Anda di halaman 1dari 12

Konsep

A. Definisi Konsep
Pada setiap penelitian yang akan dilakukan pasti berangkat dari masalah. Masalah
yang muncul bisa terlihat sangat menarik dan unik. Daya ketertarikan dan keunikan itu
sendiri terlihat berdasarkan kreatifitas seorang peneliti. Dari mulai daya analisis dan
penyajian data yang ditampilkan. Tampilan data yang unik dan bisa menarik peminat
pembaca bisa jadi akan menghasilkan satu karya yang sangat dihargai oleh semua aktivis
akademisi.
Dari ulasan masalah penelitian diatas, daya kualitas penelitian juga dapat
digambarkan dari konsep yang dibawakan. Sesuai dengan masalah yang telah dirumuskan,
maka tahapan selanjutnya yakni menentukan konsep. Konsep yang disajikan tergantung pada
masalah yang didalami secara kritis. Jika masalah penelitian semakin unik, maka konsep
yang diulas akan terasa unik untuk dibahas. Konsep bisa lahir berdasarkan kajian ilmu yang
digunakan dalam penelitian.
Istilah konsep berasal dari bahasa latin conceptum, artinya sesuatu yang dipahami.
Aristoteles dalam "The classical theory of concepts" menyatakan bahwa konsep merupakan
penyusun utama dalam pembentukan pengetahuan ilmiah dan filsafat pemikiran manusia.
Konsep merupakan abstraksi suatu ide atau gambaran.1[2] Melalui dengan konsep seorang
manusia akan memahami sesuatu yang akan dipikirkannya. Secara sederhana konsep ini
adalah media yang membantu manusia untuk berpikir. Sesuatu yang ingin dipahami,
dimengerti, diukur, dan dikritisi secara mendalam oleh pikiran manusia.
Konsep itu sendiri adalah gambaran abstrak tentang kejadian, keadaan, dalam suatu
kelompok atau individu.2[3] Gambaran abstrak yang menjadi kata penjelas dari suatu istilah
konsep dimaksudkan untuk memperjelas sesuatu yang terjadi. Menurut Soedjadi, konsep
adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan
yang pada umumnya dinyatakan dengan suatu istilah atau rangkaian kata.
ide / gagasan Hasil abstraksi dari realitas empirik, yang ada di alam mental / pikiran.
Realitas empirik bermakna segala sesuatu yang didasarkan pada kenyataan dan fakta.
Gagasan akan menyebabkan munculnya suatu konsep sebagai dasar suatu pikiran manusia.
Konsep menggambarkan suatu himpunan gejala tertentu yang dikelompokkan/ dikategorikan
kedalam suatu kesatuan karena kesamaan ciri tertentu. Mudahnya konsep adalah ide-ide,
penggambaran hal-hal atau benda-benda ataupun gejala-gejala sosial yang dinyatakan dalam
istilah atau kata. 3[4]
Beberapa ahli juga menyatakan tentang definisi konsep. Singarimbun (2006)
mengemukakan bahwa konsep adalah istilah dan definisi yang digunakan untuk
menggambarkan secara abstrak suatu kejadian, keadaan, kelompok atau individu yang
menjadi pusat perhatian ilmu sosial. Suatu kejadian, kondisi, baik kelompok maupun individu
bisa diungkapkan serta dijelaskan oleh seseorang kepada orang lain melalui satu istilah yang
dinamakan konsep. Melalui konsep seseorang akan memahami sebenarnya hal apakah yang
disampaikan oleh penyampai pesan. Sedangkan, penerima pesan juga akan menangkap
konten pesan tersebut. Isi / konten dari pesan inilah yang dinamakan konsep.
Woodruff mendefinisikan konsep sebagai a) suatu gagasan/ ide yang relatif sempurna
dan bermakna, b) suatu pengertian terhadap objek; c) produk subjektif yang berasal dari cara
seseorang membuat pengertian terhadap objek atau benda melalui pengalamannya (setelah
melakukan persepsi terhadap objek/benda). Gagasan yang relatif sempurna bermakna adalah
ide tersebut penuh dengan suatu arti yang memang penting untuk dibahas secara dalam.
Konsep sebagai pengertian terhadap objek juga bermakna jika objek tersebut memiliki
definisi yang bisa diuraikan secara runtut. Produk subjektif dari peneliti yang memaknai
konsep sebagai hasil pemikiran yang berasal dari pengalaman kehidupannya.
Menurut Davis & Cosenza (1993) konsep adalah sejumlah pengertian atau
karakteristik, yang dikaitkan dengan peristiwa objek, kondisi, situasi, dan perilaku tertentu,
dengan kata lain konsep adalah pendapat abstrak yang digeneralisasi dari fakta tertentu.
Sedangkan menurut Rakhmat (1999) konsep merupakan abstraksi yang dibentuk dengan
menggeneralisasikan hal-hal khusus. Konsep adalah abstraksi yang dibentuk dengan
menggeneralisasikan hal-hal khusus (Kerlinger, 1971: 28).
Konsep adalah abstraksi yang dibentuk dari generalisasi particulars Berat (weight)
adalah konsep karena berat merupakan ekspresi sejumlah observasi dari segala sesuatu yang
berkisar dari ringan hingga berat. Energi, daya, berat jenis, tahanan listrik adalah konsep-
konsep yang biasa dipakai oleh peneliti fisika. Konsep-konsep tersebut lebih abstrak
dibanding ketinggian, berat dan panjang. Konsep yang mudah dikenal dalam penelitian sosial
adalah prestasi. Prestasi adalah abstraksi yang dibentuk dari pengamatan perilaku tertentu
dari seorang semisal adalah siswa. Perilaku itu dikaitkan dengan pemahaman atau kompetensi
dalam mengerjakan tugas-tugas guru dalam pelajaran Matematika, Bahasa, Fisika, dan lain-
lain. Contoh lain dari konsep misalnya kecerdasan, agretifitas, kejujuran, kepuasan, kerja,
kesetiaan (loyalitas), dan sebagainya. Konsep merupakan bahan baku ilmu pengetahuan. Dari
konsep dibentuk proposisi, dan proposisi itu membentuk teori.
Konsep adalah istilah atau simbol yang menunjuk pada suatu pengertian tertentu.
Rambu-rambu lalu lintas adalah simbol, dan simbol itu menunjuk pada suatu pengertian
tertentu yang perlu dipahami dan dipatuhi sebagai suatu peraturan. Sekolah adalah istilah dan
istilah ini mengingatkan kita pada sesuatu yang kongkret seperti gedung, guru, murid,
pelajaran, dan sebagainya. Wawewo juga sebuah istilah tetapi istilah ini tidak mengandung
makna, tidak menunjuk pada suatu pengertian, karena itu bukan konsep. Jadi, secara singkat
istilah yang menunjukan kepada suatu keterangan, kejelasan, pengertian, dan penyampaian
pesan itulah yang dinamakan konsep. Dikarenakan disana terdapat suatu pengertian yang
akan disampaikan untuk melangsungkan suatu komunikasi.
Konsep adalah sesuatu yang abstrak tetapi menunjuk pada sesuatu yang kongkret.
Abstraksi suatu konsep itu bertingkat-tingkat, ada yang abstraksinya sangat tinggi dan ada
yang rendah. Misalnya, minat adalah suatu konsep yang sukar dicarikan hal-hal kongkret
sebagai penunjuknya, tetapi kursi adalah kosep yang sangat mudah dihubungkan dengan
hal yang kongkret. Konsep-konsep yang dimiliki ilmu pengetahuan sangatlah tinggi. Konsep
seperti ini oleh Kerlinger disebut construct atau konsep nominal.
Konseptualisasi adalah proses pembentukan konsep dengan bertitik tolak pada gejala-
gejala pengamatan. Proses ini berjalan secara induktif, dengan mengamati sejumlah gejala
secara individual, kemudian merumuskannya dalam bentuk konsep. Konsep bersifat abstrak
sedangkan gejala bersifat kongkret.4[5]
Dari segi definisi istilah memungkinkan jika sebuah konsep itu juga dimaknai sebagai
variabel. Konsep adalah segala macam hal yang dibahas, didefinisikan, dan diukur dalam
sebuah penelitian. Sedangkan, variabel juga seperti halnya sebuah konsep. Variabel juga
menjadi bahan dan istilah yang harus dibahas, dimengerti, dan diukur dalam suatu pengertian.
Namun, bisa jadi definisi konsep ini sendiri sangatlah luas dan banyak versi dalam
mengintepretasikannya.
B. Macam Macam Konsep
Dalam sebuah penelitian terdapat dua macam konsep yang bisa digunakan untuk
pedoman dasar, yaitu :
1) Konsep yang berhubungan dengan fakta
Konsep yang berhubungan dengan fakta adalah suatu konsep yang berhubungan
dengan benda-benda kongkrit yang dapat dilihat atau diraba. Sehingga dalam hal ini peluang
kesalahan memahami konsep sangat kecil. Misalnya konsep tentang meja, kursi, dan sepedah.
Konsep yang bersifat fakta ini pada umumnya berbentuk. Bersifat padat yang terlihat oleh
mata dan panca indera. Konsep konkret merupakan suatu konsep yang berhubungan dengan
benda-benda kongkrit yang dapat diinderakan oleh indera manusia. Biasanya konsep ini bisa
disentuh dan dirasakan oleh pancaindera secara langung. Sehingga mudah dipahami.
Contoh : meja, kursi, komputer, motor, sendok.

Konsep fakta pada dasarnya mudah dipahami oleh manusia oleh mata telanjang.
Kecenderungan manusia juga memahami sesuai dengan apa yang dilihat oleh segala sesuatu
yang dilihat. Misalnya, memahami kursi. Secara naluri manusia akan memahaminya jika
kursi adalah media atau alat untuk memudahkan manusia sebagai tempat duduk. Secara
logika manusia akan tahu sesuai apa yang mereka lihat. Manusia akan ingat sesuai apa yang
mereka dengar. Konsep yang fakta akan mudah meresap dalam pemikiran manusia sesuai apa
yang mereka lihat dan dengar. Sehingga itulah yang mereka ketahui dan mereka ingat.

Konsep Rumah adalah sebuah tempat bagi manusia yang digunakan untuk
berteduh, istirahat dan melakukan berbagai aktivitas sosial bersama anggota keluarga.
Pemahaman tentang berteduh, istirahat, dan aktivitas ini adalah bentuk kemanfaatan dari
rumah itu sendiri. Secara bentuk, model, dan teksturnya rumah adalah tempat tinggal yang
sesuai untuk manusia. Dari segi penglihatanpun rumah sudah bisa diduga sebagai tempat
tinggal manusia. Tidak ada dugaan lain tentang rumah.

2) Konsep yang berhubungan dengan hal-hal yang abstrak


Merupakan suatu konsep yang berkaitan dengan sesuatu yang tidak dapat dilihat,
diraba secara fisik tapi hal itu ada. Misalnya hubungan kekeluargaan, EQ, sifat dan lain
sebagainya. Konsep abstrak tidak dapat diindera oleh panca indera, tapi hal itu ada.
beberapa contoh dari konsep abstrak adalah masyarakat, organisasi, asimilasi, kebahagiaan,
pendidikan, sikap, IQ, EQ.
Sehat adalah konsep istilah ini mengungkap sejumlah observasi tentang hal-hal atau
gejala-gejala yang mencerminkan kerangka keragaman kondisi kesehatan seseorang.
Untuk mengetahui apakah seseorang itu sehat atau tidak sehat maka pengetahuan konsep
sehat tersebut harus melalui konstruk atau variabel-variabel misalnya: tekanan darah,
denyut nadi, Hb darah, dan sebagainya. Tekanan darah, denyut nadi, Hb darah dan
sebagainya ini variabel-variabel yang digunakan untuk mengobservasi atau mengukur apakah
seseorang itu sehat atau tidak sehat.
Sosial-ekonomi adalah suatu konsep, dan untuk mengukur sosial ekonomi keluarga
misalnya, harus melalui variabel-variabel seperti tinggi pendidikan, pekerjaan dan
pendapatan keluarga itu. Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka
hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian
yang akan dilakukan.
Peneliti bekerja dari tahap konsepsional ketahap operasional. Seperti, Doa
menimbulkan kesejahteraan pada orang yang didoakannya. Ini adalah hipotesis yang terdiri
dari dua konsep, Doa dan Kesejahteraan, disambungkan dengan kata menunjukkan
hubungan diantara dua konsep, yakni Menimbulkan. Semua konsep tersebut bersifat
abstrak. Dalam tahap kedua, peneliti mengalihkan konsep abstrak itu menjadi variabel yang
dapat diamati.
Dari berbagai analogi dan contoh konsep diatas, peneliti itu harus bisa menjadikan
konsep sebagai variabel. Dimana konsep ini harus bisa diteliti dan diamati oleh semua pihak.
Walaupun pada dasarnya konsep adalah hal yang tidak bisa diukur dan dianalisa secara
kemampuan inderawi manusia. Namun, dengan kekreatifan peneliti dan keahlian seorang
peneliti konsep ini akan menjadi sajian serta renungan yang indah untuk ditelaah secara
mendalam.
C. Ciri-ciri Konsep
1) Terbentuk dengan jalan abstraksi (proses menarik intisari dari ide-ide, hal-hal, benda-
benda, juga gejala sosial) dan Generalisasi (menarik kesimpulan umum dari sebuah ide, hal,
benda, dan gejala sosial yang khusus).
2) Tidak dapat dinyatakan benar atau salah. Konsep tidak bisa dinyatakan salah atau benar
dikarenakan konsep adalah himpunan dari ide, gagasan, hal-hal, juga gejala sosial yang
menjadi satu sistem.

3) Jelas tidaknya suatu konsep ditentukan oleh istilah yang digunakan dan tingkat/derajat
keabstrakannya.

4) Konsep hanya dapat diamati atau diukur melalui konstruk atau yang lebih dikenal
dengan nama variabel. Jadi variabel adalah simbol atau lambang yang menunjukkan nilai
atau bilangan dari konsep.

D. Fungsi Konsep
1) Fungsi kognitif yaitu mengorganisasi observasi dan menata hasilnya (fungsi menata).
Konsep adalah salah alat untuk mengelola dan mengorganisir seluruh pikiran dalam
mendefinisikan segala macam. Dengan fungsi kognitif konsep akan menjadi senjata yang bisa
mengamati istilah, ide, gagasan, pernyataan, dan asumsi yang ingin disampaikan.

2) Fungsi evaluatif yaitu mengevaluasi apa yang telah dipersepsi. Melalui fungsi evaluatif
ini sebagai seorang peneliti konsep bisa menjadi bahan melihat kembali segala sesuatu yang
sudah diangkat dalam penelitian. Konsep juga melihat kekurangan dan kelebihan dalam
penelitian. Sejauh mana kualitas penelitian yang diteliti.

3) Fungsi Operasional (pragmatis) yaitu mengendalikan dan mengarahkan perilaku


individu.

4) Fungsi Komunikasi artinya konsep harus memungkinkan komunikasi. Fungsi


komunikatif konsep dalam penelitian harus sebisa mungkin menghubungkan antar aspek
dalam penelitian. Dalam konsep secara komunikatif akan menjadi alat untuk merelevansikan
setiap langkah dalam penelitian. Sehingga konsep dengan fungsi komunikatifnya ini akan
menjadi pedoman penelitian semakin runtut dan detail secara prosesnya. Selain itu, konsep
juga akan menambah kesinergisan dalam suatu penelitian. Konsep yang akan
menghubungkan antar aspek dalam penelitian.

Dimensi-dimensi Penelitian

1. Tujuan penelitian
Berdasarkan tujuannya, penelitian dapat dibedakan kedalam tiga jenis, meliputi:
a. Penelitian Eksploratif
Yaitu penelitian yang dilaksanakan untuk menggali data dan informasi tentang topik
atau isu-isu baru yang ditujukan untuk kepentingan pendalaman atau penelitian
lanjutan. Tujuan penelitian adalah untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang
lebih akurat yang akan dijawab dalam penelitian lanjutan atau penelitian kemudian.
Peneliti biasanya menggunakan penelitian eksplorasi ini untuk mendapatkan
pengetahuan yang cukup dalam penyusunan desain dan pelaksanaan kajian lanjutan
yang lebih sistematis.
Penelitian eksploratory pada umumnya dilaksanakan untuk menjawab pertanyaan
Apa (what) (Apa sesungguhnya fenomena sosial tersebut?). Pada penelitian ini
seringkali menggunakan data-data kualitatif.
b. Penelitian deskriptif
Penelitian deskriptif menghadirkan gambaran tentang situasi atau fenomena sosial
secara detil. Dalam penelitian ini, peneliti memulai penelitian dengan desain
penelitian yang terumuskan secara baik yang ditujukan untuk mendeskripsikan
sesuatu secara jelas.
Penelitian deskriptif biasanya berfokus pada pertanyaan bagaimana (how) dan
siapa (who) (Bagaimana fenomena tersebut terjadi? Siapa yang terlibat
didalamnya?)
c. Penelitian Eksplanatif
Tujuan penelitian eksplanatif adalah untuk memberikan penjelasan mengapa sesuatu
terjadi atau menjawab pertanyaan mengapa (why).
2. Kegunaan penelitian
Berdasarkan kegunaannya, penelitian dapat dibedakan kedalam dua jenis, meliputi:
a. Penelitian dasar (basic research)
Suatu penelitian disebut sebagai penelitian dasar (penelitian akademik atau penelitian
murni) jika penelitian tersebut berguna untuk me
mahami fundamental nature dari suatu fenomena social atau menyediakan dasar
pengetahuan dan pemahaman yang dapat digeneralisir pada berbagai wilayah
kebijakan, masalah, atau wilayah kajian. Focus penelitian dasar adalah untuk menolak
atau menerima teori-teori yang telah memberikan penjelasan mengapa (why) suatu
fenomena social terjadi, apa (what) yang menyebabkan hal tersebut terjadi, mengapa
hubungan social mengikuti cara tertentu, dan mengapa masyarakat mengalami
perubahan.
b. Penelitian terarapan (applied research)
Kegunaan penelitian terapan adalah pemanfaatan atau penerapan ilmu pengetahuan
pada isu-isu praktis tertentu, seperti untuk menjawab persoalan kebijakan atau social
problem solving. Pada penelitian terapan penggunaan teori kurang dipentingkan
dibandingkan dengan pencarian solusi untuk masalah yang akan ditangani. Pada
umumnya, penelitian terapan adalah jenis penelitian deskriptif.
Beberapa jenis penelitian terapan, antara lain: action research, social impact
assesment, dan evaluation research.
1) Action Research
Adalah penelitian terapan yang memperlakukan pengetahuan sebagai kekuatan dan
menghapus garis pemisah antara penelitian dan tindakan sosial. Banyak jenis dari
penelitian tindakan, namun demikian ada beberapa karakteristik yang berlaku umum,
meliputi: 1) mereka yang dipelajari berpartisipasi dalam proses penelitian; 2)
penelitian berkaitan dengan pengetahuan yang umum atau sudah populer; 3) fokus
penelitian adalah pada kekuatan (power) dengan tujuan penguatan (empowerment); 4)
arah penelitian adalah untuk menumbuhkan kesadaran atau meningkatkan
keperdulian; dan 5) penelitian terkait secara langsung dengan tindakan politik.
2) Social Impact Assessment
Merupakan bagian dari Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) yang seringkali
diperlukan untuk menaksir dampak social yang akan timbul atau menganalisis
dampak social yang terjadi karena adanya suatu proyek atau penerapan suatu
kebijakan tertentu.
Wilayah yang dikaji, antara lain mencakup:
Pelayanan masyarakat (mis. school enrolments, speed of policy responses)
Kondisi sosial (mis. Rata-rata kejahatan)
Dampak ekonomi (mis. business failure rate)
Konsekuensi demografi (mis.pergerakan penduduk keluar atau masuk suatu
wilayah).
Lingkungan (mis., perubahan kualitas lingkungan kita)
Hasil kesehatan (mis. Perubahan jenis penyakit)
Efek terhadap psikologi (mis. Perubahan perilaku, stres)
3) Evaluation Research
penelitian jenis ini biasanya dilakukan untuk menjawab pertanyaan apakah
kebijakan/program ini bekerja sebagaimana seharusnya?. Smith and Glass (1987: 31)
mendefinisikan penelitian evaluasi sebagai the process of establishing value
judgments based on evidence.
Evaluation research mengukur efektivitas dari suatu kebijakan, program atau cara
melakukan sesuatu. Penelitian ini dapat berbentuk deskriptif, eksploratif, maupun
eksplanatif. Namun demikian, pada umumnya adalah deskriptif. Jenis penelitian ini
meliputi formative dan summative. Formative evaluation dilaksanakan berbarengan
dengan monitoring (built-in monitoring). Sedangkan Summative evaluation
dilaksanakan setelah kegaitan selesai dan ditujukan untuk mengetahui hasil dari
penerapan kebijakan tersebut.
3. Waktu dalam penelitian
a. Cross-Sectional
Penelitian jenis ini menggunakan pendekatan snapshot atau observasi dilakukan pada
satu waktu tertentu.
b. Longitudinal research
Longitudinal research dilaksanakan dalam waktu yang relative lama atau observasi
dilaksanakan lebih dari sekali. Penelitian ini meliputi time series research, panel
study, dan Cohort analysis.
1) Time series research,
Dalam penelitian ini, tipe data dan informasi yang sama dikumpulkan dari
kelompok orang atau unit dalam beberapa periode waktu.
2) Panel study,
Penelitian ini lebih susah dilaksanakan dari pada penelitian time series. Dalam
panel study, peneliti benar-benar melakukan observasi terhadap orang, group, atau
organisasi yang sama dalam beberapa periode waktu.
3) Cohort analysis.
Penelitian ini mirip dengan Panle study tetapi lebih menitikberatkan pada
pengamatan terhadap katagori orang-orang yang berbagi pengalaman hidup yang
sama dalam suatu peride waktu tertentu. Dengan demikian, focus cohort adalah
katagori, bukan indifidual. Pada umumnya penggunaan cohort meliputi seluruh
orang yang terlahir dalam tahun yang sama (disebut birth cohorts), seluruh orang
yang pension dalam renatng waktu satu atau dua tahun, dan seluruh orang yang
lulus pada tahun yang sama.
c. Case Study
Cross-Sectional dan Longitudinal research dilakukan pada penelitian kuantitatif.
Sedangkan pada penelitian kualitatif, pada umumnya para peneliti menggunakan case
study atau studi kasus.
Selain berbeda dengan Cross-Sectional dan Longitudinal research dalam jenis data
yang dikumpulkan, case study mengutamakan kedalaman dari data penelitian tersebut
sehingga seringkali memerlukan waktu yang realtif lama. Data penelitian yang
diperoleh dari penelitian ini selain mendalam, juga biasanya beragam dan sangat detil.
Case study ini pada dasarnya tidak identik dengan penelitian kualitatif. Namun
demikian, hampir seluruh penelitian kualitatif berusaha mmebangun konstruk
berdasarkan kedalaman dan detil pengetahuan dari kasus-kasus.
4. Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian dapat dibedakan atas data kuantitatif yang berupa angka-angka dan data
kualitatif yang berujud kata-kata ataupun gambar-gambar. Data-data kuantitatif pada
umumnya dikumpulkan melalui beberapa teknik berikut:
a. Experiment
Penelitian ini mengikuti prosedur dan kaidah sebagaimana penelitian dalam ilmu
alam. Pada ilmu social, experiment dilaksanakan di laboratorium maupun di
kehidupan nyata. Biasanya, penelitian ini hanya melibatkan sedikit orang yang
diamati dan dikaji untuk menjawab pertanyaan yang terumuskan secara baik.
Dalam sebagian besar experiment, peneliti membagi orang-orang yang diteliti dalam
dua kelompok atau lebih. Kemudian, kedua kelompok tersebut diberikan perlakuan
yang sama, kecuali bahwa salah satu kelompok tersebut mendapatkan perlakuan
khusus sebagai sesuatu yang akan diamati. Selanjutnya peneliti mengukur perubahan
atau reaksi yang terjadi pada kedua kelompok tersebut. Dengan mengontrol
lingkungan kedua kelompok dan perlakuan tertentu pada satu kelompok, peneliti
dapat menyimpulkan hubungan antara perubahan perilaku dan perlakuan tersebut.
b. Surveys
Adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner
atau melakukan wawancara dengan sejumlah sample penelitian. Data yang
dikumpulkan, selanjutnya oleh peneliti diringkas dalam bentuk persentase, tabel atau
grafik. Hasil survey, meskipun diperoleh dari sejumlah sample, namun demikian
dapat digeneralisasikan untuk populasi penelitian. Survey ini biasanya dilakukan
untuk penelitian deskriptif dan explanatory.
c. Content analysis
Adalah teknik untuk menjelaskan informasi, atau isi dalam materi yang tertulis
ataupun berwujud symbol (gambar, film, lirik lagu). Dalam teknik ini, pertama kali,
peneliti mengidentifikasi tubuh dari materi (body of material) untuk dianalisis (buku,
majalah, film). Dan kemudian menciptakan system untuk merekam aspek-aspek
khusus dari materi tersebut. Sistem dapat juga mencakup perhitungan berapa sering
kata-kata tertentu disebutkan dalam material tersebut. Akhirnya, peneliti merekam apa
yang sudah ditemukan dalam material. Peneliti sering kali mengukur informasi dalam
teknik ini dalam bentuk bilangan dan menampilakanya dalam tabel atau grafik.
d. Existing statistic
Dalam teknik ini, peneliti pertama-tama memilih sumber-sumber data yang sudah
terkumpul, dan seringkali dalam bentuk laporan pemerintah atau hasil-hasil
penelitian. Peneliti kemudian mengorganisir kembali atau mengkombinasikan
berbagai informasi dengan cara yang baru untuk mengarah kepada pertanyaan
penelitian.
Pada data kualitatif:
a. Field research
Field research dimulai dengan perumusan gagasan atau topic yang dapat berubah.
Selanjutnya peneliti memilih kelompok social atau lokasi untuk diteliti. Setelah
peneliti mendapatkan akses terhadap kelompok atau lokasi tersebut segera ia
mengadopsi setting peran sosail dan melakukan penelitian.peneliti melakukan
observasi dan berinteraksi dalam lingkungan social tersebut dalam waktu yang dapat
saja hanya beberapa bulan tetapi dapat juga dalam waktu yang cukup lama. Individu
yang diwawncarai biasanya sudah dikenal betul oleh peneliti.
Data-data yang dicatat dalam penelitian ini sangat detil, karena informasi-informasi
penting dicatat dari hari demi hari. Selama proses pengamatan ini, peneliti selalu
mempertimbangkan apa yang sedang ia teliti dan selalu mempertajam signifikansi
focus dari topic atau gagasan yang dibawa dalam penelitian. Tahap akhir dari
penelitian ini adalah ketika peneliti telah meninggalkan lokasi penelitian, ia kemudian
membaca ulang semua tulisan dan menyusun laporan.
Field research biasanya digunakan untuk penelitian eksploratif dan deskriptif, sangat
jarang untuk penelitian eksplanatif.
b. Historical-comparative research
Penelitian ini menjelaskan aspek-aspek kehidupan di masa yang telah lalu atau
melampaui berbagai budaya yang berbeda.