Anda di halaman 1dari 22

BAB II DESKRIPSI TEORITIK, KERANGKA PIKIR, DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoritik 1. Teori Konstruktivisme Dalam Pembelajaran Kajian epistemologi dan psikologis tentang bagaimana hakekat seseorang (siswa) dalam memperoleh pengetahuan terus berlangsung hingga sekarang. Salah satunya adalah kajian terhadap teori belajar konstruktivisme yang sangat kontributif terhadap pangajaran IPA yang diharapkan. Teori konstruktivisme menggambarkan bahwa siswa membentuk atau membangun pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungan. constructivism assert that knowledge cannot be handed from one person to another (from e teacher to a learner), but must be constructed by each learner througt interpreting and reinterpreting a constant flow of information.1 Teori konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan tidak dapat diberikan begitu saja dari seseorang kepada orang lain (dari guru kepada siswa), tetapi harus dibangun oleh setiap siswa melalui interpretasi informasi secara terus menerus. Teori belaajr konstruktivisme bermula dari psikologi perkembangan intelektual Piaget yang memandang belajar sebagai proses pengaturan sendiri (self regulation) yang dilakukan seseorang dalam mengatasi konflik kognitif.2 Konflik ini timbul pada saat terjadi ketidakselarasan antara informasi yang diterima siswa dengan struktur kognitif yang dimiliknya. Konflik kognitif tersebut terjadi kerana adanya interaksi antara konsepsi awal yang telah dimiliki siswa dengan fenomena baru yang tidak dapat diintegrasikan begitu saja, sehingga diperlukan modifikasi struktur kognitif untuk mencapai keseimbangan.

Myra Pollack Sadker and David Miller Sadker, Teacher, School, and Society, (New York: The McGraw Hill Companies. 2005), h. 345 2 Umi Nurhayati, Analisis Pembelajaran pada Subkonsep Bahasan Pencemaran Air melaui Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat, Skripsi UPI Bandung (Bandung: Perpustakan UPI Bandung. 2004), h. 23.

Piaget dan para konstruktivisme pada umumnya berpendapat bahwa dalam mengajar, guru seharusnya memperhatikan pengetahuan yang telah diperoleh siswa sebelumnya. Mengajar bukan sebagai proses dimana gagasan-gagasan guru dipindahkan pada siswa, melainkan sebagai proses mengubah gagasan siswa yang sudah ada dan yang mungkin salah. Dengan merujuk pada pembelajaran konstrukrivisme, Watts (1994) dalam Suranto mengidentifikasikan enam prinsip yang menjadi ciri strong construtivism, yaitu: 1. Cognitive construction; berhubungan dengan proses konsetulisasi, yaitu hubungan antara pengetahuan awal dengan informasi yang tersedia; 2. Constructive processes; berhubungan dengan proses konstruksi,

rekonstruksi maupun dekonstruksi struktur pengetahuan; 3. Oppositionality; membandingkan; 4. Critical realism; berhubungan dengan kemampuan berargumen karena pengetahuan bersifat sementara; 5. Self determination; berhubungan dengan pencapaian metakognisi; 6. Collegiality; berhubungan dengan konteks sosial pembelajaran.3 Adapun paham konstruktivisme yang dikemukakan oleh Giambatistuta Vico, bahwa pada dasarnya manusia mengetahui sesuatu setelah ia membentuk pengetahuan itu sendiri. Implikasinya dalam kehidupan dan khususnya dalam kehidupan adalah bahwa seseorang dapat menemukan pada orang lain apa yang ia ketahui. Selanjutnya seseorang dikatakan telah memahami suatu konsep tertentu apabila ia dapat mentransfer pengetahuan yang ia miliki.4 Peranan konstruktivisme dalam pendidikan dewasa ini oleh sebagian pendidik dianggap sesuatu yang baru. Secara umum, implikasi dari pandangan konstruktivisme dalam pendidikan adalah sebagai berikut:
3 Tatang Suranto, Peranan Konstruktivisme dalam Pembelajaran dan Pengajaran Sains. Dalam Prosiding Seminar Internasional Pendidikan IPA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2007, h. 82. 4 Anna Poedjiadi, Op. Cit, h. 70.

berhubungan

dengan

aktifitas

membedakan

dan

1. Tujuan pendidikan konstruktivisme adalah menghasilkan individu yang memiliki kemampuan berpikir untuk menyelesaikan tiap persoalan yang dihadapi 2. Kurikulum dirancang sedemikian sehingga terjadi situasi yang

memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstrusi oleh peserta didik 3. Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya 4. Guru berfungsi sebagai mediator, fasilitator, dan teman-teman yang membuat situasi yang kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.5 Berikut ini beberapa kelebihan pembelajaran konstruktivisme, yaitu: 1. Pembelajaran konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, den mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya 2. Pembelajaran konstruktivisme memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan awal siswa dengan maksud agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena awal 3. Pembelajaran konstruktivisme memberikan kesempatan siswa untuk berpikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksi tentang teori dan model, mengenalkan gagasan-gagasan sains pada saat yang tepat 4. Pembelajaran konstruktivisme mendorong siswa memperoleh kepercayaan diri 5. Pembelajaran konstruktivisme memberikan lingkungan belajar yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan.6 Berdasarkan masalah atau isu di masyarakat yang ditemukan oleh siswa, guru mengarahkan dengan suatu pendekatan dalam pembelajaran sehingga siswa dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, misalnya dengan
Anna Poedjiadi, Pengantar Filsafat Ilmu Bagi Pendidik, (Bandung: Yayasan Cendrawasih, 1999), h. 62. 6 Nuryani Rustaman, Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Malang: UM Press, 2005), h. 171.
5

eksperimen atau diskusi. Dengan cara ini guru telah menerapkan paham konstruktivisme dalam pembelajaran, yang dewasa ini sedang diminati para pendidik dan dijadikan dasar pembelajaran melalui pendekatan sains teknologi masyarakat.

