Anda di halaman 1dari 18

perubahan sistem pencernaan ibu nifas

1.1 Pengertian
Masa nifas juga disebut Post Partum atau Puerperium yaitu masa sesudah persalinan dan
kelahiran bayi, plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ
kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu. (Saleha, 2009).
Periode postpartum adalah waktu penyembuhan dan perubahan, waktu kembali keadaan
tidak hamil. Dalam masa nifas alat-alat genetalia interna maupun eksterna akan berangsur-angsur
pulih. Untuk membantu mempercepat proses penyembuhan pada masa nifas, maka ibu
membutuhkan diet yang cukup kalori dan protein, membutuhkan istirahat cukup dan sebagainya.

1.2 Perubahan Fisiologis pada Sistem Pencernaan


Sistem gastrointestinal selama kehamilan dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya
tingginya kadar progesteron yang dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan
kolestrol darah, dan melambatkan kontraksi otot-otot polos. Pasca melahirkan, kadar progesteron
juga mulai menurun. Namun demikian, faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali
normal. Sekresi saliva menjadi lebih menekan diagfragma, lambung dan intestin.
Pada bulan-bulan awal masa kehamilan, sepertiga dari wanita mengalami mual dan
muntah. Sebagai mana kehamilan berlanjut, penurunan asam lambung, melambatkan
pengosongan lambung dan menyebabkan kembung. Menurunnya gerakan peristaltic tidak saja
menyebabkan mual tetapi juga konstipasi, karena lebih banyak feses terdapat dalam usus, lebih
banyak air diserap maka semakin keras. Konstipasi juga disebabkan oleh tekanan uterus pada
usus bagian bawah pada awal masa kehamilan dan kembali pada akhir masa kehamilan.
Gigi berlubang terjadi lebih mudah pada saliva yang bersifat asam selama masa kehamilan
dan membutuhkan perawatan yang baik untuk mencegah karies gigi. Pada bulan-bulan terakhir,
nyeri ulu hati dan regurgitasi (pencernaan asam) merupakan ketidaknyamanan yang disebabkan
tekanan keatas dari pembesaran uterus. Pembesaran pembuluh darah rectum (hemoroid). Pada
persalinan rectum dan otot-otot yang menberikan sokongan sangat teregang.

Beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan pada sistem pencernaan, antara lain:

1. Nafsu Makan
Pasca melahirkan, biasanya ibu merasa lapar sehingga diperbolehkan untuk
mengkonsumsi makanan. Pemulihan nafsu makan diperlukan waktu
34 hari sebelum faal usus kembali normal. Meskipun kadar progesteron menurun setelah
melahirkan, asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari.
Wanita mungkin kelaparan dan mulai makan satu atau dua jamsetelah melahirkan. Kecuali ada
komplikasi kelahiran, tidak ada alasanuntuk menunda pemberian makan pada wanita pasca
partum yang sehatlebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengkajian awal.
2. Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu
yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat
pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal.

3. Pengosongan Usus
Pasca melahirkan, ibu sering mengalami konstipasi. Hal ini disebabkan tonus otot usus
menurun selama proses persalinan dan awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, kurang
makan, dehidrasi, hemoroid ataupun laserasi jalan lahir. Sistem pencernaan pada masa nifas
membutuhkan waktu untuk kembali normal.
Beberapa cara agar ibu dapat buang air besar kembali teratur, antara lain:
a.
b.
c.
d.
e.

Pemberian diet / makanan yang mengandung serat.


Pemberian cairan yang cukup.
Pengetahuan tentang pola eliminasi pasca melahirkan.
Pengetahuan tentang perawatan luka jalan lahir.
Bila usaha di atas tidak berhasil dapat pemberian huknah atau obatyang lain.

