Anda di halaman 1dari 22

STATUS PASIEN

A. Identitas Pasien Nama : Ny Ss Usia : 29 tahun

Alamat : Pangandaran Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

B. Anamnesis

Keluhan Utama

: Pasien datang dengan keluhan belum memiliki anak atas

pernikahannya yang sudah berlangsung selama 1 tahun. RPS : Pasien mengeluh belum dikaruniai anak atas

pernikahannya yang sudah berlangsung 1 tahun. Ini merupakan pernikahan kedua pasien. Pernikahan pertama berlangsung 8 tahun dan tidak dikaruniai anak. Pasien menikah lagi dengan duda dengan anak 2 dan sudah berlangsung 1 tahun. Pasien mengaku tidak ada keluhan seperti nyeri atau rasa tidak nyaman saat berhubungan suami istri. Pasien melakukan hubungan suami istri 3 kali seminggu. Keluhan keluar darah dari kemaluan saat berhubungan disangkal. Pasien mengaku haid teratur setiap bulan. Setiap nyeri haid pasien selalu minum obat anti nyeri seperti oskadon. Minum jamu disangkal. Pasien mengaku sering keputihan. Keputihan biasanya sebelum dan sesudah haid. Lendir berwarna putih kekuningan dan berbau. Pasien mengku sering diurut bagian perutnya dengan maksud cepat hamil. Pasien mengaku sering sakit perut setelah dipijit.

RPD RPK

: : di keluarga pasien tidak ada yang mandul, kanker serviks (-),

kanker ovarium (-), Riwayat pengobatan : sebelumnya pasien sudah mencoba berobat ke dokter spesialis kandungan namun masih belum berhasil. Akhirnya pasien diminta untuk melakukan pemeriksaan HSG .

DEFINISI: a. Pemeriksaan Hysterosalpingografi (HSG) adalah pemeriksaan X-ray dari tuba fallopii dan uterus dengan menggunakan kontras yang diinjeksikan melalui cervik uteri. Pada kasus infertilitas pemeriksaan ini bertujuan untuk mendiagnosa ada atau tidaknya sumbatan pada salah satu atau kedua tuba fallopii yang dapat menghambat penyatuan sperma dan sel telur.

b. HSG juga dapat memberikan gambaran dari cavum uteri dan mendeteksi adanya abnormalitas uterus yang juga dapat menyebabkan infertilitas atau keguguran yang berulang.

c. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendiagnosa penyebab nyeri pelvis yang berasal dari dalam uterus atau memberikan informasi keberhasilan operasi tuba beberapa minggu atau bulan pasca operasi.

BAHAN KONTRAS

Adapun hahan kontras yang sering digunakan oleh ahli radiologi di Indonesia adalah zat kontras yang larut dalam air yaitu urografin 60% (meglumin diatrizoate 60% atau sodium diatrizoate 10%). Bahan kontras ini sifatnya encer, memberikan opasitas yang memuaskan dan mudah masuk ke dalam tuba dan menimbulkan pelimpahan kontras ke dalam rongga peritoneum dengan segera.

Pada tahun-tahun terakhir ini dipakai juga bahan kontras lipiodol ultrafluid yang juga dipakai untuk pemeriksaan limfografi, sialografi, fistulografi, dan saluran-saluran yang halus. Kekurangan lipiodol adalah bahwa resorpsi kembali berlangsung lama sekali jika kontras ini masuk kedalam rongga peritoneum .Jumlah bahan kontras yang digunakan berbeda-beda, tergantung pasien, tetapi biasanya mendekati 10 ml.

Kontras larut minyak sekarang sudah banyak ditinggalkan, karena komplikasi yang ditimbulkan yaitu: - Emboli paru - Granuloma pada permukaan peritoneum - Fibrosis peritoneum

- Penyerapan lebih lama Bahan kontras lain yang juga sering dipakai dan memberikan hasil sama seperti urografin, misalnya hipaque 50% (sodium diatrizoate), endografin (meglumine iodipamide), diaginol viscous (sodium acetrizoate plus polyvinyl pyrolidone), isopaque (metrizoate), lipiodol ultrafluid, dan sebagainya.

