Anda di halaman 1dari 33

TUGAS II ANALISIS WACANA

PENGERTIAN WACANA MENURUT PARA AHLI DAN JENIS-JENIS WACANA

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Analisis Wacana


Dosen Pengampu: Dr. Budhi Setiawan, M. Pd.

Kolompok I
Henry Trias Puguh J.
Indri Kusuma Wardhani
Rio Devilito
Siti Arnisyah
Yusuf Muflikh Raharjo

S841508011
S841508015
S841508023
S841508017
S841508034

PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Analisis wacana merupakan suatu bidang ilmu linguistik, khususnya sosiolinguistik
yang memusatkan perhatian pada komunikasi atau wacana sebenarnya sebagaimana
dilakukan oleh manusia dalam interaksi sosial. Analisis wacana membahas bahasa dalam
konteks-konteks sosial, khususnya interaksi lisan antara para pembicara dan interaksi tulisan
antara penulis dan pembacanya. Analisis wacana dewasa ini digunakan untuk mengacu pada
makna-makna yang luas cakupannya.
Seperti halnya bahasa, maka wacana pun mempunyai bentuk (form) dan makna
(meaning). Kepaduan makna dan kerapian bentuk merupakan faktor penting untuk
menentukan tingkat keterbacaan dan keterpahaman wacana. Kepaduan (kohesi) dan kerapian
(koherensi) merupakan unsur hakikat wacana,unsur yang turut menentukan keutuhan wacana.
Dalam kata kohesi, tersirat pengertian kepaduan dan keutuhan, dan pada kata koherensi
terkandung pengertian pertalian dan hubungan.
Jika dikaitkan dengan aspek bentuk dan makna, kohesi mengacu kepada aspek
bentuk, dan koherensi kepada aspek makna wacana. Selanjutnya dapat juga dikatakan bahwa
kohesi mengacu kepada aspek formal bahasa, sedangkan koherensi mengacu kepada aspek
ujaran.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana jenis-jenis wacana?
2. Bagaimana hakikat kohesi dan koherensi dalam wacana?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui jenis-jnis wacana.
2. Untuk mengetahui hakikat kohesi dan koherensi dalam wacana.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Jenis-Jenis Wacana
Jenis wacana dapat dikaji dari segi eksistensinya (realitasnya), media komunikasi, cara
pemaparan, dan jenis pemakaian. Menurut realitasnya, wacana merupakan verbal dan
nonverbal sebagai media komunikasi berwujud tuturan lisan dan tulis, sedangkan dari segi
pemaparan, kita dapat memperoleh jenis wacana yang disebut naratif, deskriptif, prosedural,
ekspositori dan hortatori.
1. Wacana Berdasarkan Realitas
Menurut Djajasudarma (1994: 6-7) realitas wacana dalam hal ini adalah eksistensi
wacana yang berupa verbal dan nonverbal. Rangkaian kebahasaan verbal atau language
exist (kehadiran kebahasaan) dengan kelengkapan struktural bahasa, mengacu pada
struktur apa adanya; nonverbal atau language likes mengacu pada wacana sebagai
rangkaian nonbahasa yakni rangkaian isyarat atau tanda-tanda yang bermakna (bahasa
isyarat). Wacana nonbahasa yang berupa isyarat, antara lain berupa:
a. Isyarat dengan gerak-gerik sekitar kepala atau muka, meliputi:
1) Gerakan mata, antara lain melotot, berkedip, menatap tajam (dapatkah kita
menentukan maknanya. Misalnya, melotot = marah; melotot = menyuruh pergi,
dan sebagainya).
2) Gerak bibir, antara lain senyum, tertawa, meringis.
3) Gerak kepala, antara lain mengangguk, menggeleng.
4) Perubahan raut muka (wajah), antara lain mengerutkan kening, bermuka manis,
bermuka masam.
b. Isyarat yang ditunjukkan melalui gerak anggota tubuh selain kepala, meliputi:
1) tangan, antara lain melambai, mengepal, mengacungkan ibu jari, menempelkan
telunjuk pada bibir, menunjuk dahi.
2) Gerak kaki, antara lain mengayun-ayun, menghentak-hentakkan, menendangnendang.
3) Gerak seluruh tubuh, antara lain seperti terlihat pada pantomim, memiliki makna
wacana sebagai teks.
Tanda-tanda nonbahasa yang bermakna berupa: (1) tanda rambu-rambu lalu lintas,
dan (2) di luar rambu-rambu lalu lintas. Tanda lalu lintas, misalnya dengan warna lampu
pada rambu-rambu lalu lintas: merah berarti berhenti, kuning berarti siap untuk maju,

dan hijau berarti boleh maju; tanda diluar lalu lintas adalah bunyi-bunyi yang dihasilkan
dari kentongan, misalnya, berarti ada bahaya. Realitas makna kentongan diwujudkan oleh
masyarakat pendukung wacana tersebut.
2. Wacana Berdasarkan Media Komunikasi
Berdasarkan media komunikasinya, wacana dapat diklasifikasikan atas wacana
lisan dan tulisan.
a. Wacana tulis
Menurut Henry Guntur Tarigan (1987:52) wacana tulis atau written discourse
adalah wacana yang disampaikan secara tertulis, melalui media tulis. Menurut Mulyana
(2005:51-52) wacana tulis (written discourse) adalah jenis wacana yang disampaikan
melalui tulisan. Berbagai bentuk wacana sebenarnya dapat dipresentasikan atau
direalisasikan melalui tulisan. Sampai saat ini, tulisan masih merupakan media yang
sangat efektif dan efisian untuk menyampaikan berbagai gagasan, wawasan, ilmu
pengetahuan, atau apapun yang dapat mewakili kreativitas manusia.
Wacana tulis sering dipertukarkan maknanya dengan teks atau naskah. Namun,
untuk kepentingan bidang kajian wacana yang tampaknya terus berusaha menjadi
disiplin ilmu yang mandiri. Kedua istilah tersebut kurang mendapat tempat dalam kajian
wacana. Apalagi istilah teks atau naskah tampaknya hanya berorientasi pada huruf (graf)
sedangkan gambar tidak termasuk didalamnya. Padahal gambar atau lukisan dapat
dimasukkan pula kedalam jenis wacana tulis (gambar). Sebagaiman dikatakan Hari
Mukti Kridalaksana dalam Mulyana (2005:52), wacana adalah satuan bahasa yang
terlengkap, yang dalam hirarki kebahasaan merupakan satuan gramatikal tertinggi dan
terbesar. Wacana dapat direalisasikan dalam bentuk kata, kalimat, paragraf atau karangan
yang utuh (buku, novel, ensiklopedia, dan lain-lain) yang membawa amanat yang
lengkap dan cukup jelas berorientasi pada jenis wacana tulis.
Menurut Djajasudarma (1994: 7-8) wacana dengan media komunikasi tulis
dapat berwujud antara lain:
1) Sebuah teks/ bahan tertulis yang dibentuk oleh lebih dari satu alinea yang
mengungkapkan sesuatu secara beruntun dan utuh, misalnya sepucuk surat, sekelumit
cerita, sepenggal uraian ilmiah.
2) Sebuah alinea, merupakan wacana, apabila teks hanya terdiri atas sebuah alinea,
dapat dianggap sebagai satu kesatuan misi korelasi dan situasi yang utuh.
3) Sebuah wacana (khusus bahasa Indonesia) mungkin dapat dibentuk oleh sebuah
kalimat majemuk dengan subordinasi dan koordinasi atau sistem elipsis.

Contoh: Ade mencintai bapaknya, saya juga.


Ketidakhadiran verba pada klausa kedua (saya juga) dan juga ketidakhadiran objek
yang diramalkan klausa kedua adalah:
..........................., saya juga mencintai bapak saya
Atau ..........................., saya juga mencintai Bapak Ade

b. Wacana lisan
Menurut Tarigan (1987:55) wacana lisan atau spoken discourse adalah wacana yang
disampaikan secara lisan, melalui media lisan. Menurut Mulyana (2005:52), wacana
lisan (spoken discourse) adalah jenis wacana yang disampaikan secara lisan atau
langsung dalam bahasa verbal. Jenis wacana ini sering disebut sebagai tuturan (speech)
atau ujaran (utterance). Adanya kenyataan bahwa pada dasrnya bahasa kali pertama lahir
melalui mulut atau lisan. Oleh karena itu, wacana yang paling utama, primer, dan
sebenarnya adalah wacana lisan. Kajian yang sungguh-sungguh terhadap wacana pun
seharusnya menjadikan wacana lisan sebagai sasaran penelitian yang paling utama.
Tentunya, dalam posisi ini wacana tulis dianggap sebagai bentuk turunan (duplikasi)
semata. Wacana lisan memiliki kelebihan dibanding wacana tulis. Beberapa kelebihan
wacana lisan di antaranya ialah:
1) Bersifat alami (natural) dan langsung.
2) Mengandung unsur-unsur prosodi bahasa (lagu, intonasi).
3) Memiliki sifat suprasentensial (di atas struktur kalimat).
4) Berlatar belakang konteks situasional.
Menurut Tarigan (1987:122) wacana lisan diciptakan atau dihasilkan dalam
waktu dan situasi yang nyata. Oleh sebab itu, dalam semua bentuk wacana lisan terdapat
kaidah-kaidah atau aturan-aturan mengenai siapa yang berbicara (kepada siapa) apabila
(waktunya). Dengan perkataan lain, dalam wacana lisan, kita harus mengetahui dengan
pasti:
1) Siapa yang berbicara
2) Kepada siapa
3) Apabila; pada saat yang nyata
Sebagai pegangan dalam pembicaraan selanjutnya dalam buku kecil ini, maka
yang dimaksud dengan wacana lisan adalah satuan bahasa yang terlengkap dan terbesar
di atas kalimat atau klausa dengan kohesi dan koherensi tinggi yang berkesinambungan
yang mempunyai awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan.

