Anda di halaman 1dari 24

Nama VETARIYA RONA SAFITRI

NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

BAB III

ANALISIS KUALITATIF KARBOHIDRAT

TUJUAN :

Mengetahui prinsip dasar uji kualitatif karbohidrat

Mengetahui perbedaan prinsip dari masing-masing metode

A. Pre-lab

1. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis karbohidrat dan beri contoh masing-masing 3 ?

a. Monosakarida (gula sederhana)


Monosakarida terdapat dalam bentuk rantai terbuka dan bentuk cincin. Kedua bentuk
ini dengan mudah saling bertukar bentuk. Didalam larutan bentuk rantai terbuka menutup dan
membentuk struktur cincin yang lebih stabil. Hanya ada tiga monosakarida yang sering
terdapat pada makanan yaitu: glukosa (gula darah atau dekstrosa), fruktosa (gula buah), dan
galaktosa. Ketiganya memiliki rumus molekul C6H12O6 dan disebut juga heksosa karena
memiliki enam atom karbon. Monosakarida dengtan lima atom karbon disebut pentosa,
contohnya ribosa dan deoksiribosa (James, 2008).

b. Oligosakarida
Oligosakarida adalah karbohidrat yang mengandung 3 sampai sekitar 12
monosakarida. Oligosakarida dijumpai dalam komponen karbohidrat glikoprotein dan
glikolipid, dan diantara produk pencernaan kanji. Protein yang disekresikan sel, misalnya
imunoglobulin dan protein faktor pembekuan darah, biasanya mengandung rantai
oligosakarida dan oleh karena itu, merupakan glikoprotein. Gugus karbohidrat dari
glikoprotein dan glikolipid tersimpan di dalam membran sel yang terletak dipermukaan
ekstrasel. Beberapa contoh jenis oligosakarida yakni fruktoo-oligosakarida yang ditemukan
dibanyak sayuran, terdiri dari rantai pendek molekul fruktosa, galakto-oligosakarida, yang
juga terjadi secara alami dan Mannan-oligosakarida yang banyak digunakan dalam pakan
ternak untuk meningkatkan kesehatan pencernaan, tingkat energi dan kinerja. Senyawa
fruktoo-oligosakarida (FOS) ini hanya dapat sebagian dicerna oleh manusia. Galakto-
oligosakarida (GOS) terdiri dari rantai pendek molekul galaktosa. Mannan-oligosakarida
(MOS) biasanya diperoleh dari dinding sel ragio Saccharomyces-cerevisae (Marks, 2007).

C. Polisakarida
Polisakarida terdiri atas rantai monosakarida, kemudian membentuk rantai panjang lurus atau
bercabang dan dapat dihidrolisis menjadi karbohidrat yang lebih sederhana seperti
oligosakarida. Polisakarida dapat digolongkan kedalam dua golongan secara fungsional,
yaitu polisakarida struktural dan polisarida nutrien. Polisakarida struktural berfungsi sebagai
pembangun organel sel dan sebagai unsur pendukung intrasel. Polisakarida yang termasuk
golongan ini adalah selulosa (ditemukan di dalam dinding tanaman), kitosap, kondroitin dan
asam hialuronat. Polisakarida nutrien berperan sebagai sumber cadangan monosakarida.
Polisakarida yang termasuk golongan ini adlah paramilum, pati dan glikogen (Sunarya, 2007).
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

2. Sebutkan dan jelaskan metode-metode yang digunakan untuk uji kualitatif karbohidrat

a. Uji Molisch
Larutan karbohidrat dicampur dengan pereaksi Molisch, yaitu larutan 5% -naftol
dalam alkohol, kemudian ditambah asam sulfat pekat dengan hati-hati. Warna violet yang
terbentuk menunjukkan adanya karbohidrat. Dasar uji ini adalah heksosa atau pentosa
mengalami dehidrasi oleh pengaruh asam sulfat pekat menjadi hidroksilfurfural atau furfural
dan kondensasialdehida yang terbentuk dengan -naftol membentuk senyawa yang
berwarna khusus untuk polisakarida dan disakarida. Reaksi ini terdiri atas tiga tahapan yaitu
hidrolisis polisakarida dan disakarida menjadi heksosa atau pentosa dan diikutioleh proses
dehidrasi dan proses kondensasi (Sumardjo, 2007).

b. Uji Yodium
Uji Iodine bertujuan untuk mengidentifikasi polisakarida. Reagen yang digunakan
adalah larutan iodine yang merupakan I2 terlarut dalam potassium iodide. Reaksi antara
polisakarida dengan iodin membentuk rantai poliiodida. Polisakarida umumnya membentuk
rantai heliks (melingkar), sehingga dapat berikatan dengan iodin, sedangkan karbohidrat
berantai pendek seperti disakarida dan monosakarida tidak membentuk struktur heliks
sehingga tidak dapat berikatan dengan iodin. Amilum dengan iodin dapat membentuk
kompleks biru, amilopektin dengan iodin akan memberi warna merah ungu sedangkan
dengan glikogen dan dekstrin akan membentuk warna merah coklat (Sumardjo, 2007).

c. Uji Barfoed
Uji barfoed atau tes barfoed digunakan untuk membedakan antara monosakarida dan
disakarida. Monosakarida akan teroksidasi oleh ion Cu2+ membentuk gugus karboksilat dan
endapan tembaga (I) oksida yang berwarna merah bata serta mengendap. Reaksi positif
ditunjukkan dengan munculnya endapan berwarna merah. Reaksi ini terjadi dalam suasana
asam (sekitar pH 4,6), oleh karena itu digunakan asam asetat dalam pembuatan reagen
barfoed. Hasil negatif ditandai dengan tidak munculnya endapan merah dan larutan tetap
berwarna biru. Disakarida pereduksi dapat juga bereaksi dengan reagen barfoed
(menghasilkan endapan merah pula) namun dalam waktu pemanasan yang lebih lama. Oleh
karena itu, ketepatan waktu dalam uji ini sangat penting untuk membuahkan hasil yang valid.
NaCl dan beberapa zat lainnya dapat menjadi penghambat dalam reaksi yang terjadi
(Sumardjo, 2007).

d. Uji Benedict
Uji benedict atau tes benedict digunakan untuk menunjukkan adanya monosakarida
dan gula pereduksi. Tembaga sulfat dalam reagen benedict akan bereaksi dengan
monosakarida dan gula pereduksi membentuk endapan berwarna merah bata. Monosakarida
dan gula pereduksi dapat bereaksi dengan reagen benedict karena keduanya mengandung
aldehida ataupun keton bebas. Hasil positif ditunjukkan dengan perubahan warna larutan
menjadi hijau, kuning, orange, atau merah bata dan muncul endapan hijau, kuning, orange
atau merah bata (Sumardjo, 2007).
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

3. Bagaimana prinsip analisis karbohidrat menggunakan uji yodium?

Reaksi antara polisakarida dengan iodin membentuk rantai poliiodida. Polisakarida


umumnya membentuk rantai heliks (melingkar), sehingga dapat berikatan dengan iodin,
sedangkan karbohidrat berantai pendek seperti disakarida dan monosakarida tidak
membentuk struktur heliks sehingga tidak dapat berikatan dengan iodin. Amilum dengan iodin
dapat membentuk kompleks biru, amilopektin dengan iodin akan memberi warna merah ungu
sedangkan dengan glikogen dan dekstrin akan membentuk warna merah coklat (Sumardjo,
2007).
4. Jelaskan mekanisme dari uji Barfoed dan sampel apa saja yang bereaksi terhadap reagen
Barfoed!

