Anda di halaman 1dari 15

Tugas Makalah

GETARAN MEKANIS

OLEH:
SAIFUDDIN 14 640 011

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DAYANU IKHSANUDDIN BAUBAU
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada penulis sehingga kami berhasil menyelesaikan
Makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul Getaran
Mekanis guna memenuhi tugas mata kuliah getaran mekanis.
Adapun makalah ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya
dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan
makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa
ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasa maupun segi lainnya. Oleh karena
itu saran dan kritik dari semua pihak kepada kami sehingga dapat memperbaiki
makalah ini.
Akhirnya kami mengharapkan semoga dari makalah ini dapat bermanfaat
sehingga dapat memberikan informasi tentang getaran mekanis.

Baubau, Juni 2016

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................
KATA PENGANTAR......................................................................................
DAFTAR ISI....................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...............................................................................
B. Tujuan............................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Getaran.........................................................................
B. Jenis Getaran..................................................................................
C. Sumber Getaran.............................................................................
D. Ciri-Ciri Suatu Getaran..................................................................
E. Cara Mengukur Getaran.................................................................
F. Efek Getaran Lengan Tangan.........................................................
G. Penyakit Akibat Paparan Getaran Lengan Tangan.........................
H. Tes Pemeriksaan Tangan Fungsi Sensorik.....................................
I. Pengendalian Getaran....................................................................

BAB III KESIMPULAN................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap hari manusia terlibat pada suatu kondisi lingkungan kerja yang
berbeda-beda dimana perbedaan kondisi tersebut sangat mempengaruhi terhadap
kemampuan manusia. Manusia akan mampu melaksanakan kegiatannya dengan
baik dan mencapai hasil yang optimal apabila lingkungan kerjanya mendukung.
Suatu kondisi lingkungan kerja dikatakan sebagai lingkungan kerja yang baik
apabila manusia bisa melaksanakan kegiatannya dengan optimal dengan sehat,
aman dan selamat. Ketidakberesan lingkungan kerja dapat terlihat akibatnya
dalam waktu yang lama. Lebih jauh lagi keadaan lingkungan yang kurang baik
dapat menuntut tenaga dan waktu yang lebih banyak yang tentunya tidak
mendukung diperolehnya rancangan sistem kerja yang efisien dan produktif.
Oleh karena itu perancangan lingkungan kerja yang baik dan optimal sangat
diperlukan. Berikut ini penjelasan mengenai faktor-faktor fisik lingkungan kerja.
Kondisi yang ergonomis, yaitu lingkungan kerja yang memberikan kenyamanan
dan keamanan bagi pekerja. Rasa nyaman sangat penting secara biologis karena
akan mempengaruhi kinerja pada organ tubuh manusia ketika sedang bekerja.
Penyimpangan dari batas kenyamanan akan menyebabkan perubahan secara
fungsional yang pada akhirnya berpengaruh pada fisik maupun mental pekerja.
Pengendalian dan penanganan faktor-faktor lingkungan kerja seperti kebisingan,
temperatur, getaran dan pencahayaan merupakan suatu masalah yang harus
ditangani secara serius dan berkesinambungan. Suara yang bising, temperatur
yang panas getaran dan pencahayaan yang kurang di dalam tempat kerja
merupakan salah satu sumber yang mengakibatkan tekanan kerja dan penurunan
produktivitas kerja.
Getaran atau vibrasi adalah pergerakan bolak-balik suatu massa/berat
melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik tertentu. Dampak getaran terhadap
manusia terutama terjadi pada bagian organ-organ tertentu seperti: dada, kepala,
rahang dan persendian lainnya. Getaran diduga dapat menyebabkan perubahan

1
atau peningkatan tekanan darah yang pada tingkat tertentu dapat mengakibatkan
hipertensi.Getaran dapat juga menimbulkan efek vaskuler dan efek neurologic.
Getaran yang tinggi memungkinkan mengakibatkan stress pada pekerja, dan
peningkatan tekanan darah adalah salah satunya.

