Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN

LUAS DAUN, ABSORPSI DAN TRANSPIRASI

Disusun oleh:

Kelompok 6

1. Atik Nur Affiyati 14308141011


2. Julita Situmorang 14308141017
3. Deviayu Fajar Pradita 14308141027
4. Fenti Aryani 14308141030
5. Nadia Agnes R. 14308141034

Kelas Biologi B

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2016
LUAS DAUN,ABSORPSI DAN TRANSPIRASI

A. Tujuan
1. Mengetahui pengaruh luas daun terhadap kecepatan absorbsi air
2. Mengetahui hubungan antara banyaknya stomata dengan kecepatan transpirasi

B. Dasar Teori
Absorbsi merupakan penyerapan air yang dilakukan oleh tumbuhan guna
memenuhi kebutuuhan air di jaringan tumbuhan tersebut. Salah satu factor yang
mempengaruhi absorbsi air pada tumbuhan adalah daya hisap daun yang mempunyai
peranan penting sehingga air tanah dapat naik keatas. Beberapa faktor yang
mempengaruhi daya hisap daun antara lain terang teduhnya cahaya yakni semakin
banyak cahaya yang mengenai tumbuhan tersebut maka penyerapan air juga akan
semakin tinggi, banyak sedikitnya daun, kelembaban udara dan cukupnya air tanah.
Air bergerak secara vertikal melalui pembuluh xylem melawan gravitasi
(Dwijoseputro, 1978 : 78).
Beberapa teori tentang naiknya air ke puncak pohon yaitu :
1. Teori Vital
Perjalanan air dari akar ke ujung batang menentang gaya grafitasi dan gaya
gesekan tahanan dinding pipa , dapat terjadi hanya karena pertolongan sel-sel
hidup.Dalam hal ini sel hidup adalah sel-sel parenkim dan sel-sel jari-jari
empulur yang ada disekitar xylem.
2. Tekanan akar
Adanya pengeluaran air pada bidang potongan tonggak suatu batang yang
diotong dekat tanah memberikan kesan bahwa didalam daerah akar terdapat
suatu tenaga penggerak air.
3. Hukum kapilaritas
Pembuluh kayu xylem dapat merupakan pembuluh kapiler, sehingga air
didalamnya sebagai akibat dari adesi antara dinding sel xylem dengan molekul-
molekul air.
4.Teori kohesi
Ada tiga unsur dalam teori kohesi untuk menjelaskan naiknya cairan ,
Daya penggerak adalah gradien potensial air yang makin menurun dari
tanah melalui tumbuhan ke atmosfer.
Hidrasi atau adesi , daya hidrasi antara molekul air dan dinding sel yang
disebabkan oleh adanya ikatan hidrogen yakni daya tarik antara molekul
yang tidak sejenis.
Kohesi air merupakan daya tarik anatar molekul sejenis.
Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi adalah :
1. Tekanan air
2. Kapilaritas
3. Karakteristik daun ( Dwijoseputro, 1994:84)

