Anda di halaman 1dari 15

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNya sehingga makalah
ini dapat tersusun hingga selesai

Dan harapan penulise semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, untuk ke depannya agar dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman penulis, masih ada banyak


kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Yogyakarta, 15 Juli 2017

Penyusun
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Logam berat merupakan salah satu komponen pencemar lingkungan, baik di darat,
perairan maupun udara. Logam berat yang sering mencemari lingkungan terutama adalah
merkuri (Hg), timbal (Pb), cadmium (Cd), arsenik (Ar), chromium (Cr), nikel (Ni) dan besi
(Fe) (Palar, 2004). Salah satu lingkungan yang mudah tercemar yaitu perairan, sebab
limbah dari industri berupa limbah cair kebanyakan langsung dibuang ke sungai tanpa
diolah terlebih dahulu (Subanri, 2008). Hal tersebut dikarenakan banyak industri rumah
tangga maupun pabrik ternyata belum mempunyai instalasi pengolahan air limbah (IPAL)
yang baik atau sudah mempunyai tetapi tidak dioperasikan karena membutuhkan biaya
yang tinggi. Logam berat dapat menimbulkan efek-efek khusus pada makhluk hidup.
Beberapa contoh penyakit akibat adanya logam berat yaitu penyakit Minamata, bibir
sumbing, kerusakan susunan saraf, cacat pada bayi, kanker dan terganggunya fungsi imun
(Darmono, 1995). Logam berat dapat meracuni tubuh makhluk hidup apabila terakumulasi
di dalam tubuh dalam waktu yang lama dan di atas ambang batas toleran. Sebaliknya
beberapa jenis logam biasanya digunakan untuk pertumbuhan kehidupan biologis,
misalnya pada pertumbuhan alga atau tanaman air lain. Apabila tidak ada logam maka
pertumbuhannya akan terhambat, namun jumlah yang berlebihan akan mempengaruhi
kegunaannya karena menimbulkan daya racun yang dimiliki. Oleh karena itu, keberadaan
zat ini perlu diawasi jumlahnya dalam air limbah.
Salah satu metode untuk mengatasi pencemaran logam berat dengan cara
pemanfaatan tanaman air untuk menyerap logam berat. Menurut Suriawiria (2003)
banyak jenis tumbuhan khususnya yang hidup di dalam habitat air dapat dimanfaatkan
untuk pengolahan air limbah. Tindakan pemulihan (remediasi) limbah dan pencemaran
lingkungan dengan menggunakan tumbuhan air dikenal sebagai teknologi fitoremediasi,
yaitu suatu konsep yang didefinisikan sebagai penggunaan tumbuhan untuk
memindahkan, menstabilkan, atau menghancurkan bahan pencemar baik senyawa
organik maupun anorganik (Syafrani, 2007).
Pada makalah kali ini, akan dibahas lebih lanjut mengenai metode untuk
mengatasi pencemaran logam berat, jenis jenis tanaman untuk mengatasi logam berat
dan faktor faktor pendukung keberhasilannya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana Interaksi Tanaman Terhadap Bahan Pencemar?
2. Apakah yang disebut dengan Fitoremediasi?
3. Bagaimana meningkatkan kualitas Fitoremediasi?
4. Apakah Isoterm Adsorpsi?

1.3 Tujuan
Untuk memahami mengenai penanganan limbah logam menggunakan fitoremediasi
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Interaksi Tanaman Terhadap Bahan Pencemar


Tanaman, dalam menghadapi bahan pencemar di sekitarnya, menurut Corseuil dan
Moreno (2000), memiliki mekanisme sebagai berikut:

Penghindaran (escape) fenologis. Apabila pengaruh yang terjadi pada tanaman


musiman, tanaman dapat menyelesaikan daur hidupnya pada musim yang
cocok.
Ekslusi, yaitu tanaman dapat mengenal ion yang bersifat toksik dan mencegah
penyerapan sehingga tidak mengalami keracunan.
Penanggulangan (ameliorasi). Tanaman mengabsorpsi ion tersebut, tetapi
berusaha meminimumkan pengaruhnya. Jenisnya meliputi pembentukan
khelat (chelation), pengenceran, lokalisasi atau bahkan ekskresi.
Toleransi. Tanaman dapat mengembangkan sistem metabolit yang dapat
berfungsi pada konsentrasi toksik tertentu dengan bantuan enzim
2.2 Mekanisme Penyerapan Logam oleh Tumbuhan
Penyerapan dan akumulasi logam berat oleh tumbuhan dapat dibagi menjadi tiga
proses yaitu
penyerapan logam oleh akar,
translokasi logam dari akar ke
bagian tumbuhan lain,
dan lokalisasi logam pada bagian
sel tertentu untuk menjaga agar
tidak menghambat metabolisme
tumbuhan tersebut.

Agar tumbuhan dapat menyerap logam


maka logam harus dibawa ke dalam larutan di
sekitar akar (rizosfer) dengan beberapa cara tergantung pada spesies tumbuhannya.
Setelah logam dibawa masuk ke dalam sel akar, selanjutnya logam diangkut melalui
jaringan pengangkut xilem dan floem ke bagian tumbuhan lain. Untuk meningkatkan
efisiensi pengangkutan, logam diikat oleh molekul khelat. Berbagai jenis molekul khelat
yang berfungsi mengikat logam dihasilkan oleh tumbuhan seperti histidin yang dapat
mengikat Cr, sebagaimana dinyatakan dalam Gambar 1. Lokalisasi pada jaringan dalam
mencegah peracunan logam terhadap sel, tumbuhan mempunyai mekanisme
detoksifikasi, misalnya dengan menimbun logam di dalam bagian tertentu seperti akar
dan lateks.

2.3 Pengertian Fitoremediasi


Fitoremediasi adalah upaya penggunaan tanaman dan bagian-bagiannya untuk
dekontaminasi limbah dan masalah-masalah pencemaran lingkungan baik secara ex-situ
menggunakan kolam buatan atau reaktor maupun in-situ atau secara langsung di
lapangan pada tanah atau daerah yang terkontaminasi limbah (Subroto, 1996).
Fitoremediasi didefinisikan juga sebagai penyerap polutan yang dimediasi oleh
tumbuhan termasuk pohon, rumput-rumputan, dan tumbuhan air. Pencucian bisa
berarti penghancuran, inaktivasi atau imobilisasi polutan ke bentuk yang tidak berbahaya
(Chaney dkk., 1995).