B. Tujuan
Pada dasarnya makalah ini memiliki tujuan umum dan khusus, tujuan umum
makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah getaran mekanis, tujuan
khususnya adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian getaran
2. Untuk mengetahui cara menghitung getaran
3. Untuk mengetahui dampak dari getaran untuk kesehatan
4. Untuk mengetahui pengendalian getaran.

BAB II

2
PEMBAHASAN

A. Pengertian Getaran
Getaran adalah gerakan bolak-balik dalam suatu interval waktu tertentu.
Getaran berhubungan dengan gerak osilasi benda dan gaya yang berhubungan
dengan gerak tersebut. Semua benda yang mempunyai massa dan elastisitas
mampu bergetar, jadi kebanyakan mesin dan struktur rekayasa (engineering)
mengalami getaran sampai derajat tertentu dan rancangannya biasanya
memerlukan pertimbangan sifat osilasinya.
Getaran adalah suatu faktor yang menjalar ke tubuh manusia, mulai
keseluruhan tubuh turut bergetar (0scilation) akibat getaran peralatan mekanis
yang dipergunakan dalam tempat kerja. Berdasar Keputusan Menteri Lingkungan
Hidup No. 49 Tahun 1996 yang dimaksud getaran adalah gerakan bolak-balik
suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan. Penyebab
getaran dibedakan dalam 2 jenis yaitu:
1. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan
peralatan kegiatan manusia.
2. Getaran seismik adalah getaran tanah yang disebabkan oleh peristiwa
alam dan kegiatan manusia.

B. Jenis Getaran
1. Getaran seluruh tubuh (whole body vibration)
Getaran pada seluruh tubuh atau umum (whole body vibration) yaitu terjadi
getaran pada tubuh pekerja yang bekerja sambil duduk atau sedang berdiri dimana
landasanya yang menimbulkan getaran. Biasanya frekuensi getaran ini adalah
sebesar 5-20 Hz (Emil Salim, 2002:253). Getaran seperti ini biasanya dialami oleh
pengemudi kendaraan seperti : traktor, bus, helikopter, atau bahkan kapal.
2. Getaran lengan tangan (hand arm vibration)
Menurut Emil Salim (2002:253) yang dikutip Arief Budiono menyebutkan
Getaran setempat yaitu getaran yang merambat melalui tangan akibat pemakaian
peralatan yang bergetar, frekuensinya biasanya antara 20-500 Hz. Frekuensi yang

3
paling berbahaya adalah pada 128 Hz, karena tubuh manusia sangat peka pada
frekuensi ini. Getaran ini berbahaya pada pekerjaan seperti :
a. Supir bajaj
b. Operator mesin Blasting
c. Tukang potong rumput
d. Gerinda
e. Penempa palu.
Efek yang timbul tergantung kepada jaringan manusia, seperti: (Sucofindo,
2002)
a. 3 - 6 Hz untuk bagian thorax (dada dan perut),
b. 20-30 Hz untuk bagian kepala,
c. 100-150 Hz untuk rahang.
Di samping rasa tidak ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh goyangan
organ seperti ini, menurut beberapa penelitian, telah dilaporkan efek jangka lama
yang menimbulkan orteoartritis tulang belakang.

C. Sumber Getaran
Perkakas yang bergetar secara luas dipergunakan dalam industri logam,
perakitan kapal, dan otomotif, juga dipertambangan, kehutanan, dan pekerjaan
konstruksi. Perkakas yang paling banyak digunakan adalah: bor pneumatik, alat -
alat ini menghasilkan getaran mekanik dengan ciri fisik dan efeknya merugikan
yang berbeda (Wijaya C , 1995:174). Pada perum perhutani sumber getaran yang
ada pada peralatan seperti band resaw, cross cut, log band saw, planer, band saw,
double cross cut, dan spindel moulder.

