Anda di halaman 1dari 12

INOKULASI VIRUS PADA TELUR AYAM BEREMBRIO

Oleh :
Nama
NIM
Kelompok
Rombongan
Asisten

: Dini Darmawati
: B1J014058
:4
: V
: Leader Alfason

LAPORAN PRAKTIKUM VIROLOGI

KEMENTERIANRISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016
I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Newcastle Disease (ND) atau tetelo merupakan penyakit yang disebabkan oleh
Newcastle Disease Virus dari golongan Paramyxovirus. Virus ini biasanya berbentuk
bola, meski tidak selalu (pleomorfik) dengan diameter 100 300 nm. NDV memiliki
genom berupa rantai tunggal RNA (ssRNA-). Virus ini menyerang alat pernapasan,
susunan jaringan saraf dan sistem reproduksi unggas. Virus ini menyebar dengan
cepat, menular pada banyak spesies unggas yang bersifat akut, epidemik dan sangat
patogen. NDV dibagi menjadi dua tipe yakni tipe Amerika dan Asia. Pembagian ini
didasarkan pada tingkat keganasan virus dalam menyerang. Tipe Asia lebih ganas
dan pada umumnya terjadi pada musim hujan atau musin peralihan (Akin, 2006).
NDV dapat mengaglutinasi eritrosit ayam, marmut dan eritrosit manusia.
Hemaglutinasi terjadi karena NDV mempunyai suatu protein yang terdapat pada
selubung virus yaitu hematglutinin. Mekanisme terbentuknya hemaglutinasi
disebabkan karena adanya ikatan antar hemaglutinin NDV dengan reseptor sel, yaitu
mukoprotein yang terdapat pada permukaan eritrosit (Wibowo dan Amanu, 2010).
Menurut Fenner (1995), penularan virus ini cepat dan kematian yang ditimbulkan
sangat tinggi. Pengobatan untuk penyakit ini belum ditemukan, namun dapat dicegah
dengan vaksin (Fenner, 1995).
Newcastle Disease (ND) merupakan penyakit endemik di Indonesia dan
ditemukan di berbagai daerah. Penyakit ND pertama kali ditemukan pada tahun 1926
di daerah Jakarta oleh Kraneveld. Sejak saat itu, kejadian ND dilaporkan terjadi di
berbagai negara di dunia. Hampir semua jenis unggas rentan terhadap infeksi oleh
virus NDV dengan tingkat keparahan penyakit yang berbeda-beda (Saepulloh dan
Darminto, 2005).

B. Tujuan
Tujuan praktikum inokulasi virus pada tellur ayam berembrio adalah untuk
memberikan pemahaman tentang macam-macam inokulasi virus, mengetahui
bagaimana cara menginokulasikan virus pada telur ayam berembrio, dan mengetahui
ciri-ciri embrio ayam yang terinfeksi virus New Castle Disease (ND).
II.

MATERI DAN METODE

A. Materi
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu masker, sarung tangan, jarum,
kapas, spuit injeksi, alat senter, cawan petri, pembakar spiritus, pensil dan inkubator.
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu telur ayam berembrio umur
9-12 hari, alkohol 70%, lilin, dan suspensi virus Newcastle Disease (ND).
B. Metode
1. Alat dan bahan disiapkan.
2. Telur ayam berembrio diteropong dengan menggunakan senter atau alat
peneropong lainnya.
3. Batas kantung udara dengan letak kepala embrio ditentukan dan diberi tanda.
4. Alkohol 70% dioleskan, kemudian suspensi virus diinokulasikan ke dalam ruang
alantois hingga melewati batas kantung udara dengan cara memasukkan jarum
inci dengan sudut 45o dan diinjeksikan 0,1 cc, 0,3 cc dan 0,5 cc virus yang akan
diinokulasikan.
5. Lubang tempat injeksi ditutup kembali dengan lilin.
6. Telur ayam berembrio dinkubasi dengan suhu 38-39C selama 7 hari.
7. Telur ayam berembrio dipecahkan dan diletakkan pada cawan petri kemudian
dibandingkan telur yang diinokulasikan virus dengan telur yang tidak
diinokulasikan virus.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Tabel 1. Hasil Inokulasi Virus pada Telur Ayam Berembrio
Kelompok

Volume

Lesi pada

Lesi pada Otot

Perubahan Warna

1
2
3
4
5
6
7

Virus
0,1 cc
0,3 cc
0,5 cc
0,1 cc
0,3 cc
0,5 cc
0,1 cc

Embrio
+
+
+
+
+

dan Bulu
+
+
+
+
+
+
+

Hijau pada Kaki


+
+
+
+
+
+

Gambar 1. Hasil inkubasi telur ayam


berembrio tanpa inokulasi virus.