4. Konstipasi
Konstipasi mungkin menjadi masalah pada puerperium awal karenakurangnya makanan
padat selama persalinan dan karena wanita menahan defekasi. Wanita mungkin menahan
defekasi karena perineumnya mengalami perlukaan atau karena ia kurang pengetahuan dan takut

akanmerobek atau merusak jahitan jika ia melakukan defekasi. Jika penderitahari ketiga belum
juga buang air besar, maka diberi obat pencahar, baik peroral ataupun supositoria.
1.3 Kebutuhan Cairan dan Nutrisi
1. Cairan
Fungsi cairan sebagai pelarut zat gizi dalam proses metabolisme tubuh. Minum cairan
yang cukup untuk membuat tubuh ibu tidak dehidrasi. Konsumsi cairan sebanyak 8 gelas per
hari. Minum sedikitnya 3 liter tiap hari. Kebutuhan akan cairan diperoleh dari air putih, sari
buah, susu dan sup.
2. Perubahan Nutrisi
Kebutuhan nutrisi pada masa nifas meningkat 25% yaitu untuk produksi ASI dan
memenuhi kebutuhan cairan yang meningkat tiga kali dari biasanya. Dari pendahuluan ibu masa
nifas dahulu didapatkan 12 dari 14 ibu nifas yang belum mengetahui kebutuhan nutrisi masa
nifas yaitu masih adanya pantangan makanan seperti telur dan ikan laut. Maka perlu dilakukan
pengarahan tentang pengetahuan kebutuhan pada masa nifas karena akan berpengaruh penting
tentang proses penyembuhan serta perkembangan bayinya. Salah satu keberhasilan ibu menyusui
sangat ditentukan oleh pola makan, baik di masa hamil maupun setelah melahirkan. Agar ASI ibu
terjamin kualitas maupun kuantitasnya, makanan bergizi tinggi dan seimbang perlu dikonsumsi
setiap harinya. Artinya, ibu harus menambah konsumsi karbohidrat, lemak, vitamin, mineral dan
air dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh selama menyusui. Bila kebutuhan ini
tidak terpenuhi, selain mutu ASI dan kesehatan ibu terganggu, juga akan mempengaruhi jangka
waktu ibu dalam memproduksi ASI (Anonim, 2010).
Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa ibu dengan gizi yang baik, umumnya mampu
menyusui bayinya selama minimal 6 bulan. Sebaliknya pada ibu yang gizinya kurang baik,
biasanya tidak mampu menyusui bayinya dalam jangka waktu selama itu, bahkan tak jarang air
susunya tidak keluar. Mengingat pentingnya ASI pada tumbuh kembang bayi di masa awal
kehidupannya, ada baiknya bila ibu mengupayakan agar ASI yang bermutu baik dapat diberikan
pada bayi seoptimal mungkin (Anonim, 2010). Perubahan kebutuhan makanan bagi ibu nifas
lebih banyak daripada makanan Ibu hamil.
Kegunaan makanan tersebut adalah :

Memulihkan kondisi fisik setelah melahirkan.


Meningkatkan Produksi ASI (Air Susu Ibu) yang cukup dan sehat untuk bayi.
2.4 Nutrisi yang Diperlukan
a. Kalori
Kebutuhan tambahan kalori pada masa menyusui sekitar 800 kalori. Wanita dewasa memerlukan
1800-2000 kalori per hari. Sebaiknya ibu nifas jangan mengurangi kebutuhan kalori, karena akan
mengganggu proses metabolisme tubuh dan menyebabkan ASI rusak.
b. Protein
Kebutuhan protein yang dibutuhkan adalah 3 porsi per hari. protein yang dibutuhkan dapat
diperoleh dari tiga gelas susu, dua butir telur, lima putih telur, keju, 1 gelas yoghurt, ikan/daging,
1 porsi tahu atau 5-6 sendok selai kacang.
c. Kalsium dan vitamin D
Kalsium dan vitamin D berguna untuk pembentukan tulang dan gigi. Kebutuhan kalsium dan
vitamin D didapat dari minum susu rendah kalori atau berjemur di pagi hari. Konsumsi kalsium
pada masa menyusui meningkat menjadi 5 porsi per hari. Dapat diperoleh dengan mengkonsumsi
keju, ikan salmon, dan ikan sarden.