Tumbuhan, seperti juga hewan memiliki adaptasi evolusioner dalam bentuk respons
fisiologis terhadap perubahan jangka pendek. Misalnya jika daun pada tumbuhan
mengalami kekurangan air, daun-daun akan menutup stomata, yang merupakan lubang
kecil dipermukaan daun tersebut. Respons darurat ini akan membantu tumbuhan
menghemat air dengan cara mengurangi transpirasi, yaitu hilangnya air dari daun
melalui penguapan ( Campbell.N.A, 2000:292).
Dalam aktifitas hidupnya, sejumlah besar air dikeluarkan oleh tumbuhan dalam
bentuk uap air ke atmosfer. Proses pengeluaran uap air oleh tumbuhan dalam bentuk
uap ini disebut sebagai transpirasi. Transpirasi dilakukan oleh tumbuhan melalui
stomata, kutikula dan lentisel (Sasmitamihardja dan Siregar, 1996:60).
Sel hidup tumbuhan berhubungan langsung dengan atmosfer melalui stomata dan
lenti sel sehingga transpirasi terjadi melalui kutikula pada daun tumbuh-tumbuhan.
Sel-sel hidup itu berada dalam keadaan turgid dan sedang dan sedang bertranspirasi
dilapisi oleh lapisan tipis air yang diperoleh dari dalam sel. Sebalikya, persediaan air
ini diperoleh dengan cara translokasi air dan unsur-unsur penghantar dari akar melalui
xilem. Akar-akar pohon tersebut memperoleh air dengan cara mengabsorpsi melalui
permukaan yang berhubungan dengan air di dalam tanah. Seluruh proses ini
digerakkan oleh energi yang diberikan pada daun dan batang-batang pada tanaman
tersebut (Wanggai Fran, 2007:91).
Transpirasi merupakan proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari tubuh
tumbuhan yang sebagian besar terjadi melalui stomata, selain melalui kutikula dan
lentisel (Heddy. S, 2009 :61). Karena sifat kutikula yang impermeabel terhadap air,
transpirasi yang berlangsung melalui kutikula relative sangat kecil (Tjitrosomo, 2008 :
138). Transpirasi dapat merugikan tumbuhan bila lajunya terlalu cepat yang
menyebabkan jaringan kehilangan air terlalu banyak selama musim panas dan kering
(Lovelles, 2010:167).
Transpirasi merupakan aktivitas fisiologis penting yang sangat dinamis, berperan
sebagai mekanisme regulasi dan adaptasi terhadap kondisi internal dan eksternal
tubuhnya, terutama terkait dengan kontrol cairan tubuh (turgiditas sel/ jaringan),
penyerapan dan transportasi air, garam-garam mineral serta mengendalikan suhu
jaringan. Proses transpirasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor internal
maupun eksternal. Faktor-faktor internal antara lain adalah ukuran daun, tebal tipisnya
daun, ada tidaknya lapisan lilin pada permukaan daun, banyak sedikitnya bulu pada
permukaan daun, banyak sedikitnya stoma, bentuk dan lokasi stomata. Faktor-faktor
eksternal antara lain meliputi radiasi cahaya (Dwidjoseputro, 2009:92).
Stomata biasanya ditemukan pada bagian tumbuhan yang berhubungan dengan
udara. Jumlah stomata beragam pada daun tumbuhan yang sama dan juga pada daerah
daun yang sama (Lakitan. B, 2005:68).
Pada umunya stomata tumbuhan darat lebih banyak terdapat pada epidermis daun
bagian bawah. Pada banyak jenis tumbuhan bahkan tidak ada stomata sama sekali
pada epidermis daun bagian atas (Lovelles, 2010:119).
Suatu stoma terdiri atas lubang (porus) yang dikelilingi oleh 2 sel penutup,
umumnya berbentuk ginjal dan mengandung kloroplas. Stomata sebagian besar
tumbuhan membuka pada waktu siang hari dan menutup pada malam hari. Stomata
akan membuka apabila turgor sel penutup tinggi dan apabila turgor sel penutup rendah
maka stomata akan menutup (Masdar, 2010:106).
Pengurangan ukuran daun dihubungkan dengan pengurangan kecepatan transpirasi.
Tumbuhan dengan daun kecil biasanya mempunyai habitat kering, pengurangan
ukuran daun sering kali diikuti dengan peningkatan jumlah total daun pada tumbuhan
(Mulyani Sri, 2006:251).
Beberapa faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap laju transpirasi antara lain:
Cahaya.
Tumbuhan jauh lebih cepat bertranspirasi bilamana terbuka terhadap cahaya
dibandingkan dalam gelap.
Suhu.
Tumbuhan bertranspirasi lebih cepat pada suhu lebih tinggi.
Kelembapan.
Laju transpirasi juga dipengaruhi oleh kelembaban nisbi udara sekitar tumbuha.
Angin
Dengan adanya angin lembut juga meningkatkan laju transpirasi.
Air tanah.
Tumbuhan tidak dapat terus bertranspirasi dengan cepat jika kelembaban yang
hilang tidak digantikan oleh air segar dari tanah (Kimball. John W. 1990:493).
Transpirasi penting bagi tumbuhan karena berperan dalam hal membantu
meningkatkan laju angkutan air dan garam mineral, mengatur suhu tubuh dengan cara
melepaskan kelebihan panas dari tubuh dan mengatur turgor optimum di dalam sel
(Sasmitamihardja dan Siregar, 1996:61).
C. Alat dan Bahan
1. Percobaan Absorbsi
1) Alat :
a. Potometer
b. Beker gelas
c. Pipet tetes
d. Kapas
2) Bahan :
a. Ranting tanaman Poncosudo
b. Eosin
c. Vaselin
d. Air
2. Percobaan Transpirasi
1) Alat
a. Kertas Kobalt Kloride
b. Klip/Penjepit
c. Stop watch
d. Bunzzen/Lampu Spiritus
e. Korek api
f. Mika kaca tipis
g. Korektor sheet
h. Mikroskop
i. Objek gelas
j. Objek penutup
2) Bahan
a. Daun tanaman