Mekanisme uji barfoed yaitu Cu2+ dari pereaksi Barfoed dalam suasana asam akan
bereaksi dan direduksi lebih cepat dengan gula reduksi (monosakarida) sehingga dihasilkan
endapan Cu2O (kupro oksida) berwarna merah bata. Sedangkan dehidrasi fruktosa oleh HCL
pekat menghasilkan hidroksi metil furfural dengan penambahan resorsinol akan megalami
kondensasi membentuk senyawa kompleks berwarna merah. Dalam suasana asam ini
gulareduksi yang termasuk dalam golongan disakarida memberikan reaksi yang sangat
lambat dengan larutan Barfoed sehingga tidak memberikan endapan merah kecualipada
waktu percobaan yang diperlama. Reaksi pada monosakarida lebih cepat daripada senyawa
disakarida karena pada senyawa disakarida harus diubah menjadi monosakarida . Uji ini
untuk penunjukkan gula pereduksi monosakarida (Sudarmadji, 2009).

5. Jelaskan prinsip dari uji Benedict!


Uji benedict merupakan uji umum untuk karbohidrat (gula) pereduksi (yang memiliki
gugus aldehid atau keton bebas), seperti yang terdapat pada glukosa dan maltosa. Uji
benedict berdasarkan reduksi Cu2+ menjadi Cu+ oleh gugus aldehid atau keton bebas dalam
suasana alkalis, biasanya ditambahkan zat pengompleks seperti sitrat atau tatrat untuk
mencegah terjadinya pengendapan CuCO3. Uji positif ditandai dengan terbentuknya
endapan merah bata, kadang disertai dengan larutan yang berwarna hijau, merah, atau
orange (Campbell, 2009).
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

6. Bagaimana mekanisme dari uji Molisch dan berikan contoh reaksinya !


Uji molisch
merupakan uji
kimia yang
digunakan untuk
menunjukkan
adanya
karbohidrat,
digambarkan pada
gambar
disamping. Semua
jenis karbohidrat
mulai dari monosakarida, disakarida, oligosakarida, dan polisakarida menunjukkan reaksi
positif dengan uji ini. Senyawa-senyawa seperti asam nukleat dan glikoprotein juga positif
dengan uji molisch karena mengandung karbohidrat. Asam sulfat akan mendehidrasi
karbohidarat membentuk furfural, alfa-naftol bereaksi dengan furfural membentuk senyawa
berwarna ungu. Reaksi positif ditunjukkan dengan munculnya warna ungu pada batas
kedua cairan (Sunarya, 2007).
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

B. Tinjauan Pustaka

1. Reagen Mollish
Reagen Molisch digunakan untuk uji wol dan karbohidrat. Reagen ini mudah dibuat di
laboratorium. Cara membuatnya, larutkan 5 gram alfa-naftol dalam 100 ml alkohol atau
kloroform. Larutan uji ini dikombinasikan dengan sejumlah kecil reagen Molisch (-naftol
dilarutkan dalam etanol atau kloroform) dalam sebuah tabung reaksi. Setelah bercampur,
sejumlah kecil asam sulfat pekat dengan perlahan ditambahkan melalui dinding ke dalam
tabung reaksi yang dimiringkan, tanpa pengadukan, yang membentuk suatu lapisan di dasar
tabung. Reaksi dikatakan positif jika ditunjukkan oleh penampilan cincin ungu pada
antarmuka antara lapisan asam dan lapisan uji (Saxena, 2007).

2. H2SO4
H2SO4 atau asam sulfat merupakan reagen untuk analisa. H2SO4 merupakan produk
yang stabil dimana terdiri dari asam sulfat 95% dimana asam sulfat merupakan cairan yang
tidak berwarna dan juga tidak berbau, bersifat sangat korosif, dapat terurai apabila terkena
panas dan mengeluarkan gas SO2. Produk ini dapat menyebabkan iritasi mata, iritasi kulit,
gangguan indera pengecap dan gangguan pernafasan. Asam encer bereaksi dengan logam
menghasilkan gas hidrogen yang eksplosif jika kena api atau panas dan bereaksi hebat jika
kena air (Cotton, 2010).

3. Lautan Yodium
Iod atau iodium (I2) adalah padatan berkilauan berwarna hitam kebiru-biruan, menguap
pada suhu kamar menjadi gas ungu biru dengan bau menyengat. Iod membentuk senyawa
dengan banyak unsur, tapi tidak sereaktif halogen lainnya, yang kemudian menggeser
iodida. Iod menunjukkan sifat-sifat menyerupai logam. Iod mudah larut dalam kloroform,
karbon tetraklorida, atau karbon disulfida yang kemudian membentuk larutan berwarna ungu
yang indah. Iod hanya sedikit larut dalam air yaitu sekitar 0.00134 mol/liter pada suhu 25
derajat Celsius, tetapi agak larut dalam larutan yang mengandung ion Iodida. Iodium akan
membentuk ion kompleks Tri Iodida dengan Iodida (Silverman, 2010).

4. Reagen barfoed
Reagen Barfoed merupakan larutan tembaga asetat dalam air, yang ditambahkan asam
asetat atau asam laktat. Pada reagen barfoed terdapat tembaga (II) asetat sebanyak 6%,
1% asam asetat/asam laktat ,dan 93% air . Reagen Barfoed digunakan untuk membedakan
monosakarida dan disakarida dengan cara mengontrol pH dan waktu pemanasan. Pada
senyawa monosakarida,Cu2O terbentuk lebih cepat dibandingkan pada senyawa disakarida.
Hal ini karena pada keadaan asam Cu2+ tidak membentuk Cu(OH) 2. Reagen ini cukup
beracun karna keberadaan tembaga asetat. Sehingga dapat menyebabkan iritasi pada
mata, kulit, gangguan indera pengecap dan gangguan pernafasan. Produk ini dapat
bereaksi dengan kebanyakan logam untuk menghasilkan gas hidogen yang sangat mudah
terbakar (Silverman, 2010).

5. Reagen benedict
Reagen benedict adalah produk yang stabil dan dapat bereaksi cepat dengan asam
namun bereaksi lambat dengan alkali. Reagen benedict terdiri dari tembaga sulfat 4 %,
natrium karbonat 10%, natrium sitrat 17% dan air 69%. Reagen benedict dapat tereduksi
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

oleh disakarida seperti maltosa dan laktosa. Reagen benedict pada uji benedict akan
memberikan intensitas warna yang berbeda apabila diteteskan pada beberapa sampel
yang mengandung karbohidrat. Dari intensitas warna tersebut maka akan diketahui
konsentrasi karbohidrat dalam beberapa sampel (Silverman, 2010).

