Anda di halaman 1dari 5

PERUBAHAN POLA PIKIR DALAM PELAKSANAAN PENDIDIKAN DI

INDONESIA

IIN SUMINAR
1402221

ABSTRAK
Sistem pendidikan yang baik menjadi faktor penting bagi kemajuan suatu negara
dan peradaban dunia. Pada dasarnya sistem pendidikan di dunia memiliki
perbedaan dikarenakan faktor-faktor internal dari suatu negara, misalnya dana,
sumber daya, kurikulum, dan lain-lain. Meskipun pendanaan merupakan faktor
penting dalam sistem pendidikan, namun budaya yang mendukung pembelajaran,
metode pengajaran dan pembelajaran, serta guru yang berkualitas tinggi
merupakan faktor yang tidak kalah penting dalam membangun suatu sistem
pendidikan yang berkualitas. Di Indonesia, pendidikan masih memiliki banyak
permasalahan yang harus dipecahkan. Rendahnya kualitas sarana fisik, rendahnya
kualitas guru, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya prestasi siswa, kurannya
pemerataan kesempatan pendidikan, rendahnya relevansi pendidikan dengan
kebutuhan, dan mahalnya biaya pendidikan, serta penyebaran guru yang belum
merata menjadi faktor utama masih rendahnya pendidikan di Indonesia. Hal ini
menyebabkan tidak tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas untuk
mendukung peningkatan ekonomi, tingginya resiko konflik sosial, serta rendahnya
daya saing Indonesia di era globalisasi. Untuk merubah hal tersebut, perlu adanya
perubahan pola pikir dalam proses pelaksanaaan pendidikan untuk mewujudkan
pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masa depan. Artikel ini akan
menguraikan tentang permasalahan pendidikan di Indonesia, perubahan pola pikir
dalam menghadapi tantangan masa depan, serta melihat sitem pendidikan di
beberapa negara dunia sebagai salah satu cara merubah pola pikir dalam
melaksanakan pedidikan.

Kata kunci: perubahan pola pikir, pendidikan, indonesia

Pendidikan di Indonesia masih menjadi hal mewah bagi sebagian besar


masyarakat. Setiap tahunnya 1,8 juta remaja tidak melanjutkan pendidikan. Hanya
26% yang mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Dirjen
Dikti, 2011). Berdasarkan laporan Education for All Global Monitoring Report
yang dirilis UNESCO 2011, tingginya angka putus sekolah menyebabkan
peringkat indeks pembangunan rendah. Indonesia berada di peringkat 69 dari 127
negara dalam Education Development Index. Hal ini disebabkan oleh faktor
ekonomi sehingga anak-anak terpaksa bekerja untuk mendukung ekonomi

keluarga, serta banyaknya kasus pernikahan di usia dini. Saat ini pemerintah
Indonesia megalokasikan anggaran biaya pendidikan untuk siswa yang berasal
dari keluarga kurang mampu, yaitu dengan adanya BOS sehingga diharapkan
anak-anak dapat mengenyam pendidikan setidaknya sampai lulus SMP. Tetapi
pada kenyataannya, masih banyak sekali anak-anak yang tidak melanjutkan
sekolah, dan memilih untuk menjadi pengamen ataupun pengemis, dan semua itu
kembali kepada tuntutan pemenuhan ekonomi keluarga. Dalam dunia pendidikan
di Indonesia ini masalah biaya menjadi pengambat anak bangsa untuk
mendapatkan pendidikan. Masyarakat kurang mampu menjadi korban mahalnya
biaya pendidikan sehingga para orang tua tidak bisa menyekolahkan anak-anak
mereka. Selain permasalahan biaya pendidikan, pendidikan di Indonesia masih
memiliki permasalahan-permasalahan diantaranya rendahnya kualitas sarana fisik,
rendahnya kualitas guru, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya prestasi siswa,
kurangnya pemerataan kesempatan pendidikan, rendahnya relevansi pendidikan
dengan kebutuhan, dan penyebaran guru yang belum merata. Hal ini
menyebabkan kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah sehingga tidak
tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas untuk mendukung peningkatan
ekonomi, tingginya resiko konflik sosial, serta rendahnya daya saing Indonesia di
era globalisasi. Untuk merubah hal tersebut perlu adanya perubahan pola pikir
dalam proses pelaksanaaan pendidikan untuk mewujudkan pendidikan yang sesuai
dengan kebutuhan masa depan.
Perubahan pola pikir harus dimiliki oleh pengambil keputusan pelaksanaan
sistem pendidikan, guru, siswa, serta masyarakat. Pengambil keputusan
pelaksanaan sistem pendidikan hendaknya memiliki perubahan pola pikir untuk
lebih memperhatikan pendidikan di Indonesia, karena tidak bisa dipungkiri bahwa
pendidikan yang berkualitas menentukan kesejahteraan suatu bangsa. Perubahan
pola pikir ini meliputi adanya kebijakan baru dalam menyediakan fasilitas sarana
pendidikan yang lebih baik dan merata, pemerataan kesempatan pendidikan bagi
setiap warga negara, lebih mengawasi penyaluran dana BOS ke sekolah-sekolah,
mengawasi penyaluran alat-alat ke sekolah-sekolah, pendistribusian guru secara
merata, serta biaya sekolah gratis dari SD sampai universitas. Tetapi tidak bisa
dipungkiri bahwa kebijakan pemerintah, sebagus apapun itu, tidak akan berjalan