2. Pendekatan Sains, Teknologi, dan Masyarakat (STM) a. Pengertian Pendekatan Pembelajaran merupakan proses interaksi yang dilakukan oleh guru dan siswa, baik di dalam maupun di luar kelas dengan menggunakan berbagai sumber belajar sebagai bahan kajian.7 Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional tahun 2003, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dari sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.8 Dengan demikian, pembelajaran adalah suatu proses interaksi (hubungan timbal balik) antara guru dan siswa. Dalam proses tersebut guru memberikan bimbingan dan menyediakan berbagai kesempatan yang mendorong siswa belajar dan memperoleh pengalaman sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tercapainya tujuan pembelajaran ditandai oleh tingkat penguasaan konsep siswa. Agar siswa dapat memahami materi subyek yang disampaikan oleh guru dengan mudah, guru perlu memperisapkan pendekatan dan metode pembelajaran yang cocok untuk materi subyek yang telah diolah secara pedagogi.9 Pendekatan pembelajaran adalah upaya-upaya yang sistematis dengan langkah-langkah yang terencana, terarah dan teratur agar pembelajaran berhasil guna atau efektif dan efisien. Usahausaha untuk merancang pembelajaran yang efektif, seperti dengan mengurutkan pokok bahasan, pemberian tentang bahan pengajaran, tugas-tugas belajar, komponen pengajaran, ternyata dapat

meningkatkan hasil belajar siswa.


7 8

Anna Poedjiadi, Op. Cit, h. 75 Undang-undang Sisdiknas, Op. Cit, h. 4. 9 Anna Poedjiadi Op. Cit, h. 76.

Suatu prinsip untuk memilih pendekatan pembelajaran ialah belajar melalui proses mengalami secara langsung untuk memperoleh hasil belajar yang bermakna. Proses tersebut dilaksanakan melalui interaksi antara siswa dengan lingkungannya. Dalam proses ini siswa termotivasi dan senang melakukan kegiatan belajar yang menarik dan bermakna bagi dirinya, ini berarti peranaan pendekatan belajar mengajar sangat penting kaitannya dengan keberhasilan belajar. Penggunaan pendekatan pembelajaran di kelas sangat tergantung pada kasediaan dan kemampuan guru. Dengan pendekatan

pembelajaran yang tepat pembelajaran dapat efektif dan efisien. Pemilihan dan penggunaan pendekatan pembelajaran harus

memperhatikan semua komponen yang ada di dalam sistem pembelajaran. Dengan demikian tepat atau tidaknya pendekatan pembelajaran berpengaruh pada proses pembelajaran dan akhirnya berpengaruh pada prestasi belajar siswa. Maka semakin baik penerapan pendekatan akan semakin baik pula prestasi belajar yang dicapai siswa. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran merupakan kerangka berpikir atau cara pendang dan prosedur kerja secara umum dan abstrak yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam penerapannya, pendekatan pembelajaran tidak dapat langsung operasional, melainakn melalui strategi-strategi, model-model, den metode-metode pembelajaran. b. Pengertian Sains, Teknologi dan Masyarakat (STM) Pendekatan sains teknologi masyarakat sebagai suatu program pendidikan untuk pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahu 1985. pada tahun 1986, pendekatan STM mulai diperkenalkan di Program Pasca Sarjana IKIP Bandung, sebagai salah satu mata kuliah. Sedangkan penelitian di kelas baru dilaksanakan pada tahun 1994.10 Istilah Sains Teknologi Masyarakat diterjemahkan dari bahasa Inggris Science Techology Society (STS), yaitu pada awalnya
10

Anna Poedjiadi, Op. Cit, h. 111.

dikemukakan oleh John Ziman dalam bukunya Teaching and Lerning about Science and Society. Pembelajaran Science Technology Society berarti menggunakan teknologi sebagai penghubung antara sains dan masyarakat.11 Pada istilah STM terkandung tiga kata kunci, yaitu sains, teknologi, dan masyarakat. Pendekatan STM dalam pembelajaran sains pada hakikatnya dapat ditinjau dari asumsi dasar pengertian sains, teknologi dan masyarakat, interaksi antar ketiganya serta kaitannya dengan tujuan-tujuan pendidikan sains. Antara sains dan teknologi saling melengkapi sangat erat satu dengan yang lainnya. Menurut Hungerford, Volk dan Ramsey dalam Golib, sains adalah (1) proses memperoleh informasi melalui metode empiris (empirical methode); (2) informasi yang diperoleh melalui

