Anda di halaman 1dari 223

Dokumen Usulan Teknis

Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

BAGIAN PENDEKATAN, METODOLOGI DAN

E
PROGRAM KERJA
Pendekatan metodologi ini merupakan program kerja konsultan dalam rangka melakukan
apresiasi dalam pelaksanaan kegiatan nanti. Pendekatan teknis, metodologi dan program
kerja adalah kriteria pokok dari Penawaran Teknis. Yang disampaikan dalam metodologi ini
adalah Pendekatan Teknis dan Metodologi, Program Kerja, dan Organisasi dan Personil.

E.1. PENDEKATAN TEKNIS


5.1. UMUM
Pekerjaan Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota
Balikpapan, secara umum dilakukan untuk menjamin agar penyelesaian
pembangunanBendungan Teritip ini selesai tepat pada waktunya,sesuai dengan
mutu yangdisyaratkan, serta tidak menyimpang dari spesifikasi yang telah
ditetapkan.Pekerjaan pembangunan Bendungan Teritip meliputi pembangunan:
a. Pemindahan Jalan;
b. Bangunan Pengelak;
c. Bendungan Pengelak (Cofferdam) ;
d. Pemasangan Vertikal dan Horizontal Drain
e. Tubuh Bendungan Utama ;
f. Pemasangan Instrumentasi ;
g. Bangunan Pelimpah ;
h. Bangunan Pengambilan Irigasi ;
i. Pemindahan Jalan.

Dengan mempertimbangkan waktu pelaksanaan yang relatif singkat maka


agar pekerjaan ini dapat disetesaikan dengan tepat waktu serta dengan mutu
yang dapat dipertanggungjawabkan maka diperlukan personil pelaksana yang
sudah berpengalaman dalam bidang supervisi konstruksi bendungan.
Dalam bab ini akan diuraikan usulan metode pendekatan pelaksanaan
pekerjaan 'Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota

ENGINEERING CONSULTANT
E-1
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Balikpapan, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan konsultan dalam


menangani proyek-proyek sejenis.

5.2. PENTINGNYA KETERLIBATAN KONSULTAN INDONESIA UNTUK


KOMPETENSI BIDANG WADUK
Di Indonesia, pembangunan waduk / bendungan sudah dilaksanakan
dalam beberapa dekade terakhir, baik itu bendungan kecil, menengah sampai
dengan bendungan besar dengan tingkat kesulitan yang cukup besar.
Pada hampir semua bendungan menengah sampai besar yang sudah
dilaksanakan di Indonesia, umumnya pelaksanaan supervisi pembangunan
bendungan dilakukan dengan konsultan utama dari konsultan asing dengan
pendamping konsultan lokal dengan kemampuan yang bisa dibilang setara,
disertai dengan alih / transfer pengetahuan selama proses konstruksi
berlangsung.
Dengan makin maraknya kompetensi keahlian, dimana keahlian,
kompetensi dan kemampuan tenaga konsultan Indonesia dan tenaga konsultan
asing sudah setara, maka sudah saatnya pelaksanaan Pembangunan Bendungan
Teritip ini diserahkan kepada putera-putera terbaik Indonesia yang sudah
mempunyai kompetensi, kemampuan dan keahlian yang cukup memadai,
sehingga tenaga-tenaga konsultan Indonesia akan bisa lebih berkibar dan bisa
lebih bersaing di dunia konstruksi internasional

5.3. PENDEKATAN OPERASIONAL


Untuk pelaksanaan pekerjaan Supervisi Lanjutan Pembangunan
Bendungan Teritip, Kota Balikpapan ini PT. METTANA dan Assosiasi PT.Teknika
Cipta Konsultan akan melibatkan tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu yang
berkaitan dengan proyek perencanaan dan pelaksanaan bendunganan, sesuai
dengan ketetapan personil pada Kerangka Acuan Kerja. Untuk mempertancar
tugas, pelaksanaan pekerjaan akan didukung oleh fasilitas penunjang berupa
peralatan yang memadai dan sistem kerja yang seefisien mungkin.

ENGINEERING CONSULTANT
E-2
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

5.3.1. Pemanfaatan Pengalaman Pekerjaan Sejenis


PT. METTANA dan Assosiasi telah berpengalaman cukup dalam proyek
waduk / bendungan di Indonesia, baik untuk skala kecil, sedang maupun besar,
untuk berbagai tahapan proyek sejak dari studi kelayakan, detail desain sampai
dengan pengawasan konstruksi. Uraian detail atas pengalaman perusahaan
dalam pekerjaan yang sejenis dengan proyek pembangunan Bendungan Teritip ini
dapat dilihat pada Bab B Daftar Pengalaman Kerja Sejenis.
Akumulasi pengalaman para konsultan nasional ini, sangat bermanfaat
dalam penyusunan strategi pendekatan dan metodologi penanganan Pekerjaan
Supervisi Pelaksanaan Pekerjaan Pembangunan Bendungan Teritip.
Pengendalian pekerjaan akan dapat berjalan dengan lancar karena konsep
pengendalian, metode kerja, konsep alur koordinasi, dan format-format
pengendalian setiap tahapan pekerjaan, telah dimiliki oleh konsultan berdasarkan
akumulasi pengalaman tersebut, seperti akan diuraikan dalam subbab-subbab
berikut.

5.3.2. Koordinasi
Dalam pelaksanaan pekerjaan ini, PT. METTANA dan Assosiasi akan selalu
berhubungan dengan Direksi Pekerjaan, Direksi Lapangan dan Kontraktor
sebagai Pelaksana Pekerjaan Konstruksi. Kordinasi dengan pihak-pihak yang
terkait akan sangat diperlukan demi kelancaran pelaksanaan pekerjaan, mulai dari
tahap Pra Konstruksi, Pelaksanaan Konstruksi maupun Paska Konstruksi.

5.3.3. Tenaga Ahli yang sesuai


Tenaga Ahli merupakan unsur utama dalam pekerjaan Supervisi Lanjutan
Pembangunan Bendungan Teritip. Agar diperoleh hasil kerja yang baik PT.
METTANA dan Assosiasi akan menempatkan tenaga ahli dari berbagai disiplin
ilmu sesuai dengan kerangka acuan kerja dan yang sudah berpengalaman dalam
menangani proyek-proyek bendungan yang sejenis. Untuk
menangani pekerjaan ini PT. METTANA dan Assosiasi memilih tenaga ahli yang
memenuhi kriteria sebagai berikut:

ENGINEERING CONSULTANT
E-3
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Mempunyai latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang


tugasnya,
mempunyai kemampuan yang baik terhadap bidang tugasnya,
mempunyai latar belakang pengalaman kerja bidang bendunganan,
bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. Tenaga Ahli
yang akan ditugaskan untuk menangani proyek ini akan dipimpin oleh
seorang Pimpinan Tim (Team Leader) yang akan membawahi sejumlah
tenaga ahli, asisten tenaga ahli dan tenaga pendukung.

5.3.4. Sistem Manajemen Proyek


Pekerjaan konstruksi pembangunan Bendungan Teritip akan dilaksanakan
dalam 1 (satu) paket pekerjaan besar dengan berbagai pekerjaan yang akan
dilaksanakan oleh Kontraktor Nasional yang terlibat dalam bentuk Kerjasama
Operasi (KSO). Hubungan interkoneksi antara satu pihak / pekerjaan dengan
yang lainnya yang sangat kompleks dimana target waktu penyelesaian suatu
pekerjaan dapat mempengaruhi sebagian atau seluruh target yang telah
ditetapkan menjadi dasar pemikiran pentingnya menetapkan suatu Sistem
Manajemen Proyek yang komprehensif.
Sistem Manajemen Proyek harus dibentuk sebagai sarana pencapaian
target pelaksanaan pembangunan Bendungan Teritip yaitu mendapatkan suatu
produk yang memenuhi kualitas, tepat waktu, dan tepat biaya (ekonomis). Untuk
itu sistem manajemen proyek yang telah ditetapkan harus diterapkan secara
tegas dan konsekwen.
Untuk menjaga agar progress kerja tetap dalam schedule dalam keadaan
mutu terkendali, selamat dan ekonomis, dan untuk mengatur progress dan
schedule pekerjaan yang terkait, suatu manajemen proyek yang baik harus dipilih
dengan memperhatikan program kerja, monitoring progress / pekerjaan,
melaksanakan rapat koordinasi dengan seluruh pihak, kontrol pekerjaan tambah,
kontrol potensi klaim, dan memberikan rekomendasi teknis yang cepat dan tepat
terhadap permasalahan lapangan yang timbul.
Manajemen proyek selama proses supervisi dan konstruksi merupakan fungsi
daripada monitoring, perencanaan dan kontrol dari Proyek, sehingga proyek dapat
selesai dengan kualitas yang memadai, tepat waktu dan tepat biaya.

ENGINEERING CONSULTANT
E-4
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Kendali mutu akan diwujudkan melalui memeriksa dan menyetujui Gambar


Konstruksi, Gambar Kerja dan Shop Drawing yang diajukan oleh Kontraktor,
inspeksi harian dan supervisi terhadap kegiatan konstruksi melalui kendali
pekerjaan yang akan dicapai dengan perantara Spesifikasi, proses pengujian /
testing / start-up / pengoperasian awal peralatan. Metode pengendalian mutu
akan dijelaskan dalam pasal pasal selanjutnya.
Kendali waktu akan diwujudkan dalam bentuk kendali rencana/program konstruksi
yang diajukan Kontraktor, pengajuan gambar Konstruksi oleh Engineer, rencana
waktu kerja yang diajukan Kontraktor yang kemudian akan direview oleh
Konsultan dan rekomendasi teknis selama proses konstruksi, review metode
konstruksi dan manajemen harian melalui inspeksi harian dan supervise
pekerjaan, yang akan diuraikan lebih lanjut dalam pasal berikut.
Kontrol terhadap biaya konstruksi akan diwujudkan melalui pengechekan
dan pengukuran harian terhadap semua dimensi sebagaimana yang tertera pada
Gambar Konstruksi dengan dasar Spesifikasi Teknis, pencatatan yang baik
terhadap progress pembayaran dan proses surat menyurat, pemahaman /
interpretasi yang benar terhadap item pembayaran sebagaimana tercantum dalam
Dokumen Kontrak. Hal-hal tersebut akan dikemukakan lebih lanjut dalam pasal
berikut.
Sistem Manajemen Proyek yang akan diterapkan adalah yang berbasis
komputer (Computer Based Project Management Sistem) untuk memenuhi
berbagai keperluan sebagaimana diuraikan diatas. dan akan terdiri antara lain :
Data base korespondensi, Database Gambar-Gambar, Sistem Monitoring
Kemajuan Pekerjaan, dan Sistem Kontrol Biaya, dan lain-lain.
1. Database korespondensi
Sistem ini akan dioperasikan dengan software yang umum terdapat,
denganfungsi utama:
memonitor tanggapan dari waktu ke waktu yang memeriukan
tanggapan dari Engineer,
untuk mengurut korespodensi berdasarkan kategori, nomor surat,
judul, atau sumbemya,
mempersiapkan list korespodensi yang dilampirkan pada progress
kerja,

ENGINEERING CONSULTANT
E-5
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

2. Database Gambar-Gambar
Sistem ini, akan dioperasikan dengan software yang umum, dengan
fungsiutama antara lain:
Untuk mengidentifikasikan status Gambar-Gambar (construction
drawing/shop drawing/fabrication drawing, as built drawing) mulai dari
penerimaan, persetujuan, pengiriman kembali, perbaikan, untuk
memonitor proses antara persiapan dan kelengkapan gambar
Untuk membuat urutan sesuai dengan kategori, tanggal dan judul.

3. Sistem Monitoring Kemaiuan Pekerjaan


Sistem ini, bisa mempergunakan program yang umum dipakai mulai dari
Excel,Microsoft Project, Timeline, Primavera atau program lain yang
sejenis, dengantujuan:
Untuk menganalisa dan memonitor kemajuan pekerjaan Kontraktor
yang dibuat dalam bentuk CPM maupun Barchart,
Untuk mempersiapkan dan memonitor rencana kerja secara
keseluruhan dan dikombinasikan dengan schedule dengan skala yang
lebih detail.

4. Sistem Kontrol Biaya


Sistem ini bisa diperasikan dengan Microsoft Excel atau program
sederhanalainnya dengan tujuan :
Untuk membuat database mengenai volume pekerjaan dan progress
kemajuan konstruksi yang meliputi biaya untuk perlode waktu bulanan
dengan jumlah yang diakumulasikan sesuai dengan yang tertera
dalam Bill of Quantity,
Untuk mempersiapkan besaran progress btaya konstruksi yang sudah
dicapai oleh Kontraktor dan membandingkannya dengan volume awal
yang tertera pada BoQ,
Untuk mempersiapkan besaran volume pekerjaan tambah (apabila
ada) untuk mempersiapkan backup untuk keperluan klaim dan
Kontraktor.

ENGINEERING CONSULTANT
E-6
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Konsultan akan merencanakan, mempersiapkan dan menerapkan Sistem


Manajemen Proyek sejak tahap awal pekerjaan. Untuk dapat menerapkan sistem
manajemen proyek ini, harus dibentuk struktur organisasi dan diadakan rapat-
rapat koordinasi gabungan seperti akan dijelaskan dalam subbab dibawah ini.

5.3.5. Rapat-rapat Koordinasi


Untuk memfasilitasi manajemen proyek, rapat-rapat koordinasi akan dilaksanakan
antara Konsultan, PU BWS Kalimantan III, Kontraktor dan berbagai pihak/instansi
lain yang terkait dan sesuai keperluan, dengan berbagai tujuan rapat.
1. Rapat Kemaiuan Pekerjaan
Rapat Kemajuan Pekerjaan diselenggarakan mingguan, 2-mingguan atau
bulanan sesuai yang tercantum dalam Dokumen Kontrak atau sesuai
dengan kesepakatan antara PU, Konsultan dan Kontraktor utuk membahas
semua item pekerjaan, dan akan membahas semua permasalahan yang
mungkin timbul selama proses pelaksanaan konstruksi pembangunan
Bendungan Teritip.
2. Rapat internal PU - Konsultan
Rapat ini diwacanakan untuk membahas hal-hal yang bersifat internal pihak
PU dan atau Konsultan terutama untuk membahas laporan dan
mendiskusikan masalah di lapangan dan alternatif solusi yang diperlukan,
waktu demi waktu, termasuk yang menyangkut potensi klaim oleh
Kontraktor. Rapat ini dapat diselenggarakan secara rutin atau diadakan
sesuai kebutuhan dan perkembangan pekerjaan.
3. Rapat internal Konsultan
Rapat internal konsultan direncanakan akan diselenggarakan setiap
minggu untuk membahas kemajuan pekerjaan, permasalahan ekstemal
maupun internal yang dihadapi konsultan, dan lebih memastikan tetap
terjaganya koordinasi antar tenaga ahli konsultan sendiri.

5.4. TAHAP PELAKSANAAN PEKERJAAN


Tahap pelaksanaan pekerjaan pembangunan Bendungan Teritip di Kota
Balikpapan ini secara keseluruhan adalah :

ENGINEERING CONSULTANT
E-7
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

1. TAHAP 1
Pada tahap ini kegiatan dilakukan rencana di bulan oktober s/d
Desember selama 3 bulan, dalam kurun waktu 3 bulan ini pekerjaan
yang bisa ditangani untuk kegiatan supervisi pengawasan konsultan
adalah:
1. Pekerjaan Design, diantaranya:
1. Pengukuran daerah genangan & tapak bendungan (seting out )
Kegiatan pengukuran &setting out dilakukan untuk mendapatkan
gambaran detail kondisi awal tapak bangunan bendungan dan
daerah genangan, sehingga dapat diketahui apabila terjadi
perubahan antara design konstruksi dengan kondisi eksisting
site. Selain itu gambaran kondisi awal tersebut juga digunakan
untuk estimasi volume konstruksi yang akan dilaksanakan serta
estimasi perilaku daerah genangan berkaitan dengan proses
sediment transport di waduk bendungan teritip.
Kegiatan ini secara langsung dilaksanakan dan dibiayai oleh
konsultan dibawah tanggung jawab Team leader dan TA Geodesi
Pelaksanaan. kegiatan ini waktunya bisa dioverlapkan dengan
kegiatan review desain dan kegiatan investigasi geoteknik.
2. Review Desain
Investigasi geologi, bor inti total kedalaman 170 m,
Tespit 18 titik.
Analisa teknis konstruksi
Kegiatan investigasi geologi diperlukan untuk kroscek terakhir
kondisi geologi tapak bangunan sebelum dilakukan pelaksanaan
konstruksi. Sehingga bisa diketahui apabila terjadi perbedaan
dengan design. Investigasi geologi dilakukan pada tapak
konstruksi diversion dan konstruksi lokasi tapak spillway. Selain
pengeboran inti, investigasi geologi juga akan melakukan uji test
pit untuk mencari material borrow area untuk timbunan tubuh
bendungan.

ENGINEERING CONSULTANT
E-8
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Kegiatan ini secara langsung dilaksanakan dan dibiayai oleh


konsultan dibawah tanggung jawab Team leader dan TA.
Geologi, Mektan
Kegiatan geologi bisa berjalan sendiri, dan sesuai kerangka
acuan kerja dan arahan dari balai bendungan.
3. Pengadaan peta Quickbird tahun 2013.
Kegiatan pengadaan ini adalah satu upaya untuk mengetahui
potret detail terhadap kondisi DAS sungai teritip dan terutama
kondisi site rencana bendungan saat sebelum ada proyek. Hal ini
dilakukan untuk antisipasi apabila di daerah DAS terdapat
kondisi yang segera perlu ditangani berkaitan dengan konservasi
DAS untuk menjaga sumber air sungai Teritip.
Pengadaan peta Quickbird tahun 2013 akan dibeli langsung
setelah SPMK keluar.
2. Pengawasan pekerjaan fisik awal, diantaranya:
1. Pembuatan jalan akses
Jalan akses merupakan sarana penunjang utama kegiatan
konstruksi bendungan, sehingga kendala kendala yang mungkin
terjadi pada mobilisasi proyek bisa di minimalkan untuk
meningkatkan produktifitas proyek. Jalan akses dibuat dari
konstruksi beton yaitu jalan yang menghubungkan antara wilayah
diluar lokasi proyek dengan lokasi proyek, sedangkan jalan kerja
merupakan akses mobilitas alat kerja pada saat masa konstruksi,
direncanakan di lokasi site bendungan
Pengawasan pada pekerjaan ini dilakukan oleh TA konstrukasi
beserta inspector.
Pembuatan jalan akses yang dilakukan bisa segera dilaksanakan
setelah SPMK diturunkan, dan overlap dengan kegiatan pengukuran
dan kegiatan iinvestigasi. Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan
mendatangkan alat dan bahan yang diperlukan untuk kegiatan awal
yaitu clearing dan pembuatan konstruksi diversion.
2. Konstruksi diversion

ENGINEERING CONSULTANT
E-9
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Konstruksi diversion adalah konstruksi yang dibuat untuk


mengelakkan aliran sungai sementara selama masa konstruksi
bendungan. Rencananya konstruksi diversion dibuat dari material
beton K-225 dengan dimensi sesuai dengan hasil design 3,5 m x 2
dengan panjang 150 meter.
T.A. Bendungan akan dibantu dengan T.A. kontruksi dalam
pengawasan pelaksanaan konstruksi diversion tersebut.
Pelaksanaan konstruksi diversion, akan berjalan setelah pekerjaan
jalan akses dilaksanakan dan bisa dilakukan bersamaan dengan
kegiatan tersebut.

2. TAHAP 2
Pekerjaan pada tahap dua ini, yaitu lanjutan pekerjaan fisik, dimulai dari
konstruksi cofferdam, pekerjaan pondasi, instrumentasi, galian dan
timbunan, jangka waktu pelaksanaan dilakukan selama 12 bulan, januari
s/d Desember 2014.

Pengawasan pekerjaan fisik yang dilakukan adalah:


1. Lanjutan konstruksi diversion
Pekerjaan konstruksi diversion pada Tahap II ini merupakan lanjutan
pelaksanaa dari Tahap II.
T.A. Bendungan akan dibantu dengan T.A. kontruksi dalam
pengawasan pelaksanaan konstruksi diversion tersebut.
2. Clearing tapak bendungan
Kegiatan ini merupakan pembersihan tapak lokasi bendungan utama
termasuk dengan cofferdam. Pembersihan ini dilakukan untuk
menghilangkan top soil eksisting di tapak konstruksi terutama dari
material organik yang ada.
3. Galian pondasi tubuh bendungan
Galian pondasi yang dimaksud adalah galian untuk menyiapakan
konstruksi pondasi tubuh bendungan termasuk kontruksi cofferdam.
Rencana galian pondasi dilaksanakan sesuai dengan design
termasuk pelaksanaan perbaikan pondasi dengan mengganti tanah

ENGINEERING CONSULTANT
E - 10
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

galian dengan timbunan material pilihan (selected material) yang


menjadi pondasi dari tubuh bendungan.
Tenaga ahli Bendungan dibantu dengan inspector quality akan
bertanggung jawab terhadap pelaksanaan galian pondasi dan perbaikan
tanah pondasi tubuh bendungan tersebut.
4. Konstruksi horizontal drain
Merupakan fasilitas dalam tubuh bendungan untuk mematuskan aliran
seepage (rembesan). Konstruksi horizontal drain merupakan hamparan
material yang mempunyai nilai permeabilitas cukup besar ( maksimal
10-3), dalam hal ini adalah material pasir atau kerikil.
Tenaga ahli Bendungan dibantu dengan inspector quality akan
bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
5. Pemasangan vertikal drain
Vertical drain (PVD : prefabricated vertical drain) adalah salah satu
konstruksi penunjang tubuh bendungan yang berfungsi untuk
mempercepat proses konsolidasi tanah pondasi tubuh bendungan.
Vertical drain merupakan material pabrikasi (jenis geotekstile) yang
ditanam di tanah soft soil tapak pondasi bendungan. Dimana material
tersebut berfungsi mengeluarkan air pori dalam tanah untuk di patuskan
ke horizontal drain.
Tenaga ahli Bendungan dan Geologi dibantu dengan inspector quality
akan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan intalasi pemasangan
vertical drain
6. Konstruksi cofferdam
Kontruksi cofferdam merupakan satu kesatuan system fungsi dengan
konstruksi diversion, dimana konstruksi cofferdam yang dibuat dari
timbunan tanah homogen fungsinya adalah untuk menahan serta
melindungi area lokasi tubuh bendungan dan mengarahkan aliran
sungai eksisting menuju ke saluran diversion. Rencananya sesuai
dengan design, konstruksi cofferdam dibuat menyatu dengan konstruksi
tubuh bendungan sehingga proses dan metode pelaksanaannya harus
sesuai dengan criteria pelaksanaan konstruksi tubuh bendungan.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 11
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Dalam pelaksanaan Tenaga ahli Bendungan bertanggung jawab


terhadap kuantitas, kualitas dan waktu konstruksi yang dilaksanakaan
oleh kontraktor.
7. Pemasangan instrument dipondasi bendungan
Adapun beberapa instrument yang akan dipasang setelah palaksanaan
perbaikan pondasi tubuh bendungan dan horizontal drain, sesuai
dengan kebutuhan adalah :
- Instrument piezometer untuk pondasi, untuk mengetahui tekanan air
pori di pondasi tubuh bendungan mengingat kondisi geologi eksisting
adalah soft soil. Tujuannya pembacaan tekan air pori tersebut (pure
water pressure) guna menentukan proses penimbunan bertahap
(stagging process)
- Inklinometer multilayer, untuk mengetahui pergerakan horizontal
tubuh bendungan.
- Settlement plate, untuk mengetahui besar penurunan selama masa
konstruksi yang berkaitan dengan volume material timbunan
terpasang.
Pelaksanaan pekerjaan pemasangan instrument ini secara langsung
akan diawasi oleh TA instrumentasi dibantu oleh TA geologi
8. Timbunan tubuh bendungan
Konstruksi tubuh bendungan merupakan kegiatan yang cukup kompleks
dalam proses pelaksanaannya yang melibatkan banyak kegiatan dan
banyak personil, dimana didalam kegiatan tersebut termasuk
didalammnya adalah
- kegiatan pemilihan dan pengambilan material timbunan dari borrow
area kelokasi tapak tubuh bendungan.
- Proses penghamparan material timbunan
- Proses pemadatan material tubuh bendungan per layer
- Inspeksi kepadatan timbunan (sandcone test)
Kegiatan ini diawasi TA bendungan dibantu oleh quality engineer khusus
untuk timbunan tubuh bendungan.
9. Konstruksi beton spillway termasuk galian pondasi

ENGINEERING CONSULTANT
E - 12
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Konstruksi spillway merupakan bagian penting dari system bendungan,


yang berfungsi untuk melimpaskan debit banjir yang masuk dalam
waduk.
Bangunan spillway dibuat dari konstruksi beton dengan karakteristik
tertentu. Pada tahap ke II ini, pelaksanaan pekerjaan konstruksi spillway
di mulai dari bagian hulu, yaitu lantai apron dinding spillway dan
spillway.
Metode dan tahapan pekerjaan konstruksi spillway adalah :
- Galian pondasi sesuai dengan peil rencana serta perbaikan struktur
tanah pondasi apabila diperlukan
- Pemasangan under drain (perforated drain) untuk minimalisasi gaya
uplift
- Konstruksi lantai kerja (beton mutu 0)
- Pembesian beton dan pemasangan bekisting
- Pengecoran atau pembetonan
TA konstruksi di bantu dengan inspector dan quality enginner akan
bertanggung jawab terhadap pengawasan pelaksanaan konstruksi
spillway.

3. TAHAP 3
Pekerjaan pada tahap tiga ini, yaitu lanjutan pekerjaan fisik dari tahap
dua, dimulai dari timbunan tubuh bendungan, intake, bangunan
pelimpah, instrumentasi, dan bangunan fasilitas lainya jangka waktu
pelaksanaan dilakukan selama 12 bulan, januari s/d Desember 2015.
Pengawasan pekerjaan fisik yang dilakukan adalah:
1. Timbunan tubuh bendungan
Pada tahap III pelaksanaan pekerjaan timbunan tubuh bendungan
merupakan lanjutan dari pekerjaan pada tahap II. Adapun proses
dan tahapan pekerjaan sama dengan pada tahap II
2. Pembetonan spillway
Pada tahap III konstruksi spillway merupakan lanjutan dari pekerjaan
konstruksi spillway sebelumnya, pada tahap ini akan dilaksanakan
konstruksi pada salauran transisi, saluran peluncur dan kolam olak

ENGINEERING CONSULTANT
E - 13
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

termasuk saluran outlet/tailrace. Proses dan tahapan pelaksanaan


pekerjaan sama dengan kegiatan konstruksi spillway pada tahap ke
I.
Diharapkan sesuai dengan jadwal pelaksanaan konstruksi pelaksanaan
pekerjaan spillway sudah bisa diselesaikan 100% pada tahap ke III ini.
3. Konstruksi Intake
Konstruksi intake merupakan bangunan pengambilan air dari waduk,
konstruksi ini direncanakan dari konstruksi beton. Proses dan
pelaksanaan pekerjaan ini sama dengan pekerjaan pada konstruksi
spillway.
4. Pipa Intake
Instalasi pipa intake merupakan bagian dari bangunan intake, namun
pada konstruksi ini material yang akan dipasang adalah pipa galvanis
lengkap dengan aksesorisnya termasuk pintu/gate yang diperlukan.
TA konstruksi dan mechanical akan bertanggung jawab terhadap
pengawasan pada pekerjaan tersebut.
5. Bangunan Fasilitas Bendungan
Yang dimaksud dengan bangunan pelengkap bendungan antara lain
adalah :
- Bangunan rumah control pintu
- Bangunan rumah jaga
- Bangunan perkuatan tebing
- Perkuatan jalan akses
- Pagar pembatas
- Jembatan pelayanan
Dimana bangunan-bangunan seperti tersebut diatas akan dilaksanakan
sesuai dengan design dan akan langsung diawasi oleh konsultan
pengawas.
4. TAHAP 4
Pekerjaan pada tahap empat ini, yaitu lanjutan pekerjaan fisik dari tahap
tiga, dimulai pekerjaan dari timbunan tubuh bendungan, intake,
bangunan pelimpah, instrumentasi, dan bangunan fasilitas lainya jangka
waktu pelaksanaan dilakukan selama 10 bulan, januari s/d Oktober 2016.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 14
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Diharapkan pada tahap terakhir ini 5 bulan sebelum kontrak berakhir


pekerjaan kegiatan konstruksi sudah selesai dilaksanakan, sehingga
konsultan bisa membuat laporan MC100% ke pengguna jasa untuk
serah terima pekerjaan.
Pengawasan pekerjaan fisik yang dilakukan adalah:
1. Pengukuran genangan dan tapak bendungan
Pekerjaan ini bersifat control terhadap tapak lokasi bangunan-
bangunan yang telah dilaksanakan
2. Pengadaan quickbird
Pengadaan foto udara pada lokasi bendungan sesaat setelah di
konstruksi
3. Instrumentasi
Pemasangan instrument yang dilaksanakan setelah tubuh bendungan
selesai dilaksanakan adalah :
- Instrument standpipe piezometer, untuk mengetahui ketinggian aliran
rembesan di dalam tubuh bendungan. Dipasang di bagian lereng
hulu dan bagian lereng hilir tubuh bendungan.
- Patok geser tubuh bendungan
TA instrumentasi akan bertanggung jawab terhadap pengawasan dan
pemasangan instrumentasi tersebut,
4. Pekerjaan tubuh bendungan
Pada tahap IV ini pelaksanaan pekerjaan tubuh bendungan bersifat
bangunan-bangunan pelengkap, seperti pemasangan blok beton untuk
rip rap dibagian lereng tubuh bendungan bagian hulu, gebalan rumput
dilereng sebelah hilir, saluran Vnote dan lain-lain
5. Intake dan pipa intake
Pekerjaan ini merupakan lanjutan dari pekerjaan system intake yang
dilakukan pada tahap ke III
6. Pembuatan manual OP dan Inponding
Pembuatan laporan manual OP merupakan bagian dari pelaksanaan
pengawasan kegiatan konstruksi bendungan setelah pelaksanaan
selesai. Selain membuat laporan terhadap konstruksi yang telah dibuat,
pada kegiatan ini juga akan mengumpulkan data-data dan laporan hasil

ENGINEERING CONSULTANT
E - 15
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

bacaan instrument yang telah dipasang pada awal konstruksi. Hal


tersebut dilakukan untuk mengetahui perilaku tubuh bendungunaan
setelah konstruksi selesai dilaksanakan berkaitan dengan kondisi tanah
pondasi (penurunan) dan rembesan.
Konsultan pengawas selaku perwakilan direksi di lapangan berkewajiban
untuk melakukan pengawasan dan pengujian kuantitas dan kualitas
konstruksi dengan berpedoman kepada spesifikasi teknis yang telah
ditetapkan pada saat tahap perencanaan detail Bendungan Teritip.

