Anda di halaman 1dari 29

DAFTAR ISI

Materi 1 : Gereja Dan PAK Di Indonesia................................................................2


Materi 2 : Sekolah Dan PAK Di Indonesia...............................................................4
Materi 3 : PAK Dalam Konteks Masyarakat Indonesia............................................6
Materi 4 : Pemahaman PAK.....................................................................................8
Materi 5 : Realitas Pluralisme Masyarakat Indonesia ............................................10
Materi 6 : Pluralisme Masyarakat Di Indonesia......................................................12
Materi 7 : PAK Dalam Masyarakat Majemuk..........................................................14
Materi 8 : PAK Dan Keterbukaan............................................................................16
Materi 9 : Prinsip-Prinsip PAK Dalam Masyarakat Majemuk..................................18
Materi 10 : Sikap Yang Perlu Di Hindari Dalam Masyarakat Majemuk..................20
Materi 11 : Pendekatan PAK Dalam Masyarakat Majemuk....................................22
Materi 12 : Strategi PAK Dalam Masyarakat Majemuk...........................................24
Materi 13 : Pengembangan Model PAK..................................................................26
Daftar Pustaka........................................................................................................28

MATERI I : GEREJA DAN PAK DI INDONESIA


A PAK Dalam Konteks Gereja
1 Tugas Utama Gereja
Bagi gereja PAK adalah tugas utama dan harus mendapat tempat penting
dari seluruh pelayanannya. Gereja yang terlalu menekankan pada pelayanan
ibadah dan khotbah dan mengabaikan pengajaran akan gereja yang timpang.
2 Merupakan Usaha Sungguh-sungguh
Bagi gereja PAK bukanlah usaha sambilan atau kelas dua dalam pelayanan
jemaat, tetapi haruslah merupakan usaha sungguh-sungguh.
3 Berkesinambungan
Agar memperoleh hasil yang maksimal penyelenggaraan PAK haruslah
merupakan usaha berkesinambungan dan terus-menerus.
4 Ruang Lingkup PAK Dalam Gereja
Dalam tradisi gereja-gereja yang ada, pada umumnya pelayanan di dalam
gereja dibagi dalam komisi-komisi.
B PAK Dalam Konteks Sekolah
1 Kurikulum Pendidikan Agama Kristen
Keberhasilan PAK tidak hanya terletak pada tersusunnya materi kurikulum
yang baik, tetapi juga ditentukan oleh faktor-faktor lain. Jika kurikulum baik
tetapi mutu guru tidak baik maka hasilnya juga tidak akan baik. Kurikulum
baik, guru baik tetapi sarana dan prasarana tidak baik, hasilnyapun tidak
akan maksimal.
2 Mutu dan Kualitas Guru PAK
Kurangnya guru-guru agama Kristen menjadi hambatan utama, karna
formasih pengangkatan guru agama Kristen jauh dari kebutuhan-kebutuhan
yang ada. Banyak peserta didik yang beragama Kristen tidak mendapatkan
pendidikan agama di sekolah karna tidak tersedianya guru yag mengajar.
3 Sarana dan Prasarana Penyelenggaraan PAK di Sekolah
Keprihatinan lain adalah terbatasnya sarana dan prasarana penyelenggaraan
PAK di sekolah. Sering di temui bahwa sekolah tidak enyediakan sarana yang
memadai untuk penyelenggaraan PAK. Kadang guru harus mengajar PAK di
2

perpustakaan sekolh, atau di salah satu ruang kecil saja, bahkan ada yang
mengajar di gang yang terdapat di sekolah.
C PAK Dalam Konteks Masyarakat Indonesia
Pendidikan Agama Kristen di Sekolah haruslah mengarahkan kepada
keterbukaan. Ada empat prinsip utama dari Pendidikan Agama Kristen yaitu,
Learning to know, Learning to do, Learning to be, Learning to live together.1
D Tantangan dan pergumulan yang dihadapi oleh Gereja
Gereja sadar bahwa dunia ini kini terlibat pula dalam suatu krisis yang
hebat. Umat manusia seakan-akan berlomba-lomba untuk saling membinasakan.
Gereja seolah-olah kehilangan daya dan semangat untuk membarui dirinya
sendiri senantiasa. Seakan-akan tak sanggup lagi melahirkan anak-anak Tuhan
yang sejati, yang hidup dalam percaya dan yang mempengaruhi lingkungannya
karena kuasa Roh Kudus yang mendiami mereka itu. 2

MATERI II : SEKOLAH DAN PAK DI INDONESIA


A. Kurikulum Pendidikan Agama Kristen
PAK disekolah di Indonesia diselenggarakan dengan dasar hukum UUD 1945
BAB XI, pasal 29 no.2, UU no 4 tahun 1950 No 12 tahun 1954 BAB 9 ayat 1, kep.
Bersama Mentri Agama dan Menteri P & K tahun 1953, intruksi no 51 / 1967, kep.
Bersama Mendikbud dan Menag tahun 1985, dan GBHN 1983 serta 1993. 3
1 John Nainggolan, PAK dalam Masyarakat Majemuk, (BMI 2009) Hlm 14-30
2 E.G.Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen, (BPK 2014) Hlm 123
3 G.Soegiasman, B.A., Pelaksanaan dan persoalan pendidikan agama Kristen di
sekolah sekolah dalam persekutuan gereja gereja di Indonesia, Strategi
Pendidikan agama Kristen, ( Jakarta : BPK. Gn Mulia, 1989 h.49)
3