penyelidikan yang telah ditata secara logis dan sistematis; dan (3) suatu kombinasi proses berpikir kritis yang menghasilakn informasi yang dapat dipercaya dan valid. Berdasarkan tiga definisi tersebut, Hungerford, Volk dan Ramsey menyatakan bahwa sains mengandung dua elemen utama, yaitu proses dan produk yang saling mengisi dalam derap kemajuan dan perkembangan sains.12 Fisher dalam Koestantoniah menyatakan bahwa sains adalah suatu kumpulan pengetahuan yang diperoleh menggunakan metodemetode yang berdasarkan observasi.13 Sains sebagai proses metode penyelidikan meliputi cara berpikir, sikap, dan langkah-langkah kagiatan saintis untuk memperoleh produk-produk sains atau ilmu pengetahuan ilmiah, misalnya observasi pengukuran, merumuskan, dan menguji hipotesis, mengumpulkan data, bereksperimen, dan prediksi. Dalam kondis tersebut, sains bukan sekedar cara bekerja, melihat, dan cara berpikir melinkan science as a
Ibid, h. 99. La Maronta Golib, Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat Dalam Pembelajaran Sains di Sekolah, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No. 034 Tahun ke-8, Januari 2002, h. 43. 13 Koestantoniah, Upaya Peningkatan Proses Pembelajaran Ipa di Sekolah Dasar, dalam Edukasi Januari-Juni 2000 edisi 01 Tahun XI, h. 74.
12 11

way of knowing. Artinya, sains sebagai proses juga dapat meliputi kecenderungan sikap atau tindakan, keingintahuan, kebiasaan berpikir, dan seperangkat prosedur. Nilai-nilai sains berhubungan dengan tanggung jawab moral, nilai-nilai sosial, manfaat sains untuk kehidupan manusia, serta sikap dan tindakan.14 Dalam Standars for Science Teacher Preperation yang diselenggarakan oleh NSTA pada tahun 1998 dan bekerjasama dengan The Association for The Education of Teacher in Science, dinyatakan bahwa salah satu aspek yang ahrus diperhatikan oleh guru sains adalah konteks sosial (social contex). Guru harus mampu mengidentifikasi dan menggunakan sumber-sumber dari luar sekolah.15 Kata kedua dari istilah sains, teknologi dan masyarakat (STM) adalah teknologi. Secara etimologi, kata teknologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata techne dan logos. Techne artinya kiat (art) atau kerajinan (craft), sedangkan logos artinya kata-kata yang terorganisasi atau wacana ilmiah yang mempunyai makna.16 Menurut Fisher, yang dikutip oleh Golib, teknologi adalah keseluruhan upaya yang dilakukan masyarakat (manusia) untuk mengadakan benda-benda agar memperoleh kenyamanan dan makanan bagi manusia itu sendiri. Hunt dan Solmon menyatakan bahwa teknologi merupakan keahlian (carft), mesin-mesin besar (big machines) atau teknologi tinggi (misalnya, computer dan robot), dan proses keterampilan (skilled procces).17 Aikenhead menyatakan, teknologi merupakan studi tentang man made world, artinya berhubungan dengan kreasi atau perekayasaan alam dan solusi dari dan untuk manusia dalam menghadapi masalahmasalah dan tantangan dari lingkungan atau alam.18 Ini berarti dari
La Maronta Golib, Op. Cit, h. 44. Anna Poedjadi, Op. Cit, h. 98. 16 Koestantoniah, Op. Cit, h. 75. 17 La Maronta Golib, Op. Cit, h. 44. 18 Made Alit Mariana, Suatu Tinjauan Tentang Hakekat Pendekatan Science, Technology, and Society Dalam Pembelajaran Sains, Buletin Pelangi Pendidikan, Vol. 2 No. 1 Tahun 1999/2000, h. 38.
15 14

teknologi diperoleh solusi dari masalah yang dirasakan masyarakat sedangkan hasil sains berupa penjelasan tentang fenomena alam. Hurd dalam buku Whitefield and Jenkin E. memberikan hubungan antara sains dan teknologi menerapkan konsep sains dan teknologi menghasilkan teknologi baru bagi sains.19 Selnjutnya, kata ketiga dari sains, teknologi, dan masyarakat (STM) adalah masyarakat (society). Berkaitan dengan pendekatan STM, Aikenhead, seperti yang dikutip oleh Golib, memberikan batasan bahwa society is the social milieu. Jadi, masyarakat mengandung pengertian lingkungan pergaulan sehari-hari, teknologi, pranata sosial, aspek-aspek sosial budaya, dan nilai-nilai yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat.20 Ziman dan Alit dalam Arnie Fajar menggolongkan masyarakat (society) menjadi empat kelompok, yaitu: 1. Masyarakat awam, meliputi masyarakat yang tidak berpendidikan, bukan pakar, dan tidak terlibat dalam sains dan teknologi 2. Masyarakat ilmuan, meliputi peneliti, mereka yang berpendidikan khusus, dan guru sains ilmu 3. Masyarakat mediator dan metasains, meliputu penulis, sarjana STS, dan pendidik 4. Masyarakat atentif, meliputi orang yang berkepentingan besar akan sains dan teknologi, kejujuran, yang pernah dilatih, dan guru pendidikan dasar. Penggolongan masyarakat oleh Ziman ini berdasarkan

keterlibatannya dengan sains dan teknologi. Secara umum, masyarakat (society) dapat diartiakn lingkungan masyarakat baik masyarakat awam maupun ilmuan. Nilai-nilai yang dianut di dalam suatu lingkungan tertentu (regional, nasional, dan internasional) merupakan salah satu elemen penting dalam menentukan solusi dari masalah yang
19 20

