masih tinggi.Hormon ini merangsang sel-sel


alveoli yang fungsinya membuat air susu. Kadar prolaktin pada ibu
yang menyusui akan normal kembali tiga bulan setelah melahirkan
sampai penyapihan anak.
e. Refleks let down
Bersamaan dengan pembentukan prolaktin oleh adenohipofisis,
rangsangan yang berasal dari hisapan bayi ada yang dilanjutkan
neurohipofisis yang kemudian dikeluarkan oksitosin.Oksitosin yang
sampai pada alveoli akan mempengaruhi sel mioepitelin. Kontraksi dari
sel akan memeras air susu yang telah terbuat keluar dari alveoli dan
masuk ke sistem duktus yang selanjutnya mengalir melalui duktus
laktiferus masuk kemulut bayi.
Faktor-faktor yang meningkatkan refleks let down adalah:
a) Melihat bayi
b) Mendengar suara bayi
c) Mencium bayi
d) Memikirkan untuk menyusui bayi.
Beberapa refleks yang memungkinkan bayi baru lahir untuk
memperoleh ASI:
a) Refleks rooting: refleks ini memungkinkan bayi baru lahir untuk
menemukan puting susu apabila ia diletakkan di payudara.
b) Refleks menghisap : yaitu saat bayi mengisi mulutnya dengan
puting susu sampai kelangit-langit dan punggung lidah. Refleks ini
melibatkan rahang, lidah dan pipi.

c) Refleks menelan : yaitu gerakan pipi dan gusi dalam menekan


aerola, sehingga refleks ini merangsang pembentukan rahang bayi. (
Saleha, 2009; h.15-17)
2.2.2.4 Pengeluaran ASI (Oksitosin)
Apabila bayi disusui, maka gerakan menghisap yang berirama akan
menghasilkan rangsangan saraf yang terdapat pada glandula pituitaria
posterior. Akibat langsung refleks ini ialah dikeluarkannya oksitosin dan
pituitaria posterior. Hal ini akan menyebabkan sel-sel miopitel (sel
keranjang atau sel laba-laba) di sekitar alveoli akan berkontraksi dan
mendorong ASI masuk dalam pembuluh ampula. Pengeluaran oksitosin
selain dipengaruhi oleh isapan bayi, juga oleh reseptor yang terletak pada
duktus.Bila duktus melebar atau menjadi lunak , maka secara reflektoris
oksitosin dikeluarkan oleh hipofisis yang berperan untuk memeras keluar
air susu dari alveoli (Saleha, 2009; h. 17-18).
2.2.2.5 Manfaat pemberian ASI
a. Bagi bayi
1) Komposisi sesuai kebutuhan
2) Kalori dari ASI memenuhi kebutuhan bayi sampai usia 6
bulan
3) ASI mengandung zat pelindung
4) Perkembangan psikomotorik lebih cepat
5) Menunjang perkembangan kognitif
6) Menunjang perkembangan penglihatan
7) Memperkuat ikatan batin ibu dan anak

8) Dasar untuk perkembangan emosi yang hangat dasar

untuk

perkembangan kepribadian dan percaya diri.

b. Bagi ibu
1) Mencegah

perdarahan

pascapersalinan

dan

mempercepat

kembalinya rahim kebentuk semula


2) Mencegah anemia defisiensi besi
3) Mempercepat ibu kembali ke berat badan sebelum hamil
4) Menunda kesuburan
5) Menimbulkan perasaan dibutuhkan
6) Mengurangi kemungkinan kanker payudara dan ovarium
c. Manfaat bagi keluarga
1) Mudah dalam proses pemberiannya
2) Mengurangi biaya rumah tangga
3) Bayi yang mendapat ASI jarang sakit, sehingga dapat menghemat
biaya untuk berobat
d. Manfaat bagi negara
1) Penghematan untuk subsidi anak sakit dan pemakaian obat obatan
2) Penghematan devisa dalam hal pembelian susu formula dan
perlengkapan menyusui
3) Mengurangi populasi
4) Mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas (Saleha, 2009;
h. 31-33).

2.2.2.6 Stadium ASI

ASI dibedakan dalam 3 stadium yaitu sebagai berikut :


a. Kolostrum
Cairan pertama yang diperoleh bayi pada ibunya adalah kolostrum
yang mengandung campuran kaya akan protein, mineral, antibodi
daripada ASI yang telah matang. ASI dimulai ada kira kira pada hari
ke 3 atau hari ke 4. Kolostrum berubah menjadi ASI yang matang kira
kira 15 hari sesudah bayi lahir.Kolostrum merupakan cairan dengan
viskosis kental, lengket, dan berwarna kekuningan.
b. ASI transisi
ASI peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum sampai ASI
matang, yaitu sejak hari ke 4 sampai hari ke 10. Selama 2 minggu,
volume air susu bertambah banyak dan berubah warna, serta
komposisinya. Kadar imunoglobulin dan protein menurun, sedangkan
lemak dan laktosa meningkat.
c. ASI matur
ASI matur disekresi pada hari ke 10 dan seterusnya.ASI matur tanpa
warna putih. Kandungan ASI matur relatif konstan, tidak mengumpal
bila dipanaskan. Air susu yang mengalir pertama kali atau lima menit
pertama disebut foremilk. Foremilk lebih encer, serta mempunyai
kandungan lemak rendah, tinggi laktosa, gula, protein, mineral, dan air
(Dewi, 2011; h. 20-21).
2.2.2.7 Tanda Bayi Cukup ASI
Bayi usia 0-6 bulan , dapat dinilai mendapat kecukupan ASI bila
mencapai keadaan sebagai berikut.

a. Bayi minum ASI tiap 2-3 jam atau dalam 24 jam minimal mendapatkan
ASI 8 kali pada 2-3 minggu pertama.
b. Kotoran berwarna kuning dengan frekuensi sering dan warna menjadi
lebih muda pada hari kelima setelah lahir
c. Bayi akan buang air kecil (BAK) paling tidak 6-8 kali perhari
d. Ibu dapat mendengarkan pada saat bayi menelan ASI.
e. Payudara terasa lebih lembek, yang menandakan ASI telah habis
f. Warna bayi merah (tidak kuning) dan kulit terasa kenyal.
g. Pertumbuhan berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) bayi sesuai
dengan grafik pertumbuhan
h. Perkembangan motorik baik (bayi aktif dan motorik sesuai dengan
rentang usianya)
i. Bayi kelihatan puas, sewaktu waktu saat lapar akan bangun dan tidur
dengan cukup
j. Bayi menyusu dengan kuat (rakus) kemudian melemah dan tertidur
puas (Dewi, 2011; h. 24).
2.2.2.8 Memerah dan menyimpan ASI
Cara memerah ASI adalah sebagai berikut :
a. Letakkan ibu jari dan dua jari lainnya sekitar 1-1,5 cm dari areola.
Usahakan untuk mengikuti aturan tersebut sebagai panduan, apalagi
ukuran dari areola tiap wanita sangat bervariasi. Tempatkan ibu jari di
atas areola pada posisi jam 12 dan jari lainnya pada posisi jam 6.
b. Dorong kearah dada, hindari meregangkan jari.Bagi ibu yang
payudaranya besar , angkat dan dorong kearah dada.
c. Gulung menggunakan ibu jari dan jari lainnya secara bersamaan

d. Gerakkan ibu jari dan jari lainnya hingga menekan gudang ASI hingga
kosong.Jika dilakukan dengan tepat maka ibu tidak akan kesakitan saat
memerah.
e. Putar ibu jari dan jari-jari lainnya ke titik gudang ASI lainnya.
Demikian juga saat memerah payudara lainnya , gunakan kedua tangan
(Sulistyawati, 2009; h. 39-41)
ASI yang dikeluarkan dapat disimpan untuk beberapa saat dengan syarat
sebagai berikut:
a. Di udara bebas / terbuka

: 6-8 jam

b. Di lemari es ( 40C )

: 24 jam

c. Di lemari pendingin / beku ( -180C)

: 6 bulan

(Saleha,2009;h.28)
Mencairkan ASI beku dapat dilakukan dengan cara sebagaiberikut:
a. Siapkan air hangat suam kuku di dalam rantang atau panci kecil
b. Taruhlah plastik berisi ASI beku dalam air hangat tersebut. ASI
akan mencair dalam waktu kurang dari 5 menit (Saleha, 2009; h. 27)
2.2.2.9 Masalah Dalam pemberian ASI
Kegagalan dalam proses menyusui sering disebabkan karena timbulnya
beberapa masalah, baik masalah pada ibu maupun pada bayi. Pada
sebagian ibu yang tidak paham masalah ini, kegagalan menyusui sering
diangap masalah pada anak saja. Dan hal ini akanmenjadi masalah
menyusui pada masa nifas dini yaitu sebagai berikut:
a. Puting Susu Lecet
Puting susu lecet dapat disebabkan oleh trauma saat menyusui.
Selain itu,

dapat pula terjadi retak dan pembentukan celah-

celah.Retakan pada putting susu dapat sembuh sendiri dalam waktu


48 jam.
Beberapa penyebab puting susu lecet adalah :
a) Teknik menyusui yang tidak benar
b) Puting susu terpapar oleh sabun, krim, alkohol, ataupun zat iritan
lain saat ibu membersihkan puting susu
c) Moniliasis pada mulut bayi yang menular pada puting susu ibu
d) Bayi dengan tali lidah pendek (frenulum lingue)
e) Cara menghentikan menyusui yang kurang tepat
Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi puting susu lecet
adalah:
a) Cari penyebab puting lecet
b) Selama

puting

susu

distirahatkan,

sebaiknya

ASI

tetap

dikeluarkan dengan tangan,dan tidak di anjurkan menggunakan


pompa karena nyeri atau bayi disusukanlebih dulu pada putting
susu yang normal atau lecetnya sedikit.
c) Olesi puting dengan ASI akhir (hind milk), tidak menggunakan
sabun, krim, alkohol ataupun zat iritan lain saat membersihkan
payudara.
d) Menyusui lebih sering (8-12 kali dalam 24 jam)
e) Puting susu yang sakit dapat diistirahatkan untuk sementara
waktu 1x24 jam, dan biasanya akan sembuh sendiri dalam
waaktu 2x24 jam.
f) Cuci payudara sekali sehari dan tidak dibenarkan untuk
mengunakan sabun.

g) Posisi menyusui harus benar,

bayi menyusu sampai

kalang

payudara dan susukan secara bergantian di antara kedua


payudara.
h) Keluarkan sedikit ASI dan oleskan ke puting yang lecet dan
biarkan kering
i) Pergunakan bra yang menyangga.
j) Bila terasa sangat sakit boleh minum obat pengurang rasa sakit
k) Jika penyebab monilia, diberi pengobatan dengan tablet Nystatin
(Dewi, 2011; h. 39-40).
b. Puting melesak (masuk ke dalam)
Jika puting susu melesak diketahui sejak hamil, hendaknya puting
susu ditari-tarik dengan menggunakan minyak kelapa setiap mandi
2-3 kali sehari. Jika puting susu melesak diketahui setelah
melahirkan, dapat dibantu dengan tudung puting (nipple hoot).
(Dewi, 2011; h. 40).
c. Payudara Bengkak
Pembengkakan (engorgement) payudara terjadi karena ASI tidak
dihisap oleh bayi secara adekuat, sehingga sisa ASI terkumpul pada
sistem

duktus

yang

mengakibatkan

terjadinya

pembengkakan.Payudara bengkak ini sering terjadi pada hari ketiga


atau keempat sesudah ibu melahirkan. Statis pada pembuluh darah
dan limfe akan mengakibatkan meningkatnya tekanan intraduktal ,
yang memengaruhi berbagai segmen pada payudara, sehingga
tekanan seluruh payudara meningkat.Akibatnya, payudara sering
terasa penuh, tegang , dan nyeri. Selanjutnya, diikuti penurunan

produksi ASI dan penurunan refleks let down. Bra/ kutang yang
ketat juga dapat menyebabkan engorgement segmental , demikian
pula puting yang tidak bersih dapat menyebabkan sumbatan pada
duktus.
Gejala :
a) Pembengkakan ini ditandai dengan bentuk aerola payudara lebih
menonjol dan puting yang lebih mendatar , sehingga membuat
payudara sukar diisap oleh bayi.
b) Kulit pada payudara tampak lebih mengilat.
c) Ibu mengalami demam.
d) Payudara terasa nyeri.
Penatalaksanaan :
a) Masase payudara dan ASI diperas dengan tangan sebelum
menyusui.
b) Kompres dingin untuk mengurangi statis pembuluh darah vena
dan rasa nyeri. Dapat dilakukan secara bergantian dengan
kompres panas untuk melancarkan aliran darah payudara.
c) Menyusui lebih sering dan lebih lama pada payudara yang
bengkak untuk melancarkan aliran ASI dan menurunkan
tegangan payudara.
Pencegahan.
1) Bila memungkinkan , susukan bayi segera setelah

lahir.

2) Susukan bayi tanpa jadwal.


3) Keluarkan ASI secara manual atau dengan pompa , bila produksi
ASI melebihi kebutuhan bayi.

4)Lakukan perawatan payudara pascanatal secara teratur.


(Bahiyatun, 2009; h. 31-33).
d. Mastitis Atau Abses Payudara
Mastitis adalah peradangan pada payudara.Payudara menjadi merah,
bengkak kadang kala diikuti rasa nyeri dan panas, suhu tubuh
meningkat.Didalam terasa ada masa padat (lump), dan diluarnya
kulit menjadi merah.

Kejadian ini terjadi pada masa nifas 1-3

minggu setelah persalinan diakibatkan oleh sumbatan saluran susu


yang berlanjut. Keadaan ini disebabkan kurangnya ASI dihisap /
dikeluakan atau penghisapan yang tak efektif. Dapat juga karena
kebiasaan menekan payudara dengan jari atau tekanan baju/BH.
Tindakan yang dapat dilakukan :
a) Kompres hangat/panas dan pemijatan.
b) Rangsangan oksitosin, dimulai pada payudara yang tidak sakit
yaitu stimulasi putting susu, pijat leher punggung, dll.
c) Pemberian antibiotik : Flucloxacilin atau erythromycin selama 710 hari.
d) Bila perlu bisa diberikan istirahat total dan obat untuk penghilang
rasa nyeri.
e) Kalau terjadi abses sebaiknya tidak disusukan karena mungkin
perlu tindakan bedah.
(Ambarwati, 2010; h. 47-50)
2.2.2.10

Bendungan Asi
a. Pengertian

Bendungan Air Susu adalah terjadinya pembengkakan pada


payudara karena peningkatan aliran vena dan limfe sehingga
menyebabkan bendungan ASI dan rasa nyeri disertai kenaikan suhu
badan. Bendungan ASI dapat terjadi karena adanya penyempitan
duktus laktiferus pada payudara ibu dan dapat terjadi pula bila ibu
memiliki kelainan puting susu( misalnya puting susu datar,
terbenam dan cekung).

Sesudah bayi dan plasenta lahir, kadar estrogen dan progestron turun
dalam 2-3 hari. Dengan ini faktor dari hipotalamus yang
menghalangi keluarnya prolaktin waktu hamil, dan sangat
dipengaruhi oleh estrogen, tidak dikeluarkan lagi, dan terjadi sekresi
prolaktin oleh hypopisis. Hormon ini menyebabkan alveolusalveolus kelenjar mamma terisi dengan air susu, tetapi untuk
mangeluarkannya dibutuhkan reflex yang menyebabkan kontraksi
sel-sel mioepitelial yang mengelilingi alveolus dan duktus kecil
kelenjar-kelenjar tersebut. Pada permulaan nifas apabila bayi belum
mampu menyusui dengan baik, atau kemudian apabila terjadi
kelenjar-kelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna, terjadi
pembendungan air susu (Rukiyah, 2010; h. 345).

