Anda di halaman 1dari 21

Makalah

MIKROBIOLOGI VETERINER II
Newcastle Disease Virus

\\Kelompok 1

Oleh :
Nama

: Lola Adriana N.

NIM

: O11114003

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2016

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat
dan bimbingan-Nya, saat ini kami bisa menyelesaikan makalah
Mikrobiologi Veteriner yang berjudul Newcastle Disease Virus. Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Mikrobiologi Veteriner II.
Makalah ini berisi data dan informasi dengan menggunakan
beberapa sumber yang membahas tentang Newcastle Disease Virus. Tak
lupa pula kami menyampaikan

rasa terima kasih kepada dosen mata

kuliah Mikrobiologi Veteriner II yang telah membimbing kami sehingga


dapat menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini bisa memberikan
manfaat bagi pembaca. Atas perhatian dan kesempatan yang diberikan untuk
membuat makalah ini kami ucapkan terima kasih.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Makassar, 25 April 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................


i
DAFTAR ISI

................................................................................................

ii
BAB I

PENDAHULUAN................................................................................

1
1.1 Latar Belakang....................................................................
1
1.2 Rumusan masalah...............................................................
2
1.3 Tujuan.................................................................................
2
1.4 Manfaat...........................................................................................
2
BAB II

PEMBAHASAN.................................................................................

3
2.1 Taksonomi virus Newcastle Disease..............................................
3
2.2 Etiologi dari virus Newcastle Disease...........................................
4
2.3 Replikasi dari virus Newcastle Disease.........................................
5
2.4 Patogenitas dari virus Newcastle Disease......................................
7
2.5 Gejala klinis dari Newcastle Disease.............................................
11

BAB III PENUTUP............................................................................................


14
3.1 Kesimpulan.........................................................................
14
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................
15
LITERATUR

...........................................16

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam dunia veteriner, dewasa ini banyak penyakit yang menyerang
sistem pernapasan, sistem saraf, dan sistem pencernaan pada hewan besar,
tidak terkecuali pada unggas. Salah satu diantaranya adalah Newcastle
Disease Virus yang menginfeksi organ dari sistem pernapasan, selain itu juga
menyerang sistem pencernaan, dan syaraf disertai mortalitas yang sangat
tinggi.
Newcastle Disease Virus adalah penyakit menular akut yang menyerang
ayam dan jenis unggas lainya. Penyakit ini ditemukan pertama kali oleh
Kreneveld di Indonesia pada tahun 1926, karena menyerupai pes ayam,
sehingga disebut Pseudovogelpest, Doyle pada tahun 1927 memberi nama
Newcastle Disease berasal dari nama suatu daerah di Inggris Newcastle on
Tyne yang terjangkit penyakit serupa.
Penyakit ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi dalam industri
unggas di seluruh dunia mulai dari penurunan produksi telur, penurunan
bobot karkas, kemudian berujung pada peninggian angka morbiditas dan
mortalitas pada ayam muda produktif terutama dengan komplikasi sekunder
lainnya seperti infeksi bakteri.
Berdasarkan masalah diatas, dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut
mengenai Newcastle Disease Virus. Di dalam pembahasannya, selain
replikasi, pathogenesis, dan resistensi juga disertai dengan informasiinformasi tambahan yang terkait.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan virus Newcastle Disease?
2. Bagaimana etiologi dari virus Newcastle Disease?
3. Bagaimana replikasi dari virus Newcastle Disease?

4. Bagaimana patogenitas dari virus Newcastle Disease?


5. Apa gejala klinis dari Newcastle Disease?
1.3 Tujuan
1. Untuk mnegetahui apa yang dimaksud virus Newcastle Disease
2. Untuk mengetahui etiologi dari virus Newcastle Disease
3. Untuk mengetahui replikasi dari virus Newcastle Disease
4. Untuk mengetahui patogenitas dari virus Newcastle Disease
5. Untuk mengetahui gejala klinis dari Newcastle Disease
1.4 Manfaat
1. Bagi dosen, sebagai tolak ukur atau penilaian terhadap mahasiswa dalam
prose belajar.
2. Bagi penulis, sebagai sarana yang bermanfaat untuk memperoleh
pengetahuan

tambahan

dalam melakukan

penulisan

dan

perbendaharaan pengetahuan tentang penyakit yang disebabkan oleh


mikroorganisme khususnya virus Newcastle Disease.

