Anda di halaman 1dari 31

TUGAS BAHAN LISTRIK

BAHAN ISOLASI CAIR

Oleh :

Putu Rusdi Ariawan. (0804405050)

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA
JIMBARAN-BALI
2009
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat rahmat dan petunjuk-Nyalah Paper “Bahan Isolasi Cair” ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya.
Ucapan terima kasih kami berikan kepada semua pihak yang telah
banyak membantu kami dalam penyusunan makalah ini. Khususnya kepada
Bapak Ir. Ketut Wijaya M. Erg selaku dosen Mata Kuliah Bahan Listrik Jurusan
Teknik Elektro dan juga berbagai pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu
persatu.
Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahan
Listrik dan memberikan pengetahuan mengenai bahan isolasi cair. Kami
menyadari sepenuhnya makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga kami
sebagai penyusun mengharapkan berbagai saran dan kritik yang bersifat
membangun, agar nantinya dapat dijadikan pedoman bagi kami dalam
penyusunan makalah berikutnya.

Denpasar, Februari 2009

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

JUDUL ....................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................ ii
DAFTAR ISI .............................................................................................. iii
BAB I. PENDAHULUAN .......................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................. 2
1.4 Manfaat Penulisan ........................................................................... 2
1.5 Batasan Masalah .............................................................................. 2
1.6 Sistematika Pembahasan .................................................................. 3
BAB II DASAR TEORI
2.1 Tinjauan Umum ............................................................................. 4
2.2 Tingkat Ketahanan Isolasi .............................................................. 5
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Bahan Isolasi Cair ................................................................................... 6
3.2 Minyak Transformator ............................................................................ 7
3.3 Proses Pemurnian Minyak Transformator................................................ 11
3.3.1 Pemanasan .................................................................................... 11
3.3.2 Penyaringan .................................................................................. 12
3.3.3 Pemusingan................................................................................... 13
3.3.4 Regenerasi..................................................................................... 14
3.4 Bahan-Bahan Isolasi Cair Lain................................................................ 16
3.5 Mekanisme Kegagalan Isolasi Cair ......................................................... 18
BAB IV PENUTUP
4.1 Simpulan ........................................................................................... 20
4.2 Saran-saran ....................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahan listrik sangat banyak ragamnya. Bahan listrik sangat diperlukan


pada kehidupan sehai-hari. Bahan listrik merupakan suatu bahan yang digunakan
dalam peralatan listrik. Isolasi memiliki peranan yang sangat penting dalam sistem
tenaga listrik. Isolasi sangat diperlukan untuk memisahkan dua atau lebih
penghantar listrik yang bertegangan sehingga antara penghantar-penghantar
tersebut tidak terjadi lompatan listrik atau percikan. Bahan isolasi akan mengalami
pelepasan muatan yang merupakan bentuk kegagalan listrik apabila tegangan yang
diterapkan melampaui kekuatan isolasinya. Kegagalan yang terjadi pada saat
peralatan sedang beroperasi bisa menyebabkan kerusakan alat sehingga
kontinuitas sistem terganggu.

Bahan listrik sudah digunakan oleh masyarakat luas untuk berbagai


macam aplikasi peralatan listrik dan tentunya peralatan tersebut didukung oleh
keamanan peralatan serta keamanan konsumen atau pengguna. Untuk itu harus
pengguna harus mengetahui bahan isolasi yang ada dan diperhatikan dalam
ketepatan pemilihan bahan oleh para pengguna. Pada kemajuan teknologi
tegangan tinggi, isolasi listrik memegang peranan yang sangat penting dalam
teknik tegangan tinggi, Isolasi listrik sangat diperlukan untuk menunjang
keandalan di dalam penyaluran tegangan listrik.

Untuk itu diperlukan suatu informasi bagi pengguna agar dapat


menentukan bahan-bahan isolasi yang digunakan pada peralatan listrik khususnya
bahan isolasi cair yang merupakan bahan pengisi pada peralatan listrik seperti
transformator, pemutus beban, rheostat.
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan beberapa


permasalahan yaitu :
1. Bagaimana pengertian dan fungsi bahan isolasi cair?
2. Bagaimana pengertian, proses pemurnian, dan mekanisme kegagalan minyak
transformator?
3. Apakah jenis bahan isolasi cair lainnya?

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah :


1. Mengetahui pengertian dan fungsi bahan isolasi cair.
2. Mengetahui pengertian, proses pemurnian, dan mekanisme kegagalan minyak
transformator.
3. Mengetahui jenis bahan isolasi cair lainnya.

1.4 Manfaat Penulisan

Manfaat dari pembuatan laporan ini adalah:.


1. Agar kita mengetahui pengertian dan fungsi dari bahan isolasi cair.
2. mengetahui tentang minyak transformator.
3. Menambah pengetahuan mengenai Bahan Isolai Cair.

1.5 Batasan Masalah

Mengingat permasalahan yang terlaluluas dalam penyusunan laporan ini,


maka dibatasi pada penekanan masalah Bahan Isolasi Cair dan Minyak
Transformator sebagai bahan pengisolasi dan pendingin.

2
1.6 Sistematika Pembahasan

Adapun sistematika pembahasan yang digunakan dalam penulisan makalah ini


adalah :

BAB I : PENDAHULUAN
Berisikan tentang gambaran umum isi tulisan, mulai latar belakang
masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan,
batasan masalah yang akan dibahas dan sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA


Dalam bab ini memaparkan kepustakaan yang berisikan tentang
konsep dan penggunaan bahan isolasi secara umum

BAB III : METODE


Dalam bab ini diuraikan tempat dan waktu penelitian, sumber data dan
jenis data.

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN


Dalam bab ini membahas hasil penelitian yang telah dilakukan guna
mengetahui cara kerja Bahan Isolasi Cair dan Minyak Transformator
sebagai bahan pengisolasi dan pendingin.

BAB V : PENUTUP
Bab ini yang berisikan kesimpulan dari uraian pembahasan dan saran-
saran yang menghubungkan dengan pembahasan sebelumnya.

