Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Selama berabad-abad, pergumulan manusia untuk bertahan hidup, melawan

kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan, senantiasa bertemu dan berdialog

dengan keyakinan, agama dan pemahaman yang dibentuk atasnya.

Filsuf ekonomi terkemuka Amerika, Kenneth Boulding (1970), menyatakan

agama memberikan pengaruh yang tak dapat diabaikan dalam perekonomian. Agama

menentukan keputusan jenis komoditas yang diproduksi, kelembagaan ekonomi, dan

perilaku ekonomi. Meskipun ilmu pengetahuan dan teknologi, investasi, serta sumber

daya alam, merupakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh dalam perkembangan

pembangunan ekonomi, agama juga dipertimbangkan sebagai elemen penting karena

berperan membentuk etos kerja masyarakat.

Menurut Max Weber, kemajuan ekonomi yang pesat dibawah sistem kapitalisme

yang terjadi di Amerika Serikat salah satu penyebab utamanya adalah apa yang

disebutnya sebagai etika protestan. Etika protestan adalah sebuah konsep dan teori

dalam teologi, sosiologi, ekonomi, dan sejarah yang mempersoalkan masalah manusia

yang dibentuk oleh nilai-nilai budaya khususnya nilai-nilai agama.

Nilai-nilai ini berkembang dimasyarakat dan menjadi motivasi penganutnya

guna membangun kehidupan terutama dalam keberhasilan pembangunan ekonomi.

1 | P E M B A N G U N A N M A S YA RA K AT
B. RUMUSAN MASALAH

Bagaimanakah peran nilai-nilai agama terhadap keberhasilan pembangunan?

C. TUJUAN PENULISAN

1. Untuk mengetahui nilai-nilai dalam agama.

2. Untuk mengetahui peran nilai-nilai agama dalam keberhasilan pembangunan.

3. Untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah teori pembangunan masyarakat.

D. MANFAAT PENULISAN

1. Sebagai media latihan untuk mengembangkan kemampuan menulis mahasiswa.

2. Untuk memperluas pengetahuan dan wawasan pembaca mengenai penerapan

nilai-nilai agama dalam keberhasilan pembangunan.

E. RUANG LINGKUP

Ada pun batasan pembahasan makalah ini yaitu pada peran nilai agama dalam

keberhasilan pembangunan berdasarkan Teori Modernisasi Etika Protestan.

2 | P E M B A N G U N A N M A S YA RA K AT
BAB II

PERAN NILAI-NILAI AGAMA DALAM KEBERHASILAN

PEMBANGUNAN

A. PENGERTIAN
Nilai
Pengertian Nilai menurut Spranger adalah suatu tatanan yang dijadikan

panduan oleh individu untuk menimbang dan memilih alternatif keputusan dalam

situasi sosial tertentu.


Menurut Horrocks, Pengertian Nilai adalah sesuatu yang memungkinkan

individu atau kelompok sosial membuat keputusan mengenai apa yang ingin dicapai

atau sebagai sesuatu yang dibutuhkan.


Dapat disimpulkan bahwa nilai adalah sesuatu yang dijadikan sebagai panduan

dalam hal mempertimbangkan keputusan yang akan diambil kemudian.


Agama
Agama memiliki arti penting bagi manusia agar manusia tidak tersesat di

dalam menjalani kehidupan di dunia.

Secara etimology, kata Agama berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu

a tidak dan gama kacau

Maksudnya: orang-orang yang memeluk suatu agama dan mengamalkan

ajaran-ajarannya, hidupnya tidak akan kacau.

3 | P E M B A N G U N A N M A S YA RA K AT
Jadi agama merupakan ajaran yang mengatur tata keimanan dan tata kaidah

kepada Tuhan Yang Maha Esa yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan

manusia serta lingkungan.

Pembangunan
Pengertian Pembangunan menurut Rogers adalah suatu proses perubahan

sosial dengan partisipatori yang luas dalam suatu masyarakat yang dimaksudkan

untuk kemajuan sosial dan material (termasuk bertambah besarnya kebebasan,

keadilan dan kualitas lainnya yang dihargai) untuk mayoritas rakyat melalui kontrol

yang lebih besar yang mereka peroleh terhadap lingkungan mereka.


