Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN AKHIR FARMAKOKINETIKA DASAR

PERCOBAAN III
ANALISIS OBAT DALAM CAIRAN HAYATI

Disusun Oleh :
Rezky Bela Putri

(G1F014007)

Suci Ramadhani

(G1F014023)

Alim Wijaya

(G1F014039)

Katarina

(G1F014061)

Golongan / Kelompok

: II A / 4

Tanggal Praktikum

: 11 Mei 2016

Asisten

: Pramita P. dan Catherine B.

Dosen Pembimbing Praktikum

: Ika Mustikaningtias, M.Sc., Apt

LABORATORIUM FARMASI KLINIK


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016

PERCOBAAN III
ANALISIS OBAT DALAM CAIRAN HAYATI

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Efek terapi suatu obat biasanya baru terlihat sesudah zat aktifnya melalui
sistem pembuluh aorta lalu masuk ke hati dan kembali masuk ke peredaran
darah dan didistribusikan ke seluruh jaringan badan.
Ketersediaan hayati suatu obat dapat diukur pada keadaan pasien yang
bersangkutan (secara in vivo) dengan menentukan kadar dalam plasma
darah setelah mencapai keseimbangan antara serum cairan tubuh (keadaan
tunak). Ada korelasi yang baik antara kadar obat dalam plasma dengan efek
terapi.
Ketersediaan hayati digunakan untuk memberi gambaran mengenai
keadaan dan kecepatan obat diabsorbsi dari bentuk sediaan dan
digambarkan dengan kurva kadar-waktu setelah obat diminum dan berada
pada jaringan biologis atau larutan seperti darah dan urine.
Data ketersediaan hayati digunakan untuk menentukan :
1. Jumlah atau bagian obat yang diabsorbsi dari bentuk sediaan.
2. Kecepatan obat diabsorbsi.
3. Masa kerja obat berada di dalam cairan biologik atau jaringan, bila
dihubungkan dengan respon pasien.
4. Hubungan antara kadar obat dalam

darah

dengan

efektivitas

terapi/efektoksik.
Penentuan ketersediaan hayati kebanyakan hanya untuk bentuk sediaan
obat seperti tablet dan kapsul yang digunakan per oral untuk memperoleh
efek sistematik. Hal ini bukan berarti ketersediaan hayati tidak ada dalam
bentuk sediaan obat yang lain selain bentuk padat / penggunaan bentuk obat
melalui rute lain selain melalui mulut (Anief, 1995).
Pengetahuan tentang konsentrasi obat dalam serum dapat menjelaskan
mengapa seorang penderita tidak memberikan reaksi terhadap terapi obat,
atau mengapa penderita mengalami suatu efek yang tidak diinginkan.

Sebagai tambahan, praktisi mungkin ingin menjelaskan ketelitian dari aturan


dosis.
Pengukuran konsentrasi obat dalam serum, suatu konsentrasi tunggal dari
obat dalam serum dapat tidak menghasilkan informasi yang berguna kecuali
jika faktor-faktor lain dipertimbangkan, sebagai contoh, aturan dosis obat
yang meliputi besaran dan jarak pemberian dosis, rute pemberian obat, serta
waktu pengambilan cuplikan (puncak, palung, atau keadaan tunak)
hendaknyadiketahui.
Mungkin ada keterbatasan dalam hal jumlah cuplikan darah yang dapat
diambil, keseluruhan volume darah yang diperlukan untuk penetapan kadar,
dan waktu untuk melakukan analisis obat, pengukuran konsentrasi serum
hendaknya juga mempertimbangkan biaya penetapan kadar, resiko, dan
ketidaksenangan penderita, dan kegunaan informasi yang diperoleh.
Metode analisis yang digunakan untuk penetapan kadar obat dalam
serum hendaknya telah sahih, berkenaan dengan hal-hal berikut seperti
spesifitas, linieritas, kepekaan, ketepatan, ketelitian, dan stabilitas (Sahrgel,
1985).
Untuk menganalisis darah total, komponen sel darah harus dilisis
demikian sehingga kandungannya bercampur merata dengan sonikator atau
ditentukan dalam jangka waktu tertentu lalu disonikasi. Plasma berbeda
dengan serum, serum adalah plasma yang fibrinogennya telah dihilangkan
dengan

proses

penjendalan,

sedangkan

plasma

diperoleh

dengan

menambahkan suatu pencegah penjendalan kedalam darah. Bila darah tidak


diberi

antikoagulan

terjadilah

penjendalandan

bila

contoh

seperti

dipusingkan maka beningannya adalah serum (James, 1991).