D. Cara Kerja
1. Pengaruh Luas daun terhadap kecepatan absorbsi air
a. Menyiapkan alat dan bahan
b. Melepaskan karet penyumbat pada tabung kaca potometer
c. Menutup mulut pipa kaca utama dengan jari hingga rapat
d. Mengisi tabung kaca potometer dengan air hingga penuh melalui lubang atas
pada tabung kaca potometer
e. Memasukan Ranting daun Poncosuda pada tabung kaca potometer yang kecil
pada bagian atas dan menyumbatnya dengan kapas dan mengolesi vaselin
f. Menutup lubang kaca potometer yang satunya dengan tutup penyumbat lalu
mengolesinya dengan vaselin
g. Membuka mulut pipa kaca utama yang tadinya ditutup jari
h. Memasukan eosin kedalam potometer melalui mulut pipa kaca utama untuk
membaca skala
i. Menempatkan rangkaian potometer ditempat yang tidak terkena sinar matahari
j. Membaca skala setiap 10 menit hingga 3 kali ulangan

2. Hubungan antara banyaknya stomata dengan kecepatan transpirasi


a. Menyiapkan alat dan bahan
b. Mengambil kertas Cobalt chloride dan memperhatikan warna mula-mualnya
c. Mengeringkan kertas Cobalt chloride diatas lampu bunsen
d. Mengamati dan mencatat warna yang terjadi
e. Meletakan kertas Cobalt chloride pada permukaan atas daun dan menjepitnya
dengan klip sambil meyalakan stopwatch
f. Menghentikan stopwatch apabila kertas Cobalt chloride kembali kewarna
semula
g. Mengoleskan lem pada permukaan korektor sheet lalu meletakannya pada
permukaan atas daun dan dibawah daun tepat dibawah kertas Cobalt diletakan
h. Membiarkannya sampai kering lalu melepaskan korektor sheet
i. Mengamati hasil cetakan korektor sheet dibawah mikroskop
j. Menghitung banyaknya stomata
E. Hasil Pengamatan
1. Tabel kecepatan transpirasi pada permukaan atas dan bawah daun beserta jumlah
stomata

Laju transpirasi (detik) Jumlah stomata


Nama
Daun Daun
Tanaman Daun atas Daun bawah
atas Bawah
Eceng
17,5 17,5 169 147,5
gondok
Pisang 39,75 53,75 2,125 167
Ficus sp. 64,5 78 0 61,5
Tanamn
80 60 26,5 173
seperti suji

2. Tabel laju penyerapan air (ml) menurut jumlah/luas daun

Luas Rata-rata laju


Kelompok Daun penyerapan air Keterangan
(ml)

1 231,96 0,7

192.47
4 0 Terpapar Cahaya (terang)

298,45
7 0,028

384,68
2 0,12
Ternaungi (dibawah pohon)
5 169,84 0,29

256,83
3 0,18
Tanpa Cahaya (Gelap)
305,25
6 0,18
Grafik 1. Pengaruh Luas Daun terhadap Laju Absorpsi per 30 menit pada Tempat Terpapar
Cahaya

Grafik Pengaruh Luas Daun terhadap Laju Absorpsi per 30 menit pada Tempat Terang
0.8

0.7

0.6

0.5

0.4
Laju Absorbsi Air per 30 menit (ml) laju Absorpsi
0.3

0.2

0.1

0
192.47

Luas Daun (cm2)