Koestantoniah, Op. Cit, h. 76. La Maronta Golib, Op. Cit, h. 44-45.

dihadapi, disamping elemen lain yang ada di masyarakat.21 Keterkaitan antara Sains-Teknologi-Masyarakat ditunjukan pada gambar 2.1, sebagai berikut:
SAINS

TEKNOLOGI

MASYARAKAT

Gambar 2.1. Ineraksi Sains-Teknologi-Masyarakat22 (Hungerford, Volk & Ramsey, 1990: 29) Dengan demikian, secara konseptual, pendekatan STM dapat dikaitkan dengan asumsi bahwa sains, teknologi, dan masyarakat memilki keterkaitan timbal balik, saling isi mengisi, saling tergantung, saling mempengaruhi dan mendukung dalam mempertumakan antara permintaan kebutuhan manusi serta membuat kehidupan masyarakat lebih baik dan mudah. Yula Miranda mengemukakan, pendekatan STM adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran IPA yang menekankan pada upaya mengaitkan pengetahuan sains dengan masalah teknologi dan masyarakat serta impilaksinya dalam kehidapan sehari-hari.23

Pendekatan StM ini melibatkan siswa dalam menentukan tujuan, prosedur pelaksanaan, pencarian informasi dan dalam evaluasi. Tujuan utama pendekatan STM ini adalah untuk menghasilkan lulusan yang cukup mempunyai bekal pengetahuan sehingga mampu mengambil keputusan penting tentang masalah-masalah dalam masyarakat

21

Arnie Fajar, Portofolio dalam Pelajaran IPS, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), h.

31. La Maronta Golib, Op. Cit, h. 45. Yula Miranda, Pengaruh Penggunaan Discovery Terpimpin dan Pendekatan Sian Teknologi Masyarakat Terhadap Hasil Belajar Keanekaragaman Hayati Pada Siswa Kelas I SMU Negeri Palngkaraya, (Jurnal Penelitian Kependidikan, Tahun 12, No. 1. Juni 2002), h. 85.
23 22

sehingga dapat mengambil tindakan sehubungan dengan keputusan yang diambilnya. Pembelajaran sains yang dilakukan saat ini dengan pendekatan sains teknologi masyarakat menunjukan beberapa perbedaan, hal ini dapat dilihat sebagai berikut: 1. Pembelajaran masyarakat a. Sesuai dengan kurikulum dan menjawab permasalahan di masyarakat b. Multidisipliner dan diajarkan secara menyeluruh c. Topik/arah/fokus ditentukan oleh siswa atau isu yang ada disekitarnya d. Dimulai dengan aplikasi sains (IPA dan teknologi) yang ada di masyarakat e. Guru sebagai fasilitator f. Menggunakan sumber daya yang ada di lingkungannya g. Tugas utama siswa adalah mencari informasi, mengolah, dan menyimpulkan 2. Pembelajaran sains saat ini (konvensional) a. Konsep berasal dari buku teks sesuai kurikulum b. Monodisipilner dan diajarkan secara terpisah c. Topik/arah/fokus ditentukan oleh guru d. Dalam pembelajarannya dimulai dari konsep, prinsip, baru kemudian contohnya e. Guru sebagai pemberi informasi f. Menggunakan sumber daya yang ada di sekolah g. Tugas utama siswa adalah memahami isi buku teks.24 Kekhasan dari model ini adalah bahwa pada pendahuluan dikemukakan isu-isu atau masalah-masalah yang ada di masyarakat
Rusmansyah, Prospek Penerapan Pendekatan STM dalam Pembelajaran Kimia, dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. No. 029, Tahun ke-7, Mei 2000. h. 195.
24

sains

dengan

pendekataan

sains

teknologi

yang dapat digali dari siswa, tetapi apabila guru tidak berhasil memperoleh tangapan dari siswa dapat saja dikemukakan oleh guru sendiri. Tahapan ini dapat disebut inisiasi atau mengawali, memulai, dan dapat juga disebut dengan invitasi atau undangan agar siswa memusatkan perhatian pada pembelajaran. Apersepsi dalam kehidupan juga dapat dilakukan, yaitu mengaitkan peristiwa yang telah diketahui oleh siswa dengan materi yang akan dibahas, sehingga tidak adanya kesinambungan

pengetahuan, karena diawali dengan hal-hal yang telah diketahui oleh siswa sebelumnya yang ditekankan pada keadaan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.25 Tahap selanjutnya, proses pembentukan konsep dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan atau metode. Pada akhir tahap ke-2 diharapkan melalui konstruksi dan rekonstruksi siswa menemukan konsep-konsep yang benar atau merupakan konsep-konsep para ilmuan. Selanjutnya berbekal

