Anda di halaman 1dari 26

Case

Peran Bioetika Dalam Menangani Kasus Pelanggaran Etik

Oleh : Mohd. Firdaus B Shahar 0810314276 Panji Andhika Musytilawati Nico Syamsul Nola eriza Ayu Anissa Bahri 0810312293 0810311019 0810312089 0910313251 0910313246

Preseptor : Dr. Rika Susanti, Sp.F BAGIAN ILMU KEDOTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS RSUP DR. M. DJAMIL PADANG 2013

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga Pembahasan Kasus yang berjudul Peran Bioetika Dalam Menangani Kasus Pelanggaran Etik ini dapat kami selesaikan. Pembahasan Kasus ini merupakan salah satu syarat mengikuti kepaniteraan klinik di bagian Forensik RS. Dr. M Djamil Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. Terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyusunan Pembahasan Kasus ini, khususnya Dr. Rika Susanti, Sp.F sebagai preseptor dan pembimbing yang telah memberikan saran, bimbingan dan moril dalam penulisan Pembahasan Kasus ini. Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada rekan-rekan Dokter Muda dan pihak lain yang telah membantu penyelesaian Pembahasan Kasus ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritikan dan saran serta masukan sebagai perbaikan. Akhir kata penulis berharap hal ini dapat menambah wawasan, pengetahuan dan pemahaman semua pihak tentang Peran Bioetika Dalam Menangani Kasus Pelanggaran Etik.

Padang, September 2013

Penulis i

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................ DAFTAR ISI....................................................................................................... DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... DAFTAR TABEL ............................................................................................. BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1.1 Latar Belakang ....................... 1.2 Batasan Masalah ........................................ 1.3 Tujuan Penulisan. 1.4 Metode Penulisan BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................. 2.1 Definisi ................................... 2.2 Epidemiologi....................................................................... 2.3 Anatomi dan Fisiologi ... 2.4 Etiologi dan Faktor Risiko. . 2.5 Patofisiologi 2.6 Diagnosis......................... 2.6.1 2.6.2 2.6.3 Gejala Klinis.................................................................... Pemeriksaan Myeloma Multiple...................................... Kriteria Diagnosis........................................................... i ii iii iii 1 1 1 1 1 2 2 2 2 7 8 10 10 11 17 18 20 22 24 25

2.7 Diagnosis Banding..................................................................... 2.8 Terapi......................................................................................... 2.9 Prognosis................................................................................... BAB III PENUTUP......................................................................................

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................

ii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Bagian dari tulang panjang matur ...................................................... Gambar 2. Gambaran Tulang Manusia................................................................. Gambar 3. Proses Hematopoiesis.......................................................................... Gambar 4. Manifestasi klinik mieloma................................................................. Gambar 5. Lateral radiograph of the skull............................................................. Gambar 6. Lateral radiograph of the lumbar spine............................................... Gambar 7. Radiograph of the right femur............................................................. Gambar 8. Radiograph of the right humerus........................................................ Gambar 9. lytic expansile mass dari C5............................................................... Gambar 10 Axial computed tomography (CT) scan of the glenoid..................... Gambar 11 Foto potongan sagital T1 weighted-MRI padalumbal sakral............ Gambar 12 Coronal T1-weighted MRI of the humerus........................................ Gambar 13 A T1-weighted magnetic resonance image of the humerus.............. Gambar 14 Scan mieloma multipel dengan diffuse yang berat disertai focal disease............. Gambar 15 Foto pelvic pada metastasis mamae ke tulang ................................. Gambar 16 Multipel lytic lesions..........................................................................

3 4 6 10 12 12 12 13 13 14 15 15 16 16 18 19

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Faktor resiko terjadinya Mieloma Multipel..........................................