Disamping terdapat banyak persamaan, terdapat juga sejumlah perbedaan antara


wacana tulis dan wacana lisan. Perbedaan itu dapat pula kita anggap sebagai ciri masingmasing. Dalam uraian berikut ini akan kita bicarakan beberapa hal yang merupakan ciri
atau unsur khas wacana lisan, antara lain:
1) Aneka tindak
2) Aneka gerak
3) Aneka pertukaran
4) Aneka transaksi
5) Peranan kinesik
Menurut Djajasudarma (1994:7) sebagai media komunikasi, wujud wacana
sebagai media komunikasi berupa rangkaian ujaran (tuturan) lisan dan tulis. Sebagai
media komunikasi wacana lisan, wujudnya berupa:
1) Sebuah percakapan atau dialog yang lengkap dari awal sampai akhir, misalnya
obrolan di warung kopi.
2) Satu penggalan ikatan percakapan (rangkaian percakapan yang lengkap, biasanya
memuat: gambaran situasi, maksud, rangkaian penggunaan bahasa) yang berupa:
Ica : .........................
Ania : Apakah kau punya korek?
Rudi : Tertinggal di ruang makan tadi pagi.
Penggalan wacana ini berupa bagian dari percakapan dan merupakan situasi yang
komunikatif.
3. Wacana Berdasarkan Cara Pengungkapan
a. Wacana langsung
Wacana langsung atau direct discourse adalah kutipan wacana yang sebenarnya
dibatasi oleh intonasi atau pungtuasi (Kridalaksana dalam Henry Guntur Tarigan,
1987:55).
b. Wacana Tidak Langsung
Wacana tidak langsung atau indirect discourse adalah pengungkapan kembali wacana
tanpa

mengutip

harfiah

kata-kata

yang

dipakai

oleh

pembicara

dengan

mempergunakan konstruksi gramatikal atau kata tertentu, antara lain dengan klausa
subordinatif, kata bahwa, dan sebagainya. (Kridalaksana, 1964: 208-9).

4. Wacana Berdasarkan Cara Pembeberan (Pemaparan)


Wacana pembeberan atau expository discourse adalah wacana yang tidak
mementingkan waktu dan penutur, berorientasi pada pokok pembicaraan, dan bagianbagiannya diikat secara logis (Kridalaksana dalam Henry Guntur Tarigan, 1987:56).
a. Wacana naratif (narasi)
Menurut T. Fatimah Djajasudarma (1994:8) wacana naratif adalah rangkaian tuturan
yang menceritakan atau menyajikan hal atau kejadian (peristiwa) melalui penonjolan pelaku.
Isi wacana ditujukan ke arah memperluas pengetahuan pendengar atau pembaca. Kekuatan
wacana ini terletak pada urutan cerita berdasarkan waktu, cara-cara bercerita, atau aturan alur
(plot).
Menurut Abdul Rani, Bustamul Arifin, dan Martutik (2006:45-46) wacana narasi
merupakan satu jenis wacana yang berisi cerita. Dalam narasi terdapat unsu-unsur cerita yang
penting misalnya unsur waktu, pelaku, dan peristiwa. Dalam wacana narasi harus ada unsur
waktu, bahkan unsur pergeseran waktu itu sangat pentng. Unsur pelaku atau tokoh
merupakan pokok yang dibicarakan, sedangkan unsur peristiwa adalah hal-hal yang dialami
oleh sang pelaku.
Wacana narasi pada umumnya ditujukan untuk menggerakan aspek emosi. Dengan narsi,
penerima dapat membentuk citra atau imajinasi. Aspek intelektual tidak banyak digunakan
dalam memahami wacana narasi.
b. Wacana deskriptif (deskripsi)
Menurut Djajasudarma (1994:11) wacana deskriptif berupa rangkaian tuturan
yang memaparkan sesuatu atau melukiskan sesuatu, baik berdasarkan pengalaman maupun
pengetahuan penuturnya. Wacana itu biasanya bertujuan mencapai penghayatan dan
imjinatif terhadap sesuatu sehingga pendengar atau pembaca seolah-olah merasakan atau
mengalami sendiri secara langsung. Wacana deskriptif ini, ada yang hanya memaparkan
sesuatu secara objektif dan ada pula yang memaparkannya secara imajinatif. Pemaparan
secara objektif bersifat menginformasikan sebagaimana adanya, sedangkan pemaparan
secara imajinatif bersifat menambahkan daya khayal. Daya khayal yang didapatkan
didalam novel atau cerpen, atau isi karya sastra pada umumnya.
Menurut Abdul Rani, Bustamul Arifin, dan Martutik (2006:37-38) wacana
deskripsi merupakan jenis wacana yang ditujukan kepada penerima pesan agar
membentuk suatu citra (imajinasi) tentang sesuatu hal. Aspek kejiwaan yang dapat
mencerna wacana tersebut adalah emosi. Hanya melalui emosi, seseorang dapat
membentuk citra atau imajinasi tentang sesuatu. Oleh sebab itu, ciri khas wacana deskripsi

ditandai dengan pengggunaan kata-kata atau ungkapan yang bersifat deskriptif, seperti
rambutnya ikal, hidungnya mancung, dan matanya biru. Dalam wacana ini biasanya tidak
digunakan kata-kata yang bersifat evaluatif yang terlalu abstrak seperti, tinggi sekali, berat
badan tidak seimbang, matanya indah, dan sebagainya.
Wacana deskripsi banyak digunakan dalam katalog penjualan dan juga data-data
kepolisian. Kalimat yang digunakan dalam wacana deskripsi umumnya kalimat deklaratif
dan kata-kata yang digunakan bersifat objektif. Wacana deskripsi cenderung tidak
mempunyai penanda pergeseran waktu seperti dalam wacana narasi.
c. Wacana Prosedural (Eksposisi)
Menurut Djajasudarma (1994:9) wacana prosedural dipaparkan dengan rangkaian tuturan
yang melukiskan sesuatu secara berurutan dan secara kronologis. Wacana prosedural
disusun untuk menjawab pertanyaan bagaimana cara mengerjakan atau menghasilkan
sesuatu.
Menurut Abdul Rani, Bustamul Arifin, dan Martutik (2006:38-39) wacana
eksposisi bertujuan untuk menerangkan sesuatu hal kepada penerima (pembaca) agar
yang bersangkutan memahaminya. Wacana eksposisi dapat berisi konsep-konsep dan
logika yang harus diikuti oleh penerima. Oleh sebab itu, untuk memahami wacana
eksposisi, diperlukan proses berpikir.
Wacana eksposisi menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan kata tanya
bagaimana. Oleh karena itu, wacana tersebut dapat digunakan untuk menerangkan proses
atau prosedur suatu aktivitas. Khusus untuk menerangkan proses dan prosedur, kalimatkalimat yang digunakan dapat berupa kalimat perintah disertai dengan kalimat deklaratif.
d. Wacana Hortatori (Argumentasi)
Menurut Abdul Rani, Bustamul Arifin, dan Martutik (2006:39-40) wacana argumentasi
merupakan salah satu bentuk wacana yang berusaha mempengaruhi pembaca atau
pendengar agar menerima pernyataan yang dipertahankan, baik yang didasarkan
pertimbangan logis maupun emosional (Rottenberg, 1988:9). Senada dengan itu, Salmon
(1984:8) memberikan definisi argumentasi sebagai seperangkat kalimat yang disusun
sedemikian rupa sehingga beberapa kalimat berfungsi sebagai bukti-bukti yang
mendukung kalimat lain yang terdapat dalam perangkat itu.
Menurut Djajasudarma (1994:10) wacana hortatori adalah tuturan yang berisi
ajakan atau nasihat. Tuturan dapat pula berupa ekspresi yang memperkuat keputusan
untuk menyakinkan. Wacana ini tidak disusun berdasarkan urutan waktu, tetapi
merupakan hasil. Wacana ini digunakan untuk mempengaruhi pendengar atau pembaca