3
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Tinjauan Umum

Bahan isolasi merupakan peralatan yang digunakan untuk memisahkan


bagian-bagian yang bertegangan atau bagian-bagian yang aktif. Bahan isolasi
dibedakan menjadi: bahan isolasi gas, bahan isolasi padat, bahan isolasi cair.
Dalam pembahasan kali ini kami akan padalebih menekankan pada jenis bahan
isolasi cair.(Drs. Muhaimin,1991)
Pada dasarnya suatu bagian yang aktif peralatan listrik harus diisolasi
sehingga mempunyai sistem keamanan dan kenyamanan. bahan isolasi cair (liquid
insulation material) telah digunakan sebagai bahan pengisi pada peralatan-
peralatan listrik seperti transformator, kapasitor, pemutus beban (circuit breaker).
Fungsi bahan ini selain sebagai islolasi juga berfungsi sebagai pendingin bagi
peralatan. Oleh karena itu bahan-bahan isolasi cair yang akan digunakan harus
mempunyai tegangan tembus dan daya hantar panas yang tinggi serta sifat listrik
dan sifat kimia yang dapat menunjang ketahanan isolasi tersebut.
Koordinasi isolasi dapat di definisikan sebagai korelasi antara daya isolasi
alat-alat dan sirkuit listrik disatu pihak, dan karakteristik alat-alat pelindungnya
dilain pihak, sehingga isolasi tersebut terlindung dari bahaya-bahaya tegangan
lebih. Koordinasi isolasi dilakukan dengan menentukan kesesuaian yang
diperlukan antara daya isolasi alat-alat listrik dan karakteristik alat-alat pelindung
terhadap tegangan lebih, yang masing-masing ditentukan oleh tingkat ketahanan
impuls dan tingkat perlindungan impulsnya.koordinasi isolasi mempunyai tujuan
untuk perlindungan terhadap peralatan dan penghematan.
Beberapa sistem yang perlu diperhatikan dalam koordinasi isolasi adalah:
1. Penentuan sifat gangguan
2. Penentuan daya isolasi petralatan seperti: isolator, bushing, dan trafo.
3. Penentuan tegangan impuls standart.
4. Karakteristik alat-alat pelindung seperti CB, Arrester.
5. Penentuan tingkat isolasi impuls dasar ( BIL ) yang disingkat Basic Impuls
Insulation Level. Bil ini merupakan suatu besar tegangan yang masih mampu
ditahan oleh peralatan listrik, atau kemampuan peralatan listrik menahan
tegangan maksimum pada saat terjadi tegangan lebih.

2.2 Tingkat Ketahanan Isolasi (Basic Impuls Insulation Level/BIL)


Ketahanan isolasi minyak dapat dipengaruhi oleh kondisi iklim, yaitu
berupa suhu dan kelembaban udara disekitarnya.
Oksigen yang terdapat di udara dan suhu minyak yang tinggi dapat
menyebabkan oksidasi pada permukaan minyak yang cenderung meningkatkan
keasaman minyak. Kadar asam yang terdapat dalam minyak adalah merupakan
ukuran kerusakan (deteriorasi) bahan isolasi. Jika keasaman minyak tinggi, maka
terjadi endapan pada dinding trafo maupun pada lapisan isolasi belitan sehingga
mempersulit proses pendinginan. Suatu endapan dengan ketebalan 0,2 mm - 0,4
mm dapat menaikkan suhu 10 oC - 15 oC. Selain itu endapan-endapan ini akan
meningkatkan kemungkinan terjadinya bunga api antara bagian-bagian
transformator yang terbuka. Bila dalam minyak terdapat kelembaban, maka akan
terbentuk jalur-jalur yang membuka jalan terhadap terjadinya hubung singkat.
Kelembaban tidak hanya menurunkan ketahanan isolasi minyak, tetapi
kelembaban juga diserap oleh bahan isolasi lain seperti isolasi belitan, sehingga
dapat merusak gulungan kawat tembaga transformator.
Pemeliharaan minyak transformator secara berkala sangat penting untuk
mencegah terjadinya kerusakan isolasi dengan konsekuensi pemadaman. Sebuah
transformator yang bekerja dengan baik selama sekian tahun, dapat mengalami
kerusakan seketika disebabkan oleh kegagalan isolasi. Pemeliharaan yang
dilakukan secara teratur pada minyak transformator merupakan cara yang paling
baik untuk mempertahankan kondisi operasional sebuah transformator sehingga
masa pemanfaatan menjadi relatif panjang.

5
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Bahan Isolasi Berserat

Bahan-bahan isolasi berserat sangat besar peran dan penggunaannya pada


teknik listrik. Dikatakan sebagai bahan berserat karena bahan-bahan ini terdiri dari
serat-serat yang terpisah satu sama lain. Pada kebanyakan bahan ini (benang, kain,
pita) struktur seratnya sangat mudah dilihat, sedangkan pada kayu dan kertas,
untuk memeriksa strukturnya perlu menggunakan mikroskop.
Kelebihan bahan berserat adalah mempunyai fleksibilitas yang baik,
kekuatan mekanis yang tinggi, mudah diproses dan murah harganya. Adapun
kekurangannya adalah higroskopis dan tegangan tembusnya rendah. Untuk
mengatasi hal tersebut, bahan-bahan berserat yang akan digunakan sebagai
pengisolasi perlu diimpregnansi. Bahan berserat asli tergolong bahan isolasi kelas
Y, sedangkan bahan isolasi yang telah diimpregnansi menjadi kelas A.
Bahan dasar yang dipergunakan untuk bahan berserat berasal dari tiga
macam, yaitu tumbuh-tumbuhan, binatang, dan bahan tiruan (sintetis). Sebenarnya
bahan ini kurang baik sebagai bahan penyekat listrik karena sifatnya sangat
menyerap cairan, sedangkan cairan itu dapat merusak penyekat yang
menyebabkan daya sekatnya menurun. Tetapi karena faktor-faktor lain seperti
bahan yang berlimpah sehingga murah harganya, daya mekanisnya cukup kuat
dan fleksibel, dan dengan disusun berlapis-lapis dan dicampur dengan zat-zat
tertentu untuk meningkatkan daya sekat, daya mekanis dan daya tahan panas,
sehingga bahan berserat ini banyak dipakai sebagai penyekat listrik.