6. Glukosa
Glukosa merupakan monosakarida yang mempunyai nama
lain dektrosa dan gula anggur.Glukosa dapat mencair pada suhu
146C dan mudah larut dalam air. Hidrolisis sempurna dari selulosa,
maltosa, amilum, glikogen akan menghasilkan glukosa. Hidrolisis
sakarosa dan laktosa juga menghasilkan glukosa (Waryat, 2016).

7. Fruktosa
Fruktosa dikenal dengan nama levulosa atau gula buah.
Fruktosa dapat diperoleh dari hidrolisis inulin.Hidrolisis sakarosa,
selain menghasilkan glukosa juga menghasilkan fruktosa.Kristal
fruktosa dapat terurai pada suhu 103-105C. Fruktosa larut dalam air
dan larutannya dapat menunjukkan peristiwa mutarotasi (Waryat,
2016).

8. Sukrosa
Sukrosa mempunyai nama lain sakarosa
dan gula tebu.Sukrosa termasuk dalam disakarida
yang sulit larut dalam alkohol namun mudah larut
dalam air.Apabila sukrosa dipanaskan pada suhu
184C, maka akan membentuk karamel.Sukrosa
tersusun atas monomer -D-glukopiranosa dan -D-fruktofuranosa (Waryat, 2016).

9. Maltosa
Maltosa adalah disakarida yang banyak ditemukan
pada padi-padian yang sedang berkecambah, sehingga
maltosa disebut juga sebagai gula kecambah.Maltosa
juga diperoleh dari hidrolisis amilum karena pengaruh
enzim amilase.Dalam keadaan panas, maltosa dapat
mereduksi pereaksi benedict atau pereaksi fehling.Struktur kimia maltosa tersusun atas
monomer -D-glukopiranosa yang mengikat -D-glukopiranosa (Almatsier, 2010).

10. Pati
Pati atau amilum dalam tumbuhan terdapat pada umbi,batang dan biji.Amilum praktis
tidak larut dalam air dingin.Amilum apabila dipanaskan dengan
air yang konsentrasinya cukup akan menghasilkan dua
fraksi,yaoitu fraksi yang larut (amilosa) dan fraksi yang tidak
larut (amilopektin).Amilosa dengan penambahan iodium
memberikan warna biru yang cepat hilang apabila dipanaskan dan
muncul kembali apabila didinginkan.Amilopektin dengan penambahan natrium memberikan
warna merah kotor sampai lembayung (Almatsier, 2010).
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

11. Dekstrin
Dekstrin adalah karbohidrat yang dibentuk
selama hidrolisis pati menajdi gula oleh panas,
asam dan atau enzim. Maltosa, sukrosa dan
laktosa adalah disakarida yang memiliki rumus
empiris sama (C12H22O11) tetapi berbeda dalam
struktur. Dekstrin dan pati memiliki rumus umum
yang sama Dektrin larut dalam air tetapi dapat
diendapkan dengan alkohol. Dektrin memiliki sifat seperti pati. Beberapa dekstrin
bereaksi denngan iodin memberikan warna biru dan larut dalamalkohol 25% (disebut
amilodekstrin) sedang yang lainnya berwarna coklat-kemerahan dan larut dalam alkohol
55% (disebut eritrodekstrin) dan yang lainnya tidak membentuk warna dengan iodin
serta larut dalam alkohol 70 (disebut akhrodekstrin), yang juga diidentifikasi sebagai
desktrosa ekuivalen (DE) (Fiesser, 2012).
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

C. Diagram Alir

1. Uji Molisch

1 ml sampel

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi

Reagen Molisch 2 Tetes

Dikocok

H2SO4 1 ml

Diamati perubahan yang terjadi

Hasil

2. Uji Yodium

1 tetes sampel

Diteteskan pada cawan petri

Larutan Iodium 1 Tetes

Diamati perubahan yang terjadi

Hasil
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

3. Uji Barfoed

5 tetes sampel

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi

Reagen Barfoed 1 ml

Dipanaskan dengan pemanas air

Diamati

Hasil
4. Uji Benedict

2 tetes sampel

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi

Reagen Benedict 1 ml

Dipanaskan dengan api bunsen

Diamati

Hasil
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. 2010. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Cotton, Albert F. 2010. Kimia Tak Organik Lanjutan. Johor Bahru: UMIDA INDUSTRIES

Fieser. 2012. Organic Chemistry 3 rd edition. United State : Harvard University

James, Joyce. 2008. Prinsip-Prinsip Sains Untuk Keperawatan. Jakarta: Penerbit Erlangga

Marks, Dawn A. 2007. Biokimia Kedokteran Dasar. Jakarta: EGC

Saxena, Amita. 2007. Text Book Of Biochemistry. New Delhi: DPH

Silverman, S Gary. 2010. Handbook Of Grignard Reagents. New York: Marcel Dekker Inc

Sumardjo, Damin. 2007. BUKU PANDUAN MAHASISWA KEDOKTERAN. Jakarta: EGC

Sunarya, Yayan. 2007. Mudah Dan Aktif Belajar Kimia. Bandung: Setia Purna Inves

Waryat. 2016. Perbandingan Pemanis (Sukrosa,Fruktosa dan Glukosa) Terhadap Mutu


Permen Jelly Rumput Laut Eucheuma cottonii. Jurnal Fakultas Pertanian.
Yogyakarta:
Universitas Gadjah Madha
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

D. Hasil Percobaan Dan Pengamatan :

1. Uji Molish

a. Tuliskan data hasil uji Molisch

Senyawa Hasil Uji (+/-) Keterangan


Glukosa + Ungu pekat
Sukrosa + Ungu pekat
Pati + Ungu pudar

b. Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Molisch dari beberapa sampel dalam percobaan
ini!

- Prinsip
Uji Molisch digunakan untuk mengidentifikasi adanya kandungan karbohidrat dalam
sampel. Uji molisch merupakan reaksi dehidrasi karbohidrat atau penambahan asam
sulfat pekat (H2SO4) pada karbohidrat sehingga karbohidrat akan mengalami hidrolisis
menjadi senyawa hidroksi metil fulfural atau cincin furfural dengan penambahan -nafthol.
Furfural kemudian bereaksi dengan reagen molisch kemudian akan terbentuk cincin yang
berwarna ungu. Sampel yang akan diuji dicampur dengan reagen Molisch, yaitu -nafthol
yang terlarut dalam etanol. Kemudian dilakukan homogenisasi, H 2SO4 pekat perlahan-
lahan dituangkan melalui dinding tabung reaksi agar tidak sampai bercampur dengan
larutan, agar terbentuk cicin dengan kompleks warna ungu atau hanya membentuk
lapisan. H2SO4 pekat berfungsi untuk menghidrolisis ikatan pada sakarida untuk
menghasilkan furfural (Harisha, 2008).