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Definisi Bioetika Bioetika berasal dari kata bios yang berati kehidupan dan ethos yang berarti normanorma atau nilai-nilai moral. Bioetika merupakan studi interdisipliner tentang masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran baik skala mikro maupun makro, masa kini dan masa mendatang.(Bertens, 2001) Bioetika mencakup isu-isu sosial, agama, ekonomi, dan hukum bahkan politik. Bioetika selain membicarakan bidang medis, seperti abortus, euthanasia, transplantasi organ, teknologi reproduksi butan, dan rekayasa genetik, membahas pula masalah kesehatan, faktor budaya yang berperan dalam lingkup kesehatan masyarakat, hak pasien, moralitas penyembuhan tradisional, lingkungan kerja, demografi, dan sebagainya. Bioetika memberi perhatian yang besar pula terhadap penelitian kesehatan pada manusia dan hewan percobaan. (Hanafiah, 2009) Menurut F. Abel, Bioetika adalah studi interdisipliner tentang masalah-masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan biologi dan kedokteran, tidak hanya memperhatikan masalah-masalah yang terjadi pada masa sekarang, tetapi juga memperhitungkan timbulnya masalah pada masa yang akan datang. Menurut Samuel Gorovitz pada tahun 1995, bioetika atau etika biologi didefinisikan sebagai penyelidikan kritis tentang dimensi-dimensi moral dari pengambilan keputusan dalam konteks berkaitan dengan kesehatan dan dalam konteks yang melibatkan ilmu-ilmu biologis. Bioetika menyelidiki dimensi etis dari masalah-masalah teknologi, ilmu kedokteran, dan biologi yang terkait dengan penerapannya dalam kehidupan. Bioetika juga diartikan sebagai studi tentang isu-isu etika dan membuat keputusan yang dihubungkan dengan

kegunaan kehidupan makhluk hidup dan obat-obatan termasuk di dalamnya meliputi etika kedokteran dan etika lingkungan. Dengan demikian bioetika terkait dengan kegiatan yang mencari jawab dan menawarkan pemecahan masalah dari konflik moral. Konflik moral yang dimaksud meliputi konflik yang timbul dari kemajuan pesat ilmu-ilmu pengetahuan hayati dan kedokteran, yang diikuti oleh penerapan teknologi yang terkait dengannya. (Taher, 2003) Bioetika ialah suatu disiplin baru yang menggabungkan pengetahuan biologi dengan pengetahuan mengenai sistem nilai manusia, yang akan menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan kemanusiaan, membantu menyelamatkan kemanusian, dan mempertahankan dan memperbaiki dunia beradab. (Van Potter, 1970) Bioetika ialah kajian mengenai pengaruh moral dan sosial dari teknik-teknik yang dihasilkan oleh kemajuan ilmu-ilmu hayati. (Honderich Oxford, 1995) Bioetika bukanlah suatu disiplin. Bioetika telah menjadi tempat bertemunya sejumlah disiplin dan organisasi yang terlibat dan peduli pada persoalan etika, hukum, dan sosial yang ditimbulkan oleh kemajuan dalam kedokteran, ilmu pengetahuan, dan bioteknologi. (Onara ONeill, 2002) Bioetika mengacu pada kajian sistematis, plural dan interdisiplin dan penyelesaian masalah etika yang timbul dari ilmu-ilmu kedokteran, hayati, dan sosial, sebagaimana yang diterapkan pada manusia, termasuk masalah yang terkait dengan ketersediaan dan keterjangkauan perkembangan keilmuan dan keteknologian dan penerapannya. (Preliminary Draft Declaration on Universal Norms on Bioethics, UNESCO, 2005) Sahin Aksoy dalam BioMed Central Medical Ethics, 2002, merumuskan : Etika dapat diuraikan sebagai bagian cabang dari filsafat terapan yang mencari perangkat perilaku apa yang benar apa yang salah, yang baik dan yang jelek di dalam suatu keadaan tertentu.

Bioetika, sementara itu, ialah semacam ilmu pengetahuan yang menawarkan pemecahan masalah bagi konflik moral yang timbul dalam tindakan dan praktek kedokteran dan ilmu hayati