3.

BAB II
PEMBAHASAN
5.
2.1 Newcastle disease (ND)
7.
Penyakit Newcastle disease (ND) disebabkan oleh virus Avian
4.

6.

paramixovirus-1,

termasuk

dalam

genus

Avulavirus

dan

famili

Paramyxoviridae. Secara taksonomi, Virus ND dapat diklasifikasikan sebagai


berikut (Aldous et al., 2003):
8. Kingdom
: Animalia
9. Filum : Chordata
10. Ordo : Mononegavirales
11. Family : Paramyxoviridae
12. Genus : Avulavirus
13. Species
: Newcastle disease virus
14. Newcastle Disease (ND) merupakan salah satu penyakit infeksius
yang penting dalam industri perunggasan. Penyakit ND menyebabkan
gangguan yang sangat berat pada sistem pernafasan, syaraf dan pencernaan
pada ayam. Sejak tahun 1926, ND dilaporkan sebagai penyakit endemis yang
terjadi di beberapa negara di dunia. Penyakit ini menyebabkan kerugian yang
sangat signifikan terhadap perekonomian perunggasan. Hal ini dikarenakan
angka morbiditas dan angka mortalitas yang tinggi sampai 100% dari
peternakan unggas yang terinfeksi virus ND strain virulen sehingga ekspor
produk unggas terhambat. Peternakan unggas yang terserang virus ND strain
avirulent juga berpengaruh terhadap penurunan produksi unggas (Aldous et
al., 2003; Leuck et al., 2004; Ojok dan Brown, 1996).
15. 2.2 Etiologi
16. Virus ND atau Avian paramyxovirus-1 (AMP-1) diklasifikasikan
dalam golongan genus Avulavirus dan famili Paramyxoviridae. Virus ini
berbentuk pleomorfik, sebagian besar berbentuk bulat kasar dengan diameter
100 500 nm tetapi juga ditemukan dalam bentuk filamen dengan diameter

100 nm. Panjang virus paramyxovirus terlihat bervariasi (Yussof dan Tan,
2001). Genom virus ND bersifat single-stranded (ss), berpolaritas RNA
negatif dengan panjang genom 15,186 kb nukleotida dan tidak bersegmen
(Hewajuli, 2011).
17.Genom virus ini mempunyai 6 protein utama yang menyusunnya
yaitu Nucleocapsid protein (N), Phosphoprotein (P), Matrix protein (M),
Fusion protein (F), Hemaglutinin-neuraminidase protein (HN) dan Large
polymerase protein (L). Protein N, P, HN dan F terletak di bagian luar
envelope sedangkan protein M terdapat di lapisan dalam virion. Proteinprotein ini mempunyai peran masing-masing. Selama proses transkripsi gen
P, terdapat 2 protein non-structural yang dihasilkan yaitu V dan W (Peeters et
al., 2004).
18.Virus ND terdiri dari amplop, kapsid, dan asam nukleat. Pada
amplop terdapat protein HN, protein F, dan lipid membran serta mengandung
nukleokapsid heliks simetris berbentuk seperti paku yang memiliki panjang 1
m dan diameter 18 nm. Pada kapsid terdapat protein M dan NP (Aldous dan
Alexander, 2001). Protein F berperan memicu fusi virus dengan membran sel
inang sementara protein HN berperan dalam perlekatan dengan sel inang,
menjaga kestabilan virus, dapat mengikat molekul permukaan sel inang yang
mengandung residu asam sialat baik glikolipid atau glikoprotein. Bukti dari
perlekatan tersebut terlihat dari terbentuknya butiran berpasir pada uji
hemaglutinasi (OIE, 2008). Protein M adalah protein paling melimpah yang
berperan dalam membatu perakitan virus dengan bahan glikoprotein dan
ribonukleoprotein serta berperan dalam pengendali sintesis RNA namun
protein M akan terlepas setelah memasuki sitoplasma sel inang. Dan protein P

