Anda di halaman 1dari 5

Analisis Data

Perhitungan laktosa dalam filtrat (g/100 ml filtrat) dengan rumus:

100
A= (Tb-Ts) x N x 0,171 x 5

a. Sampel Susu Dancow


100
A= (Tb-Ts) x N x 0,171 x 5

100
A= (65,5-50) x 0,1 x 0,171 x 5

100
A= 15,5 x 0,1 x 0,171 x 5

A= 5,301 g/100 ml filtrat

b. Sampel Susu Kambing


100
A= (Tb-Ts) x N x 0,171 x 5
100
A= (65,5-20) x 0,1 x 0,171 x 5
100
A= 45,5 x 0,1 x 0,171 x 5

A= 15,561 g/100 ml filtrat


c. Sampel Susu Kedelai
100
A= (Tb-Ts) x N x 0,171 x 5
100
A= (65,5-17) x 0,1 x 0,171 x 5
100
A= 48,5 x 0,1 x 0,171 x 5

A= 16,587 g/100 ml filtrat


d. Sampel Susu Sapi Murni
100
A= (Tb-Ts) x N x 0,171 x 5
100
A= (65,5-37,5) x 0,1 x 0,171 x 5
100
A= 28 x 0,1 x 0,171 x 5

A= 9,576 g/100 ml filtrat


e. Sampel Susu Indomilk
100
A= (Tb-Ts) x N x 0,171 x 5
100
A= (65,5-46,5) x 0,1 x 0,171 x 5
100
A= 19 x 0,1 x 0,171 x 5

