Anda di halaman 1dari 29

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya,
penulis dapat merampungkan Laporan Praktek Pengelolaan Pasca Panen dengan judul
Analisis Kimia Ikan” dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Orang Tua penulis yang selalu memberikan dukungan baik dalam bentuk moral
maupun moril, demi mencapai cita cita yang penulis harapkan.
2. Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Pasca Panen yang telah banyak memberikan materi
baik secara teoritik maupun Praktik.
3. Teman teman yang telah banyak membantu baik secara langsung maupun tidak
langsung dalam penyelesaian makalah ini tepat pada waktunya.

Penulis sadari bahwa dalam laporan ini masih banyak terdapat kejanggalan dan
kekurangan baik dalam segi penulisan maupun penempatan kata-kata, untuk itu penulis
mohon masukan yang sifatnya membangun agar bisa memperbaiki penulisan
penulisan makalah maupun laporan yang akan datang.

Jember, 5 Mei 2010

Penulis
DAFTAR ISI

PRAKATA ............................................................................................................i
DAFTAR ISI ............................................................................................................ii
BAB I. PENDAHULUAN .........................................................................................1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................................1
1.2 Tujuan...................................................................................................................3

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................................4


2.1 Mengenal Ikan Nila...............................................................................................4
2.2 Mengenal Cumi-cumi............................................................................................5
2.3 Udang Vaname......................................................................................................9
2.4 Kandungan Protein Daging12
2.5 Kadar Air13
2.6 pH13

BAB III. METODOLOGI ........................................................................................17


3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum ...........................................................17
3.2 Alat dan Bahan......................................................................................................17
3.3 Prosedur Kerja ......................................................................................................18

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...................................................................21


4.1 Hasil .....................................................................................................................21
4.2 Pembahasan ..........................................................................................................23

BAB V. PENUTUP....................................................................................................25
REFERENSI .............................................................................................................26
BAB I. PENDAHUULUAN

1.1 Latar Belakang


Protein (akar kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling utama")
adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang merupakan polimer
dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan
peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan kadang
kala sulfur serta fosfor. Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel
makhluk hidup dan virus.
Kebanyakan protein merupakan enzim atau subunit enzim. Jenis protein lain
berperan dalam fungsi struktural atau mekanis, seperti misalnya protein yang
membentuk batang dan sendi sitoskeleton. Protein terlibat dalam sistem kekebalan
(imun) sebagai antibodi, sistem kendali dalam bentuk hormon, sebagai komponen
penyimpanan (dalam biji) dan juga dalam transportasi hara. Sebagai salah satu sumber
gizi, protein berperan sebagai sumber asam amino bagi organisme yang tidak mampu
membentuk asam amino tersebut (heterotrof).
Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipid,
dan polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup. Selain itu, protein
merupakan salah satu molekul yang paling banyak diteliti dalam biokimia. Protein
ditemukan oleh Jöns Jakob Berzelius pada tahun 1838.
Biosintesis protein alami sama dengan ekspresi genetik. Kode genetik yang
dibawa DNA ditranskripsi menjadi RNA, yang berperan sebagai cetakan bagi translasi
yang dilakukan ribosom. Sampai tahap ini, protein masih "mentah", hanya tersusun dari
asam amino proteinogenik. Melalui mekanisme pascatranslasi, terbentuklah protein
yang memiliki fungsi penuh secara biologi.
Sekitar 50 % dari kebutuhan kalori yang diperlukan oleh ikan berasal dari protein.
Bahan ini berfungsi untuk membangun otot, sel-sel, dan jaringan tubuh, terutama bagi
ikan-ikan muda. Kebutuhan protein sendiri bervariasi tergantung pada jenis ikannya.
Meskipun demikian, protein adalah unsur kunci yang diperlukan untuk pertumbuhan
dan kesehatan pada seluruh jenis ikan. Pada umumnya kebutuhan ikan terhadap protein
dapat digolongkan secara garis besar sebagai berikut : 15 30 % dari total pakan bagi
ikan-ikan herbivora, dan 45% bagi ikan karnivora. Sedangkan untuk ikan-ikan muda
diperlukan diet dengan kandungan protein 50 %.
Kata pH berasal dari singkatan pondus Hydrogenii atau potentia
Hydrogenii (bahasa Latin), pondus artinya berat; potentia artinya kekuatan atau potensi,
sedangkan hydrogenium artinya hidrogen.
Nilai pH adalah log negatif dari konsentrasi ion H. Jika suatu zat melepaskan ion
H+ ke dalam cairan akan meningkatkan konsentrasi ion H+ cairan tersebut maka disebut
sebagai asam, serta memiliki nilai pH di bawah 7,0. Sebaliknya, jika menarik ion H+
maka disebut basa, yang memiliki nilai pH di atas 7,0. Nilai pH 7,0 dikatakan sebagai
pH netral. Skala nilai pH antara 0 dan 14.
Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang
dinyatakan dalam persen. Kadar air juga salah satu karakteristik yang sangat penting
pada bahan pangan, karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, dan citarasa
pada bahan pangan.
Penyusun utama pada ikan yaitu protein , lemak, vitamin & mineral dan air, dari
beberapa penyusun daging ikan maupun daging lainnya kandungan penyusun yang palin
banyak yaitu air sekitar 70 % dari total tubuh ikan, sehingga apabila ikan telah mati
gampan sekali ikan tersebut menjadi busuk karena bakteri pengurai sangat suka sama
media yang agak basah, indikator yang paling berperan untuk mengukur kualitas daging
ikan yaitu pH semakin rendah pH maka kerusakan ikan semakin tinggih atau parah.
1.2 Tujuan
Ø Mahasiswa di harapkan mampu menganalisis kandungan kimia pada daging ikan
Ø Mahasiswa mampu menginterprestasikan hasil analisa pada pada permasalahan
mutu protein ikan segar
Ø Mahasiswa dapat mengetahui kandungan kimia pada beberapa komoditas perikanan
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mengenal Ikan Nila


