Anda di halaman 1dari 22

ARTI SABAR DALAM ALQURAN DAN HADITS

"Dalam diri kita terkadang begitu sulit untuk bersabar untuk suatu hal, entah itu
terkena musibah atau sedang di uji oleh-Nya, banyak sekali Ayat-ayat Al-Qur'an
dan Hadist Rasulullah S.A.W yang menjelaskan tentang sabar, berikut ada sedikit
urain tentang makna sabar, semoga artikel ini dapat menambah kesabaran kita dan
bermanfaat bagi kita semua. Aamiin..."
Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan
perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya.
Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu'min:
Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui)
bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa
musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal
terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim)
Sekilas Tentang Hadits
Hadits ini merupakan hadits shahih dengan sanad sebagaimana di atas, melalui
jalur Tsabit dari Abdurrahman bin Abi Laila, dari Suhaib dari Rasulullah SAW,
diriwayatkan oleh :
- Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Zuhud wa Al-Raqa'iq, Bab Al-Mu'min
Amruhu Kulluhu Khair, hadits no 2999.
- Imam Ahmad bin Hambal dalam empat tempat dalam Musnadnya, yaitu hadits
no 18455 , 18360 , 23406 & 23412.
- Diriwayatkan juga oleh Imam al- Darimi, dalam Sunannya, Kitab Al- Riqaq,
Bab Al-Mu'min Yu'jaru Fi Kulli Syai', hadits no 2777.
Makna Hadits Secara Umum

Hadits singkat ini memiliki makna yang luas sekaligus memberikan definisi
mengenai sifat dan karakter orang yang beriman. Setiap orang yang beriman
digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang memiliki pesona, yang
digambarkan dengan istilah 'ajaban' ( ) . Karena sifat dan karakter ini akan
mempesona siapa saja.
Kemudian Rasulullah SAW menggambarkan bahwa pesona tersebut berpangkal
dari adanya positif thinking setiap mu'min. Dimana ia memandang segala
persoalannya dari sudut pandang positif, dan bukan dari sudut nagatifnya.
Sebagai contoh, ketika ia mendapatkan kebaikan, kebahagian, rasa bahagia,
kesenangan dan lain sebagainya, ia akan refleksikan dalam bentuk penysukuran
terhadap Allah SWT. Karena ia tahu dan faham bahwa hal tersebut merupakan
anugerah Allah yang diberikan kepada dirinya. Dan tidaklah Allah memberikan
sesuatu kepadanya melainkan pasti sesuatu tersebut adalah positif baginya.
Sebaliknya, jika ia mendapatkan suatu musibah, bencana, rasa duka, sedih,
kemalangan dan hal- hal negatif lainnya, ia akan bersabar. Karena ia meyakini
bahwa hal tersebut merupakan pemberian sekaligus cobaan bagi dirinya yang
pasti memiliki rahasia kebaikan di dalamnya. Sehingga refleksinya adalah dengan
bersabar dan mengembalikan semuanya kepada Allah SWT.
Urgensi Kesabaran
Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa kepada Allah
SWT. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran merupakan
setengahnya keimanan. Sabar memiliki kaitan yang tidak mungkin dipisahkan dari
keimanan: Kaitan antara sabar dengan iman, adalah seperti kepala dengan
jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana juga
tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. Oleh karena itulah Rasulullah SAW
menggambarkan tentang ciri dan keutamaan orang yang beriman sebagaimana
hadits di atas.

Namun kesabaran adalah bukan semata-mata memiliki pengertian "nrimo",


ketidak mampuan dan identik dengan ketertindasan. Sabar sesungguhnya
memiliki dimensi yang lebih pada pengalahan hawa nafsu yang terdapat dalam
jiwa insan. Dalam berjihad, sabar diimplementasikan dengan melawan hawa nafsu
yang menginginkan agar dirinya duduk dengan santai dan tenang di rumah. Justru
ketika ia berdiam diri itulah, sesungguhnya ia belum dapat bersabar melawan
tantangan dan memenuhi panggilan ilahi.
Sabar juga memiliki dimensi untuk merubah sebuah kondisi, baik yang bersifat
pribadi maupun sosial, menuju perbaikan agar lebih baik dan baik lagi. Bahkan
seseorang dikatakan dapat diakatakan tidak sabar, jika ia menerima kondisi buruk,
pasrah dan menyerah begitu saja. Sabar dalam ibadah diimplementasikan dalam
bentuk melawan dan memaksa diri untuk bangkit dari tempat tidur, kemudian
berwudhu lalu berjalan menuju masjid dan malaksanakan shalat secara berjamaah.
Sehingga sabar tidak tepat jika hanya diartikan dengan sebuah sifat pasif, namun
ia memiliki nilai keseimbangan antara sifat aktif dengan sifat pasif.
Makna Sabar
Sabar merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab, dan sudah menjadi
istilah dalam bahasa Indonesia. Asal katanya adalah "Shobaro", yang membentuk
infinitif (masdar) menjadi "shabran". Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan
mencegah. Menguatkan makna seperti ini adalah firman Allah dalam Al-Qur'an:
Dan bersabarlah kamu bersama- sama dengan orang-orang yang menyeru
Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah
kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan
kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah
Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah
keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi/ 18 : 28)
Perintah untuk bersabar pada ayat di atas, adalah untuk menahan diri dari
keingingan 'keluar' dari komunitas orang- orang yang menyeru Rab nya serta

selalu mengharap keridhaan-Nya. Perintah sabar di atas sekaligus juga sebagai


pencegahan dari keinginan manusia yang ingin bersama dengan orang-orang yang
lalai dari mengingat Allah SWT.
Sedangkan dari segi istilahnya, sabar adalah:
Menahan diri dari sifat kegeundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan
dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.
Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah,
menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga
dikemukakan oleh Imam al- Khowas, bahwa sabar adalah refleksi keteguhan
untuk merealisasikan al-Qur'an dan sunnah. Sehingga sesungguhnya sabar tidak
identik dengan kepasrahan dan ketidak mampuan. Justru orang yang seperti ini
memiliki indikasi adanya ketidak sabaran untuk merubah kondisi yang ada,
ketidak sabaran untuk berusaha, ketidak sabaran untuk berjuang dan lain
sebagainya.
Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk sabar ketika berjihad. Padahal
jihad adalah memerangi musuh-musuh Allah, yang klimaksnya adalah
menggunakan senjata (perang). Artinya untuk berbuat seperti itu perlu kesabaran
untuk mengeyampingkan keiinginan jiwanya yang menginginkan rasa santai,
bermalas-malasan dan lain sebagainya. Sabar dalam jihad juga berarti keteguhan
untuk menghadapi musuh, serta tidak lari dari medan peperangan. Orang yang lari
dari medan peperangan karena takut, adalah salah satu indikasi tidak sabar.
Sabar Sebagaimana Digambarkan Dalam Al-Qur'an
Dalam al-Qur'an banyak sekali ayat-ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika
ditelusuri secara keseluruhan, terdapat 103 kali disebut dalam al-Qur'an, kata-kata
yang menggunakan kata dasar sabar; baik berbentuk isim maupun fi'ilnya. Hal ini
menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah SWT, yang Allah

