Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1

Latar Belakang
Danau adalah cekungan besar di permukaan bumi yang digenangi oleh air bisa

tawar ataupun asin yang seluruh cekungan tersebut dikelilingi oleh daratan. Kebanyakan
danau adalah air tawar dan juga banyak berada di belahan bumi utara pada ketinggian
yang lebih atas. Danau sebagai habitat perairan air tawar yang menggenang merupakan
suatu ekosistem bagi organisme akuatik. Organisme produsen sebagai penghasil
produktivitas primer yang memanfaatkan energy cahaya matahari sehingga dapat
berfotosintesis menghasilkan oksigen. Produktivitas primer sendiri berarti hasil proses
fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan berklorofil. Dalam perairan yang melakukan
aktivitas fotosintesis adalah fitoplankton hasil dari fotosintesisnya merupakan sumber
nutrisi utama bagi organisme air lainnya yang berperan sebagai konsumen dimulai
dengan zooplankton dan diikuti oleh kelompok organisme lainnya. Produktivitas
ekosistem perairan tentulah berbeda-beda di setiap ekosistem khususnya ekosistem air
tawar. Karena dapat dipengaruhi oleh kondisi fisik dari suatu ekosistem perairan.
Danau Toba merupakan sumber daya air yang mempunyai nilai yang sangat
penting ditinjau dari fungsi ekologis serta fungsi ekonomis. Hal ini berkaitan dengan
fungsi Danau Toba sebagai habitat berbagai jenis organisma air, fungsi air Danau Toba
sebagai sumber air minum bagi masyarakat sekitarnya, sebagai sumber air untuk
kegiatan pertanian dan budi daya perikanan serta untuk menunjang berbagai jenis
industri (misalnya kebutuhan air untuk industri pembangkit listrik Sigura-gura, Asahan).
Tak kalah pentingnya adalahfungsi Danau Toba sebagai kawasan wisata yang sudah
terkenal ke mancanegara dan sangat potensia untuk pengembangan kepariwisataan di
Propinsi Sumatera Utara.
Danau Singkarak merupakan salah satu aset bagi pemerintah Sumatera Barat
terutama Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok. Selain sebagai daerah
kunjungan wisata, potensi perikanan Danau Singkarak juga cukup menjanjikan. Serta
pemanfataan air danau oleh masyarakat sekitar untuk keperluan sehari-hari seperti
kebutuhan air minum, mandi, cuci, kakus (MCK) dan irigasi. Pemanfaatan Danau
Singkarak lainnya sebagai pendukung sarana pertanian, perikanan, pariwisata,
transportasi, pembangkit listrik dan lain againya.
Produktivitas primer adalah suatu proses pembentukan senyawa-senyawa organik
melalui proses fotosintesis. Proses fotosintesis sendiri dipengaruhi oleh faktor
1

konsentrasi klorofil a, serta intensitas cahaya matahari. Nilai produktivitas primer dapat
digunakan sebagai indikasi tentang tingkat kesuburan suatu ekosistem perairan.
Fitoplankton merupakan produsen primer terpenting dalam ekosistem perairan, produksi
zat organik dari anorganik yang dapat dilakukann oleh fitoplankton melalui proses
fotosintesis, merupakan sumber energi yang paling utama yang mendasari struktur
trofik suatu ekosistem. Hampir semua biota air apabila ditelusuri rantai makanannya
akan menunjukkan pangkalnya pada fitoplankton. Oleh karena itu kelimpahan
fitoplankton penting artinya dalam menentukan kesuburan suatu perairan (Nurdin,
2010).
1.2

Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan paper ini adalah untuk mengetahui hubungan anata

faktor fisika, kimia, biologi perairan dengan nilai produktivitas di Danau Toba dan
Danau Singkarak.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Produktivitas
Produktivitas adalah laju penambatan atau penyimpanan energi oleh suatu

komunitas dalam ekosistem. Produktivitas dari suatu ekosistem adalah kecepatan


cahaya matahari yang diikat oleh vegetasi menjadi produktivitas kotor (produktivitas
primer bruto), sesuai dengan kecepatan fotosintesis. Sedangkan produktivitas bersih
(produktivitas primer neto) dari vegetasi adalah produksi dalam arti dapat dipergunakan
oleh organisme lain, yaitu sesuai dengan kecepatan fotosintesis (produksi bahan kering)
dikurangi kecepatan respirasi. Oleh karena suhu dan cahaya bervariasi sepanjang hari
maka produktivitas tanaman dinyatakan dalam satuan berat kering (gram/kilogram) per
satuan luas permukaan tanah per musim pertumbuhan atau per tahun.
Produktivitas dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu produktivitas primer dan
produktivitas sekunder.
a.

Produktivitas Primer
Persediaan energi yang tersimpan didalam komunitas dianggap sebagai
produktivitas suatu ekosistem. Nybakken (1982) mengatakan, produktivitas
primer ialah laju pembentukan senyawa-senyawa organik yang kaya energi dari
senyawa-senyawa anorganik. Produktivitas primer merupakan persediaan
makanan untuk organisme heterotrof yaitu bakteri, jamur dan hewan.
Produktivitas primer total yaitu produktivitas yang masih berupa hasil fotosintesis
(belum dikurangi yang direspirasikan). Produktivitas primer suatu komunitas
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain : cahaya, air, temperatur, kecepatan
berkembang biak. Didaerah tropis yang beriklim lembab, produktivitas primer
tinggi karena intensitas cahaya matahari tinggi dan merata sepanjang tahun.
Tingginya intensitas cahaya menyebabkan meningkatnya kecepatan fotosintesis.
Adanya pengaruh intensitas cahaya terhadap kecepatan fotosintesis menyebabkan
produsen primer di lingkungan perairan dalam semakin rendah.

b.

