Anda di halaman 1dari 16

OHMMETER

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Umumnya, di dalam sebuah pengukuran dibutuhkan sebuah

instrumen sebagai suatu cara fisis untuk menentukan nilai dari suatu

besaran (kuantitas) atau variabel. Instrumen tersebut membantu

peningkatan keterampilan manusia dan dalam banyak hal memungkinkan

seseorang untuk menentukan nilai dari suatu besaran yang tidak diketahui.

Tanpa bantuan instrumen tersebut, manusia tidak dapat menentukannya.

Pada zaman modernisasi seperti sekarang ini, instrumen telah banyak

digunakan pada berbagai macam aspek kehidupan. Salah satunya ialah

dalam dunia keteknikan yang sering kita lihat. Instrumen elektronik,

didasarkan pada prinsip-prinsip elektronika atau kelistrikan dalam

pemakaiannya sebagai alat ukur elektronika. Sebuah instrumen elektronika

dapat berupa sebuah alat yang konstruksinya sangat sederhana dan relatif

tidak rumit. Tetapi dengan berkembangnya teknologi, tuntutan akan

kebutuhan instrumen-instrumen yang lebih akurat atau lebih teliti semakin

meningkat yang kemudian menghasilkan perkembangan-perkembangan

baru dalam perencanaan dan pemakaiannya. Dalam dunia elektronika

istrumen yang sering digunakan adalah ohmmeter yaitu alat ukur listrik

yang dapat digunakan untuk mengukur besarnya hambatan listrik.

Ohmmeter banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk

mengguanakan instrumen ini secara cermat, kita harus mengerti prinsip


kerjanya dan mampu memperkirakan apakah alat tersebut sesuai

pemakaian yang akan direncanakan. Banyak sebab terjadinya kesalahan

pengukuran yang mengakibatkan kurang tepatnya hasil pengukuran oleh

sebuah instrumen. Sehingga kita harus memperhatikan beberapa hal

sebelum menggunakan ohmmeter untuk mengukur suatu hambatan listrik.

Ketelitian, ketepatan, dan resolusi adalah hal-hal yang perlu diperhatikan

dalam melakukan pengukuran hambatan listrik menggunakan ohmmeter.

Prabowo pada tahun 2010 menjelaskan pengukuran resistansi,

diawali dengan pemilihan posisi saklar pemilih avometer pada kedudukan

dengan batas ukur x 1. Test lead merah dan test lead hitam saling

dihubungkan dengan tangan kiri dan tangan kanan mengatur tombol

pengatur kedudukan jarum pada posisi nol pada skala . Jika jarum

penunjuk meter tidak dapat diatur pada posisi nol, berarti baterainya

sudah lemah dan harus diganti dengan DC baterai yang baru. Langkah

selanjutnya adalah kedua ujung test lead dihubungkan pada ujung-ujung

resistor yang akan diukur resistansinya.

Ohmmeter sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan telah

banyak penelitian yang menggunakan alat ukur ini. Namun, masih banyak

diantara kita yang belum memahami prinsip kerja, cara mengkalibrasi,

dan penggunaan ohmmeter. Oleh karena itu, sangat penting dilakukan

percobaan menegenai ohmmeter agar dapat memahami prinsip kerja, cara

mengkalibrasi, dan penggunaan ohmmeter dengan benar.


2. Tujuan

Tujuan pada Percobaan Ohmmeter adalah sebagai berikut:

a. Membuat skala ohmmeter.

b. Menentukan besar dan arah arus ohmmeter.

B. LANDASAN TEORI

Ohmmeter adalah alat untuk mengukur hambatan listrik. Pada

dasarnya, ohmmeter adalah sebuah galvanometer yang dilengkapi dengan

shunt dan dihubungkan seri dengan sebuah baterai, sehingga ketika kedua

ujung terminalnya dihubungkan dengan suatu hambatan akan mengalir arus

dari bateri ke hamatan yang diukur itu, kemudian masuk ke galvanometer

yang sudah dilengkapi shunt sehingga berfungsi sebagai ampermeter. Kuat

arus yang melalui ampermeter itu nilainya dikalibrasi menjadi nilai hambatan

yang diukur. Bagian dasar atau pokok dari ohmmeter adalah seperti pada

Gambar 3.1 di bawah ini.