Jadi : Bioetika terkait dengan kegiatan yang mencari jawab dan menawarkan pemecahan masalah dari konflik moral. Konflik moral yang dimaksud meliputi konflik yang timbul dari kemajuan pesat ilmuilmu pengetahuan hayati dan kedokteran, yang diikuti oleh penerapan teknologi yang terkait dengannya. 1.2 Perkembangan Bioetika Masalah bioetika mulai diteliti pertama kali oleh Institude for the Study of Society, Ethics and Life Sciences, Hasting Center, New York pada tahun 1969. Kini terdapat berbagai isu etika biomedik. (Hanafiah, 2009) Di Indonesia, bioetika baru berkembang sekitar satu dekade terakhir yang dipelopori oleh Pusat Pengembangan Etika Universitas Atma Jaya Jakarta. Perkembangan ini sangat menonjol setelah universitas Gajah Mada Yogyakarta yang melaksanakan pertemuan Bioethics 2000; An International Exchange dan Pertemuan Nasional I Bioetika dan Humaniora pada bulan Agustus 2000. Pada waktu itu, Universitas Gajah Mada juga mendirikan center for Bioethics and Medical humanities. Dengan terselenggaranya Pertemuan Nasional II Bioetika dan Humaniora pada tahun 2002 di Bandung, Pertemuan III pada tahun 2004 di Jakarta, dan Pertemuan IV tahun 2006 di Surabaya serta telah terbentuknya Jaringan Bioetika dan Humaniora Kesehatan Indonesia (JBHKI) tahun 2002,

diharapkan studi bioetika akan lebih berkembang dan tersebar luas di seluruh Indonesia pada masa datang. (Hanafiah, 2009) 1.3 Kaidah Dasar Bioetika dan Peranannya Segala sesuatu tentu memiliki prinsip/kaidah yang menjadi patokan seseorang. Bioetik memiliki juga kaidah (prinsip) dasar. Kaidah dasar bioetik adalah sutu aksioma yang mempermudah penalaran etik. Kaidah dasar bioetik harus bersifat spesifik, artinya harus saling berkesinambungan di tiap-tiap prinsip. (Taher, 2003) Kaidah kaidah bioetik merupakah sebuah hukum mutlak bagi seorang dokter. Seorang dokter wajib mengamalkan prinsip prinsip yang ada dalam kaidah tersebut, tetapi pada beberapa kasus, karena kondisi berbeda, satu prinsip menjadi lebih penting dan sah untuk digunakan dengan mengorbankan prinsip yang lain. Kondisi seperti ini disebut Prima Facie. Konsil Kedokteran Indonesia, dengan mengadopsi prinsip etika kedokteran barat, menetapkan bahwa, praktik kedokteran Indonesia mengacu kepada kepada 4 kaidah dasar moral yang sering juga disebut kaidah dasar etika kedokteran atau bioetika. (Taher, 2003) Beauchamp dan Childress (1994) menguraikan ( Empat prinsip etika Eropa ) bahwa untuk mencapai ke suatu keputusan ETIK diperlukan 4 Kaidah Dasar Moral / Kaidah Dasar Bioetik (Moral Principle) dan beberapa rules atau kriteria dibawahnya. Keempat Kaidah Dasar Moral tersebut adalah : (Taher, 2003; Humaryanto,2012) 1. Prinsip Autonomy (self-determination) 2. Prinsip tidak merugikan Non-maleficence 3. Prinsip murah hati Beneficence 4. Prinsip keadilan Justice

1.3.1 Prinsip Autonomy (self-determination) Prinsip Autonomy (self-determination) Yaitu prinsip yang menghormati hak-hak pasien, terutama hak otonomi pasien (the rights to self determination) dan merupakan kekuatan yang dimiliki pasien untuk memutuskan suatu prosedur medis. Prinsip moral inilah yang kemudian melahirkan doktrin Informed consent.(Hartono, 2011; Taher, 2003) Dalam kaidah ini, seorang dokter wajib menghormati martabat dan hak manusia. Setiap individu harus diperlakukan sebagai manusia yang mempunyai hak menentukan nasib sendiri. Dalam hal ini pasien diberi hak untuk berfikir secara logis dan membuat keputusan sendiri. Autonomi bermaksud menghendaki, menyetujui, membenarkan, membela, dan membiarkan pasien demi dirinya sendiri. Kaidah Autonomi mempunyai prinsip prinsip sebagai berikut:

1. Menghargai hak menentukan nasib sendiri, menghargai martabat pasien. 2. Tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan (pada kondisi elektif). 3. Berterus terang 4. Menghargai privasi 5. Menjaga rahasia pasien 6. Menghargai rasionalitas pasien 7. Melaksanakan Informed Consent 8. Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri 9. Tidak mengintervensi atau menghalangi autonomi pasien 10. Mencegah pihak lain mengintervensi pasien dalam membuat keputusan, termasuk keluarga pasien sendiri 11. Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non emergensi 12. Tidak berbohong kepada pasien meskipun demi kebaikann pasien 13. Mejaga hubungan atau kontrak 1.3.2 Prinsip tidak merugikan Non-maleficence Prinsip tidak merugikan Non-maleficence Adalah prinsip menghindari terjadinya kerusakan atau prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai primum non nocere atau above all do no harm . Nonmalficence mempunyai ciri-ciri: 1. Menolong pasien emergensi.