Pendapat Kleinjans mengenai definisi dari Pengertian Pembangunan yaitu

suatu proses pencapaian pengetahuan dan keterampilan baru, perluasan wawasan

manusia, tumbuhnya suatu kesadaran baru, meningkatnya semangat kemanusiaan dan

suntikan kepercayaan diri.


Dari pengertian pembangunan yang diungkapkan para pakar di atas, dapat

disimpulkan bahwa Pengertian Pembangunan adalah suatu proses perubahan ke arah

yang lebih baik dalam lingkungan masyarakat.

B. NILAI-NILAI AGAMA

Nilai agama ialah salah satu dari macam-macam nilai yang mendasari perbuatan

seseorang atas dasar pertimbangan kepercayaan bahwa sesuatu itu dipandang benar menurut

ajaran agama.

Nilai kebenaran agama

4 | P E M B A N G U N A N M A S YA RA K AT
1. Secara filosofis, kebenaran yang sebenarnya adalah satu, tunggal, dan tidak majemuk.

Yaitu sesuai dengan realitas. Dalam konteks agama, semua agama ingin mencapai

realitas tertinggi (the ultimate reality). Islam dan Kristen menerjemahkan realitas

tertinggi itu sebagai Allah (dengan pengucapan sedikit berbeda), Yahudi menyebutnya

Yehova, ini berarti bahwa yang dikejar sebagai realitas tertinggi itu adalah

satu. Prithjof Schoun mengatakan, bahwa semua agama itu sama pada alam

transendental. Pada alam ini semua agama mengejar realitas tertinggi.

2. Secara Sosiologi, menjadikan proses pencapaian dan penerjemahan Realitas Tertinggi,

menjadikan klaim agama berbeda. Islam memandang bahwa agamanyalah yang

paling benar, begitu juga dengan agama lainnya.

Nilai agama dalam pembangunan

1. Nilai spiritual yang tetap menjaga agar masyarakat tetap konsisten dalam menjaga

stabilitas lingkungan.

Dalam lingkup akademis, nilai spiritual dapat dilihat dengan semakin

berkembangnya studi tentang spiritualitas yang bersifat multi dimensi keilmuan,

seperti psikologi, sosiologi, dan ekonomi.

Dalam tulisan John Calvin (Institutio) menegaskan, bahwa spiritualitas

sejati terletak pada relasi dengan Allah dari pada pengetahuan tentang Allah. Calvin

juga menegaskan bahwa menguasai teologi secara baik dan sistematis sangat berbeda

dengan mengenal Allah secara pribadi. Di satu sisi Calvin sangat menekankan

aspek praktis dalam spiritualitas, di sisi lain ia menekankan bahwa pusat dari

spiritualitas Kristen adalah Allah sendiri dengan kehadirannya di dalam diri setiap

orang yang percaya.

5 | P E M B A N G U N A N M A S YA RA K AT
Spiritualitas sejati tidak berpusat pada kegiatan keagamaan yang superfisial,

dan spiritualitas sejati tidak didasari pada tatanan nilai moral serta kewajiban-

kewajiban di dalamnya. Spiritualitas sejati adalah persekutuan dengan pribadi

Kristus Yesus (mystical union). Tuhan Yesus memperingatkan murid-murid-Nya agar

menghindari dan menjauhi praktek-praktek keagamaan yang sia-sia (Matius 6). Lebih

keras lagi teguran Tuhan terhadap jemaat di Efesus dalam Wahyu 2, Tuhan memuji

kerajinan dan komitmen mereka dalam beribadah dan dalam melayani namun

kehilangan kasih yang semula (spiritualitas yang kosong). Aktivitas rohani yang hebat

luar biasa tidak menjamin kualitas spiritualnya bagus.

Phillip Sheldrake mengatakan bahwa spiritualitas Kristen adalah cara nilai-

nilai dasar, gaya hidup, dan praktika rohani mencerminkan pemahaman tentang

Tuhan, identitas manusia, dan dunia materi sebagai konteks dari transformasi

manusia. Tema sentral dalam Spiritualitas Kristen bersumber dari kepercayaan bahwa

manusia memiliki kemampuan untuk memasuki suatu hubungan dengan Tuhan yang

bersifat transenden dan pada saat yang sama bersifat imanen. Hubungan ini dihidupi

bukan dalam kesendirian yang terisolir, namun dalam suatu komunitas bersama dari

orang percaya, yang memanifestasikan komitmen kepada Kristus, dipelihara oleh

kehadiran yang aktif dari Roh Kudus dalam kehidupan pribadi dan kebersamaan

sebagai suatu komunitas. Phillip Sheldrake menyimpulkan bahwa spiritualitas Kristen

kontemporer adalah secara nyata bersifat Trinitarian, Christological dan Ecclesial.

