Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

MANAJEMEN AGROEKOSISTEM
DI DESA JATIMULYO KECAMATAN LOWOKWARU KOTA
MALANG

Disusun Oleh :
KELOMPOK M-4

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2017
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
MANAJEMEN AGROEKOSISTEM
DI DESA JATIMULYO KECAMATAN LOWOKWARU KOTA
MALANG

Nama Anggota :
1. Siti Aisyah (155040200111022)
2. Choirun Nisa (155040200111022)
3. Refri Fahmi Kurnia (155040200111087)
4. Izza Azkiya Rachma (155040200111099)
5. Muhammad Hadi Syarifuddin (155040200111144)
6. Kharisma Ratu (155040200111152)
7. Gunawan Wibisono (155040201111025)
8. Desy Ayu Puspita Sari (155040201111052)
9. Susila Dewi Agustin (155040201111219)
10. Yusup Agung Sutejo (155040201111222)

Disetujui Oleh :

Asisten Aspek Tanah Asisten Aspek BP Asisten Aspek HPT

Tio Dwi Tanto Akbar Hidayatullah Zaini Bagas Prima Yudhanta


115040200111193 156040200111005 145040201111073

1
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.............................................................................................................i
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................iii
DAFTAR TABEL...................................................................................................iv
I. PENDAHULUAN...........................................................................................1
1.1. Latar Belakang..........................................................................................1
1.2. Tujuan Praktikum......................................................................................1
1.3. Manfaat Praktikum....................................................................................1
II. TINJAUAN PUSTAKA...................................................................................2
2.1. Pengertian Agroekosistem.........................................................................2
2.2. Pengertian Hama, Serangga Lain dan Musuh Alami................................2
2.3. Macam-Macam Musuh Alami...................................................................3
2.4. Hama dan Penyakit Penting pada Agroekosistem.....................................3
2.5. Pengaruh Populasi Musuh Alami dan Serangga Lain Terhadap
Agroekosistem.....................................................................................................4
2.6. Agroekosistem Lahan Basah.....................................................................5
2.7. Agroekosistem Lahan Kering....................................................................5
2.8. Manajemen Lahan Basah..........................................................................6
2.9. Manajemen Lahan Kering.........................................................................7
2.10. Pengertian Kualitas dan Kesehatan Tanah.............................................8
2.11. Indikator Kualitas dan Kesehatan Tanah...............................................9
III. METODE PELAKSANAAN......................................................................11
3.1. Waktu, Tempat dan Diskripsi Lokasi Pengamatan Secara Umum..........11
3.2. Alat dan Bahan........................................................................................11
3.3. Cara Kerja................................................................................................13
3.4. Analisa Perlakuan....................................................................................18
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...................................................................22
4.1. Kondisi Umum Wilayah..........................................................................22
4.2. Analisis Keadaan Agroekosistem............................................................22
4.3. Pembahasan Umum.................................................................................22
4.4. Rekomendasi...........................................................................................22
V. PENUTUP......................................................................................................23
5.1. Kesimpulan..............................................................................................23
5.2. Saran........................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................24
LAMPIRAN...........................................................................................................26
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Hasil Pengamatan Anthropoda.................................................................22
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat
danhidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Besar
Praktikum Manajemen Agroekosistem ini dengan lancar dan tepat waktu.
Laporan ini merupakan tugas akhir dari praktikum Manajemen
Agroekosistem. Laporan ini merupakan hasil survei dan pengamatan yang
dilakukan di lahan Jatimulyo dan sekitar Malang. Dalam penyusunan
penulisan laporan ini banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak,
buku, jurnal dan, berbagai situs yang kami gunakan sebagai panduan
untuk menulis laporan ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulisan laporan ini
Penulis sadar bahwa dalam laporan ini masih banyak kekurangan
dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kami sebagai penyusun
laporan ini meminta maaf apabila dalam penulisan laporan ini terdapat
banyak kesalahan dan semoga makalah ini bermanfaat bagi semua
mahasiswa Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.