Bendungan air susu dapat terjadi pada hari ke-2 atau ke-3 ketika
payudara telah memproduksi

airsusu. Bendungan disebabkan

oleh pengeluaran air susu yang tidak lancar, karena bayi tidak cukup
sering menyusui, produksi meningkat,

terlambat

menyusukan,

hubungan

dengan bayi yang kurang baik, dan dapat pula terjadi

akibat pembatasan waktu menyusui. (Prawirohardjo, 2010; h. 652)

2.2.2.11

Faktor-faktor penyebab Bendungan ASI


a. Pengosongan mamae yang tidak sempurna (dalam masa laktasi,
terjadi peningkatan produksi ASI pada ibu yang produksi ASI-nya
berlebihan, apabila bayi sudah kenyang dan selesai menyusu, dan
payudara tidak dikosongkan, maka masih terdapat sisa ASI didalam
payudara. Sisa ASI tersebut

jika tidak dikeluarkan dapat

mnimbulkan bendungan ASI).


b. Faktor hisap bayi yang tidak aktif (Pada masa laktasi, bila ibu tidak
menyusukan bayinya sesering mungkin atau jika bayi tidak aktif
menghisap, maka akan menimbulkan bendungan ASI).
c. Faktor posisi menyusui bayi yang tidak benar
(Teknik yang salah dalam menyusui dapat mengakibatkan puting
susu menjadi lecet dan menimbulkan rasa nyeri pada saat bayi
menyusu. Akibatnya ibu tidak mau menyusui bayinya dan terjadi
bendungan ASI).
d. Puting susu terbenam ( Puting susu terbenam akan menyulitkan bayi
dalam menyusu. Karena bayi tidak dapat menghisap puting dan
areola, bayi tidak mau menyusu dan akibatnya terjadi bendungan
ASI).
e. Puting susu terlalu panjang (Puting susu yang panjang menimbulkan
kesulitan pada saat bayi menyusu karena bayi tidak dapat menghisap

areola dan merangsang sinus laktiferus untuk megeluarkan ASI.


Akibatnya ASI tertahan dan menimbulkan bendungan ASI)
(Rukiyah, 2010; h. 346).

2.2.2.12

Tanda dan gejala bendungan ASI


Tanda dan gejala bendungan ASI antara lain dengan ditandainya
dengan: mamae panas serta keras pada perabaan dan nyeri, puting susu
bisa mendatar sehingga bayi sulit menyusui, pengeluaran susu kadang
terhalang oleh duktus laktiferi yang menyempit, payudara bengkak,
keras, panas, Nyeri bila ditekan, warnanya kemerahan,suhu tubuh
mencapai 380c (Rukiyah, 2010; h. 346).
Gejala bendungan ASI adalah terjadinya pembengkakan payudara
bilateral dan secara palpasi teraba keras, kadang terasa nyeri serta
seringkali disertai peningkatan suhu badan ibu, tetapi tidak terdapat
tanda kemerahan dan demam (Prawiroharjo, 2008; h .652)

2.2.2.13

Penanganan Bendungan ASI


Penanganan Bendungan asi :
a. Penanganan yang dilakukan yang paling penting adalah dengan
mencegah terjadinya payudara bengkak, susukan bayi segera setelah
lahir, susukan bayi tanpa jadwal, keluarkan sedikit ASI sebelum
menyusui agar payudara lebih lembek, keluarkan ASI dengan
tangan atau pompa bila produksi melebihi kebutuhan ASI.
b. Laksanakan

perawatan

payudara

setelah

mlahirkan,

untuk

mengurangi rasa sakit pada payudara berikan kompres dingin dan


hangat dengan handuk secara bergantian kiri dan kanan, untuk

memudahkan bayi menghisap atau menangkap putting susu berikan


kompres sebelum menyusui, untuk mengurangi bendungan di vena
dan pembuluh getah bening dalam payudara lakukan pengerutan
yang dimulai dari putting kearah korpus mamae, ibu harus rileks,
pijat leher dan punggung belakang.
Perawatan payudara, payudara merupakan sumber yang akan
menjadi makanan utama bagi anak. Karena itu jauh sebelumnya
harus memakai BH yang sesuai dengan pembesaran payudara yang
sifatnya menyokong payudara dari bawah suspension bukan
menekan dari depan (Rukiyah, 2010; h. 347-348).
Kompres air hangat berguna untuk melancarkan aliran darah ke
payudara dan kompres air dingin agar kekejangan pembuluh darah
vena berkurang disamping untuk mengurangi rasa nyeri ( Suherni,
2008; h. 54).
Alat-alat yang diperlukan untuk perawatan payudara adalah baskom
berisi air hangat , wash lap , handuk , minuman hangat , sampiran
dan status pasien / kertas dan alat tulis.
Cara kerja dalam perawatan payudara adalah :
a. Mencuci tangan
b. Mempersilahkan untuk duduk dengan tenang, jika memungkinkan
dengan diikitu oleh suami yang memberikan dukungan.
c. Ibu dipersilahkan untuk menggendong bayinya agar terjadi kontak
kulit antara ibu dan bayinya. Ibu dapat menaruh bayi di
pangkuannya namun jika tidak memungkinkan ia cukup melihat dari
dekat.

d. Ibu dipersilahkan untuk minum air hangat.


e. Menghangatkan payudara ibu dengan menggunakan kompres
hangat, usapan air hangat , atau mandi dengan air hangat.
f. Memberikan rangsangan kepada payudara ibu dengan cara menarik
atau memutar-mutar puting susu dengan jari.
g. Pijat dan elus payudara ibu dengan perlahan.
h. Masase payudara dan ASI diperas dengan tangan sebelum
menyusui.
i. Kompres dengan air dingin untuk mengurangi statis pembuluh darah
vena dan mengurangi rasa nyeri. Dapat dilakukan selang seling
dengan air panas untuk melancarkan aliran darah pada payudara.
j. Menyusui lebih sering dan lebih lama pada payudara yang bengkak
untuk melancarkan ASI dan menurunkan tegangan pada payudara.
k. Pijat bagian punggung ibu untuk merangsang refleks oksitosin
dengan cara:
Ibu membungkuk ke depan, serta duduk dan bersandar pada meja
dengan lengan terlipat dan kepala diletakkan di atas tangannya.
Payudara dibiarkan mengantung dan terlepas dari kain penutupnya.
Usap bagian punggung ibu kemudian beri tekanan memutar dengan
ibu jari mengarah kebagian bawah sepanjang tulang belakang yang
dimulai dari leher dan punggung, kemudian kearah bawah selama 3
menit.
l. Pijat aerola mamae untuk mengetahui bagaimana pengeluaran ASI
m. Pakai BH yang menopang payudara
n. Cuci tangan (Sulistyawati, 2009; h. 224-226-228)

Teknik menyusui yang benar :


(a)

Cuci tangan yang bersih dengan sabun,keluarkan sedikit asi dan


oleskan ke sekitar puting,dengan posisi duduk atau berbaring
santai

(b)

Ibu harus mencari posisi yang nyaman, biasanya duduk tegak


di tempat tidur dan ibu harus merasa rileks dan santai

(c)

Lengan ibu menopang kepala leher dan seluruh badan bayi


muka bayi menghadap ke payudara ibu hidung bayi di depan
puting susu ibu posisi bayi harus sedemikian rupa sehingga
perut bayi menghadap ke perut ibu bayi seharusnya berbaring
dengan seluruh tubuhnya menghadap ibu kepala harus sejajar
dengan perutnya.

(d)

Mendekatkan bayi ke tubuhnya dan mengamati bayi yang siap


untuk menyusu: membuka mulut, bergerak mencari dan
menoleh bayi harus berada dekar dengan payudara ibu.

(e)

Ibu menyentuh puting susunya ke bibir bayi, menunggu hingga


mulut bayi terbuka lebar kemudian mengarahkan puting susu
ibu hingga bibir bayi dapat menangkap puting susu ibu, ibu
memegang

payudara dengan satu tangan dengan cara

meletakkan keempat jari di bawah payudara dan ibu jari di atas


payudara ibu jari dan telunjuk harus membentuk huruf C dan
ibu jari ibu tidak boleh terlalu dekat dengan aerola
(f)

Pastikan bahwa sebagian besar aerola masuk ke dalam mulut


bayi semua, dagu rapat ke payudara dan hidungnya menyentuh

bagian atau payudara dan bibir bawah bayi melengkung kearah


luar
(g)

Bayi diletakan menghadap ibu dengan posisi sanggah seluruh


tubuh bayi jangan hanya leher dah bahunya saja

(h)

Jika bayi sudah selesai menyusu, ibu harus mengeluarkan


puting dari mulut bayi dengan cara memasukan jari kelingking
ibu di antara mulut dan payudara

(i)

Menyendawakan bayi dengan menyandarkan bayi di pundak


atau menelungkupkan bayi melintang di pangkuan ibu
kemudian menepuk-nepuk punggung bayi. (Dewi, 2011; h. 30)

2.2 TINJAUAN TEORI ASUHAN KEBIDANAN


2.2.1 Pengertian
Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang digunakan
sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori
ilmiah, temuan, dan keterampilan dalam rangkaian/tahapan yang logis untuk
mengambil suatu keputusan yang berfokus pada klien (Jannah, 2011; h. 121 )
Pengkajian (Pengumpulan data dasar)
Pengkajian atau pengumpulan data dasar adalah mengumpulkan semua data yang
dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan pasien. Merupakan langkah pertama
untuk mengumpulkan semua informasi yang akurat dari semua sumber yang
berkaitan dengan kondisi pasien
(Ambarwati, 2010; h. 131).
a. Data Subyektif
a) Nama

Nama jelas dan lengkap bila perlu nama panggilan sehari hari agar tidak
keliru dalam memberikan penanganan.

b) Umur
Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti kurang dari 20
tahun, alat-alat reproduksi belum matang, mental dan psikisnya belum siap.
Sedangkan umur lebih dari 35 tahun rentan sekali untuk terjadi perdarahan
dalam masa nifas.
c) Agama
Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk membimbing atau
mengarahkan pasien dalam berdoa. .
d) Suku/bangsa
Pasien berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari-hari.
e) Pendidikan
Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui sejauh mana
tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai
dengan pendidikannya. .
f) Pekerjaan
Gunanya untuk mengetahui dan mengukur tingkat sosial ekonominya, karena
ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien tersebut.
g) Alamat
Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah bila diperlukan
(Ambarwati, 2010; h. 131-132).
h) Keluhan utama.

Ditanyakan unutk menegtahui alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan


kesehatan (Sulistyawati , 2009; h. 111).
Tanda dan gejala bendungan ASI antara lain dengan ditandainya dengan
mamae panas serta keras pada perabaan dan nyeri,puting susu bisa mendatar
sehingga bayi sulit menyusui,pengeluaran susu terkadang terhalang oleh
duktus laktiferi yang menyempit ,payudara bengkak,keras ,panas, nyeri bila
ditekan ,warnanya kemerahan,suhu tubuh mencapai 38 0C (Rukiyah, 2010; h.
346).
1. Riwayat kesehatan
1) Yang Lalu
Data yang di perlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya riwayat
atau penyakit akut, kronis seperti: Jantung, DM, Hipertensi, Asma yang
dapat mempengaruhi pada masa nifas ini.
2) Sekarang
Data-data ini di perlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
penyakit yang di derita pada saat ini yang ada hubungannya dengan
masa nifas dan bayinya.
3) Keluarga
Data ini di perlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh
penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan pasien dan bayinya,
yaitu bila ada penyakit keluarga yang menyertainya (Ambarwati, 2010;
h. 133).
2. Riwayat obstetri
1) Riwayat menstruasi

Data ini memang tidak secara langsung berhubungan dengan masa


nifas, namun data yang bidan peroleh,bidan akan mempunyai
gambaran

tentang

keadaan

dasar

dari

organ

reproduksinya

(Sulistyawati, 2009; h. 112).

(1) Menarche
Usia pertama kali mengalami menstruasi. Untuk wanita Indonesia
pada usia sekitar 12- 16 tahun.
(2) Siklus
Jarak antara menstruasi yang di alami dengan menstruasi
berikutnya dalam hitungan hari, biasanya sekitar 23-32 hari.
(3) Volume
Data ini menjelaskan seberapa banyak darah menstrusi yang di
keluarkan.
(4) Keluhan
Beberapa wanita menyampaikan keluhan yang di rasakan ketika
mengalami menstruasi misalnya sakit yang sangat, pening sampai
pingsan,atau jumlah darah yang banyak.Ada beberapa keluhan yang
disampaikan oleh pasien dapat menunjuk kepada diagnose tertentu
(Sulistyawati, 2009; h. 112-113).
2) Pola kebutuhan Sehari-hari
(1) Nutrisi
1) Kebutuhan kalori selama menyusui proporsional dengan jumlah
air susu ibu yang dihasilkan dan lebih tinggi selama ibu

menyusui dibandingkan selama ibu hamil. Rata-rata kandungan


kalori ASI yang dihasilkan ibu dengan nutrisi baik adalah 70
kal/100 ml dan kira-kira 85 kal diperlukan oleh ibu untuk tiap
100 ml yang dihasilkan rata-rata ibu menggunakan kira-kira 640
kal/hari untuk 6 bulan pertama dan 510 kal/hari selama 6 bulan
kedua untuk menghasilkan jumlah susu normal. Rata-rata ibu
harus mengkonsumsi 2.300-2.700 kla ketika menyusui.
2) Ibu memerlukan tambahan 20 gr protein diatas

kebutuhan

normal ketika menyusui jumlah ini hanya 16 % dari tambahan


500 kallori yang dianjurkan pada ibu nifas. Protein diperlukan
untuk membawa oksigen didalam sel darah merah serta
pertumbuhan dan penggantian sel-sel yang rusak dan mati.
Sumber protein diperoleh dari protein hewani ndan nabati.
Protein hewani antara lain : seperti telur, daging, ikan, udang,
kerang, susu dan keju. Sementara itu protein nabati banyak
terkandung dalam tahu, tempe, kacang-kacangan.
3) Nutrisi lain yang diperlukan selama laktasi adalah asupan cairan.
Ibu menyusui dianjurkan minum 2-3 liter perhari dalam bentuk
air putih, susu, dan jus buah. Mineral, air, dan vitamin
digunakan untuk kelancaran metabolisme di dalam tubuh.
Sumber zat pengatur tersebut bisa diperoleh dari semua jenis
sayur dan buah-buahan segar.
4) Pil zat besi (FE) harus diminum 1x1 sehari, untuk menambah zat
besi selama 40 hari pascapersalinan.

5) Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) sebanyak 2 kali yaitu


pada 1 jam setelah melahirkan dan 24 jam setelahnya agar dapat
memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI (Dewi,
2011; h. 71) .

(2) Eliminasi
Ibu di minta untuk buang air kecil (miksi) 6 jam post partum. Jika
dalam 8 jam post partum belum dapat berkemih atau sekali
berkemih belum melebihi 100 cc, maka dilakukan keteterisasi.
Ibu post partum diharapkan dapat buang air besar (defekasi) setelah
hari kedua post partum
(Saleha, 2009; h.73).
(3) Istirahat
Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal,
diantaranya adalah sebagai berikut :
a) Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
b) Memperlambat proses involusi uterus dan

memperbanyak

perdarahan
c) Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat
bayi dan dirinya sendiri.
Ibu nifas memerlukan istirahat yang cukup , istirahat tidur yang
dibutuhkan ibu nifas sekitar 8 jam pada malam hari dan 1 jam pada
siang hari.

Hal-hal yang dapat dilakukan ibu dalam memenuhi kebutuhan


istirahatnya antara lain:
1. Anjurkan ibu untuk cukup istirahat.
2. Sarankan ibu untuk melakukan kegiatan rumah tangga secara
perlahan.
3. Tidur siang atau istirahat saat bayi tidur.
( Yanti, 2011; h. 84).
(4) Personal Hygine
Pada masa post partum, seprang ibu sangat rentan terhadap infeksi.
Oleh karena itu, kebersihan diri sangat penting untuk mencenggah
terjadinya infeksi. Kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur, dan
lingkungan sangat penting untuk tetap dijaga.
(Saleha, 2009; h. 73)
(5) Aktivitas
Menggambarkan pola aktivitas pasien sehari- hari.Pada pola ini
perlu di kaji pengaruh aktivitas terhadap kesehatannya. Mobilisasi
dini dapat mempercepat proses pengembalian alat- alat reproduksi.
Apalah ibu melakukan ambulasi, seberapa sering, apakah kesulitan,
dengan bantuan sendiri, apakah ibu pusing ketika melakukan
ambulasi (Ambarwati, 2010; h. 137).
b. Data Objektif
Data ini di kumpukan guna melengkapi data untuk menegakkan diagnosis.
Bidan harus melakukan pengkajian data objektif melalui pemeriksaan
inspeksi,palpasi,auskultasi,perkusidan pemeriksaan penunjang yang di lakukan
secara berurutan.