pemahaman konsep yang benar siswa melakukan analisis itu atau penyelesaian masalah yang dapat disebut aplikasi konsep dalam kehidupan.26 Adapun konsep-konsep yang telah dipahami siswa dapat diaplikasikan dalam kehidapan mereka sehari-hari. Selama proses pembentukan konsep, penyelesaian masalah dan analisis isu (tahap-2 dan tahap-3), guru perlu meluruskan kalau-kalau ada miskonsepsi selama kegiatan belajar berlangsung, kegiatan ini disebut pemantapan konsep. Apabila selama proses pembentukan konsep tidak tampak ada miskonsepsi yang terjadi pada siswa, demikian pula setelah akhir analisis isu dan penelesaian masalah, guru tetap perlu melaksanakan pemantapan konsep sebagaimana tampak pada alur pembelajaran (tahap-4) melalui penekanan pada konsep-konsep kunci yang yang penting diketahui dalam bahan kajian tertentu.

25 26

Anna Poedjiadi, Op. Cit, h. 127. Ibid, h. 128-130.

Tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran seperti tampak pada gambar berikut:27


Pendahuluan: Inisiasi/invintasi/apersepsi /eksplorasi terhadap siswa

Tahap 1

Masalah

Tahap 2

Pembentukan/pengembang an konsep Aplikasi konsep dalam kehidupan: penyelesaian masalah atau analisis isu

Pemantapan konsep

Tahap 3

Pemantapan konsep

Tahap 4

Pemantapan konsep

Tahap 5

Penilaian

c. Karakteristik Sains, Teknologi dan Masyarakat (STM) Menurut Srini M. Iskandar (1994) pendekatan STM memliki karakteristik sebagai berikut: 1. Identifikasi masalah (oleh siswa) di dalam masyarakat yang mempunyai dampak negatif 2. Mempergunakan masalah yang ada di dalam masyarakat yang ditemukan siswa yang ada hubungannya dengan ilmu pengetahuan alam sebagai wahana untuk menyampaikan pokok bahasan 3. Menggunakan sumber daya yang terdapat di dalam masyarakat baik materi maupun manusia sebagai narasumber untuk informasi ilmiah maupun informasi teknologi yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah nyata dari kehidupan sehari-hari 4. Meningkatkan pelajaran IPA melampaui jam pelajaran kelas, ruang kelas, dan gedung sekolah 5. Meningkatkan kesadaran siswa akan dampak ilmu pengetahuan alam dan teknologi 6. Memperluas wawasan siswa mengenai ilmu pengetahuan alam lebih dari suatu yang perlu dikuasai untuk lulus ujian atau tes semata

27

Ibid, h. 126.

7. Mengikutsertakan siswa untuk mencari informasi ilmiah maupun informasi teknologi yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah nyata yang diangkat dari kehidupan sehari-hari 8. Memperkenalkan peranan ilmu pengetahuan alam di dalam institusi dan dalam masyarakat 9. Memfokuskan pada karir yang erat hubungannya dengan ilmu pengetahuan alam dan teknologi 10. Ilmu pengetahuan alam merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi murid 11. Ilmu pengetahuan alam yang mengacu kepada masa depan.28 Pendekatan STM yang dikembangkan tidak mengubah pokokpokok bahasan yang sudah ada dalam kurikulum tetapi membantu memperjelas pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang harus dikuasainya. Pendekata STM dilandasi tiga hal penting, yaitu: a. Adanya keterkaitan yang erat antara sain, teknologi, dan masyarakat b. Dalam proses belajar menganut pandangan kontruktivisme, yang pada pokonya menggambarkan bahwa si pelajar membentuk atau membangun lingkungan c. Dalam pembelajarannya terkandung lima ranah, yaitu terdiri dari ranah pengetahuan, ranag sikap, ranah proses sains, ranah kreativitas dan ranah hubungan dan aplikasi.29 Ditinjau dari setiap ranah pembelajaran sains diharapkan akan menghasilkan hal-hal sebagai berikut: 1. Ranah Pengetahuan a. Siswa melihat pengetahuan sebagai hal yang berguna bagi dirinya sendiri b. Siswa yang belajar melalui pengalaman yang diendapkan untuk waktu yang cukup lama dan sering dapat menghubungkan dengan situasi yang baru pengetahuannya melalui interaksinya dengan

Rusmansyah, Op. Cit, h. 193. Rusmansyah, dkk, Implementasi Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) Dalam Pembelajaran Kimia di SMU negeri Kotamadya Banjarmasin, Laporan Penelitian Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat, Juni 2001, h. 11.
29

