Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI LAUT MODUL IV UJI SENSITIVITAS DAN PENGHITUNGAN JUMLAH MIKROBA

Disusun Oleh : Dias Natasasmita 26020110130093

Asisten: Didha Andini P K2D 007 027

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN JURUSAN ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2011

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Laut dapat dijadikan sumber dalam bidang farmasi, bahan makanan, kosmetik, dan enzim yang merupakan kekayaan sumber keanekaragaman biologi. Banyak produk alam yang diisolasi dari lingkungan laut. Akan tetapi, meskipun mikroorganisme laut sudah terkenal sebagai sumber dari molekul bioaktif yang baru, pemanfaatannya masih sedikit. Banyak organisme dalam kehidupan laut termasuk bakteri hidup pada daerah sedimen dan memproduksi antibakteri yang diperoleh dari isolasi bakteri (Park et al, 2002). Antibiotik merupakan zat kimia yang dihasilkan mikroorganisme yang dalam jumlah amat kecil atau rendah bersifat merusak atau menghambat

mikroorganisme lain (Pelczar, 1988). Antibiotik mempunyai nilai ekonomi yang tinggi terutama di bidang kesehatan, karena kegunaanya dalam mengobati berbagai penyakit infeksi. Adanya penemuan antibiotik-antibiotik baru sangat dibutuhkan dalam bidang kedokteran karena banyak kuman yang telah resisten terhadap antibiotik-antibiotik yang sudah ada (Waaij, 1991). Untuk itu perlu dilakukan penelitian eksplorasi untuk mendapatkan isolasi bakteri yang dapat menghasilkan antibiotik. Antibiotik banyak dihasilkan oleh alga, lichen, tumbuhan tingkat tinggi, hewan tingkat rendah, vertebrata dan mikroorganisme. Kerentanan terhadap suatu zat antibiotik pada bakteri ditentukan oleh bakteri itu sendiri. Untuk mengetahui hal itu dilakukan uji sensitivitas. Uji sensitivitas merupakan cara untuk mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan anti bakteri serta mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang rendah. Metode dalam uji sensitivitas dibedakan menjadi dua, yaitu metode difusi dan metode dilusi. Metode yang paling sering digunakan adalah metode difusi dengan cara Kirby-Bauer. Prinsip dari metode ini adalah penghambatan terhadap pertumbuhan mikroorganisme, yaitu zona hambatan akan terlihat sebagai daerah jernih di sekitar cakram kertas yang mengandung zat antibakteri. Diameter zona hambatan pertumbuhan bakteri menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap zat

antibakteri. Selanjutnya dikatakan bahwa semakin lebar diameter zona hambatan yang terbentuk bakteri tersebut semakin sensitif (Koeswartono, 1982). Kekayaan hayati laut Indonesia dikenal sangat beragam, diantaranya adalah salah satu

invertebrata laut. Invertebrata laut dalam sistem rantai

makanan merupakan herbivora, predator dominan dan biota penentu dari sistem piramida makanan (Murniasih, 2005). Berbagai jenis invertebrata laut yang banyak dijumpai di daerah pesisir antara lain sponge, ubur- ubur, Nudibranchia dan masih banyak lagi. Nudibranchia adalah Moluska tidak bercangkang yang seringkali berwarna terang dan mencolok (Karuso dan Scheuer, 2002). Keberadaan Nudibranchia sebagai salah satu kekayaan hayati Indonesia dan memiliki peran dalam rantai makanan, telah menempatkan Nudibranchia sebagai spesies yang harus dijaga kelestariannya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian Nudibranchia yaitu dengan membuat database keanekaragamannya. Nudibranchia memiliki potensi sebagai antivirus dan antikanker. Hal ini telah menarik para peneliti untuk mengeksplorasinya

(Murniasih, 2005). Saat ini di Indonesia, belum ada data pasti mengenai keanekaragaman Nudibranchia dan penelitian mengenai Nudibranchia belum banyak dilakukan. Maka penelitian mengenai Nudibranchia perlu lebih

banyak lagi dilakukan, supaya pengetahuan mengenai invertebrata laut ini menjadi lebih baik (Ampou, 2006). Keanekaragaman Nudibranchia dapat diketahui dengan melihat faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaannya di lautan, antara lain perbedaan habitat, seperti tutupan karang, ketersediaan dan jenis makanan. Ketiga hal ini berkaitan karena diketahui bahwa banyak Nudibranchia makan dan hidup dalam asosiasi yang dekat dengan spesies karang (Godfrey, 2001). Nudibranchia pada umumnya memakan algae, sponge, karang keras dan lunak, bryozoans dan hydroids (Allen dan Steene, 1999). Ada beberapa penyakit di dunia yang sudah resisten terhadap dua golongan atau lebih antibiotik. Penyakit yang sudah resisten terhadap beberapa golongan antibiotik ini disebabkan oleh bakteri Multi Drug Resistant (MDR). Sejalan dengan waktu penyakit yang disebabkan oleh bakteri MDR ini berkembang cepat di Negara Negara berkembang. Namun, ironisnya penyakit ini merupakan yang

terlupakan oleh Negara Negara maju. Hal ini sangat penting dan perlu disoroti lebih lanjut untuk dilakukan penanganan masalah tersebut. Penanganan bakteri patogen di dalam bidang kesehatan serta pemanfaatan senyawa antibiotik yang ramah lingkungan yang dihasilkan oleh bakteri yang bersimbiosis dengan invertebrata laut telah menjadi pekerjaan rumah yang harus segera ditangani secara multidisiplin dan serius (Hunt and Vincet, 2006). Berdasarkan data tersebut maka sangat penting untuk segera mencari dan menemukan antimikroba baru yang ramah lingkungan untuk malawan bakteribakteri MDR. Menurut Burgess et al. (2003), bakteri yang bersimbiosis dengan karang lunak dapat mensintesis senyawa metabolit sekunder yang sama seperti inangnya. Hal ini memungkinkan bakteri simbion karang lunak dapat menghasilkan senyawa antibakteri yang mampu melawan bakteri MDR. Karang lunak telah diketahui sebagai sumber yang kaya akan produk senyawa bioaktif yang mempunyai potensi bioteknologi dan juga mempunyai potensi antiviral, antitumor, antimikroba dan lain-lain (Thiel and Imhoff, 2003; Radjasa, 2004; Radjasa et al., 2007). Namun, belum ada penelitian antibakteri dari karang lunak jenis Lobophyton sp., sehingga kandungan senyawa bioaktifnya masih belum diketahui. Selama ini penelitian mengenai antibakteri dari karang lunak adalah dari jenis Sarcopyton sp., Sinularia sp., dan Xenia sp. (Radjasa et al., 2007). Menurut Kelecom (2001) bahwa mikroorganisme simbiotik biasanya menghasilkan metabolit sekunder yang mirip dengan yang dihasilkan oleh inangnya. Diperkirakan kurang dari 2% mikrobia baru berhasil diisolasi dari lingkungan laut sebagai kultur murni. Dilaporkan bahwa terdapat asosiasi mikroorganisme dengan organisme laut yang juga mensistesa metabolit sekunder seperti organisme inangnya (Burgess et al., 2003). Bakteri relatif lebih mudah dikembangbiakkan, tidak memakan banyak tempat dan pertumbuhannya cepat. Sehingga diharapkan bakteri yang

bersimbiosis dengan karang lunak dapat memberikan kontribusi sebagai sumber alternatif baru senyawa bioaktif dari laut (Effendi, 2002).

