Anda di halaman 1dari 13

RESENSI 2 BUAH BUKU

TEORI-TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Prof. Dr. Ratna Willis Dahar, M. Sc


&
Prof. Dr. Abdul Hamid K, M. Pd

Oleh :

NORENTA SITOHANG

NIM : 8126122032

PRODI : TEKNOLOGI PENDIDIKAN


DOSEN:
Prof. Dr. SAHAT SIAGIAN, M.Pd

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2012
Judul Buku 1 : Teori Teori Belajar dan Pembelajaran

Pengarang : Prof. Dr. Ratna Willis Dahar, M. Sc

Penerbit : Erlangga

Tahun Terbit : 2011

Jumlah Halaman : 177 Halaman

Judul buku 2 : Teori belajar dan Pembelajaran

Pengarang : Prof. Dr. Abdul Hamid K, M. Pd

Penerbit :-

Tahun Terbit : 22 Februari 2009 Edisi ke dua

Jumlah Halaman : 135 Halaman

PENDAHULUAN

I. RANGKUMAN ISI BUKU

Bab I: Dibagian Bab l buku ini menjelaskan tentang mengapa belajar. Belajar dapat
didefenisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisasi berubah prilakunya sebagai
akibat pengalaman.Belajar dihasilkan dari pengalaman dengan lingkungan yang
didalamnya terjadi hubungan-hubungan antara stimulus-stimulus dan respon-respon.Ada
lima bentuk belajar yaitu

1. Belajar Responden
Semua hal dalam lingkungan dapat menjadi berpasangan dengan suatu stimulus yang
menimbulkan respon-respon emosional.Belajar responden ini adalah hasil penelitian ahli
psikologi Rusia yang terkenal Ivan Pavlop.

2. Belajar Kontiguitas
Asosiasi dekat (contiguous) sederhana antara suatu stimulus dan suatu respons dapat
menghasilkan suatu perubahan dalam prilaku.
3. Belajar Operant
Prilaku yang diinginkan timbul secara spontan, tampa dikeluarkan secara naluriah oleh
stimulus apapun, saat organisme beroperasi terhadap lingkungan.
4. Belajar Observasional
Konsep belajar observasional memperlihatkan bahwa orang dapat belajar dengan
mengamati orang lain melakukan hal yang akan dipelajari.
5. Belajar Kognitif

Bab II: Pada Bab ini memaparkan tentang mengapa teori itu dibutuhkan.Snelbecker (1974)
berpendapat bahwa perumusan teori itu bukan hanya penting tetapi juga vital bagi
psikologi dan pendidikan agar dapat maju atau berkembang serta memecahkan masalah-
masalah yang ditemukan dalam setiap bidang.Kita harus menyadari bahwa ilmu apapun
untuk berkembang, harus dilandasi teori.

Fungsi Teori :

Membuat penemuan-penemuan menjadi sistematis


Melahirkan hipotesis
Membuat prediksi
Memberi penjelasan

Ada dua metode konstruksi teori yaitu metode deduktif dan metode induktif.Hal yang
ingin diketahui ialah apakah teori tertentu relative lebih baik daripada teori yang lama dan
apakah bagian tertentu suatu teori memerlukan revisi.Cara untuk menguji suatu teori adalah
secara sintaks dan secara semantic.

Bab III: Pada bab ini menjelaskan tentang teori-teori belajar.Teori belajar abad ke-20 dibagi
menjadi dua keluarga yaitu keluarga teori perilaku dan keluarga teori kognitif.

Teori Belajar Perilaku


1. Ivan Pavlov : Classical Conditioning
2. E.L Thorndike : Hukum Pengaruh
3. B.F Skinner : Operant Conditioning
Ada beberapa prinsip yang melandasi teori-teori perilaku yaitu 1) konsekuensi-
Konsekuensi, maksudnya konsekuensi menyenangkan selalu disebut reinforser dan yang tidak
menyenangkan disebut hukuman. 2) Kesegaran (immediacy) konsekuensi. Memberikan pujian
langsung setelah anak melakukan pekerjaan dengan baik merupakan suatu reinforser yang lebih
kuat dari pada angka yang diberikan kemudian.3) Pembentukan (shaping).Guru memberikan
reinforcement pada langkah-langkah yang menuju keberhasilan.
Teori belajar sosial menekankan bahwa lingkungan kerap kali dipilh dan diubah oleh
seseorang melalui perilakunya.
Terdapat empat fase belajar melalui model yaitu: 1) fase perhatian. 2) fase retensi. 3) fase
reproduksi dan 4) fase motivasi.
Teori Belajar Kognitif
Teori pemrosesan informasi