agar terpikat akan suatu pendapat yang dikemukakan. Isi wacana selalu berusaha untuk
memiliki pengikut atau penganut, atau paling tidak menyetujui pendapat yang
dikemukakannya itu, kemudian terdorong untuk melakukan atau mengalaminya. Yang
termasuk wacana hortatori antara lain khotbah, pidato tentang politik.
Sebuah wacana dikategorikan argumentasi apabila bertolak dari adanya isu yang
sifatnya kontroversi antara penutur dan mitra tutur. Dalam kaitannya dengan isu tersebut,
penutur berusaha menjelaskan alasan-alasan yang logis untuk meyakinkan mitra tuturnya
(pembaca atau pendengar). Biasanya, suatu topik diangkat karena mempunyai nilai,
seperti indah, benar, baik, berguna, efektif atau sebaliknya.
Pada dasarnya, kekuatan argumen terletak pada kemampuan penutrur dalam
mengemukakan tiga prinsip pokok, yaitu apa yang disebut pernyataan, alasan, dan
pembenaran. Pernyataan mengacu pada kemampuan penutur dalam menentukan posisi.
Alasan mengacu pada kemampuan penutur untuk mempertahakn pernyataannya dengan
memberikan alasan-alasan yang relevan. Pembenaran mengacu pada kemampuan
penutur dalam menunjukkan hubungan antara pernyataan dan alasan.
e. Wacana Ekspositori
Menurut T. Fatimah Djajasudarma (1994:10-11) wacana ekpositori bersifat menjelaskan
sesuatu. Biasanya berisi pendapat atau simpulan dari sebuah pandangan. Pada umumnya,
ceramah, pidato, atau artikel pada majalah dan surat kabar termasuk wacana ekspositori.
Wacana ini dapat berupa rangkaian tuturan yang menjelaskan atau memeparkan sesuatu.
Isi wacana lebih menjelaskan dengan cara menguraikan bagian-bagian pokok pikiran.
Tujuan yang ingin dicapai melalui wacana ekspositori adalah tercapainya tingkat
pemahaman akan sesuatu. Wacana ekspositori dapat berbentuk ilustrasi dengan contoh,
berbentuk perbandingan, uraian kronologis, identifikasi. Identifikasi dengan orientasi
pada meteri yang dijelaskan secara rinci atau bagian demi bagian.
f. Wacana Dramatik
Wacana dramatik menyangkut beberapa orang penutur (persona) dan sedikit bagian
naratif. Pentas drama merupakan wacana dramatik. Drama dahulu dikenal dengan
sebutan sandiwara, tetapi sekarang lebih dikenal dengan nama drama.
g. Wacana Epistolari
Wacana epistolari digunakan di dalam hal surat-surat, dengan sistem dan bentuk tertentu.
Wacana ini dimulai dengan alinea pembuka, isi, dan alinea penutup.

h. Wacana Seremonial
Wacana seremonial berhubungan dengan upacara adat yang berlaku di masyarakat
bahasa. Wacan seremonial dapat berupa nasihat (pidato) pada upacara perkawinan,
upacara kematian, upacara syukuran, dsb.

5. Wacana Berdasarkan Bentuk


Menurut Henry Guntur Tarigan (1987:57-59), wacana berdasarkan bentuknya dapat dibagi
atas:
a. Wacana prosa
Wacana prosa adalah wacana yang disampaikan dalam bentuk prosa. Wacana ini didapat
dan tertulis atau lisan, dapat berupa wacana langsung, dapat pula dengan pembeberan
atau penuturan. Contoh: novel, cerpen, tesis, skripsi, dan lain-lain.
b. Wacana puisi
Wacana puisi adalah wacana yang disampaikan dalam bentuk puisi baik secara tertulis
maupun lisan.
c. Wacana drama
Wacana drama adalah wacana yang disampaikan dalam bentuk drama, dalam bentuk
katalog baik secara tertulis maupun secara lisan.
Menurut pendapat Robert Longacre (dalam Mulyana, 2005:47-51) wacana
berdasarkan bentuknya dapat dibagi atas:
a. Wacana naratif
Wacana naratif adalah bentuk wacana yang banyak dipergunakan untuk menceritakan
suatu kisah. Uraiannya cenderung ringkas. Bagian-bagian yang dianggap penting sering
diberi tekanan atau diulang. Bentuk wacana naratif umumnya dimulai dengan alinea
pembuka, isi, dan diakhiri oleh alinea penutup.
b. Wacana Prosedural
Wacana prosedural digunakan untuk memberikan petunjuk atau keterangan bagaimana
sesuatu harus dilaksanakan. Oleh karena itu, kalimat-kalimatnya berisi persyaratan atau
aturan tertentu agar tujuan kegiatan tertentu itu berhasil dengan baik.
c. Wacana Ekspositori
Wacana ekspositori bersifat menjelaskan sesuatu secara informatif. Bahasa yang
digunakan cenderung denotatif dan rasional.

d. Wacana Hortatori
Wacana hortatori digunakan untuk mempengaruhi pendengar atau pembaca agar tertarik
terhadap pendapat yang dikemukakan. Sifatnya persuasif. Tujuannya adalah mencari
pengikut/penganut agar bersedia melakukan, atau paling tidak menyetujui, pada hal yang
disampaikan dalam wacana tersebut.

e. Wacana Dramatik
Menurut Menurut Mulyana (2005:50) wacana dramatik adalah bentuk wacana yang
berisi percakapan antar penutur. Sedapat mungkin menghindari atau meminimalkan sifat
narasi di didalamnya. Contoh teks dramatik adalah skenario film/sinetron, pentas wayang
orang, ketoprak, sandiwara, dan sejenisnya.
Contoh wacana dramatik:
Ibu : Anakku, kamu sudah dewasa. Apalagi sekarang ini ibu sudah tua.
Anak : Maksud ibu?
Ibu : Ibu ingin segera punya cucu. Ibu ingin sekali menjadi nenek. Kamu harus segera
mencari istri.
Anak : Saya kan belum punya pekerjaan tetap, Bu! Bagaimana nanti saya menghidupi
istri dan anak-anak saya.
Ibu : Tidak usah khawatir. Ibu ada tabungan yang cukup buat kamu buka usaha. Tapi
kamu harus pandai cari tambahan modal. Terima ini.

Anak : Terimakasih, Bu.


f. Wacana Epistoleri
Menurut Mulyana (2005:50) wacana epistoleri biasa dipergunakan dalam suratmenyurat. Pada umumnya memiliki bentuk dan sistem tertentu yang sudah menjadi
kebiasaan atau aturan. Secara keseluruhan, bagian wacana ini diawali oleh alinea
pembuka, dilanjutkan bagian isi, dan diakhiri alinea penutup.
g. Wacana Seremonial
Menurut Mulyana (2005:51) wacana seremonial adalah bentuk wacana yang digunakan
dalam kesempatan semonial (upacara). Karena erat kaitannya dengan konteks situasi dan
kondisi yang terjadi dalam seremoni, maka wacana ini tidak digunakan di sembarang
waktu. Inilah bentuk wacana yang dinilai khas dan khusus dalam Bahasa Jawa. Wacana
ini

umumnya

tercipta

kerena

tersedianya

konteks

sosio-kultural

yang

melatarbelakanginya. Secara keseluruhan, teks wacana seremonial terdiri dari alinea

pembuka, dilanjutkan isi, dan diakhiri alinea penutup. Contoh wacana ini adalah pidato
dalam upacara peringatan hari-hari besar, upacara pernikahan (Jawa: tanggap wacana
manten)

6. Wacana Berdasarkan Isi


Menurut Mulyana (2005:57-63) klasifikasi wacana berdasarkan isi, relatif mudah
dikenali. Hal ini disebabkan antara lain, oleh tersedianya ruang dalam berbagai media
yang secara khusus langsung mengelompokkan jenis-jenis wacana atas dasar isinya. Isi
wacana sebenarnya lebih bermakna sebagai nuansa atau muatan tentang hal yang
ditulis, disebutkan, diberitakan, atau diperbincangkan oleh pemakai bahasa (wacana).
Berdasarkan isinya, wacana dapat dipilah menjadi: wacana politik, wacana sosial,
wacana ekonomi, wacana budaya, wacana militer, wacana hukum, dan wacana
kriminalitas. Wacana yang berkembang dan digunakan secara khusus dan terbatas pada
dunia-nya itu, dapat juga disebut sebagai register, yaitu pemakaian bahasa dalam suatu
lingkungan dan kelompok tertentu dengan nuansa makna tertentu pula.
a. Wacana Politik; wacana politik berkaitan dengan masalah politik.
b. Wacana Sosial; wacana sosial berkaitan dengan kehidupan sosial dan kehidupan
sehari-hari masyarakat.
c. Wacana ekonomi; wacana ekonomi berkaitan dengan persoalan ekonomi. Dalam
wacana ekonomi, ada beberapa register yang hanya dikenal di dunia bisnis dan
ekonomi. Contoh ungkapan-ungkapan register ekonomi seperti persaingan pasar,
biaya produksi tinggi, langkanya sembako, konsumen dirugikan, inflasi, evaluasi,
harga saham gabungan, mata uang, dan sebagainya.
d. Wacana budaya; wacana budaya berkaitan dengan aktivitas kebudayaan. Meskipun
sampai saat ini makna kebudayaan masih terus diperdebatkan, namun pada wilayah
kewicanaan ini, kebudayaan lebih dimaknai sebagai wilayah kebiasaan atau tradisi,
adat, sikap hidup, dan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia sehari-hari.
Wilayah tersebut kemudian menghasilkan bentuk-bentuk kebahasaan sabagai
representasi aktivitasnya yang kemudian disebut wacana budaya.
e. Wacana militer; wacana jenis ini hanya dipakai, dikembangkan di dunia militer.
Instasi militer dikenal sangat suka menciptakan istilah-istilah khusus yang hanya
dikenal oleh kalangan militer. Contoh istilah dalam wicana militer seperti operasi
militer, desersi, intelijen, apel pagi, sumpah prajurit, veteran, dan lain-lain.

f. Wacana hukum dan kriminalitas; persoalan hukum dan kriminalitas, sekalipun bisa
dipisahkan, namun keduanya bagaikan dua sisi dari mata uang: berbeda tetapi menjadi
satu

kesatuan.

Kriminalitas menyangkut hukum, dan

hukum mengelilingi

kriminalitas. Contoh istilah yang digunakan dalam wacana hukum dan kriminalitas
seperti tersangka, tim pembela, kasasi, vonis, hakim.
g. Wacana olahraga dan kesehatan; wacana olahraga dan kesehatan berkaitan dengan
masalah olahraga dan kesehatan. Masalah yang berkaitan dengan kesehatan misalnya,
muncul kalimat Sempat joging 10 menit, didiagnosis jantung ringan. Istilah joging
adalah aktivitas olahraga ringan yang berkaitan dengan kesehatan. Oleh karena itu,
munculnya istilah jantung ringan pada bagian berikutnya sama sekali bukan berarti
berat jantung yang ringan (tidak berat), tetapi jenis sakit jantung pada stadium awal
(masih belum mengkhawatirkan).