5.5. PENDEKATAN TEKNIS


5.5.1. Review Data / Laporan dan Gambar Desain yang ada
Segera setelah memobilisasi personil, konsultan akan melakukan pengenalan
kondisi lokasi pekerjaan untuk mendapatkan gambaran umum akan kondisi
topografi, lingkungan area kerja dan lainnya yang dapat membantu konsultan
memahami karakteristik proyek.
Selanjutnya konsultan akan melakukan review atas semua data, laporan
perencanaan terakhir, dan gambar-gambar desain yang ada. Hal ini akan mutlak
dilakukan agar para tenaga ahli konsultan yang terlibat dapat secara memahami
secara teknis pekerjaan yang akan dihadapi.
Kontrak konstruksi dengan Kontraktor pelaksanan juga akan segera dipelajari
untuk dapat mengerti persyaratan dan kondisi kontrak konstruksi yang berlaku
pada proyek ini.
Dari hasil review ini juga Konsultan akan member! rekomendasi pekerjaan
tambahan (jika ada) yang pengadaannya mungkin akan dilakukan secara sublet
seperti disyaratkan dalam KAK.

5.5.2. Memeriksa dan Menyetujui Jadwal Pelaksanaan


Dengan mempertimbangkan karakteristik, skala dan lingkup pekerjaan maka
dibutuhkan suatu metode monitoring jadwal yang sistematik dan menguraikan
inter-relasi antar kegiatan pekerjaan/aktifitas sehingga dimungkinkan diambil
langkah langkah pencegahan/koreksi untuk menjaga kemajuan pekerjaan secara
keseluruhan. Untuk kepertuan ini, metode Critical Path Method Network (CPM

ENGINEERING CONSULTANT
E - 16
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Network) adalah metode yang paling sesuai dalam menyusun jadwal


pelaksanaan.

Berdasarkan Condition of Particular Application, maka dalam waktu 60 (enam


puluh) hari Kontraktor wajib menyerahkan Jadwal Pelaksanaan menyeluruh atas
semua pekerjaan yang harus dilaksanakan dalam pembangunan Bendungan
Teritip ini. Konsultan akan memeriksa secara detail ketepatan, kebenaran inter-
relasi setiap aktifitas pekerjaan, dan jalur-jalur kritis (critical path) yang terjadi
selama berlangsungnya pekerjaan.
Jadwal pelaksanaan akan didiskusikan dalam suatu rapat yang harus dihadiri oleh
Pemberi Tugas, Kontraktor-kontraktor, Konsultan Pengawas dan pihak-pihak lain
yang berkepentingan. Selanjutnya akan ditetapkan Keydates / milestone atas
pekerjaan-pekerjaan utama sebagai "sasaran antara". Untuk pembangunan
Bendungan Teritip ini yang merupakan pekerjaan yang berjangka waktu panjang,
sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca / musim, atau banyak peraiatan /
equipment pekerjaan Hydromechanical yang perlu pemesanan dan fabrikasi
dalam waktu lama, maka penetapan keydates/milestone sebagai sasaran antara
berguna untuk mengontrol kepastian ketepatan jadwal pelaksanaan keseluruhan.
Keydates/milestone untuk pekerjaan pembangunan Bendungan Teritip dapat
berupa penetapan:
Tanggal mulai dan penyelesaian pekerjaan saluran pengelak (diversion
channel),
Tanggal mulai dan penyelesaian pekerjaan perbaikan pondasi termasuk
vertical drain,
Tanggal mulai dan penyelesaian pekerjaan bendungan utama (main
dam),
Pekerjaan-pekerjaan penting lainnya

Jadwal pelaksanaan secara keseluruhan beserta keydates/milestone selanjutnya


akan dituangkan dalam sebuah Berita Acara dan mengikat pihak Pemberi Tugas
dan Kontraktor. Dengan mengacu pada General Condition pada FIDIC,
selanjutnya monitoring dan pengendalian kemajuan pekerjaan Kontraktor

ENGINEERING CONSULTANT
E - 17
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

dilakukan berdasarkan jadwal pelaksanaan tersebut. Penilaian kemajuan


pekerjaan Kontraktor berikut konsekwensinya (denda, pengalihan pekerjaan,
pemutusan kontrak, dll) seperti diurai dalam Condition of Particular Applicationdan
General Condition dapat dilakukan berdasarkan keydates/milestone yang telah
disepakati.
Kondisi perkembangan pekerjaan sepanjang waktu pelaksanaan dapat berubah
akibat perubahan atau variasi pekerjaan atau akibat situasi lainnya. Hal ini
mengakibatkan CPM network haruslah selalu diperbaharui dan dipertahankan up-
to- date, sesuai dengan perkembangan atau kondisi pekerjaan yang ada agar
selalu dapat menjadi sarana pengendalian kemajuan pekerjaan.
Selanjutnya, Kontraktor juga harus menyerahkan dokumen-dokumen sebagai
berikut :
1. Program kerja detail untuk 3 (tiga) bulan kedepan dalam bentuk bar chart
2. Construction method secara detail
3. Daftar construction plant yang akan didirikan dan skedulnya
4. Estimasi kebutuhan total tenaga kerja (labour) yang dibutuhkan
5. Struktur Organisasi Kontraktor.
Berdasarkan CPM network yang telah disetujui, Konsultan akan memeriksa
ketepatan dokumen-dokumen tersebut.

5.5.3. Pengadaan Pekerjaan Subkontrak


Sesuai KAK, maka Konsultan, setelah mendapat persetujuan pemilik proyek,
menyelenggarakan kegiatan subletting meliputi:
Survey dan investigasi tambahan
Pengadaan panel ahli bendungan Nasional dan Intemasional
Fasilitasi proses penyelenggaraan sertifikasi impounding.
Kebutuhan pekerjaan tambahan atas survey dan investigasi (misalnya geologi,
topografi, dll) akan diketahui setelah Konsultan mempelajari data-data dan hasil
desain yang ada.
Konsultan akan membantu Pemberi Tugas dalam melaksanakan kegiatan sublet
tersebut dengan tetap mengacu pada peraturan pengadaan barang dan jasa yang
berlaku.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 18
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

5.5.4. Pembuatan Prosedur-Prosedur Kerja


Konsultan akan mempersiapkan prosedur-prosedur kerja untuk mempermudah
pengawasan, kontrol dan pengendalian seluruh pekerjaan. Konsultan akan
memastikan bahwa semua tenaga personil Konsultan, Kontraktor dan Pemberi
Tugas paham atas semua prosedur kerja tersebut sehingga manajemen
pengendalian proyek dapat berjalan dengan baik.
Beberapa prosedur kerja yang telah dipersiapkan oleh konsultan adalah seperti
tabel berikut.

Tabel 5.1: Daftar Prosedur Kerja

No. Prosedur
1 Prosedur pemeriksaan gambar-gambar
2 Prosedur percobaan timbunan (Trial Embankment)
3 Prosedur teknis percobaan timbunan (Trial Embankment)
4 Prosedur Density Test by In-situ Method
5 Prosedur kendali mutu pekerjaan beton
6 Diagram Alir untuk keperluan praktis inspeksi pekerjaan beton
7 Diagram Alir penentuan hasil test
8 Diagram Alir kontrol progress pekerjaan
9 Bagan Alir persetujuan pekerjaan
10 Bagan Alir Mutual Check sebagai dasar pembayaran
11 Proses umum klaim
12 Prosedur inspeksi untuk penyerahan penyelesaian pekerjaan
(PHO)
Sesuai kebutuhan pekerjaan, Konsultan akan membuat prosedur-prosedur kerja
lainnya yang dirasa perlu nantinya.
Konsultan akan menjelaskan prosedur-prosedur yang ada kepada semua pihak
yang terlibat dalam semua proses pekerjaan. Dengan adanya kesamaan
pemahaman atas prosedur tersebut akan sangat membantu kelancaran
pekerjaan, mencegah terjadinya kesalahpahaman, yang dapat berujung pada
perselisihan (disputes).

ENGINEERING CONSULTANT
E - 19
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Bagan alir dari proses - proses tersebut diatas dapat dilihat pada Lampiran Bab 5
diakhir bab ini.

5.5.5. Pembuatan Format-Format Pengawasan


Sebagai panduan setiap tenaga ahli, assisten tenaga ahli dan para
inspektor/surveyor konsultan, maka akan dibuat format-format pengawasan yang
akan dipakai oleh setiap personil konsultan dalam meiaksanakan pengawasan
nantinya.
Format-format tersebut dibuat berdasarkan pengalaman konsultan atas
pekerjaan-pekerjaan sejenis sehingga sudah teruji kegunaannya. Kemungkinan
nantinya akan dilakukan beberapa penyesuaian dalam format-format tersebut
sehubungan dengan persyaratan dalam Spesifikasi Teknis.
Daftar format-format pengawasan pekerjaan dan sebagian contoh format dapat
dilihat pada Lampiran Bab 5.

5.5.6. Memeriksa Gambar - Gambar Kontraktor


Sesuai dengan tahapan pekerjaan, Kontraktor harus menyerahkan antara lain :
1. Construction drawing, berdasarkan gambar-gambar detail desain yang
telah ada dalam dokumen lelang serta hasil detail desain atas beberapa
bagjan pekerjaan seperti saluran pengelak, bendungan, irrigation outlet dan
bagian pekerjaan lain.
2. Shop drawing, sebagai pengembangan construction drawing yang telah
disesuaikan dengan kondisi lokasi pekerjaan dan menggambarkan secara
detail bagian-bagian pekerjaan seperti steel bar bending, dll.
3. Fabrication drawing, terutama untuk peralatan-pertatan yang harus
difabrikasi di pabrik untuk selanjutnya dibawa dan dipasang dilokasi
pekerjaan.
4. As built drawing, yang merupakan gambar terpasang atas semua
pekerjaan yang telah dilakukan oleh kontraktor.
5. Gambar-gambar lain yang dipertukan untuk menjelaskan misalnya metode
kerja yang diusulkan, perubahan-perubahan yang harus dilakukan akibat
kondisi lapangan dan lain-lain.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 20
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Konsultan akan memeriksa keakuratan, kelengkapan, kejelasan atas semua


gambar-gambar yang diserahkan oleh Kontraktor. Penyerahan gambar, komentar
koreksi dari konsultan, persetujuan dan penyimpanan gambar-gambar dalam
suatu sistem arsip akan sesuai dengan prosedur alur pemeriksaan gambar-
gambar seperti telah diuraikan dalam subbab sebelumnya.

5.5.7. Pengendalian Mutu


Seperti umumnya proyek konstruksi maka sasaran yang hendak dicapai dalam
pengawasan pembangunan Bendungan Teritip ini adalah tercapainya sasaran
biaya, mutu, dan waktu dengan pengendalian atau meminimalkan dampak
lingkungan yang merugikan.
Untuk mencapai sasaran tersebut, perlu dibuat suatu prosedur dan tata cara
pelaksanaan pekerjaan dan adanya pemahaman bersama atas lingkup pekerjaan,
prosedur, tata cara, kondisi kondisi dalam kontrak, dan semua aspek yang dapat
berpengaruh terhadap pencapaian sasaran proyek tersebut. Untuk itu dalam
tahap awal harus dilaksanakan Pre-Construction Meeting (PCM) yang bertujuan
terjadinya pemahaman yang sama atas semua aspek diatas.
Salah satu aspek yang akan dibahas dalam PCM adalah pengendalian mutu yang
akan diterapkan. Semua prosedur, tata cara, format-format pengawasan yang
telah dijelaskan dalam subbab diatas adalah sebagian cara Konsultan dalam
pengendalian mutu pekerjaan. Sistem pengendalian mutu yang akan diterapkan
oleh konsultan sesungguhnya mengarah kepada quality assurance yang sangat
memperhatikan dan pengendalian pada aspek proses kerja. Dengan sistem ini
suatu pekerjaan dikendalikan berdasarkan proses kerja yang harus dilalui seperti :
1. Pengendalian terhadap material dasar,
2. Pengendalian terhadap pencampuran berbagai material dasar (mix design)
3. Pengendalian terhadap produksi bahan kerja seperti beton, material
timbunan dan lain-lain,
4. Pengendalian terhadap pekerjaan-pekerjaan persiapan yang diperlukan
seperti pembuatan acuan kerja, form work, dan lain-lain,
5. Pengendalian selama proses pekerjaan itu sendiri seperti pekerjaan
pengecoran, pemadatan, dan tain-lain,

ENGINEERING CONSULTANT
E - 21
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Untuk memenuhi itu semua, pengawasan mutu ini dapat terdiri dari beberapa
urutan pekerjaan, antara lain :
Kontraktor harus mengajukan perrnintaan (request) untuk mulai sesuatu
pekerjaan. Pekerjaan tidak dapat dimulai sebelum persetujuan diberikan
oleh Konsultan. Dalam pengajuan tersebut Kontraktor harus menjelaskan
lokasi pekerjaan, jenis pekerjaan, peralatan yang digunakan, pekerjaan
yang diperlukan dan perkiraan selesai suatu tahap serta perkiraan volume
pekerjaan.
Pengajuan untuk memeriksa pemasangan profil atau patok. Pekerjaan
tidak dapat dimulai sebelum pemasangan profit atau patok mendapat
persetujuan dari Konsultan.
Pengajuan persetujuan terhadap campuran bahan. Sebelum melakukan
pekerjaan yang memeriukan campuran bahan, maka Kontraktor harus
mengajukan permintaan persetujuan atas campuran yang diinginkan,
dalam bentuk pemeriksaan visual maupun pemeriksaan laboratorium.
Pengajuan terhadap hasil pemadatan
Setiap suatu lapisan yang telah dipadatkan Kontraktor harus mengajukan
persetujuan terhadap kepadatan yang telah dilakukan tersebut.
Setiap hari Kontraktor bersama-sama dengan Konsultan membuat laporan
mengenai kegiatan yang dilakukan termasuk pencatatan terhadap
kemajuan dan kejadian-kejadian penting fainnya.
Konsultan menyelesaikan pemeriksaan pengujian yang dilakukan oleh
Kontraktor dan uji coba material untuk memastikan kesesuaian dengan
spesifikasi yang ada dalam dokumen kontrak. Konsultan akan meninjau
ulang pengujian-pengujian yang ada dalam spesifikasi dan prosedur test
yang diajukan oleh Kontraktor dan merekomendasikan untuk perubahan
jika perlu

Pada dasamya Kontraktor adalah pelaku utama dalam proyek konstruksi seperti
pembangunan Bendungan Teritip ini. Untuk itu pencapaian mutu akan sangat
tergantung pada sistem pengendalian mutu pada kontraktor itu sendiri. Konsultan
akan memastikan bahwa kontraktor mempunyai clan melaksanakan sistem
kendali mutu mereka selama pelaksanaan pekerjaan.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 22
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

5.5.8. Pengendalian Kemajuan Pekerjaan


Sarana utama dalam pengendalian kemajuan pekerjaan adalah Jadwal
Pelaksanaan yang telah dibuat dengan sistem Critical Path Method, dan jadwal
pelaksanaan dalam bentuk bar chart yang dibuat berdasarkan CPM tersebut.
Secara kontinyu konsultan akan memeriksa kemajuan pekerjaan terhadap waktu
dan membandingkannya dengan rencana dalam jadwai pelaksanaan. Setiap
penyimpangan terutama tidak tercapainya target kemajuan pekerjaan harus diteliti
penyebabnya dan dicari pemecahannya. Keterlambatan pekerjaan harus
dikendalikan dan diambil langkah penanggulangannya karena suatu
keterlambatan pada suatu bagian pekerjaan dapat bersifat progresif dan
berkembang lebih buruk, terlebih banyaknya jenis pekerjaan pada pekerjaan
Bendungan Teritip ini yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca.
Sesuai prioritasnya, pengendalian terhadap pekerjaan-pekerjaan yang berada
dalam jalur kritis akan menjadi perhatian utama karena keterlambatan pada
pekerjaan tersebut akan berdampak langsung terhadap penyelesaian proyek
secara keseluruhan apabila tidak dilakukan langkah-langkah penanggulangannya.
Meskipun demikian pekerjaan-pekerjaan yang berada pada jalur non kritis tidak
boleh diabaikan karena bila keterlambatan pekerjaan pada jalur non kritis juga
dapat berubah menjadi kritis apabila dibiarkan tidak terkendali.
Dalam membantu pihak Pemberi Tugas mengendalikan kemajuan pekerjaan,
Konsultan akan selalu bekerja proaktif, mengantisipasi segala potensi
permasalahan yang dapat mengakibatkan terjadinya keterlambatan. Apabila
berdasarkan analisa konsultan telah timbul potensi permasalahan makakonsultan
akan segera memberitahu pihak kontraktor dan bila perlu akan dibahas dalam
rapat yang dihadiri oleh semua pihak.
Apabila telah terjadi keterlambatan, konsultan akan member! rekomendasi kepada
Pemberi Tugas (Engineer) langkah-langkah yang harus diambil untuk segera
mengejar keterlambatan tersebut. Selanjutnya akan diberi instruksi tertulis kepada
kontraktor untuk mengatasinya antara lain dengan menambah jam kerja, tenaga
kerja, peralatan, atau meningkatkan metode kerja.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 23
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

5.5.9. Pengendalian Biaya Konstruksi


Kontrol atas semua biaya (cost control) dengan melakukan penghitungan
(measurement) dan pembayaran atas dokumen pembayaran yang diajukan oleh
Kontraktor merupakan suatu proses yang sangat penting sepanjang pelaksanaan
proyek ini.
Cost Control mempunyai dua aspek yaitu (1) untuk mengontrol prosedur
pembayaran dan menjaga akurasi dan kelancaran pembayaran kepada
Kontraktor dan (2) menjamin biaya terjaga tetap minimal sehingga proyek dapat
diselesaikan dengan cara ekonomis.
Untuk melaksanakan cost control tersebut Konsultan akan membantu Pemberi
Tugas dalam hal Survey hasil pekerjaan, Financial status dan Cost Control,
Kontrol Kuantitas dan Penghitungan Pembayaran, dan persiapan serfifikat
pembayaran.
1. Survey hasil pekerjaan
Konsultan akan melakukan survey dan verifikasi atas hasil pekerjaan
Kontraktoryang sesuai dengan gambar desain dan spesifikasi teknis yang
disyaratkan.
2. Financial status dan Cost Control
Konsultan secara berkala akan memberikan rekomendasi sehubungan
dengan kemungkinan dalam pengurangan pembiayaan (expenditure) baik
terhadap Pemberi Tugas maupun kepada pihak Kontraktor.
Secara berkala Konsultan akan melaporkan financial status dari proyek,
perkiraan kebutuhan pembayaran mendatang, dan menjaga up to date atas
payment account terhadap Kontraktor.
3. Kontrol Kuantitas dan Penghitungan Pembayaran
Secara berkala Konsultan akan melakukan check atas kuantitas pekerjaan
yang telah dilaksanakan oleh Kontraktor dan membuat ringkasan (summary)
secara mingguan. Checking kuantitas yang dilakukan secara berkala ini akan
sangat membantu dalam proses perhitungan untuk pembayaran kemajuan
pekerjaan.
4. Persiapan Sertifikat Pembayaran
Konsultan akan mempersiapkan sertifikat pembayaran berkala sesuai dengan
perjanjian kontrak antara Pemberi Tugas dan Kontraktor, dengan

ENGINEERING CONSULTANT
E - 24
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

memperhatikan total kemajuan pekerjaan pada periode tertentu,


pengembalian uang muka, potongan sehubungan dengan denda (bila ada),
retensi, dan lain-lain.

5.5.10. Kontrol Keselamatan Kerja


Keselamatan dianggap sesuatu yang utama pada semua jenis pekerjaan
konstruksi terutama untuk pekerjaan Bendungan Teritip ini. Konsultan akan
mengharuskan Kontraktor untuk mengambil semua tindakan yang mungkin untuk
mencegah terjadinya kecelakaan kerja maupun kejahatan-kejahatan terhadap
areal pekerjaan, peralatan dan material, dan seluruh pekerja.

Kendali keselamatan pada masa konstruksi terdiri dari beberapa unsur kegiatan
sebagai berikut:
Organisasi Pengendalian Keselamatan (Safety Comitte)
Rapat Organisasi Pengendalian Keselamatan
Program Pengendalian Keselamatan

1. Organisasi Pengendalian Keselamatan


Kontraktor diwajibkan membentuk Organisasi Pengendalian Keselamatan
yangterdiri dari unsur Otoritas Keamanan, Pemilik Proyek, Konsultan dan
Kontraktor.Kontraktor juga harus menugaskan pelaksana senior mereka sebagai
petugaspengendali keselamatan. Pelaksana senior tersebut bertanggung jawab
terhadap
Kontraktor akan menyampaikan bagan organisasi pengendalian keselamatan dan
merinci program keselamatan kerja kepada pihak pemilik proyek untuk dievaluasi.

2. Rapat Organisasi Pengendalian Keselamatan


Segera setelah pembentukan organisasi pengendalian keselamatan, Konsultan
akan melaksanakan rapat organisasi yang dihadiri semua unsur terkait diatas.
Didalam rapat tersebut diuraikan kondisi/infonmasi yang ada dilingkungan
pekerjaan, sistem transportasi pelaksanaan pekerjaan, prinsip pokok metode
pelaksanaan pekerjaan Kontraktor dan keselamatan. Pengendali Keselamatan

ENGINEERING CONSULTANT
E - 25
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

dari pihak Kontraktor wajib menyampaikan ketersediaan perangkat yang


menunjang program keselamatan sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia.

3. Program Pengendalian Keselamatan


Program Pengendalian Keselamatan akan ditinjau oleh Konsultan.
Programpengendalian keselamatan akan meliputi tetapi tidak terbatas pada :
Sarana transportasi menuju jalan umum
Pengendalian lalulintas di lokasi pekerjaan
Stabilitas alam dan lereng hasil galian
Pekerjaan konstruksi ditempat yang tinggi
Pekerjaan konstruksi di/dalam air
Pekerjaan Pengelasan
Pekerjaan Galian dengan Peledakan
Lampu kerja di malam hari
Pengendalian untuk meminimalkan dampak lingkungan sepanjang masa
pekerjaan konstruksi merupakan tujuan utama.

5.5.11. Administrasi Kontrak


A. Pemahaman Dokumen Kontrak Konstruksi
Konsuttan akan segera mempelajari dan mendalami semua dokumen
kontrakkonstruksi untuk dapat melakukan administrasi kontrak untuk kelancaran
danketertiban administrasi proyek. Tujuan mempelajari semua dokumen
tersebutadalah untuk mendapatkan gambaran atas prosedur, aspek hukum dan
jaminan-jaminan, aspek pembayaran dan masalah administrasi kontrak lainnya.
Halpenting yang juga akan dipelajari adalah kemungkinan adanya kontradiksi
antarapasal pasal dalam suatu dokumen dengan dokumen lainnya. Dalam hai ini
hirarkiokumen kontrak akan menjadi patokan dalam menentukan pasal mana
yangberiaku. Sesuai FIDIC 1987 maka hirarki dokumen yang beriaku adalah :
1. Surat Perjanjian (Contract Agreement)
2. Surat Penunjukan Pemenang (Letter of Acceptance)
3. Dokumen Tender (Tender Document)
4. Syarat Khusus Kontrak (Condition of Particular Application)

ENGINEERING CONSULTANT
E - 26
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

5. Syarat Umum Kontrak (General Condition of Contract)


6. Dokumen lain yang menjadi bagian dan kontrak
Pemahaman atas dokumen kontrak dan mempelajari kemungkinan adanya
kontradiksi antar pasal dalam dokumen-dokumen tersebut adalah sangat penting
karena ketidak sesuaian tersebut dapat menjadi sumber perselisihan (disputes)
nantinya. Konsultan akan segera menginformasikan pihak Pemberi Tugas apabila
mengetahui adanya ketidak sesuaian tersebut, berikut rekomendasipemecahan
masalahnya. Apabila ketidak sesuaian itu dapat mengakibatkan kerugian /
ketidak-adilan pada salah satu pihak, Konsultan akan merekomendasikan
pemecahan yang adil untuk mencegah terjadinya perselisihan nantinya.

B. Surat-surat Jaminan dan Asuransi


Sesuai kontrak, Kontraktor harus menyerahkan surat-surat jaminan antara lain :
1. Surat Jaminan Pelaksanaan
2. Surat Jaminan Uang Muka
3. Surat Jaminan Pemeliharaan
4. Asuransi Pekerjaan, Peralatan, Tenaga Kerja, Pihak Ketiga.
5. Jaminan dan/atau Asuransi lain yang disyaratkan

Konsultan akan memeriksa kelengkapan, keakuratan, kebenaran isi, dan


ketepatan tanggal dalam setiap surat-surat jaminan yang harus diserahkan oleh
Kontraktor sesuai yang dipersyaratkan dalam Kontrak, dan memberi rekomendasi
kepada Pemberi Tugas atas segala hal yang berkaitan dengan surat-surat
tersebut.

C. Perubahan Kontrak
Konsultan akan memproses semua perubahan atas bentuk, kualitas atau
kuantitas, jenis pekerjaan yang dibutuhkan selama periode kontrak konstruksi
Pembangunan Bendungan Teritip.
Sesuai dengan kebutuhan pekerjaan, perubahan-perubahan ini dapat meliputi:
1. Penambahan atau pengurangan kuantitas pekerjaan didalam Kontrak
2. Penghapusan suatu jenis pekerjaan
3. Perubahan karakteristik atau kualitas suatu jenis pekerjaan

ENGINEERING CONSULTANT
E - 27
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

4. Perubahan atas elevasi, jalur, posisi dan dimensi dari suatu


bagianpekerjaan
5. Penambahan suatu pekerjaan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
proyek
6. Perubahan atas urutan kerja atau waktu pelaksanaan suatu
bagianpekerjaan

Sebagaimana dengan pengalaman konsultan dalam pelaksanaan kegiatan


supervisi konstruksi, hasil pekerjaan DED dapat mengakibatkan terjadinya
Contract Change Order dan atau Variation Order. Untuk itu konsultan akan terus
berkoordinasi dengan Pemberi Tugas atas langkah yang akan diambil seperti
optimasi desain sesuai anggaran biaya yang ada, pembuatan perubahan kontrak
yang dibutuhkan, dan lain-lain.

D. Klaim dan Perselisihan


Konsultan berpendapat bahwa klaim dan perselisihan dapat ditekan seminimal
mungkin atau bila mungkin dihindari sama sekali, bila terdapat koordinasi yang
harmonis antara Pemberi Tugas, Kontraktor, dan Konsultan sepanjang
pelaksanaan kontrak. Pemahaman atas semua dokumen kontrak konstruksi
seperti diuraikan dalam bagian A diatas, juga sangat bermanfaat untuk
mengantisipasi dan mencegah terjadinya klaim dan perselisihan.
Meskipun demikian, apabila terjadi klaim dan perselisihan maka Konsultan akan
membantu dalam penyelesaian perselisihan dan memberi rekomendasi
pemecahannya.
Secara garis besar Konsultan akan membantu penyelesaian klaim dan
perselisihan dengan cara sebagai berikut:
1) Review Klaim dan Data Pendukung
Jika Kontraktor mengajukan klaim maka Konsultan akan melakukan evaluasi dan
mengikuti semua prosedur yang ditetapkan dalam Syarat Khusus
Kontrak(Condition of Particular Application) dan Syarat Umum Kontrak
(GeneralCondition of Contract) . Evaluasi akan dilakukan dengan mempelajari
denganteliti atas isi klaim dan data pendukungnya.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 28
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Konsultan akan mempelajari kebenaran dan klaim Kontraktor tersebut,


danbilamana perlu akan meminta Kontraktor untuk melengkapi data-data
pendukungyang dibutuhkan. Data yang dapat menjadi referensi dalam klaim
adalah dataresmi proyek antara lain korespondensi, records, laporan, hasil
test/laboratorium,data survey, berita acara, jadwal, laporan resmi cuaca, sertifikat
pembayaran,photo-photo, dan dokumen lain yang merupakan dokumen resmi
dalam proyek
2) Laporan Evaluasi
Berdasarkan semua data yang ada, Konsultan akan membantu Pemberi
Tugasdalam mengevaluasi secara menyeluruh atas klaim tersebut
berdasarkanketentuan yang berlaku dalam syarat khusus dan umum kontrak dan
memeriksakebenaran dan ketepatan data-data pendukung. Berdasarkan evaluasi
tersebutKonsultan akan member! rekomendasi keputusan (determination) atas
klaimtersebut.
Selanjutnya Konsultan akan membantu dalam penyusunan laporan lengkap
atasklaim meliputi temuan fakta (fact findings) yang didapat, data
pendukung,konsekwensi biaya dan/atau jadwal, dan rekomendasi
penyelesaiannya.
3) Penyelesaian Klaim
Setelah Pemberi Tugas menetapkan keputusan untuk menerima/menerima
sebagian/menolak klaim yang diajukan Kontraktor, maka Konsultan akan
membantu dalam melengkapi semua data yang mendasari keputusan tersebut.
4) Penyelesaian Perselisihan
Jika terjadi perselisihan, maka Konsultan akan membantu penyelesaian
perselisihan dengan mengacu pada panduan yang telah disepakati dalam Syarat
Khusus dan/atau Syarat Umum Kontrak.
Penyelesaian secara musyawarah menjadi cara pertama dalam menyelesaikan
perselisihan. Apabila tidak dicapai kesepakatan maka tahapan selanjutnya seperti
arbitrase menjadi sarana penyelesaian perselisihan yang terjadi.
Selama terjadi proses klaim dan perselisihan, Kontraktor wajib tetap
melaksanakan pekerjaan kecuali kontrak sudah dinyatakan berhenti (terminate).

ENGINEERING CONSULTANT
E - 29
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

5.5.12. Panel Ahli Bendungan


Pemberi Tugas sebagai pemilik bendungan dapat menunjuk Panel Ahli Bebas
atas prakarsa sendiri atau atas permintaan Komisi Keamanan Bendungan untuk
kegiatan keamanan bendungan. Panel Ahli Bebas dapat ditunjuk pada
tahapdesain/review desain, pelaksanaan konstruksi, pengisian waduk pertama,
serta operasi dan pemeliharaan.
Panel Ahli Bebas berfungsi memberikan pertimbangan teknis yang mendalamdan
profesional mengenai keamanan bendungan terutama yang berhubungandengan:
1. Penerapan teknologi
2. Kriteria perencanaan, standar dan kelayakan teknis
3. Permasalahan teknis yang komplek
4. Klasifikasi bahaya bendungan
5. Metoda pelaksanaan konstaiksi
6. Pengamatan dan pemantauan keamanan bendungan
7. Pengoperasian dan pemeliharaan

Sesuai dengan tahapan pekerjaan, panel ini dapat dilaksanakan beberapa kalidan
terdiri dari ahli bendungan yang sesuai dengan permasalahan yang
hendakdidiskusikan. Panel dapat berupa para ahli Nasional dan Intemasional.

Dengan diundangnya Panel Ahli Bendungan, maka Panel Ahli Bendungan akan
memberikan masukan yang dapat merupakan laporan tertulis berisikan saran
teknis atau bisa berbentuk diadakannya workshop apabila dipandang pertu oleh
Pemilik Proyek.

Untuk hal-hal yang bersifat regular dan umum, maka pengadaan Panel Ahli
Bendungan adaiah sebatas masukan teknis terhadap kondisi teknis di lapangan.
Sedangkan untuk masalah teknis yang tidak umum dan sangat jarang dilakukan
pada konstruksi proyek sejenis di Indonesia, maka diadakannya Workshop akan
menjadi suatu masukan yang penting bagi banyak pihak, mulai dari ketiga belah
pihak yang terlibat pada konstruksi pembanguan bendungan Teritip, maupun
pihak-pihak lain yang ingin mendapatan informasi baru mengenai suatu jenis
konstruksi atau metode konstuksi .