28

2. Ranah Sikap a. Minat siswa meningkat dalam pembelajaran b. Siswa menjadi lebih ingin mengetahui tantang segala yang ada di dunia c. Siswa memandang guru sebagai fasilitator d. Siswa memandang sains sebagai suatu cara untuk menangani masalah 3. Ranah Proses Sains a. Siswa melihat proses sains sebagai keterampilan yang dapat mereka gunakan b. Siswa melihat proses keterampilan yang mereka butuhkan untuk menyempurnakan dan mengembangkannya menjadi lebih mantap untuk kepentingan mereka sendiri c. Siswa dapat melihat hubungan dari proses-proses sains kepada aksi mereka sendiri d. Siswa melihat proses sains sebagai bagian yang vital dari apa yang mereka lakukan dalam pelajaran sains 4. Ranah Kreativitas a. Siswa lebih banyak bertanya b. Siswa penuh dengan ide-ide murni c. Siswa terampil dalam mengajukan sebab dan akibat dari hasil pengamatannnya d. Siswa sering mengajukan pertanyaan-pertanayaan unik yang memacu minat mereka dan guru 5. Ranah Hubungan dan Aplikasi a. Siswa dapat menghubungkan studi sains mereka dengan kehidupan sehari-hari b. Siswa terlibat dalam pemecahan isu-isu sosial c. Siswa mencari informasi dan menggunakannya

d. Siswa turut terlibat dalam perkembangan teknologi serta menggunakannya untuk kepentingan dan relevansi dari konsepkonsep sains.30

3. Konsep a. Pengertian Konsep dalam Pembelajaran Mempelajari fisika pada dasarnya menguasai kumpulan hukum, teori, prinsip dan tau rumus yang terbangun oleh konsep sesuai kajiannya. Konsep merupakan buah pemikiran seseorang yang dinyatakan dalam definisi sehingga melahirkan produk pengetahuan meliputi prinsip, hukum dan teori. Konsep diperoleh dari fakta, peristiwa, pengalaman melalui generalisasi dan berpikir abstrak.31 Dua tujuan utama dari pendidikan adalah meningkatkan ingatan dan transfer. Ingatan didefinisikan sebagai kacakapan untuk menerima, menyimpan dan menerima kesan-kesan.32 Sedangkan transfer dalam belajar atau yang lazim disebut transfer belajar (transfer of learning) mengandung arti pemindahan keterampilan hasil belajar dari satu situasi kesituasi lainnya (Reber 1998).33 Kata pemindahan

keterampilan tidak berkonotasi hilangnya keterampilan melakukan sesuatu pada masa lalu karena diganti dengan keterampilan baru pada masa sekarang. Oleh sebab itu, definisi diatas harus dipahami sebagai pemindahan pengaruh keterampilan melakukan sesuatu terhadap tercapainya keterampilan melakukan sesuatu lain.34 Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa ingatan merupakan suatu kemampuan untuk mengingat atau memanggil kembali materi yang telah diperoleh dengan cara yang hampir sama seperti
30 31

saat

belajar,

sedangkan

transfer

adalah

kemampuan

Rusmansyah, Op. Cit, h. 196. Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2006), h. 71. 32 Ibid, h. 128. 33 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dalam Pendekatan Baru, (Bandung: Rosda Karya, 2004), h. 167. 34 Ibid.

menggunakan materi yang telah diperoleh untuk memecahkan masalah baru, menjawab pertanyaan baru atau untuk mempermudah

mempelajari materi baru. Konsep merupakan dasar bagi proses-proses untuk memecahkan masalah.35 Menurut Sutarto, konsep secara sederhana dapat dimengerti sebagai katagaori suatu rangsangan (stimulus) berdasarkan atributatribut yang dimilikinya.36 Dengan terkonsepnya rangsangan oleh siswa dengan baik diharapkan siswa dengan mudah menemui dan memunculkan kembali dalam bentuk konsep pada situasi dan kondisi yang lain. Menurut Almin (1990) dalam Hewindati, konsep merupakan suatu gagasan atau ide yang didasarkan pada pengalaman tertentu yang relevan dan yang dapat digeneralisasikan. Lebih lanjut dikatakan bahwa suatu konsep akan terbentuk apabila dua atau lebih objek dapat dibedakan berdasarkan cirri-ciri umum, bentuk atau sifat-sifatnya.37 Menurut Ausabel seperti dikutip Dahar (1998) konsep yang dimilki anak dapat diperoleh melalui dua cara yaitu formal konsep (concept formation) dan asimilasi konsep (concept assimilation). Formal konsep terutama merupakan bentuk perolehan konsep sebelum anak masuk sekolah sedangkan asimilasi konsep merupakan cara untuk memperoleh konsep atau belajar konsep selama dan sesudah sekolah.38 Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep merupakan suatu abstraksi yang menggambarkan ciriciri, karakter atau atribut-atribut yang sama dari sekelompok objek dari suatu fakta, baik merupakan suatu proses, peristiwa atau fenomena di alam yang membedakannya dari kelompok lainnya.39
Zainal Abidin, Pemahaman Konseptual dan Prosedural dalam Belajar Matematika, dalam Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, No. 2. Tahun ke-17, Agustus 2004, h. 60. 36 Sutarto, Buku Ajaran Fisika dengan Tugas Analisis Foto Kejadian Fisika sebagai Alat Bantu Penguasaan Konsep Fisika, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 11 (054), 2005, h. 327 37 Yuni Tri Hewindati dan Adi Suryarto, Pendekatan Murid Sekolah Dasar Terhadap Konsep IPA Berbasis Biologi, Jurnal Pendidikan. Vol. 5 No. 1, Maret 2004, h. 63. 38 Ibid. 39 Nuryani R, Strategi Belajar Mengajar Bilogi, (Univ. Malang: Ulu Pres),2002, h. 4.
35