Berikut ini adalah 6 jenis fitoremediasi yang memiliki cara kerja yang berbeda beda
a. Phytosequestration
Juga disebut dengan phytostabilization. Terdapat berbagai macam proses yang
termasuk dalam kategori ini, bisa berupa penyerapan oleh akar, penyerapan ke
permukaan akar atau produksi biokimia oleh tanaman yang dilepaskan ke tanah
atau air tanah di sekitar akar, dan dapat menyerap, mengendap, atau
melumpuhkan kontaminan terdekat.
b. Rhizodegradation
Hal ini terjadi di tanah atau air tanah yang langsung berada di sekitar akar tanaman.
Eksudat dari tanaman merangsang bakteri rhizosfer untuk meningkatkan
biodegradasi kontaminan tanah.
c. Photohydraulic
Penggunaan tanaman berakar (biasanya pohon) untuk menampung, menyita atau
menurunkan kontaminan air tanah yang bersentuhan dengan akarnya. Dalam salah
satu contohnya, pohon poplar digunakan untuk mengandung lumut air tanah metil-
tert-butil eter (MTBE) (Hong et al. 2001. Environmental Science and Technology
35(6):1231-1239)
d. Phytoextraction
Juga dikenal sebagai phytoaccumulation. Tanaman mengambil atau mengalikan
kontaminan melalui akarnya dan menyimpannya di jaringan batang atau dedaunan.
Kontaminan tidak harus terdegradasi namun dikeluarkan dari lingkungan saat
tanaman dipanen. Ini sangat berguna untuk menghilangkan logam dari tanah dan,
dalam beberapa kasus, logam dapat dipulihkan untuk digunakan kembali, dengan
membakar tanaman, dalam proses yang disebut phytomining.
e. Phytovolatilization
Tanaman mengambil senyawa volatil melalui akarnya, kemudian memprosesnya
seperti ketika tanaman berespirasi, setelah itu akan dilepaskan ke atmosfir.
f. Phytodegradation
Kontaminan dibawa ke jaringan tanaman di mana mereka dimetabolisme, atau
biotransformasi. Dimana transformasi berlangsung tergantung pada jenis tanaman,
dan bisa terjadi pada akar, batang atau daun.
2.4 Tumbuhan Hiperakumulator Logam
Tumbuhan hiperakumulator adalah tumbuhan yang mempunyai kemampuan untuk
mengkonsentrasikan logam di dalam biomassanya dalam kadar yang luar biasa tinggi.
Kebanyakan tumbuhan umumnya mengakumulasi logam, misalnya nikel sebesar 10
mg/kg berat kering (setara dengan 0,001 %), tetapi tumbuhan hiperakumulator logam
mampu mengakumulasi hingga 11 % berat kering. Batas kadar logam yang terdapat di
dalam biomassa agar suatu tumbuhan dapat disebut hiperakumulator berbeda-beda
tergantung pada jenis logamnya. Kadmium kadar setinggi 0,01 % (100 mg/kg BK)
dianggap sebagai batas hiperakumulator, sedangkan batas bagi kobalt, tembaga, dan
timbal adalah 0,1 % (1.000 mg/kg BK) serta untuk seng dan mangan adalah 1 % (10.000
mg/kg BK).
Akumulasi logam oleh tumbuhan bergantung pada banyak faktor yaitu :
Sifat alamiah tumbuhan, seperti: spesies, kecepatan tumbuh, ukuran dan
kedalaman akar, kecepatan penguapan, serta kebutuhan nutrien untuk
metabolisme,
Faktor tanah, seperti: pH, kandungan dan sifat alamiah zat organik, status
nutrien, jumlah ion-ion logam dan anion-anion tertentu seperti fosfat, sulfat,
kadar mineral lempung, dan tipe tanah, dan
Variabel-variabel lingkungan dan pengelolaan yaitu temperatur, kelembaban,
sinar matahari, curah hujan, pemupukan dan lain-lain.

Jenis tanaman air di Indonesia sangat beraneka ragam dan hampir semuanya memiliki
kemampuan untuk menyerap limbah misalnya: Typha sp, Ipomeous sp, Eichornia
crassipies, Bunga Matahari (Helianthus anuusLinneus), Tumbuhan Obor (Typha latifolia),
Tanaman Enceng Gondok (Eichhornia crassipes), Kiambang (Salvinia molesta)