tekankan kepada hamba-hamba- Nya. Dari ayat-ayat yang ada, para ulama
mengklasifikasikan sabar dalam al-Qur'an menjadi beberapa macam;
1 . Sabar merupakan perintah Allah SWT. Hal ini sebagaimana yang terdapat
dalam QS.2 : 153: "Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada
Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang
sabar."
Ayat-ayat lainnya yang serupa mengenai perintah untuk bersabar sangat banyak
terdapat dalam Al-Qur'an. Diantaranya adalah dalam QS.3 : 200 , 16 : 127 , 8 :
46 , 10 :109 , 11 : 115 dsb.
2 . Larangan isti'ja l(tergesa-gesa/ tidak sabar), sebagaimana yang Allah firmankan
(QS. Al-Ahqaf/ 46 : 35): "Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang
mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta
disegerakan (azab) bagi mereka..."
3 . Pujian Allah bagi orang-orang yang sabar, sebagaimana yang terdapat dalam
QS. 2 : 177: "...dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan
dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka
itulah orang-orang yang bertaqwa."
4 . Allah SWT akan mencintai orang-orang yang sabar. Dalam surat Ali Imran (3 :
146) Allah SWT berfirman : "Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar."
5 . Kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar. Artinya Allah SWT
senantiasa akan menyertai hamba-hamba-Nya yang sabar. Allah berfirman (QS.
8 : 46) ; "Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orangorang yang sabar."
6 . Mendapatkan pahala surga dari Allah. Allah mengatakan dalam al-Qur'an (13 :
23 - 24); "(yaitu) surga `Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama- sama
dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri- isterinya dan anak

cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua


pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun `alaikum bima shabartum" (keselamatan
bagi kalian, atas kesabaran yang kalian lakukan). Maka alangkah baiknya tempat
kesudahan itu."
Inilah diantara gambaran Al- Qur'an mengenai kesabaran. Gembaran-gambaran
lain mengenai hal yang sama, masih sangat banyak, dan dapat kita temukan pada
buku-buku yang secara khusus membahas mengenai kesabaran.
Kesabaran Sebagaimana Digambarkan Dalam Hadits.
Sebagaimana dalam al-Qur'an, dalam hadits juga banyak sekali sabda-sabda
Rasulullah SAW yang menggambarkan mengenai kesabaran. Dalam kitab
Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mencantumkan 29 hadits yang bertemakan
sabar. Secara garis besar, hadits-hadits tersebut menggambarkan kesabaran
sebagai berikut;
1. Kesabaran merupakan "dhiya' " (cahaya yang amat terang). Karena dengan
kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah SAW
mengungkapkan, "...dan kesabaran merupakan cahaya yang terang..." (HR.
Muslim)
2. Kesabaran merupakan sesuatu yang perlu diusahakan dan dilatih secara
optimal. Rasulullah SAW pernah menggambarkan: "...barang siapa yang
mensabar- sabarkan diri (berusaha untuk sabar), maka Allah akan menjadikannya
seorang yang sabar..." (HR. Bukhari)
3. Kesabaran merupakan anugrah Allah yang paling baik. Rasulullah SAW
mengatakan, "...dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih
lapang daripada kesabaran." (Muttafaqun Alaih)
4. Kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang mu'min, sebagaimana
hadits yang terdapat pada muqadimah; "Sungguh menakjubkan perkara orang

yang beriman, karena segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan


kenikmatan, ia bersyukur karena (ia mengatahui) bahwa hal tersebut adalah
memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar
karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah baik baginya." (HR. Muslim)
5. Seseorang yang sabar akan mendapatkan pahala surga. Dalam sebuah hadits
digambarkan; Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa aku mendengar Rasulullah
SAW bersabda, Sesungguhnya Allah berfirman, "Apabila Aku menguji hamba-Ku
dengan kedua matanya, kemudian diabersabar, maka aku gantikan surga baginya."
(HR. Bukhari)
6. Sabar merupakan sifat para nabi. Ibnu Mas'ud dalam sebuah riwayat pernah
mengatakan: Dari Abdullan bin Mas'ud berkata"Seakan-akan aku memandang
Rasulullah SAW menceritakan salah seorang nabi, yang dipukuli oleh kaumnya
hingga berdarah, kemudia ia mengusap darah dari wajahnya seraya berkata, 'Ya
Allah ampunilah dosa kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui."
(HR. Bukhari)
7. Kesabaran merupakan ciri orang yang kuat. Rasulullah SAW pernah
menggambarkan dalam sebuah hadits; Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa
Rasulullah SAW bersabda,"Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat,
namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah." (HR.
Bukhari)
8. Kesabaran dapat menghapuskan dosa. Rasulullah SAW menggambarkan dalam
sebuah haditsnya; Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullan SAW bersabda,
"Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan,
mara bahaya dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah
akan menghapuskan dosa- dosanya dengan hal tersebut." (HR. Bukhari &
Muslim)
9. Kesabaran merupakan suatu keharusan, dimana seseorang tidak boleh putus asa
hingga ia menginginkan kematian. Sekiranya memang sudah sangat terpaksa

hendaklah ia berdoa kepada Allah, agar Allah memberikan hal yang terbaik
baginya; apakah kehidupan atau kematian. Rasulullah SAW mengatakan; Dari
Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah salah seorang
diantara kalian mengangan-angankan datangnya kematian karena musibah yang
menimpanya. Dan sekiranya ia memang harus mengharapkannya, hendaklah ia
berdoa, 'Ya Allah, teruskanlah hidupku ini sekiranya hidup itu lebih baik
unttukku. Dan wafatkanlah aku, sekiranya itu lebih baik bagiku." (HR. Bukhari
Muslim)
Bentuk-Bentuk Kesabaran
Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga hal; sabar dalam ketaatan kepada
Allah, sabar untuk meninggalkan kemaksiatan dan sabar menghadapi ujian dari
Allah:
1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah. Merealisasikan ketaatan kepada Allah,
membutuhkan kesabaran, karena secara tabiatnya, jiwa manusia enggan untuk
beribadah dan berbuat ketaatan. Ditinjau dari penyebabnya, terdapat tiga hal yang
menyebabkan insan sulit untuk sabar. Pertama karena malas, seperti dalam
melakukan ibadah shalat. Kedua karena bakhil (kikir), seperti menunaikan zakat
dan infaq. Ketiga karena keduanya, (malas dan kikir), seperti haji dan jihad.
Kemudian untuk dapat merealisasikan kesabaran dalam ketaatan kepada Allah
diperlukan beberapa hal,
(1) Dalam kondisi sebelum melakukan ibadah berupa memperbaiki niat, yaitu
kikhlasan. Ikhlas merupakan kesabaran menghadapi duri-duri riya'.
(2) Kondisi ketika melaksanakan ibadah, agar jangan sampai melupakan Allah di
tengah melaksanakan ibadah tersebut, tidak malas dalam merealisasikan adab dan
sunah-sunahnya.