Ikan Nila adalah sejenis ikan konsumsi air tawar. Ikan ini diintroduksi dari
Afrika pada tahun 1969, dan kini menjadi ikan peliharaan yang populer di kolam-kolam
air tawar dan di beberapa waduk di Indonesia.
Nama ilmiah ikan nila adalah Oreochromis niloticus, dan dalam bahasa Inggris
dikenal sebagai Nile Tilapia. Termasuk ikan peliharaan yang berukuran sedang, panjang
total (moncong hingga ujung ekor) mencapai sekitar 30 cm. Sirip punggung (dorsal)
dengan 16-17 duri (tajam) dan 11-15 jari-jari (duri lunak); dan sirip dubur (anal) dengan
3 duri dan 8-11 jari-jari.
Tubuh ikan nila berwarna kehitaman atau keabuan, dengan beberapa pita gelap
melintang (belang) yang makin mengabur pada ikan dewasa. Ekor bergaris-garis tegak,
7-12 buah. Tenggorokan, sirip dada, sirip perut, sirip ekor dan ujung sirip punggung
dengan warna merah atau kemerahan (atau kekuningan) ketika musim berbiak.
Ikan nila dilaporkan sebagai pemakan segala (omnivora), pemakan plankton,
sampai pemakan aneka tumbuhan sehingga ikan ini diperkirakan dapat dimanfaatkan
sebagai pengendali gulma air.
Ikan ini sangat peridi, mudah berbiak. Secara alami, ikan nila (dari perkataan
Nile, Sungai Nil) ditemukan mulai dari Syria di utara hingga Afrika timur sampai ke
Kongo dan Liberia. Pemeliharaan ikan ini diyakini pula telah berlangsung semenjak
peradaban Mesir purba.
Ikan nila bisa hidup di perairan air tawar hampir di seluruh Indonesia. Jenis ikan
ini sebenarnya bukan satwa asli Indonesia. Habitat aslinya adalah Sungai Nil di Mesir.
Ikan ini kemudian didatangkan oleh Pemerintah Indonesia sejak tahun 1969 dari
Taiwan.
Jenis ikan ini tergolong hewan omnivora (pemakan segala), jadi bisa diberi
pakan apa saja asalkan sesuai dengan besar mulutnya, misalnya udang, kerang kecil,
atau pelet. Selain itu, karena ikan ini juga memiliki toleransi lingkungan yang cukup
besar, sehingga pembudidayaannya sangat mudah.
Ikan nila cenderung senang hidup di air hangat bersuhu sekitar 28 derajat
celsius. Ikan ini juga menyenangi kondisi air yang sedikit mengandung basa dengan
kisaran pH antara 7,0 dan 8,0. Sebaiknya, air tidak boleh tercemar bahan kimia beracun,
kandungan oksigen di dalam air minimal 4 mg/liter, serta kandungan karbon dioksida
maksimal 5 mg/liter. Ikan ini biasanya dipelihara di kolam air tenang.
Karena mudahnya dipelihara dan dibiakkan, ikan ini segera diternakkan di
banyak negara sebagai ikan konsumsi, termasuk di pelbagai daerah di Indonesia. Akan
tetapi mengingat rasa dagingnya yang tidak istimewa, ikan nila juga tidak pernah
mencapai harga yang tinggi. Di samping dijual dalam keadaan segar, daging ikan sering
pula dijadikan fillet.
Ikan nila berkerabat dekat dengan mujair (Oreochromis mossambicus). Dan
sebagaimana kerabatnya itu pula, ikan ini memiliki potensi sebagai ikan yang invasif
apabila terlepas ke badan-badan air alami.
Ikan nila dan mujair merupakan sumber protein hewani murah bagi konsumsi
manusia. Karena budidayanya mudah, harga jualnya juga rendah. Budidaya dilakukan
di kolam-kolam atau tangki pembesaran. Pada budidaya intensif, nila dan mujair tidak
dianjurkan dicampur dengan ikan lain karena memiliki perilaku agresif.
Nilai kurang bagi ikan ini sebagai bahan konsumsi adalah kandungan asam
lemak omega-6 tinggi, sementara asam lemak omega-3 yang rendah. Komposisi ini
kurang baik bagi mereka yang memiliki penyakit yang berkait dengan peredaran darah.

2.2 Mengenal Cumi-cumi


Cumi-cumi termasuk hewan tak bertulang belakang yang tidak mempunyai
tulang pada tubuhnya, meskipun disebut ikan. Mereka mempunyai kemampuan yang
luar biasa untuk bergerak lihai karena adanya sistem yang sangat menarik. Tubuh
lunaknya diselimuti oleh lapisan pelindung tebal yang di bawahnya air dalam jumlah
besar disedot dan disemburkan oleh otot-otot yang kuat, sehingga memungkinkannya
bergerak mundur.
Lapisan tipis kulit yang menutupi lengan dan tubuh makin membantu sistem
berenang reaksi pada cumi-cumi. Cumi-cumi mengapung dalam air dengan cara
melambai-lambaikan selaput berbentuk menyerupai tirai ini. Lengannya, di pihak lain,
berguna menyeimbangkan tubuh selama mengambang. Lengan-lengan juga berguna
mengerem untuk menghentikan laju. Sistem berenang reaksi gurita dan cumi-cumi
ternyata bekerja dengan cara dasar yang mirip dengan pesawat jet. Melalui penelitian
lebih dekat, jelaslah bahwa sistem otot mereka telah dirancang dengan cara yang paling
cocok untuk mereka. Oleh karena itu, tentu saja tidak masuk akal jika menganggap
bahwa bentuk rumit seperti ini telah terbentuk melalui kebetulan demi kebetulan.
Cara kerja tubuhnya itu sangatlah rumit. Pada kedua sisi kepala hewan ini
terdapat lubang yang menyerupai kantung. Air disedot masuk melalui lubang ini menuju
suatu rongga berbentuk tabung di dalam tubuhnya. Kemudian ia menyemprotkan air
tersebut keluar dari pipa sempit tepat di bawah kepalanya dengan tekanan tinggi,
sehingga dengannya ia mampu bergerak cepat ke arah yang berlawanan akibat gaya
reaksi. Cara berenang seperti ini sangat cocok dalam hal kecepatan maupun
ketahanannya. Cumi-cumi Jepang, yang bernama Todarodes pacificus, ketika berpindah
tempat sejauh 1250 mil (2000 kilometer) melaju sekitar 1,3 mil per jam (2
kilometer/jam). Untuk jarak pendek, ia dapat melaju hingga 7 mil per jam (11
kilometer/jam). Beberapa jenis diketahui melebihi 19 mil per jam (30 kilometer/jam).
Seekor sumi-cumi dapat menghindar dari pemangsanya dengan gerak sangat
cepat karena pengerutan otot yang cepat ini. Ketika kecepatannya saja tidak cukup
untuk melindungi dirinya, mereka menyemprotkan tinta pekat dan berwarna gelap yang
diolah di dalam tubuhnya. Tinta ini mengejutkan pemangsa beberapa detik, yang
biasanya cukup bagi cumi-cumi untuk melarikan diri. Ikan-ikan yang tak diketahuinya
di belakang gumpalan tinta tersebut segera menghindari wilayah ini.
Sistem pertahanan dan gaya berenang reaksi pada cumi-cumi juga berguna bagi
mereka selama berburu. Mereka dapat menyerang dan mengejar mangsanya dengan
kecepatan tinggi. Sistem saraf yang begitu rumit mengatur pengerutan dan pengenduran
yang dibutuhkan untuk gaya renang reaksinya. Oleh karenanya, sistem pernapasan
mereka juga sempurna, yang menghasilkan metabolisme tubuh yang tinggi yang
diperlukan untuk semburan air berkecepatan tingginya. Cumi-cumi bukanlah satu-
satunya hewan yang berenang dengan mengunakan sistem reaksi. Gurita juga
menggunakan sistem yang sama. Meskipun demikian, gurita bukanlah perenang yang
aktif, mereka banyak menghabiskan sebagian besar waktunya dengan berkeliling
melintasi karang dan jurang di lautan dalam.
Kulit bagian dalam seekor gurita terdiri atas banyak lapisan otot yang saling
bertumpuk. Otot tersebut meliputi tiga jenis otot berbeda yang disebut otot membujur
(longitudinal), melingkar (sirkular), dan jari-jari (radial).
Ketika menyemburkan air keluar, otot-otot jenis melingkar menegang dengan
cara memanjang. Namun, karena mempunyai kecenderungan mempertahankan
volumenya, lebarnya meningkat, yang biasanya akan memanjangkan tubuhnya.
Sementara itu, otot-otot bujur yang meregang mencegah pemanjangan ini. Otot-otot
jari-jari tetap meregang selama kejadian ini yang menyebabkan selubung pelindung
menebal. Setelah semburan air yang amat cepat, otot-otot jari-jari mengerut dan
menyusutkan panjangnya, yang menyebabkan selubung kembali menipis, dan rongga
selubung terisi air kembali.
Sistem otot pada cumi-cumi hampir serupa dengan yang dimiliki gurita. Tetapi
ada satu perbedaan penting: cumi-cumi memiliki lapisan urat otot (tendon) yang disebut
jubah, sebagai pengganti otot bujur yang terdapat pada gurita. Jubah ini terdiri atas dua
lapisan yang menutupi bagian dalam dan luar tubuhnya, seperti halnya otot-otot bujur.
Di antara kedua lapisan tersebut terdapat otot-otot melingkar. Otot-otot jari-jari terletak
di antara keduanya, dalam arah tegak lurus.