- Reaksi
Sampel yang diuji dicampur dengan reagent Molisch, yaitu -naphthol yang terlarut
dalam etanol. Setelah pencampuran atau homogenisasi, H 2SO4 pekat perlahan-lahan
dituangkan melalui dinding tabung reaksi agar tidak sampai bercampur dengan larutan
atau hanya membentuk lapisan (Harisha, 2008).

Reaksi yang terjadi adalah :


Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

H2SO4 pekat (dapat digantikan asam kuat lainnya) berfungsi untuk menghidrolisis ikatan
pada sakarida untuk menghasilkan furfural. Furfural ini kemudian bereaksi dengan
reagent Molisch, -naphthol membentuk cincin yang berwarna ungu (Harisha, 2008).

H2SO4 -naftol
Karbohidrat Hidroksi metil furfural kompleks warna ungu
(Harisha, 2008).
- Mekanisme
Mekanisme dari reaksi uji Molisch adalah karbohidrat dihidrolisis menjadi
monosakarida, selanjutnya monosakarida jenis pentosa akan mengalami dehidrasi oleh
asam sulfat (H2SO4) membentuk cincin furfural (Hidroksi Metil Furfural), sementara
golongan heksosa menjadi hidroksi-multifurfural menggunakan asam organik pekat.
Pereaksi Molisch yang terdiri dari -naftol dalam alkohol akan bereaksi dengan furfural
tersebut membentuk senyawa kompleks berwarna ungu. Dimana monosakarida akan
bereaksi lebih cepat daripada disakarida dan polisakarida karena pada monosakarida
langsung bisa mengalami dehidrasi dengan asam sulfat membentuk furfural, sementara
pada disakarida harus diubah dahulu menjadi monosakarida baru bisa dihidrolisis oleh
asam sulfat membentuk furfural glukosa, sukrosa dan pati bereaksi positif terhadap uji
molisch (Fandy, 2010).

- Analisa prosedur
Pertama-tama siapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan dan
pengamatan uji molisch, yaitu tabung reaksi, digunakan sebagai tempat sampel atau
larutan. Rak tabung reaksi yang digunakan untuk meletakkan tabung reaksi. Pipet ukur
1mL digunakan untuk mengambil atau memindahkan larutan sebanyak 1 mL. Pipet tetes
digunakan untuk memindahkan larutan atau sampel. Bulb digunakan untuk menyedot
larutan yang dipasang pada pipet ukur. Kertas label digunakan untuk memberi label atau
nama sampel pada tabung reaksi agar tidak terjadi kesalahan dalam memindahkan
larutan dan terhindar dari kontaminasi oleh zat atau sampel lain. Kemudian bahan- bahan
yang digunakan yaitu, reagen molish, H2SO4 digunakan untuk mendehidrasi sampel agar
larutan sampel membentuk cincin furfural, membantu cincin furfural bereaksi dengan alfa-
nafthol sehingga terbentuk uji positif, kemudian sebagai condensing agent serta sebagai
penyedia alfa-nafthol yang akan bereaksi dengan sampel membentuk kompleks warna
ungu yang terdapat pada permukaan larutan. Kemudian siapkan larutan sampel yang
akan diuji yakni glukosa, sukrosa dan pati.
Setelah alat dan bahan disiapkan, langkah selanjutnya yakni mengambil 1 mL
larutan tiap sampel (glukosa, sukrosa dan pati) dengan menggunakan pipet ukur dan
bulb, sebelum mengambil larutan, keluarkan udara pada bulb terlebih dahulu dengan cara
menekan huruf A pada bulb kemudian dipasang pada ujung pipet ukur, masukkan pipet
ukur pada botol larutan sampel yang telah dibuka, kemudian tekan tombol atau tulisan S
pada bulb, sedot larutan sampai pada batas 1 mL miniskus bawah (karena larutan
bening). Setelah sampai tanda batas 1 mL kemudian masukkan larutan ke dalam tabung
reaksi dengan menekan tulisan E pada pipet ukur untuk mengeluarkan larutan pada pipet
ukur. Posisi pipet ukur lurus dan tabung reaksi dimiringkan 450. Setelah larutan sampel
dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemudian tambahkan 2 tetes reagen molisch ke
dalam tabung reaksi yang telah berisi larutan sampel tadi dengan menggunakan pipet
tetes. Kemudian dihomogenkan. Penambahan H2SO4 tidak boleh diruang terbuka harus
dilemari asam karena H2SO4 merupakan zat beracun dan bersifat korosif, apabila zat
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

tersebut terhirup bisa berbahaya bagi tubuh. Orang yang melakukan percobaan juga
harus memakai sarung tangan dan juga masker untuk mencegah terhirupnya H 2SO4.
Setelah itu tambahkan 1 mL H 2SO4 dengan menggunakan pipet ukur dengan cara yang
sama dengan pengambilan 1 mL larutan sampel tadi namun dengan pipet ukur yang
berbeda agar tidak terjadi kontaminasi yang akan mengganggu proses pengamatan
nantinya. Lakukan pemberian H2SO4 secara perlahan, agar terbentuk cincin furfural pada
permukaan larutan. Setelah itu amati perubahan atau perbedaan warna yang terjadi.
Catat hasil percobaan pada lembar data hasil praktikum, kemudian dokumentasikan hasil.

- Analisa hasil
Pada percobaan uji molisch, yaitu untuk mengidentifikasi adanya kandungan
karbohidrat dalam sampel. Dalam uji kualitatif karbohidrat dapat diketahui bahwa sampel
glukosa yang ditambahkan reagen molisch yang awalnya berwarna keruh kemudian
setelah ditambahkan 1 mL H2SO4 berubah warna menjadi ungu kehitaman dan terbentuk
2 fase yaitu dalam tabung reaksi hasil uji yang terbentuk yang bawah terlihat lebih bening
dari pada bagian atasnya. Sampel sukrosa yang ditambahkan reagen molisch yang
awalnya berwarna keruh kemudian setelah ditambahkan 1 mL H 2SO4 berubah warna
menjadi ungu kehitaman dan terbentuk 2 fase yaitu dalam tabung reaksi hasil uji yang
terbentuk yang bawah terlihat lebih bening dari pada bagian atasnya. Sampel Pati yang
ditambahkan reagen molisch yang awalnya berwarna keruh kemudian setelah
ditambahkan 1 mL H2SO4 berubah warna menjadi ungu kehitaman dan terbentuk 2 fase
yaitu dalam tabung reaksi hasil uji yang terbentuk yang bawah terlihat lebih bening dari
pada bagian atasnya. Ini menunjukkan bahwa ketiga sampel yang diuji mengandung
karbohidrat.
Dari percobaan yang telah dilakukan, pada sampel glukosa, sukrosa, dan pati
didapatkan hasil positif dengan keterangan yang sesuai dengan literature bahwa uji
molisch digunakan untuk mengetahui adanya kandungan karbohidrat dalam sampel.
Penambahan asam sulfat pekat (H2SO4) pada karbohidrat sehingga karbohidrat akan
mengalami hidrolisis menjadi senyawa hidroksi metil fulfural dengan penambahan -
nafthol. Furfural kemudian bereaksi dengan reagen molisch kemudian akan terbentuk
cincin yang berwarna ungu (Harisha, 2008). Kemudian dalam literature juga menyatakan
bahwa glukosa termasuk monosakarida, sukrosa termasuk disakarida dan pati termasuk
polisakarida yang mengandung amilosa dan amilopektin sehingga apabila sampel
ditambahkan asam sulfat pekat (H2SO4) akan mengalami hidrolisis menjadi senyawa
hidroksi metil fulfural dengan penambahan -nafthol. Furfural kemudian bereaksi dengan
reagen molisch kemudian akan terbentuk cincin yang berwarna ungu (Harisha, 2008).