Grafik 2. Pengaruh Luas Daun terhadap Laju Absorpsi Air per 30 menit pada Tanpa
Cahaya (tertutup)
Pengaruh Luas Daun terhadap Laju Absorpsi Air per 30 menit pada Tanpa Cahaya (tertutup)
0.2
0.18
0.16
0.14
0.12
0.1
Laju Absorbsi Air per 30 menit (ml) Laju Absorpsi
0.08
0.06
0.04
0.02
0
256.83

Luas Daun (cm2)

Grafik 3. Pengaruh Luas Daun terhadap Laju Absorpsi per 30 menit pada tempat yang
Ternaungi Pohon

Pengaruh Luas Daun terhadap Laju Absorpsi per 30 menit pada tempat yang Ternaungi Pohon
0.35

0.3

0.25

0.2

Laju Absorbsi Air per 30 menit (ml) Laju Absorpsi


0.15

0.1

0.05

0
169.84

Luas Daun (cm2)

Grafik 4. Pengaruh Intensitas Cahaya terhadap Laju Absorpsi Air


Pengaruh Inte nsitas Cahaya terhadap Laju Absorpsi Air

Laju
Laju Absorpsi Air per 30 menit (ml)
Absorpsi
Air

Intensitas Cahaya

F. Pembahasan
Pada percobaan pertama yaitu tentang luas daun dan absorbsi kami melakukan
pengamatan tentang pengaruh luas daun terhadap daya absorbsi pada tumbuhan.
Dalam percobaan kami menggunakan potometer untuk mngetahui laju kemampuan
absorbsi pada tumbuhan tersebut. Kami membagi percobaan pada 3 pengamatan,
pengamatan pertama dilakukan di daerah yang terkena cahaya, yang kedua dilakukan
di bawah pohon beringin dan yang ketiga yaitu di tempat yang tidak terkena cahaya.
Dalam pengamatan ini kami memasukkan ranting tumbuhan ke dalam potometer ynag
telah berisi air dan disumbat dengan kapas dan vaselin sehingga tumbuhan dapat
menyerap air dalam potometer. Untuk mempermudah dalam membaca skala pada
potometer, kami menambahkan eosin pada ujung pipa potometer.
Data yang di amati adalah laju absorbsi selama 30 menit setiap 10 menit dilakukan
pencatatan perubahan skala pada potometer. Untuk mengetahui pengaruh luas daun
terhadap absorbsi air, maka kami harus menghitung luas daun keseluruhan terlebih
dahulu. Cara yang pertama dilakukan yaitu dengan membandingkan luas daun dengan
massa daun, langkah pertama, membuat cetakan daun pada kertas hvs buram. Kedua,
timbang satu per satu cetakan daun pada timbangan digital. Ketiga, membuat cetakan
persegi dengan kertas hvs buram seluas 100cm2 . Keempat, timbangan cetakan persegi
tersebut dengan timbangan digital. Kelima, hitung luas daun dengan rumus sebagai
berikut :