Penilaian ketersediaan hayati dapat dilakukan dengan

metode

menggunakan data darah, data urin, dan data farmakologis atau klinis,
namun lazimnya dipergunakan data darah atau data urin untuk menilai
ketersediaan hayati sediaan obat yang metode analisis zat berkhasiatnya
telah diketahui cara dan validitasinya. Jika cara dan validitas sebelum
diketahui, dapat digunakan data farmakologi dengan syarat efek
farmakologi yang timbul dapat diukur secara kuantitatif.
Parameter - parameter yang berguna dalam penentuan ketersediaan
hayati suatu obat meliputi data plasma, data urin, efek farmakologi akut,

respon klinik. Ketersediaan hayati dilakukan baik terhadap bahan aktif yang
telah disetujui maupun obat dengan efek terapeutik yang belum disetujui
oleh FDA untuk dipasarkan. Setelah ketersediaan hayati dan parameter parameter farmakokinetika dari bahan aktif diketahui aturan dosis dapat
diajukan untuk mendukung pemberian label obat (Syukri, 2002).
B. Dasar Teori
Cuplikan darah sangat relevan, karena semua proses obat dalam tubuh
melibatkan darah sebagai media, suatu alat ukur dari organ satu ke organ
lain seperti absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi. Oleh karena itu,
agar nilai-nilai parameter obat dapat dipercaya, metode penetapan kadar
harus memenuhi kriteria, yaitu:
1. Selektif atau spesifik
Selektifitas metode adalah kemampuan suatu metode untuk
membedakan suatu obat dari metabolitnya, obat lain, dan kandungan
endogen cuplikan hayati. Selektifitas metode menempati prioritas utama
karena bentuk obat yang akan ditetapkan dalam cuplikan hayati adalah
dalam bentuk tak berubah atau metabolitnya. Pemilihan metode yang
memiliki selektifitas tinggi perlu mendapatkan perhatian khusus karena
hal ini berkaitan erat dengan rumus matematik yang diterapkan dalam
menghitung parameter farmakokinetik. Rumus matematik yang
diturunkan berdasarkan data pengukuran kadar obat tak berubah dalam
cuplikan hayati tertentu, berbeda dengan yang diturunkan dari data
kadar metabolitnya (Smith, 1981).
2.

Sensitif atau peka


Sensitivitas metode analisis yang digunakan berkaitan dengan
kadar terendah yang dapat diukur oleh metode analisis yang digunakan.
Dalam penelitian farmakokinetika, pemilihan metode analisis juga
tergantung pada tingkat sensitivitas yang dimiliki oleh metode tersebut.
Hal ini dapat dipahami mengingat dalam menghitung parameter
farmakokinetika suatu obat, diperlukan sederetan data kadar obat dari
waktu ke waktu, atau data dari kadar tertinggi sampai kadar terendah
dalam cuplikan hayati yang digunakan. Misalnya kita akan menghitung
harga AUC, maka kita memerlukan data kadar obat dari waktu nol

sampai tak terhingga. Karena itu, metode analisis yang dipilih harus
dapat meliput kadar obat tertinggi sampai terendah yang ada di dalam
3.

badan.
Ketelitian (accuracy) dan ketepatan (precision)
Ketelitian (accuracy) ditunjukan oleh kemampuan suatu metode
untuk memberikan hasil pengukuran sedekat mungkin dengan true
value (nilai sesungguhnya). Ketelitian suatu metode dapat dilihat dari
perbedaan antara harga penetapan kadar rata-rata dengan harga
sebenarnya atau konsentrasi yang diketahui. Jika tidak ada data nilai
sebenarnya atau nilai yang dianggap benar tersebut maka tidak mungkin
untuk menentukan berapa akurasi pengukuran tersebut.