2. Uji Yodium

a. Tuliskan data hasil uji Yodium!

Senyawa Hasil Uji (+/-) Keterangan


Dekstrin + Biru kehitaman
Maltosa - Merah bata
Glukosa - Merah bata
Pati + Biru pekat
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

b. Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Yodium dari beberapa sampel dalam percobaan
ini!

- Prinsip
Prinsip Uji yodium yaitu untuk mengetahui atau menguji kandungan amilosa atau
pati. Larutan yodium bereaksi dengan pati dengan cara larutan yodium dalam bentuk
triodida akan masuk ke struktur helikal pada pati sehingga membentuk warna kompleks
biru pekat atau biru kehitaman. Dalam amilum terdapat dua macam amilum yaitu amilosa
yang tidak larut dalam air dan amilopektin yang larut dalam air. Ketika amilum dilarutkan
dalam air, amilosa akan membentuk micelles yaitu molekul-molekul yang bergerombol
dan tidak kasat mata karena hanya pada tingkat molekuler. Micelles ini dapat mengikat I2
yang terkandung dalam reagen iodium dan memberikan warna biru khas pada larutan
yang diuji (Suprapti, 2010).

- Reaksi
Sampel yang diuji diberi 1 tetes larutan yodium. Warna biru yang dihasilkan terbentuk
dari ikatan kompleks antara amilum dengan yodium. Sewaktu amilum ditetesi larutan
yodium, warna yang dihasilkan sebagai hasil dari reaksi yang positif yakni sampel akan
berubah warna menjadi kompleks warna biru kehitaman (Suprapti, 2010).
Di dalam amilum sendiri terdiri dari dua macam amilum yaitu amilosa yang tidak larut
dalam air dingin dan amilopektin yang larut dalam air dingin. Ketika amilum dilarutkan
dalam air, amilosa akan membentuk micelles yaitu molekul-molekul yang bergerombol
dan tidak kasat mata karena hanya pada tingkat molekuler. Micelles ini dapat mengikat I2
yang terkandung dalam reagen yodium dan memberikan warna biru khas pada larutan
yang diuji (Suprapti, 2010).

Reaksi:

(Suprapti, 2010).

- Mekanisme

Mekanisme yang terjadi pada uji iodium ini adalah KI akan membentuk kompleks
triiodida dalam air yang kemudian masuk kedalam helikal pati dan membentuk warna biru
pekat (Soendoro, 2008). Karbohidrat golongan polisakarida akan memberikan reaksi
dengan larutan iodin dan memberikan warna spesifik bergantung pada jenis
karbohidratnya. Amilosa dengan iodin akan berwarna biru. Amilopektin dengan iodin akan
berwarna merah violet. Glikogen maupun dekstrin dengan iodin akan berwarna merah
coklat (Fandy. 2010).
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

- Analisa prosedur
Pertama-tama siapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan dan
pengamatan uji yodium yaitu, pipet tetes dan cawan petri. Pipet tetes digunakan untuk
untuk memindahkan larutan dalam jumlah kecil. Cawan petri sebagai tempat meletakkan
atau meneteskan sampel yang akan diuji. Kemudian kertas label, digunakan untuk
memberi label atau nama sampel pada tabung reaksi agar tidak terjadi kesalahan dalam
memindahkan larutan dan terhindar dari kontaminasi oleh zat atau sampel lain yang dapat
mengganggu proses pengamatan. Kemudian bahan- bahan yang digunakan yaitu larutan
yodium 5% sebagai pereaksi yang akan bereaksi dengan sampel, kemudian Dekstrin 5%,
Maltosa 5%, Glukosa 5%, Pati 1% sebagai sampel yang akan diuji atau identifikasi
karbohidrat polisakarida.
Setelah alat dan bahan disiapkan, langkah selanjutnya yakni siapkan tissue putih
sebanyak 1 lembar kemudian buatlah empat sekat membentuk persegi. Setelah itu tulis
nama 4 sampel yang akan diuji di masing-masing sekat persegi yang telah dibuat tadi.
Kemudian letakkan tissue bersekat dibawah cawan petri. Setelah itu ambil larutan sampel
lalu teteskan 1 tetes sampel dengan menggunakan pipet tetes pada cawan petri tepat di
dekat tulisan nama sampel tadi. Setelah itu, tambahkan 1 tetes larutan yodium pada
masing-masing sampel. Amati perubahan atau perbedaan warna yang terjadi. Catat hasil
percobaan pada lembar data hasil praktikum, kemudian dokumentasikan hasil.
- Analisa hasil
Pada percobaan uji yodium, yaitu untuk mengidentifikasi adanya polisakarida dalam
sampel atau menguji adanya kandungan amilosa atau pati. Dalam uji kualitatif karbohidrat
dapat diketahui bahwa 1 tetes dekstrin yang awalnya bening kemudian diberi 1 tetes
yodium akan berubah warna menjadi biru kehitaman. 1 tetes maltosa yang awalnya
bening, saat diberi 1 tetes yodium warnanya menjadi orange. 1 tetes pati yang awalnya
bening kemudian ditetesi 1 tetes yodium berubah warna menjadi biru kehitaman. 1 tetes
glukosa yang awalnya bening kemudian ditetesi 1 tetes yodium warnanya menjadi
orange. Hal ini menunjukkan bahwa pati dan dekstrin merupakan polisakarida sedangkan
maltosa dan glukosa bukan merupakan polisakarida (Fried, 2008).
Dari percobaan yang dilakukan telah sesuai dengan literature bahwa Karbohidrat
polisakarida akan memberikan reaksi dengan larutan iodine dan memberikan warna
spesifik bergantung pada jenis karbohidratnya. Polisakarida apabila direaksikan dengan
iodin akan berwarna biru, amilopektin dengan iodine akan berwarna merah violet. Uji ini
dilakukan untuk menentukan polisakarida. Larutan uji dicampurkan dengan larutan
iodium. Hasil positif ditandai dengan amilum dengan iodium berwarna biru kehitaman, dan
dekstrin dengan iodium berwarna biru kehitaman sampai ungu (Sumeru, 2007). Kemudian
dalam literature juga disebutkan bahwa maltosa termasuk polisakarida dan glukosa
termasuk monosakarida sehingga pada uji iodium glukosa dan maltose menghasilkan uji
negatif atau tidak mengalami perubahan warna (Fried, 2008).