Spiritualitas Kristen kontemporer tersebut berpijak kepada empat dasar. Yang

pertama yaitu pengenalan terhadap pribadi Tuhan melalui pengungkapan diri-Nya

dalam Kitab Suci dan Kristus yang adalah inkarnasi dari Tuhan itu sendiri. Yang

kedua pengalaman dengan Tuhan melalui keterbukaan terhadap karya dan kehadiran

6 | P E M B A N G U N A N M A S YA RA K AT
Roh Kudus baik secara pribadi maupun dalam kehidupan bersama sebagai umat. Yang

ketiga perubahan kehidupan oleh karena pengenalan dan pengalaman bersama dengan

Tuhan. Dan yang keempat adalah dampak dari relasi dengan Tuhan dalam dalam

pemikiran maupun dalam perilaku kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat ,

dalam dunia kerja, dalam dunia berumah tangga, juga dalam dunia politik dan budaya.

2. Nilai kemanusiaan yang mengajarkan manusia agar dapat saling mengerti satu sama

lain, dan dapat saling bertenggang rasa.

Menurut pendapat Weber doktrin panggilan (dalam agamaKristen Calvinis)

merupakan landasan esensial nilai-nilai baru, dan doktrin takdir (predestination) yang

menjadi sebab munculnya kekuatan kehendak diperlukan untuk mengubahnya

menjadi praktek (kegiatan) nyata. Pekerjaan mereka seharusnya di kerjakan dengan

kesungguhan dan rasa tanggung jawab yang sama sebagaimana pendeta katolik

terdorong untuk melaksanakan tugas panggilan khusus mereka. Bekerja adalah nilai

intrinsik,bukan sekedar konsekuensi dari tuntutan hukum atas diri adam. Max Weber

memuji Kristen sebagai ikatan sosial dan persaudaraan dunia.


Konflik-konflik yang diwarnai oleh sentimen keagamaan, membuat manusia

merasa perlu mengevaluasi ulang keberadaan dari agama-agama formal kenyataan

bahwa agama-agama yang seharusnya membawa damai didalam dunia nyata ternyata

telah membuat dunia semakin tidak damai membuat orang bersikap semakin curiga

terhadap agama formal. Dalam situasi yang demikian itulah, orang mulai memuja

pribadi-pribadi yang menganjurkan kesatuan kemanusiaan yang tidak dibatasi oleh

dinding-dinding keagamaan.
Weber menemukan bahwa Calvinisme meskipun lebih mengutamakan iman

diatas kerja, sesungguhnya mendorong pencarian duniawi sebagai cara untuk

meringankan penderitaan.

7 | P E M B A N G U N A N M A S YA RA K AT
3. Nilai kewajiban untuk bekerja dengan rajin (kerja keras), menghasilkan keuntungan

finansial dan menabung dengan hati-hati.

Tujuan bekerja dan mengumpulkan sumber daya bukan hanya untuk

memenuhi kebutuhan-kebutuhan material minimal, apa lagi untuk menghamburkan

keuntungan pada kemewahan material dan kesenangan hedonistik duniawi dalam

hidup, namun bekerja dilihat sebagai suatu kewajiban moral yang dijalankan demi

dirinya sendiri: Sebaliknya, kerja harus dijalankan seolah-olah ia pada dirinya sendiri

adalah suatu tujuan absolut, suatu panggilan. Etika protestan menafsirkan aktifitas-

aktifitas etis bukan sebagai asketisme monastik yang menolak kehidupan ini,

melainkan lebih sebagai pemenuhan kewajiban-kewajiban duniawi.

