Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penyusun, sehingga penyusun dapat
menyelesaikan makalah tentang Penyelesaian Masalah Etik ini dengan lancar.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh
dosen pengampu mata kuliah Etik dan Hukum Keperawatan.
Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang penulis
peroleh dari buku panduan dan hasil dari browsing internet yang berkaitan dengan
asuhan keperawatan pasien dengan katarak dan hal-hal yang berkaitan dengan hal
tersebut.
Penulis harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi
kita,dalam hal ini dapat menambah wawasan bagi para praktisi medis yang
bersangkutan dengan hal-hal ini.
Memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan
kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.

Penyusun

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.......................................................................................................1

Daftar isi................................................................................................................2

Bab I Pendahuluan
1.1 Latar belakang...........................................................................................3
1.2 Tujuan........................................................................................................4
1.3 Manfaat......................................................................................................4

Bab II Tinjauan pustaka


2.1 Pendekatan berdasarkan prinsip................................................................5
2.2 Beberapa pengertian yang berkaitan dengan dilema etik..........................6
2.3 Dilema Etik................................................................................................6
2.4 Prinsip-prinsip moral dalam praktek keperawatan....................................7
2.5 Kerangka konsep pemecahan masalah dilema etik...................................8
2.6 Strategi penyelesaian masalah etik............................................................11

Bab III Kasus


Tidak punya biaya untuk berobat akhirnya sabina meninggal dunia.................12

Bab IV
4.1 Penyelesaian dilema etik...........................................................................14

Bab V
5.1 Kesimpulan................................................................................................18
5.2 Saran..........................................................................................................18

Daftar pustaka

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kemajuan ilmu dan teknologi terutama dibidang biologi dan kedokteran telah
menimbulkan berbagai permasalahan atau dilema etika kesehatan yang sebagian
besar belum teratasi ( catalano, 1991).
Etika adalah peraturan atau norma yang dapat digunakan sebagai acuan bagi
perlaku seseorang yang berkaitan dengan tindakan yang baik dan buruk yang
dilakukan seseorang dan merupakan suatu kewajiban dan tanggungjawanb moral.
(Nila Ismani, 2001)
Etik merupakan suatu pertimbangan yang sistematis tentang perilaku benar
atau salah, kebajikan atau kejahatan yang berhubungan dengan perilaku.
Etika merupakan aplikasi atau penerapan teori tentang filosofi moral kedalam
situasi nyata dan berfokus pada prinsip-prinsip dan konsep yang membimbing
manusia berpikir dan bertindak dalam kehidupannya yang dilandasi oleh nilai-
nilai yang dianutnya. Banyak pihak yang menggunakan istilah etik untuk
mengambarkan etika suatu profesi dalam hubungannya dengan kode etik
profesional seperti Kode Etik PPNI atau IBI.
Nilai-nilai (values) adalah suatu keyakinan seseorang tentang penghargaan
terhadap suatu standar atau pegangan yang mengarah pada sikap/perilaku
seseorang. Sistem nilai dalam suatu organisasi adalah rentang nilai-nilai yang
dianggap penting dan sering diartikan sebagai perilaku personal
Moral hampir sama dengan etika, biasanya merujuk pada standar personal
tentang benar atau salah. Hal ini sangat penting untuk mengenal antara etika
dalam agama, hukum, adat dan praktek profesional
Perawat atau bidan memiliki komitmen yang tinggi untuk memberikan asuhan
yang berkualitas berdasarkan standar perilaku yang etis dalam praktek asuhan
profesional. Pengetahuan tentang perilaku etis dimulai dari pendidikan perawat
atau bidan, dan berlanjut pada diskusi formal maupun informal dengan sejawat
atau teman. Perilaku yang etis mencapai puncaknya bila perawat atau bidan
mencoba dan mencontoh perilaku pengambilan keputusan yang etis untuk
membantu memecahkan masalah etika. Dalam hal ini, perawat atau bidan

3
seringkali menggunakan dua pendekatan: yaitu pendekatan berdasarkan prinsip
dan pendekatan berdasarkan asuhan keperawatan /kebidanan

1.2 Tujuan
Mahasiswa mampu mengetahui konsep tentang etik dan dilema etik khususnya
dibidang keperawatan

1.3 Manfaat

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

ETIKA PROFESI KEPERAWATAN


2.1 Pendekatan berdasarkan prinsip
Pendekatan berdasarkan prinsip, sering dilakukan dalam bio etika untuk
menawarkan bimbingan untuk tindakan khusus. Beauchamp Childress (1994)
menyatakan empat pendekatan prinsip dalam etika biomedik antara lain; (1)
Sebaiknya mengarah langsung untuk bertindak sebagai penghargaan terhadap
kapasitas otonomi setiap orang: (2) Menghindarkan berbuat suatu kesalahan; (3)
Bersedia dengan murah hati memberikan sesuatu yang bermanfaat dengan segala
konsekuensinya; (4) Keadilan menjelaskan tentang manfaat dan resiko yang
dihadapi
Dilema etik muncul ketika ketaatan terhadap prinsip menimbulkan penyebab
konflik dalam bertindak. Contoh; seorang ibu yang memerlukan biaya untuk
pengobatan progresif bagi bayinya yang lahir tanpa otak dan secara medis
dinyatakan tidak akan pernah menikmati kehidupan bahagia yang paling
sederhana sekalipun. Di sini terlihat adanya kebutuhan untuk tetap menghargai
otonomi si ibu akan pilihan pengobatan bayinya, tetapi dilain pihak masyarakat
berpendapat akan lebih adil bila pengobatan diberikan kepada bayi yang masih
memungkinkan mempunyai harapan hidup yang besar. Hal ini tentu sangat
mengecewakan karena tidak ada satu metoda pun yang mudah dan aman untuk
menetapkan prinsip-prinsip mana yang lebih penting, bila terjadi konflik diantara
kedua prinsip yang berlawanan. Umumnya, pendekatan berdasarkan prinsip dalam
bioetik, hasilnya terkadang lebih membingungkan. Hal ini dapat mengurangi
perhatian perawat atau bidan terhadap sesuatu yang penting dalam etika.
Terutama kemajuan di bidang biologi dan kedokteran, telah menimbulkan
berbagai permasalahan atau dilema etika kesehatan yang sebagian besar belum
teratasi (cakalano, 1991). Kemajuan teknologi kesehatan saat ini telah
meningkatkan kemampuan bidang kesehatan dalam mengatasi kesehatan dan
memperpanjang usia. Jumlah golongan usia lanjut yang semakin banyak,
keterbatasan tenaga perawat, biaya perawatan yang semakin mahal, dan
keterbatasan sarana kesehatan, telah menimbulkan etika keperawatan bagi
individu perawat atau persatuan perawat ( Mc. Croskey, 1990 )
5
2.2 Beberapa pengertian yang berkaitan dengan dilema etik
a. Etik
Etik adalah norma-norma yang menentukan baik-buruknya tingkah laku
manusia, baik secara sendirian maupun bersama-sama dan mengatur hidup ke
arah tujuannya ( Pastur scalia, 1971 )
b. Etik Keperawatan
Etik keperawatan adalah norma-norma yang di anut oleh perawat dalam
bertingkah laku dengan pasien, keluarga, kolega, atau tenaga kesehatan
lainnya di suatu pelayanan keperawatan yang bersifat professional. Prilaku
etik akan dibentuk oleh nilai-nilai dari pasien, perawat dan interaksi sosial
dalam lingkungan.
c. Kode Etik Keperawatan
Kode etik adalah suatu tatanan tentang prinsip-prinsip imum yang telah
diterima oleh suatu profesi. Kode etik keperawatan merupakan suatu
pernyataan komprehensif dari profesi yang memberikan tuntutan bagi
anggotanya dalam melaksanakan praktek keperawatan, baik yang
berhubungan dengan pasien, keluarga masyarakat, teman sejawat, diri sendiri
dan tim kesehatan lain, yang berfungsi untuk :
Memberikan dasar dalam mengatur hubungan antara perawat, pasien,
tenaga kesehatan lain, masyarakat dan profesi keperawatan.
Memberikan dasar dalam menilai tindakan keperawatan
Membantu masyarakat untuk mengetahui pedoman dalam melaksanakan
praktek keperawatan.
Menjadi dasar dalam membuat kurikulum pendidikan keperawatan
( Kozier & Erb, 1989 )

2.3 Dilema Etik


Dilema etik adalah suatu masalah yang melibatkan dua ( atau lebih ) landasan
moral suatu tindakan tetapi tidak dapat dilakukan keduanya. Ini merupakan suatu
kondisi dimana setiap alternatif memiliki landasan moral atau prinsip. Pada
dilema etik ini sukar untuk menentukan yang benara atau salah dan dapat
menimbulkan stress pada perawat karena dia tahu apa yang harus dilakukan, tetapi
banyak rintangan untuk melakukannya. Dilema etik biasa timbul akibat nilai-nilai
perawat, klien atau lingkungan tidak lagi menjadi kohesif sehingga timbul
6
pertentangan dalam mengambil keputusan. Menurut Thompson & Thompson
(1985 ) dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit dimana tidak ada
alternatif yang memuaskan atau situasi dimana alternatif yang memuaskan atau
tidak memuaskan sebanding. Dalam dilema etik tidak ada yang benar atau yang
salah. Untuk membuat keputusan yang etis, seorang perawat tergantung pada
pemikiran yang rasional dan bukan emosional.

2.4 Prinsip-Prinsip Moral Dalam Praktek Keperawatan


Prinsip moral merupakan masalah umum dalam melakukan sesuatu sehingga
membentuk suatu sistem etik. Prinsip moral berfungsi untuk membuat secara
spesifik apakah suatu tindakan dilarang, diperlukan atau diizinkan dalam situasi
tertentu. ( John Stone, 1989 )
1. Autonomi
Autonomi berarti kemampuan untuk menentukan sendiri atau mengatur diri
sendiri, berarti menghargai manusia sehingga memperlakukan mereka sebagai
seseorang yang mempunyai harga diri dan martabat serta mampu menentukan
sesuatu bagi dirinya.
2. Benefesience
Merupakan prinsip untuk melakukan yang baik dan tidak merugikan pasien
atau tidak menimbulkan bahaya bagi pasien.
3. Justice
Merupakan prinsip moral untuk bertindak adil bagi semua individu, setiap
individu mendapat pperlakuan dan tindakan yang sama. Tindakan yang sama
tidak selalu identik tetapi dalam hal ini persamaan berarti mempunyai
kontribusi yang relatif sama untuk kebaikan hidup seseorang
4. Veracity
Merupakan prinsip moral dimana kita mempunyai suatu kewajiban untuk
mengatakan yang sebenarnya atau tidak membohongi orang lain / pasien.
Kebenaran merupakan hal yang fundamental dalam membangun suatu
hubungan denganorang lain. Kewajiban untuk mengatakan yang sebenarnya
didasarkan atau penghargaan terhadap otonomi seseorang dan mereka berhak
untuk diberi tahu tentang hal yang sebenarnya.

7
5. Avoiding Killing
Merupakan prinsip yang menekankan kewajiban perawat untuk menghargai
kehidupan. Bila perawat berkewajiban melakukan hal-hal yang
menguntungkan (Benefisience ) haruskah perawat membantu pasien
mengatasi penderitaannya ( misalnya akibat kanker ) dengan mempercepat
kematian ? Kewajiban perawat untuk menghargai eksistensi kemanusiaan
yang mempunyai konsekuensi untuk melindungi dan mempertahankan
kehidupan dengan berbagai cara.
6. Fedelity
Merupakan prinsip moral yang menjelaskan kewajiban perawat untuk tetap
setia pada komitmennya, yaitu kewajiban mempertahankan hubungan saling
percaya antara perawat dan pasien. Kewajiban ini meliputi meenepati janji,
menyimpan rahasia dan caring

2.5 Kerangka Konsep Pemecahan Masalah Dilema Etik


Kerangka pemecahan dilema etik banyak diutarakan oleh para ahli dan pada
dasarnya menggunakan kerangka proses keperawatan/pemecahan masalah secara
ilmiah, antara lain :
1. Model pemecahan masalah (Megan,1989)
Ada lima langkah-langkah dalam pemecahan masalah dalam dilema etik
a) Mengkaji situasi
b) Mendiagnosa masalah etik moral
c) Membuat tujuan dan rencana pemecahan
d) Melaksanakan rencana
e) Mengevaluasi hasil
2. Kerangka pemecahan dilema etik (Kozier & Erb, 1989)
a) Mengembangkan data dasar. Untuk melakukan ini perawat memerlukan
pengumpulan informasi sebanyak mungkin meliputi :
Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut dan keterlibatannya
Apa tindakan yang diusulkan
Apa maksud dari tindakan yang diusulkan
Apa konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakan
yang diusulkan.

8
b) Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut
c) Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang
direncanakan dan mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi
tindakan tersebut
d) Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut.
e) Mengidentifikasi kewajiban perawat
f) Membuat keputusan
3. Model Murphy dan murphy
a) Mengidentifikasi masalah kesehatan
b) Mengidentifikasi masalah etik
c) Siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan
d) Mengidentifikasi peran perawat
e) Mempertimbangkan berbagai alternatif-alternatif yang mungkin
dilaksanakan
f) Mempertimbangkan besar kecilnya konsekuensi untuk setiap alternatif
keputusan
g) Memberi keputusan
h) Mempertimbangkan bagaimana keputusan tersebut hingga sesuai dengan
falsafah umum untuk perawatan klien
i) Analisa situasi hingga hasil aktual dari keputusan telah tampak dan
menggunakan informasi tersebut untuk membantu membuat keputusan
berikutnya.
4. Model Curtin
a) Mengumpulkan berbagai latar belakang informasi yang menyebabkan
masalah
b) Identifikasi bagian-bagian etik dari masalah pengambilan keputusan
c) Identifikasi orang-orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan
d) Identifikasi semua kemungkinan pilihan dan hasil dari npilihan itu
e) Aplikasi teori, prinsip dan peran etik yang relevan
f) Memecahkan dilema
g) Melaksanakan keputusan
5. Model Levine Ariff dan Gron
a. Mendefinisikan dilema
b. Identifikasi faktor-faktor pemberi pelayanan
9
c. Identifikasi faktor-faktor bukan pemberi pelayanan
i. Pasien dan keluarga
ii. Faktor-faktor eksternal
d. Pikirkan faktor-faktor tersebut satu persatu
e. Identifikasi item-item kebutuhan sesuai klasifikasi
f. Identifikasi pengambil keputusan
g. Kaji ulang pokok-pokok dari prinsip-prinsip etik
h. Tentukan alternatif-alternatif
i. Menindaklanjuti
6. Langkah-langkah menurut Purtillo dan Cassel (1981)
Purtillo dan Cassel menyarankan 4 langkah dalam membuat keputusan etik
a. Mengumpulkan data yang relevan
b. Mengidentifikasi dilema
c. Memutuskan apa yang harus dilakukan
d. Melengkapi tindakan
7. Langkah-langkah menurut Thompson & Thompson (1981) mengusulkan 10
langkah model keputusan biotis
a. Meninjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan, keputusan yang
diperlukan, komponen etis dan petunjuk individual
b. Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklasifikasi situasi
c. Mengidentifikasi issue etik
d. Menentukan posisi moral
e. Menentukan posisi moral pribadi dan profesional
f. Mengidentifikasi posisi moral dari petunjuk individual yang terkait
g. Mengidentifikasi konflik nilai yang ada

10
2.6 Strategi Penyelesaian Masalah Etik
Dalam menghadapi dan mengatasi permasalahan etis, antara perawat dan
dokter tidak menutup kemungkinan terjadi perbedaan pendapat. Bila ini berlanjut
dapat menyebabkan masalah komunikasi dan kerjasama, sehingga menghambat
perawatan pada pasien dan kenyamanan kerja. (Mac Phail,1988)
Salah satu cara menyelesaikan masalah etis adalah dengan melakukan rounde
(Bioetics Rounds) yang melibatkan perawat dengan dokter. Rounde ini tidak
difokuskan untuk menyelesaikan masalah etis tetapi untuk melakukan diskusi
secara terbuka tentang kemungkinan terdapat permasalahan etis.

11
BAB III
TINJAUAN KASUS

Tidak Punya Biaya Untuk Berobat Akhirnya Sabina Meninggal


Dunia
Senin, 15 September 2014 05:50 WIB

TRIBUNNEWS.COM KEFAMENANU,-- Sabina Nule yang terpaksa harus pulang


ke rumah dalam kondisi kritis dan harus dioperasi untuk menyelamatkan hidupnya,
lantaran sudah tidak ada biaya lagi untuk membeli obat dan membiayai operasi di
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kefamenanu, akhinya meninggal pada Minggu
(14/9/2014) sore.
Sabina sendiri sempat menjalani perawatan medis di RSUDKefamenanu selama dua
minggu, namun karena sudah tidak ada lagi uang untuk beli obat dan membiayai
operasi, maka dia menolak untuk operasi dan meminta pulang ke rumahnya, Selasa
(9/9/2014) lalu.
Hal itu disampaikan Anggota DPRD kabupaten TTU, Agustinus Siki ketika
menghubungi Kompas.com dari Kefamenanu, Minggu (14/9/2014) malam. Menurut
Agustinus, kondisi Sabina memang terus menurun setelah keluar dari rumah sakit.
Setiap hari dia hanya tidur saja, karena makan dan minum susah sekali. Penyebabnya
yakni tenggorokannya yang sakit, sarbina disarankan untuk operasi tapi karena tidak
ada biaya dia menolak. kita sekarang hendak melayat ke rumah duka, kata
Agustinus singkat.
Diberitakan sebelumnya, Sabina Nule, pasien radang tenggorokan Rumah Sakit
Umum (RSU) Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara
Timur, yang menjalani perawatan medis di bangsal wanita kelas III, meminta pulang
ke rumah dalam kondisi kritis lantaran sudah tidak ada biaya lagi untuk membeli obat
dan membiayai operasi di rumah sakit.
Anggota DPRD Kabupaten TTU, Agustinus Siki ketika dihubungi Kompas.com dari
Kupang, Kamis (11/9/2014) malam mengatakan, Sabina Nule sudah dirawat di rumah
sakit sejak dua pekan lalu, namun karena uangnya telah habis, terpaksa harus pulang
ke rumahnya di Desa Oelbonak, Kecamatan Bikomi Tengah, Selasa (9/9/2014)
kemarin.

12
Kemarin sore sekitar pukul 15.00 Wita, saya mendapat kabar kalau Sabina telah
meninggal dunia sehingga saya langsung ke rumahnya. Begitu saya sampai rumahnya,
ternyata dia (Sabina) hidup kembali. Informasi yang saya peroleh dari suaminya
bahwa Sabina meninggal selama kurang lebih 17 jam, dari pukul 04.00 Wita dinihari
sampai pukul 21.00 Wita usai keluar dari rumah sakit, jelas Agustinus.
Menurut Agustinus, selama dua minggu Sabina dirawat, setiap hari selalu diberi resep
oleh dokter untuk beli obat di apotek luar rumah sakit. Karena sudah tak punya uang
lagi, ia bersama suaminya sepakat untuk pulang.
Suami Sabina yang berpenghasilan dari petani lahan kering tak kuat untuk membiayai
pengobatan istrinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan menghargai keputusan sarbina
walaupun dengan berat hati ia pun sepakat.
Ini biasanya pasien rumah sakit kalau pulang rumah karena sudah sembuh dari
penyakit. Tetapi di RSUD TTU, pasien yang kritis justru yang minta pulang dari
rumah sakit. Sehingga kita minta pemerintah dalam hal ini pihak rumah sakit segera
mengambil langkah cepat untuk mengatasi persoalan ini karena kelangkaan obat di
rumah sakit ini sudah berlangsung selama 9 bulan, tegas Agustinus.

13
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Penyelesaian Dilema Etik


Kerangka pemecahan dilema etik menurut Kozier and Erb (1989)

1. Mengembangkan data dasar


a. Orang orang yang terlibat dalam dilema etik tersebut, yaitu : klien,
suami, perawat dan pemuka agama
b. Tindakan yang diusulkan
Sebagai klien, dia mempunyai otonomi untuk membiarkan penyakitnya
menggerogoti tubuhnya walaupun sebenarnya bukan itu yang diinginkan.
Dalam hal ini, perawat mempunyai peran dalam pemberi asuhan
keperawatan, peran advocad (pendidik) serta sebagai konselor yaitu
membela dan melindungi ibu tersebut untuk hidup dan menyelamatkan
jiwanya dari ancaman kematian.
c. Maksud dari tindakan
Dengan memberikan pendidikan, konselor, advokasi di harapkan klien
mau menjalani operasi serta dapat membuat keputusan yang tepat terhadap
masalah yang saat ini dihadapi.
d. Konsekuensi tindakan yang diusulkan
1) Operasi dilaksanakan
Biaya
Biaya yang dibutuhkan klien cukup besar untuk dilaksanakannya
operasi
Psikososial
Pasien merasa bersyukur diberi umur yang panjang (bila operasi itu
lancar dan baik) namun klien juga dihadapkan pada kecemasan
akan kelanjutan hidupnya bila ternyata operasi itu gagal serta
biaya-biaya yang akan di keluarkan.

14
Fisik
Klien mempunyai bentuk tubuh yang normal tidak terdapat
pembesaran dalam tubuhnya (perut) dan bila dibiarkan begitu saja
cepat atau lambat akan terjadilah kematian
2) Bila operasi tidak dilaksanakan
Biaya
Tidak mengeluarkan biaya apa-apa
Psikososial
Klien dihadapkan pada suatu ancaman kematian terjadi kecemasan
dan rasa sedih dalam hatinya
Fisik
Timbulnya pembesaran di daerah tenggorokan

2. Identifikasi Komplik Akibat Situasi Tersebut


a. Untuk memutuskan apakah operasi dilakukan pada wanita tersebut,
perawat dihadapkan pada konflik tidak menghormati otonomi klien
b. Apabila tindakan operasi tidak di lakukan perawat dihadapkan pada
konflik :
o tidak melaksanakan sumpah profesi
o tidak melaksanakan kode etik profesi dan prinsip-prinsip moral :
advokasi,benefesience, justice, avoiding, killing.
o tidak melaksanakan perannya sebagai pemberi asuhan keperawatan
o perasaan bersalah (quilty) akibat tidak melaksanakan tindakan operasi
yang memungkinkan timbulnya kematian.

3. Tindakan Alternatif Terhadap Tindakan Yang Diusulkan


a. mengusulkan dalam tim yang terlibat dalam masalah klien untuk
dilakukannya operasi, konsekuensi :
usul diterima atau ditolak aleh tim dan pihak yang terlibat dalam
penanganan klien
mungkin klien secara psikologis akan menjadi lebih siap untuk
menghadapi tantangan akan kehidupan ini
resiko pengeluaran biaya yang tak terduga/ tidak dapat diprediksi

15
b. mengangkat dilema etik ini kepada komisi etik keperawatan yang lebih
tinggi untuk mempertimbangkan apakah operasi ini dilakukan atau tidak
konsekuensi :
o mungkin memperoleh tanggapan yang memuaskan
o mungkin memperoleh tanggapan yang kurang memuaskan
o tidak tertutup kemungkinan untuk tidak di tanggapi sama sekali
c. meminta izin kepada pimpinan lembaga pelayanan kesehatan (klinik
kesehatan) untuk menyampaikan informasi mengenai kondisi klien yang
sebenarnya. Konsekuensi :
o koordinator lembaga pelayanan menyetujui atau menolak
o klien meperoleh informasi dan dapat memahami kondisinya, serta
dapat mengambil sikap untuk memutuskan tindakan yang terbaik
untuk dirinya.
o kondisi psikologis klien lebih baik atau bertambah buruk karena
responnya terhadap informasi yang diperoleh

4. Menetapkan Siapa Pembuat Keputusan


Pada kasus wanita tersebut merupakan masalah yang komplek dan rumit,
membuat keputusan dilakukan operasi atau tidak dapat diputuskan oleh pihak
tertentu saja tetapi harus diputuskan secara bersama-sama.
a) pengambilan keputusan harus melibatkan tim yang terkait dan klien
b) keputusan dibuat untuk :
o pihak yang terkait dengan wanita tersebut untuk melakukan operasi
atau tidak
o klien, keputusan yang dibuat dapat memperoleh kepastian apakah
dilakukan operasi atau tidak.
c) kriteria penetapan siapa pembuat keputusan
1. Tim
Kumpulan dari beberapa pihak yang berkepentingan dan yang paling
memahami kondisi fisik dan psikologis klien. Masalah yang dihadapi
Sangay komplek dan rumit yang tidak hanya memerlukan
pertimbangan ilmiah, tetapi juga pertimbangan etik sehingga pembuat
keputusan akan lebih bijaksana dilakukan oleh tim.

16
2. klien
klien dalah orang yang paling berkepentingan dalam pengambilan
keputusan yang dibuat oleh klien bisa berubah secara tiba-tiba yang
akan mempengaruhi keputusan tim
3. keluarga
keterlibatan keluarga dalam upaya penyelesaian masalah cukup
menentukan mengingat secara ekonomis klien masih Belem
mendapatkan biaya diperoleh darimana sehingga keluarga mempunyai
peranan yang cukup menemtukan masalah
d) prinsip moral yang ditekankan berdasarkan prioritas dalam kasus ini :
1. otonomi
2. benefesiensi
3. justice
4. avoiding killing

5. Mengidentifikasi Kewajiban Perawat


o menghindari klien dari ancaman kematian
o menghargai otonomi klien dan berusaha menyeimbangkan dengan
tanggung jawab pemberi pelayanan kesehatan
o menghindarkan klien dari tindakan yang tidak menguntungkan bagi
dirinya
o melaksanakan prinsip-prinsip kode etik keperawatan
o membantu sistem pendukung yang terlibat

6. Membuat keputusan
Keputusan yang dapat diambil sesuai dengan hak otonomi klien
dan dari pertimbangan tim kesehatan, sebagai seorang perawat,
keputusan yang terbaik adalah dilakukan operasi berhasil atau tidak itu
adalah kehendak yang maha kuasa sebagai manusia setidaknya kita
telah berusaha.

17
BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Dalam upaya mendorong kemajuan profesi keperawatan agar dapat diterima
dan dihargai oleh pasien, masyarakat atau profesi lain, maka perawat harus
memanfaatkan nilai-nilai keperawatan dalam menerapkan etika dan moral disertai
komitmen yang kuat dalam mengemban peran profesionalnya. Dengan demikian
perawat yang menerima tanggung jawab, dapat melaksanakan asuhan
keperawatan secara etis profesional. Sikap etis profesional berarti bekerja sesuai
dengan standar, melaksanakan advokasi, keadaan tersebut akan dapat memberi
jaminan bagi keselamatan pasien, penghormatan terhadap hak-hak pasien, dan
akan berdampak terhadap peningkatan kualitas asuhan keperawatan. Selain itu
dalam menyelesaikan permasalahan etik atau dilema etik keperawatan harus
dilakukan dengan tetap mempertimbangkan prinsip-prinsip etik supaya tidak
merugikan salah satu pihak.

5.2 Saran
Pembelajaran tentang etika dan moral dalam dunia profesi terutama bidang
keperawatan harus ditanamkan kepada mahasiswa sedini mungkin supaya
nantinya mereka bisa lebih memahami tentang etika keperawatan sehingga akan
berbuat atau bertindak sesuai kode etiknya (kode etik keperawatan).

18
DAFTAR PUSTAKA

Wulan, Kencana & M. Hastuti. 2011. Pengantar Etika Keperawatan Panduan


Lengkap Menjadi Perawat Professional Berwawasan Etis. Jakarta. PT.
Prestasi Pustakaraya

Prasetyo, Budi. 2014. Tidak Punya Biaya Untuk Berobat Akhirnya Sabina Meninggal
Dunia. http://www.tribunnews.com/regional/2014/09/15/tidak-punya-biaya-
untuk-berobat-akhirnya-sabina-meninggal-dunia diakses pada tanggal 28 Sept
2014

19