Anda di halaman 1dari 2

PENELITIAN FILOLOGI DALAM ''HIKAYAT MUHAMMAD HANAFIYAH'' A.1.

Pencatatan dan Pengumpulan Naskah Setelah dilakukan penelusuran, maka penulis berkesimpulan bahwa buku-buku yang memuat naskah Hikayat Muhammad Hanafiyah adalah : 1. A History of Classical Malay Literature, karangan Sir Richard Winstedt, Penerbit Oxford University Press, diterbitkan bersama di Kuala Lumpur, Singapura, New York, London dan Melbourne pada tahun 1969. Buku ini terdapat di Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada dengan Nomor Katalog 899.299 Win h. Jumlah halaman sebanyak 323 dan dicetak di atas kertas kuning serta dalam kondisi baik. Hikayat Muhammad Hanafiyah terdapat di halaman 265-273, tetapi keterangan mengenai hikayat ini dicantumkan penulis pada halaman 105-107. 2. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik, karangan Drs. Liaw Yock Fang, Penerbit Pustaka Nasional Singapura, tahun 1975. Jumlah halaman sebanyak 351 dengan kondisi baik dan Hikayat Muhammad Hanafiyah terdapat di halaman 135-137. Sedangkan keterangan lain mengenai Hikayat Muhammad Hanafiyah yang ada dalam buku ini dapat ditemukan pada halaman 135. Di samping kedua buku di atas, buku lain yang memuat keterangan mengenai Hikayat Muhammad Hanafiyah ada dalam tulisan Henri Chambert-Loir, Les Manuscrits Malais de Bale, Lund, Singapour et Paris, Jurnal Archipel Volume 20, terbitan Paris, pada tahun 1980, halaman 89-90. Keterangan lain mengenai Hikayat Muhammad Hanafiyah yang terdapat dalam jurnal ini adalah tulisan Russel Jones berjudul Review Article : Problems of Editing Malay Texts; Discussed with reference to the Hikayat Muhammad Hanafiyah yang ada pada halaman 121131. Semua tulisan yang berkaitan dengan Hikayat Muhammad Hanafiyah ini dalam kondisi baik dan dapat terbaca dengan jelas. Tulisan pertama ditulis dalam Bahasa Prancis sedangkan tulisan kedua dituangkan penulisnya dalam Bahasa Inggris. A.2. Metode Kritik Teks Meskipun buku yang memuat Hikayat Muhammad Hanafiyah terdiri dari beberapa tulisan, walaupun yang secara utuh memuatnya hanya ada dua buku sebagaimana telah disebutkan di atas, tetapi tidak ditemukan adanya perbedaan yang mendasar. Bahkan lebih jauh lagi, Buku Sejarah Kesusastraan Melayu yang memuat ringkasan Hikayat Muhammad Hanafiyah sebagian besar merujuk pada buku karangan Winstedt di atas. Hal ini dapat terjadi karena sejak lama, tepatnya tahun 1940, buku Winstedt ini menjadi satu-satu buku yang mengetengahkan paparan mengenai kesusasteraan Melayu klasik. Berdasarkan hal ini, penulis berkesimpulan bahwa metode kritik teks yang diterapkan terhadap Hikayat Muhammad Hanafiyah ini adalah metode gabungan. Yaitu, metode kritikk teks yang digunakan jika naskahnaskah mengenai objek penelitian dinilai hampir sama dan kalaupun ada perbedaan juga tidak mendasar dan tidak besar serta tidak mempengaruhi teks tersebut. A..3. Susunan Stema Langkah selanjutnya yang dilakukan dalam penelaahan filologi adalah menyusun stema dari naskah-naskah objek kajian yang telah dilakukan pengumpulan pada tahap pertama di atas. Sebagaimana diketahui bahwa tujuan utama penelitian filologi terhadap sebuah naskah adalah untuk mendapatkan naskah yang murni, atau paling tidak sedekat mungkin dengan naskah asli yang ditulis pengarangnya. Hal ini karena tulisan yang ada dalam naskah tersebut adalah gagasan dan hasil olah pikir penulisnya yang ingin kita ketahui sehingga penulisnya tersebut seharusnya menjadi individu yang memiliki wewenang tunggal dan tinggi atas gagasannya tersebut, bukan komentator atau penyalinnya. Meskipun demikian, karena perbedaan jarak waktu yang sangat jauh maka seringkali yang ditemukan bukan naskah asli yang ditulis oleh pengarangnya, tetapi berupa salinan yang dilakukan oleh orang-orang yang ada setelahnya. Tidak dapat dihindari dalam proses penyalinan tersebut terdapat perbedaan dari aslinya, baik berupa pengurangan atau penambanhan. Dalam kondisi seperti inilah diperlukan tahapan ketiga, yaitu menyusun stema. Adapun tujuan penerapan stema dalam penelitian filologi adalah membuat pohon silsilah naskah-naskah yang menjadi objek penelitian. Berdasarkan pengumpulan naskah pada tahap pertama di atas, maka dapat disusun sebagai berikut:

Naskah A : A History of Classical Malay Literature karya Sir Richard Winstedt Naskah B : Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik, karangan Drs. Liaw Yock Fang. Naskah A merupakan naskah arketip yang menjadi induk atau sumber bagi naskah B yang menjadi hiparketipnya (subinduk) atau turunan dari naskah A. Meskipun demikian, naskah A yang menjadi arketip dari naskah-naskah yang ditemukan dalam penelitian ini merupakan turunan dari naskah-naskah Hikayat Muhammad Hanafiyah yang ada di beberapa tempat di dunia. Berdasarkan penelusuran Chamber-Loir, naskah-naskah Hikayat Muhammad Hanafiyah terdapat di beberapa tempat, yaitu di Universitas London berdasarkan catalog C.J. Tornberg yang dilakukan pada tahun 1850, dan di Museum Nasional Singapura. Sedangkan berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh P. Voorhoeve, Hikayat Muhammad Hanafiyah terdapat di Perpustakaan Universitas Leiden Belanda dan berasal dari Sekretariat Batavia Belanda dahulu. Winstedt sendiri juga mencatat bahwa naskah Hikayat Muhammad Hanafiyah juga terdapat di Perpustakaan Universitas Cambridge sebanyak 60 halaman. Berdasarkan paparan di atas, maka dapat diketahui bahwa naskah A yang diterjemahkan kembali oleh Winstedt ke dalam bahasa Inggris bersumber dari naskah-naskah Hikayat Muhammad Hanafiyah yang ada di London, Leiden, dan Singapura. Selanjutnya, Liaw Yock Fang menerjemahkannya dan menyalinnya kembali dalam bukunya Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik yang ditulis dalam Bahasa Indonesia sehingga menjadi naskah A.4. Rekonstruksi Teks Langkah berikutnya dalam kajian filologi atau terakhir adalah merekonstruksi teks yang telah dilakukan langkahlangkah sebelumnya. Tujuan dilakukannya rekonstruksi teks adalah untuk mengetahui kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam naskah-naskah yang ada dengan cara melihat apa yang ada dalam naskah lainnya. Akan tetapi, karena hasil penelusuran yang penulis lakukan hanya menemukan dua naskah saja maka hal ini sulit dilakukan. Namun demikian, penulis dapat berkesimpulan bahwa naskah A merupakan naskah asli Hikayat Muhammad Hanafiyah atau lebih tepatnya terjemahan Bahasa Inggris dari hikayat Melayu klasik ini. Hal ini berdasarkan beberapa faktor, yaitu naskah B merupakan ringkasan dari Hikayat Muhammad Hanafiyah yang ada dalam naskah A dan tidak ditemukan perbedaan di dalam keduanya sedangkan yang kedua adalah naskah A merupakan buku yang telah sangat lama menjadi rujukan dalam penelitian sastra Melayu klasik. Di samping itu, pengarang naskah A merupakan tokoh yang diakui kapabilitas dan kapasitasnya dalam jagat penelitian filologi.