INDIKASI HSG Indikasi pemeriksaan histerosalpingografi : 1. Infertilitas: untuk menggambarkan tuba fallopi dan salurannya sampai ke kavum peritoneum. 2. Abortus berulang: menggambarkan apakah ada kelainan bawaan pada kavum uteri. Memonitor pasca operasi tuba, seperti pada prosedur sterisilasi.

Indikasi HSG yang paling sering ialah dalam ginekologi, baik sterilitas primer maupun sekunder, untuk melihat potensi tuba. Pada tuba yang paten akan terjadi pelimpahan kontras dari tuba ke dalam rongga peritoneum. Hal ini memberikan gambaran yang khas karena bahan kontras akan tersebar diantara lingkaran-lingkaran usus dalam perut. Selain itu HSG memberikan gambaran tentang kelainan-kelainan uterus dan kanalis servisis. Dengan demikian kelainan-kelainan bawaan uterus dapat diketahui. Kadang-kadang HSG juga dikerjakan sesudah operasi tuba untuk sterilitas guna menentukan berhasilnya tindakan operatif . Pemeriksaan HSG sekarang juga dilakukan untuk menentukan apakah IUD (intrauterine device) masih ada dalam kavum uteri. Untuk indikasi ini, sebaiknya dibuat dahulu foto polos abdomen untuk melihat apakah IUD masih didalam abdomen. Jika tidak nampak lagi, IUD yang sengaja dibuat opak, maka HSG tidak perlu dilakukan. Jika IUD berada jauh dari lokasi uterus, misalnya di abdomen bagian atas, maka dengan sendirinya HSG tidak perlu dikerjakan lagi. . Selain itu terbukti bahwa HSG juga mempunyai efek terapeutik, bahwasannya kehamilan sering terjadi segera sesudah pemeriksaan HSG dilakukan. Kemungkinan besar kontras membuka secara mekanis obstruksi-obstruksi yang disebabkan oleh sekret, melepaskan adesi yang ada dalam tuba, meluruskan bengkokan tuba dan menimbulkan peristaltik yang lebih aktif karena masuknya bahan kontras. Kalau

memang demikian, maka pemakaian kontras yang dicampur dalam minyak seperti lipiodol ultrafluid dapat menyebabkan kehamilan lebih banyak dibandingkan dengan pemakaian kontras yang cair.

HSG juga diindikasikan jika ada perdarahan per vaginam sedikit, misalnya disebabkan oleh mioma uteri, polip endometrium, adenomatorus, dan lain-lain. HSG juga dapat dilihat jika ada kelainan bawaan uterus atau adhesi dalam kanalis servisis dan kavum uteri yang dapat menyebabkan abortus. HSG kadang-kadang dilakukan sesudah section caesaria untuk melihat parut-parut pada cerviks dan uterus. Tumor maligna kavum uteri kadang-kadang juga perlu diperiksa dengan HSG untuk melihat lokasi, ekstensi, dan bentuk tumor. Tumor maligna seperti koriokarsinoma memperlihatkan bentuk yang khas pada HSG.

Sekarang HSG juga perlu dilakukan pada kasus-kasus inseminasi buatan. Sebelum melakukan inseminasi, sebaiknya dilakukan HSG untuk melihan kelainan pada traktus genitalis.

KONTRA INDIKASI HSG Kontraindikasi pemeriksaan HSG : Infeksi pelvis yang aktif dapat menyebarkan infeksi Penyakit ginjal atau jantung yang berat Hipersensitifvitas pada zat kontras Pasien yang baru di kuretase Kehamilan Seminggu sebelum menstruasi berikutnya dan belum lebih seminggu setelah menstruasi

Pada umumnya penentuan indikasi pemeriksaan HSG dibuat oleh ahli obstetri ginekologik. Proses-proses inflamasi yang akut pada abdomen merupakan kontra indikasi. Pada hamil muda, pemeriksaan ini tidak boleh dikerjakan, karena bahaya terjadinya abortus. Lagi pula radiasi terhadap fetus tinggi sekali. Pada umumnya pada hamil muda tak boleh dilakukan pemeriksaan foto polos abdomen, karena sel-sel fetus masih dalam stadium pembagian yang aktif.

Kontra indikasi lain adalah perdarahan pervaginam yang berat. Pemeriksaan tertentu harus ditunda sampai perdarahan berhenti. Jika ada perdarahan, maka bahan kontras bias masuk kedalam vena uterina dan vena ovarii, masuk kedalam vena kava inferior, jantung sebelah kanan, kemudian masuk kedalam paru-paru.

Tuberkulosis aparat genital tidak merupakan kontra indikasi yang absolut, malahan kadang-kadang penyakit ini ditemukan pada pemeriksaan HSG.

HSG juga tidak boleh dilakukan segera setelah dikerjakan kuretase atau dilatasi kanalis servikalis, karena ada kemungkinan masuknya kontras kedalam vena-vena sekitar uterus. Penyakit ginjal dan jantung yang sudah lanjut juga merupakan kontra indikasi untuk dilakukan HSG, juga setelah dan sebelum menstruasi karena pada saat ini, endotel menebal dan dapat terjadi intravasasi kontras, sehingga interpretasi foto akan lebih sulit.

KOMPLIKASI PEMERIKSAAN HSG

Pada umumnya pemeriksaan HSG hanya ringan saja. Keluhan utama ialah rasa nyeri pada waktu pemeriksaan dilakukan. Rasa nyeri ini akan hilang sendiri dalam beberapa jam. Kadang-kadang timbul keadaan pra-renjatan (pre-shock) karena pasien sensitif terhadap zat kontras. Hal-hal yang mungkin timbul setelah pemeriksaan Hysterosalpingografi: 1. Bercak darah pervaginal selama beberapa hari 2. Nyeri atau rasa kram yang moderat mungkin dapat timbul beberapa jam setelah beberapa jam post pemeriksaan 3. Demam atau nyeri yang persisten dapat merupakan indikasi berkembangnya infeksi. Gejala-gejala ini sebaiknya dilaporkan kepada dokter jika menetap lebih dari beberapa jam. 4. Pemakain semprot, sanggama, atau tampon vagina sebaiknya ditunda hingga 48 jam setelah prosedur.

PROSEDUR PEMERIKSAAN HSG

Persiapan Sebelum melakukan semuanya hal utama yang dilakukan adalah inform consent. Dan sebelumnya pasien dilarang coitus untuk mencegah adanya sperma sehingga rahim dalam keadaan bersih, sebaiknya HSG dilakukan seminggu setelah menstruasi (9-12 hari), sebelum ovulasi untuk meyakinkan bahwa pasien tidak sedang hamil pada saat pemeriksaan. HSG tidak boleh dilakukan bila ada tanda-tanda inflamasi. Diperhatikan apakah ada infeksi pelvis kronis dan penyakit menular seksual pada saan pemeriksaan. Malam sebelum pemeriksaan, pasien diberi laksatif untuk mengosongkan saluran cerna, sehingga uterus dan struktur disekitarnya terlihat dengan jelas.

Beberapa saat sebelum pemeriksaan dapat diberikan sedatif ringan untuk mengurangi ketidaknyamanan, Antibiotik juga dapat diberikan sebelum dan sesudah pemerksaan.Harus dilakukan tes alergi terhadap zat kontras, juga dijelaskan akan rasa sakit yang akan dialami pasien.

Semua pakaian dibuka, termasuk perhiasan, kaca mata dan benda-benda logam yang dapat merancukan bayangan sinar-x. Pasien memakai gaun khusus saat pemeriksaan. Sebelum dilakukan pemeriksaan HSG atau pemeriksaan lain, ada baiknya dibuat foto polos abdomen terlebih dahulu.

Pemeriksaan ini sering kali dilakukan dengan film ukuran 18 x 24 cm atau 24 x 30 cm untuk meliputi daerah vesika dan uterus dalam pelvis. Jika ada indikasi, maka ada kalanya perlu dibuat foto seluruh abdomen termasuk lengkung diafragma kanan dan kiri, biasanya cukup dengan film ukuran 30 x 40 cm.

Pada infertilitas kadang-kadang diperlukan juga membuat radiogram paru, karena infertilitas mungkin merupakan akibat penyakit tuberculosis paru yang masih aktif. Proteksi Radiasi; Perhatian khusus perlu diberikan untuk menjaga radiasi seminimum mungkin karena penggunaan kilovolt yang tinggi. Intensifikasi bayangan harus dijaga kualitasnya sebaik mungkin. Begitu juga dengan tangan yang memberikan injeksi contrast pada saan fluoroskopi harus dilindungi. Perlindungan dibuat dari lembaran

timah karet yang tebal diletakkan dibawah kaki pasien dengan batas bagian atas tepat dibawah simfisis pubis. Sorotan sinar-X harus disejajarkan agar tangan ginekologis tidak teradiasi.

Peralatan

Peralatan radiologi yang digunakan meliputi: meja radiologi, tabung sinar-x dan monitor yang berada di ruang pemeriksaan atau dekat ruang pemeriksaan. Untuk melihat gambaran pada proses pemeriksaan, gambaran sinar-x di ubah menjadi gambaran video, disaat yang bersamaan radiographer mengambil gambar yang dicetak pada film.

Alat-alat lain yang diperlukan adalah 2 porsio tang, 2 spekulum vagina, sonde uterus, sarung tangan, lampu dan lain-lain sesuai kebutuhan. Alat yang dipilih untuk HSG ini ideal memenuhi beberapa kriteria yaitu mudah digunakan, memberikan gambaran anatomi uterus dan tuba dengan baik, mencegah kontras kembali ke vagina, terhindar dari trauma serviks dan uterus, dan bila perlu posisi pasien dapat diubah sesuai kebutuhan.Jangan lupa mempersiapkan obat-obatan emergensi.

Kanula injectin/kateter + syring

Alat dan bahan untuk pemeriksaan HSG set terdiri atas bahan-bahan steril dan unsteri, yang terdiri dari: Pesawat R dengan flouroscopy Kaset ukuran 18x24cm; 24x30cm Peralatan proteksi radiasi Steril Sonde uterus Speculum vagina Tenaculum (portio tang) Conus dgn ukuran S,M,L Sarung tangan steril (hand scoon) Kain kassa steril Kanula injection dan syring Un Steril : Lampu sorot Bengkok Alas bokong

Prosedur Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengerjakan HSG ini. Menurut Sutton pemeriksaan ini lebih memuaskan apabila dikerjakan dibawah anestesi umum, baik bagi pasien maupun untuk kepentingan diagnosa yang akurat. Tetapi beberapa kepustakaan menyebutkan bahwa tidak diperlukan sedatif maupun anestesi untuk mengerjakan HSG ini.

Persiapan pasien yang akan dilakukan pemeriksaan meliputi:

- Setelah kandung kemih dikosongkan dan pembersihan perineum, pasien ditempatkan di meja pemeriksaan.

- Posisikan pasien dengan posisi litotomi, dengan lutut yang difleksikan dan dirilekskan.

- Setelah posisi meja di atur, posisikan pasien dan film untuk difokuskan pada titik 5 cm dari simfisis pubis; film ukuran 24x30 merupakan ukuran yang sering digunakan dengan posisi memanjang - Posisi monitor berada ditempat yang mudah dilihat. - Peralatan diletakkan pada posisi yang mudah dijangkau, jangan terlalu banyak baki. - Penerangan harus cukup. - Gunakan speculum dengan ukuran yang sesuai. - Hindari benturan dan suara-suara gemerincing dari peralatan yang akan dipakai.

Sebelum memasukkan speculum, perhatikan alat genital pasien. Dengan sarung tangan, kuakkan labia dan perhatikan orifisium dan introitus vagina. Lihat apakah ada inflamasi atau ulserasi yang menyulitkan posisi speculum dan bahkan menyakitkan. Jika ditemukan proses inflamasi yang berat, pemeriksaan harus ditunda sampai inflamasi diatasi. Ukuran pembukaan vagina menentukan apakah speculum mudah atau sulit masuknya. Sebelum memasukkan speculum, sebaiknya ukur dulu jarak cervix dengan cara digital menggunakan jari. Cervix akan terasa seperti ujung hidung.

Sebelum dilakukan pemeriksaan, pasien diberikan penjelasan secara singkat mengenai tindakan yang akan dilakukan. Kemudia pasien dibaringkan dalam posisi litotomi, dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik. Spekulum dimasukkan secara perlahan dan serviks dijepit dengan tenakulum dengan arah melintang. Pilih speculum yang nyaman dipakai.

