Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Endometriosis merupakan penyakit yang hanya diderita kaum perempuan.

Prevalensi endometriosis cenderung meningkat setiap tahun, walaupun data

pastinya belum dapat diketahui. Menurut Jacoeb (2007), angka kejadian di

Indonesia belum dapat diperkirakan karena belum ada studi epidemiologik, tapi

dari data temuan di rumah sakit, angkanya berkisar 13,6-69,5% pada kelompok

infertilitas. Bila persentase tersebut dikaitkan dengan jumlah penduduk sekarang,

maka di negeri ini akan ditemukan sekitar 13 juta penderita endometriosis pada

wanita usia produktif. Kaum perempuan tampaknya perlu mewaspadai penyakit

yang seringkali ditandai dengan nyeri hebat pada saat haid ini (Widhi, 2007).

Penyebab endometriosis dapat disebabkan oleh kelainan genetik,

gangguan sistem kekebalan yang memungkinkan sel endometrium melekat dan

berkembang, serta pengaruh-pengaruh dari lingkungan. Sumber lain menyebutkan

bahwa pestisida dalam makanan dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon.

Faktor-faktor lingkungan seperti pemakaian wadah plastik, microwave, dan alat

memasak dengan jenis tertentu dapat menjadi penyebab endometriosis (Wood,

2008b).

Penyakit endometriosis umumnya muncul pada usia reproduktif. Angka

kejadian endometriosis mencapai 5-10% pada wanita umumnya dan lebih dari

50% terjadi pada wanita perimenopause. Gejala endometriosis sangat tergantung

pada letak sel endometrium ini berpindah. Yang paling menonjol adalah adanya

nyeri pada panggul, sehingga hampir 71-87% kasus didiagnosa akibat keluhan

1
nyeri kronis hebat pada saat haid, dan hanya 38% yang muncul akibat keluhan

infertil (mandul). Tetapi ada juga yang melaporkan pernah terjadi pada masa

menopause dan bahkan ada yang melaporkan terjadi pada 40% pasien

histerektomi (pengangkatan rahim). Selain itu juga 10% endometriosis ini dapat

muncul pada mereka yang mempunyai riwayat endometriosis dalam keluarganya

(Widhi, 2007).

1.2 Permasalahan

Apa penyebab dan bagaimana gejala dari penyakit endometriosis pada

organ reproduksi wanita tersebut.

1.3 Tujuan

Untuk mengetahui penyebab dan gejala yang ditimbulkan oleh penyakit

endometriosis pada organ reproduksi wanita.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2
2.1 Struktur Organ Reproduksi Wanita

Struktur reproduksi eksternal perempuan adalah klitoris dan dua pasang

labia yang mengelilingi klitoris dan lubang vagina. Organ reproduksi internal

terdiri dari sepasang gonad dan sebuah duktus dan ruangan untuk menghantarkan

gamet dan menampumg embrio dan fetus. Sistem reproduksi perempuan tidak

sepenuhnya tertutup, dan sel telur dilepaskan ke dalam rongga abdomen di dekat

pembukaan saluran telur atau tuba Fallopii. Saluran telur manusia mempunyai

pembukaan yang mirip corong dan berumbai-umbai yang disebut fimbriae. Silia

yang terdapat pada epitelium bagian dalam yang melapisi duktus itu akan

membantu menarik sel telur dengan cara menarik cairan dari rongga tubuh ke

dalam duktus tersebut. Silia juga mengirimkan sel telur menuruni duktus sampai

di uterus, yang juga dikenal sebagai rahim. Uterus adalah organ yang tebal dan

berotot yang dapat mengembang selama kehamilan untuk menampung fetus

dengan bobot hingga 4 kg. Lapisan dalam uterus, yakni endometrium, dialiri oleh

banyak pembuluh darah (Campbell, 2004).

Gambar 1. Struktur Organ Reproduksi Wanita (Purves et al, 2007)


2.2 Siklus Menstruasi

3
Istilah siklus menstruasi secara spesifik mengacu pada perubahan yang

terjadi dalam uterus. Melalui kesepakatan, hari pertama periode menstruasi

perempuan atau hari pertama menstruasi dinyatakan sebagai hari 1 dari siklus

tersebut. Fase aliran menstruasi (Menstrual Flow Phase) siklus tersebut, saat

pendarahan menstruasi (hilangnya sebagian besar lapisan fungsional

endometrium) terjadi, umumnya berlangsung beberapa hari. Kemudian sisa

endometrium yang tipis lainnya mulai mengalami regenerasi dan menebal selama

seminggu atau dua minggu. Fase tersebut dinamakan fase proliferasi (Proliferasi

Phase) siklus menstruasi. Selama fase berikutnya yaitu fase sekresi (Secretory

Phase) yang umumnya berlangsung sekitar dua minggu lamanya, endometrium

menebal, mengandung lebih banyak pembuluh, dan mengembangkan kelenjar

yang mensekresikan cairan yang kaya glikogen (Price, 2005).

2.3 Siklus Ovarium

Siklus ini dimulai dengan fase folikel (Follicular cycle) saat beberapa

folikel di ovarium mulai tumbuh. Sel telur membesar dan pembungkus sel folikel

berlapis-lapis. Di antara beberapa folikel yang mulai tumbuh, umumnya hanya

satu yang membesar dan matang, sementara yang lainnya akan mengalami

disintegrasi. Folikel yang mengalami pematangan itu mengembangkan rongga

internal yang penuh cairan dan tumbuh menjadi sangat besar, dan membentuk

tonjolan dekat permukaan ovarium. Fase folikuler berakhir dengan ovulasi, ketika

folikel dan dinding ovarium di dekatnya pecah sehingga melepaskan oosit.

Jaringan folikel yang tetap ada di ovarium setelah ovulasi berkembang menjadi

korpus luteum (jaringan endokrin yang mensekresikan hormon betina) selama fase

luteal (Luteal Phase) (Guyton, 2007).

4
Gambar 2. Siklus Ovarium (Purves et al, 2007)

2.4 Hormon, Siklus Ovarium dan Siklus Menstruasi

Hormon mengkoordinasikan siklus menstruasi dan siklus ovarium

sedemikian rupa sehingga folikel dan peristiwa ovulasi disinkronasikan dengan

persiapan dinding uterus untuk kemungkinan implantasi embrio. Lima hormon

berpartisipasi dalam skema rumit yang melibatkan baik umpan balik negatif

maupun posisif. Hormon-hormon tersebut adalah hormon pembebas gonadotropin

(GnRH), yang disekresikan oleh hipotalamus, hormon perangsang folikel (FSH)

dan hormon lutenisasi (LH), yang merupakan dua gonadotropin yang dihasilkan

oleh hipofisis anterior dan estrogen serta progesteron, yaitu dua hormon kelamin

yang disekresikan oleh ovarium (Price, 2005).