B. Hakikat Kohesi dan Koherensi


Menurut Sumarlam (2007:6) wacana yang padu adalah wacana yang apabila dilihat dari segi
bentuk atau struktur lahirnya bersifat kohesif, dan dilihat dari segi hubungan makna atau
struktur batinnya bersifat koheren. Lebih lanjut sumarlam menjelaskan bahwa dalam analisis
wacana, segi bentuk atau struktur lahir wacana disebut aspek gramatikal wacana, sedangkan
segi makna atau struktur batin wacana disebut aspek leksikal wacana.
Dijelaskan lebih lanjut oleh Mulyana, 2005: 26 bahwa Kohesi adalah hubungan
antarbagian dalam teks yang ditandai penggunaan unsur bahasa. Konsep kohesi pada
dasarnya mengacu kepada hubungan bentuk, artinya unsur-unsur wacana (kata atau kalimat)
yang digunakan untuk menyusun suatu wacana memiliki keterkaitan secara padu dan utuh.
Sejalan dengan pendapat di atas Yayat Sudaryat (2008: 151) menyatakan bahwa
kohesi merupakan aspek formal bahasa dalam organisasi sintaksis, wadah kalimat-kalimat
disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan. Sedangkan Abdul Rani, Bustanul
arifin, Martutik (2006: 88) menyatakan bahwa kohesi adalah hubungan antarbagian dalam
teks yang ditandai oleh penggunaan unsur bahasa.
Untuk membentuk wacana yang baik dan padu tidak cukup hanya mengandalkan
hubungan kohesi. Menurut Cook (dalam Adul Rani, dkk, 2006: 872) menyatakan bahwa
penggunaan alat kohesi itu memang penting untuk membentuk wacana yang utuh, tetapi tidak
cukup meggunakan penanda katon tersebut. Ada faktor lain seperti relevansi dan faktor
tekstual luar (extratextual factor) yang ikut menentukan keutuhan wacana. Kesesuaian antara
teks dan dunia nyata dapat membantu menciptakan suatu kondisi untuk membantuk wacana

yang utuh. Faktor lain seperti pengetahuan budaya yang juga membantu dalam menciptakan
koherensi teks. Agar wacana yang kohesif baik, maka perlu dilengkapi dengan koherensi.
Menurut Abdul Rani, dkk (2006:89) yang dimaksud koherensi adalah kepaduan hubungan
maknawi antara bagian-bagian dalam wacana.
Mulyana (2005: 30) di dalam bukunya yang berjudul Kajian Wacana banyak
mengutip pendapat-pendapat ahli berkaitan dengan koherensi. Adapun pendapat tersebut
adalah sebagai berikut, menurut H. G. Tarigan (1987) istilah koherensi mengandung makna
pertalian, dalam konsep kewacanaan berarti pertalian makna atau isi kalimat. Gorys Keraf
(1984) menyatakan bahwa koherensi juga berarti hubungan timbal balik yang serasi
antarunsur dalam kalimat. Sejalan dengan pendapat tersebut Wahjudi (1989) berpendapat
bahwa hubungan koherensi keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya,
sehingga kalimat memiliki kesatuan makna yang utuh. Sedangkan Samiati (1989)
berpendapat bahwa wacana yang koheren memiliki cirri-ciri: susunanya teratur dan
amanatnya terjalin rapi, sehingga mudah diintepretasikan. Pendapat-pendapat tersebut
diperkuat oleh pendapat Brown dan Yule (dalam Mulyana, 2006: 30) yang menegaskan
bahwa berarti keterpaduan dan keterpahaman antarsatuan dalam suatu teks atau tuturan.
Dalam sebuah wacana aspek koherensi sangat diperlukan keberadaannya untuk
menjaga pertalian batin antara proposisi yang satu dengan lainnya untuk mendapatkan
keutuhan. Keutuhan yang koheren tersebut dijabarkan oleh adanya hubungan-hubungan
makana yang terjadi antarunsur (bagian) secara semantik. Hubungan tersebut kadang terjadi
melalui alat bantu kohesi, namun kadang-kadang terjadi tanpa bantuan alat kohesi. Secara
keseluruhan hubungan makna yang bersifat koheren menjadi bagian dari organisasi semantis.
Halliday dan Hasan (dalam Mulyana, 2005: 31) menegaskan bahwa struktur wacana
pada dasarnya bukanlah struktur sintaktik, melainkan struktur semantic, yakni semantic
kalimat yang di dalamnya mengandung proposisi-proposisi. Sebab beberapa kalimat hanya
akan menjadi wacana sepanjang ada hubungan makna (arti) di antara kalimat-kalimat itu
sendiri. Keberadaan unsure koherensi sebetulnya tidak hanya pada satuan teks semata (scara
formal), malainkan pada kemampuan pembaca atau pendengar dlam menghubungkan dan
menginterpretasikan suatu bentuk wacana yang diterimanya. Maka dari pendapat tersebut
diperkuat dan disimpulkan oleh Mulyana (2005:31) hubungan koherensi adalah sutau
rangkaian fakta dan gagasan yang teratur yang tersusun secara logis. Koherensi dapat terjadi
secara implisit (terselubung) karena berkaitan dengan bidang makna yang memerlukan
interpretasi. Pendapat tersebut juga diyakini oleh Yayat Sudaryat (2008: 152) koherensi
adalah kekompakan hubungan antar kalimat dalam wAcana. Meskipun begitu, interpretasi

wacana berdasarkan struktur sintaksis dan leksikal bukan satu-satunya cara. Maka koherensi
merupakan bagian dari suatu wacana, sebagai organisasi semantic, wadah gagasan yang
disusun dalam urutan yang logis untuk mencapai maksud dan tuturan yang tepat.
1. Hubungan kohesi dan koherensi
Kohesi dan koherensi tidak dapat terpisahkan satu dengan yang lainnya. Dua istilah
ini merupakan satu kesatuan yang selalu melekat. Sebuah teks terutama teks tulis
memerlukan unsur pembentuk teks. Kohesi merupakan salah satu unsur pembentuk teks yang
penting. Menurut Mulyana (2005: 26) menyatakan bahwa kohesi dalam wacana diartikan
sebagai kepaduan bentuk yang secara struktural membentuk ikatan sintaktikal. Sejalan
dengan hal tersebut Anton M. Moeliono (dalam Mulyana, 2005: 26) menyatakan bahwa
wacana yang baik dan utuh menayaratkan kalimat-kalimat yang kohesif.

2. Jenis-jenis Kohesi
Kohesi wacana terbagi di dalam dua aspek, yaitu kohesi gramatika dan kohesi
leksikal. Gutwinsky (dalam Yayat Sudaryat, 2008: 151) menyatakan bahwa kohesi mengacu
pada hubungan antarkalimat dalam wacana, baik dalam tataran gramatikal maupun tataran
leksikal. Lebih lanjut Menurut Halliday dan Hassan (1976) mengemukakan unsur kohesi
terbagi atas dua macam, yaitu unsur leksikal dan unsur gramatikal. Piranti kohesi gramatikal
merupakan piranti atau penanda kohesi yang melibatkan penggunaan unsur-unsur kaidah
bahasa. Piranti kohesi leksikal adalah kepaduan bentuk sesuai dengan kata. Kohesi
gramatikal antara lain adalah referensi, subtitusi, ellipsis, konjungsi, sedangkan yang
termasuk kohesi leksikal adalah sinonimi, repetisi, kolokasi.
a. Kohesi gramatikal
1) Referensi
Menurut Yayat Sudaryat (2008:153) menyatakan bahwa referensi atau pengacuan
merupakan hubungan antara kata dengan acuan. Kata-kata yang berfungis sebagai
pengacu disebut deiksis sedangkan unsur-unsur yang diacu disebut antesede.
Referensi dapat berupa eksosentris (situasional) apabila mengacu ke anteseden yang
ada di luar wacana, dan bersifat endoforis (tekstual) apabila yang diacuanya terdapat
di dalam wacana. Diperkuat dengan pendapat Mulyana (2005: 27) juga menyatakan
bahwa referensi (penunjukan) merupakan bagian kohesi gramatikal yang berkaitan
dengan penggunaan kata taua kelompok kata untuk menunjuk kata atau kelompok
kata atau satuan gramatikal lainnya.