Malang, 30 Mei 2017


Penulis
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Tujuan Praktikum
1.3. Manfaat Praktikum
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Agroekosistem
Agroekosistem adalah suatu komunitas tanaman dan hewan yang
berhubungan dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun kimia
yang telah diubah oleh manusia untuk menghasilkan pangan, serat, kayu
bakar, dan produk pertanian lainnya (Agus F., 2008). Agroekosistem
merupakan salah satu bentuk ekosistem binaan manusia yang bertujuan
menghasilkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan
manusia (Arief, 1994).
Agroecosystem is a site or integrated region of agricultural
production-a farm, for example-understood as an ecosystem (Smith, R.L.T
M, and Smith, 2005). Terjemah : Agroekosistem adalah suatu situs atau
wilayah yang sudah terintegrasi oleh produksi pertanian-contohnya suatu
pertanian ternak-dipahami sebagai suatu ekosistem. Agroecosystem is an
ecosystem under agricultural management, connected to other ecosystems
(OECD, 2001). Terjemah : Agroekosistem adalah suatu ekosistem yang
berada dibawah manajemen pertanian, yang tersambung dengan ekosistem
lainnya..
2.2. Pengertian Hama, Serangga Lain dan Musuh Alami
Hama adalah hewan yang mengganggu atau merusak tanaman baik
secara langsung atau tidak langsung, sehingga pertumbuhan atau
perkembangan tanaman terganggu (Setiawati W., 2004). Pests is any
organisms (animal or plant) that spread disease, cause destruction, or is
otherwise a nuisance (Pretty J., 2005). Terjemah : Hama adalah suatu
organisme baik hewan atau tumbuhan yang menyebarkan penyakit,
menyebabkan kerusakan, atau sebaliknya adalah gangguan. Serangga lain
adalah serangga bukan hama yang hidup secara bebas dalam suatu
lingkungan dan tidak bersifat merugikan.
Musuh alami merupakan organisme yang dapat ditemukan di alam
yang dapat membunuh serangga sekaligus, melemahkan serangga,
sehingga dapat mengakibatkan kematian pada serangga dan mengurangi
fase reproduktif pada serangga (Setiawati W., 2004). Natural enemies are
organisms that kill, decrease the reproductive potential of, or otherwise
reduce the number of of another organisms (OECD, 2001). Terjemah :
Musuh alami adalah organisme yang membunuh, mengurangi potensi
atau kemampuan reproduktif, atau sebaliknya mengurangi jumlah dari
organisme lainnya.
2.3. Macam-Macam Musuh Alami
Musuh alami merupakan organisme yang dapat ditemukan di alam yang
dapat membunuh serangga sekaligus, melemahkan serangga, sehingga dapat
mengakibatkan kematian pada serangga dan mengurangi fase reproduktif pada
serangga. Menurut Setiawati, W. et. al. (2004), ditinjau dari fungsinya, musuh
alami dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu :
1. Predator
Predator adalah binatang (serangga dan binatang lain bukan serangga)
berukuran lebih besar dari mangsanya yang memburu, memakan atau
menghisap cairan tubuh binatang lain sehingga menyebabkan kematian.
Terkadang disebut sebagai predator berguna sebab memangsa hama tanaman.
Contoh dari predator adalah capung dan laba-laba.
2. Parasitoid
Parasitoid adalah serangga yang hidup sebagai parasit di dalam atau pada
tubuh serangga lain (serangga inangnya), dan membunuhnya secara pelan-
pelan. Parasitoid berguna karena membunuh serangga hama. Ada beberapa
jenis tawon kecil yang berperan sebagai parasitoid beberapa hama. Parasitoid
yang aktif adalah pada stadia larva sedangkan imago hidup bebas bukan
sebagai parasit dan bertahan hidup dengan nectar.
3. Pathogen
Pathogen adalah mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi dan
menimbulkan penyakit terhadap OPT. Secara spesifik, mikroorganisme yang
dapat menimbulkan penyakit pada serangga disebut dengan entomopathogen,
pathogen berguna karena mematikan banyak jenis serangga hama tanaman,
seperti jamur, bakteri dan virus. Pathogen yang bisa mengendalikan hama dan
penyakit disebut dengan pestisida microbial
2.4. Hama dan Penyakit Penting pada Agroekosistem
Hama dan penyakit penting merupakan suatu hama atau penyakit yang
seringkali muncul pada suatu agroekosistem yang dapat menurunkan hasil
produksi pertanian dari suatu agroekosistem tersebut. Keanekaragaman
hayati, khususnya musuh alami, akan dapat memacu sinergisitas yang
dapat membantu di dalam suatu agroekosistem dengan meningkatkan
faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh. Menurut Altieri M.A (1999),
populasi serangga hama dapat diturunkan di bawah ambang ekonomi yaitu
dengan meningkatkan populasi musuh alami atau yang memiliki
pencegahan langsung terhadap serangga herbivora. Oleh sebab itu, perlu
dilakukannya identifikasi tipe keanekaragaman hayati untuk memelihara
atau meningkatkan pengaruh ekologis dan menjaga kestabilan
agroekosistem.
2.5. Pengaruh Populasi Musuh Alami dan Serangga Lain Terhadap
Agroekosistem
Menurut Smith dalam Johnson (1987), musuh alami yang berupa
predator dan parasitoid berperan membantu mengendalikan populasi
serangga hama yang menyerang tanaman padi. Dengan kata lain, musuh
alami berperan penting dalam pengendalian hayati (biological control),
yaitu penggunaan musuh alami, baik yang diintroduksikan atau
dimanipulasi untuk mengendalikan serangga hama kesehatan dan
lingkungan hidup. Oleh karena itu, upaya konservasi (pelestarian) harus
dilakukan agar musuh alami dapat berperan secara optimsl dalam
pengendalian hayati.
Menurut Untung (2006), setiap jenis hama secara dikendalikan oleh
kompleks musuh alami yang meliputi predator, parasitoid dan patogen
hama. Dibandingkan dengan penggunaan pestisida, penggunaan musuh
alami bersifat alami, efektif, murah, dan tidak menimbulkan dampak
negatif terhadap kesehatan dan lingkungan hidup.Apabila musuh alami
mampu berperan sebagai pemangsa secara optimal sejak awal, maka
populasi hama dapat berada pada tingkatan equilibrium position atau
fluktuasi populasi hama dan musuh alami menjadi seimbang sehingga
tidak akan terjadi ledakan hama (ONeil, et al. dalam Maredia, et al.,
2003).
Kemampuan memangsa, siklus hidup, laju pertumbuhan, populasi dan
umur serangga dewasa, maka suatu predator dapat menurunkan populasi
suatu serangga hama secara signifikan. Kemampuan musuh-musuh alami
sebenarnya mampu mengendalikan lebih dari 99% serangga agar tetap
berada pada jumlah yang tidak merugikan, sehingga Pengendalian Hama
Terpadu (PHT) secara sengaja mendayagunakan dan memperkuat peranan
musuh alami sebagai pengendali ledakan populasi serangga (Marwoto
dkk. 1991)
2.6. Agroekosistem Lahan Basah
Menurut Suparman (2012) lahan sawah adalah jenis lahan basah,
karena ketika untuk penanaman padi sangat membutuhkan banyak air
untuk menggenangi permukaannya. Karena kondisi digenangi, sudaah
pasti kandungan air dalam tanah pun cukup tinggi. Oleh karena itu, sistem
penataan lahan dan penentuan jenis komoditas di lahan basah sangat
bergantung pada tipe lahan dan kondisi airnya.