D. Ciri-Ciri Suatu Getaran


Getaran merupakan jenis gerak yang mudah kamu jumpai dalam kehidupan
sehari hari, baik gerak alamiah maupun buatan manusia. Semua getaran memiliki
ciri-ciri tertentu. Waktu yang dibutuhkan untuk menempuh satu kali getaran
disebut periode getar yang dilambangkan dengan (T). Banyaknya getaran dalam
satu sekon disebut frekuensi (f). Suatu getaran akan bergerak dengan frekuensi
alamiah sendiri. Hubungan frekuensi dan periode secara matematis ditulis sebagai
berikut:

4
1
T=
f
dengan: T = periode (s)
f = banyaknya getaran per sekon (Hz)
Satuan periode adalah sekon dan satuan frekuensi adalah getaran per sekon
atau disebut juga dengan hertz (Hz), untuk menghormati seorang fisikawan
Jerman yang berjasa di bidang gelombang, Hendrich Rudolf Hertz. Jadi, satu hertz
sama dengan satu getaran per sekon.

E. Cara Mengukur Getaran


Getaran diukur dengan menggunakan alat vibration meter. Dengan
pengukuran menggunakan vibration meter maka akan mendapatkan hasil yang
akan dibandingkan dengan nilai ambang batas sesuai dengan Keputusan Menteri
Tenaga kerja nomor KEP. 51/MEN/1999. Teknik pengukuran ini dilakukan untuk
mengambil data-data mengenai tingkat paparan getaran lengan tangan khususnya
pada operator blasting.

F. Efek Getaran Lengan Tangan


Efeknya lebih mudah di jelaskan dari pada menguraikan patofisiologinya.
Efek ini disebut sebagai sindrom getaran lengan (HVAS) yang terdiri atas:
1. Efek vaskuler -Pemucatan pada episodik buku jari ujung yang
bertambah parah pada suhu dingin (fenomena Raynoud).
2. Efek Neurologik -buku jari ujung mengalami kesemutan dan baal.
Efek bersifat progresif apabila ada pemanjanan terhadap alat bergetar
berlanjut dan dapat menyebabkan dalam kasus yang parah, gangren. Alat-alat
yang dipakai akan bergetar dan getaran tersebut disalurkan pada tangan, getaran-
getaran dalam waktu singkat tidak berpengaruh pada tangan tetapi dalam jangka
waktu cukup lama akan menimbulkan kelainan pada tangan berupa :

a) Kelainan pada persyarafan dan peredaran darah.


Gejala kelainan ini mirip dengan Phenomena Raynoud yaitu keadaan pucat
dan biru dari anggota badan kedinginan, tanpa ada penyumbatan pembuluh darah

5
tepi dan kelainan gizi. Phenomena Raynoud ini terjadi pada frekuensi sekitar 30-
40 Hz.
b) Kerusakan-kerusakan pada persendian dan tulang (J.F.Gabriel, 1996:97).
Pada kebanyakan tenaga kerja, tingkat akhir dari penyakit masih
memungkinkan mereka bekerja dengan alat-alat yang bergetar. Namun pada
berbagai hal, penyakit demikian memburuk, sehingga kapasitas kerja terganggu
dan tenaga kerja harus menghentikan pekerjaannya. Dari sudut cacat kerja,
perasaan nyeri kurang pentingnya dibanding dengan hilangnya perasaan tangan
dan tidak dapat digunakan sebagai mestinya. Hal ini terutama berat bagi pekerjaan
dengan tangan kanan yang memerlukan ketelitian terutama dengan alat kecil yang
berputar. Otot-otot yang menjadi lemah biasanya abduktor jari kelingking, otot-
otot interossea dan fleksin dari jari-jari (Sumamur, 1996:80).
Diagnosa awal berdasarkan riwayat gejala yang khas, seperti kesemutan
dan gangguan rasa pada jari-jari yang terpajan getaran. Gejala ini menetap dan
bertambah berat dalam waktu yang lama. Gejala berikutnya adalah jari memucat
dengan adanya pajanan kronis. Untuk memastikan diagnosis dan menetapkan
tingkat keparahan, diperlukan beberapa tes neurologist dan tes vaskuler. Cara
menentukan derajat penyakit ditingkat internasional dengan menggunakan
klasifikasi Stockholm.
Klasifikasi sindrom getaran sistem Stockholm
Stadium Derajat Deskripsi
I. Gejala vaskuler
1 Ringan Terjadi pemucatan pada
suhu atau lebih ujung-
ujung jari
2 Sedang Pemucatan pada ujung dan
ruas jari tengah, pada satu
jari atau lebih
3 Berat Terjadi pemucatan pada
semua ruas jari
4 Sangat berat Seperti gambaran 3
dengan perubahan kulit
(kulit trophic)