2. Kondisi untuk menggambarkan criteria ini adalah : pasien dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko hilangnya sesuatu yang penting (gawat), dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut, tindakan kedokteran teresebut terbukti efektif, manfaat bagi pasien > kerugian dokter atau hanya mengalami risiko minimal. 3. Mengobati pasien yang luka. 4. Tidak membunuh pasien (tidak melakukan euthanasia). 5. Tidak menghina/mencaci maki/memanfaatkan pasien. 6. Memberikan semangat hidup 7. Tidak memandang pasien hanya sebagai objek. 8. Mengobati secara proporsional. 9. Menghindari misrepresentasi dari pasien. 10. Tidak membahayakan kehidupan pasien karena kelalaian. 11. memberikan semangat hidup. 12. Melindungi pasien dari serangan 13. Tidak melakukan white collar crime dalam bidang kesehatan/kerumah sakitan yang merugikan pihak pasien dan Keluarganya. 1.3.3 Prinsip murah hati Beneficence Prinsip murah hati Beneficence Yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan ke kebaikan pasien atau penyediaan keuntungan dan menyeimbangkan keuntungan tersebut dengan risiko dan biaya. Dalam Beneficence tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan saja, melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar dari pada sisi buruknya (mudharat).(Hartono, 2011; Taher, 2003) Dalam arti bahwa seorang dokter berbuat baik, menghormati martabat manusia, dokter tersebut harus berusaha maksimal agar pasiennya tetap dalam kondisi sehat. Perlakuan terbaik kepada pasien merupakan poin utama dalam kaidah ini. Kaidah beneficence

menegaskan peran dokter untuk menyediakan kemudahan dan kesenangan kepada pasien mengambil langkah positif untuk memaksimalisasi akibat baik dari pada hal yang buruk. Prinsip prinsip yang terkandung didalam kaidah ini adalah : 1. Mengutamakan altruisme yaitu menolong tanpa pamrih, rela berkorban untuk kepentingan orang lain. 2. Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia. 3. Memandang pasien / keluarga/ sesuatu tak hanya sejauh menguntungkan dokter. 4. Mengusahakan agar kebaikan /manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan keburukannya 5. Paternalisme bertanggung jawab/berkasih sayang 6. Manjamin kehidupan- baik- minimal manusia 7. Tidak ada Pembatasan goal-based 8. Memaksimalisasi hak-hak pasien secara keseluruhan 9. Minimalisasi akibat buruk 10. Kewajiban menolong pasien gawat darurat. 11. Menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan. 12. Tidak menarik honorarium diluar kepantasan 13. Maksimalisasi kepuasan tertinggi secara keseluruhan. 14. Mengembangkan profesi secara terus-menerus 15. Memberikan obat berkhasiat namun murah.

16. Menerapkan Golden Rule Principle yaitu melakukan hal yang baik seperti yang orang lain inginkan 1.3.4 Prinsip keadilan Justice Prinsip keadilan Justice Yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya (distributive justice) atau pendistribusian dari keuntungan, biaya dan risiko secara adil. (Hartono, 2011; Taher, 2003) Keadilan atau Justice adalah suatu prinsip dimana seorang dokter wajib memberikan perlakuan sama rata serta adil untuk kebahagiaan dan kenyamanan pasien tersebut. Perbedaan tingkat ekonomi, pandangan politik, agama, kebangsaan, perbedaan kedudukan sosial, kebangsaan, dan kewarganegaraan tidak boleh mengubah sikap dan pelayanan dokter terhadap pasiennya. Justice mempunyai ciri-ciri :
1.

Memberlakukan segala sesuatu secara universal Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan Memberikan kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama Menghargai hak sehat pasien Menghargai hak hukum pasien Menghargai hak orang lain Menjaga kelompok rentan Tidak membedakan pelayanan terhadap pasien atas dasar SARA, status social, dan sebagainya

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Tidak melakukan penyalahgunaan

10.