dan protein L yang membungkus genom RNA berfungsi untuk transkripsi


genom RNA menjadi mRNA (Hewajuli, 2011).
19.
20. 2.3 Replikasi (Siklus Hidup Dan Mekanisme Infeksi Virus Newcastle
Disease)
21. Protein HN berperan dalam tahap penempelan virus ND pada
reseptor sel inang atau induk semang yang mengandung sialic acid Molekul
sialic acid ini adalah glycoprotein dan glycolipid. Penempelan virus
dilakukan dengan penyatuan virus dan membran sel yang diperantarai oleh
protein F. Virus RNA kemudian dilepaskan dalam sitoplasma dan terjadi
replikasi (Nagay, 1993).
22. Envelope virus masuk ke dalam sel melalui 2 jalan utama yaitu
pertama, penyatuan secara langsung antara envelope virus dengan membran
plasma dan kedua, diperantarai oleh reseptor endositosis. Penetrasi virus
melalui reseptor endositosis tergantung pada kondisi pHnya. Pada
paramyxoviruses, proses penyatuan membran virus dengan membran plasma
inang atau induk semang tidak tergantung pH. Walaupun demikian, hasil
penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penyatuan virus ND dengan sel
mampu meningkatkan pH. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa penetrasi
virus ND pada sel inang melalui reseptor endositosis juga dipengaruhi oleh
kondisi pH (Alexander, 2003).
23. Kepekaan sel terhadap virus ND yang tidak virulen (lentogenik dan
mesogenik) dipengaruhi oleh beberapa faktor. Sel tersebut harus mempunyai
reseptor yang cocok sehingga virus dapat melakukan penempelan dan masuk
ke dalam sel. Disamping itu, sel tersebut juga harus memiliki tripsin yang
menyerupai protease dimana enzim ini berperan dalam pemecahan protein F 0
menjadi F1 dan F2. Penyebaran reseptor sel pada ayam yang peka terhadap

virus ND bentuk tidak virulen bersifat terbatas dan hanya ditemukan pada
saluran pencernaan dan saluran pernafasan bagian atas (Alexander, 2003).
24. Sedangkan virus bentuk virulen (viscerotropic velogenic,
neurotropic velogenic, dan asymptomatic enteric) tidak selalu memerlukan
enzim protease dan replikasi virus biasanya terjadi di sebagian besar jaringan
induk semang. Replikasi virus yang terjadi di limfosit menghasilkan suatu
respon imun dan produksi antigen virus yang cukup dibutuhkan untuk
meningkatkan efektivitas sistem imun. Di dalam saluran pencernaan terdapat
faktor-faktor nonspesifik yang mempengaruhi replikasi virus ND. Enzim
protease dan pH yang bervariasi mempunyai pengaruh dalam proses
penempelan virus pada reseptor sel. Dimana keberadaan tripsin pada
beberapa bagian saluran pencernaan dapat mengaktifkan virus ND bentuk
tidak virulen setelah virus tersebut dilepaskan dari sel yang kekurangan enzim
protease (Alexander, 2003).
25. Penelitian untuk menentukan tempat awal replikasi virus ND
setelah diinfeksi virus V4 secara oral yang dilakukan oleh Bouzari dan
Spardbrow (2006) menunjukkan hasil bahwa virus dapat diisolasi dari
esophagus, tembolok dan trakea setelah 24 jam pascainokulasi virus V4
melalui mulut pada ayam umur 3 minggu. Tetapi jumlah virus yang
ditemukan pada organ tersebut lebih sedikit jika dibandingkan dengan organ
proventrikulus. Virus V4 juga tidak dapat di isolasi dari organ pencernaan lain
dan darah. Meskipun demikian, virus dapat dideteksi pada jejunum, ileum dan
caecum pada 6 hari setelah diinfeksi virus V4 melalui tembolok, virus juga
dapat ditemukan dalam darah pada 4 hari pascainfeksi. Antigen virus ND
dideteksi pada sebagian besar sel epitel saluran pencernaan serta limfosit dan

