Anda di halaman 1dari 4

Pungsi Pleura

A. Pengertian
Punksi pleura, yaitu pengambilan atau penyedotan cairan dari lapisan
pembungkus paru (pleura) jika ditemukan cairan akibat kanker paru. Hasil punksi ini
akan dianalisis dan dikirim ke laboratorium patologi anatomi untuk diproses. Jika
volume cairan cukup banyak, maka dokter spesialis kanker paru akan sekaligus
mengeluarkan cairan tersebut. Punksi pleura dan pemasangan selang dada kebanyakan
dilakukan dokter spesialis paru dengan bius lokal, tetapi pada kondisi berat harus
dilakukan di kamar operasi dengan bius total.
Punksi pleura diantara linea aksilaris anterior dan posterior, pada sela iga ke-8.
Didapati cairan yang mungkin serosa (serothoraks), darah (hemothoraks), pus
(piothoraks) atau kilus (kilothoraks), nanah (empiema).Bila cairan serosa mungkin
berupa transudat (cairan putih jernih) atau eksudat (cairan kekuningan)
B. Indikasi
Diagnosis dan terapi cairan pleura
Diagnosis dan terapi pneumotoraks dan efusi pleura
Adanya gejala subyektif seperti sakit atau nyeri, dipsneu, rasa berat dalam

dada
Cairan melewati sela iga ke-2, terutama bila di hemithoraks kanan, karena

dapat menekan vena cava superior


Bila penyerapan cairan terlambat (lebih dari 6-8 minggu).

C. Tujuan Pemeriksaan
1. Sebagai terapi : menghilangkan akumulasi cairan atau udara pleural yang
menyebabkan kompresi paru dan kegawatan pernafasan.
2. Sebagai tindakan pemeriksaan diagnostik : Pemeriksaan cairan pleural terhadap
berat jenis, glukosa, protein, pH, pemeriksaan kultur atau sensitivitas, serta
pemeriksaan sitologi.
D. Kontra Indikasi
1. Absolut: Tidak ada
2. Relatif
a. Keadaan umum buruk, kecuali punksi pleura dengan tujuan terapeutik
b. Infeksi kulit yang luas di daerah punksi
c. Kelainan hemostasis
d.

E. Bahan dan Alat


Stetoskop
Sarung tangan steril
Spuit 5 cc dan 50 cc
Kateter vena No. 14
Blood set
Lidocain 2%
Alkohol 70%
Plester
Three way stopcock
kasa steril
Betadin
F. Prosedur tindakan
Pasien dipersiapkan dengan posisi duduk atau setengah duduk, sisi yang sakit
menghadap dokter yang akan melakukan punksi.
Beri tanda (dengan spidol atau pulpen) daerah yang akan di punksi Pada linea
aksilaris anterior atau linea midaksilaris.
Desinfeksi -> pasang duk steril
Anestesi lidokain 2% dimulai dari subkutis, lalu tegak lurus ke arah pleura
(lakukan tepat di daerah sela iga), keluarkan lidokain perlahan hingga terasa
jarum menembus pleura.
Pastikan tidak ada perdarahan.
Jika jarum telah menembus ke rongga pleura, kemudian dilakukan aspirasi
beberapa cairan pleura.
Bila jumlah cairan yang dibutuhkan untuk diagnostik telah cukup, tarik jarum
dengan cepat dengan arah tegak lurus pada saat ekspirasi dan bekas luka
tusukan segera ditutup dengan kasa betadin, tetapi jika bertujuan terapeutik
maka pada lokasi yang sama dapat segera dilakukan pengeluaran cairan /
udara dengan teknik aspirasi sebagai berikut:
a. Dengan
menggunakan
kateter
vena
No.
14
Tusukkan kateter vena No. 14 pada tempat yang telah disiapkan dan apabila
telah menembus pleura, piston jarum di tarik lalu disambung dengan bloodset.
Dilakukan sampai dengan jumlah cairan didapatkan 1000 cc, indikasi lain
untuk penghentian aspirasi adalah timbul batuk-batuk.