Dilakukan sondase untuk mengetahui dalamnya kavum uteri dan arah fleksi, kanula dengan konus yang sesuai dipasang 1-2 cm dari ujung, spuit yang berisi kontras dipasang dan sedapat mungkin kanula dicegah agar tidak mengandung udara. Kanula dimasukkan dalam ostium uteri eksterna. Kanula dan tenakulum difiksasi sedemikian rupa, sehingga tidak terjadi kebocoran kontras.

Spekulum dikeluarkan dan pasien degeser ke tengah meja. Dilakukan penyemprotan kontras sambil dilakukan fluoroskopi. Pemotretan pertama dilakukan sewaktu kavum uteri terisi kontras dan dilakukan traksi. Biasanya diperlukan 2 cc kontras untuk mengisi kavum uteri. Pemotretan selanjutnya sewaktu tuba telah terisi dan terjadi tumpahan kontras. Umumnya untuk prosedur HSG ini diperlukan 4-6 cc kontras. Pada uterus yang abnormal jumlah kontras yang dipakai bisa lebih banyak, misalnya pada hidrosalping, bisa memakai kontras 10 cc atau lebih. Sedangkan uterus nullipara jumlah kontras hanya 3-4 cc.

ANATOMI ALAT REPRODUKSI WANITA Alat genitalia eksterna

Secara bagian besar external genitalia wanita terdiri atas : Mons pubis Labia majora Labia minora Clitoris Vestibule

Mons pubis Mons pubis terletak diatas symphisis pubis. Setelah pubertas kulit mons pubis akan ditutupi rambut yang berbentuk keriting.

Labia mayora Memiliki panjang 7-8 Cm, lebar 2-3 Cm dan tebal 1-1,5 Cm. Banyak memiliki kelenjar sebaceous, serabut elastis, jaringan adiposa dan sedikit muscular. Pada wanita nulliparaus permukaan dalamnya seperti membaran mukosa sedangkan pada wanita multiparous seperti kulit biasa.

Labia minora Terletak diantara labia mayora, pada wanita nulliparous tidak terlihat,

sedangkan pada wanita multiparous terlihat. Labia minora ditutupi atau dilapisi oleh epitel berlapis gepeng. Meskipun tidak ada rambut namun terdapat folikel sebaceous dan beberapa kelenjar keringat. Bagian interior dari lipatan labia terdiri dari jaringan ikat dengan banyak pembuluh dan beberapa fiber otot polos.

Clitoris Merupakan oragan erektil yang terletak pada pertwemuan 2 labia minora di sebelah anterior dan dilapisi oleh epitel berlapis gepeng. Clitoris terdiri dari : Glans : tersususn dari spindel-shaped cell Body : tersusun dari 2 corpora cavernosa dan dinding dari serat otot polos Root : tersusun dari 2 crura

Pembuluh erektil clitoris berhubungan dengan vestibular bulb. Clitoris jarang lebih dari 2 Cm dan glans berukuran kurang dari 0,5 Cm. Pada bagian paling superior terdapat pertemuan antara labia minora yang dinamakan prepuce of clitoris, lalu pada

bagian agak bawahnya terdapat pula pertemuan antara labia minora yang dinamakan frenulum of clitoris. Vestibule Vestibule berbentuk seperti almond yang ditutupi labi minora secara lateral dan memanjang dari clitoris sampai fourchete. Memiliki 6 bukaan yaitu, urethra, 2 duct dari bartholin, 2 duct dari paraurethral glands dan vagina. Sepasang kelenjar bartholin mempunyai diameter 0,5-1 cm dan terletak di setiap sisi lateral dari vaginal opening.

Vestibular bulb Sepasng massa jaringan erektil yang memanjang 3-4 Cm dan tebal 0,5-1 Cm.

Vaskularisasi external genitalia wanita

Artery External genitalia wanita disuplai oleh internal dan external pudendal artery. Pudendal artery sendiri berasal dari internal illiac artery dimana merupakan cabang dari abdominal aorta. Internal pudendal artery menyuplai kulit, external genitalia wanita, dan otot perianal. Labia artery dan clitoris artery adalah cabang dari internal pudendal artery.

Vena Disuplai dari labial veins yang bermuara ke internal pudendal veins dan vena comitantes

Lymphatic Vulva tersusun dari jaringan kaya pembuluh lymphatic yang mengalir secara lateral ke superficial inguinal lymph node. Glans clitoris dan labia minora mengalir ke deep inguinal nodes atau langsung ke internal iliac nodes.