baik jika masyarakat, guru, kepala sekolah, siswa, kepala dinas, bupati, gubernur,
tidak memiliki perubahan pola pikir ke arah yang lebih baik.
Guru senyatanya memegang peranan penting dalam mencerdaskan anak
bangsa. Tetapi pada kenyataannya distribusi guru di Indonesia masih tidak merata,
kualitas guru rendah, dan kesejahteraan guru rendah. Pemerintah sebagai pihak
yang berwenang mengambil keputusan perlu memperhatikan distribusi guru,
sehingga guru-guru yang berkualitas tidak hanya terpusat dikota-kota besar saja
melainkan kota-kota terpelosok pun memiliki guru yang berkualitas. Selain itu,
pemerintah seyogianya memperhatikan kesejahteraan guru, bukan hanya guru
PNS saja, melainkan guru-guru honorer pun patut diperhatikan kesejahterannya.
Karena pada intinya guru PNS maupun guru honorer adalah orang yang mendidik
generasi penerus bangsa, sehingga sudah sepantasnya mereka mendapat
kesejahteraan yang layak. Namun, ketika kesejahteraan guru mulai diperhatikan
dengan adanya sertifikasi, kualitas pendidikan di Indonesia tidak akan berubah ke
arah yang lebih baik jika guru, sebagai pelaksana utama yang berperan langsung
dalam mengajar, mendidik, dan mencerdaskan anak bangsa tidak mempunyai
perubahan pola pikir dalam melaksanakan pekerjaannya sebagai pendidik.
Adanya perubahan pola pikir dalam mendidik dan mengajar siswa sangat
diperlukan dikarenakan pada saat ini kita sedang menghadapi tantangan abad 21,
dimana setidaknya ada empat kemampuan yang harus dimiliki oleh generasi abad
21, yaitu ways of thinking, ways of working, tools for working dan skills for living.
Kemampuan-kemampuan tersebut harus dikembangkan secara sistematis di dalam
dunia pendidikan, sehingga proses pembelajaran harus mampu mendorong
terciptanya kemampuan tersebut. Perubahan pola pikir tersebut diantaranya: (1)
menggunakan pendekatan saintifik; (2) kelas bukan satu-satunya tempat belajar;
(3) sumber belajar bukan hanya guru dan buku teks; (4) belajar dengan
beraktifitas; (5) membuat siswa suka bertanya, bukan guru yang sering bertanya;
(6) mengajak siswa mencari tahu, bukan guru yang mencari tahu; (7) embelajaran
pengetahuan, keterampilan dan sikap; (8) menekankan kolaborasi, melalui
pengerjaan projek; (9) pentingnya proses; (10) mendahulukan pemahaman bahasa
indonesia; (11) siswa memiliki kekhasan masing-masing; (12) penekanan pada
higher order thinking dan mampu berasumsi; (13) pentingnya data (terkait