Orang-orang penganut agama protestan Calvin bekerja keras untuk meraih

sukses. Mereka bekerja tanpa pamrih artinya mereka bekerja bukan untuk mencari

kekayaan material, melainkan terutama untuk mengatasi kecemasannya. Inilah yang

disebut sebagai etika protestan oleh Weber, yakni cara bekerja yang keras dan

sungguh-sungguh, lepas dari imbalan materialnya (Memang orang ini kemudian

menjadi kaya karena keberhasilannya, tapi ini adalah produk sampingan yang tidak

disengaja. Mereka bekerja keras sebagai pengabdian untuk agama mereka, bukan

untuk mengumpulkan harta. Tetapi Weber sendiri mengakui bahwa hal ini kemudian

berubah jadi sebaliknya).

Dengan demikian menurut Weber, kebajikan-kebajikan seperti kerja keras,

semangat berusaha, dan ketekunan merupakan fondasi budaya utama bagi pasar dan

investasi kapitalisme: Kejujuran bermanfaat, karena ia menjamin penghargaan;

demikian juga ketepatan waktu, kerja keras, kesederhanaan dan itulah alasan mengapa

mereka semua adalah kebajikan yang bernilai.

8 | P E M B A N G U N A N M A S YA RA K AT
Setiap pihak baik sebagai pengusaha, manajer atau buruh, menurut pendapat

Weber, sama sekali bukan orang yang menyimpang dari tradisi yang menghalangi

perubahan teknis maupun organisatorik, dan yang sama sekali menentang

pengumpulan kekayaan yang baru, dia adalah orang yang percaya akan adanya etika

(yang mengajarkan perlunya) bekerja keras, pengembangan sarana secara sistematik

untuk mendapatkan produksi dan perdagangan yang lebih besar, pengetatan dalam

konsumsi pribadi, dan perlunya tanggung jawab individual, bukan kelompok, dalam

kehidupan ekonomi.

Seperti dikatakan John Mayonard Keynes disinilah sesungguhnya terletak

justifikasi utama. Jika orang kaya mengeluarkan kekayaan mereka untuk kesenangan

mereka sendiri, dunia ini tidak akan tahan terhadap hal seperti itu. Tetapi mereka

seperti lebah yang menyimpan dan mengumpulkan dengan menguntungkan seluruh

komunitas karena mereka sendiri mempersempi tujuan diri mereka sendiri. Kelas

pekerja juga diminta menabung. Tugas menabung menjadi sepersembilan kebaikan

dan tujuan agama sesungguhnya adalah memperbanyak roti. Individu tidak terlalu

diminta untuk berpantang dan menangguhkan, tetapi juga tidak terlalu diminta untuk

bersenang-senang.

Menurut Weber , perubahan datang dari doktrin Lutheran tentang panggilan,

doktrin Calvinis dan Puritan tentang kerja untuk mempromosikan kejayaan Tuhan

(Engkau boleh bekerja agar kaya demi Tuhan, bukan demi daging dan dosa), dan

penentangan kaum methodis terhadap pengangguran. Hanya dikalangan Protestanlah

orang kristen yang taat dapat mendengar khotbah John Wesley tentang kekayaan:

Carilah nafkah semampumu, simpanlah semampumu, dan berikan semampumu.

(Weber 1930:175-176).

9 | P E M B A N G U N A N M A S YA RA K AT
4. Nilai kewajiban untuk berdisplin waktu dan penghematan serta bertangung jawab.

Disiplin adalah sesuatu yang kita lakukan dengan tujuan agar terjadi

perubahan. Seperti yang dikatakan oleh Dallas Willard: "Disiplin adalah setiap

aktivitas yang ada di bawah kuasa kita untuk kita lakukan, yang memampukan kita

untuk melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan tanpa "usaha terarah". Disiplin

yang baik membutuhkan keterlibatan intelektual yang serius yaitu membuat rencana,

mengawasi kemajuan, mengevaluasi tingkat- tingkat penguasaan, dan naturalisasi

keyakinan akan tercapainya kedisiplinan melalui agama.