1.2 Tujuan Praktikan memahami bermacam-macam teknik uji sensitivitas. Praktikan mempunyai ketrampilan melakukan uji sensitivitas. Praktikan dapat melakukan pengamatan mengenai morfologi bakteri.

1.3 Manfaat Setelah melaksanakan praktikum modul ini, maka praktikan dapat melakukan tujuan praktikum dengan baik. Sehingga praktikan telah memperoleh bekal untuk penelitian mereka tentang mikroorganisme. Praktikan dapat mengetahui tingkat resistensi suatu bakteri terhadap antibiotik. Dengan mengetahui tingkat resistensi suatu bakteri terhadap antibiotik, hal ini dapat bermanfaat dalam bidang kesehatan atau kedokteran.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uji Sensitivitas Sensitivitas menyatakan bahwa uji sentivitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri. Metode Uji sensitivitas bakteri adalah metode cara bagaimana mengetahui dan mendapatkan produk alam yang berpotensi sebagai bahan anti bakteri serta mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri pada konsentrasi yang rendah. Uji sentivitas bakteri merupakan suatu metode untuk menentukan tingkat kerentanan bakteri terhadap zat antibakteri dan untuk mengetahui senyawa murni yang memiliki aktivitas antibakteri. Seorang ilmuan dari perancis menyatakan bahwa metode difusi agar dari prosedur Kirby-Bauer, sering digunakan untuk mengetahui sensitivitas bakteri. Prinsip dari metode ini adalah penghambatan terhadap pertumbuhan mikroorganisme, yaitu zona hambatan akan terlihat sebagai daerah jernih di sekitar cakram kertas yang mengandung zat antibakteri. Diameter zona hambatan pertumbuhan bakteri menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap zat antibakteri. Selanjutnya dikatakan bahwa semakin lebar diameter zona hambatan yang terbentuk bakteri tersebut semakin sensitif (Koeswartono, 1982). Pada umumnya metode yang dipergunakan dalam uji sensitivitas bakteri adalah metode Difusi Agar yaitu dengan cara mengamati daya hambat pertumbuhan mikroorganisme oleh ekstrak yang diketahui dari daerah di sekitar kertas cakram (paper disk) yang tidak ditumbuhi oleh mikroorganisme. Zona hambatan pertumbuhan inilah yang menunjukkan sensitivitas bakteri terhadap bahan anti bakteri (Dwidjoseputro, 1998) Tujuan dari proses uji sensitivitas ini ialah : 1. Untuk mengetahui obat-obat yang paling cocok (paling poten) untuk kuman penyebab penyakit terutama pada kasus-kasus penyakit yang kronis.

2. Mengetahui adanya resistensi terhadap berbagai macam antibiotik. Penyebab kuman resisten terhadap antibiotik : 1. Memang kuman tersebut resisten terhadap antibiotik yang diberikan. 2. Akibat pemberian dosis dibawah dosis pengobatan. 3. Akibat penghentian obat sebelum kuman tersebut betul-betul terbunuh oleh antibiotik. Ada dua macam metode untuk uji sensitivitas yaitu metode dilusi dan metode difusi. a) Dilusi Pada prinsipnya antibiotik diencerkan hingga diperoleh beberapa konsentrasi. Metode yang dipakai ada dua macam, yaitu metode dilusi kaldu disebut juga dengan dilusi cair dan metode dilusi agar atau dilusi padat. Pada dilusi cair, masing-masing konsentrasi obat ditambah suspensi kuman atau bakteri dalam media. Sedangkan dalam dilusi padat, tiap konsentrasi obat dicampur dengan media agar, lalu ditanami bakteri. Pertumbuhan bakteri ditandai oleh adanya kekeruhan setelah 16-20 jam diinkubasi. Konsentrasi terendah yang menghambat pertumbuhan bakteri ditunjukkan dengan tidak adanya kekeruhan, dan disebut dengan Konsentrasi Hambat Minimal (KHM). Masing-masing konsentrasi antibiotik yang menunjukkan hambatan pertumbuhan ditanam pada agar padat media pertumbuhan bakteri dan diinkubasi. Konsentrasi terendah dari antibiotik yang membunuh 99,9% inokulum bakteri disebut Konsentrasi Bakterisid Minimal (Brander et al., 1991). b) Difusi Media difusi menggunakan kertas disk yang berisi antibiotik dan telah diketahui konsentrasinya. Pada metode difusi, media yang dipakai adalah agar Mueller Hinton. Ada beberapa cara pada metode difusi ini, yaitu : Cara Kirby-Bauer Cara Kirby-Bauer merupakan suatu metode uji sensitivitas bakteri yang dilakukan dengan membuat suspensi bakteri pada media Brain Heart Infusion (BHI) cair dari koloni pertumbuhan kuman

24 jam, selanjutnya disuspensikan dalam 0,5 ml BHI cair (diinkubasi 4-8 jam pada suhu 37C). Hasil inkubasi bakteri diencerkan sampai sesuai dengan standar konsentrasi kuman 108 CFU/ml (CFU : Coloni Forming Unit). Suspensi bakteri diuji sensitivitas dengan meratakan suspensi bakteri tersebut pada permukaan media agar. Disk antibiotik diletakkan di atas media tersebut dan kemudian diinkubasi pada suhu 37C selama 19-24 jam. Dibaca hasilnya : 1. Zona radical Suatu daerah disekitar disk dimana sama sekali tidak ditemukan adanya pertumbuhan bakteri. Potensi antibiotik diukur dengan mengukur diameter dari zona radical (Jawetz et al., 2001). 2. Zona iradical Suatu daerah disekitar disk yang menunjukkan pertumbuhan bakteri dihambat oleh antibiotik tersebut, tapi tidak dimatikan. Disini akan terlihat adanya pertumbuhan yang kurang subur atau lebih jarang dibanding dengan daerah diluar pengaruh antibiotik tersebut (Jawetz et al., 2001). Cara sumuran Suspensi bakteri 108CFU/ml diratakan pada media agar, kemudian agar tersebut dibuat sumuran dengan garis tengah tertentu menurut kebutuhan. Larutan antibiotik yang digunakan diteteskan kedalam sumuran. Diinkubasi pada suhu 37C selama 18-24 jam. Dibaca hasilnya, seperti pada cara Kirby-Bauer (Jawetz et al., 2001). Cara Pour Plate Setelah dibuat suspensi kuman dengan larutan BHI sampai konsentrasi standar (108CFU/ml), lalu diambil satu mata ose dan dimasukkan kedalam 4ml agar base 1,5% dengan temperatur 50C. Suspensi kuman tersebut dibuat homogen dan dituang pada media agar Mueller Hinton. Setelah beku, kemudian dipasang disk antibiotik (diinkubasi 15-20 jam pada suhu 37C) dibaca dan

disesuaikan dengan standar masing-masing antibiotik (Jawetz et al., 2001). Faktor-faktor yang mempengaruhi ukuran diameter zone hambatan : 1. Kekeruhan suspensi bakteri. Kurang keruh : diameter zone lebih lebar. Lebih keruh : Diameter zone makin sempit sehingga R dilaporkan S atau sebaliknya. 2. Waktu pengeringan / peresapan suspensi bakteri ke dalam MH agar. idak boleh melebihi batas waktu karena dapat mempersempit diameter zone hambatan sehingga jadi R. 3. Temperatur inkubasi Pertumbuhan optimal : 35 C bila 35O C ada bakteri yang kurang subur pertumbuhannya dan ada obat yang difusinya kurang baik. 4. Waktu inkubasi. Waktu : 16 18 jam Bila Lebih 18 jam maka pertumbuhan lebih sempurna sehingga zone hambat makin sempit. 5. Ketebalan agar Ketebalan : 4 mm, bila kurang maka difusi obat lebih cepat dan bila lebih maka difusi obat lambat. 6. Jarak antar disk obat Jarak cakram : 3 cm dan 2 cm dari pinggir petridish dengan meter 9-10m paling banyak 7 disk obat. Petridish dengan diameter 15 cm untuk 9 disk.