makrofag ditemukan pada lamina propia beberapa jaringan. Hasil penelitian


di atas memperlihatkan bahwa tempat awal replikasi virus ND terutama
terjadi di saluran pencernaan bagian atas yaitu esophagus, tembolok dan
proventrikulus apabila virus ND diinfeksikan melalui mulut, sedangkan
replikasi virus ND pada saluran pencernaan bagian bawah yaitu duodenum,
jejunum, ileum dan caecum kemungkinan terjadi sebagai akibat viremia
(Alexander, 2003).

26.
27. 2.4 Patogenitas
28. Patogenitas dari berbagai galur virus ND sangat bervariasi menurut
hospesnya. Jenis unggas yang sangat peka terhadap ND adalah ayam. Itik dan
kalkun dapat terinfeksi, tetapi hanya menunjukkan gejala klinis yang ringan
atau tidak ada gejala tertentu, walaupun galur virus ND yang sama bersifat
fatal untuk ayam. Pada ayam, patogenitas dari virus ND terutama dipengaruhi
oleh galur virus ND, rute infeksi, umur ayam, dan kondisi lingkungan. Pada
umumnya, ayam muda lebih sensitive dibandingkan

dengan ayam tua;

demikian juga infeksi ND lebih bersifat akut pada ayam yang muda. Pada
kondisi lapangan, jika ayam muda terserang virus ND yang ganas, maka
dapat terjadi kematian mendadak tapi disertai oleh gejala klinik yang lebih
tua, penyakit t=yang timbul akan bersifat kurang akut dan biasanya disertai
oleh gejala klinik yang tersifat untuk ND (Tabbu, 2000).
29.Jenis ayam atau komposisi genetiknya sedikit sekali berpengaruh
pada kepekaan terhadap ND. Rute infeksi alami, yang dapat terjadi melalui
hidung, mulut, dan mata biasanya akan menyebabkan gejala pernafasan yang
merupakan manifestasi alami ND. Sebaliknya infeksi buatan secara suntikan

intramuscular, intravenous, dan intraserebral akan mendukung timbulnya ND


bentuk saraf (Tabbu, 2000).
30.
2.4.1 Virulensi virus
31.Virus ND mampu menginfeksi lebih dari 200 spesies unggas tetapi
tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkan oleh infeksi virus ND
bervariasi, tergantung dari induk semang (jenis unggas) dan strain virus ND.
Strain virus ND yang kurang patogen juga dapat menyebabkan penyakit yang
parah pada unggas apabila diikuti dengan infeksi sekunder oleh organisme
lain dan kondisi lingkungan yang buruk (OIE, 2008).
32. Berdasarkan virulensi (keganasan) virus dan penyebaran penyakit,
virus ND dibagi menjadi 4 galur meliputi galur velogenik, galur mesogenik,
dan galur lentogenik, dan galur asymptomatik enteric. Galur velogenik
morbiditas dan mortalitasnya mencapai 100%, galur mesogenik morbiditas
dan mortalitasnya 5% 40%, serta galur lentogenik lebih ringan dari galur
mesogenik. Viscerotropic velogenic merupakan suatu bentuk ND yang sangat
patogen dimana lesi pendarahan pada sistem pencernaan sering terlihat pada
bentuk ini. Neurotropic velogenic adalah bentuk ND yang menyebabkan
mortalitas yang tinggi dan biasanya diikuti dengan gangguan sistem respirasi
dan syaraf. Newcatle disease bentuk mesogenic menunjukkan gejala klinis
gangguan sistem pernafasan tetapi gangguan sistem syaraf tidak selalu terlihat
dan mortalitas yang rendah, sedangkan asymptomatic enteric merupakan
suatu bentuk infeksi subklinik pada sistem pencernaan (Hewajuli, 2011).
33. Virus ND strain avirulent (lentogenik dan mesogenik) digunakan
sebagai vaksin hidup untuk meningkatkan pengendalian penyakit ND pada
ayam tetapi pemilihan jenis vaksin tergantung pada kondisi penyakitnya.
Vaksin inaktif juga digunakan dalam pengendalian penyakit ND (Alders dan