(3) Kondisi ketika telah selesai melaksanakan ibadah, yaitu untuk tidak
membicarakan ibadah yang telah dilakukannya supaya diketahui atau dipuji orang
lain.
2. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Meninggalkan kemaksiatan juga
membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada kemaksiatan yang sangat
mudah untuk dilakukan, seperti ghibah (baca; ngerumpi), dusta, memandang
sesuatu yang haram dsb. Karena kecendrungan jiwa insan, suka pada hal-hal yang
buruk dan "menyenangkan". Dan perbuatan maksiat identik dengan hal-hal yang
"menyenangkan".
3. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah, seperti mendapatkan
musibah, baik yang bersifat materi ataupun inmateri; misalnya kehilangan harta,
kehilangan orang yang dicintai dsb.
Aspek-Aspek Kesabaran sebagaimana yang Digambarkan dalam Hadits
Dalam hadits-hadits Rasulullah SAW, terdapat beberapa hadits yang secara
spesifik menggambarkan aspek-aspek ataupun kondisi-kondisi seseroang
diharuskan untuk bersabar. Meskipun aspek-aspek tersebut bukan merupakan
'pembatasan' pada bidang- bidang kesabaran, melainkan hanya sebagai contoh dan
penekanan yang memiliki nilai motivasi untuk lebih bersabar dalam menghadapi
berbagai permasalahan lainnya. Diantara kondisi-kondisi yang ditekankan agar
kita bersabar adalah :
1. Sabar terhadap musibah.
Sabar terhadap musibah merupakan aspek kesabaran yang paling sering
dinasehatkan banyak orang. Karena sabar dalam aspek ini merupakan bentuk
sabar yang Dalam sebuah hadits diriwayatkan, :
Dari Anas bin Malik ra, bahwa suatu ketika Rasulullah SAW melewati seorang
wanita yang sedang menangis di dekat sebuah kuburan. Kemudian Rasulullah

SAW bersabda, 'Bertakwalah kepada Allah, dan bersabarlah.' Wanita tersebut


menjawab, 'Menjauhlah dariku, karena sesungguhnya engkau tidak mengetahui
dan tidak bisa merasakan musibah yang menimpaku.' Kemudian diberitahukan
kepada wanita tersebut, bahwa orang yang menegurnya tadi adalah Rasulullah
SAW. Lalu ia mendatangi pintu Rasulullah SAW dan ia tidak mendapatkan
penjaganya. Kemudian ia berkata kepada Rasulullah SAW, '(maaf) aku tadi tidak
mengetahui engkau wahai Rasulullah SAW.' Rasulullah bersabda, 'Sesungguhnya
sabar itu terdapat pada hentakan pertama.' (HR. Bukhari Muslim)
2. Sabar ketika menghadapi musuh (dalam berjihad).
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda : Dari Abu Hurairah ra berkata,
bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Janganlah kalian berangan-angan untuk
menghadapi musuh. Namun jika kalian sudah menghadapinya maka bersabarlah
(untuk menghadapinya)." HR. Muslim.
3. Sabar berjamaah, terhadap amir yang tidak disukai.
Dalam sebuah riwayat digambarkan; Dari Ibnu Abbas ra beliau meriwayatkan
bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa yang melihat pada amir
(pemimpinnya) sesuatu yang tidak disukainya, maka hendaklah ia bersabar.
Karena siapa yang memisahkan diri dari jamaah satu jengkal, kemudian ia mati.
Maka ia mati dalam kondisi kematian jahiliyah. (HR. Muslim)
4. Sabar terhadap jabatan & kedudukan.
Dalam sebuah riwayat digambarkan : Dari Usaid bin Hudhair bahwa seseorang
dari kaum Anshar berkata kepada Rasulullah SAW; 'Wahai Rasulullah, engkau
mengangkat (memberi kedudukan) si Fulan, namun tidak mengangkat (memberi
kedudukan kepadaku). Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya kalian akan
melihat setelahku 'atsaratan' (yaitu setiap orang menganggap lebih baik dari yang
lainnya), maka bersabarlah kalian hingga kalian menemuiku pada telagaku
(kelak). (HR. Turmudzi).

5. Sabar dalam kehidupan sosial dan interaksi dengan masyarakat.


Dalam sebuah hadits diriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, 'Seorang muslim
apabila ia berinteraksi dengan masyarakat serta bersabar terhadap dampak negatif
mereka adalah lebih baik dari pada seorang muslim yang tidak berinteraksi
dengan masyarakat serta tidak bersabar atas kenegatifan mereka. (HR. Turmudzi)
6. Sabar dalam kerasnya kehidupan dan himpitan ekonomi
Dalam sebuah riwayat digambarkan; 'Dari Abdullah bin Umar ra berkata bahwa
Rasulullah SAW pernah bersabda, 'Barang siapa yang bersabar atas kesulitan dan
himpitan kehidupannya, maka aku akan menjadi saksi atau pemberi syafaat
baginya pada hari kiamat. (HR. Turmudzi).
Kiat-kiat Untuk Meningkatkan Kesabaran
Ketidaksabaran (baca; isti'jal) merupakan salah satu penyakit hati, yang
seyogyanya diantisipasi dan diterapi sejak dini. Karena hal ini memilki dampak
negatif dari amalan yang dilakukan seorang insan. Seperti hasil yang tidak
maksimal, terjerumus kedalam kemaksiatan, enggan untuk melaksanakan ibadah
kepada Allah dsb. Oleh karena itulah, diperlukan beberapa kiat, guna
meningkatkan kesabaran.
Diantara kiat-kiat tersebut adalah;
1. Mengkikhlaskan niat kepada Allah SWT, bahwa ia semata-mata berbuat hanya
untuk-Nya. Dengan adanya niatan seperti ini, akan sangat menunjang munculnya
kesabaran kepada Allah SWT.
2. Memperbanyak tilawah (baca; membaca) al-Qur'an, baik pada pagi, siang, sore
ataupun malam hari. Akan lebih optimal lagi manakala bacaan tersebut disertai
perenungan dan pentadaburan makna-makna yang dikandungnya. Karena alQur'an merupakan obat bagi hati insan. Masuk dalam kategori ini juga dzikir
kepada Allah.