Selama fase folikuler siklus ovarium, pituitari mensekresikan sejumlah

kecil FSH dan LH sebagai respon terhadap rangsangan GnRH dari hipotalamus.

Pada waktu tersebut sel-sel folikel ovarium yang belum matang mempunyai

reseptor untuk FSH. FSH merangsang pertumbuhan folikel dan sel-sel folikel

5
yang sedang tumbuh ini mensekresikan estrogen. Peningkatan kadar estrogen

secara perlahan terjadi selama sebagian besar fase folikuler.

Gambar 3. Umpan Balik Negatif (Purves et al, 2007)

Peningkatan kecil kadar estrogen tersebut akan menghambat sekresi

hormon pituitari, sehingga mempertahankan kadar FSH dan LH relatif rendah

selama fase folikuler. Hubungan antar hormon tersebut berubah secara radikal dan

relatif mendadak ketika sekresi estrogen oleh folikel yang sedang tumbuh mulai

meningkat. Sementara peningkatan kadar estrogen yang terjadi dapat menghambat

sekresi gonadotropin pituitari, estrogen dalam konsentrasi tinggi mempunyai

pengaruh berlawanan dan merangsang sekresi gonadotropin dengan cara

mempengaruhi hipotalamus untuk meningkatkan produksi GnRH. Pengaruh itu

lebih besar untuk LH karena konsentrasi estrogen yang tinggi, selain merangsang

sekresi GnRH, juga meningkatkan sensitifitas mekanisme pelepasan LH di

pituitari terhadap sinyal hipotalamus (GnRH). Pada saat itu, folikel telah

mempunyai reseptor terhadap LH dan dapat merespon terhadap petunjuk

6
hormonal ini. Dalam satu contoh umpan balik positif, peningkatan konsentrasi LH

yang disebabkan oleh peningkatan sekresi estrogen dari folikel yang sedang

tumbuh menginduksi pematangan akhir folikel tersebut, dan ovulasi terjadi sekitar

sehari setelah lonjakan kadar LH tersebut (Price, 2005).

LH dapat merangsang transformasi jaringan folikel yang tertinggal di

ovarium untuk membentuk korpus luteum setelah ovulasi. Selama fase luteal

siklus ovarium, LH mempengaruhi korpus luteum mensekresikan estrogen dan

hormon steroid kedua yaitu progesteron. Korpus luteum umumnya mencapai

perkembangan maksimalnya sekitar 8 sampai 10 hari setelah ovulasi. Setelah

kadar estrogen dan progesteron meningkat, kombinasi hormon-hormon tersebut

memberikan umpan balik negatif pada hipotalamus dan pituitari, sehingga

menghambat sekresi LH dan FSH. Mendekati akhir masa luteal, korpus luteum

akan lisis (kemungkinan sebagai akibat dari prostaglandin yang disekresikan oleh

sel-sel itu sendiri). Konsekuensinya, konsentrasi estrogen dan progesteron

menurun. Penurunan kadar hormon ovarium tersebut membebaskan hipotalamus

dan pituitari dari pengaruh yang bersifat menghambat dari hormon-hormon

tersebut. Kemudian pituitari mulai mensekresikan cukup FSH untuk merangsang

pertumbuhan folikel baru di ovarium, yang mengawali fase folikuler siklus

ovarium berikutnya (Guyton, 2007).

Estrogen yang disekresikan dalam jumlah yang semakin meningkat oleh

folikel yang sedang tumbuh, merupakan suatu sinyal hormonal ke uterus yang

menyebabkan endometrium menebal. Dengan demikian, fase folikel siklus

ovarium dikoordinasikan dengan fase proliferasi siklus menstruasi. Penurunan

cepat dalam kadar hormon ovarium ketika korpus luteum lisis menyebabkan

7
kontraksi arteri dalam dinding uterus yang menyebabkan dinding endometrium

tidak dialiri darah. Disintegrasi endometrium mengakibatkan menstruasi dan

permulaan satu siklus menstruasi baru (Guyton, 2007).

Gambar 4. Siklus Reproduksi Wanita


(http://www.grad.ttuhsc.edu/courses/histo/notes/female.html)

2.5 Definisi Endometriosis

Endometriosis adalah suatu keadaan dimana jaringan mirip dengan

dinding rahim (endometrium) ditemukan di tempat lain dalam tubuh (Smeltzer,

2001). Endometriosis juga dapat berupa suatu keadaan dimana jaringan

endometrium yang masih berfungsi terdapat di luar kavum uteri dan diluar

miometrium (Prawirohardjo, 2008).

Definisi lain tentang endometriosis yaitu terdapatnya kelenjar-kelenjar dan

stroma endometrium pada tempat-tempat diluar rongga rahim. Implantasi

endometriosis bisa terdapat pada ovarium, ligamen latum, Cavum Douglasi, tuba

Falopii, vagina, serviks, pada pusat, paru-paru, dan kelenjar-kelenjar limfa

(Rayburn, 2001).

8
2.6 Teori Penyebab Endometriosis

Ada teori penyebab endometriosis yang dinyatakan oleh para ahli sebagai

berikut (Wood, 2008a):

1. Metaplasia

Metaplasia yaitu perubahan dari satu tipe jaringan normal menjadi tipe

jaringan normal lainnya. Beberapa jaringan endometrium memiliki kemampuan

dalam beberapa kasus untuk menggantikan jenis jaringan lain di luar rahim.

Beberapa peneliti percaya hal ini terjadi pada embrio, ketika pembentukan rahim

pertama. Lainnya percaya bahwa beberapa sel dewasa mempertahankan

kemampuan mereka dalam tahap embrionik untuk berubah menjadi jaringan

reproduksi.

2. Menstruasi Mundur dan Transplantasi

Sampson (1920) mengatakan bahwa aliran menstruasi mundur mengalir

melalui saluran tuba (disebut "aliran mundur") dan tersimpan pada organ panggul

dan tumbuh menjadi kista. Namun, ada sedikit bukti bahwa sel-sel endometrium

dapat benar-benar melekat dan tumbuh ke organ panggul perempuan. Bertahun-

tahun kemudian, para peneliti menemukan bahwa 90% wanita memiliki aliran

mundur.

3. Predisposisi genetik

Penelitian telah menunjukkan bahwa wanita dengan riwayat keluarga

menderita endometriosis lebih mungkin untuk terkena penyakit ini. Dan ketika

diturunkan maka penyakit ini cenderung menjadi lebih buruk pada generasi

berikutnya. Studi di seluruh dunia yang sedang berlangsung yaitu studi Endogene

9
International mengadakan penelitian berdasarkan sampel darah dari wanita

dengan endometriosis dengan harapan mengisolasi sebuah gen endometriosis.