Gambar 3.1 Bagian Dasar Ohmmeter


Pada Gambar 3.1 di R adalah hambatan yang akan diukur, dan bagian

rangkaian yang berada dalam kotak putus-putus adalah ohmmeter yang terdiri

dari sebuah galvanometer yang paralel dengan hambatan shunt dan keduanya

dihubungkan seri dengan sebuah baterai Melihat rangkaian pada Gambar 3.1

itu dapat disimpulkan bahwa jika jarum penunjuk skala ohmmeter bergerak

menunjuk pada suatu nilai skala, berarti ada arus listrik yang mengali melalui

hambatan yang akan diukur nilainya. Kesimpulan ini digunakan sebagai

prinsip untuk menggunakan ohmmeter untuk memeriksa ada atau tidak adanya

kontak listrik antara dua ujung kabel, antara dua bagian yang disambungkan,

untuk memerika apakah sebuah lampu sudah putus filamennya atau belum,

dan sebagainya (Sutrisno, 2004)

Pengukuran resistansi, diawali dengan pemilihan posisi saklar pemilih

AVO meter pada kedudukan dengan batas ukur x 1. Test lead merah dan test

lead hitam saling dihubungkan dengan tangan kiri, kemudian tangan kanan

mengatur tombol pengatur kedudukan jarum pada posisi nol pada skala . Jika

jarum penunjuk meter tidak dapat diatur pada posisi nol, berarti baterainya

sudah lemah dan harus diganti dengan DC baterai yang baru. Langkah

selanjutnya kedua ujung test lead dihubungkan pada ujung-ujung resistor yang

akan diukur resistansinya. Cara membaca penunjukan jarum meter sedemikian

rupa sehingga mata kita tegak lurus dengan jarum meter dan tidak terlihat

garis bayangan jarum meter. Supaya ketelitian tinggi kedudukan jarum

penunjuk meter berada pada bagian tengah daerah tahanan.


Gambar 3.2 Cara Pembacaan Skala Ohmmeter

Menurut Herlan, (2004 H 15). Pada pesawat elektronika, arus

listrik yang mengalir di dalamnya akan diatur oleh onderdiel yang nama

kelompoknya dinamakan resistor, resistor yang disingkat dengan huruf

baca R disebut juga tahanan, pelawan, hambatan dan tata kerjanya.

Resistor adalah komponen dasar elektronika yang digunakan untuk

membatasi jumlah arus yang mengalir dalam satu rangkaian (Prabowo,

2010).

Tabel 3.1 Nilai Gelang pada Resistor


Warna Nilai Faktor Pengali Toleransi
Hitam 0 1
Cokelat 1 10 1%
Merah 2 100 2%
Jingga 3 1000
Kuning 4 10000
Hijau 5 100000
Biru 6 1000000
Violet 7 10000000
Abu-abu 8 100000000
Putih 9 1000000000
Emas - 0,1 5%
Perak - 0,01 10 %
Tanpa Warna - 20 %

(Agung, Tth).
C. METODE PENELITIAN

1. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada Percobaan Ohmmeter dapat

dilihat pada Tabel 3.2 berikut.

Tabel 3.2 Alat dan Bahan Percobaan Ohmmeter


No. Nama Alat dan Bahan Fungsi
1. Multimeter analog Untuk mengukur besarnya hambatan
resistor
2. Multimeter digital Untuk mengukur besarnya hambatan
resistor
3. Resistor 3 , 20 , 1 k, Sebagai hambatan dalam rangkaian
200 k, dan 1 M

2. Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan pada Percobaan Ohmmeter adalah

sebagai berikut:

a. Menentukan skala ohmmeter, memperhatikan dengan nila nol,

berapakah nilai skala di tengah, skala penuh dan skala penuh.

b. Memfungsikan dua multimeter sebagai ohmmeter.

c. Memilih skala 1 x, menghubungkan singkat kedua probe dan mengatur

hingga jarum menunjuk nol (kalibrasi).

d. Mengukur hambatan ohmmeter dengan ohmmeter lainnya.

e. Memindahkan saklar di 10 x dan mengukur kembali hambatannya,

dimanakah letak jarum penunjuknya?

f. Mengukur resistansi resistor 2 dengan batas ukur 1 x, 10 x dan 1 kx.

g. Mengulangi langkah f untuk resistor 200 , 1 k, 200 k dan 1 M.


D. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil

a. Data Pengamatan

Data pengamatan yang dilakukan pada Percobaan Ohmmeter

dapat dilihat pada Tabel 3.2 dan Tabel 3.3 di bawah ini.

1) Menentukan Skala pada Ohmmeter

Tabel 3.3 Data Pengamatan Penentuan Skala Ohmmeter


No. Skala Besarnya ()
1. Skala penuh 500
2. skala penuh 20
3. skala penuh 100
4. skala penuh 5

2) Mengukur Hambatan Resistor Menggunakan Multimeter Analog

Tabel 3.4 Data Pengamatan Pengukuran Hambatan Resistor


Menggunakan Multimeter Analog
1x 10 x 100 1 kx
No. Resistor Kode Warna
() () x () ()
Merah, hitam, emas,
1. 2 0,004 0 0 0
emas
Merah, hitam, hitam,
2. 20 10 16 8
emas
Cokelat, hitam,
3. 1 k 1,7 0,8 0
merah, emas
Merah, hitam,
4. 200 k 400
kuning, emas
Cokelat, hitam,
5. 1 M
hitam, kuning, emas

3) Mengukur Hambatan Resistor Menggunakan Multimeter Digital

Tabel 3.5 Data Pengamatan Pengukuran Hambatan Resistor


Menggunakan Multimeter Digital
No. Resistor Kode Warna Besar ()
1. 2 Merah, hitam, emas, emas 2
2. 20 Merah, hitam, hitam, emas 9980
3. 1 k Cokelat, hitam, merah, emas 1027
4. 200 k Merah, hitam, kuning, emas 198200
5. 1 M Cokelat, hitam, hitam, kuning, emas 976000
b. Analisis Data

1) Mengukur Besarnya Resistansi Berdasarkan Kode Warna

a) Untuk Resistor 2

Kode warna (merah, hitam, emas)

R1 AB 10 C
R1 20 10 1
R1 2
b) Untuk Resistor 20

Kode warna (merah, hitam, hitam)

R2 AB 10 C
R2 20 10 0
R2 20
c) Untuk Resistor 1 k

Kode warna (cokelat, hitam, merah)


R3 AB 10 C
R3 10 10 2
R3 1000 (1 k)
d) Untuk Resistor 200 k

Kode warna (merah, hitam, kuning)


R4 AB 10 C
R4 20 10 4
R4 200000 (200 k)
e) Untuk Resistor 1 M

Kode warna (cokelat, hitam, hitam, kuning)


R5 AB 10 C
R5 100 10 4
R5 1000000 (1 M)
2) Menentukan Resistansi Maksimum dan Minimum

a) Untuk Kode Warna (Merah, Hitam, Emas, Emas)


R1 ( AB 10C ) D

R1 (20 101 ) 5%
R1 2 5%
R1 0,1
RMax 2 0,1 2,1

RMin 2 0,1 1,9


Pada alat ukur multimeter digital resistansi yang terbaca adalah 2

(memenuhi batas toleransi).

b) Untuk Kode Warna (Merah, Hitam, Hitam, Emas)


R2 ( AB 10 C ) D

R2 (20 10 0 ) 5%

R2 20 5%
R2 0,1

RMax 20 1 21

RMin 20 1 19
Pada alat ukur multimeter digital resistansi yang terbaca adalah 9980

(tidak memenuhi batas toleransi).

c) Untuk Kode Warna (Cokelat, Hitam, Merah, Emas)


R3 ( AB 10 C ) D

R3 (10 10 2 ) 5%

R3 1000 5%
R3 50
RMax 1000 50 1050

RMin 1000 50 950


Pada alat ukur multimeter digital resistansi yang terbaca adalah 1027

(memenuhi batas toleransi).

d) Untuk Kode Warna (Merah, Hitam, Kuning, Emas)


R4 ( AB 10 C ) D

R4 (20 10 4 ) 5%

R4 200000 5%
R4 10000
RMax 200000 10000 210000

RMin 200000 10000 190000


Pada alat ukur multimeter digital resistansi yang terbaca adalah

198200 (memenuhi batas toleransi).

e) Untuk Kode Warna (Cokelat, Hitam, Hitam, Kuning, Emas)


R5 ( AB 10 C ) D

R5 (100 10 4 ) 5%

R5 1000000 5%
R5 50000
RMax 1000000 50000 1050000

RMin 1000000 50000 950000


Pada alat ukur multimeter digital resistansi yang terbaca adalah

976000 (memenuhi batas toleransi).