Dalam kurikulum, tujuan pengajaran PAK disebut kompetensi yang didasari oleh
nilai-nilai kristiani. PAK adalah mata pelajaran yang bermuatan ranah afektif dan
psikomotorik lebih besar daripada kognitif, sehingga melalui PAK, siswa mengalami
perjumpaan dengan Allah lewat Yesus Kristus, Sang sumber nilai-nilai yang
membawa perubahan dalam diri anak.
B. Kualitas dan Peranan Guru
Menjadi seorang guru harus memiliki kompetensi Pedagogi, Kepribadian,
Sosial dan Profesional. Secara khusus untuk Guru Pendidikan Agama Kristen ialah
Kepemimpinan. Seorang guru harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang
isi iman Kristen. Ia harus mengenal Alkitab dengan baik. Untuk itu ia sendiri perlu
dididik dan dilatih sebelum ia mengajar orang lain. 4 Untuk itu guru hendaknya
memahami prinsip-prinsip bimbingan dan menerapkannya dalam proses belajarmengajar.5
Guru yang baik adalah guru yang apat menimbulkan minat dan semangat
belajar siswa-siswa melalui mata pelajaran yang diajarkannya, Memiliki kecakapan
untuk memimpin,dapat menghubungkan materi pelajaran dengan pekerjaanpeerjaan praktis. Dalam hal hubungan siswa dengan guru, yaitu guru yang dicari
oleh siswa untuk memperoleh nasihat dan bantuan, mencari kontak dengan siswa di
luar kelas, memimpin kegiatan kelompok, memiliki minat dalam pelayanan sosial,
membuat kontak dengan orang tua siswa. Sikap professional, yaitu guru yang
ukarela untuk melakukan pekerjaan ekstra, dapat menyesuaikan diri dan sabar,
memiliki sikap yang konstruktif dan rasa tanggung jawab, berkemauan untuk melatih
4 Homrighausen, Enklaar. Pendidikan Agama Kristen ( Jakarta : BPK Gn, Mulia, 2015)
h. 165
5 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi (Jakarta: Rineka Cipta,
2010) Hal: 97-100
4

diri, memiliki semangat untuk memberikan layanan kepada siswa, sekolah dan
masyarakat.6
C. Sarana dan PraSarana Pendidikan
a. Alat pelajaran adalah alat alat yang di gunakan untuk merekam rekam bahan
pelajaran atau alat pelaksanaan kegiatan belajar.
b. Alat peraga adalah segala macam alat yang digunakan untuk meragakan
( mewujudkan, menjadikan terlihat ) objek materi pelajaran ( yang tidak tampat
mata atau tak terinra atau susah untuk diindra )
c. Media pendidikan adalah sarana pendidikan yang digunakan sebagai perantara
dalam proses pembelajaran.ada 3 jenis media yaitu audio, visual, dan audio
visual.7

MATERI 3 : PAK DALAM KONTEKS MASYARAKAT DI INDONESIA


A. PAK dan Heterogenitas
Pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan
membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan
ajaran

agamanya,

yang

dilaksanakan

sekurang-kurangnya

melalui

mata

pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. 8 Tujuannya untuk
6 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi (Jakarta: Rineka Cipta,
2010) h. 100-101
7 Suryosubroto, Manajemen Pendidikan di Sekolah ( Jakarta : Rineka Cipta, 2010 )
h.114
8 Peraturan Pemerintah No. 55 tahun 2007 (diunduh tgl 12 Maret; 18:37)
5

membina dan mendidik semua warganya mencapai tingkat kedewasaan dalam


iman, pengharapan, dan kasih, guna melaksanakan misinya di dunia ini sambil
menantikan kedatangan kedua dari Tuhan Yesus Kristus. 9 Sedangkan menurut
Robert Boiehlke, tujuan PAK agar peserta didik memahami dan menghayati Kasih
Allah dalam Yesus Kristus, yang dinyatakannya dalam kehidupan sehari-hari,
terhadap sesama dan lingkungannya. 10 Werner Graendorf pun mengatakan bahwa
Pendidikan Agama Kristen adalah proses pengajaran yang membimbing setiap
pribadi pada semua tingkat pertumbuhan melalui pengajaran masa kini kearah
pengenalan dan pengalaman rencana dan kehendak Allah melalui Kristus dalam
setiap aspek kehidupan, dan memperlengkapi mereka bagi pelayanan yang efektif. 11
Heteronegitas adalah keanekaragaman. 12 Keanekaragaman yang dimaksud
adalah agama, budaya, suku, maupun pekerjaan. Bangsa Indonesia merupakan
bangsa yang heterogen, hal itu dapat dibuktikan salah satunya dengan
keberagaman agama. Pendidikan Agama Kristen harus memainkan peranan yang
sangat penting karena generasi muda yang dididik baik di gereja maupun di sekolah
adalah generasi yang hidup dalam konteks heterogenitas.
B. Kemandirian Iman
9 Andar Ismail, Ajarlah mereka melakukan, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2006 ), Hal.
201
10 Robert Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama
Kristen (dari Yoh. Amos Comenius sampai perkembangan PAK di Indonesia), (Jakarta
: BPK Gunung Mulia, 2015), Hal. 802
11 Paulus lilik Kristanto, Prinsip dan praktek pendidikan agama Kristen, ( Yogyakarta
: ANDI, 2006 ), Hal. 4
12 KBBI
6

Pendidikan Agama Kristen harus menjadi salah satu usaha pembentukan


kemandirian iman, sehingga peserta didik mampu memiliki ketetapan iman maupun
ketetapan hati meskipun ia berada di lingkungan yang berbeda dengannya. Dengan
demikian, peserta didik akan mampu menempatkan dirinya di tengah-tengah
pergaulan sekolah dengan tidak kaku, namun tetap menjaga kemandirian imannya,
serta mampu menolak segala tren-tren kehidupan yang bertentangan dengan nilainilai iman yang dimilikinya.
C. Keterbukaan
Pendidikan Agama Kristen haruslah mampu membawa peserta didik pada
keterbukaan. Keterbukaan akan menghindarkan diri dari menjelek-jelekan agama
lain, tetapi melihat secara positif bahwa dalam agama lain pun terdapat ajaranajaran baik yang dapat diterapkan dalam kehidupan bersama. Keterbukaan
memungkinkan peserta didik dapat melihat orang lain bukan sebagai musuh tetapi
sebagai sahabat. Keterbukaan memungkinkan orang-orang Kristen dapat menjadi
berkat bagi sesamanya.13

MATERI 4 : PEMAHAMAN PAK

A. Pengertian Pendidikan Agama Kristen

13 Daniel Stefanus, Pendidikan Agama Kristen Kemajemukan, ( Bandung : BMI,


2009 ). Hal. 10
7

E.G.