massa daun
luas daun= x luas persegi
massa persegi

Pada pengukuran luas daun tumbuhan dalam kondisi terang diperoleh rata-rata luas
daun sebesar 240,96 cm2 dan pada kondisi di bawah pohon beringin sebesar 144,35
cm2 dan pada kondisi tanpa cahaya sebesar 281,04 cm2.
Dari percobaan diperoleh bahwa rata-rata laju absorpsi pada tempat yang terpapar
sinar matahari yang diukur selama 30 menit yaitu 0,07 ml; 0 ml; 0,028 ml. Tempat
yang kedua adalah tempat yang tidak terpapar sinar matahari yaitu di bawah tangga
laboratorium biologi lantai 1 diperoleh bahwa rata-rata laju absorpsi pada tempat yang
tanpa cahaya (gelap) yang diukur selama 30 menit yaitu 0,18 ml ; 0,18 ml.
Kemudian pada tempat yang ternaungi yaitu di bawah pohon beringin diperoleh
bahwa rata-rata laju absorpsi pada tempat yang ternaungi yang diukur selama 30 menit
yaitu 0,12 ml ; 0,29 ml.
Dari data hasil praktikum dapat diketahui bahwa laju penyerapan air pada tanaman
poncosudo yang berada pada ketiga tempat yang berbeda mempunyai laju penyerapan
air yang berbeda. Hal ini dikarenakan pada ketiga tempat tersebut masing masing
memiliki tingkat intensitas cahaya yang berbeda.
Hasil percobaan yang didapatkan sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh
Dwijoseputro (1978 :78) yang menyatakan bahwa absorbsi air dipengaruhi oleh
intensitas cahaya. Semakin tinggi tingkat intensitas cahaya maka laju penyerapan air
oleh tanaman semakin tinggi. Selain itu dapat diketahui bahwa semakin banyak waktu
yang digunakan dalam percobaan ini, maka akan semakin banyak pula absorbsi air
yang dilakukan oleh tumbuhan tersebut.
Hubungan luas daun dengan kecepatan transpirasi dari hasil percobaan didapatkan
data bahwa semakin luas permukaan daun maka kecepatan transpirasi semkin cepat.
Hal tersebut dapat dilihat dari grafik hubungan antara luas permukaan daun terhadap
laju transpirasi mengalami kenaikan seiring dengan bertambahnya luas daun.
Hal tersebut sesuai dengan teori bahwa laju absorpsi dipengaruhi oleh faktor-faktor
internal meliputi ukuran daun, tebal tipisnya daun, ada tidaknya lapisan lilin pada
permukaan daun, banyak sedikitnya bulu pada permukaan daun, banyak sedikitnya
stoma, bentuk dan lokasi stomata (Dwidjoseputro, 2009:92).
Pada percobaan kedua yaitu tentang transpirasi, dengan tujuan untuk mengetahui
hubungan banyaknya stomata terhadap kecepatan transpirasi. Langkah pertama yang
kami lakukan adalah mengubah warna kertas kobalt kloride dari warna merah muda
menjadi biru dengan cara memanaskan menggunakan lampu spiritus atau bunzen.
Setelah warna berubah, kertas kobalt ditempelkan pada daun menggunakan penjepit
dan menghitung waktu perubahan warna kertas kobalt menjadi warna semula.
Kegiatan ini dilakukan pengulangan sebanyak 2 kali. Pada masing-masing daun
bagian atas dan bawah diolesi dengan korektor sheet (olesan tipis merata) di sebagian
permukaan saja dan membiarkannya kering, setelah kering kertas mika dilepas dan
mengamatinya dibawah mikroskop untuk melihat jumlah stomata pada permukaan
bawah maupun atas pada daun. Kemudian menghitung jumlah stomatanya.
Pada pengamatan dengan menggunakan daun enceng gondok, rata-rata laju
transpirasi pada permukaan atas dan permukaan bawah daun sama sebesar 17,5 detik.
Rata-rata jumlah stomata yang terhitung pada permukaan atas sebanyak 169,
sedangkan pada permukaan bawah sebanyak 147,5.
Ciri-ciri daun enceng gondok adalah permukaan daunnya licin dan berwarna hijau.
Pada tanaman enceng gondok jumlah stomata yang ditemukan pada permukaan atas
lebih banyak dibandingkan dengan permukaan bawah daun. Hal ini dikarenakan
tanaman air memiliki bentuk daun yang khas juga, biasanya berukuran lebar dan tipis,
dengan banyak stomata di bagian epidermis atas.Banyaknya stomata tersebut
memudahkan transpirasi yang dilakukan tumbuhan atas kelebihan air.
Berdasarkan pengamatan dan pengkajian teori yang dilakukan, stomata pada eceng
gondok banyak di epidermis atas. Ini merupakan adapatasi bagi kelompok tumbuhan
air seperti eceng gondok. Tumbuhan tersebut terus menerus mendapatkan air sehingga
perlu diimbangi dengan penguapan yang tinggi. Stomatanya yang di atas membantu
mengurangi kandungan air tersebut, karena jika tidak, tumbuhan bisa busuk.
Pengamatan yang selanjutnya pada tanaman daun pisang. Rata-rata laju transpirasi
pada permukaan atas sebesar 39,75 dengan rata-rata jumlah stomata sebanyak 2,13
sedangkan laju transpirasi pada permukaan bawah daun sebesar 53,75 dengan rata-rata
jumlah daun sebesar 167. Ciri-ciri daun pada tanaman pisang adalah adanya lapisan
lilin, daunnya tipis dan berwarna hijau.
Pada pengamatan menggunakan daun Ficus sp. rata-rata laju transpirasi pada
permukaan atas sebesar 64,5 dengan rata-rata jumlah stomata sebanyak 0 sedangkan
laju transpirasi pada permukaan bawah daun sebesar 78 dengan rata-rata jumlah daun
sebesar 61,5. Ciri-ciri daun tanaman Ficus sp. adalah sedikit trikoma, tipis, dan yang
diamati adalah pada daun yang masih muda.
Pada tanaman yang daunnya mirip daun suji rata-rata laju transpirasi pada
permukaan atas sebesar 80 dengan rata-rata jumlah stomata sebanyak 26,5 sedangkan
laju transpirasi pada permukaan bawah daun sebesar 60 dengan rata-rata jumlah daun
sebesar 173. Ciri-ciri daun pada tanaman tersebut adalah daun berwarna hijau,tipis,
permukaan licin tanpa adanya lapian lilin ataupun trikoma.
Dari hasil pengamatan pada tanaman darat, stoma yang ditemukan lebih banyak di
permukaan bawah daun daripada permukaan atas daun. Hal ini dikarenakan adaptasi
tanaman yang hidup di darat untuk membantu tumbuhan mempertahankan suhu
tubuhnya agar tidak terlalu panas karena sinar matahari langsung. serta mengurangi
penguapan berlebihan. Hal ini sesuai dengan teori yang ada bahwa stomata biasanya
ditemukan pada bagian tumbuhan yang berhubungan dengan udara. Pada umunya
stomata tumbuhan darat lebih banyak terdapat pada epidermis daun bagian bawah.
Pada banyak jenis tumbuhan bahkan tidak ada stomata sama sekali pada epidermis
daun bagian atas (Lovelles, 2010:119).
Laju hilangnya air dari tumbuhan sangat beragam, dipengaruhi oleh siang hari dan
musim. Laju transpirasi ditentuka oleh struktur daun dan beberapa faktor lingkungan
(Tjitrosomo, 1985:107).

G. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum tentang luas daun, absorpsi dan transpirasi dapat
disimpulkan bahwa semakin besar luas daun maka kecepatan laju absorpsi semakin
cepat dan hubungan antara banyaknya stomata dengan kecepatan transpirasi adalah
semakin banyak jumlah stomata maka kecepatan transpirasi semakin cepat.

Diskusi kecepatan absorbsi air

1. Dengan melihat skor reratanya dari besarnya absorbsi air dari beberapa
perlakuan jumlah (luas) daun , apakah ada pola hubungan (kecenderungan )
tertentu antara volume (laju) penyerapan air dengan jumlah luas daun ? Pada
perlakuan mana penyerapan air paling besar ?

Jawab : Jumlah luas daun akan berpengaruh terhadap absorbsi , semakin besar luas
permukaan daun akan semakin cepat pula absorbsi, karena kebutuhan air banyak
akibat dari tingginya laju transpirasi pula. Pola hubungan antara volume ( laju)
pertumbuhan penyerapan air dipengaruhi oleh sinar matahari dan kelembapan,
apabila transpirasi itu di tempat yang banyak terkena sinar matahari maka
transiprasi akan cepat, maka absorbsi juga akan tinggi.

2. Dari hasil ujinya,apakah bukti yang nyata tentang ada tidaknya perbedaan
kecepatan absorbsi air pada antar perlakuan ?

Jawab : Ada. Dari rata-rata volume penyerapan air terlihat adanya perbedaan
jumlah penyerapan oleh tumbuhan dengan kuantitas daun yang berbeda.

3. Mengapa terjadi gejala tersebut ?

Jawab : Karena daun yang lebih banyak akan mengalami transpirasi yang lebih
cepat, sehingga untuk mengimbangi pengeluaran air maka akan mengabsorbsi
dalam jumlah yang lebih banyak pula.