2.2.1 Pernapasan
Ketika cumi-cumi membutuhkan banyak energi untuk bergerak secepat yang
mereka lakukan, mereka mempunyai tiga jantung. Cumi-cumi berdarah biru. Dua dari
jantung mereka berlokasi dekat dengan masing-masing insangnya. Hal ini, mereka dapat
memompa oksigen ke bagian tubuh yang beristirahat dengan mudah. Cumi-cumi
memiliki pokok sistem pernafasan senyawa tembaga. Hal ini berbeda dengan manusia
dimana manusia mempunyai pokok sistem pernafasan senyawa besi. Jika terlalu
tertutup pada permukaan dimana terdapat air panas, cumi-cumi dapat mati dengan
mudah karena mati lemas.
2.2.2 Habitat
Kemungkinan hidup di air dalam selama musim dingin, tetapi sekitar bulan Mei
dia memasuki air dangkal untuk menetaskan telurnya.

2.2.3 Pencernaan
Cumi-cumi adalah carnivora. Ini berarti pemakan daging. Tentacel yang lebih
panjang menangkap mangsa. Cumi-cumi menarik makanan itu dengan tentacel yang
lebih pendek ketika makanan itu terenggut dengan kekuatan seperti paruh bebek.
Kemudian radula membenturkan makanan turun ke kerongkongan sehingga akan turun
ke perut untuk di cerna. Radula adalah pita tanduk pada lidah.

2.2.4 Reproduksi
Cumi-cumi berproduksi secara sexual. Cumi-cumi betina mengeluarkan banyak
benang telur ke dalam air. Cumi-cumi jantan mengeluarkan sperma. Beberapa spesies
telah dikembangkan untuk menaruh perma di atau dalam cumi-cumi betina. Ini selalu
menjadi misteri ilmu pengetahuan bagaimana telur-telur cumi-cumi didapat terbuahi.
Di bawah kulit cumi-cumi tersusun sebuah lapisan padat kantung-kantung
pewarna lentur yang disebut kromatofora. Dengan menggunakan lapisan ini, cumi-cumi
dapat mengubah penampakan warna kulitnya, yang tidak hanya membantu dalam
penyamaran akan tetapi juga sebagai sarana komunikasi. Misalnya, seekor cumi-cumi
jantan menunjukkan warna yang berbeda ketika kawin dengan warna yang digunakan
ketika berkelahi dengan seekor penantang.
Saat cumi-cumi jantan bercumbu dengan cumi-cumi betina, kulitnya berwarna
kebiruan. Jika jantan lain datang mendekat pada waktu ini, ia menampakkan warna
kemerahan pada separuh tubuhnya yang terlihat oleh jantan yang datang itu. Merah
adalah warna peringatan yang digunakan saat menantang atau melakukan serangan.
Terdapat pula rancangan sempurna pada sistem perkembangbiakan cumi-cumi.
Telurnya memiliki permukaan lengket yang memungkinkannya menempel pada rongga-
rongga di kedalaman lautan. Janin ini memakan sari makanan yang telah tersedia dalam
telur hingga siap menetas. Janin ini memecah selubung telur dengan cabang kecil mirip
sikat pada bagian ekornya. Alat ini segera hilang setelah telur menetas. Setiap seluk
beluknya telah dirancang dan bekerja sebagaimana direncanakan.

2.2.5 Peranan
Cumi-cumi adalah kebutuhan ekonomi, karena mereka digunakan sebagai
makanan, dan sebagai umpan pada jaring ikan. Mereka menjadi makanan ikan kecil,
Crustacea dan cumi-cumi yang lain dan dalam perlengkapan lingkaran makanan ikan
lain yang besar.