Gambar 5. Menstruasi Mundur dan Transplantasi (http://ezcobar.com/dokter-


online/dokter15/index.php)

4. Pengaruh lingkungan

Beberapa studi telah menunjuk bahwa faktor lingkungan dapat menjadi

kontributor terhadap perkembangan endometriosis, khususnya senyawa-senyawa

yang bersifat racun memiliki efek pada hormon-hormon reproduksi dan respon

sistem kekebalan tubuh, walaupun teori ini tidak terbukti dan masih kontroversial.

Hipotesis berbeda tersebut telah diajukan sebagai penyebab endometriosis.

Sayangnya, tak satu pun dari teori-teori ini sepenuhnya terbukti, juga tidak

sepenuhnya menjelaskan semua mekanisme yang berhubungan dengan

perkembangan penyakit. Dengan demikian, penyebab endometriosis masih belum

diketahui. Sebagian besar peneliti, berpendapat bahwa endometriosis ini

diperparah oleh estrogen. Selanjutnya, sebagian besar pengobatan untuk

10
endometriosis saat ini hanya berupaya untuk mengurangi produksi estrogen dalam

tubuh wanita untuk meringankan gejala (Smeltzer, 2001).

2.7 Faktor Risiko

Wanita yang beresiko terkena penyakit endometriosis, yaitu (Wood, 2008b):

• Wanita yang ibu atau saudara perempuannya pernah menderita

endometriosis

• Memiliki siklus menstruasi kurang atau lebih dari 27 hari

• Menarke (menstruasi yang pertama) terjadi pada usia relatif muda (< 11

thn)

• Masa menstruasi berlangsung selama 7 hari atau lebih

• Orgasme saat menstruasi

2.8 Gejala endometriosis

Rasa sakit sering berkorelasi dengan siklus menstruasi, namun seorang

wanita dengan endometriosis juga dapat mengalami rasa sakit pada waktu lain

selama siklus bulanan. Bagi banyak wanita, tapi tidak semua, rasa sakit

endometriosis dapat menjadi begitu parah dan berdampak signifikan dengan

hidupnya. Nyeri yang dirasakan saat endometriosis terjadi sebelum, selama, dan

setelah menstruasi, selama ovulasi, dalam usus selama menstruasi, ketika buang

air kecil, selama atau setelah hubungan seksual, dan didaerah punggung bawah

serta gejala lain mungkin dapat terjadi adalah diare atau sembelit (khususnya

dalam kaitannya dengan menstruasi), perut kembung (sehubungan dengan

menstruasi), perdarahan berat atau tidak teratur, dan kelelahan (Wood, 2008c).

Namun perlu ditekankan disini bahwa rasa sakit pada saat menstruasi atau

dysmenorrhea tidak selalu berhubungan dengan gejala endometriosis. Kadar

11
hormone prostaglandin yang tinggi akan cenderung menyebabkan terjadinya

dysmenorrhea (Wood, 2008c).

2.9 Patologi

Organ yang biasa terkena endometriosis adalah ovarium, organ tuba dan

salah satu atau kedua ligamentum sakrouterinum, Cavum Douglasi, dan

permukaan uterus bagian belakang dapat ditemukan satu atau beberapa bintik

sampai benjolan kecil yang berwarna kebiru-biruan (Prawirohardjo, 2008).

Gambar 6. Kista cokelat


yang pecah pada ovarium sebelah kiri
(http://en.wikipedia.org/wiki/file:Perforierte_EndometrioseZyte.jpg)

BAB III
METODE PENULISAN

Penelusuran pustaka diperoleh dari media cetak berupa buku, jurnal, dan

skripsi, data pustaka dari media elektronik diperoleh dari hasil penelusuran pada

berbagai situs, serta pengumpulan data dari ahli kebidanan dan penyakit

kandungan dengan melakukan diskusi dengan menyusun kusioner diskusi guna

memperoleh informasi yang relevan dengan masalah yang dikaji. Pengolahan data

dari berbagai sumber yang diperoleh disajikan dalam bentuk deskripsi, gambar,

12
dan tabel dengan menggunakan analisis deskriptif terhadap data-data yang telah

dikumpulkan.

13
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Studi deskriptif kompilatif yang telah dilakukan dan dari diskusi dengan

ahli kebidanan dan penyakit kandungan memperoleh hasil sebagai berikut:

4.1.1 Penyebab endometriosis

Ada beberapa teori yang diutarakan oleh beberapa ahli mengenai

penyebab endometriosis yaitu (Eisenberg, 2009):

Endometriosis mungkin disebabkan oleh faktor keturunan, atau

beberapa anggota keluarga mempunyai sifat yang membuat mereka

terlihat seperti endometriosis.

Tumbuhnya jaringan endometrium dibagian tubuh yang lain selain

uterus melalui sistem peredaran darah atau sistem limfa.

Endometriosis dapat disebabkan adanya ganguan pada sistem imunitas,

endometriosis juga dapat menjadi kanker ovarium.

Hormon estrogen dapat menjadi pemicu pertumbuhan endometriosis.

Beberapa penelitian memandang hal ini sebagai penyakit sistem

endokrin, sistem kelenjar, hormon, dan sekresi lain dari tubuh.

Jaringan endometrium juga dapat ditemukan pada bekas luka abdominal

dan mungkin ditemukan di tempat tersebut akibat kesalahan sewaktu

pembedahan.

Sejumlah kecil jaringan saat pembentukan embrio yang kemudian

berubah menjadi endometriosis.

14
Penelitian terbaru menunjukan adanya hubungan antara paparan dioksin

dan endometriosis. Dioksin adalah senyawa yang bersifat toksik yang

berasal dari pembuatan pestisida dan pembakaran sampah plastik.

Jaringan endometriosis dapat berada di abdomen melewati tuba

Falopii saat menstruasi. Transplantasi jaringan ini tumbuh diluar uterus.

Menurut Sumilat (2009, kom. pribadi), penyebab dari penyakit ini

belum diketahui secara pasti, para ahli mengatakan bahwa ”banyak faktor

yang menyebabkan penyakit endometriosis, dapat berasal dari aliran

menstruasi mundur dan implantasi, metaplasia, predisposisi genetik, dan

pengaruh lingkungan”. Orgasme saat menstruasi dapat menimbulkan aliran

menstruasi mundur dan endometriosis dapat menurun ke wanita yang ibu

atau saudara perempuan menderita endometriosis karena terjadi penurunan

imunitas pada penderita endometriosis, hal ini sesuai teori predisposisi

genetik yang dikemukakan oleh Dmoski tahun 1995.

Sumilat (2009, kom. pribadi) juga berpendapat bahwa gangguan

sistem imun juga dapat menyebabkan timbulnya penyakit ini, menurut

penelitian J.A. Hill tahun 1988 mendapatkan adanya kegagalan dalam

sistem peluruhan darah haid oleh makrofag dan fungsi sel NK yang

menurun pada endometriosis (Simatupang, 2003). Sumilat (2009, kom.

pribadi) berpendapat bahwa penurunan sistem imun ini yang kemudian

diturunkan ke generasi berikutnya. Sehingga keturunan selanjutnya

memiliki resiko terkena endometriosis lebih besar.