3.2 Macam-macam Bahan Isolator Berserat

Bahan isolator berserat mudah sekali kita dapatkan, karena bahan isolator
berserat merupakan bahan –bahan dari alam. Bahan-bahan tersebut diambil dari
alam, kemudian diproses dan dijadikan bahan isolator.
Berikut adalah bahan yang termasuk bahan isolator berserat.
3.2.1 Kayu
Pada tahun-tahun yang silam, kayu banyak digunakan sebagai isolasi sejak
perkembangan teknik listrik misalnya untuk tiang listrik, karena terdapat dimana-
mana dan harganya murah. Sekarang kayu banyak terdesak oleh besi, beton, dan
bahan sintetis. Kelebihan kayu adalah kekuatan mekanisnya cukup tinggi
tergantung dari macam dan kerasnya kayu dan tidak terlalu berat. Kekuatan
tariknya berkisar antara 700 hingga 1300 kg/cm2, massa jenisnya berkisar antara
0,5 hingga 1 gr/cm2, tetapi kelemahannya adalah menyerap air, dapat rusak karena
hama dan penyakit serangga sehingga mudah rapuh. Supaya daya tahan lama,
maka kayu harus diawetkan atau diimpregnansi lebih dahulu.
Cara mengimpregnansi kayu sebagai berikut :
Bahan untuk mengimpregnansi antara lain minyak cat, minyak vernis yang
dipanaskan hingga 120o hingga 130oC denga kayu yang diimpregnansi
dimasukkan kedalamnya. Selanjutnya didinginkan hingga suhu 60oC dan kayu
dikeluarkan dari minyak. Kayu yang sudah dikeluarkan dari minyak selanjutnya
dikeringkan dalam oven dengan suhu 110o hingga 130oC. Jika dilakukan dengan
cat, impregnansi tanpa dilakukan pemanasan selama 5 hingga 8 jam pada suhu
135oC. Kayu yang telah diimpregnansi bertambah beratnya 70 hingga 80% di
samping kekuatannya bertambah. Jika yang digunakan mengimpregnansi adalah
vernis bakelit dengan kandungan alkohol 50%, benda yang sudah diimpregnansi
harus dikeringkan pada suku 110o hingga 130oC, kemudian dicelupkan lagi ke
dalam bahan pengimpregnansi dan selanjutnya dikeringkan lagi dengan suhu 130o
hingga 135oC.
Kayu yang akan digunakan sebagai isolator selain diimpregnansi juga perlu diberi
antiseptik agar tahan terhadap peluruhan dan dilapisi dengan antipirin agar tidak
mudah terbakar.

3.2.2 Kertas
Kertas atau karton merupakan bahan berserat yang seratnya pendek, kertas
dan karton pada dasarnya adalah selulosa (C6H10O5) atau asetat, dimana bahan ini

7
adalah zat sel tumbuh-tumbuhan yang terdapat antara kulit dan batangnya.
Selulosa ini berserat, fleksibel, lunak dan menyerap air, sedangkan bahan pembuat
kertasnya diambil dari kayu, merang, rami, majun (sisa bahan tekstil), dan lain-
lain. Kertas yang terlalu kering atau lembab, kekuatan isolasinya berkurang
karena kertas sangat menyerap cairan, sehingga untuk mengatasinya kertas
dilapisi lak isolasi. Penggunaan kertas untuk isolasi selain sebagai pembalut lilitan
kawat dan kumparan, juga untuk isolasi kabel dan kondensator kertas. Untuk
memenuhi tebal yang diharapkan kertas dibuat berlapis-lapis. Kertas yang
digunakan untuk bahan isolasi selulosa digodok dengan senyawa alkali. Sifat dari
selulosa alkali dibanding dengan kertas biasa adalah secara mekanis lebih kuat
dan lebih tahan terhadap panas.
Pemakaian kertas atau karton untuk bahan isolasi listrik antara lain sebagai :
- Bahan isolasi kabel
- Kertas telepon
- Penyaring minyak transformator
- Kertas kapasitor (dielektrik)
Adapula jenis kertas yang lain yaitu kertas mika. Kertas ini dibuat dari serat katun
atau jenis lain dari substansi tumbuhan serat panjang.
Kekuatan tarik kertas ini kearanh memanjang lebih besar daripada kearah
melebar. Banyak digunakan untuk memperkuat pita kertas dengan cara
mengelemkannya.Kertas mika juga diperkuat dengan vernis.

3.2.3 Prespan
Prespan juga sebetulnya kertas, karena bahan dasarnya sama hanya berbeda sifat-
sifatnya saja. Dibandingkan dengan kertas, prespan lebih padat sehingga kurang
menyerap air. Padat karena pembuatannya ditekan dengan tegangan tinggi
sehingga lebih keras dan lebih kuat, tetapi dapat dibengkokan dengan tidak retak-
retak sehingga baik sekali untuk penyekat alur stator atau rotor mes in listrik, juga
pada transformator sebagai penyekat lilitan dan kawatnya. Prespan ini di pasaran
berbentuk lembaran atau gulungan dengan ukuran tebal antara 0,1 sampai 5 mm,

8
warnanya kekuning-kuningan, coklat muda atau abu. Karena daya menyerap air
masih ada, maka dalam pelaksanaannya selalu masih perlu dilapisi lak penyekat.

3.2.4 Benang
Benang merupakan hasil pemintalan pertama dari sebuah kapas yang berserat
cukup panjang, setelah biji-bijinya yang menempel dipisahkan terlebih dahulu.
Dari kumpulan benang ini dapat dibuat tali, pita, dan kain tenun, yang selanjutnya
disebut dengan tekstil. Dalam bidang kelistrikan banyak digunakan sebagai
penyekat kawat. Pemakaian benang banyak dipakai untuk penyekat kawat halus
yang digunakan dalam pembuatan pesawat-pesawat cermat seperti pengukuran
listrik. Sekarang banyak digunakan benang sintetis dari bahan plastik, gelas, dan
sebagainya karena lebih kuat dan tahan panas.

