Anda di halaman 1dari 6

CARBAMAZEPIN Cynthia Lina Octoriana, S.

Ked Bagian/Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Rumah Sakit Jiwa Daerah Jambi Palembang 2012

PENDAHULUAN Carbamezepin (Tegretol) adalah suatu obat iminodiabenzyl, yang secara struktural mirip dengan imipramine (Tofranil) dan disetujui untuk digunakan di Amerika Serikat untuk terapi epilepsi lobus temporalis dan neuralgia trigeminalis. Sejumlah besar data mendukung pemakaian carbamazepine untuk terapi mania akut dan untuk terapi profilaksis gangguan bipolar I. Kerja Farmakologis 1. Farmakokinetik Carbamezepine diabsorbsi perlahan-lahan dan tidak menentu dari saluran gastrointestinal; absorbsi ditingkatkan jika obat digunakan bersama makanan. Kadar puncak dalam plasma dicapai dua sampai delapan jam setelah dosis tunggal. Kadar stabil dicapai setelah 2-4 hari pada dosis stabil. Waktu paruh carbamazepin pada awal terapi adalah luas. Selama pemberian jangka panjang waktu paruh menurun sampai rentang 12-17 jam karena induksi enzim hati. Induksi enzim hati mencapai tingkat maksimumnya setelah kira-kira 1 bulan terapi. Carbamazepin di metabolisme di hati dan dieksresikan oleh ginjal. Laporan terakhir menyatakn bahwa carbamazepine kehilangan sepertiga potensinya jika disimpan dalam lingkungan yang lembab. Pembuatnya sekarang menganjurkan konsumen untuk tidak menyimpan obat di lingkungan lembab seperti dikamar mandi. 2. Farmakodinamik Walaupun terlalu sedikit untuk menghipotesiskan bahwa sifat antimanik carbamazepine disebabkan dari efek biokimiawi yang sama dengan sifat

konvulsannya, anggapan tersebut mungkin tidak akurat. Hal yang menentang hipothesis tersebut adalah pengamatan bahwa, walaupun efek antikonvulsan dan antinosiseptif dari carbamazepine memiliki onset yang cepat, efek antimanik perlu waktu lebih lama untuk terjadi. Efek antikonvulsan dari karbamazepin mungkin diperantarai oleh apa yang dinamakan reseptor benzodiazepine perifer yang berlokasi diotakk, potensiasi reseptor adrenergik 2, atau stabilisasi saluran natrium pada neuron. Reseptor benzodiazepin sentral adalah kurang lebih sama dengan reseptor gamma-amino butyric acid (GABA) tipe A dan merupakan tempat kerja untuk benzodiazepin. Reseptor GABAA sesungguhnya adalah saluran ion bergerbang GABA (GABA-gated ion channels). Reseptor benzodiazepin perifer yang berada di sistem saraf perifer dan pusat, diperkirakan merupakan regulator fungsi saluran kalsium. Efek potensial carbamazepin pada saluran kalsium adalah menarik secara teoritis dalam hal meningkatnya pemakaian inhibitor saluran kalsium untuk terapi gangguan bipolar I. Secara teoritis, dasar lain untuk efek efek antimanik dari carbamazepin melibatkan melibatkan konsep pembangkitan (kindling). Pembangkitan adalah proses elekrofisiologis dimana stimulasi sub-ambang yang berulang pada sebuah neuron akhirnya menciptakan suatu potensial aksi. Gangguan bipolar I mencerminkan suatu bentuk tersembunyi dari epilepsi limbik, yang responsif terhadap carbamazepin. Tetapi, elektroensefalogram (EEG) adalah normal pada sebagian besar pasien gangguan bipolar I yang berespons terhadap carbamazepin. Efek Pada Organ Dan Sistem Spesifik Selain efek pada sistem saraf pusat, carbamazepin memiliki efek yang paling penting yang paling penting pada sistem hematopoietik. Carbamazepine adalah disertai dengan penurunan ringan hitung sel darah putih, dengan nilai yang selalu tetap diatas 3000. Penurunan tersebut diperkirakan disebabkan karena inhibisi faktor penstimulasi koloni (colony-stimu-lating factor) pada sumsum tulang, suatu efek yang dapat dipulihkanoleh pemberian lithium (Eskalith) secara bersama-sama, yang menstimulasi faktor penstimulasi koloni. Supresi ringan

produksi sel darah putih harus dibedakan dari efek merugikan yang potensial mematikan berupa agranulositosis, pansitopenia, dan anemia aplastik. Seperti yang dicerminkan oleh penggunaanya untuk mengobati diabetes insipidus, carbamazepine tampaknya memiliki efek mirip vasopresin pada reseptor vasopresin, kadang-kadang menyebabkan perkembangan intoksikasi air atau hiponatremia, khususnya pada pasien lanjut usia. Efek samping tersebut dapat diobati dengan demeclomycin atau lithium. Efek endokrin lain yang berhubungan dengan carbamazepine adalah peningkatan kortisol bebas dalam urin. Efek carbamazepine pada sistem kardiovaskular adalah minimal. Obat ini menurunkan konduksi atrioventrikular (A-V), jadi pemakaian carbamazepine adalah dikontraindikasikan pada pasien dengan blok jantung A-V. Indikasi Terapeutik 1. Gangguan Bipolar I Hampir dua lusin penelitian terkendali baik telah menunjukkan bahwa carbamazepin adalah efektif dalam mengobati mania akut, dengan kemanjuran yang sebanding dengan lithium dan antipsikotik. Carbamazepine adalah obat antimanik yang efektif pada 50-70% dari semua pasien. Bukti-bukti tambahan dari penelitian tersebut menyatakan bahwa carbamazepine mungkin efektif pada beberapa pasien yang tidak responsif terhadap lithium, seperti pasien dengan mania disforik, perputaran cepat, atau riwayat gangguan mood dalam keluarga yang negatif. Tetapi, sedikit data ilmiah klinis dan data dasar yang menyatakan bahwa beberapa pasien mengkin mengalami suatu toleransi untuk efek antimanik dari carbamazepin. 2. Skizoafektif Beberapa penelitian telah menghasilkan data yang menyatakan bahwa carbamazepin adalah efektif dalam terapi skizofrenia dan gangguan skizoafektif. Pasien dengan gejala positif (halusinasi) dan beberapa gejala negatif (adhedonia) kemungkinan berespon, demikian juga pasien yang memiliki gejala ledakan impulsif agresif.