4.1.2 Senyawa kimia yang dapat menimbulkan endometriosis

15
Menurut Sumilat (2009, kom. pribadi), penyebab penyakit ini berasal

dari pengaruh lingkungan, hal ini dikarenakan adanya perubahan gaya hidup

maupun terpengaruh dari paparan polutan. Ruhendra (1997) dan Tangri

(2003) menyebutkan bahwa ada beberapa senyawa kimia yang dapat

menyebabkan endometriosis, namun sampai saat ini masih diadakan

penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh senyawa tersebut terhadap tubuh

khususnya terhadap kista endometriosis. Jenis-jenis senyawa tersebut dapat

dilihat pada Tabel 1:

Tabel 1. Senyawa yang dapat menyebabkan endometriosis

Senyawa terkandung Sumber zat


Insinerator, pembakaran bahan plastik,
Dioksin
dan pembuatan produk kertas
Klorin Proses pemutih kertas
Kolesterol Makanan cepat saji dan daging ham
Kafein Teh, kopi, dan cokelat

Dioksin adalah produk sampingan hasil berbagai proses kimia,

misalnya dari proses insinerator sampah (terutama plastik), pengilangan

logam, pembakaran bensin yang mengandung timbal dalam otomobil,

pembuatan produk-produk kertas, pembuatan herbisida, dan pembakaran

sampah organik yang mengandung klorin (Ruhendra, 1999).

Dioksin yang terbentuk selama pembakaran sampah, masuk ke udara

bersama abu, kemudian mengendap pada tanaman pangan, kemudian

dikonsumsi oleh ternak dan terakumulasi pada sel lemak dan muncul pada

daging dan susu yang akhirnya dikonsumsi manusia (Tangri, 2003).

16
Dioksin dapat menyebabkan gangguan kesehatan secara luas,

termasuk gangguan kulit, sistem reproduksi, hormonal, sistem kekebalan,

diabetes, kanker, dan pertumbuhan (Ruhendra, 1999).

Sumber klorin dapat berasal dari proses industri yang menggunakan

klorin sebagai pemutihan kertas dari hasil daur ulang kertas. Dampak klorin

terhadap tubuh manusia sama dengan dioksin karena klorin merupakan hasil

samping dari pembentukan dioksin (Ruhendra, 1999).

Penelitian Rier et al (1993), menyebutkan faktor lingkungan juga

memberikan pengaruh pada perkembangan endometriosis, khususnya

berhubungan dengan zat toksik yang mempunyai efek pada hormon

reproduksi dan respon pada sistem imun. Pada percobaan ini 79% dari kera-

kera yang terpapar dioksin menyebabkan endometriosis pada tubuhnya

(Simatupang, 2003).

Dioksin diduga sebagai penyebab endometriosis. Dugaan ini

dirumuskan pada tahun 1994 berdasar hasil observasi langsung terhadap

kasus peningkatan penyakit endometriosis pada primata yang dipapar

dengan dioksin. Total radiasi pada tubuh berhubungan dengan

meningkatnya prevalensi endometriosis pada primata. Pada manusia, bukti-

bukti penelitian mengenai pengaruh dioksin masih kurang. Peristiwa polusi

yang terjadi di Seveso, Italia, ditemukan prevalensi endometriosis tidak

meningkat. Juga pada bayi yang masih menyusui yang kemungkinan

terpapar dioksin lewat air susu ibu, prevalensi endometriosis saat berumur

dewasa rendah (Redwine, 2004).

17
Daging ham dan makanan cepat saji mengandung kolesterol.

Mengkonsumsi daging ham dan makanan cepat saji dapat berdampak pada

jaringan endometrium di uterus dan di luar uterus dan dapat menimbulkan

nyeri saat menstruasi. Hal ini dikarenakan sel stroma pada uterus

menghasilkan estradiol yang diperoleh dari kolesterol yang selanjutnya

menghasilkan estrogen yang berpengaruh terhadap jaringan endometrium

(Bulun, 2009).

Menurut David (1993) dan Bulun (2009), kafein dan kolesterol tidak

dapat dijadikan sebagai penyebab endometriosis karena kafein dan

kolesterol mempengaruhi peningkatan kadar estrogen, hal ini hanya

memperparah kista endometriosis karena jaringan endometrium yang ada di

uterus maupun yang di luar uterus mengalami penebalan sehingga menekan

ke tempat perlekatannya. Saat kadar estrogen menurun sel-sel ini tidak dapat

keluar sehingga menyebabkan nyeri dan perlekatan di tempat yang sama

sehingga menimbulkan lesi atau kista keriput dan berwarna cokelat atau biru

kehitaman yang menandakan pendarahan yang tidak dapat keluar.

Pembentukan ini disebut pseudokist (Smeltzer, 2001).

4.1.3 Gejala endometriosis

Menurut American Fertility Society (2007a), gejala endometriosis

dapat berupa :

Nyeri haid

18
Banyak wanita mengalami nyeri pada saat haid normal. Bila

nyeri dirasakan berat maka disebut dysmenorrhea dan mungkin

menjadi penyebab endometriosis atau tipe lain dalam patologi pelvik

seperti uteri fibroid atau adenomiosis. Nyeri berat juga dapat

menyebabkan mual-mual, muntah, dan diare. Dysmenorrhea primer

terjadi pada saat awal terjadinya menstruasi, kemudian cenderung

meningkat selama masa reproduktif atau setelah masa reproduktif.

Dysmenorrhea sekunder terjadi setelah kehidupan selanjutnya dan

mungkin akan terus meningkat dengan umur. Ini mungkin menjadi

sebuah tanda peringatan dari endometriosis, walaupun beberapa

wanita dengan endometriosis tidak merasa nyeri.

Nyeri saat berhubungan

Endometriosis dapat menyebabkan rasa nyeri selama dan setelah

berhubungan, kondisi ini diketahui sebagai dyspareunia. Penetrasi

dalam dapat menghasilkan rasa nyeri di batasan ovarium dengan

jaringan otot di bagian atas vagina. Rasa nyeri juga disebabkan adanya

nodul lunak endometriosis di belakang uterus atau pada ligamen

latum, yang berhubungan dengan serviks.

4.1.4 Gambaran kista endometriosis

Penampakan kasar endometriosis dapat berupa suatu penebalan atau

kista yang berisi darah baru, merah atau biru hitam. Semakin lama lesi-lesi

tersebut berubah menjadi rata dan berwarna coklat tua. Struktur kista besar

bisa tetap berisi darah tua dan disebut kista cokelat. Lesi-lesi yang sudah

19
lama bisa tampak pucat, tersebar, dan mengerutkan jaringan setempat.