Homrighausen mengatakan: Pendidikan Agama Kristen berpangkal

pada persekutuan umat Tuhan.14 Menurut Warner C. Graedorf PAK adalah Proses
pengajaran dan pembelajaran yang berdasarkan Alkitab, berpusat pada Kristus, dan
bergantung kepada Roh Kudus, yang membimbing setiap pribadi pada semua
tingkat pertumbuhan dalam setiap aspek kehidupan, dan melengkapi mereka bagi
pelayanan yang efektif, yang berpusat pada Kristus sang Guru Agung dan perintah
yang mendewasakan pada murid Menurut Martin Luther PAK adalah pendidikan
yang melibatkan warga jemaat untuk belajar teratur dan tertib agar semakin
menyadari dos mereka serta bersukacita dalam firman Yesus Kristus yang
memerdekakan. 15
Jadi, Pengertian pendidikan agama Kristen adalah kegiatan politis bersama
pada peziarah dalam waktu yang secara sengaja bersama mereka memberi
perhatian pada kegiatan Allah di masa kini kita, pada cerita komunitas iman Kristen,
dan visi kerajaan Allah, benih-benih yang telah hadir diantara kita. 16
B. Hakikat PAK
Hakikat PAK adalah usaha yang dilakukan secara kontinu dalam rangka
mengembangkan kemampuan para siswa agar dengan pertolongan Roh Kudus
dapat memahami dan menghayati kasih Allah didalam Yesus Kristus yang

14 Lih. E.G.Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,


1985), Hal. l12
15 Ibid, hlm. 2-4
16 Lih. Groome, Thomas H. Christian Religious Education-Pendidikan Agama Kristen.
Jakarta: BPK
8

dinyatakannya dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan


hidupnya.17
C. Ruang Lingkup PAK
Ruang lingkup PAK mencangkup semua bentuk pelayanan pendidikan dan
pembinaan Kristen untuk semua lapisan usia yang menjadi tanggung jawab dan di
selengkarakan oleh gereja secara teratur, bertujuan, dan terus menerus. Mata
pelajaran Agama Kristen di sekolah atau perguruan tinggi hanyalah sebagian kecil
dari PAK, namun menjangkau massa yang sngat besar. 18
D. Tujuan PAK
Hieronimus (345-420), PAK adalah pendidikan yang tujuannya mendidik jiwa
sehingga menjadi bait Tuhan haruslah kamu sempurna sama seperti Bapa-Mu yang
di surga adalah sempurna. Agustinus (345-430), PAK adalah pendidikan yang
bertujuan mengajar orang supaya melihat Allah dan hidup bahagia. John Calvin
(1509-1664), PAK bertujuan mendidik semua putra-putri gereja agar mereka, terlibat
dalam penelaahan Alkitab secara cerdas sebagaimana dengan bimbingan Roh
kudu, mengambil bagian dalam kebaktian dan memahami keesaan Gereja.
Diperlengkapi untuk memilih cara-cara mengejawantakan pengabdian diri kepada

17 Lih. Homrighausen. Hlm. 23-25


18 Robert P. Borong, BERAKAR DALAM Dia dan dibangun di atas Dia, Jakarta: BPK,
1998 Hal 108
9

Allah Bapa dan Yesus Kristus dalam pekerjaan sehari-hari serta hidup bertanggung
jawab dibawah kedaulatan Allah.19

MATERI 5 : REALITAS PLURALISME MASYARAKAT INDONESIA


A. Pluralisme Masyarakat Indonesia
Indonesia adalah negara kesatuan dan memegang teguh falsafah Bhineka
Tunggal Ika. Indonesia menyadari bahwa keanekaragaman ini dapat

menjadi

potensi kekuatan tetapi juga menjadi ancaman dan sumber malapetaka bangsa.
Untuk itulah persatuan dan kesatuan bangsa harus terus diperjuangkan dan tidak
bisa ditawar-tawar lagi. Ini adalah tugas seluruh bangsa Indonesia yang terdiri dari
berbagai golongan, suku, ras dan agama. 20
B. Kemajemukan Aliran Keagamaan
Indonesia kaya akan aliran-aliran keagamaan yang di akui oleh pemerintah
maupun lembaga-lembaga keagamaan. Islam misalnya ada NU, Muhammadyah,
dan lain-lain. di Kristen ada Protestan, Metodhist, Advent, Bala Keselamatan, Baptis,
Pentakosta, Injili dan Kharismatik. Supaya semua dapat rukun bersama dalam
wadah kesatuan RI, maka pemerintah pun mengatur pergaulan antar agama.
Semua itu dilakukan agar heterogenitas agama-agama di Indonesia dapat hidup
rukun dan damai.21
C. Sensitivitas Keagamaan
19 Drs.Paulus Lilik Kristianto, Prinsip Dan Praktik PAK, yoyakarta: Andi. 2006 Hal 2-4
20 John M. Nainggolan, PAK dalam Masyarakat Majemuk (Bandung : Bina Media
Informasi, 2009) hal.43-44
21 John M. Nainggolan, PAK dalam Masyarakat Majemuk (Bandung : Bina Media
Informasi, 2009) hal.44
10

Menurut Budiono, sensitif ialah peka. Adapun sensitivitas ialah perasaan


yang peka atau yang lekas timbul. 22 Oleh karena itu, rasa sensitif bisa muncul dalam
dua bentuk yaitu sensitif positif dan sensitif negatif. Oleh karenaitu, umat agama
apapun perlu kembali merenungkan kembali esensi agama-agama yang mereka
anut. Agama apapun itu baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu
tidak pernah mengajarkan kepada pemeluknya untuk membunuh umat lain yang
berbeda agama tanpa ada alasan yang jelas. Setiap agama tentunya punya nilainilai substantif berupa kasih sayang, toleransi, tolong menolong, dsb. Nilai-nilai
itulah yang harusnya diambil ketika seseorang hidup di tengah masyarakat yang
plural dan majemuk.
Menurut beberapa kajian, rasa sensitif (sensitivitas) beragama muncul
dikarenakan kembali pada dogma dan dengan oposisi biner, hitam-putih, salahbenar. Mereka yang termasuk hitam adalah mereka yang salah dan disebutnya
sebagai setan jahat, sementara yang putih adalah mereka yang benar termasuk
anak Tuhan.23 Rasa sensitif yang menyebabkan konflik dan kekerasan atas nama
agama atau Tuhan lebih disebabkan oleh karena pemeluk semua agama tidak
konsisten dengan keyakinannya sendiri. 24
Yang perlu diingat, bahwasannya setiap komunitas mempunyai keyakinan
tersendiri dalam beberapa hal tertentu. Hendaknya perbedaan tersebut tidak dapat
22 Budiono, Kamus Ilmiah Populer Internasional (Surabaya : Alumni, 2005) hal.591
23 A.M. Hendropriyono, Terorisme : Fundamentalis, Kristen, Yahudi, Islam (Jakarta :
Kompas Gramedia, 2009) hal.160
24 Abdul Munir Mulkhan, Dialektika Agama dan Kebudayaan Bagi Pembebasan,
dalam Dinamika Kebudayaan dan Problem kebangsaan (Yogyakarta : LeSFI, 2011)
hal.14
11