7. Potensi disk obat Tiap jenis obat mempunyai diameter disk yang sama tetapi potensinya berbeda. Yang harus diperhatikan : Cara penyimpanan : obat yang labil seperti penisillin dll disimpan pada suhu 4O C. ED nya dan setiap disk obat baru diterima harus dicek dengan kontrol strain.

8. Komposisi media Sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan bakteri, difusi obat, kativitas obat tersebut. Quality Control : Upaya-upaya yang dilakukan untuk menetralisir faktor-faktor yang berpengaruh terhadap diameter zone hambatan. Mengecek mutu media, disk obat dengan menggunakan bakteri standard : Staphylococcus aureus ATCC 25923, E. Coli ATCC 25922, Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853

2.2 Sejarah dan Perkembangan Antibiotik Fenomena antagonisme di antara organism hidup sudah muncul sejak 1877, pada saat Pasteur dan Joubert melaporkan bahwa suatu bakteri aerob mempunyai sifat antagonis terhadap pertumbuhan Bacillus anthracis. Sifat antagonistic disebabkan adanya sekresi substansi kimia yang bersifat menghambat pertumbuhan. Sifat antagonis ini oleh Pasteur kemudian diterapkan secara in vivo. Hasil percobaan anthrax pada binatang percobaan yang peka ternyata dapat ditekan dengan menginokulasi secara simultan berbagai bakteri non patogenik ( Suwandi, 1993). Beberapa tahun kemudian Boechard, Emmerich dan Low membuat ekstrak Pseudomonas araginosa dan mereka menamakannya Pycocyanase. Dengan pengenceran sangat tinggi, senyawa ini dapat menghambat pertumbuhan Corynebacterium diphteriae, Salmonella typhii, Pasteurella pestis dan Cocci patogenik. Maka mulailah aplikasi terapi dengan memanfaatkanfenomena interaksi diantara spesies mikroba. Selama 20 tahun Pycocyanase telah digunakan untuk terapi berbagai infeksi penyakit, tetapi karena alasan toksisitasnya, kemudian tidak digunakan secara ekstensif. Selama periode ini banyak percobaan dan tulisan mengenai efek penghambatan bakteri terhadap mikroba lain. Tahun 1907, Nicolle melaporkan adanya aktivitas anti bakteri Bacillus subtilis dan sejak itu mulai dikenal Bacilli pembentuk spora yang mempunyai aktivitas antibiotic. Di belgia pada tahun 1925, Gratia membuat ekstrak agen litik dari jaumr dan berhasil digunakan untuk mengobati infeksi kulit Staphylococcus.

Merekalah yang memulai screening mikroorganisme antagonistic secara sistematis. Cara kerjanya cepat tersebar dan banyak mendapat perhatian para ahli mikrobiologi tanah dan tanaman. Salah satunya yaitu percobaan yang dilakukan oleh Fleming tahun 1928, mengenai mikroba yang berada di udara ( Suwandi, 1993). Istilah antibiotic muncul pada literature mikrobiologi awal tahun 1928. Menurut Selman Waksman, antibiotic adalah substansi kimia yang diperoleh dari mikroorganisme, dalam larutan encer mereka mempunyai kemampuan

menghambat pertumbuhan dan membinasakan mikroba lain ( Usman, 1987 ). Pada tahun 1929, Fleming mengamati substansi bakteriostatik yang dihasilkan jamur Penicillium notatum dan diberi nama Penicillin. Sejak itu penisilin dikenal dan diketahui dapat diproduksi oleh berbagai macam jamur. Namun karena kurang stabil terutama bio-aktivitasnya akan hilang bila diuapkan samapi kering, maka penisilin kemudian ditinggalkan. Sekitar tahun 1939, Florey dan kawan kawan melakukan percobaan kembali terhadap kemungkinan penggunaan penisilin Fleming untuk terapi ( Suwandi, 1993 ). Tahun 1940, Chain dkk juga melakukan penelitian penisilin, mereka membiakan organism Fleming dan pada waktu ekstraksi dikontrol pada temperature rendah, akhirnya mereka mampu memekatkan penisilin sampai 1000 kali, serta dapat menghasilkan garam penisilin berbentuk bubuk kering yang mempunyai stabilitas baik terutama bila disimpan. Hasil ini merupakan kemajuan besar dalam perkembangan produksi antibiotic terutama penisilin dan merupakan tonggak sejarah manusia dalam memerangi penyakit infeksi ( Suwandi, 1993 ) Pada waktu yang hampir sama di Rockefeller Institute for Medical Research New York. Dubos menemukan antibiotic kompleks Tyrothricin yang diproduksi oleh bakteri tanah Bacillus brevis. Selanjutnya Dubos, Waksman dan Woodruff menemukan aktinomisin yang diperoleh dari biakan aktinomisetes. Pada tahun 1944 Selman Waksman menemukan strerptomisin yang merupakan salah satu antibiotic yang dihasilkan oleh Streptomyces anggota dari aktinomisetes. Strepstomisin merupakan anti tuberculosis yang ampuh. Perkembangan ini merangsang penelitian lebih lanjut terhadap genus streptomises dalam usaha mencari mikroorganisme panghasil antibiotic. Sejak itu aktinomisetes terutama

streptomises menjadi gudang utama untuk memperoleh antibiotic baru. Di berbagai lembaga penelitian dilakukan pencarian antibiotic dari berbagai tipe mikroorganisme terutama aktinomisetes dan telah berhasil mendapatkan antibiotic baru ( Suwandi, 1993). Pada tahun1945 telah ditemukan Basitrasin yang dihasilkan oleh Bacillus, diikuti khloramfenikol oleh Streptomyces venezuelae dan polimiksin oleh B. polymyxa pada tahun 1947, khlortetrasiklin oleh S.aureofaciens pada tahun 1948 dan neomisin oleh S. fradiae tahun 1949, oksitetrasiklin 1950 dan eritromisin 1952, keduanya dihasilkan oleh Streptomyces. Kanamisin ditemukan oleh Umezawa dan koleganya tahun 1957 dari biakan Streptomyces. Semua ini merupakan antibiotic yang sangat penting dan sampai saat ini masih diperhitungkan sebagai salah satu antibiotic untuk melawan infeksi ( Suwandi, 1993 ). Pada tahun 60-an, penemuan antibiotic agak berkurang tetapi usaha penemuan dilakukan untuk aplikasi yang lebih luas yaitu untuk mencari antifungal, anti mikoplasmal, anti spirochetal, anti protozoal, anti tumor, anti virus, dan antibiotic untuk penggunaan non medis. Namun pada decade ini problem resistensi bakteri terhadap antibiotic mulai muncul dan telah berkembang, sehingga memacu mencari antibiotik atau derivate antibiotic yang telah dikenal untuk menggantikan antibiotic yang sudah ada ( Suwandi, 1993 ). Potensi antibiotic dapat ditentukan oleh cara kimia, fisika, dan biologi. Suatu pengujian dilakukan untuk menentukan kesanggupan suatu antibiotic membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme hidup. Pengujian secara biologi merupakan metoda yang paling efektif untuk antibiotic ( Usman, 1987 ).

2.3 Antibiotik Antibiotika merupakan zat kimia yang dihasilkan oleh suatu

mikroorganismeyang menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain (Pelczar dan Chan, 2005). Antibiotika juga dapat didefinisikan sebagai zat kimia yang dihasilkan oleh suatumikroba yang mempunyai khasiat antimikrobial (Entjang, 2003). Pada awalnya, istilahyang digunakan adalah antibiosis, yang berarti substansi yang dapat menghambatpertumbuhan organisme hidup yang lain,

berasal dari mikroorganisme. Namun pada perkembangannya, antibiosis disebut sebagai antibiotik (Pratiwi, 2008). Antibiotika yang ideal harus memenuhi syarat-syarat antara lain

mempunyaikemampuan untuk mematikan atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang luas (broad spectrum antibiotic), tidak menimbulkan pengaruh samping (side effect) yang buruk pada host, tidak menimbulkan terjadinya resistensi dari mikroorganisme patogen serta konsentrasi antibiotik dalam jaringan harus mencapai taraf cukup tinggi sehingga mampu menghambat atau mematikan penyebab infeksi (Pelczar dan Chan, 2005). Antibiotik pada mulanya berupa zat yang dibentuk oleh mikroorganisme yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan mikroorganisme lain. Sejak ditemukan penisilin sampai saat ini sudah beribu antibiotik yang ditemukan dan hanya sebagian kecil yang dapat dipakai untuk terapeutik. Mekanisme kerja dari antibiotik ini antara lain menghambat biosintesis dalam dinding sel (misal penisilin), menaikkan permeabilitas membran sitoplasma (misal sefalosphorin), mengganggu sintesis protein normal bakteri (tetrasiklin, aminoglikosida). Bakterisid merupakan antibiotika yang mempengaruhi pembentukan dinding sel atau permeabilitas membran, sedang bakteriostatik adalah antibiotik yang bekerja pada sintesa protein (Mutschler, 1991). Berdasarkan sifat toksisitas selektif, antibiotik dapat bersifat bakteriostatik (menghambat pertumbuhan mikroba lain). Antimikroba tertentu dapat

meningkatkan aktivitasnya dari bakteriostatik ditingkatkan melebihi kadar hambat minimal (Gran, 1983). Menurut Franklin dan Snow (1985), antibiotik dibagi menjadi 5 kelompok berdasar mekanisme kerjanya yaitu: 1) Mengganggu metabolisme sel bakteri 2) Menghambat sintesis dinding sel mikroba 3) Merusak keutuhan membran sel mikroba 4) Menghambat sintesis protein mikroba 5) Menghambat atau merusak sintesis asam nukleat sel mikroba. Prosedur difusi-kertas cakram-agar yang distandardisasikan (metode KirbyBauer) merupakan cara untuk menentukan sensitivitas antibiotik untuk bakteri.

Sensitivitas suatu bakteri terhadap antibiotik ditentukan oleh diameter zona hambat yang terbentuk. Semakin besar diameternya maka semakin terhambat pertumbuhannya, sehingga diperlukan standar acuan untuk menentukan apakah bakteri itu resisten atau peka terhadap suatu antibiotik (Irianto, 2006). Menurut Irianto (2006), faktor yang mempengaruhi metode Kirby-Bauer, yaitu: Konsentrasi mikroba uji Konsentrasi antibiotik yang terdapat dalam cakram Jenis antibiotik pH medium Cara kerja pengujian antibiotik dengan metode Kirby-Bauer: Celupkan cotton bud (cotton swab) dalam biakan bakteri kemudian tekan kapas ke sisi tabung agar air tiris. Ulaskan pada seluruh permukaan cawan Mueller-Hinton Agar secara merata. Biarkan cawan selama 5 menit. Kertas cakram dicelupkan dalam larutan antibiotik dengan konsentrasi tertentu. Angkat, biarkan sejenak agar tiris, selanjutnya letakkan kertas cakram pada permukaan agar. Kertas cakram ditekan menggunakan pinset supaya menempel sempurna di permukaan agar. Inkubasi pada suhu 37oC selama 24-48 jam. Ukur diameter zona hambat (mm) kemudian bandingkan dengan tabel. sensitivitas antibiotik.

2.4 MDR (Multi-Drug Resistance) atau Resistensi Mikroba Resistensi adalah suatu keadaan karena pengaruh obat antiinfeksi terhadap kuman berkurang khasiatnya atau kuman tersebut tidak sensitif oleh perlakuan obat anti infeksi. Resistensi merupakan kegagalan pengobatan dengan suatu antibiotika dengan dosis terapi (Franklin dan Snow, 1985). Brander et al., (1991) mengatakan bahwa mekanisme resistensi bakteri terhadap antibiotik terjadi dengan cara penginaktifan obat, perubahan target atau

sirkulasi enzim, berkurangnyaakumulasi obat oleh adanya sel resisten, variasi jalur metabolisme. Brander et al., (1991), ada 3 macam tipe resistensi, yaitu non genetik, genetik dan silang. Resistensi non genetik terdapat pada mikroba dalam keadaan inaktif atau istirahat, resistensi genetik merupakan mutasi spontan karena terjadinya tanpa dipengaruhi ada atau tidaknya antimikroba tersebut. Penghancuran antibiotik secara enzimatik oleh enzim yang di hasilkan bakteri seperti laktamase akan memecah cincin _- laktam dari penisilin dan derivatnya demikian juga aminoglukosa menjadi terasetilasi atau terfosforilasi oleh asetilase atau fosforilase. Dinding sel bakteri Gram negatif yang lebih kompleks membuat bakteri kurang sensitif terhadap antibiotik _-laktam. Reseptor tempat agen antimikroba bereaksi dapat berubah baik afinitas reseptor terhadap antimikroba maupun respon reseptor yang dapat menaikkan aktivitas sehingga dapat mengatasi obat tersebut. Berkurangnya akumulasi obat oleh adanya sel resisten terjadi dengan adanya penurunan permeabilitas membran sel terhadap antibiotik dan variasi jalur metabolisme tersebut oleh antimikroba. Obat yang dapat menghambat pertumbuhan antagonis kompetitif metabolisme normal,dapat menghasilkan metabolik yang berlebihan. Akibatnya obat tersebut tidak efektif lagi bagi bakteri (Irianto, 2006). Resistensi sel mikroba ialah suatu sifat tidak terganggunya kehidupan sel mikroba. Sifat ini merupakan suatu mekanisme alamiah untuk bertahan hidup. Beberapa bakteri mempunyai kemampuan alami untuk kebal atau resisten terhadap efek pengobatan, misal dengan antibiotik, meskipun tidak berinteraksi secara langsung. Hal ini dapat terjadi karena bakteri mempunyai enzim yang dapat merusak obat. Bakteri yang resistensi tidak peka lagi terhadap antibiotik atau seng anti mikrobial (Brander et al., 1991). Resistensi sel mikroba atau alat sifat tidak tergantung kehidupan sel mikroba oleh anti mikroba. Sifat ini merupakan suatu mekanisme alamiah untuk bertahan hidup (Irianto, 2006). Sebab-sebab terjadinya resistensi dapat dibagi menjadi : a) Non Genetik Penggunaan antimikroba yang tidak sesuai aturan menyebabkan tidak seluruh mikroba dapat terbunuh. Beberapa mikroba yang masih bertahan