ENGINEERING CONSULTANT
E - 30
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

5.5.13. Dokumen Operasi dan Pemeliharaan

Dokumen Operasi dan Pemeliharaan (OP) merupakan salah satu dokumen yang
sangat penting, karena dalam dokumen ini akan menjadi manual dan petunjuk/
guidance bagi pelaksana setelah Bendungan Teritip ini beroperasi.

Dalam dokumen OP ini tidak saja menjelaskan tentang bagaimana


mengoperasikan suatu perangkat yang harus dioperasikan tetapi juga
menjelaskan wadah/ lembaga/ unit siapa yang mengoperasikan, siapa yang
bertanggungjawab serta kepada siapa hasil operasi tersebut digunakan. Sehingga
selain petugas operasional juga calon pengguna air dari pengoperasian ini juga
dijelaskan dalam dokumen OP ini. Bahkan sampai biaya-biaya yang diperlukan
dalam operasi dan pemeliharaan ini item-item yang diperlukan dalam perhitungan
biaya.

Pada dasarnya dokumen OP ini dilandasi pada alokasi pemanfaatan air waduk,
baik itu untuk pengendali banjir, pemeliharaan sungai, air baku, dan lain-lain.
Operasi ini menjadi penting karena harus melayani berbagai kepentingan
pengguna air tersebut di atas, dan untuk kelangsungan pelayanan ini hingga
bermanfaat secara optimal dan menerus (continue) tetap terjaga.

Secara umum tujuan dari dibuatnya Dokumen OP ini adalah memanfaatkan air
secara optimal dengan cara mengalokasikan secara proposional sedemikian
sehingga tidak terjadi konflik antar kepentingan dan pengendali banjir di musim
hujan.

Pola operasi waduk biasanya terdiri dari 2 (dua) pola yartu pola pengisian dan
pola pengoperasian, yang biasanya di dasarkan pada musim hujan dan musim
kemarau. Sehingga pengoperasiannya harus selalu berfungsi baik di kedua
musim di atas.

Dalam hal- hal terdapat kerusakan dan kurang berfungsinya suatu perangkat yang
dioperasikan, maka dalam dokumen ini akan menjelaskan segala yang diperlukan
dalam perbaikan, rehabilitasi, rekondisi, bahkan kemungkinan konservasi
lingkungan.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 31
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Dalam dokumen OP ini juga, akan menjelaskan bila terjadi kegagalan operasi
akibat suatu masalah, maka apa saja resiko-resikonya, sehingga bila diperlukan
antisipasi, maka persiapannya akan lebih cepat dan lebih baik, termasuk
tindakan-tindakan daruratnya.

Pemeliharaan waduk dan kelengkapan bangunan lainnya, akan menjadi sangat


penting untuk kelangsungan operasi dan pemanfaat air waduk ini, oleh karena itu
baik operasi maupun usaha pemeliharaannya harus dilakukan dengan
dokumentasi dan tercatat (record) dan harus selalu dilaporkan.

5.5.14. Sertifikasi Pengisian Waduk

Setelah Konsultan yang menangani desain dan/atau pelaksanaan telah


menyatakan bahwa pelaksanaan pembangunan bendungan/waduk telah
memenuhi syarat untuk pengisian, maka pemilik bendungan diwajibkan
mengajukan permohonan persetujuan pengisian waduk kepada Komisi dengan
tembusan kepada Balai disertai dokumen dokumen yang wajib disediakan.

Pengisian waduk tidak boleh dilaksanakan sebelum ada inspeksi dari Balai dan
Komisi yang akan memberikan rekomendasi kepada Menteri untuk menerbitkan
sertifikat persetujuan pengisian waduk.

Persiapan pengisian pertama waduk meliputi perencanaan, pelaksanaan,


pemantauan, pengawasan dan pengendalian yang mencakup kegiatan inspeksi
selesainya semua bangunan dibawah rencana muka air, pembersihan lahan
genangan termasuk pemusnahan limbah, pemindahan penduduk, penyelamatan
benda sejarah dan pemindahan satwa (angka dari daerah genangan).

Persyaratan pengisian pertama waduk harus sesuai dengan persyaratan teknis


dan ketentuan pelaksanaan yang disetujui oleh Menteri Pekerjaan Umum, dan
selama pengisian Pemilik wajib melakukan evaluasi perilaku bendungan.

Adapun dokumen-dokumen yang wajib disiapkan dalam pengajuan persetujuan


pengisian pertama tersebut adalah (rangkap tiga):

ENGINEERING CONSULTANT
E - 32
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

1. Laporan Geologi Teknik rinci, mencakup bore log serta hasil explorasi
lainnya dan peta Geoteknik Tapak Bendungan dari investigasi galian
(pondasi) dan investigasi tambahan (kalau ada) serta laporan lengkap
mengenai perbaikan pondasi.

2. Laporan pekerjaan Vertical Drain, metode dan pola yang digunakan serta
peta sebelum dan sesudah pelaksanaan.

3. Laporan perubahan desain (kalau ada) disertai alasan pendukung dan


perhitungannya.

4. Laporan pengendalian mutu pekerjaan (quality control) dan pelaksanaan


konstruksi berikut kendala dan cara mengatasinya.

5. Hasil Pemeriksaan peralatan hidromekanik di pabrik maupun di lapangan


serta hasil uji kering dan basah (harus ada).

6. Laporan Penyelesaian Proyek (Project Completion Report). Bila butir 1


sampai dengan 5 sudah tercakup dalam laporan ini, maka laporan secara
terpisah tidak dipersatukan lagi.

7. Surveillance Programme (Program Pengamatan / Pemantauan) Laporan


pembacaan instrumentasi selama pelaksanaan konstruksi serta anaiisanya.

8. Reservoir Operation Rule - Rencana Tindak Darurat (RTD) termasuk


system peringatan banjir (flood warning system) dan laporan sosialisasinya.

9. Rencana kegiatan pengisian awal waduk, termasuk petugas-petugas yang


teriibat dan tanggung jawab masing-masing.

10. Buku Pedoman Operasi dan Pemeliharaan (O & P) Bendungan secara


menyeluruh dan Petunjuk Khusus Operasi dan Pemeliharaan peralatan
hidromekanik.

11. Organisasi pelaksana O & P lengkap dengan :

a. Bagan organisasi

b. Uraian tugas beserta kualifikasi personilnya.

12. Laporan pelatihan petugas O & P untuk kondisi Opeasi Normal dan Operasi
Darurat

ENGINEERING CONSULTANT
E - 33
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

13. Uraian ringkas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan


konstruksi mencakup table/matriks perbandingan kondisi/parameter
desaindengan hasil pelaksanaan di lapangan serta mencakup uraian dan
butir-butir serta tercantum pada Daftar Simak.

14. Gambar Desain, ukuran A1 dan A3.

15. Gambar Konstruksi, ukuran A1 dan A3.

16. Gambar PurnaKonstruksi (as built drawing), ukuran A1 dan A3.

17. Data teknis bendungan sesuai format baku yang telah dimuktahirkan

18. Fotofoto saat konstruksi dan setelah selesai dibangun.

Konsultan akan membantu Pemberi Tugas dalam semua aspek yang ada dalam
proses sertifikasi pengisian awal waduk. Konsultan akan merekomendasikan
jadwal yang tepat untuk memulai pekerjaan Analisa Keruntuhan Bendungan (Dam
Break Analysis) yang kemungkinan akan dilakukan oleh konsultan lain yang.
Berdasarkan analisa keruntuhan ini akan disusun Rencana Tindak Darurat yang
juga merupakan salah satu persyaratan yang harus dilengkapi dalam pengajuan
ijin pengisian awal waduk.

Apabila pekerjaan yang diperlukan dalam rangka memenuhi semua persyaratan


dalam proses pengisian awal waduk ini merupakan pekerjaan yang harus di
subkontrakkan, maka konsultan akan membantu Pemberi Tugas dalam
menyiapkan data-data selama pelaksanaan fisik sebagai persyaratan untuk
keperluan sertifikasi inponding.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 34
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

TABEL 5.2 : DAFTAR SIMAK

D = Kajian Desain Bendungan


K = Kajian Pelaksanaan konstruksi bendungan untuk persetujuan pengisian awal waduk
O = Kajian Pelaksanaan Pengisian untuk persetujuan Operasi dan pemeliharaan
bendungan/waduk
H = Peng-Hapus-an bendungan
X = Perlu kajian
POKOK - POKOK KAJIAN D K 0 H
1.GEOLOGI TEKNIK
1 .1 Metode dan Cakupan Survai dan Investigasi X
1.2 Peta Geologi Teknik; Stratigrafi, Struktur Geologi X X
1.3 Hidrogeoiogi X X X X
1 .4 Galian Fondasi dan Perbaikan Fondasi X X
1.5 Masalah X X X X

2 DESAIN HIDROLOGI
2.1 Metoda dan kriteria desain X X
2.2 Karakteristik hidrologi, pola banjir, kondisi limpasan (Run X X X X
2.3 off) dan atau angkutan sedimen layang
2.4 Hambatan operasi X
2.5 Keadaan muka air bun (tail race) X X
2.6 Hambatan aliran banjir di hilir bendungan X X
2.7 Manajemen sungai dan DPS X X X

3 DESAIN BANGUNAN DAN SIFAT BANGUNAN


3.1 Metoda dan kriteria desain X X X X
3.2 Kondisi pembebanan dan faktor keamanan X X X X
3.3 Stabilitasfondasi X X X X
3.4 Deformasi bangunan X X X X
3.5 Kemerosotan mutu X X X
3.6 Rembesan dan gaya angkat X X X
3.7 Respon akth/itas seismak X X X
3.8 Peralatan hkjromekanikal X X

4 INSTRUMENTASI
4.1 Sistem observasi hidrologi X X X
4.2 Pemantauan bendungan >: X X X
4.3 Pemantauan seismak X X X
4.4 Pemantauan perilaku tumpuan (abutment) X X X

ENGINEERING CONSULTANT
E - 35
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

4.5 Pemantauan sedimentasi X X


4.6 Pemantauan kolam olak pelimpah (stiling basin) X X

5 OPERASI WADUK
5.1 Debit banjir dan operasi pelimpah X X
5.2 Stabilitas tebing waduk X X
5.3 Aspek lingkungan X X X X
5.4 Peringatan banjir X X X
D = Kajian Desain Bendungan
K = Kajian Pelaksanaan konstruksi bendungan untuk persetujuan pengisian awal waduk
O = Kajian Pelaksanaan Pengisian untuk persetujuan Operasi dan pemeliharaan
bendungan/waduk
X = Perlu kajian
POKOK - POKOK KAJIAN D K 0 H
6 INSPEKSI
6.1 Inspekstur dan inspeksi X X X X
6.2 Jadual inspeksi dan pokok inspeksi X X X
6.3 Metode inspeksi dan kegiatan rutin X X X X
6.4 Pemrosesan dan evaluasi X X
6.5 Alur data, laporan dan pelaporan X X
6.6 Prosedur dan proses Pembuatan Keputusan X X

7 DOKUMEN DAN ARSIP


7.1 Catalan dan pengarsipan X X X
7.2 Ketersediaan dan aksesibilitas data X X X X

8 PROSEDUR DAN RENCANA TINDAK DARURAT (RTD)


8.1 Kelas Bahaya Bendungan X
8.2 Rencana Tindak Darurat X X X
8.3 Sistem Peringatan Darurat X X X
8.4 Sistem Komunikasi Darurat X X
8.5 Proses dan Prosedur Keputusan Darurat X X
8.6 Pelatihan Operasi Darurat X X

9 ASPEK KHUSUS BERKAITAN DENGAN SUNGAI


PERBATASAN
9.1 Keamanan bendungan X X
9.2 Pengendalian banjir dan debit pengeluaran X X X
9.3 Kerjasama operasi dan pengelotaan DPS X X X
9.4 Peringatan Darurat X X X

10 KLASIFIKASI TINGKAT BAHAYA BENDUNGAN


10.1 Kriteria Klasifikasi X X
1 0.2 Fleksibiiitas dan perubahan klasifikasi X

11 MUSIBAH, KECELAKAAN DAN KEJADIAN LUAR BIASA

ENGINEERING CONSULTANT
E - 36
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

11.1 Investigasi dan evaluasi X X


1 1 .2 Perbaikan - perbaikan X
1 1 .3 Pencegahan terulangnya kecelakaan X X X

12 PEMBIAYAAN
12.1 Perkiraan biaya X
12.2 Pendanaan X X

5.5.15. Serah Terima Pertama

Apabila seluruh pekerjaan atau seluruh pekerjaan utama sebagaimana diatur


dalam kontrak, telah selesai maka kontraktor dapat mengajukan permohonan
untuk serah terima pertama pekerjaan.

Untuk dapat dilakukan serah terima pertama maka Kontraktor mempunyai


kewajiban untuk melakukan Uji Akhir (Test on completion) sebagaimana diatur
dalam Syarat Umum Kontrak (General Condition). Konsultan akan membantu
Pemilik Proyek untuk melakukan pemeriksaan dan persetujuan prosedur
pengujian awal (start-up andcommissioning test) yang dilakukan oleh Kontraktor
atas perintah Pemilik Proyek, dan akan mengkoordinasikan dan mengawasi
semua pengujian untuk memenuhi standar dan kriteria yang tercantum dalam
Dokumen Spesifikasi Teknik.

Jika pada saat pengujian, hasil uji gagal memenuhi standar pada Dokumen
Spesifikasi, maka Konsulan atas persetujuan Pemilik Proyek akan:

Melakukan pengulangan Pengujian / Test.

Menolak hasil pekerjaan, atau

Mengeluarkan Sertifikat pengambil-alihan, jika Pihak Pemilik Proyek


menghendaki, dengan memperhatikan bahwa pekerjaan dianggap tidak
lengkap, sehingga Harga Progress Kerja yang akan dibayar akan dikurangi
sebesar suatu angka yang disetujui oleh Pihak Pemilik Proyek dan
Kontraktor, dan / atau jika tidak ada kata sepakat, maka besaran angka
pengurangan akan ditetapkan seperti yang diatur dalam Syarat Umum
Kontrak.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 37
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Konsultan akan memeriksa Laporan Pengujian Comissioning yang dipersiapkan


dan dikirim oleh Kontraktor. Ketika hasil pengujian telah lengkap dan lotos semua
pengujian untuk memenuhi spesifikasi yang disyaratkan, Konsultan, dengan
persetujuan Pemilik Proyek akan menyiapkan Berita Acara Serah Terima Pertama
untuk semua pekerjaan dalam kontrak.

Dalam hal dari hasil pengujian-pengujian tersebut konsuttan berkesimpulan hasil


kerja tidak sesuai desain dan spesifikasi teknis yang berlaku maka kontraktor
wajib melakukan pekerjaan-pekerjaan perbaikan atas bagian yang tidak
memenuhi syarat tersebut sampai test-test lanjutan yang dilakukan membuktikan
bahwa semua persyaratan terpenuhi.

5.5.16. Masa Pemeliharaan

Masa pemeliharaan adalah masa yang dimulai dari saat Provisional Hand Over
(PHO) untuk seluruh pekerjaan oleh kontraktor kepada Pemberi Tugas/ Pemilik
Proyek sampai dengan dilakukannya Final hand Over (FHO).

Selama masa pemeliharaan ini kontraktor akan meiakukan penjaminan atas


semua pekerjaan yang telah diselesaikan sudah sesuai dengan semua syarat-
syarat dan spesifikasi yang ada mulai bahan/ material yang digunakan, hingga
dimensi serta tata letaknya.

Jika dalam masa pemeliharaan tni terjadi kekurangan, cacat, ketidak sesuaian
dan hal hal lain yang tidak tepat, maka kontraktor harus meiakukan perbaikan,
perubahan, pembongkaran, pemindahan atas ketidaksesuaiannya termasuk juga
bila terdapat material yang tidak memenuhi syarat, maka harus diganti.

Dalam masa pemeliharaan ini konsultan akan selalu mendampingi (assist)


pemberi tugas dalam meiakukan inspeksi semua bangunan dan peralatan-
peralatan/ perangkat yang harus bisa beroperasi dengan baik. Selain itu konsultan
akan memberi rekomendasi kepada pemberi tugas bila ada beberapa hal yang
periu dilakukan pekerjaan perbaikan dan meminta untuk segera menginstruksikan
kontraktor meiakukan pekerjaan tersebut.

Bila masa pemeliharaan telah selesai, maka kontraktor harus memenuhi


kewajibannya sesuai kontrak, untuk meiakukan inspeksi bersama-sama termasuk

ENGINEERING CONSULTANT
E - 38
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

konsultan ke lapangan, hingga mendapatkan persetujuan dari pemberi tugas yang


berupa sertifikat/ surat keterangan kesesuaian ( bebas dari kekurangan/ cacat/
ketidak sesuaian lainnya).

5.5.17. AS Built Drawing

As built drawing adalah gambar bangunan setelah dinyatakan selesai 100%


(mutual check 100%), gambar ini disiapkan oleh kontraktor dengan acuan dan
ukuran sesuai dengan hasil pemeriksaan di lapangan. Gambar yang di buat
secara detail ini harus diserahkan kontraktor kepada pemberi tugas, yang
kemudian atas prosedur harus dilakukan pemeriksaan oleh konsultan
terlebihdahulu, dan bila terdapat keraguan maka harus dilakukan pengechekan
kembali dilapangan. Dan bila memang ada ketidak sesuaian, maka kontraktor
harus memperbaikinya. As Built drawing ini tidak saja menunjukkan gambar yang
tampak tetapi juga harus menunjukkan bangunan substructure (bangunan bawah
tanah/ tertanam). As Built drawing ini harus diserahkan sebelum Provisional hand
over (PHO).

Manfaat As built drawing ini adalah bila setelah Final Hand Over (FHO) pada
bangunan tersebut memerlukan perubahan/ rehabilitasi/ renovasi, maka dengan
adanya as built drawing ini akan lebih memudahkan dalam menentukan jenis/
bentuk perubahannya dan akan sangat membantu bila disuatu saat akan ada
bangunan baru di sekitamya, maka akan lebih mudah untuk diketahui
stabilitasnya akan terganggu apa tidak. Oleh karena itu as built drawing ini harus
tersimpan dengan baik.

5.5.18. Serah Terima Terakhir

Final Hand Over (FHO) adalah serah terima pekerjaan terakhir, yang
menunjukkan bahwa tidak saja semua pekerjaan sedah selesai tetapi juga telah
dilakukan uji, percobaan operasi, evaluasi dan dinyatakan bahwa semua hasil
pekerjaan kontraktor sudah berfungsi sesuai dengan target yang direncanakan.

Untuk FHO ini kontraktor akan mengajukan pemeriksaan bangunan di lapangan


bersama-sama pemberi kontraktor dan konsultan dengan jadual dan lokasi yang

ENGINEERING CONSULTANT
E - 39
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

telah disetujui pemberi tugas. Sebelum mengajukan pemeriksaan tersebut,


kontraktor harus sudah menyelesaikan semua pekerjaan perbaikan di masa
pemeliharaan (bila ada) dan sudah dinyatakan selesai oleh pemberi tugas.

Bila dalam pemeriksaan masih ada ketidak sesuaian maka acara FHO ditunda
hingga sudah benar-benar sudah sesuai dengan rencana dan target serta
ketentuan- ketentuan yang ada.

Setelah diterimanya sertifikat FHO oleh Kontraktor dari pemberi tugas maka
segala ikatan kontraktor kepada pemberi tugas atas pekerjaan Bendungan Teritip
tersebut dinyatakan berakhir.

5.5.19. Alih Pengetahuan

Salah satu tugas pokok Konsultan adalah melaksanakan alih pengetahuan


(transfer of knowledge) kepada tenaga engineer muda Balai Wilayah Sungai
Kalimantan III, baik melalui on the job training maupun pelatihan yang
diselenggarakan khusus untuk itu.

Konsultan akan berkoordinasi dengan pihak Pemberi Tugas untuk menetapkan


materi pelatihan yang dibutuhkan dan jadwal pelaksanaannya. Tergantung materi
pelatihan yang diberikan, tenaga ahli Konsultan dapat merupakan tenaga ahli
Indonesia maupun asing, yang didatangkan sehubungan dengan keperluan
proyek nantinya.
Topik utama yang dapat menjadi bahan pelatihan dalam rangka alih pengetahuan
antara lain :
Perencanaan dengan metode networking (CPM network) ;
Quality control ;
Cost control ;
Safety control ;
Construction method dengan teknologi khusus/terbaru ;
Evaluasi claims ;
Operasi dan Pemeliharaan ;
dan lain-lain.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 40
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

5.5.20. Aspek Lingkungan


Salahsatu tingkat kesuksesan kegiatan Operasi dan pemeliharaan proyek
pembangunan Bendungan Teritip adalah memonitoring aspek lingkungan yang
meliputi kontrol terhadap banjir, penggunaan air dan kualitas air. Parameter utama
kegiatan pengawasan terhadap aspek lingkungan sebagai berikut:
Pemindahan Bangunan, Penduduk, dan Sarana Umum yang terkena
dampak pembangunan waduk.
Kumpulan data yang diperlukan untuk studi.
Polusi air saat dan sebelum adanya proyek.
Perubahan fungsi lahan pertanian.
Pengendalian Banjir.
Lingkungan sosial dan ekonomi
Persiapan program monitoring.

Pengambilan sample air dan pengujiannya, tingkat kebisingan, perubahan


vegetasi tergantung dan ketersediaan data yang ada, dimana dikerjakan oleh
pihak sub-konsultan Iingkungan.

Konsultan akan membantu pihak Pemilik Proyek dalam mengawasi pekerjaan


yang mempunyai potensi dampak Iingkungan sekrtar area pekerjaan. Konsultan
melalui tenaga ahli lingkungannya membantu mengevaluasi kegiatan yang sesuai
dengan dokumen kontrak yang dilakukan sub-konsultan (jika ada) untuk dampak
Iingkungan yang dituangkan dalam suatu laporan rutin. Selanjutnya dampak yang
terjadi dapat mempengaruhi bebarapa aspek ruang, ekonomi, dan budaya.

Dampak Iingkungan yang terjadi secara bertahap terjadi pada masa pra
konstruksi, saat konstruksi dan paska konstruksi, yang terdiri dan beberapa hat
sebagai berikut:

1. Masa Pra Konstruksi, beberapa kegiatan seperti survey awal, pembebasan


lahan, pemindahan bangunan umum, penduduk dan mobilisasi tenaga kerja
mempunyai dampak terhadap beberapa perubahan tata guna lahan,
kecemburuan sosial terhadap fasilitas irigasi dan keresahan penduduk,
kecemburuan sosial di masyarakat local, yang jika tidak diantispasi tentunya
mengakibatkan adanya hambatan-hambatan dalam memulai pekerjaan.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 41
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Aspek-aspek yang akan berubah adalah ruang, ekonomi, hidrologi, dan


budaya di sekitar lokasi pekerjaan.

2. Masa Konstruksi, pada periode ini secara umum akan memberikan dampak
terhadap Iingkungan secara nyata baik dari sisi kerugian ataupun sisi
keuntungannya. Pengerjaan fisik waduk dapat menurunkan kualitas dibagian
hilir, gangguan aliran air, gangguan aktifrtas di sungai yang akan
memberikan dampak kerugian antara lain : gangguan rantai makanan di
sungai, penurunan populasi ikan bahkan dapat menghilangkan jenis ikan
tertentu. Sedangkan dampak keuntungan pada masa ini antara lain
peningkatan kesejahteraan di desa sekitra waduk, peningkatan produktifitas
penduduk, peluang terciptanya peluang keragaman jenis usaha di
perdesaan.

3. Masa Pasca Konstruksi, periode ini memberikan suatu dampak yang tidak
hanya secara langsung merugikan tetapi secara perlahan dapat
meningkatkan pengembangan ekonomi perdesaan (multiplier effects).
Dampak secara langsung akibat PHK (pemutusan hubungan kerja)
memunculkan permasalahan produktifitas masyarakat sekitar lokasi.
Dampak lain dengan beroperasinya waduk adalah penyimpangan
penggunaan air dan lahan, disamping mempercepat pengembangan wilayah
dan peningkatan produktivitas lahan serta peningkatan kuantitas sumber
daya manusia yang berkualitas.

Tim Konsultan akan melakukan pengawasan sesuai dengan peraturan-peraturan


pemerintah yang berlaku, dan untuk memenuhi tujuan study dampak lingkungan
ini maka pihak sub-konsultan diharuskan melakukan investigasi antara lain:

Menjelaskan detail dampak lingkungan.


Mengumpulkan data yang berhubungan dengan dampak lingkungan.
Survey dan identifikasi lapangan.
Menjelaskan kondisi dampak lingkungan yang terjadi disekitar proyek.
Analisa aspek terhadap tujuan proyek.
Rangkuman laporan dampak lingkungan dan rekomendasi untuk studi
yang akan datang.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 42
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

5.6. METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN


5.6.1. Pekerjaan Persiapan
Untuk memperoleh hasil kerja yang optimal dalam pekerjaan pengawasan
pembangunan bendungan diperlukan suatu metode pelaksanaan pekerjaan yang
sistematis ditunjang kerjasama atau koordinasi yang baik dengan pihak/instansi
terkait. Untuk itu harus dilakukan kegiatan persiapan yang mencakup sub tahap
sebagai berikut :

a. Kegiatan Mobilisasi
Kegiatan mobilisasi yang dilakukan mencakup mobilisasi alat, bahan dan tenaga
konsultan yang terlibat dalam pekerjaan ini beserta demobilisasinya.

b. Kegiatan Perijinan
Konsultan pengawas bersama dengan Kontraktor harus menghubungi lebih
dahulu kepala desa atau aparat setempat lainnya yang berwenang dari wilayah
kerjanya untuk memberitahukan kehadiran dan menjelaskan semua rencana
kerjanya di daerah tersebut. Pada tahap ini ketua tim bersama dengan direksi
pekerjaan dan kepala proyek kontraktor harus hadir.

c.Pengawasan Pembuatan Kantor Direksi (Direksi Keet)


Kantor Direksi dibangun dengan ukuran minimal 120 m 2. Kantor ini harus
merupakan bangunan permanen, yang sesudah proyek ini selesai akan menjadi
milik pengguna jasa untuk dijadikan Rumah Jaga Pintu Air. Ahli Kontruksi harus
melakukan pengecekan spesifikasi teknis. Sementara itu inspector struktur
membantu Ahli Kontruksi dalam pengawasan pelaksanaan konstruksi.
Kelengkapan direksi keet adalah sebagai berikut :
- 1 (satu) set meja kursi tamu.
- 4 (empat) set meja kursi tulis
- 1 (satu) set papan tulis.
- 1 (satu) set alat tulis (buku tamu, penggaris segi tiga, kertas, buku
laporan harian dan buku catatan yang lain).
- Papan dalam jumlah secukupnya untuk menempel gambar-gambar
rencana dan foto-foto kemajuan fisik pekerjaan.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 43
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

- 1 (satu) tempat obat-obatan dengan isinya untuk pertolongan


pertama pada kecelakaan.

d. Pengawasan Pembuatan Barak Pekerja dan Gudang


Barak digunakan sebagai tempat beristirahat untuk para pekerja yang akan
melaksanakan pekerjaan tersebut. Di samping itu, harus juga dibangun gudang
yang baik bagi penyimpanan material sehingga tidak rusak karena hujan atau
cuaca. Pada tahap ini ahli konstruksi bersama dengan inspector konstruksi harus
mengawasi spesifikasi teknis konstruksi

e. Pengawasan Pembuatan Laboratorium Lapangan


Laboratorium lapangan bertujuan sebagai tempat pengujian bahan dan peralatan
konstruksi. Selain itu juga sebagai tempat penyimpanan benda uji sebelum dibawa
ke laboratorium permanen. Pada tahap ini ahli konstruksi bersama dengan
inspector konstruksi harus mengawasi spesifikasi teknis konstruksi.

f. Pengawasan Pengukuran dan Pematokan serta Mutual Check 0%


Pekerjaan pengawasan ini merupakan pekerjaan yang esensi dari tahap
persiapan. Pekerjaan ini melibatkan ahli konstruksi dan inspector pengukuran di
bawah koordinasi ketua tim.

Alat yang dipakai dalam pengukuran ini minimal adalah waterpass dan theodolite
T-0. Pengikatan dalam pengukuran ini dilakukan terhadap patok-patok tertentu
yang berfungsi sebagai titik tetap / bench mark (BM).

Selain adanya titik tetap, juga perlu titik tambahan lainnya sedemikian sehingga
jarak 2 titik tetap tidak lebih dari 1 kilometer.
Ketelitian pengukuran harus selalu dalam batas-batas keseksamaan sebagai
berikut :
Titik-titik untuk tampang melintang, boleh terletak kurang dari 2 cm
dari posisi yang ditentukan, baik dalam arah vertikal maupun horizontal.
Pengukuran titik tinggi harus diselesaikan pada sebuah titik tetap
atau dibawa kembali ke titik pertama. Kesalahan penutupan harus kurang dari
10 L mm, dimana L adalah panjang atau jarak sirkuit pengukuran dalam km

ENGINEERING CONSULTANT
E - 44
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Patok-patok yang menunjukkan tinggi akhir dari pekerjaan tanah


harus dipasang dengan tidak melewati 0,25 cm dari titik tinggi yang benar.
Garis singgung dan lengkung, perbedaannya dengan yang benar
harus kurang dari 2 cm terhadap posisi yang benar. Titik untuk bangunan
harus terletak tidak lebih dari 0,25 cm dari kedudukan yang sebenarnya,
kecuali pada pemasangan pekerjaan baja dan peralatannya memerlukan
yang lebih tinggi.

Konsultan Pengawas harus memeriksa hasil pengukuran. Hasil pengukuran uitzet


akan dipakai sebagai dasar dan kondisi awal sebelum pekerjaan utama
dilaksanakan. Oleh karena itu Kontraktor tidak diperbolehkan memulai suatu
pekerjaan saluran/bangunan sebelum posisi, ukuran-ukurannya, dan ketinggian-
ketinggiannya disetujui oleh Konsultan Pengawas .

Pematokan pada as trase saluran dalam pengukuran ini, dilakukan pada setiap
interval 50 m dan pada setiap belokan dengan menggunakan patok kayu.
Pematokan pada lokasi bangunan-bangunan air harus dilakukan dengan
menggunakan patok beton.

Pada setiap patok yang dipasang agar dicantumkan nomor urut dan elevasi hasil
pengukuran.

Jika pada waktu pengukuran/uitzet trase bangunan pelimpah dijumpai ketidak-


sesuaian antara gambar dengan keadaan lapangan, maka konsultan pengawas
harus meminta laporan pihak kontraktor.

g. Pengawasan Pemasangan Profil (Bouwplank)


Pada setiap pembuatan saluran dan bangunan, konsultan pengawas harus
mengawasi kontraktor dalam memasang bouwplankprofil dan menentunkan
elevasi serta nama bangunannya.