Metode yang baik memberikan hasil recovery (perolehan


kembali) yang tinggi yaitu 75-90% atau lebih dan kesalahan sistematik
kurang dari 10%. Perolehan kembali merupakan tolok ukur efisiensi
analisis, sedangakan kesalahan sistematik merupakan tolok ukur
inakurasi penetapan kadar. Kesalahan ini dapat berupa kesalahan
konstan atau proporsional. Ketelitian berkaian dengan purata. Bila suatu
hasil itu teliti (accurate) berarti purata sama dengan harga sebenarnya,
walaupun penyebarannya lebar (luas). Dalam hubungan ini, adalah
lebih baik hasil yang kurang teliti tapi tepat daripada teliti namun
kurang tepat. Ketepatan menggambarkan hasil yang berulang-ulang
tidak mengalami perbedaan hasil (reprodusibilitas data). Dengan kata
lain,

ketepatan

berulang.

menunjukkan

Ketepatan

kedekatan

pengukuran

hasil-hasil

hendaknya

pengukuran

diperoleh

melalui

pengukuran ulang (replikasi) dari berbagai konsentrasi obat dan melalui


pengukuran ulang kurva konsentrasi standar yang disiapkan secara
terpisah pada hari yang sama.
Ketepatan berhubungan dengan penyebaran harga terhadapa
purata kecil meskipun karena kesalahan sistematik, purata berbeda agak
besar dengan harga sebenarnya. Kemudian dilakukan perhitungan
statistik yang sesuai dengan penyebaran data, seperti standar deviasi
atau koefisien variasi.
5

Kesalahan acak merupakan tolok ukur inprecision suatu analisis,


dan dapat bersifat positif atau negatif. Kesalahan acak identik dengan
variabilitas pengukuran dan dicerminkan oleh tetapan variasi. Metode
4.

yang baik memiliki nilai kesalahan acak kurang dari 10%.


Cepat
Kecepatan berkaitan dengan banyaknya cuplikan hayati yang

5.

harus dianalisis dalam suatu macam penelitian farmakokinetika


Efisien
Metode tidak terlalu panjang karena dikhawatirkan akan
menimbulkan suatu kesalahan sistematik (Sudjadi, 2008).
Dalam penetapan kadar obat dalam darah (cairan tubuh), metode
yang digunakan harus tepat, dan dalam pengerjaannya diperlukan suatu
ketelitian yang cukup tinggi agar diperoleh hasil yang akurat, sehingga
nantinya dapat menghindari kesalahan yang fatal. Dalam analisis ini,
kesalahan hasil tidak boleh lebih dari 10% (tergantung pula alat apa yang
digunakan dalam analisis) (Ritschel, 1976).
Cepat, simpel, dan sensitif telah membuat spektrofotometer UVVIS menjadi suatu metode analisis farmasetika yang sangat popular
untuk pengukuran secara kuantitatif obat dan metabolit dalam sampel
biologi. Salah satu alasan penting atas kepopulerannya karena
sensitivitas dari metode ini, yaitu 1-10 g/ml. Identifikasi kualitatif dari
obat atau metabolit menggunakan spektrofotometri UV-VIS berdasarkan
pada panjang gelombang maksimum yang diabsorpsi. Pada absorpsi
yang maksimum, sensitivitas optimum akan didapat. Karena perubahan
absorbansi minimal untuk sedikit perubahan panjang gelombang, error
diminimalkan. Hasilnya, akurasi dan presisi yang baik didapatkan
(Smith,1981).
Salah satu metode pengukuran kadar obat dalam analisis cairan

hayati adalah metode Bratton-Marshall. Metode ini didasarkan pada prinsip


kolorimetri,

yaitu

terbentuknya

senyawa-senyawa

berwarna

yang

intensitasnya dapat ditentukan secara spektrofotometri visibel dengan 3


tahap, yaitu pembentukan senyawa diazo, penghilangan sisa asam nitrit

dengan penambahan asam sulfamat, dan pengkoplingan garam diazoniumNED.


C. Tujuan Percobaan
Memahami langkah-langkah analisis obat dalam cairan hayati.
II.

ALAT DAN BAHAN


Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah labu takar 250mL, pipet
volume, tabung reaksi / flakon, spektrofotometer dan kuvet spektrofotometer,
sentrifuge, vortex, stopwatch.
Sedangkan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah asam
trikloroasetat (TCA 20%), Natrium nitrit 0,1%, amonium sulfamat 0,5%, N (1naftil) etilendiamiin 0,1%, sulfadiazin, antikoagulan dan darah (tikus).

III.