Luas lahan basah di Indonesia diperkirakan 20,6 juta ha atau sekitar
10,8% dari luas daratan Indonesia (Rahmawaty et al. 2014). Pada
umumnya lahan basah dikelola menjadi areal pertanian ataupun
perkebunan. Sebagian besar lahan basah dimanfaatkan masyarakat untuk
budi daya tanaman perkebunan seperti kelapa sawit, karet, disusul tanaman
pangan meliputi padi, jagung, selanjutnya tanaman hortikultura buah.
Sekitar 9,53 juta lahan basah di Indonesia berpotensi untuk lahan
pertanian, dengan rincian 6 juta ha berpotensi untuk tanaman pangan dan
4,186 juta ha telah direklamasi untuk berbagai penggunaan terutama
transmigrasi (Dakhyar et al. 2012). Luasnya lahan basah yang telah
dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan pemukiman menjadikan lahan
ini dapat mengalami kerusakan jika tidak dikelola dengan tepat dan
terpadu. Penggunaan lahan basah harus direncanakan dan dirancang secara
cermat dengan asas tata guna lahan berperspektif jangka panjang
(Hardjoamidjojo & Setiawan 2001).
Hardjoamidjojo & Setiawan (2001), mengatkan lahan basah menjadi
sangat peka terhadap perubahan yang dilakukan manusia karena lahan
basah memiliki peran penting bagi kehidupan manusia dan margasatwa
lain. Fungsi lahan basah tidak hanya untuk sumber air minum dan habitat
beraneka ragam makhluk, tapi memiliki fungsi ekologis seperti pengendali
banjir, pencegah intrusi air laut, erosi, pencemaran, dan pengendali iklim
global. Dengan demikian, kehati-hatian dan pengelolaan tepat guna sangat
diperlukan dalam pengelolaan lahan basah.
2.7. Agroekosistem Lahan Kering
Menurut Puspita (2010) tegalan adalah suatu daerah dengan lahan
kering yang bergantung pada pengairan air hujan, ditanami tanaman
musiman atau tahunan dan terpisah dari lingkungan dalam sekitar rumah.
Lahan tegalan tanahnya sulit untuk dibuat pengairan irigasi karena
permukaan yang tidak rata. Pada saat musim kemarau lahan tegalan akan
kering dan sulit untuk ditubuhi tanaman pertanian.
Lahan kering sendiri mempunyai pengertian sebidang lahan dengan
keterbatasan sumber air sepanjang tahun dan tidak pernah dalam kondisi
tergenang. Keterbatasan sumber air berarti kandungan lengasya (soil
moisture content) selalu berada di bawah kadar air kapasitas lapangan.
Perbandingan jumlah curah hujan pada saat musim hujan yang tidak dapat
mengimbangi kebutuhan air sepanjang tahun (terutama untuk kebutuhan
evaporasi dan transpirasi) juga sering digunakan untuk menjelaskan istilah
lahan kering.
Pada umumnya usaha tani lahan kering sering dihubungkan dengan
produktifitasnya yang rendah. Salah satu sebabnya adalah
ketergantungannya pada curah hujan sebagai satu satunya sumber air. Di
samping itu, lahan kering selalu terdiri dari lahan dengan topografi tidak
merata yang mempunyai lereng cukup besar sehingga keberadaan solum
tanah atas selalu terusik oleh erosi yang terjadi. Proses erosi dan
deforestasi merupakan dua kejadian berkaitan erat yang merupakan
penyebab utama terjadinya penurunan produktifitas dan daya dukung
lahan di kawasan hulu. Sementara itu, di sisi lain proses sedimentasi dan
pendangkalan, banjir, serta penurunan fungsi tanah sebagai lumbung air
selalu timbul di kawasan hilir
2.8. Manajemen Lahan Basah
Lahan basah atau wetland adalah wilayah-wilayah di mana tanahnya jenuh dengan
air, baik bersifat permanen (menetap) atau musiman. Wilayah-wilayah itu sebagian atau
seluruhnya kadang-kadang tergenangi oleh lapisan air yang dangkal. Digolongkan ke
dalam lahan basah ini, di antaranya, adalah rawa-rawa (termasuk rawa bakau), payau,
dan gambut. Akan tetapi dalam pertanian dibatasi agroekologinya sehingga lahan basah
dapat di definisikan sebagai lahan sawah. Tanah sawah adalah tanah yang digunakan
untuk bertanam padi sawah, baik terus menerus sepanjang tahun maupun bergiliran
dengan tanaman palawija. Segala macam jenis tanah dapat disawahkan asalkan air
cukup tersedia. Selain itu padi sawah juga ditemukan pada berbagai macam
iklim yang jauh lebih beragam dibandingkan dengan jenis tanaman lain. Karena
itu tidak mengherankan bila sifat tanah sawah sangat beragam sesuai dengan sifat tanah
asalnya.
Tanah sawah dapat berasal dari tanah kering yang dialiri kemudian disawahkan
atau dari tanah rawa-rawa yang dikeringkan dengan membuat saluran-saluran drainase.
Sawah yang airnya berasal dari air irigasi disebut sawah irigasi, sedang yang menerima
langsung dari air hujan disebut sawah tadah hujan. Di daerah pasang surut ditemukan
sawah pasang surut, sedangkan yang dikembangkan didaerah rawa-rawa lebak disebut
sawah lebak. Penggenangan selama pertumbuhan padi dan pengolahan tanah pada
tanah kering yang disawahkan, dapat menyebabkan berbagai perubahan sifat tanah,
baik sifat morfologi, fisika, kimia, mikrobiologi maupun sifat-sifat lain sehingga sifat-
sifat tanah dapat sangat berbeda dengan sifat-sifat tanah asalnya. Sebelum tanah
digunakan sebagai tanah sawah, secara alamiah tanah telah mengalami proses
pembentukan tanah sesuai dengan faktor-faktor pembentuk tanahnya, sehingga
terbentuklah jenis- jenis tanah tertentu yang masing-masing mempunyai sifat
morfologi tersendiri.
Pada waktu tanah mulai disawahkan dengan cara penggenangan air baik waktu
pengolahan tanah maupun selama pertumbuhan padi, melalui perataan, pembuatan
teras, pembuatan pematang, pelumpuran dan lain-lain maka proses pembentukan tanah
alami yang sedang berjalan tersebut terhenti. Semenjak itu terjadilah proses
pembentukan tanah baru, dimana air genangan di permukaan tanah dan metode
pengelolaan tanah yang diterapkan, memegang peranan penting. Karena itu tanah
sawah sering dikatakan sebagai tanah buatan manusia. (Hardjowigno dan Endang,
2007)
Secara umum, sebuah lahan basah atau wetlands banyak dimanfaatkan
untuk kepentingan pertanian, dimana membutuhkan sebuah lahan yang
memang selalu terisi dan memilki kandungan air yang tinggi serta
memiliki ciri-ciri air tanah yang baik. Tanaman yang paling banyak
ditanam dan juga dibudidayakan pada sebuah lahan basah adalah tanaman
padi, yang membutuhkan sebuah lahan yang selalu memiliki kandungan
air tetap, agar bisa tumbuh dan akhirnya akan memberikan hasil panen
yang berlimpah.
2.9. Manajemen Lahan Kering
Penciri agroekosistem tidak hanya mencakup unsur-unsur alami seperti iklim,
topografi, altitude, fauna, flora, jenis tanah dan sebagainya akan tetapi juga mencakup
unsur-unsur buatan lainnya. Agroekosistem lahan kering dimaknai sebagai wilayah
atau kawasan pertanian yang usaha taninya berbasis komoditas lahan kering selain padi
sawah. Kadekoh (2010) mendefinisikan lahan kering sebagai lahan dimana
pemenuhan kebutuhan air tanaman tergantung sepenuhnya pada air hujan dan tidak
pernah tergenang sepanjang tahun. Pada umumnya istilah yang digunakan untuk
pertanian lahan kering adalah pertanian tanah darat, tegalan, tadah hujan dan huma.
Potensi pemanfaatan lahan kering biasanya untuk komoditas pangan seperti jagung,