Pemasangan bouwplank/profil harus berdasarkan peil elevasi ketinggian dari


patok pengukuran dan konsultan pengawas harus memeriksa bowplank sebelum
dilakukan pemasangan. Bouwplank harus dibuat dari papan kayu kelas III yang
lurus dan rata. pemasangan bouwplank harus didahului dengan pengukuran yang

ENGINEERING CONSULTANT
E - 45
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

menggunakan alat ukur. Pemasangannya harus cukup kuat menghadapi kendala


di lapangan.
Konsultan pengawas harus memeriksa kebenaran dari pemasangan bouwplank.
Setelah pemeriksaan ini selesai dan hasilnya benar, barulah pekerjaan dapat
dimulai.

h.PengawasanPengendalian Air (Dewatering)


Konsultan harus mengawasi kontraktor dalam mendesain, membangun dan
merawat semua pekerjaan sementara untuk mengendaiikan air dan pengeringan
(dewatering) serta menyediakan, memasang, mengoperasikan dan merawat
peralatan pemompaan dan perlengkapan lain untuk mengalihkan air dari daerah
kerja sehingga pekerjaan bisa dilaksanakan dengan baik.

i. Pengawasan Perbaikan Jalan Masuk dan Jalan Angkut


Konsultan harus mengawasi kontraktor dalam memperbaiki dan merawat semua
jalan masuk dan jalan angkut yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan
termasuk drainase, jembatan, gorong-gorong dan sejenisnya yang berhubungan
dengannya.
Jalan-jalan masuk sementara yang perlu dibangun harus memenuhi kemiringan
dan lebarnya cukup sehingga bisa dilalui dengan leluasa oleh kendaraan proyek.
Dalam waktu tidak lebih dari 30 hari sebelum Kontraktor bermaksud mulai
membangun jalan masuk sementara atau jalan angkut sementara atau bagian dari
padanya konsultan perencana harus meminta rencana pembangunan dengan
kriteria yang mencakup :
i. Lokasi, tata letak dan lintasan jalan-jalan tersebut.
ii. Rincian desain jalan termasuk, lebar, kemiringan dan lain-lain dan
rincian dari semua drainase dan fasilitas penyeberangan yang
berkaitan.
iii. Bahan untuk membangun jalan dan dari mana asalnya.
iv. Metode kerja dan jadwal pekerjaan membangun jalan.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 46
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

5.6.2. Pembersihan, Pencongkelan dan Pengupasan (Land Clearing)

a. Pembersihan
Konsultan pengawas harus mengawasi kontraktor dalam melakukan pembersihan
terdiri atas menyingkirkan, mengangkut dan mengumpulkan di suatu tempat atau
membuang semua pohon, semak, batang kayu, seresah, bangunan, pagar dan
sebagainya. Pohon (diameter batang lebih dari 90 cm) harus dipotong tidak lebih
dari 50 cm di atas tanah. Semak dan tumbuhan lain harus dipotong tidak lebih dari
20 cm di atas tanah.

b. Pencongkelan
Konsultan pengawas harus mengawasi kontraktor dalam melakukan
pencongkelan. Pencongkelan berupa menggali, memindahkan dan mengangkut
dan membuang semua rumput, bonggol dan batang kayu yang terpendam dan
sejenisnya dari daerah yang sudah dibersihkan dan fondasi bangunan.

c. Pengupasan
Konsultan pengawas harus mengawasi kontraktor dalam melakukan pengupasan.
Pengupasan meliputi menggali, menyingkirkan dan mengangkut ke tempat
pengumpulan atau pembuangan yang ditentukan Konsultan Pengawas semua
tumbuhan, akar dan bahan organik, humus dan sejenisnya dan semua jenis tanah
penutup.

d. Penyingkiran dan Pembuangan Bahan


Konsultan pengawas harus mengawasi kontraktor dalam melakukan penyingkiran
dan pembuangan bahan. Semua bahan hasil pekerjaan pembersihan,
pendongkelan dan pengupasan yang bisa dimanfaatkan menjadi milik Pimpinan
Proyek dan harus dikumpulkan di tempat yang ditentukan Direksi.
Bahan hasil pembersihan dan sebagainya yang tidak bisa digunakan harus
langsung dibawa ke tempat pembuangan dan dibakar atau dikubur atau dibuang
dengan cara lain seperti diperintahkan atau disetujui oleh Direksi.
Pembakaran bahan hasil pembersihan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga
tidak menimbulkan kebakaran.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 47
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

5.6.3. Penggalian Buka-Potong (Open-Cut Excavation)

a. Pelaksanaan Galian
Konsultan pengawas harus mengawasi kontraktor dalam melakukan galian buka
potong. Semua galian jenis ini harus dilakukan sesuai dengan gambar yang
ditentukan dalam Syarat-syarat Teknik ini atau seperti diperintahkan oleh Direksi.
Selama pekerjaan berlangsung Konsultan Pengawas mungkin mengubah lereng.
Kemiringan atau dimensi galian karena sesuatu sebab. Kontraktor tidak akan
mendapatkan biaya tambahan akibat perubahan semacam itu. Galian lain yang
dilakukan oleh Kontraktor untuk keperluannya sendiri seperti untuk jalan masuk
atau untuk mengangkut bahan hasil galian harus mendapat persetujuan Konsultan
Pengawas dan atas biaya Kontraktor dan tidak dapat dibebankan kepada
Pimpinan Proyek. Kontraktor harus selalu berusaha agar tanah/batuan di bawah
galian berada dalam kondisi tidak terganggu. Semua penggalian yang melebihi
batas yang ditentukan oleh Konsultan Pengawas dianggap tidak sah dan tidak
dapat dibebankan kepada Pimpinan Proyek.
Kecuali apabila Konsultan Pengawas memerintahkan lain, semua galian-Iebih
harus ditimbun kembali dengan tanah, tanah dipadatkan, beton atau bahan lain
yang ditentukan oleh Konsultan Pengawas atas biaya Kontraktor. Namun
demikian apabila galian lebih terjadi akibat keadaan geologi yang tidak
menguntungkan dan bukan karena kelalaian Kontraktor, maka Kontraktor berhak
atas suatu pembayaran untuk mengisi kembali galian-Iebih tersebut.
Pembayarannya berdasarkan harga satuan yang sesuai dengan bahan yang
digunakan dan harga satuannya sudah ada dalam Kontrak.
Semua pekerjaan peledakan dan penanganan bahan peledak harus memenuhi
ketentuan yang tercantum untuk pekerjaan tersebut dalam Spesifikasi Teknis ini.
Kontraktor harus mengambil semua tindakan guna melindungi lereng galian
terhadap erosi atau degradasi selama pekerjaan berlangsung. Biaya untuk
pekerjaan ini harus dimasukkan dalam harga satuan pekerjaan yang berkaitan
dengan penggalian.

b. Pengukuran Penggalian Buka-Potong


1. Pekerjaan Penggalian

ENGINEERING CONSULTANT
E - 48
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Pengukuran dan pembayaran untuk setiap jenis bahan galian dilakukan atas
dasar volume galian berdasarkan ketentuan dalam gambar atau seperti
diperintahkan Direksi. Pengukuran dimulai dari permukaan tanah yang sudah
dibersihkan, kecuali apabila permukaan tanah tidak perlu dibersihkan.
Golongan bahan yang digali ditentukan oleh Konsultan Pengawas berdasar
klasifikasi yang berlaku dalam Spesifikasi Teknis ini.
Sebelum pekerjaan dimulai dan segera setelah pekerjaan selesai harus dilakukan
pengukuran volume galian. Kontraktor harus memasang tanda-tanda di lapangan
sehingga kondisi sebelum dan setelah penggalian dapat diketahui guna
menghitung volume galian. Kemudian hasil pengukuran Kontraktor akan diperiksa
ulang oleh Direksi. Paling lambat 7 hari sebelum mulai pekerjaan pengukuran
Kontraktor harus menyerahkan kepada Konsultan Pengawas suatu rencana yang
menunjukkan tata-Ietak semua patok, garis referensi, profil dan rincian metode
pengukuran yang akan digunakan untuk menghitung volume. Garis referensi dan
patak harus dipasang di lapangan paling lambat 24 jam sebelum pengukuran
dimulai dan memberitahukan hal itu kepada Direksi. Semua jenis referensi dan
patok harus tetap berada di tempatnya dalam kondisi baik sampai waktu yang
ditentukan oleh Konsultan Pengawas untuk memungkinkan Konsultan Pengawas
dapat melakukan pengukuran ulang. Semua catatan lapangan pengukuran dan
penghitungan volume galian harus diserahkan kepada Direksi.

Semua pengukuran untuk menghitung volume yang akan dipakai dasar untuk
mengajukan pembayaran tambahan harus dilakukan dengan kehadiran Direksi.
Kontraktor harus memberitahukan Konsultan Pengawas sebelumnya sehingga
pengukuran bersama bisa dilakukan tanpa mempengaruhi kemajuan pekerjaan
penggalian.
2. Jarak Pengangkutan-lebih
Karena suatu hal mungkin hasil galian harus dibuang ke tempat yang lebih jauh
dari tempat yang sudah ditentukan dalam gambar. Untuk menghitung volume
pekerjaan-Iebih akan diadakan klasifikasi jarak sebagai berikut :
- Jarak tambahan lebih dari 1,0 km dan kurang dari 1,5 km,
- Jarak tambahan lebih dari 1,5 km dan kurang dari 2,0 km
- Jarak tambahan lebih dari 2,0 km dan kurang dari 2,5 km.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 49
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Pengukuran jarak adalah jarak lurus antara tempat penggalian dan tempat
pembuangan akhir. Semua perhitungan pengangkutan-lebih harus dilakukan
dengan persetujuan Konsultan Pengawas dan dihitung berdasar hitungan volume
muatan yang bersangkutan atau cara lain yang disetujui bersama antara
Konsultan Pengawas dan Kontraktor.
3. Penimbunan Sementara
Penimbunan sementara dari bahan bangunan yang akan digunakan dan bahan
galian yang harus dibuang bilamana akan dilakukan dan prosesnya akan
dimintakan pembayaran maka kegiatan tersebut harus mendapat persetujuan
Direksi. Semua perhitungan untuk pembayaran penimbunan sementara harus
atas persetujuan Konsultan Pengawas dan dilakukan dengan cara yang disetujui
bersama antara Konsultan Pengawas dan Kontraktor.
4. Pekerjaan Pendukung untuk Penggalian
Semua pekerjaan pendukung untuk melaksanakan penggalian harus sudah
diperhitungkan dalam harga satuan pekerjaan ini. Apabila pekerjaan pendukung
akan dimintakan pembayarannya maka jenis pekerjaan tersebut harus dinyatakan
terpisah dalam rencana anggaran biaya dan penggunaannya harus mendapat
persetujuan Direksi.

5.6.4. Pekerjaan Beton


5.6.4.1. Bahan
A. Pengujian bahan
a) Pengawas Lapangan berhak memerintahkan diadakan pengujian pada setiap
bahan yang digunakan pada pelaksanaan konstruksi beton untuk menentukan
apakah bahan tersebut mempunyai mutu sesuai dengan mutu yang telah
ditetapkan.
b) Pengujian bahan dan beton harus dibuat sesuai dengan tata cara yang terdapat
pada Kutipan tata cara
c) Laporan lengkap pengujian bahan dan beton harus tersedia untuk pemeriksaan
selama pekerjaan berlangsung dan pada masa 2 tahun setelah selesainya
pembangunan.
B. Semen
a) Semen harus memenuhi salah satu dari ketentuan berikut:

ENGINEERING CONSULTANT
E - 50
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

a. SNI 15-2049-1994 Semen Portland.


b. Spesifikasi Semen Blended Hidrolis (ASTM C 595 ), kecuali Type S dan
SA yang tidak diperuntukkan sebagai unsur pengikat utama struktur beton.
c. "Spesifikasi Semen Hidrolis Ekspansif" (ASTM C 845).
b) Semen yang digunakan pada pekerjaan konstruksi harus sesuai dengan
semen yang digunakan pada perancangan proporsi campuran. Lihat bab
pemilihan proporsi beton.
C. Agregat
a) Agregat untuk beton harus memenuhi salah satu dari ketentuan berikut:
a. Spesifikasi Agregat untuk Beton(ASTM C 33).
b. SNI-03-2461-1991 Spesifikasi Agregat Ringan untuk Beton Struktur.
b) Ukuran maksimum nominal agregat kasar harus tidak melebihi:
a. 1/5 jarak terkecil antara sisi-sisi cetakan, ataupun
b. 1/3 ketebalan pelat lantai, ataupun
c. 3/4 jarak bersih minimum antara tulangan-tulangan atau kawat-kawat,
bundel tulangan, atau tendon-tendon pratekan atau selongsong-
selongsong.
D. A i r
a) Air yang digunakan pada campuran beton harus bersih dan bebas dari bahan-
bahan merusak yang mengandung oli, asam, alkali, garam, bahan organik, atau
bahan-bahan lainnya yang merugikan terhadap beton atau tulangan.
b) Air pencampur yang digunakan pada beton pratekan atau pada beton yang di
dalamnya tertanam logam aluminium, termasuk air bebas yang terkandung
dalam agregat, tidak boleh mengandung ion klorida dalam jumlah yang
membahayakan.
c) Air yang tidak dapat diminum tidak boleh digunakan pada beton, kecuali
ketentuan berikut terpenuhi:
a. Pemilihan proporsi campuran beton harus didasarkan pada campuran
beton yang menggunakan air dari sumber yang sama.
b. Hasil pengujian pada umur 7 dan 28 hari pada kubus uji yang dibuat dari
adukan dengan air yang tidak dapat diminum harus mempunyai kekuatan
sekurang-kurangnya sama dengan 90% dari kekuatan benda uji yang
dibuat dengan air yang dapat diminum. Perbandingan uji kekuatan tersebut

ENGINEERING CONSULTANT
E - 51
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

harus dilakukan pada adukan serupa, terkecuali pada air pencampur, yang
dibuat dan diuji sesuai dengan Metode uji kuat tekan untuk mortar semen
hidrolis (Menggunakan spesimen kubus dengan ukuran sisi 50 mm)(ASTM
C 109 ).
E. Baja tulangan
a) Baja tulangan yang digunakan harus tulangan ulir, kecuali baja polos
diperkenankan untuk tulangan spiral atau tendon. Tulangan yang terdiri dari
profil baja struktural, pipa baja, atau tabung baja dapat digunakan sesuai
dengan persyaratan pada tata cara ini.
b) Pengelasan baja tulangan harus memenuhi Structural Welding Code
Reinforcing Steel ANSI/AWS D1.4 dari American Welding Society. Jenis dan
lokasi sambungan las tumpuk dan persyaratan pengelasan lainnya harus
ditunjukkan pada gambar rencana atau spesifikasi.
c) Baja tulangan ulir (BJTD)
a. Baja tulangan ulir harus memenuhi salah satu ketentuan berikut:
i. Specification for Deformed and Plain Billet-Steel Bars for Concrete
Reinforcement(ASTM A 615M).
ii. Specification for Axle-Steel Deformed and Plain Bars for Concrete
Reinforcement(ASTM A 617M).
iii. Specification for Low-Alloy Steel Deformed and Plain Bars for
Concrete Reinforcement (ASTM A706M).

b. Baja tulangan ulir dengan spesifikasi kuat leleh f y melebihi 400 MPa oleh

digunakan, selama f y adalah nilai tegangan pada regangan 0,35 %.


c. Anyaman batang baja untuk penulangan beton harus memenuhi
Spesifikasi untuk anyaman batang baja ulir yang di fabrikasi untuk
tulangan beton bertulang (ASTM A 184M).
d. Kawat ulir untuk penulangan beton harus memenuhi Spesifikasi untuk
kawat baja ulir untuk tulangan beton (ASTM A 496), kecuali bahwa kawat
tidak boleh lebih kecil dari ukuran D4 dan untuk kawat dengan spesifikasi

kuat leleh f y melebihi 400 MPa, maka f y harus diambil sama dengan
nilai tegangan pada regangan 0,35% bilamana kuat leleh yang disyaratkan
dalam perencanaan melampaui 400 MPa.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 52
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

e. Jaring kawat polos las untuk penulangan beton harus memenuhi


Spesifikasi untuk Jaring Kawat Baja Polos untuk Penulangan Beton
(ASTM A185), kecuali bahwa untuk tulangan dengan spesifikasi kuat leleh

melebihi 400 MPa, maka f y diambil sama dengan nilai tegangan pada
regangan 0,35 %, bilamana kuat leleh yang disyaratkan dalam
perencanaan melampaui 400 MPa. Jarak antara titik-titik persilangan yang
dilas tidak boleh lebih dari 300 mm pada arah tegangan yang ditinjau,
kecuali untuk jaring kawat yang digunakan sebagai sengkang sesuai
dengan penyaluran tulangan badan.
f. Jaring kawat ulir las untuk penulangan beton harus memenuhi Spesifikasi
Jaring Kawat Las Ulir untuk Penulangan Beton (ASTM A 497M), kecuali

bahwa untuk kawat dengan spesifikasi kuat leleh f y melebihi 400 MPa,

maka f y harus diambil sama dengan nilai tegangan pada regangan 0,35
%, bilamana kuat leleh yang disyaratkan dalam perencanaan melampaui
400 MPa. Jarak antara titik-titik persilangan yang dilas tidak boleh lebih dari
300 mm pada arah tegangan yang ditinjau, kecuali untuk jaring kawat yang
digunakan sebagai sengkang sesuai dengan Butir penyaluran tulangan
badan.
g. Baja tulangan yang di galvanis harus memenuhi Spesifikasi baja tulangan
berlapis seng (galvanis) untuk penulangan beton" (ASTM A767M). Baja
tulangan berlapis epoksi harus memenuhi persyaratan Spesifikasi untuk
Tulangan Pelapis Epoksi " (ASTM A 775M) atau dengan Spesifikasi untuk
Lapisan Epoksi pada Baja Tulangan yang Diprefabrikasi, (ASTM A 934M).
Tulangan berlapis epoksi atau galvanis harus memenuhi salah satu dari
spesifikasi yang terdapat pada Butir baja tulangan ulir (BJTD).
h. Kawat dan jaring kawat las yang dilapisi epoksi harus memenuhi
Spesifikasi untuk Kawat Baja dan Jaring Kawat Las Berlapis Epoksi untuk
Tulangan(ASTM A 884M). Kawat yang akan dilapisi epoksi harus
memenuhi ketentuan Spesifikasi untuk kawat baja ulir untuk tulangan beton
(ASTM A 496), dan jaring kawat las yang akan dilapisi epoksi harus

ENGINEERING CONSULTANT
E - 53
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

memenuhi ketentuan Butir Spesifikasi Jaring Kawat Las Ulir untuk


Penulangan Beton (ASTM A 497M).
d) Baja tulangan polos
a. Tulangan polos untuk tulangan spiral harus memenuhi persyaratan salah
satu ketentuan berikut.
i. Specification for Deformed and Plain Billet-Steel Bars for Concrete
Reinforcement(ASTM A 615M).
ii. Specification for Axle-Steel Deformed and Plain Bars for Concrete
Reinforcement(ASTM A 617M).
iii. Specification for Low-Alloy Steel Deformed and Plain Bars for
Concrete Reinforcement (ASTM A706M).
b. Kawat polos untuk tulangan spiral harus memenuhi "Spesifikasi untuk
Kawat Tulangan Polos untuk Penulangan Beton (ASTM A 82), kecuali

bahwa untuk kawat dengan spesifikasi kuat leleh f y yang melebihi 400

MPa, maka f y harus diambil sama dengan nilai tegangan pada regangan
0,35%, bilamana kuat leleh yang disyaratkan dalam perencanaan
melampaui 400 MPa.
e) Tendon pratekan
a. Tendon untuk tulangan pratekan harus memenuhi salah satu dari
spesifikasi berikut:
i. Kawat yang memenuhi Specification for Uncoated Stress-Relieved
Steel for Prestressed Concrete (ASTM A 421).
ii. Kawat dengan relaksasi rendah, yang memenuhi Specification for
Uncoated Stress-Relieved Steel Wire for Prestressed Concrete
termasuk suplemen Kawat dengan relaksasi rendah (ASTM A 421).
iii. Strand yang sesuai dengan Spesifikasi untuk Strand Baja, Tujuh
Kawat Tanpa Lapisan untuk Beton Pratekan (ASTM A 416M).
iv. Tulangan, yang sesuai Spesifikasi untuk Baja tulangan mutu tinggi
tanpa lapisan untuk beton pratekan (ASTM A722).
b. Kawat, strand, dan batang tulangan yang tidak secara khusus tercakup
dalam ASTM A421, A 416M, atau A 722, diperkenankan untuk digunakan
bila tulangan-tulangan tersebut memenuhi persyaratan minimum dari

ENGINEERING CONSULTANT
E - 54
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

spesifikasi tersebut di atas dan tidak mempunyai sifat yang membuatnya


kurang baik dibandingkan dengan sifat-sifat seperti yang terdapat pada
ASTM A 421, A 416, atau A 722.

f) Baja profil, pipa, atau tabung baja


a. Baja profil yang digunakan dengan tulangan beton pada komponen tekan
komposit yang memenuhi persyaratan Butir 10.16(7) atau 10.16(8) harus
memenuhi salah satu dari spesifikasi berikut:
i. Spesifikasi untuk baja karbon struktural(ASTM A 36M).
ii. Spesifikasi untuk Baja Struktural campuran rendah mutu
tinggi.(ASTM A242M).
iii. Spesifikasi untuk Baja Struktural Mutu Tinggi Campuran
Columbium-Vanadium(ASTM A 572M).
iv. Spesifikasi untuk Baja Struktural Campuran Rendah Mutu Tinggi
dengan kuat Leleh Minimum 345 MPa pada Ketebalan 100 mm.
(ASTM A588M)
b. Pipa atau tabung baja untuk komponen struktur komposit tekan yang terdiri
dari inti beton berselubung baja sesuai persyaratan 10.16(6) harus
memenuhi persyaratan berikut:
i. Mutu B dari Specification for Pipe, Steel, Black and Hot Dipped,
Zinc-Coated Welded and Seamless (ASTM A 53).
ii. Specification for Cold-Formed Welded and Seamless Carbon Steel
Structural Tubing in Rounds and Shapes (ASTM A 500).
iii. Specification for Hot-Formed Welded and Seamless Carbon Steel
Structural Tubing(ASTM A 501).

F. Bahan tambahan
a) Bahan tambahan yang digunakan pada beton harus mendapat persetujuan
terlebih dahulu dari Pengawas Lapangan.
b) Untuk keseluruhan pekerjaan, bahan tambahan yang digunakan harus mampu
secara konsisten menghasilkan komposisi dan kinerja yang sama dengan
yang dihasilkan oleh produk yang digunakan dalam menentukan proporsi
campuran beton sesuai dengan bab pemilihan proporsi beton.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 55
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

c) Kalsium klorida atau bahan tambahan yang mengandung klorida tidak boleh
digunakan pada beton pratekan, pada beton dengan aluminium tertanam, atau
pada beton yang dicor dengan menggunakan bekisting baja galvanis.
d) Bahan tambahan pembentuk udara harus memenuhi SNI 03-2496-1991
Spesifikasi Bahan Tambahan Pembentuk Gelembung Untuk Beton.
e) Bahan tambahan pengurang air, penghambat reaksi hidrasi beton, pemercepat
reaksi hidrasi beton, gabungan pengurang air dan penghambat reaksi hidrasi
beton dan gabungan pengurang air dan pemercepat reaksi hidrasi beton harus
memenuhi Spesifikasi bahan tambahan kimiawi untuk beton (ASTM C 494)
atau Spesifikasi untuk Bahan Tambahan Kimiawi untuk Menghasilkan Beton
dengan Kelacakan yang Tinggi (ASTM C 1017).
f) Abu terbang atau bahan pozzolan lainnya yang digunakan sebagai bahan
tambahan harus memenuhi Spesifikasi untuk abu terbang dan pozzolan alami
murni atau terkalsinasi untuk digunakan sebagai bahan tambahan mineral
pada beton semen portland (ASTM C 618).
g) Slag tungku pijar yang diperhalus yang digunakan sebagai bahan tambahan
harus memenuhi Spesifikasi untuk Slag tungku pijar yang diperhalus untuk
digunakan pada beton dan mortar(ASTM C 989).
h) Bahan tambahan yang digunakan pada beton yang mengandung semen
ekpansif C845 harus cocok dengan semen yang digunakan tersebut dan
menghasilkan pengaruh yang tidak merugikan.
i) Silica fume yang digunakan sebagai bahan tambahan harus sesuai dengan
Spesifikasi untuk silica fume untuk digunakan pada beton dan mortar semen-
hidrolis(ASTM C 1240).

G. Penyimpanan bahan-bahan
a) Bahan semen dan agregat harus disimpan sedemikian rupa untuk mencegah
kerusakan, atau intrusi bahan yang mengganggu.
b) Setiap bahan yang telah terganggu atau terkontaminasi tidak boleh digunakan
untuk pembuatan beton.

H. Referensi Peraturan yang Digunakan

ENGINEERING CONSULTANT
E - 56
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

a) Standar-standar Nasional Indonesia dan ASTM (American Society for Testing


and Materials) yang dirujuk pada tata cara ini diberikan pada daftar berikut
dengan nomor serinya, dan dinyatakan sebagai bagian dari tata cara ini.
Bilamana standar-standar tersebut diperbaharui, maka yang berlaku adalah
standar-standar yang terkini.
SK SNI S-05-1989-F : Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian B
(Bahan Bangunan dari Besi/baja),
SNI 07-0052-1987 : Baja Kanal Bertepi Bulat Canai Panas,
Mutu dan Cara Uji,
SNI 07-0068-1987 : Pipa Baja Karbon untuk Konstruksi
Umum, Mutu dan Cara Uji,
SNI 07-0722-1989 : Baja Canai Panas untuk Konstruksi
Umum,
SNI 07-3014-1992 : Baja untuk Keperluan Rekayasa Umum,
SNI 07-3015-1992 : Baja Canai Panas untuk Konstruksi
dengan Pengelasan,
SNI 03-2834-1992 : Tata Cara Pembuatan Rencana
Campuran Beton Normal,
SNI 03-1726-1989 : Tata Cara Perencanaan Ketahanan
Gempa untuk Rumah dan Gedung,
ASTM A 36M-94 : Standar spesifikasi untuk baja Struktural,
ASTM A 53-93a : Standar spesifikasi untuk pipa,
baja, black and hot dipped, zinc coated
welded and seamles,
ASTM A 82-94 : Standar spesifikasi untuk jaring kawat
baja untuk beton bertulang,
ASTM A 184M-90 : Standar spesifikasi untuk anyaman baja
ulir untuk beton bertulang,
ASTM A 185-94 : Standar spesifikasi untuk serat baja las
polos, untuk beton bertulang,
ASTM A 242M93a : Standar spesifikasi untuk baja campuran
rendah berkekuatan tinggi,

ENGINEERING CONSULTANT
E - 57
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ASTM A 416-94 : Standar spesifikasi untuk baja strand,


tujuh kawat tidak berlapis untuk beton
pratekan,
ASTM A 421-91 : Standar spesifikasi untuk kawat baja
penulangan tegangan tanpa pelapis
untuk beton pratekan,
ASTM A 496-94 : Standar spesifikasi untuk kawat baja
untuk beton bertulang,
ASTM A 497-94a : Standar spesifikasi untuk jaring kawat las
deform untuk beton bertulang,
ASTM A 500-93 : Standar spesifikasi untuk Cold-Formed
Welded and Seamless Carbon Steel
Structural Tubing in Rounds and Shapes,
ASTM A 501-93 : Standar spesifikasi untuk Hot-Formed
Welded and Seamless Carbon Steel
Structural Tubing,
ASTM A 572M-94b : Standar spesifikasi untuk High Strength
Low-alloy Columbium Vanadium of
structural quality,
ASTM A 588M-94 : Standar spesifikasi untuk High Strength
Low-alloy Structural Steel with 50 ksi (345
Mpa) Minimum Yield Point To 4 in. (100
mm) Thick,
ASTM A 615M-96a : Standar spesifikasi untuk Deformed and
Plain Billet Steel Bars for Concrete
Reinforcement,
ASTM A616M-96a : Standar spesifikasi untuk Rail-Steel
Deformed and Plain Bars for
Reinforcement, including Supplementary
Requirement S1,
ASTM A617M-96a : Standar spesifikasi untuk Axle-Steel
Deformed and Plain Bars for Concrete
Reinforcement,

ENGINEERING CONSULTANT
E - 58
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ASTM A706M-96a : Standar spesifikasi untuk Low-Alloy Steel


Deformed and Plain Bars for Concrete
Reinforcement,
ASTM A706M-96a : Standar spesifikasi untuk Uncoated High
Strength Steel Bars for Prestressing
Concrete,
ASTM A767M-90 : Standar spesifikasi untuk Zinc-coated
(Galvanized) Steel Bars for Concrete
Reinforcement,
ASTM A775M-94d : Standar spesifikasi untuk Epoksi-coated
Reinforcing Steel Bars,
ASTM A884M-94a : Standar spesifikasi untuk Epoksi-coated
Steel Wire and Welded Wire Fabric for
Reinforcement,
ASTM A934M-95 : Standar spesifikasi untuk Epoksi-coated
Prefabricated for Steel Reinforcing Bars,
ASTM C 31-91 : Standar praktis untuk pembuatan dan
pemeliharaan benda uji beton di
lapangan,
ASTM C 33-93 : Standar spesifikasi untuk agregat beton,
ASTM C 39-93a : Standar Metode uji untuk kuat
tekan benda uji silinder beton,
ASTM C 42-90 : Standar Metode pengambilan dan uji
beton inti dan pemotongan balok beton,
ASTM C 94-94 : Standar spesifikasi untuk beton jadi,
ASTM C 109-93 : Standar metode uji kuat tekan
mortar semen hidraulis (menggunakan
benda uji kubus 50 mm),
b) Peraturan las struktural-Baja tulangan (ANSI/AWS D1.4-92) dari American
Welding Society.

5.6.4.2. Persyaratan Keawetan Beton


A. Rasio air - semen

ENGINEERING CONSULTANT
E - 59
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Rasio air-semen yang disyaratkan pada Tabel 4.2 dan 4.3 harus dihitung
menggunakan berat semen, sesuai dengan ASTM C 150, C595 M, atau C
845, ditambah dengan berat abu terbang dan bahan pozolan lainnya
sesuai dengan ASTM C 618, slag sesuai dengan ASTM C 989, dan silica
fume sesuai dengan ASTM C 1240, bilamana digunakan.
B. Pengaruh lingkungan
Beton yang akan mengalami pengaruh lingkungan seperti yang diberikan
pada Tabel 5.3 harus memenuhi rasio air-semen dan persyaratan kuat
tekan karakteristik beton yang ditetapkan pada tabel tersebut

Tabel 5.3 Persyaratan untuk pengaruh lingkungan khusus


Rasio air -
Kondisi lingkungan semen fc' min2, MPa

Maksimum1
Beton dengan permeabilitas rendah
yang terkena pengaruh lingkungan
0.50 28
air
Untuk perlindungan tulangan
terhadap korosi pada beton yang
terpengaruh lingkungan yang
mengandung klorida dari garam, 0.40 35
atau air laut
1
Dihitung terhadap berat dan berlaku untuk beton normal
2
Untuk beton berat normal dan beton berat ringan

C. Pengaruh lingkungan yang mengandung sulfat


Beton yang dipengaruhi oleh lingkungan yang mengandung sulfat yang
terdapat dalam larutan atau tanah harus memenuhi persyaratan pada Tabel
5.2, atau harus terbuat dari semen tahan sulfat dan mempunyai rasio air-
semen maksimum dan kuat tekan minimum sesuai dengan Tabel 5.4.

