Anda di halaman 1dari 23

Nama Uyun Nailatul Mafaz

NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

BAB III
ANALISIS KUALITATIF KARBOHIDRAT
TUJUAN:
 Mengetahui prinsip dasar uji kualitatif karbohidrat
 Mengetahui perbedaan prinsip dari masing-masing metode

A. PRE-LAB
1. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis karbohidrat dan beri contoh masing-masing 3 ?
Jawab:
Menurut Septorini (2008), terdapat tiga jenis karbohidrat, diantaranya :
1. Monosakarida merupakan karbohidrat yang paling sederhana oleh karena tidak bisa lagi
dihidrolisa. Monosakarida larut di dalam air dan rasanya manis, sehingga secara umum
disebut juga gula. Penamaan kimianya selalu berakhiran -osa. Dalam Ilmu Gizi hanya ada
tiga jenis monosakarida yang penting yaitu, glukosa, fruktosa dan galaktosa.
2. Disakarida adalah oligosakarida yang paling sederhana yang tersusun atas dua molekul
monosakarida. Dua molekul atau lebih gula sederhana yang saling berikatan dan membentuk
substansi baru pada gugus glikosida dinamakan polisakarida. Contoh yang termasuk
disakarida adalah sukrosa, maltosa dan laktosa.
3. Polisakarida merupakan senyawa karbohidrat kompleks, dapat mengandung lebih dari
60.000 molekul monosakarida yang tersusun membentuk rantai lurus ataupun bercabang.
Polisakarida pada bahan makanan berfungsi sebagai penguat tekstur dan sumber energi.
Contoh yang termasuk polisakarida adalah amilum, dekstrin, dan selulosa.
Sedangkan menurut Siregar (2008), terdapat tiga jenis karbohidrat yang dibedakan
berdasarkan strukturnya, yaitu :
1. Zat gula, merupakan jenis karbohidrat sederhana. Karbohidrat jenis ini mudah dicerna dan
diserap oleh tubuh. Tinggi atau rendahnya kandungan zat gula pada makanan dapat diketahui
dari rasa manisnya makanan. Contohnya, jagung manis memiliki zat gula lebih tinggi
dibandingkan dengan jagung biasa.
2. Selulosa, merupakan jenis karbohidrat berbentuk serat yang tidak bisa dicerna oleh tubuh.
Banyak terdapat pada sayuran (seperti bayam, kangkung, kacang panjang dan wortel), kulit
buah-buahan (terutama pada buah-buahan yang dimakan beserta kulitnya seperti jambu biji,
apel dan anggur), kacang-kacangan (khususnya dalam kacang hijau, kacang merah dan
kedelai), dan kulit ari serealla (seperti beras tumbuk, beras merah dan jagung) serta biji-bijian
(contohnya wijen).
3. Zat pati, termasuk jenis karbohidrat kompleks. Karbohidrat jenis ini memerlukan proses
penguraian yang lebih rumit sebelum dapat diserap oleh tubuh. Zat pati banyak tersimpan
pada bahan makanan yang umumnya dijadikan sebagai bahan pokok seperti beras, jagung
dan umbi-umbian.
2. Bagaimana prinsip analisis karbohidrat menggunakan uji Barfoed?
Jawab:
Prinsip dari uji Barfoed adalah membedakan antara gula pereduksi dengan non pereduksi
dengan menambahkan reagen Barfoed pada suasana asam di mana akan terjadi reaksi reduksi
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

oksidasi. Reagen Barfoed akan tereduksi oleh gula pereduksi membentuk endapan merah
sebagai indikator adanya gugus gula pereduksi. Umumnya uji Barfoed ini digunakan untuk
membedakan antara gula pereduksi monosakarida dan disakarida dimana gula pereduksi
disakarida membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membentuk endapan dibandingkan
monosakarida dan endapan disakarida akan terbentuk lebih sedikit daripada monosakarida
dalam jumlah sampel yang sama (Septorini, 2008).
3. Bagaimanakah reaksi yang terjadi antara larutan yodium dengan sampel?
Jawab:
Senyawa polisakarida akan memberikan warna yang spesifik dengan yodium. Uji yodium
dilakukan untuk mengidentifikasi golongan karbohidrat yang termasuk polisakarida dan non
polisakarida. Hasil pengamatan dikatakan positif apabila hasil uji menunjukkan adanya
perubahan warna menjadi biru atau coklat tergantung jenis polisakaridanya. Warna yang
terbentuk tersebut terjadi karena adanya tri iodida dari reagen yang terperangkap sepenuhnya
oleh polisakarida (Silalahi, 2009).
4. Apa fungsi dari uji benedict?
Jawab:
Uji benedict dilakukan untuk mengidentifikasi karbohidrat yang mengandung gula pereduksi
dan non pereduksi. Uji positif yang terjadi pada uji ini ditandai dengan adanya endapan
merah bata pada hasil percobaan. Pada pereaksi benedict mengandung cuprisulfat, natrium
karbonat dan natrium sitarat. Pereaksi ini dapat direduksi oleh karbohidrat pereduksi yang
mempunyai gugus gula pereduksi membentuk endapan merah bata dari kuprooksida (Cu 2O).
Contoh karbohidart yang memiliki gugus gula pereduksi adalah glukosa dan fruktosa
(Sumardjo, 2009).
5. Jelaskan mekanisme dari uji Molisch!
Jawab:
Prinsip percobaan Uji Molisch yaitu mengidentifikasi ada tidaknya kandugan karbohidrat
pada suatu sampel dengan menambahkan reagen Molisch dan asam sulfat. Asam sulfat yang
ditambahkan akan mengdehidrasi karbohidrat dan bereaksi dengan α-naftol membentuk
cincin furfural berwarna ungu (Pracaswari, 2013).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