b. Dengan bantuan tree way stopcock (jarum pipa dengan stopkran)


Pasang jarum ukuran 18 pada sisi 1 dari stopkran, selang infus set pada sisi 2
(untuk pembuangan) dan spuit 50 cc pada sisi 3 (untuk aspirasi). Teknik:
i. Tusukkan jarum melalui ruang interkosta dengan posisi kran
menghubungkan rongga pleura dan spuit, sedangkan hubungan dengan
selang pembuangan terputus. Setelah jarum mencapai rongga pleura
dilakukan aspirasi sampai spuit terisi penuh.
ii. Kemudian posisi kran diubah sehingga arah ke rongga pleura tertutup
dan terjadi hubungan antara spuit dengan selang pembuangan cairan
pleura.
Kran kembali diputar ke posisi (a), dilakukan aspirasi sampai spuit terisi
penuh, kran diputar ke posisi (b) dan cairan pleura dibuang. Prosedur ini
dilakukan berulang sampai aspirasi selesai dan selanjutnya jarum dapat
dicabut.
G. Tindakan Keperawatan
1. Pengkajian
Mengkaji program/instruksi medik.
Mengkaji tingkat pengetahuan klien tentang prosedur pemeriksaan.
Mengkaji hasil pemeriksaan rontgen dada dan USG yang dilakukan
sebelumnya.
Mengobservasi tanda-tanda vital, adanya keluhan kesulitan bernafas, dan
nyeri.
Mengkaji adanya riwayat alergi tehadap obat anestesi.
2. Intervensi
Persiapan Alat :
1. Surat ijin tindakan (informed concent).
2. Spuit 5 ml, 20 ml, dan 50 ml.
3. Jarum No. 22, 26, dan 16.
4. Katup dua/tiga jalur (stopcock) .
5. Selang karet.
6. Jarum biopsi.
7. Cairan antiseptik.
8. Anestesi lokal.
9. Kasa steril.
10. Hanscoen steril.
11. Duk steril.
12. Handuk.
Persiapan Klien:
1. Menjelaskan prosedur dan tujuan dilakukannya arteriogram.

2. Meminta klien untuk menandatangani informed concent.


3. Membantu klien untuk membuka pakaian /memajankan bagian tubuh atas.
4. Menjaga kebutuhan privacy klien.
3. Implementasi
1. Mencuci tangan.
2. Membantu klien mengatur posisi yang sesuai untuk tindakan thorasentesis.
3. Menyiapkan alat didekat klien, buka dengan teknik steril.
4. Mengatur
ketrerangan
pencahayaan,
gunakan
lampu tindakan bila perlu.
5. Selama dokter melakukan prosedur, memberikan dukungan emosional dan
fisik pada klien dan siapkan klien terhadap hal-hal yang akan terjadi :
a. Klien akan merasa dingin akibat anestetik.
b. Menganjurkan klien untuk benar-benar tidak bergerak, dan tidak batuk.
c. Memberitahuykan kepada klien saat anestesi lokalnya akan disuntikkan.
6. Memberikan tekanan pada area punksi dan memberikan balutan steril setelah
prosedur selesai.
7. Membantu klien untuk kembali pada posisi semula
8. Memastikan kepada dokter apakah diperlukan pemeriksaan rontgen kembali.
9. Merapihkan alat.
10. Mencuci tangan.
4. Evaluasi
1. Mengevaluasi respon serta toleransi klien sebelum, selama, dan sesudah
prosedur.
2. Mengevaluasi adanya keluhan pening, rasa sesak didada, batuk, sputum dengan
bercampur serat darah, takikardi, dan sianosis.
3. Mengevaluasi karakteristik cairan yang keluar : jumlah, konsistensi, dan
warnanya.
4. Mengobservasi tanda-tanda vital pasca prosedur secara periodik.
5. Dokumentasi