Tabel 5.4Persyaratan untuk beton yang dipengaruhi oleh lingkungan


yang mengandung sulfat

ENGINEERING CONSULTANT
E - 60
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Sulfat (S04) fc' min,


Rasio air-
dalam tanah MPa
semen
yang dapat Sulfat (SO4) (beton
Lingkungan Jenis maksimum
larut dalam dalam air, berat
Sulfat semen dalam berat
air, persen ppm normal
(beton berat
terhadap dan
normal)
berat ringan)
Ringan 0,00 0,10 0 - 150 - - -
Sedang 0,10 0,20 150-1500 II,IP(MS), 0,50 28
IS(MS),
P(MS),I(PM
)(MS),I(SM)
(MS)*
Berat 0,20 2,00 1500 V 0,45 31
10.000
Sangat Berat > 2,00 >10.000 V + 0,45 31
pozolan
* semen campuran sesuai ketentuan ASTM C .595

Kalsium klorida sebagai bahan tambahan tidak boleh digunakan pada


beton yang dipengaruhi oleh lingkungan sulfat yang bersifat berat hingga
sangat berat, seperti yang ditetapkan pada Tabel 5.2.

D. Perlindungan tulangan terhadap korosi


Untuk perlindungan tulangan di dalam beton terhadap korosi, konsentrasi
ion klorida maksimum yang dapat larut dalam air pada beton keras umur
28 hingga 42 hari tidak boleh melebihi batasan yang diberikan pada Tabel
5.5. Bila dilakukan pengujian untuk menentukan kandungan ion klorida
yang dapat larut dalam air, prosedur uji harus sesuai dengan ASTM C1218.

Tabel 5.5.Kandungan ion klorida maksimum untuk perlindungan baja


tulangan terhadap korosi
Ion klorida terlarut ( C- ) pada
Jenis komponen struktur
beton, persen terhadap berat semen
Beton prategang 0,06

ENGINEERING CONSULTANT
E - 61
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Beton bertulang yang terpengaruh


0,15
klorida selama masa layannya
Beton bertulang yang mungkin
kering atau terlindung dari air 1,00
selama masa layannya
Konstruksi beton bertulang lainnya 0,30

Persyaratan nilai rasio air-semen dan kuat tekan beton pada Tabel 5.2,
dan persyaratan tebal selimut beton pada sub bab pelindung beton untuk
tulangan harus dipenuhi apabila beton bertulang akan berada pada
lingkungan yang mengandung klorida dari air garam, air laut, atau
cipratan dari sumber garam tersebut.

5.6.4.3. Tata Cara Pengadukan Pengecoran Beton


A. Umum
Yang dimaksud dengan :
1) Beton adalah campuran antara semen portland atau semen hidraulik
yang lain, agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa
bahan campuran tambahan membentuk masa padat;
2) Pengaduk beton adalah mesin pengaduk yang digerakkan dengan
tenaga penggerak, digunakan untuk mengaduk campuran beton;
3) Segregasi adalah peristiwa terpisahnya antara pasta semen dan agregat
dalam suatu adukan;
4) Bliding adalah peristiwa terpisahnya air dari adukan;
5) Beton segar adalah campuran beton yang telah selesai diaduk sampai
beberapa saat, karakteristiknya tidak berubah (masih plastis dan belum
terjadi pengikatan);
6) Beton keras adalah campuran beton yang telah mengeras;
7) Agregat halus adalah pasir alam sebagai hasil desintegrasi secara alami
dari batu atai pasir yang dihasilkan oleh industri pemecah batu dan
mempunyai ukuran butiran terbesar 5,0 mm;

ENGINEERING CONSULTANT
E - 62
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

8) Agregat kasar adalah kerikil sebagai hasil desintegrasi alam dari batu
atau berupa batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan
mempunyai ukuran butir antara 5 40 mm;
9) Beton normal adalah beton yang mempunyai berat isi 2200-2500 kg/m 3
menggunakan agregat alam yang dipecah atau tanpa dipecah;
10) Slump adalah ukuran dari kekentalan adukan beton;
11) Tremie adalah pipa berdiameter antara 150-300 mm, yang ujungnya
dilengkapi corong.

B. Bahan
Semua jenis bahan yang digunakan dalam pembuatan beton harus
dilengkapi dengan :
1) Sertifikat mutu dari produsen, atau;
2) Jika tidak terdapat sertifikat mutu, harus tersedia data hasil uji dari
laboratorium yang diakui, kecuali;
3) Jika tidak dilengkapi dengan sertifikat mutu atau data hasil uji, harus
berdasarkan bukti hasil pengujian khusus atau pemakai nyata yang
dapat menghasilkan beton yang kekuatan, ketahanan dan keawetannya
memenuhi syarat.

C. Peralatan
Semua peralatan yang diperlukan untuk pekerjaan ini harus memenuhi
persyaratan alat kerja.

D. Pelaksanaan
Pelaksanan pekerjaan beton harus memenuhi persyaratan kerja berikut :
1) Persyaratan administratif yang dinyatakan didalam rencana kerja dan
syarat-syarat (RKS) harus diikuti;
2) Harus tersedia rencana beton dan rencana pelaksanaan pengecoran.

E. Spesifikasi Bahan
1) Air

ENGINEERING CONSULTANT
E - 63
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Air harus memenuhi SK SNI S-04-1989-F tentang Spesifikasi Air


sebagai Bahan Bangunan.
2) Semen
Semen harus memenuhi SK SNI S-04-1989-F tentang Spesifikasi
Bahan Perekat Hidrolis sebagai Bahan Bangunan.
3) Agregat
Agregat harus memenuhi SK SNI S-04-1989-F tentang Spesifikasi
Agregat sebagai Bahan Bangunan.
4) Bahan Tambahan untuk Beton
Bahan tambahan untuk beton harus memenuhi SK SNI S-18-1990-03
tentang Spesifikasi Bahan Tambahan untuk Beton.
5) Bahan Tambahan Pembentukan Gelembung Udara untuk Beton Bahan
tambahan pembentukan gelembung udara untuk beton harus
memenuhi SK SNI S-19-1990-03 tentang Spesifikasi Bahan Tambahan
Gelembung Udara untuk Bahan Bangunan.

F. Peralatan
Peralatan yang digunakan harus memenuhi ketentuan berikut :
1) Semua peralatan untuk penakaran, pengadukan dan pengangkutan
beton harus dalam keadaan baik dan bersih;
2) Mesin pengaduk harus pada kecepatan yang direkomendasikan oleh
pabrik pembuat mesin tersebut;
3) Alat angkut yang digunakan dari tempat pengadukan ke tempat
pengecoran harus mampu menyediakan beton (di tempat penyimpanan
akhir) dengan lancar tanpa mengakibatkan terjadinya segregasi dan
tanpa hambatan yang dapat mengakibatkan hilangnya plastisitas beton
antara pengangkutan yang berurutan;
4) Alat pemadat yang digunakan harus disesuaikan dengan bentuk dan
jenis pekerjaan.

G. Pelaksanaan
1) Persiapan

ENGINEERING CONSULTANT
E - 64
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Sebelum pengecoran beton dilaksanakan, harus dilakukan pekerjaan


persiapan yang mencakup hal berikut :
i. Semua ruang yang akan diisi adukan beton harus bebas dari
kotoran;
ii. Semua kotoran, serpihan beton dan material lain yang menempel
pada permukaan beton yang telah mengeras harus dibuang sebelum
beton yang baru dituangkan pada permukaan beton yang telah
mengeras tersebut;
iii. Bidang-bidang beton lama yang akan berhubungan dengan beton
baru, harus dikasarkan dan dibasahi terlebih dahulu sebelum beton
baru dicorkan;
iv. Pasangan dinding bata yang akan berhubungan dengan beton baru,
harus dibasahi dengan air sampai jenuh;
v. Untuk memudahkan pembukaan acuan, permukaan dalam dari
acuan boleh dilapisi dengan bahan khusus, misalnya lapisan tipis
minyak mineral, lapisan bahan kimia, lembaran plastik, atau bahan
lain yang disetujui oleh pengawas bangunan;
vi. Tulangan harus dalam keadaan bersih dan bebas dari segala lapisan
penutup yang dapat merusak beton atau mengurangi lekatan antara
beton dan tulangan;
vii. Air yang terdapat pada semua ruang yang akan diisi adukan beton
harus dibuang, kecuali apabila pengecoran tremie atau bila diijinkan
oleh pengawas bangunan.

H. Penakaran
Penakaran bahan yang akan digunakan harus berdasarkan perbandingan
campuran yang direncanakan, dan memenuhi ketentuan sebagai berikut :
i. Untuk beton dengan fc lebih besar atau sama dengan 20 MPa,
proporsi campuran harus didasarkan pada teknik penakaran berat;
ii. Untuk beton dengan nilai fc lebih kecil dari 20 MPa, pelaksanaannya
boleh menggunakan teknik penakaran volume. Teknik penakaran
volume ini harus berdasarkan pada perhitungan proporsi campuran

ENGINEERING CONSULTANT
E - 65
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

dalam berat yang dikonversikan ke dalam volume melalui


perhitungan berat satuan volume dari masing-masing bahan.

I. Pengadukan
Pengadukan beton di lapangan harus memenuhi ketentuan berikut :
i. Beton harus diaduk sedemikian hingga tercapai penyebaran bahan
yang merata dan semua hasil adukannya harus dikeluarkan sebelum
mesin pengaduk diisi kembali;
ii. Pengadukan harus dilakukan tidak kurang dari 1 menit untuk
setiap lebih kecil atau sama dengan 1 m3 adukan. Waktu
pengadukan harus ditambah menit untuk setiap penambahan
kapasitas 1 m3 adukan;
iii. Pengadukan harus dilanjutkan minimal 1 menit setelah semua
bahan dimasukkan ke dalam mesin pengaduk (atau sesuai dengan
spesifikasi alat pengaduk);
iv. Selama pengadukan berlangsung, kekentalan adukan beton harus
diawasi terus menerus dengan jalan memeriksa slump pada setiap
campuran beton yang baru;
v. Kekentalan beton harus disesuaikan dengan jarak pengangkutan;
vi. Bila produksi beton dilakukan oleh perusahaan beton siap pakai,
maka keseragaman pengadukan harus mengikuti ketentuan yang
berlaku;
vii. Perekaman data yang rinci harus dilakukan terhadap :
Waktu dan tanggal pengadukan dan pengecoran;
Proporsi bahan yang digunakan;
Jumlah batch-adukan yang dihasilkan;
Lokasi pengecoran akhir pada struktur.

J. Pengangkutan
Pengangkutan harus memenuhi ketentuan berikut :
i. Pengangkutan beton dari tempat pengadukan hingga ke tempat
penyimpanan akhir sebelum di cor, harus sedemikian hingga dapat
mencegah terjadinya segregasi atau kehilangan bahan;

ENGINEERING CONSULTANT
E - 66
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ii. Pengangkutan harus dilakukan sedemikian hingga tidak


mengakibatkan perubahan sifat beton yang telah direncanakan, yaitu
perbandingan air semen, slump, dan keseragaman adukan;
iii. Pengangkutan harus berlangsung dalam waktu tidakmelebihi dari 30
menit. Bila pengangkutan dilakukan dengan truk pengangkut beton
waktu pengangkutan tidak boleh lebih dari 1 jam. Apabila
diperlukan jangka waktu yang lebih panjang lagi, maka harus dipakai
bahan penghambat pengikatan.

K. Pengecoran dan Pemadatan


Pengecoran dan pemadatan beton harus mengikuti ketentuan berikut :
i. Beton yang akan dicorkan harus pada posisi sedekat mungkin
dengan acuan untuk mencegah terjadinya segregasi yang
disebabkan pemuatan kembali atau dapat mengisi dengan mudah ke
seluruh acuan;
ii. Tingkat kecepatan pengecoran beton harus diatur agar beton selalu
dalam keadaan plastis dan dapat mengisi dengan mudah ke dalam
sela-sela diantara tulangan;
iii. Beton yang telah mengeras sebagian atau yang seluruhnya tidak
boleh dipergunakan untuk pengecoran;
iv. Beton yang telah terkotori oleh bahan lain tidak boleh dituangkan ke
dalam struktur;
v. Pengecoran beton harus dilaksanakan secara terus menerus tanpa
berhenti hingga selesainya pengecoran suatu panel atau
penampang yang dibentuk oleh batas-batas elemennya atau batas
penghentian pengecoran yang ditentukan untuk siar pelaksanaan;
vi. Beton yang dicorkan harus dipadatkan secara sempurna dengan alat
yang tepat agar dapat mengisi sepenuhnya daerah sekitar tulangan,
alat konstruksi dan alat instalasi yang akan tertanam dalam beton
dan daerah sudut acuan;
vii. Dalam hal pemadatan beton dilakukan dengan alat penggetar :
Lama penggetaran untuk setiap titik harus dilakukan sekurang-
kurangnya 5 detik, maksimal 15 detik;

ENGINEERING CONSULTANT
E - 67
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Batang penggetar tidak boleh mengenai cetakan atau bagian


beton yang sudah mengeras dan tidka boleh dipasang lebih
dekat 100 mm dari cetakan atau dari beton yang sudah
mengeras serta diusahakan agar tulangan tidak terkena oleh
batang penggetar;
Lapisan yang digetarkan tidak boleh lebih tebal dari panjang
batang penggetar dan tidak boleh lebih dari 500 mm. Untuk
bagian konstruksi yang sangat tebal harus dilakukan lapis demi
lapis.
viii.Dalam hal pengecoran yang menggunakan sistem cetakan/acuan
yang digeser ke atas permukaan atas besi acuan harus terisi rata;
ix. Bila diperlukan adanya siar pelaksanaan, siar tersebut harus dibaut
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

L. Perawatan
Perawatan beton di lapangan harus memenuhi ketentuan berikut :
i. Beton harus dipertahankan dalam kondisi lembab selama paling
sedikit 7 hari setelah pengecoran;
ii. Beton berkekuatan awal tinggi harus dipertahankan dalam kondisi
lembab selama paling sedikit 3 hari pertama;
iii. Bila diperlukan uji kuat tambahan harus diikuti ketentuan berikut :
Untuk memeriksa tingkat pelaksanaan perawatan dan
perlindungan dari beton dalam struktur di lapangan, pengawas
dapat meminta agar dilakukan uji tekan atas benda uji yang
dirawat di lapangan;
Silinder yang dirawat di lapangan harus dirawat sesuai dengan
kondisi di lapangan berdasarkan SK SNI M-62-1990-03 tentang
Metode Pembuatan dan Perawatan Benda Uji Beton di
Laboratorium menurut ketentuan yang berlaku;
Benda uji silinder yang dirawat di lapangan harus dicetak pada
saat yang bersamaan dan diambil dari contoh yang sama dengan
benda uji silinder yang akan dirawat di laboratorium;

ENGINEERING CONSULTANT
E - 68
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Cara untuk melindungi dan merawat beton harus ditingkatkan bila


kekuatan dari silinder yang dirawat di lapangan pada umur uji
yang telah ditetapkan kurang dari 8,5% dari kekuatan pasangan
silinder yang dirawat di laboratorium untuk penentuan kekuatan
fc.

M. Pemeriksaan
Pengambilan contoh uji beton segar untuk pemeriksaan mutu beton (slump,
berat isi, analisa) harus dilakukan pada saat selesai pengadukan tepi
sebelum dicorkan, sesuai dengan SK SNI M-26-1990-03 tentang Metode
Pengambilan Contoh untuk Campuran Beton Segar.

N. Cara Pengerjaan
Langkah-langkah pengadukan dan pengecoran beton adalah sebagai
berikut :
i. Takar bahan-bahan yang akan digunakan untuk pembuatan beton,
sebagai berikut :
Bila penakaran dilakukan dalam perbandingan berat :
a) Takar air;
b) Takar semen dengan ketelitian 1%;
c) Takar agregat halus dan kasar dengan ketelitian 2%:
d) Takar bahan tambahan bila diperlukan dengan ketelitian 3%.
Bila penakaran dilakukan dengan perbandingan volume :
a) Takar air;
b) Takar semen dengan ketelitian 2%;
c) Takar bahan tambahan dengan ketelitian 2%;
d) Takar agregat halus dan kasar dengan alat takar yang berbeda
untuk masing-masing agregat halus dan agregat kasar atau
fraksi dari agregat kasar dengan ketelitian 2%.
ii. Masukkan bahan-bahan pada waktu mesin sedang berputar dengan
urutan berikut :
Masukkan agregat kasar dan sejumlah air adukan ke dalam
mesin aduk;

ENGINEERING CONSULTANT
E - 69
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Masukkan agregat halus dan semen serta seluruh sisa air


adukan. Atau disesuaikan dengan tipe mesin pengaduk.
iii. Bila digunakan bahan tambahan :
Campurkan terlebih dahulu pada air adukan bahan tambahan
berupa cairan. Selanjutnya lakukan sesuai dengan butir ii;
Campurkan semen dengan bahan tambahan berupa bubuk.
Selanjutnya lakukan sesuai dengan butir ii. Atau disesuaikan
dengan petunjuk penggunaan.
iv. Lanjutkan pengadukan sekurang-kurangnya 1 menit atau sampai
diperoleh adukan yang seragam;
v. Lakukan pemeriksaan slump paling lama 5 menit setelah
pengadukan dan ambil beton segar untuk pembuatan benda uji bila
diperlukan paling lama 15 menit setelah pengadukan;
vi. Bersihkan ruang yang akan diisi adukan dari kotoran atau serpihan
dan serbuk gergaji kayu dengan tiupan udara atau semprotan air;
vii. Bersihkan baja tulangan dari minyak dan lemak yang menempel;
viii. Keluarkan beton segar dari mesin pengaduk lalu angkut ke tempat
pengecoran dengan peralatan baik secara manual maupun mekanis
yang jenisnya disesuaikan dengan sifat dan kondisi pengecoran,
agar campuran tetap seragam, tidak mengalami segregasi dan
bliding (lihat Gambar 5.2 dan 5.3.);
ix. Corkan adukan beton sebagai berikut :
Atur sedekat mungkin jarak antara awal tumpahan dari posisi
tumpahan tersebut sedemikian hingga tidak terjadi segregasi
(lihat Gambar-gambar berikut ini);

ENGINEERING CONSULTANT
E - 70
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Gambar 5.3. Kontrol Terjadinya segregasi

Gambar 5.4. Pengisian adukan beton dan pencurahannya

Keterangan
a : Adukan beton yang dituangkan harus jatuh di tengah talang
penyalur, gerobak angkut, truk atau bejana penampang;
b,c : Masing-masing cara penuangan mencegah terjadinya segregasi
tidak peduli berapa panjangnya saluran atau ban berjalan, apakah
adukan beton itu tercurah ke talang penyalur, gerobak angkut, truk
atau bejana penampung.
Pengisian adukan beton ke bejana penampung atau talang penyalur
d : Menjatuhkan adukan beton ke sisi bejana penampang yang miring;
e : Menjatuhkan adukan beton langsung ke tengah mulut/corong;
Pencurahan adukan beton dari corong penampung untuk dimuatkan ke
sarana pengangkut

ENGINEERING CONSULTANT
E - 71
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

f : Mulut corong penampang yang bersisi miring berlaku sebagai


pelepas tanpa kontrol di ujungnya sehingga menyebabkan
segregasi adukan yang tidak boleh terjadi pada pengisian sarana
pengangkut;
g : Pencurahan dari tengah mulut corong agar jatuhnya adukan beton
tegak lurus ke tengah sarana pengangkut.
Atur tingkat kecepatan pengecoran sedemikian agar seluruh adukan
beton tetap dalam keadaan plastis, sehingga dapat mengisi dengan
mudah ke seluruh acuan;
Atur pengecoran agar berlangsung terus menerus dan hentikan
pengecoran hanya pada batas penghentian yang telah ditentukan.
x. Padatkan beton dengan alat penggetar atau alat pemadat lainnya
yang jenisnya disesuaikan dengan bentuk dan jenis pekerjaan. Bila
pemadatan dilakukan dengan alat penggetar :
Sesuaikan lama penggetaran dengan kekentalan beton, jenis,
frekwensi dan amplitudo dari alat penggetar, menurut petunjuk dari
pabrik pembuat alat penggetar;
Masukkan pelan-pelan alat penggetar pada tiap jarak 500 mm
secara tegak lurus dan jagalah sehingga jarak dari ujung batang
penggetar dan cetakan tidak kurang dari 100 mm;
Tarik batang penggetar dari adukan apabila adukan mulai nampak
mengkilap;

Gambar 5.5. Pengisian adukan beton dan pencurahannya


xi. Rawat beton yang sudah dipadatkan agar tetap dalam kondisi
lembab dengan salah satu cara berikut :

ENGINEERING CONSULTANT
E - 72
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Basahi permukaan bidang beton dengan penyiraman secara periodik


dan terus menerus;
Tutup dengan lembaran plastik atau lembaran lain yang dapat
mencegah penguapan air;
Semprot dan labur permukaan beton dengan baan kimia pembentuk
lapisan membran yang dapat mencegah penguapan air;
Perendaman.

5.6.4.4. DETAIL PENULANGAN


A. Kait standar
Pembengkokan tulangan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1) Bengkokan 180-derajat ditambah perpanjangan 4dbdengan
minimum 60 mm pada ujung bebas kait.
2) Bengkokan 90-derajat ditambah perpanjangan 12dbpada ujung
bebas kait.
Untuk sengkang dan kait pengikat )
1) Batang D-16 dan yang lebih kecil, bengkokan 90-derajat ditambah
perpanjangan 6db pada ujung bebas kait, atau
2) Batang D-19, D-22, dan D-25, bengkokan 90-derajat ditambah
perpanjangan 12dbpada ujung bebas kait, atau
3) Batang D-25 dan yang lebih kecil, bengkokan 135-derajat
ditambah perpanjangan 6dbpada ujung bebas kait.
Untuk kait gempa adalah sebagaimana yang didefinisikan pada Butir
penyaluran tulangan umum.

B. Diameter bengkokan minimum


Diameter bengkokan yang diukur pada bagian dalam batang tulangan tidak
boleh kurang dari nilai dalam Tabel 5.4. Ketentuan ini tidak berlaku untuk
sengkang dan sengkang ikat dengan ukuran D-10 hingga D-16.
)
Untuk sengkang pengikat tertutup yang didefinisikan sebagai sengkang
tertutup pada Butir 21, suatu bengkokan 135-derajat ditambah dengan suatu
perpanjangan paling sedikit 6db namun tidak kurang daripada 75 mm.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 73
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Diameter dalam dari bengkokan untuk sengkang dan sengkang ikat tidak
boleh kurang dari 4db untuk batang D-16 dan yang lebih kecil. Untuk batang
yang lebih besar daripada D-16, diameter bengkokan harus memenuhi
Tabel 5.4.
Diameter dalam untuk bengkokan jaring kawat baja las (polos atau ulir)
yang digunakan untuk sengkang dan sengkang ikat tidak boleh kurang dari
4db untuk kawat ulir yang lebih besar dari D6 dan 2db untuk kawat lainnya.
Bengkokan dengan diameter dalam kurang dari 8d b tidak boleh kurang dari
4db dari persilangan las yang terdekat.

Tabel 5.6 Diameter bengkokan minimum


Ukuran tulangan Diameter
Minimum
D-10 sampai dengan D-25 6db
D-29, D-32, dan D-36 8db
D-44 dan D-56 10db

C. Cara pembengkokan
Semua tulangan harus dibengkokkan dalam keadaan dingin, kecuali bila
diizinkan lain oleh Pengawas Lapangan.
Tulangan yang sebagian sudah tertanam di dalam beton tidak boleh
dibengkokkan di lapangan, kecuali seperti yang ditentukan pada gambar
rencana, atau diizinkan oleh Pengawas Lapangan.

D. Kondisi permukaan baja tulangan


Pada saat beton dicor, tulangan harus bebas dari lumpur, minyak, atau
segala jenis zat pelapis bukan logam yang dapat mengurangi kapasitas
lekatan. Pelapis epoksi yang sesuai dengan acuan baku pada Butir baja
tulangan boleh digunakan.
Kecuali tendon pratekan, tulangan yang mengandung karat, kulit giling (mill
scale), atau gabungan keduanya, boleh dipergunakan selama dimensi
minimum (termasuk tinggi ulir) dan berat benda uji yang telah dibersihkan
menggunakan sikat baja tidak lebih kecil dari ketentuan yang berlaku (lihat
Butir baja tulangan).

ENGINEERING CONSULTANT
E - 74
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Tendon pratekan harus bersih dan bebas dari minyak, kotoran, kulit giling,
cacat permukaan dan karat yang berlebihan. Tendon yang teroksidasi boleh
sedikit boleh digunakan.

E. Penempatan tulangan
Tulangan, tendon pratekan, dan selongsong pratekan harus ditempatkan
secara akurat dan didukung secukupnya sebelum beton dicor, dan harus
dijaga agar tidak tergeser melebihi toleransi yang diizinkan dalam butir
penempatan tulangan.
Bila tidak ditentukan lain oleh Pengawas Lapangan, tulangan, tendon
pratekan, dan selongsong pratekan harus ditempatkan dengan toleransi
berikut:
Toleransi untuk tinggi d, dan selimut beton minimum dalam komponen
struktur lentur, dinding dan komponen struktur tekan harus memenuhi
ketentuan berikut:

Tabel 5.7. Toleransi untuk tinggi d, dan selimut beton minimum


Toleransi Toleransi untuk selimut
untuk d beton minimum
d 200 mm + 10 mm - 10 mm
d> 200 mm + 12 mm - 12 mm

kecuali bahwa ketentuan toleransi untuk jarak bersih terhadap sis-dalam


cetakan harus sebesar minus 6 mm dan toleransi untuk selimut beton tidak
boleh melampaui minus 1/3 selimut beton minimum yang diperlukan dalam
gambar rencana atau spesifikasi.
Toleransi letak longitudinal dari bengkokan dan ujung akhir tulangan harus
sebesar 50 mm kecuali pada ujung tidak menerus dari komponen struktur
di mana toleransinya harus sebesar 12 mm.
Jaring kawat las (dengan ukuran kawat yang tidak melampaui W6 atau D6)
yang digunakan dalam pelat dengan bentang yang tidak melampaui 3 m
boleh dilengkungkan mulai dari titik dekat sisi atas pelat di atas tumpuan

ENGINEERING CONSULTANT
E - 75
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

hingga suatu titik dekat sisi bawah pelat pada tengah bentang, asalkan
tulangan tersebut menerus atau diangkur dengan baik di daerah tumpuan.
Pemasangan batang tulangan yang bersilangan dengan pengelasan tidak
diperkenankan kecuali bila diizinkan oleh Pengawas Lapangan.

F. Batasan spasi tulangan


Jarak bersih antara tulangan sejajar dalam lapis yang sama, tidak boleh
kurang dari db ataupun 25 mm. Lihat juga ketentuan Ukuran maksimum
nominal agregat kasar.
Bila tulangan sejajar tersebut diletakkan dalam dua lapis atau lebih,
tulangan pada lapis atas harus diletakkan tepat di atas tulangan di
bawahnya dengan spasi bersih antar lapisan tidak boleh kurang dari 25
mm.
Pada komponen struktur tekan yang diperkuat dengan tulangan spiral atau
sengkang pengikat, jarak bersih antar tulangan longitudinal tidak boleh
kurang dari 1,5db ataupun 40 mm.
Pembatasan jarak bersih antar batang tulangan ini juga berlaku untuk jarak
bersih antara suatu sambungan lewatan dengan sambungan lewatan
lainnya atau batang tulangan yang berdekatan.
Pada dinding dan pelat lantai, selain konstruksi pelat rusuk, tulangan lentur
utama harus berjarak tidak lebih dari tiga kali tebal dinding atau pelat lantai,
ataupun 500 mm.
Bundel tulangan :
a) Kumpulan dari tulangan sejajar yang diikat dalam satu bundel
sehingga bekerja dalam satu kesatuan tidak boleh terdiri lebih dari
empat tulangan per bundel.
b) Bundel tulangan harus diletakkan di dalam sengkang atau
pengikat.
c) Pada balok, tulangan yang lebih besar dari D-36 tidak boleh
dibundel.
d) Masing-masing batang tulangan yang terdapat dalam satu bundel
tulangan yang berakhir dalam bentang komponen struktur lentur

ENGINEERING CONSULTANT
E - 76
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

harus diakhiri pada titik-titik yang berlainan, paling sedikit dengan


jarak 40db secara berselang.
e) Jika pembatasan jarak dan selimut beton minimum didasarkan
pada diameter tulangan db, maka satu unit bundel tulangan harus
diperhitungkan sebagai tulangan tunggal dengan diameter yang
didapat dari luas ekuivalen penampang gabungan.
f) Tendon dan selongsong pratekan:
Spasi sumbu-ke-sumbu antar tendon pratekan pada tiap
ujung suatu komponen struktur tidak boleh kurang dari 4db
untuk kawat untai (strand), atau 5dbuntuk kawat tunggal,
kecuali bahwa jika kuat tekan beton minimum pada saat
transfer prategang, fci, adalah 28 MPa, maka spasi sumbu-
ke-sumbu minimum dari strand haruslah 45 mm untuk strand
berdiameter 12,7 mm atau lebih kecil, dan 50 mm untuk
strand berdiameter 15,2 mm. Lihat juga butir Ukuran
maksimum nominal agregat kasar. Pengaturan spasi vertikal
yang lebih rapat dan pembundelan tendon dapat diizinkan
pada daerah lapangan dari suatu bentang.
Selongsong yang digunakan pada sistem pasca tarik boleh
dibundelkan bila dapat diperlihatkan bahwa beton dapat
dicor dengan sempurna dan bila telah dilakukan
pengamanan untuk mencegah pecahnya selongsong pada
saat penarikan tendon.