2) Subtitusi
Harimurti Kridalaksana (dalam Mulyana, 2005:28) menyatakan bahwa subtitusi
(penggantian) adalah proses dan hasil penggantian oleh unsure bahasa oleh unsure
lain dalam satuan yang lebih besar. Penggantian dilakukan untuk memperoleh unsure
pembeda atau menjelaskan strukur tertentu. Proses subtitusi merupakan hubungan
gramatikal, dan lebih bersifat hubungan kata dan makna. Sejalan dengan pendapat
tersebut Yayat Sudaryat (2008: 154) menyatakan bahwa subtitusi mengacu pada
penggantian kata-kata dengan kata lain. Subtitusi mirip dengan referensi.
Perbedaanya, referensi merupakan hubungan makna sedangkan subtitusi merupakan
hubungan leksikan atau gramatikal. Selain itu, subtitusi dapat berupa proverb, yaitu
kata-kata yang digunakan untuk menunjukan tidakan, keadaan, hal, atau isi bagian
wacana yang sdauh disebutkan sebelum atau sesudahnya juga dapat berupa subtitusi
kalusal.
3) Elipsis
Yayat Sudaryat (2008: 155) ellipsis merupakan penghilangan satu bagian dari unsure
kalimat. Sebenarnya ellipsis sama dengan subtitusi, tetapi ellipsis disubtitusi oleh
sesuatu yang kosong. Ellipsis biasanya dilakuakn dengan menghilangkan unsureunsur wacana yang telah disebutkan sebelumnya. Sedangkan pendapat harimurti
Kridalaksana (dalam Mulyana, 2005:280 elipsis (penghilangan/pelesapan) adalah
proses penghilangan kata atau sataun-satuan kebahasaan lain. Bentuk atau unsure
yang dilesapkan dapat diperkirakan ujudnya dari konteks bahasa atau konteks luar
bahasa.
4) Konjungsi
Yayat Sudaryat (2008: 155) menyatakan bahwa konjungsi merupakan kata-kata yang
digunakan untuk menghubungkan unsure-unsur sintaksis (frasa, kalusa, kalimat)
dalam satuan yang lebih besar. Kridalaksana dan Tarigan dalam (Mulyana, 2005: 29)
menyatakan bahwa konjungsi atau kata sambung adalah bentuk atau satuan
kebahasaan yang berfungsi sebagai penyambung, perangkai, atau penghubung
angtara kata dengan kata, frasa dengan frasa, kalusa dengan klausa, kalimat dengan
kalimat dan seterusnya. Konjungsi disebut juga sarana pernagkai unsure-unsur
kewacanaan. Sebagai alat kohesi, berdasarkan perilaku sintaksisnya konjungsi dapat
dibedakan sebagai berikut:
1) Konjungsi koordinatif yang menghubungkan unsure-unsur sintaksis yang
sederajat seperti dan, atau, tetapi;

2) Konjungsi subordinatif yang menghubungkan unsure-unsur sintaksis yang tidak


sederajat seperti waktu, meskipun, jika;
3) Konjungsi korelatif yang posisinya terbelah, sebagian terletak di awal kalimat,
dan sebagian legi di tengah kalimat seperti baik, .maupun, ..meskipun,tapi;
4) Konjungsi antarkalimat yang menghubungkan kalimat-kalimat dalam sebuah
paragraph. Konjungsi ini selalu ada di depan kalimat seperti karena itu, oleh
sebab itu, sebaliknya, kesimpulannya, jadi
b. Kohesi leksikal
Secara umum, piranti kohesi leksikal berupa kata atau frasa bebas yang mampu
mempertahankan hubungan kohesif dengan kalimat mendahului atau mengikuti. Menurut
Rentel (1986: 268-289), piranti kohesi leksikal terdiri atas dua macam yaitu:
1) Repetisi (Ulangan)
Repetisi atau ulangan merupakan salah satu cara untuk mempertahankan hubungan
kohesif antarkaliamat. Macam-macam ulangan atau repetisi berdasarkan data
pemakaian bahasa Indonesia seperti berikut.
1) Ulangan Penuh
Ulangan penuh berarti mengulang satu fungsi dalam kalimat secara penuh, tanpa
pengurangan dan perubahan bentuk.
Contoh:
Buah Apel adalah salah satu buah yang sangat tidak diragukan kelezatan rasanya.
Buah Apel memiliki kandungan vitamin, mineral dan unsur lain seperti serat,
fitokimian, baron, tanin, asam tartar, dan lain sebagainya.
2) Ulangan dengan bentuk lain
Terjadi apabila sebuah kata diulang dengan konstruksi atau bentuk kata lain yang
masih mempunyai bentuk dasar yang sama.
Contoh:
Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu
dan fisafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa
yang telah kita tahu dan apa yang belum kita tahu.
3) Ulangan dengan Penggantian
Pengulangan dapat dilakukan dengan mengganti bentuk lain seperti dengan kata ganti.
Contoh:

Seorang yang berfilsafat dapat diumpamakan seorang yang berpijak di bumi sedang
tengadah ke bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya.

4) Ulangan dengan hiponim


Contoh:
Bila musim kemarau tiba, tanaman di halaman rumah mulai mengering . Bunga
tidak mekar seperti biasanya.

2) Kolokasi
Suatu hal yang selalu berdekatan atau berdampingan dengan yang lain, biasanya
diasosiasikan sebagai kesatuan.
Contoh:
UUD 1945 dan Pancasila.
Ada ikan ada air.

3) Sinonimi
Sinonimi merupakan persamaan makna kata.
Contoh:
Hari pahlawan diperingati tiap 10 November. Mereka adalah pejuang bangsa
yang rela mengorbankan jiwa raga demi kesatuan Negara Republik Indonesia.
Jasa mereka selalu dikenang sepanjang masa.

C. Koherensi dalam Wacana


Persyaratan gramatikal dalam wacana dapat dipenuhi kalau dalam wacana sudah terbina
kekohesian, yaitu adanya keserasian hubungan antara unsur-unsur yang ada dalam wacana
tersebut (Anjani, 2013: 296). Apabila wacana tersebut sudah kohesif, maka terciptalah suatu
wacana yang koheren, yaitu isi wacana yang apik dan benar. Singkatnya, piranti kohesi
merupakan sebuah alat yang digunakan dalam menunjang wacana menjadi wacana yang utuh.
Perangkat kohesif hanya digunakan sebagai alat bantu dalam memahami suatu wacana dan
menjadi piranti efisien yang memungkinkan pembaca untuk membangun makna sesuai
dengan interpretasi pembaca. Dengan kata lain, sejauh kohesi yang ditemukan dalam teks
dapat membangun sebuah kekoherensian dalam satu wacana. Pada dasarnya koherensi
merupakan suatu rangkaian gagasan yang tersusun secara teratur dan logis. Koherensi juga
dapat terjadi secara implisit karena berkaitan dengan makna yang diinterpretasi oleh

pembaca/pendengar. Berbagai macam hubungan antarbagian wacana yang bersifat koheren


dapat berupa hubungan sebab-akibat, perurutan, perlawanan, lebih, penjumlahan, waktu,
syarat, cara, kegunaan, dan penjelasan. Masing-masing hubungan antarbagian tersebut
memiliki penanda koherensi tertentu dalam penunjukan pertalian yang koheren.

a. Contoh wacana koheren


Buah naga memiliki banyak manfaat bagi manusia. Buah naga bermanfaat untuk
mempercepat penyembuhan luka,meningkatkan nafsu makan,meningkatakan penglihatan,
menurunkan berat badan, meningkatkan daya ingat. Manfaat yang paling besar dari buah
naga adalah dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung. karena dapat mengurangi
tingkat kolesterol jahat,dan kemungkinan terjadi penumpukan plak di arteri dan vena sangat
rendah atau bahkan tidak mungkin terjadi. Kandungan positif dari buah naga ini bisa
mengaktifkan kolesterol HDL (kolesterol baik)nyang mampu menurunkan koresterol LDL
(kolesterol buruk) dengan mengurangi reseptor yang ada di dinding arteri.
Contoh di atas termasuk wacana yang koheren. Dikatakan demikian karena dalam
wacana di atas memiliki ketercapaian aspek-aspek piranti kohesinya. Piranti-piranti tersebut
meliputi unsur-unsur konteks dan referensi, jika ditinjau dari gagasan pokok, kalimat utama,
dan kalimat penjelas yang satu sama lain saling membangun kesepahaman. Contoh tersebut
membahas mengenai manfaat buah naga. Namun, koherensi suatu wacana tidak harus
bergantung pada piranti kohesif (Setiawan, 2010: 19).

b. Wacana tidak koheren


Apel merupakan buah yang memiliki banyak kandungan vitamin yang baik untuk tubuh
manusia. Adikku yang berumur 10 tahun sangat menyukai buah jeruk. Buah tomat yang
tumbuh di kebun pamanku sangat banyak dan besar-besar. Buah apel yang dijual di pasar itu
terlihat masih segar.
Contoh di atas termasuk contoh yang tidak koheren. Dikatakan demikian karena
dalam contoh di atas tidak memiliki ketercapaian kohesi. Setiap kalimat yang terdapat dalam
wacana di atas tidak memiliki keterikatan sama sekali sehingga tidak memenuhi unsur
konteks. Selain itu, tiap kalimat terdapat dua pembahasan yang berbeda jika ditinjau dari
objeknya, yakni buah apel dan tomat yang tidak memiliki hubungan.

c. Kohesi dalam Wacana


Kohesi dalam wacana diartikan sebagai kepaduan bentuk yang secara struktural membentuk
ikatan sintaktikal dan berkenaan dengan hubungan bentuk antara bagian-bagian dalam suatu
wacana. Dengan kata lain, kohesi merupakan aspek fisik yang terdapat dalam suatu wacana.

Widdowson (2007:46) mengungkapkan bahwa perangkat kohesi menghubungkan bagianbagian wacana dalam satu kesatuan teks. Relasi kohesif sangat mendukung bagi pendengar/
penerima wacana dalam memahami sebuah wacana. Halliday dan Hasan (1976:6) membagi
kohesi dalam dua jenis yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal.
Menurut Halliday dan Hassan (1976), unsur kohesi terbagi atas dua macam, yaitu
unsur leksikal dan unsur gramatikal. Piranti kohesi gramatikal merupakan piranti atau
penanda kohesi yang melibatkan penggunaan unsur-unsur kaidah bahasa. Piranti kohesi
leksikal adalah kepaduan bentuk sesuai dengan kata.