Produktivitas Sekunder
Produktivitas sekunder merupakan laju penambatan energi yang dilakukan oleh
konsumen. Pada produktivitas sekunder ini tidak dibedakan atas produktivitas
kasar dan bersih. Produktivitas sekunder pada dasamya adalah asimilasi pada aras
atau tingkatan konsumen. Menurut Djumara (2007), dalam Barus Produktivitas
Sekunder, produktivitas primer bersih merupakan energi makanan yang terdapat

pada tumbuhan

tersedia

bagi konsumen.

Memang tidak semua

energi

yang dapat dimanfaatkan oleh kosumen.


2.2

Produktivitas Primer
Persediaan energi yang tersimpan didalam komunitas dianggap sebagai

produktivitas suatu ekosistem. Nybakken (1982) mengatakan, produktivitas primer ialah


laju pembentukan senyawa-senyawa organik yang kaya energi dari senyawa-senyawa
anorganik. Produktivitas primer merupakan persediaan makanan untuk organisme
heterotrof yaitu bakteri, jamur dan hewan. Produktivitas primer total yaitu produktivitas
yang masih berupa hasil fotosintesis (belum dikurangi yang direspirasikan).
Produktivitas primer suatu komunitas dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
cahaya, air, temperatur, kecepatan berkembang biak. Didaerah tropis yang beriklim
lembab, produktivitas primer tinggi karena intensitas cahaya matahari tinggi dan merata
sepanjang tahun (Susanto 2000) dalam Barus . Tingginya intensitas cahaya
menyebabkan meningkatnya kecepatan fotosintesis. Adanya pengaruh intensitas cahaya
terhadap kecepatan fotosintesis menyebabkan produsen primer di lingkungan perairan
dalam semakin rendah. Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995) dalam Barus,
fitoplankton dapat dikatakan sebagai pembuka kehidupan di planet bumi ini, karena
dengan adanya fitoplankton memungkinkan mahluk hidup yang lebih tinggi
tingkatannya ada di muka bumi. Fitoplankton diketahui hidup di muka bumi jauh
sebelum manusia ada, beberapa ratus juta tahun yang lalu, dengan sifatnya yang autotrof
mampu merubah hara anorganik menjadi bahan organik dan penghasil oksigen yang
sangat mutlak diperlukan bagi kehidupan makhluk yang lebih tinggi tingkatannya.
Dilihat dari daya reproduksi dan produktivitasnya, maka fitoplankton mempunyai
produktivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan organisme autotrof yang lebih
tinggi tingkatannya. Fitoplankton juga berperan sebagai produsen tingkat pertama yang
ada diseluruh badan air dimuka bumi . Boney (1976) dalam Sitorus, menjelaskan bahwa
semua jenis fitoplankton yang hidup pada suatu perairan merupakan penyongkong
produktivitas primer.

2.3

Fitolankton

Fitoplankton merupakan kelompok yang memegang peranan sangat penting dalam


ekosisem air, karena kelompok ini dengan adanya kandungan klorofil mampu
melakukan fotosintesis. Proses fotosintesis pada ekosistem air yang dilakukan oleh
fitoplankton (produsen), merupakan sumber nutrisi utama bagi kelompok organisme air
lainnya yang berperan sebagai konsumen, dimulai dari zooplankton dan diikuti oleh
kelompok organisme yang lainnya yang membentuk rantai makanan. Dalam ekosistem
air hasil dari fotosintesis yang dilakukan oleh fitoplankton bersama dengan tumbuhan
air lainnya disebut sebagai produktivitas primer. Fitoplankton terutama hidup pada
lapisan perairan yang mendapat cahaya matahari yang dibutuhkan untuk proses
fotosintesis (Barus 2004).
Peran utama fitoplankton dalam ekosistem air tawar adalah sebagai produsen
primer. Sebagai produsen, fitoplankton merupakan makanan bagkomponen ekosistem
lainnya khususnya ikan. Posisinya di dasar piramida makanan mempertahankan
kesehatan lingkungan air. Bila ada gangguan terhadap fitoplankton, maka seketka
komunitas lain akan terpengaruh. Kompos fitoplankton bergantung pada kualitas air,
karena itu jenis alga tertentu dapat digunakan sebagai indicator eutrofikasi air.
Keasaman air juga mempengaruhi kelimpahan fitoplankton.
Plankton adalah organisme yang terapung atau melayang-layangdi dalam air yang
pergerakannya relative pasif. Kemampan berenang oganisme-organisme planktonic
demikian lemah sehingga pergerakan mereka sangat dikuasai oleh gerakan-gerakan air
(Nybakken, 1992). Plankton merupakan organisme perairan pada tingkat (tropic)
pertama dan berfungsi sebagai penyedia energy. Secara umum plankton dapat dibagi
menadi dua golongan, yakni: fitoplankton, yang merupakan gongan tumbuhan,
umumnya mempunyai klorofil (plankton nabati) dan zooplankton (golonan hewan) atau
plankton hewani.
2.4

Hubungan antara Produktivitas Primer dengan Distribusi Ikan


Produktivitas primer merupakan persediaan makanan untuk organisme heterotrof,

seperti bakteri, jamur dan hewan. Ikan termasuk salah satu organisme heterotrof yang
dalam hal ini ikan merupakan produktivitas sekunder suatu perairan. Banyaknya
produktivitas sekunder dari suatu komunitas tergantung pada banyaknya ptoduktivitas
primer pada komunitas yang bersangkutan. Artinya produktivitas sekunder tinggi jika
produktivitas primernya tinggi (Susanto, 2000). Brylinsky dan Mann (1973) dalam
5