1. Bunga Matahari (Helianthus annusLinneus)


Bunga matahari merupakan tanaman herba yang termasuk dalam famili Compositae
(Asteraceae) yang diduga berasal dari Amerika Utara, tapi sekarang dijumpai di daerah
tropika dan penyebarannya makin meluas ke beberapa negara Subtropika. Di Indonesia,
pada tahun 1919 mulai ditanam di Jawa, Helianthus annuus sudah meluas di seluruh
wilayah nusantara baik sebagai tanaman hias, tanaman komoditi maupun sebagai
tanaman yang berfungsi untuk pengobatan (Rukmana, 2004).
Helianthus annuus merupakan tumbuhan tropika, mempunyai suhu udara
antara 20-30C kelembaban udara (rH) antara 50-80%, curah hujan antara 1000-
3000mm / tahun dan merata sepanjang tahun. Tanah yang ideal untuk tumbuh adalah
tanah pasir atau lempung berpasir dengan tekstur gembur, mempunyai pH 6,5-7,5 dan
system drainasenya baik. Helianthus annuus termasuk tanaman berhari panjang (long
day plant) karena membutuhkan intensitas cahaya matahari yang tinggi dan cukup
lama sehingga lokasi penanaman harus di tempat terbuka atau cukup mendapatkan
sinar matahari kebutuhan sinar matahari rata-rata lebih dari 10 jam perhari
(Rukmana,2004).
Bunga matahari merupakan hiperakumulator Pb dan diendapkan dalam
jaringan daun dan batang (Gratao dkk., 2005). Tanaman ini merupakan tanaman hias
sehingga baik digunakan untuk membersihkan lahan yang terletak di tepi jalan atau
areal perkantoran pada lahan bekas tambang (Gratao dkk., 2005).
2. Tumbuhan Obor (Typha latifolia)
Tumbuhan Obor (Typha latifolia) seperti yang terlihat pada Gambar merupakan
tanaman dari suku Typhaceae dan bangsa Typhales yang mempunyai rizoma,
beramilum, sering membentuk koloni padat, menjulamg dari air dangkal atau tumbuh
di tempat yang basah, selsel bertanin tersebar, batang tegak, serta berakhir dengan
pembungaan. Daun berbentuk dua garis, kebanyakan di dasar, pelepah laminalinearis.
Habitat dari Typha latifolia ini adalah lingkungan yang mempunyai nilai pH 4 10 dan
temperatur 10 30o C.
Tanaman Typha latifolia dapat ditemukan di rawa dan wetland yang terdapat di
hampir setiap benua. Tumbuhan Typha latifolia adalah salah satu tumbuhan yang dapat
hidup pada kondisi wetland. Tumbuhan ini banyak kita jumpai pada daerah tropis dan
biasanya Typha latifolia tumbuh berkelompok pada daerah yang tergenang air.
Tumbuhan Typha latifolia memiliki daya tahan yang tinggi terhadap perubahan
cuaca dan kondisi lingkungan lainnya. Tumbuhan Typha latifolia dapat digolongkan
kepada jenis tumbuhan hiperakumulator. Kemampuan tumbuhan Typha latifolia dalam
menyerap logam yang begitu besar menjadikan tumbuhan ini digunakan sebagai
alternatif dalam menyerap limbah logam [21,2]. Tanah yang paling baik tumbuhnya
Typha latifolia adalah hydric soil yang merupakan tanah yang selalu tergenang dalam
waktu yang cukup lama. Hal ini disebabkan Typha latifolia membutuhkan air yang
banyak untuk mendukung pertumbuhannya.
Tumbuhan Typha latifolia yang juga mendukung berlangsungnya suatu ekologi
dan kontrol biotik. Hal ini dapat kita lihat dari begitu banyaknya binatang lain yang
hidup di dalam komunitas tumbuhan Typha latifolia.
3. Tanaman Eceng Gondok (Eichhornia crassipes)
Enceng gondok atau Eichhornia crassipes adalah salah satu jenis tumbuhan air
mengapung. Enceng gondok pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang
ilmuwan bernama Carl Friedrich Phillip von Mantius, seorang ahli botani
berkebangsaan Jerman pada tahun 1824 ketika sedang ekspedisi di sungai Amazon
Brasil. Enceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehingga tumbuhan ini
dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Enceng gondok
dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya.
Walaupun enceng gondok dianggap sebagai gulma di perairan, tetapi
sebenarnya ia berperan dalam menangkap polutan logam berat. Rangkaian penelitian
seputar kemampuan enceng gondok oleh peneliti antara lain dalam waktu 24 jam
enceng gondok mampu menyerap logam cadmium, merkuri, nikel, dan logam kromium.
4. Kiambang (Salvinia molesta)

Salvina Molesta atau kiambang merupakan salah satu tanaman fitoremediator logam
berat Cd dan Cr yang terdapat pada limbah cair , serta mampu beradaptasi pada
lingkungan dengan kondisi salinitas rendah (<10%). S. Molesta mampu tumbuh pada
nutrisi yang rendah. Selain itu secara morfologi S. Molesta memiliki diameter daun yang
relatif kecil (rata-rata 2-4 Cm), tetapi memiliki perakaran yang lebat dan panjang

Berdasarkan hal tersebut diatas S. Molesta dapat secara efektif menyerap


polutan, namun tidak menghalangi penetrasi cahaya kedalam perairan. Aktivitas
tanaman ini mampu mengolah air limbah dengan efisien tinggi. Selain itu juga dapat
menurunkan partikel tersuspensi secara biokimiawi (berlangsung lambat) dan mampu
menyerap logam berat seperti Cr, Pb, Hg, Cd, Cu, Fe, Mn dan Zn. Kemampuan menyerap
logam berat persatuan berat kering lebih tinggi pada tanaman umur muda dibandiong
umur tua