menjadi alasan untuk menebarkan kekerasan diantara satu kelompok terhadap


kelompok lain. Intinya, keyakinan kelompok tertentu harus dihargai dan dihormati. 25

MATERI 6 : PLURALISME MASYARAKAT DI INDONESIA


A. Keanekaragaman Gereja di Indonesia
Agama Kristen di Indonesia memiliki banyak denominasi gereja, mulai dari
GPI (Gereja Protestan di Indonesia), sampai pada gereja kharismatik. Gereja
Protestan di Indonesia merupakan kelanjutan dari Indische Kerk dengan tradisi
Kalvinis; mencakup Gereja Masehi Injili di Minahasa (1934), Gereja Protestan
Maluku (1935), Gereja Masehi Injili di Timor (1947), Gereja Toraja (1947), Gereja
Protestan di Indonesia Bahagian Barat (GPIB, 1948), Gereja Protestan di Sulawesi
Tenggara (1957), Gereja Protestan di Indonesia di Gorontalo (1965), Gereja
Protestan Indonesia di Donggala (1965), Gereja Protestan di Indonesia di
Buol/Tolitoli (1964), Gereja Kristen Luwuk Banggai (1966), Gereja Protestan
Indonesia di Irian Jaya (1985).26
Seiring waktu, jumlah gereja bertambah besar dan kekristenan Indonesia
semakin beraneka ragam. Penyebab ialah mekarnya beberapa gereja akibat unsur

25 Zuhairi Misrawi, Pandangan Muslim Moderat : Toleransi, Terorisme dan Oase


Perdamaian (Jakarta : Kompas Gramedia, 2010) hal.140
26 Heuken, Ensiklopedi Gereja: 2, C-G (Jakarta: Ikrar Mandiri Abadi, 2004), hal. 241.
12

kesukuan/kedaerahan, Penyebab lain bertambahnya gereja di Indonesia adalah


masuknya atau perluasan pengaruh denimonasi-denominasi jenis kebangunan.27
B. Keesaan Gereja di Indonesia
Keesaan gereja di Indonesia diwujudkan dalam gerakan oikumenis oleh
gereja-gereja di Indonesia.28 Pada tahun 1949, diusahakan pendirian DGI sebelum
Konferensi East Asia Christian Conference di Bangkok, namun tidak tercapai.
Selanjutnya pada tanggal 6-11 November 1949 diadakan Konperensi Persiapan
Dewan Geredja-geredja di Indonesia.29
Pada tanggal 21-28 Mei 1950 diadakan Konferensi Pembentukan Dewan
Gereja-gereja di Indonesia, bertempat di Sekolah Theologia Tinggi (sekarang STT
Jakarta). Salah satu agenda dalam konferensi tersebut adalah pembahasan tentang
Anggaran Dasar DGI. Pada tanggal 25 Mei, Anggaran Dasar DGI disetujui oleh
peserta konferensi dan tanggal tersebut ditetapkan sebagai tanggal berdirinya
Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) dalam sebuah "Manifes Pembentoekan
DGI. Pada tanggal 25 Mei 1950, DGI terbentuk. DGI bertujuan untuk pembentukan
gereja Kristen yang esa di Indonesia.30
C. Kesatuan Dalam Kepelbagaian
Indonesia merupakan bangsa yang terdiri atas berbagai suku bangsa, adat
istiadat dan agama; sehingga bangsa Indonesia merupakan masyarakat yang
majemuk. yang hidup tersebar dalam ribuan pulau. Kita patut bersyukur kepada
Tuhan, bahwa bangsa kita yang terdiri atas berbagai suku, bahasa, dan agama
27 Van Den End, Ragi Carita 2 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), hal. 357-365.
28 IBID, hal 385.
29 De Jonge, Menuju Keesaan Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2014), hal. 86.
30 http://id.wikipedia.org/wiki/Persekutuan_Gereja-gereja_di_Indonesia/.
13

tersebut, dapat bersatu dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. 31 Bhineka Tunggal
Ika adalah suatu semboyan nasional yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu.
Semboyan ini lahir sebagai refleksi atas realitas kemajemukan bangsa, sekaligus
sebagai jawaban agar kemajemukan itu tidak memicu disintegrasi, tetapi justru
menjadi tiang-tiang penyangga bagi hadirnya sebuah bangsa yang kukuh.