hidup

kemungkinan

akan

mengalami

resistensi

saat

digunakan

antimikroba yang sama. Proses ini dinamakan dengan seleksi (Jawetz et al., 2001). b) Genetik Terjadinya resistensi kuman terhadap antibiotika umumnya terjadi karena perubahan genetik. Perubahan genetik bisa terjadi secara kromosomal maupun ekstra kromosomal, dan perubahan genetik tersebut dapat ditransfer atau dipindahkan dari satu spesies kuman kepada spesies kuman lain melalui berbagai mekanisme (Anonim, 1994). 1. Resistensi kromosomal Resistensi kuman terhadap antibiotik yang mempunyai sebab genetik kromosomal terjadi misalnya karena terjadinya mutasi spontan pada lokus DNA yang mengontrol susceptibility terhadap obat tertentu (Anonim, 1994). 2. Resistensi ekstrakromosomal Bakteri mengandung unsur-unsur genetik ekstrakromosomal yang dinamakan plasmid (Sudarmono, 1993). Faktor R adalah kelompok plasmid yang membawa gen resistensi terhadap satu atau beberapa obat antimikrobia dan logam berat. Gen plasmid untuk resistensi antimikrobia mengontrol pembentukan enzim yang mampu merusak antimikrobia (Jawetz et al., 2001). 3. Resistensi silang Suatu populasi kuman yang resisten terhadap suatu obat tertentu dapat pula resisten terhadap obat yang lain yang dapat mempunyai mekanisme kerja obat yang mirip satu sama lain. Hal ini misalnya terjadi pada obat-obatan yang komposisi kimianya hampir sama misalnya antara polimiksin B dengan kolistin, eritromisin dengan oleandromisin, meskipun demikian adakalanya terjadi pula resistensi silang pada dua obat yang berlainan struktur kimianya sama sekali, misalnya eritromisin dengan linkomisin (Anonim, 1994).

Mekanisme resistensi bakteri terhadap antibiotik diantaranya melalui mekanisme mikroorganisme menghasilkan enzim dan merusak obat yang aktif, mikroorganisme merubah permeabilitasnya terhadap obat, mikroorganisme mengubah struktur target untuk obat, mikroorganisme menghindari mengembangkan yang biasa jalur dihambat metabolisme oleh obat, baru dan

jalur

mikroorganisme mengembangkan enzim baru yang masih dapat melakukan fungsi metaboliknya tapi sedikit dipengaruhi oleh obat (Jawetz, et al., 2001). Masalah resistensi bakteri terhadap antibiotik telah dapat dipecahkan dengan ditemukan antibiotik golongan baru, seperti golongan aminoglikosida,

glikopeptida, dan makrolida, juga obat modifikasi kimiawi dari antibiotik yang telah ada. Namun, tak ada jaminan bahwa pengembangan antibiotik baru dapat mencegah kemampuan bakteri menjadi resisten Jawetz, et al., 2001).

2.5 Bakteri Patogen Berbagai macam penyakit ditularkan oleh bakteri patogen (khususnya bakteri Gram negatif) dan dapat menginfeksi inang. Patogen adalah material maupun organisme penyebab penyakit. Sebelum membicarakan patogen, perlu membahas sistem pertahanan inang. Sistem pertahanan inang dimulai dari lapisan permukaan kulit, saluran pencernaan, respirasi, dan urogenital. Patogen harus bersaing dengan mikroflora (mikroba normal) agar bisa berkoloni di permukaan kulit dan saluran pencernaan. Saluran pencernaan, pernapasan, dan urogenital memiliki lapisan mukosa yang berupa polisakarida dan protein sebagai pelumas dan untuk menahan patogen. Patogen yang terjerat dalam mukosa dapat dikeluarkan dari saluran pencernaan dengan gerak peristaltik atau di saluran pernapasan melalui bersin (Campbell and Reece, 2005). Jika patogen dapat menembus pertahanan permukaan, maka patogen akan menuju jaringan yang lebih dalam dan sistem peredaran darah. Inang memiliki sistem pertahanan non-spesifik seperti transferin, fagosit, komplemen, dan protein pengikat manosa. Sistem pertahanan spesifik meliputi antibodi, makrofag teraktivasi dan sel T. Faktor utama untuk meningkatkan sistem pertahanan inang

adalah nutrisi yang baik untk mendukung sel-sel aktif dari sistem kekebalan tubuh yang terus membelah diri. Penurunan sistem kekbalan tubuh dapat dipengaruhi oleh stress dan usia (usia rawan infeksi yaitu anak di bawah 3 tahun dan usia lebih dari 50 tahun). Ekskresi dari organ tubuh yang terinfeksi selalu mengandung mikrobia yang menyebabkan infeksi. Jalan keluar bagi mikroba penyebab penyakit biasanya sama dengan jalan masuknya pada tubuh inang (Campbell and Reece, 2005). Menurut Madigan (2010), mikroba patogen diketahui memasuki inang melalui organ-organ tubuh antara lain : a) Saluran pernapasan, melalui hidung dan mulut menyebabkan penyakit saluran pernapasan seperti salesma, pneumonia, tuberculosis. b) Saluran pencernaan melalui mulut menyebabkan penyakit tifus, paratifus, disentri, kolera, hepatitis, keracunan makanan. c) Kulit dan selaput lendir. Adanya luka meskipun kecil memungkinkan mikroba seperti Staphylococcus yang menyebabkan bisul. d) saluran urogenital e) darah Banyak bakteri patogen yang dapat menyerang seluruh bagian tubuh inang, meskipun pada akhirnya akan berkoloni di suatu tempat saja. Bakteri mengeluarkan toksin berupa eksotoksin dan endotoksin. Eksotoksin merupakan protein bakteri yang diproduksi dan dikeluarkan ke lingkungan selama pertumbuhan bakteri patogen. Ada beberapa cara eksotoksin untuk dapat menimbulkan penyakit. Pertama eksotoksin dikeluarkan ke makanan, akibatnya manusia terserang penyakit asal makanan. Kedua, eksotoksin dikeluarkan ke permukaan mukosa menyerang sel inang atau dapat terbawa ke sistem peredaran darah untuk menyerang jaringan yang rentan. Ketiga, bakteri patogen membentuk abses (luka) dan mengeluarkan eksotoksin untuk merusak jaringan sehingga mempermudah pertumbuhan bakteri. Endotoksin merupakan lipid A sebagai bagian dari lipoposakarida membran luar bakteri Gram negatif (Madigan, 2010). Ketika bakteri patogen terbenam dalam permukaan sel inang, akan menyebabkan pelepasan senyawa protein seperti komplemen dan sitokin berlebih yang dapat ikut merusak sel atau jaringan inang di sekitarnya. Bakteri patogen harus dapat menemukan tempat yang cocok untuk melekatkan diri ke sel inang

salah satunya dengan menggunakan pili. Pada Escherechia coli memiliki pili tipe 1 untuk dapat melekat pada lapisan mukosa saluran urogenital. Pseudomonas aeruginosa memproduksi biofilm, juga memiliki flagel untuk bergerak menghindari tangkapan mukosa. Pembentukan kapsul (polimer polisakarida) yang membungkus permukaan bakteri patogen untuk melindungi diri dari sel-sel fagosit inang (Prescott, 2002). Menurut Campbell and Reece (2005), macam-macam bakteri patogen yang sering kita kenal yaitu: c) Bakteri penyebab penyakit pada manusia: Salmonella typhosa Shigella dysenteriae Vibrio comma Haemophilus influenza Diplococcus pneumoniae Mycobacterium tuberculosis Clostridium tetani Neiseria meningitis Neiseria gonorrhoeae Treponema pallidum Mycobacterium leprae Treponema pertenue : tifus : disentri basiler : kolera : influenza : radang paru paru : TBC : tetanus : radang selaput otak : gonorrhaeae (kencing nanah) : sifilis : lepra : patek

b) Bakteri penyebab penyakit pada hewan: Brucella abortus Streptococcus agalactia Bacillus anthracis Actinomyces bovis Cytophaga columnaris : brucellosis pada sapi : masitis pada sapi : antraks : bengkak rahang pada sapi : penyakit pada ikan

c) Bakteri penyebab penyakit pada tumbuhan: Xanthomonas oryzae Xanthomonas campestris : penyakit pucuk batang padi : menyerang pada tanaman kubis