6
II. Gejala Sensorik
SN 0 Tidak ada gejala
SN 1 Rasa baal yang hilang
timbul atau menetap
dengan atau tanpa rasa
nyeri
SN 2 Seperti pada SN 1 disertai
gangguan saraf sensorik
SN 3 Seperti pada SN 2 dengan
diskriminasi dan
gangguan ketangkasan
Sumber : Taylor W.A (1997)
Catatan : SN = Sensorineural

G. Penyakit Akibat Paparan Getaran Lengan Tangan


Angioneurosis jari-jari tangan Fenomenon Raynaud (jari-jari putih) adalah
syndrome akibat getaran yang paling sering di wilayah-wilayah dunia yang
dingin. Gejala-gejala nonspesifik pertama adalah akroparestesia pada tangan dan
perasaan kebal di jari-jari tangan pada waktu kerja atau sebentar sesudahnya. Pada
stadium ini, selain gangguan kepekaan terhadap getaran, tidak ditemukan
perubahan objektif lainnya. Pada fase berikutnya, diamati kepucatan paroksismal
sporadik pada ujung-ujung jari tangan. Paroksisme disebabkan oleh spasme lokal
arteriol dan kapiler, serta dicetuskan oleh paparan terhadap suhu dingin lokal atau
umum. Biasannya terjadi pada musim dingin dan sepenuhnya pulih kembali 15-30
menit setelah tangan dihangatkan. Selama paroksisme, kepekaan nyeri taktil
sangat berkurang. Fase ini menimbulkan kesulitan diagnostik yang besar, karena
penyakit yang dilaporkan tidak selalu dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan di
ruang konsultasi dokter. Observasi secara langsung suatu serangan di tempat kerja
mempermudah diagnosanya (Wijaya.C, 175-176).
Stadium lebih lanjut dari penyakit ini ditandai dengan kepucatan
paroksismal, tidak hanya pada ujung-ujung jari, tetapi menyebar pada hamper
seluruh jari namun jarang mengenai ibu jari. Parokisme dapat diprovokasi oleh
suhu yang sedikit dingin, bahkan dapat timbul gejala pada suhu lingkungan. Pada