2. Pembahasan

Ohmmeter adalah sebuah alat untuk mengukur nilai suatu resistansi

menggunakan satuan ohm (). Secara umum, ohmmeter merupakan alat

pengukur hambatan listrik yaitu daya mengalirnya arus listrik dalam suatu

konduktor. Pada ohmmeter apabila saat melakukan kegiatan pengukuran

pada suatu rangkaian, rangkaian tersebut tidak pada kondisi sedang dialiri

arus listrik. Ohmmeter ada dua jenis yaitu ohmmeter analog dan ohmmeter

digital. Ohmmeter analog menggunakan jarum untuk menunjuk angka

hambatan yang diukur sedangkan ohmmeter digital tampilannya lebih

simple, nilai hambatan yang terukur muncul pada layar secra langsung

sehingga mudah dalam pembacaannya serta memiliki tambahan-tambahan

satuan yang lebih rinci dan juga opsi pengukuran yang lebih banyak.

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan diperoleh

besarnya skala ohmmeter pada skala penuh, skala penuh, skala penuh

dan skala penuh secara berturut-turut adalah sebesar 500 , 20 , 100

dan 5 . Pengukuran selanjutnya adalah mengukur hambatan resistor

menggunakan multimeter analog dan multimeter digital yang difungsikan

sebagai ohmmeter. Pada multimeter analog resistor yang diukur adalah

resistor 2 , 20 , 1 k, 200 k dan 1 M dengan menggunakan batas

ukur 1 x, 10 x, 100 x dan 1 kx. Untuk resistor 2 pada batas ukur 1 x

adalah 0,0004 dan pada batas ukur yang lainnya hasilnya semua sama

yaitu 0 . Hasil pegukuran ini menunjukkan untuk resistor 2 batas ukur

yang boleh digunakan adalah 1 x dan apabila mengguankan batas ukur


diatasnya maka hasil pengukuran pada ohmmeter tidak akan terbaca

karena batas ukur tersebut terlalu besar untuk mengukur resistor 2 . Pada

resistor 20 dengan batas ukur 1 x adalah (tidak terdefinisi) artinya

batas ukur 1 x ini terlalu kecil untuk mengukur hambatan 20 maka harus

menggunakan yang lain yaitu 10 x, 100 x dan 1 kx sehingga hambatan

yang terbaca adalah 10 , 16 dan 8 . Untuk resistor 1 k besarnya

hambatan yang terukur secara berturut-turut adalah , 1,7 , 0,8 dan 0

. Hasil ini menunjukan pada batas ukur 1 x tidak bisa digunakan untuk

mengukur hambatan 1 k karena batas ukur tersebut terlalu kecil

sedangkan pada batas ukur 1 kx, batas ukur ini juga terlalu besar untuk

mengukur hambatan 1 k sehingga untuk mengukur hambatan yang

besarnya 1 k harus digunakan batas ukur 10 x dan 100 x. Selanjutnya

untuk resistor 200 k pada batas ukur 1 x, 10 x dan 100 x adalah dan

pada batas ukur 1 kx adalah 400 artinya apabila mengukur hambatan

yang besarnya 200 k maka harus menggunakan batas ukur 1 kx dan

apabila mengguankan batas ukur dibawahnya maka hasilnya tidak

terdefinisi karena batas ukur tersebut terlalu kecil untuk mengukur

hambatan yang besarnya 200 k. Sementara itu, untuk resistor 1 M

dengan menggunakan batas ukur 1 x, 10 x, 100 x dan 1 kx adalah tidak

terdefinisi artinya pada resistor 1 M harus menggunakan batas ukur yang

lebih besar lagi karena hambatannya sangat besar. Jadi, apabila

menggunakan batas ukur 1 kx atau dibawahnya maka tidak akan

terdefinisi. Pengukuran selanjutnya adalah mengukur besarnya hambatan


resistor menggunakan multimeter digital yang difungsikan sebagai

ohmmeter. Hasil pengukuran yang diperoleh untuk resistor 2 , 20 , 1

k, 200 k dan 1 M secara berturut-turut adalah sebesar 2,0 , 9980 ,

1027 , 198200 dan 976000 . Pengukuran dengan multimeter analog

hanya dilakukan pada batas ukur 1 x karena hasil yang diperoleh dengan

alat ini cukup akurat dibandingkan multimeter analog. Sehingga hal ini

sesuai dengan teori bahwa hasil pengukuran menggunakan multimeter

digital lebih akurat bila dibandingkan dengan menggunakan multimeter

analog.

