Anda di halaman 1dari 6

Laporan Modul 8, MG3017

Flotasi Mineral Sulfida


Fina Fitriana R. (12113079) / Kelompok 1/ Senin, 22 Februari 2016
Asisten : Rachmi Anindya Dewi (12512013)
Abstrak Praktikum Modul 8 Modul Flotasi Mineral
Sulfida ini bertujuan untuk menentukan pengaruh dari
penggunaan reagent-reagent kimia dan pengaruh
perubahan pH terhadap perolehan (recovery) dari proses
flotasi itu sendiri. Pada percobaan kali ini dilakukan
flotasi pada pulp untuk mineral sulfida PbS, Potassium
Amyl Xanthate sebagai kolektor, dan Dowfroth sebagai
frothen. Kemudian akan dianalisis pengaruh derajat pH
terhadap perolehan berat konsentrat dan recovery dan pH
optimum dalam floatasi tersebut.
A. Tinjauan Pustaka
Flotasi merupakan suatu cara konsentrasi kimia fisika
untuk memisahkan mineral berharga dari yang tidak
berharga, dengan mendasarkan atas sifat permukaan
mineral yaitu senang-tidaknya terhadap udara. Flotasi
dilakukan dalam media air sehingga terdapat tiga fase,
yaitu :
1.
2.
3.

Fase padat
Fase cair
Fase buih/ udara

Material yang didapatkan dari proses flotasi terdiri dari


tiga mekanisme, yaitu: a) penambahan selektif terhadap
gelembung udara (disebut juga flotasi sebenarnya), b)
pertukaran di dalam air yang melewati buih, c) perangkap
fisik antara partikel di dalam buih yang ditambahkan ke
gelembung udara (disebut juga agregasi).
Terdapat dua macam jenis mineral, yaitu :
1.
2.

Polar, senang pada air disebut hydrofillic.


Non polar, senang pada udara disebut hydrophobic.

8.

pH kritis merupakan pH larutan yang mempengaruhi


konsentrasi kolektor yang digunakan dalam
pengapungan mineral. Mineral yang digunakan adalah
pyrite, galena dan chalcophyrite. Konsentrasi kolektor
tersebut dapat mengapungkan chalcophyrite dari
galena pada pH 7 9, galena dari pyrite pada pH 4 6
dan chalcophyrite dari pyrite pada pH 4 9.
5. Reagen Floatasi.
6. Kecepatan putaran mengaduk.
7. Waktu conditioning.
Sudut Kontak. Hubungan antara sifat permukaan mineral
dengan reagent di dalam air tergantung pada gaya yang
bekerja. Dalam keadaan setimbang, berlaku hubungan,

cos =

s/ a s / w
w/ a

Dimana adalah sudut kontak antara mineral dengan


gelembung, dan adalah tegangan permukaan antar fase.
Gaya yang dibutuhkan untuk memisahkan ikatan partikelgelembung disebut dengan gaya adhesi (W s/a), yang
ditunjukkan dengan persamaan sebagai berikut:

W s / a= w /a + s / w s /a

1cos
W s / a= w /a
Sehingga, dapat dilihat secara langsung semakin besar
sudut kontak, semakin besar pula energi yang dibutuhkan
untuk memisahkan partikel dan gelembung serta bersifat
semakin hydrophobic.

Dengan mendasarkan sifat mineral tersebut maka mineral


yang satu dengan lainnya dapat dipisahkan dengan
gelembung udara.
Faktor-faktor operasi yang harus dipenuhi dalam flotasi:
1.

2.
3.
4.

Ukuran partikel. Proses ini hanya dapat digunakan


untuk partikel yang cukup halus, karena apabila terlalu
besar ukurannya maka adhesi antara partikel dan
gelembung akan semakin kecil. Sehingga, jumlah
partikel yang terangkat akan semakin sedikit
jumlahnya, atau dengan kata lain recovery semakin
kecil. Dalam teori lain disebutkan bahwa ada selang
ukuran tertentu dari partikel yang optimal dalam
flotasi, yaitu 10 70 m.
Persen solid yang baik 25% - 45% (pryor), 15% - 30%
(gaudin).
Derajat oksidasi.
pH Pulp/ Slurry.