Memberikan kontribusi yang relatif sama dengan kebutuhan pasien Meminta partisipasi pasien sesuai dengan kemampuannya Kewajiban mendistribusikan keuntungan dan kerugian secara adil Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alasan sah atau tepat Menghormati hak populasi yang sama sama rentan penyakit atau gangguan kesehatan Bijak dalam makroalokasi

11.

12.

13.

14.

15.

16.

1.4

Etika Klinik ( Jonsen Ar, 2002) Pembuatan keputusan etik, terutama dalam situasi klinik, dapat juga dilakukan dengan

pendekatan yang berbeda dengan pendekatan kaidah dasar moral diatas. Jonsen, Siegler dan Winslade (2002) mengembangkan teori etik yang menggunakan 4 topik yang esensial dalam pelayanan klinik , yaitu :

1.4.1 Medical Indication Pada topik Medical Indication dimasukkan semua prosedur diagnostik dan terapi yang sesuai untuk mengevaluasi keadaan pasien dan mengobatinya. Penilaian aspek indikasi medis ini ditinjau dari dari sisi etiknya, dan terutama manggunakan kaidah dasar bioetik Beneficence dan Nonmaleficence. Pertanyaan etika pada topik ini adalah serupa dengan seluruh informasi yang selayaknya disampaikan kepada pasien pada doktrin Informed consent.

1.4.2 Patient Preferrences Pada topik Patient Preferrences kita memperhatikan nilai (value) dan penilaian tentang manfaat dan beban yang akan diterimanya, yang berarti cerminan kaidah Autonomy. Pertanyaan etiknya meliputi pertanyaan tentang kompetensi pasien, sifat volunter sikap dan keputusannya, pemahaman atas informasi, siapa pembuat keputusan bila pasien tidak kompeten, nilai dan keyakinan yang dianut pasien, dan lain-lain.

1.4.3 Quality of Life Topik Quality of Life merupakan aktualisasi salah satu tujuan kedokteran, yaitu memperbaiki, menjaga atau meningkatkan kualitas hidup insani. Apa, siapa, dan bagaimana melakukan penilaian kualitas hidup merupakan pertanyaan etik sekitar prognosis, yang berkaitan dengan kaidah dasar bioetik yaitu Beneficence, Nonmaleficence dan Autonomy. 1.4.4 Contextual Features Prinsip dalam Contextual Features adalah Loyalty and Fairness. Disini dibahas pertanyaan etik seputar aspek non medis yang mempengaruhi keputusan, seperti faktor keluarga, ekonomi, agama, budaya, kerahasiaan, alokasi sumber daya dan faktor hukum.

BAB II KASUSU BIOETIKA

2.4.1

Kasus Dokter andi menerima seorang pasien laki-laki setengah baya, tampak kaheksia,

berjalan tertatih-tatih dan terus batuk di hadapannya. Pasien itu ditemani oleh anak

perempuannya yang kurus. Dokter tersebut enggan melakukan anamnesis dan langsung memeriksa si pasien. ketika si anak bertanya tentang penyakit ayahnya, dokter Andi hanya menyarankan minum obat dengan teratur, dan memberikan resep yang murah namun berkhasiat melihat penampilan pasien yang sederhana, namun. Si anak bertanya lagi tentang cara minum obat, tapi dokter Andi menyarankan bertanya pada tugas apotek tempat mengambil obat. Merasa diremehkan, sang ayah dan anaknya keluar dari kamar dokter tanpa mengucapkan salam. Wajah mereka tampak tidak puas.

