Anda di halaman 1dari 11

MENGUKUR POTENSIAL OSMOSIS JARINGAN TUMBUHAN

LAPORAN PRAKTIKUM
disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Fisiologi Tumbuhan
yang diampu oleh:
Dr. Hj. Sri Anggraeni, M.Si.
Dr. Dra. Sariwulan Diana, M.Si.
Dr. H. Taufik Rahman, M.Pd.
Hj. Tina Safaria, M.Si.

oleh:
Kelas B
Kelompok 1
Elitha Sundari Pulungan (1307092)
Lenny Triana Feni Hartono (1307288)
Maulisna Nur O. Hans (1304975)
Rani Hidayatika (1304972)
Rizka Trian Palupy (1306100)

DEPARTEMEN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2016
A. Judul
Mengukur Potensial Osmosis Jaringan Tumbuhan

B. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Hari, tanggal : Rabu, 5 Oktober 2016
Pukul : 07.00 - 09.30 WIB
Tempat : Laboratorium Fisiologi
Fakultas Pendidikan Matematika dan IPA
Universitas Pendidikan Indonesia

C. Masalah
Potensial osmosis menunjukkan status suatu larutan dan
menggambarkan perbandingan proporsi zat terlarut dengan pelarutnya. Makin
pekat suatu larutan, akan makin rendah potensial osmosisnya.
Potensial osmosis dari suatu sel dapat diukur dengan berbagai metoda.
Metoda yang sering digunakan adalah dengan menggunakan suatu seri larutan
yang konsentrasi dan potensial osmosisnya diketahui, misalnya dengan
menggunakan seri larutan sukrosa 0,26 M; 0,24 M; 0,22 M; 0,20 M; 0,18 M;
0,16 M; dan 0,14 M. Metoda ini didasarkan pada adanya peristiwa plasmolisis,
yaitu dengan menentukan suatu larutan yang hanya menyebabkan terjadinya
kondisi incipient plasmolysis.
Pada kondisi incipient plasmolysis, setengah dari seluruh sel yang
dimasukkan menunjukkan tanda-tanda plasmolisis. Pada saat ini sel-sel
menunjukkan penurunan (pengurangan volume), sehingga konsentrasi cairan
di dalam sel akan lebih pekat. Sehingga masalah pada praktikum fisiologi
tumbuhan kali ini adalah, sebagai berikut:
1. Bagaimana ciri-ciri jaringan tumbuhan yang mengalami plasmolisis?
2. Apa penyebab terjadinya plasmolisis?
3. Bagaimana hubungan antara plasmolisis dengan status potensial osmotik
antara cairan selnya dengan larutan di lingkungannya?
D. Tujuan
1. Untuk mengidentifikasi ciri-ciri jaringan tumbuhan yang mengalami
plasmolisis.
2. Untuk mengetahui penyebab terjadinya plasmolisis.
3. Untuk mengetahui hubungan antara plasmolisis dengan status potensial
osmotik antara cairan selnya dengan larutan di lingkungannya.

E. Teori
Potensial osmosis menunjukkan status suatu larutan dan
menggambarkan perbandingan proporsi zat terlarut dengan pelarutnya. Makin
pekat suatu larutan akan makin rendah potensial osmosisnya. Potensial
osmosis dari suatu sel dapat diukur dengan berbagai metode. Metode yang
sering digunakan adalah dengan menggunakan suatu seri larutan yang
konsentrasi dan potensial osmosisnya diketahui, misalnya dengan
menggunakan larutan sukrosa. Metode ini didasarkan pada adanya peristiwa
plasmolisis yaitu dengan menentukan suatu larutan yang hanya menyebabkan
terjadinya kondisi incipient plasmolysis (Tim fisiologi tumbuhan, 2016).
Plasmolisis adalah peristiwa lepasnya plasmalemma atau membran
plasma dari dinding sel karena dehidrasi (sel kehilangan air). Peristiwa ini
terjadi bila jaringan ditempatkan pada larutan yang hipertonis atau memiliki
potensial osmotik lebih tinggi. Dalam keadaan tertsebut, air sel akan terdorong
untuk berdifusi ke luar sel menembus 15 membran (osmosis). Salah satu
fenomena akibat dehidrasi sel adalah terjadinya plasmolisis. Dalam keadaan
tertentu, sel masih mampu kembali ke keadaan semula bila jaringan
dikembalikan ke air murni. Peristiwa ini dikenal sebagai gejala deplasmolisis.
Bila jaringan ditempatkan pada larutan yang hipotonis sampai isotonis, maka
sel-sel jaringan tidak akan mengalami plasmolisis. Berdasar hal ini, maka
metode plasmolisis dapat digunakan sebagai salah satu metode penaksiran
nilai potensial osmotik jaringan. Sebagai perkiraan terdekat, potensial osmotik
jaringan ditaksir eqivalen dengan potensial osmotik suatu larutan yang telah
menimbulkan plasmolisis sebesar 50 %, yang disebut incipient plasmolysis
(Suyitno, 2003).
Komponen-komponen potensial air sel tumbuhan terutama terdiri dari
potensial osmotik (PO)dan potensial turgor (tekanan, PT). Oleh karena
potensial osmotik cairan sel, air murni cenderung memasuki sel, yaitu air
meninggalkan sel. Untuk mengatur PO saja, maka PT harus nol. Potensial
turgor sama dengan nol protoplasma dari dinding sel karena keluarnya
sebagian air dari vakuola. Keadaan dimana volume vakuola tepat cukup untuk
menahan menempelnya protoplasma pada dinding sel, disebut plasmolisis
insipient. Pada keadaan plasmolisis insipien, sel berada dalam keadaan tanpa
tekanan, PO larutan eksternal memiliki nilai sama dengan PO cairan sel, maka
disebut isotonik terhadap cairan sel. Dengan menghitung nilai Po dari larutan
sukrosa yang isotonik dengan cairan sel, maka nilai Po cairan sel dapat
diketahui. Nilai pontensial cairan sel dari sel-sel tumbuhan biasanya berkisar
antara -10 bar - -20 bar (Tim dosen mata kuliah, 2016).