3. Memperbanyak puasa sunnah. Karena puasa merupakan hal yang dapat


mengurangi hawa nafsu terutama yang bersifat syahwati dengan lawan jenisnya.
Puasa juga merupakan ibadah yang memang secara khusus dapat melatih
kesabaran.
4. Mujahadatun Nafs, yaitu sebuah usaha yang dilakukan insan untuk berusaha
secara giat dan maksimal guna mengalahkan keinginan-keinginan jiwa yang
cenderung suka pada hal-hal negatif, seperti malas, marah, kikir, dsb.
5 . Mengingat-ingat kembali tujuan hidup di dunia. Karena hal ini akan memacu
insan untuk beramal secara sempurna. Sedangkan ketidaksabaran (isti'jal),
memiliki prosentase yang cukup besar untuk menjadikan amalan seseorang tidak
optimal. Apalagi jika merenungkan bahwa sesungguhnya Allah akan melihat
"amalan" seseorang yang dilakukannya, dan bukan melihat pada hasilnya. (Lihat
QS. 9 : 105)
6. Perlu mengadakan latihan- latihan untuk sabar secara pribadi. Seperti ketika
sedang sendiri dalam rumah, hendaklah dilatih untuk beramal ibadah dari pada
menyaksikan televisi misalnya. Kemudian melatih diri untuk menyisihkan
sebagian rezeki untuk infaq fi sabilillah, dsb.
7. Membaca-baca kisah-kisah kesabaran para sahabat, tabi'in maupun tokoh-tokoh
Islam lainnya. Karena hal ini juga akan menanamkan keteladanan yang patut
dicontoh dalam kehidupan nyata di dunia.
Penutup
Inilah sekelumit sketsa mengenai kesabaran. Pada intinya, bahwa sabar
mereupakan salah satu sifat dan karakter orang mu'min, yang sesungguhnya sifat
ini dapat dimiliki oleh setiap insan. Karena pada dasarnya manusia memiliki
potensi untuk mengembangkan sikap sabar ini dalam hidupnya.

Sabar tidak identik dengan kepasrahan dan menyerah pada kondisi yang ada, atau
identik dengan keterdzoliman. Justru sabar adalah sebuah sikap aktif, untuk
merubah kondisi yang ada, sehingga dapat menjadi lebih baik dan baik lagi. Oleh
karena itulah, marilah secara bersama kita berusaha untuk menggapai sikap ini.
Insya Allah, Allah akan memberikan jalan bagi hamba- hamba-Nya yang berusaha
di jalan-Nya.
1. Hai orang-orang yang beriman. Bersabarlah kamu, dan kuatkanlah
kesabaranmu dan tetaplah bersiaga-siaga (diperbatasan negrimu) dan
bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (Q.S AL Imran 200).

Ayat Al-Quran dan Hadits Tentang Sabar


2. Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa (kematian) dan
buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang
yang sabar.
(Q.S. AL-Baqarah 155).
3. Sungguh akan dibayar upah (pahalah) orang-orang yang sabar dengan
tiada batas hitungan. (Q.S. Az-Zumar 10).
4. Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya
(perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan (Q.S.
Asy-Syuura 43).
5. Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah)
dengan sabar dan (mengerjakan shalat) sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang sabar (Q.S. Al-Baqarah 153).
6. Kami (Allah) pasti akan menguji kamu, hingga nyata dan terbukti mana
yang pejuang dan mana yang sabar dari kamu (Q.S. Muhammad 31).

Lebih lengkap lagi tentang Ayat Al-Qur'an Tentang Sabar


Hadits Tentang Sabar :
1. Abu Malik (Alharits) bin Ashim Al-Asjary r.a berkata : Bersabda
Rasulullah s.a.w. : Kebersihan (kesucian) itu sebagian dari iman, dan
ucapan: Alhamdulillah, memenugi timbangan dan Subhanallah serta
Alhamdulillah memenuhi apa yang ada diantara langit dan bumi,
sembahyang sebagai pelita (cahaya), sedekah sebagai bukti iman,
kesabaran itu penerangan, Quran sebagai bukti yang membenarkan
kamu atau yang menentang kamu, semua manusia pada waktu pagi
menjual dirinya, ada yang membebaskan dan yang membinasakan
dirinya. (H.R. MUSLIM).
2. Abu Jahja (Shuhaib) bin Sinan Arrumy r.a berkata : Bersabda
Rasulullah s.a.w : Sangat mengagumkan keadaan seorang mumin, sebab
segala keadaannya untuk ia sangat baik, dan tidak mungkin terjadi
demikian kecuali bagi seorang mumin : jika mendapat nimat ia bersyukur,
maka syukur itu lebih baik baginya, dan bila menderita kesusahan (ia)
sabar, maka kesabaran itu lebih baik baginya.
(H.R. MUSLIM)
3. Anas bin Malik r.a berkata : Pada suatu hari Rasulullah s.a.w berjalan
melalui seorang wanita yang sedang menangis diatas kuburan. Maka Nabi
s.a.w. bersabda : Bertaqwalah kepada Allah SWT dan sabarlah. Dijawab
oleh wanita (itu) : enyalah kau daripadaku, kau tidak menderita bala
musibah ku ini. Wanita itu tidak mengetahui bahwa yang berbicara itu
adalah Rasulullah s.a.w. kemudian ia diberi tahu bahwa itu tadi Nabi s.a.w.
Maka segeralah wanita itu pergi ke rumah Nabi s.a.w dan disana ia tidak
menemukan juru kunci atau penjaga pintu sehingga dapat masuk dengan
tidak bersusah payah, lalu berkata : Sebenarnya saya tidak mengetahui
bahwa yang berbicara tadi adalah engakau ya Rasulullah s.a.w. Maka
sabda Nabi s.a.w : Sesengguhnya kesabaran itu hanyalah pada pukulan
yang pertama dari bala.
(H.R. BUCHARI dan MUSLIM)
4. Anas r.a berkata: Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w berasabda:
Allah SWT telah berfirman: Apabila Saya menguji seorang hamba-Ku
dengan buta kedua matanya, kemudian ia sabar, maka Saya akan
menggantikannya dengan surga.
(H.R. BUCHARI)
Syukur

