Anda di halaman 1dari 14

Antiobesitas / obat pelangsing Stimulan Sentral

Perasaan lapar dan kenyang diatur oleh zat kimia otak yang disebut
neurotransmiter. Contoh neurotransmiter adalah serotonin, norepinefrin dan
dopamin.bekerja dengan cara meningkatkan kadar neurotransmiter ini pada
persambungan diantara ujung-ujung saraf di otak (persambungan ini disebut
sinaps).
Obat pelangsing dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Obat Tradisional adalah obat-obat pelangsing yang komposisinya berasal dari
berbagai tanaman yang berkhasiat menurunkan berat badan. Garcinia
Cambogia atau Malabar Tamarind, misalnya, berkhasiat menekan rasa lapar
dan meningkatkan rasa kenyang. Daun jati Belanda (Guazumae ulmi folia)
diketahui bisa mencegah penyerapan lemak. Teh pelangsing juga dipercaya
dapat mengurangi berat badan. Teh ini berisi campuran daun teh (thea
folium) dan bahan tradisional lain, serta akar-akaran sebagai pewangi. Teh
pelangsing umumnya bersifat diuretik (melancarkan air seni). Bulk filler atau
pengganjal perut, biasanya berupa tablet atau larutan yang berasal dari serat
alami tumbuhan dan buah. di dalam perut bulk filler ini akan mengembang
dan bila dikonsumsi akan terasa mengenyangkan.
2. Obat Modern adalah obat-obatan kimiawi yang bekerja pada susunan syaraf
pusat. Ada juga yang bekerja langsung pada lokal saluran pencernaan. Tetapi,
kebanyakan obat pelangsing memiliki cara kerja mempengaruhi pusat otak.
Serotonin adalah zat kimia dalam otak yang mempengaruhi emosi dan selera
makan. Bila kadar serotonin dalam otak meningkat, keinginan untuk makan
berlebihan yang didorong stres emosional bisa ditekan.
Beberapa obat bekerja meningkatkan produksi serotonin dalam otak, sehingga
terasa menjadi cepat kenyang. Anorexan adalah salah satunya dan banyak dijual di
pasaran. Yang termasuk golongan ini adalah amphetamine, dektroamphetamine,
metamphetamine, detilpropion, mazindol dan benzfetamin. Obat lainnya yang
banyak dijual bebas adalah deksenfenfluramin, yang bekerja mengurangi selera
makan dengan memperpanjang masa kerja serotonin.
Obat lainnya adalah obat yang kerjanya langsung pada saluran pencernaan. Obat
ini menghambat kerja enzim lipase, yang menyerap lemak dalam tubuh seperti
obat orlistat.Sibutramin hidroklorida yang bekerja memperbanyak serotonin
dan orlistat yang bekerja mem-blok lemak adalah golongan obat yang tidak dijual
bebas. Pemakaiannya harus dengan pengawasan dokter.

Tiga prinsip mekanisme kerja obat-obatan untuk menurunkan BB atau


mencegah peningkatan Berat Badan:
a) Mengurangi asupan energi
Obat-obatan ini bekerja sebagai penekan nafsu makan, yang disebut
juga preparat, yang mempunyai efek neurotransmitter, seperti
serotonin, yaitu suatu zat di otak yang dapat mempengaruhi persepsi
orang terhadap rasa lapar (appetite suppresant).
Golongan ini mempunyai 2 kelas utama berdasarkan aktifitasnya,
yaitu:
1. Golongan katekolaminergik, seperti amfetamine,
fenilpropanolamin
2. Golongan seretonergik, seperti fenfluramine, dexfenfluramine,
dan antidepressant
selective reuptake inhibitors (SSRIS),
seperti fluoxetine and sertraline.
b) Mengurangi penyerapan
makanan
Ditemukan obat-obatan yang menghambat kerja enzim di
saluran cerna salah satunya adalah menghambat penyerapan lemak,
sehingga total kalori yang diserap tubuh dapat dikurangi. Orlistat
(Xenical), adalah obat pertama dari kelompok obat-obatan
penghambat enzim lipase pankreas dan lambung, yang bekerja lokal di
saluran cerna. Dengan cara demikian, lemak sebesar 30% tidak
diserap oleh tubuh, melainkan dieksresikan melalui feses. Walaupun
demikian, orlistat tidak mengganggu kerja intestinal lainnya dan tidak
berinteraksi dengan kebanyakan obat-obat yang diresepkan untuk
pasien yang mengalami masalah dengan berat badan karena ia
bekerja secara selektif sehingga tidak mempengaruhi susunan saraf
pusat seperti obat-obat anti obesitas lainnya. Obat ini juga hanya
menyerap 3% dari dosis oral sehingga tidak terdeteksi adanya efek
sistemik.
c) Meningkatkan pembakaran energy
Energi dapat dibakar dengan melakukan aktifitas fisik atau
merubah Tingkat Metabolik Basal (BMR) dengan melakukan perubahan
pada sistem syaraf simpatik. Obat yang berefek pada BMR dan
termogenesis ini, seperti zat beta agonist, BRL 26830A, masih dalam
tahap penelitian