Ukuran lesi bervariasi dari kecil kurang dari 1 mm sampai dengan kista

besar berukuran lebih dari 10 cm (Rayburn, 2001). (Gambar 7 dan Gambar

8.)

20
Gambar 7. Kista cokelat pada ovarium
(http://img.webmd.com/medscape/netbeacon.html)

Gambar 8. Lesi merah pada berbagai organ


(http://img.webmd.com/medscape/netbeacon.html)

4.1.5 Klasifikasi endometriosis

Berdasarkan visualisasi rongga pelvis dan volume tiga dimensi dari

endometriosis dilakukan penilaian terhadap ukuran, lokasi dan kedalaman

invasi, keterlibatan ovarium dan densitas dari perlekatan. Dengan

perhitungan ini didapatkan nilai-nilai dari skoring yang kemudian

jumlahnya berkaitan dengan derajat klasifikasi endometriosis. Nilai 1-4

adalah minimal (stadium I), 5-15 adalah ringan (stadium II), 16-40 adalah

sedang (stadium III) dan lebih dari 40 adalah berat (stadium IV) (Rusdi,

2009).

21
Endometriosis <1cm 1-3 cm >1cm

Peritoneum Permukaan 1 2 4
Dalam 2 4 6
Ovarium Kanan Permukaan 1 2 4
Dalam 4 16 20
Kiri Permukaan 1 2 4
Dalam 4 16 20
Perlekatan kavum douglas Sebagian Komplit
4 40
Ovarium Perlekatan <1/3 1/3-2/3 >2/3
Kanan Tipis 1 2 4
Tebal 4 8 16
Kiri Tipis 1 2 4
Tebal 4 8 16
Tuba Kanan Tipis 1 2 4
Tebal 4 8 16
Kiri Tipis 1 2 4
Tebal 4 8 16
Tabel 2. Derajat endometriosis berdasarkan skoring dari Revisi
AFS

22
Sumber: American Fertility Society, 2007a.

Skema klasifikasi berdasarkan beratnya penyakit endometriosis

menurut American Fertility Society (2007a) dapat dilihat pada gambar

dibawah.

Gambar 9. Skema klasifikasi stage 1 sampai stage 3. (American


Fertility Society, 2007a)

Gambar 10. Skema klasifikasi stage 3 sampai stage 4. (American


Fertility Society, 2007a)

4.1.6 Diagnosa

Visualisasi endometriosis diperlukan untuk memastikan diagnosis.

Cara-cara yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis adalah dengan

23
melakukan pemeriksaan laparoskopi untuk melihat lesi (Rayburn, 2001).

Diagnosa laparoskopi dilakukan setiap hari dari siklus menstruasi dengan

pasien dibawah pengaruh anestesia (obat bius). Diagnostik endometriosis

dibutuhkan untuk melihat keberadaan dari satu atau lebih lesi kebiru-biruan

atau hitam. Stadium endometriosis menurut revisi klasifikasi dari American

Fertility Society (R-AFS). Implantasi endometriosis pada peritoneum atau

ovarium nilainya ditentukan dari diameter dan kedalaman, yang mana nilai

perlekatan digunakan dalam lampiran catatan kepadatan dan derajat. Total

R-AFS nilai (implan dan perlekatan) berurutan dari 1-5, 6-15, 16-40, dan

41-150 dapat disamakan dari minimal (stadium I), ringan (stadium II),

sedang (stadium III), dan berat (stadium IV) endometriosis (Marcoux, 1997)

(Tabel 2 dan Gambar 9).

Pendapat klinik saat ini bahwa prosedur pembedahan seperti

laparoskopi dibutuhkan untuk menentukan diagnosa endometriosis.

Laparoskopi dilakukan untuk melihat keberadaan endometriosis.

Pemeriksaan riwayat dan pemeriksaan badan dapat menemukan nyeri pelvik

kronik dan dysmenorrheal, pemunduran uterus, penebalan ligamen

uterosakral tidak sama sekali terdiagnostik. Proses diagnostik lain

(American Fertility Society, 2007b).

Gambar 11.
Gambar
laparoskopi
organ
reproduksi
internal

24
wanita
(http://www.asrm.org/endometriosis/laparoscopy.pdf)

Gambar 12.
Diagnosa
laparoskopi
(http://www.
asrm.org/end
ometriosis/la
paroscopy.pd
f)

Dokter mungkin

akan memutuskan

untuk mengobati endometriosis selama laparoskopi. Dilakukan pembedahan

kecil tambahan untuk memasukan alat bedah. Endometriosis mungkin jadi

menggumpal, menguap, terbakar atau dipotong, dan jaringan otot atau kista

ovarium mungkin dikeluarkan. Selama laparoskopi, dokter memutuskan

membuka dan memasukan alat tersebut lewat tuba Falopii untuk melihat

serviks di dalam uterus (American Fertility Society, 2007b).

Proses diagnosa lain dilakukan pada kasus yang lebih khusus, dokter

mungkin akan menggunakan teknik pengambilan gambar yang khusus

seperti ultrasound, Computerized Tomography (CT scan), atau Magnetic

Resonance Imaging (MRI) untuk menambah informasi tentang pelvis.

Prosedur ini dapat mengidentifikasi kista dan mengetahui karekteristik

cairan dengan kista ovarium, kista endometrioma dan kista korpus luteum

mungkin serupa kelihatannya. Uji ini digunakan bila menilai seorang wanita

infertil atau nyeri pelvis kronis. (American Fertility Society, 2007b).

4.1.7 Dampak yang ditimbulkan

25
Fakta-fakta menunjukan adanya hubungan antara endometriosis

dengan infertilitas. Endometriosis ditemukan 50% pada wanita infertil.

Pasien infertil dengan endometriosis ringan tanpa perawatan dapat hamil

dengan rata-rata 2% sampai 4,5% perbulan, dibandingkan pada normal

fertilitas dari 15% sampai 20% perbulannya. Pasien infertil dengan

endometriosis sedang dan berat memiliki rata-rata kehamilan tiap bulannya

kurang dari 2%. Endometriosis berhubungan dengan infertilitas, tidak

semua wanita yang memiliki endometriosis adalah infertil. Sebagai contoh

banyak wanita menjalani sterilisasi tuba tercatat mengalami endometriosis.

Penyebab dan efek endometriosis diperkirakan berhubungan antara

berkurangnya fertilitas namun tidak terbukti. Ini diperkirakan bahwa

endometriosis merubah secara tidak langsung keadaan rongga pinggang

dengan menimbulkan perlekatan pada organ-organ rongga pelvik sehingga

mengganggu fungsi dari organ tersebut. Teori mencakup inflamasi,

perubahan sistem imun, perubahan hormon, ganguan fungsi tuba Falopii,

fertilitas dan implantasi. Itu lebih mudah untuk dipahami bagaimana

endometriosis sedang dan berat dapat mengurangi fertilitas, karena sebagian

besar perlekatan di rongga pinggang menyebabkan tidak terjadinya ovulasi,

menghalangi sperma masuk ke tuba Falopii, dan menghalangi kemampuan

tuba Falopii menangkap ovum selama ovulasi (American Fertility Society,

2007a).