Gambar 2. Hasil inkubasi telur ayam


berembrio yang telah diinokulasikan
dengan 0,1 cc NDV.

B. Pembahasan
Berdasarkan pengamatan embrio ayam yang telah diinkubasi selama tujuh
hari, didapatkan hasil bahwa hampir semua kelompok dengan masing-masing
konsetrasi volume virus menunjukkan gejala pada embrio ayam. Semua kelompok
menghasilkan embrio ayam dengan lesi pada otot dan bulu. Hampir semua embrio
ayam pada masing-masing kelompok mengalami perubahan warna pada kaki ayam,
kecuali embrio ayam kelompok 3 tidak mengalami perubahan warna. Selain itu,
hampir semua kelompok memiliki embrio dengan gejala lesi pada embrio kecuali
kelompok 2 dan 3. Hasil yang didapat sesuai dengan pernyataan Shane (1998), bukti
adanya infkesi virus pada embrio ayam ditunjukkan dengan kematian embrio,
pembentukan lesi pada CAM, lesi pada embrio, perkembangan otot dan buku yang
abnormal, abnormalitas pada organ visceral dan perubahan warna kehijauan pada
kaki. Newcastle Disease Virus (NDV).
Menurut Feller (1969), apabila virus berada pada khorioalantois maka akan
mengalami tiga tahap perkembangan. Tahap 1 ditandai dengan dimulainya hipertrofi,
hiperplasia sel dan kehadiran dari sedikit badan inklusi sitoplasma yang biasanya
ditemukan dalam sel. Tahap 2, juxtanuclear agregat nukleokapsid-glikogen
munculdan ada peningkatan jumlah mikrovili. Sedangkan, Tahap 3 ditandai dengan
peningkatan kepadatan sitoplasma, perakitan virus dan pelepasan.
NDV memiliki ukuran 100-250 nm, materi genetik berupa Ribonucleic
Acid (RNA) yang dilengkapi protein dan lemak. Serogroup Paramyxovirus-1 dengan
prototype Newcastle Disease Virus (NDV) adalah penyebab penyakit tetelo pada
ayam yang utama. Virus prototype ini mempunyai sifat hayati dapat menggumpalkan
(haemaglutination) sel-sel darah merah ayam, selain itu virus ini mengeluarkan
toksin dan hemolisin (Saepulloh dan Darminto, 2005).
Menurut Boostani et al., (2013), Newcastle disease adalah penyakit virus
yang sangat menular dan mematikan. Virus ini menginfeksi sebagian besar spesies
burung dari semua kelompok usia. Hal ini disebabkan oleh Newcastle Disease Virus
(NDV) dari keluarga Paramyxoviridae dan genus Avulavirus. Virus ini memiliki
selubung (envelope) dan RNA negatif beruntai tunggal. Panjang genomnya
diperkirakan mencapai 15.186 nukleotida dan terdiri dari enam gen yang menyandi
protein nukleokapsid (NP), phosphoprotein (P), protein matriks (M), protein fusi (F),
haemaglutinin-neuraminidase (HN) dan protein large polymerase (L). Menurut