3. Uji Barfoed

a. Tuliskan data hasil Barfoed test!

Senyawa Hasil Uji Keterangan


Glukosa + Endapan merah bata
Fruktosa + Endapan merah bata
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

Maltosa + Sedikit merah bata di dinding


Sukrosa - Tidak terdapat endapan

b. Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Barfoed dari beberapa sampel dalam
percobaan ini!

- Prinsip
Uji Barfoed adalah uji kimia yang digunakan untuk mendeteksi adanya karbohidrat yang
termasuk monosakarida dan disakarida produksi pada suatu sampel dalam suasana asam.
Prinsip uji barfoed ini didasarkan pada pengurangan tembaga (II) asetat (Kupri asetat)
menjadi tembaga (I) oksida (Cu2O atau kuprioksida), sehingga terbentuk endapan merah
bata. Ion Cu2+ dari pereaksi Barfoed dalam suasana asam akan direduksi lebih cepat oleh
gula reduksi monosakarida dari pada disakarida dan menghasilkan Cu 2O (kupro oksida)
berwarna merah bata (Sumeru, 2007).
- Reaksi
Sampel yang diuji dicampur dengan reagent Barfoed. Reagen barfoed yang terdiri
atas campuran kupri asetat dan asam asetat sebagai pereaksi yang akan bereaksi dengan
sampel Setelah pencampuran atau homogenisasi monosakarida dan disakarida pereduksi
dengan reagen barfoed akan menghasilkan endapan kupro oksida berwarna merah bata
(Soendoro, 2009).

Reaksi yang terjadi adalah

(Soendoro, 2009).
- Mekanisme
Mekanisme dari uji barfoed ini adalah Cu2+ dari pereaksi Barfoed dalam suasana
asam akan direduksi lebih cepat oleh gula reduksi monosakarida daripada disakarida dan
menghasilkan Cu2O (kupro oksida) berwarna merah bata. Sedangkan dehidrasi fruktosa oleh
HCl pekat menghasilkan hidroksimetilfurfural dengan penambahan resorsinol akan megalami
kondensasi membentuk senyawa kompleks berwarna merah. Reaksi pada monosakarida
lebih cepat daripada senyawa disakarida karena pada senyawa disakarida harus diubah
menjadi monosakarida (Soendoro, 2009).

- Analisa prosedur
Pertama-tama siapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan dan
pengamatan uji barfoed yaitu, yaitu tabung reaksi, digunakan sebagai tempat sampel atau
larutan. Rak tabung reaksi yang digunakan untuk meletakkan tabung reaksi. Pipet ukur 1mL
digunakan untuk mengambil atau memindahkan larutan atau reagen sebanyak 1 mL. Pipet
tetes digunakan untuk memindahkan larutan atau sampel. Bulb digunakan untuk menyedot
larutan yang dipasang pada pipet ukur. Kertas label digunakan untuk memberi label atau
nama sampel pada tabung reaksi agar tidak terjadi kesalahan dalam memindahkan larutan
dan terhindar dari kontaminasi oleh zat atau sampel lain. Beker Glass 250 mL sebagi wadah
larutan, tempat memanaskan larutan. Penjepit kayu digunakan untuk menjepit tabung reaksi
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

saan proses pemanasan. Penangas air atau kompor listrik digunakan untuk memanaskan
larutan atau air dalam tabung reaksi. Kemudian bahan dalam uji barfoed yaitu ada reagen
barfoed yang terdiri atas campuran kupri asetat dan asam asetat sebagai pereaksi yang
akan bereaksi dengan sampel. Glukosa 5%, fruktosa 5%, maltosa 5%, sukrosa 5% sebagai
sampel yang akan diuji adanya monosakarida pereduksi ataupun disakarida pereduksi.
Kemudian air yang digunakan untuk membantu proses pemanasan.
Setelah alat dan bahan disiapkan, langkah selanjutnya yakni memasukkan 5 tetes
larutan sampel (Glukosa 5%, fruktosa 5%, maltose 5%, Sukrosa 5% ) ke dalam tabung
reaksi. Setelah itu tambahkan 1 ml reagen barfoed dengan menggunakan pipet ukur dan
bulb, sebelum mengambil larutan, keluarkan udara pada bulb terlebih dahulu dengan cara
menekan huruf A pada bulb kemudian dipasang pada ujung pipet ukur, masukkan pipet ukur
pada botol larutan sampel yang telah dibuka, kemudian tekan tombol atau tulisan S pada
bulb, sedot larutan sampai pada batas 1 mL miniskus bawah (karena larutan bening).
Setelah sampai tanda batas 1 mL kemudian masukkan larutan ke dalam tabung reaksi
dengan menekan tulisan E pada pipet ukur untuk mengeluarkan larutan pada pipet ukur.
Posisi pipet ukur lurus dan tabung reaksi dimiringkan 45 0. Setelah larutan sampel
dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemudian masukkan air ke dalam beker glass lalu
nyalakan penangas air, kemudian letakkan beker glass berisi air diatas penangas atau
kompor listrik yang telah dinyalakan tadi. Setelah itu jepit tabung reaksi yang berisi sampel
yang telah ditambah reagen barfoed tadi dengan penjepit kayu lalu masukkan kedalam
beaker glass yang berisi air yang sudah mendidih agar sampel cepat bereaksi. Tunggu
hingga sampai terjadi perubahan warna pada sampel dan terjadi endapan berwarna merah
bata. Setelah itu amati perubahan atau perbedaan warna yang terjadi. Catat hasil percobaan
pada lembar data hasil praktikum, kemudian dokumentasikan hasil.
- Analisa hasil
Pada percobaan uji barfoed yaitu mengidentifikasi monosakarida pereduksi dan
disakarida pereduksi dalam suasana asam. Diketahui bahwa 5 tetes Fruktosa yang semula
bening setelah ditambahkan 1 mL barfoed berwarna biru bening kemudian setelah dilakukan
pemanasan warnanya tidak berubah dan terbentuk endapan merah bata. 5 tetes Glukosa
yang semula bening setelah ditambahkan 1 mL barfoed berwarna biru bening kemudian
setelah dilakukan pemanasan warnanya berubah dan terbentuk endapan merah bata. 5
tetes sukrosa yang semula bening setelah ditambahkan 1 mL barfoed berwarna biru bening
kemudian setelah dilakukan pemanasan terdapat warna sedikit merah bata pada dinding
tabung reaksi. 5 tetes maltosa yang semula bening setelah ditambahkan 1 mL barfoed
berwarna biru bening kemudian setelah dilakukan pemanasan warnanya tidak berubah dan
tidak terbentuk endapan merah bata.
Dari data percobaan yang telah didapatkan, jika dibandingkan dengan literatur pada
sampel glukosa dan maltosa mengalami hasil yang sudah sesuai dengan literature
sedangkan pada sampel fruktosa dan sukrosa hasil yang didapat telah sesuai dengan
literatur. Dalam literature disebutkan bahwa glukosa, fruktosa dan maltosa merupakan
monosakarida yang memiliki gugus OH (anomernya) bebas sehingga merupakan
monosakarida pereduksi dan maltose merupakan disakarida pereduksi karena gugus OH
(anomernya) masih bebas belum berikatan. Sehingga glukosa fruktosa dan maltosa apabila
direaksikan dengan larutan barfoed akan membentuk endapan Cu 2O berwarna merah bata.
Ion Cu2+ dari pereaksi Barfoed dalam suasana asam akan direduksi lebih cepat oleh gula
reduksi monosakarida dari pada disakarida dan menghasilkan Cu2O (kupro oksida) berwarna
merah bata. Sedangkan sukrosa merupakan disakarida namun bukan pereduksi karena
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