(Sulityawati, 2009; h. 121).


a) Pemeriksaan Umum
Pemeriksaan yang dilakukan kepada pasien sebagai berikut:
1. Keadaan umum
Untuk mengetahui data ini, bidan perlu mengamati keadaan pasien secara
keseluruhan, hasil pengamatan yang di laporkan kriteria:

1) Baik
2) Lemah.
2. Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang ke sadaran pasien,bidan dapat
melakukan pengkajian derajat kesadaran pasien dari keadaan compos
mentis sampai dengan koma.
(Sulistyawati, 2009; h. 121-122).
3. Tanda-tanda vital
1) Tekanan darah
Pada beberapa kasus di temukan keadaan hipertensi post partum, tetapi
keadaan ini akan menghilang dengan sendirinya apabila tidak ada
penyakit-penyakitlain yang menyertainya dalam 2 bulan pengobatan.
(Ambarwati, 2010; h. 139) .
4. Nadi
Berkisar antara 60- 80x/menit denyut nadi di atas 100x/menit pada masa
nifas adalah mengindikasikan adanya suatu infeksi, hal ini salah satunya
bisa di akibatkan oleh proses persalinan sulit atau karena kehilangan darah
yang berlebihan.

5. Suhu
Peningkatan suhu badan mencapai pada 24 jam pertama masa nifas pada
umumnya disebabkan oleh dehidrasi , yang disebabkan oleh keluarnya
cairan pada waktu melahirkan , selain itu bisa juga disebabkan karena
istirahat dan tidur yang diperpanjang selama awal persalinan.Tetapi pada
umumnya

setelah

12

jam

post

partum

suhu

tubuh

kembali

normal.Kenaikan suhu yang mencapai >380C adalah mengarah ke tandatanda infeksi.


6. Pernafasan
Pernafasan harus berada dalam rentang yang normal,yaitu sekitar 20-30
x/menit (Ambarwati, 2010; h. 138-139).
b) Pemeriksaan fisik
1. Pemeriksaan fisik head to toe
Kepala

: Organ tubuh yang perlu di kaji karena pada kepala terdapat


organ organ yang sangat penting pengkajian di awali
dengan inspeksi lalu palpasi .

Muka

: pada daerah muka kesimetrisan muka,apakah

kulitnya

normal, pucat ,sianosis atau ikterus. Bagian muka adalah


simetris

kanan

dan

kiri.Ketidaksemitrisanmuka

menunjukan adanya gangguan pada saraf ke tujuh.


Mata

: Untuk mengetahui bentuk dan fungsi mata, teknik yang


digunakan inspeksi dan palpasi
(Tambunan, 2011; h. 66-67).

Telinga

: Untuk mengetahui keadaan telinga luar, saluran telinga,


gendang telinga/membrane timpani, dan pendengaran.

Teknik pengkajian yang digunakan adalah inspeksi dan


palapasi.
Hidung

: Di kaji untuk mengetahui keadaan bentuk dan

fungsi

hidung. Dimulai dari bagian dalam, lalu sinus-sinus.


Mulut

: Untuk mengetahui bentuk dan kelainan pada


dapat diketahui dengan palpasi

mulut yang

(Tambunan, 2011; h. 73-

81).
Leher

: Untuk mengetahui bentuk leher, serta organ-organ lain


yang berkaitan. Teknik yang digunakan adalah inspeksi dan
palpasi

Dada

: Mengkaji kesehatan pernafasan


(Tambunan, 2011; h. 66-86).

Payudara

: Bendungan air susu dapat terjadi pada hari ke-2 atau

ke-3

ketika payudara telah memproduksi air susu. Bendungan


disebabkan oleh pengeluaran air susu yang tidak lancar,
karena

bayi tidak cukup sering menyusui, produksi

meningkat, terlambat menyusukan, hubungan dengan bayi


yang kurang baik, dan dapat pula terjadi akibat pembatasan
waktu menyusui. (Prawirohardjo, 2010; h. 652).
Perut

:
TFU :
Involusi

Tinggi Fundus Uteri

Berat
Uterus (gr)
1000
750
500

Bayi lahir
Uri lahir
Satu
minggu

Setinggi pusat
2 jari dibawah pusat
Pertengahan
pusat
dan simpisis

Dua
minggu
Enam

Tak teraba diatas 350


simpisis
Bertambah kecil
50-60

Keadaan
Serviks
Lembek
Beberapa hari
setelah
postpartum
dapat dilalui 2
jari.

minggu
Delapan Sebesar normal
minggu

Akhir minggu
pertama dapat
dimasuki
1
jari.

30

(Dewi, 2011; h. 57)


Pada hari kedua setelah persalinan tinggi fundus uteri 1 cm dibawah
pusat.Pada hari ketiga sampai hari keempat tinggi fundus uteri 2 cm
dibawah pusat.Pada hari kelima sampai hari ketujuh tinggi fundus
uteri pertengahan antara pusat dan simpisis. Pada hari kesepuluh
tinggi fundus uteri tidak teraba (Ambarwati, 2010; h.77)
Punggung

: Nyeri tekan, nyeri ketuk

Genetalia

:Mengkaji kebersiham, pengeluaran, massa, bau.

Perenium

:Segera setelah melahirkan, perenium menjadi kendur


karena sebelumnya terenggang oleh tekanan bayi yang
bergerak maju. Pada post

natal

hari

kelima,

perineum sudah mendapatkan kembali sebagian tonusnya, sekalipun tetap

kendur daripada keadaan sebelum

hamil (Sulistyawati, 2009; h. 78).


Pengeluaran Pervaginam
Lokhea ini keluar pada hari pertama sampai hari ke 4
masa postpartum. Cairan yang keluar berwarna merah
karena terisi darah segar, jaringan sisa-sisa plasenta,
dinding rahim, lemak bayi, lanugo (rambut bayi), dan
mekonium (Sulistyawati,2009;h.76).
2.2.2 Interpretasi data dasar
Mengidentifikasi diagnosa kebidanan dan masalah berdasarkan intepretasi yang
benar atas data data yang telah di kumpulkan. Dalam langkah ini data yang telah
dikumpulkan diinterpretasikan menjadi diagnosa kebidanan dan masalah.

Keduanya digunakan karena beberapa masalah tidak dapat diselesaikan seperti


diagnosa tetap membutuhkan penanganan yang dituangkan dalam rencana asuhan
terhadap pasien, masalah sering berkaitan dengan pengalaman wanita yang
diidentifikasikan oleh bidan (Ambarwati,2010; h. 141).
a. Diagnosa Kebidanan
Diagnosis dapat di tegakkan berkaitan dengan para,abortus,anak hidup,umur
ibu,dan keadaan nifas.
1. Data subjektif
Pernyataan ibu tentang jumlah persalinan, apakah pernah abortus atau tidak,
keterangan ibu tentang umur, keterangan ibu tentang keluhannya.
2. Data objektif
Palpasi tentang tinggi fundus uteri dan kontraksi, hasil pemeriksaan tentang
pengeluaran pervaginam, hasil pemeriksaan tanda-tanda vital (Ambarwati,
2010; h. 142).
b. Masalah
Permasalahan yang muncul berdasarkan pernyataan pasien. (Ambarwati, 2010;
h. 141)
a) Data Subjektif
Data yang didapat dari hasil anamnesa pasien
b) Data Objektif
Data yang didapat dari hasil pemeriksaan
c. Kebutuhan.
Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan dan
masalahnya (Sulistyawati, 2009; h. 180).
2.2.3 Identifikasi diagnose / masalah potensial

Mengidentifikasikan diagnosa atau masalah potensial yang mungkin akan terjadi.


Pada langkah ini diidentifikasikan masalah atau diagnosa potensial berdasarkan
rangkaian masalah dan diagnosa, hal ini membutuhkan antisipasi, pencegahan, bila
memungkinkan menunggu mengamati dan bersiap-siap apabila hal tersebut benarbenar terjadi. Melakukan asuhan yang aman penting sekali dalam hal ini
(Ambarwati, 2010; h. 142-143).
2.2.4 Tindakan segera
Langkah ini memerlukan kesinambungan dari manajemen kebidanan. Identifikasi
dan menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk
dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain sesuai
dengan kondisi pasien (Ambarwati, 2010; h. 143).
Tindakan segara untuk bendungan ASI adalah perawatan payudara dilakukan
dengan tujuan untuk mengurangi rasa sakit pada payudara dengan berikan kompres
dingin dan hangat dengan handuk secara bergantian kiri dan kanan. Lalu berikan
kompres sebelum menyusui bayi agar memudahkan bayi dalam menghisap dan
menangkap putting susu. Untuk mengurangi bendungan di vena dan pembuluh
getah bening dalam payudara lakukan pengurutan yang dimulai dari puting kearah
kopus mamae.Ibu harus rileks, dan dipijat leher dan punggung belakang (Rukiyah,
2010; h. 347).

2.2.5 Perencanaan
Langkah-langkah ini ditentukan oleh sebelumnya yang merupakan lanjutan dari
masalah atau diagnosa yang telah di identifikasi atau antisipasi. Rencana asuhan
yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah dilihat dari kondisi pasien
atau dari setiap masalah yang berkaitan, tetapi juga berkaitan dengan kerangka
pedoman antisipasi bagi wanita tersebut yaitu apa yang terjadi berikutnya

(Ambarwati, 2010; h. 143).

2.2.6 Pelaksanaan
Langkah ini merupakan pelaksanaan rencana asuhan penyuluhan pada klien dan
keluarga.Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efisiensi dan
aman (Ambarwati, 2010; h. 145).

2.2.7 Evaluasi
Langkah ini merupakan langkah terakhir guna mengetahui apa yang telah
dilakukan bidan. Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan, ulangi
kembali proses manajemen dengan benar terhadap setiap aspek asuhan yang sudah
dilaksanakan tapi belum efektif atau merencanakan kembali yang belum terlaksana
(Ambarwati, 2010; h.147).
2.3 Landasan Hukum Kewenangan Bidan
Berdasarkan Permenkes 572 tahun 1996 tentang Registrasi dan Praktik Bidan,
kompetensi yang ada didalam kurikulum DIII Kebidanan (1996), serta memperhatikan
draft ke VI kompetensi inti bidan yang disusun oleh ICM Februari 1999, maka
kompetensi inti bidan dapat diuraikan sebagai berikut :
Kompetensi 5 :
Bidan memberikan asuhan pada ibu nifas dan menyusui yang bermutu tinggi dan tanggap
terhadap budaya setempat.
a. Pengetahuan Dasar.

1) Fisiologi nifas.
2) Proses involusi dan penyembuhan sesudah persalinan/abortus.
3) Proses laktasi/menyusui dan tehnik menyusui yang benar serta penyimpangan yang
lazim terjadi termasuk pembengkakan payudara, abses , mastitis ,puting susu lecet ,
puting susu masuk.
4) Nutrisi ibu nifas , kebutuhan istirahat,aktifitas dan kebutuhan fisiologis lainnya seperti
pengosongan kandung kemih.
5) Kebutuhan nutrisi bayi baru lahir.
6) Adaptasi psikologis ibu sesudah bersalin dan abortus.
7) Bonding & attachment orang tua dan bayi baru lahir untuk menciptakan hubungan
positif.
8) Indikator subinvolusi : misalnya perdarahan yang terus menerus , infeksi.
9) Indikator masalah-masalah laktasi.
10) Tanda gejala yang mengancam kehidupan misalnya perdarahan pervaginam menetap ,
sisa plasenta , renjatan(shock) dan pre eklampsia post partum.
11) Indikator pada komplikasi tertentu dalam periode post partum,seperti anemia kronis
,hematoma vulva , retensi urin dan incontinentia alvi.
12) Kebutuhan asuhan dan konseling selama dan sesudah abortus.
13) Tanda dan gejala komplikasi abortus (Estiwidani, 2008; h. 90-91).
b. Ketrampilan tambahan
Melakukan insisi pada hematoma vulva.

Contoh: Dalam masa kehamilan, bidan sudah memperkenalkan masalah menyusui pada
ibu. Hal tersebut akan sangat bermanfaat karena ibu dan keluarga memiliki banyak
waktu untuk memahani manfaat ASI eksklusif dari pada susu botol. Ibu juga memiliki
waktu untuk berkonsultadi dengan bidan mengenai berbagai masalah dalam menyusui
dan melakukan persipan untuk menyusui misalnya perawatan payudara. (Soepardan,
2008; h. 65-67)

BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS PADA NY.A USIA 19TAHUN P1A0
3 HARI POST PARTUM DENGAN BENDUNGAN ASI
DI BPS IRMAYANI Amd.Keb
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015
I. PENGKAJIAN
Tanggal

: 8 April 2015

Jam

: 12.00 WIB

Tempat

: BPS Irmayani Amd. Keb

Nama Mahasiswa : Hilda Pebrina Rambe


NIM

: 201207023

A. Data subjektif
1. Identitas pasien
Istri

Suami

Nama

: Ny. A

Nama

: Tn. D

Umur

: 19 tahun

Umur

: 19 Tahun

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Sukubangsa

: Jawa

Sukubangsa

: Jawa

Pendidikan

: SMA

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: IRT

Pekerjaan

: Wiraswasta

Alamat

: Jln. Z.A Pagar Alam Gg. Cengkeh Kel. Gedung Meneng

82

2. AlasanDatang
Ibu P1A0 3 hari post partum datang ke BPS Irmayani Amd. Keb, dan Ibu
mengatakan ingin memeriksakan kesehatannya.
3. Keluhan utama
Ibu mengatakan payudaranya terasa penuh, panas, berat dan keras serta nyeri.
4. Riwayat Obstetri
a. Riwayathaid
Menarche

: 12Tahun

Siklus

: 28 Hari

Teratur/tidak

: Teratur

Lama

: 7hari

Volume

: 3 kali/hari ganti pembalut

Warna

: Merah segar

Dismenore

: Ada

Bau

: Khas

Flour albus

: Ada sebelum menstruasi

b. Riwayat kehamilan sekarang


HPHT

: 3 Juli 2014

TP

: 10 April 2015

Tanggal bersalin

: 5 April 2015

Frekuensi ANC

: 11 kali kunjungan

5. Riwayat kesehatan
a. Sekarang
Ibu sedang tidak mengalami penyakit apapun selama masa nifasnya sampai
saat ini seperti (TBC, Hepatitis, PMS) penyakit menurun seperti (DM, Asma,
Hipertensi) penyakit berat seperti (Jantung, Ginjal, Paru-paru)
b. Yang lalu
Ibu tidak pernah menderita penyakit menular seperti (TBC, Hepatitis, PMS)
penyakit menurun seperti (DM, Asma, Hipertensi) penyakit berat seperti
(Jantung, Ginjal, Paru-paru) dan ibu tidak pernah dirawat dirumah sakit yang
berhubungan dengan penyakit organ reproduksi
c. Keluarga
Dalam keluarga tidak ada yang menderita menular seperti (TBC, Hepatitis,
PMS) penyakit menurun seperti (DM, Asma, Hipertensi) penyakit berat seperti
(Jantung, Ginjal, Paru-paru)
6. Riwayat KB
No

Jenis
kontrasepsi

Tanggal

Mulaimemakai
Oleh Tempat

Kelu
han

Tanggal

Berhenti/ganticara
Oleh
Tempat

Alasan

Belum
pernah

7. Pola kebutuhan sehari-hari


a. Nutrisi
Selama Hamil

: Ibu makan 3x/hari, porsi, dengan menu nasi, lauk (ikan,


tahu, tempe, telur), sayur

(bayam, kangkung, daun singkong, dan minum

air

putih 8 gelas/hari ,buah (jeruk ,rambutan).

Selama Nifas

: Ibu makan 3x/hari, porsi, dengan menu


nasi,

lauk

(tahu,telur,tempe),

sayur

(bayam,

kangkung,katuk), minum air putih 8 gelas/hari,buah


(jeruk,apel).
b. Pola Eliminasi
Selama Hamil

: BAB 1x/hari, BAK 6-7 x/hari, warna kuning jernih,bau


khas.

Selama Nifas

: BAB :1x/hari , warna kuning dan lunak,bau khas.


BAK 4-5 x/hari, warna kuning jernih, bau khas.

c. Pola Istirahat
Selama Hamil

: Ibu tidur siang 1 jam/hari, tidur malam 8 jam/hari,


nyenyak, tidak ada keluhan

Selama nifas

: Tidur siang 1-2 jam dan tidur malam 5-6 jam.

d. Personal hygiene
Selama hamil

: Ibu mandi 2x/hari, gosok gigi 2x/hari, keramas 1x/hari,


ganti baju 2x/hari, dan ganti celana
dalam ketika terasa lembab

Selama nifas

: Ibu mandi 1x/hari, gosok gigi 2x/hari, keramas 2 hari


sekali, ganti baju 1x/hari, dan ganti pembalut 3-4 x/hari

e. Pola Seksual
Selama hamil

: Ibu mengatakan melakukan hubungan suami istri


1x/minggu dengan hati-hati

Selama nifas

: Ibu mengatakan belum melakukan hubungan suami istri


karena darah yang keluar masih banyak dan masa nifas
belum selesai

8. Riwayat Psikososial
a. Status perkawinan

: Ibu menikah 1x usia ibu 18tahun, suami usia 18tahun,


lama menikah 1tahun dan status menikah syah

b. Status emosional

: Ibu sangat bahagia dengan kelahiran bayinya ini


hubungan ibu dengan suami, keluarga, dan masyarakat
berjalan harmonis

9. Riwayat spiritual
a. Selama hamil

: Ibu melaksanakan ibadah shalat 5 waktu di rumah dan

mengaji
b. Selama nifas

: Ibu melaksanakan shalat 5 waktu di rumah.

B. Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Keadaan emosional

: Stabil

TTV

:
TD

: 120/80 mmHg

Pernafasan

: 22 kali/menit

Nadi

: 80 kali/menit

Suhu

: 36,80C

2. Pemeriksaanfisik
a. Kepala:

Warna rambut

: Hitam

Ketombe

: Tidak Ada

Benjolan

: Tidak Ada

b. Wajah
Cloasma

: Tidak Ada

Hiperpigmentasi

: ada

Pucat

: Tidakada

Edema

: Tidak Ada

c. Mata
Simetris

: Kanan dan kiri

Kelopak mata

: Tidak oedema

Konjungtiva

: Tidak pucat

Sklera

: Putih

d. Hidung
Simetris

: Kanan dan kiri

Polip

: Tidak ada pembengkakan

Kebersihan

: Bersih

e. Mulut
Warna bibir

: Merah

Pecah- pecah

: Tidak Ada

Sariawan

: Tidak Ada

Gusi berdarah

: Tidak Ada

Gigi

: Tidak berlubang

f. Telinga

Simetris

: Kanan dan kiri

Gangguan pendengaran

: Tidak ada

g. Leher
Simetris

: Kanan dan kiri

Pembesaran kelenjar tiroid

: Tidak Ada

Pembesaran vena juguralis

: Tidak Ada

h. Ketiak
Pembesaran kelenjar limfe

: Tidak Ada

i. Dada
Retraksi

: Ada

Bunyi mengi dan ronchi

: Tidak Ada

j. Payudara
Simetris

: Ya ,simetris kanan kiri

Pembesaran

: sebelah kanan dan kiri


mengalami pembengkakan.

Putting susu

: Menonjol

Hiperpigmentasi, areola mamae : Ada pada areola


Benjolan

: Tidak Ada

Konsisitensi

: Keras dan teraba panas

Pengeluaran

: Ada, colostrum.

k. Punggung dan pinggang


Simetris

: Kanan dan kiri

Nyeri ketuk

: Tidak Ada

l. Abdomen

Pembesaran

: Tidak Ada

Konsistensi

: Keras

Kandung kemih

: Kosong

Uterus
TFU

m.

n.

: 3 jaridibawahpusat

Kandung kemih

: Kosong

Kontraksi

: Baik

Anogenital
Vulva

: Tidak Ada hematoma

Perineum

: Tidak terdapat laserasi

Pengeluaran vaginam

: Lochea rubra

Anus

: Tidak Ada hemoroid

Ekstermitasbawah
Oedema

: Tidak Ada

Kemerahan

: Tidak Ada

Varices

: Tidak Ada

Reflek patella

: (+) Kanandankiri

3. PemeriksaanPenunjang
a. Pemeriksaan Laboraturium
Tidakdilakukan
4. Data Penunjang
a. Riwayat persalinan sekarang
1. IBU
Tempat melahirkan

: BPS Irmayani Amd. Keb.

Penolong

: Bidan

Jenis persalinan

: Spontan

Lama persalinan

: 12 jam

Catatan waktu
Kala I

: 9 jam 15menit

Kala II

: 0 jam 30 menit

Kala III

: 0 jam 15 menit

Kala IV

: 2 jam 0 menit

Lama

: 12 jam 0 menit

Ketuban pecah

: Spontan

Plasenta
Lahir secara

: Normal

Diameter

: 18 cm

Berat

: 500 gram

Panjang tali pusat

: 49 cm

Perineum

: tidak Ada Laserasi

2. Bayi
Lahir tanggal/pukul

: 05 April 2014/ 22.30 WIB

Berat badan

: 3300 gram

Panjang badan

: 50 cm

Nilai apgar

: 8/9

Jenis kelamin

: Perempuan

Cacat bawaan

: Tidak Ada

Masa gestasi

: 39 minggu 4 hari.

TABEL 3.1
MATRIKS
Tgl/
Jam

Pengkajian

08-042015/
12:00
WIB

Ds :
- Ibu mengatakan
payudaranya
terasa penuh ,
berat , panas
dan keras.
DO :
Keadaan umum :
baik.
Kesadaran :
composmentis.
TTV,
TD : 120/80
mmHg.
S: 36,8OC,
N:80x/i,
RR:22X/i,
Payudara teraba
keras , nyeri
tekan dan teraba
panas.
Pengeluaran
pervaginam
lochea rubra.
TFU 3 Jari
dibawah pusat

Interpretasi Data
(diagnosa , masalah
dan kebutuhan)
Dx :
Ny. A 19 tahun
P1A0 3hari post
partum dengan
bendungan asi.
Ds :
1. Ibu
mengatakan
baru pertama
kali
melahirkan dan
tidak
keguguran .
2..Ibu
mengatakan
melahirkan
tanggal 05-042015 pukul
22:30 wib.
3.. Ibu
mengatakan
payudaranya
terasa penuh ,
berat , panas
dan
keras.

Dx potensial
/Masalah
potensial
Payudara
bengkak.

Antisipasi/
Tindakan
segera
-Perawatan
payudara

Intervensi

Evaluasi

1. Beritahu kondisi ibu


saat ini

1. Memberitahu kondisi ibu


saat ini berdasarkan hasil
pemeriksaan ibu
mengalami bendungan
asi.

1. Ibu mengerti tentang


kondisinya saat ini.

2. Beritahu ibu tentang


keluhan yang
dirasakan ibu

2. Memberitahu ibu tentang


keluhan yang dirasakan
ibu yaitu payudara terasa
nyeri , panas dan
bengkak karena ibu
mengalami bendungan
asi yang disebabkan
karena pengosongan
payudara yang tidak
sempurna , faktor hisapan
bayi tidak aktif faktor
menyusui yang tidak
benar.

2. Ibu mengerti tentang


keluhan yang
dialami.

3. Lakukan perawatan
payudara.

3. Melakukan perawatan
payudara yaitu:
a. Mencuci tangan
b. Mempersilahkan
untuk duduk dengan
tenang,jika
memungkinkan
dengan diikitu oleh
suami yang
memberikan
dukungan.

3. Ibu telah melakukan


perawatan payudara
dan ibu mengerti cara
melakukan perawatan
payudara

-Pengelua
ran asi.
-Tehnik
menyusui.

Implementasi

DO :
Payudara teraba
keras , nyeri
tekan , dan

93

teraba panas.
TTV, TD :
120/80 mmHg.
S: 36,8OC,
N:80x/i,
RR:22X/i,

c. Ibu dipersilahkan
untuk menggendong
bayinya agar terjadi
kontak kulit antara
ibu dan bayinya. Ibu
dapat menaruh bayi di
pangkuannya namun
jikatidak
memungkinkan ia
cukup melihat dari
dekat.
d. Masase payudara dan
ASI diperas dengan
tangan sebelum
menyusui
e. Kompres dengan air
dingin untuk
mengurangi statis
pembuluh darah vena
dan mengurangi rasa
nyeri. Dapat
dilakukan selang
seling dengan air
panas untuk
melancarkan aliran
darah pada payudara.
f. Menyusui lebih
sering dan lebih lama
pada payudara yang
bengkak untuk
melancarkan ASI dan
menurunkan tegangan
pada payudara.

Masalah: Bendungan
Asi.
Kebutuhan :
Ajarkan untuk
perawatan payudara
dan pengeluaran asi.

4. Lakukan tehnik
pengeluaran asi

4. Melakukan teknik
pengeluaran ASI dengan
cara pengeluaran asi
dengan reflex oksitosin
yaitu :

4. Ibu telah melakukan


tehnik pengeluaran
asi.

a. Ibu membungkuk ke
depan , serta duduk
pada meja dengan
tangan terlipat dan
kepala diletakkan
diatas tangannya
b. Payudara dibiarkan
menggantung dan
terlepas dari kain
penutupnya.
c. Usap bagian
punggung ibu
kemudian beri
tekanan memutar
dengan ibu jari
mengarah kebagian
bawah sepanjang
tulang belakang yang
dimulai dari leher dan
punggung , kemudian
kearah bawah selama
3 menit.
d. Pijat aerola mamae
untuk mengetahui
bagaimana
pengeluaran ASI.
e. Pakai BH yang
menopang payudara.
f. Cuci tangan.
5. Ajarkan pada ibu
teknik menyusui
yang benar

5.Mengajarkan kepada
ibu tehnik menyusui
yang benar yaitu
dengan cara:
- Cuci tangan yang
bersih dengan
sabun,keluarkan
sedikit asi dan
oleskan kesekitar

5. Ibu mengerti tentang


tehnik menyusui yang
benar dan bisa
mempraktekannya.

puting,dengan posisi
duduk atau berbaring
santai
- Ibu harus mencari
posisi yang nyaman,
biasanya duduk tegak
di tempat tidur dan
ibu harus merasa
rileks dan santai
- Lengan ibu
menopang kepala
leher dan seluruh
badan bayi muka
bayi menghadap ke
payudara ibu hidung
bayi di depan puting
susu ibu posisi bayi
harus sedemikian
rupa sehingga perut
bayi menghadap ke
perut ibu bayi
seharusnya berbaring
dengan seluruh
tubuhnya menghadap
ibu kepala harus
sejajar dengan
perutnya.
Mendekatkan bayi ke
tubuhnya dan
mengamati bayi yang
siap untuk menyusu:
membuka mulut,
bergerak mencari dan
menoleh bayi harus
berada dekar dengan
payudara ibu.
- Ibu menyentuh puting
susunya ke bibir bayi,
menunggu hingga

mulut bayi terbuka


lebar kemudian
mengarahkan puting
susu ibu hingga bibir
bayi dapat
menangkap puting
susu ibu, ibu
memegang payudara
dengan satu tangan
dengan cara
meletakkan keempat
jari di bawah
payudara dan ibu jari
di atas payudara ibu
jari dan telunjuk harus
membentuk huruf C
dan ibu jari ibu tidak
boleh terlalu dekat
dengan areola
- Pastikan bahwa
sebagian besar aerola
masuk ke dalam
mulut bayi semua,
dagu rapat ke
payudara dan
hidungnya
menyentuh bagian
atau payudara dan
bibir bawah bayi
melengkung kearah
luar
- Bayi diletakan
menghadap ibu
dengan posisi
sanggah seluruh
tubuh bayi jangan
hanya leher dah
bahunya saja

- Jika bayi sudah selesai


menyusu, ibu harus
mengeluarkan puting
dari mulut bayi
dengan cara
memasukan jari
kelingking ibu di
antara mulut dan
payudara
- Menyendawakan bayi
dengan
menyandarkan bayi di
pundak atau
menelungkupkan bayi
melintang di
pangkuan ibu
kemudian menepuknepuk punggung bayi
6. Anjurkan ibu untuk
menyusui
bayinyasesering
mungkin untuk
mencegah terjadinya
bendungan Asi.

6. Menganjurkan kepada
ibu untuk menyusui bayi
segera setelah
lahir,susukan bayi tanpa
jadwal,keluarkan sedikit
ASI sebelum menyusui
agar payudara lebih
lembek,keluarkan ASI
dengan tangan atau
pompa bila produksi
melebihi kebutuhan ASI.

6. Ibu bersedia untuk


menyusui bayinya
sesering mungkin

7. Nilai dan beritahu


tanda bahaya masa
nifas.

7. Menilai dan
memberitahu ibu tanda
tanda bahaya masa nifas
seperti
- demam tinggi hingga
melebihi 38OC.
- Perdarahan vagina yang
luar biasa atau tiba-tiba

7. Tidak ada tandatanda infeksi masa


nifas dan ibu
mengerti tentang
tanda-tanda bahaya
masa nifas

bertambah lebih banyak


dari perdarahan haid
biasa atau bila
memerlukan
penggantian pembalut 2
kali dalam setengah
jam
- Nyeri perut hebat di
bagian abdomen .
- Sakit kepala dan
pandangan kabur.
- Rasa sakit , merah atau
bengkak dibagian betis
atau kaki.
- Puting payudara
berdarah
8. Beritahu ibu tentang
kebutuhan nutrisi.

8. Memberitahu ibu
tentang kebutuhan
nutrisi yaitu.yang
mengandung
karbohidrat untuk
tenaga seperti yang
terdapat pada nasi ,
jagung, roti, dan
kentang, lalu protein
hewani dan nabati yang
terdapat dalam telur,
tahu, tempe, ikan,
sayuran hijau yang
banyak mengandung zat
besi seperti bayam daun
papaya, kangkung, lalu
buah yang banyak
mengandung vitamin
dan serat seperti jeruk,
papaya, mangga, serta
minum 8 gelas perhari
untuk memenuhi

8. Ibu bersedia untuk


memenuhi kebutuhan
nutrisinya.

kebutuhan ibu dan


proses menyusui

11-042015/
14:00
WIB

Ds:
-Ibu mengatakan
nyeri
payudaranya
sudah berkurang
dan Asi belum
lancar.
DO:
Keadaan
umum:Baik
Kesadaran:
Composmentis
TTV:
TD:120/70
mmhg,
T:36,6OC,
N:80x/i,
RR:22X/i,

Dx:
Ny. A 19 tahun
P1A0 6 hari post
partum dengan
bendungan asi.
Ds:
1. Ibu mengatakan
baru pertama kali
melahirkan dan
belum pernah
keguguran
2.Ibu mengatkan
melahirkan
tanggal 05-042015 pukul 22.30
WIB
3..Ibu mengatakan
nyeri payudaranya
sudah berkurang

Payudara
bengkak

1. Perawa
tan
payudara.

9. Beritahu ibu
kebutuhan istirahat
yang cukup

9.Memberitahu ibu untuk


cukup istirahat pada
malam hari 8 jam/ hari
dan 1jam pada siang
hari karena bila ibu
kurang istirahat akan
mempengaruhi ibu
dalam beberapa hal
antara lain mengurangi
jumlah asi yang
diproduksi dan
memperlambat proses
involusi uteri, dan
memperbanyak
perdarahan.

1. Beritahu tentang
kondisi ibu saat
ini.

1. Memberitahu kondisi ibu


saat ini dengan hasil
pemeriksaan payudara
masih mengalami
bendungan asi

1. Ibu mengerti tentang


kondisinya saat ini.

2. Kaji ulang kembali


tentang perawatan
payudara.

2. Mengkaji tentang
perawatan payudara
kepada ibu yaitu
a.Mencuci tangan
b.Mempersilahkan
untuk duduk dengan
tenang,jika
memungkinkan
dengan diikitu oleh
suami yang
memberikan
dukungan.
c. Ibu dipersilahkan
untuk menggendong

2. Ibu telah mengerti


tentang perawatan
payudara dan telah
mempraktekannya
dirumah.

2. Pengelua
ran asi.

9. Ibu mengerti akan


kebutuhan istirahat
yang cukup

Payudara teraba
sedikit nyeri dan
keras

Pengeluaran
pervaginam
Lochea
sanguilenta
TFU :
Pertengahan
pusat dan
simpisis

dan asi belum


lancar .

bayinya agar terjadi


kontak kulit antara
ibu dan bayinya. Ibu
dapat menaruh bayi di
pangkuannya namun
jikatidak
memungkinkan ia
cukup melihat dari
dekat.
d. Masase payudara dan
ASI diperas dengan
tangan sebelum
menyusui
e. Kompres dengan air
dingin untuk
mengurangi statis
pembuluh darah vena
dan mengurangi rasa
nyeri. Dapat
dilakukan selang
seling dengan air
panas untuk
melancarkan aliran
darah pada payudara.
f. Menyusui lebih
sering dan lebih lama
pada payudara yang
bengkak untuk
melancarkan ASI dan
menurunkan tegangan
pada payudara.

DO:
Payudara teraba
sedikit keras dan
nyeri
TTV:
TD:120/70
mmhg, T:36,6OC,
N:80x/i,
RR:22X/i,

Masalah:
Bendungan Asi.