pengamatan), dan (14) penilaian dilakukan setiap saat melalui pengamatan sikap,
pengetahuan, dan keterampilan (Kemetrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014).
Dengan adanya perubahan pola pikir, guru tidak akan lagi mengajar dengan
cermah, guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber belajar, siswa akan
berperan dalam mengkonstruksi pemahamannya sendiri, dan pembelajaran
menjadi lebih menyenangkan.
Untuk membentuk guru yang memiliki perubahan pola pikir, pemerintah
perlu melakukan usaha-usaha untuk mengembangkan pola pikir guru. Misalnya
dengan memberikan beasiswa kepada guru-guru untuk melanjutkan program
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, serta memberikan pelatihan-pelatihan
rutin untuk meningkatkan kualitas guru. Dengan adanya perubahan pola pikir, guu
akan menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam melaksanakan proses pembelajaran,
keprofesionalan guru meningkat, dan profesi guru akan menjadi profesi yang
terhormat. Dengan demikian, kualitas pendidikan di Indonesia akan mengarah ke
perubahan yang lebih baik.
Salah satu cara menimbulkan perubahan pola pikir baik di kalangan
pemerintah, guru, pelaksana kebijakan, siswa, dan masyarakat pada umumnya
adalah dengan melihat sistem pendidikan di negara yang memiliki sistem
pendidikan terbaik. Beberapa negara yang bisa dijadikan contoh dalam sistem
pendidikannya adalah Finlandia, Kanada, dan Jerman. Finlandia merupakan
negara dengan tingkat pendidikan terbaik. Sistem pendidikan di Finlandia
menekankan pada meminimalkan tes, memaksimalkan kolaborasi, menjamin
kesetaraan pendidikan, guru berkualitas tinggi, guru merupakan profesi terhormat,
dan biaya buku dan pendidikan di tanggung oleh pemerintah. Selain Finlandia,
Kanada juga merupakan salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik.
Kanada memiliki kontrol mutu pendidikan yang sangat ketat. Pemerintah kanada
mengeluarkan dana yang besar untuk pendidikan yang besar untuk setiap
tahunnya. Sementara Jerman lebih mengutamakan kualitas pendidikan dengan
menyediakan guru profesional yang mencurahkan seluruh waktunya untuk
menjadi pendidik sehingga membantu mengembangkan kemampuan pendidik
secara optimal sehingga mencetak lulusan berkualitas dan memiliki etos kerja
yang tinggi. Sebaiknya Indonesia mempelajari kesukesean sistem pendidikan di

suatu negara, bukan hanya ditiru, tetapi dikaji dan dipelajari dan disesuaikan
dengan kepentingan rakyat Indonesia.
Berdasarkan pemaparan tersebut, warga negara Indonesia, termasuk pembuat
kebijakan, guru, siswa, dan masyarakat harus memiliki perubahan pola pikir ke
arah pendidikan yang lebih baik. Negara Finlandia, Jerman, maupun Kanada
merintis sistem pendidikan mereka dari nol hingga bisa seperti sekarang ini.
Begitu pun Indonesia, Indonesia harus mulai memiliki perubahan pola pikir dalam
menjalankan sistem pendidikan, yang mungkin dalam merealisasikan perubahan
pola pikir ke arah yang lebih baik akan mengahadapi tantangan, hambatan, dan
kritikan. Pada awalnya semuanya akan terasa sulit, misalnya guru yang tadinya
dalam proses pembelajaran hanya menggunakan ceramah menjadi menggunakan
model pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif, siswa yang tadinya hanya
duduk diam mendengar penjelasan guru menjadi lebih aktif dalam proses
pembelajaran akan terasa sulit pada awalnya karena tidak terbiasa. Tetapi, jika
tidak dibiasakan dari sekarang, maka perubahan ke arah yang lebih baik tidak
akan terjadi. Selain itu, pemerintah juga harus mulai memperhatikan guru,
sehingga guru di Indonesia memiliki kualitas yang tinggi, guru menjadi profesi
terhormat, dan kesejahteraan guru terjamin. Dalam masalah pembiayaan,
sebaiknya pemerintah mengalokasikan dana yang lebih banyak dalam bidang
pendidikan, untuk memperbaiki sarana, membiayai pendidikan gratis, membiayai
buku gratis, serta perbaikan kualitas pendidikan, baik itu guru, sarana dan
prasarana tidak hanya terfokus pada kualitas pendidikan di kota-kota saja, tetapi
memperhatikan perbaikan kualitas pendidikan di pelosok-pelosok. Semoga
dengan adanya perubahan pola pikir, Indonesia akan memiliki kualitas pendidikan
yang bagus, meskipun mungkin hasilnya baru akan terasa di masa depan.