2.4.2

Pembahasan Kaidah Dasar Bioetika yang terkait dengan kasus :

2.4.2.1 Beneficence Yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan ke kebaikan pasien atau penyediaan keuntungan dan menyeimbangkan keuntungan tersebut dengan resiko dan biaya. Dalam beneficence tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan saja, melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar daripada sisi buruknya (mudharat). Kriteria 1. Mengutamakan alturism yaitu menolong tanpa pamrih, rela berkorban untuk kepentingan orang lain. Tidak disinggung dalam kasus 2. Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia. 3. Memandang sejauh dokter. 4. Mengusahakan agar + Dokter tidak menjelaskan penyakit serta tidak memberikan nasihat pasien / + Dokter hanya mengobati dan membuat resep tanpa mempedulikan pertanyaan pasien dan keluarga Ada Tidak Ada Analisa + Dokter tidak membantu menjelaskan pertanyaan pasien dan keluarga

keluarga / sesuatu tak hanya menguntungkan

kebaikan/ manfaatnya lebih

banyak dibandingkan dengan keburukannya. 5. Paternalism bertanggung +

kebaikan

kepada pasien berkaitan

dengan penyakitnya Dokter tidak menunjukkan sikap kasih sayang Tidak disinggung dalam kasus

jawab / berkasih sayang . 6. Menjamin kehidupan-baikminimal manusia.

Kriteria 1. Pembatasan goal-based. pemuasan preferensi

Ada

Tidak Ada + + Dokter

Analisa tidak menjalankan prosedur

2. Maksimalisasi kebahagiaan/

kedokteran dengan baik dan benar Dokter tidak mendahulukan kepuasan pasien

pasien. 3. Minimalisasi akibat buruk.

Dokter

menyarankan

bertanya

ke

apotik untuk penggunaan obat agar 4. Kewajiban menolong pasien gawat darurat. 5. Menghargai hak-hak pasien secara keseluruhan. 6. Tidak menarik honorarium diluar kepantasan. 7. Maksimalisasi kepuasan tertinggi secara keseluruhan. 8. Mengembangkan profesi secara terus-menerus. 9. Memberikan obat berkhasiat namun murah. 10. menerapkan Golden Principle. Rule + + + + Dokter tidak menghargai hak pasien untuk mengetahui penyakitnya Tidak disinggung dalam Kasus Dokter tidak mengutamakan tidak terjadi kesalahan Tidak disinggung dalam kasus

kepuasan pasien secara menyeluruh Tidak di singgung dalam scenario Dokter menuliskan resep berkhasiat dan murah untuk pasien Dokter tidak menjalankan tugasnya sebagai Dokter klinik yang baik

Kesimpulan : dari daftar tilik pada criteria beneficience yang memenuhi dapat disimpulkan bahwa pada kasus kita dapat mengetahui bahwa dokter tidak menghargai hakhak pasien secara keseluruhan dan tidak maksimalisasi pemuasan kebahagiaan/preferensi pasein, pasien serta anaknya tidak puas dengan pelayanan yang diberikan dokter Andi .

2.4.2.2 Nonmaleficence

Yaitu prinsip menghindari terjadinya kerusakan atau prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai primum non nocereatauabout all do no harm. KRITERIA 1. Menolong pasien emergensi. 2. Kodisi untuk menggambarkan criteria ini adalah : pasien dalam amat berbahaya atau berisiko hilangnya sesuatu yang penting (gawat), dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut, tindakan kedokteran tersebut terbukti efektif, manfaat bagi pasien kerugian dokter atau hanya mengalami risiko minimal. 3. Mengobati pasien yang luka/penyakit 4. Tidak membunuh pasien (tidak melakukan euthanasia). 5. Tidak menghina/ memanfaatkan pasien. mencaci maki, + + Dokter mengobati pasien Tidak dijelaskan pada kasus Dokter pasien kurang menghargai tugas dan ADA TIDAK ADA Tidak dijelaskan pada kasus Tidak dijelaskan pada kasus Analisa

dan keluarga, hanya

menyelesaikan 6. Tidak memandang pasien hanya sebagai objek. 7. Mengobati secara tidak proporsional. + + menulis resep Dokter hanya

menuliskan

resep tanpa ada komunikasi yang bagus. Dokter mengobati tanpa

anamnesis yang baik, dan 8. Tidak mencegah pasien dari bahaya. + hanya kuratif saja. Dokter menyarankan bertanya pada apotik agar pasien tidak 9. Menghindari misrepresentasi dari pasien. + salah dalam penggunaan obat Bisa terjadi mispresentasi karena tidak adanya penjelasan yang jelas oleh

10. Tidak membahayakan kehidupan pasien karena kelalaian.

dokter Anamnesis

yang

tidak

di

lakukan, tidak memberikan penjelasan tentang penyakit dan pasien Pasien pasien Tidak pengobatan bahaya dapat bagi menimbulkan