D. Piranti Kohesi Gramatikal


Kohesi gramatikal berkaitan dengan aspek gramatikal antarwacana. Kohesi gramatikal
mencakup referensi, substitusi, elipsis, dan konjungsi (Anjani, 2013: 289).
1. Referensi (Pengacuan)
Referensi berarti hubungan antara kata dengan benda. Kata pena misalnya mempunyai
referensi sebuah benda yang memiliki tinta digunakan untuk menulis. Halliday dan Hasan
(1979) membedakan referensi menjadi dua macam, yaitu eksoforis dan endoforis. Referensi
eksoforis adalah pengacuan satuan lingual yang terdapat di luar teks wacana.
Contoh: Itu matahari. Kata itu pada tuturan tersebut mengacu pada sesuatu di luar teks, yaitu
benda yang berpijar yang menerangi alam ini.
Referensi endofora adalah pengacuan satuan satuan lingual yang terdapat di dalam teks
wacana. Referensi endofora terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
1) Referensi anafora yaitu satuan lingual yang disebut lebih dahulu atau ada pada kalimat
yang lebih dahulu, mengacu pada kalimat awal atau yang sebelah kiri.
Contoh:
(a) Hati Adi terasa berbunga-bunga. (b) Dia yakin Janah menerima lamarannya.
Kata Dia pada kalimat (b) mengacu pada kata Adi. Pola penunjukkan inilah yang
menyebabkan kedua kalimat tersebut berkaitan secara padu dan saling berhubungan.

2) Referensi katafora yaitu satuan lingual yang disebutkan setelahnya, mengacu pada
kalimat yang sebelah kanan.
Contoh:
Karena bajunya kotor, Gani pulang ke rumah.

Pronomina enklitik-nya pada kalimat pertama mengacu pada antaseden Gani yang terdapat
pada kalimat kedua.

Baik referensi yang bersifat anafora maupun katafora mengunakan pronomina


persona, pronomina penunjuk, dan pronomina komparatif. Pronomina Persona adalah
pengacuan secara berganti-ganti bergantung yang memerankannya.
Dalam bahasa Indonesia, pronominal persona diperinci sebagai berikut.
Tunggal

Jamak

Persona Pertama

Aku, saya

Kami, kita

Persona Kedua

Kamu, engaku, anda

Kalian, kami sekalian

Persona Ketiga

Dia, ia, beliau

mereka

Contoh:
a) Ida, kamu harus belajar. (referensi bersifat anfora)
b) Kamu sekarang harus lari! Ayo, Okta cepatlah! (referensi bersifat katafora)

Pronomina demonstrasi yaitu pengacuan satual lingual yang dipakai untuk menunjuk.
Biasanya menggunakan kata: ini, itu, kini, sekarang, saat ini, saat itu, di sini, di situ, di sana
dan sebagainya.
Contoh: (a) Di sini saya dilahirkan. (b) Di rumah inilah saya dibesarkan, kata Ani.
Pronominal di sini pada kalimat (a) mengacu secara katafora terhadap antesedan rumah pada
kalimat (b).
Pronomina komparatif adalah deiktis yang menjadi bandingan bagi antasedennya.
Kata-kata yang termasuk kategori pronominal komparatif antara lain: sama, persis, identik,
serupa, segitu serupa, selain, berbeda, tidak beda jauh, dan sebagainya.
Contoh:
Dani mirip dengan Ali karena mereka bersaudara.

2. Substitusi (Penggantian)
Penggantian adalah penyulihan suatu unsur wacana dengan unsur yang lain yang acuannya
tetap sama, dalam hubungan antarbentuk kata, atau bentuk lain yang lebih besar daripada
kata, seperti frasa atau klausa (Halliday dan Hassan, 1979: 88; Quirk, 1985: 863).

Secara umum, penggantian itu dapat berupa kata ganti orang, kata ganti tempat, dan kata
ganti sesuatu hal.
1) Kata ganti orang merupakan kata yang dapat menggantikan nama orang atau beberapa
orang.
Contoh: Nurul mengikuti olimpiade matematika. Ia mewakili Kalimantan Selatan.

2) Kata ganti tempat adalah kata yang dapat menggantikan kata yang menunjuk pada tempat
tertentu.
Contoh: Kabupaten Paser merupakan penghasil minyak terbesar di Kalimantan Timur. Di
sana banyak terdapat pabrik sawit sebagai alat untuk mengolah buah sawit menjadi minyak
mentah.

3) Dalam pemakaian Bahasa untuk mempersingkat suatu ujaran yang panjang yang
digunakan lagi, dapat dilakukan dengan menggunakan kata ganti hal. Sesuatu yang
diuraikan dengan panjang lebar dapat digantikan dengan sebuah atau beberapa buah kata.
Contoh:
Pembukaan UUD 1945 dengan jelas menyatakan bahwa Pancasila adalah dasar negara.
Dengan demikian, Pancasila merupakan nilai dasar yang normatif terhadap seluruh
penyelenggaraan negara Repubublik Indonesia.
Kata demikian pada contoh di atas merupakan kata ganti hal yang menggantikan seluruh
preposisi yang disebutkan sebelumnya.

3. Elipsis (penghilangan/ pelepasan)


Elipsis adalah proses penghilangan kata atau satuan-satuan kebahasaan lain. Elipsis juga
merupakan penggantian unsur kosong (zero), yaitu unsur yang sebenarnya ada tetapi sengaja
dihilangkan atau disembunyikan.
Contoh:
Tuhan selalu memberikan kekuatan, ketenangan, ketika saya menghadapi saat-saat yang
menentukan dalam penyusunan skripsi ini. (Saya mengucapkan) terima kasih Tuhan.

4. Konjungsi (kata sambung)


Konjungsi termasuk salah satu jenis kata yang digunakan untuk menghubungkan kalimat.
Piranti konjungsi dalam bahasa Indonesia dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu sebagai
berikut.

1) Piranti urutan waktu


Proposisi-proposisi yang menunjukkan tahapan-tahapan seperti awal, pelaksanaan, dan
penyelesaian dapat disusun dengan menggunakan urutan waktu. Berikut ini beberapa
konjungsi urutan waktu. Setelah itu, sebelum itu, sesudah itu, lalu, kemudian, akhirnya,
waktu itu, sejak itu dan ketika itu.
Contoh:
Ani memberikan sambutan di Kantor Walikota Balikpapan. Setelah itu dia akan berkunjung
ke Pulau Kumala.

2) Piranti Pilihan
Untuk menyatakan dua proposisi berurutan yang menunjukan hubungan pilihan.
Contoh:
Pergi ke Pasar Lama atau ke Pasar Baru.

3) Piranti Alahan
Hubungan alahan antara dua proposisi dihubungkan dengan frasa-frasa seperti meski(pun)
demikian, meski(pun) begitu, kedati(pun) demikian, kedatipun begitu, biarpun demikian, dan
biarpun begitu.
Contoh:
Rumi tetap pergi ke Kampus, meskipun hujan.

4) Piranti Parafrase
Parafrase merupakan suatu ungkapan lain yang lebih mudah dimengerti.
Contoh:
Perlu juga diperhatikan bahwa sejumlah teori dan pendekatan yang ada tersebut, bagi
pembaca justru saling melengkapi. Dengan kata lain, apabila tujuan pembaca ingin
memahami keseluruhan aspek dalam karya satra, tidak mungkin mereka hanya memiliki satu
pendekatan.

5) Piranti Ketidaserasian
Ketidakserasian itu pada umumnya ditandai dengan perbedaan proposisi yang terkandung di
dalamnya, bahkan sampai pada pertentangan.

Contoh:
Nyasar di Martapura, padahal saya sudah melihat penunjuk jalan.

6) Piranti Serasian
Piranti keserasian digunakan apabila dua buah ide atau proposisi itu menunjukkan hubungan
yang selaras atau sama.
Contoh:
Nia sangat dermawan, demikian juga dengan ibunya.

7) Piranti Tambahan (Aditif)


Piranti Tambahan berguna untuk menghubungkan bagian yang bersifat menambahkan
informasi dan pada umumnya digunakan untuk merangkaikan dua proposisi atau lebih.
Piranti konjungsi tambahan antara lain: pula, juga, selanjutnya, dan, di samping itu,
tambahan lagi, dan selain itu.
Contoh:
Masukkan kentang dan wortel, selanjutnya beri garam dan gula secukupnya. Selain itu, kita
juga bisa menambahkan brokoli dan jagung manis.

8) Piranti Pertentangan (Kontras)


Piranti ini digunakan untuk menghubungkan proposisi yang bertentangan atau kontras dengan
bagian lain. Piranti yang biasa digunakan misalnya (akan) tetapi, sebaliknya, namun, dsb.
Contoh:
Perkembangan kognitif anak sudah baik. Namun, harus tetap berlatih agar tidak terjadi
penurunan.

Diky sangat nakal, tetapi ia pintar.

9) Piranti Perbandingan (Komparatif)


Piranti ini digunakan untuk menunjukkan dua proposisi yang menunjukkan perbandingan.
Untuk mengatakan hubungan secara eksplisit sering digunakan kata penghubung antara lain:
sama halnya, berbeda dengan itu, seperti, dalam hal seperti itu, serupa dengan itu, dan
sejalan dengan itu.

Contoh:
Pantun, puisi asli Indonesia, berbeda dengan syair. Pantun mempunyai dua bagian setiap
bait, yaitu bagian sampiran dan isi. Sampiran terdapat dua baris pertama, sedangkan isinya
terkandung pada dua baris terakhir.