padi gogo, kedelai, sorghum, dan palawija lainnya. Untuk pengembangan
komoditas perkebunan, dapat dikatakan bahwa hamper semua komoditas perkebunan
yang produksinya berorientasi ekspor dihasilkan dari usaha tani lahan kering.
Prospek agroekosistem lahan kering untuk pengembangan peternakan cukup baik
(Bamualim,2004). Lahan kering mempunyai potensi besar untuk pertanian,
baik tanaman pangan, hortikultura, maupun tanaman perkebunan. Pengembangan
berbagai komoditas pertanian di lahan kering merupakan salah satu pilihan strategis
untuk meningkatkan produksi dan mendukung ketahanan pangan nasional (Mulyani
dkk, 2006). Namun demikian, tipe lahan ini umumnya memiliki produktivitas rendah,
kecuali pada lahan yang dimanfaatkan untuk tanaman tahunan atau perkebunan. Pada
usaha tani lahan kering dengan tanaman semusim, produktivitas relatif rendah serta
menghadapi masalah sosial ekonomi seperti tekanan penduduk yang terus meningkat
dan masalah biofisik (Sukmana, dalam Syam, 2003).
Hasil pertanian dan juga perkebunan dari sebuah pertanian lahan
kering ini biasanya sangat tergantung pada pembagian musim dan kondisi
cuaca. Beberapa kondisi cuaca dimana tidak turun hujan selama berhari-
hari akan menyebabkan tanaman yang dikembangkan pada lokasi
pertanian lahan kering ini akan menjadi mati, kering dan juga tidak
memberikan hasil yang maksimal sehingga masyarakat selalu mencari cara
menyuburkan tanah kering. Karena itu, meskipun memiliki variasi dari
hasil pertanian yang beragam, perawatan dari tanaman di pertanian lahan
kering ini juga harus diperhatikan dengan baik, agar tidak terjadi gagal
panen.
2.10. Pengertian Kualitas dan Kesehatan Tanah
Magdoff ( 2001) memberikan batasan kualitas tanah adalah kapasitas suatu
tanah untuk berfungsi dalam batas-batas ekosistem untuk melestarikan produktivitas
biologi, memelihara kualitas lingkungan, serta meningkatkan kesehatan tanaman dan
hewan. Johnson et al.(1997) mengusulkan bahwa kualitas tanah adalah ukuran kondisi
tanah dibandingkan dengan kebutuhan satu atau beberapa spesies atau dengan beberapa
kebutuhan hidup manusia. Kualitas tanah diukur berdasarkan pengamatan kondisi
dinamis indikator-indikator kualitas tanah. Pengukuran indikator kualitas tanah
menghasilkan indeks kualitas tanah. Indeks kualitas tanah merupakan indeks yang
dihitung berdasarkan nilai dan bobot tiap indikator kualitas tanah. Indikator-indikator
kualitas tanah dipilih dari sifat-sifat yang menunjukkan kapasitas fungsi tanah.
Sedangkan kesehatan tanah bisa diartikan suatu keadaan tanah yang
dapat mendukung pertumbuhan tanaman secara sehat tanpa adanya
gangguan apapun. Ditinjau dari sudut kesehatan tanah, tanah dipandang
sebagai tempat kehidupan, dimana selain faktor fisik dan kimia, kehidupan
jasad-jasad makro dan mikro di dalam tanah harus mampu mendukung
kehidupan tanaman (Magdoff, 2001)
2.11. Indikator Kualitas dan Kesehatan Tanah
Indikator kualitas tanah adalah sifat, karakteristik atau proses fisika, kimia dan
biologi tanah yang dapat menggambarkan kondisi tanah (SQI, 2001). Menurut Stehr,
(1982), indikator-indikator kualitas tanah harus :
1. menunjukkan proses-proses yang terjadi dalam ekosistem,
2. memadukan sifat fisika tanah, kimia tanah dan proses biologi tanah,
3. dapat diterima oleh banyak pengguna dan dapat diterapkan di berbagai kondisi lahan,
4. peka terhadap berbagai keragaman pengelolaan tanah dan perubahan iklim,dan
5. apabila mungkin, sifat tersebut merupakan komponen yang biasa diamati pada data dasar
tanah.
Magdoff (2001) mengusulkan bahwa pemilihan indikator kualitas tanah
harus mencerminkan kapasitas tanah untuk menjalankan fungsinya yaitu:
1. melestarikan aktivitas, diversitas dan produktivitas biologis
2. mengatur dan mengarahkan aliran air dan zat terlarutnya
3. menyaring, menyangga, merombak, mendetoksifikasi bahan-bahan anorganik dan
organik, meliputi limbah industri dan rumah tangga serta curahan dariatmosfer.
4. menyimpan dan mendaurkan hara dan unsur lain dalam biosfer.
5. mendukung struktur sosial ekonomi dan melindungi peninggalan arkeologis terkait dengan
permukiman manusia.
Sedangkan indikator kesuburan tanah didapatkan pada modul
Manajemen Agroekosistem 2010 sebagai berikut:
III. METODE PELAKSANAAN
3.1. Waktu, Tempat dan Diskripsi Lokasi Pengamatan Secara Umum
Survei lapang Manajemen Agroekosistem mengacu pada tiga aspek yaitu
aspek Hama dan Penyakit Tanaman, aspek Budidaya Pertanian, dan aspek Tanah.
Pada aspek Hama dan Penyakit Tanaman, dilakukan dengan mengambil sampel
serangga dan penyakit utama tanaman. Kemudian diidentifikasikan untuk
mengetahui hama, penyakit dan musuh alami tanaman budidaya tersebut.
Survei lapang mata kuliah Manajemen Agroekosistem Aspek survei
lapang dilakukan pada tanggal 06 April-28 April, aspek Hama dan
Penyakit Tanaman dan aspek Tanah hanya di lakukan di Desa Jatimulyo,
Kecamatan Lowokwaru Kabupaten Malang. Lahan yang di gunakan yaitu
tanaman crop dan non crop. Untuk tanaman crop menggunakan tanaman
padi dan non crop menggunakan lahan kosong yang hanya di tumbuhi
ilalang.
Survei budidaya pertanian dilaksanakan di tiga tempat pada hari
Kamis tanggal 25 Mei 2017. Pertama di Desa Jatimulyo, Kecamatan
Lowokwaru Kabupaten Malang. Lahan yang di gunakan yaitu lahan basah
tanaman padi dan lahan kering tanaman kacang tanah. Desa kedua yaitu di
Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau Kabupaten Malang, lahan yang
digunakan yaitu lahan kering tanaman kacang tanah. Ketiga di Desa Ngijo,
Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang, yaitu menggunakan lahan
basah tanaman padi. Dan dilakukan pengamatan dan wawancara kepada
petani untuk mengetahui keberlanjutan pertanian di daerah setempat dari
kondisi sosial, ekonomi dan budaya petani, cara budidaya padi yang
dilakukan petani, produktivitas komoditas padi yang dihasilkan, dan
masalah-masalah utama yang dihadapi petani.
Sedangkan pada aspek Tanah dilakukan pengamatan dan identifikasi
terhadap tanah dari aspek fisik, kimia dan biologi tanah. Aspek tanah,
dilakukan di lahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kabupaten Malang.
Lahan yang dilakukan pengambilan sample tanah adalah lahan kering dan
basah dengan menggunakan ring sample dan penetrometer. Setelah itu
dilakukan analisa di laboraturium untuk mengetahui nilai bi, bj,pH, Ec, Eh
dan Penetrasi Tanah
3.2. Alat dan Bahan
3.2.1. HPT
Alat Bahan
Sweep net :Untuk menangkap Detergen : Untuk membius hama
hama di udara dan bersifat mematikan
Pid fol : Untuk menangkap hama Yellow trap : Untuk menangkap
di tanah serangga
Plastik : Sebagai wadah hama Air : Untuk melarutkan ditergen
setelah di tangkap
Botol air mineral kosong 600 ml: Lahan yang survei
Tempat merekatkan yellow trap
Kayu penyangga : Untuk
penyangga botol
Gelas air mineral : Untuk
pembuatan fid fol
Kamera: Alat untuk dokumentasi