3. Gangguan depresif Ada data yang menyatakan bahwa carbamazepine adalah terapi yang efektif untuk depresi pada beberapa pasien. Kira-kira 25-33% pasien yang depresi berespon terhadap carbamazepine. Persentase tersebut lebih kecil dibandingkan angka respon 60-70% untuk antidepresan standar. Carbamazepine adalah obat alternatif untuk pasien depresi yang tidak berespon terhadap terapi konvensional. 4. Gangguan pengendalian impuls Carbamazepin efektif dalam mengendalikan perilaku imfulsif dan agresif pada pasien non psikotik. Obat lain untuk gangguan pengendalian impuls, khususnya gangguan eksplosif intermiten adalah lithium, propanolol, dan antipsikotik. Lorazepam lebih efektif dibandingkan carbamazepin dalam mengendalikan agitasi akut. Reaksi Merugikan 1. Diskrasia Darah Diskrasia darah yang parah (anemia aplastik, agranulositosis) terjadi kirakira 1 dari 20.000 pasien yang diobati dengan carbamazepin. Pasien harus diperingatkan tentang timbulnya gejala tersebut seperti demam, nyeri tenggorok, ruam, petikie, memar, dan mudah berdarah adalah gejala yang serius dari diskrasia dan pasien harus menjalanin pemeriksaan medis dengan segera. 2. Hepatitis Dalam beberapa minggu pertama terapi, carbamazepin dapat menyebabkan hepatitis hipersensitivitas yang disertai dengan peningkatan enzim-enzim hati dan suatu kolestasis yang disertai dengan peningkatan bilirubin dan alkali fosfatase. 3. Dermatitis eksfoliatif Ruam pruritik yang ringan terjadi pada 10-15 % pasien, biasanya terjadi dalam beberapa minggu pertama terapi. Sejumlah kecil pasien dapat mengalami

sindrom steven johnson sindrom dan nekrolisis epidermal toksik yang dapat membayahayakan nyawa. 4. Efek gastrointestinal Efek merugikan yang paling sering adalah mual, muntah, gangguan lambung, konstipasi, diare, dan anoreksia. Keparahan terjadi bila dosis ditingkatkan perlahan dan dipertahankan pada konsentrasi plasma efektif minimal. 5. Efek sistem saraf pusat Gejala toksisitas SSP adalah mengantuk, konfusi, ataksia, hiperrefleksia, klonus, dan tremor. Pasien lanjut usia dan pasien dengan gangguan kognitif berada dalam resiko yang tinggi untuk mengalami toksiksitas carbamazepin pada SSP. 6. Overdosis Gejalanya adalah mengantuk, stupor, koma, takikardia sinus, hipotensi atau hipertensi, blok konduksi A-V, kejang, nistagmus, hipotermia, diskinesia wajah, dan depresi pernapasan. Interaksi Obat Pemberian bersama lithium, obat antipsikotik, verapamil, atau nifedidine dapat mencetuskan efek merugikan SSP akibat carbamazepin. Carbamazepin dapat menurunkan konsentrasi kontrasepsi oral dalam darah, yang menyebabkan perdarahan banyak dan ketidak pastian mengenai pencegahan kehamilan. Carbamazepin tidak boleh digunakan bersama dengan inhibitor monoamin oksidase (MAOI), yang harus dihentikan sekurang kurangnya dua minggu sebelum memulai terapi dengan carbamazepin.

Dosis Dan Pemberian Carbamazepin dapat digunakan sendiri atau dengan suatu obat anti psikotik untuk terapi episode manik, walaupun efek merugikan SSP akibat carbamazepin

(mengantuk, pusing, ataksia) kemungkinan dapat terjadi. Jika lithium dan carbamazepin digunakan bersama, harus menghentikan setiap obat anti psikotik, sedatif, atau antikolinergik yang mungkin digunakan pasien untuk mengurangi efek pemakaian obat multipel. Dosis : Untuk dewasa dan anak di atas 12 tahun adalah 200mg 2 kali sehari atau 100 mg ) 4 kali sehari. Dosis dinaikkan sampai 200 mg, 3-4 kali sehari. Dosis untuk anak 6-12 tahun adalah 100 mg, 2 kali sehari atau 50 mg, 4 kali sehari. Dosis untuk anak di bawah 6 tahun adalah 10-20mg/kg berat badan dalam 2-3 dosis terbagi.