Kebutuhan:
Perawatan payudara
dan pengeluaran asi.

3. Kaji ulang kembali


tentang
pengeluaran asi.

3.Mengkaji tentang
pengeluaran asi yaitu:
a. Ibu membungkuk ke
depan , serta duduk
pada meja dengan
tangan terlipat dan
kepala diletakkan

3. Ibu telah mengerti


tentang tehnik
pengeluaran asi.

diatas tangannya
b. Payudara dibiarkan
menggantung dan
terlepas dari kain
penutupnya.
c. Usap bagian
punggung ibu
kemudian beri
tekanan memutar
dengan ibu jari
mengarah kebagian
bawah sepanjang
tulang belakang yang
dimulai dari leher dan
punggung , kemudian
kearah bawah selama
3 menit.
d. Pijat aerola mamae
untuk mengetahui
bagaimana
pengeluaran ASI.
e. Pakai BH yang
menopang payudara.
f. Cuci tangan.
4. Ajarkan kembali
pada ibu teknik
menyusui yang
benar

4.Mengajarkan kepada ibu


tehnik menyusui yang
benar yaitu dengan cara:
- Cuci tangan yang bersih
dengan sabun,keluarkan
sedikit asi dan oleskan
kesekitar puting,dengan
posisi duduk atau
berbaring santai.
- Ibu harus mencari posisi
yang nyaman, biasanya
duduk tegak di tempat
tidur dan ibu harus
merasa rileks dan santai

4. Ibu mengerti tentang


tehnik menyusui yang
benar dan telah
mempraktekannya

- Lengan ibu menopang


kepala leher dan
seluruh badan bayi
muka bayi menghadap
ke payudara ibu hidung
bayi di depan puting
susu ibu posisi bayi
harus sedemikian rupa
sehingga perut bayi
menghadap ke perut ibu
bayi seharusnya
berbaring dengan
seluruh tubuhnya
menghadap ibu kepala
harus sejajar dengan
perutnya.Mendekatkan
bayi ke tubuhnya dan
mengamati bayi yang
siap untuk menyusu:
membuka mulut,
bergerak mencari dan
menoleh bayi harus
berada dekar dengan
payudara ibu.
- Ibu menyentuh puting
susunya ke bibir bayi,
menunggu hingga
mulut bayi terbuka
lebar kemudian
mengarahkan puting
susu ibu hingga bibir
bayi dapat menangkap
puting susu ibu, ibu
memegang payudara
dengan satu tangan
dengan cara meletakkan
keempat jari di bawah
payudara dan ibu jari di
atas payudara ibu jari

dan telunjuk harus


membentuk huruf C
dan ibu jari ibu tidak
boleh terlalu dekat
dengan areola
- Pastikan bahwa
sebagian besar aerola
masuk ke dalam mulut
bayi semua, dagu rapat
ke payudara dan
hidungnya menyentuh
bagian atau payudara
dan bibir bawah bayi
melengkung kearah luar
- Bayi diletakan
menghadap ibu dengan
posisi sanggah seluruh
tubuh bayi jangan
hanya leher dah
bahunya saja
- Jika bayi sudah selesai
menyusu, ibu harus
mengeluarkan puting
dari mulut bayi dengan
cara memasukan jari
kelingking ibu di antara
mulut dan payudara
- Menyendawakan bayi
dengan menyandarkan
bayi di pundak atau
menelungkupkan bayi
melintang di pangkuan
ibu kemudian
menepuk-nepuk
punggung bayi
5. Anjurkan ibu
menyusui ASI
pada bayinya.

5. Menganjurkan ibu
tetap memberi ASI
pada bayinya sesering

5. Ibu mengatakan tetap


memberikan ASI
Pada bayinya

sesering mungkin
dan tanpa jadwal.

mungkin dan tanpa


jadwal

sesering mungkin dan


tanpa jadwal setiap 2
jam sekali

6. Kaji ulang kembali


pada ibu tentang
tanda bahaya masa
nifas

6. Mengkaji kembali
pada ibu tentang
tanda-tanda bahaya
masa nifas seperti
- demam tinggi
hingga melebihi
38OC.
- Perdarahan vagina
yang luar biasa atau
tiba-tiba bertambah
lebih banyak dari
perdarahan haid
biasa atau bila
memerlukan
penggantian
pembalut 2 kali
dalam setengah jam
- Nyeri perut hebat di
bagian abdomen .
- Sakit kepala dan
pandangan kabur.
- Rasa sakit , merah
atau bengkak
dibagian betis atau
kaki.
- Puting payudara
berdarah

6. Ibu sudah mengerti


tentang tanda-tanda
masa nifas.

7. Tanyakan tentang
kebutuhan nutrisi.

7. Menanyakan kepada
ibu tentang kebutuhan
nutrisi
mengandung
karbohidrat untuk
tenaga seperti yang
terdapat pada nasi ,

7. Ibu telah
mengkonsumsi
makanan yang
mengandung nutrisi.

jagung, roti, dan


kentang, lalu protein
hewani dan nabati
yang terdapat dalam
telur, tahu, tempe,
ikan, sayuran hijau
yang banyak
mengandung zat besi
seperti bayam daun
papaya, kangkung,
lalu buah yang
banyak mengandung
vitamin dan serat
seperti jeruk, papaya,
mangga, serta minum
8 gelas perhari untuk
memenuhi kebutuhan
ibu dan proses
menyusui

8.Kaji ulang tentang


kebutuhan istirahat
yang cukup

8. Mengkaji ulang ibu


apakah ibu sudah cukup
istirahatnya

8.Ibu mengatakan
selama dia mempunyai
bayi ibu tidur jarang
yiatu hanya 6 jam pada
malam hari karna
terbangun jika bayi nya
ingin menyusui dan ibu
istirahat pada siang hari
1- 2 jam.

15-042015/
16:00wib

Ds:
- Ibu mengatakan
nyeri
payudaranya
sudah berkurang
dan ASI sudah
lancar.
DO:
Keadaan
umum: Baik
Kesadaran:
Composmentis
TTV:
TD:120/70
mmhg,
T:36,6OC,
N:80x/i,
RR:22X/i,
Payudara teraba
lembek
setelah ibu
menyusui
bayinya
Pengeluaran
pervaginam
Lochea serosa
TFU : Tidak
teraba diatas
simpisis

Dx:
Ny. A 19 tahun
P1A0 10 hari
post partum

Tidak ada

Tidak ada

1. Beritahu tentang
1. Memberitahu kondisi ibu
kondisi ibu saat ini
saat ini dengan hasil
pemeriksaan Payudara
sudah tidak mengalami
bendungan ASI

1. Ibu mengerti dengan


kondisinya

2. Evaluasi kepada
ibu tentang
perawatan
payudara

2. Ibu telah melakukan


perawatan payudara
yang baik dan benar.

Ds:
Ibu mengatakan
baru pertamakali
melahirkan dan
belum pernah
keguguran.

Ibu mengatakan
melahirkan
tanggal
05-04-2015
pukul 22.30 WIB
Ibu mengatakan
nyeri
payudaranya
sudah berkurang
dan ASI sudah
lancar.

DO:
Payudara teraba
lembek setelah
ibu menyusui
bayinya

Masalah:
Tidak ada
Kebutuhan:
Evaluasi asuhan

2. Mengevaluasi tentang
perawatan payudara.

3. Mengevaluasi tentang
3. Evaluasi tentang
tehnik pengeluaran asi.
tehnik pengeluaran
asi.

3. Ibu mengatakan
mengatakan mengerti
penjelasan yang telah
di berikan dan
mampu
mempraktikanya
sesuai yang telah
diajarkan

4. Evaluasi tentang
tehnik menyusui
yang benar

4. Mengevaluasi tentang
tehnik menyusui yang
benar.

4. Ibu telah melakukan


teknik menyusui
dengan benar sesuai
yang diajarkan.

5. Evaluasi ibu untuk


tetap
mengkonsumsi
makanan yang
bernutrisi

5. Mengevaluasi ibu untuk


tetap mengonsumsi
makanan yang bernutrisi

5. Ibu mengerti akan


mengkonsumsi
makanan bernutrisi
yang mengandung
karbohidrat untuk
tenaga seperti yang
terdapat pada nasi ,
jagung, roti, dan
kentang, lalu protein
hewani dan nabati
yang terdapat dalam
telur, tahu, tempe,
ikan, sayuran hijau

yang diberikan.

yang banyak
mengandung zat besi
seperti bayam daun
papaya, kangkung,
lalu buah yang
banyak mengandung
vitamin dan serat
seperti jeruk, papaya,
mangga, serta minum
8 gelas perhari untuk
memenuhi kebutuhan
ibu dan proses
menyusui
6. Evaluasi tentang
6. Mengevaluasi tentang
tanda bahaya masa
tandabahaya nifas
nifas

6. Sudah dilakukan
evaluasi terhadap ibu
dan hasilnya ibu tidak
ada tanda-tanda
infeksi masa nifas.

7. Evaluasi ibu
7. Mengevaluasi tentang
tentang kebutuhan
pola istirahat ibu.
istirahat yang
cukup

7. Ibu mengganti pola


istirahat tidur malam
yang kurang dengan
melakukan tidur
siang saat bayinya
tertidur.

8. Anjurkan ibu
untuk kunjungan
ulang

8. Ibu mengerti dan


akan melakukan
kunjungan ulang
atau bila ada keluhan

8. Menganjurkan ibu untuk


melakukan kunjungan
ulang 2 minggu yang
akan datang, sesuai
jadwal yang telah
ditentukan atau terdapat
keluhan dan memastikan
involusi uterus berjalan
normal, menilai tanda

tanda demam, infeksi


atau perdarahan
abnormal, memastikan
ibu mendapat cukup
makanan, cairan, dan
istirahat, memastikan ibu
menyusui dengan baik
dan memberikan
konseling mengenai
asuhan pada bayi.

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Pengumpulan Data Dasar


Pada pengkajian dilakukan untuk mengumpulkan data dasar tentang keadaan pasien.
Pada kasus ini penulis melakukan pengkajian pada ibu nifas pada Ny.A Umur 19 Tahun
P1A0 post partum hari ke 3 dengan bendungan ASI
4.1.1 Data Subjektif
1. Nama
a. Menurut Tinjauan Teori.
Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari-hari agar tidak
keliru dalam memberikan penanganan.
(Ambarwati, 2010; h. 131)
b. Tinjauan kasus
Dalam kasus ini nama ibu Ny.A
c. Pembahasan

Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus ini tidak terjadi kesenjangan
antara teori dan kasus karena Ny.A mempunyai nama jelas yang dapat
110

membedakan dengan klien yang lain sehingga terhindar dari kekeliruan


dalam memberikan penanganan.
2. Umur ibu
a. Menurut Tinjauan Teori
Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti kurang dari 20
tahun, alat- alat reproduksi belum matang,mental psikisnya belum siap.

Sedangkan umur lebih dari 35 tahun rentan sekali untuk terjadi perdarahan
dalam masa nifas.
(Ambarwati, 2010; h. 131).
b. Menurut tinjauan kasus
Pada kasus ini Ny. A berumur 19 tahun
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus ini terjadi kesenjangan karena
pada kasus ini, Ny.A berumur 19 tahun.
3. Suku/bangsa.
a.Menurut tinjauan teori.
Pasien berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari-hari
(Ambarwati, 2010; h. 132).
b. Tinjauan kasus
Ibu bersuku jawa.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan
karena ibu tidak memiliki kebiasaan-kebiasaan adat yang berpengaruh
terhadap kehamilan,persalinan, dan nifas.
4. Pendidikan
a. Tinjauan Teori
Pengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui sejauh mana
tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai
dengan pendidikannya. (Ambarwati, 2010; h. 132).
b. Tinjauan Kasus
Pendidikan terakhir Ny. A adalah SMA

c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan
antara teori dan kasus karena Ny.A berpendidikan terakhir SMA sehingga
pada saat penulis memberikan konseling kepada ibu, ibu dapat mudah
mengerti hal ini sejalan dengan teori, dimana pendidikan SMA termasuk
dalam kategori sedang sehingga dalam menerima informasi ibu lebih mudah
mengerti
5. Pekerjaan
a. Tinjauan Teori
Gunanya untuk mengetahui dan mengukur tingkat sosial ekonominya,
karena ini berpengaruh juga terhadap gizi pasien tersebut (Ambarwati,
2010; h. 132).
b. Tinjauan kasus
Pekerjaan Ny.A sebagai Ibu rumah tangga dan suami Ny.A bekerja sebagai
wiraswasta
c. Pembahasan
Berdasarkan

tinjauan

teori

dan

tinjauan

kasus

tidak

terdapat

kesenjangan.Pengkajian pekerjaan dilakukan untuk mengetahui dan


mengukur tingkat sosial ekonominya, karena ini berpengaruh juga terhadap
gizi pasien tersebut. (Ambarwati, 2010; h. 132).
Meskipun Ny. A hanya bekerja sebagai IRT namun pemenuhan nutrisi dan
kebutuhan sehari-hari Ny. A terpenuhi di karenakan di dukungan oleh
penghasilan suami Ny.A

6.

Keluhan Utama
a. Tinjauan Teori
Ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan
kesehatan (Sulistyawati, 2009; h. 111).
Tanda dan gejala bendungan ASI antara lain dengan ditandainya dengan
mamae panas serta keras pada perabaan dan nyeri,puting susu bisa
mendatar sehingga bayi sulit menyusui,pengeluaran susu terkadang
terhalang oleh duktus laktiferi yang menyempit ,payudara bengkak,keras
,panas, nyeri bila ditekan ,warnanya kemerahan,suhu tubuh mencapau
380C (Rukiyah, 2010; h. 346).
b. Tinjauan Kasus
Pada kasus Ny.A mengatakan merasakan nyeri, panas, keras, teraba panas
dan bengkak di payudaranya
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan
karena sesuai dengan teori gejala dari bendungan ASI adalah payudara
bengkak, teraba keras, panas, berat dan nyeri saat di tekan.

7. Riwayat Kesehatan.
a. Menurut Tinjauan Teori
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh
penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan pasien dan bayinya , yaitu
bila ada penyakit keluarga yang menyertainya (Ambarwati, 2010; h. 133).
b. Tinjauan kasus
Ibu mengatakan tidak mengalami penyakit apapun.

c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan
antara teori dan kasus karena pada kasus Ny .A tidak ada riwayat penyakit
yang berasal dari diri sendiri ataupun dari keluarga.
8. Nutrisi
a. Tinjauan Teori
Nutrisi menggambarkan tentang pola makan dan minum, frekuensi ,
banyaknya , jenis makanan , makanan pantangan. (Ambarwati, 2010; h.
136).
1) Kebutuhan kalori selama menyusui proporsional dengan jumlah air susu
ibu yang dihasilkan dan lebih tinggi selama ibu menyusui dibandingkan
selama ibu hamil. Rata-rata kandungan kalori ASI yang dihasilkan ibu
dengan nutrisi baik adalah 70 kal/100 ml dan kira-kira 85 kal diperlukan
oleh ibu untuk tiap 100 ml yang dihasilkan rata-rata ibu menggunakan
kira-kira 640 kal/hari untuk 6 bulan pertama dan 510 kal/hari selama 6
bulan kedua untuk menghasilkan jumlah susu normal. Rata-rata ibu
harus mengkonsumsi 2.300-2.700 kla ketika menyusui.
2) Ibu memerlukan tambahan 20 gr protein diatas kebutuhan normal ketika
menyusui jumlah ini hanya 16 % dari tambahan 500

kallori yang

dianjurkan pada ibu nifas. Protein diperlukan untuk membawa oksigen


didalam sel darah merah serta pertumbuhan dan penggantian sel-sel yang
rusak dan mati. Sumber protein diperoleh dari protein hewani ndan
nabati. Protein hewani antara lain : seperti telur, daging, ikan, udang,
kerang, susu dan keju. Sementara itu protein nabati banyak terkandung
dalam tahu, tempe, kacang-kacangan.

3) Nutrisi lain yang diperlukan selama laktasi adalah asupan cairan. Ibu
menyusui dianjurkan minum 2-3 liter perhari dalam bentuk air putih,
susu, dan jus buah. Mineral, air, dan vitamin digunakan untuk kelancaran
metabolisme di dalam tubuh. Sumber zat pengatur tersebut bisa
diperoleh dari semua jenis sayur dan buah-buahan segar.
4) Pil zat besi (FE) harus diminum 1x1 sehari, untuk menambah zat besi
selama 40 hari pascapersalinan.
5) Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) sebanyak 2 kali yaitu pada 1 jam
setelah melahirkan dan 24 jam setelahnya agar dapat memberikan
vitamin A kepada bayinya melalui ASI. (Dewi, 2011; h. 71).
b. Tinjauan Kasus
Ny.A makan 3 kali sehari dengan menu 1 porsi nasi, sayur (sayur bayam
dan katuk), lauk (tahu, telur , tempe), buah jeruk dan apel.
c. Pembahasan
Menurut tinjauan teori dan tinjauan kasus di atas tidak terdapat kesenjangan
karena Ny. A dapat memenuhi kebutuhan nutrisi
dengan baik dan ibu tidak mempunyai pantangan.
9.