2.5 Meningkatkan Efisiensi Fitoekstraksi


Dalam prakteknya, fitoremediasi adalah menanam areal terkontaminasi dengan
tumbuhan hiperakumulator. Kunci dari keberhasilan adalah pada pemilihan jenis
tumbuhan yang sesuai dan penerapan praktek-praktek agronomis serta pemberian
perlakuan baik pada tanah maupun pada tumbuhan sesuai kebutuhan. Pemanenan
dilakukan secara periodik sesuai dengan umur tumbuhan. Biomassa hasil panen yang
mengandung kontaminan diabukan dan diisolasi atau diaplikasikan ke lokasi lain yang
mengalami kekurangan. Bila setelah pemanenan ternyata kandungan bahan pencemar
masih tinggi maka penanaman diulang lagi hingga sebagian besar bahan kontaminan
terserap oleh tanaman hingga kontaminan di dalam tanah mencapai tingkat yang tidak
berbahaya.
Ketersediaan unsur logam dan penyerapannya oleh tanaman ditentukan oleh
konsentrasi total dan bentuk dari logam tersebut di dalam tanah selain faktor geokimia
pada zona perakaran. Faktor genetik dan jenis tumbuhan menentukan penyerapan
logam pada zona perakaran dan akar/tajuk pada tingkat yang bervariasi. Penyerapan juga
ditentukan oleh tipe jaringan tanaman dan perlakuan yang diberikan pada tanah (Knox et
al. 2000; Vangronsveld et al. 2000).
Efektivitas fitoekstraksi dapat ditingkatkan dengan memperbaiki faktor internal
yakni potensi genetik dan fisiologi tanaman ataupun faktor eksternal termasuk
manajemen pengolahan tanah dan budi daya tanaman. Meningkatkan potensi
tumbuhan dalam fungsinya sebagai hiperakumulator pada dasarnya adalah
meningkatkan potensi akumulasi kontaminan yang tinggi dalam tajuknya dan potensi
produksi biomassa.
Seleksi tanaman dengan kultur jaringan adalah salah satu cara untuk
mengoptimumkan potensi tanaman untuk fitoekstraksi. Metode ini secara cepat dapat
menciptakan karakteristik tanaman yang baru. Dalam hal ini kultur kalus atau suspensi
dari individu atau agregat sel digunakan sebagai bahan seleksi. Selama proses diferensiasi,
sel dikultur pada media dengan konsentrasi logam yang ditingkatkan terus hingga
mencapai tingkat paling tinggi sesuai kemampuan jaringan. Dalam kondisi ini terlihat
tidak hanya sifat resistensi yang pasif tetapi juga kemampuan sel dalam menyimpan
logam berat. Sistem Survival of the fittest menjamin terseleksinya sel-sel dengan
toleransi yang paling tinggi terhadap logam dan memiliki penampilan terbaik (Naik &
Babu 1988). Totipotensi sel tanaman memungkinkan terjadinya regenerasi seluruh
tanaman dari kalus terseleksi ini.
Mengkombinasikan karakter-karakter yang diinginkan dalam satu jenis
tanaman hiperakumulator melalui seleksi genetik, pemuliaan, dan rekayasa genetik
merupakan salah satu strategi perbaikan teknologi fitoekstraksi. Mengetahui mekanisme
akumulasi logam pada spesies hiperakumulator adalah penting dan sangat diperlukan
dalam penggunaan metode bioteknologi. Upaya dalam penggunaan metode
bioteknologi untuk menghasilkan tumbuhan hiperakumulator unggul telah dimulai,
diantaranya transfer gen merA untuk meningkatkan kemampuan tumbuhan
hiperakumulator Hg (Rugh et al. 1996) dan kloning Zn tranport cDNA pada tumbuhan
hiperakumulator Zn Thlaspi caerulescens untuk meningkatkan kapasitas penyerapan Zn
(Ebbs et al. 2000).