3.2.5 Bahan Isolasi Dari Tekstil


Tekstil termasuk bahan yang mempunyai serat yang cukup panjang. Tekstil
secara mekanis adalah kuat khususnya untuk mengikat dan tidak terjadi
penyusutan yang berarti jika terkena lembab. Namun tegangan tembusnya lebih
rendah dibanding kertas.
Dengan menenun benang menjadi tekstil (pita dan kain dengan berbagai
macam corak, ukuran dan kualitas) maksudnya adalah untuk memperoleh
penyekat yang lebih baik, yaitu pertama lebih kuat, dan kedua dalam beberapa hal
mempermudah teknis pelaksanaan (membalut lilitan penyekat kawat). Selain
tekstil dari kapas, ada juga sutra yang digunakan sebagai bahan islasi namun
harganya cukup mahal. Kemudian juga terdapat bahan isolasi yang terbuat dari
serat tumbuh-tumbuhan yang dikenal dengan nama lena (linnen). Bahan ini lebih
kuat daripada kertas. Pada tekstil ini ada yang terbuat dari bahan tiruan (sintetis),
dimana bahan ini digunakan dalam bidang kelistrikan sebagai penyekat kawat-
kawat lilitan mesin listrik, pengikat, dan sebagainya. Karena sifat tekstil ini dapat
menyerap cairan, maka untuk memperbaiki daya sekatnya dilapisi atau dicelup ke
dalam cairan lak penyekat. Selain itu ada beberapa keuntungan dari tekstil sintetis

9
ini, yaitu kekuatan mekanis, elastisitas, dan ketahanan terhadap panas yang tinggi,
higroskopisitas rendah, den lebuh stabil terhadap pengaruh kimia.
Serat sintetis yang paling penting diantaranya adalah serat poliamid (yaitu
nilon, kapron, silon, dederon), serat poliester (yaitu lavsan, terilin, tetron, dakron),
serat-serat yang dibuat dari polistrin, pvc atau politetrafluoroethilen. Berikut ini
adalah tabel perbandingan antara lavsan, kapron, dan sutera.
Sifat-sifat utama Lavsan Kapron Sutera alam
1. Panjang pemutusan dalam keadaan
kering (km) 40 – 50 40 – 50 32 – 36
2. Pengurangan kekuatan mekanis dalam
keadaan basah (%) 0 10 15
3. Pengurangan kekuatan mekanis setelah
3 jam pada suhu 190oC (%) 1 48 53
4. Pemuluran dalam keadaan kering (%) 20 – 25 20 – 25 17 – 18
5. Massa jenis (g/cm3) 1,38 1,14 1,37
6. Persentase kelembaban pada
kelembaban relatif 65% 0,5 3,4 – 4 11

Dari data di atas dapat dilihat bahwa kapron lebih ekonomis daripada sutera alam,
karena kapron lebih tipis, lebih ringan dibanding sutera alam.
Suatu hal yang perlu diperhatikan pada bahan berserat yaitu panjang
pemutusan (rupture-length). Panjang pemutusan adalah panjang rentangan suatu
bahan yang menyebabkan bahan tersebut patah atau putus secara mendadak
disebabkan oleh berat benda itu sendiri.
Besarnya panjang pemutusan adalah :
Ps  f
L
1000
L = panjang pemutus (m)
Ps = kuat tarik pemutus (gr)
f = faktor

10
Besarnya faktor (f) merupakan perbandingan panjang bahan terhadap beratnya,
persamaannya adalah :
l
f 
G
l = panjang bahan (m)
G = berat bahan (gr)
Di beberapa negara ketebalan sutera dan bahan-bahan sintetis dinyatakan dengan
Titer, yaitu berat bahan-bahan sintetis delam gram setiap panjang bahan 9000
meter. Dengan demikian hubungan Titer (T) dengan faktor (f) adalah :
f  T  9000
Dari sini tampak bahwa makin besar Titer suatu bahan , maka makin tebal bahan
tersebut. Diantara bahan-bahan yang digunakan pada teknik listrik adalah sebagai
berikut.
Nama Bahan Tebal (mm)
A. Katun :
1. Chifton 0,15
2. Cambric 0,12
3. Cambric muslin dan calico kasar 0,4
B. Sutera :
1. Florentin 0,08
2. Flourard 0,07
C. Pita Katun :
1. Plester 0,45  0,02
2. Calico 0,22  0,02
3. Cambric 0,12  0,01

3.2.6 Bahan Berserat Anorganik


Salah satu bahan berserat anorganik adalah ketahanannya terhadap panas
lebih tinggi. Jenis bahan isolasi berserat ada 2, yaitu asbes dan fiberglass.
Terdapat beberapa macam asbes yang mempunyai komposisi kimia yang berbeda.

11
Kristolin atau serpentin dengan komposisi kimia 3MgO∙2SiO2∙2H2O adalah jenis
asbes yang paling umum digunakan sebagai bahan isolasi.
Asbes dapat diperoleh dari batu-batuan yang merupakan jalur kecil yang
terdiri atas kumpulan serat yang paralel satu sama lain.Panjang serat-serat tersebut
tergantung ukuran jalurnya yang berkisar antara satu hingga beberapa sentimeter.
Makin panjang serat suatu asbeb, makin tinggi mutunya dan makin mahal
harganya.
Pada suhu 300o hingga 400oC, asbes dianggap tidak terjadi perubahan,
tetapi pada suhu yang lebih tinggi lagi kandungan airnya akan hilang dan
kekuatan mekanisnya akan menurun.
Hal yang menyebabkan asbes tahan terhadap suhu tinggi adalah karena
pori-porinya mudah dimasuki udara sehingga konduktivitas panasnya rendah.
Asbes akan meleleh pada suhu 1150o. Bahan-bahan asbes tidak digunakan di atas
1000 volt karena kemampuan isolasinya jelek.