Bab IV : Bab ini berisi tentang Penyajian Pengetahuan. Dalam bab ini dibahas tentang bentuk
penyajian pengetahuan yang menurut Gagne (1985) ialah proposisi,produksi dan
gambaran mental. Proposisi merupakan unit dasar informasi dalam sistem pemrosesan
informasi manusia.Produksi memprogram terjadinya aksi-aksi tertentu pada kondisi
tertentu.Gambaran mental digunakan dalam memori kerja untuk memanipulasi
informasi spasial yakni informasi yang menyangkut ruang.
Ada dua macam pengetahuan yaitu pengetahuan deklaratif (menyatakan pengetahuan
apa sesuau itu) dan pengetahuan procedural (pengetahuan bagaimana melakukan
sesuatu).
Proposisi digunakan untuk menyajikan pengetahuan deklaratif sedangkan pengetahuan
procedural disajikan oleh produksi.

Bab V : Bab V menguraikan bagaimana proses belajar pengetahuan deklaratif dan procedural
terjadi pada diri orang yang sedang belajar, bagaimana ke dua macam pengetahuan ini
diperoleh dan bagaimana pembelajaran seharusnya dilakukan.

1. Belajar pengetahuan Deklaratif.


Pengetahuan deklaratif dapat diperoleh bila suatu proposisi baru disimpan bersama
proposisi yang berhubungan jaringan proposisi.Pemanggilan dan konstruksi pengetahuan
deklaratif keduanya bergantung pada penyebaran aktivasi. Dalam pemanggilan,aktivasi
menyebar dari perangsang ke proposisi yang akan dipanggil. Dalam konstruksi,aktivasi
menyebar dari perangsang ke informasi yang berhubungan dan proposisi logis beroperasi
terhadap informasi ini untuk menghasilkan jawaban. Elaborasi memperlancar
pemanggilan dengan menyediakan alternatif cara untuk pemanggilan agar aktivasi
menyebar dan menyediakan informasi tambahan yang berguna untuk menginstruksi
jawaban. Organisasi pengetahuan Deklaratif adalah proses pembagian himpunan
itu.Menurut Reitman dan Rueter (1980), manusia mengorganisasi informasi secara
spontan.
2. Belajar Pengatahuan Prosedural

Perbedaan utama antara ahli dan bukan ahli dalam suatu bidang ialah ahli mempunyai jauh
lebih banyak pengetahuan procedural tentang bidang itu.Para ahli mempunyai aturan-
aturan khusus untuk memanipulasi informasi.Prosedur pengenalan pola mendasari
kemampuan untuk mengenal dan mengklasifikasikan pola-pola stimulus internal dan
eksternal.Prosedur urutan aksi mendasari kemampuan untuk melakukan urutan operasi
terhadap symbol-simbol.

Bab VI : Di bab ini membahas hasil utama pendidikan yaitu belajar konsep.Belajar konsep
merupakan hasil utama pendidikan.Konsep merupakan batu pembangun berfikir.
Konsep merupakan dasar bagi proses mental yang lebih tinggi untuk merumuskan
prinsip dan generalisasi. Untuk memecahkan masalah, seorang siswa harus
mengetahui aturan-aturan yang relevan dan aturan-aturan ini didasarkan pada konsep-
konsep yang diperoleh. Banyak definisi dari konsep, menurut Rosser (1984) konsep
adalah suatu abstrasksi yang mewakili satu kelas objek,kejadian,kegiatan atau
hubungan yang mempunyai atribut yang sama,kerena orang mengalami stimulus yang
berbeda-beda maka orang juga membentuk konsep sesuai dengan pengelompokan
stimulus dengan cara tertentu juga. Konsep diperoleh melalui 1) pembentukan konsep.
2) asimilasi konsep.

Ada dua pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan perilaku dan pendekatan
konitif. Pendekatan kognitif tentang belajar memusatkan pada proses perolehan
konsep dalam sifat konsep dan bagaimana konsep itu disajikan dalam struktur kognitif.
Tingkat pencapaian konsep menurut Klausmeier : tingkat konkret, tingkat identitas,
tingkat dan tingkat formal.

Bab VII: Bab ini membahas satu dari tiga model instruksional kognitif yang paling berpengaruh
yaitu model Jerome Bruner yaitu model Belajar Penemuan.Sedang model yang lain akan
dibahas di bab selanjutnya.
Jerome S. Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan psikologi
belajar kognitif. Pendekatannya tentang psikologi adalah eklektik. Dalam bukunya
(Bruner,1960) Bruner mengemukakan ada empat tema pendidikan yaitu stuktur
pengetahuan,kesiapanbelajar,intuisi dan motivasi. Pendekatan Bruner terhadap belajar
didasarkan pada 2 asumsi (Rosser,1984) yaitu asumsi pertama : perolehan pengetahuan
merupakan suatu proses interaktif, asumsi kedua : orang mengonstruksi pengetahuannya
dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang
diperoleh. Bruner mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses yaitu : 1)
memperoleh informasi baru. 2) transformasi informasi. 3) menguji relevansi dan
ketepatan pengetahuan (Bruner, 1973).

Menurut Bruner, pendewasaan pertumbuhan intelektual dan pertumbuhan kognitif


seseorang adalah sbb:

Pertumbuhan intelektual ditunjukkan oleh bertambahnya ketidaktergantungan


respons dari sifat stimulus.
Pertumbuhan intelektual bergantung pada bagaimana seorang menginternalisasi
peristiwa-peristiwa menjadi suatu sistem simpanan yang sesuai dengan lingkungan.
Pertumbuhan intlektual menyangkut peningkatan kemampuan seseorang untuk
berkata pada dirinya sendiri atau pada orang-orang lain dengan pertolongan kata-kata
dan simbol-simbol mengenai apa yang telah dilakukannya atau akan dilakukannya.

Belajar Penemuan adalah pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dan
dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik.Berusaha sendiri untuk mencari
pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan
yang benar-benar bermakna.

Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukkan beberapa


kebaikan yaitu : Pengetahuan tersebut dapat diingat lebih lama,mempunyai efek transfer
yang lebih baik, meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir secara
bebas.

Teori instruksi Bruner :

Pengalaman optimal bagi siswa untuk mau dan dapat belajar


Penstrukturan pengetahuan untuk pemahaman optimal
Perincian urutan-urutan penyajian materi pelajaran secara optimal
Bentuk dan pemberian reinforcement.
Tujuan belajar penemuan sebenarnya ialah untuk memperoleh pengetahuan dengan suatu
cara yang dapat melatih kemampuan intelektual para siswa serta merangsang keingintahuan
mereka dan memotivasi kemampuan mereka.
Peranan guru dalam belajar penemuan :
Merencanakan pembelajaran.
Menyajikan materi Pelajaran
Memperhatikan 3 cara penyajian
Sebagai pembimbing atau tutor bila siswa belajar di laboratorium
Menilai hasil belajar

Bab VIII: Bab ini membahas tentang Belajar Bermakna dari David Ausebel. Menurut Ausebel
belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi yaitu :Dimensi
pertamaberhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran yang disajikan pada
siswa melalui penerimaan atau penemuan. Dimensi keduamenyangkut cara bagaimana
siswa dapat mengaitkan informasi itu pada sumber kognitif yang telah ada.

Inti teori Ausebel tentang belajar ialah belajar bermakna( Ausebel, 1968) yang
merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep yang
relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Bila tidak ada usaha yang
dilakukan untuk mengasimilasikan pengetahuan baru pada konsep-konsep relevan
yang sudah ada dalam struktur kognitif, akan terjadi belajar hafalan.

Menurut Ausebel dan juga Novak (1977) ada tiga kebaikan dari belajar
bermakna yakni:

Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat.


Informasi yang tersubsumsi berakibatkan peningkatan diferensiasi dari subsumer
subsumer, jadi memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran
yang mirip.
Informasi yang dilupakan sesudah subsumsi obliteratif meninggalkan efek
residual pada subsumer sehingga mempermudah belajar hal-hal yang
mirip,walaupun terjadi lupa.
Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan untuk menerapkan teori Ausebel :
Pengatur Awal
Diferensiasi Progresif
Penyesuaian Integratif
Belajar Superordinat

Bab IX : Dalam bab IX ada Dua Strategi Pembelajaran yang akan dibahas yakniStrategi Peta
Konsep dan Vee-Heuristika.

A. Peta Konsep

Peta konsep dikembangkan untuk menggali ke dalam struktur kognitif pelajar dan untuk
mengetahui baik bagi pelajar maupun guru.Melihat apa yang telah diketahui pelajar. Ada tiga
gagasan dalam teori belajar kognitif Ausebel yang mendasari pembentukan peta konsep,
pertama, Struktur kognitif itu tersusun secara hierarkis dengan konsep dan proposisi yang telah
inklusif dan lebih khusus.Kedua, konsep-konsep dalam struktur kognitif mengalami diferensiasi
progresif ,Ketiga, penyesuaian integrative.

Karena peta konsep memegang peranan penting dalam belajar bermakna,siswa hendaknya
pandai menyusun peta konsep. Ada beberapa langkah untuk membuat peta konsep yaitu: 1)
memilih suatu bacaan dari buku pelajaran. 2)Tentukan konsep-konsep yang relevan. 3) Urutkan
konsep-konsep itu dari paling inklusif ke yang paling tidak inklusif atau contoh-contoh. 4)
Susunlah konsep-konsep itu diatas kertas. 5) Hubungkan konsep-konsep itu dengan kata atau
kata-kata penghubung. 6) Peta konsep sudah selesai.

Manfaat peta konsep : a) Menyelidiki apa yang telah diketahui siswa. b) Mempelajari cara
belajar. c) Mengungkapkan miskonsepsi, dan d) Alat valuasi.

B. Vee-Heuristika Gowin

Gowin (dalam Novak,1985: 55) mula-mula mengembangkan suatu pendekatan untuk


menolong para mahasiswa memahami masalah dalam mengungkapkan pengetahuan pada suatu
disiplin ilmu. Ia mengemukakan ada lima pertanyaan yang berguna untuk menolong para guru
mengungkapkan pengetahuan :

1. Apakah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ?


2. Apakah konsep-konsep kunci ?
3. Metode-metode inkuiri apa yang digunakan ?
4. Apakah klaim-klaim pertanyaan penting ?
5. Apakah klaim-klaim nilai ?

Langkah-langkah untuk memperkenalkan Vee Heurestika pada para pelajar :

Mulai dengan konsep, objek dan kejadia-kejadian.


Perkenalkan arti catatan dan pertanyaan-pertanyaan kunci.
Transformasi catatan dan klaim pengetahuan
Prinsip dan Teori
Klaim nilai

Bab X : Membahas tentang model pembelajaran Gagne. Menurut Gagne ada lima kemampuan
yang dikatakan sebagai hasil belajar, yaitu :

Keterampilan Intelektual
Keterampilan intelektual memungkinkan seseorang berinteraksi dengan lingkungannya
dengan penggunaan simbol-simbol atau gagasan-gagasan.
Strategi Kognitif
Strategi kognitif merupakan keterampilan khusus yang mempunyai kepentingan tertentu
bagi belajar dan berpikir
Informasi Verbal
Informasi verbal disimpan sebagai jaringan proposisi-proposisi
Sikap
Sikap merupakan pembawaan yang dapat dipelajari dan dapat mempengaruhi perilaku
seseorang terhadap benda, kejadian-kejadian, atau makhluk hidup lainnya.
Keterampilan Motorik
Keterampilan motorik tidak hanya mencakup kegiatan motorik yang digabung dengan
keterampilan intelaktual.

Fase-fase dalam satu tindakan belajar menurut Gagne :

1. Fase Motivasi
2. Fase Pengenalan
3. Fase Perolehan
4. Fase Retensi
5. Fase Pemanggilan
6. Fase Generalisasi
7. Fase Penampilan
8. Fase Umpan Balik

Berdasarkan analisisnya tentang kejadian-kejadian belajar, Gagne menyarankan


kejadian-kejadian instruksional. Bukan hanya guru yang dapat memberikan instruksi, namun
kejadian-kejadian belajarnya dapat juga diterapkan, baik pada belajar penemuan, belajar diluar
kelas,maupun belajar dalam kelas. Kejadian-kejadian instruksi itu adalah :

1. Mengaktifkan motivasi
2. Memberi tahu tujuan-tujuan belajar
3. Mengarahkan perhatian
4. Merangsang ingatan
5. Menyediakan bimbingan belajar
6. Meningkatkan retensi
7. Melancarkan transfer belajar
8. Mengeluarkan penampilan: memberikan umpan balik.

Bab 11 dan 12: Bab yang berjudul Piaget dan Teorinya membahas tentang teori Piaget serta teori
kontstuktivisme dalam pendidikan. Teori Piaget ini muncul karena keberatannya
terhadap empirisme maupun rasionalisme, penganut empirisme berpendapat
bahwa pengetahuan bersumber dari luar individu dan pengetahuan itu
diinternalisasikan oleh indra-indra. Sedangkan para rasionalis tidak menolak
pentingnya pengalaman-pengalaman indra, tetapi mereka mempertahankan
bahwa penalaran lebih penting daripada pengalaman indra sebab penalaran
membuat kita tahu dengan penuh keyakinan akan banyak kebenaran yang tidak
dapat dicapai oleh pengalaman-pengalaman indra. Menurut Piaget teorinya
merupakan suatu sintesis keduanya. Teori Piaget berpendapat bahwa observasi
dan penalaran, keduanya saling tergantung.

Dalam perkembangan intelektual ada tiga aspek yang diteliti oleh Piaget yaitu : 1) Struktur,
yang terbentuk untuk lebih memudahkan individu dalam menghadapi tuntutan-tuntutan yang
meningkat dari lingkungannya.2) Isi, adalah pola prilaku anak yng khas yangintercermin pada
respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya. 3) Fungsi,
ada dua fungsi yaitu organisasi dan adaptasi.
Menurut Piaget setiap individu mengalami tingkat-tingkat perkembangan itelektual
yaitu:sensori-motor (0-2 thn), Pra-operasional (2-7 thn),Operasional konkret (7-11 thn), Operasi
formal (>11).
Lima faktor yang mempengaruhi transisi tingkat perkembangan intelektual: Kedewasaan,
Pengalaman fisik, Pengalaman logika matematika, Transmisi social dan proses perkembangan.
Bab Konstruktivisme dalam Pendidikan ini disusun untuk menjawab pertanyaan yang
mengatakan bahwa pengetahuan secara utuh dipindahkan dari pikiran guru ke pikiran anak dan
juga jawaban para konstruktivisme yang menyatakan bahwa pengetahuan dibangun dalam
pikiran anak.
Perbedaan perspektif Piaget dengan perspektif konstruktivis baru : Piaget memfokuskan
pada general logical capabilities, sedangkan perspektif baru menekankan domain specific
knowledge structures. Penelitian Piaget meliputi konstruksi pengetahuan personal melalui
interaksi individual dengan lingkungan sedangkan perspektif baru mengikutsertakan juga proses
social dalam konstruksi pengetahuan.
Perubahan konseptual melibatkan dua komponen yaitu kondisi yang harus dipenuhi agar
terjadi perubahan konseptual dan ekologi konseptual.
Tiga kondisi untuk mengganti gagasan lama menjadi gagasan baru selain ketidakpuasaan:
Intelligible ( dapat dimengerti)
Plausible (masuk akal)
Fruitful (memberi suatu kegunaan)
Ketidakpuasan anak akan gagasan yang dimilikinya terjadi pada waktu ia dihadapkan pa
da suatu gagasan baru yang bertentangan dengan gagasan yang dimilikinya, yaitu pada fase
dihadapkan pada situasi konflik.
Tiga fase dalam siklus belajar menurut Lawson (1988) : Fase eksplorasi, fase pengenalan
konsep ,Fase aplikasi konsep.
Siklus belajar menurut Glasson : Elaborasi, Eksplorasi, Klarifikasi. Proses belajar mengajar
dapat digunakan guru untuk mencoba menanamkan kebiasaan-kebiasaan sebagai dampak positif
dari sifat pluralistic masyarakat kita.
Bab 13: Dalam bab ini akan dibahas model pembelajaran Lawson yang dikenal dengan Tiga
Siklus Belajar Lawson. Fase-fase siklus belajar : Fase Eksplorasi, Fase Pengenalan
Istilah, Fase Aplikasi Konsep.
Tiga macam siklus Belajar :
Siklus Belajar Descriptif
Siklus Belajar Empiris- Induktif
Siklus Belajar Hipotesis-Deduktif