Hasil yang diperoleh selanjutnya dalam percobaan yang telah

dilakukan adalah resistansi minimum dan maksimum resistor. Untuk

resistor 20 toleransinya adalah sebesar 1,9 sampai dengan 2,1 dan

nilai resistansi yang terukur pada multimeter digital adalah sebesar 2

sehingga nilai tersebut memenuhi nilai resistansinya. Pada resistor 20

batas toleransinya berkisar dari 19 sampai dengan 21 dan nilai

resistansi resistor yang terbaca pada multimeter digital adalah sebesar

9980 sehingga nilai tersebut tidak memenuhi nilai resistansiya. Resistor

selanjutnya adalah resistor 1 k yang nilai batas toleransinya berkisar dari

950 sampai dengan 1050 dan nilai yang terbaca pada multimeter

digital adalah 1027 sehingga nilai tersebut memenuhi nilai batas

resistansinya. Pada resistor 200 k batas toleransinya berkisar antara

190000 sampai dengan 210000 , sedangkan nilai resistansi resistor yang

terbaca pada multimeter digital adalah sebesar 198200 . Dengan


demikian, nilai tersebut memenuhi nilai toleransinya. Sedangkan pada

resistor 1 M toleransinya adalah berkisar antara 950000 sampai

dengan 1050000 dan nilai resistansi resistor yang terbaca pada

multimeter digital adalah 976000 , sehingga nilai tersebut memenuhi

batas toleransinya.

Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan menunjukan

bahwa pada resistor 20 toidak memenuhi batas toleransi, hasilnya

berada diatas batas toleransi. Dengan demikian antara praktek dan teori

belum sesuai, sedangkan sedangkan unutk resistor yang lainnya sudah

berada dalam batas toleransi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa secara

umum percobaan ohmmeter yang dilakukan sudah berjalan sesuai dengan

teori.

E. PENUTUP

1. Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari Percobaan Ohmmeter adalah

sebagai berikut.

a. Ohmmeter memiliki skala penuh dengan batas ukur sebesar 500 ,

skala penuh dengan batas ukur sebesar 100 , skala penuh dengan

batas ukur sebesar 20 dan skala penuh dengan batas ukur sebesar

5 .

b. Hambatan resistor dapat ditentukan dengan tepat jika dalam

pengukuran dilakukan dengan teliti sehingga resistor yang diukur

dengan multimeter analog dan multimeter digital memiliki hasil


pengukuran yang hampir sama dimana sebeum dilakukan pengukuran

dikalibrasi terlebih dahulu.


2. Saran
Saran yang dapat diberikan pada Percobaan Ohmmeter adalah
sebagai berikut.
a. Untuk laboratorium agar mengganti alat dan komponen praktikum
yang sudah rusak yaitu multimeter dan resistor.
b. Untuk asisten agar mengawasi para praktikannya saat melakukan
pengukuran sehingga tidak terjadi kesalahan pengukuran.
c. Unutk praktikan agar lebih teliti lagi dalam melakukan pengukuran
sehingga hasil yang diperoleh akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Agung, Fajri Septia; farhan, M; Rahmansyah dan Eka Pudji Widiyanto.Tth.


Sistem Deteksi pada Ruangan Bebas Asap Rokok dengan Keluaran
Suara. Palembang: AMIK GI MDP.

Prabowo, Edy. 2010. Identifikasi Kelayakan Alat Praktek Instalansi Listrik Sub
Alat Ukur Ammeter Untuk Mendukung Tujuan Kurikulum SMKN 5
Semarang. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Sutrisno. 2004. Modul Listrik Dinamis. Bandung: Universitas Pendidikan


Indonesia.