Eliminasi
a. Tinjauan Teori
Ibu di minta untuk buang air kecil (miksi) 6 jam post partum. Jika dalam
8 jam post partum belum dapat berkemih atau sekali berkemih belum
melebihi 100 cc, maka dilakukan keteterisasi.
Ibu post partum diharapkan dapat buang air besar (defekasi) setelah hari
kedua post partum (Saleha, 2009; h.73).

b. Tinjauan Kasus
Ibu mengatakan BAK 4-5 kali sehari, sejak 4 jam post partum dan Ibu
mengatakan BAB 1 kali sehari sejak hari ke 2 post partum.
c. Pembahasan
Dari pembahasan di atas tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus,
pada kasus ini Ny.A sudah BAB sejak 2 hari post partum dan sudah BAK
sejak 4 jam post partum
10. Istirahat
a. Tinjauan Teori
Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien, berapa jam pasien
tidur.Istirahat sangat penting bagi ibu masa nifas karena dengan istirahat
yang cukup dapat mempercepat penyembuhan.
(Ambarwati, 2010; h. 136).
Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal, diantaranya
adalah sebagai berikut :
a) Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
b) Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan
c) Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan
dirinya sendiri.
Ibu nifas memerlukan istirahat yang cukup , istirahat tidur yang
dibutuhkan ibu nifas sekitar 8 jam pada malam hari dan 1 jam pada
siang hari.
Hal-hal yang dapat dilakukan ibu dalam memenuhi kebutuhan
istirahatnya antara lain:

1. Anjurkan ibu untuk cukup istirahat.


2. Sarankan ibu untuk melakukan kegiatan rumah tangga secara
perlahan.
3. Tidur siang atau istirahat saat bayi ( Yanti, 2011; h. 84).
b. Tinjauan kasus
Ny. A hanya tidur 5 sampai 6 jam pada malam hari dan 1-2 jam pada siang
hari
c. Pembahasan
Menurut tinjauan teori dan kasus terdapat kesenjangan karena Ny.A hanya
tidur malam selama 5 sampai 6 jam dikarenakan bayinya sering terbangun
diakibatkan bayinya lapar ingin menyusui sedangkan menurut teori istirahat
tidur yang dibutuhkan ibu nifas sekitar 8 jam perhari

jika ibu kurang

istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal antara lain


mengurangi jumlah asi yang diproduksi dan memperlambat proses involusi
uteri , dan memperbanyak perdarahan.
12. Personal Hygiene.
a. Menurut Tinjauan Teori.
Pada masa post partum, seorang ibu sangat rentan terhadap infeksi. Oleh
karena itu, kebersihan diri sangat penting untuk mencegah terjadinya
infeksi. Kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur, dan lingkungan sangat
penting untuk tetap dijaga. (Saleha, 2009; h. 73).
b. Menurut Tinjauan Kasus.
Ny. A mandi 2x/hari , ganti pembalut 3-4x/hari atau tiap basah dan
lembab serta Ny. A . Tidak terdapat tanda-tanda infeksi pada ibu

c. Pembahasan.
Berdasarka tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan
karena tidak terdapat tanda-tanda infeksi pada ibu karena ibu telah
menjaga kebersihan dirinya. Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan
antara teori dan kasus.
4.1.2 Data Objektif
1. Pemeriksaan umum
a. Tinjauan Teori
1. Keadaan Umum.
Untuk mengetahui data ini, bidan perlu mengamati keadaan pasien secara
keseluruhan, hasil pengamatan yang di laporkan kriteria:
3) Baik
2) Lemah.
2. Kesadaran.
Untuk mendapatkan gambaran tentang ke sadaran pasien,bidan dapat
melakukan pengkajian derajat kesadaran pasien dari keadaan compos
mentis sampai dengan koma
(Sulistyawati, 2009; h. 121-122).
b. Tinjauan Kasus
Keadaan umum

:baik

Keadaan emosional : stabil.


Kesadaran

: composmentis.

c. Pembahasan.
Tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan kasus karena keadaan dan
kesadaran ibu dalam keadaan baik.

2. Tanda-tanda vital.
1. Tekanan darah.
a. Tinjauan Teori.
Pada beberapa kasus di temukan keadaan hipertensi post partum, tetapi
keadaan ini akan menghilang dengan sendirinya apabila tidak ada
penyakit-penyakit lain yang menyertainya dalam 2 bulan pengobatan.
(Ambarwati, 2010; h. 139).
b. Tinjauan Kasus
Pada kasus ini tekanan darah Ny. A normal yaitu 120/80 mmHg
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan
karena Tekanan darah Ny.A 120/80 mmHg. Dan menurut teori tekanan
darah normal manusia adalah sistolik antara 90-120 mmHg dan diastolik
60-80 mmHg.dan tekanan darah Ny. A dalam batas normal tidak
mengalami peningkatan.
2. Nadi
a. Tinjauan teori
Berkisar antara 60- 80x/menit denyut nadi di atas 100x/menit pada masa
nifas adalah mengindikasikan adanya suatu infeksi, hal ini salah satunya
bisa di akibatkan oleh proses persalinan sulit atau karena kehilangan
darah yang berlebih. (Ambarwati, 2010; h.138).
b.

Tinjauan Kasus
Pada kasus ini nadi Ny. A yaitu 80 kali/ menit

c.

Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena nadi ibu pada saat ini dalam batas normal yaitu 80
kali/menit dan berdasarkan teori nadi normal Berkisar antara 6080x/menit
(Ambarwati, 2008; h. 138).

3.

Suhu
a. Tinjauan Teori
Peningkatan suhu badan mencapai pada 24 jam pertama pada masa nifas
pada umumnya di sebabkan oleh dehidrasi,yang di sebabkan oleh
keluarnya cairan pada waktu melahirkan,selain itu bisa juga di sebabkan
karena istirahat dan tidur yang di perpanjang selama awal persalinan.
(Ambarwati, 2010; h. 138).
Tanda dan gejala bendungan ASI antara lain dengan ditandainya dengan:
mamae panas serta keras pada perabaan dan nyeri, putting susu bisa
mendatar sehingga bayi sulit menyusui, pengeluaran susu kadang
terhalang oleh duktus laktiferi yang menyempit, payudara bengkak,
keras, panas, nyeri bila ditekan, warnanya kemerahan,suhu tubuh
mencapai 380c (Rukiyah, 2010; h. 346).
b. Tinjauan Kasus
Pada kasus Ny. A suhu tubuh ibu yaitu 36,80c pada nifas hari
ke 3.

c. Pembahasan
Menurut tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan
karena suhu tubuh Ny.A yaitu 36,80c dan menurut teori pada ibu nifas
dengan bendungan ASI terkadang suhu tubuh ibu meningkat.
4.

Pernafasan
a. Tinjauan Teori
Pernafasan harus berada dalam rentang yang normal,yaitu sekitar 20-30
x/menit (Ambarwati, 2010; h. 138-139).
b. Tinjauan Kasus
Pada kasus Pernafasan Ny. A yaitu 22 kali/menit
c. Pembahasan
Menurut tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan
karena Pernafasan ibu dalam batas normal yaitu 20-30 kali/menit. Pada
ibu post partum umumnya pernafasan lambat atau normal. Hal ini
dikarenakan ibu dalam keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat.

5. Payudara
a. Tinjauan teori
Bendungan air susu dapat terjadi pada hari ke- 2 atau ke-3 ketika payudara
telah memproduksi asi susu. Bendungan disebabkan oleh pengeluaran air
susu yang tidak lancar, karena bayi tidak cukup untuk menyusui, produksi
meningkat, terlambat menyusukan, hubungan dengan bayi(bounding)
kurang baik, dan dapat pula karena adanya pembatasan waktu menyusu.
( Prawirohardjo, 2010; h. 652).

b. Tinjauan kasus
Bentuk payudara Ny.A simetris kanan dan kiri, pembesaran terdapat
pembengkakan dan mengkilat, puting susu menonjol, tidak ada benjolan dan
pengeluaran ada, sedikit asi.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan kasus dan tinjauan teori tidak terdapat kesenjangan
karena ibu mengalami bendungan ASI yang ditandai dengan pembengkakan
pada payudara, Pengeluaran ASI nya sedikit yang disebabkan karena adanya
pembatasan waktu dalam menyusui.
6. TFU :
a. Tinjauan teori
Proses involusi adalah proses kembalinya uterus ke dalam keadaan sebelum
hamil setelah melahirkan. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar
akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Pada hari kedua setelah persalinan
tinggi fundus uteri 1 cm dibawah pusat.Pada hari ketiga sampai hari
keempat tinggi fundus uteri 2 cm dibawah pusat.Pada hari kelima sampai
hari ketujuh tinggi fundus uteri pertengahan antara pusat dan simpisis. Pada
hari kesepuluh tinggi fundus uteri tidak teraba (Ambarwati, 2010; h. 77).
b. Tinjauan kasus
Tidak ada pembesaran, konsistensi Keras pada fundus lunak pada bagian
lain, kandung kemih Kosong, pada hari ke 3 TFU Ny.A 3 jari di bawah
pusat dan kontraksi baik, pada hari ke 6 TFU Ny.A pertengahan antara pusat
dan simpisis dan kontraksi baik dan pada hari ke-10 TFU Ny. A tidak teraba
diatas simpisis dan kontraksi baik.

c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus terdapat kesenjangan kearah
yang lebih baik,karena pada hari ke 3 TFU Ny.A 3 jari dibawah pusat, dan
menurut teori TFU pada hari ketiga sampai keempat yaitu 2 cm dibawah
pusat.Dan pada hari ke 6 TFU Ny.A pertengahan antara pusat dan simpisis,
dan menurut teori TFU pada hari kelima sampai hari ketujuh tinggi fundus
uteri pertengahan antara pusat dan simpisis. Pada hari ke-10 TFU Ny. A
tidak teraba diatas simpisis , dan menurut teori TFU pada hari ke-10 yaitu
tidak teraba.Hal ini di sebabkan karena involusi uteri yang berjalan dengan
baik.
7. Lokhea
a. Tinjauan teori
Lokhea rubra ini muncul pada hari pertama sampai hari ke-4 post partum.
Cairan yang keluar berwarna merah karena terisi darah, jaringan sisa-sisa
plasenta,

dinding

rahim,

lemak

bayi,

lanugo(rambut

bayi),

dan

mekonium.Lokhea sanguilenta berwarna merah kecokelatan dan berlendir,


serta berlangsung, dari hari keempat dan hari ketujuh post partum.Lokhea
serosa berwarna kuning kecokletan karena mengandung serum, leukosit, dan
robekan atau laserasi plasenta.Keluar pada hari ke-7 sampai hari ke-14
(Sulistyawati, 2009; h. 76).
b. Tinjauan kasus
Pada hari ke 3 Ny.A mengeluarkan cairan dari kemaluannya bewarna merah
segar yaitu lokhea rubra. Pada hari ke 6 Ny.A mengeluarkan cairan dari
kemaluannya bewarna merah kecokelatan yaitu lokhea sanguilenta.Dan

pada hari ke-10 Ny. A mengeluarkan cairan dari kemaluannya berwarna


kuning kecokletan yaitu lokhea serosa.
c. Pembahasan
Jadi pada kasus ini tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus karena
pengeluaran pervaginam pada Ny. A pada hari ke 3 yaitu Lokhea rubra ini
muncul pada hari pertama sampai hari ke-4 post partum. Cairan yang keluar
berwarna merah karena terisi darah, jaringan sisa-sisa plasenta, dinding
rahim, lemak bayi, lanugo(rambut bayi), dan mekonium Dan pada hari ke 6
yaitu lokia sanguilenta.Lochea sanguilenta ini berwarna merah kecokelatan
dan berlendir, serta berlangsung, dari hari keempat dan hari ketujuh post
partum. Lokhea serosa berwarna kuning kecokletan karena mengandung
serum, leukosit, dan robekan atau laserasi plasenta.Keluar pada hari ke-7
sampai hari ke-14 (Sulistyawati, 2009; h. 76).

4.2 Interpretasi Data Dasar


a. Diagnosa Kebidanan
a) Tinjauan teori
Diagnosa dapat ditegakkan yang berkaitan dengan Abortus, anak hidup, umur ibu,
dan keadaan nifas.
3. Data subjektif
Pernyataan ibu tentang jumlah persalinan, apakah pernah abortus atau tidak,
keterangan ibu tentang umur, keterangan ibu tentang keluhannya.
4. Data objektif
Palpasi tentang tinggi fundus uteri dan kontraksi, hasil pemeriksaan tentang
pengeluaran pervaginam, hasil pemeriksaan tanda-tanda vital (Ambarwati,
2010; h. 142).

b) Tinjauan kasus
Diagnosa kebidanan pada kasus ini adalah Ny A umur 19 tahun P1A0 3 hari post
partum post partum dengan bendungan asi. Data dasar dari diagnosa kebidanan
tersebut antara lain Ny. A umur 19 tahun, ibu melahirkan pada tanggal 05 april
2015, sudah pernah melahirkan satu kali dan belum pernah keguguran. Dan ibu
mengatakan nyeri pada payudaranya disertai teraba keras. Sedangkan data objektif
yang didapatkan dari Ny. A yaitu : Pada pemeriksaan payudara.
Simetris

: Ya , simetris kanan kiri.

Pembesaran

: Sebelah kanan dan kiri mengalami pembengkakan.

Puting susu

: Menonjol.

Benjolan

: Tidak ada

Pengeluaran

: Ada, Asi colostrum

c) Pembahasan
Pada kasus ini, tidak ada kesenjangan antara kasus dan teori karena diagnosa yang
ditegakkan pada Ny. A dilakukan berdasarkan pengkajian dari data dasar berupa
data Subjektif dan Objektif.
b. Masalah
1) Tinjauan teori
Permasalahan yang muncul berdasarkan pernyataan pasien. (Ambarwati, 2010;
h.141).
c) Data Subjektif
Data yang didapat dari hasil anamnesa pasien
d) Data Objektif
Data yang didapat dari hasil pemeriksaan
2) Tinjauan kasus

Dalam kasus ini masalah yang ditemukan yaitu bendungan ASI


3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan antara
tinjauan teori dan tinjauan kasus karena permasalahan yang muncul berdasarkan
pernyataan pasien, dimana data tersebut diperoleh dari data subjektif dan data
objektif
c. Kebutuhan
a) Tinjauan teori
Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan dan
masalahnya (Sulistyawati, 2009; h.180).
b) Tinjauan kasus
Ibu memiliki masalah bendungan asi pada payudaranya dan ibu kurang mengerti
cara mengatasi masalah pada payudaranya sehingga membutuhkan penjelasan
tentang kebutuhan perawatan payudara dan tehnik pengeluaran asi.
c) Pembahasan
Berdasarkan kasus diatas tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus karena
kebutuhan tersebut sesuai dengan data yang dikumpulkan dari data subjektif dan
objektif dan sesuai dengan masalah yang dihadapi ibu.
4.3 Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial dan Mengantisipasi
Penanganannya
a. Tinjauan teori
Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial yang mungkin akan terjadi. Pada
langkah ini diidentifikasikan masalah atau diagnosa potensial berdasarkan rangkaian
masalah dan diagnosa, hal ini membutuhkan antisipasi, pencegahan. Bila
memungkinkan menunggu mengamati dan bersiap-siap apabila hal tersebut benar-

benar terjadi. Melakukan asuhan yang aman penting sekali dalam hal ini (Ambarwati,
2010; h. 142-143).
b. Tinjauan kasus
Dalam kasus ini masalah potensial yang mungkin terjadi pada Ny. A adalah payudara
bengkak
c. Pembahasan
Berdasarkan pembahasan di atas tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan
tinjauan kasus karena mengidentifikasikan diagnosa potensial berdasarkan rangkaian
masalah dan diagnosa. Masalah bendungan ASI yang tidak tertangani akan terjadi
payudara bengkak karena pada bendungan asi terjadi penyempitan pada duktus
laktifirus, jika tidak tertangani maka akan menyebabkan duktus laktifirus semakin
menyempit dan ASI tidak bisa keluar.
4.4 Tindakan Segera
a. Tinjauan teori
Langkah ini memerlukan kesinambungan dari manejemen kebidanan. Identifikasi dan
menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk
dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain sesuai
dengan kondisi pasien.
(Ambarwati, 2010; h. 143).
b. Tinjauan kasus
Pada kasus Ny. A dilakukan tindakan segera dengan melakukan perawatan payudara ,
tehnik pengeluaran ASI dan tehnik menyusui.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan kasus tidak ada kesenjangan karena tidak ada antisipasi
masalah potensial yang harus segera ditangani , sesuai teori

identifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter untuk
dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain sesuai
dengan kondisi pasien.
(Ambarwati, 2010; h. 143).