Istilah disiplin telah diterapkan dalam bidang keagamaan sejak permulaan

sejarah manusia yang ditemukan dalam Yudaisme maupun Kekristenan. Seorang

pengikut Kristus biasanya dipanggil disciple (murid), yang berarti di dalam hidupnya

mencakup disciplines dalam menjalankan kebenaran karena kepercayaan kepada

Kristus (Flp. 3:9). Jadi kata disiplin (Ing. discipline) memiliki akar kata yang sama

dengan murid (Ing. disciple), yang artinya adalah kesediaan untuk diajar atau dilatih

sehingga menghasilkan keteraturan, ketaatan, dan pengendalian-diri. Alkitab

memberikan banyak contoh kehidupan orang yang berdisiplin, seperti: Musa, Yosua,

Daud, Nehemia, Paulus, dan Yesus Kristus sendiri.


Allah memberikan kita anugerah disiplin (disiplin rohani) sebagai cara untuk

menolong kita bertumbuh dalam kasih kepada-Nya dan kepada sesama kita. Sarana-

sarana yang berharga ini doa, Firman Tuhan, penyembahan, waktu sendiri bersama

Tuhan (solitude), memberi persembahan, berpuasa, diam di hadirat Tuhan, dan lain-

lain membawa kita masuk ke dalam hadirat-Nya, dengan cara yang tidak bisa

didapatkan hanya dari kegiatan sehari-hari. Disiplin-disiplin ini akan memampukan

kita untuk melihat sekilas kemuliaan-Nya dan masuk ke dalam kuasa-Nya yang dapat

memberi pembaharuan hidup setiap hari dalam Yesus Kristus.

10 | P E M B A N G U N A N M A S Y A R A K A T
Weber menjelaskan bahwa Kristen memproklamasikan penyangkalan diri dan

berpantang untuk memperingatkan bahaya materialisme dan kesombongan. Weber

mengambil banyak kutipan dari buku Franklin, seperti Ingat, waktu adalah uang

dan Uang dapat melahirkan uang, dan keturunannya bisa melahirkan lebih banyak

lagi. Menurut Weber, nilai-nilai displin waktu dan penghematan dalam diri Franklin

bersumber dari ketaatan beragama.

Tujuan Agama

Menegakan kepercayaan manusia hanya kepada Allah,Tuhan Yang Maha Kuasa.

Mengatur kehidupan manusia di dunia,agar kehidupan teratur dengan baik, sehingga

dapat mencapai kesejahterahan hidup, lahir dan batin, dunia dan akhirat.

Menjunjung tinggi dan melaksanakan peribadatan hanya kepada Allah.

Menyempurnakan akhlak manusia.

C. PERAN NILAI AGAMA DALAM PEMBANGUNAN

Agama mengambil peranan penting dalam keberadaan suatu masyarakat atau

komunitas. Karena suatu agama atau kepercayaan akan tetap langgeng jika terus

11 | P E M B A N G U N A N M A S Y A R A K A T
diamalkan oleh masyarakat secara kontiniu. Sumbangan atau fungsi agama dalam

masyarakat adalah sumbangan untuk mempertahankan nilai-nilai dalam masyarakat.

Sebagai usaha-usaha aktif yang berjalan terus menerus, maka dengan adanya agama maka

stabilitas suatu masyarakat akan tetap terjaga.

Peran agama bagi individu

1. Menjawab pertanyaan yang tak mampu dijawab oleh logika manusia

2. Memberi paradigma kepada manusia tentang Allah sebagai Tuhan

3. Membedakan antara yang hak dan yang batin

4. Fungsi kreatif, mendorong manusia untuk bekerja, beramal, dan

kerja kreatif

5. Pedoman penyempurnaan akhlak

6. Fitrah manusia yang membutuhkan agama, adanya kekuatan

adikodrati di luar kemampuan manusia

7. Membangun dan membimbing dalam pembentukan ilmu

pengetahuan dan teknologi

Peran agama bagi masyarakat

1. Agama memiliki fungsi yang vital, yakni sebagai salah satu sumber hukum atau

dijadikan sebagai norma.

2. Agama mengatur bagaimana gambaran kehidupan sosial yang ideal, yang sesuai

dengan fitrah manusia.

12 | P E M B A N G U N A N M A S Y A R A K A T
3. Agama memberikan contoh yang konkret mengenai kisah-kisah kehidupan sosio-

kultural manusia pada masa silam, yang dapat dijadikan contoh yang sangat baik bagi

kehidupan bermasyarakat di masa sekarang.