Susanto (2000) dalam Sitorus, menemukan hubungan positif antara produktivitas


sekunder pada zooplankton dan ikan dengan produktivitas primer filoplankton di telagatelaga yang tersebar di muka bumi. Meskipun hubungan antara produktivitas sekunder
dan produktivitas primer bersifat positif, tetapi produktivitas sekunder di suatu
ekosistem selalu lebih kecil daripada produktivitas primer. Hal ini disebabkan, tidak
semua bagian tubuh tumbuhan dapat dimakan oleh hewan, tidak semua bahan yang
dimakan oleh hewan dapat diserap oleh saluran pencernaan, sebagian ada yang keluar
bersama kotoran. Tidak semua zat makanan yang diserap oleh usus dapat disusun
menjadi biomassa tubuh, karena sebagian dikeluarkan dari tubuh sebagai sisa
metabolisme ( Susanto,2000 dalam Sitorus),
2.5

Faktor-Faktor Lingkungan Yang Mempengaruhi Produktivitas Primer


Fitoplakton
Berikut ini merupakan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi produktivitas

primer fitoplankton
1.

Oksigen Terlarut.
Oksigen merupakan hasil sampingan dari fotosintesis sehingga ada hubungan erat

antar produktivitas dengan oksigen yang dihasilkan Oksigen yang terlarut digunakan
oleh organisme untuk melakukan proses pembakaran bahan makanan dan proses
tersebut menghasilkan energi untuk keperluan aktivitas organisme. Odum (1993) dalam
Barus mengatakan kebutuhan oksigen terlarut pada organisme sangat bervariasi
tergantung jenis, stadia dan aktivitasnya. Plankton dapat hidup baik pada konsentrasi
oksigen lebih dari 3mg/l. Oksigen sangat diperlukan untuk pernafasan dan metabolisme
ikan dan jasad-jasad renik dalam air. Kandungan oksigen yang tidak mencukupi
kebutuhan ikan dan biota lainnya dapat menyebabkan penurunan daya hidup ikan.
Kandungan oksigen terlarut dalam air yang cocok untuk kehidupan dan pertumbuhan
ikan berkisar antara 4 ppm 7 ppm.
2.

Derajat Keasaman (pH).


Derajat keasaman (pH) air merupakan suatu ukuran keasaman air yang dapat

mempengaruhi kehidupan tumbuhan dan hewan perairan sehingga dapat digunakan


untuk menyatakan baik buruknya kondisi suatu perairan sebagai lingkungan hidup.
Derajat keasaman air (pH) dapat mempengaruhi pertumbuhan ikan. Derajat keasaman

air yang sangat rendah atau sangat asam dapat menyebabkan kematian ikan. Keadaan
air yang sangat basa juga dapat menyebabkan pertumbuhan ikan terhambat. Asmawi
(1984) dalam Hayati menyebutkan bahwa perairan yang baik untuk kehidupan ikan
yaitu perairan dengan pH 6-7.
3.

Kecerahan
Menurut Sumawidjaja (1974) dalam Barus kecerahan air mempengaruhi jumlah

dan kualitas sinar matahari dalam perairan. Jumlah dan kualitas sinar matahari ini
mempengaruhi kualitas plankton melalui penyedian energi untuk melangsungkan proses
fotosintesa. Menurut Odum ( 1993 ) dalam Barus penetrasi cahaya seringkali dihalangi
oleh zat yang terlarut dalam air sehingga membatasi zona fotosintesis. Apabila
kecerahan pada suatu perairan rendah, berarti perairan itu keruh. Kekeruhan terjadi
karena adanya plankton, lumpur dan zat terlarut dalam air. Kekeruhan yang baik adalah
kekeruhan yang disebabkan oleh jasad-jasad renik atau plankton. Nilai kecerahan air
untuk kehidupan plankton bisa mencapai 100-500m dibawah permukaan laut ( Sachlan,
1982) dalam Barus Air yang terlalu keruh dapat menyebabkan ikan mengalami
gangguan pernafasan (sulit bernafas) karena insangnya terganggu oleh kotoran. Batas
kekeruhan dapat diukur dengan memasukkan sechi disk sampai kedalaman 40 cm. jika
benda tersebut masih kelihatan, maka kekeruhan air masih belum mengganggu
kehidupan ikan.
4.

Kecepatan arus
Menurut Sijabat (1976) dalam Murtini (2000) dalam Barus menyebutkan bahwa

adanya arus di perairan akan membantu perpindahan masa air, selanjutnya dikatakan
bahwa arus dapat membantu penyebaran dan migrasi horizontal fitoplankton. Menurut
Hutabarat dan Evans (1985), arus merupakan salah satu faktor yang terpenting dalam
mempengaruhi kesuburan perairan. Perubahan arus terjadi sesuai dengan makin
dalamnya suatu perairan.
5.

Nitrogen (N) dan Fosfor (P)


Zat-zat hara anorganik utama yang diperlukan fitoplankton untuk tumbuh dan

berkembangbiak adalah nitrogen dan fosfor. Nitrogen dalam perairan tawar biasanya
ditemukan sedikit dalam bentuk molekul N2 terlarut, amonia, NH4 + (nitrogen), nitrit

(NO2 - ), nitrat (NO3 - ) dan sejumlah besar persenyawaan organik. Nitrat merupakan
sumber nitrogen yang penting untuk pertumbuhan fitoplankton, sedangkan nitrit
merupakan hasil reduksi dari nitrat yang selalu terdapat dalam jumlah sedikit dalam
perairan. Nitrogen dalam bentuk ikatan nitrat sangat penting untuk membantu proses
assimilasi fitoplankton. Fosfat dalam perairan berasal dari sisa-sisa organisme dan
pupuk yang masuk dalam perairan. Fitoplankton dapat menggunakan unsur fosfor
dalam bentuk fosfat yang sangat penting bagi pertumbuhannya. Fosfor dalam bentuk
ikatan fosfat dipakai fitoplankton untuk menjaga keseimbangan kesuburan perairan.
6.