3.2.2. BP
Alat Bahan
Kuisioner: sebagai acuan Lahan yang survei
pertanyaan kepada narasumber
(petani)
Alat tulis: untuk mencatat data
informasi
Kamera: dokumentasi

3.2.3. Tanah
Alat Bahan
Ring sample : Untuk mengambil Tanah : Sampel yang di ambil.
sampel tanah
Ring master : untuk
memperdalam ring sample balok
penekan untuk menekan ring
master.
Kamera: Untuk dokumentasi Lahan yang survey
Penggaris : Untuk mengukur
ketinggian seresah, kedalaman
lubang tanah.
Pisau: Untuk meratakan sample
tanah di ring sample
Plastik : Untuk menampung
sampel tanah
Palu : Unuk memukul balok
penekan
Penetrometer : Untuk mengukur
sifat fisik tanah
3.3. Cara Kerja
3.3.1. HPT
1. Sweep Net

Menyiapkan alat

Mengayunkan sweep net sebanyak 3 kali

Mengambil serangga yang terperangkap pada sweep net

Mendokumentasikan

Mencatat hasil pengamatan

Menyiapkan alat
Mengulanginya beberapa kali

Melepas atau membuka rekatan dari yellow sticky trap

Menempelkan yellow sticky trap pada botol plastik

2. Yellow Trap
Memasang botol plastik pada tongkat atau kayu

Menancapkan tongkat atau kayu yang sudah dipasang dengan botol plastik dan yellow sticky trap pada lahan

Mendiamkannya selama 1 hari


Melakukan pengamatan pada serangga yang terjebak

Mendokumentasikan

Mencatat hasil pengamatan

Menyiapkan alat dan bahan

Menuangkan air pada 5 gelas plastik


3. Pit Fall

Memasukkan detergen pada masing-masing gelas plastik yang telah diisi air dan menghomogenkannya

Menggali 5 lubang pada lahan yang telah ditentukan

Menaruh masing-masing gelas plastik yang telah diisi dengan larutan deterjen pada lubang yang telah digali

Mendiamkannya selama 1 hari

Melakukan pengamatan pada serangga yang terjebak

Mendokumentasikan

Mencatat hasil pengamatan


3.3.2. BP

Menyiapkan alat

Menentukan 2 lokasi (masing-masing lahan kering dan lahan basah) yang akan diamati

Melakukan wawancara dengan masing-masing pemilik lahan mengenai praktek budidaya serta manajeman lahan yang dila

Menyiapkan
Mencatat alat
hasil wawancara

Menentukan lokasi lahan


Mendokumentasi pengamatan
petani

3.3.3. Tanah
Membuat plot berukuran 20 m x 20 m dengan menggunakan tali rafia
1. Biologi

Membagi plot menjadi 4 bagian dengan menggunakan tali rafia

Membuat frame (persegi) berukuran 50 cm x 50 cm dengan tali rafia

Meletakkan frame secara acak (masing masing 2 frame per plot)


Melakukan pengamatan (seresah, makroorganisme diatas
a) Seresah
tanah dan cacing tanah)
Menekan seresah

Meletakkan penggaris sejajar dengan seresah

Menghitung ketebalan seresah

Mencatat pada form pengamatan

b) Makroorganisme diatas tanah


Menentukan banyak seresah (banyak, sedang, sedikit)
Mengamati makroorganisme diatas tanah yang berada di dalam frame

Mencatat pada form pengamatan

Menentukan banyaknya makroorganisme (banyak, sedang, sedikit)

Mencatat pada form pengamatan

c) Cacing Tanah

Menggali tanah pada frame pada kedalaman 0-10 cm

Mengumpulkan cacing yang ditemukan dan menentukan banyaknya cacing (banyak, sedang, sedikit)
Menggali tanah pada frame dengan kedalaman 10-20 cm

Mengumpulkan cacing yang ditemukan dan menentukan banyaknya cacing (banyak, sedang, sedikit)

2. Fisika dan Kimia


Mencatat pada form pengamatan
Menyiapkan alat dan bahan

Mengambil sampel tanah pada lokasi yang telah ditentukan menggunakan ring sampel, komposit dan penetromter