Hewajuli (2011), selama proses transkripsi gen P, terdapat 2 protein non-structural


yang dihasilkan yaitu V dan protein N. P, HN dan F terletak di bagian luar envelope,
sedangkan protein M terdapat di lapisan dalam virion. Protein-protein ini mempunyai
peran masing-masing dalam menentukan virulensi virus ND.
Protein HN berperan dalam tahap penempelan virus ND pada reseptor sel
inang atau induk semang yang mengandung sialic acid. Molekul sialic acid ini terdiri
atas glycoprotein dan glycolipid. Penempelan virus dilakukan dengan penyatuan
virus dan membran sel yang diperantarai oleh protein F. Virus RNA kemudian
dilepaskan dalam sitoplasma dan terjadi replikasi. Envelope virus masuk ke dalam
sel melalui dua cara utama, yaitu penyatuan secara langsung antara envelope virus
dengan membran plasma dan diperantarai oleh reseptor endositosis. Penetrasi virus
melalui reseptor endositosis tergantung pada kondisi pHnya. Proses penyatuan
membran virus dengan membran plasma inang atau induk semang pada
Paramyxoviruses tidak tergantung pH. Penyatuan virus ND dengan sel mampu
meningkatkan pH hal ini mengindikasikan bahwa penetrasi virus ND pada sel inang
melalui reseptor endositosis juga dipengaruhi oleh kondisi pH (Hewajuli, 2011).
Newcastle Disease sangat merugikan para peternak, hal ini dikarenakan virus
ini sangat virulen. Berdasarkan atas virulensinya, NDV dikelompokkan menjadi tiga
patotype, yaitu lentogenik, mesogenik dan velogenik. Lentogenik adalah strain virus
yang kurang virulen. Mesogenik merupakan strain virus dengan virulensi sedang,
dan velogenik adalah strain virus ganas. Strain velogenik dibedakan lagi menjadi
bentuk neurotrofik dengan gejala gangguan saraf dan kelainan pada sistem
pernafasan, dan bentuk viserotrofik yang ditandai dengan kelainan pada sistem
pencernaan. Dampak dari penyakit Newcastle adalah angka kesakitan (morbiditas)
maupun angka kematian (mortalitas) pada ternak unggas menjadi sangat tinggi.
Mortalitas maupun morbiditas dapat mencapai angka 50-100% akibat infeksi virus
ND strain velogenik terutama pada kelompok ayam yang peka terhadap virus, 50%
pada strain mesogenik, dan 30% pada infeksi virus strain velogenik (Kencana et al.,
2012).
Penyakit Newcastle menyebabkan gangguan yang sangat berat pada sistem
pernafasan, syaraf dan pencernaan pada ayam atau unggas lainnya. Berdasarkan
gejala klinis yang ditimbulkan pada ayam, ND dapat dikelompokkan menjadi 5
patotipe yaitu viscerotropic velogenic, neurotropic velogenic, mesogenic, lentogenic
dan asymptomatic enteric. Viscerotropic velogenic merupakan suatu bentuk penyakit

Newcastle yang sangat patogen dimana lesi pendarahan pada sistem pencernaan
sering terlihat pada bentuk ini. Neurotropic velogenic adalah bentuk penyakit
Newcastle yang menyebabkan mortalitas yang tinggi dan biasanya diikuti dengan
gangguan sistem respirasi dan syaraf. Newcatle disease bentuk mesogenic
menunjukkan gejala klinis gangguan sistem pernafasan tetapi gangguan sistem syaraf
tidak selalu terlihat dan mortalitas yang rendah, sedangkan asymptomatic enteric
merupakan suatu bentuk infeksi subklinik pada sistem pencernaan. NDV strain
avirulent (lentogenik dan mesogenik) digunakan sebagai vaksin hidup untuk
meningkatkan pengendalian penyakit Newcastle pada ayam, tetapi pemilihan jenis
vaksin tergantung pada kondisi penyakitnya. Vaksin inaktif juga digunakan dalam
pengendalian penyakit Newcastle. Patogenitas yang ditimbulkan NDV dapat
ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya tingkat virulensi NDV dan inang
(Hewajuli, 2011).
Gejala klinis yang dialami oleh ayam berupa penurunan nafsu makan, jengger
dan pial sianosis, pembengkakan di daerah kepala, bersin, batuk, ngorok, dan diare
putih kehijauan. Infeksi virus strain velogenik bersifat fatal, seringkali diikuti
dengan angka kematian yang tinggi. Gejala-gejala tersebut sangat bervariasi, diawali
dengan

konjungtivitis, diare serta dikuti dengan gejala saraf

seperti tremor,

tortikolis (kelumpuhan pada leher dan sayap). Perubahan patologi anatomi yang
patognomonis pada penyakit Newcastle ditandai dengan ptechie pada proventikulus,
ventrikulus, usus, seka tonsil, trakea dan paru-paru. Selain itu, terjadi gangguan
pernapasan, diare berwarna hijau, kelemahan, kehilangan nafsu makan, kehilangan
nafsu minum, penurunan produksi telur dapat menyebabkan angka kematian yang
tinggi (Kencana et al., 2012).
Menurut Tabbu (2000), macam- macam inokulasi virus terbagi menjadi :
1. In Ovo
Metode ini menggunakan telur ayam berembrio sebagai media
pertumbuhan virus. Metode ini dapat dilakukan dengan berbagai cara
antara lain:
a. Inokulasi pada ruang khorioalantois
Inkubasi ini biasanya digunakan embrio ayam dengan umur
10-12 hari. Jarum dimasukkan inci dengan sudut 45 dan
diinjeksikan 0,1-0,3 ml virus yang akan diinokulasikan. Setelah
40-48 jam, cairan telur yang sudah diinkubasi dapat diuji untuk

hemaglutinasi dengan membuat lubang kecil pada kerabang di


pinggir dari rongga udara dengan alat semprot yang steril dan
jarumnya. Contoh virus yang diinokulasikan pada ruang
khorioalantois ini antara lain, virus ND dan virus influenza.
b. Inokulasi pada chorioallantoic membrane
Inokulasi pada embrio umur 10-11 hari adalah yang paling
cocok. Telur diletakkan horizontal di atas tempat telur. Kerabang
di sekitar ruang udara dan daerah lain di atas embrio telur diberi
alkohol. Buat lubang pada daerah tersebut dan diperdalam lagi
hingga mencari membran kerabang. Virus diinokulasikan pada
chorioallantoic membrane dan lubang ditutup dengan lilin dan
diinkubasi.
c. Inokulasi pada yolk sac
Inokulasi dilakukan pada embrio umur 5-7 hari. Setelah
diinokulasi

embrio

diinkubasi

selama

3-10

hari.

Virus

diinokulasikan pada bagian yolk sack dan dijaga agar tidak


terkontaminasi bakteri. Virus yang biasa diinokulasikan di bagian
ini adalah virus rabies.
2. In Vitro
Metode ini merupakan suatu metode penginokulasian virus pada
kultur jaringan. Sel-sel jaringan yang berbeda-beda lebih efektif untuk
kultivasi beberapa virus ketimbang yang lain. Pendekatan ini telah
memungkinkan kultivasi banyak virus sebagai biakan murni dalam jumlah
besar untuk penelitian dan produksi vaksin secara komersial.
3. In Vivo
Metode ini merupakan metode penginokulasian virus pada hewan
laboratorium yang peka. Metode ini merupakan metode yang pertama kali
dalam menanam virus. Metode ini dapat digunakan untuk membedakan
virus yang dapat menimbulkan lesi yang hampir mirip misalnya FMDP
atau Vesicular Stomatitics pada sapi. Hewan laboratorium yang digunakan
antara lain mencit, tikus putih, kelinci atau marmut.
NDV sangat mudah sekali menular, penularan NDV dapat terjadi secara
langsung antar ayam dalam satu kelompok ternak tertular. Sumber virus biasanya
berasal dari ekskreta ayam terinfeksi, udara yang tercemar virus, peralatan, dan