Lawson berpendapat bahwa pembelajaran sains mempunyai dua tujuan, yaitu :


a. Untuk menolong para siswa mengembangkan keterampilan dalam menggunakan pola-pola
penalaran umum yang terlibat dalam penyusunan hipotesis-hipotesis dan pengujiannya.
b. Untuk menolong para siswa memperoleh konsepsi-konsepsi yang khusus domainnya dan
secara ilmiah berlaku.
Teori ini memperdebatkan bahwa cara yang paling cocok yang mungkin hanya satu-satu
nya untuk mencapai kedua tujuan itu ialah dengan cara membiarkan para siswa mengemukakan
prakonsepsi mereka dan menguji konsepsi-konsepsi ini dalam suasana di mana gagasan-gagasan
secara terbuka dikemukakan, diperdebatkan, dan diuji dengan pertolongan pengujian. Inilah yang
menjadi pusat perhatian secara eksplisit dalam kelas.

II. Menilai Tentang Kekuatan Isi Buku dan Membandingkan dengan Buku yang Sejenis
Kekuatan buku

Mengandung teori-teori Belajar yang diperlukan,serta pejelasan dari teori-teori

tersebut.
Menjelaskan perbedaan teori belajar dan teori pembelajaran bagi seorang guru.
Mengkaji teori-teori belajar dari berbagai ahli teori belajar.
Mengkaji secara khusus variabel-variabel pembelajaran dan landasan teori

pembelajaran dari para ahli pengembang model pembelajaran.


Mengkaji berbagai konsep yang ada kaitannya dengan prosedur pengukuran hasil

pembelajaran.
Buku berisi Penjelasan dari konsep Kontruktivisme,peranan guru serta pembelajar,juga

bagaimana proses dan strategi pembelajaran tersebut.


Buku 2 Memberikan penjelasan tentang hasil pembelajaran yang ingin dicapai.
Buku 2 Menekankan pada bagaimana proses teori belajar dan pembelajaran yang ingin

dicapai.
III. Menilai,mengkritisi kelemahan masing-masing buku
Kelemahan buku Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran Prof. Dr. Ratna Willis Dahar,

M. Sc
- Membahas semua teori belajar tapi penjelasan tidak terlalu dalam.
Kelemahan buku Teori Belajar Dan pembelajaran Prof.Dr.Abdul Hamid K.M.Pd:
- Tidak mempunyai teori pembelajaran skeptik dan schmatik
- Tidak tercantum nama penerbit
- Tidak mempunyai teori pembelajaran algoritme
IV. Penutup
Teori Belajar dan pembelajaran sangat penting dipelajari seorang guru dalam penerapan di
kelas untuk memahami karakter siswa dan menciptakan suasana agar seorang siswa
mampu menerima pembelajaran yang diberikan oleh seorang guru sehingga tercapailah
harapan yang telah ditetapkan. Seorang guru haruslah mempunyai cara-cara tertentu dalam
melaksanakan proses belajar mengajar, yang mana hal tersebut akan sangat penting sekali
bagi para peserta didik dalam proses pembelajaran. Dengan proses pembelajaran yang
menarik dan juga tersistematis, maka peserta didik akan lebih bisa mengungkapkan hal-hal
yang disampaikan oleh guru. Dalam proses pembelajaran, perlu adanya interaksi dan
motivasi dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik akan lebih bisa menerima apa
yang disampaikan oleh guru.