Meletakkan sampel tanah pada plastik dan memberinya label

Mengkeringkan tanah dengan cara diangin-anginkan

Melakukan analisis fisika dan kimia tanah di laboratorium

Mencatat hasil analisa laboratorium

3.4. Analisa Perlakuan


3.4.1. HPT
1. Sweep Net
Hal yang pertama dilakukan adalah menyiapkan alat yang akan
digunakan yaitu sweep net. Mengayunkan sweep net sebanyak tiga kali
kemudian mengambil serangga yang terkangkap pada sweep net dan
mengamatinya. Setelah itu mendokumentasikannya dan mencatat hasil .
Lalu mengulanginya selama beberapa kali.
2. Yellow Trap
Hal yang pertama dilakukan adalah menyiapkan alat yang akan
digunakan yaitu yellow sticky trap, botol plastik, tongkat atau kayu.
Membuka rekatan dari yellow sticky trap dan menempelkannya pada
botol plastik. Kemudian memasang botol plastik yang telah ditempel
dengan yellow sticky trap pada kayu dan setelah itu menancapkan kayu
tersebut di lahan yang telah ditentukan. Lalu mendiamkannya selama 1
hari. Setelah 1 hari, mengamati serangga yang terjebak pada yellow
trap dan mendokumentasikannya serta mencatat hasil pengamatan.
3. Pit Fall
Hal yang pertama dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan
yang akan digunakan yaitu gelas plastik, air dan deterjen. Menuangkan
air pada 5 gelas plastik, dan menambahkan deterjen pada masing-
masing gelas plastik kemudian menghomogenkannya. Setelah itu
menggali 5 lubang pada lahan yang telah ditentukan dan menaruh
masing-masing gelas plastik yang telah diisi dengan larutan deterjen
pada lubang tersebut dan mendiamkannya selama 1 hari. Setelah 1
hari, mengamati serangga yang terjebak dan mendokumentasikannya
serta mencatat hasil pengamatan.
3.4.2. BP
Hal yang pertama dilakukan adalah menyiapkan alat yang akan
digunakan yaitu form pengamatan dan alat tulis. Menentukan 2 lokasi
yang akan diamati, masing-masing lokasi harus terdapat lahan basah
dan lahan kering. Kemudian melakukan wawancara dengan masing-
masing pemilik lahan mengenai praktek budidaya serta manajemen
lahan yang dilakukan pada lahan mereka. Lalu mencatat hasil
wawancara yang telah dilakukan. Setelah itu mendokumentasikan lahan
petani yang telah diwawancarai.
3.4.3. Tanah
1. Biologi
Hal yang pertama dilakukan adalah menyiapkan alat yang akan
digunakan yaitu tali rafia dan form pengamatan. Sebelum melakukan
pengamatan, tentukan lokasi yang akan menjadi tempat pengamatan.
Setelah menentukan lokasi, membuat plot berukuran 20 m x 20 m dengan
menggunakan tali rafia di dalam lokasi lahan tersebut. Kemudian plot
tersebut, dibagi menjadi empat bagian sehingga ada empat plot di
dalamnya. Setelah itu, membuat frame berukuran 50 cm x 50 cm dengan
menggunakan tali rafia. Frame yang telah dibuat diletakkan secara acak
pada masing-masing plot sebanyak 2 frame per plot. Frame tersebut
digunakan sebagai pembatas titik lokasi yang akan diamati. Kemudian
pada setiap frame yang ada di tiap plot tersebut dilakukan pengamatan
mengenai seresah (ketebalan seresah dan banyak seresah),
makroorganisme di atas tanah serta jumlah cacing.
a) Seresah
Untuk menghitung ketebalan seresah, dilakukan dengan cara
menekan seresah kemudian menghitungnya dengan bantuan penggaris
yang diletakkan sejajar dengan seresah tersebut lalu mencatatnya pada
form pengamatan. Sedangkan banyak seresah diamati dengan cara
melihat seresah yang ada di dalam frame kemudian menentukan
apakah seresah yang ada termasuk ke dalam kategori banyak, sedang
atau sedikit. Setelah itu mencatatnya pada form pengamatan.
b) Makroorganisme diatas tanah
Pengamatan makroorganisme dilakukan dengan cara melihat dan
mengamati makroorganisme diatas tanah yang berada di dalam frame.
Kemudian menentukan apakah makroorganisme diatas tanah tersebut
termasuk ke dalam kategori banyak, sedang atau sedikit. Setelah itu
mencatatnya pada form pengamatan.
c) Cacing tanah
Pengamatan jumlah cacing dilakukan pada dua kedalaman yang
berbeda. Yang pertama pengamatan pada kedalaman 0-10 cm yaitu
mengamati biologi tanah bagian atas dan pengamatan pada
kedalaman 10-20 cm yaitu untuk mengamati biologi tanah bagian
bawah. Pengamatan dilakukan dengan cara menggali tanah pada
masing-masing kedalaman 0-10 cm da 10-20 cm, kemudian
mengumpulkan cacing yang ditemukan dan menentukan banyaknya
cacing termasuk ke dalam kategori banyak, sedang atau sedikit.
Setelah itu mencatatnya pada form pengamatan.
2. Fisika dan Kimia
Hal yang pertama dilakukan adalah menyiapkan alat yang akan
digunakan untuk pengambilan sampel tanah yaitu ring master, ring
sample, balok kayu atau palu, plastik dan kertas label. Sebelum
melakukan pengamatan, tentukan lokasi yang akan dijadikan tempat
pengambilan sampel tanah. Setelah menentukan lokas. Kemudian
mengambil sampel tanah pada lokasi yang telah ditentukan menggunakan
ring sample, ring master dan balok kayu sebagai penekannya. Kemudian
mengambil tanah komposit di sekitar lahan serta memasang penetrometer
ke delam tanah untuk mengetahui penetrasi tanah. Setelah itu,
meletakkan sampel tanah pada plastik dan memberinya label. Lalu
mengeringkan sampel tanah yang sudah didapatkan dengan cara diangin-
anginkan. Kemudian menganalisis fisika dan kimia tanah di laboratorium
dan mencatat hasil analisa laboratorium yang didapatkan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Kondisi Umum Wilayah
1. Jatimulyo
Lahan jatimulyo berada di kelurahan jatimulyo, kecamatan
lowokwaru, kota malang. Merupakan lahan percobaan praktikum fakultas
pertanian universitas brawijaya, yang digunakan bagi mahasiswa pertanian
untuk praktikum lapangan. Lahan jatimulyo banyak dibudidayakan
beragam jenis komoditas yaitu padi, jagung, bawang merah, kedelai,
kembang kol, tebu, mentimun dll, yang sebagian besar merupakan
dibudiyakan untuk keperluan praktikum dan juga milik warga setempat.
2. Ngijo
Ngijo merupakan sebuah desa di wilayah Kecamatan Karangploso ,
Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Secara geografis Desa Ngijo
terletak pada posisi 720-731 Lintang Selatan dan 10908-11010
Bujur Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa daratan sedang
yaitu sekitar 525 Mdpl (malangkab.go.id. 2017) Komoditas pertanian yang
banyak dibudidayakan di daerah tersebut adalah padi, kacang panjang,
tomat, cabai., lebih di dominasi komoditas padi.
3. Mulyoagung
Mulyoagung merupakan sebuah desa dikecamatan dau, kabupaten
malang. merupakan desa yang berhawa sejuk dengan suhu udara rata-rata
20 C, Desa Mulyoagung memiliki ketinggian tanah rata-rata 600 Mdpl
(malangkab.go.id 2017). Komoditas pertanian sangat beragam yang
dibudidayakan kebanyakan jenis hortikultura seperti, kembang kol, cabai,
tomat, kubis, kacang panjang, serta tanaman pangan seperti padi, jagung,
ubi jalar.