10) Piranti Sebab-akibat


Sebab dan akibat merupakan dua kondisi yang berhubungan. Hubungan sebab-akibat terjadi
apabila salah satu proposisi menunjukkan sebab terjadinya suatu kondisi tertentu yang
merupakan akibat atau sebaliknya.
Contoh:
Karena sering membuang sampah ke Sungai akibatnya rumah warga di sepanjang Jl. Yos
Sudarso terendam banjir.

11) Piranti Harapan (Optatif)


Hubungan optatif terjadi apabila ada ide atau proposisi yang mengandung suatu harapan atau
doa.
Contoh:
Mudah-mudahan kejadian seperti itu tidak terulang kembali.
Semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca.

12) Piranti Ringkasan dan Simpulan


Piranti tersebut berguna untuk mengantarkan ringkasan dari bagian yang berisi uraian.
Contoh:
Demikianlah beberapa informasi memngenai manfaat buah apel bagi kesehatan yang telah
saya sampaikan pada artikel ini. Jadi, mulai sekarang sering-seringlah mengkonsumsi buah
apel.

13) Piranti Misalan atau Contohan


Contohan atau misalan itu berfungsi untuk memperjelas suatu uraian, khususnya uraian yang
bersifat abstrak. Biasanya, kata yang digunakan adalah contohnya, misalnya, umpanya, dsb.
Contoh:
Kata ganti orang pertama tunggal. Contohnya hamba, saya, beta, aku, daku, dan sebagainya.

14) Piranti Keragu-raguan (Dubitatif)


Piranti tersebut digunakan untuk mengantarkan bagian yang masih menimbulkan keraguan.
Kata yang digunakan adalah jangan-jangan, barangkali, mungkin, kemungkinan besar, dan
sebagainya.
Contoh:
Mungkin dia sedang sedih.

15) Piranti Konsesi: memang, tentu saja dalam memberikan penjelasan, adakalanya, pengirim
pesan mengakui sesuatu kelemahan atau kekurangan yang terjadi di luar jalur yang
dibicarakan. Pengakuan itu dapat dinyatakan dengan kata memang atau tentu saja.
Contoh:
Memang benar dia pintar.

16) Piranti Tegasan


Proposisi yang telah disebutkan perlu ditegaskan lagi agar dapat segera dipahami dan di
resapi.
Contoh:
Untuk makan sehari-hari saja susah apalagi untuk membeli rumah.

17) Piranti Jelasan


Piranti ini digunakan untuk memberikan penjelasan yang berupa proposisi (pikiran, perasaan,
peristiwa, keadaan, dan sesuatu hal) lanjutan.
Contoh:
Yang dimaksud braille adalah sistem tulisan dan cetakan untuk orang buta.

E. Piranti Kohesi Leksikal


Kohesi leksikal adalah hubungan leksikal di dalam bagian wacana agar terbentuk suatu
keserasian struktur wacana yang kohesif. Kohesi leksikal terdiri dari pengulangan, hiponimi,
sinonim, antonimi, dan kolokasi. Tujuan digunakannya aspek-aspek leksikal itu di antaranya
ialah untuk mendapatkan efek intensitas makna bahasa, kejelasan informasi, dan keindahan
bahasa lainnya.
a. Pengulangan atau repetisi merupakan jenis kohesi leksikal yang berupa pengulangan
satuan lingual tertentu yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah

konteks yang sesuai. Pengulangan satuan lingual dalam sebuah wacana sangat
mendukung untuk membangun sebuah wacana yang koheren.
Contoh: Adik sedang apel. Apel yang dimakan adik berwarna merah. (Pengulangan penuh)
(Pengulangan sebagian)

b. Kohesi sinonimi merupakan jenis kohesi leksikal yang berupa relasi makna leksikal yang
mirip antara konstituen yang satu dengan yang lain. Adapun Verhaar (1978)
mendefinisikan secara semantis bahwa sinonimi adalah alat kohesi yang digunakan
sebagai ungkapan (bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknananya kurang lebih
sama dengan makna ungkapan lain. Sinonimi berfungsi menjalin kepaduan makna dari
satuan lingual tertentu dengan satuan lingual yang lain yang memiliki komponen makna
sepadan. Oleh karena itu, sinonimi merupakan salah satu piranti kohesi yang mendukung
dalam sebuah kepaduan wacana.
Contoh: Pedekate juga jijik banyak kejijikan yang tersimpan dalam pedekate Yang
paling norak tau ngga apa kalo udah lama telfon-telfonan akan tiba masanya di mana lo akan
telfon-telfonan sama gebetan lo dan lo akan main siapa yang akan nutup telfon duluan!

c. Antonimi merupakan kohesi leksikal yang berupa relasi makna kontras antara konstituen
satu dengan yang lain. Sumarlam (2003:40) menyatakan bahwa antonimi disebut juga
dengan oposisi makna. Oposisi makna ini mencakup konsep yang benar-benar
berlawanan sampai yang hanya kontras makna saja.
Contoh: Kamu terlalu baik buat aku, jadi aku harus jahat sama kamu supaya kamu menerima
aku.

d. Kolokasi adalah asosiasi tertentu dalam menggunakan pilihan kata yang cenderung
digunakan secara berdampingan. Kata-kata yang berkolokasi adalah kata-kata yang
cenderung dipakai dalam suatu domain atau jaringan tertentu.
Contoh: Klik like untuk amin dan komen untuk mendoakannya.

F. Referens dalam Wacana


Referensi atau pengacuan merupakan hubungan antara kata dengan acuannya. Kata-kata yang
berfungsi sebagai pengacu disebut deiksis sedangkan unsur-unsur yang diacunya disebut
antesedan. Referensi dapat bersifat eksoforis (situasional) apabila mengacu ke antesedan
yang ada di luar wacana, dan bersifat endoforis (tekstual) apabila yang diacunya terdapat di

dalam wacana. Referensi endoforis yang berposisi sesudah antesedennya disebut referensi
anaforis, sedangkan yang berposisi sebelum antesedennya disebut referensi kataforis.
Substitusi mengacu ke penggantian kata-kata dengan kata lain. Substitusi hampir
sama dengan referensi. Perbedaan antara keduanya adalah referensi merupakan hubungan
makna sedangkan substitusi merupakan hubungan leksikal atau gramatikal. Selain itu,
substitusi dapat berupa proverba, yaitu kata-kata yang digunakan untuk menunjukan
tindakan, keadaan, hal, atau isi bagian wacana yang sudah disebutkan sebelum atau
sesudahnya juga dapat berupa substitusi klausal. Elipsis adalah sesuatu yang tidak terucapkan
dalam wacana, artinya tidak hadir dalam komunikasi, tetapi dapat dipahami. Jadi, pengertian
tersebut tentunya didapat dari konteks pembicaraan, terutama konteks tekstual. Sebagai
pegangan, dapat dikatakan bahwa pengertian elipsis terjadi bila sesuatu unsur yang secara
struktural seharusnya hadir, tidak ditampilkan. Sehingga terasa ada sesuatu yang tidak
lengkap.

G. Analisis Wacana atas Piranti Kohesinya


Idat mengatakan bahwa Kohesi adalah keserasian hubungan antara unsur yang satu
dan unsur yang lain dalam wacana sehingga terciptalah pengertian yang apik atau koheren
(1994: 46). Lebih lanjut Idat menambahkan bahwa kohesi merujuk pada perpautan bentuk,
sedangkan koherensi pada perpautan makna. Sementara itu Haliday dan Hasan (1992: 26)
dalam Suwandi mengatakanKohesi adalah perangkat sumber kebahasaan yang dimiliki
setiap bahasa sebagai bagian dari metafungsi tekstual untuk mengaitkan satu bagian teks
dengan bagian lainnya (2008: 147). Sementara itu, menurut Gutwinsky (1976: 26), kohesi
adalah hubungan antarkalimat dan antar klausa dalam sebuah teks, baik dalam strata
gramatikal maupun dalam strata leksikal (Suwandi, 2008: 147). Suwandi mengatakan
kebanyakan wacana menunjukkan bentuk lahir yang kohesif dengan pemakaian peranti
kohesi (2008: 147) lebih lanjut penting diperhatikkan adalah bahwa kohesi bentuk lahir
tidak hanya menyatakan kohesi belaka; kohesi yang baik menyiratkan koherensi.
Sementara itu Sumarlam menjelaskan bahwa wacana yang padu adalah wacana yang
apabila dilihat dari segi hubungan bentuk atau struktur lahirnya bersifat kohesif, dan
dilihat dari struktur hubungan makna atau struktur batinnya bersifat koheren (2003: 23).
Sejalan dengan kesimpulan (Idat, 1994: 46) jadi wacana yang kohesif dan koheren
merupakan wacana yang utuh. Keutuhan wacana merupakan factor yang menenukkan
kemampuan bahasa.