2.2.6 Cara Makan


Cumi-cumi sangat terbantu selama berburu dengan adanya alat peraba (tentakel)
pada mulutnya. Tentakel yang seperti cambuk ini biasanya tetap tergulung dalam
kantung yang terletak di bawah lengan-lengannya. Ketika menemukan mangsa, cumi-
cumi menjulurkan tentakel untuk menyergapnya. Makhluk ini bergantung pada lengan-
lengannya (keseluruhan berjumlah delapan) yang telah dirancang dengan tepat. Ia
mampu dengan mudah mencabik-cabik seekor kepiting menjadi serpihan kecil dengan
menggunakan paruhnya. Cumi-cumi menggunakan paruhnya dengan begitu terampil
sehingga mampu dengan baik melubangi kulit cangkang kepiting dan mengeluarkan
dagingnya dengan lidah.

2.3 Udang Vaname


Udang adalah binatang yang hidup di perairan, khususnya sungai maupun laut
atau danau. Udang dapat ditemukan di hampir semua genangan air yang berukuran
besar baik air tawar, air payau, maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat
permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan. Udang biasa dijadikan
makanan laut (seafood).
Salah satu jenis udang yang biasanya dibudidayakan dalam tambak adalah jenis
udang vaname (Litopenaues vannamei) atau biasanya disebut udang panami, merupakan
solusi alternatif dalam memperkaya dan menambah produksi udang budidaya.
Meskipun udang vannamei merupakan udang asli dari belahan bumi lain yaitu dari
bagian barat pantai Amerika Latin, mulai dari Peru di sebelah selatan, hingga Meksiko,
di sebelah utara, udang ini dapat dibudidayakan di daerah tropis, seperti Indonesia.

3.2.1 Klasifikasi udang.


Penggolongan Udang Vannamei secara lengkap berdasarkan ilmu taksonomi
dalam tulisan Tim Karya Tani Mandiri (2009) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Mandibulata
Kelas : Custacea
Sub Kelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Subordo : Dendrobranchiata
Family : Panaeidae
Genus : Penaeus
Sub Genus : Litopenaeus
Species : Litopanaeus vannamei

2.3.2 Anatomi
Secara umum tubuh udang vannamei terbagi menjadi 2 bagian besar, yaitu
chepalotorax yang terdiri kepala dan abdomen yang terdiri dari perut hingga ekor.
Udang vannamei dapat dibedakan dengan jenis lainnya dari bentuk dan jumlah gigi
pada restrumnya. Udang vannamei memiliki 2 gigi pada tepi rostrum bagian ventral dan
8-9 gigi pada tepi rotrum bagian dorsal (Dahuri, R. 2004).
2.3.3 Habitat
Udang vannamei hidup di laut. Udang ini memiliki toleransi salinitas yang lebar
yaitu dari 2-40 ppt, tapi akan tumbuh cepat pada salinitas yang lebih rendah. Rasa udang
dapat dipengaruhi oleh tingkat asam amino bebas yang tinggi dalam ototnya sehingga
menghasilkan rasa yang lebih manis. Selama proses post-panen hanya air dengan
salinitas tinggi yang dipakai untuk mempertahankan rasa manis udang tersebut (Wyban
et al, 1991).
Temperatur juga memiliki pengaruh yang besar pada pertumbuhan udang. Pada
udang vannamei akan mati jika terpapar pada air dengan suhu 15º C atau diatas 33 º C
selama 24 jam atau lebih. Stress sub letal dapat terjadi pada 15-20 º C dan 30-33º C.
Temperatur yang cocok bagi pertumbuhan udang vannamei adalah 23-30º C. Pengaruh
temperatur pada pertumbuhan udang vannamei adalah pada spesifitas tahap dan ukuran.
Udang muda dapat tumbuh dengan baik dalam air dengan temperatur hangat, tapi
semakin besar udang tersebut temperatur optimum air akan menurun (Wyban et al,
1991).

2.3.4 Siklus hidup


Udang biasa kawin di daerah lepas pantai yang dangkal. Proses kawin udang
meliputi pemindahan spermatophore dari udang jantan ke udang betina. Peneluran
bertempat pada daerah lepas pantai yang lebih dalam. Telur-telur dikeluarkan dan
difertilisasi secara eksternal di dalam air. Seekor udang betina mampu menghasilkan
setengah sampai satu juta telur setiap bertelur. Dalam waktu 13-14 jam, telur kecil
tersebut berkembang menjadi larva berukuran mikroskopik yang disebut naupli/
nauplius (Perry, 2008). Tahap nauplii tersebut memakan kuning telur yang tersimpan
dalam tubuhnya lalu mengalami metamorfosis menjadi zoea. Tahap kedua ini memakan
alga dan setelah beberapa hari bermetamorfosis lagi menjadi mysis. Mysis terlihat
seperti udang kecil dan memakan alga dan zooplankton. Setelah 3 sampai 4 hari, mysis
mengalami metamorfosis menjadi postlarva. Tahap postlarva adalah tahap saat udang
sudah mulai memiliki karakteristik udang dewasa.
Keseluruhan proses dari tahap nauplii sampai postlarva membutuhkan waktu
sekitar 12 hari. Di habitat alaminya, postlarva akan migrasi menuju estuarin yang kaya
nutrisi dan bersalinitas rendah. Mereka tumbuh di sana dan akan kembali ke laut terbuka
saat dewasa. Udang dewasa adalah hewan bentik yang hidup di dasar laut.

2.4 Kandungan Protein Daging


Dalam pemilihan bahan pangan protein kitata memperhatikan tinggi rendahnya
kandungan protein, diantara bahan pangan hewani juga terdapat keragaman dalam
kandungan protein daging ternak rata-rata mengandung 18% protein. Sedangkan dalam
kelompok bahan panga ikan seperti udang 21%, bandeng 20%, ikan mas 16%, belut
14%, kerang 8%. (Ulfa Nazmi, 20009)
Umumnya protein dari bahan pangan hewani lebih tingi mutunya dari protein
nabati. Bahan pangan hewani itu karena mutunya lebih aman dapat dimakan ttersendiri.
hanya pada umumnya bahan pangan hewani lebih mahal harganya dari bahan pangan
nabati.
Ikan sebagai makanan protein yang tinggi. Kalau dalam menu sehari-hari kita
menghidangkan ikan, maka kita memberikan sumbangan protein yang tinggi pada
jaringan tubuh. Absorpsi protein ikan lebih tingggi dari daging sapi, ayam dan lain
sebagainya. karena daging ikan mempunyai serat-serat protein yanng lebih pendek
daripada serat-serat protein daging sapi atau ayam.(Sajogyo,2000).