Pseudomonas solanacaerum Erwinia amylovora

: penyakit layu pda terong terongan : penyakit bonyok pada buah

2.6 NP4 (Jorunna funebris) Seiring dengan berkembangnya penggunaan antibiotik untuk pengobatan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri serta penggunaan antibiotik yang tidak rasional yang dilakukan oleh prescribers (para dokter penulis resep) atau pasien itu sendiri telah menimbulkan masalah munculnya kuman yang resisten terhadap antibiotik. Masalah resistensi bakteri telah menjadi masalah kesehatan di dunia, yang dapat meningkatkan mortalitas, morbilitas (lamanya perawatan di rumah sakit) dan biaya kesehatan. Beberapa penelitian telah melaporkan bakteri resisten ini seperti multidrug-resistant gram-negative bacilli (MDR-GNBs), ESBL-producing Klebsiella pneumonia, Vacomycin-reaistant entercocci (VRE) dan pasien yang terinfeksi methicillin-resistant Staphyllococcus aureus (MRSA) (Lay dan Hastowo, 1992). Selain itu, bahaya bakteri yang telah resisten terhadap antibiotik yaitu kemampuan genetiknya yang dapat menularkan resistensi kepada bakteri lain yang hidup berdampingan di sekitarnya. Hal ini terjadi pada bakteri Shigella flexneri dan Escherichia coli yang hidup dalam satu populasi, mereka dilaporkan mepunyai pola resistensi secara penotif yang sama yaitu terhadap tetracycline, chloramphenicol, streptomycin dan sulfanomide. Dengan semakin banyaknya penelitian yang melaporkan tentang resistensi mikroba, maka telah dikembangkan juga beberapa cara untuk melawan masalah resistensi tersebut, di antaranya penggunaan antibiotik secara rasional, monitoring dan evaluasi penggunaan antibiotik secara sistematis, terstandar dan dilaksanakan secara teratur serta dengan mengoptimalkan penggunaan antibiotik. Selain itu, kombinasi antara kontrol penggunaan antibiotik dan kontrol penyebaran infeksi mikroorganisme juga sangat penting, terutama untuk kasus multiple resistance Enterobacteriaceae dan MRSA. Pengurangan penggunaan erythromycin terbukti menurunkan jumlah resistensi Group A streptccoci terhadap makrolida antibiotik di Finlandia. Untuk

menanggulangi masalah resistensi di masa yang akan datang, maka perlu dicari solusi yang tepat. Pencarian senyawa baru sebagai bahan antibakteri merupakan salah satu solusinya, hal ini berhubung pengembangan pencarian obat baru memerlukan waktu yang sangat lama (sekitar 14 tahun) dan biaya yang sangat mahal (sekitar 900 US dollar) (Madigan, 2010). Lautan merupakan sumber sebagian besar kelompok senyawa bioaktif yang terakumulasi dalam invertebrata laut yang hidup di ekosistem terumbu karang seperti sponge, karang lunak, nudibranch dan tunicate yang dapat mensintesis senyawa bioaktif seperti antivirus, antimikroba, antitumor dan antikanker. Sedangkan senyawa bioaktif ini terkandung dalam invertebrata laut dengan pergerakan lambat atau hidup menempel di dasar perairan (sessile) yang tidak mempunyai perlindungan fisik seperti duri atau cangkang. Dari hasil beberapa penelitian, dilaporkan bahwa nudibranch dapat mensintesis senyawa bioaktif yang diproduksi sendiri atau berasal dari sumber makanannya (de novo). Nudribranch seperti Dendoris limbiata mensintesis senyawa sesquiterpenoid, diterpenoid dan serterpen. Nudibranch Asteronotus cespitosus menghasilkan sesquiterpenes dehidroherbadysidolide dan spirodysin, Acanthodoris nanaimoensis dengan sesquiterpenoidnya, Limacia clavigera menghasilkan limaciamine, Chromodoris luteorosea dengan diterpenoids luteorosin dan macfarlandin-A dan banyak lagi senyawa bioaktif yang dihasilkan nudibranch sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan fisiknya (Lay dan Hastowo, 1992). Baru-baru ini banyak penelitian yang melaporkan tentang bakteri simbion invertebrata karang yang mampu menghasilkan senyawa antibakteri.

Ditemukannya bakteri yang hidup bersimbiosis dengan karang keras (hard coral), karang lunak (soft coral) dan sponge yang menghambat bakteri E. coli, S. aureus, Streptococcus equi, zooepidemicus, Aeromonas hidrophyla dan bakteri kelompok vibrio penyebab penyakit vibriosis pada budidaya laut. Akan tetapi, penelitian yang melaporkan tentang bakteri simbion nudibranch masih sangat sedikit. Selain itu, diemukan juga ribuan simbiotik bakteri pada jaringan vestibular nudribranch Dendrodoris nigra dan massa telurnya. Namun fungsi dari bakteri tersebut belum diketahui dengan jelas. Sedangkan di Skotlandia ditemukan bakteri simbion nudibranch Archidoris pseudoargus yang dapat melawan bakteri Pseudomonas

aeruginosa. Belum banyak penelitian tentang bakteri simbion nudibranch yang menghasilkan senyawa antibakteri, khususnya yang melawan bakteri MDR. Hal ini memungkinkan bakteri simbion nudibranch dapat menghasilkan senyawa antibakteri untuk melawan bakteri strain MDR berhubung banyaknya nudibranch yang dapat menghasilkan senyawa bioaktif (Lay dan Hastowo, 1992).

2.7 E. Coli Bakteri Escheria Coli merupakan kuman dari kelompok gram negatif, berbentuk batang dari pendek sampai kokus, saling terlepas antara satu dengan yang lainnya tetapi ada juga yang bergandeng dua dua (diplobasil) dan ada juga yang bergandeng seperti rantai pendek, tidak membentuk spora maupun kapsula, berdiameter 1,1 1,5 x 2,0 6,0 m, dapat bertahan hidup di medium sederhana dan memfermentasikan laktosa menghasilkan asam dan gas, kandungan G+C DNA ialah 50 sampai 51 mol % (Pelczar dan Chan, 1988). Escherichia coli dapat tumbuh di medium nutrien sederhana, dan dapat memfermentasikan laktosa dengan menghasilkan asam dan gas (Pelczar dan Chan, 2005). Kecepatan berkembangbiak bakteri ini adalah pada interval 20 menit jika faktor media, derajat keasaman dan suhu tetap sesuai. Selain tersebar di banyak tempat dan kondisi, bakteri ini tahan terhadap suhu, bahkan pada suhu ekstrim sekalipun. Suhu yang baik untuk pertumbuhan bakteri ini adalah antara 80C-460C, tetapi suhu optimumnya adalah 370C. Oleh karena itu, bakteri tersebut dapat hidup pada tubuh manusia dan vertebrata lainnya (Dwidjoseputro, 1978). Taksonomi Escherichia coli sebagai berikut (Dwidjoseputro, 1978) : Divisi : Protophyta Kelas : Schizomycetes Ordo : Eubacteriales Famili : Enterobacteriaceae Genus : Escherichia Spesies : Escherichia coli