Gambar sudut kontak antara gelembung dan partikel dalam


medium cair
Keberhasilan proses flotasi sangat ditentukan oleh
ketetapan penggunaan reagen, baik jumlah maupun
jenisnya. Penambahan reagen berfungsi untuk mengubah
beberapa sifat dasar dari material, seperti sifat permukaan
material dan tegangan permukaan air. Gelembung udara
harus mampu mengambil partikel, dan menaikkannya ke
atas permukaan air. Agitator menimbulkan turbulensi
dalam pulp dan menyebabkan terjadinya tumbukan antara

partikel dan gelembung, yang kemudian gelembung akan


mengikat mineral berharga ke permukaan air.

Partikel yang dapat terangkat ke permukaan adalah partikel


yang bersifat tidak suka air atau hydrophobic. Pada
umumnya, mineral sulfida bersifat suka air atau
hydrophilic. Oleh karena itu dibutuhkan penambahan zat
reagent berupa collector. Untuk menjaga kestabilan buih,
perlu ditambahkan reagent berupa frother. Untuk
mengontrol proses flotasi dapat ditambahkan reagent
berupa regulator.
Secara umum, collector dibagi menjadi dua macam yaitu
anionic collector dan cationic collector. Perbedaan
utamanya adalah sifat terhadap air, cationic collector
bersifat tidak suka air.

bersifat hidrofilik, c) pH regulator yang berfungsi untuk


mengatur pH lingkungan flotasi dikarenakan adanya pH
tertentu yang dapat menghasilkan proses flotasi optimum,
d) dispersant, berfungsi unbtuk melepaskan slimes pada
permukaan mineral yang akan diapungkan.
Langkah-langkah dalam flotasi adalah :
1. Liberasi, analisis pendahuluan
Agar mineral terliberasi maka perlu dilakukan crushing
atau grinding yang diteruskan dengan pengayakan atau
classifying. Ini dimaksudkan agar ukuran butir mineral
dapat seragam sehingga proses akan lebih sukses atau
berhasil. Analisis pendahuluan dilakukan dengan
menggunakan mikroskop sehingga dapat dilihat derajat
liberasinya
dan
kadar
dari
mineral
tersebut.
Diupayakan dalam tahap ini juga dilakukan desliming,
sebab slime akan mengganggu proses flotasi.
2. Conditioning
Yaitu membuat suatu pulp agar nantinya pulp tersebut
dapat langsung dilakukan flotasi. Preparasi ini sebaiknya
disesuaikan dengan liberasi dalam proses basah, maka
conditioning juga harus dilakukan pada proses basah.
Pada tahap pengkondisian, reagent yang diberikan adalah
modifier, collector dan terakhir frother.
3. Proses flotasi

Gambar klasifikasi collector menurut Glembotskii, 1972

Proses ini ditandai dengan masuknya gelembung udara ke


dalam pulp.

Gambar anionic collector (kiri) dan cationic collector


(kanan)
Frother biasanya adalah reagent yang heteropolar dan
berupa organik permukaan-aktif, dapat diserap dalam
permukaan ikatan udara-air. Ketika molekul permukaanaktif bereaksi dengan air, kutub dipol air akan tersatukan
dengan kelompok polar dan membentuk hidrat.