Tabel 3. Jenis ganguan sistem yang disebabkan oleh endometriosis

26
No Sistem Jenis Gangguan
1 Fungsi KoitusDyspareunia (menurunkan frekuensi sanggama)
Inaktivasi sperma
2 Fungsi Sperma
Fagositosis sperma dengan makrofag
Fungsi Tuba Kerusakan fimbriae
3
Falopii Penurunan motilitas tuba akibat prostaglandin
Anovulasi
4 Fungsi Ovarium
Pelepasan gonadotropin yang terganggu

Sumber: Widjanarko, 2009.

Endometriosis dapat menyebabkan gangguan pada fungsi sistem

organ reproduksi yaitu fungsi koitus, sperma, tuba Falopii, ovarium. Pada

fungsi koitus menyebabkan rasa nyeri saat senggama (dyspareunia)

sehingga mengurangi frekuensi senggama. Pada fungsi sperma,

endometriosis akan menghambat sperma dengan antibodi tertentu. Hal ini

didasari dari hasil penelitian dimana terhadap antibodi yang memiliki efek

menghambat gerakan sperma sehingga berakibat terjadinya infertilitas

(Rusdi, 2009). Pada penderita endometriosis dibandingkan wanita normal,

makrofag teraktifasi oleh adanya kista, hal ini menyebabkan makrofag pada

penderita infertil dengan endometriosis membunuh lebih banyak sperma.

Jika makrofag ini memasuki sistem reproduksi melalui tuba, maka akan

terbentuk antibodi terhadap sperma yang akhirnya mematikan sperma

sehingga terjadi infertilitas (Abdullah, 2009).

27
Endometriosis pada tuba Falopii akan menyebabkan kerusakan pada

fimbriae sehingga tidak dapat menangkap sel telur yang dilepaskan oleh

ovarium. Endometriosis juga menyebabkan penurunan silia pada tuba

Falopii sehingga sel telur tidak dapat turun ke uterus. Pada fungsi ovarium

terjadi anovulasi sehingga folikel yang telah matang langsung membentuk

korpus luteum tanpa melepaskan sel telur. Hal ini juga berpengaruh

terhadap hormon gonadotropin dan mengakibatkan terganggunya siklua

ovarium selanjutnya. Menurut Abdullah (2009) perlengketan tuba yang luas

akan menghambat motilitas dan kemampuan fimbre untuk menangkap sel

telur. Sedangkan berkurangnya motilitas tuba dan transportasi ovum

mungkin disebabkan oleh sekresi prostaglandin oleh jaringan endometritik.

Endometriosis berhubungan dengan perubahan-perubahan fisiologis

alat reproduksi yang dapat menghambat terjadinya kehamilan. Derajat

keterlibatan organ-organ pelvik merupakan faktor utama dalam menentukan

kemampuan reproduksi penderita. Di bawah ini beberapa fenomena yang

mungkin mengurangi kemampuan reproduksi pada penderita endometriosis

sesuai dengan letak jaringan endometriotik berimplantasi (Abdullah, 2009):

• Endometriosis pada serviks: Kekakuan dan penyempitan serviks,

akibat endometriosis akan mengurangi laju pergerakan sperma

sehingga mengurangi fertilitas.

• Endometriosis pada Cavum Douglas: Melibatkan ligamentum

sakrouterina dan bagian posterior uterus akan menyebabkan

dispareni, sehingga mengurangi frekuensi koitus.

28
• Endometriosis pada ovarium: akan menyebabkan destruksi kortikal

dan pada gilirannya menyebabkan oligo atau anovulasi, sehingga

menghambat proses reproduksi.

• Endometriosis tuba Falopii: Perlengketan tuba Falopii yang luas

akan menghambat motilitas dan kemampuan fimbriae untuk

menangkap sel telur.

4.1.8 Penanganan

Penanganan endometriosis di bagi menjadi 2 jenis terapi yaitu terapi

medik dan terapi pembedahan.

a. Terapi medik diindikasikan kepada pasien yang ingin mempertahankan

kesuburannya atau yang gejala ringan (Rayburn, 2001). Jenis-jenis

terapi medik seperti terlampir pada Tabel. 3 dibawah ini (Widjanarko,

2009):

Tabel 4. Jenis-jenis terapi medik endometriosis

Jenis Kandungan Fungsi Mekanisme Dosis Efek


samping
Progestin Progesteron Menciptakan Menurunkan Medroxyprogest Depresi,
kehamilan kadar FSH, LH, eron acetate: 10 peningkatan
palsu dan estrogen – 30 mg/hari; berat badan
Depo-Provera®
150 mg setiap 3
bulan
Danazol Androgen Menciptakan Mencegah 800 mg/hari Jerawat,
lemah menopause keluarnya FSH, selama 6 bulan berat badan
palsu LH, dan meningkat,
pertumbuhan perubahan
endometrium suara
GnRH Analog Menciptakan Menekan sekresi Leuprolide 3.75 Penurunan
agonis GnRH menopause hormon GnRH mg / bulan; densitas
palsu dan Nafareline 200 tulang, rasa
endometrium mg 2 kali sehari; kering
Goserelin 3.75 mulut,
mg / bulan gangguan
emosi

29
b. Terapi pembedahan dapat dilaksanakan dengan laparoskopi untuk

mengangkat kista-kista, melepaskan adhesi, dan melenyapkan

implantasi dengan sinar laser atau elektrokauter. Tujuan pembedahan

untuk mengembalikan kesuburan dan menghilangkan gejala (Rayburn,

2001).

Terapi bedah konservatif dilakukan pada kasus infertilitas, penyakit

berat dengan perlekatan hebat, usia tua. Terapi bedah konservatif antara lain

meliputi pelepasan perlekatan, merusak jaringan endometriotik, dan

rekonstruksi anatomis sebaik mungkin (Widjanarko, 2009).

Penanganan endometriosis menurut Sumilat (2009, kom. pribadi)

dapat dilakukan dengan terapi medik seperti pemberian analog general dan

obat KB atau dengan terapi pembedahan menggunakan laparoskopi operatif

yaitu pembakaran kista endometriosis dengan menggunakan laser.