Pelczar dan Chan (1988) mengatakan Escherichia coli merupakan bagian dari mikrobiota normal saluran pencernaan. Escherichia coli dipindahsebarkan dengan kegiatan tangan ke mulut atau dengan pemindahan pasif lewat makanan atau minuman. Morfologi dan ciri-ciri pembeda Escherichia coli, yaitu: 1. merupakan batang gram negatif 2. terdapat tunggal, berpasangan, dan dalam rantai pendek 3. biasanya tidak berkapsul 4. tidak berspora 5. motil atau tidak motil, peritrikus 6. aerobik, anaerobik fakultatif 7. penghuni normal usus, seringkali menyebabkan infeksi. Escherichia coli dalam usus besar bersifat patogen apabila melebihi dari jumlah normalnya. Galur-galur tertentu mampu menyebabkan peradangan selaput perut dan usus (gastroenteritis). Bakteri ini menjadi patogen yang berbahaya bila hidup di luar usus seperti pada saluran kemih, yang dapat mengakibatkan peradangan selaput lendir (sistitis) (Pelczar dan Chan, 1988). Escherichia coli dapat dipindahsebarkan melalui air yang tercemar tinja atau air seni orang yang menderita infeksi pencernaan, sehingga dapat menular pada orang lain. Infeksi yang timbul pada pencernaan akibat dari serangan bakteri Escherichia coli pada dinding usus menimbulkan gerakan larutan dalam jumlah besar dan merusak kesetimbangan elektrolit dalam membran mucus. Hal ini dapat menyebabkan penyerapan air pada dinding usus berkurang dan terjadi diare (Pelczar dan Chan, 1988).

2.8 Zat Antibakteri Pertumbuhan mikroorganisme dapat dikendalikan melalui proses fisik dan kimia. Pengendalian dapat berupa pembasmian dan penghambatan populasi mikroorganisme. Menurut Pelczar dan Chan (1998), zat antimikrobial adalah zat yang dapat mengganggu pertumbuhan dan metabolisme melalui mekanisme penghambatan pertumbuhan mikroorganisme. Zat antimikrobial terdiri dari antijamur dan antibakterial. Zat antibakterial adalah zat yang mengganggu pertumbuhan dan metabolisme melalui penghambatan pertumbuhan bakteri.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih zat antimikrobial kimiawi menurut Pelczar (1998) adalah : 1. Jenis zat dan mikroorganisme Zat antimikrobial yang akan digunakan harus sesuai dengan jenis mikroorganismenya karena memiliki kerentanan yang berbeda-beda. 2. Konsentrasi dan intensitas zat antimikrobial Semakin tinggi konsentrasi zat antimikrobial yang digunakan, maka semakin tinggi pula daya kemampuannya dalam mengendalikan mikroorganisme. 3. Jumlah organisme Semakin banyak mikroorganisme yang dihambat atau dibunuh, maka semakin lama waktu yang diperlukan untuk mengendalikannya. 4. Suhu Suhu yang optimal dapat menaikkan efektivitas zat antimikrobial. 5. Bahan organik Bahan organik asing dapat menurunkan efektivitas zat antimikrobial dengan cara menginaktifkan bahan tersebut atau melindungi mikroorganisme. Hal tersebut karena penggabungan zat dan bahan organik asing membentuk zat antimikrobial yang berupa endapan sehingga zat antimikrobial tidak lagi mengikat mikroorganisme. Akumulasi bahan organik terjadi pada permukaan sel mikroorganisme sehingga menjadi pelindung yang mengganggu kontak antara zat antimikrobial dengan mikroorganisme. Sejak 1935, sejumlah besar agen obat kimia telah dikembangkan. Senyawa kimia tersebut pada umumnya dibuat secara sintesis di laboratorium, sedangkan yang lain dibuat dari hasil sampingan kegiatan metabolisme bakteri atau fungi. Agen obat kimia diberi nama umum Antibiotika. (Volk and Wheeler, 1993). Antibiotika adalah bahan-bahan bersumber hayati yang pada kadar rendah sudah menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Jadi, antibiotika merupakan salah satu jenis antibakterial. (Schlegel, 1994). Kriteria agen obat kimia yang digunakan sebagai kemoterapi menurut Schlegel (1994) adalah sebagai berikut :

1. Toksisitas obat terhadap sel inang harus rendah sementara memusnahkan atau menghambat agen penyakit. Dengan kata lain, obat itu harus menunjukkan toksisitas selektif bagi agen penyakit. 2. Inang harus tidak menjadi alergi (sangat peka) terhadap obat. 3. Organisme tidak boleh dengan mudah menjadi resisten terhadap obat yang digunakan. 4. Obat itu harus mencapai tempat infeksi.

BAB III MATERI DAN METODE

3.1 Materi Hari / tanggal Waktu Tempat Ilmu : Kamis, 8 12 2011 : 13.00 16.30 : Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi, Jurusan Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas

Diponegoro

3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Acara I Uji Sensitivitas Alat Pipet mikro Keterangan Untuk memindahkan cairan yang bervolume ukuran mikro Cawan petri Sebagai wadah penyimpanan dan pembuatan kultur media Spreader Bunsen Paper disk Untuk penanaman kultur bakteri Untuk menciptakan daerah steril Untuk meletakkan bakteri laut yang ditanam ke media Inkubator Untuk menginkubasi mikroba yang diinginkan pda suhu optimum pertumbuhannya Tabung reaksi Untuk wadah media cair, dapat pula digunakan sebaga tempat untuk menumbuhkan mikroba Autoklaf Untuk mensterilisasi alat atau media pada suhu 121o C Plastik wrap Untuk membungkus cawan petri saat akan diinkubasi Label Untuk menamakan jenis bakteri yang digunakan sesuai kelompo praktikum

Bahan Jorunna funebris

Keterangan Bakteri laut yang bersimbiosis dengan Nudibranch

Media Zobell 2216e padat tawar Media Zobell 2216e cair laut Bakteri Escherichia Coli Alkohol 70%

Digunakan untuk menanam bakteri patogen di media Digunakan untuk menanam bakteri isolat di media Bakteri yang digunakan untuk pengujian sensitvitas Untuk membersihkan alat, media, tangan, dan area kerja

3.2.2

Acara II Pengamatan Alat Cawan petri Keterangan Sebagai tempat untuk uji sensitivitas yang diamati Jangka sorong Untuk mengukur zona hambat

Bahan Jorunna funebris

Keterangan Bakteri laut yang bersimbiosis dengan Nudibranch

Media padat

Digunakan untuk menanam bakteri

3.3 Metode Uji Sensitivitas 1. Inokulasi bakteri isolat NP4 ke dalam Zobell cair laut. 2. Diinkubasi selama 4 hari. 3. Inokulasi bakteri patogen ke dalam media Zobell air tawar, lakukan pada hari ketiga. 4. Pada hari keempat buat media Zobell padat tawar. 5. Spread bakteri patogen pada media.