2.4.1 Fungsi Utama Rotein bagi Tubuh


Protein tubuh berada dalam keadaan dinamis yang konstan secara bergantian di
pecah-pecah: sekitar 3% protein tubuh diganti setiap hari, dinding usus kecil yang
diganti setiap hari 4-6 hari memerlukan sintesis protein sebanyak 70 gr perhari,
untungnya tubuh sangat efisien dalam menghemat dan mengggunakan kembali asam
amino hasil pemecahan jaringanuntuk memmbentuk kembali jaringan yang sama atau
jaringan yang lain.
2.4.2 Kebutuhan Protein
Kebutuhan protein perorangan tergantung pada laju pertumbuhan dan berat badan.
orang dewasa memerlukan kira-kira 1 gr protein untuk setiap kilogram berat badan.
selama priode pertumbuhan lebih banyak proteindi perlukan secara propesional
misalnya untuk anak-anak usia 5-6 tahun dibutuhkan kira-kira 2 gram protein untuk
setiap kilogram berat.(Ulfa Nazmi, 20009)
Sehabis sakit atau setelah menjalani operasi, tubuh kehilangan sejumlah protein,
misalnya retaknya tulang paha menyebabkan tubuh kehilangan kira-kira 800gr protein
(Gaman, 1998).

2.5 Kadar Air


Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang
dinyatakan dalam persen. Kadar air juga salah satu karakteristik yang sangat penting
pada bahan pangan, karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, dan citarasa
pada bahan pangan. Kadar air dalam bahan pangan ikut menentukan kesegaran dan daya
awet bahan pangan tersebut, kadar air yang tinggi mengakibatkan mudahnya bakteri,
kapang, dan khamir untuk berkembang biak, sehingga akan terjadi perubahan pada
bahan pangan (Rizky Wiryadi, 2007).
Hampir keseluruhan bagian ikan mengandung banyak air sehingga merupakan
media yang cocok bagi pertumbuhan bakteri pebususuk terutama dari jenis bakteri
Protiase. Dengan mengurangi kadar air, di dalam tubuh ikan maka aktivitas bakteri akan
terhambat sehingga proses pebusukan dapat di cegah. (Ulfa Nazmi. 2009).

2.6 pH
Nilai pH adalah log negatif dari konsentrasi ion H. Jika suatu zat melepaskan ion
H+ ke dalam cairan akan meningkatkan konsentrasi ion H+ cairan tersebut maka disebut
sebagai asam, serta memiliki nilai pH di bawah 7,0. Sebaliknya, jika menarik ion H+
maka disebut basa, yang memiliki nilai pH di atas 7,0. Nilai pH 7,0 dikatakan sebagai
pH netral. Skala nilai pH antara 0 dan 14.
Kata pH berasal dari singkatan pondus Hydrogenii atau potentia
Hydrogenii (bahasa Latin), pondus artinya berat; potentia artinya kekuatan atau potensi,
sedangkan hydrogenium artinya hidrogen.
Nilai pH merupakan salah satu criteria dalam penentuan kualitas daging, setelah
hewan mati hewan, maka terjadilah proses biokimiawi yang sangat kompleks di dalam
jaringan otot dan jaringan lainnya sebagai konsekuen tidak adanya aliran darah ke
jaringan tersebut, karena terhentinya pompa jantung. Salah satu proses yang terjadi dan
merupakan proses yang dominan dalam jaringan otot setelah kematian (36 jam pertama
setelah kematian atau postmortem) adalah proses glikolisis anaerob atau glikolisis
postmortem. Dalam glikolisis anaerob ini, selain dihasilkan energi (ATP) maka
dihasilkan juga asam laktat. Asam laktat tersebut akan terakumulasi di dalam jaringan
dan mengakibatkan penurunan nilai pH jaringan otot.
Nilai pH otot (otot bergaris melintang atau otot skeletal atau yang disebut daging)
saat hewan hidup sekitar 7,0-7,2 (pH netral). Setelah hewan disembelih (mati), nilai pH
dalam otot (pH daging) akan menurun akibat adanya akumulasi asam laktat. Penurunan
nilai pH pada otot hewan yang sehat dan ditangani dengan baik sebelum hewan mati
akan berjalan secara bertahap, yaitu dari nilai pH sekitar 7,0-7,2 akan mencapai nilai
pH menurun secara bertahap dari 7,0 sampai 5,6 5,7 dalam waktu 6-8 jam postmortem
dan akan mencapai nilai pH akhir sekitar 5,5-5,6. Nilai pH akhir (ultimate pH value)
adalah nilai pH terendah yang dicapai pada otot setelah hewan mati (kematian). Nilai
pH daging tidak akan pernah mencapai nilai di bawah 5,3. Hal ini disebabkan karena
pada nilai pH di bawah 5,3 enzim-enzim yang terlibat dalam glikolisis anaerob tidak
aktif berkerja.
Penurunan nilai pH yang bertahap dalam daging dan relatif konstan disebabkan
adanyan zat-zat buffer di dalam daging yang berperan dalam melepas dan menangkap
ion H+ dalam daging. Zat buffer dalam daging antara lain garam-garam dari senyawa
asam laktat dan protein daging.
Secara umum, pola penurunan nilai pH otot ada 3 (tiga), yaitu pola penurunan
nilai pH normal seperti yang dijelaskan di atas. Pola penurunan pH yang lain adalah
pola dark firm and dry (DFD) dan pola pale soft and exudative (PSE). Pola penurunan
nilai pH normal dapat dikatakan sebagai penurunan nilai pH yang lambat, nilai pH PSE
dikatakan sebagai pola penuruan pH yang cepat, sedangkan nilai pH DFD dikatakan
sebagai pola penurunan yang lambat dan tidak lengkap.
Pada pola nilai pH DFD, nilai pH menurun sedikit sekali pada jam-jam pertama
setelah hewan mati dan tetap relatif tinggi; mencapai pH akhir sekitar 6,5-6,8 atau nilai
pH akhir dicapai di atas 6,2. Sedangkan pola nilai pH PSE, nilai pH menurun relatif
cepat sampai sekitar 5,4-5,5 pada jam-jam pertama setelah hewan mati dan mencapai
nilai pH akhir 5,3 5,6.
Berdasarkan bahasan di atas, nilai pH umumnya diukur dua kali di RPH, yaitu 1
jam setelah hewan mati (kematian) atau disebut nilai pH1 dan 24 atau 36 jam setelah
hewan mati atau disebut nilai pH akhir (nilai pHultimate). Sebagai pedoman dapat
dikatakan bahwa jika pada pengukuran nilai pH1 sudah di bawah 6,5 maka dapat
dinyatakan sebagai daging PSE, namun jika di atas 6,5 maka belum dapat dipastikan
apakah penurunan nilai pH yang normal atau DFD. Nilai pH DFD baru dapat
dipastikan pada pengukuran nilai pH akhir, yaitu jika nilai pH akhir tetap di atas 6,2
maka dikategorikan daging DFD.
Kualitas daging dengan penurunan nilai pH PSE (daging PSE) dan DFD (daging
DFD) dikategorikan buruk, bahkan di beberapa negara dinyatakan sebagai tidak layak
dikonsumsi manusia atau unsuitable for human consumption, sehingga diolah menjadi
pakan hewan (feed). Daging PSE ditandai dengan warna daging yang pucat (pale),
lembek (soft) dan basah pada permukaan (exudative), sedangkan daging DFD ditandai
dengan daging yang berwarna gelap (dark), kompak (firm) dan kering (dry). Kejadian
daging PSE sering terdapat pada karkas babi (5-20%) dan daging ayam, sedangkan
daging DFD sering terjadi pada karkas sapi, khususnya sapi jantan yang tidak dikastrasi
(bull). Penyebab terjadinya kedua pola penurunan nilai pH daging tersebut adalah
hewan mati hewan yang stress, sakit, kurang istirahat, atau banyaknya gerakan/ rontaan
sesaat hewan disembelih.
Pengukuran nilai pH setelah 36 jam tidak lagi bermanfaat untuk menilai kualitas
daging dan tidak dapat dipakai untuk menentukan daging busuk (apalagi tidak diketahui
waktu setelah kematian)atau daging bangkai.
Salah satu pengukuran yang sangat penting dalam berbagai cairan proses (industri,
farmasi, manufaktur, produksi makanan dan sebagainya) adalah pH, yaitu pengukuran
ion hidrogen dalam suatu larutan. Larutan dengan harga pH rendah dinamakan asam
sedangkan yang harga pH-nya tinggi dinamakan basa . Skala pH terentang dari 0
(asam kuat) sampai 14 (basa kuat) dengan 7 adalah harga tengah mewakili air murni
(Netral)