G. Pelindung beton untuk tulangan


1) Untuk beton bertulang, tebal selimut beton minimum yang harus
disediakan untuk tulangan harus memenuhi ketentuan berikut:
Tebal
selimut
minimum,
(mm)

1) Beton yang dicor langsung di atas tanah dan selalu

ENGINEERING CONSULTANT
E - 77
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

berhubungan dengan tanah 70


Beton yang berhubungan dengan tanahataucuaca:
batang D-19 hingga D-56 50
batang D-16, jaring kawat polos atau ulir
W16 dan yang lebih kecil 40

2) Beton yang tidak langsung berhubungan dengan cuaca


atau tanah:
Pelat, dinding, pelat berusuk:
batang D-44 dan D-56 40
batang D-36 dan yang lebih kecil . 20
Balok, kolom:
tulangan utama, pengikat, sengkang, lilitan
spiral 40
Komponen struktur cangkang, pelat lipat:
batang D-19 dan yang lebih besar 20
batang D-16, jaring kawat polos atau ulir
W16 dan yang lebih kecil.. 15
2) Untuk beton pracetak (dibuat dengan mengikuti proses
pengawasan pabrik), tebal minimum selimut beton berikut harus
disediakan untuk tulangan:
3) Beton yang berhubungan dengan tanah atau cuaca:
Panel dinding:
batang D-44 dan D-56 40
batang D-36 dan yang lebih kecil 20
Komponen struktur lainnya:
batang D-44 dan D-56 50
batang D-19 sampai D-36 40
batang D-16, jaring kawat polos atau ulir W16 dan yang
lebih kecil 30
3) Beton yang tidak langsung berhubungan dengan cuaca
atau tanah:
Pelat, dinding, pelat berusuk:

ENGINEERING CONSULTANT
E - 78
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

batang D-44 dan D-56 30


batang D-36 dan yang lebih kecil 15
Balok, kolom:
tulangan utamadb (tetapi tidak kurang dari 15 dan tidak
perlu
lebih dari 40)pengikat, sengkang, lilitan spiral 10
Komponen cangkang, pelat lipat:
batang D-19 dan yang lebih besar 15
batang D-16, jaring kawat polos atau ulir W16 dan
yang lebih kecil 10
4) Beton pratekan
Tebal penutup beton minimum berikut harus disediakan untuk tulangan
pratekan ataupun non-pratekan, selongsong, dan penutup-ujung, kecuali
untuk kondisi yang dicantumkan dalam butir pelindung beton untuk
tulangan.
a) Beton yang dicor langsung di atas
tanah dan selalu berhubungan dengan tanah 75
b) Beton yang berhubungan dengan tanah
atau cuaca: dinding panel, slab, balok berusuk 30
komponen struktur lain 40
Beton yang tidak langsung berhubungan dengan
cuaca atau tanah:
pelat, dinding, pelat berusuk 20
Balok, kolom:
Tulangan utama 40
Pengikat, sengkang, lilitan spiral 25
Komponen struktur cangkang, pelat lipat:
Batang D-16, jaring kawat polos atau ulir W16 dan
yang lebih kecil 10
Tulangan lainnya db
(tetapi tidak kurang dari 20 )
5) Untuk komponen struktur beton pratekan yang berhubungan dengan
tanah, cuaca, atau lingkungan yang korosif, dan di mana tegangan tarik

ENGINEERING CONSULTANT
E - 79
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

izin yang ditetapkan dilampaui, maka tebal selimut beton minimum harus
dinaikkan 50 persen.
6) Untuk komponen struktur beton pratekan yang dibuat di bawah kondisi
pengawasan pabrik, tebal penutup beton minimum untuk tulangan non-
pratekan harus diambil seperti yang tercantum dalam butir pelindung
tulangan untuk beton pracetak.
7) Bundel tulangan.
Untuk bundel tulangan, tebal selimut beton minimum harus diambil sama
dengan diameter ekivalen bundel yang bersangkutan, tetapi tidak perlu
lebih besar dari 50 mm; kecuali untuk beton yang dicor langsung di atas
tanah dan selalu berhubungan dengan tanah di mana tebal penutup
minimum harus diambil sebesar 75 mm.
8) Lingkungan korosif.
Di dalam lingkungan yang korosif atau lingkungan lain yang merusak,
tebal selimut beton harus ditingkatkan secukupnya, dan kepadatan serta
kekedapan selimut beton harus diperhatikan, atau harus diadakan
bentuk perlindungan yang lain.
9) Perluasan di kemudian hari.
Untuk tulangan dan bagian sambungan yang terbuka, yang khusus
disediakan untuk sambungan lekatan di kemudian hari, harus dilindungi
terhadap kemungkinan korosi.
10) Perlindungan terhadap kebakaran.
Bila tebal selimut beton dipersyaratkan lebih daripada yang ditetapkan
dalam butir pelindung beton untuk tulangan oleh peraturan lainnya, maka
ketentuan tersebut harus diikuti.

H. Detail tulangan khusus untuk kolom


1) Batang tulangan pada daerah hubungan balok-kolom
Batang tulangan longitudinal yang dibengkokkan pada daerah
hubungan balok-kolom harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a) Kemiringan dari bagian bengkokan pada sebuah batang
tulangan tersebut terhadap sumbu kolom tidak boleh melebihi
1:6.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 80
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

b) Bagian dari batang tulangan yang terletak di atas dan di


bawah daerah hubungan harus sejajar dengan sumbu kolom.
c) Kekangan horizontal pada bengkokan tulangan hubungan
tersebut harus disediakan oleh ikatan-ikatan lateral, spiral,
atau bagian dari konstruksi lantai. Kekangan horizontal
tersebut harus direncanakan mampu memikul 1,5 kali
komponen horizontal dari gaya yang bekerja pada bagian
tersebut. Ikatan lateral atau spiral, jika digunakan, harus
diletakkan tidak lebih dari 150 mm dari titik bengkokan.
d) Batang tulangan hubungan tersebut harus dibengkokkan
sebelum dipasang dalam acuan.
e) Bila muka kolom mempunyai pergeseran 80 mm atau lebih,
maka tulangan longitudinal tidak boleh dibengkokkan. Dalam
hal ini harus disediakan pasak khusus yang dipasang
menggunakan sambungan lewatan terhadap tulangan longitu-
dinal yang berada di samping sisi kolom dengan bengkokan
tersebut. Sambungan lewatan ini harus memenuhi ketentuan
khusus untuk sambungan pada kolom.

2) Inti baja.
Penyaluran beban dalam struktur inti baja dari komponen struktur
tekan komposit harus dilakukan sebagai berikut:
a) Permukaan ujung komponen baja dari struktur inti baja harus
diratakan secara cermat untuk memungkinkan penyambungan inti
baja secara konsentrik, sehingga pertemuan tersebut mampu
berfungsi sebagai sambungan tumpu.
b) Pada sambungan tumpu tersebut di atas, gaya hanya dapat di
anggap efektif menyalurkan tidak lebih dari 50 persen gaya tekan
total yang bekerja pada komponen inti baja.
c) Penyaluran gaya antara alas kolom dan fondasi harus
direncanakan sesuai dengan ketentuan Butir Penyaluran gaya-
gaya pada dasar kolom, dinding, atau pedestal bertulang.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 81
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

d) Penampang alas kolom struktur baja harus direncanakan mampu


menyalurkan beban total dari seluruh komponen struktur komposit
ke fondasi; atau, penampang alas tersebut boleh juga
direncanakan hanya untuk menyalurkan beban dari inti baja saja,
asalkan luas beton pada penampang komposit tersebut lebih dari
cukup untuk menyalurkan bagian dari beban total yang dipikul
oleh bagian beton bertulang ke fondasi sebagai gaya tekan pada
beton dan tulangan.
I. Sambungan
Pada pertemuan dari komponen-komponen rangka utama (misalnya
pertemuan balok dan kolom), sambungan lewatan tulangan yang menerus
dan pengangkuran tulangan yang berakhir pada pertemuan itu harus
dilindungi dengan pengikat yang baik.
Pengikat pada pertemuan tersebut di atas, dapat berupa beton eksternal
atau sengkang pengikat tertutup internal, spiral atau sengkang.

J. Tulangan Tulangan lateral pada komponen struktur tekan


1) Tulangan lateral pada komponen struktur tekan harus memenuhi
ketentuan pada butir pembahasan sub bab ini, dan pada tempat di
mana dibutuhkan tulangan geser atau torsi juga harus memenuhi
ketentuan tulangan geser.
2) Ketentuan untuk tulangan lateral pada komponen struktur tekan
komposit harus memenuhi butir yang terkait. Ketentuan mengenai
tulangan lateral pada komponen struktur pratekan harus memenuhi
ketentuan yang berlaku.
3) Ketentuan tulangan lateral pada Butir tulangan lateral pada
komponen struktur tekan dan butir peraturan yang terkait boleh tidak
diikuti, jika hasil pengujian dan analisis struktur menunjukkan
kekuatan yang cukup dan konstruksinya dapat dilaksanakan.
4) Spiral.
Tulangan spiral pada komponen struktur tekan harus memenuhi
ketentuan berikut:

ENGINEERING CONSULTANT
E - 82
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

a) komposit tidak boleh kurang dari 0,01 ataupun lebih dari 0,08 kali

luas bruto penampang Ag .


b) Jumlah minimum batang tulangan longitudinal pada komponen
struktur tekan adalah 4 untuk batang tulangan di dalam sengkang
pengikat segi empat atau lingkaran, 3 untuk batang tulangan di
dalam sengkang pengikat segi tiga, dan 6 untuk batang tulangan
yang dilingkupi oleh spiral.
c) Rasio tulangan spiral s tidak boleh kurang dari nilai yang
diberikan oleh persamaan:

Ag f'
s 0,45 1 c
Ac fy

dengan f y adalah kuat leleh tulangan spiral, tapi tidak boleh


diambil lebih dari 400 MPa.
d) Spiral harus terdiri dari batang tulangan yang menerus atau kawat
dengan ukuran yang sedemikian dan dipasang dengan spasi yang
sama sehingga dapat diangkat dan diletakkan tanpa menimbulkan
penyimpangan dari ukuran yang telah direncanakan.
e) Untuk konstruksi yang dicor ditempat, ukuran diameter batang
spiral tidak boleh kurang dari 10 mm.
f) Jarak bersih antar tulangan spiral tidak boleh melebihi 75 mm,
dan juga tidak kurang dari 25 mm.
g) Penjangkaran tulangan atau kawat spiral harus disediakan
dengan memberikan 1 lilitan ekstra pada tiap ujung dari unit
spiral.
Penyambungan spiral harus dilakukan dengan menggunakan salah
satu dari beberapa metode di bawah ini:
a) Sambungan lewatan yang tidak kurang dari pada nilai
terbesar dari 300 mm dan panjang yang dihasilkan dari
salah satu ketentuan-ketentuan berikut ini:
(1) Batang atau kawat ulir tanpa lapisan............48db

ENGINEERING CONSULTANT
E - 83
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

(2) Batang atau kawat polos tanpa lapisan .. ...


72db
(3) Batang atau kawat ulir berlapis
epoksi 72db
(4) Batang atau kawat polos tanpa lapisan dengan
kait standar atau kait pengikat pada ujung-ujung tulangan spiral yang
disambung lewatkan. Kait-kait tersebut harus tertanam di dalam inti beton
yang terkekang oleh tulangan spiral yang dimaksud 48db
(5) Batang atau kawat ulir berlapis epoksi dengan
sengkang atau kait pengikat standar pada ujung-ujung tulangan spiral yang
disambung lewatkan. Kait tersebut harus tertanam di dalam inti beton yang
terkekang oleh tulangan spiral yang dimaksud 48db
b) Sambungan mekanis dan las penuh yang sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
h) Tulangan spiral harus menerus mulai dari puncak fondasi atau
pelat pada setiap tingkat bangunan hingga ketinggian dari
tulangan horizontal terendah dari komponen struktur yang
ditumpu di atasnya.
i) Di mana tidak terdapat balok atau konsol pendek yang menyatu
pada semua sisi kolom, sengkang ikat harus menerus mulai dari
atas pengakhiran spiral hingga batas bawah pelat atau penebalan
panel.
j) Pada kolom dengan kepala kolom, tulangan spiral harus
mencapai ketinggian di mana diameter atau lebar kepala kolom
adalah dua kali diameter atau lebar kolom tersebut
k) Spiral harus diikat dengan baik di tempatnya, dan betul-betul
terletak pada garisnya dengan menggunakan pengatur jarak
vertikal.
l) Untuk batang tulangan atau kawat spiral yang diameternya kurang
dari 16 mm, minimum dibutuhkan dua pengatur jarak untuk
diameter lingkaran spiral kurang dari 500 mm, tiga pengatur jarak

ENGINEERING CONSULTANT
E - 84
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

untuk diameter lingkaran spiral 500 sampai 800 mm, dan empat
pengatur jarak untuk diameter lingkaran spiral lebih dari 800 mm.
5) Sengkang.
Penulangan sengkang untuk komponen struktur tekan harus
memenuhi ketentuan berikut Gambar 4 :
a) Semua batang tulangan non-pratekan harus diikat dengan
sengkang dan sengkang ikat lateral, paling sedikit ukuran D-
10untuk tulangan longitudinal lebih kecil dari D-32, dan paling
tidak D-13 untuk tulangan D-36, D-44, D-56, dan bundel tulangan
longitudinal. Sebagai alternatif boleh juga digunakan kawat ulir
atau jaringan kawat las dengan luas penampang ekivalen.
b) Spasi vertikal sengkang dan sengkang ikat tidak boleh melebihi
16 kali diameter tulangan longitudinal, 48 kali diameter batang
atau kawat sengkang dan kait ikat, atau ukuran terkecil dari
komponen struktur tekan tersebut.
c) Sengkang dan kait ikat harus diatur sedemikian hingga setiap
sudut dan tulangan longitudinal yang berselang harus mempunyai
dukungan lateral yang didapat dari sudut sebuah sengkang atau
kait ikat yang sudut dalamnya tidak lebih dari 135 derajat, dan
tidak boleh ada batang tulangan yang jarak bersihnya lebih dari
150 mm pada tiap sisi sepanjang sengkang atau sengkang ikat
terhadap batang tulangan yang didukung secara lateral. Jika
tulangan longitudinal terletak di sekeliling perimeter suatu
lingkaran, maka sengkang berbentuk lingkaran penuh dapat
dipergunakan.
d) Sengkang dan sengkang ikat di atas fondasi atau lantai pada tiap
tingkat harus diletakkan secara vertikal tidak lebih dari 1/2 jarak
spasi sengkang dan sengkang ikat, sedangkan di bawah tulangan
horizontal terbawah dari panel atau drop panel yang berada di
atas harus berjarak tidak lebih dari 1/2 jarak spasi sengkang.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 85
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Gambar 5.6.Spasi antara tulangan-tulangan longitudinal kolom


150
mm

150
mm maksimum
135 derajat

boleh lebih dari 150


mm

e) Jika terdapat balok atau konsol pendek yang menyatu pada


keempat sisi suatu kolom, sengkang dan kait ikat boleh dihentikan
tidak lebih dari 75 mm di bawah tulangan terbawah dari balok atau
konsol pendek yang paling kecil dimensi vertikalnya.
K. Penulangan lateral untuk komponen struktur lentur
1) Tulangan tekan balok harus diikat dengan sengkang atau kait ikat yang
memenuhi ketentuan ukuran dan jarak spasi atau dengan jaringan
kawat las yang mempunyai luas penampang ekivalen. Sengkang atau
kait ikat tersebut harus disediakan di sepanjang daerah yang
membutuhkan tulangan tekan.
2) Tulangan lateral untuk komponen struktur lentur yang menyatu kedalam
struktur kerangka yang menerima tegangan bolak-balik atau yang
mengalami torsi pada perletakan harus terdiri dari sengkang tertutup,
kait ikat tertutup, atau tulangan spiral yang menerus di sekeliling
tulangan lentur.
3) Sengkang atau kait tertutup boleh dibentuk dalam satu unit dengan
cara menumpang-tindihkan sengkang standar atau ujung kait yang
tertekuk mengelilingi tulangan longitudinal, atau terbuat dari satu atau

ENGINEERING CONSULTANT
E - 86
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

dua unit yang disambung lewatkan dengan sambungan lewatan


sepanjang 1,3ld.

L. Tulangan susut dan suhu


1) Pada pelat struktural di mana tulangan lenturnya terpasang dalam satu
arah saja, harus disediakan tulangan susut dan suhu yang arahnya
tegak lurus terhadap tulangan lentur.
a) Tulangan susut dan suhu harus disediakan berdasarkan
ketentuan pada butir penyaluran tulangan momen negatif atau
butir tulangan ulir yang digunakan sebagai tulangan susut dan
suhu.
b) Bila pergerakan akibat susut dan suhu cukup terkekang, maka
persyaratan pada butir pembebanan
2) Tulangan ulir yang digunakan sebagai tulangan susut dan suhu harus
memenuhi ketentuan berikut:
a) Tulangan susut dan suhu harus paling sedikit memiliki rasio luas
tulangan terhadap luas bruto penampang beton sebagai berikut,
tetapi tidak kurang dari 0,0014:
Pelat yang menggunakan batang tulangan ulir mutu 300
0,0020
Pelat yang menggunakan batang tulangan ulir atau jaring
kawat las (polos atau ulir) mutu 400 0,0018
Pelat yang menggunakan tulangan dengan tegangan leleh
melebihi 400 MPa yang diukur pada regangan leleh sebesar
0,35% 0,0018x400/fy
b) Tulangan susut dan suhu harus dipasang dengan jarak tidak lebih
dari lima kali tebal pelat, atau 500 mm.
c) Bila diperlukan, tulangan susut dan suhu pada semua penampang
harus mampu mengembangkan kuat leleh tarik fy sesuai dengan
ketentuan pada Butir penyaluran dan penyambungan tulangan.
3) Tendon pratekan sesuai butir tendon pratekan yang digunakan sebagai
tulangan susut dan suhu harus mengikuti ketentuan berikut:

ENGINEERING CONSULTANT
E - 87
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

a) Tendon harus diproporsikan untuk memberikan suatu tegangan


tekan rata-rata sebesar 1,0 MPa pada luas penampang beton
bruto dengan menggunakan pratekan efektif, setelah kehilangan
tegangan, sesuai dengan ketentuan butir kehilangan pratekan.
b) Spasi tendon tidak boleh lebih dari 2 m.
c) Bila spasi antar tendon lebih dari 1,4 m, di antara tendon-tendon
yang terletak pada tepi pelat harus disediakan tambahan tulangan
non-pratekan yang memenuhi butir tulangan ulir yang dipasang
sebagai tulagnn suhu dan susut yang dipasang pada daerah dari
tepi pelat sampai sejauh jarak spasi tendon.
4) Hal-hal berikut ini merupakan syarat minimum untuk konstruksi beton
cor setempat:

M. Tulangan khusus untuk integritas struktur


1) Dalam pendetailan penulangan dan sambungan-sambungan,
komponen-komponen struktur harus dihubungkan atau diikat secara
efektif menjadi satu kesatuan untuk meningkatkan integritas struktur
secara menyeluruh.
a) Pada konstruksi balok berusuk, paling tidak terdapat satu batang
tulangan bawah yang menerus atau harus disambung lewat di
atas tumpuan dengan menggunakan teknik sambungan lewatan
tarik sepanjang 1,0ld dan pada tumpuan yang tidak menerus
diangkurkan dengan suatu kait standar.
b) Balok yang berada pada perimeter struktur harus memiliki paling
tidak seperenam dari tulangan tarik yang diperlukan untuk momen
negatif pada tumpuan dan seperempat dari tulangan momen
positif yang diperlukan ditengah bentang diteruskan sekeliling
perimeter dan diikat dengan sengkang tertutup, atau sengkang
yang diangkurkan di sekitar tulangan momen negatif dengan kait
yang memiliki tekukan paling tidak 135 o. Sengkang tidak perlu
diteruskan ke daerah join. Bila diperlukan sambungan lewatan,
kebutuhan kontinuitas dapat diberikan melalui penempatan
sambungan lewatan tulangan atas pada tengah bentang dan

ENGINEERING CONSULTANT
E - 88
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

sambungan lewatan tulangan bawah dekat atau pada tumpuan


dengan sambungan lewatan sepanjang 1,0l d.
c) Pada balok yang bukan balok perimeter, bila tidak menggunakan
sengkang tertutup, paling tidak seperempat dari luas tulangan
bawah harus menerus atau disambung lewat di atas tumpuan
dengan menggunakan teknik sambungan lewatan tarik sepanjang
1,0ld dan pada tumpuan yang tidak menerus diangkur dengan
suatu kait standar.
2) Untuk konstruksi beton pracetak, ikatan tarik harus dipasang pada arah
tegak, memanjang, melintang, dan di sekeliling perimeter struktur, untuk
mengikat elemen-elemen pracetak secara efektif. Dalam hal ini,
ketentuan pada butir inegritas struktur harus dipenuhi.
3) Untuk konstruksi pelat angkat lihat butir detail tulangan tanpa balok dan
butir sistem plat.

5.6.4.5. Pemasangan ruji, batang pengikat dan tulangan pelat


A. Ruji (Dowel)
Ruji harus terbuat dari batang baja polos dan memenuhi spesifikasi untuk
batang polos AASHTO M 31-81, AASHTO M 42-81 atau AASHTO M 31-81.
Ruji harus polos, tidak kasar atau tidak memiliki tonjolan sehingga tidak
mengurangi kebebasan pergerakan ruji dalam beton. Apabila digunakan
topi pelindung muai yang terbuat dari logam (metal expansion cap
pelindung tersebut harus menutupi bagian ujung ruji dengan jarak 5 cm - 7
cm. Pelindung harus memberikan ruang pemuaian yang cukup, dan harus
cukup kaku sehingga pada waktu pelaksanaan tidak rusak.
Batang ruji harus ditempatkan di tengah ketebalan pelat. Kepadatan beton
di sekeliling ruji harus baik agar ruji bisa berfungsi secara sempurna.
Bagian batang ruji yang bisa bergerak bebas, harus dilapisi dengan bahan
pencegah karat. Sesudah bahan pencegah karat kering, maka bagian ini
harus dilapisi dengan dengan cat atau diolesi dengan bahan anti lengket
sebelum ruji dipasang pelindung muai. Ujung batang ruji yang dapat
bergerak bebas harus dilengkapi dengan tupi/penutup topi pelindung muai.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 89
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Pelapis ruji dari jenis plastik atau jenis lain dapat digunakan sebagai
pengganti bahan anti lengket.
Ruji atau batang pengikat dan komponen perlengkapan ruji seperti dudukan
untuk penyangga tulangan, yang diletakkan pada pondasi bawah harus
cukup kuat untuk menahan pergeseran atau deformasi sebelum dan
selama pelaksanaan.

B. Pemasangan dudukan ruji


Dudukan ruji harus ditempatkan pada lapis pondasi bawah atau tanah
dasar yang sudah dipersiapkan. Perlengkapan ruji harus ditempatkan tegak
lurus sumbu jalan, kecuali ditentukan lain pada Gambar Rencana. Ruji
harus ditempatkan dengan kuat pada posisi yang telah ditetapkan sehingga
tekanan beton tidak akan mengganggu kedudukannya. Pada tikungan yang
diperlebar, sambungan memanjang pada sumbu bangunan harus diatur
sedemikian rupa sehingga mempunyai jarak sama dari tepi-tepi pelat.
Susunan batang ruji dan dudukannya harus dipasang pada garis dan
elevasi yang diperlukan dan harus dipegang kuat pada posisinya dengan
menggunakan patok-patok. Apabila susunan batang ruji dan dudukannya
dibuat secara bagian demi bagian maka susunan tersebut harus
merupakan satu kesatuan.
C. Batang pengikat (Tie Bars)
Batang pengikat harus terbuat dari batang baja ulir yang memenuhi
spesifikasi untuk batang tulangan, mutu minimum BJTU-24 dan
berdiameter minimum 16 mm. Apabila digunakan batang pengikat dari jenis
baja lain, maka baja tersebut harus dapat dibengkokkan dan diluruskan
kembali tanpa mengalami kerusakan.
D. Tulangan
Baja tulangan harus bebas dari kotoran, minyak, lemak atau bahan-bahan
organik lainnya yang bisa mengurangi lekatan dengan beton atau yang
dapat menimbulkan kerugian lainnya. Pengaruh karat, kerak, atau
gabungan dari keduanya terhadap ukuran, berat minimum, serta sifat-sifat
fisik yang dihasilkan melalui pengujian benda uji dengan sikat kawat, tidak
memberikan nilai yang lebih kecil dari yang disyaratkan.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 90
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

1) Persyaratan bahan
Jenis baja tulangan dan perlengkapannya harus sesuai dengan
spesifikasi sebagai berikut :
a) Baja tulangan berbentuk anyaman dari kawat yang memenuhi
persyaratan AASHTO M 35-81, atau AASHTO M 221-81 untuk
tulangan dari kawat baja berulir;
b) Anyaman batang baja yang memenuhi AASHTO M 54-81;
c) Batang tulangan harus memenuhi persyaratan AASHTO M 42-81
dan AASHTO M 53-81.
2) Pemasangan tulangan
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada pemasangan tulangan
adalah sebagai berikut :
a) Pada perkerasan beton semen bersambung dengan tulangan,
tulangan harus terdiri atas anyaman kawat di las atau anyaman
batang baja; Lebar dan panjang anyaman kawat atau anyaman
batang baja harus diatur sedemikian rupa, sehingga pada waktu
anyaman tersebut dipasang, kawat/batang baja yang paling luar
terletak 7,5 cm dari tepi/sambungan pelat.
b) Batang-batang baja pada setiap persilangan harus diikat kuat.
Batang-batang baja yang disambung, bagian ujung-ujungnya harus
berimpit dengan panjang tidak kurang dari 30 kali diameternya.
c) Anyaman batang baja yang dibuat di pabrik dengan cara mengelas
pada tiap persilangan batang-batang tersebut, bagian ujung-ujung
batang memanjang harus berimpit dengan panjang minimal 30 kali
diameternya; Pola anyaman harus sedemikian rupa sehingga
batang-batang baja harus mempunyai jarak tidak kurang dari 5 cm.
d) Ujung lembar anyaman kawat baja harus ditumpang tindihkan
sebagaimana yang tercantum pada Gambar Rencana. Lembar
anyaman harus diikat kuat untuk mencegah pergeseran;
e) Apabila pelat (slab) dibuat dengan dua kali mengecor, maka
permukaan lapis pertamaharus rata dan terletak pada kedalaman
tidak kurang dari 5 cm di bawah permukaan akhir pelat. Tulangan
ditempatkan di atas lapis pertama pengecoran; Penghamparan

ENGINEERING CONSULTANT
E - 91
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

lapisan pertama harus mencakup seluruh lebar pengecoran dengan


panjang yang cukup untuk memungkinkan agar anyaman dapat
digelar pada posisi akhir tanpa terjadi kelebihan penulangan yang
terlalu jauh. Untuk mencegah pergeseran, anyaman tulangan yang
berdampingan harus diikat; Dalam pengecoran lapisan berikutnya,
adukan dituangkan di atas tulangan. Untuk jangka waktu tertentu
permukaan beton lapis pertama tidak boleh dibiarkan terbuka lebih
dari 30 menit, terutama pada keadaan cuaca panas atau berangin.
Selama penghamparan pemasangan tulangan harus selalu diperiksa
dan apabila dipandang perlu harus dilakukan perbaikan.
f) Pada perkerasan beton semen menerus dengan tulangan, maka
tulangan harus dipasang sedemikian dengan kedalaman selimut
beton adalah tebal pelat + 2,5 cm dan tulangan melintangnya tidak
boleh terletak di bawah tengah-tengah tebal pelat. Pada beton
dengan penghamparan satu lapis, tulangan harus diletakkan pada
dudukan agar pada saat pengecoran tulangan tersebut dapat
ditahan pada posisi yang telah ditentukan;
Bahaya kerusakan sambungan tulangan pada umur muda dapat dikurangi
dengan cara mengatur pola sambungan secara miring atau bertangga dari
satu tepi perkerasan ketepi lainnya seperti terlihat pada Gambar 5.
Batang baja yang disambung, bagian ujungnya harus berimpit satu sama
lainnya dengan panjang minimum 30 kali diameternya, tetapi tidak boleh
kurang dari 40 cm.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 92
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Gambar 5.7. Pola Sambungan

5.6.4.6. Prosedur Pengawasan Pekerjaan Pembetonan


Beton yang dihasilkan harus memenuhi kekuatan sesuai dengan yang ditentukan
dalam perencanaan. Kandungan udara harus masih dalam batas yang dianjurkan
sesuai dengan ukuran agregat dan daerah di mana beton akan digunakan. Beton
harus mempunyai faktor air semen yang tidak lebih besar dari yang dianjurkan
untuk mengatasi kondisi lingkungan yang mungkin terjadi.
A. Sifat-sifat beton semen
Campuran beton yang dibuat untuk perkerasan beton semen harus memiliki
kelecakan yang baik agar memberikan kemudahan dalam pengerjaaan tanpa
terjadi segregasi atau bliding dan setelah beton mengeras memenuhi kriteria
kekuatan, keawetan, kedap air dan keselamatan berkendaraan.
a) kadar air dan kandungan udara;

ENGINEERING CONSULTANT
E - 93
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Kadar air harus dijaga serendah mungkin (dalam batas kemudahan kerja) untuk
mendapatkan beton yang padat dan awet dengan kandungan udara yang sesuai
dengan persyaratan.
b) mutu agregat;
Untuk mendapatkan kualitas beton yang diinginkan mutu agregat harus tetap
dijaga.
c) bahan tambah (Admixtures);
Bahan tambah baru boleh digunakan hanya apabila sudah dilakukan penilaian
dan pengujian lapangan yang teliti.
d) kekesatan.
Faktor air semen yang rendah sangat membantu dalam mempertahankan
kekesatan permukaan perkerasan beton.
B. Bahan beton semen
a) Sumber bahan
Bahan yang digunakan harus berasal dari sumber yang telah diketahui dan
dibuktikan telah memenuhi persyaratan dan ketentuan dalam pedoman ini, baik
mutu maupun jumlahnya. Bila kondisi setempat tidak memungkinkan, maka dapat
dilakukan perubahan/penyesuaian terhadap persyaratan tersebut tanpa
mengurangi mutu hasil pekerjaan.
b) Agregat
Persyaratan mutu
Agregat yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a) mutu agregat sesuai SK SNI S-04-1989-F;
b) ukuran maksimum agregat harus 1/3 tebal pelat atau jarak bersih
minimum antar tulangan.
Cara pengelolaan
agregat harus dikelola untuk mencegah pemisahan butir, penurunan mutu,
pengotoran atau pencampuran antar fraksi dari jenis yang berbeda. Bila
bahan mengalami pemisahan butir, penurunan mutu atau pengotoran, maka
sebelum digunakan harus diperbaiki dengan cara pencampuran dan
penyaringan ulang, pencucian atau cara-cara lainnya
agregat harus dibentuk lapis demi lapis dengan ketebalan maksimum 1,0 m.
Masing-masing lapis agar ditumpuk dan dibentuk sedemikian rupa dan

ENGINEERING CONSULTANT
E - 94
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

penumpukan lapisan berikutnya dilakukan setelah lapisan sebelumnya selesai


dan dijaga agar tidak membentuk kerucut
agregat yang berbeda sumber dan ukuran serta gradasinya tidak boleh di
satukan
semua agregat yang dicuci harus didiamkan terlebih dahulu minimum 12 jam
sebelum digunakan
waktu penumpukan lebih dari 12 jam harus dilakukan untuk agregat yang
berkadar air tinggi atau kadar air yang tidak seragam
pada waktu agregat dimasukkan ke dalam mesin pengaduk, agregat tersebut
harus mempunyai kadar air yang seragam
agregat halus/pasir harus diperiksa kadar airnya. Volume agregat yang
mempunyai kadar air bervariasi lebih dari 5%, harus dikoreksi. Pada
penakaran dengan berat, banyaknya agregat setiap fraksi harus ditimbang
terpisah. Agregat harus diperiksa kadar airnya, berat agregat yang mempunyai
kadar air bervariasi lebih dari 3% harus dikoreksi.
Semen
Semen yang akan digunakan untuk pekerjaan beton semen harus sesuai
dengan SNI 15-2049-1994. Semen harus dipilih dan diperhatikaan sesuai
lingkungan dimana perkerasan digunakan serta kekuatan awalnya harus cukup
untuk pemotongan sambungan dan ketahanan abrasi permukaan.
Cara penyimpanan semen harus mengikuti ketentuan sebagai berikut :
i. semen disimpan di ruangan yang kering dan tertutup rapat
ii. semen ditumpuk dengan jarak setinggi minimum 0,30 meter dari lantai
ruangan, tidak menempel /melekat pada dinding ruangan dan
maksimum setinggi 10 zak semen
iii. tumpukan zak semen disusun sedemikian rupa sehingga tidak terjadi
perputaran udara di antaranya dan mudah untuk diperiksa
iv. semen dari berbagai jenis/merk harus disimpan secara terpisah
sehingga tidak mungkin tertukar dengan jenis/merek yang lain
v. semen yang baru datang tidak boleh ditimbun di atas timbunan semen
yang sudah ada dan penggunaannya harus dilakukan menurut urutan
pengiriman

ENGINEERING CONSULTANT
E - 95
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

vi. apabila mutu semen diragukan atau telah disimpan lebih dari 2 bulan
maka sebelum digunakan harus diperiksa terlebih dahulu bahwa semen
tersebut memenuhi syarat
vii. pada penggunaan semen curah, suhu semen harus kurang dari 70 0 C
Semen produksi pabrik dalam kantong yang telah diketahui beratnya tidak
perlu ditimbang ulang. Semua semen curah harus diukur dalam berat.