pekerja kandang. Patogenisitas virus NDV dipengaruhi oleh galur virus, rute infeksi,
umur ayam, lingkungan, dan status kebal ayam saat terinfeksi virus. Selama sakit,
ayam mengeluarkan virus dalam jumlah besar melalui feses (Kencana et al., 2012).
Menurut Fenner (1995), faktor-faktor yang menentukan keberhasilan
inokulasi pada embrio ayam adalah sebagai berikut:
1. Rute Inokulasi
Inokulasi pada embrio dimana virus akan segera mendapatkan tempat
untuk menginfeksi organ. Hasil paling baik adalah jika embrio telah
mengalami abnormal organ sejak 24 jam setelah inokulasi.
2. Strain virus
Strain virus menentukan efek infeksi pada masing-masing embrio
yang diinokulasikan virus. Strain yang paling virulen merupakan strain
yang paling baik untuk digunakan pada uji in ovo karena akan langsung
terlihat gejalanya.
3. Titer Virus
Banyaknya titer virus yang diinokulasikan merupakan hal yang
penting untuk mencapai keberhasilan inokulasi dan menyebabkan efek
infeksi yang terlihat jelas pada embrio yang diujikan dengan kontrolnya.
4. Tahapan perkembangan embrio
Embrio yang sudah mengalami tahap dewasa akan lebih resisten
terhadap virus, hal ini dikarenakan sistem imunnya telah terbentuk.
Sebaliknya embrio dengan umur yang lebih muda akan lebih rentan
terkena virus karena sistem imunnya belum berkembang.
5. Temperatur Inkubasi
Temperatur yang terlalu tinggi dapat mendenaturasi protein yang
terdapat di dalam telur. Hal ini akan menyebabkan enzimenzim tertentu
yang dibutuhkan untuk perkembangan embrio juga terhamba dan virus
akan memiliki lingkungan hidup yang optimum.
6. Waktu inkubasi
Jika inkubasi dilakukan terlalu lama kemungkinan virus akan terus
bereplikasi menghasilkan virionvirion baru yang dapat menyebabkan sel
inang lisis dan mati. Sel inang yang sudah mati tidak dapat mendukung
hidup virus yang merupakan parasit intraseluler obligat.

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan praktikum postulat Koch, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1. Macam- macam inokulasi virus yaitu melalui metode in ovo, in vitro dan in
vivo.
2. Cara menginokulasikan NDV pada telur ayam berembrio dapat melalui tiga
cara utama yaitu inokulasi pada ruang khorioalantois, inokulasi pada
membran khorioalantois dan inokulasi pada yolk sac.
3. Ciri- ciri embrio ayam yang telah terinfeksi virus adalah adanya perubahan
menjadi warna kehijauan pada kaki, lesi pada embrio, lesi pada otot dan bulu.
B. Saran
Seharusnya dalam pengerjaan praktikum dilakukan dengan tenang dan sesuai
dengan petunjuk asisten praktikum, sehingga tidak ada telur yang pecah.

DAFTAR REFERENSI

Akin, Hasriadi. 2006. Virologi. Yogyakarta : Kanisius.


Boostani., A.R, Pourbakhsh., S.A, Momayez., R, dan Charkhkar., S. 2013. Molecular
characterization and phylogenetic study of Newcastle disease virus isolates
from the 2010 to 2011 outbreaks in Shiraz, Iran. African Journal of
Microbiology Research, 7 (8) pp. 657-660.
Feller., U, Dougherty., R.M dan Stefano., H.S. 1969. Morphogenesis of Newcastle
Diseasevirus in chorioallantoic membrane. Journal of virology, 4 (5) pp.
753-762.
Fenner, Frank J. 1995. Virologi veteriner edisi kedua. California : Academic Press
INC.
Hewajuli, D.A., dan N.L.P.I. Dharmayanti. 2011. Patogenitas Virus Newcastle
Disease pada Ayam. WARTAZOA, 21 (2) pp. 453-464.
Kencana., G.A.Y, Kardena., I.M dan Mahardika., I.G.N.K. 2012. Peneguhan
diagnosis penyakit Newcastle Disease lapang pada ayam buras di Bali
menggunakan teknik RT-PCR. Jurnal Kedokteran Hewan, 6 (1) pp. 28-31.
Saepulloh., M dan Darminto. 2005. Kaman Newcastle disease pada itik dan upaya
pengendaliannya. Jurnal Wartazoa, 15 (2) pp. 84-94.
Shane, simon M. 1998. Buku pedoman penyakit unggas. Singapore : American
Soybean Assosiation.
Tabbu, C. R. 2000. Penyakit ayam dan penanggulangannya. Yogyakarta : Kanisius.
Wibowo M. H., dan Amanu S. 2010. Perandingan beberapa program vaksinasi
penyakit Newcastle pada ayam buras. J. Sain, 28 (1) pp. 287-299.