Alat genitalia interna

1. Ovaries Ovaries berbentuk almond dan merupakan female gonads di mana ovum berkembang. Selain itu, ovaries juga merupakan kelenjar endocrine yang memproduksi hormon reproduksi. Ovary menempel pada uterus melalui ligament of the ovary Fungsi ovaries : Menghasilkan sel ovum dan hormone.

2. Uterine tube Uterine tube memanjang dari uterine horn dan awal dari peritoneal cavity dekat ovaries. Panjangnya kira-kira 10 cm. Uterine tube dibagi dalam 4 bagian,dari lateral ke medial yaitu : a. Infundibulum Bagian distal akhir dari tube yang membuka di peritoneal cavity melewati abdominal ostium. Bagian akhir dari infundibulum disebut fimbriae. Fimbriae berbentuk jari dan membentang ke permukaan medial dari ovary.

b. Ampulla Bagian terpanjang dan terlebar dari tube, dimulai dari bagian akhir medial infundibulum. Fertilisasi biasanya terjadi di ampulla. c. Isthmus Bagian dinding yang tebal pada tube dimana membuka ke arah uterine horn d. Uterine part Segmen intramural pendek dari tube yang melewati dinding uterus. Fungsi uterine tube : 3. Uterus Uterus adalah dinding yang tebal, berbentuk pir dan organ muscular yang berongga. Embrio dan fetus berkembang di dalam uterus.Panjang uterus rata-rata 7.5 cm, lebar 5 cm, tebal 2 cm dan beratnya rata-rata 90 gram. Uterus terbagi atas 2 bagian utama : a. Body of the uterus Membentuk 2/3 bagian superior termasuk fundus dari uterus Body terletak di antara layers of the broad ligament Memiliki 2 permukaan yaitu vesical ( berhubungan dengan bladder ) dan intestinal Body dibatasi dari cervix oleh isthmus of the uterus ( panjangnya kirakira 1 cm ) Bagian interior dari body uterus disebut uterine cavity b. Cervix of the uterus Berbentuk silindris yang mengisi 1/3 uterus Panjangnya kira-kira 2.5 cm pada wanita dewasa yang tidak sedang hamil Sebagai gambaran, terdapat 2 bagian : Supravaginal part ( di antara isthmus dan vagina ) Vaginal part ( yang menonjol vagina ) Tempat fertilisasi Jalan bagi sel ovum menuju uterus dengan bantuan ncilia pada dindingnya

Bagian interior dari cervix disebut cervical canal Cervical canal yang membuka kea rah uterine cavity disebut internal os

Cervical canal yang membuka kea rah vagina disebut external os Fungsi uterus : 1) Sebagai tempat pertumbuhan embrio 2) Tempat implantasi 3) Proses kelahiran 4. Vagina Vagina adalah sebuah musculomembranous tube (7-9 cm ), yang memanjang dari cervix pada uterus ke vestibule ( cleft di antara labia minora ). Bagian akhir superior vagina mengelilingi cervix. Fungsi vagina : Menyediakan sebuah kanal / saluran untuk menstrual fluid Membentuk bagian inferior dari pelvis canal Menerima penis dan ejakulasi selama hubungan seksual Bagian superior vagina berhubungan dengan cervical canal sedangkan bagian inferiornya berhubungan dengan vestibule. TEKNIK PEMOTRETAN Proyeksi AP Posisi pasien : supine diatas meja pemeriksaan dengan kedua tungkai lurus, pelvis rapat pada meja pemeriksaan, kedua tangan diatas kepala, meja pemeriksaan diposisikan trendelenberg. Ukuran kaset : 18x24 cm dipasang melintang Bahan kontras : disuntikkan 2-5 cc Central ray : pada symphisis pubis Kriteria gambar : gambar yang tampak adalahpengisian bahan kontras ke dalam tube fallopi, tampak gambaran corpus uteri dan spill pada peritoneal cavity (rongga peritoneal).