Gambar A.1 Prinsip dasar flotasi buih


C. Percobaan dan Data Percobaan
Dalam percobaan flotasi mineral sulfida ini dibutuhkan
bahan-bahan serta peralatan seperti bijih sulfida pada
praktikum kali ini menggunakan PbS, tabung ukur, jarr
mill, penampung froth dan tailing, reagent, lime dan sel
flotasi.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam percobaan
adalah sebagai berikut:

Gambar A.2 Prinsip kerja dari frother


Modifier terdiri dari a) activator, berfungsi untuk
membantu collector agar interaksi dengan mineralnya
semakin baik, b) depressant, yang berfungsi mencegah
interaksi collector terhadap mineral tertentu agar tetap

Menyiapkan bijih PbS yang sudah disediakan. Timbang


massa bijihnya

D. Pengolahan Data Percobaan


Adapun perhitungan recovery, persen berat konsentrat dan
kadar PbS adalah sebagai berikut,

Recovery=

Mengambil air dan menghitung volumenya

%berat konsentrat=

Mengaduk contoh bijih dengan baik dan mengambil


contoh umpan untuk dianalisis kandungan materialnya.

%PbS=
Memasukkan pulp ke dalam sel floatasi.

Menghidupkan sel floatasi dan mengatur pH.

K .k
x 100
F.f

Berat Konsentrasi
x 100
Berat Umpan Awal

Berat PbS dalam konsentrat


x 100
Berat PbS total dalam konsentrat
Reagent yang digunakan ada dua, yaitu Amyl Xanthate
sebagai collector sebanyak 15 tetes dan Metyl Iso Butyl
Carbinol sebagai frother sebanyak 30 tetes. Umpan yang
dimasukkan dalam sel flotasi sebanyak 303,79 gram.
Tabel C.1 Persen Berat Konsentrat.

Menambahkan collector dan frother.

Membuka kran udara selama 2 menit dan mengumpulkan


konsentrat.

% Berat
Konsentrat
Konsentrat 1
Konsentrat 2
Konsentrat 3
Konsentrat 4

pH
6

11

12,071%
8,387%
15,530%
18,296%

11,692%
9,210%
17,785%
19,744%

10,869%
12,453%
7,611%
18,144%

12,515%
6,952%
15,827%
17,147%

Mengulangi percobaa.

Grafik C.1 Persen Berat Konsentrat vs pH.


Mengeringkan konsentrat untuk kemudian dianalisis
kandungan materialnya.

Dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan data-data


sebagai berikut:
1. Hasil floatasi dengan variasi pH

Tabel C.2 Total % Berat Konsentrat.

2.

Hasil AAS

pH

% Berat
Konsentrat

6
8
9
11

54,284%
58,432%
49,077%
52,441%

% PbS di
Konsentrat
Konsentrat 1
Konsentrat 2
Konsentrat 3
Konsentrat 4

pH
6
45,827%
22,528%
17,583%
14,063%

8
48,779%
18,464%
17,266%
15,490%

9
37,668%
25,106%
20,389%
16,837%

11
46,381%
25,426%
16,920%
11,272%
Grafik C.4 % Recovery PbS vs pH

Tabel C.3 PbS dalam Konsentrat.


Grafik C.3 Persen Berat Konsentrat vs pH.

E. Analisis Hasil Percobaan

Tabel C.4 Persen Recovery PbS

Percobaan kali ini bertujuan untuk mengambil PbS. Datadata yang didapatkan adalah berat tertampung dan berat
PbS dalam konsentrat pada pH tertentu. Dari data tersebut,
diolah menjadi data % berat konsentrat, % PbS, dan %
recovery. Kemudian dari data tersebut dibuat grafik untuk
memberikan informasi beserta korelasi.
Dari hasil percobaan, didapatkan bahwa produk terbanyak
terdapat pada konsentrat 4 untuk semua konsentrat pada
pH yang diuji serta persen berat total konsentrat terbesar
optimum berada pada pH 8. Recovery dalam flotasi yang
didapatkan kecil.