Prayekti mengatakan penguasan konsep merupakan penguasaan terhadap abstraksi yang memiliki satu kelas atau objek-objek kejadian atau hubungan yang mempunyai atribut sama.40 Salah satu cara yang baik untuk menerapak konsep (sebagai gambaran mental) dapat dilakukan dengan cara menunjukan wujud konkret tentang hal yang dikonsepkan tersebut (Dahar 1998). Oleh Van denBerg (1991) dikatakan bahwa untuk mengurangi

miskomunikasi pada siswa tentang konsep fisika yang dikuasainya, perlu dilakukan pembelajaran fisika dengan metode demonstarsi atau metode eksperimen.41 Penilaian terhadap hasil belajar penguasaan materi bertujuan untuk mengukur penguasaan dan pemilihan konsep dasar keilmuan (content objectives) berupa materi-materi esensial sebagai konsep kunci dan prinsip utama. Konsep kunci dan prinsip utama keilmuan tersebut harus dimilki dan dikuasai siswa secara tuntas, bukan hanya dalam bentuk hafalan.42 Penguasaan konsep yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penguasaan konsep dalam ranah kognitif berdasarkan taksonomi Bloom yang merupakan penguasaan bahan pelajaran yang berkenaan dengan kemampuan berfikir setelah pembelajaran.

Prayekti, Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat Tentang Konsep Pesawat Sederhana Dalam Pembelajaran IPA Di kelas 5 Sekolah Dasar, Jurnal diakses tangga 22 Januari 2009, h. 3. diakses dari: http://www.depdiknas.go.id/jurnal/39/pendekatan%20sains%20teknologi.htm. 41 Sutarto, Op. Cit, h. 327-328. 42 Ahmad Sofyan, Tonih Feronika dan Burhanudin Milama, Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasisi Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta Press), h. 14.

40

Bloom dan kawan-kawannya menyusun konsep taraf kompetensi kognitif ke dalam enam jenjang atau tingkatan yang kompelksitasnya bertingkat.43 Tingkatan Kompetensi Knowledge Contoh Kata Kerja Mengenali, mendeskripsikan, mengidentifikasikan, memasangkan , memilih. Comperhension Mengklasifikasikan, menjelaskan, mengikhtisarkan, meramalkan, membedakan. Application Mendemonstrasikan, menghitung, menyelesaikan, menyesuaikan, mengoprasikan, menghubungkan, menyusun. Analysis Menemukan perbedaan, memisahkan, membuat diagram, membuat estimasi, mengambil kesimpulan, menyusun aturan. Synthesis Menggabungkan, merancang, menciptakan, komposisi, merumuskan, menyusun

membuat

kembali, merevisi. Evaluation Menimbang, mengkritik, membandingkan, memberi alasan, menyimpulkan, memberi dukungan.

Cara paling objektif untuk memperoleh kebenaran suatu konsep adalah dengan menggunakan metode ilmiah. Suatu konsep dikatakan objektif jika dapat dikonfirmasikan dengan kenyatannya, artinya symbol yang ada dalam konsep tersebut dapat dileusuri keberadaanya di alam nyata.44 Oleh kerena itu konsep dapat diartikan sebagai buah pikir manusia tentang alam nyata yang dinyatakan dengan simbol atau bahasa.

Saifudin Azwar, Tes Prestasi: Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), h. 60. 44 Yuni Tri Hewindati dan Adi Suryanto, Op. Cit, h. 63.

43

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penguasaan Konsep Banyak faktor yang mempengaruhi penguasan konsep terhadap suatu konsep pembelajaran, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Dalam memperbaiki penguasaan konsep siswa tidak akan terlepas dari faktor intern siswa itu sendiri. Guru yang merupakan faktor ekstern dapat membantu meningkatkan penguasaan konsep siswa, karena guru dianggap sebagai salah satu sumber belajar dan sumber informasi serta dapat diajak untuk berkomunikasi secara langsung tentang

permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh siswa. Menurut Sukardi, faktor-faktor yang mempengaruhi penguasaan konsep adalah faktor intern yang mencakup seluruh diri pribadi, kemampuan awal, termasuk fisik maupun mental ataupun

psikofisiknya, sedangkan faktor ekstern mencakup alat atau sarana belajar yang memadai, sikap, disiplin belajar, lingkungan sosial dan alamaiahnya.45 Olah karena itu dapat dikatakan bahwa kedua faktor tersebut dapat berhubungan dengan kegiatan belajar. Dalam

meningkatkan prestasi belajar, hal tersebut perlu mendapatkan perhatian yang baik dan optimal. Motivasi dan minat siswa terhadap kegiatan pembelajaran juga sangat mempengaruhi proses pembelajarn. Siswa yang memilki motifasi dan minat yang tinggi terhadap kegiatan pembelajaran, akan lebih mudah menerima pelajaran yang akan mempengaruhinya terhadap penguasaan konsep tertentu. Siswa akan bekerja lebih keras jika mereka mempunyai minat dan perhatian pada pembelajanya. Dalam kaitannya dengan motivasi, guru harus mampu

membangkitkan motivasi belajar siswa. Misalnya memberikan tugas yang jelas dan dapat dimengerti, memberikan penghargaan terhadap hasil kerja dan prestasi siswa, dan hukuman secara efektif dan tepat guna.
Karlimah, Kajian Tentang Prestasi Belajar Konsep IPA pada Mahasiswa PGSD UPP Tasik FIP UPI, Jurnal Pendidikan MIPA, 6 (1), 2005, h. 9.
45