Tabel 5. Keuntungan dan kerugian terapi medik dan terapi


pembedahan
Jenis terapi Keuntungan Kerugian
Terapi medik 1. Biaya lebih murah 1. Sering ditemukan efek
2. Terapi empiris (dapat di samping
modifikasi dengan 2. Tidak memperbaiki
mudah) fertilitas
3. Efektif untuk 3. Beberapa obat hanya
menghilangkan rasa dapat digunakan untuk
nyeri waktu singkat
Terapi 1. Efektif untuk 1. Biaya mahal
pembedahan menghilangkan rasa 2. Resiko medis “
nyeri penetapan kurang baik
2. Lebih efisien dan penaksiran kurang
dibandingkan terapi baik” sekitar 3%
medis 3. Efisiensi diragukan, efek
3. Melalui biopsi dapat menghilangkan rasa

30
ditegakkan diagnosa nyeri temporer
pasti
Sumber: Widjanarko, 2009

31
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Hasil studi pustaka dan diskusi dengan ahli disimpulkan beberapa hal

sebagai berikut:

1. Penyebab utama endometriosis belum dapat dipastikan, akan tetapi

kemungkinan dapat disebabkan oleh aliran menstruasi mundur,

predisposisi genetik, metaplasia, maupun pengaruh dari pencemaran

lingkungan

2. Gejala endometriosis yang dapat dirasakan oleh penderita yaitu antara lain

berupa nyeri haid (dysmenorrhea) dan nyeri saat berhubungan

(dyspareunia)

3. Penanganan endometriosis dapat dilakukan dengan terapi medik seperti

pemberian progestin, danazol, GnRH agonis, dan microguinon. Sedangkan

terapi pembedahan dilakukan dengan laparoskopi melalui pelepasan

perlekatan, merusak jaringan endometriotik, rekonstruksi anatomis sebaik

mungkin, mengangkat kista, dan melenyapkan implantasi dengan sinar

laser atau elektrokauter.

5.2 Saran

32
1. Perlu di informasikan tentang pencegahan dan penanganan penyakit

endometriosis pada remaja.

2. Perlu diadakan penyuluhan tentang bahaya penyakit endometriosis kepada

masyarakat luas agar dapat diantisipasi dengan baik dan dapat mencegah

meningkatnya jumlah penderita.

33
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, N. 2009. Endometriosis dan Infertilitas. Jurnal Medika Nusantara,


vol.25 No.2:1-7. 2004. (http://med.unhas.ac.id /index.php?option =com_
content&task=category&sectionid=12&id=101&Itemid=48/1index.php,
diakses pada tanggal 30 Desember 2009). 7 hal.

American Fertility Society. 2007a. Booklet Endometriosis A Guide for Patients.


American Society For Reproductive Medicine. Alabama.
(http://www.asrm.org/Patients /Booklet/Endometriosis.pdf diakses pada
tanggal 28 Januari 2010). 16 hal.

American Fertility Society. 2007b. Booklet Laparoscopy And Hysteroscopy A


Guide for Patients. American Society For Reproductive Medicine.
Alabama. (http://www.asrm.org/Patients/Booklet/Laparoscopy.pdf diakses
pada tanggal 28 Januari 2010). 12 hal.

Bulun, S. E. 2009. Endometriosis. The New England Journal of Medicine.


Vol.360 No.3: 268-279. (http://content.nejm.org/cgi/content/ full/360/3/268,
diakses pada tanggal 30 Desember 2009). 11 hal.

Campbell, Neil A., J. B. Reece, L. G. Mitchell. 2004. BIOLOGI Edisi Kelima


Jilid 3. Penerbit Erlangga. Jakarta.

David, L. O., and L. B. Schwartz. 1993. Endometriosis. The New England Journ.
of Medicine. Vol.328 No.24: 1759-1769. (http://content.nejm.org/cgi/
content/full/328/24/1759, diakses pada tanggal 30 Desember 2009). 10 hal.

Eisenberg, E. 2009. Endometriosis Frequently Asked Questions. Office on


Women's Health in the Department of Health and Human Services. USA.
(http://www.womenshealth.gov, diakses pada tanggal 05 Januari 2010). 6
hal.

Guyton, A. C. dan Jhon E. H. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11.
EGC Medical Publisher. Jakarta. Hal 1065-1078.

Jacoeb, T.Z. 2007. Dicari Formula Pengobatan Endometriosis yang Tepat.


(http://www.majalahfarmacia.com/rubrik/magdetail.asp?
mid=42/one_news.asp.htm) diakses pada tanggal 10 januari 2010.

Marcoux, S., R. Maheux., S. Berube. 1997. Laparoscopic Surgery In Infertile


Women With Minimal Or Mild Endometriosis. The New England
Journal of Medicine. Vol.337 No.4 :217-222. (http://content.nejm.org
/cgi/content/full/337/4/217, diakses pada tanggal 31 Desember 2009). 5 hal.

34
Prawirohardjo, S. 2008. Ilmu Kandungan. P.T. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Jakarta. Hal 316-326.

Price, S.A. dan Lorraine M.W. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-
Proses Penyakit Edisi 6 Volume 2. EGC Medical Publisher. Jakarta. Hal
1277-1289.

Purves et al. 2007. Life: The Science of Biology 4th Edition. Sinauer Associates.
(http://www.emc.maricopa.edu/faculty/farabee/Biobk/Biobookreprod.html,
diakses pada tanggal 20 Desember 2007).

Rayburn, W. F., Christopher C. 2001. Obstetri dan Ginekologi. Widya Medika.


Jakarta. Hal 278-282.

Redwine, D. 2009. Endometriosis Advances and Controversies. Marcel


Dekker.Inc. New York. Hal 2-10.

Rier S. E., et al. 1993. Endometriosis in rhesus monkeys following chronic


exposure to 2,3,7,8-tetrachlorodibenzo-dioxin. Toxicological Sciences.
Volume 21, Number 4 : 433-441. (http://toxsci.oxfordjournals.org/cgi/
reprint /21/4/433)

Ruhendra. 1999. Dioksin. UIKA. Bogor. (http://furl.net/store?u=http:// Fjurnal-


kopertis 4.tripod.com/ 2F6-01.html & amp;t pendahuluan, diakses pada
tanggal 28 Januari 2010).

Rusdi, G. 2009. Tesis Sebaran Kadar Sel T Regulator Cairan Peritoneum


Pasien Endometriosis. FK UI. Jakarta. (http://www.scribd.com/doc/
22327442/sebaran kadar sel t regulator cairan peritoneum pasien
endometriosis, diakses pada tanggal 07 Januari 2010). 51 hal.

Sampson JA. 2009. Peritoneal endometriosis due to menstrual dissemination


of endometrial tissue into peritoneal cavity. Am J Obstet Gynecol 1927;
No. 14: 69-422. (http://content.nejm.org/cgi/external_ref?access_num=
000202353400057&link_type=ISI)

Simatupang, J. 2003. Referat Iv Perubahan Imunologis Pada Endometriosis


Peritoneal. FK UNSRI. Palembang. (http://digilib.unsri.ac.id/download/
Perubahan%20imunologis%20pada%20endometriosis.pdf, diakses pada
tanggal 08 Januari 2009). 29 hal.