Grafik C.3 Persen Recovery PbS vs pH

Tabel C.5 Total Persen Recovery PbS

Tabel % berat terhadap pH menunjukkan angka-angka


perbandingan antara berat konsentrat dengan berat umpan
pada pH tertentu. Angka tersebut berkisar antara 49,077%
sampai dengan 58,432 %. Sedangkan dari tabel % PbS
terhadap pH, didapatkan angka-angka perbandingan antara
berat PbS yang terdapat di dalam konsentrat dengan berat
konsentrat keseluruhan. Angka di tabel ini menunjukkan
hasil yang memiliki range lebih besar yaitu berkisar antara
14,063% sampai 48,779 %. Dari tabel % recovery
terhadap pH, didapatkan angka perbandingan antara berat
PbS dalam konsentrat danPbS total dalam umpan. Angka
% recovery bervariasi antara rendah sampai sedang
bergantung kepada konsentrat dan pHnya, yaitu berkisar
antara 5,94% sampai 31,545 %. Hal ini dapat disebabkan
karena berbagai kesalahan, misalnya belum terambil
semua gelembung yang ada di dalam bak penampung pulp,
kemudian adanya ketidaktepatan penimbangan jumlah
berat, dan penambahan reagen dalam jumlah yang kurang
tepat. Dari tabel % PbS dan % recovery, juga dapat
dianalisis pH yang dapat memberikan hasil yang optimum.
Untuk % PbS, berat PbS akan optimum pada pH 8, yaitu
dengan rata-rata 14,608 %. Sedangkan untuk % recovery,
akan didapatkan berat PbS yang maksimum dalam

konsentrat dibandingkan dengan PbS awal dalam feed


pada pH 9, yaitu rata-rata sebesar 20,8395 %. Sehingga
untuk mendapatkan konsentrat PbS yang tinggi, diperlukan
kondisi mineral sulfide pada pH basa berkisar 8-9.
Gelembung yang didapatkan pada percobaan kali ini
adalah gelembung yang kuat. Gelembung tersebut tidak
pecah meski sedang dipisahkan dari pulp. Gelembung
yang baik adalah gelembung yang tahan pecah karena
memiliki tegangan permukaan yang rendah. Dengan
begitu, mineral hidrofobik (mineral yang diinginkan) akan
lebih lama terpisah dan lebih mudah untuk dianmbil. Dosis
optimum kolektor tergantung pada total luas permukaan
partikel, ion-ion yang ada dalam pulp, dan tingkat oksidasi
pemukaan mineral. Dosis optimum fother yang digunakan
adalah tergantung pada jumlah pulp dan kekuatan
gelembung pulp. Sedangkan dalam literature, pH optimum
PbS untuk mendapatkan %PbS yang tinggi adalah pada pH
9.
F. Jawaban Pertanyaan dan Tugas
1.

2.

3.

4.

Apa tujuan desliming pada umpan flotasi?


Jawab:
Untuk melepaskan partikel yang berukuran terlalu
halus (slimes) dari permukaan mineral yang
diapungkan.
Karena
adanya
slimes
dapat
mengakibatkan proses flotasi semakin sulit khususnya
mengurangi daya penyerapan oleh collector.
Tuliskan persamaan kimia yang menunjukkan ionisasi
kalium ethyl xanthate ke dalam air!
Jawab:
CH3CH2OCS2K + H2O CH3CH2OCS2H + KOH
CH3CH2OCS2H CS2 + CH3CH2OH
Tuliskan tujuan conditioning pada umpan flotasi!
Jawab:
Secara umum, tahap conditioning bertujuan untuk
membuat suatu mineral tertentu bersifat hidrofobik dan
mempertahankan mineral lain bersifat hidrofilik. Selain
itu, conditioning juga bertujuan untuk memberikan
kondisi yang ideal dan baik seperti mengendapkan ionion pengganggu, mengendapkan mineral yang tidak
ingin diangkat menggunakan depresan, menciptakan
lingkungan yang memiliki pH yang sesuai untuk
mineral agar proses berjalan optimal dan memisahkan
mineral berharga dari partikel halus menggunakan
dispersan.
Tuliskan dan jelaskan macam-macam flotation cell
yang dipergunakan dalam flotasi komersial!
Jawab:
1. Mechanical, vertical (Agitation Cell) Shaft dan
impeller terletak di tengah mesin, udara akan
dimasukkan melaluai shaft dan didispersikan ke
permukaan melalui impeller.
2. Pneumatic Cell Tidak ada impeller dan bekerja
dengan mengkompres udara untuk agitasi atau the
pulp aerator.
3. Froth Separator Slurries memiliki ukuran 1 mm-50
m. Prinsipnya dengan pemisahan feed dan slurry
di dalam froth blanket.
4. Column Flotation Flotasi dilakukan didalam
sebuah kolom. Conditioning dilakukan di luar sel.