Meningkatkan daya serap logam juga dapat dilakukan dengan menginduksi


proses fitoekstraksi dengan menggunakan senyawa kelat. Pemberian senyawa kelat
dalam tanah dapat memacu ketersediaan dan transfer logam dari akar ke tajuk. Dalam
mekanisme pengkelatan, diperkirakan unsur logam diserap tanaman dalam bentuk
kompleks logam-kelat yang lebih mudah diserap akar dan ditranslokasi ke tajuk (Salt
2000). Kelat sintetik yang biasa digunakan adalah EDTA untuk meningkatkan ekstraksi Pb,
Cu, Ni, dan Zn (Huang et al. 1997; Blaylock et al. 1997). EGTA untuk Cd; sitrat untuk
uranium dan amonium tiosianit untuk Au (Salt 2000).

Perbaikan agronomis untuk mengoptimumkan kapasitas fitoekstraksi juga


banyak diterapkan. Beberapa penelitian membuktikan bahwa manipulasi pH dan
kesuburan tanah dapat meningkatkan akumulasi Zn, Ni, dan Cd pada tanaman (Brown et
al. 1995a, 1995b). Kandungan (konsentrasi total berat kering tanaman) Zn dan Cd pada
tanaman yang diberi pupuk organik meningkat 3-10 kali dibanding kontrol (Baker et
al. 1994; Chaney et al. 1995). Setiap unsur logam memiliki respon yang berbeda
terhadap perlakuan pH maupun pupuk (Chaney et al. 1998b).

Penelitian fisiologis termasuk mekanisme penyerapan unsur dan transportasinya


dalam tumbuhan untuk meningkatkan penyerapan unsur melalui pembuluh silem dan
sel-sel daun dapat menyumbang pengetahuan untuk memperbaiki efisiensi fitoekstraksi.
Masih sedikit pemahaman mengenai aktivitas dan mekanisme tanaman secara molekular
dalam kaitannya dengan sifat hiperakumulator yang berhasil diungkap. Ada indikasi
kemajuan, diantaranya keberhasilan dalam mengungkap karakterisasi penyerapan Fe, Cd,
dan Zn oleh T. caerulencens, Arabidopsis, dan mutan ragi (yeast) yang mengantarkan
pada strategi untuk mengembangkan kultivar transgenik untuk fitoremediasi secara
komersial (Ebbs et al. 2000).
2.6 Isoterm Adsorpsi
a. Isoterm Langmuir
Model kinetika adsorpsi Langmuir ini berdasarkan pada asumsi sebagai berikut:
laju adsorpsi akan bergantung pada faktor ukuran dan struktur molekul adsorbat, sifat
pelarut dan porositas adsorben, situs pada permukaan yang homogen dan adsorpsi
terjadi secara monolayer. Proses adsorpsi heterogen memiliki dua tahap, yaitu : (a)
perpindahan adsorbat dari fasa larutan ke permukaan adsorben dan (b) adsorpsi pada
permukaan adsorben. Tahap pertama akan bergantung pada sifat pelarut dan adsorbat
yang terkontrol (Oscik,1982).
Bagian yang terpenting dalam proses adsorpsi yaitu situs yang dimiliki oleh
adsorben yang terletak pada permukaan, akan tetapi jumlah situs-situs ini akan
berkurang jika permukaan yang tertutup semakin bertambah (Husin and Rosnelly, 2005).
Persamaan isoterm adsorpsi Langmuir tersebut dapat ditulis dalam bentuk persamaan
linier :