CARA KERJA
1. Penentuan kadar sulfadizain
A. Prosedur penetapan kadar bratton-marshall
1) Pembentukan larutan stok sulfadiazin
Sulfadiazin
Ditimbang secukupnya
Dilarutkan dalam NaOH 1 N
Diencerkan dengan aquadestad 100 ml
Larutan stok sulfadizain (25, 50, 100, 200, 400 g/mL)
2) Pembuatan kurva baku internal
Darah blangko (250 L) mengandung antikoagulan
Ditambah 250L larutan stok sulfadiazin pada kadar

25, 50, 75 g/mL


Dicampur homogen
Ditambahkan 2 mL TCA 5% dengan vortexing

Hasil
3) Pemrosesan sampel darah invivo
250L
mengandung
antikoagulan
darah
Ditambah
250L aquadest
Dicampur homogen
Ditambah 2 mL TCA 5% dengan vortexing

Hasil

poin 2 dan
3 15 menit, 2500 rpm
Campuran
Disentrifugasi
selama
Diambil supernatan 1,5mL dan diencerkan dengan

aquadest 2 mL
Ditambahkan 0,1mL NaNO 0,1% ke dalam tiap

tabung
Didiamkan selama 3 menit
Ditambahkan 0,2mL amonium sulfamat 0,5%
Didiamkan selama 2 menit
Ditambahkan 0,2mL larutan N(1-naftil) etilendiamin

0,1%
Dicampur babik-baik, didiamkan 5 menit di tempat

yang gelap
Dipindahkan larutan ke dalam kuvet
Dibaca intensitas warna pada spektrofotometer (545
nm) terhadap blangko darah sebagai kontrol yang
telah diproses dengan perlakuan yang sama

Hasil

B. Mencari waktu larutan sulfadizain dengan memberikan resapan tetap


Larutan sulfadiazin 100 dan 400 g/mL
Diukur resapan pada panjang gelombang 545 nm tiap 5
menit selama min 1 jam
Dibuat kurva resapan lawan waktu
Ditentukan waktu resapan tetap
Hasil

C. Menentukan panjang gelombang larutan sulfadiazin dengan resapan


maks
Larutan sulfadiazin 100 dan 400 g/mL

Diukur intensitas warna resapannya dari 500-580 nm

Hasil

D. Membuat kurva baku sulfadiazin


Larutan Sulfadiazin 25-400 g/mL

Diukur resapan pada panjang gelombang maksimum


Dibuat kurva antara resapan lawan kadar
Dibuat persamaan regresi linier
Dihitung nilai r2 dari plot tersebut

Hasil

IV.

PERHITUNGAN DAN HASIL PERCOBAAN


Pembuatan TCA 5%

=
= 2,5 ml ad 50 ml aquadest

Pembuatan ammonium sulfamat 0,5%

=
= 0,05 ml ad 10 ml aquadest

Pembuatan Natrium nitrit 0,1%

=
= 0,01 ml ad 10 ml aquadest

Pembuatan N EDTA 0,1%

= 0,05 ml ad 50 ml aquadest

Klp
I
II
III
IV
I
II
III
IV
I
II
III
IV

Data Pengamatan
Pengukuran Absorbansi Larutan Standar
a = 0,311
Konsentrasi
Absorbansi
5
10
0,282
25
0.374
50
0.368
Absorbansi
Kadar
75 Kadar
0.356
Diketahui
Terukur
0,490
213,095
0,118
-229,760
10 ppm
0,178
-158,3
0,056
-303,57
0,085
-26,90
0,101
-250
25 ppm
0,150
-191,66
0,066
-291,66
0,081
-273,80
0,162
-177,38
50 ppm
0,120
-227,3
0,077
-278,57

b = 0,00084
r = 0,56
y = 0,311 + 0,00084x
Recovery
(%)
2130,95
-2297,6
-1583,3
-3035,7
-107,6
-1000
-766,66
-1166,64
-547,6
-354,76
-454,7
-557,14

xx
-119,633

Kesalahan Acak
(KA)
SD=229,611
KA=-191,929 %

-190,055

SD=116,246
KA=-61,164 %

-239,26

SD=47,295
KA=-19,767%

Perhitungan Kesalahan Acak


Kesalahan Acak =
Kesalahan Acak 10 ppm

=
= -191,929 %

Kesalahan Acak 25 ppm

=
= -61,164 %

Kesalahan Acak 50 ppm

=
= -19,767 %

10

V.

PEMBAHASAN
Ketersediaan hayati digunakan untuk memberikan gambaran mengenai
keadaan dan kecepatan obat diabsorbsi dari bentuk sediaan dan digambarkan
dengan kurva kadar waktu setelah obat diminum dan berada pada jaringan
biologik atau larutan seperti darah dan urin. Cairan hayati yang digunakan
sebagai media obat adalah darah. Digunakan darah karena darah merupakan
tempat yang paling cepat dicapai dalam proses absorpsi dan distribusi, baik ke
jaringan target maupun ke organ eliminasi sehingga kadar obat di dalam
sirkulasi sitemik ini paling mencerminkan kadar obat sebenarnya di dalam
tubuh. Selain itu, bentuk obat pada umumnya tidak berubah, merupakan
senyawa yang memiliki aktivitas farmakologi. Karena itu, penetapan kadar obat
pada cuplikan darah akan memberikan suatu indikasi langsung berapa kadarnya
yang mencapai sirkulasi.
Obat yang digunakan adalah sulfadiazin yang dianalisis dalam darah
tikus. Sulfadiazin diabsorbsi secara cepat dengan pemberian secara oral. Obat ini
terdistribusi melalui jaringan-jaringan tubuh dan cairan tubuh termasuk pleural,
11

peritoneal, sinovial dan cairan okular. Metabolisme yang dialaminya adalah Nasetilasi. Lebih dari 15% sulfadiazin yang diberikan berada dalam bentuk tidak
aktif dalam darah, yaitu turunan N-asetil. Waktu paruh eliminasinya sekitar 6-17
jam. Ekskresinya berkisar antara 43% hingga 60% dalam bentuk utuh dan 15%
hingga 40% dalam bentuk metabolitnya (Galichet, 2005; Lacy et al., 2005).
Langkah pertama yang dilakukan yaitu mengambil darah melalui mata
tikus. Tikus dipegang dan dijepit bagian tengkuk dengan jari tangan. Setelah itu
tikus dikondisikan senyaman mungkin. Kemudian, mikrohematokrit digoreskan
pada medial canthus mata dibawah bola mata ke arah foramen opticus.
Kemudian mikrohematokrit diputar sampai melukai plexus, jika diputar 5x maka
harus dikembalikan 5x. Darah ditampung pada eppendorf yang telah diberi
EDTA untuk tujuan pengambilan plasma darah dan tanpa EDTA untuk tujuan
pengambilan serumnya, bisa juga dengan penambahan heparin sebagai
antikoagulan (Yokozawa, 2002).
Analisis ini diawali dengan membuat larutan standar sulfadiazin dalam
beberapa seri konsentrasi yaitu 5, 10, 25, 50, dan 75 g/ml. Pembuatan larutan
standar dilakukan dengan cara sulfadiazin yang telah ditimbang sesuai
perhitungan dilarutkan dalam NaOH 1N. Hal ini dilakukan karena sulfadiazin
bersifat tidak larut dalam air, tetapi mudah larut dalam NaOH 1N (Depkes RI,
1995). Berdasarkan sifat kelarutannya, maka larutan obat ini dibuat dengan cara
melarutkan terlebih dahulu sulfadiazin dalam NaOH dan kemudian diencerkan
dengan menggunakan aquadest hingga konsentrasi yang dikehendaki.
Darah (blanko) ditambahkan larutan standar sulfadiazin dan ditambahkan
TCA 5%. Setelah homogen, ditambahkan dengan 2,0 ml TCA 5% dengan
vortexing. TCA ialah senyawa yang mampu memprespitasi makromolekul
seperti protein, RNA, dan DNA. Penambahan TCA berfungsi untuk memberikan
suasana asam bagi reaksi diazotasi, sebagai donor proton untuk reaksi
selanjutnya, serta merupakan senyawa yang dapat menghentikan kerja enzim
yang dapat memetabolisme obat sekaligus akan menyebabkan denaturasi protein
plasma. TCA akan mengikat protein dan mengendapkannya saat sentrifugasi
sehingga keberadaan protein tidak mengganggu pembacaan absorbansi (Elisa,
2013).
Setelah larutan darah ditambahkan dengan larutan sulfadiazin dan TCA
5%, kemudian di vortex selama 2 menit untuk mempercepat proses
12

homogenisasi dan dilakukan sentrifugasi untuk menyempurnakan pengendapan.