Syukur dalam perspektif al-quran akan menjelaskan hakikat syukur yang


sebenarnya, penulis mencoba menjelaskan sedikit alasan atau mengapa Allah
memerintahkan kita untuk bersyukur? Dan dalam al-quran sangat diterangkan
banyak hikmah dan balasan yang diberikan Allah untuk orang-orang yang
bersyukur. Serta presentatif syukur kita atas karunia Allah dalam kegiatan seharihari kita. Sebelum penulis membahas mengenai tetang syukur lebih jauh. kita
ungkap dahulu mengapa Allah memerintahkan kita untuk bersyukur? dan
mengapa banyak diantara manusia yang tidak bersyukur? serta mengapa kita
harus bersyukur?. Di bawah ini beberapa ayat yang menerangkan mengapa kita
harus bersyukur sbb: [4:147] Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu
bersyukur dan beriman ? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha
Mengetahui. [32:9] Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya
roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan
hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. Dan mereka memperoleh manfaat
padanya manfaat-manfaat dan minuman maka mengapakah mereka tidak
bersyukur???(Yasin : 73). Dari paparan ayat diatas dicoba dijelaskan beberapa
alasan mengapa kita harus bersyukur dan alasan mengapa banyak manusia yang
tidak bersyukur. dari paparan ayat diatas dicoba digambarkan kepada manusia
mengapa allah menyiksa banyak diantara manusia jika mereka semua bersyukur
dan beriman kepadanya. Dan allah menjelaskan dalam firmannya beberapa nikmat
atau satu karunianya kepada manusia itu dengan menciptakan manusia dengan
dilengkapi tubuh serta roh yang diberi penglihatan, pendengaran untuk manusia
tetapi sedikit sekali manusia yang beryukur serta pula dijelaskan dalam ayat
tersebut bahwa karunia dan nikmat Allah atas manusia banyak sekali dengan
memberi segala manfaat-manfaatnya atas makanan dan minuman kepada manusia
tetapi sekali lagi Allah mempertegas mengapa mereka tidak bersyukur??? Dari
penjelasan sedikit alasan atau sebab mengapa kita harus beryukur??? dari
gambaran diatas penulis akan mencoba memaparkan beberapa masalah yang akan
dibahas mengenai syukur dalam perspektif Al-Quran diantaranya sbb :
1. Jelaskkan lebih lengkap lagi Mengapa kita harus bersyukur??? serta
Mengapa banyak sekali manusia yang tidak bersyukur serta apa yang
harus kita syukur???
2. Jelaskan pengertian atau hakikat syukur dalam perspektif Al-Quran yang
sebenarnya???
3. Jelaskan Balasan serta hikmah bagi orang-orang yang mensyukuri karunia
serta nikmat Allah???
4. Jelaskan bagaimana cara kita mensyukuri nikmat dan karunia Allah serta
presentatifnya dalam kehidupan sehari-hari???
Semua permasalah yang diungkapkan diatas akan dicoba dijelaskan secara
lengkap oleh penulis berdasarkan Al-Quran dan pemafsiran atas ayat-ayat
tersebut dan juga berdasarkan beberapa referensi yang mendukung penjelasan

pembahasan mengenai syukur dalam perspektif Al-Quran ini.2.


PEMBAHASAN.A. PENGERTIAN SYUKUR.Pengertian syukur secara
terminology berasal dari kata bahasa Arab, berasal dari kata

yang berarti berterima kasih kepada atau dari kata lain

--
yang

berati pujian atau ucapan terima kasih atau peryataan terima kasih[i]. Sedangkan
dalam kamus besar bahasa Indonesia syukur memiliki dua arti yang pertama,
syukur berarti rasa berterima kasih kepada Allah dan yang kedua, syukur berarti
untunglah atau merasa lega atau senang dll[ii]. Sedangkan salah satu kutipan lain
menjelaskan bahwa syukur adalah gambaran dalam benak tetang nikmat dan
menampakkannya ke permukaan. Lain hal dengan sebagaian ulama yang
menjelaskan syukur berasal dari kata syakara yang berarti membuka yang
dilawan dengan kata kufur yang berarti menutup atau melupakan segala
nikmat dan menutup-nutupinya[iii]. Hal ini berdasarkan ayat 7 surat Ibrahim
sbb : [14:7] Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nimat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nimat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku
sangat pedih. Serta dalam surat An-Naml ayat 40 yang dilakukan oleh nabi
sulaiman as sbb: [27:40] Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI
Kitab: Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu
berkedip. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di
hadapannya, iapun berkata: Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku
apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nimat-Nya). Dan barangsiapa
yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya
sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya
lagi Maha Mulia. Jadi hakikat syukur yang sebenarnya adalah menampakan
nikmat dengan artian bahwa syukur adalah menggunakan pada tempat dan sesuai
dengan yang dikehendaki oleh pemeberinya yaitu Allah SWT. B. MENGAPA

KITA HARUS BERSYUKUR DAN APA YANG HARUS KITA


SYUKURI. Dalam pendahuluan sudah sedikit dibahas oleh penulis mengenai
alasan Mengapa kita harus bersyukur??? dan Apa yang kita harus syukuri
sebenarnya??? Serta maksud Allah sebenarnya mengenai syukur, mengapa kita
disiksa nanti jika kita bersyukur dan beriman??? Penulis akan coba menjelaskan
tafsiran-tafsiran ayat-ayat yang dimaksud dalam pembahasan hal ini. Ada
beberapa ayat-ayat Al-quran yang menerangi tetang hal ini diantaranya sbb :
Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman??? Dan
Allah Maha Mesyukuri lagi Maha Mengetahui. (An-Nissa : 147) ayat ini
termasuk dalam surat Madaniyah. Tafsiran ayat ini ialah (Mengapa Allah akan
menyiksamu, jika kamu bersyukur) atas Nikmat-Nya (dan beriman) kepadaNya??? Pertanyaan ini berarti tidak, jadi maksud Allah tidaklah menyiksamu.
(Dan Allah Maha Mesyukuri) perbuatan-perbuatan orang-orang beriman dengan
memberi mereka pahala (Lagi Maha Mengetahui) akan Makhluk-Nya.
Berdasarkan tafsir ini bahwa Allah tidak akan menyiksa hambanya yang
bersyukur dan beriman yaitu dengan perbuatan-perbuatan orang-orang beriman