5.

6.

7.

Tidak ada bagian yang bergerak pada flotasi kolom


ini. Udara dihembuskan dari bawah.
Apa yang dimaksud dengan zat surface aktif?
Jawab:
Zat surface aktif adalah zat aktif pada permukaan yang
mempunyai dua sisi yang berbeda yaitu di satu sisi
memiliki sifat hidrofilik dan di sisi lainnya memiliki
sifat hidrofob. Frother adalah salah satu contoh zat
aktif
permukaan.
Frother
digunakan
untuk
menstabilkan buih dan memperlancar pemisahan..
Jelaskan kenapa air murni tidak membentuk froth!
Jawab:
Air murni tidak membentuk froth karena ia memiliki
tegangan
permukaan
yang
tinggi
sehingga
buih/gelembung tidak pernah stabil.
Jelaskan mekanisme aksi pada proses flotasi!
Jawab:
1. Conditioning Conditioning adalah mekanisme
pertama dalam proses flotasi. Conditioning ini
dilakukan dengan cara menambahkan zat-zat
reagen seperti collector, depressant, dan frothen ke
dalam pulp yang tujuan intinya adalah untuk
mengubah sifat mineral berharga hidrofilik
menjadi hidrofobik agar ia dapat dipisahkan
dengan cara pengapungan. Pada conditioning,
umpan akan diaduk agar reagen terdistribusi
dengan merata dan partikel mineral memiliki
waktu yang cukup untuk berinteraksi dengan
partikel reagen yang ditambahkan dengannya.
2. Proses aerasi Aerasi merupakan tahap pengaliran
udara ke dalam pulp secara mekanis, baik melalui
agitasi maupun injeksi udara. Pada saar aerasi,
aliran udara yang bertekanan lebih besar akan
mengalir ke dalam pulp dan membentuk
gelembung-gelembung udara. Pada proses aerasi
ini partikel-partikel mineral yang bersifat
hidrofobik (suka udara) akan menempel pada
gelembung udara kemudian naik ke atas untuk
selanjutnya dipisahkan.

G. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan bahwa
pengaruh reagen adalah mengubah sifat mineral berharga
yang sebelumnya hidrofilik menjadi hidrofobik, kemudian
mengangkatnya ke atas permukaan, dan memudahkan
pemisahan, termasuk menguatkan gelembung-gelembung
permukaan. pH juga memiliki pengaruh dalam percobaan
ini. % PbS dan % recovery memiliki angka yang berbeda
untuk setiap pH, dan keduanya memberikan hasil yang
optimum pada pH basa sekitar 8-9.
H. Daftar Pustaka
Wills, B.A and Napier-Munn T.J., Wills. Mineral
Processing Technology 7th edition. 2006. Elsevier
Science & Technology Books. Hak 267-269).
Errol G. Kelly, David J. Spootiswood. 1982. Introduction
to Mineral Processing. John Wiley and Sons, Inc:
Canada
(Halaman 301 317)

Materi Perkuliahan Pengolahan Bahan Galian (Bab


Floatasi Mineral Sulfida)

I.

Lampiran