B. TINJAUAN PUSTAKA
1. Reagen Molisch
Reagen Molisch adalah reagen yang digunakan dalam uji Molisch yang sensitif untuk
mengetahui adanya karbohidrat. Reagen Molisch terdiri dari α-naftol yang terlarut di dalam
etanol. Reagen Molisch kemudian ditambahi larutan asam sulfat pekat untuk mengdehidrasi
karbohidrat. Warna ungu yang terbentuk menunjukkan adanya karbohidrat (Sumardjo, 2009).
2. H2SO4
Karbohidrat dalam asam encer walaupun dipanaskan akan tetap stabil, tetapi apabila dengan
asam pekat maka senyawa furfural akan dihasilkan. Pentosa-pentosa secara kuantitatif hampir
semua terdehidrasi menjadi furfural. Oleh karena itu, asam sulfat pekat digunakan dalam uji
Molisch ini. Penggunaan asam sulfat pekat berfungsi untuk mengdehidrasi karbohidrat
menjadi senyawa furfural. Penggunaan asam sulfat ini dapat digantikan misalkan dengan HCℓ
atau HI asalkan sama-sama bersifat asam pekat (Poedjiadi, 2008).
3. Larutan Yodium
Larutan yodium memiliki rumus kimia I2. Larutan ini memiliki sifat sulit larut di dalam air.
Oleh karena itu, pembuatan larutan yodium biasanya ditambahkan zat bantu seperti kalium
iodide (KI3). Fungsi larutan iodium dalam uji nutrisi adalah untuk mengetahui apakah suatu
bahan makanan mengandung polisakarida dengan membentuk kompleks warna biru atau
coklat sebagai uji positif (warna yang terbentuk tergantung jenis polisakaridanya) (Patil,
2008).
4. Reagen Barfoed
Reagen Barfoed terdiri dari larutan 0,33 molar tembaga asetat netral dalam 1% larutan asam
asetat. Ada pendapat yang mengatakan bahwa reagen ini tidak dapat di simpan lama, sehingga
disarankan untuk membuatnya ketika benar-benar akan melakukan analisa. Reagen ini
digunakan untuk mengetahui ada tidaknya gugus gula pereduksi. Endapan merah bata yang
terbentuk pada sampel menunjukkan adanya gugus gula pereduksi pada sampel (Nigam,
2008).
5. Reagen Benedict
Uji Benedict adalah untuk membuktikan adanya gula pereduksi. Gula pereduksi adalah gula
yang mengalami reaksi hidrolisis dan bisa diurai menjadi sedikitnya dua buah monosakarida.
Karateristiknya tidak bisa larut atau bereaksi secara langsung dengan Benedict, contohnya
semua golongan monosakarida. Dengan prinsip berdasarkan reduksi Cu2+ menjadi Cu+ yang
mengendap sebagai Cu2O berwarna merah bata. Untuk menghindari pengendapan cuco3 pada
larutan natrium karbonat (reagen Benedict), maka ditambahkan asam sitrat. Larutan tembaga
alkalis dapat direduksi oleh karbohidrat yang mempunyai gugus aldehid atau monoketon
bebas, sehingga sukrosa yang tidak mengandung aldehid atau keton bebas tidak dapat
mereduksi larutan Benedict (Sinaga, 2012).
6. Glukosa
Glukosa mengandung gugus fungsional aldehida dan disebut aldosa. Glukosa digunakan oleh
sel tubuh sebagai sumber energi. Nilai normal glukosa darah adalah 3,5-5,5 mmol/L. Jika
jumlah glukosa pada gula darah itu tinggi maka dapat menimbulkan beberapa penyakit, salah
satunya adalah diabetes melitus. Berikut adalah struktur glukosa:
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

(James, 2008).
7. Fruktosa
Fruktosa dapat diperoleh dari hidrolisis insulin. Insulin merupakan polisakarida yang tersusun
atas unit-unit fruktosa. Selain glukosa, hidrolisis sukrosa juga akan menghasilkan fruktosa.
Kristal fruktosa yang berbentuk prisma akan terurai pada suhu 103 o-105o C. Berikut adalah
struktur fruktosa:

(James, 2008).
8. Sukrosa
Sukrosa dibentuk oleh banyak tanaman, tetapi tidak terdapat pada hewan tingkat tinggi.
Sukrosa disebut gula non pereduksi disebabkan tidak mengandung atom karbon anomer
bebas. Sukrosa dapat diserap oleh darah setelah dihidrolisis oleh enzim invertase. Selain itu
dapat dihidrolisis dengan enzim D-glukosa atau D-fruktosa. Berikut adalah gambar struktur
sukrosa:

(James, 2008).
9. Maltosa
Maltosa terdapat dalam berbagai jenis padi-padian yang sedang berkecambah. Maltosa juga
dapat diperoleh dari hidrolisis amilum oleh pengaruh enzim amilase. Maltosa merupakan
bahan makanan yang bermanfaat bagi tubuh. Oleh sebab itu, maltosa biasanya ditambahkan
pada susu bubuk untuk mempertinggi kadar karbohidratnya. Berikut adalah gambar struktur
maltosa:

(Sumardjo, 2009).
10. Pati
Tumbuhan menyimpan kelebihan glukosa sebagai pati. Ratusan atau ribuan molekul glukosa
yang saling bertautan membentuk rantai yang panjang dan lurus atau bercabang. Pati dan
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

glikogen merupakan cadangan yang baik dikarenakan tidak larut pada air. Molekul pati
berakulmulasi membentuk granul yang terlihat pada sebagian besar sel tumbuhan, misalnya
kentang. Berikut adalah gambar struktur pati:

(James, 2008).

11. Dekstrin
Dekstrin merupakan salah satu produk hasil hidrolisis pati berwarna putih hingga kuning.
Dekstrin merupakan hasil hidrolisis pati yang tidak sempurna. Proses ini juga melibatkan
alkali dan oksidator. Dekstrin bersifat sangat larut dalam air panas atau dingin, dengan
viskositas yang relatif rendah. Sifat tersebut akan mempermudah penggunaan dekstrin bila
dipakai dalam konsentrasi yang cukup tinggi. Dekstrin putih dihasilkan dengan pemanasan
suhu sedang (79-121oC), mengguanakan katalis asam seperti HCl atau asam asetat dengan
karakteristik produk berwarna putih hingga krem. Dekstrin kuning dihasilkan dengan
pemanasan suhu tinggi (149-190o C) menggunakan katalis asam dengan karakteristik produk
berwarna krem hingga kuning kecoklatan. Berikut adalah gambar struktur dekstrin:

(Praja, 2015).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

C. DIAGRAM ALIR
1. Uji Molisch

Glukosa 5%, Sukrosa 5%, Pati 1%

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi masing-masing sebanyak 1 ml

Reagen Molisch 2 tetes


Dikocok
H2SO4 1 ml
Diamati perubahan warna yang terjadi

Hasil

2. Uji Yodium

Desktrin 5%, Sukrosa 5%, Glukosa 5%, Pati 1%


1%

Diteteskan di cawan petri sebanyak 1 tetes

Larutan iodium 5% 1 tetes


Diamati perubahan warna yang terjadi

Hasil
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

3. Uji Barfoed

Glukosa 5%, Fruktosa 5%, Maltosa 5%, Sukrosa 5%

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi masing-masing sebanyak 5 tetes

Reagen Barfoed 1 ml
Dipanaskan dengan pemanas air

Diamati perubahan warna yang terjadi

Hasil

4. Uji Benedict

Glukosa 5%, Fruktosa 5%, Sukrosa 5%

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi masing-masing sebanyak 2 tetes

Reagen Benedict 1 ml

Dipanaskan diatas kompor listrik

Diamati perubahan warna yang terjadi

Hasil
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

D. HASIL PERCOBAAN DAN PENGAMATAN


1. Uji Molisch
a. Tuliskan data hasil uji Molisch
Senyawa Hasil Uji Keterangan
Terbentuk cincin furfural berwarna ungu
Glukosa +
\jcsseluruhnya
Terbentuk cincin furfural berwarna ungu
Sukrosa +
\jcsseluruhnya
Pati Terbentuk cincin furfural berwarna ungu +

b. Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Molisch dari beberapa sampel dalam percobaan
ini!
 Prinsip
Prinsip dari uji Molisch adalah membedakan antara senyawa yang memiliki
kandungan karbohidrat dengan senyawa tanpa kandungan karbohidrat dengan menambahkan
reagen Molisch dan H2SO4 dimana akan terjadi reaksi dehidrasi karbohidrat oleh asam sulfat
membentuk cincin furfural, ketika bereaksi dengan α naftol akan membentuk warna kompleks
ungu pada permukaan larutan
 Analisa Prosedur
Sebelum memulai percobaan, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan
alat dan bahan. Alat-alat yang digunakan pada praktikum uji Molisch ini adalah tabung reaksi,
label, rak tabung reaksi, pipet tetes, pipet ukur 1 ml, bulb, dan tisu. Tabung reaksi digunakan
sebagai wadah sampel yang akan diuji. Label digunakan untuk memberi tanda atau nama pada
tabung reaksi sesuai nama sampel yang terletak pada tabung reaksi agar data tidak tertukar
antara sampel yang satu dengan sampel yang lain selama percobaan dan pengamatan
berlangsung. Rak tabung reaksi digunakan sebagai wadah utuk meletakkan tabung reaksi agar
lebih tertata. Pipet tetes digunakan untuk mengambil sampel dan reagen yang tidak
memerlukan ukuran yang pasti/akurat (hanya diperlukan dalam ukuran tetesan). Pipet ukur 1
ml digunakan untuk mengambil sampel sebanyak 1 ml dengan lebih akurat apabila
dibandingkan dengan mengambil sampel dengan menggunakan pipet tetes. Bulb digunakan
sebagai alat bantu untuk mengambil sampel menggunakan pipet ukur. Tisu digunakan sebagai
alat untuk mengeringkan peralatan setelah digunakan dan dibersihkan.
Sementara itu, bahan-bahan yang dibutuhkan dalam percobaan ini adalah glukosa 5%,
sukrosa 5%, pati 1%, reagen Molisch, dan H2SO4. Glukosa, sukrosa, dan pati digunakan
sebagai sampel untuk kemudian akan diidentifikasi apakah sampel tersebut mengandung
karbohidrat atau tidak. Reagen Molisch digunakan sebagai reagen dimana kandungan α-
naftolnya akan bercampur dengan sampel dan kandungan etanolnya akan membentuk lapisan
pelindung. H2SO4 digunakan untuk mengdehidrasi senyawa dengan kandungan karbohidrat
dimana nantinya akan membentuk cincin furfural berwarna ungu sebagai hasil uji positifnya.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

Setelah menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, langkah selanjutnya adalah
memberikan nama pada 3 tabung reaksi sesuai dengan nama sampel yang akan dimasukkan
pada tabung reaksi tersebut dengan menggunakan label. Kemudian, masukkan masing-masing
2 tetes reagen Molisch ke dalam 3 tabung reaksi tersebut dan homogenkan dengan cara
dikocok. Setelah itu, masukkan masing-masing 1 ml H 2SO4 ke dalam tabung reaksi dengan
menggunakan pipet ukur 1 ml dan bulb. Lakukan penambahan H2SO4 tersebut di dalam lemari
asam untuk menghindari adanya kontak langsung antara H2SO4 dengan praktikan. Hindari
menghomogenkan senyawa sampel yang sudah ditambahi H2SO4 tersebut. Amati dan catat
kondisi (warna) pada masing-masing sampel di dalam tabung reaksi tersebut. Setelah itu,
buang sampel ke tempat yang telah disediakan. Cuci semua peralatan yang telah digunakan
hingga bersih dan keringkan dengan menggunakan tisu.
 Analisa Hasil
- Glukosa
Saat sampel glukosa ditambahi reagen Molisch dan dihomogenkan, warna pada
sampel adalah bening. Kandungan α-naftol pada reagen akan bercampur dengan sampel dan
kandungan etanol pada reagen akan berfungsi sebagai pelindung (lapisan atas) pada sampel.
Saat diberi larutan H2SO4, senyawa pada sampel mengalami perubahan warna menjadi warna
ungu. Hal ini disebabkan oleh adanya reaksi dehidrasi karbohidrat oleh H 2SO4 yang akan
membentuk hidroksi metil furfural yang berbentuk menyerupai cincin (karena glukosa
merupakan heksosa). Sementara itu, α-naftol yang bercampur dengan karbohidrat tersebut
akan bereaksi dengan H2SO4 membentuk kompleks warna ungu. Adanya cincin ungu pada
sampel menandakan adanya kandungan karbohidrat pada sampel. Hal ini sesuai dengan
literatur yang menyatakan bahwa glukosa merupakan karbohidrat yaitu monosakarida dan
akan bereaksi dengan reagen Molisch + H2SO4 membentuk cincin furfural berwarna ungu
(Kamaludin, 2010).

- Sukrosa
Saat sampel sukrosa ditambahi reagen Molisch dan dihomogenkan, warna pada
sampel adalah bening. Kandungan α-naftol pada reagen akan bercampur dengan sampel dan
kandungan etanol pada reagen akan berfungsi sebagai pelindung (lapisan atas) pada sampel.
Saat diberi larutan H2SO4, senyawa pada sampel mengalami perubahan warna menjadi warna
ungu. Hal ini disebabkan oleh adanya reaksi dehidrasi karbohidrat oleh H 2SO4 yang akan
membentuk hidroksi metil furfural yang berbentuk menyerupai cincin (karena sukrosa
merupakan heksosa). Sementara itu, α-naftol yang bercampur dengan karbohidrat tersebut
akan bereaksi dengan H2SO4 membentuk kompleks warna ungu. Adanya cincin ungu pada
sampel menandakan adanya kandungan karbohidrat pada sampel. Hal ini sesuai dengan
literatur yang menyatakan bahwa sukrosa merupakan karbohidrat yaitu disakarida (glukosa +
fruktosa) dan akan bereaksi dengan reagen Molisch + H 2SO4 membentuk cincin furfural
berwarna ungu (Kamaludin, 2010).

- Pati
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

Saat sampel pati ditambahi reagen Molisch dan dihomogenkan, warna pada sampel
adalah bening. Kandungan α-naftol pada reagen akan bercampur dengan sampel dan
kandungan etanol pada reagen akan berfungsi sebagai pelindung (lapisan atas) pada sampel.
Saat diberi larutan H2SO4, senyawa pada sampel mengalami perubahan warna menjadi warna
ungu. Hal ini disebabkan oleh adanya reaksi dehidrasi karbohidrat oleh H 2SO4 yang akan
membentuk hidroksi metil furfural yang berbentuk menyerupai cincin (karena pati merupakan
heksosa). Sementara itu, α-naftol yang bercampur dengan karbohidrat tersebut akan bereaksi
dengan H2SO4 membentuk kompleks warna ungu. Adanya cincin ungu pada sampel
menandakan adanya kandungan karbohidrat pada sampel. Hal ini sesuai dengan literatur yang
menyatakan bahwa pati merupakan karbohidrat yaitu polisakarida dan akan bereaksi dengan
reagen Molisch + H2SO4 membentuk cincin furfural berwarna ungu (Kamaludin, 2010).
 Mekanisme Reaksi
 Glukosa H2SO4
Glukosa + Reagen Molisch Hidroksi metil furfural + α-naftol kompleks warna
ungu

 Sukrosa H2SO4
Sukrosa + Reagen Molisch Hidroksi metil furfural + α-naftol kompleks warna
ungu
 Pati
Pati + Reagen MolischH2SO4 Hidroksi metil furfural + α-naftol kompleks warna
ungu

2. Uji Yodium
b. Tuliskan data hasil uji Yodium!
Senyawa Hasil Uji I Keterangan
Dekstrin Coklat kehitaman +
Sukrosa Merah bata -
Glukosa Merah bata -
Pati Biru kehitaman +
Hasil Uji II
Dekstrin Coklat kehitaman +
Sukrosa Merah bata -
Glukosa Merah bata -
Pati Biru kehitaman +

b. Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Yodium dari beberapa sampel dalam percobaan
ini!
 Prinsip
Prinsip dari uji Yodium adalah membedakan antara senyawa polisakarida dengan
senyawa non polisakarida dengan menambahkan reagen Yodium dimana larutan yodium akan
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

bereaksi dengan pati dengan cara membentuk tri-iodida dimana tri iodida akan masuk ke
structural helical pada pati yang akan membentuk warna biru pekat/biru kehitaman

 Analisa Prosedur
Sebelum memulai percobaan, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan
alat dan bahan. Alat-alat yang digunakan pada praktikum uji Yodium ini adalah cawan petri,
kertas hvs, pipet tetes, dan tisu. Cawan petri digunakan sebagai wadah sampel yang akan
diuji. Kertas hvs digunakan sebagai alas cawan petri di mana bagian kertas yang tertindih
cawan petri tersebut sudah diberi desain nama dan letak sampel agar tidak tertukar antara
sampel yang satu dengan sampel yang lain selama percobaan dan pengamatan berlangsung.
Pipet tetes digunakan untuk mengambil sampel dan reagen yang tidak memerlukan ukuran
yang pasti/akurat (hanya diperlukan dalam ukuran tetesan). Tisu digunakan sebagai alat untuk
mengeringkan peralatan setelah digunakan dan dibersihkan.
Sementara itu, bahan-bahan yang dibutuhkan dalam percobaan ini adalah dekstrin,
sukrosa 5%, glukosa 5%, pati 1%, dan larutan Yodium 5%. Dekstrin, sukrosa, glukosa, dan
pati digunakan sebagai sampel untuk kemudian akan diidentifikasi apakah sampel tersebut
merupakan polisakarida atau tidak. Larutan Yodium digunakan sebagai reagen di mana
kandungan tri-iodidanya akan terperangkap sepenuhnya oleh polisakarida membentuk
kompleks warna biru atau coklat sebagai hasil uji positifnya.
Setelah menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, langkah selanjutnya adalah
memberikan nama pada kertas hvs sesuai dengan nama sampel yang akan diletakkan pada
cawan petri. Tulisan ‘D’ untuk daerah cawan petri yang akan ditetesi dengan dekstrin, tulisan
‘S’ untuk daerah cawan petri yang akan ditetesi dengan sukrosa, tulisan ‘G’ untuk daerah
cawan petri yang akan ditetesi dengan glukosa, dan tulisan ‘P’ untuk daerah cawan petri yang
akan ditetesi dengan pati. Kemudian, letakkan cawan petri di atas kertas yang sudah ditulisi
nama-nama sampel. Setelah itu, letakkan masing-masing 1 tetes sampel ke dalam cawan petri.
Daerah tempat menetesi sampel disesuaikan dengan tulisan yang sudah ada pada kertas.
Kemudian, tambahkan masing-masing 1 tetes reagen Yodium ke masing-masing sampel.
Setelah beberapa saat, amati serta catat kondisi (warna) pada masing-masing sampel di dalam
cawan petri tersebut. Setelah itu, cuci semua peralatan yang telah digunakan hingga bersih
dan keringkan dengan menggunakan tisu.
 Analisa Hasil
- Dekstrin
Warna sampel saat ditetesi ke dalam cawan petri adalah bening dan reagen Yodium
berwarna merah kecoklatan. Saat sampel ditetesi dengan reagen Yodium, warna sampel
berubah menjadi coklat kehitaman. Hal ini terjadi karena tri-iodida pada reagen terperangkap
sepenuhnya oleh struktur polisakarida pada dekstrin membentuk kompleks warna coklat. Hal
ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa desktrin merupakan karbohidrat
polisakarida yang dapat mengunci kandungan tri-iodida pada pada Yodium membentuk
kompleks warna coklat tua (Haryanto, 2013).
- Sukrosa
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

Warna sampel saat ditetesi ke dalam cawan petri adalah bening dan reagen Yodium
berwarna merah bata. Saat sampel ditetesi dengan reagen Yodium, warna sampel tidak
berubah, tetap merah bata. Hal ini terjadi karena tri-iodida pada reagen hanya terperangkap
sebagian oleh struktur disakarida pada sukrosa sehingga tri-iodida masih dapat lepas dan tidak
dapat membentuk komplek warna. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa
sukrosa merupakan karbohidrat non polisakarida (disakarida) yang tidak dapat mengunci
kandungan tri-iodida pada Yodium sehingga tidak membentuk kompleks warna (Bahri, 2013).
- Glukosa
Warna sampel saat ditetesi ke dalam cawan petri adalah bening dan reagen Yodium
berwarna merah kecoklatan. Saat sampel ditetesi dengan reagen Yodium, warna sampel tidak
berubah tetap berwarna merah bata. Hal ini terjadi karena tri-iodida pada reagen hanya sedikit
terperangkap oleh struktur monosakarida pada glukosa sehingga tri-iodida masih dapat lepas
dan tidak dapat membentuk komplek warna. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan
bahwa glukosa merupakan karbohidrat non polisakarida (monosakarida) yang tidak dapat
mengunci kandungan tri-iodida pada pada Yodium sehingga tidak membentuk kompleks
warna (Bahri, 2013).
- Pati
Warna sampel saat ditetesi ke dalam cawan petri adalah bening dan reagen Yodium
berwarna merah kecoklatan. Saat sampel ditetesi dengan reagen Yodium, warna sampel
berubah menjadi biru kehitaman. Hal ini terjadi karena tri-iodida pada reagen terperangkap
sepenuhnya oleh struktur polisakarida pada pati membentuk kompleks warna biru tua. Hal ini
sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa pati merupakan karbohidrat polisakarida yang
dapat mengunci kandungan tri-iodida pada Yodium membentuk kompleks warna biru
kehitaman (Bahri, 2013).
 Mekanisme Reaksi
- Dekstrin
Dekstrin + Reagen Yodium kompleks warna coklat kehitaman
- Sukrosa
Sukrosa + Reagen Yodium (tidak ada reaksi)
- Glukosa
Glukosa + Reagen Yodium (tidak ada reaksi)
- Pati
Pati + Reagen Yodium kompleks warna biru kehitaman

3. Uji Barfoed
a. Tuliskan data hasil Barfoed test!
Senyawa Hasil Uji Keterangan
Berwarna biru terbentuk endapan merah
Glukosa +
di dasar tabung
Berwarna biru terbentuk endapan merah
Fruktosa +
di dasar tabung
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

Maltosa Berwarna biru terbentuk endapan merah


+
di dasar tabung
Sukrosa Berwarna biru -

b. Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Barfoed dari beberapa sampel dalam percobaan
ini!
 Prinsip
Prinsip dari uji Barfoed adalah membedakan antara gula pereduksi dengan non
pereduksi dengan menambahkan reagen Barfoed pada suasana asam di mana akan terjadi
reaksi reduksi oksidasi. Reagen Barfoed akan tereduksi oleh gula pereduksi membentuk
endapan merah sebagai indikator adanya gugus gula pereduksi pada sampel. Umumnya, gula
pereduksi disakarida akan membutuhkan waktu yang lebih lama saat diuji dibandingkan
dengan gula pereduksi monosakarida.
 Analisa Prosedur
Sebelum memulai percobaan, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan
alat dan bahan. Alat-alat yang digunakan pada praktikum uji Barfoed ini adalah tabung reaksi,
label, rak tabung reaksi, pipet tetes, pipet ukur 1 ml, bulb, kompor listrik, beaker glass 500
ml, penjepit kayu, dan tisu. Tabung reaksi digunakan sebagai wadah sampel yang akan diuji.
Label digunakan untuk memberi tanda atau nama pada tabung reaksi sesuai nama sampel
yang terletak pada tabung reaksi agar data tidak tertukar antara sampel yang satu dengan
sampel yang lain selama percobaan dan pengamatan berlangsung. Rak tabung reaksi
digunakan sebagai wadah utuk meletakkan tabung reaksi agar lebih tertata. Pipet tetes
digunakan untuk mengambil sampel dan reagen yang tidak memerlukan ukuran yang
pasti/akurat (hanya diperlukan dalam ukuran tetesan). Pipet ukur 1 ml digunakan untuk
mengambil sampel sebanyak 1 ml dengan lebih akurat apabila dibandingkan dengan
mengambil sampel dengan menggunakan pipet tetes. Bulb digunakan sebagai alat bantu untuk
mengambil sampel menggunakan pipet ukur. Kompor listrik digunakan sebagai sumber panas.
Beaker glass digunakan sebagai wadah air untuk pemanasan. Penjepit kayu digunakan
sebagai alat bantu untuk mengambil, memegang, dan meletakkan tabung reaksi agar lebih
aman terutama saat dan setelah melakukan pemanasan pada tabung reaksi. Tisu digunakan
sebagai alat untuk mengeringkan peralatan setelah digunakan dan dibersihkan.
Sementara itu, bahan-bahan yang dibutuhkan dalam percobaan ini adalah glukosa 5%,
fruktosa 5%, maltosa 5%, sukrosa 5%, reagen Barfoed, dan air. Glukosa, fruktosa, maltosa,
dan sukrosa digunakan sebagai sampel untuk kemudian akan diidentifikasi apakah sampel
tersebut mengandung gugus gula pereduksi (aldehid) atau tidak. Reagen Barfoed digunakan
sebagai oksidator yang akan bereaksi dengan sampel bergugus gula pereduksi membentuk
endapan merah. Air digunakan sebagai media pemanasan sampel agar tidak ada kontak
langsung antara sampel dan sumber panas.
Setelah menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, langkah selanjutnya adalah
memberikan nama pada 4 tabung reaksi sesuai dengan nama sampel yang akan dimasukkan
pada tabung reaksi tersebut dengan menggunakan label. Kemudian, masukkan masing-masing
5 tetes sampel ke dalam 4 tabung berlabel yang sesuai dengan nama sampel yang dimasukkan.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

Setelah itu, masukkan masing-masing 1 ml reagen Barfoed ke dalam 4 tabung reaksi dengan
menggunakan pipet ukur 1 ml dan bulb. Homogenkan seluruh senyawa pada tabung reaksi
dengan menggoyang-goyangkan tabung reaksi. Kemudian, panaskan masing-masing tabung
reaksi ke dalam beaker glass berisi air yang sedang mendidih. Tunggu beberapa menit hingga
terjadi reaksi atau hingga sampel mendidih. Lakukan pemanasan tersebut untuk seluruh
tabung reaksi. Setelah beberapa saat, ambil tabung reaksi dengan bantuan penjepit kayu dan
letakkan di rak tabung reaksi. Amati dan catat kondisi pada masing-masing sampel di dalam
tabung reaksi tersebut. Setelah itu, buang sampel ke tempat yang telah disediakan. Cuci
semua peralatan yang telah digunakan hingga bersih dan keringkan dengan menggunakan
tisu.
 Analisa Hasil
- Glukosa
Kondisi tabung reaksi yang berisi sampel dan reagen Barfoed setelah dihomogenkan
adalah biru bening. Setelah tabung reaksi tersebut dipanaskan beberapa menit, kondisi tabung
reaksi mengalami perubahan yaitu terdapat endapan merah yang terbentuk pada dasar tabung.
Keadaan ini menandakan bahwa uji Barfoed pada sampel glukosa menghasilkan hasil uji yang
positif karena terjadi reaksi antara sampel dengan reagen Barfoed. Glukosa teroksidasi dan
Cu2+ pada reagen tereduksi membentuk endapan merah. Adanya endapan merah pada sampel
menandakan bahwa sampel glukosa mempunyai gugus gula pereduksi. Hal ini sesuai dengan
literatur yang menyatakan bahwa glukosa merupakan karbohidrat monosakarida yang
mengandung gugus gula pereduksi (aldehid) sehingga senyawa akan bereaksi dengan reagen
Barfoed membentuk endapan merah pada dasar tabung reaksi sebagai indikator adanya gugus
gula pereduksi (aldehid) (Harisha, 2008).
- Fruktosa
Kondisi tabung reaksi yang berisi sampel dan reagen Barfoed setelah dihomogenkan
adalah biru bening. Setelah tabung reaksi tersebut dipanaskan beberapa menit, kondisi tabung
reaksi mengalami perubahan yaitu terdapat endapan merah yang terbentuk pada dasar tabung.
Waktu yang dibutuhkan hingga fruktosa bereaksi membentuk endapan kurang lebih sama
dengan waktu yang dibutuhkan oleh glukosa. Keadaan ini menandakan bahwa uji Barfoed
pada sampel fruktosa menghasilkan hasil uji yang positif karena terjadi reaksi antara sampel
dengan reagen Barfoed. Fruktosa teroksidasi dan Cu 2+ pada reagen tereduksi membentuk
endapan merah. Adanya endapan merah pada sampel menandakan bahwa sampel fruktosa
mempunyai gugus gula pereduksi. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa
fruktosa merupakan karbohidrat monosakarida yang mengandung gugus gula pereduksi
(aldehid) sehingga senyawa akan bereaksi dengan reagen Barfoed membentuk endapan merah
pada dasar tabung reaksi sebagai indikator adanya gugus gula pereduksi (aldehid) (Harisha,
2008).
- Maltosa
Kondisi tabung reaksi yang berisi sampel dan reagen Barfoed setelah dihomogenkan adalah
biru bening. Setelah tabung reaksi tersebut dipanaskan beberapa menit, kondisi tabung reaksi
mengalami perubahan yaitu terdapat sedikit endapan merah yang terbentuk pada dasar tabung.
Waktu yang dibutuhkan hingga maltosa bereaksi membentuk endapan adalah lebih lama
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan oleh glukosa dan fruktosa. Keadaan ini
menandakan bahwa uji Barfoed pada sampel maltosa menghasilkan hasil uji yang positif
karena terjadi reaksi antara sampel dengan reagen Barfoed. Maltosa teroksidasi dan Cu 2+ pada
reagen tereduksi membentuk endapan merah. Adanya endapan merah pada sampel
menandakan bahwa sampel maltosa mempunyai gugus gula pereduksi. Hal ini sesuai dengan
literatur yang menyatakan bahwa maltosa merupakan karbohidrat disakarida yang
mengandung gugus gula pereduksi (aldehid) sehingga senyawa akan bereaksi dengan reagen
Barfoed membentuk endapan merah pada dasar tabung reaksi sebagai indikator adanya gugus
gula pereduksi (aldehid). Uji Barfoed pada disakarida akan memakan waktu yang lebih lama
untuk bereaksi serta akan menghasilkan endapan yang sedikit dibandingkan dengan
monosakarida dengan jumlah sampel yang sama (Kamaludin, 2010).
- Sukrosa
Kondisi tabung reaksi yang berisi sampel dan reagen Barfoed setelah dihomogenkan adalah
biru bening. Setelah tabung reaksi tersebut dipanaskan beberapa menit, tidak ada perubahan
yang dialami oleh sampel. Keadaan ini menandakan bahwa uji Barfoed pada sampel sukrosa
menghasilkan hasil uji yang negatif karena terjadi reaksi antara sampel dengan reagen
Barfoed. Sukrosa tidak memiliki kemampuan untuk mereduksi Cu 2+ pada reagen membentuk
endapan merah. Walaupun sukrosa terdiri dari glukosa dan fruktosa, dimana keduanya
menghasilkan uji positif saat diuji dengan reagen Barfoed, sukrosa tidak menghasilkan uji
positif saat diuji dengan reagen Barfoed. Hal ini dikarenakan gugus hidroksil (-OH) pada
glukosa dan fruktosa saling berikatan melepas H2O (reaksi dehidrasi) dan ada ikatan oleh
oksigen yang menghubungkan kedua senyawa membentuk sukrosa. Hal tersebut
menyebabkan sukrosa tidak mempunyai gugus pereduksi untuk mereduksi reagen sehingga
sukrosa tidak akan bereaksi dengan reagen Barfoed dan tidak akan membentuk endapan
merah. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa sukrosa merupakan
karbohidrat monosakarida yang tidak mengandung gugus gula pereduksi (aldehid) sehingga
senyawa tidak akan bereaksi dengan reagen Barfoed membentuk endapan merah pada dasar
tabung reaksi sebagai indikator adanya gugus gula pereduksi (aldehid) (Harisha, 2008).
 Mekanisme Reaksi
 Glukosa (Sitorus, 2010).

+ 2Cu2+ + 2H2O CH2OH(CHOH)4COOH + 4H+ + Cu2O↓

 Fruktosa (Sitorus, 2010).

+ 2Cu2+ + 2H2O + 4H+ + Cu2O↓


Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

+ 4H+ + Cu2O↓

 Sukrosa (Sitorus, 2010).

+ 2Cu2+ + 2H2O

+ 2Cu2+ + 2H2O (tidak ada reaksi)

4. Uji Benedict
a. Tuliskan data hasil Benedict test!
Senyawa Hasil Uji I Keterangan
Sebelum Pemanasan Setelah Pemanasam
Glukosa Biru Merah bata +
Fruktosa Biru Merah bata +
Sukrosa Biru Biru -
Hasil Uji II
Glukosa Biru Merah bata +
Fruktosa Biru Merah bata +
Sukrosa Biru Biru -

b. Bahas dan bandingkan data-data hasil uji Benedict dari beberapa sampel dalam percobaan
ini!

 Prinsip
Prinsip dari uji Benedict adalah membedakan antara gula pereduksi dengan non
pereduksi dengan menambahkan reagen Benedict pada suasana basa sehingga CuO akan
terdeuksi menjadi Cu2O membentuk endapan merah bata sebagai indikator adanya gugus gula
pereduksi pada sampel.
 Analisa Prosedur
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

Sebelum memulai percobaan, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan
alat dan bahan. Alat-alat yang digunakan pada praktikum uji Tollens ini adalah tabung reaksi,
label, rak tabung reaksi, pipet tetes, pipet ukur 1 ml, bulb, bunsen (pembakar spirtus), penjepit
kayu, dan tisu. Tabung reaksi digunakan sebagai wadah sampel yang akan diuji. Label
digunakan untuk memberi tanda atau nama pada tabung reaksi sesuai nama sampel yang
terletak pada tabung reaksi agar data tidak tertukar antara sampel yang satu dengan sampel
yang lain selama percobaan dan pengamatan berlangsung. Rak tabung reaksi digunakan
sebagai wadah utuk meletakkan tabung reaksi agar lebih tertata. Pipet tetes digunakan untuk
mengambil sampel dan reagen yang tidak memerlukan ukuran yang pasti/akurat (hanya
diperlukan dalam ukuran tetesan). Pipet ukur 1 ml digunakan untuk mengambil sampel
sebanyak 1 ml dengan lebih akurat apabila dibandingkan dengan mengambil sampel dengan
menggunakan pipet tetes. Bulb digunakan sebagai alat bantu untuk mengambil sampel
menggunakan pipet ukur. Bunsen digunakan sebagai sumber panas. Penjepit kayu digunakan
sebagai alat bantu untuk mengambil, memegang, dan meletakkan tabung reaksi agar lebih
aman terutama saat dan setelah melakukan pemanasan pada tabung reaksi. Tisu digunakan
sebagai alat untuk mengeringkan peralatan setelah digunakan dan dibersihkan.
Sementara itu, bahan-bahan yang dibutuhkan dalam percobaan ini adalah glukosa 5%,
fruktosa 5%, sukrosa 5%, dan reagen Benedict. Glukosa, fruktosa, dan sukrosa digunakan
sebagai sampel untuk kemudian akan diidentifikasi apakah sampel tersebut mengandung
gugus gula pereduksi atau tidak. Reagen Benedict digunakan sebagai oksidator yang akan
bereaksi dengan sampel bergugus gula pereduksi (aldehid) membentuk endapan merah bata.
Setelah menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, langkah selanjutnya adalah
memberikan nama pada 3 tabung reaksi sesuai dengan nama sampel yang akan dimasukkan
pada tabung reaksi tersebut dengan menggunakan label. Kemudian, masukkan masing-masing
2 tetes sampel ke dalam 3 tabung berlabel yang sesuai dengan nama sampel yang dimasukkan.
Setelah itu, masukkan masing-masing 1 ml reagen Benedict ke dalam 3 tabung reaksi dengan
menggunakan pipet ukur 1 ml dan bulb. Homogenkan seluruh senyawa pada tabung reaksi
dengan menggoyang-goyangkan tabung reaksi. Amati dan catat kondisi (warna) pada masing-
masing tabung reaksi. Kemudian, panaskan masing-masing tabung reaksi di atas kompor
listrik. Kemudian, jepit tabung. Amati dan catat kondisi pada masing-masing sampel di dalam
tabung reaksi tersebut. Setelah itu, buang sampel ke tempat yang telah disediakan. Cuci
semua peralatan yang telah digunakan hingga bersih dan keringkan dengan menggunakan
tisu.

 Analisa Hasil
- Glukosa
Kondisi tabung reaksi yang berisi sampel dan reagen Benedict setelah dihomogenkan
adalah biru bening. Setelah tabung reaksi tersebut dipanaskan beberapa saat di atas api
bunsen, kondisi tabung reaksi mengalami perubahan yaitu warna sampel menjadi warna
merah bata serta terdapat endapan merah bata yang terbentuk pada dasar tabung. Keadaan ini
menandakan bahwa uji Benedict pada sampel glukosa menghasilkan hasil uji yang positif
karena terjadi reaksi antara sampel dengan reagen Benedict. Glukosa teroksidasi dan Cu 2+
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

pada reagen tereduksi membentuk endapan merah. Adanya endapan merah pada sampel
menandakan bahwa sampel glukosa mempunyai gugus gula pereduksi. Hal ini sesuai dengan
literatur yang menyatakan bahwa glukosa merupakan karbohidrat monosakarida yang
mengandung gugus gula pereduksi (aldehid) sehingga senyawa akan bereaksi dengan reagen
Benedict membentuk endapan merah pada dasar tabung reaksi sebagai indikator adanya gugus
gula pereduksi (aldehid) (Hequet, 2008).
- Sukrosa
Kondisi tabung reaksi yang berisi sampel dan reagen Benedict setelah dihomogenkan
adalah biru bening. Setelah tabung reaksi tersebut dipanaskan beberapa menit, tidak ada
perubahan yang dialami oleh sampel. Keadaan ini menandakan bahwa uji Benedict pada
sampel sukrosa menghasilkan hasil uji yang negatif karena tidak terjadi reaksi antara sampel
dengan reagen Benedict. Sukrosa tidak memiliki kemampuan untuk mereduksi Cu 2+ pada
reagen membentuk endapan merah. Walaupun sukrosa terdiri dari glukosa dan fruktosa,
dimana keduanya menghasilkan uji positif saat diuji dengan reagen Benedict, sukrosa tidak
menghasilkan uji positif saat diuji dengan reagen Benedict. Hal ini dikarenakan gugus
hidroksil (-OH) pada glukosa dan fruktosa saling berikatan melepas H 2O (reaksi dehidrasi)
dan ada ikatan oleh oksigen yang menghubungkan kedua senyawa membentuk sukrosa. Hal
tersebut menyebabkan sukrosa tidak mempunyai gugus pereduksi untuk mereduksi reagen
sehingga sukrosa tidak akan bereaksi dengan reagen Benedict dan tidak akan membentuk
endapan merah. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa sukrosa merupakan
karbohidrat monosakarida yang tidak mengandung gugus gula pereduksi (aldehid) sehingga
senyawa tidak akan bereaksi dengan reagen Benedict membentuk endapan merah pada dasar
tabung reaksi sebagai indikator adanya gugus gula pereduksi (aldehid) (Hequet, 2008).
- Fruktosa
Kondisi tabung reaksi yang berisi sampel dan reagen Benedict setelah dihomogenkan
adalah biru bening. Setelah tabung reaksi tersebut dipanaskan beberapa saat di atas api
bunsen, kondisi tabung reaksi mengalami perubahan yaitu warna sampel menjadi warna
kemerahan serta terdapat endapan merah bata yang terbentuk pada dasar tabung. Keadaan ini
menandakan bahwa uji Benedict pada sampel fruktosa menghasilkan hasil uji yang positif
karena terjadi reaksi antara sampel dengan reagen Benedict. Fruktosa teroksidasi dan Cu 2+
pada reagen tereduksi membentuk endapan merah. Adanya endapan merah pada sampel
menandakan bahwa sampel fruktosa mempunyai gugus gula pereduksi. Hal ini sesuai dengan
literatur yang menyatakan bahwa fruktosa merupakan karbohidrat monosakarida yang
mengandung gugus gula pereduksi (aldehid) sehingga senyawa akan bereaksi dengan reagen
Benedict membentuk endapan merah pada dasar tabung reaksi sebagai indikator adanya gugus
gula pereduksi (aldehid) (Hequet, 2008).
 Mekanisme Reaksi
 Glukosa


Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

o + 2Cu2+ + 5OH- CH2OH(CHOH)4COOH + 3H2O + Cu2O↓


(Sitorus, 2010).

 Sukrosa

+ 2Cu2+ + 2H2O (tidak ada reaksi)

(Sitorus, 2010).
 Fruktosa

+ 2Cu2+ + 5OH-

+ 3H2O + Cu2O↓
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

F. KESIMPULAN
Prinsip dari uji Molisch adalah membedakan antara senyawa yang memiliki
kandungan karbohidrat dengan senyawa tanpa kandungan karbohidrat dengan menambahkan
reagen Molisch dan H2SO4 dimana akan terjadi reaksi dehidrasi karbohidrat membentuk
cincin furfural atau hidroksi metil furfural bewarna ungu sebagai indikator adanya kandungan
karbohidrat pada sampel. Berdasarkan data hasil pengamatan, glukosa, sukrosa, dan pati
seluruhnya membentuk cincin berwarna ungu saat direaksikan dengan reagen Molisch dan
H2SO4 dan menjadi ungu sepenuhnya setelah beberapa saat. Hal ini menunjukkan bahwa
glukosa, sukrosa, dan pati merupakan karbohidrat.
Prinsip dari uji Yodium adalah membedakan antara senyawa polisakarida dengan
senyawa non polisakarida dengan menambahkan reagen Yodium dimana tri-iodida pada
reagen akan terperangkap sepenuhnya oleh polisakarida membentuk kompleks warna biru
atau coklat. Berdasarkan data hasil pengamatan, dekstrin mengalami perubahan warna
menjadi coklat kehitaman, pati mengalami perubahan warna menjadi biru kehitaman, serta
sukrosa dan glukosa tidak mengalami perubahan warna. Hal ini menunjukkan bahwa dekstrin
dan pati merupakan karbohidrat polisakarida sedangkan sukrosa dan glukosa bukan
merupakan karbohidrat polisakarida
Prinsip dari uji Barfoed adalah membedakan antara gula pereduksi dengan non
pereduksi dengan menambahkan reagen Barfoed pada suasana asam di mana akan terjadi
reaksi reduksi oksidasi. Reagen Barfoed akan tereduksi oleh gula pereduksi membentuk
endapan merah sebagai indikator adanya gugus gula pereduksi pada sampel. Berdasarkan data
hasil pengamatan, glukosa, fruktosa, dan maltosa membentuk endapan merah pada dasar
tabung reaksi sementara sukrosa tidak mengalami reaksi sama sekali. Hal ini menunjukkan
bahwa glukosa, fruktosa, dan maltosa memiliki gugus gula pereduksi sementara sukrosa
bukanlah gula pereduksi.
Prinsip dari uji Benedict adalah membedakan antara gula pereduksi dengan non
pereduksi dengan menambahkan reagen Benedict pada suasana basa di mana akan terjadi
reaksi reduksi oksidasi. Reagen Benedict akan tereduksi oleh gula pereduksi membentuk
endapan merah bata sebagai indikator adanya gugus gula pereduksi pada sampel. Berdasarkan
data hasil pengamatan, glukosa dan fruktosa membentuk endapan merah pada dasar tabung
reaksi sementara sukrosa tidak mengalami reaksi sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa
glukosa dan fruktosa memiliki gugus gula pereduksi sementara sukrosa bukanlah gula
pereduksi.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN


Bahri. 2013. Penuntun Praktikum Kimia Dasar II. Palu: Universitas Tadulako
Harisha. 2008. An Introduction to Practical Biotechnology. New Delhi: Laxmi Publications
Haryanto, Yudi. 2013. KAMUS PERTANIAN UMUM. Jakarta: Penebar Swadaya
Hequet, Eric. 2008. Sticky Cotton: Measurements and Fiber Processing
Kamaludin, Agus. 2010. Cara Cepat Kuasai Konsep KIMIA. Yogyakarta: Penerbit ANDI
Sitorus, Marham. 2010. Kimia Organik. Yogyakarta: Graha Ilmu
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

DAFTAR PUSTAKA
James, Joyce. 2008. Prinsip-Prinsip Sains untuk Keperawatan. Jakarta: Penerbit Erlangga
Nigam, Arti. 2008. Lab Manual in Biochemistry, Immunology and Biotechnology. New Delhi:
McGraw Hill
Patil. 2008. Textbook of Applied Materia Medica. New Delhi: B. Jain Publishers Ltd
Poedjiadi, Anna. 2008. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Penerbit UI-Press
Pracaswari, Hanna. 2013. Biokimia Pangan. Bandung: Universitas Pasundan
Praja, Denny Indra. 2015. Zat Aditif Makanan Manfaat dan Bahayanya. Yogyakarta:
Garudhawaca
Septorini, Ragil. 2008. Perbedaan Kadar Gula Glukosa pada Onggok yang Dihidrolisis
dengan Asam Klorida, Asam Sulfat dan Asam Oksalat. Semarang: UMS Press
Silalahi, J. 2009. Penuntun Praktikum Biokimia. Sumatera: Universitas Sumatera Utara
Siregar, Amarullah. 2008. Good Mood Food: Makanan Sehat Alami. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama
Sumardjo, Damin. 2009. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran
dan Program Strata I Fakultas Bioeksakta. Jakarta: EGC

LAMPIRAN
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A8

Uji Molisch Uji Yodium

Uji Barfoed Uji Benedict