dengan pahala sebagai balasannya. jadi mengapa allah menyiksamu karena kita
tidak bersyukur dan tidak beriman kepada-Nya[iv]. Yang membuat sebaikbaiknya segala sesesuatu yang Dia ciptakan dan Dia telah memulai penciptaan
manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripatih air
yang diremehkan. Kemudian Dia Menyempurnakan dan Meniupkan kedalam
(tubuh)Nya roh (ciptaan)Nya dan Menjadikan Kamu Pendengaran, Penglihatan,
dan hati, (tetapi) Kamu sedikit sekali bersyukur. (As-Sajadah : 9). Ayat dalam
surat ini adalah ayat Makiyah. Al-BiqaI berpendapat bahwa tujuan utama surat
ini adalah peringatan kepada orang-orang kafir menyangkut kitab Al-Quran ini
menyampaikan berita gembira kepada yang berbakti bahwa mereka akan masuk
surga dan terhindar dari neraka. Jadi ayat dalam surat As-Sajadah menjelaskan
ayat-ayat yang mengajak dalam kepada ketundukan dan melarang keangkuhan.
Bila ditafsirkan ayat ini ialah Allah swt yang mengatur segala urusan Maha
Pencipta itu serta Yang Maha Perkasa Lagi Maha Penyayang, Dialah Yang
membuat sebaik-baiknya segala sesuatu yang Dia ciptakan sehingga berpotensi
berfungsi sebaik mungkin sesuai dengan tujuan penciptaanya dan Dia telah
memulai penciptaan manusia yakni Adam As dari tanah, kemudian menjadikan
keturunanya dari sedikit saripatih air mani yang diremehkan bila dilihat
kdarnya atau menjijikan bila dipandang, atau lemah , tidak berdaya karena
sedikitnya. Kemudian lebih hebat lagi dari itu Dia menyempurnakan dan
meniupkan kedalam tubuh-Nya ruh (ciptaan)Nya dan setelah kelahiranya di
pentas bumi Dia menjadikan bagi kamu wahai manusia pendengaran agar kamu
dapat mendengar kebenaran dan penglihatan agar kamu dapat melihat tandatanda kebesaran Alla swt dan Hati agar kamu dapat berpikir dan beriman tetapi
sedikit sekali kamu bersyukur dan banyak diantara kamu yang kufur yakni kamu
yang tidak mefungsikan anugrah-anugrah itu sebagaimana yang Allah
kehendaki, tetapi menfungsikannya untuk hal-hal yang bertentangan dengan
kehendak-Nya. Ayat diatas melukiskan sekelumit dari substansi manusia.
Makhluk ini terdiri dari dari tanah dan ruh ilahi. Karena tanah, sehingga manusia
dipengaruhi oleh kekuatan alam sama halnya dengan makhluk makhluk hidup di
buni lainnya. Dengan ruh, ia mengikat dari dimensi kebutuhan tanah itu, walau ia
tidak dapat bahkan tidak boleh melepaskanya, karena tanah adalah bagian dari
substansi kejadiannya. Dimensi spiritual itulah yang mengantar manusia untuk
cenderung kepada keindahan, pengorbanan, kesetiaan, pemujaan, dll. Itulah yang
mengantar manusia menuju seuatu suatu realitas yang Maha Sempurna, tanpa
cacat, tanpa batas,dan tanpa akhir. Oleh karena itu manusia dituntut untuk
bersyukur dengan mengfungsikan segala karunia dan nikmat dari penciptaan
manusia sesuai dengan kehendak Allah seperti pendengaran yang digunakan untuk
mendengar kebenaran dan penglihatan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah
yang meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah serta hati atau akal yang
digunakan untuk berpikir memanfaatkan segala karunia itu[v]. Ada satu ayat
yang akan memperkuat lagi mengapa kita harus bersyukur? dan Apa yang harus
kita syukuri? Yaitu ayat 71- 73 dalam surat Yasin sbb : Dan apakah mereka
tidak melihat bahwa Kami telah menciptakan buat mereka dari apa yang telah
dilakukan oleh tangan (kekuasaan) Kami, berupa binatang ternak, lalu mereka
atas nya menjadi pemilik-pemilik? Dan Kami menundukkannya untuk mereka,

maka sebagian menjadi tunggangan mereka dan sebagaian mereka mereka


makan. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka
mengapakah mereka tidak beryukur????. ayat dalam surat ini Makiyah. Tujuan
utama dalam surat yasin ini menekankan tentang hari kebangkitan, keimanan baru
dinilai benar jika seseorang mempercayai hari Kebangkitan. Memang kepercayaan
tentang hari Kebangkitan mendorong manusia beramal saleh dan tulus. Keyakinan
itu mengantarkan manusia menghindari kedurhakaan karena jika tidak, ia akan
tersiksa di akhirat nanti. Adapun tafsiran dari ayat diatas ialah ayat ini
menjelaskan tentang nikmat Allah yang terbesar yang dianugerahkan Allah kepada
umat manusia. Tiada arti nikmat-nikmat lain, tanpa kehadiaran rasul dan alquran. Kelompok ayat ini menjelaskan beberapa nikmat Allah yang lain yang
banyak, sedang sebagaian manusia sangat kafir, tidak menyukuri nikmat yang
sehari-hari mereka peroleh itu. Karena itu Allah mengecam mereka dengan
berfirman : Dan apakah mereka yakni orang-orang kafir itu buta sehingga
tidak melihat dengan mata kepala dan mata hatinya bahwa kami menciptakan
buat kemanfaatan dan kemaslahatan mereka dari apa yang telah dilakukan oleh
tangan kekuasaan Kami yakni hasil ciptaan Kami berupa bintang ternak seperti
unta,sapi, dan domba-domba sebagai milik mereka dan tunggangan mereka,serta
manfaat-manfaatnya seperti wol,bulu, kulit, tulang dll yang mereka manfaatkan
semua itu adalah anugerah ilahi dan bukti kemahakuasaan-Nya, maka
mengapakah mereka tidak bersyukur kepada Allah yang telah menganugerahkan
semua itu kepada mereka? Kata ( ) aidi adalah jamak dari kata ( ) yad yang berarti
tangan tetapi secara majazi berarti kekuasaan atau nikmat. Ayat ini
menggambarkan betapa penciptaan binatang ternak merupakan nikmat yang besar
dan bukti kuasa Allah swt, karena ketiga binatang tersebut merupakan lambang
kekayaan dan kesejahteraan mereka. Jadi dapat disimpulkan dari beberapa ayat
diatas bahwa sesungguhnya Allah memberikan segala nikmatnya kepada mereka
berupa kekayaan dan kekuasaan akan tetapi mereka tidak mengfungsikan nikmat
tersebut tidak sesuai dengan kegunaannya dan mereka lalai atas nikmat yang Allah
berikan. Jadi dapat kita pahami alasan yang membuat kita harus bersyukur??? dan
Apa yang harus kita syukuri??? Jawabannya sangat patut jika kita tak ingin
disiksa di akhirat nanti, maka kita harus bersyukur dan beriman dengan
mengfungsionalkan nikmat dan karunia Allah sesuai dengan apa yang dimaksud
oleh-Nya. Dan banyak hal yang membuat seharusnya manusia berpikir harus
bersyukur dimulai nikmat akan penciptaan manusia, makanan dan harta serta
kekuasaan dunia yang diberikan Allah. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk tidak
beryukur[vi]. C. BALASAN UNTUK ORANG YANG
BERSYUKUR.Adapun balasan bagi orang bersyukur sangat banyak diberikan
oleh Allah swt, bahkan Allah sangat mengetahui tanda-tanda orang yang
bersyukur. balasan yang diberikan Allah di dunia dan diakhirat. Ada banyak ayatayat al-quran yang memaparkan tetang apa yang akan diperoleh atau didapatkan
bagi orang yang beryukur, diantaranya seperti dalam surat Ali-Imran ayat 144 dan
145 sbb : Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya
telah berlalu beberapa orang Rasul. Apakah jika wafat atau terbunuh kamu
berbalik kebelakang. Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka tidaklah ia
memberi mudarat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberikan balasan

