Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENGERINGAN KAYU

Pengaruh Sifat Kayu terhadap Sifat Pengeringan Kayu

Kelompok 14

Anggota:

1. Rizal Danang Firdaus (E24150020)


2. Syufu Sulaiman (E24150076)
3. Monica Br Ginting (E24150055)

AsistenPraktikum :
Siti Evi Afifah (E24130031)

DosenPembimbing :
Dr.Ir.Trisna Priadi, M.Eng.Sc

DEPARTEMEN HASIL HUTAN


FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh perbedaan sifat dan
ukuran kayu terhadap kecepatan pengeringan dan penyusutan.

1.2 Bahan
- Kayu Pinus
- Kayu Mahoni
- Kayu Sengon
1.3 Alat
- Kaliper
- Timbangan
- Oven
- Cutter
1.4 Metode

1. Siapkan contoh uji (kayu) dengan ukuran 2 x 5 x 10 cm, 1 x 5 x 10 cm,


dan 2 x 10 x 10 cm.
2. Rapikanpermukaancontohujitersebut dengan menggunakan cutter dan
beri tanda pada masing-masing contoh uji.
3. Timbang dan ukur dimensi masing-masing contoh uji kemudian catat
hasilnya.
4. Keringkan contohujidalam oven dengan suhu 600C selama 7 hari.
5. Keluarkan contoh uji dari oven, kemudian letakkan pada desikator
selama 15 menit.
6. Kemudian timbang dan ukur dimensi masing-masing contoh uji setelah
pengeringan lalu catat hasilnya.
7. Kering-tanurkan contoh uji pada oven dengan suhu 10320C selama 48
jam.
8. Keluarkan contoh uji dari oven, kemudian letakkan pada desikator
selama 15 menit.
9. Kemudian timbang dan ukur dimensi masing-masing contoh uji setelah
pengeringan lalu catat hasilnya.
10. Hitung kadar air masing-masing contoh uji.
11. Hitung susut pada masing-masing contoh uji.
BAB II
PEMBAHASAN