11. Tidak memberikan semangat hidup

tidak

melakukan

komunikasi yang efektif pada 12. Tidak melindungi dari seragan 13. Tidak melakukan white collar, dalam bidang kesehatan / kerumah sakit yang merugikan pihak pasien dan keluarganya Kesimpulan : dari hasil daftar tilik pada kritesia, pada Kasus kita dapat mengetahui bahwa dalam mengobati pasien dokter sangatlah tidak proporsional dan memungkinkan terjadinya mispresentasi dari pasien, pasien hanya di pandang sebagai objek, tidak disinggung dalam langsung

scenario Tidak dijelaskan dalam scenario

mempedulikan pertanyaan pasien, dan tidak memberikan semangat hidup pada pasien.

2.4.2.3 Justice Yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dalam keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya (ditributive justice) atau pendistribusian dari keuntungan, biaya dan resiko secara adil. Memberi perlakuan sama untuk setiap orang seperti memberi sumbangan relatif sama terhadap kebahagiaan dan menunut pengorbanan relatif sama, yang diukur sesuai dengan kemanpuan mereka.

KRITERIA 1. Memberlakukan segala sesuatu secara universal 2. Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan. 3. Memberi kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama. 4. Menghargai hak sehat pasien (affordability, equality, accessibility, and quality. 5. Menghargai hak hukum pasien.

ADA

TIDAK ADA

Analisa Tidak disinggung dalam Kasus Tidak disinggung dalam Kasus

6. Menghargai hak orang lain. 7. Menjaga kelompok yang rentan (yang paling dirugikan) 8. Tidak melakukan penyalahgunaan. 9. Bijak dalam makro alokasi. 10.Memberikan kontribusi yang relative sama dengan kebutuhan pasien. 11.Meminta partisipasi pasien sesuai dengan kemampuannya. 12.Kewajiban mendistribusikan keuntungan dan kerugian ( biaya, beban, dan sanksi ) secara adil. 13.Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat tepat dan kompeten. 14. Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alasan sah/ tepat. 14. Menghormati hak populasi yang sama-sama rentan penyakit / gangguan kesehatan. 15. Tidak membedakan pelayanan pasien atas dasar SARA, status social, dan lain-lain.

Dokter tidak memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengetahui penyakitnya dan pengobatannya Dokter tidak menghargai hak sehat pasien dan hak mengetahui penyakitnya Dokter tidak menghargai hak pasien mendapatkan pelayanan kesehatan tertinggi Dokter tidak menghargai hak pasien dan keluarga Tidak disinggung dalam Kasus Tidak disinggung dalam Kasus Tidak disinggung dalam Kasus Dokter tidak memenuhi kebutuhan pasien dari segi komunikasi Dokter tidak meminta partisipasi pasien Tidak disinggung dalam scenario

Tidak disinggung dalam scenario

Tidak disinggung dalam scenario

Tidak disinggung dalam scenario

Tidak disinggung dalam scenario

Kesimpulan : dari daftar tilik pada criteria Justice dokter tidak memberikan hak pasien, tidak memberikan pasien kesempatan umtuk berpartisipasi namun akurasi penilaian justice tidaknya dokter tersebut tidak dapat dinyatakan akurat karena tidak ada 2 atau lebih hal yang bisa dibandingkan.

2.4.2.4 Autonomy Otonomi adalah prinsip yang mengakui hak setiap pribadi untuk memutuskan sendiri mengenai masalah kesehatannya. Otonom merupakan bentuk kebebasan bertindak dimana seseorang mengambil keputusan sesuai dengan rencana yang ditentukannya sendiri. Otonomi dapat dikatakan merupakan hak atas perlindungan privacy. Dalam hubungan dokter dengan pasien ada otonomi klinis atau kebebasan professional dari dokter dan kebebasan terepeutik atau kebebasan diagnostik dari pasien. Kebebasan profesional adalah hak dokter untuk menyarankan tindakan terbaik bagi penyakitnya berdasarkan ilmu, keterampilan pengalaman dokter tersebut. Sedangkan kebebasan terapeutik adalah hak pasien untuk memutuskan terbaik bagi dirinya dari sejumlah alternatif tindakan yang mungkin dilakukan setelah mendapatkan informasi yang selngkap-lengkapnya.