Obat-obatan yang banyak digunakan untuk obesitas terdiri dari:


1. obat penahan nafsu makan di antaranya alah golongan amfetamin,

2. obat yang meningkatkan/mempercepat metabolisme tubuh misalnya preparat tiroid,


3. obat pemacu keluarnya cairan tubuh misalnya diuretika; pencahar.
Namun obat-obat tersebut bila digunakan dalam jangka panjang akan menyebabkan efek
samping sangat merugikan tubuh. Oleh karena itu penggunaannya sebaiknya disertai kontrol
ketat.
Selain itu, ada juga obat lain, seperti:
1. obat yang mempunyai kerja anoreksian (meningkatkan satiation, menurunkan selera makan,
atau satiety, meningkatkan rasa kenyang, atau keduanya), contohnya Phentermin.Obat ini
hanya dibolehkan untuk jangka pendek.
2. Orlistat menghambat enzim lipase usus sehingga menurunkan pencernaan lemak makanan
dan meningkatkan ekskresi lemak dalam tinja dengan sedikit kalori yang diserap.
3. Sibutramine meningkatkan statiation dengan cara menghambat ambilan kembali monoamine
neurotransmitters (serotonin, noradrenalin dan sedikit dopamin), menyebabkan peningkatan
senyawa-senyawa tersebut di hipotalamus.
4. Rimonabant termasuk kelompok antagonuis CB1, yang menghambatikatan cannabinoid
endogen padareseptor CB1 neuronal, sehingga menurunkan selera makan dan menurunkan
BB.

Tabel 2. Daftar Obat Anti-obesitas

Nama
Obat

Pabrik
yang
Mekanisme
memprodu
ksi

Telah beredar di pasaran

Fase
Efek
pengembanga
Samping
n

Roche

Fecal
urgency,
Launching 1998 diare, dan
Lipase inhibitor-tersedia
nyeri
menghambat absorpsi sebagai obat
abdomen.
lemak di intestinal
tanpa resep
Kasus liver
pada 2007
injurymasih
dalam
penyelidikan.

Sibutrami
Abbot
ne

Sakit kepala,
Inhibitor selektif
mulut kering,
serotonindan reuptake
konstipasi,
noradrenalinLaunching 1999
kenaikan
menginduksi rasa
denyut nadi,
kenyang
insomnia.

Orlistat

Tremor,
Launching 1970
peningkatan
Gate
. Hanya
Obat mirip amfetamindenyut nadi
Pharmaceuti
disahkan
Phentermi
aktivasi simpatetik
dan tekanan
cal dan
sebagai
ne
yang menginduksi
darah,
tersedia
penanganan
rasa kenyang
insomnia,
generiknya
berat badan ja
berpotensi
ngka pendek
untuk adiksi.

Obat anti-obesitas yang bekerja secara perifer dan target


pengembangan

Cetilistat Alizyme

Lipase inhibitor

Fase III

Fecal
urgency,
diare, dan

nyeri
abdomen

Sterol regulatory
element binding
Studi pada
protein inhibitorhewan
downregulate pelepas
percobaan
an gen untuk
adipogenesis

Fatostatin

Obat anti-obesitas yang bekerja secara sentral dan target


pengembangan

Agonis selektif 5HT2cArena


mengaktivasi penekan
Lorcaserin Pharmaceuti nafsu makan jalur
Fase III
cal
hipotalamik dan
mesolimbik