MATERI 7 : PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK


A. Dasar Hukum
Kebebasan beragama di negara Indonesia,mengacu pada UUD 1945.

Jika

kita merujuk pada pasal 28E ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi : Setiap orang bebas
memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan
pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal
di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali dan Pasal 28E ayat
(2) menyatakan. Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan,
menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya .
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang pendidikan
agama dan pendidikan keagamaan, disebutkan bahwa: pendidikan agama berfungsi
membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan
hubungan inter dan antar umat beragama (Pasal 2 ayat 1).
B. Dasar teologis
1. Allah sebagai pencipta dan manusia sebagai ciptaan

31 Weinata Sairin, Kerukunan Umat Beragama: Pilar Utama Kerukunan Berbangsa


(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), hal. 55-56.
14

Dasar teologis yang pertama adalah apa yang kita baca terutama dalam kitab
Kejadian pasal 1-11, tetapi juga dalam banyak bagian Alkitab yang lain, yaitu
pengakuan iman bahwa Allah adalah penciptaan alam semesta dan manusia
adalah makhluk ciptaan-Nya. Dalam peristiwa penciptaan, sesudah Allah
menciptakan Adam, Allah menempatkan manusia di taman Eden dan berfirman:
tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong
yang sepadan dengan dia (Kej 2:18).
2. Manusia sebagai makhluk fana yang dapat mati
Manusia sering kali disebut sebagai daging. Maksudnya, bukan pertama-tama
mengungkapkan aspek kejasmanian manusia, melainkan aspek kerapuhannya
sebagai mahluk fana yang dapat mati.
3. Umat Allah sebagai pelayan kebersamaan manusia
Pada akhir Injil Matius kita menjumpai pasal yang terkenal mengenai
penghakiman terakhir (Mat 25:31-46). Menarik sekali bahwa di sini Yesus
mengidentifikasi pelayanan kepada-Nya dengan pelayanan kepada mereka yang
tersisih dalam masyarakat.
4. Gambaran Kristus sebagai Hamba-Mesias
Dasar teologis yang keempat adalah bagaimana kita memandang Kristus.
Umumnya kita menganggap bahwa pembicaraan mengenai Kristus dalam dialog
antara agama selalu akan mengalami jalan buntu karena agama lain tidak dapat
menerima keilahian Kristus.
5. Makna keselamatan dalam kehidupan bersama dengan yang lain
Pokok keselamatan yang menjadi dasar teologis yang kelima

dalam

pembicaraan ini, ternyata adalah sesuatu yang sangat sensitive bagi orangorang Kristen di Indonesia dalam percakapan yang berkaitan dengan
kemajemukan agama. Keselamatan dalam Alkitab tidak bisa diartikan hanya

15

mutlak bersifat partikularistik. Didalam Alkitab juga jelas bahwa keselamatan juga
mengandung makna universalistik.32

MATERI 8 : PAK DAN KETERBUKAAN


Prinsip pengajaran Kristen adalah setiap orang beriman harus fanatik akan
imannya tapi tidak boleh fanatisme, karena fanatisme adalah salah satu sikap buruk
dalam keagamaan. Peserta didik harus diajarkan agar mereka sungguh-sungguh
berketetapan hati, setia ssampai akhir terhadap imannya terhadap Yesus Kristus. iman
dan keselamatan yang telah diterima dari Yesus Kristus tidak dapat ditukarkan dengan
apapun di dunia ini. Namun dipihak lain, iman itu harus didemonstrasikan lewat hidup
pribadi kepada siapa pun. Kasih Yesus Kristus melampaui batas-batas agama dan
batas-batas manusiawi. Orang beriman harus mampu bergaul dengan semua penganut
agama lain dan bekerja sama dengan mereka untuk membangun kesejahteraan umat
manusia tanpa kecuali. Karena Kristus sendiripun mengasihi semua orang, bahkan
mengasihi dunia dan segala isinya.33
PAK Dalam Konteks Kekristenan
1. PAK Bukan Untuk Mengajarkan Suatu Doktrin Gereja
Keberadaan siswa disekolah berasal dari berbagai organisasi dan aliran gereja. hal
tersebut adalah kenyataan yang harus diterima dan harus diakui oleh setiap guru
PAK. Oleh karena itu, tidak boleh ada tendensi yang dilakukan guru PAK
32 Daniel stefanus, PAK Kemajemukan, (Bandung: Bina Media Informasi, 2009). Hlm 40-50
33 Hlm. 67-68
16

mengajarkan doktrin gerejannya kepada peserta didik. Isi pengajaran harus


bertujuan mengajarkan iman Kristen yang dinyatakan di dalam Alkitab. Kurikulum
PAK yang ada saat ini sudah disusun sedemikian rupa, sehingga materi-materi
pengajaran lebih menekankan kepada ajaran-ajaran pokok organisasinya. Seorang
guru PAK hendaknya melepaskan organisasinya, alirannya dan dengan tulus
berpusat kepada pokok-pokok pengajaran iman Kristen. Guru PAK tidak boleh
membeda-bedakan gereja atau membenarkan gerejannya sendiri sebagai gereja
yang terbaik dan gereja lain kurang baik.
2. PAK Tidak Melakukan Fungsi Gerejawi
Dalam gereja Kristen ada fungsi-fungsi pelayanan yang hanya dapat dilakukan oleh
gereja dan tidak lazim dilakukan oleh pelayanan-pelayan di luar gereja. hal ini
dimaksudkan adalah untuk menjaga ketertiban dan kesakralan upacara Kristen
tersebut dan menghindarkan kekacauan dalam melaksanakan upacara-upacara
keagamaan. Perjamuan Kudus dan Baptisan adalah dua sakramen yang diakui oleh
gereja. pelaksanaannya dilakukan oleh gereja, bukan oleh pribadi-pribadi sekalipun
ia dinyatakan sebagai guru agama Kristen. Seorang guru PAK yang mengajar
disekolah tidak memiliki wewenang untuk melakukan Perjamuan Kudus dan
Baptisan Kudus dalam kapasitasnya sebagai guru. Ia harus mengarahkan peserta
didik untuk ambil bagian digereja masing-masing. Tugas guru PAK adalah memberi
pengajaran tentang arti dan makna Perjamuan Kudus dan Baptisan sesuai dengan
firman Allah, sehingga peserta didik dapat mengerti arti sebenarnya.
3. Menghargai Keanekaragaman Gereja
Guru PAK di sekolah harus menghargai dan menjunjung tinggi keanekaragaman
gereja dari setiap peserta didik. Tidak boleh ada usaha sengaja ataupun tidak

17

sengaja untuk mempengaruhi peserta didik untuk masuk ke dalam satu organisasi
gereja tertentu, termasuk gereja guru yang bersangkutan. 34

MATERI 9 : PRINSIP-PRINSIP PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK


A. PAK dalam konteks masyarakat majemuk (Indonesia)
Ada dua hal yang harus diperhatikan PAK dalam kemajemukan mastarakat :
1. Kemandirian Iman
PAK haruslah menjadi salah satu usaha pembentukan kemandirian iman. Bahwa
peserta didik mampu memiliki ketetapan iman maupun ketetapan hati meskipun
di lingkungan yang amat berbeda. Artinya disini PAK menjadi sarana untama
dalam pembentukan iman kristiani, mampu mengokohkan iman kristiani agar
tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal yang tidak baik yang ada di lungkungan
sekitar.
2. Keterbukaan
Pendidikan Agama Kristen haruslah mengajarkan kepada peserta didik pada
keterbukaan. Keterbukaan akan membawa diri dari menjelek-jelekkan agama
lain tetapi melihat secara positif bahwa dalam agama lain pun terdapat ajaranajaran baik yang dapat diterapkan dalam kehidupan bersama. PAK mengajarkan
bagaimana bersikap terbuka bagi masyarakat, artinya kita tidak perlu menutup
diri dari lingkungan bahkan kita tidak boleh memndang remeh agama lain dan
menganggap agama kitalah yang paling benar. Melainkan sebaliknya, kita harus
ramah dan menerima keberadaan agama lain, dan menghargai ajarran-ajaran
mereka. Mungkin ajaran-ajran yang baik dalam agama mereka dapat kita jadikan
contoh untuk dapat diterapkan dalam kehidupan bersama.

34 Hlm. 64-67
18

B. Prinsip Utama PAK Dalam Masyarakat Majemuk


Untuk menerapkan prinsip-prinsip PAK ini, maka ada beberapa hal yang harus
diperhatikan:
Pendekatan yang cocok kepada orang yang berbeda agama adalah pendekatan
dialogis. Dialog beranjak dari anggapan bahwa tiap-tiap agama mempunyai tuntutan
mutlak yang tidak dapat dipungkiri. Pendekatan dialog bukan berarti penyelarasan
semua keyakinan melainkan pengakuan bahwa tiap-tiap orang beragama memiliki
keyakinan yang teguh dan mutlak. Selain itu, keyakinan-keyakinan itu berbeda.
Dalam berdialog dengan orang yang berbeda, dibutuhkan kematangan ego yang
memadai supaya lawan bicara tidak merasa kalau mereka di sesuaikan.
- Sikap yang perlu dihindari
Hidup ditengah orang yang berbeda agama membuat kita untuk lebih peka dengan
sikap hidup sehari-hari. Supaya tidak merasa di asingkan maka sikap yang perlu
dihindari adalah, Fanatisme, Suka membeda-bedakan, Egois, Memutar lagu rohani
dengan volume yang sangat besar, Mengejek agama lain, Tidak menerima
pemberian orang lain, Sensitivisme.
- Sikap yang harus dilakukan
Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan supaya orang yang berbeda dengan kita
bisa menerima perbedaan dan membuat kita nyaman adalah Saling terbuka,
Menerima perbedaan, Saling mengingatkan untuk kebaikan, Menerima teguran,
Saling berbagi, Suka memberi, Tegur sapa, Saling membantu.

MATERI 10 : SIKAP YANG PERLU DI HINDARI DALAM MASYARAKAT MAJEMUK


A. LATAR BELAKANG PLURALISME DI INDONESIA

19

Pluralisme adalah sikap menghargai, menerima dan memandang agama lain


sebagai agama yang baik dan memiliki jalan keselamatan. Misalnya agama
Kristen mengakui keberadaan agama lain tetapi keselamatan hanya ada di
dalam Yesus Kristus.
B. ARAH PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK
Berkaitan dengan konteks masyarakat Indonesia yang memiliki heterogenitas,
baik agama,suku, dan golongan,maka perlu dikaji ulang arah PAK dalam
masyarakat majemuk. Diharapkan dengan pengajaran PAK dalam konteks
masyarakat majemuk,peserta didik mampu hadir dan mempraktekkan imannya
ditengah-tengah lingkungannya tanpa mengkompromikan dogma iman yang
dimilikinya.
1 Belajar Hidup dalam Perbedaan
Pengembangan sikap toleran,empati,dan simpati haruslah terus dibangun
sebagai pra syarat eksistensi keragaman agama yang ada. Agama-agama
haruslah dapat duduk bersama-sama untuk berdialog tentang apa yang
dilakukan bersama.
2 Membangun Saling Percaya
Membangun saling percaya adalah modal penting dalam membangun suatu
masyarakat yang heterogenitas. Jika tidak maka akan terjadi berbagai konlik
dalam masyarakat.
3 Memelihara Saling Pengertian
Saling pengertian adalah kesadaran bahwa nilai-nilai yang di anut oleh orang
lain memang berbeda,tetapi mungkin dapat saling melengkapi dengan nilainilai yang kita anut serta member kontribusi terhadap hubungan yang
harmonis.
4 Sikap Saling Menghargai

20

Saling menghargai adalah sifat dasariah manusia. Setiap manusia haruslah


dihargai sebagaimana ia ada.Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak
menghargai orang lain.
C. SIKAP YANG PERLU DI HINDARI DAN PERLU DILAKUKAN
Pendekatan yang cocok kepada orang yang berbeda agama adalah pendekatan
dialogis. Dalam berdialog dengan orang yang berbeda, dibutuhkan kematangan
ego yang memadai supaya lawan bicara tidak merasa kalau mereka di
sesuaikan.