4.5 Perencanaan
a. Tinjauan teori
Langkah-langkah ini ditentukan oleh sebelumnya yang merupakan lanjutan dari
masalah atau diagnosa yang telah di identifikasi atau antisipasi. Rencana asuhan yang
menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah dilihat dari kondisi pasien atau dari
setiap masalah yang berkaitan, tetapi juga berkaitan dengan kerangka pedoman
antisipasi bagi wanita tersebut yaitu apa yang terjadi berikutnya.
(Ambarwati, 2010; h. 143).
Cara menangani :
1. Penanganan yang dilakukan yang paling penting adalah dengan mencegah
terjadinya payudara bengkak, susukan bayi segera setelah lahir, susukan bayi tanpa
jadwal, keluarkan sedikit ASI sebelum menyusui agar payudara lebih lembek,
keluarkan ASI dengan tangan atau pompa bila produksi melebihi kebutuhan ASI.
2. Laksanakan perawatan payudara setelah mlahirkan, untuk mengurangi rasa sakit
pada payudara berikan kompres dingin dan hangat dengan handuk secara
bergantian kiri dan kanan, untuk memudahkan bayi menghisap atau menangkap
putting susu berikan kompres sebelum menyusui, untuk mengurangi bendungan di
vena dan pembuluh getah bening dalam payudara lakukan pengerutan yang dimulai
dari putting kearah korpus mamae, ibu harus rileks, pijat leher dan punggung
belakang.

3. Perawatan payudara, payudara merupakan sumber yang akan menjadi makanan


utama bagi anak. Karena itu jauh sebelumnya harus memakai BH yang sesuai
dengan pembesaran payudara yang sifatnya menyokong payudara dari bawah
suspension bukan menekan dari depan.
b. Tinjauan kasus
Rencana asuhan yang diberikan terhadap Ny. A adalah
Pada tanggal 8 april 2015
1. Beritahu kondisi ibu saat ini.
2. Beritahu ibu tentang keluhan yang dirasakan ibu.
3. Lakukan perawatan payudara.
4. Lakukan tehnik pengeluaran asi.
5. Ajarkan pada ibu tehnik menyusui yang benar.
6. Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin untuk mencegah
terjadinya bendungan asi.
7. Nilai dan beritahu tanda bahaya masa nifas.
8. Beritahu ibu tentang kebutuhan nutrisi.
9. Beritahu ibu kebutuhan istirahat yang cukup.
Pada tanggal 11 april 2015
1. Beritahu keadaan ibu saat ini.
2. Kaji ulang kembali tentang perawatan payudara.
3. Kaji ulang kembali tentang pengeluaran ASI.
4. Ajarkan kembali pada ibu tehnik menyusui yang benar.
5. Anjurkan ibu menyusui ASI pada bayinya sesering mungkin dan tanpa jadwal.
6. Kaji ulang kembali pada ibu tentang tanda bahaya masa nifas.
7. Tanyakan tentang kebutuhan nutrisi.

8. Kaji ulang tentang kebutuhan istirahat yang cukup.


Pada tanggal 15 April 2015
1. Beritahu tentang kondisi ibu saat ini.
2. Evaluasi kepada ibu tentang perawatan payudara.
3. Evaluasi tentang tehnik pengeluaran asi.
4. Evaluasi tentang tehnik menyusui yang benar.
5. Evaluasi ibu untuk tetap mengkonsumsi makanan yang bernutrisi.
6. Evaluasi tentang tanda bahaya masa nifas.
7. Evaluasi ibu tentang kebutuhan istirahat yang cukup.
8. Anjurkan ibu untuk kunjungan ulang.
c. Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus karena penulis telah
membuat asuhan sesuai dengan rencana asuhan menurut teori yang ada.
4.6 Pelaksanaan
a. Tinjauan teori
Langkah ini merupakan pelaksaan rencana asuhan menyeluruh pada klien dan
keluarga. Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efisiensi dan aman
(Ambarwati, 2010; h.145).
b. Tinjauan kasus
Pada tanggal 8 april 2015
1. Memberitahu kondisi ibu saat ini berdasarkan hasil pemeriksaan ibu mengalami
bendungan asi.
2. Memberitahu ibu tentang keluhan yang dirasakan ibu yaitu payudara terasa nyeri ,
panas dan bengkak karena ibu mengalami bendungan asi yang disebabkan karena

pengosongan payudara yang tidak sempurna , faktor hisapan bayi tidak aktif faktor
menyusui yang tidak benar.
3. Melakukan perawatan payudara yaitu:
d. Mencuci tangan
b. Mempersilahkan untuk duduk dengan tenang,jika memungkinkan dengan
diikitu oleh suami yang memberikan dukungan.
c. Ibu dipersilahkan untuk menggendong bayinya agar terjadi kontak kulit antara
ibu dan bayinya. Ibu dapat menaruh bayi di pangkuannya namun jikatidak
memungkinkan ia cukup melihat dari dekat.
d. Masase payudara dan ASI diperas dengan tangan sebelum menyusui
e. Kompres dengan air dingin untuk mengurangi statis pembuluh
darah vena dan mengurangi rasa nyeri. Dapat dilakukan selang seling dengan
air panas untuk melancarkan aliran darah pada payudara.
f.

Menyusui lebih sering dan lebih lama pada payudara yang bengkak untuk
melancarkan ASI dan menurunkan tegangan pada payudara.

4. Melakukan teknik pengeluaran ASI dengan cara pengeluaran asi dengan

reflex

oksitosin :
a. Ibu membungkuk ke depan, serta duduk pada meja dengan tangan terlipat dan
kepala diletakkan diatas tangannya.
b. Payudara dibiarkan menggantung dan terlepas dari kain penutupnya.
c. Usap bagian punggung ibu kemudian beri tekanan memutar dengan ibu jari
mengarah kebagian bawah sepanjang tulang belakang yang dimulai dari leher
dan punggung , kemudian kearah bawah selama 3 menit.
d. Pijat aerola mamae untuk mengetahui bagaimana pengeluaran ASI.
e. Pakai BH yang menopang payudara.

f. Cuci tangan.
5. Mengajarkan kepada ibu tehnik menyusui yang benar yaitu dengan cara:
- Cuci tangan yang bersih dengan sabun,keluarkan sedikit asi dan oleskan kesekitar

puting,dengan posisi duduk atau berbaring santai


- Ibu harus mencari posisi yang nyaman, biasanya duduk tegak di

tempat tidur

dan ibu harus merasa rileks dan santai


- Lengan ibu menopang kepala leher dan seluruh badan bayi muka bayi menghadap
ke payudara ibu hidung bayi di depan puting susu ibu posisi bayi harus
sedemikian rupa sehingga perut bayi menghadap ke perut ibu bayi seharusnya
berbaring dengan seluruh tubuhnya menghadap ibu kepala harus sejajar dengan
perutnya.Mendekatkan bayi ke tubuhnya dan mengamati bayi yang siap untuk
menyusu: membuka mulut, bergerak mencari dan menoleh bayi harus berada
dekar dengan payudara ibu.
- Ibu menyentuh puting susunya ke bibir bayi, menunggu hingga mulut bayi
terbuka lebar kemudian mengarahkan puting susu ibu hingga bibir bayi dapat
menangkap puting susu ibu, ibu memegang payudara dengan satu tangan dengan
cara meletakkan keempat jari di bawah payudara dan ibu jari di atas payudara ibu
jari dan telunjuk harus membentuk huruf C dan ibu jari ibu tidak boleh terlalu
dekat dengan areola
- Pastikan bahwa sebagian besar aerola masuk ke dalam mulut bayi semua, dagu
rapat ke payudara dan hidungnya menyentuh bagian atau payudara dan bibir
bawah bayi melengkung kearah luar

- Bayi diletakan menghadap ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi jangan
hanya leher dah bahunya saja
- Jika bayi sudah selesai menyusu, ibu harus mengeluarkan puting dari mulut bayi
dengan cara memasukan jari kelingking ibu di antara mulut dan payudara
- Menyendawakan bayi dengan menyandarkan bayi di pundak atau menelungkupkan
bayi melintang di pangkuan ibu kemudian menepuk-nepuk punggung bayi
6. Menganjurkan kepada ibu untuk menyusui bayi segera setelah lahir,susukan bayi
tanpa jadwal,keluarkan sedikit ASI sebelum menyusui agar payudara lebih
lembek,keluarkan ASI dengan tangan atau pompa bila produksi melebihi
kebutuhan ASI
7. Menilai dan memberitahu ibu tanda-tanda bahaya masa nifas seperti
a. Demam tinggi hingga melebihi 38OC.
b. Perdarahan vagina yang luar biasa atau tiba-tiba bertambah lebih banyak dari
perdarahan haid biasa atau bila memerlukan penggantian pembalut 2 kali dalam
setengah jam
c. Nyeri perut hebat di bagian abdomen .
d. Sakit kepala dan pandangan kabur.
e. Rasa sakit , merah atau bengkak dibagian betis atau kaki.
f. Puting payudara berdarah
8. Memberitahu ibu tentang kebutuhan nutrisi yaitu.yang mengandung karbohidrat
untuk tenaga seperti yang terdapat pada nasi , jagung, roti, dan kentang, lalu
protein hewani dan nabati yang terdapat dalam telur, tahu, tempe, ikan, sayuran
hijau yang banyak mengandung zat besi seperti bayam daun papaya, kangkung,
lalu buah yang banyak mengandung vitamin dan serat seperti jeruk, papaya,

mangga, serta minum 8 gelas perhari untuk memenuhi kebutuhan ibu dan proses
menyusui
9. Menganjurkan ibu untuk cukup istirahat pada malam hari 7-8 jam /hari dan 1-2 jam
pada siang hari karena bila ibu kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam
beberapa hal antara lain mengurangi jumlah asi yang diproduksi dan
memperlambat proses involusi uteri.
Pada tanggal 11 april 2015
a. Memberitahu kondisi ibu saat ini dengan hasil pemeriksaan payudara masih
mengalami bendungan asi
b. Mengkaji tentang perawatan payudara kepada ibu yaitu
- Mencuci tangan
- Mempersilahkan untuk duduk dengan tenang,jika memungkinkan

dengan

diikitu oleh suami yang memberikan dukungan.


- Ibu dipersilahkan untuk menggendong bayinya agar terjadi kontak kulit
antara ibu dan bayinya. Ibu dapat menaruh bayi di pangkuannya namun
jikatidak memungkinkan ia cukup melihat dari dekat.
- Masase payudara dan ASI diperas dengan tangan sebelum menyusui
- Kompres dengan air dingin untuk mengurangi statis pembuluh
darah vena dan mengurangi rasa nyeri. Dapat dilakukan selang seling dengan
air panas untuk melancarkan aliran darah pada payudara.
- Menyusui lebih sering dan lebih lama pada payudara yang bengkak untuk
melancarkan ASI dan menurunkan tegangan pada payudara
c. Kaji ulang kembali tentang pengeluaran ASI.
- Ibu membungkuk ke depan, serta duduk pada meja dengan tangan terlipat
dan kepala diletakkan diatas tangannya.

- Payudara dibiarkan menggantung dan terlepas dari kain penutupnya.


- Usap bagian punggung ibu kemudian beri tekanan memutar dengan ibu jari
mengarah kebagian bawah sepanjang tulang belakang yang dimulai dari
leher dan punggung , kemudian kearah bawah selama 3 menit.
- Pijat aerola mamae untuk mengetahui bagaimana pengeluaran ASI.
- Pakai BH yang menopang payudara.
- Cuci tangan.
d. Mengajarkan kembali pada ibu tehnik menyusui yang benar.
-

Cuci tangan yang bersih dengan sabun,keluarkan sedikit asi dan oleskan
kesekitar puting,dengan posisi duduk atau berbaring santai

- Ibu harus mencari posisi yang nyaman, biasanya duduk tegak di

tempat

tidur dan ibu harus merasa rileks dan santai


- Lengan ibu menopang kepala leher dan seluruh badan bayi muka bayi
menghadap ke payudara ibu hidung bayi di depan puting susu ibu posisi bayi
harus sedemikian rupa sehingga perut bayi menghadap ke perut ibu bayi
seharusnya berbaring dengan seluruh tubuhnya menghadap ibu kepala harus
sejajar dengan perutnya.Mendekatkan bayi ke tubuhnya dan mengamati bayi
yang siap untuk menyusu: membuka mulut, bergerak mencari dan menoleh
bayi harus berada dekar dengan payudara ibu.
- Ibu menyentuh puting susunya ke bibir bayi, menunggu hingga mulut bayi
terbuka lebar kemudian mengarahkan puting susu ibu hingga bibir bayi dapat
menangkap puting susu ibu, ibu memegang payudara dengan satu tangan
dengan cara meletakkan keempat jari di bawah payudara dan ibu jari di atas

payudara ibu jari dan telunjuk harus membentuk huruf C dan ibu jari ibu
tidak boleh terlalu dekat dengan areola
- Pastikan bahwa sebagian besar aerola masuk ke dalam mulut bayi semua, dagu
rapat ke payudara dan hidungnya menyentuh bagian atau payudara dan bibir
bawah bayi melengkung kearah luar
- Bayi diletakan menghadap ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi
jangan hanya leher dah bahunya saja
- Jika bayi sudah selesai menyusu, ibu harus mengeluarkan puting dari mulut
bayi dengan cara memasukan jari kelingking ibu di antara mulut dan payudara
- Menyendawakan bayi dengan menyandarkan bayi di pundak atau
menelungkupkan bayi melintang di pangkuan ibu kemudian menepuk-nepuk
punggung bayi.
e. Menganjurkan ibu tetap memberi ASI pada bayinya sesering mungkin dan tanpa
jadwal.
f. Mengkaji kembali pada ibu tentang tanda-tanda bahaya masa nifas
g. Menanyakan kepada ibu tentang kebutuhan nutrisi
h. Mengkaji ulang ibu apakah ibu sudah cukup istirahatnya.
Pada tanggal 13 April 2015
a. Memberitahu kondisi ibu saat ini dengan hasil pemeriksaan payudara sudah
tidak mengalami bendungan Asi.
b. Mengevaluasi tentang perawatan payudara.
c. Mengevaluasi tentang tehnik pengeluaran asi.
d. Mengevaluasi tentang tehnik menyusui yang benar.
e. Menanyakankembali pada ibu tentang tanda-tanda bahaya pada masa nifas

f. Mengevaluasi ibu untuk tetap mengonsumsi makanan yang bernutrisi


g. Mengevaluasi ibu untuk cukup istirahat
h. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 2 minggu yang akan
datang, sesuai jadwal yang telah ditentukan atau terdapat keluhan dan
memastikan involusi uterus berjalan normal, menilai tanda tanda demam,
infeksi atau perdarahan abnormal, memastikan ibu mendapat cukup makanan,
cairan, dan istirahat, memastikan ibu menyusui dengan baik dan memberikan
konseling mengenai asuhan pada bayi.
c. Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus , penulis melakukan
tindakan sesuai dengan rencana asuhan yang telah diberikan terhadap Ny. A.