Setelah disentrifus akan didapatkan supernatan yang berupa cairan bening.
Cairan bening yang diambil harus tanpa endapan.

Hal ini bertujuan untuk

mengambil obat yang bebas dari protein plasma karena obat yang terikat pada
protein plasma tidak akan aktif secara farmakologik sehingga tidak memiliki
efek terapeutik atau dengan kata lain akan dapat menyebabkan data hasil
pengamatan tidak valid (Anggraeni, 2010).
Supernatan yang didapat ditambah dengan akuades 2 mL kemudian
ditambahkan 0,1 ml NaNO 0,1% dan didiamkan selama 3 menit. Penambahan
NaNO ini bertujuan untuk menginisiasi reaksi diazotasi. Reaksi diazotasi yaitu
pembentukan garam diazonium yang sangat reaktif. NaNO akan membentuk
NaOH dan HNO2 dengan adanya H2O dalam darah. Lalu HNO2 terbentuk akan
membentuk ion nitronium dengan adanya keasaman dari TCA. HNO 2 bersifat
oksidator, dapat mengoksidasi senyawa kopling hasil reaksi antara garam
diazonium dengan N-1-naftil etilen diamin. Sehingga kelebihan HNO 2 harus
dihilangkan dengan cara menambahkan 0,2 ml ammonium sulfamat 0,5%.
Ammoium sulfamat merupakan suatu reduktor sehingga dapat bereaksi redoks
dengan HNO2 (Hart, 2003).
Setelah itu ditambahkan 0,2 ml N-(1-naftil) etilen diamin 0,1% sehingga
terbentuk senyawa kopling yang mempunyai ikatan rangkap terkonjugasi yang
lebih panjang. Lalu ditempatkan ditempat gelap agar pembentukan warna lebih
sempurna. Adanya cahaya dapat memutus ikatan konjugasinya sehingga
ikatannya menjadi lebih pendek dan tidak dapat dideteksi dengan UV-Vis.
Kemudian akan terbentuk warna ungu yang menandai adanya reaksi kopling.
Mekanisme reaksi diazotasi dan pembentukan senyawa kopling :

13

(Hart, 2003).
Setelah 5 menit, dilakukan pengukuran absorbansi panjang gelombang
545 nm. Panjang gelombang 545 nm dipilih karena memiliki sensitivitas tinggi,
dimana dengan perubahan sedikit kadar dapat menyebabkan perubahan
absorbansi yang besar (Whitehouse & Paul, 1979; Annino, 1964).
Berdasarkan pengukuran agar nilai-nilai parameter kinetik obat dapat
dipercaya, metode penetapan kadar harus memenuhi berbagai kriteria, yaitu
selektif atau spesifik, sensitif atau peka, teliti dan cepat. Data yang didapat
kemudian dihitung nilai kadar terukur, kesalahan acak, dan perolehan kembali.
Nilai perolehan kembali (recovery) merupakan parameter atau tolak ukur
efisiensi analisis yang menggambarkan akurasi (ketelitian) metode yang
digunakan. Ketelitian ditunjukan oleh kemampuan metode memberikan hasil
pengukuran sedekat mungkin dengan nilai sesungguhnya (true value). Ini dapat
diketahui dari harga perolehan kembali (recovery) yang dinyatakan sebagai %
error (harga sesungguhnya dikurangi harga uji dibagi harga sesungguhnya,
dikali 100%). Perolehan kembali merupakan tolok ukur efisiensi analisis
(Hakim, 2014; Pashladkk, 1986).
Setelah semua campuran dibaca absorbansinya, dibuat persamaan kurva
baku menggunakan regresi linier. Berdasarkan data yang diperoleh, maka
persamaan kurva bakunya adalah:
y = 0,311 + 0,00084x
Kemudian, dihitung nilai kadar terukur maing-masing larutan standar
dengan cara memasukkan nilai absorbansi ke dalam persamaan regresi linier
sehingga diperoleh nilai x yang menunjukkan kadar terukur. Hasil dari setiap
kelompok rata-rata bernilai negatif. Ini disebabkan karena absorbansi yang