12
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Bahan Isolasi Cair

Bahan isolai cair merupakan bahan pengisi pada beberapa peralatan listrik.
Bahan isolasi cair ini biasanya digunakan pada peralatan seperti transformator,
pemutus beban, rheostat. Bahan isolasi cair memiliki dua fungsi yaitu sebagai
pemisah antara bagian yang bertegangan atau pengisolasi dan juga sebagai
pendingin. Persyaratan agar bahan cair dapat digunakan sebagai bahan isolasi
adalah mempunyai tegangan tembus dan daya hantar panas yang tinggi
(Muhaimin, 1991).
Beberapa alasan digunakannya bahan isolasi cair adalah sebagai berikut:
1. Isolasi cair memiliki kerapatan 1000 kali atau lebih dibandingkan dengan
isolasi gas, sehingga memiliki kekuatan dielektrik yang lebih tinggi menurut
hukum Paschen.
2. Isolasi cair akan mengisi celah atau ruang yang akan diisolasi dan secara
serentak melalui proses konversi menghilangkan panas yang timbul akibat
rugi energi.
3. Isolasi cair cenderung dapat memperbaiki diri sendiri (self healing) jika terjadi
pelepasan muatan (discharge). Namun kekurangan utama isolasi cair adalah
mudah terkontaminasi.
Adapun sifat-sifat listrik yang menentukan unjuk kerja cairan sebagai
isolasi adalah:
1. Withstand Breakdown
Yaitu kemampuan untuk tidak mengalami ketembusan dalam kondisi tekanan
listrik (electric stress ) yang tinggi.
2. Kapasitansi Listrik per unit volume yang menentukan permitivitas relatifnya.
Minyak petroleum merupakan subtansi nonpolar yang efektif karena
merupakan campuran cairan hidrokarbon. Minyak ini memiliki permitivitas
kira-kira 2 atau 2.5 . Ketidakbergantungan permitivitas subtansi nonpolar pada
frekuensi membuat bahan ini lebih banyak dipakai dibandingkan dengan
bahan yang bersifat polar. Misalnya air memiliki permitivitas 78 untuk
frekuensi 50 Hz, namun hanya memiliki permitivitas 5 untuk gelombang
mikro.
3. Faktor daya
Faktor dissipasi daya dari minyak dibawah tekanan bolak balik dan tinggi
akan menentukan unjuk kerjanya karena dalam kondisi berbeban terdapat
sejumlah rugi-rugi dielektrik. Faktor dissipasi sebagai ukuran rugi-rugi daya
merupakan parameter yang penting bagi kabel dan kapasitor. Minyak
transformator murni memiliki faktor dissipasi yang bervariasi antara 10-4 pada
20 oC dan 10-3 pada 90 oC pada frekuensi 50 Hz.
4. Resistivitas
Suatu cairan dapat digolongkan sebagai isolasi cair bila resitivitasnya lebih
besar dari 109 W-m. Pada sistem tegangan tinggi resistivitas yang diperlukan
untuk material isolasi adalah 1016 W-m atau lebih.
(www.elektroindonesia.com, 2009).

3.2 Minyak Transformator

Minyak transformator adalah minyak mineral yang diperoleh dengan


pemurnian minyak mentah. Dalam pemakaiannya, minyak ini karena pengaruh
panas dari rugi-rugi didalam transformator akan timbul hidrokarbon. Selain
berasal dari minyak mineral, minyak transformator dapat pula yang dapat dibuat
dari bahan organik, misalnya minyak trafo piranol, silicon . Sebagai bahan isolasi,
minyak transformator harus mempunyai tegangan tembus yang tinggi.
Sebagian besar trafo tenaga kumparan-kumparan dan intinya direndam
dalam minyak-trafo, terutama trafo-trafo tenaga yang berkapasitas besar, karena
minyak trafo mempunyai sifat sebagai media pemindah panas (disirkulasi) dan
bersifat pula sebagai isolasi (daya tegangan tembus tinggi) sehingga berfungsi
sebagai media pendingin dan isolasi. Untuk itu minyak trafo harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut:

7
1. Kekuatan isolasi tinggi
2. Penyalur panas yang baik memiliki berat jenis yang kecil, sehingga partikel-
partikel dalam minyak dapat mengendap dengan cepat
3. Viskositas yang rendah agar lebih mudah bersirkulasi dan kemampuan
pendinginan menjadi lebih baik
4. Titik nyala yang tinggi, tidak mudah menguap yang dapat membahayakan
5. Tidak merusak bahan isolasi padat
6. Sifat kimia yang stabil (www.elektroindonesia.com, 2007).
Sebagai bahan isolasi, minyak transfomator harus mempunyai tegangan
tembus yang tinggi. Pengujian tegangan tembus minyak transformator dapat
dilakukan dengan mengunakan peralatan seperti ditunjukan pada gambar 4.1.

Gambar 4.1 Alat pengujian tegangan tembus minyak transformator


(Sumber: Muhaimin, 1991)
Jarak elektoda dibuat 2,5 cm, sedangkan tegangannya dapat diatur dengan
menggunakan autotransformator sehingga dapat diketahui tegangan sebelum saat
terjadinya kegagalan isolasi yaitu terjadinya loncatan bunga api. Loncatan bunga
api dapat dilihat lewat lubang yang diberi kaca. Selain itu dapat dilihat dari
voltmeter tegangan tertinggi sebelum terjadinya kegagalan isolasi (karena setelah
terjadinya kegagalan isolasi voltmeter akan menunjukan harga nol). Tegangan
tembus nominal minyak transformator untuk tegangan kerja tertentu dapat dilihat
pada tabel 4.1.

8
Tabel 4.1 Tegangan tembus standar minyak transformator

Tegangan kerja Tegangan tembus (kV) untuk jarak 2,5 mm


peralatan Minyak baru Sedang dipakai
Diatas 35 kV 40 35
6 s/d 35 kV 30 25
Dibawah 6 kV 30 20
(Sumber: Muhaimin, 1993)
Berdasarkan standar yang dikeluarkan oleh ASTM yakni dalam standar D-
877 disebutkan bahwa suatu bahan isolasi harus memiliki tegangan tembus
sebesar kurang lebih 30 kV untuk lebar sela elektroda 1 mm, dengan kata lain
kekuatan dielektrik bahan isolasi kurang lebih 30 kV/mm. Sedangkan menurut
standar ASTM D-1816 suatu bahan isolasi harus mampu menahan tegangan
sebesar 28 V untuk suatu lebar sela elektroda sebesar 1,2 mm. Standar ini
merupakan standar yang diterima secara internasional dan harus dipenuhi oleh
suatu bahan yang dikategorikan sebagai suatu bahan isolasi.
Beberapa macam faktor yang diperkirakan mempengaruhi kegagalan
minyak transformator, yaitu:
1. Luas daerah elektroda
2. Jarak celah (gap spacing)
3. Pendinginan
4. Perawatan sebelum pemakaian (elektroda dan minyak)
5. Pengaruh kekuatan dielektrik dari minyak transformator yang diukur serta
kondisi pengujian atau minyak transformator itu sendiri juga mempengaruhi
kekuatan dielektrik minyak transformator.
Ketembusan isolasi (insulation breakdown, insulation failure) disebabkan
karena beberapa hal antara lain isolasi tersebut sudah lama dipakai, berkurangnya
kekuatan dielektrik dan karena isolasi tersebut dikenakan tegangan lebih. Pada
prinsipnya tegangan pada isolator merupakan suatu tarikan atau tekanan (stress)
yang harus dilawan oleh gaya dalam isolator itu sendiri agar supaya isolator tidak
tembus. Dalam struktur molekul material isolasi, electron-elektron terikat erat