Spradbrow, 2001; OIE, 2008). Patogenitas yang ditimbulkan virus ND dapat


ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya virulensi virus ND dan inang.
Makalah ini mengulas faktor-faktor yang berperan dalam virulensi virus ND
dalam menimbulkan patogenitas pada ayam (Hewajuli, 2011).
34.
2.4.2 Sifat Alamia Agen :
35. Virus ND peka terhadap panas, cepat mati pada suhu diatas 50 oC,
tetapi tahan 1 minggu pada suhu 37 oC, 2 bulan pada suhu 22 oC-28 oC, dan
berbulan-bulan pada karkas beku. Virus tahan terhadap perubahan pH 2- pH
10, tetapi peka terhadap sinar ultraviolet dan isnar matahari. Bahan yang
bersifat virusidal natar lain formalin (1-2%), phenol (1:20) dan kalium
permanganate (KMnO4) dalam larutan 1;5000 atau dengan fumigasi, alcohol
70%, kresol 3%. Virus ND dapat tumbuh pada telur ayam berembrio (TAB)
umur 9-12 hari pada cairan alantois. Selain itu virus juga bisa tumbuh pada
kultur sel fibroblast dan sel ginjal embrio ayam, serta sel baby hamster kidney
(BHK) (Hewajuli, 2011).
36.
2.4.3 Cara Penularan
37. Penularan Virus Newcastle Disease (ND) dapat terjadi secara
langsung dari ayam sakit ke ayam yang peka, tetapi dapat juga terjadi secara
tidak langsung. Cara penularan dari ayam sakit ke ayam peka tergantung pada
tempat bereplikasi virus tersebut. Ayam yang menunjukkan gejala gangguan
pernafasan akan menyebabkan adanya udara bercampur titik air yang
mengandung virus ND yang berasal dari mukosa ayam sakit, dalam hal ini
penularan terjadi secara inhalasi. Virus ND yang terutama bereplikasi dalam
saluran pencernaan akan menyebabkan adanya feses yang tercemar oleh virus
tersebut. Dalam hal ini penularan terjadi melalui oral akibat ingesti feses yang
mangandung virus ND. Pada infeksi alami leleran tubuh yang mengandung

virus ND akan dibebaskan dari ayam sakit sebagai akibat replikasi virus
dalam saluran pencernaan. Partikel yang mengandung virus ND dapat dihirup
atau ditimbun pada membrana mukosa (Anonim, 2003).
38. Penularan virus ND dari satu tempat ke tempat lain terjadi melalui
alat transportasi, pekerja kandang, liter, dan peralatan kandang, burung dan
hewan lain. Debu kandang, angin, serangga, makanan dan karung makanan
yang tercemar, dapat pula melalui telur terinfeksi yang terpecah dalam
inkubator dan mengkontaminasi kerabang telur lain (Hewajuli, 2011).
39.Penyebaran virus ND oleh angin bisa mencapai radius 5 km.
Burung-burung pengganggu, ayam kampung dan burung peliharaan lain
merupakan reserpoir ND. Penularan ND terutama melalui udara. Melalui
batuk, virus mudah terlepas dari saluran pernafasan penderita ke udara dan
mencemari pakan, air minum, sepatu, pakaian dan alat-alat sekitarnya. Virus
dengan cepat menyebar dari ayam ke ayam lain, dari satu kandang ke
kandang lain. Sekresi, ekresi dan bangkai penderita merupakan sumber
penularan penting bagi ND. Virus yang tercampur lendir atau dalam feses
dan urin mampu bertahan dua bulan, bahkan dalam keadaan kering tahan
lebih lama lagi (Ojok, L. And C. Brown. 1996).
40.
41. 2.5 Gejala Klinis
42.
Tergantung pada virulensi virus yang menulari, gejala klinis
yang ditimbulkan juga bermacam-macam, mulai dari asymptromatis,
gejala pernafasan ringan, disertai dengan gangguan syaraf, atau kombinasi
gangguan respirasi, syaraf, dan digesti (Anonim, 2006).
43.
Berdasarkan strain penyebab, ND dapat dibedakan dalam
beberapa bentuk penyakit, yakni (Anonim, 2006):