d. Magnesium
Magnesium dibutuhkan sel tubuh untuk membantu gerak otot, fungsi syaraf dan memperkuat
tulang. Kebutuhan megnesium didapat pada gandum dan kacang-kacangan.
e. Sayuran hijau dan buah
Kebutuhan yang diperlukan sedikitnya tiga porsi sehari. satu porsi setara dengan mengkonsumsi
buah semangka, buah mangga, sayur brokoli, wortel, tomat,bayam dan lainnya
f. Karbohidrat kompleks

Selama menyusui, kebutuhan karbohidrat kompleks diperlukan untuk memperbaiki energi dan
proses penyembuhan. dalam hal ini perlu mengkonsumsi nasi dan jagung.
g. Garam
Selama periode nifas, hindari konsumsi garam berlebihan. Hindari makanan asin seperti kacang
asin, keripik kentang atau acar.
h. Vitamin
Kebutuhan vitamin selama menyusui sangat dibutuhkan. Vitamin yang diperlukan antara lain:
Kapsul / suplemen vitamin A (200.000 unit).
Vitamin A yang berguna bagi kesehatan kulit, kelenjar serta mata. Vitamin A terdapat dalam
telur, hati dan keju.
Vitamin B6 membantu penyerapan protein dan meningkatkan fungsi syaraf. Vitamin B6 dapat
ditemui di daging, hati, padi-padian, kacang polong dan kentang.
Vitamin E berfungsi sebagai antioksidan, meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh. Terdapat
dalam makanan berserat, kacang-kacangan, minyak nabati dan gandum.
i. Zinc (Seng)
Berfungsi untuk kekebalan tubuh, penyembuhan luka dan pertumbuhan. Kebutuhan Zinc didapat
dalam daging, telur dan gandum. Enzim dalam pencernaan dan metabolisme memerlukan seng.
Sumber zinc terdapat pada seafood, hati dan daging.
j. DHA
DHA penting untuk perkembangan daya lihat dan mental bayi. Asupan DHA berpengaruh
langsung pada kandungan dalam ASI. Sumber DHA ada pada telur, otak, hati dan ikan.

Contoh Menu untuk Ibu nifas


1. Makan pagi
nasi, urap, sayur, ikan bandeng goreng, kudapan (donat dan yoghurt)
2. Makan siang
nasi, ayam goreng, rempeyek, rebon, sayur, buah jeruk, kudapan ( kolak pisang)
3. Makan malam

nasi, semur daging, pepes tahu, capcay, buah pepaya kudapan ( ubi merah goreng )
2.6 Pengolahan Makanan Ibu Nifas yang Benar
Proses pengolahan dan penyimpanan bisa membuat gizi pada bahan makanan hilang atau
rusak. Karena itu, perlakukan bahann makanan sebaik mungkin, jangan asal memasukkannya ke
lemari pendingin. Cara mengolah makanan berpengaruh terhadap kualitas nutrisinya. Secara
umum, semakin sedikit pemrosesan, makin baik.
Setelah pemilihan bahan makanan yang tepat, masih ada beberapa kiat untuk menghindari
makanan yang ada untuk dikunjungi bakteri dan kuman selama pengolahan makanan
berlangsung.
1. Pisahkanlah bahan makanan mentah berupa daging ternak, unggas serta ikan dari bahan
makanan lain. Simpan bahan-bahan makanan di dalam wadah tertutup rapat. Hal ini
bertujuan untuk menghindari kontak kontak bahan makanan mentah dengan makanan jadi
dan yang telah dimasak.
2. Pada saat proses pengolahan makanan, gunakanlah alat masak yang berbeda setiap kali
mempersiapkan bahan mentah. Seperti halnya alat potong dan papan alas. Begitupun air
yang digunakan untuk melumuri daging mentah tidak boleh digunakan untuk bahan
makanan yang telah siap untuk dikonsumsi.
3. Untuk mempersiapkan makanan yang berkuah, pastikan air kuah termasak hingga
mendidih mencapai suhu 70C. Pada khususnya pengolahan masak daging ternak dan
unggas, pastikan kaldu termasak berwarna jernih dan tidak lagi merah muda.
4. Jangan tinggalkan makanan yang telah dimasak pada temperatur kamar lebih dari 2 jam.
Masukkan segera makanan yang telah dimasak ataupun makanan yang mudah rusak ke
dalam lemari pendingin.

