Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum

Ilmu kayu
KIMIA KAYU

OLEH:
KELOMPOK 3B
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

NURUL FADILAH ATIK


HERIAH
NUR PAESHA
JUSMA SUSANTI
TIMBA KENDE
MUH. ANNUR RAHMAT W
MAULANA ABRAR
ALI BABA
MUH. ANDY KURNIAWAN

M11115304
M11115087
M11115068
M11115038
M11115078
M11115051
M11115089
M11115308
M11115510

Asisten : 1. Irwan Pasdar


2. Nur Raaena Dewi Syam

LABORATORIUM PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN HASIL HUTAN


FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Komponen kimia kayu sangat bervariasi, hal ini dipengaruhi oleh faktor
tempat tumbuh, iklim dan letaknya di dalam batang atau cabang. Pada komponen
kimia kayu terdiri dari selulosa, hemiselulosa, lignin dan zat eksraktif masingmasing sangat dbutuhkan oleh tumbuhan.
Tumbuh-tumbuhan yang mengandung selulosa cukup melimpah di
Indonesia dan merupakan sumber alam yang dapat diperbaharui dengan
pembudidayaan.Selulosa merupakan komponen yang mendominasi karbohidrat
yang berasal dari tumbuh-tumbuhan hampir mencapai 50%, karena selulosa
merupakan unsur struktural dan komponen utama bagian yang terpenting dari
dinding sel tumbuh-tumbuhan. Selulosa merupakan -1,4 poli glukosa, dengan
berat molekul sangat besar. Unit ulangan dari polimer selulosa terikat melalui
ikatan glikosida yang mengakibatkan struktur selulosa linier. Keteraturan struktur
tersebut juga menimbulkan ikatan hidrogen secara intra dan intermolekul.
Hemiselulosa merupakan suatu polisakarida lain yang terdapat dalam
tanaman dan tergolong senyawa organik. Casey (1960) menyatakan bahwa
hemiselulosa bersifat non-kristalin dan tidak bersifat serat, mudah mengembang
karena itu hemiselulosa sangat berpengaruh terhadap bentuknya jalinan antara
serat pada saat pembentukan lembaran, lebih mudah larut dalam pelarut alkali dan
lebih mudah dihidrolisis dengan asam.
Lignin adalah komponen penyusun utama dari dinding sel tumbuhan dan
beberapa algae. Lignin juga masih berikatan erat dengan selulosa dan
hemiselulosa. Komponen ini merupakan komponen rantai atau cabang panjang
yang terbentuk di dalam dinding sel. Keberadaan lignin sangat melimpah di alam
yang mana merupakan komponen polimer organic kedua terbanyak di bumi
setelah selulosa. Struktur dari lignin adalah kompleks, tidak teratur, acak, dan
penyusun utamanya dari senyawa aromatic, yang mana menambah elastisitas
matrik selulosa dan hemiselulosa. Akibat dari kekompleksan inilah lignin

merupakan komponen linoselulosa yang sulit untuk dipecah. Hal ini dikarenakan
struktur kristal pada lignin lebih tinggi daripada selulosa dan hemiselulosa.
Zat ekstraktif adalah zat yang mudah larut dalam pelarut seperti: eter,
alcohol, bensin dan air. Jumlah zat ekstraktif rata-rata 3 8%, dari berat kayu
karing tanur. Termasuk di dalamnya minyak-minyakan, resin, lilin, lemak, tannin,
gula, pati dan zat warna. Zat ekstraktif tidak merupakan bagian struktur dinding
sel, tetapi terdapat dalam rongga sel.
B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dalam praktikum ini adalah :
1. Untuk menentukan kadar air pada sampel uji beberapa jenis kayu dengan
menggunakan air dingin dan air panas.
2. Untuk menentukan dan mengetahui kadar abu beberapa jenis kayu.

BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN


KADAR AIR
A. Prosedur Kerja
Prosedur kerja pada kadar air antara lain:
1. Masukkan cawan ke oven selama 15 menit dengan suhu 100o C, lalu masukkan
ke dalam desikator selama 15 menit. Kemudian timbang.
2. Kalibrasi berat cawan kosong.
3. Timbang Merbau ( Sampel A ) dan Lento-lento ( Sampel B ) masing-masing 2
gr.
4. Masukkan kedua cawan yang berisi sampel ke dalam oven selama 24 jam, lalu
masukkan ke dalam desikator selama 15 menit, kemudian timbang.
B. Hasil
1. Berat cawan petri (Kosong) = 50,36 gr
Ditambahkan Serbuk Merbau 2 gram
2. Berat cawan Petri (Kosong) = 33,03 gr
Ditambahkan serbuk Lento-lento 2 gram
3. Setelah dioven
Merbau = 52,20 gr
Lento-lento = 34,91 gr
4. Berat Akhir (B2)
Merbau = 52,20 50,36 = 1,84 gr
Lento-lento= 34,91 33,03= 1,88 gr
5. Hasil Kadar Air
KA =

B 1B 2
100
B2

KA Merbau =

21,84
100
1,84

KA Lento-lento =

21,88
100
1,88

0,16
100
1,84

= 8, 69 %

0,12
100
1,88

= 6,38 %

C. Pembahasan
Kadar air merupakan jumlah air yang terdapat pada kayu didalam sel kayu.
Pada percobaan kadar air ini dilakukan uji coba pada sampel Merbau (Sampel A)
dan Lento-lento (Sampel B). Dari hasil yang ada, diperoleh berat cawan kosong

untuk merbau adalah 50,36 gr dan untuk lento-lento adalah 33,03 gr. Masingmasing cawan ditambahkan serbuk 2 gr. Setelah dioven, diperoleh berat untuk
merbau 52,20 gr dan lento-lento 34,91 gr. Kemudian diperoleh berat akhir merbau
adalah 1,84 gr dan Lento-lento adalah 1,88 gr. Dari semua nilai yang didapat
maka hasil kadar air yang diperoleh untuk merbau adalah 8,69 % dan Lento-lento
adalah 6,38 %.

KELARUTAN AIR PANAS


A. Prosedur Kerja
Prosedur kerja pada kadar air dingin, antara lain:
1. Timbang sampel Merbau (A) dan Lento-lento (B) masing-masing 2 gr setara
2.
3.
4.
5.
6.

kering tanur.
Masukkan masing-masing sampel kedalam enlemeyer.
Tambahkan air panas 100 ml.
Tutup erlemeyer dengan alumunium foil dan beri pemberat.
Masukkan kedalam penangas air pada suhu 100oC selama 3 jam.
Masukkan kertas saring dan cawan masing-masing untuk sampel A dan B ke
oven selama 15menit, lalu masukkan ke dalam desikator selama 15 menit,

kemudian timbang.
7. Saring sampel menggunakan kertas saring dengan bantuan alat vakum.
8. Bilas menggunakan aquades panas hingga jernih.
9. Angkat dan lipat kertas saring, masukkan ke dalam oven selama 24 jam.
10. Masukkan ke dalam desikator selama 15 menit dan timbang.

B. Hasil
1. Berat cawan petri (Kosong) = 35,47 gr
Ditambahkan Serbuk Merbau 2 gram
2. Berat cawan Petri (Kosong) = 39,33 gr
Ditambahkan serbuk Lento-lento 2 gram
3. Setelah dioven
Merbau = 37,36 gr
Lento-lento = 41,18 gr
4. Berat Akhir
Merbau = 37,36 35,47 = 1,89 gr
Lento-lento= 41,18 39,33 = 1,85 gr
5. Hasil Kadar Air Panas
%=

Berat AwalBerat Akhir


100
Berat Awal

% Merbau =

21,89
100
2

KA Lento-lento =

= 5,5 %

21,85
100
2

= 7,5 %

C. Pembahasan
Kelarutan air panas merupakan proses pengeluaran zat ekstraktif kayu
didalam sel kayu dengan menggunakan air panas. Pada percobaan kelarutan air
panas ini dilakukan uji coba pada sampel Merbau (Sampel A) dan Lento-lento
(Sampel B). Dari hasil yang ada, diperoleh berat cawan kosong untuk merbau
adalah 35,47 gr dan untuk lento-lento adalah 39,33 gr. Masing-masing cawan
ditambahkan serbuk 2 gr. Setelah dioven, diperoleh berat untuk merbau 37,36 gr
dan lento-lento 41,18 gr. Kemudian diperoleh berat akhir merbau adalah 1,89 gr
dan Lento-lento adalah 1,85 gr. Dari semua nilai yang didapat maka hasil
kelarutan air panas yang diperoleh untuk merbau adalah 5,5 % dan Lento-lento
adalah 7,5 %.