10

a. Bentuk penyakit Doyle


44. Bentuk penyakit ini pertama kali dilaporkan oleh Doyle tahun
1927, sebagai bentuk penyakit yang bersifat akut dan fatal pada semua
umur ayam. bentuk penyakit ini merupakan manifestasi dari strain
velogenik viscerotropik ND (VVND). Penyakit ini ditandai dengan
hilangnya nafsu makan, diare yang kadang-kadang disertai darah, lesu,
sesak nafas, megap-megap, ngorok, bersin, batuk, paralysis partialis atau
komplit dan sekali-kali tortikolis. Produksi telur turun atau terhenti sama
sekali. Warna balung dan pial cyanosis.
b. Bentuk penyakit dari Beach
45. Bentuk penyakit ini dilaporkan oleh Beach pada tahun 1942 dan
1946, sebagai penyakit akut yang bersifat fatal pada ayam semua umur.
Gejala respirasi dan syaraf lebih menonjol daripada bentuk velogenik
viscerotropik. Gejala pernafasan seperti pada bentuk pertama sesang
gejala syaraf seperti kelumpuhan dan torticolis lebih banyak terjadi.
Produksi telur turun, sedangkan mortalitas 60-80%. Cyanosis pada pual
dan balung juga terlihat dengan jelas. Bentuk penyakit ini merupakan
manifestasi dari strain velogenik-neurotropik (VNND), yang disebabkan
oleh strain velogenik tipe Amerika.
c. Bentuk Penyakit dari Beaudatte
46. Bentuk penyakit ini pertama kali oleh Beaudette dan beach pada
tahun 1946 sebagai penyakitPernafasan akut dan kadang menyerang
sistem pernafasan akut dan kadang menyerang sistem saraf pada ayam
umur muda. Gejala seperti batuk, sesak nafas, megap-megap dan
penurunan produksi telur adalah gejala yang menonjol pada ayam dewasa.
Angka kematian mencapai 10% pada ayam dewasa jarang terjadi. Pada
ketiga bentuk diatas, telur ayam yang dihasilkan akan mengalami kelainan

11

bentuk dan daya tetasnya sangat rendah. Bentuk penyakit ini disebabkan
oleh strain mesogenik.
d. Bentuk Penyakit dari Hitchner
47. Bentuk ini dilaporkan oleh Hitchner dan Johson 1948 dan 1950,
yang merupakan manifestasi dan strain lentogenik. Kelihatan gejala
respirasi yang ringan dan penurunan produksi telur. Gejala syaraf
biasanya tidak ada. Tidak menimbulkan kematian pada ayam dewasa
maupun anak ayam.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67.
68.
69.
70.
71.
72.

BAB III
73. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
74. Newcastle disease (ND) merupakan salah satu penyakit
infeksius yang penting dalam industri perunggasan. ND menyebabkan angka
morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada unggas serta kerugian yang sangat

12

signifikan terhadap perekonomian perunggasan. Penyakit ND menyebabkan


gangguan yang sangat berat pada sistem pernafasan, syaraf dan pencernaan
pada ayam. Penyakit ini disebabkan oleh virus Avian paramixovirus-1,
termasuk dalam genus Avulavirus dan famili Paramyxoviridae. Virus ini
mempunyai 6 protein utama serta 2 protein non-structural yang menyusun
genomnya. Proteinprotein tersebut adalah Nucleocapsid protein (N),
Phosphoprotein