Gambar 5.8.. Gudang Penyimpanan Semen


Air
Air yang digunakan untuk campuran atau perawatan harus bersih dan bebas
dari minyak, garam, asam, bahan nabati, lanau, lumpur atau bahan-bahan lain
yang dalam jumlah tertentu dapat membahayakan. Air harus berasal dari
sumber yang telah terbukti baik dan memenuhi persyaratan sesuai SK SNI S-
04-1989-F.
Air harus diukur dalam volume atau berat dengan alat ukur yang mempunyai
akurasi 2%.
Akurasi alat ukur harus diperiksa setiap hari.
Bahan tambah (Admixtures)
Penggunaan bahan tambah dapat dilakukan untuk maksud :
i. kemudahan pekerjaan (workability) yang lebih tinggi, atau

ENGINEERING CONSULTANT
E - 96
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ii. pengikatan beton yang lebih cepat, agar penyelesaian akhir (finishing),
pembukaan acuan dan pembukaan jalur lalu-lintas dapat dipercepat,
atau
iii. pengikatan yang lebih lambat, misalnya pada pembetonan yang lebih
jauh
Proporsi bahan tambah dalam campuran harus didasarkan atas hasil
percobaan.
Setiap bahan tambah yang digunakan harus memenuhi spesifikasi sebagai
berikut :
a) SNI 03-2495 1991 Bahan tambah untuk beton;
b) SNI 03-2496-1991 Spesifikasi bahan tambah pembentukan gelembung
udara;
c) ASTM C-618 Spesifikasi untuk Fly Ash atau Calcined Natural Pozzolan
yang digunakan dalam Beton Semen Portland;
d) AASHTO M 144-78 Spesifikasi untuk Calcium Chloride.

Beberapa jenis bahan tambah dan kegunaannya seperti diperlihatkan pada Tabel
5.8.
Tabel 5.8 Jenis dan kegunaan bahan tambah
No Jenis Kegunaan Maksud
1 Air Entrainment Kemudahan pengerjaan Memasukkan gelembung
kedap air dan keawetan. udara (0,03 -
0,08 mm) secara merata ke
dalam beton.
2 Water Reducer Mempertahankan slump Mengurangi penggunaan air
dan kemudahan dan semen.
pengerjaan
3 Retarder Menyesuaikan waktu Memperlambat waktu
pelaksanaan pembetonan. pengikatan.
4 Accelerator Kuat awal tinggi dalam Mempercepat waktu
waktu relatip singkat. pengikatan.
Tidak boleh digunakan
bersamaan dengan Air
Entrainment.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 97
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

No Jenis Kegunaan Maksud


Sering mengandung
Calcium
Chlorida yang
menimbulkan korosi dan
reaksi alkali-agregat.
Catatan :
Lebih aman bila digunakan
:
- Semen kuat awal tinggi.
- Beton mutu tinggi.
- Pemanasan uap.
5 Plasticizer Meningkatkan kemudahan Bila proporsi campuran dan
dan mutu pengerjaan bentuk agregat kurang baik,
(workability). adukan kurang workable.
Bila jarak tulangan rapat.
6 Lain-lain Pozolan Mengendalikan suhu Beton masif (mutu dan cara uji
dalam beton dan semen
mencegah reaksi alkali- pozolan sesuai dengan SII
agregat. 0132-75).

C. Penentuan proporsi campuran beton semen


Penentuan proporsi campuran awal diperoleh berdasarkan perhitungan rancangan
dan percobaan campuran di laboratorium. Proporsi rencana campuran akhir harus
didasarkan pada percobaan penakaran skala penuh pada awal pekerjaan.
Apabila ketentuan kadar semen minimum diterapkan, maka disarankan untuk
menggunakan semen minimum 335 kg/m3, kecuali bila pengalaman setempat
menunjukkan bahwa nilai tersebut dapat diturunkan.
Disarankan kuat tarik lentur beton yang ditentukan untuk tujuan perencanaan dan
keawetan pada umur 28 hari tidak boleh lebih kecil dari 4 MPa (40 kg/cm 2).
Bila dalam perencanaan dimasukkan parameter lain dari beton, maka kebutuhan
semen per m3 beton berdasarkan metoda semen minimum, harus dinaikkan atau
diturunkan berdasarkan pengalaman. Dalam hal apapun kadar semen tidak boleh
lebih kecil dari 280 kg/m3

ENGINEERING CONSULTANT
E - 98
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

D. Pengadukan beton semen


Unit penakaran (Batching Plant)
Unit penakaran terdiri atas bak-bak atau ruangan-ruangan terpisah untuk
setiap fraksi agregat dan semen curah. Alat ini harus dilengkapi dengan bak
penimbang (weighting hoppers), timbangan (scales) dan pengontrol takaran
(batching controls).
Semen curah harus ditimbang pada bak penimbang yang terpisah, dan
tidak boleh ditimbang kumulatif dengan agregat.
Timbangan harus cukup mampu untuk menimbang bahan satu adukan
dengan sekali menimbang.
Alat penimbang harus dapat menimbang semua bahan secara teliti.
Ketelitian timbangan harus diperiksa sebelum digunakan dan secara
berkala selama
pelaksanaan.
Pengukuran dan penanganan bahan
Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
a) semen curah maupun semen kemasan dapat digunakan, asalkan
menggunakan cara penakaran yang sama. Semen yang berbeda
merek tidak boleh digunakan pada pencampuran yang bersamaan.
Semen harus ditimbang dengan penyimpangan maksimum 1%.
Apabila digunakan semen kemasan, maka jumlah semen dalam satu
adukan beton harus merupakan bilangan bulat dalam zak;
b) agregat ditimbang dengan penyimpangan maksimum 2 %;
c) air pencampur dapat ditakar berdasarkan volume atau berat.
Toleransi penakaran maksimum 1%;
d) bahan tambah yang digunakan harus dicampur ke dalam air sebelum
dituangkan ke dalam mesin pengaduk. Bahan tambah dapat ditakar
dalam berat atau volume, dengan toleransi penakaran maksimum 3%.
Bila digunakan bahan tambah pembentuk udara (air entraining
admixture) bersamaan dengan bahan kimia, maka masing-masing
bahan tambah harus ditakar dan ditambahkan kedalam adukan
secara terpisah;

ENGINEERING CONSULTANT
E - 99
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

e) abu terbang (fly ash) atau pozolan lainnya harus ditakar dalam berat
dengan batas ketelitian 3 %.
Cara pengadukan beton semen
Pengadukan beton semen merupakan bagian paling penting dari tahapan-
tahapan, harus menghasilkan beton semen yang homogen, seragam dan
ekonomis. Untuk memperoleh hasil yang seperti itu, pemilihan tipe alat dan
pengoperasiannya harus dilakukan secara tepat, demikian juga
penempatan alat pengaduk dan material bahan campuran beton.
Bahan tambah yang berupa cairan harus dicampur ke dalam air sebelum
dituangkan ke dalam mesin pengaduk. Seluruh air campuran harus sudah
dimasukkan ke dalam mesin pengaduk sebelum seperempat masa
pengadukan selesai.
Lama waktu pencampuran (mixing time) yang diperlukan ditetapkan dari
hasil percobaan campuran. Waktu pencampuran tidak boleh kurang dari 75
detik, kecuali ada data untuk mencampur minimum 60 detik.
Apabila digunakan beton siap campur (Ready-mixed Concrete),
pelaksanaan pencampuran beton harus sesuai dengan persyaratan Pd. S-
02-1996-03.
a) Cara masinal
Dalam mengerjakan pengadukan beton sebaiknya digunakan peralatan
yang telah memenuhi semua persyaratan yang bisa dikendalikan secara
otomatis, baik dalam hal penimbangan atau penakaran material maupun
pengadukannya.
Mesin pengaduk harus dilengkapi dengan petunjuk dari pabrik yang
menyatakan kapasitas dan jumlah putaran per menit yang dianjurkan.
b) Cara semi masinal
Apabila cara masinal tidak bisa dilaksanakan sepenuhnya, pengadukan
beton dapat dikerjakan dengan cara semi masinal, yaitu dengan
peralatan atau mesin yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan secara
otomatis (beton molen). Kondisi pelaksanaan seperti ini harus disertai
dengan pengawasan yang lebih baik.
c) Cara manual

ENGINEERING CONSULTANT
E - 100
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Untuk pekerjaan bagian-bagian tertentu dengan jumlah kecil atau dalam


hal kondisi darurat, pengadukan dengan tangan (hand mixing)
menggunakan sekop dan cangkul boleh dilakukan.
E. Pengangkutan adukan beton
Pengangkutan adukan beton ke lokasi pengecoran dapat menggunakan
antara lain : tipping trucks, truck mixers atau agitators, sesuai dengan
pertimbangan ekonomis dan jumlahnya beton yang diangkut. Pengangkutan
harus dapat menjaga campuran beton tetap homogen, tidak segregasi, dan
tidak menyebabkan perubahan konsistensi beton.
Apabila beton diangkut dengan peralatan yang tidak bergerak (non-agitating),
rentang waktu terhitung mulai semen dimasukkan ke dalam mesin pengaduk
hingga selesai pengangkutan ke lokasi tidak boleh melebihi 45 menit untuk
beton normal dan tidak boleh melebihi 30 menit.
untuk beton yang memiliki sifat mengeras lebih cepat atau temperatur beton
30 C. Apabila digunakan truck mixers atau truck agitators, rentang waktu
pengangkutan dapat diijinkan hingga 60 menit untuk beton normal tetapi harus
lebih pendek lagi jika untuk beton yang mengeras lebih cepat atau temperatur
beton 30 C.

F. Pengecoran, penghamparan, dan pemadatan


Pengecoran
Pengecoran beton harus dilakukan secara hati-hati agar tidak terjadi
segregasi. Tinggi jatuh adukan beton harus diperhatikan antara 0,90 m
1,50 m tergantung dari konsistensi adukan.
Apabila dalam pengecoran digunakan mesin pengaduk di tempat,
penuangan adukan beton dapat dilakukan menggunakan baket (bucket)
dan talang. Untuk beton tanpa tulangan adukan beton dapat dituangkan di
atas permukaan yang telah disiapkan di depan mesin penghampar. Harus
diusahakan agar penumpahan adukan beton dari satu adukan ke adukan
berikutnya berlangsung secara berkesinambungan sebelum terjadi
pengikatan akhir (final setting).
Pengecoran pada cuaca panas

ENGINEERING CONSULTANT
E - 101
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Bila pelaksanaan perkerasan dilakukan pada cuaca panas dan bila


temperatur beton basah (fresh concrete) di atas 24 0 C, pencegahan
penguapan harus dilakukan. Air harus dilindungi dari panas sinar matahari,
dengan cara melakukan pengecatan tanki air dengan warna putih dan
mengubur pipa penyaluran atau dengan cara lain yang sesuai. Temperatur
agregat kasar diturunkan dengan menyemprotkan air. Pengecoran beton
harus dihentikan bila temperatur beton pada saat dituangkan lebih dari 32 0
C.
Kehilangan kadar air yang cepat dari permukaan perkerasan akan
menghasilkan kekakuan yang lebih awal dan mengurangi waktu yang
tersedia untuk menyelesaikan pekerjaan akhir.
Dalam keadaan seperti ini tidak diperbolehkan menambahkan air ke
permukaan pelat. Pada kondisi yang sangat terpaksa berkurangnya kadar
air bisa diimbangi dengan melakukan pengkabutan.
Penghamparan
Ada dua metoda penghamparan beton semen.
a) metoda menerus;
Pada metoda ini beton dicor secara menerus. Sambungan-sambungan
melintang dapat dibuat ketika beton masih basah atau dengan cara
digergaji sebelum retak susut terjadi.
b) metoda panel-berselang.
Pada metoda ini beton dicor dengan sistem panel-panel berselang.
Panel-panel yang kosong di antara panel-panel yang sudah dicor,
pengecorannya dikerjakan setelah 4 7 hari berikutnya.
Pada pekerjaan besar harus disediakan penghampar jenis dayung
(paddle) atau ulir (auger), atau ban berjalan, maupun jenis wadah
(hopper) dan ulir, kecuali apabila digunakan penghampar acuan
gelincir. Pada mesin penghampar acuan gelincir, peralatan penghampar
biasanya sudah menyatu. Semua peralatan harus dioperasikan secara
seksama. Pada pekerjaan yang lebih kecil, penghamparan dapat
dilakukan dengan cara manual.
Beton harus dihampar dengan ketebalan yang sesuai dengan tipe dan
kapasitas alat pemadat.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 102
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Apabila perkerasan beton menggunakan tulangan, pemasangan


tulangan harus diperkuat oleh dudukan kemudian beton dicor dan
dipadatkan dari atas.
Pemadatan
Adukan beton harus dipadatkan dengan sebaik-baiknya. Ada dua metoda
untuk memadatkan beton yaitu : pemadatan dengan tangan dan
pemadatan dengan getaran.
a) pemadatan dengan tangan (hand tamping);
Alat ini biasanya digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan kecil. Alat ini
dapat dibuat dari balok kayu berukuran 22,5 x 7,5 mm 2 dengan panjang
sesuai lebar jalur yang dicor.
Bagian bawah tepi balok kayu diperkuat dengan pelat besi tebal 5 mm
seperti diperlihatkan pada Gambar 5.9.
Untuk memadatkan beton, mula-mula alat ini dipasang mendatar di
atas permukaan beton, kemudian diangkat dan dijatuhkan secara
berulang-ulang. Setelah pemadatan selesai, alat ini bisa sekaligus
dipakai untuk meratakan dan merapikan permukaan beton.

Gambar 5.9. Tipikal Alat Pemadat Tangan (Hand Tamping)


b) pemadatan dengan getaran yang dioperasikan dengan tangan (Hand-
operated vibrating beam).
Alat ini berupa balok yang bertumpu di atas acuan-acuan samping.
Kepadatan beton
dicapai dengan menggetarkan satu unit balok penggetar yang
dioperasikan secara

ENGINEERING CONSULTANT
E - 103
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

manual seperti diperlihatkan pada Gambar 5.10.


Sebagai tambahan untuk pemadatan bagian-bagian tepi atau sudut,
dapat digunakan
alat pemadat yang dibenamkan ke dalam beton (immersion vibrator).
Pemadatan beton
harus dihentikan sebelum terjadi bliding (bleeding) pada permukaan
beton, dan harus
sudah selesai sebelum pengikatan awal terjadi.
Untuk daerah di sekitar ruji dan dudukan, pada tepi-tepi dan sudut-sudut
sekitar fasilitas
drainase, dan pada pelat-pelat tidak beraturan, pada jalan masuk dan
persimpangan,
diperlukan penanganan khusus untuk mencapai kepadatan yang baik.

Gambar 5.10.Pemadatan dengan getaran yang dioperasikan dengan tangan


(Hand Operated Vibrating Beam)

5.6.4.7. Prosedur Perlindungan dan Perawatan Beton


A. Perlindungan
Setelah beton dicor dan dipadatkan, hingga berumur beberapa hari, beton
harus dilindungi terhadap kerusakan yang disebabkan oleh faktor
lingkungan.
a) pencegahan retak susut plastis;

ENGINEERING CONSULTANT
E - 104
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Retak susut plastis adalah retak yang terjadi pada permukaan beton
basah dan pada saat masih plastis.
Penyebab utama dari retak tipe ini adalah pengeringan permukaan beton
yang terlalu cepat yang dipengaruhi oleh kelembaban relatif, temperatur
beton dan udara serta kecepatan angin.
Tingkat penguapan akan sangat tinggi bila kelembaban relatif kecil,
temperatur beton lebih tinggi dari temperatur udara, dan bila angin
bertiup pada permukaan beton.
Bilamana terjadi kombinasi panas, cuaca kering dan angin yang kencang
akan mengakibatkan hilangnya kelembaban yang lebih cepat
dibandingkan dengan pengisian kembali rongga oleh proses aliran air.
Pengeringan yang cepat juga terjadi pada cuaca dingin, jika temperatur
beton pada saat pengecoran adalah lebih tinggi dari pada temperatur
udara.
Jika laju penguapan air lebih dari 1,0 kg/m 2 per jam, pencegahan harus
dilakukan untuk menghindari terjadinya retak susut plastis. Besarnya laju
penguapan dapat diestimasi dengan menggunakan nomogram seperti
diperlihatkan pada Gambar 5.11.
Prosedur untuk meminimalkan retak akibat susut plastis :
buat pelindung angin untuk mengurangi pengaruh angin dan atau
sinar matahari terhadap permukaan beton semen
kendalikan perbedaan temperatur yang berlebihan antara beton
dan udara baik cuaca panas maupun dingin
hindari keterlambatan penyelesaian akhir setelah pengecoran
beton
rencanakan waktu antara pengecoran dan permulaan perawatan
dengan memperhatikan prosedur pelaksanaan, apabila terjadi
keterlambatan, lindungi beton dengan penutup sementara
lindungi beton selama beberapa jam pertama setelah pengecoran
dan pembuatan tekstur permukaan untuk meminimalkan
penguapan
b) perlindungan terhadap hujan;

ENGINEERING CONSULTANT
E - 105
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Untuk melindungi beton belum berusia 12 jam, harus ditutup dengan


bahan seperti plastik, terpal atau bahan lain yang sesuai.
c) perlindungan terhadap kerusakan permukaan.
Perkerasan harus dilindungi terhadap lalu-lintas umum dan proyek,
dengan pemasangan rambu lalu-lintas, penerangan lampu, penghalang,
dan lain sebagainya.

Gambar 5.11. Nomogram penentuan besar laju penguapan

B. Perawatan
Perawatan perlu dilakukan dengan seksama karena sangat menentukan
mutu akhir beton.
Setelah pelaksanaan akhir dan pengteksturan seluruh permukaan beton
harus dirawat.
Salah satu perawatan yang baik adalah dengan cara penyemprotan bahan
larutan yang sesuai, seperti pigmen putih (white-pigmented), bahan dasar
resin (resin-based) atau bahan dasar karet klorinat (chlorinated-rubber-
base), selaput kompon yang sesuai dengan ASTM C309. Kompon harus

ENGINEERING CONSULTANT
E - 106
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

disemprotkan dengan jumlah 0,3 ltr/m2 (3,75 m2/ltr) untuk tebal pelat 12,5
cm dan 0,2 ltr/m2 (2,5 m2/ltr) untuk tebal pelat < 12,5 cm.
Bidang-bidang tepi perkerasan harus segera dilapisi paling lambat 60 menit
setelah acuan dibongkar. Apabila pada masa perawatan terjadi kerusakan
lapisan perawatan, maka lapisan perawatan tersebut harus segera
diperbaiki.
Metoda perawatan yang lain seperti dengan lembaran plastik putih dapat
dilakukan bilamana perawatan dengan selaput kompon tidak
memungkinkan.
Penempatan lembaran plastik putih harus dilaksanakan pada saat
permukaan beton masih basah. Jika permukaan terlihat kering sebelum
beton mengeras, harus dibasahi dengan cara pengkabutan sebelum
lembaran plastik tersebut dipasang. Sambungan lembaran penutup harus
dipasang tumpang tindih selebar 50 cm dan harus dibebani sedemikian
rupa sehingga tetap lekat dengan permukaan perkerasan beton. Lembaran
penutup harus dilebihkan pada tepi perkerasan beton dengan lebar yang
cukup sehingga dapat menutup sisi samping dari permukaan pelat beton
setelah acuan samping dibuka. Lembaran tersebut hendaknya masih
berada pada tempatnya selama waktu perawatan.
Penggunaan karung goni yang lembab untuk menutup permukaan beton
dapat dipergunakan, lembar penutup harus diletakkan sedemikian rupa
sehingga menempel pada permukaan beton, tetapi tidak boleh diletakkan
sebelum beton cukup mengeras guna mencegah pelekatan. Penutup harus
dipertahankan dalam keadaan basah dan pada tempatnya selama minimal
7 hari.

C. Kelandaian yang curam


Pada kelandaian yang curam (> 6%) diperlukan alur yang lebih dalam
untuk memberikan kekesatan yang lebih tinggi.
Prosedur pelaksanaan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a) arah penghamparan perkerasan harus selalu dimulai dari bagian yang
rendah;

ENGINEERING CONSULTANT
E - 107
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

b) pada sambungan melintang lidah alur, balok pembuat alur harus


dipasang pada acuan tepi atas dari panel bagian bawah. Balok pembuat
alur terlebih dahulu harus dicabut sebelum panel atasnya dicor, untuk
mendapatkan sambungan yang kuat;
c) harus dibuat angker panel (Gambar 12) dan angker blok (Gambar 13)
sesuai keperluan;
d) kelecakan dari campuran beton harus disesuaikan dengan kemiringan
untuk mengurangi campuran beton mengalir kebawah selama
pemadatan.
Penggunaan adukan beton yang kental memerlukan balok penggetar untuk
memadatkannya, atau dengan menggunakan pemadat tangan, namun
memerlukan usaha yang lebih keras.
Penggunaan metoda panel berselang memungkinkan aliran beton bisa
terjadi yang akan menyebabkan naiknya ketinggian pada sambungan
dengan pelat sebelumnya. Hal ini bisa diatasi dengan melakukan perataan
kembali dari beton yang masih plastis disekitar sambungan dalam waktu 30
menit sejak penyelesasian akhir.

Gambar 5.12. Angker panel Gambar 5.13. Angker blok

5.6.4.8. Prosedur Pengendalian Mutu


A. Kegiatan pengontrolan yang harus dilakukan selama pelaksanaan
Hal-hal utama yang harus dilakukan dalam pengawasan selama
pelaksanaan perkerasan beton semen sebagai berikut :
a) pekerjaan awal;
mempelajari gambar rencana dan spesifikasi

ENGINEERING CONSULTANT
E - 108
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

pemahaman lebih dalam terhadap lokasi proyek, lajur dan


kemiringan
peralatan dan Organisasi Kontraktor
penentuan tugas dan tanggung jawab
menentukan pengujian, pencacatan dan laporan yang diperlukan
peralatan dan fasilitas untuk pemeriksaan, pengujian dan
pengendalian
b) bahan;
Semua bahan harus diidentifikasi mengenai sumber, jumlah dan
kesesuaian dengan persyaratan, penanganan, penimbangan dan
pembuangan bahan yang ditolak. Bahan tersebut meliputi :
semen
agregat
air
bahan tambah
tulangan, ruji, dan bahan pengikat
material perawatan beton
bahan sambungan
c) perbandingan campuran;
pengujian agregat meliputi : gradasi, berat jenis, penyerapan, kadar
lempung
data perencanaan campuran meliputi : kadar semen, proporsi
agregat, air, rongga udara, kelecakan dan kekuatan
volume takaran meliputi : ukuran takaran, berat material dalam
takaran dan koreksi kadar air agregat
d) unit penakar / penimbang meliputi;
pemeriksaan peralatan untuk menimbang dan mengukur : semen,
agregat, air dan bahan tambah
pemeriksaan peralatan untuk penanganan material, pengangkutan
dan skala timbangan
e) unit pencampur ;

ENGINEERING CONSULTANT
E - 109
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Pemeriksaan peralatan pencampur, lama waktu pencampuran, alat


pengatur waktu dan penghitungan jumlah takaran sebelum pengecoran
beton semen ;
acuan : kecocokan acuan, alinemen, kemiringan dan ruji
tanah dasar : kerataan, pemeriksaan permukaan akhir dan kadar
air
sambungan muai : bahan sambungan, lokasi, alinemen, dudukan
dan ruji
f) pembetonan ;
persiapan : bahan, perlengkapan peralatan, tenaga kerja dan
bahan pelindung cuaca
pencampuran : jenis peralatan, konsistensi, kadar udara,
pemisahan butir (segregasi) dan keterlambatan
pengangkutan : batas waktu, pengecekan pemisahan butir dan
perubahan konsistensi
pengecoran : penempatan adukan, pemisahan butir, tinggi jatuh,
penyebaran, pemadatan, penggetaran, penempatan sambungan
dan pemeriksaan sambungan
penyelesaian akhir : melintang dan memanjang, kelurusan dan
kerataan, lingkungan, pengteksturan dan perapihan tepi
pembentukan sambungan susut : pembentukan sambungan,
alinemen, perapihan tepi dan pemeriksaan permukaan sambungan
g) setelah pembetonan ;
waktu pembongkaran acuan : kerusakan agar dihindari
perawatan : metoda, peralatan dan bahan, keseragaman, waktu
mulai perawatan dan lama waktu perawatan
perlindungan : beton basah, hujan, lalu-lintas, cuaca dingin, cuaca
panas dan pencatatan temperatur
sambungan yang digergaji : peralatan, waktu penggergajian dan
pelebaran bagian atas pada sambungan
penutup sambungan : peralatan, temperatur, bahan penutup,
pembersihan sambungan dan penutupan

ENGINEERING CONSULTANT
E - 110
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

pemeriksaan permukaan : kelurusan dan kerataan, perbaikan atau


penggantian
h) pengujian beton semen.
campuran beton basah : pengujian kelecakan (dengan slump) dan
kadar udara.
pengujian kekuatan : pengambilan contoh, pembuatan benda uji,
penyimpanan dan perawatan benda uji, pengujian kuat tekan,
pengujian kuat tarik lentur, pengambilan contoh inti dan
penggergajian perkerasan untuk pengujian kuat tarik lentur.
B. Toleransi penyimpangan
a) kerataan permukaan baik melintang atau memanjang;
Penyimpangan kerataan permukaan, dari garis lurus bisa ditentukan
dengan menggunakan mistar perata (straight edge) dengan panjang 3
meter. Toleransi permukaan pada jalan dengan volume lalu lintas
ringan untuk jalan perkotaan dengan kecepatan rendah ialah 6 mm,
sedangkan untuk kecepatan tinggi 3 mm dengan menggunakan mistar
perata 3 meter.
b) ketebalan.
Perkerasan beton harus dilaksanakan sesuai tebal yang diinginkan.
Jika dipandang perlu untuk menentukan ketebalan perkerasan setelah
penghamparan, bisa dilakukan dengan mengukur contoh inti ( core
drill) dari perkerasan. Satu bor inti harus diambil dari setiap 140 m 2
perkerasan yang dihamparkan pada setiap lajur. Masing masing hasil
pengeboran harus diukur sesuai dengan ASTM C 174. Penerimaan
pekerjaan harus didasarkan pada hasil pengujian contoh inti yang
diambil dari pekerjaan yang telah selesai.
Bilamana hasil pengukuran bor inti meragukan diperlukan dua contoh
inti tambahan yang diambil dengan jarak 10 meter (satu sebelumnya
dan satu lagi sesudahnya) dari lokasi pengambilan bor inti yang
pertama, lubang bekas pengeboran harus ditutup kembali dengan
sempurna. Pertimbangan yang diperlukan sebagai dasar penerimaan
pekerjaan sehubungan dengan toleransi tebal, sesuai dengan
spesifikasi yang berlaku.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 111
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

5.6.5. Pasangan Batu


a. Umum
Pasangan batu akan digunakan dalam pembangunan berbagai
bangunan dan pendukungnya yang mencakup namun tidak terbatas
kepada, bangunan hidraulik, pelapis saluran dan bangunan pelindung,
saluran drainase, dinding penahan (retaining walls), penahan lereng,
pondasi untuk bangunan, pembatas jalan, dan lain sebagainya. Semua
pekerjaan pasangan batu harus dilaksanakan berdasarkan persyaratan
yang tersebut dalam bab ini, dan juga kepada persyaratan garis, level,
gradasi dan dimensi sebagaimana yang ditentukan dalam Gambar
maupun yang disyaratkan oleh Direksi.
Bahan dan metode konstruksi untuk pasangan batu harus memenuhi
standar yang disebutkan dalam bab Spesifrkasi Umum. Peraturan
Indonesia yang berlaku untuk material adalah PUBI-1982 (Peraturan
Umum Baran Bangunan di Indonesia). Selain itu spesifikasi juga harus
mengacu kepada Standar Perencanaan Irigasi yang diterbitkan oleh
Dirjen Pengairan, Departemen Pemukiman dan Pengembangan
Prasarana Wilayah, Republik Indonesia.
b. Material Pasangan Batu
Material yang harus digunakan dalam pasangan batu adalah sebagai
berikut :
1. Batu
Batu pasangan berasal batuan sungai maupun hasil pemecahan
sebagaimana yang disetujuil oleh Direksi, tidak saling melekat satu
sama lainnya dan tidak memiliki cacat lainnya.
Batu harus memiliki spesific gravity tidak kurang dari 2,5.
Batu pasangan harus terdiri dari ukuran yang beragam, dipasang
dengan batuan pemukulan dengan palu sehinggga saling berdekatan
dan tidak ada siar besar diantaranya. Setiap batu harus memiliki berat
antara 6 hingga 25 kg. Batu yang lebih kecil dapat digunakan, namun
harus memperoleh persetujuan dari Direksi terlebih dahulu. Ukuran
maksimum batu harus dibatasi hingga 2/3 ketebalan plat atau dinding

ENGINEERING CONSULTANT
E - 112
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

yang akan dibangun, atau tidak boleh lebih besar dari pada 30 cm.
Kecuali diijinkan oleh Direksi, penggunaan batu bulat, hanya diijinkan
dalam jumlah yang terbatas dengan pencampuran dengan batu
bersudut, dan tidak boleh digunakan untuk dinding dengan ketebalan
kurang dari 40 cm.
Batu pasangan yang disimpan di lokasi proyek harus dijaga agar pada
saat akan dipasang berada dalam keadaan basah.
1. Adukan semen untuk perekat
Adukan semen untuk perekat pasangan batu harus terdiri dari
campuran semen Portland dan agregat/pasir halus yang sesuai
dengan persyaratan bahan. Tiga jenis adukan yang akan digunakan
sebagaimana tercantum dalam gambar maupun atas arahan
Direksi, adalah seperti berikut :
- 1 bagian semen dengan 2 bagian agregat/pasir halus untuk
bangunan berkekuatan tinggi,
- 1 bagian semen dengan 3 bagian agregat/pasir halus untuk
pasangan batu yang terkena aliran air,
- 1 bagian semen dengan 4 bagian agregat/pasir halus untuk
pasangan batu pondasi dan bangunan yang tidak terkena
aliran air.