kepada orang-orang yang bersyukur. setiap diri tidaklah akan mati kecuali seizin
Allah sebagai ketentuan yang telah ditetapkan waktunya. Barang siapa yang
menghendaki pahala dunia, Kami akan memberikan itu kepadanya dan barang
siapa yang menghendaki pahala diakhirat, Kami berikan pula kepadanya dan
Kami akan memberi balasan bagi orang-orang yang bersyukur.(Ali-Imran: 144145)[vii].
Barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur
untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang tidak bersyukur maka sesungguhnya
Allah Maha Kaya Lagi Maha Terpuji. ( Lukman : 12). Ayat ini merupakan
Makiyah, tema utamanya adalah mengajarkan ajakan kepada tauhid dan
kepercayaan akan niscaya Kiamat serta pelaksanaan prinsip-prinsip dasar agama.
Adapun tafsiran ayat-ayat diatas menunjukan al-quran yang penuh hikmah dan
Muhsin yang menerapkan hikmah dalam kehidupanya, serta orang-orang kafir
yang bersikap sangat jauh dari hikmah kebijaksanaan. Dan sesungguhnya Kami
Yang Maha Perkasa dan Bijaksana telah menganugerahkan dan mengajarkan juga
mengilhami hikmah kepada Lukman, Bersyukurlah Kepada Allah, dan
barang siapa yang bersyukur kepada Allah , maka sesungguhnya ia bersyukur
untuk kemaslahatan dirinya sendiri, dan barang siapa yang kufur yakni yang
tidak bersyukur, maka akan merugi adalah dirinya sendiri. Dia sedikit pun tidak
merugikan allah, sebagaimana yang bersyukur tidak menguntungkan-Nya, karena
sesungguhnya Allah Maha Kaya tidak butuh kepada apapun, Lagi Maha Terpuji
oleh Makhluk di langit dan di bumi. Kata syukur yang berasal dari kata syakara
berarti pujian atas kebaikan serta penuhnya sesuatu. Syukur manusia kepada
Allah dimulai dengan menyadari dari lubuk hatinya yang terdalam betapa besar
nikmat dan anugerah-Nya, disertai dengan ketundukan dan kekaguman yang
melahirkan rasa cinta kepada-Nya, dan dorongan untuk memuji-Nya dengan
mengfungsikan anugerah yang diterima sesuai dengan tujuan penganugerahnya, ia
adalah menggunakan nikmat sebagaimana yang dikehendaki oleh
penganugerahnya, sehingga penggunaannya mengarah sekaligus menunjuk
penganugerah. Tentu saja untuk maksud ini,yang bersyukur perlu mengenal siapa
penganugerahnya (Allah swt) mengetahui nikmat yang dianugerahkan kepadanya,
serta fungsi dan cara menggunakan nikmat itu sebagaimana yang dikehendakiNya, sehingga yang dianugerahkan nikmat itu benar-benar menggunakan sesuai
dengan apa yang dikehendaki oleh Peangugerah. Hanya dengan demikian,
anugerah dapat berfungsi sekaligus menunjuk kepada Allah, sehingga ini pada
giliranya mengantar kepada pujian kepada-Nya yang lahir dari rasa kekaguman
atas diri-Nya dan kesyukuran atas anugerah-Nya. Firmannya : ( ) an usykur lillah
adalah hikmah itu sendiri yang dianugerahkan kepadanya itu. Dari kata
Bersyukurlah kepada Allah. Sedangkan menurut Al-BiqaI yang menulis bahwa
Walaupun dari segi redaksional ada kalimat Kami katakana kepadannya, tetapi
makna akhirnya adalah Kami anugerahkan kepadanya syukur. Sayyid Qutub
menulis bahwa Hikmah, kandungan dan konsekuensinya adalah syukur kepada
Allah. Bahwa hikmah adalah syukur, karena dengan bersyukur seperti diatas,
seseorang mengenal Allah dan mengenal anugerah-Nya. Dengan mengenal Allah
seseorang akan kagum dan patuh kepada-Nya, dan dengan mengenal dan

mengetahui fungsi anugerah-Nya, seseorang akan memiliki pengetahuan yang


benar lalu atas dorongan kesyukuran itu, ia akan melakukan amal yang sesuai
dengan pengetahuannya, sehingga amal yang lahir adalah amal yang tepat
pula[viii].
Dan tanah yang baik , tanaman-tanamannya tumbuh
subur dengan seizin Allah yang tidak subur, tanaman-tanaman yang tidak subur,
tanaman-tanaman hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulanngi tandatanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur. (Al-Araf : 58)
(Dan demikianlah telah Kami uji) Kami telah coba (sebagian mereka dengan
sebagian lainnya) yakni orang yang mulia dengan orang yang rendah, orang
yang kaya dengan orang yang miskin, untuk Kami lombakan siapakah yang
berhak paling dahulu keimanan, (supaya mereka berkata: ) orang-orang yang
mulia dan orang-orang kaya yaitu mereka yang ingkar (Orang-orang semacam
inikah) yakni orang miskin (diantara kita yang diberi anugerah oleh Allah
kepada Mereka???) hidayah artinya jika apa yang sedang dilakukan oleh
orang-orang miskin dan orang-orang rendahan itu dinamakan hidayah, niscaya
orang-orang mulia dan orang-orang kaya itu tidak akan mampu mendahuluinya.
(Tidaklah Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur
(Kepada)Nya.) Kepada-Nya, lalu Dia memberikan hidayah kepada mereka.
Memang betul. (Al-Anam : 53). Ayat ini termasuk ayat Makiyah. Berdasarkan
asbabun nuzul ayat ini diturunkan berkenaan enam orang periwayat tentang
Abdullah Ibnu Masud dan empat orang lainnya. Mereka (kaum musyrikin)
berkata kepada kepada Rasulullah saw : Usirlah mereka (yakni para pengikut
Nabi) sebab kami merasa malu menjadi pengikutmu seperti mereka. Akhirnya
hamper saja Nabi saw terpengaruh oleh permintaan mereka,akan tetapi sebelum
terjadi Allah swt menurunkan Firman-Nya : Dan janganlah kamu mengusir
orang-orang yang menyeru Tuhannya s/d Firman-Nya : Tidakkah Allah lebih
mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)[ix]. Dan
(ingatlah juga), tatkala tuhan mu memalumkan : Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepada mu, dan jika kamu
mengingkari (nikmat-ku) maka sesungguhnya azabku sangat pedih. (Ibrahim :
7). D.
BAGAIMANA CARA KITA BERSYUKUR.1. Syukur dengan
Hati.Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuh-penuhnya nikmat
yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan nikmat dari Allah.
Syukur dengan hati mengantarkan manusia untuk menerima anugerah dengan
penuh kerelaan tanpa harus berkeberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut.
Syukur ini juga mengharuskan yang bersyukur menyadari betapa besar
kemurahan, dan kasih sayang Allah sehingga terlontar dari lidahnya pujian
kepada-Nya. 2. Syukur dengan Lisan. Syukur dengan lidah adalah mengakui
dengan ucapan bahwa sumber nikmat adalah Allah sambil memuji-Ny. Di dalam
al-quran pujian kepada Allah disampaikan dengan redaksi al-hamdulillah.
Hamd (pujian) disampaikan secara lisan kepada yang dipuji, walaupun ia tidak
memberi apa pun baik kepada si pemuji ataupun kepada yang lain. Kata al
pada alhamdulillah disebut al lil istigraq, yakni mengandung arti
keseluruhan, sehingga kata al-hamdu yang ditujukan kepada Allah
mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima segala pujian adalah Allah,
bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya. Jika kita