7
stadium yang lebih lanjut, angiospasme diganti oleh paresis dinding pembuluh
darah kecil yang mengakibatkan akrosianosis.
Gejala-gejala yang menonjol adalah rasa kebal ditangan, gangguan
kecepatan jari, dan gangguan sensitivitas. Juga dapat timbul perubahan-perubahan
tonus lokal. Berbeda dengan endarteritis obliterans, nekrosis sangat jarang terjadi.
Uji diagnosik yang paling umum digunakan adalah induksi paroksisme jari
dengan air dingin. Baik tangan maupun lengan bawah (sampai ke siku) direndam
selama 10 menit dalam air yang didinginkan dengan kubus-kubus es (Beberapa
dokter menambah rasa dingin dengan meletakan handuk basah pada bahu).
Hendaknya dijelaskan bahwa metode ini lebih jarang menginduksi parokisme jari
tangan dibandingkan getaran pada situasi kerja yang nyata. Kadang kala hanya
dapat terlihat pengembalian darah ke kapiler yang melambat seperti : ujung jari
didistal kuku perlu ditekan sebentar dan dicatat waktu yang diperlukan oleh darah
untuk kembali ke titik anoksemik. Metode pemeriksaan laboratorium yang dapat
diterapkan pada pemeriksaan pencegahan meliputi plestimografi jari (gangguan
gelombang denyut akibat dingin), mikroskopi kapiler dan pengukuran suhu kulit
(termometer kontak atau termografi). Mungkin terdapat penurunan suhu kulit
permulaan atau terlambatnya pemulihan suhu jari normal setelah tes air dingin
(Darmanto Djojodibroto, 1995:137).
Gangguan tulang, sendi dan otot Patologi osteoartikular sering kali terbatas
pada tulang-tulang karpal (khususnya lunata dan navikularis), sendi radioulnaris
dan sendi siku. Gejala subjektif biasanya ringan tetapi pada stadium yang lanjut
gangguan fungsionaldapat cukup berarti. Perubahan radiogram yang paling khas
adalah atrosis sendi karpal, radioulnaris dan siku, serta pseudokista (terutama pada
tulang-tulang karpal, yang dapat pula memperlihatkan perubahan-perubahan
atrofik lain seperti trabekula yang menebal dan menjadi jarang). Otot dan tendon
disekitar sendi tersebut biasanya juga terlibat, gejala subyektif (nyeri) yang
disebabkan kelainan ini sering mendahului perubahan radiogram yang jelas
(Wijaya.C, 176).
Neuropati Kerusakan saraf yang disebabkan getaran meliputi persyarafan
otonom perifer (pada angioneurosis). Beberapa ahli mengemukakan efek-efek

8
pada syaraf perifer (ulnaris, medianus, radialis). Ahli lainya menganggap trauma
saraf umumnya sekunder dari iskemik berulang (pada angioneurosis), atau suatu
factor tambahan sering kali neuropati kompresif misalnya, perubahan
osteoartikuler disekitar batang saraf tersebut (Darmanto Djojodibroto, 1995:139).
Terkenanya serat-serat sensoris menyebabkan parastesia atau berkurangnya
kepekaan seratserat motorik, gangguan ketangkasan dan akhirnya atrofi.
pengukuran kecepatan konduksi saraf adalah pemeriksaan terpilih. Suatu bentuk
campuran menggabungkan gangguan otot, tendon, tulang, pembuluh darah dan
saraf perifer (Wijaya.C, 176).

H. Tes Pemeriksaan Tangan Fungsi Sensorik


1. Tes untuk rasa raba
a. Ujung kapas digoreskan pada permukaan tubuh pasien
b. Rangsangan dilakukan secara berganti-ganti pada daerah yang normal
dan abnormal, mulailah dari daerah yang paling terganggu dan
bergerak kearah yang normal.
c. Pasien diminta untuk menunjukkan kapan mulai merasakan goresan
kapas tersebut.
2. Tes untuk rasa nyeri
a. Alat yang dipakai berupa jarum bendul (pentol)
b. Rangsangan berganti-ganti antara ujung yang tajam dan yang tumpul.
Mintalah pasien untuk membedakan bermacam-macam rangsangan
tersebut.
c. Bandingkan daerah yang abnormal dengan daerah yang normal pada
daerah konkontralateral.
d. Mulailah dari daerah yang paling terganggu dan bergerak kearah yang
normal, kemudian pasien diminta untuk menunjukkan kapan mulai
merasakan ketajaman yang lebih jelas, yang perlu dicatat adalah
perubahan sensasi. Sensasi nyeri ini paling baik dalam menentukan
batas gangguan sensorik dibandingkan dengan sensasi yang lain.