Sakit kepala,
pusing, mual.
Tidak ada
laporan
disfungsi
kardiak
valvular

Kombinasi topiramate
(suatu antiepileptik
yang menghambat
neurotransmisi
Fase III
eksitatori melalui
kanal natrium) plus
phentermine

Paraestesia,
mulut kering,
gangguan
mengecap

Kombinasi bupropion Fase III


(penghambat dopamin

Mual, sakit
kepala,

Qnexa

Contrave

Vivus

dan reuptake
noradrenalin) dan
naltrexone(antagonis
opioid)

konstipasi

Analog hormon saluran cerna sebagai obat anti-obesitas

Amylin
Exenatide
Eli Lily

Mual dan
Launching 2005 gangguan
Merupakan GLP-1 kerja
untuk terapi
saluran
panjang, agen incretin
DMT2. Saat ini cerna, ada
mimetic dan anorektik
masuk fase I/III laporan
hipotalamik.
untuk obesitas kasus
pankreatitis

Liraglutid
Analog GLP-1 kerja
NovoNordisk
e
panjang

Disahkan 2009
sebagai terapi
DMT2. Saat ini
masuk fase I/III
untuk obesitas

Mual dan
gangguan
saluran
cerna, ada
laporan
tumor tiroid
medula pada
hewan
percobaan

Pramlintid
eAmylin
metreptin

Fase I/III

mual

Amylin sintetik dan


analog leptin

TM30338 7TM Pharma Dual agonis Y2 dan Y4 Fase II

mual

Orlistat
Orlistat merupakan turunan hidrogenasi dari lipstatin yang diproduksi oleh
bakteri Streptococcus toxytricini. Senyawa ini bersifat sangat lipofilik dan
merupakan penghambat potensial untuk sebagian besar enzim lipase
mamalia. Lipase dibutuhkan untuk menghidrolisis trigliserida dari makanan
menjadi asam lemak bebas yang bisa diserap. Dalam intestinal, orlistat
secara ireversibel menghambat enzim
lipase melalui ikatan kovalen dengan residu serine pada sisi aktif.
Dengan menggunakan orlistat, hingga 30% lemak yang dimakan tidak
diserap. Inilah penyebab utama timbulnya efek yang paling sering
dikeluhkan pada penggunan orlistat, yakni ketidaknyamanan gastrointestinal
dan fecal urgency. Ada yang mengklaim bahwa untuk memperoleh manfaat
terbaik obat ini, maka pasien diupayakan agar beralih pada diet rendah
lemak untuk menghindari efek demikian.
Pada terapi jangka pendek dengan orlistat, kehilangan lemak melalui feses
akan meningkat dalam beberapa hari pengobatan, dan kembali ke level
semula bila terapi dihentikan. Kehilangan lemak melalui feses meningkat
secara cepat dengan kenaikan dosis hingga 200 mg/hari dan kemudian
mencapai plateau untuk dosis diatas 400600 mg/hari. Pada plateu
diperkirakan sekitar 32% lemak dari makanan keluar melaui feses.
Studi farmakodinamik menunjukkan bahwa orlistat tidak mempengaruhi
farmakokinetik dioxin, phenytoin, warfarin, glyburide, kontrasepsi oral, atau
alkohol. Orlistat juga tidak mempengaruhi dosis tunggal dari obat
antihipertensi berbeda, furosemide, kaptopril, nifedipine, atau atenolol.
Absorpsi vitamins A dan E serta -carotene sedikit berkurang selama
penggunaan orlistat. Namun untuk terapi jangka panjang, ada risiko
defisiensi vitamin larut lemak tersebut. Antara 1999 dan 2008, ada enam
kasus gagal hati yang dilaporkan oleh pasien yang menggunakan orlistat
pada FDA's Adverse Event Reporting System. Laporan ini dan laporan lainnya

terkait penggunaan orlistat masih diselidiki, dan hingga kini belum ada
hubungan yang jelas antara efek tersebut dengan penggunaan orlistat.
++++
Cara kerja orlistat
Orlistat, merupakan anti obesitas pertama yang tidak bekerja sebagai penekan
nafsu makan, tetapi bekerja secara lokal dengan cara menghambat enzim lipase
saluran cerna. Dengan cara kerja sebagai penghambat lemak tersebut, maka 30%
dari lemak yang dikonsumsi tidak dapat diserap. Dengan demikian, terjadi defisit
kalori yang akan menghasilkan penurunan berat badan secara signifikan.