Somigliana E., P. Vigano. and P. Vercellini. 2006. A literature review of clinical


and epidemiological studies addressing the risk of cancer in
endometriosis. University of Milano and Center for Research in Obstetrics
& Gynaecology (CROG). Italy. (http://wes.endometriosis.org/ejournal.htm,
diakses 30 Desember 2009).
Tangri, N. 2009. Laporan GAIA “Insinerator Sampah: Teknologi yang
Sekarat”. Global Anti-Incinerator Alliance (GAIA). Philippines.

35
(http://www.scribd.com/doc/6548683, diakses pada tangal 28 Januari 2010).
6 hal.

Widjarnako, B. 2009. Endometriosis. (http://obfkumj.blogspot.com/


Endometriosis.html, diakses pada tanggal 07 Januari 2010).

Widhi, N.K. 2007. Plastik, Fast Food & Rokok Biang Utama Endometriosis.
(http://www.detiknews.com/kanal/10/berita/10.html, diakses pada tanggal
10 Januari 2010).

Wood, R. 2008a. Causes. (http://www.endometriosis.org/causes.html, diakses


pada tanggal 2 oktober 2009).

Wood, R. 2008b. Endometriosis. (http://www.endometriosis.org /endometriosis.


html, diakses pada tanggal 2 oktober 2009).

Wood, R. 2008c. Symptoms. (http://www.endometriosis.org/symptoms.html,


diakses pada tanggal 1 oktober 2009).

36
Lampiran A. Kusioner
Nama: Tanggal:
Alamat:

1. Apakah pernah dokter menangani kasus endometriosis hingga saat ini?


a. Pernah, sebanyak………….kasus
b. Tidak
1. Menurut dokter apakah penyebab dari endometriosis ini?
a. Berasal dari adanya menstruasi mundur
b. Berasal dari metaplasia
c. Berasal dari predisposisi genetic
d. Berasal dari pengaruh lingkungan
e. Berasal dari keempatnya
1. Menurut data yang saya peroleh, endometriosis dapat disebabkan oleh
polutan seperti asbes, merkuri, dioxin, klorin, dan asap rokok? Apakah hal
tersebut benar?
a. Benar
b. Tidak
1. Apakah endometriosis dapat disebabkan oleh pengkonsumsian alcohol,
daging ham, makanan cepat saji (fast food), dan kafein?
a. Benar, kenapa?..........................
b. Tidak
1. Menurut dokter, apakah penyakit endometriosis ini dapat menggangu
siklus haid dan mengacaukan hormone yang berhubungan dengan siklus
tersebut?
a. Dapat, mengapa?................................
b. Tidak
1. Apakah orgasme saat menstruasi dapat menyebabkan endometriosis?
a. Dapat, mengapa?, ………………………………..
b. Tidak
1. Resiko tertinggi terjadinya endometriosis adalah pada wanita yang ibu
atau saudara perempuannya mengalami endometriosis?
a. Dapat, apakah endometriosis bersifat
menurun?......................................................................
b. Tidak
1. Bagaimana cara mengetahui seseorang menderita endometriosis?
a. Melakukan pemeriksaan organ dalam, seperti………………………….
b. Pemeriksaan luar, seperti…………………..
1. Di organ mana saja yang sering ditemukan endometriosis?
a. Ovarium, tuba Falopii, uterus, servix

37
b. Organ lain seperti,…………………………
1. Apa dampak dari penyakit endometriosis terhadap organ reproduksi
wanita?
a. Kerusakan organ
b. Kesulitan hamil
c. Pengaruh lainnya, seperti………………………..
1. Apakah endometriosis dapat menyebabkan kemandulan? Apa yang
menyebabkan hal tersebut?
a. Dapat, ……………………………
b. Tidak
1. Bagaimana penanganan penyakit endometriosis secara medis?
a. Melakuakan terapi, seperti…………………..
b. Melakukan pengobatan, seperti……………………….
c. Melakukan operasi
1. Bagaimana cara pencegahan penyakit ini?
a. Menghindari makanan yang berbahan pengawet
b. Menghindari polusi
c. Menjaga stamina tubuh
d. Menjaga pola makan yang sehat
e. Menghindari alcohol dan rokok

Lampiran B. Kusioner
Nama: Tanggal:

38
Alamat:

1. Apakah pernah dokter menangani kasus endometriosis hingga saat ini?


a. Pernah, sebanyak………….kasus
b. Tidak
1. Menurut dokter apakah penyebab dari endometriosis ini?
a. Berasal dari adanya menstruasi mundur
b. Berasal dari metaplasia
c. Berasal dari predisposisi genetik
d. Berasal dari pengaruh lingkungan
e. Berasal dari keempatnya
1. Menurut data yang saya peroleh, endometriosis dapat disebabkan oleh
polutan seperti asbes, merkuri, dioxin, klorin, dan asap rokok? Apakah hal
tersebut benar?
a. Benar
b. Tidak
1. Apakah endometriosis dapat disebabkan oleh pengkonsumsian alcohol,
daging ham, makanan cepat saji (fast food), dan kafein?
a. Benar, kenapa?..........................
b. Tidak
1. Menurut dokter, apakah penyakit endometriosis ini dapat menggangu
siklus haid dan mengacaukan hormone yang berhubungan dengan siklus
tersebut?
a. Dapat, mengapa?................................
b. Tidak
1. Apakah orgasme saat menstruasi dapat menyebabkan endometriosis?
a. Dapat, mengapa?, ………………………………..
b. Tidak
1. Resiko tertinggi terjadinya endometriosis adalah pada wanita yang ibu
atau saudara perempuannya mengalami endometriosis?
a. Dapat, apakah endometriosis bersifat
menurun?......................................................................
b. Tidak
1. Bagaimana cara mengetahui seseorang menderita endometriosis?
a. Melakukan pemeriksaan organ dalam, seperti………………………….
b. Pemeriksaan luar, seperti…………………..
1. Di organ mana saja yang sering ditemukan endometriosis?
a. Ovarium, tuba Falopii, uterus, servix
b. Organ lain seperti,…………………………
1. Apa dampak dari penyakit endometriosis terhadap organ reproduksi
wanita?

39
a. Kerusakan organ
b. Kesulitan hamil
c. Pengaruh lainnya, seperti………………………..
1. Apakah endometriosis dapat menyebabkan kemandulan? Apa yang
menyebabkan hal tersebut?
a. Dapat, ……………………………
b. Tidak
1. Bagaimana penanganan penyakit endometriosis secara medis?
a. Melakuakan terapi, seperti…………………..
b. Melakukan pengobatan, seperti……………………….
c. Melakukan operasi
1. Bagaimana cara pencegahan penyakit ini?
a. Menghindari makanan yang berbahan pengawet
b. Menghindari polusi
c. Menjaga stamina tubuh
d. Menjaga pola makan yang sehat
e. Menghindari alkohol dan rokok

40