PTT ( Padatan Tersuspensi Total )


Padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air, tidak

terlarut, dan tidak dapat mengendap lagi. Padatan tersuspensi terdiri dari partikelpartikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil daripada sedimen seperti lumpur.
Padatan tersuspensi akan mengurangi penetrasi sinar matahari kedalam air, sehingga
dapat mengganggu proses fotosintesis. Pengaruh buruk dari padatan tersuspensi antara
lain pada zooplankton dan ikan menyebabkan penyumbatan pada insang, telur dari
makhluk hidup air yang disimpan didasar menderita angka kematian yang tinggi oleh
pengendapan partikel yang tersuspensi. Padatan tersuspensi dalam air teridi dari kotoran
hewan, sisa tamanam dan hewan, serta limbah.
7.

Klorofil-a
Ada dua macam klorofil yang terdapat pada tanaman dan alga hijau, yaitu

klorofil-a dan klorofil-b. kedua klorofil tersebut menyerap cahaya paling kuat pada
spectrum merah dan ungu. Cahaya hijau hanya sedikit sekali yang diserap, oleh karena
itu pada saat cahaya menyinari klorofil yang memiliki struktur seperti daun, cahaya hjau
diteruska dan dipantulkan sehingga struktur klorofil kelihatan berwarna hijau. Klorofil
adalah pigmen hijau yang terdapat pada tumbuhan. Klorofil-a adalah tipe klorofil yang
paling umum dari tumbuhan, kegunaannya bagi tanaman adalah untuk fotosintesis.
Klorofil-a merupakan salah satu parameter yang sangat menentukan produktivitas
primer di perairan. Sebaran dan tinggi rendahnya konsentrasi klorofil-a sangat terkait
dengan kondisi geografis suatu perairan. Beberapa parameter fisik-kimia yang
mengontrol dan memengaruhi sebaran klorofil-a, adalah intensitas cahaya, nutrient.
Perbedaan parameter fisika-kimia tersebut secara langsung merupakan penyebab

bervariasinya produktivitas primer di beberapa tempat d laut. Selain itu grazing juga
memiliki peran besar dalam mengontrol konsentrasi klorofil-a di perairan.
Umumnya sebaran klorofil-a tinggi di perairan pantai sebagai akibat dari
tingginya suplai nutrient yang berasal dari daratan melalui limpasan air sungai,
sebaliknya cenderung rendah di daerah lepas pantai. Meskipun demikian pada beberapa
tempat masih ditemukan konsentrasi klorofil-a yang cukup tinggi, meskipun jauh dari
daratan. Keadaan tersebut disebabkan oleh adanya proses sirkulasi massa air yang
memungkinkan terangkutnya sejumlah nutrient dari tempat lain, seperti yang terjadi
pada daerah arus naik.
8.

Suhu
Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian dari permukaan

laut, sirkulasi udaa, penutupan awan, dan aliran serta kedalaman dari badan air.
Perubahan suhu mengakibakan peningkatan viskositas, reaksi kimia dan evaprasi.
Selain itu, peningkatan suhu air juga mengakiakan penurunan kelarutan gas dalam air
seperti O2, CO2, N2, dan CH4 (Haslam 1995 dalam Barus).
Beberapa sifat thermal air seperti panas jenis, nilai kalor penguapan danilai
peleburan air mengakibatkan minimnyaperuahan suhu air, sehingga variasi suhu air
lebih kecil bila dibandingkan dengan variasi suhu udara. Danau di daerah tropic
mempunyai kisaran suhu tinggi yaitu antara 25-30C, dan menunjukkan sedikit
penurunan suhu dengan bertambahnya kedalaman. Perubahan suhu dapat menghasikan
stratifikasi yang mantap sepanjang tahun, sehingga pada danau yang amat dalam,
cenderung hanya sebagian yang tercampur (Effendi, 2003 dalam Barus). Adanya
penyerapan cahaya oleh air danau akan menyebabkan terjadinya lapisan air yang
mempunyai suhu yang berbeda. Baian lapisan yang lebih hangat biasanya berbeda pada
daerah eufotik, sedangkan lapisan yang lebih dingin biasanya berada di bagian afotik
(bagian bawah).
Menuru Gldman dan Home (1983) dalam Barus, bila pada danau tersebut tidak
mengalami pendukan oleh angina, maka kolam air danau terbagi menjadi beberapa
lapisan, yaitu: (1) eplimnion, lapisan yang hangat dengan kerapatan jenis air kurang,
(2) hipolimnion, merupakan lapisan yang lebih dingin dengan kerapatan air kurang, dan
(3) metalimnion adalah lapisan yang berada anta epilmnion dan hipolimnion. Pada
daerah metalimnion terdapat lapisan termoklin yaitu lapisan dimana suhu akan turun
9