4.2. Analisis Keadaan Agroekosistem


4.2.1. HPT
a. Data Hasil Pengamtan Anthropoda
Tabel 1. Hasil Pengamatan Anthropoda Non Crop

Minggu Jumlah Individu Presentase


ke - Hama Musuh Serangg Total Hama Musuh Serangga
Alami a Lain Alami Lain
1 - - 53 53 - - 100%
b. Segitiga Fiktorial Hasil Pengamatan Anthropoda

SL

H MA

Keterangan :
SL : Serangga Lain
H : Hama
MA : Musuh Alami
Untuk pengamatan anthropoda pada lahan non crop di dapat total
serangga lain sebanyak 53 ekor dari jumlah total beberapa jenis
spesies. Untuk hama dan musuh alami tidak didapat dikarenakan
tempat yang jadi tempat pengamatan merupakan lahan non crop atau
lahan yang tidak dibudidayakan tanaman budidaya, maka untuk hama
dan musuh alami dinyatakan tidak ada atau 0%.
c. Data Hasil Perhitungan Intensitas Penyakit
Untuk intensitas penyakit tidak ada karena bukan merupakan lahan
pertanian yang dibudidayakan

Tabel 2. Hasil Pengamatan Anthropoda Crop

Minggu Jumlah Individu Presentase


Hama Musuh Serangg Total Hama Musuh Serangga
ke -
Alami a Lain Alami Lain
1
2
3
4
5
6
7

a. Segitiga Fiktorial Hasil Pengamatan Anthropoda

Keterangan :
SL : Serangga Lain
H : Hama
MA : Musuh Alami

b. Data Hasil Perhitungan Intensitas Penyakit

4.2.2. BP
1. Padi Jatimulyo
Bapak saturi merupakan petani penggarap lahan sawah di
Jatimulyo yang hanya seluas 40 m x 40 m, membudidayakan komoditas
padi untuk musim ini varietas indramayu dan selalu berganti-ganti
varietas tiap tahun atau setiap musim dengan beberapa varietas seperti,
ciherang, IR 64. Sistem budidaya tanpa memperdulikan jarak tanam
(asal tanam dengan perkiraan 25 cm x 25 cm). Penggunaan pupuk
kimia ZA dan Tsp yang dicampur dengan dengan takaran 75 kg ZA dan
50 Kg Tsp dengan jumlah total 125 kg campuran dari ZA dan Tsp.
Pemupukan dilakukan 3 kali sampai panen. Paling maksimal 1 ton.
Untuk penanganan hama pak saturi menggunakan pestida dengan merk
Dosis dengan penggunaan satu botol 3 kali pakai. Untuk hasil panen
langsung dijual oleh pemilik lahan. 2 juta diambil oleh pemilik lahan
dan sisanya diambil oleh pak saturi sendiri.
2. Padi Ngijo
Ibu Sari merupakan petani kacang panjang sekaligus padi yang
dibudidayakan disekitar rumahnya sendiri, kacang panjang di samping
rumah dan padi hanya satu petak di belakang rumahnya. Padi dengan
luas lahan kurang lebih 15 m x 20 m yang dibudidayakan menurut
narasumber varietas IR 64 tanpa jarak tanam (secara konvensional/asal
tanam). Pupuk yang digunakan yaitu Urea, Sp 36 dengan takaran tidak
diketahui/lupa hanya mengatakan satu karung tiap pupuk. Untuk panen
beliau mengatakan paling maksimal sekitar 1 ton. Tanpa penggunaan
pestisida. Untuk hasil panen dijual dan sebagian dikonsumsi sendiri.
3. Kacang Tanah Jatimulyo
Bapak Buhadi merupakan petani yang menggarap lahan di
jatimulyo dengan luas lahan 250 m2 dengan budidaya kacang tanah
varietas gajah, dengan tumpang sari kedelai jagung, kacang panjang.
Untuk kacang tanah jarak tanam 21 cm x 40 cm. menggunakan pupuk
ZA satu petak 25 kilo, dan ada dua petak berarti 50 kg ZA. Sekali panen
20 kg. Hasil panen dikonsumsi sendiri atau bisa dikatakan pak buhadi
merupakan petani subsisten.
4. Kacang Tanah Mulyoagung
Bapak Tamsir merupakan petani kacang tanah yang memiliki lahan
di desa mulyoagung kecamatan, Dau. Lahan yang digarap seluas 300
m2 dengan ditanami tanaman monokultur kacang tanah varietas kelinci
dengan jarak tanam 30 cm x 25 cm. menggunakan pupuk ZA, Kcl, dan
SP 36. Untuk penanggulangan hama beliau tanpa menggunakan
pestisida. Kemudian membuat irigasi di selokan kecil di tengah
lahannya untuk mengirigasi yang airnya dari padi. Produktivitasnya
bapaknya mendapatkan minim mendapat 50 kg sekali panen. Dan
beliau mengetahui cara merawat dari sesama petaninya. Untuk semua
hasil panen dijual langsung setelah panen.
4.2.3. Tanah

4.3. Pembahasan Umum


Aspek Budidaya
1. Lahan basah

Aspek Agroekosistem
Lahan Padi Produktivita Equitabilita
Stabilitas Sustainabilitas
s s
Tidak
Padi Tidak Tidak
Rendah Berkelanjuta
Jatimulyo Stabil Merata
n
Tidak
Padi Ngijo Sedang Stabil Berkelanjuta Merata
n
Dari tabel bisa didapat hasil bahwa untuk perbandingan manajemen
lahan basah padi pada lahan jatimulyo produktivitas masih rendah hal ini
dikarenakan pada lahan seluas 1600 m2 hanya diperoleh hasil sebanyak 1
ton, sedangkan untuk produktivitas padi lahan Ngijo dikatakan sedang
karena mampu menghasilkan padi sebanyak 1 ton dengan luas lahan 300 m2
. Untuk aspek stabilitas di lahan padi Jatimulyo tidak stabil dikarenakan
pada setiap musim tanam menggunakan varietas yang berbeda-beda, dengan
pemakaian varietas yang berbeda-beda maka akan berpengaruh terhadap
hasil produksi padi pula, sedangkan untuk lahan padi Ngijo memiliki
stabilitas yang stabil hanya menggunakan varietas yang sama pada setiap
musimnya dan jarak tanam yang teratur sehingga dari musim ke musim
akan didapatkan hasil produksi yang sama. Untuk aspek sustainabilitas, baik
pada lahan padi Jatimulyo maupun Ngijo tidak berkelajutan hal ni
dikarenakan dalam praktek budidaya masih menggunakan pupuk-pupuk
kimia dan pesstisida kimia. Sdangkan untuk aspek equibilitas pada lahan
padi Jatimulyo dikatakana tidak stabil karena seluruh hasil produksi di jual
tanpa dikonsumsi sendiri, sedangkan pada lahan padi Ngijo hasil
produksinya di jual dan juga di konsumsi sendiri.
2. Lahan kering