6. Diamkan selama 1 menit. 7. Ambil pinset sterl untuk mengambil paper disk dan letakkan paper disk pada media. 8. Bagian yang datar diletakkan pada media, bagian yang cembung di menghadap ke atas agar bakteri laut bisa diserap paper disk. 9. Ambil bakteri dengan ukuran tip. 10. Saat spread harus rata agar bisa melawan bakteri patogen. 11. Bersihkan pipet mikro menggunakan kapas yang sudah diberi alkohol. 12. Gunakan pipet untuk mengambil bakteri laut sebanyak 2 kali ambil. 13. Resus dahulu sebelum diteteskan agar bakteri homogen. 14. Teteskan bakteri laut pada bagian tengah paper disk.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.2 Pembahasan 4.2.1 Acara I Uji Sensitivitas Pada praktikum ini menggunakan metode difusi yaitu dengan Cara Kirby-Bauer. Metode ini sangat mudah dilakukan karena tidak rumit dalam penegrjaannya dan efisien karena dalm satu perbenihan agar dapat menguju maksimal 12 macam antimikroba.Tidak membutuhkan alat dan bahan yang banyak sedangkan kerugiannya tidak dapat diketahui secara tepat tingkat resistensi atau kepekaan bakteri terhadap antimikroba. Penggunaan metode ini menunjukkan hasil tidak adanya zona hambat pada media tersebut. Hal ini terjadi karena bakteri patogen resisten terhadap bakteri laut atau bakteri isolat. Apabila terbentuk zona hambat maka bakteri patogen tidak resisten terhadap bakteri laut dan bakteri tersebut tidak aktif. Ada atau terbentuk dan tidaknya zona hambat menunjukan kultur bakteri patogen atau tidak terhadap bakteri laut. Saat pembuatan media menggunakan bakteri patogen dengan komposisi 50 mikron, sedangkan bakteri laut yang diteteskan pada paper disk sebanyak 30 mikron. Tujuannya agar semakin besar ukuran zona hambatnya. Zona hambat adalah zona dimana menunjukan aktif dan resisten tidaknya suatu bakteri terhadap suatu senyawa atau zat. Dimana zona hambat merupakan senyawa metabolisme sekunder yang dikeluarkan oleh bakteri untuk bertahan hidup. Sedangkan semakin kecil konsentrasi bakteri laut, maka semakin kecil atau bahkan tidak ada zona hambat yang terbentuk.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Teknik uji sensitivitas dibagi menjadi 2 metode, yaitu metode difusi dan metode dilusi. Uji sensitivitas dilakukan untuk mengetahui resistensi suatu bakteri. Bakteri adalah makhluk berukuran mikro yang jika sudah resisten bisa menularkan resistensinya ke bakteri lainnya.

5.2 Saran Sebaiknya praktikum disesuaikan dengan modul. Sebaiknya praktikum dilakukan tepat waktu agar lebih efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Allen, G.R. dan Steene, R. 1999. Indo-Pacific Coral Reef Guide. Tropical Reef Research. Singapore. Ampou, E.E. 2006. Similarity Distribution of Nudibranch (Chromodorididae, Phyllidiidae, Facelinidae) in Siladen Island North Sulawesi-Indonesia. Unsrat Online, Manado. Anonim, 1994, Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran, edisi revisi, Binarupa Aksara, Jakarta Brander, G.C., D.M. Pugh., R.J. Bywater., R.J, dan W.L. Jenkins. 1991.

Veterinary Applied Pharmacology and Therapeutics. 5th Ed. ELBS, Bailliere Tindall. Burgess, e. w.,(1925). The growth of the City, in R. E. Park; E. W. Burgess and R.D. McKenzie (eds), The City, University of Chicago Press, Chicago. Campbell, N. A. Dan Reece, J. B., 2005. Biologi Jilid 2. Erlangga. Jakarta. Dwidjoseputro. 1998. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan
Entjang, I.,2003, Mikrobiologi dan Parasitologi. Citra Aditya Bakti. Bandung Franklin, T.J. dan Snow, G.W., 1985. Biochemistry of Antimicrobial Action. 3rd ed. London, New York.

Godfrey, S. 2001. Factors Affecting Nudibranch Diversity in The Wakatobi Marine National Park,

URL:http://www.opwall.com/.../Invertebrates/Godrey,%20S%20Factor s%20affecting%20nudibranc8h%20distribution.pdf>. Hunt, B., and A.C.J. Vincent. 2006. Scaleand sustainability of

marinebioprospecting for pharmaceuti-cals. Ambio, 35(2):57-64. Irianto, K.2006. Mikrobiologi.Yrama Widya : Bandung Jawetz. 2001. Mikrobiologi Kedokteran. Salemba Medika. Jakarta. Karuso, P. dan Scheuer P.J. 2002. Natural Products from Three Nudibranchs: Nembrotha kubaryana, Hypselodoris infucata and Chromodoris petechialis. Molecules 7: 1-6. Kelecom, A. 2002. Secondary metabolites from marine microorganisms. An. Acad. Bras. Cienc. 74(1): 151170.

Koesmadji. 2002. Genetika Lanjutan. Jakarta: Penerbit Karunika Jakarta, Universitas Terbuka. Lay, B. W. dan Hastowo. 1982.Mikrobiologi. Rajawali Press Jakarta. M. T. Madigan, and Brock, T. D. 2010. Biology of Microorganisms. 6th ed. Prentice Hall. New Jersey. USA. Murniasih, T. 2005. Substansi Kimia untuk Pertahanan Diri dari Hewan Laut Tak Bertulang Belakang. Oseana, Volume XXX, Nomor 2 : 19 27. Mutschler, Ernest.1991.Dinamika Obat,ITB Press: Bandung Park, Shin Hye. 2002. Morphological Diversity of Marine Miicroorganisms on Different Isolation Media. Korea: Microbiology Laboratory Korea Ocean Research & Development Institute Pelczar, M., 1988. Dasar dasar Mikrobiologi 2. UI Press, Jakarta. Pelczar, M. J. dan Chan, E. C. S., 2005, Dasar-dasar Mikrobiologi 1, Alih bahasa: Hadioetomo, R. S., Imas, T., Tjitrosomo, S.S. dan Angka, S. L., UI Press, Jakarta. Pratiwi, dkk. 2008. Buku Penuntun Biologi SMA untuk Kelas X. Jakarta : Erlangga Prescott, J.F., Baggot, J.D. and Walker, D.R. 2002. Antimicrobial Therapy in Veterinary Medicine, 3rd edn. pp. 1771. Ames: Iowa State University Press. Radjasa, O.K. and A.Sabdono. 2004.Screening of secondary metabolite-producing bacteria associatedwith corals using 16S rDNA-basedapproach. J. Coast. Dev., 7:11-19. Radjasa, O.K., A. Sabdono, Junaidi, and E. Zocchi. 2007c. Richness of secondary metabolite- producingmarine bacteria associated withsponge Haliclona sp. Int. J.Pharmacol., 3(3):275-279. Schlegel, Hans dan Karin Scmidt. 1994. Mikrobiologi Umum. Diterjemahkan oleh Tedjo Baskoro. Yogyakarta: UGM Press Sudarmono, P., 1993, Genetika dan Resistensi, Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran, Edisi Revisi, Binarupa Aksara, Jakarta. Suwandi, U., 1993. Perkembangan Antibiotik. Cermin Dunia Kedokteran No. 83. Pusat Penelitian dan Pengembangan PT. Kalbe Farma, Jakarta.

Thiel, V., and J.F. Imhoff, 2003: Phylogenetic identification of bacteria with antimicrobial activitiesisolated from different Mediteranean sponges. J. Biomolec. Engin., 20, 421-423. www.ifm-

geomar.de/fileadmin/ifm/jb/chapter3_10_microbio.pdf Usman, R., 1987. Mikrobiologi Dasar. Universitas Padjajaran, Bandung. Volk, W.A., 1993. Mikrobiologi Dasar. Edisi kelima. Erlangga, Jakarta. Waaij, D. Vander. 1991. Hidup Bersama Kuman Apa Yang Kita Ketahui. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI LAUT MODUL IV UJI SENSITIVITAS

OLEH : LUTHFI SINATRYA EKANANDA 26020110130086 Kelompok 13

ASISTEN: DIDHA ANDINI P K2D 007 027

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN JURUSAN ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2011