Gambar 1. Skala pada pH Meter

pH larutan dapat diukur dengan beberapa cara. Secara kualitatif pH dapat


diperkirakan dengan kertas Lakmus (Litmus) atau suatu indikator (kertas indikator pH).
Seraca kuantitatif pengukuran pH dapat digunakan elektroda potensiometrik. Elektroda
ini memonitor perubahan voltase yang disebabkan oleh perubahan aktifitas ion hidrogen
(H+) dalam larutan. Elektroda potensiometrik sederhana untuk tipe ini seperti gambar 4-
10. Nilai pH daging umumnya diukur dengan metode elektrometrik menggunakan alat
pH-meter. Elektrode pH meter yang baik digunakan adalah elektrode tusuk yang juga
terintegrasi untuk mengukur suhu daging. Suhu daging akan mempengaruhi nilai pH
daging. Perlu diperhatikan bahwa pH meter harus dikalibrasi terlebih dahulu sebelum
digunakan untuk mengukur nilai pH daging.
Bagian karkas untuk mengukur nilai pH daging di RPH adalah otot mata rusuk
(Musculus longissimus dorsi antara rusuk ke-12 dan ke-13 atau ke-13 dan ke-14) atau
otot paha (Musculus gluteus).
BAB III. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Waktu dan tempat Praktikum mata kuliah Penanganan Pasca Panen dengan judul
Analisis kandungan kimia (kadar protein, kadar air, kadar pH), pada beberapa
komoditas perikanan dilaksanakan pada Hari Kamis, 29 April 2010. Praktikum ini
dilakukan di Laboratorium Analisis Politeknik Negeri Jember.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Alat Analisis Kadar Alat Analisis Kadar Alat Analisis pH
Air Protein
a. Nampan plastic a. Nampan plastic a. Nampan plastic
b. Telanan b. Telanan b. Telanan
c. Pisau c. Pisau c. Pisau
d. Sendok d. Lumpang dan alu d. Lumpang dan alu
e. Moisture meter e. Sendok e. Sendok
f. Timbangan f. Timbangan
g. Labu ukur g. Labu ukur
h. Erlenmeyer h. Erlenmeyer
i. Corong i. pH paper
j. Kertas saring
k. Buret
l. Penyangga buret
m. Pipet
n. Ball pipet

3.2.2 Bahan
Alat Analisis Kadar Alat Analisis Kadar Alat Analisis pH
Air Protein
a.Daging ikan nila a.Daging ikan nila gerus a. Daging ikan nila
cincang b.Daging cumi-cumi gerus gerus
b.Daging cumi-cumi c.Daging udang gerus b.Daging cumi-cumi
cincang d.Aquades gerus
c.Daging udang cincang e.Asam oksalat (H2C2O4) c. Daging udang gerus
f. Penolpthalen/PP d.Aquades
g.NaOH dan Formaldehid
3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Pengukuran Kadar Protein
a. Ikan Nila
1. Geruslah bahan yang akan ditimbang
2. Timbanglah bahan dengan menggunakan timbangan digital sebanyak + 5 gram.
3. Buatlah larutan untuk masing-masing bahan untuk melakukan pengukuran kadar
protein
4. Bahan yang telah digerus dan ditimbang, dimasukkan ke dalam tabung
enlemeyer ukuran 250 ml, masukkan akudes sebanyak 100 ml ke dalam tabung
tersebut.
5. Aduk hingga larutan menjadi homogen.
6. Setelah homogen, tambahkan larutan NaOH sebanyak 17 ml. Aduk kembali
larutan hingga menjadi homogen.
7. Kemudian titrasi larutan tersebut hingga warnanya menjadi merah jambu. Bahan
yang digunakan untuk titrasi adalah oxalat jenuh (H2C2O4) sebanyak 0,4 ml,
tambahkan kembali Phenolphthalein Solution (1%) sebanyak 1 ml, tambahkan
formalin 2 ml. (warna larutan akan berubah menjadi putih).
8. Kemudian titrasi kembali. Tambahkan NaOH 2,1 ml. Warna larutan akan
berubah menjadi merah muda.