A= 6,498 g/100 ml filtrat

Pembahasan
Pada praktikum kali ini bertujuan untuk menentukan kadar laktosa dalam susu cair
kemasan menggunakan metode titrasi. Sampel yang digunakan adalah (susu kedelai, susu
sachet indomilk dan dancow yang sudah diencerkan, susu kambing, susu sapi murni) Laktosa
merupakan satu-satunya karbohidrat (gula) yang terdapat pada susu. Laktosa termasuk salah
satu gula pereduksi, sehingga kadarnya dapat dihitung secara kuantitatif dengan
menggunakan metode titrasi. Laktosa yang terdapat pada susu, perlu dihidrolisa menjadi
glukosa dan galaktosa terlebih dahulu supaya bisa diserap oleh dinding usus dan memasuki
peredaran darah (Elisabeth, 2011). Untuk proses hidrolisa tersebut diperlukan ensim laktase,
yang terdapat pada brush border mukosa usus halus.
Dalam penentuan kadar laktosa dalam susu, beberapa sampel susu ditambahkan
reagen ZnSO4 dan larutan NaOH. Fungsi penambahan reagen ZnSO4 dan larutan NaOH
berfungsi untuk mengendapkan protein sehingga komponen-komponen lain yang terdapat
pada susu dapat terpisah. Jika protein tidak diendapkan, maka akan berpengaruh pada hasil
analisis. Selanutnya susupensi sampel didiamkan lebih kurang 10 menit, hal ini bertujuan
agar semua protein mengendap. Selanjutnya dilakukan penyaringan dengan kertas saring
untuk memisahkan filtratnya. Pemisahan filtrat ini bertujuan agar tidak mengganggu analisis.
selanjutnya filtrat yang jernih diambil sebanyak 5 ml dan dimasukkan kedalam erlemeyer dan
ditambahkan akuades, larutan KI, dan larutan chloramine T. Selanjutnya suspensi didiamkan
selama 90 menit kemudian ditambahkan larutan 2N HCl, fungsi dari penambahan lautan 2N
HCl yakni untuk menghidrolisis senyawa disakarida menjadi monosakarida yakni laktosa,
langka selanjutnya yakni dititrasi dengan larutan 0,1 N Na 2S2O3 sampai bewarna kuning
pucat dan langkah terakhir yakni pembuatan blanko dengan 25 ml akuades.
Sampel pertama yakni susu kedelai, pada pengukuran susu kedelai didapatkan hasil
volume Na2S2O3 untuk titrasi sampel sebesar 17 mL. Untuk titrasi larutan blanko dibutuhkan
65,5 mL Na2S2O3. Dariproses perhitungan diperoleh kadar laktosa yang terdapat pada susu
kedelai sebesar 16,587 g/100mL. Akan tetapi hal ini tidak sesui dengan literatur, yang
menyatakan bahwa susu kedelai tidak mengandung laktosa sehingga dapat dikonsumsi oleh
penderita lactose intolerant. Selain itu susu merupakan makanan cair yang diproduksi oleh
kelenjar susu mamalia betina, namun dlam kehidupan sehari-hari kata susu juga dipakai
untuk minuman yang dikategorikan sebagai pengganti susu yang berasal dari kedelai atau
tumbuh-tumbuhan lain, misalnya susu kedelai, susu beras (tajin), santan atau dalam bahasa
ingris disebut coconut milk. Kandungan terbesar susu adalah air dan lemak, rasa manis dalam
susu dikarenakan adanya laktosa yang yang berkontribusi sekitar 40% kalori dari air susu
penuh. Secara alami laktosa hanya terdapat pada air susu dan hanya pada beberapa jenis
tanaman tertentu dengan jumlah yang sangat sedikit (Hasim dan Martindah, 2002)
Sampel kedua yakni susu sachet indomilk yang sudah diencerkan didapatkan hasil
volume Na2S2O3 untuk titrasi sampel sebesar 46,5 mL. Untuk titrasi larutan blanko
dibutuhkan 65,5 mL Na2S2O3. Dariproses perhitungan diperoleh kadar laktosa yang terdapat
pada susu Indomilk sebesar 6,498 g/100mL. Sampel ketiga yakni susu sachet dancow yang
sudah diencerkan, didapatkan hasil volume Na2S2O3 untuk titrasi sampel sebesar 50 mL.
Untuk titrasi larutan blanko dibutuhkan 65,5 mL Na 2S2O3. Dariproses perhitungan diperoleh
kadar laktosa yang terdapat pada susu dancow sebesar 5,301 g/100mL. Sampel keempat
yakni Susu Kambing, didapatkan hasil volume Na2S2O3 untuk titrasi sampel sebesar 20 mL.
Untuk titrasi larutan blanko dibutuhkan 65,5 mL Na 2S2O3. Dariproses perhitungan diperoleh
kadar laktosa yang terdapat pada susu dancow sebesar 15,561 g/100mL. Sampel kelima
yakni Susu Sapi Murni, didapatkan hasil volume Na2S2O3 untuk titrasi sampel sebesar 37,5
mL. Untuk titrasi larutan blanko dibutuhkan 65,5 mL Na2S2O3. Dariproses perhitungan
diperoleh kadar laktosa yang terdapat pada susu dancow sebesar 9,576 g/100mL.
Berdasarkan hasil perhitungan laktosa pada setiap sampel diketahui laktosa pada susu
kambing lebih tinggi daripada susu sapi, hal ini kurang sesuai dengan literatur yang dapat
dilihat pada tabel 1.
Berdasarkan literatur di atas dapat dilihat bahwa laktosa pada susu sapi lebih tinggi daripada
laktosa pada susu kambing. Ketidak sesuain hasil praktikum dengan literatur dapat
dimungkinkan ketidak telitian praktikan dalam melakukan titrasi.
Susu sapi murni umumnya dapat dibuat menjadi susu olahan (susu cair, bubuk, kental
manis dan sebagainya) yang memiliki kandungan nutrisi yang cukup baik (Edelstein, 1988).
Dalam data yang diperoleh susu indomilk yang berasal dari susu kental manis yang
diencerkan memiliki kadar laktosa lebih tinggi daripada susu dancow yang berasal dari susu
bubuk yang diencerkan. Hal tersebut sesuai dengan literatur. Diman pada susu kental manis,
dalam proses pembuatannya ditambahkan butiran laktosa, sehingga kadar laktosanya lebih
tinggi daripada susu bubuk. Butiran laktosa yang dipakai harus berukuran maksimal 10
mikron, sehingga laktosa yang terkristalisasi dalam susu tidak membentuk cluster
(bergerombol) tetapi tersebar merata ke seluruh produk, dibawa oleh butir-butir laktosa yang
halus tadi. Untuk mendapatkan ukuran butiran laktosa maksimal 10 mikron tersebut, biasanya
produsen SKM melakukan grinding laktosa sebelum dipakai. Tetapi sekarang sudah ada
micronised lactose dengan ukuran yang dikehendaki tanpa harus di-grinding dahulu.
Evaporasi dilakukan sampai total padatan akhir di dalam produk mencapai 72-74%. Proses
aging adalah proses penyempurnaan kristalisasi laktosa dan penyebarannya, yaitu proses
menunggu sambil diaduk selama 2-3 jam sehingga seluruh kristal laktosa tersebar merata ke
seluruh produk (Khusna, 2007). Sedangkan pada susu bubuk pada umumnya memiliki kadar
laktosa 37, 2% (tabel 2)
DAFTAR RUJUKAN

Hasim dan Martindih. 2002. Perbandingan susu sapi dengan susu kedelai: tinjauan
kandungan dan biokimia absorbsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Chandan R. 1997. Dairy Based Ingredients. Eagen Press, St. Paul.

Edelstein. 1988. Composition of Milk, Word Animal Science. Meat Science, Milk
Scienceand Technology. Editor : Cross H.R. Elsevier Science Publishers B.V.
Amsterdam

Elisabeth Setyo. 2011. Penentuan Laju Penurunan Mutu Produk Susu Bubuk Tipe-X Pada
Berbagai Suhu Di Pt Frisian Flag Indonesia, Jakarta. Bogor: Fakultas Teknologi
Pertanian Institut Pertanian Bogor

Khusna R. A. 2007. Analisis Pola Konsumsi Susu Bubuk, Susu Kental


Manis, Dan Susu Cair Konsumen Rumah Tangga (Survey Pada Perumahan Taman
Pagelaran,Kelurahan Padasuka, Kecamatan Ciomas, Bogor) Skripsi. Fakultas Teknologi
Pertanian Institut Pertanian Bogor