1 Sikap yang perlu dihindari


Hidup ditengah orang yang berbeda agama membuat kita untuk lebih peka
dengan sikap hidup sehari-hari. Supaya tidak merasa di asingkan maka sikap
yang perlu dihindari adalah: Fanatisme, Suka membeda-bedakan, Egois
2 Sikap yang harus dilakukan
Saling terbuka, Menerima perbedaan, Saling mengingatkan untuk kebaikan,
Menerima teguran, Saling berbagi, Suka memberi, Tegur sapa, Saling membantu

MATERI 11 : PENDEKATAN PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK

A. Pendekatan PAK dalam masyarakat majemuk


Teolog lainnya, Daniel L Migliore, mencoba melihat secara spesifik
respons Kristen terhadap orang-orang yang iman dan agamanya berbeda.
Setiap cara dan pandangan ini di lihat berdasarkan client tersendiri mengenai
finalitas penyataan Allah dalam Yesus Kristus. Penegasan Kristen terhadap
finalitas Kristus sebagai manapun, untuk banyak orang Kristen, merupakan
pokok iman mereka yang tidak dapat di negosiasika Pendekatan yang cocok
21

kepada orang yang berbeda agama adalah pendekatan dialogis. Dialog beranjak
dari anggapan bahwa tiap-tiap agama mempunyai tuntutan mutlak yang tidak
dapat dipungkiri. Pendekatan dialog bukan berarti penyelarasan semua
keyakinan melainkan pengakuan bahwa tiap-tiap orang beragama memiliki
keyakinan yang teguh dan mutlak
B. Model PAK yang Multikutur dan Inklusif
Pendidikan multicultural dapat dirumuskan sebagai wujud kesadaran tentang
keanekaragaman cultural, hak-hak asasi manusia, serta pengurangan atau
penghapusan berbagai jenis prasangka untuk membangun suatu kehidupan
masyarakat yang adil dan maju. Pendidikan multicultural juga dapat diartikan
strategi/perencanaan untuk mengembangkan kesadaran akan kebanggaan
seseorang terhadap bangsanya. Di Indonesia pendidikan multicultural relative
baru dikenal sebagai suatu pendekatan yang dianggap lebih sesuai bagi
masyarakat Indonesia yang hetrogen, plural, terlebih pada masa otonomi dan
desentralisasi yang diberlakukan sejak 1999.
Pengertian inklusif digunakan sebagai sebuah pendekatan untuk membangun
dan mengembangkan sebuah lingkungan yang semakin terbuka; mengajak
masuk dan mengikutsertakan semua orang dengan berbagai perbedaan latar
belakang, karakteristik, kemampuan, status, kondisi, etnik, budaya dan lainnya.
C. Contoh Model PAK yang multikultur dan inklusif
Untuk mendisain Pendidikan multicultural secara praktis memang tidak mudah.
Akan tetapi untuk mewujudkan pendidikan multicultural maka perlu diperhatikan
dua model, Dial dan Toleransi.
D. Contoh PAK yang Inklusif
Untuk membebaskan murid dari sekat-sekat primordial, pendidikan agama harus
inklusif. Metode dialogis dan tidak indoktrinatif, mengajak murid untuk

22

merefleksikan realitas kemajemukan dan menggali nilai-nilai spritualitas sosial.


Materi pelajaran di sekolah harus bernuansa inklusif.
Contoh PAK yang inklusif di sekolah yaitu murid dibiasakan pertanyaan
Bagaimana menjadi sesama bagi orang lain?, bukan selalu bertanya Siapakah
sesamaku?. Dalam hal ini, Kitab Suci dan tradisi religius kaya dalam
memberikan motivasi bagaimana hidup sebagai sesama dan menjadi sesama
bagi orang lain.

MATERI 12 : STRATEGI PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK


A. Konsep Dasar Perencanaan
Menurut Ulbert Silalahi, prencanaan merupakan kegiatan menetapkan tujuan
serta merumuskan dan mengatur pendayagunaan manusia, informasi, finansial,
metode dan waktu untuk memaksimalisasi efisiensi dan efektivitas pencapaian
tujuan.35
B. Konsep Strategi Pembelajaran
Berkaitan dengan bagaimana merencanakan strategi pembelajaran Pendidikan
Agama Kristen dalam masyarakat majemuk, penting mengerti apa itu strategi.
Jadi, strategi pembelajaran diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang
rangkaian kegiatan yang di desain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
C. Konsep Strategi Pembelajaran PAK Dalam Masyarakat Majemuk
1) Strategi Pembelajaran Bersifat Terbuka Terhadap Perubahan

36

35 Supardi & Darwyan syah. Perencanaan Pendidikan. (Jakarta: Diadit Media). Hal:
2
36 Wina Sanjaya. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pembelajaran.
(Jakarta: Kencana. 2006). h: 126
23

Pendidikan Agama Kristen harus mampu bersifat terbuka kepada perubahan


dan

kebutuhan

peserta

didik

yang

yang

hidup

berpadanan

atau

berdampingan dengan orang lain, sehingga dari bekal pendidikan itu peserta
didik mampu memahami dan menempatkan diri secara realistis, kritis, dan
kreatif dalam setiap situasi yang dihadapi. Pendidikan Agama Kristen tidak
boleh membawa peserta didik menjadi introvert melainkan ekstrovert, artinya
mampu menempatkan dirinya sebagai orang percaya ditengah-tengah
lingkungannya.37
2) Strategi Pembelajran learning to life together (hidup dalam kebersamaan)
Strategi ini mengajarkan agar peserta didik membangun saling percaya. Jika
tidak maka akan terjadi konflik dalam masyarakat. Pendidikan Agama Kristen
bertujuan untuk mendorong agar peserta didik dapat menghayati gaya hidup
Kristiani melalui keterlibatannya dalam berbagai kehidupan di sekolah, di
keluarga ataupun di lingkungannya.
3) Strategi Pembelajaran Melalui Penelaan Firman Tuhan
Pendidikan Agama Kristen hendaknya dapat membawa peserta didik untuk
memahami Firman Allah

dan menjadikan Firman itu sebagai pedoman

kehidupan terhadap Allah, sesama, maupun diri sendiri. 38 Melalui penelaan


firman Tuhan, siswa diajar agar memiliki kesadaran saling pengertian yang
menyetujui perbedaan.
4) Strategi Pembelajaran ekspositori
Strategi pembelajaran ekspositori merupakan strategi yang digunakan
dengan menganggap guru berfungsi sebagai penyampai informasi..
5) Strategi pembelajaran kelompok

37 John M. Nainggolan. PAK dalam masyarakat Majemuk (Jakarta: BMI) h. 78


38 Ibid, Hal. 77
24

Bentuk strategi pembelajaran kelompok ini siswa diajar oleh seorang guru
atau beberapa guruStrategi ini membentuk pola, tatanan dan nilai-nilai
kebersamaan untuk saling membutuhkan sehingga terjadi kerja sama yang
baik antara pribadi siswa dan siswa yang lain.