b. Udang
1. Geruslah bahan yang akan ditimbang
2. Timbanglah bahan dengan menggunakan timbangan digital sebanyak + 5 gram.
3. Buatlah larutan untuk masing-masing bahan untuk melakukan pengukuran kadar
protein
4. Bahan yang telah digerus dan ditimbang, dimasukkan ke dalam tabung
enlemeyer ukuran 250 ml, masukkan akudes sebanyak 100 ml ke dalam tabung
tersebut.
5. Aduk hingga larutan menjadi homogen.
6. Setelah homogen, tambahkan larutan NaOH sebanyak 0,3 ml. Aduk kembali
larutan hingga menjadi homogen.
7. Kemudian titrasi larutan tersebut hingga warnanya menjadi merah jambu. Bahan
yang digunakan untuk titrasi adalah oxalat jenuh (H2C2O4) sebanyak 0,4 ml,
tambahkan kembali Phenolphthalein Solution (1%) sebanyak 1 ml, tambahkan
formalin 2 ml. (warna larutan akan berubah menjadi putih).
8. Kemudian titrasi kembali. Tambahkan NaOH 2,6 ml. Warna larutan akan
berubah menjadi merah muda.

c. Cumi-Cumi
1. Geruslah bahan yang akan ditimbang
2. Timbanglah bahan dengan menggunakan timbangan digital sebanyak + 5 gram.
3. Buatlah larutan untuk masing-masing bahan untuk melakukan pengukuran kadar
protein
4. Bahan yang telah digerus dan ditimbang, dimasukkan ke dalam tabung
enlemeyer ukuran 250 ml, masukkan akudes sebanyak 100 ml ke dalam tabung
tersebut.
5. Aduk hingga larutan menjadi homogen.
6. Setelah homogen, tambahkan larutan NaOH sebanyak 0,2 ml. Aduk kembali
larutan hingga menjadi homogen.
7. Kemudian titrasi larutan tersebut hingga warnanya menjadi merah jambu. Bahan
yang digunakan untuk titrasi adalah oxalat jenuh (H2C2O4) sebanyak 0,4 ml,
tambahkan kembali Phenolphthalein Solution (1%) sebanyak 1 ml, tambahkan
formalin 2 ml. (warna larutan akan berubah menjadi putih).
8. Kemudian titrasi kembali. Tambahkan NaOH 2,0 ml. Warna larutan akan
berubah menjadi merah muda.

3.3.2 Pengukuran Keasaman (pH)


Semua Bahan
1. Gerus atau cincang halus bahan sebelum ditimbang
2. Timbanglah bahan sebanyak + 25 gram
3. Larutkan bahan menggunakan akuades dengan perbandingan 1:1 (25 gram : 25
ml akuades)
3.3.3 Pengukuran Kadar Air
Semua Bahan
1. Gerus atau cincang halus bahan sebelum ditimbang
2. Timbanglah bahan sebanyak + 10 gram
3. Masukkan bahan kedalam alat Moister meter
4. Hidupkan moister meter
5. Tutup klep moister meter, lampu akan menyala menandakan alat bekerja.
6. Biarkan selama 30 menit hingga kadar air yang ada dalam bahan hilang. Apabila
alarm berbunyi maka pengekuran kadar air selesai.
7. Lihat nilai kadar protein (%) pada mesin tersebut.
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 4.1 Hasil peritungan berat bahan untuk analisis kimia ikan.
Nama Bahan Penghitungan Berat Bahan
Kadar Protein pH Kadar Air
Ikan Nila 5,2192 gram 25,9736 gram 11,440 gram
Udang 5,6550 gram 25,3864 gram 9,5985 gram
Cumi 5,3236 gram 25,3171 gram 10,04 gram