gugus OH atau anomernya sudah saling berikatan sehingga kekuatan mereduksinya hilang,
oleh karena itu sukrosa menghasilkan uji negatif pada uji barfoed (Sumeru, 2007).
4. Uji Benedict
a. Tuliskan data hasil Benedict test!

Senyawa Hasil Uji Keterangan


Sebelum pemanasan Setelah pemanasan
Glukosa Biru Merah cerah Sedikit pekat/+
Fruktosa Biru Merah agak coklat Sedikit pekat/+
Maltosa Biru Merah kecoklatan Pekat/+
Sukrosa Biru Biru Tidak/-

b. Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Benedict dari beberapa sampel dalam
percobaan ini?

- Prinsip
Uji Benedict digunakan untuk mengidentifikasi gula pereduksi dalam suasana basa.
Sedangkan reagen benedict dalam uji ini digunakan untuk mengetahui adanya kandungan
natrium karbonat. Dalam suasana alkalis atau basa sakarida akan membentuk enidid yang
mudah teroksidasi. Monosakarida dan disakarida kecuali sukrosa dan trekalosa akan
bereaksi positif bila dilakukan uji Benedict. Larutan-larutan tembaga yang alkalis atau
basaapabila direduksi oleh karbohidrat yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas
akan membentuk Cupro Oksida (Cu2O) yang berwarna hijau, merah, orange, atau merah
bata dan adanya endapan merah bata pada dasar tabung reaksi (Slonane, 2009).

- Reaksi
Sampel yang diuji dicampur dengan reagent benedict untuk mengetahui adanya
kandungan natrium karbonat sehingga dapat mengidentifikasi adanya gula pereduksi dalam
suasana basa. Larutan CuSO4 dalam suasana basa akan direaksikan dengan gula pereduksi
sehingga CuO tereduksi menjadi Cu2O. Indikasi positif pada uji benedict dapat terjadi
apabila sampel yang termasuk kedalam gula pereduksi jika dipanaskan akan terbentuk
endapan merah bata, kadang disertai dengan larutan yang berwarna hijau, merah, atau
orange (Chawla, 2014).
Reaksi yang terjadi adalah

(Soendoro, 2009).

- Mekanisme
Mekanisme dari uji benedict ini adalah reagen benedict yang tersusun atas tembaga
sulfat dan larutan natrium karbobat dan natrium sitrat, mula-mula glukosa dioksidasi menjadi
garam asam glukoranat yang kemudian mampu mereduksi CuO menjadi Cu2O menjadi
merah bata (Soendoro, 2009).
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

- Analisa prosedur
Pertama-tama siapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan dan
pengamatan uji molisch, yaitu tabung reaksi, digunakan sebagai tempat sampel atau larutan.
Rak tabung reaksi yang digunakan untuk meletakkan tabung reaksi. Pipet ukur 1mL
digunakan untuk mengambil atau memindahkan larutan sebanyak 1 mL. Pipet tetes
digunakan untuk memindahkan larutan atau sampel. Bulb digunakan untuk menyedot larutan
yang dipasang pada pipet ukur. Kertas label digunakan untuk memberi label atau nama
sampel pada tabung reaksi agar tidak terjadi kesalahan dalam memindahkan larutan dan
terhindar dari kontaminasi oleh zat atau sampel lain. Penjepit kayu digunakan untuk menjepit
tabung reaksi. Bunsen atau spiritus digunakan untuk memanaskan larutan. Korek api untuk
menyalakan Bunsen. Kemudian bahan-bahan yang digunakan yaitu reagen benedict
sebagai pereaksi yang akan bereaksi dengan sampel. Glukosa 5%, fruktosa 5%, Maltosa
5%, sukrosa 5% sebagai sampel yang akan diuji adanya gula pereduksi atau tidak.
Setelah alat dan bahan disiapkan, langkah selanjutnya yakni masukkan 2 tetes
larutan sampel (Glukosa 5%, fruktosa 5%, Maltosa 5%, Sukrosa 5% ) ke dalam tabung
reaksi dengan menggunakan pipet tetes. Setelah itu tambahkan 1 ml reagen benedict
dengan menggunakan pipet ukur. Sebelum mengambil larutan, keluarkan udara pada bulb
terlebih dahulu dengan cara menekan huruf A pada bulb kemudian dipasang pada ujung
pipet ukur, masukkan pipet ukur pada botol larutan sampel yang telah dibuka, kemudian
tekan tombol atau tulisan S pada bulb, sedot larutan sampai pada batas 1 mL miniskus
bawah (karena larutan bening). Setelah sampai tanda batas 1 mL kemudian masukkan
larutan ke dalam tabung reaksi dengan menekan tulisan E pada pipet ukur untuk
mengeluarkan larutan pada pipet ukur. Posisi pipet ukur lurus dan tabung reaksi dimiringkan
450. Setelah larutan sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi, homogenkan larutan.
Kemudian jepit tabung reaksi yang berisi sampel yang telah ditambah reagen barfoed tadi
dengan penjepit kayu, nyalakan spiritus atau Bunsen dengan korek api lalu panaskan
dengan cara menggoyang-goyangkan tabung reaksi agar api tidak langsung mengenai
tabung reaksi. Setelah itu letakkan tabung reaksi yang berisi sampel yang ditambah reagen
benedict tadi dengan bantuan penjepit kayu. Setelah itu amati perubahan atau perbedaan
warna yang terjadi. Catat hasil percobaan pada lembar data hasil praktikum, kemudian
dokumentasikan hasil.
- Analisa hasil
Pada percobaan uji benedict yaitu untuk mengidentifikasi gula pereduksi dalam
suasana basa. Dalam uji kualitatif karbohidrat dapat diketahui bahwa 2 tetes Glukosa yang
semula bening setelah ditambahkan 1 mL benedict berwarna biru bening kemudian setelah
dilakukan pemanasan warnanya berubah menjadi merah cerah. 2 tetes Fruktosa yang
semula bening setelah ditambahkan 1 mL benedict berwarna biru bening kemudian setelah
dilakukan pemanasan warnanya berubah menjadi merah agak coklat. 2 tetes Maltosa yang
semula bening setelah ditambahkan 1 mL benedict berwarna biru bening kemudian setelah
dilakukan pemanasan warnanya berubah menjadi merah kecoklatan, 2 tetes sukrosa yang
semula bening setelah ditambahkan 1 mL benedict berwarna biru bening kemudian setelah
dilakukan pemanasan warnanya tidak mengalami perubahan warna atau warna tetap biru.
Dari percobaan yang telah dilakukan, jika dibandingkan dengan literatur pada sampel
fruktosa, glukosa, maltosa didapatkan hasil positif sedangkan sukrosa didapatkan hasil uji
negatif, sehingga hasil yang didapatkan telah sesuai dengan literature bahwa uji benedict
digunakan untuk membuktikan adanya gula pereduksi (karbohidrat) atau tidak pada sampel.
Reagen benedict bereaksi dengan aldehid. Meskipun fruktosa bukanlah gula pereduksi,
namun karena memiliki gugus alpha hidroksi keton, maka fruktosa akan berubah menjadi
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