sekurang-kuragnya 1C dalam setiap 1 meter. Suhu merupakan controlling factor


(factor pengendali) bagproses respirasi dan metabolisme biota akuatik yang berlanjut
terhadap pertumbuhan dan proses fisiologi serta siklus reproduksinya (Hutabarat dan
Evans, 194). Suhu juga dapat mempengaruhi proses da keseimbangan reaksi kimia
yang terjadi dalam air (Stum dan Morgan 1981 dalam Barus)
Kenaikan temperature sebesar 10C (hanya pada kisaran temperature yang masih
ditolerir) akan meningkat laju metabolisme dari organisme sebesar 2-3 kali lipat,
meningkatnya laju metabolisme akan menyebabkan konsumsi oksigen meningkat,
sementara dilain pihak dnegan naiknya temperature akan mengakibakan kelarutan
oksigen dalam air menjadi berkurang. Hal ini menyebabkan organisme air akan
mengalami kesulitan untuk melakukan respirasi (Barus 2004).
Suhu berpengaruh langsung terhadap tumbuhan dan hewan, yakni padalaju
fotosintesis tumbuh-tumbuhan dan proses fisiologi hewan, khususnya derajat
metabolisme dan siklus reproduksinya. Selain itu suhu juga berpengaruh tidak langsung
terhadap kelarutan CO2 yang digunakan untuk fotosintesis dan kelarutan O2 yang
digunakan untuk respires hewan-hewan laut.
Daya larut O2 akan berkurang seiring dengan meningkatnya suhu perairan, su
yang sesuai mendukung kehidupan fitoplankton berkisar 20-30C, sedangkan shu yang
baik untuk menumbuhkan plankton adalah 25-30C. Pengamatan tentang suhu secara
umum hamper merata si seluruh kolom air.
Seiring dengan semakin besanya sudut pandang matahari, secara berkelanjutan
tensitas cahaya semakin kuat masuk ke kolom peraran. Hal ini tentunya sangat
berpengaruh terhadap aktivitas fitoplankton untuk memperbanyak diri, sehingga pada
kolom air yang mendapat penyinaran yang lebih besar akan mempunyai jumlah
fitoplankton lebih banyak. Oleh karena kedalaman dekat permukaan mendapatkan
penyinaran yang lebih banyak tentunya akan semakin banyak ditemukan kelimpahan
fitoplankton lebih tinggi daripada kedalaman yang lebih dalam.
2.6

Produktivitas Primer Danau Toba


Danau Toba adalah sebuah danau tekto-vulkanik dengan ukuran panjang 100

kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.
Danau ini merupakan danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Di tengah danau
ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir. Danau Toba dan Pulau
10

Samosir terbentuk dari letusan gunung berapi maha dahsyat sekitar 69000 sampai 77000
tahun yang lalu dengan skala 8.0 Volcanic Explosivity Index (VEI) . Skala 8.0 VEI
dideskripsikan sebagai letusan supervulkanologi sangat dahsyat yang memuntahkan
>1000 km3 material letusan dengan ketinggian letusan mencapai 50 km dan
mempengaruhi suhu dan kondisi di lapisan toposphere dan stratosphere bumi. Letusan
dari Toba telah menurunkan temperatur bumi sekitar 3 sampai 5 0C dan mencapai 15 0C
pada latitude yang lebih tinggi, populasi manusia di bumi yang meninggal sampai 60%,
dibawah ini merupakan gambar (1) Danau Toba.

Gambar 1. Danau Toba

Keseimbangan ekostistem di perairan Danaun Toba di dimulai dari produksi


perimer perairan itu sendiri. Jika terjadi keseimbangan ekosistem maka kelestarian sutau
makhluk hidup akan terjaga. Berikut ini merupakan Nilai produktivitas primer, faktor
fisika kimia dan kelimpahan plankton di Danau Toba
Tabel 1. Nilai produktivitas primer, faktor fisika kimia dan kelimpahan plankton

11

Dari hasil pengukuran diketahui bahwa kedalaman penetrasi cahaya adalah 5 m.


Kedalaman penetrasi seperti ini menunjukkan keadaan air yang relatif masih jernih.
Konsentrasi oksigen terlarut pada lokasi penelitian berkisar antara 5,93 6,40 mg/L,
sementara nilai pH berkisar antara 7.03 - 7.37, BOD 1,50 mg/L, NO 3 1,07 mg/L, PO4
0,02 mg/L (Tabel 1).
Dari hasil pengukuran di lokasi penelitian perairan Danau Toba, diperoleh bahwa
nilai produktivitas primer rata-rata berkisar antara 387,873 825,739 mg C/m 3/hari
(Tabel 1), dengan nilai terendah diperoleh pada lokasi 4 dan nilai tertinggi pada lokasi 2,
dengan kelimpahan fitoplankton 6745,22 sel/L. Fitoplankton yang ditemukan pada
Danau Toba yaitu Acillariophyceae (Achnanthes, Chaetoceros, Cymbella, Rophalodia,
Asterionella, Diatoma, Fragillaria, Tabellaria, Navicula, Neidium, Pinnularia,
Nitzchia, Cymatopleura, Surirella. Chlorophyceae (Chlorococcum, Pithophora,
Closterium,

Hyalotheca,

Staurastrum,

Tribonema,

Hydrodiction,

Pediastrum,

Gonatozygon, Planktospaeria, Sphaerocystis., Peninopera, Protococcus, Ulotrix,


Enteromorpha, Volvox, Spirogyra. Dari hasil penelitian terhadap fitoplankton diperoleh
bahwa

jenis-jenis

yang

mempunyai

kelimpahan

yang

tinggi

adalah

Staurastrum(2277,71 individu/L), Flagillaria (1941,40 individu/L), Ulotrix (1138,85


individu/L), Surilella(1054,78 individu/L) dan Asterionella (909,55 individu/L).
Menurut Brehm & Meijering (1990), nilai produktivitas primer rata-rata tahunan
di danau danau berkisar antara 20 100 mg C/m3/hari (oligotrofik). Mengingat
pengukuran di Danau Toba dilakukan hanya sekali, maka dapat dimengerti bahwa hasil
pengukuran yang dilakukan jauh lebih besar dibandingkan dengan nilai produktivitas
primer menurut Brehm & Meijering (1990) tersebut. Adanya masukan nitrat dan fosfat
dapat menyebabkan suplai unsur dan senyawa dalam perairan meningkat. Fitoplankton
dapat menghasilkan energi jika tersedia bahan nutrisi yang paling penting yaitu nitrat
dan fosfat (Nybakken, 1992), kaitannya dengan kesuburan perairan semakin tinggi
produktivitas primer bersih suatu perairan maka semakin besar pula daya dukungnya
bagi komunitas penghuninya