Basa basi kampret


Kayu merupakan salah satu bahan alam yang memiliki peran penting bagi
kehidupan manusia. Kayu banyak digunakan sebagai bahan utama baik untuk
pembuatan furniture maupun konstruksi bangunan. Kebutuhan yang sangat tinggi
akan kayu merupakan salah satu bukti bahwa bahan ini masih digemari oleh
sebagian besar masyarakat. Permasalahannya adalah kayu tidak lepas dari faktor
kerusakan, baik itu akibat organisme perusak maupun kesalahan proses
pengolahan. Oleh karena itu, diperlukan suatu proses yang dapat mengurangi
potensi kerusakan kayu. Salah satu hal yang dapat mengurangi kemungkinan
tersebut adalah dengan melakukan pengeringan kayu.
Proses pengeringan sangat berpengaruh terhadap peggunaan kayu.
Pengeringan kayu adalah suatu proses menurunkan kadar air kayu hingga kadar
air pemakaian melalui teknik penumpukan yang benar, dengan atau tanpa
pengaturan faktor-faktor pengeringan untuk meningkatkan kestabilan dimensi
kayu (Wahyudi 2013). Menurut Tsoumis (1991) Pengeringan kayu adalah proses
penurunan kadar air kayu sampai mencapai kadar air lingkungan tertentu atau
kadar air yang sesuai dengan kondisi udara di mana kayu tersebut ditempatkan.
Beberapa manfaat dari pengeringan kayu yaitu, penyusutan berkurang, kayu
terlindung dari serangan jamur pembusuk dan pewarna, kekuatan kayu meningkat,
kualitas hasil pengecatan meningkat, serta berat kayu berkurang sehingga biaya
transportasi bisa lebih rendah (Sucipto 2009). Hal tersebut memugkinkan
terjadinya peningkatan performa kayu.
Bahasan poin 1
Pengamatan dilakukan terhadap kayu Sengon (Falcataria moluccana),
Pinus (Pinus merkusii), dan Mahoni (Swietenia sp.) dengan ukurn yang berbeda
(A: 1cm x 5cm x 10cm, B: 2cm x 5cm x 10cm, C: 2cm x 10cm x 10cm). Kayu
Sengon memiliki berat jenis rata-rata sebesar 0.32 (Pandit et al. 2011), kayu Pinus
memiliki berat jenis rata-rata sebesar 0.40-0.75 (Pandit dan Kurniawan 2008), dan
kayu Mahoni memiliki berat jenis rata-rata sebesar 0,6 (Pandit et al. 2011).
Berdasarkan hasil percobaan diperoleh bahwa kayu dengan laju pengeringan
tercepat adalah kayu sengon sampel A yaitu sebesar 28.409 %/hari dan berat jenis
sebesar 0.335 sedangkan kayu yang mengalami laju pengeringan paling lambat
adalah kayu pinus sampel A dengan laju pengeringan 2.273 %/hari dan berat jenis
0.511. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sampel yang memiliki berat jenis
rendah memiliki laju pengeringan yang relatif cepat sedangkan sampel dengan
berat jenis tersbesar mengalami laju pengeringan yang paling lambat. Hal ini
dikarenakan sampel dengan berat jenis yang tinggi mengandung lebih banyak
jumlah air terikat dan mengakibatkan laju pengeringan semakin lambat (Suranto
2009). Selain itu, ukuran sampel juga dapat memengaruhi laju pengeringan.
Semakin tipis sortimen kayu, maka semakin pendek pula jarak perjalanan air dari
dalam kayu menuju ke udara yang melingkupinya, sehingga kayu tipis akan cepat
mengering (Budianto 1996). Namun, hasil percobaan menunjukkan sampel pinus
A lebih lambat laju pengeringannya (2.273%/hari) jika dibandingkan dengan
sampel pinus C (2.968%/hari). Hal tersebut disebabkan karena berat jenis sampel
pinus A (0,511) lebih besar dari berat jenis sampel pinus C (0.509) sehingga
sampel pinus A memiliki jumlah air terikat yang lebih banyak dan mengakibatkan
ari tersebut lebih sulit keluar.
2. Laju pengeringan kayu dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berada pada
diri kayu itu sendiri. faktor-faktor ini dapat berupa jenis kayu, tebal sortimen
kayu, kadar air awal kayu, pola penggergajian kayu serta posisi kayu di dalam
batang pohon. Selain dipengaruhi oleh kadar air awal dan ukuran ketebalan kayu,
mutu dan sifat pengeringan sangat dipengaruhi oleh struktur anatomi, sifat fisis
dan kandungan kimia kayu Variasi atau keragaman nilai tersebut juga dipengaruhi
oleh perbedaan jenis khususnya dalam hal tebal dinding sel dan kandungan zat
ekstraktif (Harijadi 2009).
Kayu-kayu yang lebih porous(lebih tinggi persentase rongga sel) atau yang
berkerapatan/ber-BJ rendah cenderung lebih mudah dikeringkan dengan waktu
yang lebih singkat karena lebih permeabel (sifat pengeringan baik, cacat sedikit).
Begitu pula halnya dengan kayu-kayu yang tidak banyak mengandung tilosis atau
endapan lain di dalam rongga sel kayu. Kayu dengan persentase sel parenkim dan
jari-jari yang tinggi menuntut perlakuan pengeringan yang lebih lunak karena
tipisnya dinding sel karena berpotensi menjadi daerah cacat. Secara umum kayu
konifer lebih mudah dikeringkan dibandingkan dengan kayu daun lebar pada nilai
BJ kayu yang sama akibat struktur kayunya yang homogen. Namun demikian,
pengeringan kayu konifer harus dilakukan dengan hati-hati terutama diawal-awal
periode pengeringan karena peluang terjadinya penyumbatan mulut noktah
yangtergolong tinggi. Hal yang sama berlaku pula pada kayu dengan kadar
ekstraktif tinggi karena berpotensi mengakibatkan terjadinya ketidakmerataan
warna (discoloration) pada permukaan kayu (Wahyudi 2013). Pengujian laju
pengeringan pada tiga jenis kayu menunjukkan bahwa kayu sengon memiliki laju
pengeringan tertinggi yaitu sebesar 28.409%, 24.002 %, dan 23.741 dan kayu
pinus memiliki laju pengeringan terendah dari pada kayu lainnya yaitu 2.273 %,
3.545% , dan 2.968%. Hal ini disebabkan karena kadar air kayu sengon yang
tinggi mencapai 200% yang menyebabkan laju pengeringannya semakin tinggi.
Selain itu, menurut Haygreen dan Bowyer (2007) kayu-kayu yang banyak
mengandung zat ekstraktif ataupun tilosis akan mengurangi banyaknya air yang
keluar karena keduanya bersifat sebagai penghambat, sehingga kayu mahoni
memiliki laju pengeringan yang lebih lambat dari kayu sengon .
3. Berdasarkan data penyusutan volume pada kayu sengon , mahoni, dan
pinus dengan tiga ukuran kayu yang berbeda (A: 1cm x 5cm x 10cm, B:
2cmx 10cmx 10cm, C: 1cmx 10cmx 10cm). Pengujian laju pengeringan
pada tiga jenis kayu tersebut menunjukkan faktor jenis sortimen
berpengaruh secara sangat nyata terhadap kecepatan pengeringan.
Semakin tipis sortimen kayu, maka semakin pendek pula jarak perjalanan
air dari dalam kayu menuju ke udara yang melingkupinya, sehingga kayu
tipis akan cepat mengering demikian sebaliknya (Budianto 1996).
Sortimen kayu yang memiliki ukuran tebal yang semakin besar,
menyebabkan jarak tempuh air untuk berpindah di dalam kayu dari pusat
menuju ke permukaan kayu juga semakin panjang. Di dalam teori
pengeringan, dinyatakan bahwa kayu mengering dimulai dari bagian
terluar kayu kemudian diikuti dengan bagian-bagian kayu yang lebih
dalam dan terakhir pada bagian terdalam kayu. Oleh karena itu, ukuran
tebal kayu digunakan sebagai parameter penentu jauh-dekatnya jarak
perjalanan air di dalam kayu dari pusat kayu menuju ke permukaan kayu.
Semakin tebal kayu, semakin jauh jarak tempuh perjalanan air di dalam
kayu dari pusat kayu menuju ke permukaan kayu,semakin lama kayu
tersebut mengering (Rasmussen, 1961). Hasil pengujian terhadap sampel
menunjukkan bahwa kayu sengon memiliki hasil yang sesuai literature
laju pengeringan semakin mneurun seiring dengan bertambahnya dimensi
sampel, yaitu 28.409 %, 24.002 %, dan 23.741%. Hasil pengujian pada
kayu mahoni dan pinus menunjukkan hasil yang acak. Hal ini dapat
disebabkan oleh kurangnya ketelitian dalam pengukuran dimensi sampel,
LAMPIRAN