Seperti yang kita ketahui, lemak diserap dalam bentuk trigleserida yang
mengandung satu molekul monogliserida dan 2 molekul asam lemak bebas.
Sebagian besar proses pencernaan lemak terjadi pada bagian pertama usus kecil,
duodenum yang benyak mengandung cairan pankreatik dimana reaksi ezimatik
akan berlangsung. Di sini, lemak akan diemulsifikasi (dipecah menjadi butiranbutiran kecil) membentuk tiny fat globules yang berdiameter 200 sampai 5000nm.

Enzim lipase yang berperan pada emulsifikasi ini, akan memecah trigliserida
menjadi asam lemak bebas dan monogliserida. Untuk dapat menembus dinding
usus, monogliserida dan asam lemak bebas ini harus berikatan terlebih dahulu
dengan garam empedu untuk membentuk micelle. Bagian dalam usus kecil
diselimuti dengan apa yang disebut villi yang berfungsi memperluas permukaan,
guna mempercepat penyerapan hasil-hasil pencernaan.

Saat lemak diabsorpsi, akan melewati small lymph vessels , yang disebut lacteal,
untuk kemundian didisstribusikan ke dalam sistem limpa dan masuk ke dalam
sistim sirkulasi.

Bagaimana Orlistat bekerja

Orlistat bekerja secara lokal di saluran cerna dengan cara menghambat kerja enzim
lipase dan mencegah 30% penyerapan lemak.

Orlistat mempunyai struktur molekul unik yang akan mengikat bagian aktif dari
enzim lipase dan menghambat aktivitasnya. Dengan demikian, enzim ini tidak
dapat memecah trigliserida menjadi komponen penyusunnya maka 30% lemak
tidak dapat dicerna dan diserap. Sedangkan, sebanyak proporsi yang signifikan dari
sisa asupan lemak yang tidak tercerna dan tidak terabsorpsi akan melewati saluran
pencernaan dalam keadaan tidak berubah. Sedangkan 70% lemak tetap dapat
mengalami penyerapan secara normal, hal ini penting guna memastikan kelarutan
vitamin-vitamin yang larut dalam lemak. Dengan cara kerja yang lokal (non
sistemik) ini, orlistat tidak menimbulkan efek samping terhadap sistem saraf pusat
dan kardiovaskular seperti pada golongan appetite supresant.

Dengan rata-rata 40% asupan lemak dari asupan total energi per hari, walaupun
angka yang direkomendasikan adalah 30% per hari.
Orlistat dosis 120 mg tiga kali sehari dapat mengurangi penyerapan lemak
sebesar kurang lebih 30%.

Dengan menghambat penyerapan lemak tersebut, akan terjadi defisit kalori secara
nyata, namun demikian, zat-zat gizi lain yang larut dalam lemak tetap akan diserap
- guna memastikan kecukupan zat-zat gizi tersebut bagi tubuh.

Berkurangnya jumlah lemak yang diserap, secara efektif dapat mengurangi


masukan energi, sehingga penurunan berat badan secara nyata dapat dicapai.
Kesimpulan:


Orlistat adalah obat pertama dari golongan terbaru obat anti obesitas, yang
secara selektif menghambat kerja enzim lipase secara lokal di saluran cerna.

Orlistat menghambat penyerapan lemak sebesar 30%.

Orlistat bekerja secara selektif sehingga tidak mengganggu kerja enzim


intestinal lainnya.

Hanya 3% dari dosis oral yang terserap sehingga tidak terdeteksi adanya efek
sistemik.

Orlistat tidak berinteraksi dengan kebanyakan obat-obat yang diresepkan


untuk pasien yang mengalami masalah dengan berat badan.
Orlistat tidak mempengaruhi susunan saraf pusat seperti obat-obat anti obesitas
lainnya.+++

Sibutramine
Sibutramine merupakan penghambat pengambilan kembali (reuptake)
neurotransmitter serotonin ( 53%), norepinefrin ( 54%), dan dopamin (16%).
Alhasil jumlah neurotransmitter tersebut dalam celah sinaptik akan
meningkat. Peningkatan tersebut kemudian akan menaikkan satiety yang
pada akhirnya menekan nafsu makan.Selain itu, sibutramine juga bisa
meningkatkan penggunaan energi melalui aktivasi simpatetik dan
menaikkan denyut jantung serta tekanan darah.
Mekanisme terakhir itulah yang membuat keamanan sibutramine perlu
dipelajari lebih lanjut. Berdasarkan analisis Sibutramine Cardiovascular
Outcomes (SCOUT) trial, belum lama ini (21 Januari 2010) FDA
mengumumkan bahwa sibutramine tidak boleh diberikan pada pasien
dengan riwayat penyakit kardiovaskuler. Selain itu FDA juga meminta
produsen untuk mencantum pada label bahwa sibutramine kontraindikasi
pada pasien dengan riwayat penyakit arteri koroner (infark miokard, angina),
riwayat stroke atau serangan iskemik sementara, aritmia jantung, gagal
jantung kongestif, penyakit aterial perifer, serta hipertensi yang tidak
terkontrol (tekanan darah>145/90 mm Hg).

Untuk efikasi, suatu studi meta analisis uji klinis menyatakan bahwa setelah
satu tahun terapi, pasien kehilangan bobot rata-rata 4,2 kg. Diperkirakan ada
peningkatan probabiliti 20-30% kehilangan setidaknya 5% dari bobot badan
mereka. Sibutramine bisa diberikan dengan dosis 10 mg sekali sehari,
biasanya pada pagi hari. Bila ini terbukti tidak cukup dosis bisa dinaikkan 15
mg sehari setelah 4 minggu.
Dalam saluran cerna, meski sibutramine dapat diserap dengan baik (77%),
tapi diduga obat ini mengalami metabolisme lintas pertama sehingga
mengurangi bioavailabilitasnya. Obat ini mencapai kadar puncak plasma
setelah 1 jam. Sibutramine dimetabolisme oleh cytochrome P450 isozyme
CYP3A4 menjadi dua metabolit aktif, dengan waktu paruh masing-masing 14
dan 16 jam. Konsentrasi puncak plasma metabolit 1 dan 2 dicapai setelah 34 jam. Pada metabolisme selanjutnya dihasilkan 2 metabolit yang tidak aktif
dengan konyugasi dan hidroksilasi (metabolit 5 dan 6) yang dieskresikan
terutama melalui urin.
Efek samping yang sering dijumpai pada pemberian sibutramine adalah
mulut kering, mual, rasa aneh di mulut, konstipasi, perut tidak enak,
gangguan tidur, pusing, nyeriatau kejang menstrual, sakit kepala, ruam, dan
nyeri otot atau sendi. Sibutramine meningkatkan tekanan darah dan denyut
nadi pada beberapa pasien secara substansial. Oleh karena itu selama
penggunaan obat, pasien perlu memonitor tekanan darahnya
Sibutramine memiliki sejumlah interaksi dengan obat lain yang signifikan
secara klinis, diantaranya dengan monoamine oxidase inhibitor (MAOIs,
semisal selegiline). Pedmberian bersamaan dengan MAOI tidak diindikasikan
karena bias meningkatkan risiko serotonine syndrome, suatu efek samping
obat yang serius meski jarang terjadi. Sibutramine sebaikknya tidak
digunakan dalam dua minggu setelah menghentikan atau memulai MAOI.
Penggunan bersamaan sibutramine dengan obat migren, misalnya ergoline
dan triptan, serta opioid juga bisa meningkatkan risiko serotonine syndrome.

Pengembangan Antiobesitas Baru

Pasca perang dunia kedua, berbagai studi perihal obesitas telah meningkatkan
pemahaman tentang patofisiologinya. Terutama pemahaman mekanisme fisiologis dasar
yang mengatur asupan makanan dan penyimpanan lemak tubuh telah berkembang
dengan cepat. Hal ini tentu juga meningkatkan kesempatan untuk mengembangkan
strategi baru untuk menangani obesitas dengan pengobatan. Saat ini sedang
dikembangkan beberapa agen antiobesitas yang bekerja secara sentral maupun perifer.

Pengembangan agen yang bekerja secara perifer

Ada beberapa farmakoterapi obesitas yang akan segera dikembangkan menggunakan


mekanisme perifer, semisal menghambat absorpsi nutrien atau pengaturan
metabolisme asam lemak. Tapi, ini masih menjadi fokus pada penelitian tahap awal
yang mungkin bisa menjadi harapan di masa mendatang. Salah satu contoh adalah
fatostatin, sebuah molekul yang baru saja ditemukan. Obat ini bekerja
menghambat sterol regulatory element-binding proteins (SREBPs), yang merupakan
faktor transkripsi utama dalam mengatur gen pengkode enzim yang dibutuhkan untuk
lipogenesis. Perusahaan Alizyme juga telah mengembangkan obat baru dan telah
sampai pada tahap uji klinis. Obat teesebut merupakan anggota kelas lipase inhibitor,
cetilistat, yang memiliki efikasi sebanding dengan orlistat dalam menginduksi
kehilangan bobot badan, tapi dengan efek samping gastrointestinal yang lebih ringan.

Pengembangan agen yang bekerja secara sentral

Dibanding agen yang bekerja perifer, ada lebih banyak antiobesitas kerja sentral yang
tengah dikembangkan dan saat ini telah memasuki uji klinis tahap akhir. Seperti
diungkapkan sebelumnya, monitoring intensif perlu dilakukan untuk obat tipe ini.
Apalagi pelajaran berharga bisa diperoleh dari antagonis reseptor kanabinoid.
Endokanabinoid merupakan neurotransmiter endogen yang berbasis lemak yang
disintesa dari asam arakidonat yang mengaktifkan reseptor kanabinoid (CBs). Dalam
sistem saraf pusat, aktivasi reseptor ini akan merubah pelepasan sejumlah
neurotransmiter, termasuk dopamin dalam sistem mesolimbik, mempengaruhi nafsu
makan, dan meningkatkan penggunaan energi di hipotalamus.

Agonis 5-HT2C

Reseptor keluarga serotonin 5-HT2 memperantarai sejumlah fungsi fisiologis termasuk,


polah nafsu makan, mood dan fungsi otot polos. Penekan nafsu makan terdahulu yang
kurang selektif serotoninergik, semisal fenfluramine dan dexfenfluramine, ditarik dari
pasaran pada 1990-an. Penarikan tersebut berdasarkan kaitan penggunaan obat
dengan berkembangnya penyakit jantung valvular, yang akhirnya ditemukan
diperantarai oleh subtipe 5-HT2B.
Berlatar hal tersebut, maka dikembangkanlah antiobesitas kelompok ini yang lebih
selektif. Salah satunya adalah lorcaserin yang 104 kali lipat lebih selektif terhadap
reseptor 5-HT2C dibanding 5-HT2B. Hal ini tentu memberi harapan akan adanya obat
penekan nafsu makan dengan profil efek samping lebih aman. Reseptor 5-HT2C
terdistribusi secara luas di seluruh sistem saraf pusat, termasuk di pusat pengatur
homeostatic nafsu makan.

Qnexa

Perusaan farmasi Vivus saat ini tengah mengembangkan Qnexa, yang merupakan
kombinasi phentermine dosis rendah dengan antikonvulsan topiramate, untuk
pengobatan obesitas jangka panjang. Topiramate adalah suatu sulfamat yang
disubsitusi dengan fruktosa yang disahkan un tuk pengobatan refractory seizures dan
migren. Obat ini menghambat eksitatori neurotransmisi dengan menghambat voltagegated sodium channels dan kerja lainnya terhadap GABA serta sistem glutamat.
Bagaimana mekanisme sebenarnya hingga topiramate bias mendorong pengurangan
berat badan masih belum dimengerti, meski studi dengan range dosis memperlihatkan
efeknya tergantung dosis obat.

Contrave

Contrave merupakan kombinasi bupropion, suatu penghambat reuptake dopamin dan


noradrenalin, dengan naltrexone. Naltrexone sendiri adalah antagonis opioid yang
digunakan untuk mengobati sejumlah gangguan adiktif. Kedua agen ini dilaporkan
secara sinergis menghambat b-endorphin-mediated inhibition of POMC neurons. Hal ini

akan meningkatkan aktivitas neuronal hypothalamic anorexigenic. Masing-masing obat


secara terpisah juga tampak menurunkan nafsu makan dan berat badan pada manusia.

Orlistat, Sibutramin dan rimonabant dapat dipergunakan untuk jangka lama dengan
memperhatikan efek sampingnya. Sayangnya obat-obatan tersebut tiada yang dapat
memenuhi harapan dan kebutuhan orang. Oleh karena itu industri farmasi masih
mengembangkan banyak calon obat baru.