Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Infeksi bakteri pada traktus genitalia yang terjadi setelah melahirkan,
ditandai dengan kenaikan suhu sampai 38 derajat Celsius atau lebih selama 2
hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan, dengan mengecualikan 24 jam
pertama. Infeksi nifas adalah istilah umum yang digunakan untuk menyatakan
adanya infeksi bateri yang menyerang saluran reproduksi setelah dilakukan
persalinan. Banyak faktor yang mengakibatkan infeksi pada masa nifas seperti
kurangnya pencegahan infeksi. Bersama dengan preeklamsi dan perdarahan
obstetris, infeksi nifas membentuk trias letal penyebab kematian ibu selama
beberapa dekade pada abad ke 20. Untungnya karena terapi antimikroba yang
efektif, kematian ibu karena infeksi sudah sedikit berkurang. Di indonesia
sendiri infeksi termasuk faktor yang mendominasi penyebab kematian ibu (th
2013). Kematian ibu/ maternal mortality, merupakan salah satu indikator dari
kesejahteraan suatu bangsa. Hal ini karena apabila ditinjau dari penyebabnya,
kematian ibu merupakan suatu permasalahan yang kompleks. Meskipun bukan
penyebab terbesar kematian ibu namun infeksi harus diwapadai karena bila
dilakukan dengan baik dan sesuai sop kemungkinan terjadi infeksi akan
berkurang. Dalam beberapa analisis mengatakan bahwa 40 persen kematian
ibu yang disebabkan oleh infeksi dapat dicegah.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penilaian klinik kegawatdaruratan pada masa nifas?
2. Bagaimana pengelolaan asuhan kegawatdaruratan pada masa nifas?
3. Apa saja jenis kegawatdaruratan yang terjadi pada masa nifas?
4. Bagaimana penanganan kegawatdaruratan pada masa nifas?

1
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana penilaian klinik kegawatdaruratan pada
masa nifas
2. Untuk mengetahui pengelolaan asuhan kegawatdaruratan pada masa nifas.
3. Untuk mengetahui Apa saja jenis kegawatdaruratan yang terjadi pada
masa nifas.
4. Untuk mengetahui Bagaimana penanganan kegawatdaruratan pada masa
nifas

2
BAB II
PEMBAHASAN MATERI

I. PENANGANAN KASUS KEGAWATDARURATAN PADA MASA


NIFAS

A. PENGERTIAN KEGAWATDARURATAN PADA MASA NIFAS

Kegawatdaruratan adalah suatu keadaan yang terjadinya mendadak


mengakibatkan seseorang atau banyak orang memerlukan penanganan /
pertolongan segera dalam arti pertolongan secara cermat, tepat dan cepat.
Sementara pengertian masa nifas sendiri merupakan masa yang dimulai
setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti
keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu
(prawirohardjo, 2002:N:23).Masa nifas adalah masa segera setelah kelahiran
sampai 6 minggu. Selama masa ini, saluran reproduktif anatominya kembali
ke keadaan tidak hamil yang normal (Obstetri Willian).

Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kegawat daruratan masa nifas


adalah keadaan gawat darurat pada masa nifas yang jika tidak segera diatasi
akan mengakibatkan kematian.

B. PENILAIAN KLINIK
Gejala dan tanda Gejala lain yang mungkin Kemungkinan diagnosis
yang selalu didapat didapat
Nyeri perut Perdarahan Metritis ( endometritis/
bagian bawah pervaginam endomiometritis)
Lokhia yang Syok
purulen dan Peningkatan sel
berbau darah putih,
Uterus tegang terutama

3
dan polimorfonuklear
subinvolusi lekosit
Nyeri perut Dengan antibiotik Abses pelvik
bagian bawah tidak membaik
Pembesaran Pembengkakan
perut bagian pada adneksa atau
bawah kavum Douglas
Demam yang
terus menerus
Nyeri perut Perut yang tegang Peritonitis
bagian bawah (rebound
Bising usus tendernes)
tidak ada Anoreksia/muntah
Nyeri Payudara yang Bendungan pada payudara
payudara dan mengeras dan
tegang membesar ( pada
kedua payudara)
biasanya terjadi
antara hari 3 5
pascapersalinan
Nyeri Ada inflamasi yang Mastitris
payudara dan didahului
tegang/bengk bendungan
ak Kemerahan yang
baisanya jelas pada
payudara
Biasanya hanya
satu payudara
Biasanya terjadi
antara 3 -4 minggu

4
pasca persalinan
Payudara Pembengkakan Abses payudara
yang tegang dengan ada
dan padat fluktuasi
kemerahan Mengalir nanah
Nyeri pada Luka/irisan pada Selulitis pada luka
luka/irisan perut dan perineal (perineal/abdominal)
dan tegang yang
mengeras/indurasi
Keluar pus
Kemerahan
Bila terjadi Abses atau hematoma pada
luka yang luka insisi
mengeras di
sertai dengan
pengeluaran
cairan serous
atau
kemerahan
dari luka :
tidak
ada/sedkit
erithema
dekat luka
insisi
Disuria Nyeri dan tegang Infeksi pad traktus urinarius
pada daerah
pinggang
Nyeri Suprapubik
Uterus tidak

5
mengeras
Mengigil
Demam yang Ketegangan pada Thombosisi Vena yang
tinggi walau otot kaki dalam (deep Vein
mendapat komplikasi pada Thrombosis)
antibiotika paru, ginjal, Thromboflebitis :
Mengigil persendian, mata Pelviotromboflebitis
dan jaringan Femoralis
subkutan

C. PENGELOLAAN
Pengelolan yang dilakukan sesuai dengan kasus atau masalah masing-masing
dari tiap komplikasi

D. METRITIS

1. Pengertian Metritis

Metritis adalah infeksi uterus setelah persalinan yang merupakan salah satu
penyebab terbesar kematian ibu. Penyakit ini tidak berdiri sendiri tetapi
merupakan lanjutan dari endometritis, sehingga gejala dan terapinya seperti
endometritis.
Bila pengobatan terlambat atau kurang adekuat dapat menjadi abses pelviks ,
dispareunia (rasa sakit atau nyeri saat senggama), penyumbatan tuba dan
infertilitas. (prawirohardjo sarwono, 2009:262)

6
2. Etiologi

Bermacam-macam jalan kuman masuk ke dalam alat kandungan, seperti


eksogen (kuman datang dari luar), autogen (kuman masuk dari tempat lain dalam
tubuh), dan endogen (dari jalan lahir sendiri). Penyebab yang terbanyak dan lebih
dari 50% adalah streptococcus anaerob
Kuman- kuman masuk ke dalam endometrium, biasanya pada luka bekas
insersio plasenta, dan dalam waktu singkat mengikutsertakan seluruh
endometrium. Pada infeksi dengan kuman yang tidak seberapa patogen, radang
terbatas pada endometrium. Jaringan desidua bersama-sama dengan bekuan darah
menjadi nekrosis dan mengeluarkan getah berbau dan terdiri atas keping-keping
nekrotis serta cairan. Pada batas antara daerah yang meradang dan daerah sehat
terdapat lapisan terdiri atas leukositleukosit. Pada infeksi yang lebih berat, batas
endometrium dapat dilampaui dan terjadilah penjelaran.
Miometritis dapat juga terjadi karena kelanjutan dari kelahiran yang
tidak normal, seperti abortus, retensi sekundinarum yaitu suatu kegagalan
pelepasan plasenta fetalis (vili kotiledon) dan plasenta induk (kripta karunkula)
lebih lama dari 8 hingga 12 jam setelah melahirkan, kelahiran premature,
kelahiran kembar, kelahiran yang sukar (distosia), perlukaan yang disebabkan
oleh alat-alat yang dipergunakan untuk pertolongan pada kelahiran yang tidak
steril.
Miometritis atau metritis ini juga kelanjutan dari endometritis yang
penyebarannya secara cepat dan tidak segera ditangani. Penyebab yang sering
menimbulkan peradangan ini adalah infeksi. Radang uterus yang akut biasanya
diakibatkan oleh infeksi gonorea atau akibat infeksi pada post abortus dan
postpartum. Selain itu alat alat yang digunakan pada saat melakukan abortus
atau partus tidak diperhatikan pencegahan infeksinya yang lalu digunakan pada
saat abortus atau partus.

7
3. Faktor Predisposisi

Sebagai penyakit yang terjadi pada masa nifas atau post partum, ada beberapa
faktor predisposisi yang mempengaruhi, antara lain:

a. Infeksi abortus dan partus


Penggunaaan alat- alat yang tidak steril atau tindakan yang tidak sesuai
prosedur dapat menyebabkan alat- alat kandungan mengalami infeksi.
Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim

b. Infeksi post curettage


Metritis dapat terjadi pada post kuret apabila alat- alat yang digunakan pada
post kuret tidak steril, sehingga menyebabkan kuman-kuman masuk ke dalam
miometrium.

c. Persalinan seksio sesaria


Seksio sesaria merupakan factor predisposisi utama timbulnya metritis. Factor
resiko penting untuk timbulnya infeksi adalah lamanya proses persalinan dan
ketuban pecah, pemeriksaan dalam berulang dan pemakaian alat monitoring
janin internal. Karena adanya resiko tersebut, American College of
Obstretricians and Gynecologist menganjurkan pemberian antibiotic profilaksis
pada tindakan seksio sesaria.

d. kurangnya tindakan aseptik saat melakukan tindakan


e. kurangnya higien pasien
f. kurangnya nutrisi

4. Bakteriologi
Kuman-kuman yang sering menyebabkan infeksi antara lain adalah :
a. Streptococcus haemoliticus aerobic

8
Masuknya secara eksogen dan menyebabkan infeksi berat yang ditularkan
dari penderita lain, alat-alat yang tidak suci hama, tangan penolong, dan
sebagainya.

b. Staphylococcus aureus
Masuk secara eksogen, infeksinya sedang, banyak ditemukan sebagai
penyebab infeksi di rumah sakit.

c. Escherichia coli
Sering berasal dari kandung kemih dan rektum, menyebabkan infeksi
terbatas.

d. Clostridium welchii
Kuman anaerobik yang sangat berbahaya, sering ditemukan pada abortus
kriminalis dan partus yang ditolong dukun dari luar rumah sakit.

5. Gejala dan Tanda

Gejala dan tanda metritis yaitu :


a. Demam >38C dapat disertai menggigil
b. Nyeri di bawah perut
c. Lochia berbau dan purulen
d. Nyeri tekan uterus
e. Subinvolusi Uterus
f. Dapat disertai dengan perdarahan pervaginam Syok

9
6. Klasifikasi

Metritis digolongkan menjadi dua yaitu.

a. Metritis Akuta
Metritis Akuta biasanya terdapat pada abortus septik atau infeksi
postpartum. Penyakit ini tidak berdiri sendiri, akan tetapi merupakan bagian
dari infeksi yang lebih luas. Kerokan pada wanita dengan endometrium yang
meradang (endometritis) dapat menimbulkan metritis akut. Pada penyakit ini
miometrium menunjukkan reaksi radang berupa pembengkakan dan infiltrasi
sel-sel radang. Perluasan dapat terjadi lewat jalan limfe atau lewat
trombofeblitis dan kadang-kadang dapat terjadi abses.

b. Metritis kronik
Metritis kronik adalah diagnosis yang dahulu banyak dibuat atas dasar
menometroragia dengan uterus lebih besar dari biasa, sakit pinggang dan
leukorea. Bila pengobatan terlambat atau kurang adekuat dapat menjadi abses
pelvik, peritonitis, syok septik, dispareunia, trombosis vena yang dalam,
emboli pulmonal, infeksi pelvik kronik , penyumbatan tuba dan infertilitas.
1) Abses pelvik
Pada keadaan yang sangat jarang selulitis parametrium yang terjadi
akan meluas dan menjadi abses pelvis. Bila ini terjadi maka harus
dilakukan drainase pus yang terbentuk, baik ke anterior dengan melakukan
pemasangan jarum berukuran besar maupun ke posterior dengan
melakukan kolpotomi yaitu tindakan pembedahan yang membawa porsio
dari usus besar melewati dinding abdomen. Selain itu, perlu juga diberikan
antibiotika yang adekuat

2) Peritonitis
Peritonitis merupakan penyulit yang kadang-kadang terjadi pada penderita
pasca seksio sesaria yang mengalami metritis disertai nekrosis dan
dehisensi insisi uterus. Pada keadaan yang lebih jarang didapatkan pada

10
penderita yang sebelumnya mengalami seksio sesaria kemudian dilakukan
persalinan pervaginam (VBAC: Vaginal Birth After C-section). Abses
pada perametrium atau adneksa dapat pecah dan menimbulkan peritonitis
generalisata.

3) Syok septic
Syok septic atau syok endotoksik merupakan suatu gangguan menyeluruh
pembuluh darah disebabkan oleh lepasnya toksin. Penyebab utama adalah
infeksi bakteri gram negative. Sering dijumpai pada abortus septic,
korioamnionitis, dan infeksi pascapersalinan.

4) Dispareunia
Adalah rasa sakit atau nyeri pada saat melakukan hubungan seksual.
Metritis bisa menyebabkan penderitanya merasakan ketidaknyamanan atau
nyeri saat melakukan hubungan seksual

5) Trombosis vena yang dalam


Thrombosis vena dalam adalah kondisi medis yang ditandai dengan
pembentukan gumpalan-gumpalan darah pada vena-vena dalam di dalam
tubuh (vena profunda) yang dapat menyumbat baik seluruh maupun
sebagian aliran darah yang melalui vena, menyebabkan gangguan sirkulasi
darah. Kebanyakan DVT ditemukan pada tungkai bawah, paha, atau
panggul. Pada DVT dengan gumpalan darah yang kecil, mungkin tidak
bergejala. Pada gumpalan darah yang lebih besar yang menyumbat vena
dengan berat, gejala, seperti nyeri, dan pembengkakan pada salah satu
tungkai (biasanya betis) disertai dengan daerah kulit yang hangat, biasanya
timbul. DVT biasanya terjadi ketika seseorang menjadi inaktif untuk
beberapa waktu tertentupada kasus-kasus seperti perawatan di rumah sakit
dan perjalanan jarak jauh dengan menggunakan mobil ataupun pesawat
terbang. Meskipun hal ini bukan merupakan kondisi yang berbahaya, hal
ini memerlukan penanganan dini jika gejala timbul karena gumpalan darah

11
di dalam vena dapat lepas dan berjalan melalui aliran darah, dimana
gumpalan darah tersebut dapat menyangkut pada pembuluh darah di dalam
paru-paru. Komplikasi ini dikenal dengan emboli paru dan dapat
mengancam jiwa.

6) Emboli pulmonal
Emboli pulmonal adalah kondisi medis yang ditandai dengan pernapasan
pendek yang mendadak dan tidak dapat dijelaskan, nyeri dada, dan batuk
akibat penyumbatan salah satu pembuluh darah. Penyumbatan biasanya
disebabkan oleh gumpalan darah yang berjalan di dalam aliran darah dari
vena ke dalam paru-paru. Oleh karena itu, orang-orang dengan thrombosis
vena dalam beresiko tinggi terkenal emboli pulmonal.

7) Infeksi pelvik kronis


Metritis yang tidak diobati akan menyebabkan terjadinya infeksi pelvic
kronis, yang bisa menyebabkan penderitanya meninggal apabila tidak
diobati.

8) Penyumbatan tuba dan infertilitas


Bila penderita metritis tidak mendapat penanganan secara cepat atau tidak
diobati maka akan menyebabkan terjadinya penyumbatan tuba yang akan
menghalangi terjadinya prose ovulasi yang bisa menyebabkan terjadinya
infertilitas

7. Penanganan

Penanganan yang dapat dilakukan yaitu.

a. Berikan antibiotika sampai dengan 48 jam bebas demam :


1) Ampisilin 2 g IV setiap 6 jam
2) Ditambah gentamisin 5 mg/kgBB IV tiap 24 jam
3) Ditambah metronidazol 500 mg IV tiap 8 jam

12
4) Jika masih demam 72 jam setelah terapi, kaji ulang diagnosis dan
tatalaksana
b. Cegah dehidrasi. Berikan minum atau infus cairan kristaloid.
c. Pertimbangkan pemberian vaksin tetanus toksoid (TT) bila ibu dicurigai
terpapar tetanus (misalnya ibu memasukkan jamu-jamuan ke dalam
vaginanya.
d. Jika diduga ada sisa plasenta, lakukan eksplorasi digital dan keluarkan
bekuan serta sisa kotiledon. Gunakan forsep ovum atau kuret tumpul besar
bila perlu
e. Jika tidak ada kemajuan dan ada peritonitis (demam,nyeri lepas dan nyeri
abdomen), lakukan laparatomi dan drainaseabdomen bila terdapat pus.
f. Jika uterus terinfeksi dan nekrotik, lakukan histerektomi subtotal
g. Lakukan pemeriksaan penunjang
h. Pemeriksaan darah perifer lengkap termasuk hitung jenis leuosit
i. Golongan darah ABO dan jenis Rh
j. Gula Darah Sewaktu (GDS)
k. Analisis urin
l. Kultur (cairan vagina, darah, dan urin sesuai indikasi
m. Ultrasonografi (USG) untuk menyingkirkan kemungkinan adanya sisa
plasenta dalam rongga uterus atau massa intra abdomen-pelvik
n. Periksa suhu pada grafik (pengukuran suhu setiap 4 jam) yang
digantungkan pada tempat tidur pasien
o. Periksa kondisi umum: tanda vital, malaise, nyeri perut dan cairan
pervaginam setiap 4 jam
p. Lakukan tindak lanjut jumlah leukosit dan hitung jenis leukosit per 48 jam.
q. Terima, catat dan tindak lanjuti hasil kultur
r. Perbolehkan pasien pulang jika suhu <37,5 C selama minimal 48 jam dan
hasil pemeriksaan leukosit <11.000/mm.

( Buku Saku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar dan rujukan)

13
8. Pencegahan
a. Masa kehamilan

Mengurangi atau mencegah faktor-faktor predisposisi seperti anemia,


malnutrisi dan kelemahan, serta mengobati penyakit-penyakit yang diderita oleh
ibu. Pemeriksaan dalam jangan dilakukan kalau tidak ada indikasiyang perlu.
Begitu pula pada koitus ibu hamil tua hendaknya dihindari atau dikurangi dan di
lakukan hati-hati karena dapat menyebabkan pecahnya ketuban, kalau ini terjadi
infeksi akan mudah masuk dalam jalan lahir.

b. Masa persalinan
Pencegahan yang dapat dilakukan pada masa persalinan yaitu.
1) Hindari pemeriksaan dalam berulang-ulang, lakukan bila ada indikasi
dengan sterilitas yang baik, apalagi bila ketuban telah pecah.
2) Hindari partus terlalu lama dan ketuban pecah lama.
3) Jagalah sterilitas kamar bersalian dan pakailah masker, alat-alat harus
suci hama.
4) Perlukaan-perlukaan jalan lahir karena tindakan baik pervaginam
maupun perabdominam dibersihkan, dijahit sebaik-baiknya dan
menjaga sterilitas.
5) Perdarahan yang banyak harus dicegah, bila terjadi darah yang hilang
harus segera diganti dengan transfusi darah.

c. Selama nifas
Pencegahan yang dapat dilakukan pada masa nifas yaitu :
1) Perawatan luka post partum dengan teknik aseptik.
2) Semua alat dan kain yang berhubungan dengan daerah genital harus
suci hama.
3) Penderita dengan infeksi nifas sebaiknya diisolasi dalam ruangan
khusus, tidak bercampur dengan ibu nifas yang sehat.
4) Membatasi tamu yang berkunjung

14
E. BENDUNGAN PAYUDARA

1. Pengertian
Bendungan ASI menurut Pritchar (1999) adalah pembendungan air susu
karena penyempitan duktus lakteferi atau oleh kelenjar-kelenjar tidak
dikosongkan dengan sempurna atau karena kelainan pada puting susu (Buku
Obstetri Williams).
Bendungan air susu adalah terjadinya pembengkakan pada payudara
karena peningkatan aliran vena dan limfe sehingga menyebabkan bendungan ASI
dan rasa nyeri disertai kenaikan suhu badan (Sarwono, 2005).

2. Diagnosis
a) Payudara bengkak dank eras
b) Nyeri pada payudara
c) Terjadi 3-5 hari setelah persalinan
d) Kedua payudara terkena

15
3. Faktor Penyebab
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan bendungan ASI, yaitu:
a. Pengosongan mamae yang tidak sempurna
Dalam masa laktasi, terjadi peningkatan produksi ASI pada Ibu yang
produksi ASI-nya berlebihan. apabila bayi sudah kenyang dan selesai menyusu
& payudara tidak dikosongkan, maka masih terdapat sisa ASI di dalam
payudara. Sisa ASI tersebut jika tidak dikeluarkan dapat menimbulkan
bendungan ASI.

b. Faktor hisapan bayi yang tidak aktif


Pada masa laktasi, bila Ibu tidak menyusukan bayinya sesering mungkin
atau jika bayi tidak aktif mengisap, maka akan menimbulkan bendungan ASI.

c. Faktor posisi menyusui bayi yang tidak benar


Teknik yang salah dalam menyusui dapat mengakibatkan puting susu
menjadi lecet dan menimbulkan rasa nyeri pada saat bayi menyusu. Akibatnya
Ibu tidak mau menyusui bayinya dan terjadi bendungan ASI.

d. Puting susu terbenam


Puting susu yang terbenam akan menyulitkan bayi dalam menyusu.
Karena bayi tidak dapat menghisap puting dan areola, bayi tidak mau menyusu
dan akibatnya terjadi bendungan ASI.

e. Puting susu terlalu panjang


Puting susu yang panjang menimbulkan kesulitan pada saat bayi menyusu
karena bayi tidak dapat menghisap areola dan merangsang sinus laktiferus
untuk mengeluarkan ASI. Akibatnya ASI tertahan dan menimbulkan
bendungan ASI.

16
4. Pencegahan agar tidak terjadi bendungan ASI
a. Keluarkan sedikit ASI sehingga puting lebih mudah ditangkap dan dihisap
oleh bayi
b. Sesudah bayi kenyang keluarkan sisa ASI.

5. Penatalaksanaan

a. Tatalaksana Umum

1) Sangga payudara ibu dengan bebat atau bra yang pas.


2) Kompres payudara dengan menggunakan kain basah/hangat selama 5
menit.
3) Urut payudara dari arah pangkal menuju puting.
4) Keluarkan ASI dari bagian depan payudara sehingga puting menjadi
lunak.
5) Susukan bayi 2-3 jam sekali sesuai keinginan bayi (on demand feeding)
dan pastikan bahwa perlekatan bayi dan payudara ibu sudah benar.
6) Pada masa-masa awal atau bila bayi yang menyusu tidak mampu
mengosongkan payudara, mungkin diperlukan pompa atau pengeluaran
ASI secara manual dari payudara.
7) Letakkan kain dingin/kompres dingin dengan es pada payudara setelah
menyusui atau setelah payudara dipompa.
8) Bila perlu, berikan parasetamol 3 x 500 mg per oral untuk mengurangi
nyeri.
9) Lakukan evaluasi setelah 3 hari.

b. Tatalaksana Khusus :-

17
F. INFEKSI PAYUDARA

1. Pengertian
Infeksi payudara atau disebut juga mastitis merupakan peradangan pada
payudara infeksi terjadi melalui luka pada puting susu, tapi mungkin juga
melalui peredarah darah (Prawirohadjo,2005:701) Penyebab infeksi biasanya
Staphylococcus aureus. Mastitis diakibatkan oleh sumbatan saluran susu yang
berlanjut. Keadaan ini disebabkan kurangnya ASI dihisap atau dikeluarkan
secara tidak efektif. Dapat juga terjadi akibat tekanan BH atau baju. Para
wanita yang baru pertama kali menyusui cenderung lebih sering terkena
mastitis. Mastitis ini dapat terjadi kapan saja sepanjang periode menyusui, tapi
paling sering terjadi antara hari ke-10 dan hari ke-28 setelah
kelahiran.Menurut Sarwono (2005:482) tidak jarang mastitis dibarengi oleh
kanker payudara, yang menyebabkan jalannya penyakit menjadi lebih cepat.
Mastitis tidak akan membawa dampak negatif bagi bayi karena kuman yang
menyebabkan mastitis terdapat pada peredaran darah dan tidak mempengaruhi
saluran ASI, sehingga tidak mempengaruhi ASI.
Mastitis adalah infeksi yang disebabkan karena adanya sumbatan pada
duktus hingga putting susu mengalami sumbatan. Mastitis paling sering terjadi
pada minggu kedua dan ketiga pasca kelahiran, penyebab penting dari mastitis
ini adalah pengeluaran asi yang tidak efisien akibat teknik menyusui yang
salah atau buruk. Untuk menghambat terjadinya mastitis ini dianjurkan untuk
menggunakan bra atau pakaian dalam yang memiliki penyangga yang baik
pada payudara ( Sally I,2003 dalam Anonim,2013)

2. Jenis-jenis mastitis atau infeksi payudara


a. Secara garis besar mastitis dibagi menjadi 2 yaitu:
1) Non Infektif Mastitis
Non infektif mastitis terjadi karena saluran air susu yang tersumbat
atau juga karena posisi menyusui yang salah.

18
2) Infektif Mastitis
Yaitu yang telah terinfeksi bakteri yang diakibatkan oleh kuman yang
masuk ke saluran air susu di puting payudara melalui perantaraan
mulut atau hidung bayi. Pada mastitis infeksius, ASI dapat terasa asin
akibat kadar natrium dan klorida yang tinggi dan merangsang
penurunan aliran ASI. Ibu harus tetap menyusui.

b. Berdasarkan tempatnya serta berdasarkan penyebab dan kondisinya


1) Mastitis yang menyebabkan abses di bawah areola mammae
2) Mastitis di tengah-tengah mammae yang menyebabkan abses di
tempat itu
3) Mastitis pada jaringan di bawah dorsal dari kelenjar-kelenjar yang
menyebabkan abses antara mammae dan otot-otot di bawahnya.

c. Menurut kondisinya
1) Mastitis periductal
Biasanya muncul pada wanita di usia menjelang menopause
(wanita di atas 45 tahun), penyebab utamanya tidak jelas diketahui.
Akibat perubahan hormonal dan aktivitas menyusui di masa lalu. Pada
saat menjelang menopause terjadi penurunun hormon estrogen yang
menyebabkan adanya jaringan yang mati. Tumpukan jaringan mati
dan air susu menyebabkan penyumbatan pada saluran di payudara.
Penyumbatan menyebabkan buntunya saluran dan akhirnya
melebarkan saluran di belakangnya, yang biasanya terletak di
belakang puting payudara. Hasil akhirnya ialah reaksi peradangan
yang disebut mastitis periductal. Jenis mastitis ini jarang terjadi.

2) Mastitis puerperalis
Ini disebabkan karena infeksi pada jaringan payudara. Mastitis ini
terjadi pada wanita yang sedang menyusui karena adanya perpindahan
kuman dari mulut bayi atau mulut dari suaminya. Kuman yang paling

19
banyak menyebabkan mastitis puerperalis adalah Staphylococcus
aureus. Selain itu kuman dapat masuk ke payudara karena suntik
silikon atau injeksi kolagen sehingga menyebabkan peradangan. Pada
mastitis puerperalis kuman berasal dari luar yang masuk ke dalam
payudara.

3) Mastitis supurativa
Mastitis jenis ini ialah yang paling sering ditemui. Mirip dengan
jenis sebelumnya, mastitis jenis ini juga disebabkan kuman
staphylococcus. Selain itu bisa juga disebabkan oleh jamur, kuman
TBC, bahkan sifilis. Mastitis jenis ini harus mendapatkan penanganan
yang tepat dan cepat agar tidak terjadi abses atau luka bernanah dalam
jaringan payudara. Kuman dari mastitis supurative berasal dari dalam
tubuh yang masuk ke dalam jaringan payudara lewat aliran darah.

d. Berdasarkan etiloginya
1) Stasis ASI
Stasis ASI terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari
payudara. Hal ini terjadi jika payudara terbendung segera setelah
melahirkan, atau setiap saat jika bayi mengisap ASI, kenyutan bayi
buruk pada payudara , pengisapan yang tidak efektif, pembatasan
frekuensi/durasi menyusui, sumbatan pada saluran ASI, suplai ASI
yang sangat berlebihan dan menyusui untuk kembar dua/lebih. Statis
ASI dapat membaik hanya dengan terus menyusui, tentunya dengan
teknik yang benar.
2) Non infeksiosa
Mastitis jenis ini biasanya ditandai dengan gejala sebagai berikut:
adanya bercak panas/nyeri tekan yang akut, bercak kecil keras yang
nyeri tekan, dan tidak terjadi demam dan ibu masih merasa baik-baik
saja. Mastitis non infeksiosa membutuhkan tindakan pemerasan ASI
setelah menyusui.

20
3) Mastitis Infeksiosa
Mastitis jenis ini biasanya ditandai dengan gejala sebagai berikut:
lemah, nyeri kepala seperti gejala flu, demam suhu >38,5 oc, ada luka
pada putting payudara, kulit payudara tampak menjadi kemerahan
atau mengkilat, terasa keras dan tegang, payudara membengkak,
mengeras, dan teraba hangat, dan terjadi peningkatan kadar natrium
sehingga bayi tidak mau menyusu karena ASI yang terasa asin.
Mastitis infeksiosa hanya dapat diobati dengan pemerahan ASI dan
antibiotic sistematik. Tanpa pengeluaran ASI yang efektif, mastitis
non infeksiosa sering berkembang menjadi mastitis infeksiosa, dan
mastitis infeksiosa menjadi pembentukan abses .

e. Berdasarkan Kondisinya
Mastitis diklasifikasikan menjadi 4 jenis, yaitu mastitis puerparalis
epidemic, mastitis aninfeksosa, mastitis subklinis dan mastitis infeksiosa.
Dimana keempat jenis tersebut muncul dalam kondisi yang berbeda-beda.
Diantaranya adalah sebagai berikut :
(Bertha,2002 dalam Djamudin, 2009)
1) Mastitis Puerparalis Epidemik
Mastitis puerparalis epidemic ini biasanya timbul bila pertama kali
bayi dan ibunya terpajang pada organisme yang tidak dikenal atau
verulen. Masalah ini paling sering terjadi di rumah sakit, dari infeksi
silang atau bekesinambungan strain resisten.
2) Mastitis Noninfesiosa
Mastitis noninfeksiosa bila ASI tidak keluar dari sebagian atau
seluruh payudara, produksi ASI melambat dan aliran terhenti, namun
proses ini membutuhkan waktu beberapa hari dan tidak akan selesai
dalam 2 3 minggu. Untuk sementara waktu, akumulasi ASI dapat
menyebabkan respons peradangan.

21
3) Mastitis Subklinis
Mastitis subklinis telah diuraikan sebuah kondisi yang disebut
mastitis subklinis. Dapat disertai dengan pengeluaran ASI yang tidak
adekuat, sehingga produksi ASI sangat berkurang sampai sampai di
bawah 400 ml/hari.

4) Mastitis Infeksiosa
Mastitis infeksiosa terjadi bila siasis ASI tidak sembuh dan
proteksi oleh faktor imun dalam ASI dan oleh respons respons
inflamasi. Secara formal ASI segar bukan merupakan media yang baik
untuk pertumbuhan bakteri.

3. Faktor Resiko
Beberapa faktor yag diduga dapat meningkatkan risiko mastitis
(Prasetyo,2010), yaitu :
a. Umur
Wanita berumur 21-35 tahun lebih sering menderita mastitis dari pada
wanita dibawah 21 tahun atau diatas 35 tahun.
b. Serangan sebelumnya
Serangan mastitis pertama cenderung berulang, hal ini merupakan akibat
teknik menyusui yang salah yang tidak diperbaiki
c. Melahirkan
Komplikasi melahirkan dapat meningkatkan resiko mastitis, walaupun
penggunaan oksitosin tidak meningkatkan resiko.
d. Gizi
Asupan garam dan lemak tinggi serta anemia menjadi faktor predisposisi
terjadinya mastitis. Wanita yang mengalami anemia akan beresiko
mengalami mastitis karena kurangnya zat besi dalam tubuh, sehingga hal
itu akan memudahkan tubuh mengalami infeksi (mastitis). Antioksidan
dari vitamin E, vitamin A dan selenium dapat resiko mastitis

22
e. Faktor kekebalan dalam ASI
Faktor kekebalan dalam ASI dapat memberikan mekanisme pertahanan
dalam payudara
f. Pekerjaan di luar rumah
Interval antar menyusui yang panjang dan kekurangan waktu dalam
pengeluaran ASI yang adekuat sehingga akan memicu terjadinya statis
ASI.
g. Trauma
Trauma pada payudara yang disebabkan oleh apapun dapat merusak
jaringan kelenjar dan saluran susu dan hal tersebut dapat menyebabkan
mastitis.

4. Etiologi
a. Bayi tidak mau menyusu sehingga ASI tidak diberikan secara adekuat.
b. Lecet pada puting susu yang menyebabkan kuman staphylococcus
aureus masuk menyebabkan infeksi mastitis
c. Personal higiene ibu kurang, terutama pada puting susu
d. Bendungan air susu yang tidak adekuat di tangani sehingga
menyebabkan mastitis (Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal,
2001)

5. Tanda-Tanda Infeksi Payudara Atau Mastitis


a. Payudara yang terbendung membesar, membengkak, keras dan kadang
terasa nyeri.
b. Payudara dapat terlihat merah, mengkilat dan putting teregang menjadi
rata.
c. ASI tidak mengalir dengan mudah, dan bayi sulit mengeyut untuk
menghisap ASI sampai pembengkakan berkurang.
d. Ibu akan tampak seperti sedang mengalami flu, dengan gejala demam,
rasa dingin dan tubuh terasa pegal dan sakit.

23
e. Terjadi pembesaran kelenjar getah bening ketiak pada sisi yang sama
dengan payudara yang terkena.

Gejala yang muncul juga hampir sama dengan payudara yang membegkak karena
sumbatan saluran ASI antara lain :
a. Payudara terasa nyeri
b. Teraba keras
c. Tampak kemerahan
d. Permukaan kulit dari payudara yang terkena infeksi juga tampak seperti pecah
pecah, dan badan terasa demam seperti hendak flu, bila terkena sumbatan
tanpa infeksi, biasanya di badan tidak terasa nyeri dan tidak demam. Pada
payudara juga tidak teraba bagian keras dan nyeri serta merah .
Namun terkadang dua hal tersebut sulit untuk dibedakan, gampangnya bila
didapat sumbatan pada asluran ASI, namun tidak terasa nyeri pada payudara,
dan permukaan kulit tidak pecah-pecah maka hal itu bukan mastitis. Bila terasa
sakit pada payudara namun tidak disertai adanya bagaian payudara yang
mengeras, maka hal tersebut bukan mastitis (Pitaloka,2001 dalam
Anonim,2013).

6. Patofisiologis

Terjadinya mastitis diawali dengan peningkatan tekanan di dalam duktus


(saluran ASI) akibat stasis ASI. Bila ASI tidak segera dikeluarkan maka terjadi
tegangan alveoli yang berlebihan dan mengakibatkan sel epitel yang
memproduksi ASI menjadi datar dan tertekan, sehingga permeabilitas jaringan
ikat meningkat. Beberapa komponen (terutama protein kekebalan tubuh dan
natrium) dari plasma masuk ke dalam ASI dan selanjutnya ke jaringan sekitar
sel sehingga memicu respons imun. Stasis ASI, adanya respons inflamasi, dan
kerusakan jaringan memudahkan terjadinya infeksi.

Terdapat beberapa cara masuknya kuman yaitu melalui duktus laktiferus


ke lobus sekresi, melalui puting yang retak ke kelenjar limfe sekitar duktus

24
(periduktal) atau melalui penyebaran hematogen pembuluh darah).
Organisme yang paling sering adalah Staphylococcus aureus, Escherecia coli
dan Streptococcus. Kadangkadang ditemukan pula mastitis tuberkulosis yang
menyebabkan bayi dapat menderita tuberkulosa tonsil. Pada daerah endemis
tuberkulosa kejadian mastitis tuberkulosis mencapai 1%.

7. Komplikasi dan Prognosis

a. Komplikasi

1) Abses
Abses merupakan komplikasi mastitis yang biasanya terjadi karena
pengobatan terlambat atau tidak adekuat. Bila terdapat daerah payudara
teraba keras , merah dan tegang walaupun ibu telah diterapi, maka kita
harus pikirkan kemungkinan terjadinya abses. Pemeriksaan USG payudara
diperlukan untuk mengidentifikasi adanya cairan yang terkumpul.
2) Mastitis berulang/kronis

Mastitis berulang biasanya disebabkan karena pengobatan terlambat atau


tidak adekuat. Ibu harus benar-benar beristirahat, banyak minum, makanan
dengan gizi berimbang, serta mengatasi stress. Pada kasus mastitis
berulang karena infeksi bakteri diberikan antibiotik dosis rendah
(eritromisin 500mg sekali sehari) selama masa menyusui .

3) Infeksi jamur

Komplikasi sekunder pada mastitis berulang adalah infeksi oleh jamur


seperti candida albicans. Keadaan ini sering ditemukan setelah ibu
mendapat terapi antibiotik. Infeksi jamur biasanya didiagnosis berdasarkan
nyeri berupa rasa terbakar yang menjalar di sepanjang saluran ASI. Di
antara waktu menyusu permukaan payudara terasa gatal. Puting mungkin
tidak nampak kelainan. Ibu dan bayi perlu diobati. Pengobatan terbaik
adalah mengoles nistatin krem yang juga mengandung kortison ke puting

25
dan areola setiap selesai bayi menyusu dan bayi juga harus diberi nistatin
oral pada saat yang sama.

b. Prognosis
Prognosis baik setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan segera.
Dan keadaan akan menjadi fatal bila tidak segera diberikan atau dilakukan
tindakan yang adekuat.

8. Pencegahan
Penanganan terbaik mastitis adalah dengan pencegahan. Pencegahan
dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Perawatan puting susu atau perawatan payudara
b. Susukan bayi setiap saat tanpa jadwal
c. Pembersihan puting susu sebelum dan sesudah menyusui untuk
menghilangkan kerak dan susu yang sudah kering
d. Teknik menyusui yang benar.
e. Bra yang cukup meyangga tetapi tidak ketat
f. Perhatian yang cermat saat mencuci tangan dan perawatan payudara
g. Kompres hangat pada area yang terkena
h. Masase area saat menyusui untuk memfasilitasi aliran air susu
i. Peningkatan asupan cairan
j. Istirahat
k. Membantu ibu menentukan prioritas untuk mengurangi stress dan
keletihan dalam kehidupannya
l. Suportif, pemeliharaan perawatan ibu
m. Menyusui secara bergantian payudara kiri dan kanan
n. Untuk mencegah pembengkakan dan penyumbatan saluran, kosongkan
payudara dengan cara memompanya
o. Rajin mengganti BH / Bra setiap kali mandi atau bila basah oleh
keringat dan ASI, BH tidak boleh terlalu sempit dan menekan payudara.

26
p. Jika ibu melahirkan bayi lalu bayi tersebut meninggal, sebaiknya
dilakukan bebat tekan pada payudara dengan menggunakan kain atau
stagen dan ingat untuk minta obat penghenti ASI pada dokter atau
bidan.

9. Penanganan dan peran bidan


a. Payudara dikompres dengan air dingin
b. Untuk mengurangi rasa sakit dapat diberikan pengobatan analgetik
c. Untuk mengatasi infeksi diberikan antibiotika
d. Bayi mulai menyusu pada payudara yang mengalami peradangan
e. Anjurkan ibu selalu menyusui bayinya
f. Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi dan istirahat
yang cukup
g. Konseling suportif
Mastitis merupakan pengalaman yang sangat nyeri dan membuat
frustrasi, dan membuat banyak wanita merasa sangat sakit. Selain
dengan penanganan yang efektif dan pengendalian nyeri, wanita
membutuhkan dukungan emosional. Ibu harus diyakinkan kembali
tentang nilai menyusui; yang aman untuk diteruskan; bahwa ASI dari
payudara yang terkena tidak akan membahayakan bayinya; dan bahwa
payudaranya akan pulih baik bentuk maupun fungsinya.
h. Pengeluaran ASI dengan efektif
Dengan membantu ibu memperbaiki kenyutan bayi pada payudara,
mendorong untuk sering menyusui, sesering dan selama bayi
menghendaki, tanpa pembatasan, bila perlu peras ASI dengan tangan
atau dengan pompa atau botol panas, sampai menyusui dapat dimulai
lagi.

27
10. Tatalaksan
a. Tatalaksana Umum
1) Ibu sebaiknya tirah berbaring dan mendapat asupan cairan yang
lebih banyak.
2) Sampel ASI sebaiknya dikultur dan diuji sensitivitas.

b. Tatalaksana Khusus
1) Berikan antibiotika :
a) Kloksasilin 500 mg per oral per 6 jam selama 10-14 hari
b) Atau eritromisin 250 mg per oral 3 kali sehari selama 10-14 hari
2) Dorong ibu untuk tetap menyusui, dimulai dengan payudara yang
tidak sakit. Bila payudara yang sakit belum kosong setelah
menyusui, pompa payudara untuk mengeluarkan isinya.
3) Kompres dingin pada payudara untuk mengurangi bengkak dan
nyeri.
4) Berikan parasetamol 3 x 500 mg per oral
5) Sangga payudara ibu dengan bebat atau bra yang pas
6) Lakukan evaluasi setelah 3 hari .

G. ABSES PELVIS

1. Pengertian

Penyakit radang panggul adalah infeksi saluran reproduksi bagian atas.


Penyakit tersebut dapat mempengaruhi endometrium (selaput dalam rahim),
saluran tuba, indung telur, miometrium (otot rahim), parametrium dan rongga
panggul. Penyakit radang panggul merupakan komplikasi umum dari Penyakit
Menular Seksual (PMS).
Peradangan tuba falopii terutama terjadi pada wanita yang secara seksual
aktif. Resiko terutama ditemukan pada wanita yang memakai IUD. Bisasanya

28
peradangan menyerang kedua tuba. Infeksi bisa menyebar ke rongga perut dan
menyebabkan peritonitis.

2. Etiologi / Penyebab
Penyakit radang panggul terjadi apabila terdapat infeksi pada saluran genital
bagian bawah, yang menyebar ke atas melalui leher rahim. Butuh waktu dalam
hitungan hari atau minggu untuk seorang wanita menderita penyakit radang
panggul. Bakteri penyebab tersering adalah Neiserreia Gonorrhoeae dan
Chlamydia trachomatis yang menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan
sehingga menyebabkan berbagai bakteri dari leher rahim maupun vagina
menginfeksi daerah tersebut. Kedua bakteri ini adalah kuman penyebab PMS.
Proses menstruasi dapat memudahkan terjadinya infeksi karena hilangnya lapisan
endometrium yang menyebabkan berkurangnya pertahanan dari rahim, serta
menyediakan medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri (darah menstruasi).

3. Faktor Resiko
Wanita yang aktif secara seksual di bawah usia 25 tahun berisiko tinggi untuk
mendapat penyakit radang panggul. Hal ini disebabkan wanita muda
berkecenderungan untuk berganti-ganti pasangan seksual dan melakukan
hubungan seksual tidak aman dibandingkan wanita berumur. Faktor lainnya yang
berkaitan dengan usia adalah lendir servikal (leher rahim). Lendir servikal yang
tebal dapat melindungi masuknya bakteri melalui serviks (seperti gonorea),
namun wanita muda dan remaja cenderung memiliki lendir yang tipis sehingga
tidak dapat memproteksi masuknya bakteri.

Faktor risiko lainnya adalah:


a. Riwayat penyakit radang panggul sebelumnya
b. Pasangan seksual berganti-ganti, atau lebih dari 2 pasangan dalam waktu
30 hari
c. Wanita dengan infeksi oleh kuman penyebab PMS

29
d. Menggunakan douche (cairan pembersih vagina) beberapa kali dalam
sebulan
e. Penggunaan IUD (spiral) meningkatkan risiko penyakit radang panggul.
Risiko tertinggi adalah saat pemasangan spiral dan 3 minggu setelah
pemasangan terutama apabila sudah terdapat infeksi dalam saluran
reproduksi sebelumnya.

4. Patofisiologi

Infeksi dapat terjadi pada bagian manapun atau semua bagian saluran genital
atas endometrium (endometritis), dinding uterus (miositis), tuba uterina
(salpingitis), ovarium (ooforitis), ligamentum latum dan serosa uterina
(parametritis) dan peritoneum pelvis (peritonitis). Organisme dapat menyebar ke
dan di seluruh pelvis dengan salah satu dari lima cara :

a. Interlumen
Penyakit radang panggul akut non purpuralis hampir selalu (kira-kira
99%) terjadi akibat masuknya kuman patogen melalui serviks ke dalam
kavum uteri. Infeksi kemudian menyebar ke tuba uterina, akhirnya pus
dari ostium masuk ke ruang peritoneum. Organisme yang diketahui
menyebar dengan mekanisme ini adalah N. gonorrhoeae, C. Tracomatis,
Streptococcus agalatiae, sitomegalovirus dan virus herpes simpleks.
b. Limfatik
Infeksi purpuralis (termasuk setelah abortus) dan infeksi yang
berhubungan denngan IUD menyebar melalui sistem limfatik seperti
infeksi Myoplasma non purpuralis.
c. Hematogen
Penyebaran hematogen penyakit panggul terbatas pada penyakit tertentu
(misalnya tuberkulosis)
d. Intraperitoneum
Infeksi intraabdomen (misalnya apndisitis, divertikulitis) dan kecelakaan

30
intra abdomen (misalnya virkus atau ulkus denganperforasi) dapat
menyebabkan infeksi yang mengenai sistem genetalia interna.
e. Kontak langsung
Infeksi pasca pembedahan ginekologi terjadi akibat penyebaran infeksi
setempat dari daerah infeksi dan nekrosis jaringan. Terjadinya radang
panggul di pengaruhi beberapa faktor yang memegang peranan, yaitu:
1) terganggunya barier fisiologik secara fisiologik penyebaran kuman
keatas kedalam genentalian eksterna akan mengalami hambatan
Diostrium uteri internum,dikornu tuba,pada waktu haid akibatnya
adanya deskuamasi endometrium maka kuman kuman pada
endometrium turut terrbuang.Pada ostium uteri
eksternum,penyebaran esenden kuman kuman dihambat secara
mekanik,biokemik,dan imunologik.Pada keadaan tertentu, barier
fisiologik ini dapat terganggu, misalnya pada saat persalinan,
abortus,instrumentasi pada kanalis servikalis dan insersi alat
kontrasepsi dalam rahim (AKDR).
2) Adanya organisme yang berperang sebagai vector.
Trikomonas vaginalis dapat menembus barier fisiologik dan
bergerak sampai tuba fallopi. Beberapa kuman pathogen misalnya
E coli dapat melekat pada trikomonas vaginalis yang berfungsi
sebagai vektor dan terbawa sampai tuba fallopi dan menimbulkan
peradangan di tempat tersebut. Spermatozoa juga terbukti berperan
sebagai vektor untuk kuman kuman Ngonerea, ureaplasma
ureolitik, C trakomatis dan banyak kuman kuman aerobik dan
anaerobik lainnya.
3) Aktivitas seksual pada waktu koitus,bila wanita orgasme, maka
akan terjadi kontraksi uterus yang dapat menarik spermatozoa dan
kuman memasuki kanalis servikalis.

31
5. Tanda dan Gejala
Gejala biasanya muncul segera setelah siklus menstruasi. Penderita
merasakan nyeri pada perut bagian bawah yang semakin memburuk dan disertai
oleh mual atau muntah. Biasanya infeksi akan menyumbat tuba falopii. Tuba yang
tersumbat bisa membengkak dan terisi cairan. Sebagai akibatnya bisa terjadi nyeri
menahun, perdarahan menstruasi yang tidak teratur dan kemandulan.
Infeksi bisa menyebar ke struktur di sekitarnya, menyebabkan terbentuknya
jaringan parut dan perlengketan fibrosa yang abnormal diantara organ-organ perut
serta menyebabkan nyeri menahun.
Di dalam tuba, ovarium maupun panggul bisa terbentuk abses (penimbunan
nanah). Jika abses pecah dan nanah masuk ke rongga panggul, gejalanya segera
memburuk dan penderita bisa mengalami syok. Lebih jauh lagi bisa terjadi
penyebaran infeksi ke dalam darah sehingga terjadi sepsis.
Pada pemeriksaan dalam dapat dijumpai :

1) Tegang di bagian abdomen bawah.


2) Nyeri dan nyeri gerak pada serviks.
3) Dapat teraba tumor karena pembentukan abses.
4) Di bagian belakang rahim terjadi timbunan nanah.
5) Dalam bentuk menahun mungkin teraba tumor, perasaan tidak enak
(discomfort) di bagian bawah abdomen.

6. Diagnosis

Diagnosis radang panggul berdasarkan kriteria dari Infectious Disease Society


for Obstetrics & Gynecology, USA. 1983, ialah :

a. Ketiga gejala klinik dibawah ini harus ada :


1) Nyeri tekan pada abdomen, dengan atau tanpa rebound.
2) Nyeri bila servik uteri digerakkan.
3) Nyeri pada adneksa.

32
b. Bersamaan dengan satu atau lebih tanda-tanda dibawah ini :
1) Negatif gram diplokok pada secret endoserviks.
2) Suhu diatas 38 C.
3) Lekositosis lebih dari 10.000 per mm.
4) Adanya pus dalam kavum peritonei yang didapat dengan kuldosentesis
maupun laparaskopi.
5) Adanya abses pelvic dengan pemeriksaan bimanual maupun USG.

Berdasarkan rekomendasi Infectious Disease Society for Obstetrics &


Gynecology, USA, Hager membagi derajat radang panggul menjadi :

Derajat I : Radang panggul tanpa penyulit (terbatas pada tuba dan


ovarium ), dengan atau tanpa pelvio peritonitis.
Derajat II : Radang panggul dengan penyulit (didapatkan masa radang,
atau abses pada kedua tuba ovarium) dengan atau tanpa
pelvio peritonitis.
Derajat III : Radang panggul dengan penyebaran diluar organ-organ
pelvik, misal adanya abses tubo ovarial.

7. Penyulit
Penyulit radang panggul dapat dibagi :

a. Penyulit segera,Penyulit segera pada radang panggul ialah : pembentukan


abses dan peritonitis, perhepatitis (Fitz-hugh Curth Syndrome) dan
sakrolitis.
b. Penyulit jangka panjang.
Penyulit jangka panjang adalah akibat kerusakan morfologik genitalia
interna bagian atas yaitu berupa :
1) Infeksi berulang merupakan Radang panggul yang timbul kembali
setelah 6 minggu pengobatan terakhir. Wanita yang pernah mengalami
radang panggul mempunyai resiko 6-10 kali timbulnya episode radang
panggul.

33
2) Infertilitas.
3) Kehamilan ektopik.
4) Nyeri pelvic kronik.

8. Tatalaksana
a. Tatalaksana umum :
b. Tatalaksana Khusus
1) Berikan antibiotika kombinasi sebelum pungsi dan drain abses sampai
48 jam bebas demam:
a) Ampisilin 2 g IV setiap 6 jam
b) Ditambah gentamisin 5 mg/kgBB IV tiap 24 jam
c) Ditambah metronidazol 500 mg IV tiap 8 jam
2) Jika kavum Douglas menonjol, lakukandrain abses, jika demam tetap
tinggi, lakukan laparotomi.

H. PERITONITIS
1. Pengertian
Peritonitis adalah inflamasi dari peritoneum (lapisan serosa yang menutupi
rongga abdomen dan organ-organ abdomen di dalamnya). Suatu bentuk penyakit
akut, dan merupakan kasus bedah darurat. Dapat terjadi secara lokal maupun
umum, melalui proses infeksi akibat perforasi usus, misalnya pada ruptur
appendiks atau divertikulum kolon, maupun non infeksi, misalnya akibat
keluarnya asam lambung pada perforasi gaster, keluarnya asam empedu pada
perforasi kandung empedu. Pada wanita peritonitis sering disebabkan oleh infeksi
tuba falopi atau ruptur ovarium.

34
2. Anatomi
Peritoneum adalah lapisan serosa yang paling besar dan paling komleks
yang terdapat dalam tubuh. Membran serosa tersebut membentuk suatu
kantung tertutup (coelom) dengan batas-batas :
a. anterior dan lateral : permukaan bagian dalam dinding abdomen
b. posterior : retroperitoneum
c. inferior : struktur ekstraperitoneal di pelvis
d. superior : bagian bawah dari diafragma
e. Peritoneum dibagi atas
1) peritoneum parietal
2) peritoneum viseral
3) peritoneum penghubung yaitu mesenterium, mesogastrin,
mesocolon, mesosigmidem, dan mesosalphinx.
4) peritoneum bebas yaitu omentum Lapisan parietal dari
peritoneum membungkus organ-organ

35
3. Etilogi
Kelainan dari peritoneum dapat disebabkan oleh bermacam hal, antara
lain:
a. Perdarahan, misalnya pada ruptur lien, ruptur hepatoma, kehamilan
ektopik terganggu
b. Asites, yaitu adanya timbunan cairan dalam rongga peritoneal sebab
obstruksi vena porta pada sirosis hati, malignitas.
c. Adhesi, yaitu adanya perlekatan yang dapat disebabkan oleh corpus
alienum, misalnya kain kassa yang tertinggal saat operasi, perforasi,
radang, trauma
d. Radang, yaitu pada peritonitis

4. Klasifikasi
a. Menurut agens
1) Peritonitis kimia
Misalnya peritonitis yang disebabkan karena asam lambung, cairan
empedu, cairan pankreas yang masuk ke rongga abdomen akibat perforasi.
2) Peritonitis septik
Merupakan peritonitis yang disebabkan kuman. Misalnya karena ada
perforasi usus, sehingga kuman-kuman usus dapat sampai ke peritonium
dan menimbulkan peradangan.

b. Menurut sumber kuman


1) Peritonitis primer
Merupakan peritonitis yang infeksi kumannya berasal dari
penyebaran secara hematogen. Sering disebut juga sebagai Spontaneous
Bacterial Peritonitis (SBP). Peritonitis ini bentuk yang paling sering
ditemukan dan disebabkan oleh perforasi atau nekrose (infeksi transmural)
dari kelainan organ visera dengan inokulasi bakterial pada rongga
peritoneum.

36
2) Peritonitis sekunder
Peritonitis ini bisa disebabkan oleh beberapa penyebab utama,
diantaranya :
a) Invasi bakteri oleh adanya kebocoran traktus gastrointestinal
atau traktus genitourinarius ke dalam rongga abdomen, misalnya
pada perforasi appendiks, perforasi kolon oleh divertikulitis,
kanker, dan luka tusuk.
b) Iritasi peritoneum akibat bocornya atau keluarnya asam empedu
akibat trauma pada traktus biliaris.
c) Benda asing, misalnya peritoneal dialisis catheters

5. Faktor resiko
Faktor-faktor berikut dapat meningkatkan resiko kejadian peritonitis,
yaitu:
a. penyakit hati dengan ascites
b. kerusakan ginjal
c. compromised immune system
d. pelvic inflammatory disease
e. appendisitis
f. ulkus gaster
g. infeksi kandung empedu
h. colitis ulseratif / chrons disease
i. trauma
j. CAPD (Continous Ambulatory Peritoneal Dyalisis)
k. Pankreatitis

6. Gejala klinis
Gejala klinis peritonitis yang terutama adalah nyeri abdomen. Nyeri dapat
dirasakan terus-menerus selama beberapa jam, dapat hanya di satu tempat
ataupun tersebar di seluruh abdomen. Dan makin hebat nyerinya dirasakan
saat penderita bergerak. Gejala lainnya meliputi :

37
a. Demam Temperatur lebih dari 380C, pada kondisi sepsis berat dapat
hipotermia
b. Mual dan muntah Timbul akibat adanya kelainan patologis organ
visera atau akibat iritasi peritoneum
c. Adanya cairan dalam abdomen, yang dapat mendorong diafragma
mengakibatkan kesulitan bernafas.
d. Dehidrasi yang di akibat ketiga hal diatas, yang didahului dengan
hipovolemik intravaskular. Dalam keadaan lanjut dapat terjadi
hipotensi, penurunan output urin dan syok.
e. Rigiditas abdomen atau sering disebut perut papan, terjadi akibat
kontraksi otot dinding abdomen secara volunter sebagai
respon/antisipasi terhadap penekanan pada dinding abdomen ataupun
involunter sebagai respon terhadap iritasi peritoneum
f. Nyeri tekan dan nyeri lepas (+)
g. Takikardi, akibat pelepasan mediator inflamasi
h. Tidak dapat BAB/buang angin.

7. Terapi
Terapi dilakukan dengan pembedahan untuk menghilangkan penyebab
infeksi (usus, appendiks, abses), antibiotik, analgetik untuk
menghilangkan rasa nyeri, dan cairan intravena untuk mengganti
kehilangan cairan.
Sebelum melakukan pembedahan hal yang perlu disiapkan adalah :
a. lakukan pemasangan selang nasogastrik bila perut kembung akibat ileus
b. berikan infus sebanyak 3000 ml
c. berikan antibiotika sehingga bebas panas selama 24 jam
Ampisilin 2 g IV, kemudian 1 g setiap 6 jam, ditambah gentamisin 5
mg/kg berat badan IV dosis tunggal/hari dan metronidazol 500 mg IV
setiap 8 jam
d. laparotomi diperlukan untuk pembersihan perut bila terdapat kantong
abses.

38
I. INFEKSI LUKA PERINEAL DAN ABDOMINAL
1. Pengertian
Infeksi luka perineal dan abdominal adalah peradangan karena
masuknya kuman-kuman kedalam luka episiotomi atau abdomen pada
waktu persalinan dan nifas, dengan tanda-tanda infeksi jaringan sekitar.
Infeksi diklasifikasikan menjadi Infeksi terbatas lokasinya dan Infeksi
yang menyebar ketempat lain melaui pembuluh darah vena, pembuluh
limfe dan endometrium (Rustam Muchtar, 1998). Dalam hal ini infeksi
perineal dan abdominal masuk kedalam infeksi terbatas lokasinya.
Infeksi perineum adalah infeksi yang disertai pembengkakan dan
perubahan warna pada luka perineum (sujiyatini dkk, 2010). Saat ini
infeksi karena episiotomi tidak sering terjadi karena hal tersebut sudah
jarang dilakukan. Infeksi pada laserasi derajat empat, kemungkinan besar
lebih serius. Infeksi luka pada perineum dan abdominal juga menyebabkan
peregangan pada jahitan luka. Infeksi pada luka perineal dapat menyebar
dan meluas ke laserasi vagina sehingga mukosa akan terlihat merah,
bengkak, kemudian menjadi nikrotik dan meluruh.
Dalam infeksi abdominal dan perineal harus dibedakan antara
wound abscess, wound seroma, wound hematoma, dengan wound
cellulitis. Wound abscess, seroma dan hematoma adalah luka infeksi yang
ditandai dengan pengerasan yang tidak biasa dengan megeluarkan cairan
serous atau kemerahan dan tidak ada sedikit erithema disekitar insisi.
Semetara wound cellulitis adalah luka infeksi yang didapatkan erithema
dan edema meluas mulai dari tempat insisi.

Wound cellullitis

39
2. Faktor predisposisi
a. kurangnya tindakan aseptik saat melakukan pembedahan dan
penjahitan
b. kurangnya hygine pasien
c. kurangnya nutrisi

3. Diagnonis
a. Nyeri tekan pada luka disertai keluarnya cairan atau darah
b. Eritema ringan diluar tepi insisi

4. Penatalakasaan
a. Tatalaksana umum
1) Kompres luka dengan kasa lembab dan minta pasien
mengganti kompres sendiri tiap 24 jam
2) Jaga kebersihan ibu, minta ibu untuk selalu menggunakan baju
dan pembalut yang bersih

b. Tatalaksana khusus
1) Bila didapat pus dan cairan pada luka, buka jahitan dan
lakukan pengeluaran serta kompres antiseptik
2) Daerah jahitan yang terinfeksi dihilangkan dan dilakukan
debridemen (pengangkatan jaringan yang mati)
3) Pada pasien tertentu yang selulitasnya (kemerahannya) jelas
namun tidak bernanah, dapat diberikan terapi antimikroba
spekrum luas dengan observasi ketat.
4) Bila infeksi sedikit dan jika abses tanpa selulitis tidak perlu
antibiotik
5) Bila luka relatif superfisial (didekat permukaan luka), berikan
ampisilin 500 mg peroral selama 6 jam dan metronidazol
500mg per oral 3 kali/hari selama 5 hari

40
6) Bila infesi dalam, dan melibatkan otot serta menyebabkan
nekrosis
a) Beri penisilin G 2 juta Unit IV setiap 4 jam (atau ampisilin
inj 1 g 4 kali/hari) atau dsumber lain mengatakan setiap 6
jam.
b) Ditambah dengan gentamisin 5mg/kg berat badan perhari
IV sekali (24 jam)
c) Ditambah dengan metronidazol 500 gr IV setiap 8 jam,
sampai bebas panas selama 48 jam. Jika ada jaringan
nekrosis yang harus dibuang lakukan jahitan sekunder 24
minggu setelah infeksi membaik.
7) Berikan nasehat kebersihan dan pemakaian pembalut yang
bersih dan sering diganti.

J. TROMBLOFLEBITIS
1. Pengertian

Perluasan infeksi nifas yang paling sering ialah perluasan atau invasi
mikroorganisme pathogen yang mengikuti aliran darah di sepanjang vena dan
cabang-cabangnya sehingga terjadi tromboflebitis.1

Dua golongan vena biasanya memegang peranan pada :

a. Vena-vena dinding Rahim dan lig. Latum (vena ovarika, vena uterin, dan
vena hipogastrik).
b. Vena-vena tungkai (vena femoralis, poplitea, dan safena).

Radang vena-vena golongan 1 disebut tromboflebitis pelvika/ polviotromflebitis


dan infeksi vena-vena golongan 2 disebut tromboflebitis femoralis.2

41
2. Klasifikasi
a. Pelviotromboflebitis
1) Pengertian
Terjadi jika infeksi intrauterus menyebarkan organisme ke dalam sirkulasi
vena, organisme tersebut merusak endothelium vascular, dan kemudian terjadi
tromboflebitis.3

Yang paling sering meradang ialah vena ovarika karena mengalirkan darah dan
luka bekas plasenta di daerah fundus uteri. Penjalaran tromboflebitis pada vena
ovarika kiri ialah ke vena renalis dan dari vena ovarika kanan ke vena kava
inferior. Trombosis yang terjadi setelah peradangan bermaksud untuk
menghalangi penjalaran mikroorganisme. Dengan proses ini, infeksi dapat
sembuh, tetapi jika daya tahan tubuh kurang, thrombus dapat menjadi nanah.2
Pelviotromboflebitis mengenai vena-vena dinding uterus dan ligamentum
latum, yaitu vena ovarika, vena uterine dan vena hipogastrika. Vena yang
paling sering terkena ialah vena ovarika dekstra karena infeksi pada tempat
implantasi plasenta terletak di bagian atas uterus, proses biasanya unilateral.
Perluasan infeksi dari vena ovarika sinistra ialah ke vena renalis, sedangkan
perluasan infeksi dari vena ovarika dekstra ialah ke vena kava inferior.
Peritoneum, yang menutupi vena ovarika dekstra, mengalami inflamasi dan

42
akan menyebabkan perisalpingoooforitis dan periapendisitis. Perluasan infeksi
dari vena utruna ialah ke vena iliaka komunis.1

2) Gejala klinis :1
a) Nyeri, yang terdapat pada perut bagian bawah dan/atau perut bagian
samping, timbul pada hari ke 2-3 masa nifas dengan atau tanpa panas.
b) Penderita tampak sakit berat dengan gambaran karakteristik sebagai
berikut :
Menggigil berulang kali. Menggigil inisial terjadi sangat berat (30-
40 menit) dengan interval hanya beberapa jam saja dan kadang-
kadang 3 hari. Pada waktu menggigil penderita hamper tidak panas.
Suhu badan naik turun secara tajam (36C menjadi 40C), yang
diikuti dengan penurunan suhu dalam 1 jam (biasanya subfebris
seperti pada endometritis).
Penyakit dapat berlangsung selama 1-3 bulan.
Cenderung berbentuk pus, yang menjalar ke mana-mana, terutama
ke paru-paru.

3) Gambaran darah :
a) Terdapat leukositosis (meskipun setelah endotoksin menyebar ke
sirkulasi, dapat segera terjadi leukopenia).
b) Untuk membuat kultur darah, darah di ambil pada saat yang tepat
sebelum mulainya menggigil. Meskipun bakteri ditemukan di dalam
darah selama menggigil, kultur darah sangat sukar dibuat karena
bakterinya adalah anaerob.

Pada periksa dalam hampir tidak diketemukan apa-apa karena yang paling
banyak terkena ialah vena ovarika yang sukar di capai pada pemeriksaan.

4) Komplikasi
a) Komplikasi pada paru-paru: infark, abses, pneumonia.

43
b) Komplikasi pada ginjal sinistra, nyeri mendadak, yang diikuti dengan
proteinuria dan hematuria.
c) Komplikasi pada persendian, mara dan jaringan subkutan.

5) Penanganan
a) Rawat inap
Penderita tirah baring untuk pemantauan gejala penyakit dan
mencegah terjadinya emboli pulmonum.

b) Terapi medic
Pemberian antibiotika ampisilin 2 g IV setiap 6 jam, ditambah
gentamisin 5 mg/kgBB IV tiap 24 jam, ditambah metronidazole 500
mg IV tiap 8 jam dan heparin jika terdapat tanda-tanda atau dugaan
adanya emboli pulmonum.

c) Terapi operatif
Pengikatan vena kava inferior dan vena ovarika jika emboli septik
terus berlangsung sampai mencapai paru-paru, meskipun sedang
dilakukan heparinisasi.

44
b. Tromboflebitis Femoralis
1) Pengertian
Tromboflebitis femoralis mengenai vena-vena pada tungkai, misalnya
vena femoralis, vena poplitea dan vena safvena.1 Dapat terjadi tromboflebitis
vena safena magna atau peradangan vena femoralis sendiri, penjalaran
tromboflebitis vena uterina (vena uterina, vena hipogastrika, vena iliaka
eksterna, venafemoralis), dan akibat parametritis. Tromboflebitis vena
femoralis mungkin terjadi karena aliran darah lambat di daerah lipat paha
karena vena tersebut, yang tetekan oleh lig. Inguinale, juga karena dalam masa
nifas kadar fibrinogen meninggi. 2

2) Penilaian Klinik
a) Keadaan umum tetap baik, suhu badan subfebris selama 7-10 hari,
kemudian suhu mendadak naik kira-kira pada hari ke 10-20, yang disertai
dengan menggigil dan nyeri sekali.
b) Pada salah satu kaki yang terkena biasanya kaki kiri, akan memberikan
tanda-tanda sebagai berikut :

45
Kaki sedikit dalam keadaan fleksi dan rotasi ke luar serta sukar
bergerak, lebih panas disbanding dengan kaki lainnya.
Seluruh bagian dari salah satu vena pada kaki terasa tegang dan keras
pada paha bagian atas.
Nyeri hebat pada lipat paha dan daerah paha.
Reflektorik akan terjadi spasmus arteria sehingga kaki menjadi
bengkak, tegang, putih, nyeri dan dingin, pulsasi menurun.
Edema kadang-kadang terjadi sebelum atau setelah nyeri dan pada
umumnya terdapat pada paha bagian atas, tetapi lebih sering dimulai
dari jari-jari kaki dan pergelangan kaki, kemudian meluas dari bawah
ke atas.
Nyeri pada betis, yang akan terjadi spontan atau dengan memijit betis
atau dengan meregangkan tendo akhiles (tanda homan).

3) Penanganan
a) Perawatan
Kaki ditinggikan untuk mengurangi edema, lakukan kompres pada kaki.
Setelah mobilisasi kaki hendaknya tetap dibalut elastik atau memakai kaos
kaki panjang yang elastik selama mungkin.
b) Mengingat kondisi ibu yang sangat jelek, sebaiknya jangan menyusui.
c) Terapi medik : pemberian antibiotika dan analgetika.

46
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kegawat daruratan masa nifas
adalah keadaan gawat darurat pada masa nifas yang jika tidak segera diatasi
akan mengakibatkan kematian.
Infeksi Nifas adalah semua peradangan yang disebabkan
oleh kuman yang masuk ke dalam organ genital pada saat persalinan dan
masa nifas. Oleh sebab itu guna mencegah terjadinya infeksi nifas yang akan
berdampak buruk pada ibu baik secara fisik maupun psikologi diharapkan
agar ibu maupun tenaga kesehatan senantiasa menjaga kebersihan dan nutrisi
ibu.

47
DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham, F Gary. 2012.obstetri williams vol.1 edisi 23. Jakarta : EGC


2. JNPK-KR. 2008. Pelayanan obstetri dan neonatal emergensi dasar
(PONED)
3. Kementrian kesehatan RI. 2013. Buku saku pelayanan kesehatan ibu di
fasilitas kesehatan dasar dan rujukan
4. Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
5. Prawiroharjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka.
6. Prawiroharjo, Sarwono. 2007. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
7. Prawirohadjo,S.2001. Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal.Jakarta: YBP
8. Manuaba Gde Ida Bagus.1999.Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita.
Jakarta: Arcan
9. Cunningham,Donald Mac,Gant.1995.Obstetri Williams.Jakarta:EGC
10. Sarwono.2009. Pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Jakarta. PT
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
11. Buku saku manajemen komplikasi kehamilan dan persalinan,2012,jakarta,
EGC
12. Warsinggih, peritonitis dan illeus. med.unhas.ac.id diakses tanggal 04
oktober 2017 pukul 22.00 WIB

48