4.7 Evaluasi
1. Tinjauan teori
Langkah ini merupakan langkah terakhir guna mengetahui apa yang dilakukan bidan.
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan, ulangi kembali proses
manajemen dengan benar terhadap setiap aspek asuhan yang sedah dilaksanakan tapi
belum efektif atau merencanakan kembali yang belum terlaksana (Ambarwati, 2010;
h. 147).
2. Tinjauan kasus
Pada tanggal 8 april 2015
a. Ibu mengerti tentang kondisinya saat ini.
b. Ibu mengerti tentang keluhan yang dialami.
c. Ibu telah dilakukan perawatan payudara dan ibu mengerti cara melakukan
perawatan payudara.
d. Ibu telah melakukan tehnik pengeluaran asi.

e. Ibu mengerti tentang tehnik menyusui yang benar dan bisa mempraktekannya.
f. Ibu bersedia untuk menyusui bayinya sesering mungkin.
g. Tidak ada tanda-tanda infeksi masa nifas dan ibu mengerti tentang tanda-tanda
bahaya masa nifas
h. Ibu bersedia untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya.
i. Ibu mengerti akan kebutuhan istirahat yang cukup
Pada tanggal 11 april 2015
a. Ibu mengerti tentang kondisinya saat ini.
b. Ibu telah mengerti tentang perawatan payudara dan telah mempraktekannya
dirinya.
c. Ibu mengatakan tetap memberikan ASI Pada bayinya sesering mungkin dan tanpa
jadwal setiap 2 jam sekali
d. Ibu mengerti tentang tehnik menyusui yang benar dan telah mempraktekannya.
e. Ibu sudah mengerti tentang tanda-tanda masa nifas
f. Ibu telah mengkonsumsi makanan yang mengandung nutrisi.
g. Ibu mengatakan selama dia mempunyai bayi ibu tidur jarang yaitu 6 jam pada
malam hari karna terbangun jika bayi nya ingin menyusui dan ibu istirahat pada
siang hari 1-2 jam..
Pada tanggl 13 April 2015
a. Ibu mengerti dengan kondisinya.
b. Ibu telah melakukan perawatan payudara yang baik dan benar.
c. Ibu mengatakan mengatakan mengerti penjelasan yang telah di berikan dan
mampu mempraktikanya sesuai yang telah diajarkan
d. Ibu telah melakukan teknik menyusui dengan benar.

e. Ibu mengerti akan mengkonsumsi makanan bernutrisi yang mengandung


karbohidrat untuk tenaga seperti yang terdapat pada nasi , jagung, roti, dan
kentang, lalu protein hewani dan nabati yang terdapat dalam telur, tahu, tempe,
ikan, sayuran hijau yang banyak mengandung zat besi seperti bayam daun papaya,
kangkung, lalu buah yang banyak mengandung vitamin dan serat seperti jeruk,
papaya, mangga, serta minum 8 gelas perhari untuk memenuhi kebutuhan ibu dan
proses menyusui
f. Sudah dilakukan evaluasi terhadap ibu dan hasilnya ibu tidak ada tanda-tanda
infeksi masa nifas.
g. Ibu mengganti pola istirahat tidur malam yang kurang dengan melakukan tidur
siang saat bayinya tertidur.
h. Ibu mengerti dan akan melakukan kunjungan ulang atau bila ada keluhan
3. Pembahasan
Dari pembahasan diatas, tidak ada kesenjangan antara teori dan tinjauan kasus, karena
seluruh evaluasi telah dilakukan dengan hasil ibu sudah dapat melakukan semua
tindakan yang telah diajarkan dengan baik dan benar.

BAB V
PENUTUP

Dari hasil study kasus yang penulis uraikan dalam laporan study kasus kebidanan dengan
judul Asuhan Kebidanan terhadap Ny. A P1A0 post partum hari ke 3 dengan bendungan ASI,
maka penulis menentukan kesimpulan dan saran yang dapat bermanfaat.
5.1 Kesimpulan
Penulis mampu melakukan Asuhan Kebidanan Ibu Nifas terhadap Ny. A P1A0 3 hari
post partum dengan bendungan ASI menggunakan metode langkah varney diantaranya :
1. Penulis telah mampu melakukan pengkajian data pada Asuhan Kebidanan pada Ny
A P1AO post partum hari ke 3 dengan bendungan ASI di BPS Irmayani Amd.Keb
Bandar Lampung menggunakan tekhnik asuhan kebidanan manajemen langkah
varney
2. Penulis telah mampu menentukan interpretasi data ibu nifas berdasarkan hasil
pengumpulan data terhadap Ny. A Diagnosa Ny. A umur 19 tahun P1A0 post partum
hari ke 3 dengan bendungan ASI di BPS Irmayani , Amd.Keb Bandar Lampung
Tahun 2015 tidak ada masalah potensial
3. Penulis telah mampu menentukan diagnosa/masalah potensial terhadap Ny. A umur
19 tahun P1A0 3 hari post partum dengan bendungan ASI di BPS Irmayani Amd.Keb
Bandar Lampung Tahun 2015 tidak ada masalah potensial
4. Penulis telah mampu tindakan antisipasi pada ibu dengan penatalaksanaan bendungan
ASI terhadap Ny. A umur 146
19 tahun P1A0 3 hari post partum dengan bendungan ASI
di BPS Irmayani Amd.Keb Bandar Lampung Tahun 2015
5. Penulis telah mampu merencanakan tindakan yang akan dilakukan pada ibu nifas
dengan bendungan ASI terhadap Ny.A umur 19 tahun P1 A0 3 hari post partum dengan
bendungan ASI di BPS Irmayani Amd.Keb Bandar Lampung Tahun 2015

6. Penulis telah mampu melaksanakan asuhan kebidanan yang telah direncanakan pada
ibu nifas dengan penatalaksanaan bendungan ASI terhadap Ny. A umur 19 tahun P1A0
3 hari post partum dengan bendungan ASI di BPS Irmayani Amd. Keb Bandar
Lampung Tahun 2015
7. Penulis telah mampu melakukan evaluasi terhadap asuhan yang telah diberikan pada
ibu nifas dengan penatalaksanaan bendungan ASI terhadap Ny. A umur 19 tahun P1A0
3 hari post partum dengan bendungan ASI di BPS Irmayani Amd.Keb

Bandar

Lampung Tahun 2015.


5.2 Saran
Saran yang penulis berikan ditujukkan untuk tenaga kesehatan khususnya bidan serta
untuk ibu yang berada dalam nifas normal.
1. Bagi Institusi Pendidikan
Dengan telah disusunnya Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat meningkatkan
keefektifan dalam belajar, pengetahuan, kemampuan dan keterampilan mahasiswa
dalam mengaplikasikan study yang telah didapatkan, serta untuk melengkapi sumbersumber buku kepustakaan sebagai bahan informasi dan refrensi yang penting dalam
mendukung pembuatan Karya Tulis Ilmiah.
2. Bagi Lahan Praktek
Diharapkan pihak lahan praktek bisa lebih meningkatkan mutu pelayanan secara
komprehensif berdasarkan kewenangan bidan dalam memberikan pelayanan asuhan
kepada ibu nifas dan mengajarkan cara perawatan payudara dan pengeluaran asi agar
tidak terjadi bendungan ASI.

3. Bagi Masyarakat khususnya ibu nifas


Diharapkan untuk lebih mengerti lagi dalam perawatan masa nifas, meningkatkan
frekuensi kunjungan masa nifas untuk mendeteksi dini adanya tanda bahaya atau
penyulit pada masa nifas, sehingga bila ada komplikasi dapat diatasi dengan segera.
4. Bagi Penulis
Sebaiknya setiap mahasiswa (penulis) dapat terus menerapkan manajemen dan asuhan
kebidanan yang telah dimiliki serta terus mengikuti kemajuan dan perkembangan
dalam dunia kesehatan khususnya dalam dunia kebidanan.

DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, Retna Eny & Wulandari Diah. 2010. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta :
Nuha Medika
Bahiyatun. 2009. Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta : EGC
Estiwidani, et all. 2008. Konsep Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya
Jannah,Nurul. 2011. Konsep Kebidanan. Bandar Lampung: AR-RUZZ MEDIA
Maryunani, Anik. 2009. Asuhan Pada Ibu Dalam Masa Nifas ( Puerpurium ). Jakarta : CV.
Trans Info Media
Dewi, Vivian Nanny Lia & Tri Sunarsih. 2011. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Jakarta :
Salemba Medika
Notoatmodjo, Soekijo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta :Rineka Cipta
Notoadmodjo, Soekidjo. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Rukiyah, Aiyeyeh, et all. 2010.Asuhan Kebidanan Patologi. Jakarta :Trans info
Rukiyah, Aiyeyeh, et all. 2011. Asuhan Kebidanan III Nifas. Jakarta : Trans Info Media
Saleha, Sitti. 2009. Asuhan kebidanan pada masa nifas. Jakarta :Salemba Medika
Soepardan, Suryani. 2005. Konsep Kebidanan. Jakarta : EGC
Sulistyawati, Ari. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Yogyakarta : Fitramaya
Sulistyawati, Ari. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Yogyakarta:Salemba
Medika
Suherni, et all. 2009. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta : Fitramaya
Prawirohardjo, Sarwono.2008. Ilmu Kebidanan. 2008. Jakarta: PT.Bina Pustaka
Prawirohardjo, Sarwono.2010. Ilmu Kebidana. 2010. Jakarta: PT.Bina Pustaka
Yanti, Damai & Dian Sundawati, 2011. Asuhan kebidanan Masa Nifas. Bandung: Refika
Aditama
Tambunan, S. Eviana & Kasim Derwani. 2011. Panduan Pemeriksaan Fisik Bagi Mahasiswa
Keperawatan . Jakarta : Salemba Medika
Sumber Lain:
http://www.who.int/nutrition, Diunduh tanggal 28 April 2015 Jam 14:00 wib
http://www.asipasti.info/2014/02/cakupan-asi-eksklusif-tahun-2013-hanya.html,2014,
Diunduh tanggal 28 April 2015 jam 15:00 wib

http://www.depkes.go.id/...PROVINSI.../08_Profil_Kes_Prov.Lampung_2012,
Diunduh tanggal 17 September 2015 jam 20:00 wib
http://diskes.bandarlampungkota.go.id, Diunduh tanggal 17 September 2015 jam 20:00 wib

DOKUMENTASI

Satuan Acara Penyuluhan (SAP)


Tentang Perawatan Payudara dan Tehnik Pengeluaran Asi

Disusun Oleh :
HILDA PEBRINA RAMBE
NIM 201207023

AKADEMI KEBIDANAN ADILA


BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2014/2015

SATUAN ACARA PENYULUHAN


Topik

: Asuhan Kebidanan Tentang Perawatan Payudara dan Teknik


Pengeluaran ASI

Sub Topik

: Perawatan Payudara dan Teknik pengeluaran asi

Hari / Tanggal

: Sabtu , 11 April 2015

Waktu

: 16.00 wib 16.30 wib

Tempat

: Rumah Ny. A dan Tn. D

Penyuluhan / Pembicara

: Hilda Pebrina Rambe.

Peserta / Sasaran

: Ibu Nifas

Karakteristik

: Ibu Nifas

Jumlah

: 1 Orang

A. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan ini , diharapkan ibu nifas dapat mengetahui teknik
pengeluaran asi dan perawatan payudara yang baik dan benar
B. Tujuan Khusus
1. Diharapkan ibu nifas dapat mengetahui pengertian tentang masa nifas
2. Diharapkan ibu nifas dapat mengetahui perawatan payudara
3. Diharapkan ibu hamil dapat mengetahui tehnik pengeluaran asi

Materi : Terlampir
1.

Pengertian tentang masa nifas

2.

Perawatan payudara

3.

Tehnik pengeluaran asi

C. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab

D. Media
1.

Leaflet

POKOK KEGIATAN
NO

MATERI

KEGIATAN PENYULUHAN

1.

Pembukaan

1. Mengucapkan salam

(5 menit)

2. Menyampaikan tujuan umum dan tujuan khusus


3. Menyampaikan waktu atau kontrak waktu yang
akan digunakan dan mendiskusikannya dengan
peserta
4. Memberikan

sedikit

gambaran

mengenai

informasi yang akan disampaikan


2.

Proses

1. Menjelaskan tentang pengertian masa nifas

(15 menit)

2. Menjelaskan tentang perawatan payudara


3. Menjelaskan tentang tehnik pengeluaran asi

3.

Evaluasi
(5 menit)

1. Menanyakan kepada peserta apakaah peserta


mengerti tentang penjelasan tersebut
2. Memberikan soal secara lisan kepada peserta

4.

Penutup
(5 menit)

1. Penyuluh mengucapkan terima kasih atas segala


perhatian peserta
2. Mengucapkan salam penutup

LAMPIRAN MATERI
PENDAHULUAN
Masa nifas merupakan masa yang cukup penting bagi tenaga kesehatan untuk selalu
melakukan pemantauan karena pelaksanaan yang kurang maksimal dapat menyebabkan
ibu mengalami berbagai masalah.
Dimana masa nifas (puerpurium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika
alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas atau
puerpurium dimulai sejak 2 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42
Hari) setelah itu
Pada permulaan nifas,apabila bayi belum menyusu dengan baik atau kemudian apabila
kelenjar-kelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna ,terjadi bendungan asi.Payudara
panas , keras dan nyeri pada perabaan serta suhu badan tidak naik.
MATERI PENYULUHAN
-Masa nifas (puerpurium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas atau puerpurium dimulai
sejak 2 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42 Hari) setelah itu .
Masa nifas (puerpurium) adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kirakira 6 minggu .
A. Perawatan payudara adalah suatu cara yang dilakukan untuk merawat payudara agar
air susu keluar dengan lancar. Perawatan payudara untuk ibu menyusui merupakan
salah satu upaya dukungan terhadap pemberian ASI.
B. Manfaat Perawatan Payudara
Menjaga kebersihan payudara, terutama kebesihan putting susu agar terhindar dari
infeksi. Melunakkan serta memperbaiki bentuk putting susu sehingga bayi dapat
menyusu dgn baik. Merangsang kelenjar-kelenjar air susu sehingga produksi asi
lancar. Mengetahui secara dini kelainan putting susu & melakukan usaha-usaha untuk
mengatasinya.

C. Tujuan

Tujuannya adalah memperlancar pengeluaran ASI saat masa menyusui. Untuk pasca
persalinan, lakukan sedini mungkin, yaitu 1 sampai 2 hari dan dilakukan 2 kali sehari.

D. Peralatan untuk perawatan payudara


-

Kursi dan meja

Handuk 2 buah

Penjepit handuk

Washlap 2 buah

2 Baskom (masing-masing berisi air hangat & dingin)

Cangkir 1 buah

E. Cara melakukan perawatan payudara ibu menyusui dengan benar


Prosedur pelaksanaan :
-

Memposisikan ibu duduk dengan posisi yang nyaman

Buka pakaian bagian atas ibu

Letakkan handuk diatas pangkuan ibu & tutuplah payudara dgn handuk
kemudian jepit.

Kompres dengan air hangat selama 2-5 menit, kemudian ganti dengan
air dingin (lakukan pengompresan pada payudara secara bergantian
dengan payudara sebelah kanan dan kiri)

Kemudian angkat washlap sambil menekan bagian areola sampai ke


puting

Geser handuk ke arah belakang

Lakukan pijit oksitosin (love) dibagian punggung bagian belakang,


dilakukan selama 5-10 menit sampai ASI keluar. Cara melakukan pijat
oksitosin :
a. Ibu duduk rileks bersandar ke depan, tangan dilipat diatas meja
dengan kepala diletakkan diatasnya
b. Penolong memijat di sepanjang sisi tulang belakang
c. Menggunakan dua kepalan tangan dengan ibu jari menujuk ke
depan
d. Tekan membentuk gerakan seperti bentuk hati (love)

Lakukan proses pengeluaran ASI, dengan cara :

a. Letakkan cangkir dibawah payudara, posisi bidan berada


dibelakang pasien
b. Jika puting susu tenggelam, lakukan peregangan di bagian areola
kemudian tarik bagian puting susu
-

Bantu ibu mengenakan pakaian dan bereskan alat

Kemudian cuci tangan

Kesimpulan dan Saran

A. Kesimpulan
Perawatan payudara perlu dilakukan bagi ibu yang menyusui. Perawatan payudara
yang tidak tepat, bisa menimbulkan berbagai masalah dalam menyusui.

B. Saran
Diharapkan ibu mengerti bagaimana cara melakukan perawatan payudara yang benar
dan dapat mempraktikkan sendiri secara mandiri. Diharapkan pula para ibu dapat
melakukan perawatan payudara secara rutin.

Evaluasi
Jenis

: Tanya jawab

Bentuk

: Secara lisan

Jumlah

: 4 soal

Pertanyaan

:
1. Apa pengertian perawatan payudara?
2. Sebutkan tujuan perawatan payudara?
3. Berapa kali sehari perawatan payudara di lakukan?
4. Alat apa saja yang digunakan dalam perawatan payudara?

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Vivian Nanny Lia., & Sunarsih, Tri.2011. Asuhan Kebidanan pada Ibu

Nifas.

Jakarta : Salemba Medika


Sulistyawati, Ari. 2009. Buku AjarAsuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas.
Andi Offset

Yogyakarta : CV.