14

terlalu kecil sehingga saat dimasukkan ke dalam persamaan regresi linier


menghasilkan nilai negatif.
Uji akurasi (ketepatan) dilakukan untuk mengetahui ketelitian metode
analisis atau kedekatan antara nilai terukur dengan nilai yang diterima. Akurasi
diukur sebagai banyaknya analit yang diperoleh kembali pada suatu pengukuran
yang dinyatakan sebagai banyaknya analit yang diperoleh kembali pada suatu
pengukuran yang dinyatakan dengan persen perolehan kembali (% recovery).
Nilai perolehan kembali menunjukkan efisiensi dari analisis yang dilakukan.
Semakin tinggi nilai recovery maka semakin tinggi akurasi dan efisiensi analisis.
Sampel yang tergolong trace analysist disyaratkan berada pada rentang 100%
20%. Rentang tersebut dianggap akurat karena menunjukkan metode tersebut
mempunyai ketepatan yang baik dengan tingkat kesesuaian nilai suatu
pengukuran yang sebanding dengan nilai sebenarnya (Hidayati et al., 2014).
Tabel 1. Nilai perolehan kembali sampel darah tikus.
Kadar

Recovery

Recovery

Recovery

Recovery

diketahui

kelompok 1

kelompok 2

kelompok 3

kelompok 4

(g/ml)
10
25
50

2130,95%
-107,6%
-547,6%

-2297,6%
-1000%
-354,76%

-1583,3%
-766,66%
-454,7%

-3035,7%
-1166,64%
-557,14%

Hasil diatas menunjukkan bahwa nilai recovery dari empat kelompok


sangat jauh dari rentang 100% 20%. Nilai recovery yang sangat rendah
(<80%) menunjukkan nilai akurasi dan efisiensi analisisnya rendah. Kesalahan
yang terjadi merupakan kesalahan sistematik karena berhubungan dengan
ketelitian (akurasi) hasil analisis sehingga mengakibatkan penyimpangan
tertentu dari rata-rata (mean). Beberapa faktor yang mempengaruhi kesalahan
sistematik yaitu kesalahan personil dan operasi, kesalahan alat dan bahan,
kesalahan metode (Gandjar, 2007). Namun, dalam praktikum kesalahan yang
lebih dominan terjadi adalah karena kesalahan alat spektrofotometer UV saat
pembacaan absorbansi. Dilihat dari beberapa bukti bahwa saat mengukur
absorbansi larutan standar sulfadiazin, alat spektrofotometer dapat bekerja
dengan baik yakni dengan memberikan hasil serapan antara 0,2 hingga 0,8
15

tetapi, berbeda dengan saat pembacaan absorbansi larutan sampel sulfadiazin


setiap kelompok. Absorbansi yang dihasilkan dari pengukuran semua kelompok
menghasilkan nilai absorbansi yang sangat kecil yaitu dibawah 0,2. Jikalau
kesalahan yang terjadi merupakan kesalahan pesonil dan operasi maupun
kesalahan metode, tentu hanya beberapa kelompok yang akan menghasilkan
nilai absorbansi yang rendah. Namun pada kenyataannya semua kelompok
mendapatkan hasil absorbansi yang rendah.
Beberapa cara untuk menghindari kesalahan pada parameter nilai
perolehan kembali (Anggraeni, 2010) :

Sentrifugasi yang dilakukan harus mampu mengendapkan protein plasma


dan tidak menyebabkan hemolisis pada sampel darah, yaitu pecahnya sel
darah merah sehingga komponen-komponen intrasel keluar tercampur
dengan plasma sehingga tidak mengganggu proses absorbansi sampel.

Saat pengambilan supernatant hasil sentrifugasi, jangan sampai endapan ikut


terambil.

Pengukuran sampel dan latutan pereaksi harus tepat.

Pemakaian alat yang baik dan benar sesuai prosedur kerja.

Mengkondisikan sampel dan pereaksi tidak terkontaminasi.


Selanjutnya dilakukan perhitungan kesalahan acak sebagai parameter

untuk ketepatan analisis yaitu presisi. Kesalahan acak atau disebut juga
kesalahan yang tidak tergantung (indeterminate error) merupakan kesalahan
yang nilainya tidak dapat diramalakan dan tidak ada aturan yang mengaturnya,
serta nilainya berfluktuasi. Kesalahan acak merupakan jenis kesalahan yang
selalu terjadi sebagai akibat adanaya sedikit variasi yang tidak dapat dikontrol
dalam pelaksanaan prosedur. Kesalahan acak dapat digambarkan sebagai kurva
normal ( Gaussian curve ) (Gandjar, 2007).