F. Hipotesis
Potensial osmosis, plasmolisis, dan konsentrasi larutan di lingkungan
tumbuhan saling berhubungan dengan jaringan tumbuhan.

G. Alat dan Bahan


1. Alat
Tabel 1. Alat yang digunakan
No. Nama Alat Jumlah
1. Tabung reaksi Empat buah
2. Silet Dua buah
3. Mikroskop Dua buah
4. Object glass Dua buah
5. Cover glass Dua buah
2. Bahan
Tabel 2. Bahan yang digunakan
No. Nama Bahan Jumlah
1. Daun Rhoeo discolor Secukupnya
2. Larutan sukrosa 0,26 M 10 ml
3. Larutan sukrosa 0,24 M 10 ml

H. Cara Kerja
Disediakan empat tabung reaksi. Masing-masing dua tabung reaksi diisi dengan larutan sukrosa
0,26 M sebanyak 5 ml dan dua tabung lainnya masing-masing diisi larutan sukrosa 0,24 M
sebanyak 5 ml.

Dibuat sayatan permukaan epidermis bawah daun Rhoeo discolor sebanyak 12 sayatan.
Kemudian diamati keadaan sel sebelum direndam.

Dimasukkan tiga sayatan daun Rhoeo discolor pada masing-masing tabung reaksi yang berisi
larutan sukrosa.

Dibiarkan selama 30 menit. Kemudian diamati keadaan sel setelah direndam.

Bagan 1. Mengukur Potensial Osmosis Jaringan Tumbuhan

I. Hasil
Tabel 3. Potensial Osmosis Jaringan Tumbuhan Rhoeo discolor
Laruta % Plasmolisis Potensia
n l
Sukrosa Osmosis
1 2 3 4 5 6 7 8
0,14 M 0% 0% 0% -3,7
0,16 M 10% 10% -4,2
0,18 M 30% 60% -4,7
0,20 M 30% 50% -5,3
0,22 M 50% 50% -5,9
0,24 M 30% 100% -6,4
0,26 M 25% 30% 40% -7,0
Gambar 1. Sel Rhoeo Gambar 2. Sel Rhoeo Gambar 3. Sel Rhoeo
discolor sebelum direndam. discolor yang sudah direndam discolor yang sudah direndam
30 menit pada larutan sukrosa 30 menit pada larutan sukrosa
0,26 M. 0,24 M.

J. Pembahasan
Osmosis adalah perpindahan air melalui membran selektif permeabel,
dari daerah yang memiliki konsentrasi tinggi ke rendah. Osmosis merupakan
suatu fenomena alami yang dapat dihambat dengan cara meningkatkan
tekanan pada bagian yang memiliki konsentrasi lebih rendah. Tekanan osmotik
bergantung pada konsentrasi zat terlarut, bukan pada sifat zat terlarut itu
sendiri.
Pada praktikum kali ini, sel epidermis bawah daun Rhoeo discolor
dimasukkan ke dalam larutan sukrosa yang memiliki konsentrasi berbeda-
beda. Hal ini dilakukan untuk mengetahui potensial osmotik daun tersebut
pada keadaan Incipient Plasmolisis. Incipient plasmolisis adalah kondisi di
mana setengah dari keseluruhan sel yang dimasukkan ke dalam larutan
mengalami atau menunjukkan tanda-tanda plasmolisis.
Peristiwa plasmolisis terjadi karena konsentrasi larutan di luar sel lebih
besar dibandingkan konsentrasi di dalam sel. Apabila konsentrasi larutan
tinggi, maka potensial osmotik juga akan semakin tinggu, sehingga semakin
banyak sel yang terplasmolisis.
Grafik Potensial Osmosis Jaringan Rhoeo discolor
70
60
50
40
30
20
10
0