9
pada molekulnya, dan ikatan ini mengadakan perlawanan terhadap tekanan yang
disebabkan oleh adanya tegangan. Bila ikatan ini putus pada suatu tempat maka
sifat isolasi pada tempat itu hilang. Bila pada bahan isolasi tersebut diberikan
tegangan akan terjadi perpindahan elektron-elektron dari suatu molekul ke
molekul lainnya sehingga timbul arus konduksi atau arus bocor. Karakteristik
isolator akan berubah bila material tersebut kemasukan suatu ketidakmurnian
(impurity) seperti adanya arang atau kelembaban dalam isolasi yang dapat
menurunkan tegangan tembus (www.elektroindonesia.com, 2009).
Ketahanan listrik transformator dapat menurun karena pengaruh asam dan
dapat pula karena kandungan air. Keasaman minyak transformator dapat
dinetralisir dengan menggunakan potas hidroksida (KOH). Sedangkan kandungan
air di dalam minyak transformator dapat dihilangkan dengan memakai bahan
higroskopis yaitu silikagel.
Kegunaan minyak trafo adalah selain untuk bahan isolasi juga sebagai
media pendingin antara kumparan kawat atau inti besi dengan sirip pendingin.
Agar minyak trafo berfungsi dengan baik, kualitas minyak harus sesuai dengan
standar kebutuhan ditunjukkan pada tabel dibawah ini.
Tabel 4.2 Standard Minyak sebagai isolasi pada transformator

(Sumber: www.ums.ac.id, 2007)


Agar minyak transformator berfungsi sebagai pendingin yang baik, maka
kekentalannya tidak boleh terlalu tinggi agar mudah bersirkulasi di dalam tangki
sehingga dapat mendinginkan transformator dengan baik. Kekentalan relatif
minyak transformator tidak boleh lebih dari 4,2 o pada suhu 20 oC dan 1,8 o hingga
1,85 o maksimum 2 o pada suhu 50 oC.

10
3.3 Proses Pemurnian Minyak Transformator

Minyak transformator dapat dikotori oleh uap air, fiber (misalnya : kertas,
kayu, tekstil), damar dan yang lainnya. Hal ini dapat mempengaruhi kemurnian
minyak transformator. Bentuk dari pengotoran dapat bermacam-macam yaitu
meleleh dan mencairnya bahan-bahan yang digunakan di dalam transformator,
partikel-partikel yang mengapung pada minyak, partikel-partikel yang mengendap
didasar tangki, pada belitan atau pada intinya. Dengan adanya pengotoran maka
tegangan tembus minyak akan menurun dan ini berarti mengurangi atau
menurunnya umur pemakaian minyak. Akhir-akhir ini usaha memperlambat
terjadinya penurunan dengan tegangan tembus minyak transformator untuk
pemakaian pada transformator yang bertegangan kerja tinggi dan dayanya besar,
ruangan yang terdapat di atas permukaan minyak diisi dengan gas murni (biasanya
nitrogen).
Cara lain untuk memperpanjang umur minyak transformator adalah dengan
mencampurkan senyawa tertentu antara lain paraoksi diphenilamin. Senyawa
tersebut dimasukkan ke dalam minyak transformator yang telah dipanasi 80o
hingga 85oC. Campuran tersebut kosentrasinya dibuat 0,1% dan selanjutnya
didinginkan. Minyak transformator yang sudah diberi senyawa paraoksi
diphenilamin akan berwarna kemerah-merahan (Muhaimin, 1991).

3.3.1 Pemanasan

Pada cara ini minyak transformator dipanasi hingga titik didih air pada
perangkat khusus yang disebut penggodok minyak (oil boiler). Air yang ada
dalam minyak akan menguap karena titik didih minyak lebih tinggi dari pada titik
didih air.
Cara ini dianggap sebagai cara yang paling sederhana dalam hal pemurnian
minyak transformator. Dengan cara ini bahan-bahan pencemar padat, misalnya :
fiber, jelaga akan tetapi tinggal di dalam minyak. Apabila pemanasan tersebut
mendekati titik penguapan minyak, akan menyebabkan umur minyak berkurang.
Namun hal ini dapat diatasi dengan cara memanaskan minyak di tempat yang

11
pakem atau boiler minyak hampa udara (vacum oil boiler), sehingga air akan
menguap pada suhu yang relatif rendah. Alat ini dipakai dengan minyak yang
dipanaskan dalam bejana udara sempit (air tight vessel) dimana udara
dipindahkan bersama dengan air yang menguap dari minyak. Air mendidih pada
suhu rendah dalam ruang hampa oleh sebab itu menguap lebih cepat ketika
minyak dididihkan dalam alat ini pada suhu yang relatif rendah. Namun demikian
pencemar selain air akan tetap tinggal di dalam minyak. Sebagai
pengembangannya pemurnian minyak dengan udara pakem seperti gambar
berikut.

Gambar 4.2 Pemurnian minyak menggunakan pemanas-pakem


(Sumber: Muhaimin, 1993)
3.3.2 Penyaringan

Pada metode ini digunakan kertas khusus untuk menyaring minyak yang
tercemar. Untuk mempercepat waktu penyaringan, digunakan tekanan. Air yang
terkandung dalam minyak transformator diserap dengan kertas higroskopis.
Dengan cara ini baik air maupun patikel-partikel tercemar lainnya akan tersaring
sekaligus.
Filter ini sangat efesien memindahkan pengotor padat dan uap dari minyak
yang merupakan kelebihan dari pada alat sentrifugal. Walaupun cara ini sederhana
dan lebih mudah untuk dilakukan, keluaran yang dihasilkan lebih sedikit jika
dibandingkan dengan alat sentrifugal yang menggunakan kapasitas motor
penggerak yang sama. Filter press ini cocok digunakan untuk memisahkan minyak
dalam circuit breaker (CB), yang biasanya tercemari oleh partikel jelaga (arang)
yang kecil dan sulit dipisahkan dengan menggunakan alat sentrifugal.Untuk
menambah output mesin penyaring, minyak dipanasi 40o hingga 45oC sehingga

12
viskositas minyak menurun dan dengan demikian makin memudahkan
penyaringan.
Normalnya, minyak yang akan disaring dimasukkan ke filter atau
penyaring dengan tekanan 3 hingga 5 atmosfir. Biasanya penyaring dilakukan
selama 4 jam, tetapi bila minyaknya sangat kotor, penggantiannya dilakukan
setiap 0,5 hinga 1 jam (Muhaimin, 1991).

3.3.3 Pemusingan

Pencemaran minyak transformator misalnya fiber, karbon maupun lumpur


adalah lebih berat daripada minyak transformator sehingga kotoran-kotoran
tersebut suatu saat mengendap dan mudah dipisahkan secara kasar. Untuk
mempercepat proses pemisahan, maka minyak dipanaskan 45 hingga 55 di
dalam suatu tabung dan kemudian diputar atau dipusing dengan cepat. Karena
gaya sentrifugal, maka substansi yang lebih berat akan berada di bagian pinggir
bejana dan minyaknya sendiri yang relatif lebih ringan akan berada di tengah
bejana.
Bagian utama dari pemutar (sentrifuge) adalah sebuah silinder yang
memiliki lempengan-lempengan (hingga 50 buah jumlahnya), lempengan-
lempengan tersebut dipasang pada poros tegak dan pemutar tersebut berputar
bersama-sama dengan poros.
Jarak antara lempengan-lempengan kira-kira 0,1 mm. Lempengan-
lempengan ini menyebabkan mnyak dapat terbawa keatas seperti terlihat pada
Gambar 3. sedangkan bagian-bagian yang berat akan terlempar ke arah pinggir.

13
Gambar 4.3 Silinder Sentrifugal
(Sumber: Muhaimin, 1993)
Silinder sentrifugal dapat diatur dengan 2 cara yaitu:
1. Untuk pemisahan, yaitu jika diinginkan untuk memisahkan pencemar
misalnya karbon, fiber dan lumpur yang biasanya kuantitasnya kecil.
Pencemar yang telah terpisahkan akan terkumpul dikotak-lumpur (mud-box)
pada silinder. Karena itu pengoperasian silinder sentrifugal harus
dihentikanpada saat-saat tertentu untuk membersihkan kotak tersebut.
2. Untuk pemurnian, yaitu jika diperlukan untuk memisahkan pencemar minyak
dalam jumlah besar, khususnya air. Dalam hal ini air akan dikeluarkan secara
terus melalui pipa khusus.
Dari 2 cara tersebut di atas, output proses pemisahan ternyata lebih besar yaitu
kurang-lebih 25% dari output pemurnian.

3.3.4 Regenerasi

Pencemaran minyak transformator seperti dijelaskan sebelumnya, tidak


dapat benar-benar dikeluarkan dengan cara-cara seperti telah dijelaskan diatas.
Pencemaran akan lebih dapat dihilangkan dengan pemurnian khusus yaitu
regenerasi. Cara ini menggunakan absorben untuk regenerasi minyak
transformator. Dalam praktek, cara ini banyak digunakan pada pembangkit-
pembangkit tenaga listrik dan gardu-gardu induk.

14
Absorben adalah substansi yang siap menyerap produk yang diakibatkan
oleh pemakaian dan kelembaban pada minyak transformator. Regenerasi dengan
absorben dapat lebih baik hasilnya jika dilakukan setelah minyak ditambah
dengan H 2 SO4 . Selanjutnya jika terjadi kelebihan asam dapat dinetralisir dengan
kalium hidroksida (KOH) dan kemudian minyaknya dicuci dengan air yang
dialirkan, ditambah dengan absorben dan kemudian disaring.

Terdapat 2 cara untuk menambahkan absorben ke dalam minyak


transformator, yaitu:
 Minyak dipanaskan dan dicampur dengan absorben yang didapatkan
dan kemudian disaring. Cara atau metode ini disebut Metode Sentuhan
(Contact Method).
 Minyak yang telah dipanasi dialirkan melalui lapisan tipis dari
absorben yang disebut Metode Filtrasi.

Filtrasi penyerap untuk regenerasi minyak transformator terdiri dari sebuah


silinder yang dilas dengan sebuah kawat kasa di dasarnya, di sini penyerap
dimasukkan ke dalam minyak yang kemudian dialirkan melalui kawat kasa
tersebut.

Lama-kelamaan kawat kasa akan tersumbat partikel-partikel halus dari


absorben. Untuk membersihkan absorben yang tersaring dan sisa-sisa minyak,
silinder dapat dibalikkan atau diputar 180 . Instalasi ini akan lebih efisien jika
10% sampai 20% absorben dibuang dari dasar absorber dan ditambahkan
absorben baru.
Dapat digunakan 2 absorber yang dikopel secara seri sehingga minyak
mengalir pada awal melalui absorber yang masih baru, kemudian minyak
dialirkan ke absorber yang berikutnya. Absorber yang digunakan untuk regenerasi
kebanyakan produk buatan misalnya: silikagel, alumina atau tanah liat khusus.
Tanah liat dalam hal ini dapat digunakan secara natural atau diaktifkan
terlebih dahulu dengan asam sulfat, dengan pencucian yang seksama. Sebelum
digunakan tanah liat yang sudah disenyawakan dengan asam sulfat tersebut

15
dikeringkan terlebih dahulu. Absorben yang lebih mahal misalnya: silikagel dan
alumina memungkinkan digunakan untuk beberapa kali regenerasi.
Penggunaan kembali absorben tanah liat yang diaktifkan tersebut adalah dengan
dipanaskan untuk menghilangkan minyak yang diserap dan produk-produk lain
yang terjadi selama pemakaian.
Tetapi hal ini tidak banyak dilakukan karena harga tanah liat baru jauh lebih
rendah dibandingkan kalau mengaktifkan kembali (reactivation). Regenerasi
minyak transformator dapat dilakukan secara terus-menerus pada waktu
transformator sedang bekerja yaitu menggunakan thermal siphon filter yang
dihubungkan pada tangki transformator seperti ditunjukkan pada gambar 4.

Gambar 4.4 Thermal siphon filter yang terhubung pada tangki transformator
(Sumber:Muhaimin,1993)
Penyaringannya diisi dengan absorben yang jumlahnya ± 1% dari berat
minyak di dalam tangki. Dengan demiikian maka kapasitas filter tersebut
tergantung pada ukuran tangki. Karena perbedaan suhu pada bagian atas dan
bawah transformator, maka terjadilah sirkulasi minyak transformator secara alami.
Dengan demikian maka proses regenerasi minyak berlangsung terus-menerus
sehingga kualitas minyak dapat selalu dipertahankan (Muhaimin, 1991).