AP Post Kontras : 5 cc

Proyeksi Oblique Kanan Posisi pasien : supine, tungkai kanan lurus,panggul bagian kiri diangkat kira-kira 45, panggul bagian kanan merapat ke meja pemeriksaan, kedua tangan diatas kepala, meja dalam keadaan trendenberg. Ukuran kaset : 18x24 cm dipasang melintang (RPO Post Kontras : 3-5 cc)

Central ray : diarahkan pada pertengahan antara SIAS dan sympisis pubis bagian kanan, lalu di eksposi. Kriteria gambar : gambar yang tampak adalah tampak pada pengisian bahan kontras pada cavum uteri, tube uterine, dan spill pada rongga peritoneum Proyeksi Oblique Kiri Posisi pasien : supine, tungkai bawah kiri lurus, panggul bagian kanan diangkat kirakira 45, panggul bagian kiri merapat ke meja pemeriksaan , kedua

tangan diatas kepala, posisi meja trendelenberg. Ukuran kaset : 18x24 cm diletakkan melintang (LPO Post Kontras : 3-5 cc)

Central ray : diarahkan pada pertengahan antara SIAS dengan sympisis pubis. Kriteria gambar : gambar yang tampak adalah pengisian bahan kontras pada cavum uteri, tube uterus bagian kanan dan kiri serta spill di sekitar fimbrae.

Post Void Pembersihan bahan kontras, posisi sama dengan plan foto, setelah pasien loncatloncat di toilet. Kriteria gambar: Daerah pelvis mencakup vesica urinaria Daerah uterus (pintu panggul atas terlihat di pertengahan film) Tampak sisa kontras, sebagian telah kosong

GAMBARAN HISTEROSALPINGOGRAFI Kanalis servikalis panjangnya 3-4 cm atau kira-kira sepertiga panjang uterus. Bentuknya lonjong. Ismus antara kavum uteri dan kanalis servikalis lebih sempit. Ostium uteri internum nampak seperti penyempitan pendek. Kavum uteri berbentuk segitiga, sisi dan fundus uteri lurus atau konkaf. Fundus kadang-kadang konfeks dan lebih lebar daripada panjang uterus.

Jarak antara kornu kanan dan kiri rata-rata 3,5 cm. Sfingter kornu bentuknya khas seperti bawang. Apeks kornu langsung berlanjut pada ismus tuba. Ismus tuba ini panjangnya variable, nampak seperti garis potlot pada radiogram dan jalannya bergelombang. Ismus tuba kemudian melebar sebagai ampula tuba.

HSG menunjukkan rahim normal kontras terlihat di ujung tabung Kedua tabung sedikit melebar dan cairan diisi.

Perbedaan tuba falopi normal (gambar1) dan tuba falopi yang tersumbat (gambar2) Dalam gambaran monitor

Gambaran HSG dengan penyulit

Menunjukkan pengisisn kontras dalam rongga rahim terbatas, Ini merupakan polip endometrium.

Jaringan parut (adhesi) pada tuba kiri dan tanpa tuba kanan.

Rahim dengan fibroid yang mendorong ke rongga. Fibroid lain di luar rahim dibatasi oleh pewarna sepanjang garis merah Fibroid dalam rongga dapat menyebabkan infertilitas, keguguran atau kelahiran prematur

DAFTAR PUSTAKA

1. Bryan G J. et al. Hystero-salpingography, Diagnostic Radiography, Fourth Edition 1987: 351-355 2. Hiramatsu Y, MD. Hysterosalpingography, The Asian-Oceanian Textbook of Radiology, First Edition 2003: 845-848 3. Rasad S. Hysterosalpingography, Radiologi Diagnostik, Edisi Kedua, 2008: 321-324 4. Sutton D. Hysterosalpingoraphy, A Text Book of Radiology and Imaging, Fourth Edition 1987: 12461252 5. Meschan I, MA, MD. The Genital Sistem, An Atlas of Anatomy Basic to Radiology, Volume 2, 1975: 1075-1080 6. Daffner R H, MD. Gynecologic Imaging, Clinical Radiology, First Edition 1993: 260-262 7. Ballinger P W. et al. Female Radiography, Merills Atlas of Radiographic Positions and Radiologic Procedures, Tenth Edition, 2003: 260-264 8. Ubeda B. et al. Hysterosalpingography: Spectrum of Normal Variant and Nonpatologic Findings. AJR July 2001; 177: 131-135