MATERI 13 : PENGEMBANGAN MODEL PAK

A. Model PAK Multikultural


Pendidikan multikultural merupakan upaya kolektif suatu masyarakat
majemuk untuk mengelola berbagai prasangka sosial yang ada dengan
cara-cara yang baik. Tujuannya menciptakan hubungan lebih serasi dan
kreatif di antara berbagai golongan penduduk dalam masyarakat. Melalui
pendidikan multikultural, peserta didik yang datang dari berbagai golongan
penduduk dibimbing untuk saling mengenal cara hidup mereka, adat
istiadat, kebiasaan, memahami aspirasi-aspirasi mereka serta untuk
mengakui dan menghormati bahwa tiap golongan memiliki hak untuk
menyatakan diri menurut cara masing-masing. Dalam konteks masyarakat
Indonesia, misalnya, melalui pendidikan multikultural peserta didik dapat
dibimbing untuk memahami makna Bhinneka Tunggal Ika dan untuk
mengamalkan semboyan ini dalam kehidupan nyata sehari-hari.
25

Pendidikan multikultural perlu diberikan sejak dini di lingkup


keluarga. Sejak kecil anak perlu dibiasakan mengakui dan menghargai
perbedaan agama, ideologi, budaya, dan segala perbedaaan lain.
Kuncinya

ada

pada

komunikasi

atau

dialog

yang

perlu

terus

dikembangkan oleh orang tua. Anak diberi ruang untuk mengekspresikan


dan mendiskusikan segala perbedaan yang ada. Untuk mencapai itu,
orang tua harus mampu menghilangkan otoritas tunggal. Salah satu
contoh penerapan pendidikan multikultural dikeluarga adalah mengajak
anak menonton mimbar agama lain. Dari situ anak diajak untuk memahami
nilai-nilai yang sama atau yang berbeda lalu didiskusikan.
B. Model PAK Inklusif
Pendidikan yang inklusif merupakan pendidikan yang mengajarkan
kepada siswa bahwa mereka harus saling menghargai satu sama lain dalam
perbedaan yang ada baik dari segi suku, ras, bahasa dan lain sebagainya.
Pendidikan inklusif merupakan pengajaran agama yang lebih menekankan pada
nilai-nilai pluralisme dan kebersamaan.
Menurut Haidar Bagir, Pendidikan agama khususnya di sekolah dinilai
gagal. Memang, syiar keagamaan tumbuh begitu pesat sedikitnya dua dekade
belakagan ini. Entah dalam cara berpakaian, bertambahnya rumah-rumah
ibadah termasuk makin besarnya minat orang terhadap berbagai barang
konsumsidan aksesoris yang menampilkan citra sebuah agama. Namun,
kenyataannya negeri kita yang telah mengalami reformasi politik masih
bertengger dalam jajaran negara yang korup didunia. Ada beberapa hal yang
menyebabkan pendidikan agama di sekolah dinilai telah gagal, yaitu sebagai
26

berikut: pendidikan agama kita selama ini ditengarai masih berpusat pada hal-hal
yang bersifat simbolik, ritualistik dan legal formalistik, pendidikan agama kita
cenderung bertumpu pada penggarapan ranah kognitif atau paling banter hingga
ranah afektif, dan pendidikan agama di sekolah selama ini tidak berhasil
meningkatkan etika dan moralitas peserta didik .
DAFTAR PUSTAKA

Boelkhe, R. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama


Kristen : dari Plato sampai Ignatius Loyola. Jakarta : BPK. Gn. Mulia, 2015.
Boelkhe, R. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama : dari
Yohanes Amos Comenius sampai Perkembangan PAK di Indonesia. Jakarta :
BPK. Gn. Mulia, 2015.
Homrighausen, E.G. & Enklaar, I. H. Pendidikan Agama Kristen. Jakarta : BPK
Gn. Mulia. 2015
Suryosubroto. Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta. 2010
Kristanto Paulus, Prinsip dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, Yogyakarta ANDI,
2006.
Stefanus Daniel, E.G.Homrighausen. Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK
Gunung Mulia. 1985.
Groome, Thomas H. Christian Religious Education-Pendidikan Agama Kristen.
Jakarta: BPK Gn. Mulia.
27

Robert P. Borong. Berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia. Jakarta: BPK.
1998
Pendidikan Agama Kristen Kemajemukan, Bandung. BMI, 2009.
John M. Nainggolan. PAK dalam Masyarakat Majemuk. Bandung : Bina Media
Informasi. 2009.
Budiono, Kamus Ilmiah Populer Internasional. Surabaya : Alumni. 2005.
A.M. Hendropriyono. Terorisme : Fundamentalis, Kristen, Yahudi, Islam.Jakarta :
Kompas Gramedia. 2009.
Abdul Munir Mulkhan. Dialektika Agama dan Kebudayaan Bagi Pembebasan,
dalam Dinamika Kebudayaan dan Problem Kebangsaan. Yogyakarta : LeSFI.
2011.
Zuhairi Misrawi. Pandangan Muslim Moderat : Toleransi, Terorisme dan Oase
Perdamaian. Jakarta : Kompas Gramedia. 2010.
Heuken. 2004. Ensiklopedi Gereja Jilid 2: C-G. Jakarta: Ikrar Mandiri Abadi.
Van Den End. 2009. Ragi Carita 2. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
De Jonge. 2014. Menuju Keesaan Gereja: Sejarah Dokumen-dokumen dan Tematema Gerakan Oikumenis. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Sairin, Weinata. 2006. Kerukunan Umat Beragama: Pilar Utama Kerukunan
Berbangsa. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Akira. Menggali Nilai-nilai Budi Pekerti Dalam Keterbukaan. 2011.
Ismael, Andar. 2010. Ajarlah Mereka Melakukan. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Hadinoto, N.K. Atmadja. 2011. Dialog dan Edukasi. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Stefanus, Daniel. 2009. Pendidikan Agama Kristen Kemajemukan. Bandung: BMI.

28

Damarputera, Eka. 2003. Iman dan tantangan Zaman. Jakarta : BPK Gunung Mulia.
http://id.wikipedia.org/wiki/Persekutuan_Gereja-gereja_di_Indonesia/.

29