Lahan Aspek Agroekosistem


Kacang Produktivita Equitabilita
Tanah Stabilitas Sustainabilitas
s s
Belum
Tidak
Jatimulyo Tinggi Stabil Berkelanjuta
Merata
n
Belum
Mulyoagun Tidak
Tinggi Stabil Berkelanjuta
g Merata
n
Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa aspek
agroekosistem mulai dari produktivitas, stabilitas, sustainabilitas, dan
equitabilitas memiliki kesamaan baik pada lahan kacang tanah di Jatimulyo
maupun Mulyoagung. Meskipun produktivitasnya tinggi dan stabil namun
dalam pengelolaan budidaya masih menggunakan bahan-bahan kimia
sehingga tidak dapat dikatakan berkelanjutan. Penggunaan bahan-bahan
kimia akan merusak tanah maupun ekosistem itu sendiri. Dan hasil produksi
kacang tanah seluruhnya dijual tanpa dikonsumsi untuk kebutuhannya
sendiri.
4.4. Rekomendasi
V. PENUTUP
5.1. Kesimpulan
5.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Agus, F dan Subiksa L. G. M. 2008. Lahan Gambut : Potensi untuk Pertanian dan
Aspek Lingkungan. Balai Penelitian Tanah. Bogor.
Altieri, M. A. 1999. The Ecological Role of Biodiversity in Agroecosystem.
Agriculture, Ecosystems and Environment. 74: 19-31.
Arief, A. 1994. Hutan, Hakekat dan Pengaruhnya terhadap Lingkungan. Yayasan
Obor Indonesia. Jakarta. 64 hal.
Bamualim, A. 2004. Strategi Pengembangan Peternakan pada Daerah Kering. Makalah Seminar
Nasional Pengembangan Peternakan Berwawasan Lingkungan. IPB. Bogor
Dakhyar N, Hairani A, Indrayati L. 2012. Prospek Pengembangan Penataan
Lahan Sistem Surjan di Lahan Rawa Pasang Surut. Jurnal Agrovigor. 5(2):
113-118
Hardjoamidjojo S, Setiawan BI. 2001. Pengembangan dan Pengelolaan Air di
Lahan Basah. Buletin Keteknikan Pertanian. 15(1): 40-47.
Hardjowigwno, Sarwono dan Endang. 2007. Morfologi dan Klasifikasi Tanah Sawah.
Johnson, M.W. 1987. Biological control of Spring Season Course. Honolulu pests.
Hand Out Compilation of 1987 Hawai: Department of Entomology Spring
Season Course. Honolulu University of Hawai at Manoa. Hawai:
Department of Entomology University of Hawai at Manoa.
Kadekoh, I. 2010. Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Kering Berkelanjutan Dengan Sistem
Polikultur.
Laba, I.W. 2001. Keanekaragaman hayati arthropoda dan peranan musuh alami
hama utama padi pada ekosistem sawah. http://tumoutou.net/ 3_sem1_
012/i_w_ laba.htm. Diakses Tanggal 15 Mei 2008.
Magdoff, F. 2001. Concept, Component, and Strategies Soil Health in
Agroecosystems. Journal of Nematology 33 (4) 169-172.
Maredia, K.M., Dakouo, D., and Mota- Sanchez, D. 2003. Integrated pest
management in the global area. USA: CABI Publishing.
Marwoto, Wahyuni, E., dan Neering, K.E. 1991. Pengelolaan pestisida dalam
pengendalian hama kedelai secara terpadu. Malang: Departemen
Pertanian.
Mulyani,A. 2006. Potensi Lahan Kering Masam untuk Pengembangan Pertanian.
WartaPenelitian dan Pengembangan Pertanian. Vol 28 (2): 16-17. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian.
OECD. 2001. Environmental Indicators for Agriculture. Vol 3: Methods and
Results. Glossary, pages 389-391.
Pretty, J. (ed.) 2005. The Earthsca Reader in Sustainable Agriculture.
Earthscan/James and James: London.
Puspita, Dara. 2010. Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap. Jakarta: Pustaka
Media.
Rahmawaty, Rauf A, Siregar AZ. 2014. Kajian Sebaran Lahan Gambut sebagai
Lahan Padi di Pantai Timur Sumatera Utara. Warta Konservasi Lahan
Basah Wetlands International-Indonesia. 22(3): 10-11.
Setiawati, W., et. al. 2004. Pemanfaatan Musuh Alami dalam Pengendalian Hayati
Hama pada Tanaman Sayuran. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Holtikultura. Monografi No 24. Bandung.
Smith, R.L T.M and Smith. 2005. Elements of Ecology. 6 th Ed. Benjamin
Cummings: San Francisco. A commonly used textbook of ecology for the
serious student in biology or environmental studies.
Stehr, F.W. 1982. Parasitoids and predators in pest management. In: R.L. Metcalf
and W.H. Luckmann (Eds.). Introduction to Insect Management. John
Wiley and Sons, New York. pp. 135-173
Suparman. 2012. Bercocok Tanam Ubi Jalar. Jakarta: Ganeca Exact.
Syam, A. 2003. Sistem Pengelolaan Lahan Kering di Daerah Aliran Sungai Bagian Hulu.
JurnalLitbang Pertanian, 22 (4) : 162-171. Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian.
Untung, K. 2006. Pengantar pengelolaan hama terpadu. Edisi ke dua. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Gambar Dokumentasi

Lampiran 2. Perhitungan IP
Minggu 1
( 4,5 x 0 ) + ( 1 x 0 ) + ( 2 x 0 )+ (3 x 0 ) +(4 x 0)
IP= 100
4 4,5

0+ 0+0+ 0+0
100 =0
18

Minggu 2
( 4,5 x 0 ) + ( 1 x 0 ) + ( 2 x 0 )+ (3 x 0 ) +(4 x 0)
IP= 100
4 4,5

0+ 0+0+ 0+0
100 =0
18

Minggu 3
( 4,5 x 0 ) + ( 1 x 0 ) + ( 2 x 0 )+ (3 x 0 ) +(4 x 0)
IP= 100
4 4,5

0+ 0+0+ 0+0
100 =0
18

Minggu 4
( 4,5 x 0 ) + ( 1 x 0 ) + ( 2 x 0 )+ (3 x 0 ) +(4 x 0)
IP= 100
4 4,5

0+ 0+0+ 0+0
100 =0
18

Lampiran 3. Hasil Analisis Tanah


Kimia
Keterangan Lahan Basah Lahan Kering
pH 4.943 5.839
Ec 0.76 ms 13.35 ms
Eh 127.5 mV 77.7 mV