Pendapat pakar beberapa pakar tentang kohesi di atas memberikan benang merah
bahwa kohesi sangatlah penting dalam sebuah wacana. Ketersambungan suatu wacana
memunculkan atas dasar piranti kohesi yang bertalian sesuai konteks. Hubungan
antarklausa dengan kalimat dalam sebuah teks memunculkan kepahaman dalam pertalian
struktur gramatikal antar kalimat sehingga membentuk wacana yang koherens.
Terdapat berbagai jenis piranti kohesi. (Haliday dan Hasan, 1976: 5-6) dalam
Suwandi mendeskripsikan piranti kohesi dalam bahasa Inggris, yaitu (1) pengacuan
(reference), (2) penyulihan (substitution), (3) penghilangan (ellipsis), konjungsi
(conjuction), kohesi leksikal (lexical cohesion) (2008: 147). Adapun berbeda piranti
kohesi dalam bahasa Indonesia yang dikemukakan Alwi et al. (1993: 481-486) dalam
Suwandi meliputi (1) hubungan sebab-akibat ; (2) hubungan unsur-unsur yang
mengungkapkan pertentangan, pengutamaan, perkecualiaan, konsesif, dan tujuan; (3)
pengulangan kata atau frasa; (4) kata-kata yang berkorenferensi; dan (5) hubungan leksikal
(hubungan hiponim dan hubungan bagian-keseluruhan) (2008: 147).
Dua pendapat tersebut merupakan piranti kohesi yang digunakan dalam mengetahui
sifat wacana kohesif atau tidak. Dalam kasus analisis wacana bahasa Indonesia sebaiknya
teori yang digunakan yaitu pada Alwi et al karena memang dikatakan piranti tersebut
digunakan untuk menguji kekohesifan wacana dalam bahasa Indonesia. Adapun teori
Haliday dan Hasan digunakan dalam piranti kohesi bahasa Inggris karena dari segi sistem
bahasa Indonesia dan bahasa inggris memang berbeda.
Berikut contoh analisis kohesi dengan menerapkan teori Alwi et al.
JANGAN KENCING DI SINI,
DILARANG KENCING KECUALI ANJING,
MOHON TIDAK BUANG AIR DI SINI.
Dilihat dari piranti kohesinya pada larang kencing disuatu tempat telah mencangkup
lima hal dari pernyataan yang diungkapkan oleh Alwi et al, yakni kalimat imperatif
melarang mengandung suatu sebab akibat apabila tempat tersebut dijadikan untuk buang
air besar maka akan tercium bau pesing akibat bekas air kencing yang mengering. tujuan
agar orang yang membaca tulisan tersebut tidak kecing pada tempat yang tertulis.
Dikuatkan dengan peranti pengulangan kata kencing yang berfungsi untuk menegaskan
serta tempat pelarangan untuk kencing yang diwakilkan dengan kata disini.

H. Analisis Kekoherensian Wacana


Davies (1983: 126) dalam Suwandi mengatakan dalam sebuah paragraf, koherensi
atau keutuhan dapat dicapai karena penulis hanya mengembangkan satu gagasan pokok.
Tiap gagasan pokok diungkapkan diungkapkan oleh kalimat sebuah topik (Topic
Sentence) (2008:149). Sementara itu Yule (2006:226) dalam buku Siupriyadi mengatakan
bahwa koheren adalah hubungan yang diharapkan dan dikenali dalam pengalaman yang
kita pergunakan untuk menghubungkan makna tuturan, bahkan ketika hubungan ini tidak
dibuat secara eksplisit (2011: 174). Kohesi merujuk pada perpautan bentuk, sedangkan
koherensi merujuk pada perpautan makna (Idat, 1994: 46).
Dasar patokan yang membedakan antara kohesi dan koherensi, yakni pada
perpautannya. Kohesi berpaut pada bentuk sedangkan koherensi berpaut pada makna.
Kedua hal tersebut menjadi satu kesatuan dalam sebuah wacana yang baik. Apabila
wacana sudah memuat kedua bentuk tersebut pembaca maupun mitra tutur akan mampu
menangkap maksud dari apa yang tertulis maupun tertutur. Berikut contoh wacana yang
tidak koherens.
Di kamar ini dibentuk sejarah. Rumah atau lokasi historis yang akan dibangun
pertokoan oleh pemerintah yang sekarang. Anak rajin belajar sejarah karena besuk
ulangan sejarah. Dinamika sejarah tidak dapat kita hentikan dan tidak dapat diubah
lagi, lokasi yang teta[ dikunjungi berkali-kali. Sekali terjadi tetap terjadi.
Wacana di atas antara kalimat pertama dan berikutnya tidak ada pertalian sebab
tidak jelas hubungan sejarah. ulangan leksikal sejarah pada wacana di atas dapat berarti
sejarah pada makna generik dan sejarah sebagaimana pelajaran. Unsur upaya sinonim
sejarah dengan historis terjadi pula yang menyangkut makna di bidang makna generik
sejarah. Kalimat-kalimat yang mendukung wacana di atas tidak kohesi dan tidak
menjadikan wacana di atas koherens.

I. Contoh Inferensi
Inferensi adalah proses yang harus dilakukan komunikan untuk memahami makna
secara harfiah tidak terdapat dalam wacana (Sumarlam, 2004: 343). Lebih lanjut atau kata
lain inferensi adalah proses memahami makna tuturan sedemikian rupa sehingga sampai
sampai pada penyampaian maksud tuturan (sumarlam 2003: 50). Inferensi terjadi bila
proses yang harus dilakukan oleh pendengar atau pembaca untuk memahami makna yang
secara harfiah tidak terdapat pada wacana yang diungkapkan oleh pembicara atau penulis
(Idat, 1994: 43). Lebih lanjut pendengar atau pembaca dituntut untuk mampu memahami
informasi (maksud) pembicara atau penulis (idat, 1994: 43). Selanjutnya Sumarlam

menjelaskan dalam Syafii untuk dapat mengambil inferensi dengan baik karena konteks
pemakaian bahasa adalah konteks fisik, konteks epistemis, dan konteks linguistik, konteks
sosial (2003: 50).
Inferensi bagian secara tuturan diartikan lebih holistik. Pemaknaan kalimat tuturan
atau tulisan tidak hanya secara tekstual saja, tetapi secara keseluruhan mencakup maksud
yang diinginkan penutur terhadap mitra tutur. Pendengar dan pembaca dituntut untuk
mampu memahami informasi. Sesuatu yang tidak disampaikan kepada pendengar atau
pembaca, tetapi keduanya harus memahami apa yang tidak disampaikan secara langsung.
Penafsiran makna dapat ditopang oleh tuturan yang berurutan dengan menggunakan halhal yang bersifat umum. Berikut contohnya.
Bu, besok sahabatku berulang tahun. Saya diundang makan malam. Tapi saya tak
punya baju baru , kadonya lagi belum ada, kata anak.
Pernyataan seorang anak pada wacana di atas jelas tidak menyangkut masalah permintaannya
dibelikan baju baru untuk pesta ulang tahun sahabatnya atau meminta dibelikan kado untuk
kawannya yang berulang tahun, tetapi sebagai mitra tutur seorang ibu harus mengambil
inferensi, apa yang dimaksud anak itu.

BAB III
PENUTUP
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa jenis wacana dapat dikaji dari segi
eksistensinya (realitasnya), media komunikasi, cara pemaparan, dan jenis pemakaian.
Menurut realitasnya, wacana merupakan verbal dan nonverbal sebagai media komunikasi
berwujud tuturan lisan dan tulis, sedangkan dari segi pemaparan, kita dapat memperoleh jenis
wacana yang disebut naratif, deskriptif, prosedural, ekspositori dan hortatori.
Koherensi merupakan bagian dari suatu wacana, sebagai organisasi semantic, wadah
gagasan yang disusun dalam urutan yang logis untuk mencapai maksud dan tuturan yang
tepat. Sedangkan kohesi dalam wacana diartikan sebagai kepaduan bentuk yang secara
struktural membentuk ikatan sintaktikal dan berkenaan dengan hubungan bentuk antara
bagian-bagian dalam suatu wacana.
Referensi atau pengacuan merupakan hubungan antara kata dengan acuannya. Katakata yang berfungsi sebagai pengacu disebut deiksis sedangkan unsur-unsur yang diacunya
disebut antesedan. Sedangkan inferensi adalah proses memahami makna tuturan sedemikian
rupa sehingga sampai sampai pada penyampaian maksud tuturan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rani, Bustanul Arifin, Martutik. 2006. Analisis Wacana Sebuah Kajian Bahasa dalam
Pemakaian. Malang: Bayumedia Publishing.
Anjani, Esa Agita. 2013. Kohesi dan Koherensi Wacana Stand Up Comedy Prancis dan
Indonesia. Kawistara. Vol. 3 (3), h 227-334.
Halliday, M., & Hasan, R. 1976. Cohesion In English. London: Longman.
Halliday, M.A.K. dan Ruqaiya Hasan. 1992. Bahasa, Konteks, dan Teks : Aspek-Aspek
Bahasa dalam Pandangan Semantik. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Husain Junus dan Aripin Banasaru. 1996. Bahasa Indonesia: Tinjauan Sejarahnya dan
Pemakaian Kalimat yang Baik dan Benar. Surabaya: Usaha Nasional.
Idat, T. F. Dj. (1994). Wacana: Pemahaman dan Hubungan antarunsur. Bandung: Eresco.
Jaffar H Assegaf. 1985. Jurnalistik Masa Kini. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Mulyana. 2005. Kajian Wacana Teori, Metode, dan Aplikasi Prinsip-Prinsip Analisis
Wacana. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Onong Uchjana Effendy. 1990. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Rhenald Kasali. 1995. Manajemen Periklanan, Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Jakarta;
Pusaka Utama Grafiti.
Setiawan, Budhi.2010. Analisis Wacana dan Pembelajaran Bahasa. Slatiga: Widya Sari
Press.
Sumarlam. 2009. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta: Pustaka Karya.
Supriyadi, S. (2011). Wacana Karikatur Indonesia Perspektif Kajian Pragmatik. Surakarta:
UNS PRESS.
Suwandi. (2008). Serbalinguistik: Mengupas pelbagai Praktik Berbahasa. Surakarta: UNS
PRESS.
Widdowson, H.G.2007. Discourse Analysis. New York: Oxford University Press.
Yayat Sudaryat. 2008. Makna dalam Wacana. Bandung: Yrama Widya.