Dimana C adalah konsentrasi kesetimbangan, m adalah jumlah zat yang


teradsorpsi per gram adsorben, b adalah kapasitas adsorpsi dan K adalah tetapan
kesetimbangan adsorpsi. Dari kurva linier hubungan antara C/m versus C maka dapat
ditentukan nilai b dari kemiringan (slop) dan K dari intersep kurva
b. Isoterm Freundlich
Model isoterm Freundlich menjelaskan bahwa proses adsorpsi pada bagian
permukaan adalah heterogen dimana tidak semua permukaan adsorben mempunyai
daya adsorpsi. Model isoterm Freundlich menunjukkan lapisan adsorbat yang terbentuk
pada permukaan adsorben adalah multilayer. Hal tersebut berkaitan dengan ciri-ciri dari
adsorpsi secara fisika dimana adsorpsi dapat terjadi pada banyak lapisan (multilayer)
(Husin and Rosnelly, 2005). Bentuk persamaan Freundlich adalah sebagai berikut :
Dimana qe adalah jumlah adsorbat yang terserap tiap satuan berat adsorben
(mg/g), Ce adalah konsentrasi setimbang adsorbat dalam fase larutan (mg/L), Kf dan n
adalah konstanta empiris yang tergantung pada sifat padatan, adsorben dan suhu
(Soeprijanto et al., 2006). Penentuan konstanta Kf dan n dapat dilakukan dengan
linierisasi persamaan sebelumnya :

Kf dan n dapat dicari dengan membuat kurva ln(qe) berbanding ln(Ce). Kf didapat
dari titik potong dengan sumbu tegak dan n dari tangen arah garis lurus yang terbentuk.
Koefisisen Kf sering dikaitkan dengan kapasitas adsorpsi adsorben sehingga
mencerminkan jumlah rongga dalam adsorben tersebut (Singh and Alloway, 2006)
BAB 3
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
1. Interkasi tanaman dengan bahan pencemar memiliki mekanisme sebagai berikut :

Penghindaran (escape) fenologis.


Ekslusi
Penanggulangan (ameliorasi)
Toleransi
2. Fitoremediasi adalah upaya penggunaan tanaman dan bagian-bagiannya untuk
dekontaminasi limbah dan masalah-masalah pencemaran lingkungan baik secara
ex-situ menggunakan kolam buatan atau reaktor maupun in-situ atau secara
langsung di lapangan pada tanah atau daerah yang terkontaminasi limbah (Subroto,
1996)
3. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas fitoremediasi
adalah:
a. Pemilihan jenis tumbuhan yang sesuai
b. Penerapan praktek-praktek agronomis
c. Pemberian perlakuan baik pada tanah maupun pada tumbuhan sesuai
kebutuhan.
d. Ketersediaan unsur logam dan penyerapannya oleh tanaman ditentukan oleh
konsentrasi total dan bentuk dari logam tersebut di dalam tanah selain faktor
geokimia pada zona perakaran.
e. Faktor genetik dan jenis tumbuhan menentukan penyerapan logam
f. Memperbaiki faktor internal yakni potensi genetik dan fisiologi tanaman
ataupun faktor eksternal termasuk manajemen pengolahan tanah dan budi
daya tanaman.
g. Meningkatkan potensi tumbuhan dalam fungsinya sebagai hiperakumulator
h. Seleksi tanaman dengan kultur jaringan
i. Mengkombinasikan karakter-karakter yang diinginkan dalam satu jenis
tanaman hiperakumulator melalui seleksi genetik, pemuliaan, dan rekayasa
genetik
j. Mengetahui mekanisme akumulasi logam pada spesies hiperakumulato
k. Meningkatkan daya serap logam.
l. Pemberian senyawa kelat dalam tanah
4. Isoterm Adsorpsi ada berbagai jenis, dua diantaranya adalah Isoterm Langmuir dan
Freudnlich yang digunakan untuk mengetahui tingkat absorpsivitas dalam
fitoremediasi

3.2 DAFTAR PUSTAKA


1. https://www.thebalance.com/six-types-of-phytoremediation-375529
2. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/77455
3. https://www.researchgate.net/profile/Irhamni_Irhamni/publication/317238140_K
ajian_Akumulator_Beberapa_Tumbuhan_Air_Dalam_Menyerap_Logam_Berat_Se
cara_Fitoremediasi/links/592eeb3e45851553b6690d8a/Kajian-Akumulator-
Beberapa-Tumbuhan-Air-Dalam-Menyerap-Logam-Berat-Secara-Fitoremediasi.pdf
4. http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1978301916303217
5. http://digilib.unila.ac.id/14529/12/15.%20TINJAUAN%20PUSTAKA.pdf