Kriteria 1. Menghargai hak menenukan nasib sendiri, menghargai martabat pasien. 2. Tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan (pada kondisi elektif) 3. Berterus terang. 4. Menghargai privasi. .

Ada

Tidak ada Analisa + Dokter tidak menghargai hak pasien

Tidak disinggung dalam scenario

+ +

Dokter tidak berterus terang tentang penyakit pasien Dokter tidak menghargai pasien privasi

5. Menjaga rahasia pasien. . 6. Menghargai pasien. 7. Melaksanakan consent 8. Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri. 9. Tidak mengintervensi atau menghalangi pasien 10. Mencegah membuat autonomi pihak lain informed rasionalitas

Dokter bahkan tidak menceritakan kepada pasien sendiri

Pasien tidak di berikan kesempatan untuk bersikap rasionalisme

Dokter tidak

memberikan pejelasan

mengenai diagnose penyakit pasien + Pasien tidak diberikan kesempatan dalam pengambilan keputusan

Dokter

melakukan

intervensi

penanganan dan pengobatan tanpa + menjelaskan kondisi pasien Dokter tidak mencegah pasien dr intervensi, dan tidak menjalin komunikasi yang baik dengan pasien. + Dokter tidak sabar mendengar dan segera

mengintervensi pasien dalam keputusan, termasuk keluarga pasien 11. sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non emergensi. 12. Tidak berbohong ke pasien meskipun pasien 13. Menjaga (kontrak). demi kebaikan hubungan + +

pertanyaan

pasien

membuatkan resep paisen. Dokter tidak berbohong tapi

menghindar dari pertanyaan pasien Dokter tidak menjga hubungan

dengan baik kepada pasien

Kesimpulan : dari daftar tilik pada criteria autonomy dokter tidak memanfaatkan autonomi pasien dan tidak melaksanakan imformed consent dengan baik, dokter tersebut langsung memeriksa pasiennya tanpa menganamnesis terlebih dahulu.

2.5

Kesimpulan Pembahasan Kasus Bedasarkan hasil diskusi yang kami lakukan khususnya pada scenario 4 kami dapat

menyimpulkan bahwa kaidah dasar bioetik (KDB) yang paling menonjol dari skenario tersebut yaitu AUTONOMY yang dimana terdapat banyak pelanggaran yang dilakukan oleh dokter yaitu tidak menghargai pendapat maupun kedatangan pasien,misalnya dr. Andy enggan melakukan anamnesis,tidak melakukan informed consent dokter Andy langsung memberikan resep dan tidak memberi tahu cara minum obat kepada

pasien...............................................................

DAFTAR PUSTAKA

Bertens, 2012. Bioetika : asal usul, tujuan, dan cakupannya di unduh dari www.knepk.litbang.depkes.go.id/knepk/download%20dokumen/. Diakses 7 september 2013 http://worldmeister.wordpress.com/2011/05/27/euthanasia-dan-bioetikakedokteran/ Hanafiah, J, Amri amir. 2009. Etika Kedokteran dan Hukum\Kesehatan (4th ed). Jakarta: EGC. Hartono, Budiman., Salim Darminto. 2011. Modul Blok 1 Who Am I? Bioetika, Humaiora dan Profesoinalisme dalam Profesi Dokter. Jakarta: UKRIDA. Humaryanto, 2012. Kaidah dasar bioetika di unduh Diakses dari 7

www.docstoc.com/docs/121715845/KAIDAH-DASAR-BIOETIKA. september 2013

Jonsen AR, Siegler M, WinsladeWJ. Clinical Ethics : A Practical Approach to ethical decisions in clinical medicine. 5th ed. New York, NY:McGraw-Hill. 2002 Kuswanto, 2013 Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Indonesia (MKEK) & Ikatan Dokter Indonesia(IDI). Kode Etik Kedokteran Indonesia dan Pedoman pelaksanaan KODEKI. Jakarta. 2002 http://ramitsul.blogspot.com/2012/07/kasus-dilema-etik.html Taher, tarmizi. 2003. Medical ethics. :Jakarta Gramedia pustaka utama. 2013. Bioetika di indonesia di unduh dari syekhfanismd.lecture.ub.ac.id/files/2013/modul-11-bioetika.pdf Diakses 7 september