Berdasarkan praktikum yang dilakukan, masing-masing jaringan yang


dimasukkan ke dalam larutan sukrosa mengalami plasmolisis dengan jumlah
yang berbeda-beda. Sel yang mengalami persentase plasmolisis tertinggi
adalah sel yang dimasukkan ke dalam larutan sukrosa 0,24. Sedangkan
peristiwa incipient plasmolisis hanya terjadi pada larutan sukrosa yang
memiliki konsentrasi 0,22 dan 0,24 M.
Menurut Ismail dan Muis (2011), osmosis terjadi karena pengeluaran
air dari konsentrasi larutan yang potensialnya tinggi ke larutan yang
potensialnya rendah. Nilai potensial air di dalam dan sekitar sel akan
memengaruhi difusi air ke dalam sel tumbuhan. Potensial air suatu sel
dipengaruhi oleh matriks sel larutan dalam vakuola dan tekanan hidrostatik di
dalam isi sel.
Pada praktikum yang dilakukan, terdapat beberapa hasil yang tidak
sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa pertambahan konsentrasi sel akan
membuat sel yang terplasmolisis semakin banyak. Hal ini dapat terjadi karena
adanya kesalahan saat menyayat daun Rhoeo discolor, yaitu terlalu tipis atau
bahkan terlalu tebal, atau terjadi kesalahan saat menghitung jumlah sel yang
mengalami plasmolisis.
K. Jawaban Pertanyaan
1. Jelaskan mengapa potensial osmosis pada keadaan incipient plasmolysis
memiliki nilai yang hampir sama atau kira-kira sama dengan potensial
osmosis sel pada keadaan normal?
Jawab: Karena incipient plasmolysis terjadi pada jaringan yang separuh
jumlah selnya baru saja mulai plasmolisis (protoplas baru mulai lepas dari
dinding sel), berarti tekanan-dalamnya sama dengan nol. Maka dari itu
potensial osmotik larutan penyebab incipient plasmolysis setara dengan
potensial osmotik di dalam sel, sesudah kesetimbangan dengan larutan
tercapai.
2. Pada keadaan incipient plasmolysis, nilai potensial osmosis yang
sebenarnya akan lebih kecil atau lebih besar dari keadaan normal? Jelaskan
alasan Anda!
Jawab: Lebih kecil dari yang sebenarnya karena volume jaringan awal dan
jaringan pada keadaan incipient plasmolysis dilakukan secara hati-hati
(seluruh volume jaringan atau lebih baik lagi ukuran sampel protoplas
yang agak besar), maka perubahan potensial osmotik yang disebabkan
oleh perubahan volume dapat dihitung. Jika koreksi tidak dilakukan, nilai
potensial osmotik yang diperoleh dari metode plasmolisis menjadi terlalu
negatif, sering berselisih 0,1 Mpa atau lebih (5-10% atau lebih).
3. Apakah sel-sel jaringan dari tumbuhan yang berbeda akan memiliki
potensial osmosis yang berbeda pula? Jelaskan!
Jawab: Ya, karena tumbuhan yang berbeda akan memiliki potensial
osmosis yang berbeda pula hal tersebut dipengaruhi keadaan lingkungan
yang berubah (misalnya, rawan air atau rawan garam).

L. Kesimpulan dan Saran


1. Kesimpulan
a. Jaringan tumbuhan yang mengalami plasmolisis dapat dilihat dari sel-
selnya, dimana membran sel menyusut dan tidak menempel pada
dinding sel.
b. Peristiwa plasmolisis terjadi karena konsentrasi larutan di luar sel lebih
besar dibandingkan konsentrasi di dalam sel.
c. Plasmolisis merupakan peristiwa dimana cairan sel keluar dari sel. Hal
ini dikarenakan larutan dilingkungan lebih tinggi konsentrasinya
dibandingkan konsentrasi cairan sel. Konsetrasi ini yang memengaruhi
potensial osmotik, dimana konsentrasi berbanding terbalik dengan
potensial osmotik.
2. Saran
Ketelitian dan keterampilan praktikum sangat diperlukan dalam
praktikum ini. Sebaiknya ketika melakukan praktikum, praktikan lebih
teliti dan terampil saat menyayat secara paradermal epidermis bawah daun
Rhoeo discolor. Diharapkan, semua sayatan memiliki ketebalan yang
sesuai dengan praktikum, sehingga dapat didapatkan hasil yang sesuai dan
lebih terpercaya.
DAFTAR PUSTAKA

Dahlia. (2001). Individual Textbook Kimia dan Fisiologi Tumbuhan. Malang:


Jurusan Biologi Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Negeri Malang.
Dwidjoseputro, D. 1986. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT Gramedia, Jakarta.
Ismail dan Muis, A. (2011). Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Makassar.
Jurusan Biologi FMIPA UNM Makassar.
Suyitno, Al. MS. (2003). Buku Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan Dasar.
[Online]. Tersedia: http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/
Suyitno%20Aloysius,%20Drs.%20MS./Buku%20Petunjuk%20Praktikum
%20Fisiologi%20Tumbuhan%20Dasar.pdf
Tim Dosen Mata Kuliah. (2016). Botani. [Online]. Tersedia: http://bio.fst.uin-
alauddin.ac.id/file/bio_file/botani%20lanjut%20new.pdf
Tim Fisiologi Tumbuhan. (2016). Penuntun Praktikum Fsiologi Tumbuhan.
Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI.