Anda di halaman 1dari 13

VITAMIN LARUT LEMAK

MATA KULIAH : FISIOLOGI DAN METABOLISME


ZAT GIZI

OLEH :
Uyun Nailatul Mafaz 175100107111002
Nailun Nadhifah 175100107111008
Nabila Ardita Dea Permatasari 175100107111018
M Fikri Zamroni 175100107111025
Anjar Asmarani Widya Nabilah 175100107111029
Shania Destira 175100107111031

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
1
DAFTAR ISI
Daftar isi…………………………………………………………………………………..…… i
BAB I
Pendahuluan……………………………………………………………………………………1
BAB II (Pembahasan)
Vitamin A………………………………………………………………………………………2
Vitamin D………………………………………………………………………………………5

Vitamin E………………………………………………………………………………………7
Vitamin K………………………………………………………………………………………9
Daftar Pustaka………………………………………………..……………………………….11

2
BAB 1
Pendahuluan
Vitamin terdiri atas dua jenis, yaitu vitamin yang larut dalam lemak dan yang larut
dalam air. Perbedaan kedua vitamin ini sangat jelas. Vitamin-vitamin yang larut dalam
lemak (lipid) adalah vitamin A, D, E, dan K. Sementara itu, vitamin-vitamin yang larut dalam
air adalah vitamin B dan C. Tingkat kemampuan vitamin untuk larut akan berdampak kepada
kemampuan tubuh dalam menyerapnya, mudah atau sulitnya vitamin hilang dari tubuh, dan
perlu atau tidaknya tersimpan di dalam tubuh. Kinerja vitamin di dalam tubuh juga dipengaruhi
oleh usia, jenis kelamin, serta kondisi tubuh. Ibu yang sedang hamil atau menyusui memiliki
respons vitamin yang berbeda dengan wanita yang tidak hamil.
Vitamin yang bisa larut dalam lemak adalah jenis vitamin yang jika sudah masuk ke
dalam tubuh manusia, maka akan sulit dikeluarkan lagi dari tubuh. Sejumlah vitamin yang
bukan larut lemak bakal dengan mudah untuk keluar melalui urin maupun keringat. Jadi, sudah
bisa Anda tangkap bahwa intinya vitamin larut lemak tak akan mampu Anda keluarkan lewat
urin dan keringat. Bahkan diketahui pula bahwa vitamin larut lemak itu biasanya akan hilang
sedikit saja ketika sudah melewati proses pengolahan, seperti misalnya dimasak. Sifat toksik
dari vitamin yang larut dalam lemak pun juga memiliki tingkat yang tinggi. Tak semua dari
vitamin yang kita tahu adalah bertipe larut lemak.

3
BAB 2
Pembahasan
2.1 Vitamin A
2.1.1 Pengertian
Vitamin A atau Retinol adalah suatu substansi yang larut dalam lemak yang dubutuhkan untuk
pengelihatan, pertumbuhan, dan fungsi imun. Seain itu, vitamin A juga berperan dalam
pembentukan kembali tulang. Vitamin A sebenarnya adalah keluarga zat yang meiputi retinol
dan karotenoid yang bisa diubah menjadi vitamin A. Proporsi kandungan retinol dan beta
karoten pada makanan dan suplemen vitamin berbeda, dan efisiensi zat ini diubah menjadi
vitamin A berbeda sehingga sulit untuk menghitung asupan vitamin A.

2.2.2 Struktur dan Bentuk Lain


Vitamin A merujuk pada sekelompok hidrokarbon yang tidak jenuh yang mempunyai aktivitas
nutrisi termasuk retinol dan karotenoid. Vitamin A terdiri dari cincin yang disebut cincin ionone
dan rantai samping yaitu isoprenoid yaitu hidrokarbon berikatan rangkap terkonjugasi.
Aktivitas vitamin A dalam hewani didominasi oleh retinol atau ester retinal dan sebagian kecil
asam retionat. Konsentrasi vitamin A terakumulasi pada hati dengan bentuk utamanya retinol
atau retinol ester.

Dalam tumbuhan sering dijumpai senyawa karoteoid yang merupakan precursor vitamin A di
dalam tubuh. Suatu senyawa karoteoid yang memiliki aktivitas vitamin A disebut pro-Vitamin
A. contohnya adalah B-caroten, jika senyawa ini mengalami oksidasi enzimatis untuk
memutuskan ikatan C15-C15’ dalam mukosa intensal akan menghasilkan 2 molekul retinal
aktif.

4
Diantara karotenoid, karoten menunjukkan aktivitas vitamin A yang paling tinggi, Walaupun 2
molekul vitamin A dihasilkan dari setiap karoten, namun tidak efisiensinya proses pemecahan
menyebabkan karoten hanya menunjukkan aktivitas 50% vitamin A sebagai retinol. Retinoid
dan pro Vitamin Abersifat sangat lipofilik karena strukturnya yang snagat nonpolar.Pada sistem
pangan retinoid dan karotenoid berasosiasi dengan lipid dan globula lemak jika sistem pangan
berbasis air atau hipofilik.

2.1.3 Sumber Vitamin A


Sumber vitamin A banyak terdapat dalam produk hewani seperti hati ayam, telur, salmon dan
lain sebagainya. Sedangkan sumber pro-vitamin A terdapat pada buah buahan dan sayuran yang
mengandung pigmen karoten seperti wortel dan tomat atau dari daun berwarna hijau tua.
2.2.4 Metabolisme Vitamin A

Bentuk vitamin A yang paling sering dikonsumsi oleh kebanyakan orang adalah dalam bentuk
retinol atau beta-karoten. Beta carotene akan dipecah oleh enzim beta carotene oxygenase untuk
menghasilkan dua molekul retinaldihid. Retinaldehid akan direduksi oleh enzim yang termasuk
dalam keluarga short-chain dehydrogenase (SDR) dimana SDR akan diaktivasi olehNADPH

5
sebagai kofaktor. Selanjutnya enzyme Aldoketo reductase (ADR) akan mereduksi gugus
aldehid pada retinaldehida dengan bantuan kofaktor NADPH untuk membentuk retinol. Lalu,
retinol akan berikatan dengan asam amnino dengan bantuaan enzim lecitin retinil acyltranferase
(LRAT) untuk membentuk retinil ester, dimana retinil ester akan masuk ke penyimpanan tubuh
dan juga enzym retinil esterhydrolase digunakan untuk meregenerasi retinol.
Degradasi Asam Retinoat

Beberapa enzyme acohol dehydrogenase (ADH) dan short-chain dehydrogenase (SDR)


berperan sebagai katalisator oksidasi retinol menjadi retinaldehida, dan enzyme aldehyde
dehydrogenase (ALDH) sebagai katalisator oksidasi retinaldehida menjadi asam retinoate
dengan bantuan cofactor NAD. Asam retinoate inilah yang nantinya dapat memasuki nucleus
sel dan berfungsi sebagai ligan untuk reseptor asam retionat, atau dapat dimetabolisme oleh
enzim tertentu dimana akan masuk ke siklus degradasi yang menghasilkan ekskresi retinoid.

2.1.4 Fungsi Vitamin A


Terdapat tiga fungsi umum vitamin A yaitu untuk pengelihatan, diferensiasi selular, dan sistem
imunitas tubuh. Dalam fungsinya untuk membantu pengelihatan, vitamin A merupakan
komponen pigmen dari pengelihatan yang dapat menjaga integritas fotoreseptor pada rod dan
cone di retina. Pada diferensiasi selular retinoid dapat mengatur profilerasi dan maturasi sel
khususnya pada jaringan reproduktif.pada sistem imunitas vitamin A dapat membentukmucosal
mucin secretion.

2.1.5 Defisiensi
Defisiensi vitamin A menyebabkan beberapa gangguan khususnya gangguan pengelihatan. Ciri
ciri seseorang terdua defisiensi vitamin A adalah kebutaan pada malam hari, selera makan
menurun, kemampuan indera pengecap menurun dan penebalan folikel rambut. Adapun
penyakit penyakit akibat defisiensi vitamin A adalah sebagai berikut

XN : Buta Senja
X1A : Xerosis kongjungtiva
X1B : Bercak bitot
X2 : Xerosis kornea
X3A : Keratomalasia
X3B : Ulserasi kornea
XS : Xeroftalmia skars

2.2 Vitamin D

2.2.1 Pengertian

Vitamin D adalah nama generik dari dua molekul, yaitu ergokalsiferol (vitamin D2) dan
kolekalsiferol (vitamin D3). Prekursor vitamin D hadir dalam fraksi sterol dalam jaringan
hewan (di bawah kulit) dan tumbuh-tumbuhan berturut-turut dalam bentuk 7-dehidrokolesterol
dan ergosterol. Keduanya membutuhkan radiasi sinar ultraviolet untuk mengubahnya ke dalam

6
bentuk provitamin D3 (kolekalsiferol) dan D2 (ergokalsiferol). Kedua provitamin
membutuhkan konversi menjadi bentuk aktifmya melalui penambahan dua gugus hidroksil.

2.2.2 Fungsi

Fungsi utama vitamin D adalah membantu pembentukan dan pemeliharaan tulang bersama
vitamin A dan vitamin C, hormon-hormon paratiroid dan kalsitonin, protein kolagen, serta
mineral-mineral kalsium, fosfor, magnesium dan flour. Fungsi khusus vitamin D dalam hal ini
adalah membantu pengerasan tulang dengan cara mengatur agar kalsium dan fosfor tersedia di
dalam darah untuk diendapkan pada proses pengerasan tulang.

Di dalam saluran cerna, kalsitriol meningkatkan absorpsi vitamin D dengan cara merangsang
sintesis protein pengikat-kalsium dan protein pengikatfosfor pada mukosa usus halus. Di dalam
tulang, kalsitriol bersama hormon paratiroid merangsang pelepasan kalsium dari permukaan
tulang ke dalam darah. Di dalam ginjal, kalsitriol merangsang reabsorbsi kalsium dan fosfor.

2.2.3 Metabolisme

Di dalam tubuh, vitamin D tidak langsung dalam keadaan aktif sehingga vitamin D tersebut
harus dimodifikasi secara kimia (mengalami hidroksilasi) sebanyak dua kali. Petunjuk pertama
dari hal ini berupa hasil obaservasi adanya lag period 8 jam sebelum seseorang dapat melihat
efek vitamin D yang diberikan pada hewan percobaan. Vitamin D dibawa dalam plasma dalam
keadaan terikat dengan α2- globulin yang spesifik, yaitu protein yang mengikat vitamin D.
Dalam mikrosom hati, ujung rantai-samping mengalami hidroksilasi untuk membentuk 25 –
hidroksi-vitamin D (25(OH)D). Senyawa ini mempunyai kadar yang lebih stabil dalam darah
dibandingkan kadar vitamin D yang mengalami kenaikan temporer ketika jumlah vitamin
tersebut diserap atau disintesis dalam kulit.

7
Senyawa 25(OH)D masih belum berupa metabolit aktif. Senyawa 25(OH)D harus mempunyai
gugus hidroksil ketiga (OH) yang berada pada atom karbon 1. Reaksi penambahan gugus
hidroksil ini dilakukan oleh enzim, 1αhidroksilase, di dalam ginjal (dalam mitokondria tubulus
proksimal untuk membuat 1,25-dihidroksi vitamin D (1,25(OH)2D) yang juga disebut kalsitriol
(Gambar 2.2). Kadar 1,25(OH)2D plasma adalah sekitar seribu kali lebih kecil daripada kadar
25(OH)D. Aktivitas enzim 1α-hidroksilase renal dikontrol dengan ketat sehingga kecepatan
produksi 1,25(OH)2D baru meningkat ketika terjadi penurunan kadar kalsium plasma atau
kenaikan kadar hormon paratiroid. Senyawa 1,25(OH)2D merupakan salah satu dari tiga
hormon yang secara normal bekerja sama untuk mempertahankan kadar kalsium agar tetap
konstan Vitamin D dibentuk lebih sedikit dalam kulit yang berwarna gelap dibandingkan kulit
yang berwarna putih karena melanin dalam kulit menyerap sinar UV. Orang tua juga
membentuk lebih sedikit vitamin D setelah mereka terpajan dengan sinar UV gelombang
pendek; kulit mereka mengandung materi awal 7-dehidrokolesterol yang lebih sedikit. Vitamin
D yang dikonsumsi kemudian akan dicerna, diserap, dan diangkut dari usus halus bagian
proksimal dalam kilomikron (Gambar 2.3). Seperti lemak lainnya, penyerapan dapat terganggu
pada penyakit kronis dalam sistem empedu atau pada penyakit usus dengan malabsorbsi.
Ekskresi vitamin D ke dalam getah empedu, terutama sebagai metabolit yang lebih polar.

2.2.4 Defisiensi

Vitamin D adalah vitamin larut lemak yang dibutuhkan untuk berbagai proses metabolisme di
dalam tubuh. Dalam metabolisme kalsium dan tulang, fungsi utama 1,25(OH)2D3 ,metabolit
aktif vitamin D, adalah mengontrol absorpsi kalsium dan fosfat usus agar dapat
mempertahankan konsentrasi kalsium darah sehingga mineralisasi tulang tetap terpelihara.
Defisiensi vitamin D akan berpengaruh pada homeostasis ini. Defisiensi vitamin D akan
meningkatkan hormon paratiroid (parathyroid hormone, PTH) sehingga terjadi resorpsi tulang
yang selanjutnya akan meningkatkan risiko terjadinya fraktur. Defisiensi vitamin D yang berat
akan menyebabkan gangguan mineralisasi tulang sehingga terjadi penyakit Rickets pada anak-
anak dan osteomalasia pada orang usia lanjut. Selain itu, defisiensi vitamin D juga akan
menurunkan massa otot, dan meningkatkan miopati yang mengakibatkan terjadinya instabilitas
postural dan membuat usia lanjut mudah jatuh. Belakangan ini diketahui pula bahwa vitamin
(hormon) D berhubungan dengan berbagai penyakit seperti penyakit asma, diabetes melitus,
hipertensi, artritis reumatoid, keganasan kolon, payudara, prostat, dan sebagainya.
8
2.3 Vitamin E
2.3.1 Definisi
Vitamin E adalah suatu antioksidan yang melindungi sel-sel tubuh terhadap kerusakan oleh
senyawa kimia reaktif yang dikenal sebagai radikal bebas. Vitamin E adalah jenis vitamin yang
larut dalam lemak yang mempunyai efek antioksidan. Vitamin E penting untuk tubuh karena
berpengaruh penting dalam kekuatan sistem kekebalan tubuh, kesehatan mata, dan kesehatan
kulit.

2.3.2 Sifat-sifat.
Sifat-sifat vitamin E adalah tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut lemak
seperti minyak, lemak, alkohol, aseton, eter dan sebagainya. Karena tidak larut dalam air,
vitamin E dalam tubuh hanya dapat dicerna dalam, hati. Vitamin E stabil pada pemanasan
namun akan rusak bila pemanasan terlalu tinggi. Vitamin E bersifat basa jika tidak ada oksigen
dan tidak terpengaruh oleh asam pada suhu 1000C. Bila terkena oksigen di udara, akan
teroksidasi secara perlahan-lahan. Sedangkan bila terkena cahaya warnanya akan menjadi gelap
secara bertahap.Vitamin E adalah golongan vitamin yang larut dalam lemak. Artinya, vitamin
ini terdapat dalam bagian makanan yang berminyak, dan dalam tubuh hanya dapat dicerna oleh
empedu, di hati, karena tidak larut dalam air. Vitamin E sangat di butuhkan oleh tubuh kita.

2.3.3 Sumber
Vitamin E mudah didapat dari bagian bahan makanan yang berminyak atau sayuran. Vitamin
E banyak terdapat pada buah-buahan, susu, mentega, telur, sayur-sayuran, terutama
kecambah[1]. Contoh sayuran yang paling banyak mengandung vitamin E adalah minyak biji
gandum, minyak kedelai, minyak jagung, alfalfa, selada, kacang-kacangan, asparagus, pisang,
strawberry, biji bunga matahari, buncis, ubi jalar dan sayuran berwarna hijau[1]. Vitamin E lebih
banyak terdapat pada makanan segar yang belum diolah[3].

2.3.4 Kegunaan

Fungsi dari vitamin E adalah meningkatkan daya tahan tubuh, membantu mengatasi stres,
meningkatkan kesuburan, meminimalkan risiko kanker dan penyakit jantung koroner[3],
berperan sangat penting bagi kesehatan kulit, yaitu dengan menjaga, meningkatkan elastisitas
dan kelembapan kulit, mencegah proses penuaan dini, melindungi kulit dari kerusakan akibat
radiasi sinar ultraviolet, serta mempercepat proses penyembuhan luka[3], Semua vitamin E
adalah antioksidan dan terlibat dalam banyak proses tubuh dan beroperasi sebagai antioksidan
alami yang membantu melindungi struktur sel yang penting terutama membran sel dari
kerusakan akibat adanya radikal bebas. [4]. Dalam melaksanakan fungsinya sebagai antioksidan
dalam tubuh, vitamin E bekerja dengan cara mencari, bereaksi dan merusak rantai reaksi radikal
bebas[1]Y. Dalam reaksi tersebut, vitamin E sendiri diubah menjadi radikal[1]. Namun radikal
ini akan segera beregenerasi menjadi vitamin aktif melalui proses biokimia yang melibatkan
senyawa lain[1].

2.3.5 Bentuk Lain

9
TOKOFEROL

Tokoferol merupakan antioksidan yang utama dalam lemak


dan minyak dan dapat mencegah ketengikan. Tokoferol
juga berperan pada fertilisasi atau tingkat kesuburan dan
pembentukan jaringan tulang. Tokoferol, terutama α-
tokoferol sebagai antioksidan yang mampu
mempertahankan integritas membran. Berdasarkan jumlah
gugus metil pada inti aromatik, dikenal 4 tokoferol yaitu α, δ, β, γ. Diantara ke empat bentuk
tokoferol tersebut, yang paling aktif adalah α-tokoferol yang dapat menurunkan penyakit
jantung, mencegah penyakit Alzheimer dan mencegah kanker.

TOKOTRIENOL

Tokotrienol menunjukkan sifat antioksidatif yang lebih unggul


dibandingkan dl-α-tokoferol karena rantai samping tokotrienol
yang tidak jenuh menyebabkan penetrasi pada lapisan lemak
jenuh pada otak dan hati lebih baik. Tokotrienol merupakan
antioksidan potensial dan secara in vitro tokotrienol merupakan
antikanker yang lebih efektif dibandingkan tokoferol. Sifat tokotrienol ini berkaitan dengan
adanya rantai samping yang tidak jenuh yang mengakibatkan inkorporasi ke dalam sel lebih
tinggi

2.3.6 Metabolisme

Seperti vitamin larut lemak yang lain, vitamin E diabsorbsi di usus halus secara difusi,
absorbsinya tergantung adanya lemak dalam diet. Tokoferol dari makanan diserap oleh usus
digabungkan dengan kilomikron dan ditransportasikan ke hati melalui sistim limfatik dan
saluran darah. Di hati, tokoferol disebarkan ke sel-sel jaringan tubuh melalui saluran darah. Di
dalam plasma darah, tokoferol bergabung dengan lipoprotein, terutama VLDL (Very Low
Density Lipoprotein). Dengan dibantu oleh lipoprotein lipase dimana vitamin E dilepaskan dari
kilomikron dan VLDL. Di dalam sel, transpor intraseluler dari tokoferol membutuhkan protein
pengikat tokoferol intraseluler. Vitamin E pada sebagian besar sel-sel non adiposa terdapat pada
membran sel dimana dapat dimobilisasi

2.4 Vitamin K
2.4.1 Pengertian Vitamin K
Vitamin K adalah vitamin yang larut dalam lemak, merupakan suatu naftokuinon yang
berperan dalam modifikasi dan aktivasi beberapa protein yang berperan dalam pembekuan
darah, seperti faktor II,VII,IX,X dan antikoagulan protein C dan S, serta beberapa protein lain
seperti protein Z dan M yang belum banyak diketahui peranannya dalam pembekuan darah.
tidak rusak oleh pemanasan, tidak larut oleh pemasakan, tidak stabil dalam suasana alkalis atau
adanya sinar

10
2.4.2 Bentuk bentuk vitamin K
Ada tiga bentuk vitamin K yang diketahui yaitu: Vitamin K1 (phytomenadione) terdapat pada
sayuran hijau, sediaan yang ada saat ini adalah cremophor dan vitamin Vitamin K mixed
micelles (KKM). Vitamin K2 (menaquinone) disintesis oleh flora usus normal seperti
Bacteriodes fragilis dan beberapa strain E. coli. Vitamin K3 (menadione) yang sering dipakai
sekarang merupakan vitamin K sintetik tetapi jarang diberikan lagi pada nenonatus karena
dilaporkan dapat menyebabkan anemia hemolitik (Kemenkes RI, 2009). Vitamin K terdapat
dalam sejumlah struktur ikatan organik yang semuanya mengandung quinonedan mempunyai
bioaktifitas vitamin K. Semua komponen mempunyai cincin 2–metil–1,4–nafthoquinon
- Vitamin K1(phylloquinone) disintesis dari tanaman dan merupakan bahan makanan
sumber
- Vitamin K2(menaquinone) dihasilkan oleh bakteri usus (0,3 –5 mg, kira-kira sama
dengan jumlah yang disimpan di hati)
- Vitamin K3(menadion) sintetik mempunyai kekuatan biologi 2X lebih kuat dari
vitamin K1dan K2

2.4.3 Fungsi
Berfungsi sebagai faktor yang berperan pada proses pembekuan darah.. Merupakan kofaktor
untuk proses karboksilasi asam glutamat menjadi asam γkarboksiglutamat (Gla) Gla merupakan
suatu protein untuk faktor pembekuan darah: faktor II (protrombin), VII, IX dan X Gla juga
tersebar dibeberapa jaringan seperti : tulang, ginjal, plasenta, pankreas, limpa dan paru, tetapi
sebagian besar fungsinya belum jelas. Di tulang protein tersebut disebut Gla protein tulang atau
osteokalsinyang merupakan protein non kolagen yang terbanyak di matriks tulang. Kadar
osteokalsin dalam darah merupakan petanda penting untuk mendiagnosis aktivitas osteoblas di
dalam tulang

2.4.4 Sumber
Vitamin K banyak berasal dari sayuran berdaun hijau, Avocado, kiwi, parsley

2.4.5 Defisiensi
Jarang terjadi pada orang dewasa, karena sumber vitamin K tersebar luas pada tumbuh-
tumbuhan dan hewan. Demikian pula flora usus dapat mensintesis K2. Defisiensi dapat terjadi
bila terjadi malabsorpsi lemak Karena adanya kerusakan flora usus pada penggunaan antibiotik
lama. Pada bayi baru lahir flora usus belum bekerja. Penyakit akibat kekurangan vitamin k
menghambat pembekuan darah, menurunnya kepadatan tulang. Kelebihan vitamin K hanya
11
bisa terjadi bila vitamin K diberikan dalam bentuk berlebihan berupa vitamin K sintetik
menadion. Gejala kelebihan vitamin K adalah hemolisis sel darah merah,sakit kuning (jaundice)
dan kerusakan pada otak (Almatsier,2009).

2.4.6 Metabolisme Vitamin K


Vitamin K dalam makanan diserap oleh usus halus (40 – 70%) à Filoquinon dan menaquinon
tidak dapat diserap tanpa adanya garam empedu, kecuali menadion àVitamin K digabungkan
dengan kilomikron dan diangkut melalui saluran limfatik àGabungan vitamin K dan kilomikron
ditransportasikan ke hati melalui peredaran darahà Vitamin K disimpan di hati dalam bentuk
menaquinon (± 90%) à Vitamin K disebarkan ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Dalam
plasma darah, vitamin K bergabung dengan VLDL à Setelah disirkulasikan beberapa kali,
vitamin K dimetabolisme menjadi komponen larut air dan produk asam empedu
terkonjugasi àVitamin K dieksresikan melalui urine dan feses

12
DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S., 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Battault, S et all. 2012. Vitamin D Metabolism, Function and Needs : From Science to Health
Claims. European Journal of Nutrition

Cosman, Feicia. 2009. Osteoporosis: Panduan Lengkap Agar Tulang Anda Tetap Sehat.
Yogyakarta: B-first

Estiasih, Teti. dkk. 2015. Komponen Minor dan Bahan Tambahan Pangan. Jakarta: Penerbit
Bumi Aksara

Kemenkes RI., 2009. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Gramedia


Lamid, Astuti. 1995. Vitamin E Sebagai Antioksidan. Bogor: Puslitbang Gizi
Rusidana. 2004. Vitamin. Sumatera: Digitalized by USU Digital Library

Triana, vivi. 2006. Macam-Macam Vitamin Dan Fungsinya Dalam Tubuh Manusia. Sumatera:
Universitas Andalas
Weiner, Henry dkk. 2006. Enzymology and Molecular Biology of Carbonyl Metabolism 12.
Lafayette: Purdue University Press

13