4.1.1 Hasil Pengukuran Kadar Protein


a. Ikan Nila
%N = FP x ml liter x 0,1 N x 14,008 x 100 %
Berat Bahan

= 100/ 25 x 2,1 ml x 0,1 N x 14,008 x 100%


5,2192 gram

= 1176
5219,2 mg

= 0,225%
% Protein = % N x 5,75
= 0,225% x 5,75
= 1,294 %

b. Udang
%N = FP x ml liter x 0,1 N x 14,008 x 100 %
Berat Bahan

= 100/ 25 x 2,6 ml x 0,1 N x 14,008 x 100%


5,323,6 gram

= 1457
5323,6 mg
= 0,274 %
% Protein = % N x 5,75
= 0,274% x 5,75
= 1,576 %

c. Cumi-Cumi
%N = FP x ml liter x 0,1 N x 14,008 x 100 %
Berat Bahan

= 100/ 25 x 2,0 ml x 0,1 N x 14,008 x 100%


5,6550 gram

= 1120,64
5,6550mg

= 0,198 %

% Protein = 0,198% x 5,75


= 1,139

4.1.2 Hasil Pengukuran pH


Bahan Nilai pH
Ikan Nila 6
Udang 7
Cumi-Cumi 7

4.1.3 Hasil Pengukuran Kadar Air


Berat Bahan Awal Berat
Bahan Kadar Air Waktu
(W0) Akhir (Wa)
Ikan Nila 11,440 gram 79,00 % 30 menit -
Udang 9,5985 gram 89,70 % 30 menit 1,013 gram
Cumi-Cumi 10,04 gram 83,45 % 30 menit 1,685 gram
4.2 Pembahasan
Analisis kimia ikan merupakan suatu kegiatan untuk mengetahui seberapa besar
kandungan kimia yang dimiliki oleh ikan dengan berbagai cara aplikasi analisis seperti
uji kandungan protein, kandungan Air dan kandungan asam yang dimiliki oleh ikan
maupun udang tersebut.
Dari hasil analisis kandungan kimia daging ikan tersebut ternyata di dapat
kandungan protein rata-rata di bawah 2% dari berat analisis 5gr per sample pengamatan.
Nilai pH merupakan salah satu criteria dalam penentuan kualitas daging, Setelah
Ikan mati maka terjadilah proses biokimiawi yang sangat kompleks di dalam jaringan
otot dan jaringan lainnya sebagai konsekuen tidak adanya aliran darah ke jaringan
tersebut, karena terhentinya pompa jantung. Salah satu proses yang terjadi dan
merupakan proses yang dominan dalam jaringan otot setelah kematian (36 jam pertama
setelah kematian atau postmortem) adalah proses glikolisis anaerob atau glikolisis
postmortem. Dalam glikolisis anaerob ini, selain dihasilkan energi (ATP) maka
dihasilkan juga asam laktat. Asam laktat tersebut akan terakumulasi di dalam jaringan
dan mengakibatkan penurunan nilai pH jaringan otot.
Nilai pH otot (otot bergaris melintang atau otot skeletal atau yang disebut daging)
saat Ikan hidup sekitar 7,0-7,2 (pH netral). Setelah Ikan mati, nilai pH dalam otot (pH
daging) akan menurun akibat adanya akumulasi asam laktat. Penurunan nilai pH pada
otot Ikan yang sehat dan ditangani dengan baik sebelum Ikan mati akan berjalan secara
bertahap, yaitu dari nilai pH sekitar 7,0-7,2 akan mencapai nilai pH menurun secara
bertahap dari 7,0 sampai 5,6 5,7 dalam waktu 6-8 jam postmortem dan akan mencapai
nilai pH akhir sekitar 5,5-5,6. Nilai pH akhir (ultimate pH value) adalah nilai pH
terendah yang dicapai pada otot setelah Ikan mati (kematian). Nilai pH daging tidak
akan pernah mencapai nilai di bawah 5,3. Hal ini disebabkan karena pada nilai pH di
bawah 5,3 enzim-enzim yang terlibat dalam glikolisis anaerob tidak aktif berkerja.
Penurunan nilai pH yang bertahap dalam daging dan relatif konstan disebabkan
adanyan zat-zat buffer di dalam daging yang berperan dalam melepas dan menangkap
ion H+ dalam daging. Zat buffer dalam daging antara lain garam-garam dari senyawa
asam laktat dan protein daging.
Secara umum, pola penurunan nilai pH otot ada 3 (tiga), yaitu pola penurunan
nilai pH normal seperti yang dijelaskan di atas. Pola penurunan pH yang lain adalah
pola dark firm and dry (DFD) dan pola pale soft and exudative (PSE). Pola penurunan
nilai pH normal dapat dikatakan sebagai penurunan nilai pH yang lambat, nilai pH PSE
dikatakan sebagai pola penuruan pH yang cepat, sedangkan nilai pH DFD dikatakan
sebagai pola penurunan yang lambat dan tidak lengkap.
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan tentang kondisi pH ikan, udang dan
cumi mendapatkan nilai pH yang Netral yakni tidak kurang dari 6.
Nilai pH akhir daging akan menentukan karakteristik kualitas daging lainnya,
seperti struktur otot, daya ikat air, pertumbuhan mikroorganisme, denaturasi protein dan
enzim, keempukan daging, dan kapasitas emulsifikasi daging.
Hampir keseluruhan bagian ikan mengandung banyak air sehingga merupakan
media yang cocok bagi pertumbuhan bakteri pebususuk terutama dari jenis bakteri
Protiase. Dengan mengurangi kadar air, di dalam tubuh ikan maka aktivitas bakteri akan
terhambat sehingga proses pebusukan dapat di cegah.
Dengan mengetahui kandungan persentasi air di dalam tubuh ikan kita akan dapat
mengambil tindakan untuk mengupayakan bagaimana cara mempertahankan kesegaran
ikan tidak cepat busuk dan dapat di simpan dalam jangka waktu yang lama.
Dari hasil pengamatan kandungan air pada berbagai sample ikan yang telah
diamati ternyata memiliki kandungan air lebih dari 50% rata-ratanya. Jadi dengan
demikian bisa dikatakan bahwa hewan air setengah dari dagingnya adalah air.
BAB V. PENUTUP

Analisis kimia ikan telah banyak memberikan penjelasan kepada penulis sehingga
penulis dapat mengetahui kandungan kimia ikan secara langsung dari ikan-ikan yang
penulis amati seperti kandungan Protein, nilai pH dan kandungan air dalam tubuh ikan.
Namun, disamping itu masih banyak kekuranngan yang penulis rasakan di dalam
melakukan pengamatan analisis kimia ikan yang telah dilakukan diantaranya kurangnya
alat-alat untuk pengamatan seperti pipet ukur. Sehingga cenderung satu pipet digunakan
untuk beberapa bahan kimia untuk pengamatan, hal ini sangat mengganggu proses
pengamatan bail alokasi waktu dan hasil pengatam itu sendiri.
Untuk kedepannya penulis harapkan kepada team teknisi praktek agar para
mahasiswa selanjutnya yang melakukan praktek yang sama akan bisa mendapatkan
hasil praktek yang lebih kongkrit lagi dengan mementingkan pemakaian alat-alat yang
benar-benar steril dan spesifik.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Mengenal cumi-cumi. Didapat dari


http://agromaret.com/artikel/66/mengenal_cumi_cumi [3 Mei 2010]

AsianBrain. 2009. Ikan Nila. didapat dari. http://www.anneahira.com/ikan/ikan-


nila.htm [3 Mei 2010]

Dahuri, R. 2004. Perkembangan dan Harapan Pembangunan Perikanan Budidaya


Indonesia ke Depan. dalam Simposium Perkembangan dan Inovasi Ilmu
dan Teknologi Akuakultur. Semarang: Masyarakat Akuakultur Indonesia.

Denny W. Lukman . 2010. Nilai pH Daging. Didapat dari http://higiene-


pangan.blogspot.com/2010/01/nilai-ph-daging_25.html [04 Mei 2010]

Gaman, P.M. 1998. Pengantar Ilmu Pangan Nutrisi dan Mikrobiologi. Penterjemah:
Mudijati gardjito, dkk. Gadjah Mada University press. Yogyakarta.

Perry, Harriet M., 2008, Marine Resources and History of the Gulf Coast. Diperoleh
dari : http://www.dmr.state.ms.us/dmr.css [28 OKtober 2008]

Rizky Wiryadi, 2007. Kadar Air. Didapat dari


http://rizkyunsyah.blogspot.com/2007/08/hasil-dan-pembahasan.html [03
Mei 2010]

Sajogyo,dkk. 2000. Menuju Gizi Baik Uang Merata di Pedesaan dan Perkotaan. Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta.

Sinar Tani. 2010. Isolat Protein Ikan Lebih Praktis. Di dapat dari
http://www.sinartani.com/agriprosesing/isolat-protein-ikan-lebih-praktis-
ekonomis-1226893273.htm. [06 Mei 2010]

Tim Karya Tani Mandiri. 2009. Pedoman Budidaya Tambak Udang. Bandung. Nuansa
Aulia.

Ulfa Nazmi. 2009. Analisis Protein, Kalsium dan Lemak pada Ikan Pora-pora. Fakultas
Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatra Utara. Medan.

Wyban, James A., Sweeney, James N., 1991. Intensive Shrimp ProductionTechnology.
The Oceanic Institute. Hawaii