Perubahansistempencernaan

Sistemgastrointestinalselama kehamilan dipengaruhiolehbeberapahal,diantaranyatingginya


kadarprogesteronyangdapatmengganggukeseimbangancairantubuh,meningkatkankolestrol
darah,danmelambatkankontraksiototototpolos.Pascamelahirkan,kadarprogesteronjuga
mulaimenurun.Namundemikian,faalususmemerlukanwaktu34hariuntukkembalinormal.
Beberapahalyangberkaitandenganperubahanpadasistempencernaan,antaralain:
1.NafsuMakan
Pascamelahirkan,biasanyaibumerasalaparsehinggadiperbolehkanuntukmengkonsumsi
makanan.
Pemulihannafsumakandiperlukanwaktu34harisebelumfaalususkembalinormal.
Meskipunkadar
progesteronmenurunsetelahmelahirkan,asupanmakananjugamengalamipenurunan
selamasatuatau
duahari.
2.

Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang
singkatsetelahbayilahir.Kelebihananalgesiadananastesiabisamemperlambatpengembalian
tonusdanmotilitaskekeadaannormal.

.PengosonganUsus
Pascamelahirkan,ibuseringmengalamikonstipasi.Halinidisebabkantonusototususmenurun
selamaprosespersalinandanawalmasapascapartum,diaresebelumpersalinan,enemasebelum
melahirkan,kurangmakan,dehidrasi,hemoroidataupunlaserasijalanlahir.Sistempencernaan
padamasanifasmembutuhkanwaktuuntukkembalinormal.
Beberapacaraagaribudapatbuangairbesarkembaliteratur,antaralain:
1.Pemberiandiet/makananyangmengandungserat.
2.Pemberiancairanyangcukup.
3.Pengetahuantentangpolaeliminasipascamelahirkan.
4.Pengetahuantentangperawatanlukajalanlahir.
Bilausahadiatastidakberhasildapatdilakukanpemberianhuknahatauobatyanglain

REFERENSI
Saleha,2009.AsuhanKebidananPadaMasaNifas.Jakarta:SalembaMedika.

Contoh makalah

PERUBAHAN SISTEM REPRODUKSI, PENCERNAAN DAN PERKEMIHAN


PADA MASA NIFAS
BAB I
PE N DAH U LUAN
A. Latar Belakang
Masa nifas (puerperium) adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta, serta
selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum hamil
dengan waktu kurang lebih 6 minggu. Berasal dari bahasa latin, yaitu puer yang artinya bayi dan
parous yang artinya melahirkan atau beberapa masa sesudah melahirkan. Masa nifas merupakan
masa pembersihan rahim, sama seperti halnya menstruasi. Asuhan kebidanan pada masa nifas
adalah penatalaksanaan asuhan yang diberikan pada pasien mulai dari saat setelah lahirnya bayi
sampai dengan kembalinya tubuh dalam keadaan seperti sebelum hamil atau mendekati keadaan
sebelum hamil.
Masa nifas merupakan hal penting untuk diperhatikan guna menurunkan angka kematian ibu dan
bayi di Indonesia. Asuhan kebidanan yang diberikan oleh seorang bidan sangat mempengaruhi
kualitas asuhan yang diberikan dalam tindakan kebidanan seperti upaya pelayanan antenatal,
intranatal, postnatal dan perawatan bayi baru lahir.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perubahan system reproduksi pada masa nifas?
2. Bagaimana perubahan system pencernaan pada masa nifas?
3. Bagaimana perubahan system perkemihan pada masa nifas?
C. Tujuan Penulisan
Agar mahasiswa mengetahui bagaimana perubahan system reproduksi, pencernaan dan

perkemihan pada masa nifas.

BAB II
PE M BAHASAN
I. Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Reproduksi
Perubahan alat-alat genital baik interna maupun eksterna kembali seperti semula seperti sebelum
hamil disebut involusi. Bidan dapat membantu ibu untuk mengatasi dan memahami perubahanperubahan seperti:
a. Involusi Uterus
Involusi uterus atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi
sebelum hamil.
Proses involusi uterus adalah sebagai berikut:
1. Iskemia Miometrium Hal ini disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus menerus dari
uterus setelah pengeluaran plasenta sehingga membuat uterus menjadi relatif anemi dan
menyebabkan serat otot atrofi.
2. Atrofi jaringan Atrofi jaringan terjadi sebagai reaksi penghentian hormon esterogen saat
pelepasan plasenta.
3. Autolysis Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uterus.
Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah mengendur hingga panjangnya 10
kali panjang sebelum hamil dan lebarnya 5 kali lebar sebelum hamil yang terjadi selama
kehamilan. Hal ini disebabkan karena penurunan hormon estrogen dan progesteron.
4. Efek Oksitosin Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterus
sehingga akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke
uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta serta
mengurangi perdarahan.
Ukuran uterus pada masa nifas akan mengecil seperti sebelum hamil. Perubahan-perubahan

normal pada uterus selama postpartum adalah sebagai berikut:


Involusi Uteri
Tinggi Fundus Uteri
Berat Uterus
Diameter Uterus
Plasenta lahir
Setinggi pusat 1000 gram 12,5 cm
7 hari (minggu 1) Pertengahan pusat dan simpisis
500 gram 7,5 cm
14 hari (minggu 2) Tidak teraba 350 gram 5 cm
6 minggu Normal
60 gram 2,5 cm
Dibawah ini dapat dilihat perubahan tinggi fundus uteri pada masa nifas.

Gambar. Tinggi fundus uteri pada masa nifas


b. Involusi Tempat Plasenta
Uterus pada bekas implantasi plasenta merupakan luka yang kasar dan menonjol ke dalam
kavum uteri. Segera setelah plasenta lahir, dengan cepat luka mengecil, pada akhir minggu ke-2
hanya sebesar 3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm. Penyembuhan luka bekas plasenta khas
sekali. Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak pembuluh darah besar yang
tersumbat oleh thrombus. Luka bekas plasenta tidak meninggalkan parut. Hal ini disebabkan
karena diikuti pertumbuhan endometrium baru di bawah permukaan luka. Regenerasi
endometrium terjadi di tempat implantasi plasenta selama sekitar 6 minggu. Pertumbuhan
kelenjar endometrium ini berlangsung di dalam decidua basalis. Pertumbuhan kelenjar ini

mengikis pembuluh darah yang membeku pada tempat implantasi plasenta hingga terkelupas dan
tak dipakai lagi pada pembuangan lokia.
c. Perubahan pada Serviks
Segera setelah melahirkan, serviks menjadi lembek, kendor, terkulai dan berbentuk seperti
corong. Hal ini disebabkan korpus uteri berkontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi,
sehingga perbatasan antara korpus dan serviks uteri berbentuk cincin. Warna serviks merah
kehitam-hitaman karena penuh pembuluh darah. Segera setelah bayi dilahirkan, tangan
pemeriksa masih dapat dimasukan 23 jari dan setelah 1 minggu hanya 1 jari saja yang dapat
masuk.
Oleh karena hiperpalpasi dan retraksi serviks, robekan serviks dapat sembuh. Namun demikian,
selesai involusi, ostium eksternum tidak sama waktu sebelum hamil. Pada umumnya ostium
eksternum lebih besar, tetap ada retak-retak dan robekan-robekan pada pinggirnya, terutama pada
pinggir sampingnya. Akibat peningkatan vaskular serta perubahan pada jaringan ikat dibawah
pengaruh estrogen, servik dalam kehamilan menjadi lunak. Terjadi sekresi kelenjar dan lendir
servik menjadi kental sehingga dapat berperan sebagai pelindung yang meyumbat ostium uteri.

d. Perubahan pada Endometrium


Perubahan pada endometrium adalah timbulnya thrombosis, degenerasi dan nekrosis di tempat
implantasi plasenta. Pada hari pertama tebal endometrium 2,5 mm, mempunyai permukaan yang
kasar akibat pelepasan desidua dan selaput janin. Setelah 3 hari mulai rata, sehingga tidak ada
pembentukan jaringan parut pada bekas implantasi plasenta.
e. Lokia
Akibat involusi uteri, lapisan luar desidua yang mengelilingi situs plasenta akan menjadi
nekrotik. Desidua yang mati akan keluar bersama dengan sisa cairan. Percampuran antara darah
dan desidua inilah yang dinamakan lokia.
Lokia adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan mempunyai reaksi basa/alkalis yang
membuat organisme berkembang lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada vagina

normal.
Lokia mempunyai bau yang amis (anyir) meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya
berbeda-beda pada setiap wanita. Lokia mengalami perubahan karena proses involusi.
Pengeluaran lokia dapat dibagi menjadi lokia rubra, sanguilenta, serosa dan alba. Perbedaan
masing-masing lokia dapat dilihat sebagai berikut:
Lokia
Waktu Warna Ciri-ciri
Rubra 1-3 hari Merah kehitaman Terdiri dari sel desidua, verniks caseosa, rambut lanugo, sisa
mekoneum dan sisa darah
Sanguilenta 3-7 hari Putih bercampur merah Sisa darah bercampur lendir
Serosa 7-14 hari Kekuningan/ kecoklatan Lebih sedikit darah dan lebih banyak serum, juga
terdiri dari leukosit dan robekan laserasi plasenta
Alba >14 hari Putih Mengandung leukosit, selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati.
Umumnya jumlah lochia lebih sedikit bila wanita postpartum dalam posisi berbaring daripada
berdiri. Hal ini terjadi akibat pembuangan bersatu di vagina bagian atas saat wanita dalam posisi
berbaring dan kemudian akan mengalir keluar saat berdiri. Total jumlah rata-rata pengeluaran
lokia sekitar 240 hingga 270 ml.
f. Perubahan Pada Vulva, Vagina dan Perineum
Selama proses persalinan vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan, setelah
beberapa hari persalinan kedua organ ini kembali dalam keadaan kendor. Rugae timbul kembali
pada minggu ke tiga. Himen tampak sebagai tonjolan kecil dan dalam proses pembentukan
berubah menjadi karankulae mitiformis yang khas bagi wanita multipara. Ukuran vagina akan
selalu lebih besar dibandingkan keadaan saat sebelum persalinan pertama.
Perubahan pada perineum pasca melahirkan terjadi pada saat perineum mengalami robekan.
Robekan jalan lahir dapat terjadi secara spontan ataupun dilakukan episiotomi dengan indikasi
tertentu. Meskipun demikian, latihan otot perineum dapat mengembalikan tonus tersebut dan

dapat mengencangkan vagina hingga tingkat tertentu. Hal ini dapat dilakukan pada akhir
puerperium dengan latihan harian.
g. Perubahan pada Payudara
Pada semua wanita yang telah melahirkan proses laktasi terjadi secara alami. Proses menyusui
mempunyai dua mekanise fisiologis yaitu :
1. Produksi susu
2. Sekresi susu atau let down
Selama Sembilan bulan kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan menyiapkan fungsinya untuk
menyediakan makanan bagi bayi baru lahir. Setelah melahirkan, ketika hormone yang dihasilkan
plasenta tidak ada lagi untuk menghambatnya kelenjar pituitary akan mengeluarkan prolaktin
(hormone laktogenik). Sampai hari ketiga setelah melahirkan, efek prolaktin pada payudara
mulai bias dirasakan. Pembuluh darah payudara menjadi bengkak terisi darah, sehingga timbul
rasa hangat, bengkak dan rasa sakit. Sel-sel acini yang menghasilkan ASI juga mulai berfungsi.
Ketika bayi menghisap putting, reflek saraf merangsang lobus posterior pituitary untuk
menyekresikan hormone oksitosin. Oksitosin merangsang reflek let down sehingga
menyebabkan ejeksi ASI melalui sinus aktiferus payudara ke duktus yang terdapat pada putting.
II. Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Pencernaan
Seorang wanita dapat merasa lapar dan siap menyantap makanannya 2 jam setelah persalinan.
Mual dan muntah dapat terjadi pada ibu nifas kurang lebih 10 minggu. Pada ibu nifas terutama
yang partus lama dan terlantar mudah terjadi ileus paralitikus yaitu adanya obstruksi usus akibat
tidak adanya peristaltic usus. Penyebabnya adalah penekanan buah dada dalam kehamilan dan
partus lama, sehingga membatasi gerak peristaltic usus serta bias juga terjadi karena pengaruh
psikis takut BAB karena ada luka jahitan perineum.
Sistem gastrointestinal selama kehamilan dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya tingginya
kadar progesteron yang dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolestrol
darah, dan melambatkan kontraksi otot-otot polos. Pasca melahirkan, kadar progesteron juga
mulai menurun. Namun demikian, faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali normal.
Beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan pada sistem pencernaan, antara lain:
a. Nafsu Makan
Pasca melahirkan, biasanya ibu merasa lapar sehingga diperbolehkan untuk mengkonsumsi

makanan. Pemulihan nafsu makan diperlukan waktu 34 hari sebelum faal usus kembali normal.
Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan, asupan makanan juga mengalami
penurunan selama satu atau dua hari.
b. Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang
singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat pengembalian
tonus dan motilitas ke keadaan normal.
c. Pengosongan Usus
Pasca melahirkan, ibu sering mengalami konstipasi. Hal ini disebabkan tonus otot usus menurun
selama proses persalinan dan awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, enema sebelum
melahirkan, kurang makan, dehidrasi, hemoroid ataupun laserasi jalan lahir. Sistem pencernaan
pada masa nifas membutuhkan waktu untuk kembali normal.
Beberapa cara agar ibu dapat buang air besar kembali teratur, antara lain:
1. Pemberian diet / makanan yang mengandung serat.
2. Pemberian cairan yang cukup.
3. Pengetahuan tentang pola eliminasi pasca melahirkan.
4. Pengetahuan tentang perawatan luka jalan lahir.
5. Bila usaha di atas tidak berhasil dapat dilakukan pemberian huknah atau obat yang lain.
III. Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Perkemihan
Pada masa hamil, perubahan hormonal yaitu kadar steroid tinggi yang berperan meningkatkan
fungsi ginjal. Begitu sebaliknya, pada pasca melahirkan kadar steroid menurun sehingga
menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan
setelah wanita melahirkan. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12 36
jam sesudah melahirkan
Hal yang berkaitan dengan fungsi sistem perkemihan, antara lain:
a. Hemostatis internal.
Tubuh, terdiri dari air dan unsur-unsur yang larut di dalamnya, dan 70% dari cairan tubuh
terletak di dalam sel-sel, yang disebut dengan cairan intraselular. Cairan ekstraselular terbagi
dalam plasma darah, dan langsung diberikan untuk sel-sel yang disebut cairan interstisial.
Beberapa hal yang berkaitan dengan cairan tubuh antara lain edema dan dehidrasi. Edema adalah