12

Selanjutnya pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa berdasarkan kedalaman danau, nilai
produktivitas primer terendah diperoleh pada permukaan (lokasi 4) sebesar 187,68 mg
C/m3/hari. Meskipun kepadatan plankton di lokasi 4 ini tinggi yaitu sebesar 6.970,69
indv./L, tetapi jenis-jenis plankton yang dijumpai di dominasi oleh zooplankton (Tabel
3) yang tidak berperan dalam produktivitas primer. Berdasarkan kedalaman danau juga
diperoleh bahwa nilai produktivitas primer tertinggi di peroleh pada kedalaman 2,5 m
(lokasi 2) sebesar 1.163,62 mg C/m3/hari. Hal ini memberikan indikasi bahwa
kedalaman 2,5 m merupakan kedalaman yang ideal bagi terjadinya proses fotosintesis
yang optimal. Adanya berbagai aktivitas di bagian permukaan danau menyebabkan
proses fotosintesis menjadi tidak efektif, meskipun jika ditinjau dari aspek intensitas
cahaya matahari sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi proses fotosintesis,
seharusnya bagian permukaan air akan menyerap cahaya lebih baik dibandingkan
dengan lapisan air di bawahnya.
Berdasarkan uji statistik diperoleh bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antara
nilai produktivitas primer yang dibandingkan antar lokasi penelitian, seperti terlihat
pada Tabel 2. Selanjutnya dapat dilihat bawah nilai produktivitas primer pada
permukaan berbeda nyata dengan nilai yang diperoleh pada kedalaman 2,5 m, ditandai
dengan nilai signifikan (0,034) yang lebih kecil dari 0,05.
Berikut ini merupkan tabel hasil uji terhadap nilai produktivitas primer di Danau
Toba
Tabel 2. Hasil uji terhadap nilai produktivitas primer berdasarkan lokasi dan kedalaman

Keadaan ini memberikan gambaran bahwa secara umum tingkat homogenitas.


Danau Toba sangat tinggi bahwa nilai temperatur pada bagian permukaan Danau Toba
tidak berbeda jauh dengan besaran temperatur pada bagian danau yang lebih dalam
(pada kedalaman 200 500 m), dengan selisih hanya sekitar 1 0C. Hal ini menunjukkan
13

bahwa sulit menemukan lapisan air di mana terjadi termoklin, yaitu terjadinya
penurunan temperatur air secara drastis sejalan dengan bertambahnya kedalaman air.
Diduga adanya aktivitas vulkanis pada lapisan bumi yang terletak di bawah Danau Toba
menyebabkan temperatur air pada lapisan yang dalam tidak berbeda jauh dengan
permukaan.
Demikian juga halnya dengan kandungan oksigen terlarut yang relative konstan
sampai pada lapisan air yang dalam di Danau Toba. Dengan kata lain bahwa Danau
Toba memiliki karakter yang unik dengan adanya proses pencampuran air yang baik
sehingga tidak terjadi stagnasi lapisan air sebagaimana umumnya dijumpai pada danaudanau di daerah tropis.
3.2

Produktivitas Primer Danau Singkarak


Danau Singkarak berada di dua kabupaten Sumatera Barat yakni Kabupaten Solok

dan Kabupaten Tanah Datar, danau ini merupakan danau terluas ke-2 di Pulau Sumatera.
Danau ini merupakan hulu dari Batang Ombilin (Sungai Ombilin), air danau ini
sebagian dialirkan melewati terowongan menembus Bukit Barisan ke Batang Anai
untuk menggerakkan generator PLTA Singkarak di dekat Lubuk Alung, Padang
Pariaman (Kristian, 2009) ). Danau Singkarak merupakan salah satu aset bagi
pemerintah Sumatera Barat terutama Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok.
Selain sebagai daerah kunjungan wisata, potensi perikanan Danau Singkarak juga cukup
menjanjikan. Serta pemanfataan air danau oleh masyarakat sekitar untuk keperluan
sehari-hari seperti kebutuhan air minum, mandi, cuci, kakus (MCK) dan irigasi.
Pemanfaatan Danau Singkarak lainnya sebagai pendukung sarana pertanian, perikanan,
pariwisata, transportasi, pembangkit listrik. Berikut ini merupkan gambar (2) Danau
Singkarak.

14

Gambar 2. Danau Singkarak

Jenis fitoplankton yang ditemukan selama penelitian di Jorong Ombilin Nagari


Simawang terdiri dari empat kelas dan (15 spesies) yaitu kelas Bacillariophyceae (3
jenis), kelas Chlorophyceae (8 jenis), kelas Cyanophyceae (3 jenis) dan kelas
Xanthophyceae (1 jenis). Kelimpahan fitoplankton di perairan Danau Singkarak Jorong
Ombilin Nagari Simawang berkisar 2107 2935 sel/l. Jenis fitoplankton yang
ditemukan selama penelitian di Jorong Ombilin Nagari Simawang terdiri dari empat
kelas dan (15 spesies) yaitu kelas Bacillariophyceae (3 jenis), kelas Chlorophyceae (8
jenis), kelas Cyanophyceae (3 jenis) dan kelas Xanthophyceae (1 jenis). Jenis
fitoplankton yang ditemukan di setiap stasiun yaitu jenis Ceratoneis arcus, Melosira
islandica, Diatoma maximum, Aphanothece falida, Closterium libellula, Gonatozygon
sp., Netrium sp., Pennium spirostriolanum, Staurastrum sp., Hydrocoryne sp.,
Dactylococopsis fascularis, Tolypothrix byssoidea, Tribonema affine.
Perairan Danau Singkarak Jorong Ombilin Nagari Simawang, berdasarkan
penggolongan tersebut termasuk ke dalam kategori golongan fitoplankton yang rendah,
karena kelimpahan fitoplankton di perairan Danau Singkarak Jorong Ombilin Nagari
Simawang ini < 12.000 sel/l yaitu berkisar 4201 sel/l. ada beberapa faktor yang
menyebabkan penyebaran fitoplankton di setiap stasiun berbeda-beda, diantaranya
adalah faktor lingkungan perairan baik secara fisika, kimia dan biologi (Rukhoyah 200
dalam Sinurat ).
Secara umum kondisi Danau Singkarak Jorong Ombilin memiliki keragaman jenis
fitoplankton yang bervariasi dan keragamannya tergolong sedang. Dengan demikian
perairan Danau Singkarak Jorong Ombilin ini tergolong dalam kondisi yang sedang
keragaman fitoplanktonnya. Indeks keragaman digunakan untuk menyatakan berbagai
jenis organisme yang terdapat pada suatu ekosistem. Keragaman jenis ini dapat
dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Semakin baik kondisi lingkungannya, maka
keragamann jenisnya semakin tinggi.
Indeks keseragaman (E) jenis fitoplankton di perairan Danau Singkarak Jorong
Ombilin berkisar 1,920 2,356. Indeks dominansi jenis fitoplankton berkisar 0,105
0,159. Berdasarkan nilai dominansi fitoplankton, tidak ada jenis fitoplankton yang
15

mendominasi perairan Danau Singkarak. Keseragaman jenis di perairan Danau


Singkarak rata-rata nilainya mendekati 1. Weber (1973) dalam Sinurat menyatakan
bahwa apabila nilai E mendekati 1 ( > 0,5) berarti keanekaragaman organisme dalam
suatu perairan berada dalam keadaan seimbang berarti tidak terjadi persaingan baik
terhadap tempat maupun terhadap makanan. Apabila nilai E berada < 0,5 atau
mendekati nol berarti keanekaragaman jenis organisme dalam perairan tersebut tidak
seimbang, dimana terjadi persaingan baik tempat maupun makanan. Dengan demikian
maka kondisi di perairan Danau Singkarak Jorong Ombilin tergolong pada perairan
yang seimbang dan tidak terjadi persaingan baik terhadap tempat (habitat) maupun
sumber makanan.
Parameter kualitas air Danau Singkarak Jorong Ombilin Nagari Simawang
menunjukkan suhu berkisar 270C 290C, pH perairan dangan 6, oksigen terlarut
berkisar 4,17 mg/l 4,63 mg/l, karbondioksida bebas berkisar 9,38 mg/l 13,54 mg/l,
nitrat berkisar 0,0054 mg/l 0,0107 mg/l dan fosfat berkisar 0,0204 mg/l 0,0513 mg/l.
kualitas air Danau Singkarak Jorong Ombilin Nagari Simawang berdasarkan peraturan
Pemerintah No.82 Tahun 2001 tergolong masih mendukung untuk kehidupan organisme
perairan.
2.8

Perbandingan Produktivitas Primer di Danau Toba dengan Danau


Singkarak
Kualitas air berpengaruh pada produktivitas di perairan, apabila kulaitas air baik

maka produktivitas akan berlangsung baik, namun jika kulitas air buruk yang akan
terjadi adalah sebaliknya. Nutrien dibutuhkan untuk fitoplankton sebagai asupan, namun
jika nutrien yang terlalu tinggi disuatu perairan akan berbahaya. Blooming fitoplankton
akan terjadi yang membuat terganggunya organisme biota air. Bloomingnya
fitoplankton akan membuat persaingan rebutan oksigen pada malam hari dan jika
fitoplanktonnya sudah mati maka kekeruhan akan semakin tinggi. Rata-rata keragaman
plankton pada perairan sekitar pemukiman penduduk pada Danau Toba berada pada
kisaran 14.000-22.000 ind/L, temperatur rata-rata 24-25 0C, pH 7, DO 6,0-6,60 mg/l,
BOD 1,2-3,8 mg/l, NO3 1,1553-1,2038 mg/l, PO4 0,0239-0,03545 mg/l dengan ratarata produktivitas primer sebesar 635,6 mgC/m3/hari. Sedangkan keragaman
fitoplankton pada Danau Singkarak adalah

2107 2935 ind/L suhu

berkisar 270C 290C, pH perairan danau 6, oksigen terlarut berkisar 4,17 mg/L 4,63
16

mg/l, BOD 9,38 mg/l 13,54 mg/l, NO 3 0,0054 mg/l 0,0107 mg/l dan PO 4 0,0204
mg/l 0,0513 mg/l. Berdasarkan keragaman jenis memiliki keragaman sedang dengan
sebaran fitoplankton yang berbeda. Berdasarkan nilai dominansi fitoplankton, tidak ada
jenis fitoplankton yang mendominasi perairan Danau Singkarak. Berdasarkan nilai
keseragaman jenis fitoplankton memiliki keseragaman seimbang dan tidak terjadi
persaingan baik terhadap tempat maupun makanan.
Rimper (2002) mengelompokkan bahwa fitoplankton terbagi atas 3 kelompok yaitu,
rendah, sedang dan tinggi.
1).

Kelimpahan fitopalnkton rendah < 12.000 sel/L.

2).

Kelimpahan sedang 12.500 sel/L. dan

3).

Kelimpahan fitoplankton tinggi > 17.000 sel/L.


Kelimpahan fitoplankton di Danau Toba berada pada kisaran 14.000-22.000 ind/L

dan Danau Singakarang 2107 2.935 ind/L. Produktivitas primer yang di hasilkan oleh
Danau Toba adalah 387,873 825,739 mg C/m3/hari dan produktivitas primer Danau
Sangkarang tidak tercantum pada jurnal. Dilihat dari jumalah kelimpahan fitoplankton
di Danau Tobalebih dominan dibandingakan dengan Danau Singkarak. Kelimpahan
fitoplankton di Danau Toba tergolong tinggi, dan Danau Singkarak tergolong rendah.
Hal ini dapat disimpulkan kalau hasil produksi primer Danau toba akan lebih besar dari
pada Danau Singkarak.
Produktivitas primer pada Danau Singkarak lebih rendah daripada Danau Toba.
Hal ini disebabkan karena kualitas air Danau Toba lebih tinggi daripada Danau
Singkarak. Temperatur pada Danau Toba lebih optimal untuk pertumbuhan fitoplankton
yaitu pada suhu sekitar 240-250 C. Sedangkan pada Danau Singkarak perairan lebih
tinggi yaitu sekitar 270-290 C sehingga kadar oksigen terlarutnya lebih kecil dari Danau
Toba dan menaikkan kadar karbondioksida terlarut. Dapat dilihat bahwa kadar BOD di
Danau Singkarak lebih tinggi daripada di Danau Toba. Selain itu kandungan NO 3 dan
PO4 Danau Toba juga lebih tinggi daripada di Danau Singkarak. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa keragaman fitoplankton pada Danau Toba lebih tinggi daripada
Danau Singkarak. Adanya masukan nitrat dan fosfat dapat menyebabkan suplai unsur
dan senyawa dalam perairan meningkat. Fitoplankton dapat menghasilkan energi jika
tersedia bahan nutrisi yang paling penting yaitu nitrat dan fosfat (Nybakken, 1992).

17

Hasil perbandingan nilai produktivitas primer tersebut, dapat dikatakan Danau Toba
tergolong memiliki kesuburan yang tinggi. Kaitannya dengan kesuburan perairan
semakin tinggi produktivitas primer bersih suatu perairan maka semakin besar pula daya
dukungnya bagi komunitas penghuninya, sebaliknya jika produktivitas primer bersih
fitoplanktonnya rendah maka menunjukkan daya dukung yang rendah pula terhadap
suatu perairan (Kristiani 2011 dalam Terangna).
BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Kelimpahan fitoplankton di Danau Toba berada pada kisaran 14.000-22.000 ind/L

dan Danau Singakarang 2107 2.935 ind/L. Produktivitas primer yang di hasilkan oleh
Danau Toba adalah 387,873 825,739 mg C/m3/hari dan produktivitas primer Danau
Sangkarang tidak tercantum pada jurnal. Dilihat dari jumalah kelimpahan fitoplankton
di Danau Tobalebih dominan dibandingakan dengan Danau Singkarak. Kelimpahan
fitoplankton di Danau Toba tergolong tinggi, dan Danau Singkarak tergolong rendah.
Hal ini dapat disimpulkan kalau hasil produksi primer Danau toba akan lebih besar dari
pada Danau Singkarak.
Kualitas air di Danau Toba dengan temperatur rata-rata 4-25 0C, pH 7, DO 6,06,60 mg/l, BOD 1,2-3,8 mg/l, NO3 1,1553-1,2038 mg/l, PO4 0,0239-0,03545 mg/l,
Danau Singkarak suhu berkisar 270C 290C, pH perairan danau 6, oksigen terlarut
berkisar 4,17 mg/L 4,63 mg/l, BOD 9,38 mg/l 13,54 mg/l, NO 3 0,0054 mg/l
0,0107 mg/l dan PO4 0,0204 mg/l 0,0513 mg/l
3.2

Saran
Penyelesaian tugas ini dilakukan dengan mengumpulkan berbagai macam sumber

seperti jurnal dan artikel. Kelompok kami memnginginkan kepada pembaca jika ada
kekurangan dari makalah ini maka diberi masukan agar menyempuranakn tugas yang
kami buat.

18

DAFTAR PUSTAKA
Barus. 2008. Produktivitas Primer Fitoplankton dan Hubungan dengan Faktor FisikKimia Air di Perairan Parapat, Danau Toba. Jurnal Biologi Sumatera Vol 3, No.
1.
Hayati . 2012. Keragaman Fitoplankton di Perairan Danau Singkarak, Jorong Ombilin
Rambatan Sub-Regency, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Jurnal
UNRI.Riau
Nybakken J.W. 1982. Biologi Laut : Suatu pendekatan Ekologis. Gramedia. Jakarta.Terangna,

N., Hidayat, R., Sutriati, A., Augustiza, H. And Jursal. 2002. Pengelolaan
Kualitas Air Danau Toba. Puslitbang Sumber Daya Air, Bogor.
Sinurat, Gokman. 2009. Studi Tentang Nilai Produktivitas Primer di Pangururan
Perairan Danau Toba. Skripsi: Departemen Biologi, FMIPA, USU.
Sitorus, Mangatur. 2009. Hubungan Nilai Produktivitas Primer dengan Konsentrasi
Klorofil-a, dan Faktor Fisik Kiia di Perairan Danau Toba, Balige, Sumatera
Utara. Tesis: Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

19