4. Kita dapat mengambil hikmah dari dalamnya. Meskipun tidak ada relevansinya

dengan kehidupan masyarakat zaman sekarang sekalipun, setidaknya itu dapat

dijadikan pelajaran yang berharga, misalnya agar tidak terjadi tragedi yang sama di

masa yang akan datang.

Peran nilai agama dalam pembangunan

Menurut Hendropuspito peran agama dalam masyarakat itu adalah edukatif,

penyelamat, pengawasan sosial, memupuk persaudaraan, dan transformatif. Agama

memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan masyarakat, karena

agama memberikan sebuah sistem nilai yang memiliki derivasi pada norma-norma

masyarakat untuk memberikan pengabsahan dan pembenaran dalam mengatur pola

perilaku manusia, baik di level individu dan masyarakat. Agama menjadi sebuah

pedoman hidup. Dalam aspek nilai, dapat dilihat dari dua sudut pandang. Pertama, nilai

agama dilihat dari sudut intelektual yang menjadikan nilai agama sebagai norma atau

prinsip. Kedua, nilai agama dirasakan di sudut pandang emosional yang menyebabkan

adanya sebuah dorongan rasa dalam diri yang disebut mistisme dan menjadi motivasi

pengembangan individu maupun masyarakat umumnya.

Perkembangan pembangunan dalam masyarakat menurut Weber muncul karena

adanya displin moral dan kesetian terhadap kerja keras, serta menghasilkan investasi

jangka panjang dan manajemen perusahaan yang lebih maju. Hal ini bersumber dari

13 | P E M B A N G U N A N M A S Y A R A K A T
agama, agama menggerakan orang untuk selalu berperilaku moral. Adanya nilai etik dan

keagamaan yang positif dalam pekerjaan serta kemakmuran yang diperoleh adalah rahmat

dari Tuhan atas cara hidup masyarakat. Dalam agama protestan yang dikembangkan oleh

Calvin ada ajaran bahwa seorang manusia sudah ditakdirkan sebelumnya masuk surga

atau neraka. Hal ini ditentukan oleh keberhasilan kerja didunia. Adanya kepercayaan ini

membuat penganut agama protestan Calvin bekerja keras untuk meraih sukses. Bekerja

sebagai bentuk pengabdian untuk agama bukan untuk mengumpulkan harta.

Sebagai warga negara yang bertanggung jawab, orang Kristen tetap berusaha

memelihara iman dan berjuang dengan gigih menegakkan kebenaran dan keadilan seperti

yang dimandatkan oleh Yesus Kristus. Statusnya sebagai warga Kerajaan Allah telah

dibuktikan dalam kehadirannya sebagai pelaku firman yang tidak berkompromi dengan

kejahatan.

Maka sebagai murid Yesus, orang Kristen berusaha keras menjadi garam dan terang.

Mereka bertanggung jawab terhadap maju dan mundurnya negara. Mereka tidak hanya

berjuang untuk mendapatkan kekuasaan politik tetapi juga melaksanakan terjadinya

revolusi intelektual agar seluruh masyarakat bisa memiliki kemampuan intelektual dalam

semua disiplin ilmu. Dengan ini, mereka berperan serta dalam membangun masyarakat

baru, sebagai wujud Kerajaan Allah di bumi yang berasaskan kebenaran, keadilan,

kekudusan dan pengampunan.

14 | P E M B A N G U N A N M A S Y A R A K A T
B. ULASAN KRITIS

Agama memiliki peran penting dalam pembangunan di masyarakat. Banyak pihak

menyetujui pendapat ini. Namun yang menjadi permasalahannya adalah cara yang

dipakai oleh agamawan untuk membangun masyarakat melalui agama. Banyak pendapat

mengatakan bahwa agama terlalu memfokuskan dirinya terhadap pikiran tentang ilahi

melulu. Agama memiliki suatu fundamentalisme yang menganggap dirinya tidak dapat

diganggu gugat dan selalu benar adanya baik melalui sikap dan tindakan agama tersebut.

Namun hal inilah yang menjadi dasar pokok pembicaraan kita.