mengembalikan segala puji kepada Allah. Jadi, syukur dengan lisan adalah
alhamdulillah yaitu segala puji bagi Allah[x].3. Syukur dengan Perbuatan.
Nabi Daud as dan putranya Nabi Sulaiman as memperoleh aneka nikmat yang
tiada taranya, kepada mereka Allah berpesan sbb : Mereka bekerja untuknya
apa yang dikehendakinya seperti gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung
serta piring-piring yang seperti kolam-kolam dan periuk-periuk yang tetap.
Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah ). Dan sedikit
sekali dari hamba-hamba ku yang berterima kasih. (Saba: 13). Ayat ini termasuk
dalam ayat makiyah. Ayat sebelumnya menjelaskan kedudukan sebagian jin
kepada Nabi Sulaiman As, kini dijelaskan sebagian dari tugas-tugas mereka. Ayat
diatas menyatakan bahwa : Mereka senantiasa bekerja untuknya yakni untuk
Sulaiman serta membuat atas perintahnya apa yang dikehendakinya seperti
membangun gedung-gedung yang tinggi sebagai benteng-benteng atau tempat
peribadatan dan patung-patung sebagai hiasan bukan untuk disembah serta piringpiringan yang besarnya seperti kolam-kolam air dn periuk-periuk yang tetap
berada daiatas tungku, tidak dapat digerakkan karena besar dan beratnya. Itulah
sebagian angugerah Kami, dan Kami berfirman : Nikmatilah anugerah itu dan
beramallah atau bekerjalah hai keluarga Daud untuk mendekatkan diri kepada
Allah dan sebagai tanda dari kesyukuran kepada-Nya. Demikianlah Kami
perintahkan kepada mereka dan dalam kenyataan sedikit sekali dari hambahamba-ku yang sempurna dan kesyukuran-nya. Ayat diatas ketika memerintahkan
kepada keluarga dan pengikut Nabi Daud as. Untuk bersyukur tidak menggunakan
kata ya/hai,walaupun dalam terjemahan tertulis guna meluruskan maknanya.
Ketiadaan kata ya/hai itu, mengisyaratkan kedekatan Allah kepada mereka. Ini
karena penggunaan kata ya/hai mengesankan kejauhan. Itu pula sebabnya doa
hamba-hamba Allah yang terekam dalam al-quran kesemuanya tidak didahului
kata ya/hai. Kata ( )syakur adalah bentuk hiperbol dari kata ( ) syakir yakni
orang yang banyak dan mantap syukurnya. Firmannya : ( ) qalilum min ibadiya
asy-syakur / sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang sempurna kesyukurannya
dapat dipahami dalam arti penjelasan tetang sedikit hamba-hamba Allah yang
bersyukur dengan mantap. Dua orang diantara mereka yang sedikit itu, adalah
Nabi Daud dan Sulaiman as dan dapat juga dipahami dalam arti bahwa karena
hamba-hamba Allah yang mantap kesyukurannya, tidak banyak, maka hendaklah
kamu berdua (wahai Daud dan Sulaiman) memperbanyak kesyukuran. Yang
dimaksud bekerja adalah menggunakan nikmat yang diperoleh itu sesuai
dengan tujuan penciptaan atau penganugerahanya. Ini berarti, setiap nikmat
yang diperoleh menuntut penerimanya agar merenungkan tujuan
dianugerahkanya nikmat tersebut oleh Allah[xi].
3. PENUTUP A.
KESIMPULAN. Dari pembahasan syukur dalam perspektif al-quran dapat
kita simpulkan syukur adalah mengfungsikan seluruh nikmat yang diberikan Allah
Swt sesuai dengan kehendak Allah Swt yaitu menyesuaikan fungsi nikmat
tersebut. Adapun alasan mengapa manusia harus bersyukur kepada Allah Swt
karena Allah telah memberikan segala nikmatnya untuk manusia dari proses
penciptaannya, pendengaran, penglihatan serta disokongnya berlangsungnya
kehidupan manusia dengan manfaat-manfaat makanan dan minuman serta rezeki
yang besar bagi umatnya lantas mengapa manusia tidak harus bersyukur. jadi

maksud syukur dalam al-quran adalah menampakan nikmat yang di berikan


Allah Swt dengan jalan Syukur manusia kepada Allah dimulai dengan menyadari
dari lubuk hatinya yang terdalam betapa besar nikmat dan anugerah-Nya, disertai
dengan ketundukan dan kekaguman yang melahirkan rasa cinta kepada-Nya, dan
dorongan untuk memuji-Nya dengan mengfungsikan anugerah yang diterima
sesuai dengan tujuan penganugerahnya, ia adalah menggunakan nikmat
sebagaimana yang dikehendaki oleh penganugerahnya, sehingga penggunaannya
mengarah sekaligus menunjuk penganugerah. Balasan yang diberikan Allah Swt
untuk orang yang bersyukur yaitu manfaat kesyukuran itu untuk dirinya sendiri,
dan apabila orang tersebut ingin balasan berupa pahala didunia maka Allah akan
memberikannya serta sebaliknya jika ia ingin pahala di akhirat maka Allah akan
memberikannya serta Allah akan menambahkan nikmat bagi orang yang
bersyukur lain hal jika orang tersebut kufur maka Allah akan menyiksa dengan
sangat pedih. Sesungguhnya Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur.
Dan bagaimana cara kita untuk bersyukur yaitu ada tiga bagian syukur dengan
hati, syukur dengan lisan serta syukur dengan perbuatan. Syukur dengan hati
mengharuskan yang bersyukur menyadari betapa besar kemurahan, dan kasih
sayang Allah sehingga terlontar dari lidahnya pujian kepada-Nya. syukur dengan
lisan adalah alhamdulillah yaitu segala puji bagi Allah. Syukur dengan
perbuatan yaitu dengan bekerja adalah menggunakan nikmat yang diperoleh itu
sesuai dengan tujuan penciptaan atau penganugerahanya. Ini berarti, setiap nikmat
yang diperoleh menuntut penerimanya agar merenungkan tujuan dianugerahkanya
nikmat tersebut o