3.4 Bahan-Bahan Isolasi Cair Lain

Jenis-jenis minyak bumi di samping minyak transformator didapat bahan


isolasi lain yang mempunyai kekentalan, pemurnian serta sifat-sifat lain yang

16
berbeda. Sebagai contoh, minyak untuk kabel yang berisolasi kertas, dibuat lebih
kental daripada minyak transformator.
Di samping itu terdapat pula bahan isolasi kabel yang diimpregnasi dengan
minyak yang kekentalannya rendah dengan pemurnian yang tinggi yaitu kabel
untuk tegangan ekstra tinggi yang diisi minyak.
Kapasitor-kapasitor kertas diisi dengan minyak yang sangat kental yaitu
vaselin yang mempunyai titik pemadaman di antara 30 hingga 50 C,
permitivitas relatif 2,2 dan tan  pada 1 kHz tidak lebih dari 0,0002.
Di samping bahan-bahan tersebut diatas, didapat pula isolasi cair sintesis
yang juga digunakan pada teknik listrik. Isolasi cair isntetis yang banyak
digunakan adalah cairan yang berisi Chloor (hidrokarbon seperti difenil C10 H 12 )
dimana 3 sampai 5 atom Hidrogen diganti dengan atom Chloor. Bahan-bahan ini
diantaranya adalah: Sovol, Askarel, Araclor, Pyralen, Shibanol.
Sovol adalah cairan yang agak kental, tidak berwarna. Massa jenisnya jauh
lebih besar dari minyak transformator yaitu 1,5 g / cm 3 . Tegangan tembus Sovol
kurang lebih sama dengan minyak transformator yaitu ± 20 kV/cm, sedangkan
permitivitasnya lebih tinggi. Bahan Sovol ditambahkan sedikit dengan
Trichlorobenzena ( C8 H 3 CL3 ) untuk mengurangi kekentalannya diperoleh bahan
baru dengan nama Sovtol.

Salah satu manfaat penggunaan Sovol dan Sovtol adalah karena


percampuran uapnya dengan udara tidak terbakar dan tidak menyebabkan
ledakan. Karena itu transformator yang diisi dengan Sovtol tidak mempunyai
resiko kebakaran dan dapat dipasang di dalam ruangan jika transformator minyak
biasa tidak memungkinkan dipasang.
Sovol dan Sovtol tidak dapat digunakan pada bahan solasi pemutus, karena
akibat adanya busur api pada waktu terjadinya pemutusan akan menghasilkan
karbon. Kekurangan yang lain, bahan ini adalah beracun, karena itu jika
menggunakan bahan ini harus diimbangi dengan ventilasi yang baik.
Bahan lain adalah minyak Silikon. Bahan ini harganya lebih mahal daripada
minyak transformator. Tetapi mempunyai kelebihan antara lain sudut kerugian

17
dielektrik kecil, higroskopisnya dapat diabaikan dan resistivitas panasnya relatif
tinggi. Massa jenisnya ± 1 g / cm 3 , permitivitas relatifnya 2,5 tan  0,0002 pada
1000 Hz, titik nyala tidak kurang dari 145C , titik beku lebih rendah dari -60oC
(Muhaimin, 1991).

3.5 Mekanisme Kegagalan Isolasi Cair

Karakteristik pada isolasi minyak trafo akan berubah jika terjadi


ketidakmurnian di dalamnya. Hal ini akan mempercepat terjadinya proses
kegagalan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kegagalan isolasi antara lain adanya
partikel padat, uap air dan gelembung gas.
Teori mengenai kegagalan dalam zat cair kurang banyak diketahui
dibandingkan dengan teori kegagalan gas atau zat padat. Hal tersebut disebabkan
karena sampai saat ini belum didapatkan teori yang dapat menjelaskan proses
kegagalan dalam zat cair yang benar-benar sesuai antara keadaan secara teoritis
dengan keadaan sebenarnya.
Teori kegagalan zat isolasi cair dapat dibagi menjadi empat jenis sebagai
berikut :

a. Teori Kegagalan Gelembung


Kegagalan gelembung atau kavitasi merupakan bentuk kegagalan zat cair
yang disebabkan oleh adanya gelembung-gelembung gas di dalamnya.

b. Teori Kegagalan Elektronik


Teori ini merupakan perluasan teori kegagalan dalam gas, artinya proses
kegagalan yang terjadi dalam zat cair dianggap serupa dengan yang terjadi dalam
gas. Oleh karena itu supaya terjadi kegagalan diperlukan elektron awal yang
dimasukkan kedalam zat cair. Elektron awal inilah yang akan memulai proses
kegagalan.

18
c. Teori Kegagalan Tak Murnian Padat

Kegagalan tak murnian padat adalah jenis kegagalan yang disebabkan oleh adanya
butiran zat padat (partikel) didalam isolasi cair yang akan memulai terjadi
kegagalan

d. Teori Kegagalan Bola Cair


Jika suatu zat isolasi mengandung sebuah bola cair dari jenis cairan lain,
maka dapat terjadi kegagalan akibat ketakstabilan bola cair tersebut dalam medan
listrik. Medan listrik akan menyebabkan tetesan bola cair yang tertahan didalam
minyak yang memanjang searah medan dan pada medan yang kritis tetesan ini
menjadi tidak stabil. Kanal kegagalan akan menjalar dari ujung tetesan yang
memanjang sehingga menghasilkan kegagalan total.

19
BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan
Dari hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai
berikut:
1. Isolasi cair memiliki dua fungsi yaitu sebagai pengisolasi dan sebagai
pendingin. Contoh isolasi cair yang lazim digunakan adalah minyak
transformator.
2. Minyak transformator adalah minyak mineral yang diperoleh dengan
pemurnian minyak mentah. Proses pemurnian minyak transformator dapat
dilakukan dengan 4 cara, yaitu:
a) Pemanasan
b) Penyaringan
c) Pemusingan
d) Regenerasi
3. Terdapat beberapa contoh bahan isolasi cair lainnya seperti Sovol, Askarel,
Araclor, Pyralen, Shibanol.

4.2 Saran
Bahan isolasi cair merupakan salah satu bahan listrik yang sering
digunakan oleh masyarakat. Yang perlu dilakukan oleh pemerintah dan
masyarakat mulai sekarang ini adalah meningkatkan pengetahuan mengenai
bahan isolasi cair dan melestarikan bahan-bahan anorganik maupun organik
sebagai bahan dasar pembuat bahan isolasi cair ini.
DAFTAR PUSTAKA

Muhaimin. 1993. Bahan-Bahan Listrik Untuk Politeknik. Jakarta : PT Pradnya


Paramita.
2009. Energi. Diakses dari http://www.elektroindonesia.com. Tanggal 21
Februari 2009