Agama dalam peranannya dalam pembangunan masyarakat bertindak secara konkret

dalam masyarakat itu sendiri. Semua dikarenakan objek yang sebenarnya agama harus

tangani adalah manusia yang mengalami penderitaan. Tiap agama baik itu Kristen,

Katolik, Hindu, Buddha mau pun agama lainnya memiliki peran aktif baik secara

langsung mau pun tak langsung dalam keberhasilan pembangunan. Pembangunan yang

bersifat manusiawi secara psikis kemudian berkembang dalam kepribadian manusia dan

penerapannya didunia. Hal ini mempengaruhi pembangunan-pembangunan fisik yang

terlihat langsung dalam kehidupan bermasyarakat. Agama Hindu-Buddha di Bali

misalnya mereka menerapkan nilai-nilai agamanya dalam aspek pembangunan tata kota.

Keindahan kota Bali yang ramai dengan patung para Dewa, menjadi salah satu objek

wisata yang paling di minati oleh kaum wisatawan domestik maupun wisatawan asing.

Dari segi ekonomi, Bali yang menjadi tempat wisata dapat menjadi salah satu aset negara

guna menaikkan devisa negara.

Selain itu pemerintah memberikan perhatian khusus bagi terlibatnya agama dalam

keberhasilan pembangunan, hal ini dibuktikan dengan diselenggarakan seminar oleh

Bappenas mengenai peran nilai-nilai agama dan tokoh agama guna reorientasi

15 | P E M B A N G U N A N M A S Y A R A K A T
pembangunan ekonomi. Hai ini dikutip dalam sebuah berita siaran pers pada bulan Juni

lalu di Jakarta.

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Andrinof Chaniago dalam sambutannya menjelaskan

bahwa Agama secara tekstual memiliki nilai, sumber makna, dan prinsip yang dapat

menjadi pegangan dan rujukan bagi manusia untuk menghadapi globalisasi dan

modernisasi, dimana nilai tersebut diinternalisasikan dalam aktivitas kehidupan sosial dan

ekonomi. Dalam konteks Indonesia, peran nilai agama yang disebarkan oleh tokoh agama

mendorong aktivitas dan pembangunan ekonomi secara mendalam, khususnya dalam

bentuk kebijakan dan strategi pembangunan di berbagai bidang, Untuk terus maju dan

berkembang, pembangunan ekonomi Indonesia perlu didukung dari berbagai bidang,

termasuk daya dukung dari ajaran nilai agama, antara lain, bagaimana peran agama

melalui nilai agama dan tokoh agama ikut serta dalam pembangunan ekonomi yang

membawa manfaat bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Rencana tindak lanjut dari seminar awal ini adalah penyelenggaraan Focus Group

Discussion (FGD) dengan mengundang para pakar dan tokoh sesuai dengan bidangnya

masing-masing, antara lain, dari kalangan akademisi, praktisi ekonomi, dan tokoh agama,

baik di pusat maupun di daerah. Dari kajian Pragis 2015 ini, diharapkan dapat disusun

rekomendasi kebijakan lintas sektoral untuk penguatan dan peran semua sektor dalam

internalisasi dan transformasi nilai-nilai agama dan peran tokoh agama dalam Gerakan

Revolusi Mental untuk reorientasi pembangunan ekonomi.

Demikian pula dalam dunia pendidikan banyak sekolah-sekolah yang dibangun

dibawah naungan sektor-sektor agama, guna aktif menghasilkan generasi berpengetahuan

luas. Hal ini jelas bahwa agama memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan

masyarakat diberbagai aspek kehidupan.

16 | P E M B A N G U N A N M A S Y A R A K A T
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Nilai agama ialah salah satu dari macam-macam nilai yang mendasari

perbuatan seseorang atas dasar pertimbangan kepercayaan bahwa sesuatu itu

dipandang benar menurut ajaran agama.

Sumbangan atau fungsi agama dalam masyarakat adalah sumbangan untuk

mempertahankan nilai-nilai dalam masyarakat. Sebagai usaha-usaha aktif yang

berjalan terus menerus, maka dengan adanya agama maka stabilitas suatu masyarakat

akan tetap terjaga.

Agama mengambil peranan penting dalam keberadaan suatu masyarakat atau

komunitas. Karena suatu agama atau kepercayaan akan tetap langgeng jika terus

diamalkan oleh masyarakat secara kontiniu.

B. KRITIK DAN SARAN

17 | P E M B A N G U N A N M A S Y A R A K A T