3. Tes untuk rasa suhu


Rangsangan panas dilakukan dengan menempelkan botol yang berisi air
panas (40C-45C), sedangkan rangsangan dingin dengan menempelkan botol
yang berisi air dingin (10C-15C). Dengan mata tertutup pasien diminta

9
membedakan botol tersebut setelah disentuh dengan bagian tubuhnya khususnya
tangan.
I. Pengendalian Getaran
Menurut Sugeng Budiono (2003:39), pengendalian getaran dapat dilakukan
sebagai berikut :
1. Pengendalian secara teknis
a. Mengunakan peralatan kerja yang rendah intensitas getarannya
(dilengkapi dengan dampingatau peredam).
b. Menambah atau menyisipkan damping diantara tangan dan alat,
misalnya membalut pegangan alat dengan karet.
c. Memelihara atau merawat peralatan dengan baik. Dengan mengganti
bagian-bagian yang aus atau memberikan pelumasan.
d. Meletakan peralatan dengan teratur. Alat yang diletakan diatas meja
yang tidak stabil dan kuat dapat menimbulkan getaran di
sekelilingnya.
e. Menggunakan remote control. Tenaga kerja tidak terkena paparan
getaran, karena dikendalikan dari jauh.
2. Pengendalian secara administratif Dengan cara mengatur waktu kerja,
misalkan :
a. Merotasi pekerjaan. Apabila terdapat suatu pekerjaan yang dilakukan
oleh 3 orang, maka dengan mengacu pada NAB yang ada, paparan
getaran tidak sepenuhnya mengenai salah seseorang, akan tetapi
bergantian, dari A, B dan kemudian C.A B C A B C A B C
b. Mengurangi jam kerja, sehingga sesuai dengan NAB yang berlaku.
3. Pengendalian secara medis
Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2005:80) dapat dilakukan empat langkah
untuk pemulihan gejala akibat getaran supaya peredaran darah kembali, yaitu :
a. Pemanasan tangan dalam air panas
b. Pemijitan
c. Meniupkan udara panas ketangan
d. Menggerakkan tanagan secara berputar
4. Pemakaian alat pelindung diri
Pengurangan paparan dapat dilakukan dengan menggunakan sarung tangan
yang telah dilengkapi peredam getar (busa). Efek-efek berbahaya dari paparan
kerja terhadap getaran paling baik dicegah dengan memperbaiki desain alat-alat

10
yang bergetar tersebut, dan pemakaian sarung tangan pelindung, Resiko dapat
juga dikurangi dengan memperpendek waktu paparan. Pemeriksaan sebelum
penempatan dan pemeriksaan berkala mempermudah pengenalan dini individu -
individu yang terutama rentan dan membantu mengurangi meluasnya masalah

BAB III
KESIMPULAN
Getaran adalah gerakan yang teratur dari benda atau media dengan arah
bolak-balik dari kedudukan keseimbangan yang disebabkan oleh getaran udara
atau getaran mekanis, misalnya mesin atau alat-alat mekanis lainnya.Terdapat 2
jenis getaran, yaitu: getaran seluruh tubuh dan getaran lengan tangan. Sumber
getran berasal dari mesin-mesin yang memiliki getaran mekanik dengan ciri fisik
dan efeknya merugikan yang berbeda.

11
Efek yang ditimbulkan akibat getaran lengan diantaranya: efek vaskuler,
efek neurologik. Alat-alat yang dipakai akan bergetar dan getaran tersebut
disalurkan pada tangan, getaran-getaran dalam waktu singkat tidak berpengaruh
pada tangan tetapi dalam jangka waktu cukup lama akan menimbulkan kelainan
pada tangan, seperti: gangguan pada persyarafan dan sendi. Tes pemeriksaan
tangan fungsi sensorik yaitu dengan cara : tes untuk rasa raba, tes rasa nyeri dan
tes untuk rasa suhu.
Untuk pengendalian getaran, dapat dilakukan dengan berbagai cara,
diantaranya: pengendalian teknis, kesehatan, administrative dan APD ( alat
pelindung diri). APD yang digunakan untuk pekerja pada Sand blasting yaitu:
sarung tangan, helm safety, kacamata safety dan sepatu tertutup.

DAFTAR PUSTAKA

http://getaranmekanik.blogspot.com/2013/06/pengertian-getaran-mekanik_1.html

http://www.slideshare.net/befridita/getaran-31531070#

http://wandikomputer.blogspot.co.id/2014/12/getaran-mekanik.html

12