Jenis Contoh B0 P L T B1 P L T

uji

Pinus A 32,816 10,119 5,011 1,054 28,472 10,038 4,739 0,963

B 64,782 10,400 5,042 2,027 55,822 10,240 4,849 1,885

C 123,630 9,536 9,757 2,077 103,188 8,936 9,407 1,885

Mahon A 25,283 10,002 4,935 1,098 20,736 9,928 4,706 1,028


i

B 53,613 10,063 5,020 1,778 44,940 9,938 4,301 1,626

C 96,000 10,112 8,733 1,912 82,653 9,970 8,384 2,273

Sengon A 56,300 10,113 5,042 1,095 19,230 10,014 4,903 1,066

B 102,445 10,204 5,010 2,214 37,990 10,170 4,896 1,950

C 216,345 10,174 10,008 2,068 84,900 10,143 9,513 1,998

Tabel 1. Data rata-rata panjang, lebar, dan tebal serta berat awal dan berat kering
tanur contoh uji 3 jeniskayu di tigaukuransampel
Tabel 2. Data laju pengeringan contoh uji rata-rata tiga jenis kayu.

Jenis Kayu Contoh KA0 KA1 Volume Volume Susut Laju Berat
Uji (%) Pengeringan Jenis
(%) Awal Akhir Volume
(%)

Pinus A 20.196 4.285 53.444 45.81 14.286 2.273 0.510


0
B 21.588 4.771 106.289 93.597 11.941 3.545 0.501

C 25.645 4.870 193.250 158.455 18.005 2.968 0.509

Mahoni A 27.006 4.164 54.197 48.029 11.381 3.263 0.367

B 23.921 3.874 89.818 69.501 22.620 2.864 0.481

C 20.860 4.056 168.845 189.997 -12.527 3.084 0.470

Sengon A 201.150 2.821 55.834 52.339 6.258 28.409 0.334

B 179.752 3.741 113.184 97.095 14.215 24.002 0.323

C 173.526 7.339 210.567 192.788 8.443 23.741 0.375

Gambar 1 Perbandingan Kadar Air0 3 jenis kayu


Gambar 2 Grafik Perbandingan kadar air1 3 jenis kayu

Gambar 3 Grafik susut volume 3 jenis kayu


Gambar 4 Grafik Perbandingan laju pengeringan 3 jenis kayu

Gambar 5 Grafik Perbandingan berat jenis 3 jenis kayu

Contoh perhitungan pada kayu mahoni sampel A

Laju Pengeringan =

= = 2.273 % / Hari

KAo= x 100%

= x 100% = 27.006%

KA1 = x 100%

= x 100% = 4.164%
Susut = x 100%

Volume

= x 100% = 11.381%

Berat Jenis =

= 0.367
DAFTAR PUSTAKA

Bowyer JL, Schmulsky R, Haygreen JG. 2007. Forest Products and Wood
Science: An Introduction 5th Ed. Iowa (US): Iowa State Press.
Budianto A, Dodong. 1996. Sistem Pengeringan Kayu. Semarang(ID) : kanisius.
Harijadi AF. 2009. Kadar air titik jenuh serat ebberapa jenis kayu perdagangan
Indonesia [skripsi]. Bogor(ID): Institut Pertanian Bogor.
Rasmussen EF.1961. Dry Kiln, Operators Manual. New York(US): Forest Service
U.S. Department of Agriculture USA.
Wahyudi I. 2013. Hubungan struktur anatomi kayu dengan sifat kegunaan dan
pengolahannya. Bogor(ID): LitBang Anatomi Kayu Indonesia
LAMPIRAN

Gambar 1. Sampel yang akan diuji Gambar 2. Pengukuran sampel

Gambar 3. Pengukuran berat Gambar 4. Sampel dioven

Sampel
Gambar 5. Sampel yang sudah diuji