4. Apa yang saudara daoat simpulkan dari hasil temuan saudara ?

Jawab : Pada tumbuhan darat, seperti tumbuhan pisang (Musa sp.), Ficus sp. dan
daun suji jumlah stomata banyak ditemukan dipermukaan bagian bawah, sedangkan
pada tumbuhan air sebaliknya.

Diskusi Transpirasi

1. Bagaiman jumlah stomata antara epidermis daun bagian bawah dan atas?
Jawab : jumlah stomata pada epidermis daun bagian bawah lebih banyak daripada
epidermis atas

2. Bagaimana pula dengan laju transpirasi keduanya ?

Jawab : semakin banyak jumlah stomata maka semakin cepat laju transpirasinya.

3. Apa yang saudara tangkap jika dijumpai fakta :


a. Jumlah stomata tidak berbeda tetapi laju transpirasinya sama?
b. Jumlah stomata berbeda tetapi laju transpirasinya sama?
c. Jika jumlah stomata lebih sedikit tetapi laju transpirasinya lebih cepat ?
d. Jika jumlah stomata lebih banayk dan lajunya pun semakin besar ?

Jawab :

a. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses transpirasi, mungkin salah


satu faktor tersebut menyebabkan laju transpirasi sama walaupun jumlah
stomata berbeda. Faktor tersebut misal suhu dan kelembapan daun tanaman
tersebut berbeda.
b. Hal tersebut dapat terjadi karena luas permukaan daun antar keduanya berbeda
atau mungkin bisa dipengaruhi oleh faktor lain yang dapat mempengaruhi laju
transpirasi. Seperti ada tidaknya lapisan lilin pada permukaan daun.
c. Hal tersebut tidak sesuai dengan teori karena laju transpirasi berbanding lurus
dengan jumlah stomata daun.
d. Hal tersebut sesuai dengan teori bahwa semakin banyak jumlah stomata maka
kecepatan transpirasi akan semakin cepat karena transpirasi terjadi melalui
stomata.
4. Kesimpulan apa yang saudara nyatakan dari hasil percobaan ini ?

Jawab : jumlah stomata pada daun mempengaruhi kecepatan transpirasi. Semakin banyak
jumlah stomata maka kecepatan transpirasi semakin cepat.
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N.A. Jane B. Reece and Lawrence G. Mitchell. 2000. Biologi. Edisi 5. Jilid 3.
Alih Bahasa: Wasman manalu. Jakarta : Erlangga..

Dwijoseputro. 1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia

E.S., Sri Mulyani. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Penerbit Kanisus.

Kimball, John W.1990.Biologi Jilid 1. Jakarta:Erlangga

Lakitan, B. 2007. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Loveless, P.R. 2010. Principles of Biology Plants in Tropical Area. New York: Mac
Millan Publishing Inc.

Masdar. 2010. Pengaruh Lama Beratnya defisiensi Kalium Terhadap Pertumbuhan


Tanaman Durian (Durio zibethinus). Jurnal Akta Agrosia Vol.6, No. 2. Fakultas
Pertanian Universitas Bengkulu, 2010.

Sasmitamihardja, Dardjat dan Arbayah H.S. 1990. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan.


Bandung: FMIPA-ITB.

Wanggai, Frans. 2007. Manajemen Hutan. Jakarta : Grasindo


LAMPIRAN

Gambar 1. Daun tanaman yang diuji Gambar 2. Kertas Kobalt Kloride

Gambar 4. Kertas Kobalt Kloride ditutup ke


Gambar 3. Kertas kobalt kloride
permukaan daun
dikeringkan

Gambar 5. Permukaan daun ditutup dengan Gambar 6. Mika setelah ditempel pada
mika tipis permukaan daun
Gambar7. Epidermis permukaan bawah Gambar8. Epidermis permukaan atas daun
daun ulangan ke 1 ulangan ke 1

Gambar9. Epidermis permukaan bawah Gambar10. Epidermis permukaan atas daun


daun ulangan ke 2 ulangan ke 2

Gambar 11. Potometer dan Gambar 12. Skala potometer yang diberi
daun poncosudo eosin