glukosa dan mannosa dalam suasana basa dan memberikan hasil positif dengan pereaksi
benedict. Sukrosa mengandung dua monosakarida (fruktosa dan glukosa) yang terikat
melalui ikatan glikosidic sehingga tidak mengandung gugus aldehid bebas dan alpha hidroksi
keton. Sehingga sukrosa yang tidak mengandung aldehid atau keton bebas tidak dapat
mereduksi larutan Benedict. Sampel yang bereaksi positif terhadap reagen benedict adalah
fruktosa, glukosa dan beberapa disakarida seperti laktosa dan maltose. Indikator uji positif
pada uji benedict yaitu apabila termasuk gula pereduksi akan terbentuk endapan merah
bata, kadang disertai dengan larutan yang berwarna hijau, merah, atau orange (Chawla,
2014).
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

PERTANYAAN

1. Bagaimana membedakan monosakarida dan disakarida dengan menggunakan Barfoed


test?
Membedakan monosakarida dan disakarida dengan menggunakan Barfoed test,
yaitu dengan cara menambahkan reagen barfoed yaitu campuran antara kupri asetat
dan asam asetat pada sampel, yang kemudian dipanaskan dengan penangas air.
Monosakarida dan disakarida pereduksi akan menghasilkan endapan Cu2O berwarna
merah bata. Monosakarida akan bereaksi secara spontan, sedangkan disakarida
bereaksi dengan lambat. Prinsip uji barfoed ini didasarkan pada pengurangan tembaga
(II) asetat (Kupri asetat) menjadi tembaga (I) oksida (Cu2O atau kuprioksida), sehingga
terbentuk endapan merah bata. Ion Cu2+ dari pereaksi Barfoed dalam suasana asam
akan direduksi lebih cepat oleh gula reduksi monosakarida dari pada disakarida dan
menghasilkan Cu2O (kupro oksida) berwarna merah bata (Sumeru, 2007).

2. Bagaimana mengidentifikasi gula pereduksi sampel pada uji Benedict?


Mengidentifikasi gula pereduksi sampel pada suasana basa pada uji Benedict, yaitu
dengan cara penambahan reagen benedict pada sampel, yang kemudian dipanaskan
diatas spiritus atau bunsen. Larutan CuSO 4 dalam suasana basa direaksikan dengan
gula pereduksi sehingga CuO tereduksi menjadi Cu2O yang berwarna merah bata. Jadi
apabila sampel merupakan gula pereduksi akan terbentuk endapan merah bata. Semua
monosakarida dan disakarida kecuali sukrosa dan trekalosa akan bereaksi positif bila
dilakukan uji Benedict. Larutan-larutan tembaga yang alkalis atau basaapabila direduksi
oleh karbohidrat yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas akan membentuk
Cupro Oksida (Cu2O) yang berwarna hijau, merah, orange, atau merah bata dan adanya
endapan merah bata pada dasar tabung reaksi (Slonane, 2009).
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

KESIMPULAN

Tujuan dari praktikum uji kualitatif karbohidrat yaitu mengetahui prinsip dasar uji
kualitatif karbohidrat serta mengetahui perbedaan prinsip dari masing-masing metode.
Dalam percobaan uji kualitatif karbohidrat ada 4 jenis uji, yaitu uji molisch, uji yodium, uji
barfoed dan uji benedict. Uji Molish digunakan untuk mengidentifikasi adanya kandungan
karbohidrat dalam sampel. Prinsip uji molisch yakni reaksi dehidrasi karbohidrat oleh asam
sulfat membentuk cincin furfural ketika bereaksi dengan alfa-nafthol dari reagen molisch
akan terbentuk kompleks warna ungu pada permukaan larutan. Uji Yodium digunakan untuk
mengidentifikasi adanya polisakarida dalam sampel atau untuk menguji kandungan amilosa
atau pati. Prinsip dari uji yodium yaitu larutan yodium bereaksi dengan pati dengan cara
membentuk triodida yang akan masuk ke struktur helixal pada pati sehingga membentukk
warna biru pekat atau biru kehitaman. Yang berperan dalam reaksi ini adalah kandungan
amilosa. Kemudian uji barfoed digunakan untuk mengidentifikasi monosakarida dan
disakarida produksi dalam suasana asam. Prinsipnya yaitu monosakarida dan disakarida
pereduksi direaksikan dengan reagen barfoed dan menghasilkan endapan kupro oksida
(Cu2O) berwarna merah bata. Uji Benedict digunakan untuk mengidentifikasi gula pereduksi
dalam suasana basa. Prinsip uji benedict yaitu larutann CuSO 4 dalam suasana basa akan
direaksikan dengan gula pereduksi sehingga CuO tereduksi menjadi Cu 2O yang berwarna
merah bata.

Berdasarkan data hasil percobaan dan pengamatan yang telah dilakukan, didapatkan
hasil pada percobaan pertama yaitu uji molisch, ketiga sampel (glukosa, sukrosa dan pati)
mengandung karbohidrat karena menghasilkan uji positif. Pada uji yodium diketahui bahwa
dekstrin dan pati merupakan polisakarida yang menghasiilkan uji positif, sedangkan maltosa
dan glukosa tidak mengandung amilum dengan uji menunjukkan hasil negatif. Pada uji
barfoed yang telah dilakukan, glukosa, fruktosa, dan maltosa menghasilkan uji positif
ditandai dengan endapan berwarna merah bata, sedangkan uji negatif yaitu pada sukrosa
dimana tidak terdapat endapan dalam sampel karena sukrosa tidak memiliki gugus
pereduksi bebas. Pada uji benedict diketahui bahwa fruktosa, glukosa dan maltosa
merupakan gula pereduksi sedangkan sukrosa bukan gula pereduksi. Hasil dari keseluruhan
praktikum sudah sesuai dengan literatur.
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

LAMPIRAN
1. Uji Molish

Sebelum Sesudah

2. Uji Yodium

Hasil uji

3. Uji Barfoed

Sebelum
Sesudah
Nama VETARIYA RONA SAFITRI
NIM 165100201111026
Kelas E
Kelompok E4

4. Uji Benedict

Sebelum Sesudah