16

Gambar 1. Kurva kalibrasi larutan standar Sulfadiazin.


Ketepatan (precision) menggambarkan hasil yang berulang-ulang tidak
mengalami perbedaan hasil (reprodusibilitas data). Dengan kata lain, ketepatan
menunjukkan kedekatan hasil-hasil pengukuran berulang. Ketepatan pengukuran
hendaknya diperoleh melalui pengukuran ulang (replikasi) dari berbagai
konsentrasi obat dan melalui pengukuran ulang kurva konsentrasi standar yang
disiapkan secara terpisah pada hari yang sama. Nilai kesalahan acak yang
diperoleh masing-masing dari konsentrasi 10, 25 dan 50 g/ml adalah sebesar
-191,929 %; -61,164 %; -19,767 %. Hasil yang diperoleh dapat disimpulkan
bahwa pengukuran memiliki presisi yang baik sebab nilai kesalahan acak yang
baik adalah kurang dari 10% (Pasha dkk., 1986).
Dari perhitungan ketiga parameter di atas, didapatkan hasil yang jauh dari
persyaratan parameter yang baik. Hal ini disebabkan karena kesalahan sistematik
selama praktikum berlangsung, seperti kesalahan personil dan operasi, kesalahan
alat dan pereaksi serta kesalahan metode. Namun kesalahan paling dominan
dalam praktikum ini adalah kesalahan alat.

17

VI.

KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, dapat diperoleh kesimpulan sebagai
berikut :
Metode yang digunakan pada analisis obat dalam cairan hayati adalah

metode Bratton-Marshall.
Parameter yang digunakan dalam percobaan ini adalah recovery, kesalahan

sistemik, dan kesalahan acak.


Nilai perolehan kembali (recovery) yang didapatkan kelompok kami pada
kadar 10, 25, dan 50 g/ml berturut-turut sebesar -3035,7 %, -1166,64 %,
dan -557,14 %. Nilai kesalahan acak yang diperoleh masing-masing dari
konsentrasi 10, 25, dan 50 g/ml adalah -191,929 %; -61,164 % dan

-19,767%.
Analisis obat dalam darah belum dapat dikatakan baik karena belum
memenuhi parameter seperti

18

VII.

DAFTAR PUSTAKA
Anief, Moh. 1995. Perjalanan dan Nasib Obat dalam Badan. UGM. Yogyakarta
Annino, J. S. 1964. An Observation Concerning the Bratton-Marshall Diazo
Reaction in Sulfonamide-Free Urine. Massachussetts Memorial Hospital:
370-371.
Galichet, L. Y. 2005. Clarke's Analysis of Drugs and Poisons 3rd Edition. USA:
Pharmaceuutical Press.
Hidayati, Ervina Nur, Mohammad Alauhdin dan Agung Tri Prasetya. 2014.
Perbandingan Metode Destruksi Pada Analisis Pb dalam Rambut dengan
AAS. Indonesian Journal of Chemical Science, 3(1): 1-6.
Lacy, C. F., L. L. Armstrong, M. P. Goldman dan L. L. Lance. 2005. Drug
Information Handbook Edisi 13. USA: Lexi Comp Inc.
Munson James, W. 1991. Analisis Farmasi. Airlangga University Press.
Surabaya
Ritschel, W. A. 1976. Handbook of Basic Pharmacokinetics, 1st Edition. USA:
Drug Inteligence Publication Inc.
Shargel.
1985.
BiofarmasetikadanFarmakokinetikaTerapan.

Airlangga

University Press. Surabaya


Smith, R & Steavary. 1981. Text Book of Biopharmaceutics Analysis A
Description of Methods for The Determination of Drug in Biological
Fluid. Philadelphia: Les & Febiger.
Sudjadi. 2008. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Syujri, Y. 2002. Biofarmasetika.UII Press. Yogyakarta
Whitehouse, L. W., dan C. J. Paul. 1979. A Semi-automated Bratton-Marshall
Micromethod for Determining Acetylator Phenotype of Rabbit Using The
Abbott Biochromatic Analyzer-100. Journal Clin. Chem, 1(1): 533-536.
Yokozawa, T., T. Nakagawa dan K. Kitani, 2002, Antioxidative activity of green
tea polyphenol in colesterol-fed rats, Journal of Agriculture and Food
Chemistry, 50:3549-53

19