tertimbunnya cairan dalam jaringan akibat gangguan keseimbangan cairan dalam tubuh.
Dehidrasi adalah kekurangan cairan atau volume air yang terjadi pada tubuh karena pengeluaran
berlebihan dan tidak diganti.
b. Keseimbangan asam basa tubuh.
Keasaman dalam tubuh disebut PH. Batas normal PH cairan tubuh adalah 7,35-7,40. Bila PH
>7,4 disebut alkalosis dan jika PH < 7,35 disebut asidosis. c. Pengeluaran sisa metabolisme,
racun dan zat toksin ginjal. Zat toksin ginjal mengekskresi hasil akhir dari metabolisme protein
yang mengandung nitrogen terutama urea, asam urat dan kreatinin. Ibu post partum dianjurkan
segera buang air kecil, agar tidak mengganggu proses involusi uteri dan ibu merasa nyaman.
Namun demikian, pasca melahirkan ibu merasa sulit buang air kecil. Hal yang menyebabkan
kesulitan buang air kecil pada ibu post partum, antara lain: 1. Adanya odema trigonium yang
menimbulkan obstruksi sehingga terjadi retensi urin. 2. Diaforesis yaitu mekanisme tubuh untuk
mengurangi cairan yang teretansi dalam tubuh, terjadi selama 2 hari setelah melahirkan. 3.
Depresi dari sfingter uretra oleh karena penekanan kepala janin dan spasme oleh iritasi muskulus
sfingter ani selama persalinan, sehingga menyebabkan miksi. Setelah plasenta dilahirkan, kadar
hormon estrogen akan menurun, hilangnya peningkatan tekanan vena pada tingkat bawah, dan
hilangnya peningkatan volume darah akibat kehamilan, hal ini merupakan mekanisme tubuh
untuk mengatasi kelebihan cairan. Keadaan ini disebut dengan diuresis pasca partum. Ureter
yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6 minggu. Kehilangan cairan melalui
keringat dan peningkatan jumlah urin menyebabkan penurunan berat badan sekitar 2,5 kg selama
masa pasca partum. Pengeluaran kelebihan cairan yang tertimbun selama hamil kadang-kadang
disebut kebalikan metabolisme air pada masa hamil (reversal of the water metabolisme of
pregnancy). Rortveit dkk (2003) menyatakan bahwa resiko inkontinensia urine pada pasien
dengan persalinan pervaginam sekitar 70% lebih tinggi dibandingkan resiko serupa pada
persalinan dengan Sectio Caesar. Sepuluh persen pasien pasca persalinan menderita
inkontinensia (biasanya stres inkontinensia) yang kadang-kadang menetap sampai beberapa
minggu pasca persalinan. Untuk mempercepat penyembuhan keadaan ini dapat dilakukan latihan
pada otot dasar panggul. Bila wanita pasca persalinan tidak dapat berkemih dalam waktu 4 jam
pasca persalinan mungkin ada masalah dan sebaiknya segera dipasang dower kateter selama 24
jam. Bila kemudian keluhan tak dapat berkemih dalam waktu 4 jam, lakukan kateterisasi dan bila
jumlah residu > 200 ml maka kemungkinan ada gangguan proses urinasinya. Maka kateter tetap

terpasang dan dibuka 4 jam kemudian , bila volume urine < 200 ml, kateter dibuka dan pasien
diharapkan dapat berkemih seperti biasa.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Masa nifas merupakan masa pembersihan rahim, sama seperti halnya menstruasi. Asuhan
kebidanan pada masa nifas adalah penatalaksanaan asuhan yang diberikan pada pasien mulai dari
saat setelah lahirnya bayi sampai dengan kembalinya tubuh dalam keadaan seperti sebelum hamil
atau mendekati keadaan sebelum hamil.
B. Saran
Semoga apa yang kami sampaikan bisa bermanfaat. Kritik dan saran yang membangun sangat
kami harapkan. Terima kasih.

Daftar Pustaka

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 73-80)
Bambang, W. 2009. Masa Nifas. obfkumj.blogspot.com/ diunduh 9 Feb 2010, 04:07 PM.
Dessy, T., dkk. 2009. Perubahan Fisiologi Masa Nifas. Akademi Kebidanan Mambaul Ulum
Surakarta.
scribd.com/doc/17226035/Post-Partum-Oke diunduh 8 Feb 2010, 11:46 PM.
scribd.com/doc/21899776/BAB-I?secret_password=&autodown=pdf diunduh 9 Feb 2010, 07:58
PM.
Kuliahbidan. 2008. Perubahan dalam Masa Nifas.
kuliahbidan.wordpress.com/2008/09/19/perubahan-dalam-masa-nifas/ diunduh 6 Feb 2010,
02:25 PM.
Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika (hlm: 53-57).
Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 77-79).
Zietraelmart. 2008. Perubahan Fisiologi Masa Nifas.
zietraelmart.multiply.com/journal/item/22/PERUBAHAN_FISIOLOGIS_MASA_NIFAS
diunduh 6 Feb 2010, 02:35 PM.