(P),

Matrix

protein

(M),

Fusion

protein

(F),

Hemagglutininneuraminidase protein (HN) dan Large polymerase protein (L)


serta 2 protein non-structural yaitu protein V dan W dimana 2 protein terakhir
tersebut dihasilkan selama proses transkripsi gen P pada proses editing.
Protein-protein ini mempunyai peran masing-masing dalam menentukan
virulensi virus ND. Virus ND mampu menginfeksi lebih dari 200 spesies
unggas, tetapi tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkan oleh infeksi virus
ND bervariasi, tergantung dari inang (jenis unggas) dan strain virus ND.
Ayam mengalami tingkat patogenitas yang paling parah dibandingkan dengan
unggas lainnya. Pada umumnya, sistem kekebalan pada ayam dalam melawan
infeksi virus ND adalah sama dengan sistem kekebalan yang terdapat pada
spesies lainnya. Respon kekebalan seluler dan kekebalan humoral berperan
penting dalam melawan infeksi virus ND
75. DAFTAR PUSTAKA
76.
77.
Anonim. 2006. Newcastle Disease. Office International des Epizooties.
World organization for animal health. 161-169
Aldous, E.W., J.K. Myno, J. Bank And D.J. Alexander. 2003. A Molecular

78.

Epidemiological Study Of Avian Paramyxovirus Tipe 1 (Newcastle


Disease Virus) Isolates By Phylogenetic Analysis Of A Partial Nucleotide
Sequence Of The Fusion Protein Gene. Avianpathol. 32: 239 256.

13

79.

Alexander, D.J. 2003. New Castle Disease. In: Disease Of Poultry 11th

80.

Ed. Saif, Y.M. (Ed.). Iowa State University Press. Amess. Pp. 64 87.
Hewajuli, Dyah Ayu dan N.L.P.I. Dharmayanti. 2011. Patogenitas Virus

81.

Newcastle Disease Pada Ayam. Bogor : Balai Besar Penelitian Veteriner


Leuck, D., Haley, M. And D.U.S. Harvey. 2004. Livestock And Poultry
Trade

Influenced

By

Animal

Disease

And

Trade

Retrictions.

82.

Http://Www.Ers.Usda. Gov/Publica Tion/Ldp/Jul04/Ldpmi2001/


Nagay, Y. 1993. Protease-Dependent Virus Tropism Andpathogenicity.

83.

Trends Microbiol. 1: 81 87.


Office International Des Epizooties (Oie). 2008. Newcastle Disease.

84.

Manual Of Standards For Diagnostic Test And Vaccines. Page. 576 589.
Ojok, L. And C. Brown. 1996. An Immunohistochemical Study Of The
Pathogenesis Of Virulent Viscerotropic Newcastel Disease In Chickens. J.
Comp. Pathol. 115: 221 227
Peeters, B., P. Verbruggen, F. Nellisen And O. De Leeuw. 2004. The P

85.

Gene Of The Newcastle Disease Virus Does Not Encode An Accessory X


Protein. J. Gen. Virol. 5: 2375 2378.
Tabbu, Charles Rangga. 2000. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya.

86.

Kanisius : Yogyakarta.
87.
88.
89.
90.
91.
92. LITERATUR
93.

14

94.

95. Gambar 1. Morfologi virus Newcastle Disease (kiri) (Sumber:


viralzone . expasy . org, 2010) dan penampakan virus Newcastle
Disease melalui mikroskop elektron (kanan) (Sumber :
www.stanford.edu/group/virus, 1999)

15

96.

97.

Gambar 3. Beberapa gejala klinis pada ayam. a) Tortikolis, b)

Pembengkakan dan hemoragi pada mata, c) Pembengkakan pada kelopak


mata (Sumber: http://www. fao.org/docrep/003/ t0756e/T0756E08.htm,
http://farmingpak.blogspot.com/201/03 /rani-khait-new-castle-diseaseoutbreak.html)
98.

99.

Gambar 4. Patologi anatomi pada ayam yang terinfeksi virus ND.

a) Pendarahan pada sekal tonsil, b) Ptechiae pada proventrikulus, c) Nekrosa


pada usus (Sumber : http://
www.thepoultrysite.com/publications/6/diseases-of-poultry/199/newcastledisease)

16

100.

17