Selain itu, dalam kegiatan belajar mengajar guru harus menggunakan media yang tepat dan variasi metode pembelajaran agar konsep yang dipelajari siswa mudah dimengerti. Dengan menggunakan media pembelajaran dapat mempermudah proses belajar siswa. Selain itu, penggunaan media pembelajaran bertujuan agar proses pembelajaran berjalan efektif dan efisien untuk tercapainya tujuan. Dengan media yang tepat, mempermudah guru menyampaikan suatu konsep tertentu dan siswa lebih mudah menerima dan mendapatkan suatu konsep tertentu. c. Pengukuran Penguasaan Konsep Pengukuran penguasaan konsep menggunakan tes penguasaan konsep. Tes adalah sehimpunan pertanyaan yang harus dijawab, atau pernyataan-pernyataan yang harus dipilih, ditanggapi, atau tugas-tugas yang harus dilakukan oleh orang yang dites dengan tujuan untuk mengukur suatu aspek tertentu dari orang yang dites. Salah satu yang diukur dengan tes adalah penguasaan siswa terhadap konsep pada pokok bahasan yang telah dipelajari. Jadi, tes penguasaan konsep berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai konsep/materi yang telah dipelajari siswa. Tes terdiri dari dua jenis, yaitu tes uraian dan tes objektif. Tes objektif terdiri dari soal menjodohkan, melengkapi, benar-salah, dan pilihan ganda.

B. Kerangka Pikir Pendekatan sebagai salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar memiliki peranan yang sangat penting. Tidak ada satupun kegiatan belajar mengajar yang tidak menggunakan pendekatan pembelajaran. Hal ini karena pendekatan digunakan sebagai alat atau cara yang digunakan oleh guru untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Pendekatan yang tepat akan menentukan efektifitas dan efisiensi pembelajaran. Dengan demikian, pendekatan pembelajaran harus dipilih dan dikembangkan untuk

meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta didik.

Ilmu fisika sebagai cabang IPA merupakan ilmu pengatahuan yang berlandaskan pada sains dan teknologi. Selain itu, keduanya juga mempunyai kaitan yang erat dengan respon masyarakat. Dengan pengertian bahwa adanya suatu perubahan teknologi akan dapat menyebabkan perubahan sosial, begitu pula sebaliknya. Hal ini berarti ada jaringan hubungan antara sains, teknologi dan sistem-sistem sosial yang saling pengaruh mempengaruhi. Berdasarkan hal tersebut, maka penggunaan pendekatan sains teknologi masyarakat sangat diperlukan dalam proses pembelajaran fisika di sekolah. Melalui suatu pendekatan STM guru mempunya peranan penting dalam membentuk siswa untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Hal ini diperlukan agar siswa dapat membuat suatu keputusan yang bertanggung jawab mengenai isu-isu sosial, khususnya isu-isu yang berkaitan dengan sains dan teknologi. Pada saat ini masih banyak guru mata pelajaran fisika yang belum menggunakan pendekatan STM dan lebih memilih pendekatan konvensional (ceramah) dalam menyampaikan materi pembelajaran. Hal ini disebabkan karena berbagai kendala yang dihadapi guru yang dijadikan alasan untuk tidak dapat menerapkan pendekatan STM pada saat mengajar. Walaupun materi pelajaran dapat disampaikan dengan cepat dalam waktu yang singkat dengan menggunakan pendekatan konvensional, tetapi siswa tidak ikut aktif bahkan cenderung pasif dalam proses belajar mengajar dan tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan sejumlah keterampilan proses IPA. Dengan demikian, pembelajaran berpusat pada guru bukan pada siswa itu sendiri. Sebagai salah satu pendekatan pembelajaran, penggunaan pendekatan STM diharapkan dapat memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan penguasaan konsep belajar siswa. Penguasaan tersebut dapat dilihat dari peningkatan penguasaan konsep siswa yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan peningkatan penguasaan konsep siswa yang tidak diberikan pendekatan STM. Dengan demikian, diduga bahwa penggunaan pendekatan

STM dapat berpengaruh positif terhadap peningkatan penguasaan konsep siswa.

C. Perumusan Hipotesis Berdasarkan Teori dan kerangka pikir, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut: Hipotesis nol H0 : Y1 < Y2 : Mean kelompok eksperimen : Mean kelompok kontrol

Hipotesis penelitian Ha : Y1 > Y2 Keterangan: Y1 Y2

Ha : hipotesis penelitian diterima jika thitung lebih besar daripada ttabel artinya terdapat perbedaan pemahaman konsep yang signifikan antara siswa yang diajar dengan menggunakan pendekatan sains teknologi masyarakat (STM) dengan yang tidak menggunakan pendekatan sains teknologi masyarakat (STM). Ho : hipotesis penelitian ditolak jika thitung lebih kecil daripada ttabel artinya tidak terdapat perbedaan pemahaman konsep yang signifikan antara siswa yang diajar dengan menggunakan pendekatan sains teknologi masyarakat (STM) dengan yang tidak menggunakan sains teknologi masyarakat (STM).