KELARUTAN AIR DINGIN


A. Prosedur Kerja
Prosedur kerja pada kadar air panas antara lain:
1. Timbang 2 gr masing-masing samel Merbau (A) dan Lento-lento (B) setara
kering tanur.
2. Tambahkan aquades sebanyak 300 ml.
3. Diamkan selama 2 X 24 jam.
4. Masukkan kertas saring dan cawan masing-masing untuk sampel A dan B ke
oven selama 15 menit, lalu masukkan ke dalam desikator selama 15 menit,
kemudian timbang.
5. Setelah 2 X 24 jam, saring sampel dengan kertas saring menggunakan alat
vakum, bilas sampel dengan aquades hingga jernih.
6. Angkat dan lipat kertas saring, masukkan ke dalam oven selama 24 jam.
7. Setelah di oven masukkan dalam desikator selama 15 menit, kemudian
timbang.
B. Hasil
1. Berat cawan petri (Kosong) = 52,73 gr
Ditambahkan Serbuk Lento-lento 2 gram
2. Berat cawan Petri (Kosong) = 51,78 gr
Ditambahkan serbuk Merbau 2 gram
3. Setelah dioven
Merbau = gr
Lento-lento = gr
4. Berat Akhir
Merbau = 51,78 = 14,19 gr
Lento-lento= 52,73 = 14,42 gr
5. Hasil Kadar Air Dingin

%=

Berat AwalBerat Akhir


100
Berat Awal

% Merbau =

21
100
2

% Lento-lento =

=5%

21,84
100
2

=8%

C. Pembahasan
Kelarutan air dingin merupakan proses pengeluaran zat ekstraktif kayu
didalam sel kayu dengan menggunakan air dingin. Pada percobaan kelarutan air
dingin ini dilakukan uji coba pada sampel Merbau (Sampel A) dan Lento-lento
(Sampel B). Dari hasil yang ada, diperoleh berat cawan kosong untuk merbau
adalah 36,88 gr dan untuk lento-lento adalah 35,57 gr. Masing-masing cawan
ditambahkan serbuk 2 gr. Setelah dioven, diperoleh berat untuk merbau 38,78 gr
dan lento-lento 37,41 gr. Kemudian diperoleh berat akhir merbau adalah 1,9 gr
dan Lento-lento adalah 1,84 gr. Dari semua nilai yang didapat maka hasil
kelarutan air dingin yang diperoleh untuk merbau adalah 5% dan Lento-lento
adalah 8%.

KADAR ABU
A. Prosedur Kerja
Prosedur kerja pada kadar abu antara lain:
1. Masukkan cawan porselin kedalam oven selama 15 menit
2. Keluarkan cawan lalu masukkan kedalam desikator selama 15 menit
3. Timbang untuk mendapat berat porselin kosong
4. Timbang serbuk 2 gr setara kering tanur
5. Masukkan porselin yang berisi serbuk ke dalam tanur listrik (furnace) suhu
750o C selama 6 jam
6. Keluarkan sampel, masukkan kedalam desikator 30-45 menit
7. Keluarkan lalu timbang
B. Hasil
1. Berat Porselin (Kosong) = 26,66 gr
Ditambah dengan sampel = 26,66 + 2,12 = 28,78 gr
2. Hasil Kadar Abu
Berat awalberat akhir
100
Kadar Abu % =
2
=

28,7828,71
100
2

= 3,5 %
C. Pembahasan
Kadar abu merupakan jumlah persentase abu yang terdapat pada kayu
didalam sel kayu. Pada percobaan kadar abu ini dilakukan uji coba pada
sampel serbuk kayu di peroleh hasil berat porselin kosong = 26,66 gr di
tambah dengan sampel 2,12 gr sehingga berat akhirnya = 28,78 gr. Hasil
persen kadar abu yaitu = 3,5 %.