Adukan harus dicampur dengan air secukupnya hingga menghasilkan


adukan yang konsisten.
c. Pemasangan Dan Penyusunan Batu
Sebelum dipasang, batu harus dibersihkan secara menyeluruh terhadap
kotoran tanah, pasir, dan kotoran lainnya. Selain itu batu juga harus
dipasang dalam keadaan basah.
Dalam pemasangan, batu harus ditata dengan tangan sebagian rupa
sehingga permukaan rata dari batu, tegak lurus terhadap arah tegangan
utama dan seluruh adukan semen melekat di seluruh pertemuan
permukaan batu. Penataan lebih lanjut dilakukan dengan pemukulan
palu baja. Apabila pemukulan ini menimbulkan kerusakan pada batu,
maka batu tersebut harus diambil, dibersihkan, dan dipasang kembali

ENGINEERING CONSULTANT
E - 113
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

dengan adukan semen baru. Setiap celah pertemuan batu harus


dipenuhi dengan adukan. Harus diyakinkan pula bahwa seluruh
permukaan batu terlapisi oleh adukan semen.
Jarak siar antar batu tidak boleh kurang dari 10 kilometer dan tidak
boleh lebih dari 50 milimeter dan tidak diperbolehkan adanya
permukaan batu yang bersentuhan langsung dengan batu lainnya.
Ukuran dan distribusi batu harus sedemikian rupa sehingga dapat
diperoleh penyediaan volume adukan semen yang sedikit mungkin.
Pemasangan batu harus dilakukan berselang-seling sehingga setiap titik
pertemuan batu memiliki arah vertikal dan horizontal. Harus dihindarkan
pula adanya bidang pertemuan batu yang lurus horizontal dan sambung
menyambung.
d. Sambungan Kontraksi dan Sambungan Sendi (Contraction
Joint dan False Joint)
1. Sambungan Kontraksi
Sambungan kontraksi harus dipasang pada dinding batu,
struktur penahanan dan pelapis saluran, sebagaimana
ditentukan dalam gambar atau yang ditentukan oleh Direksi,
atau pada interval tidak lebih dari 20 meter. Kecuali ditentukan
lain oleh Direksi, sambungan kontraksi pada pasangan batu
harus dibuat sebagaimana sambungan kontraksi pada struktur
beton, sebagaimana dalam bab pekerjaan Beton pada
Spesifikasi Teknis ini. Sambungan kontraksi pada pasangan
batu dan struktur penahan harus berupa bidang vertikal atau
tegak lurus terhadap arah aliran, sejauh memungkinkan dan
disetujui oleh Direksi. Sambungan kontraksi pada permukaan
horizontal dan lantai struktur batu harus tegak lurus dan/atau
sejajar dengan dimensi utama dari struktur atau dengan arah
aliran sejauh memungkinkan dan disetujui oleh Direksi.
2. Sambungan Sendi
Sambungan sendi harus dipasang pada batu yang bukan
merupakan struktur penahan air sebagaimana ditunjukkan

ENGINEERING CONSULTANT
E - 114
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

dalam gambar atau yang ditunjukkan oleh Direksi. Sambungan


sendi harus dipasang pada setiap bagian struktur yang
mengalami perubahan dimensi secara brsar atau secara tiba-
tiba, atau pada bagian dimana perbedaan penurunan
diramalkan akan terjadi.
Sambungan sendi dibuat dengan menata batu sedemikian rupa
sehingga adukan semen akan membentuk bidang datar
bersambung sepanjang tinggi pasangan batu tersebut, termasuk
batu mukanya. Jika diperlukan, semacam bekisting sementara
dapat dipergunakan selama pekerjaan pasangan batu untuk
mengendalikan lokasi dan sambungan dari sambungan sendi.

3. Filter Drainase Sambungan


Di balik seluruh jenis sambungan pada pekerjaan pasangan
batu, termasuk sambungan kontraksi dan sambungan sendi,
harus dipasang batu pecah yang bergradasi atau filter kerikil
sepanjang tinggi sambungan. Filter yang bergradasi ini harus
terdiri dari batu pecah pilihan dan krilil dan gradasi yang baik
untuk mencegah teralirkannya material filter dan/atau material
pondasi dan harus dilapisi lagi dengan lapisan filter
geotekstilsintetis seperti dalam gambar atau yang ditunjukkan
oleh Direksi. Penggunaan ijuk dan material organik yang dapat
melapuk lainnya tidak diijinkan kecuali mendapatkan ijin khusus
dari Direksi.
e. Pekerjaan Pasangan Batu Muka dan Siar Pasangan Batu Muka
Kecuali gambar atau Direksi menunjukkan lain, batu-batu muka pada
pasangan batu yang biasa harus terdiri dari batu yang berukuran acak
dengan penempatan batu header (bond stone) paling sedikit sebuah
tiap satu meter persegi. Batu header harus masuk pada kedalaman
paling sedikit dua kali ketebalan pasangan batu muka ke arah
pasangan batu belakang. Batu muka harus dipilih dan ditata dengan
baik sehingga permukaan luarnya membentuk bidang rata dan

ENGINEERING CONSULTANT
E - 115
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

permukaan luar antar batu tersebut berjarak sedekat mungkin tapi tidak
kurang dari 10 milimeter dan tidak melebihi 20 milimeter, dan titik
pertemuan terbagi ke arah vertikal dan horizontal. Pada sudut dan tepi
luar dinding pasangan harus dipasang batu yang telah dibentuk kotak
dan membentuk garis tepi sudut.
Distribusi jenis batu dan ukuran batu pada muka pasangan harus
sedemikian rupa sehingga diperoleh hasil permukaan pasangan batu
yang rapi, rata dan memiliki penanpilan seragam, tanpa adanya daerah
dengan permukaan batu-batu muka berukuran jauh lebih besar atau
jauh lebih kecil dari daerah-daerah lainnya, ataupun berbeda warna dan
teksturnya.
Pada pekerjaan-pekerjaan khusus yang ditunjukkan oleh Gambar atau
Direksi, muka pasangan batu harus dibuat dari batu segi enam atau dari
batu candi.
Pasangan batu muka harus sedemikian supa sehingga penaikan-nya
bersamaan dengan penaikan batu belakang sehingga batu header
dapat dipasang dengan baik dan menghasilkan sambungan adukan
semen antara pasangan batu muka dan batu belakang yang baik dan
kuat.
Semua batu yang terbuka harus diberikan siar muka pasangan.
Sebelum pemberian siar muka pasangan (pointing), adukan semen
pada sambungan batu harus dikorek sedalam 30 milimeter atau
potongan (chiselled out) pada sambungan lamanya, kemudian
sambungan itu harus dibersihkan dari pasir dengan sikat kawat hingga
bersih, kemudian adukan semen dibasahkan.
Pasangan siar muka pasangan dapat berupa :
- Siar muka pasangan cekung : berupa pengisian muka sambungan
dengan adukan semen hingga kedalaman kurang lebih 10
milimeter ke arah dalam dari permukaan batu muka,
- Siar muka pasangan rata : berupa pengisian muka sambungan
dengan adukan semen rata dengan permukaan batu muka,

ENGINEERING CONSULTANT
E - 116
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

- Siar muka pasangan cembung : berupa pengisian muka


sambungan dengan adukan semen kurang lebih 10 milimeter ke
arah luar permukaan batu muka.
Kecuali ditentukan oleh gambar atau Direksi, semua pasangan siar
muka pasangan harus berjenis siar adukan semen rata.
Adukan semua untuk siar ini harus memiliki perbandingan 1:3, kecuali
ditentukan lain oleh gambar atau Direksi.
Permukaan batu muka harus dibersihkan dengan baik dari kelebihan
adukan semen setelah pekerjaan pemasangan siar muka pasangan
selesai.
f. Lubang Drainase (Drainage Holes) dan Lubang Buangan Air
(Wheep Holes)
Kecuali ditentukan lain oleh gambar atau Direksi, bagian miring atau
vertikal dari pasangan dinding penahan, pelapis saluran, saluran buang,
dan pasangan pengukuh dan pelindung lereng, harus diberikan lubang
drainase atau kubang buangan air pada interval satu setiap 4 meter
persegi dari permukaan pasangan yang terbuka atau yang ditentukan
oleh Direksi.
Kecuali ditentukan lain oleh gambar atau Direksi, lubang drainase dan
lubang buangan air harus dibuat dari pipa PVC 50 milimeter. Pada
lubang drainase dan lubang buangan air pada pasangan penahan air
harus dipasang katup bola (ball valves) atau katup buka tutup (flap
valves) yang memenuhi persyaratan sebagaimana yang ditunjukkan
oleh gambar atau Direksi.
1. Plesteran
Plesteran pasangan batu harus dipasang pada dinding, lantai, pelapis
saluran, dan pasangan batu lainnya sebagaimana yang ditunjukkan
pada gambar atau oleh Direksi dengan mengikuti aturan sebagai
berikut :
2. Permukaan terbuka
Kecuali ditentukan lain oleh gambar atau Direksi, plesteran harus
dipasang pada permukaan atas seluruh struktur pasangan batu
seperti dinding, pilar, tumpuan dan lain-lain dan pada 10 centimeter

ENGINEERING CONSULTANT
E - 117
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

dibawah permukaan atas dari struktur-struktur tersebut dan


mernbentuk tudung.
Plesteran harus menggunakan adukan semen dengan
perbandingan 1 bagian pasir dalam besaran volume.
Sebelum plesteran, adukan semen pada sambungan batu harus
dikerok atau dipotong sedalam 30 millimeter, kemudian permukaan
pasangan batu dan sambungannya harus dibersihkan dari semua
kotoran adukan semen atau kotoran lainnya dengan sikat kawat dan
dibasahi sebelum dipasang plester.
Plester harus dipasang dalarn dua lapis dengan ketebalan total
kurang leblh 20 millimeter dan harus diselesaikan dengan sendok
tembok baja untuk mendapatkan hasil akhir yang bersesuaian
dengan hasil akhir beton dengan kelas U3 seperti yang tersebut
pada bab Pekerjaan Beton.
3. Urugan di Belakang pasangan Batu
Kecuali ditunjukkan lain oleh gambar atau hal lainnya yang telah
disetujui oleh Direksi, sebelum pengurugan bagian belakang
pasangan batu yang tidak akan terlihat dari luar, pasangan batu
harus diberi plester kasar dengan campuran adukan semen 1
bagian semen dan 4 bagian pasir dalam besaran volume dengan
ketebalan 20 millimeter.
Harus diperhatikan agar plesteran kasar tersebut tidak menutupi
atau buangan air lubang drainase dan dinding lainnya yang telah
dlbuat pada pekerjaan pasangan batu, dan pengurugan tidak boleh
dimulai sebelum perneriksaan pemberian persetujuan oleh Direksl
pada saat pekerjaan pasangan batu dan plesteran selesai
dilaksanakan.
4. Perlindungan dan Perawatan
Untuk melaksanakan pekerjaan pasangan batu pada cuaca yang
tldak baik, dan perlindungan dan perawatan pekerjaan yang telah
selesaiKontraktor harus merujuk kepada kondisi yang sama untuk
pekerjaan beton.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 118
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Pekerjaan pasangan batu tidak boleh dilakuk:an pada kondisi hujan


yang lebat atau lama yang akan sanggup melarutkan adukan
semen dari pasangan batu. Adukan semen yang telah terpasang
dan terlarut oleh hujan harus diambil kembali dan diganti sebelum
pekerjaan diteruskan.
Para pekerja, peralatan konstruksi, atau lalu lintas konstruksi tidak
diperbolehkan melintasi pasangan batu sebelum terpasang dengan
sempurna dan telah mencapai kekuatan penuhnya, dan jika ada
pasangan batu yang rusak akibat hal tersebut di atas, harus
dibongkar dan diganti sebagai tanggungan Kontraktor.
Pasangan batu harus dilindungi dari sinar matahari dan harus dijaga
agar selalu dalam keadaan basah selama kurang lebih tiga (3) hari
atau selama waktu sesuai petunjuk Direksi, setelah pekerjaan
pasangan batu selesai.

5.6.6. Pekerjaan Timbunan Tanah


5.6.6.1. Umum
A. Cakupan Pekerjaan
Pekerjaan yang tercakup dalam kegiatan ini dengan judul di atas
meliputi semua pekerjaan tanah dan pekerjaan yang terkait yang
merupakan permanen atau diperlukan dalam kaitannya dengan
pekerjaan permanen yang tidak secara khusus diuraikan pada sub bab
sebelumnya.
Pekerjaan ini meliputi:
- Penimbunan dan pemadatan tubuh bendungan dan cutoff,
- Penimbunan kembali bangunan,
- Pekerjaan restorasi termasuk penggalian dan atau penimbunan,
pemasangan tanah penutup (topsoiling) dan penanaman rumput
- Pembuatan dan pemeliharaan tempat penimbunan dan tempat
pembuangan sisa galian
- Pekerjaan tanah lain seperti ditunjukkan dalam gambar atau
diperintahkan Direksi.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 119
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

B. Bahan
Bahan untuk pekerjaan tanah umum berasal dari hasil galian dari
berbagai bagian pekerjaan permanen, tempat pengambilan tanah
(borrow area), tanah residual, endapan aluvium dan koluvium, atau
kombinasinya.
Klasifikasi tingkat pelapukan batuan dan klasifikasi penggalian yang
dipakai dalam Bab ini harus mengikuti klasifikasi yang berlaku dalam
Spesifikasi Teknis ini.

C. Pekerjaan Sampai Garis, Permukaan dan Elevasi yang


Ditentukan
Kontraktor harus mengerjakan semua pekerjaan tanah sampai
mencapai garis, permukaan, elevasi atau dimensi yang ditunjukkan
dalam gambar atau seperti diperintahkan atau disetujui Direksi.
Rincian pekerjaan ini tidak selalu ditunjukkan secara lengkap dalam
gambar Kontrak, dalam hal itu rinciannya harus mengikuti perintah
Direksi dalam bentuk gambar Kerja Tambahan atau perintah tertulis di
lapangan sesuai dengan ketentuan dan Spesifikasi Umum dan Syarat-
syarat Kontrak; atau sesuai dengan usulan Kontraktor yang
disampaikan kepada Direksi untuk disetujui berupa gambar rinci atau
spesifikasi tertulis, sesuai dengan Spesifikasi Umum dan Syarat-Syarat
Kontrak, dan disetujui Direksi, dan bisa diubah atau dimodifikasi
bilamana perlu menurut pendapat Direksi.

D. Pengukuran dan Pembayaran


Pengukuran untuk pembayaran butir-butir dari pekerjaan tanah dan
penimbunan kembali dilakukan dengan cara dan dalam satuan
pengukuran seperti ditentukan dalam berbagai butir yang akan diuraikan
di bawah ini atau seperti ditentukan Direksi. Pembayaran untuk butir-
butir dari pekerjaan tanah dan penimbunan kembali dilakukan berdasar
harga satuan yang relevan atau sebagai harga jumlah bulat (lump sum)

ENGINEERING CONSULTANT
E - 120
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

seperti ditetapkan atau disetujui Direksi sesuai dengan ketentuan yang


tertera dalam Syarat-syarat Kontrak Kerja.

5.6.6.2. Bahan Timbunan Tanah


A. Jenis Tanah

Yang dimaksud dengan timbunan tanah adalah semua timbunan tanah


baik untuk tubuh bendungan,maupun di luar timbunan untuk
bendungan, termasuk cutoff.
Timbunan tanah terdiri dari bahan aluvium, bahan batuan lapuk residual
dari galian, tanah dari tempat pengambilan tanah atau kupasan tanah
penutup.

Gradasi Tanah Timbunan harus bergradasi baik (well graded) dalam


batas-batas berikut :

- Tidak mengandung butiran berukuran 5 cm, kecuali kalau ditentukan


lain,
- Bahan harus mengandung bagian yang lolos Saringan No. 200
(0,074 mm) tidak kurang dari 40%,
- Bahan harus mengandung butiran berukuran lempung (0,002 mm)
tidak kurang dari 30%.

Indeks Plastisitas (PI) bahan yang ditentukan dengan ASTM Standards


D 423 dan D 424, tidak kurang dari 25%. Berdasarkan pengujian
konsistensi Atterberg, tanah material urugan embung tersebut dapat
diklasifikasikan sebagai CH - MH, yaitu lanau lempungan, plastisitas
sedang-tinggi, warna coklat kekuningan. Material ini dijumpai di Borrow
Area pada kedalaman antara 1 m sampai dengan 2 m, dibawahnya
jenis tanah berubah menjadi lanau pasiran yang lebih porus. Untuk itu,
kontraktor harus hati-hati untuk menggalinya dan harus dipandu oleh
teknisi lapangan yang berpengalaman dalam bidang mekanika tanah.

B. Penyiapan Pondasi

ENGINEERING CONSULTANT
E - 121
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Kecuali bila ditentukan lain dalam gambar atau diperintahkan oleh


Direksi, pondasi pekerjaan urugan (embankment) atau timbunan harus
dibersihkan, dibongkar dan dikupas sesuai dengan ketentuan mengenai
pekerjaan tersebut yang ditentukan dalam Spesifikasi ini.

Semua bagian ketidak-teraturan, dan rongga di pondasi dan bekas-


bekas sumuran uji atau galian lain yang lebih dalam dari galian yang
ditunjukkan gambar, harus ditimbun kembali sesuai perintah Direksi
dengan bahan yang sama dengan timbunan di atasnya, dan dipadatkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk timbunan yang
bersangkutan .

Menjelang penghamparan lapisan pertama bahan timbunan, permukaan


pondasi harus dibersihkan dari semua tanah yang mengandung
gambut/humus, bahan-bahan lepas dan benda-benda lain yang tidak
pada tempatnya. Semua air yang ada di tempat tersebut harus
disingkirkan dengan cara yang disetujui Direksi. Apabila perlu,
permukaan pondasi harus dibasahi sebelum ditimbun untuk
memperoleh ikatan yang baik dengan lapisan timbunan pertama.

Berdasarkan hasil analisa design timbunan tubuh bendungan Teritip,


mengingat kondisi tanah pondasi tapak bendungan yang berupa soft soil
maka proses penimbunan tubuh bendungan dilakukan secara bertahap
(staging fill embankment) dengan ketinggian timbunan yang
dilaksanakan pertahapnya dilakukan berdasarkan simulasi kekuatan
tekanan air pori tanah di tapak tubuh bendungan.

Setiap pekerjaan penimbunan untuk pekerjaan permanen hanya boleh


dimulai setelah mendapat persetujuan Direksi.

C. Kontrol Kandungan Air dan Kepadatan

Kandungan air bahan timbunan sebelum dan selama pemadatan harus


seragam untuk setiap lapisan. Kecuali bi!a ditentukan lain oleh Direksi

ENGINEERING CONSULTANT
E - 122
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

kandungan air bahan timbunan menurut ASTM Standard D 2216 harus


dalam kisaran minus 2% (-2%) dan plus 2% (+2%) dari
Kandungan Air Optimum (Omc) yang diperoleh dari Uji Pemadatan
Standar (Standard Compaction Test) menurut ASTM Standard' D 698.
Khusus untuk lapisan cutoff hulu dan selimut lempung hulu,
kadar air harus lebih basah 4% sampai dengan 5% di atas
OMC, untuk memperoleh sifat yang kedap air.

Penyiapan kandungan air bahan timbunan untuk. mencapai kandungan


air yang ditentukan, harus dilakukan sebelum pengangkutan ke tempat
penimbunan yaitu di tempat pengambilan bahan timbunan, di tempat
pengumpulan atau tempat lain. Metode untuk mencapai kandungan air
yang ditentukan, menjadi tanggung jawab Kontraktor dan harus
mendapat persetujuan Direksi. Penambahan air mungkin perlu
dilakukan di tempat penimbunan. Tetapi hal ini hanya boleh dilakukan
atas persetujuan Direksi, dan pelaksanaannya harus menggunakan alat
atau dengan cara yang disetujui Direksi.

Kecuali ada ketentuan lain atau diperintahkan lain oleh Direksi,


kepadatan kering (dry density) bahan timbunan setelah pemadatan tidak
kurang dari 90% dari Kepadatan Kering Maksimum (Maximum
Dry Density) kalau diuji dengan prosedur ASTM Standard Proctor.

Kandungan air harus diuji langsung di lapangan menggunakan alat yang


dengan cepat dapat mengetahui kadar air lapangan, misalnya speedy
moisture tester. Yang secara berkala di chek dengan menggunakan
metode oven di laboratorium lapangan. Kepadatan Kering tanah yang
dipadatkan juga akan diperiksa oleh Direksi secara berkala dengan uji
kontrol lapangan dan laboratorium terhadap contoh yang diambil secara
acak. Apabila kandungan air atau kepadatan kering tanah yang telah
dipadatkan temyata tidak masuk dalam kisaran yang ditentukan, Direksi
akan memerintahkan Kontraktor membongkar bahan tersebut, atau
mengolahnya kembali sedemikian rupa sehingga kandungan air dan

ENGINEERING CONSULTANT
E - 123
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

kepadatannya mencapai syarat-syarat yang yang ditentukan yang


dibuktikan dengan serangkaian pengujian.

Pengambilan dan penentuan uji kepadatan di lapangan dilakukan pada


setiap 100 m2 atau setiap lapis pemadatan atau kapan dan dimana
seperti yang diminta oleh Direksi.

Direksi berhak merubah batas-batas kandungan air dan kepadatan


timbunan setiap waktu selama pelaksanaan, dan perubahan semacam
itu tidak merubah harga satuan untuk pembayaran.

D. Penempatan

Pemilihan, penempatan dan penghamparan bahan timbunan harus


sedemikian rupa sehingga sebaran (distribution) dan gradasinya di
seluruh timbunan bebas dari lensa, kantong atau lapisan bahan yang
tekstur, gradasi, kandungan air atau kepadatannya sangat berbeda
dengan bahan di sekitarnya.

Penempatan bahan timbunan harus sedemikian rupa sehingga


sebarannya bisa sebaik mungkin dan harus disetujui Direksi, dan
bilamana perlu untuk mencapai tujuan ini Direksi dapat menentukan
tempat penempatan bahan timbunan.

Apabila menurut pendapat Direksi, permukaan pondasi atau permukaan


yang dipadatkan dari salah satu lapisan terlalu kering atau terlalu licin
sehingga tidak bisa terjadi ikatan dengan lapisan berikutnya, maka
permukaan tersebut harus dikasarkan dengan alat sampai kedalaman
tertentu sehingga terbentuk permukaan ikatan yang baik sebelum
timbunan berikutnya ditempatkan.

Bahan timbunan harus ditempatkan di urugan atau di timbunan berupa


lapisan menerus yang horizontal, dengan ketebalan sedemikian rupa
sehingga bisa dicapai kepadatan yang direncanakan sesuai dengan
cara pemadatan yang dituangkan dalam dokumen spesifikasi teknis di
samping itu tebal lapisan sebelum dipadatkan tidak boleh lebih dari 30
cm, kecuali bila ditentukan atau disetujui lain oleh Direksi. Semua

ENGINEERING CONSULTANT
E - 124
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

permukaan lapisan harus miring 1:30 untuk keperluan drainase


mengalirkan air permukaan.

Direksi berhak merubah ketebalan timbunan berdasar informasi dari


hasil pengujian; perubahan yang ditimbulkannya tidak merubah harga
satuan untuk pembayaran.

E. Pemadatan Tanah

Segera setelah penempatan setiap lapisan, timbunan harus dipadatkan


menggunakan ''selfpropelled tamping roller"atau sheepfoot roller atau
alat sepadan sehingga menjadi lapisan yang seragam kepadatannya.

Jumlah Iintasan alat pemadat akan ditentukan Direksi berdasarkan hasil


percobaan timbunan (trial embankment). Namun demikian, Direksi tetap
berhak merubah jumlah Iintasan alat pemadat setiap saat selama
konstruksi, tergantung hasil uji kontrol. Tidak akan ada penyesuaian
pembayaran untuk bahan kalau Direksi memerintahkan penambahan
atau pengurangan jumlah lintasan.

Jenis alat pemadat yang akan dipakai Kontraktor harus disetujui Direksi,
beban, operasi dan kecepatan alat tersebut harus dapat mencapai
tingkat keseragaman dan kepadatan sesuai ketentuan Direksi.

Apabila digunakan lebih dari satu alat pemadat, maka alat pemadat
yang dipakai harus sejenis dengan berat, dimensi dan ciri operasi yang
sarna.

Jika pekerjaan penimbunan diberhentikan karena akan turun hujan,


permukaan timbunan atau urugan harus dimiringkan dan dihaluskan
untuk melancarkan drainase. Sebelum penempatan dan pemadatan
lapisan selanjutnya, permukaannya harus digaru dan diatur kandungan
airnya sesuai ketentuan yang berlaku.

F. Percobaan Timbunan (Trial Embankment)

ENGINEERING CONSULTANT
E - 125
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Sebelum melakukan pekerjaan penimbunan dan pemadatan, khusus


untuk tubuh embung, kontraktor harus melaksanakan percobaan
penimbunan dan pemadatan langsung di lapangan di tempat yang akan
dilakukan penimbunan tubuh embung. Luas daerah percobaan minimal
5 m x 10 m atau ditentukan bersama-sama dengan tim supervisi dan
direksi. Sebelumnya, kontraktor harus menyiapkan tanah bahan urugan,
peralatan penghampar dan pemadat yang akan digunakan, serta alat-
alat pengujian kadar air dan kepadatan langsung di lapangan.

Setelah tanah yang kadar airnya telah diperiksa mendekati OMC sesuai
dengan persyaratan dihampar dengan ketebalan 30 cm, tanah
dipadatkan dengan alat pemadat sheepfoot roller tanpa digetarkan.
Dengan banyak lintasan 2 x, 4 x, 6 x, 8 x, dan 10 kali, dilakukan
pengujian.

Kepadatan tanah menggunakan drive cylinder yang telah disetujui


Direksi. Pada setiap banyak Iintasan tersebut dihitung kepadatan tanah
dan tingkat kepadatan tanahnya, hasilnya kemudian dibuat grafik
hubungan antara kepadatan kering dengan banyak lintasan. Grafik
tersebut kemudian dianalisisoleh tim supervisi dan Direksi untuk
menentukan banyak lintasan yang akan digunakan sebagai
pedomandalam pelaksanaan timbunan tubuh embung selanjutnya.

G. Pengukuran dan Pembayaran

Pengukuran untuk pembayaran bahan timbunan tanah atau pekerjaan


timbunan dilakukan berdasar volume dalam meter kubik bahan
terpadatkan di urugan atau timbunan yang telah selesai sampai garis,
permukaan atau ketinggian yang ditunjukkan dalam gambar atau seperti
diperintahkan oleh Direksi.

Pembayaran untuk bahan timbunan tanah di pekerjaan urugan atau


timbunan dilakukan menurut harga satuan per meter Kubik seperti
ditetapkan dalam syarat-syarat Kontrak.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 126
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

5.6.6.3. Timbunan Kembali


A. Umum

Yang dimaksud timbunan disini adalah timbunan kembali (backfill).


Kontraktor harus menimbun macam-macam bangunan baik bangunan
permanen maupun pekerjaan lain seperti ditunjukkan dalam gambar
atau seperti diperintahkan Direksi.

Penimbunan kembali dilakukan dengan bahan yang bisa dibagi dalam 2


(dua) jenis tergantung lokasi, jenis fungsi bangunan atau pekerjaan
yaitu :

1. Timbunan Acak (Random Backfill; Ordinary Backfill),


2. Timbunan Lulus Air (Free Draining Backfill).

Bahan timbunan harus dari jenis, dan dengan permukaan dan dimensi
seperti ditunjukkan dalam gambar atau seperti diperintahkan Direksi
sesuai dengan ketentuan berikut.

Apabila jenis bahan timbunan tertentu tidak ditentukan dalam Gambar


atau bahannya hanya ditentukan sebagai "Timbunan" atau "Timbunan
Biasa" maka bahan seperti itu harus diartikan sebagai Timbunan Acak
seperti ditentukan berikut.

B. Bahan-bahan
Persyaratan bahan harus memenuhi ketentuan berikut, kecuali apabila
ditentukan lain oleh Direksi :

1. Timbunan Acak
Tlmbunan Acak terdiri atas bahan yang sesuai dengan persyaratan
untuk timbunan tanah, yaitu mempunyai ukuran maksimum 5 cm,
tanah granular berupa pasir lanauan lempungan campur kerikil
berupa tanah bekas galian intake dan spillway. Jenis tanah ini dapat
digunakan sebagai tanah backfill.

2. Timbunan lulus Air

ENGINEERING CONSULTANT
E - 127
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Timbunan Lulus air harus diseleksi dari bahan tanah granular yang
bisa didapat dari kerikil sungai yang bersih atau hancuran batu dari
lombong, dicuci dan diayak bila perlu, sampai bergradasi baik
dengan batas ukuran butir berikut :
- Ukuran butir maksimum 15 cm,
- Bagian yang lolos dari Saringan No.4 (4,76 mm) tidak kurang dari
15% dan tidak lebih dari 75%,
- Bagian yang lolos dari Saringan No. 200 (0,074 mm) tidak lebih
dari 5%
Bahan ini harus bebas dari lempung dan hanya digunakan di
daerah di luar embung atas perintah Direksi.

C. Kontrol Kandungan Air dan Kepadatan


1. Timbunan Acak
Persyaratan kandungan air dan kepadatan bahan ini harus sama
dengan ketentuan dalam Sub-Bab 4.2.4

2. Timbunan lulus Air


Timbunan lulus air tidak terikat ketentuan kandungan air tertentu,
namun demikian bahan ini harus ditempatkan dalam keadaan
terbasahi seluruhnya sesuai persetujuan Direksi. Pembasahan
bahan timbunan jenis ini bertujuan untuk meningkatkan mutu
pemadatannya.

Kecuali ditentukan atau diperintahkan lain oleh Direksi, Timbunan


Lulus Air harus dipadatkan sampai mencapai Kepadatan Relatif
sekurang-kurangnya 70% kalau ditentukan menurut ASTM Standard
D 2049 atau USBR Earth Manual Test Designation E 12.

Kandungan air bahan timbunan yang telah dihampar di lapangan


harus diperiksa langsung di lapangan menggunakan alat yang
dengan cepat dapat mengetahui kandungan airnya. Alat ini secara

ENGINEERING CONSULTANT
E - 128
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

berkala harus di chek dan dibandingkan dengan hasil pengujian di


laboratorium lapangan dengan cara oven.

Kepadatan kering dari tanah yang telah dipadatkan dilakukan dengan


menggunakan alat sand replacement atau drive cylinder langsung di
site, sehingga pada waktu itu juga dapat diperoleh tingkat kepadatan
tanah yang dicapai. Hasil pengujian tersebut dapat digunakan sebagai
pedoman dalam menilai kualitas dari pemadatan tanah yang telah
dilakukan, apakah telah memenuhi persyaratan.

D. Penempatan dan Pemadatan


Pemilihan, penempatan dan penyebaran bahan timbunan harus
sedemikian rupa sehingga penyebaran dan gradasi timbunan
seluruhnya tidak mengandung lensa, kantong atau lapisan yang terdiri
atas bahan yang tekstur, gradasi, kandungan air atau kepadatannya
sangat berbeda dengan bahan di sekitarnya.

Timbunan harus dipadatkan dengan menggunakan alat yang sesuai


dengan ruang kerja yang tersedia dan alat yang digunakan harus
mendapat persetujuan Direksi.

Bahan timbunan harus ditempatkan secara menerus, kurang lebih


horizontal dengan ketebalan yang memungkinkan tercapainya
kepadatan di seluruh lapisan. Ketebalan lapisan sebelum dipadatkan
tidak boleh lebih dari 35 cm, kecuali ditentukan lain oleh Direksi.

E. Pengukuran dan Pembayaran


Pengukuran untuk pembayaran bahan timbunan dilakukan berdasar
volume dalam meter kubik bahan terpadatkan di tempat timbunan
sesuai garis, permukaan dan elevasi yang ditunjukkan dalam Gambar
atau seperti diperintahkan Direksi.

Pembayaran bahan timbunan dilakukan dengan harga satuan dalam


meter kubik yang ditentukan sesuai dengan syarat-syarat Kontrak.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 129
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

5.6.6.4. Lantai Kerja


A. Umum

Kontraktor harus memasang lantai kerja untuk pekerjaan beton,


pasangan batu kali, pasangan batu kosong, bronjong kawat, bantalan,
pekerjaan pipa atau pekerjaan lain seperti ditunjukkan dalam gambar
sesuai Spesifikasi, atau seperti diperintahkan Direksi.

Bahan lantai kerja bisa dibagi dalam 4 (empat) macam tergantung


lokasi, jenis dan fungsi dari bangunan atau pekerjaan yaitu :
1. Pecahan Batu,
2. Pasir,
3. Filter Kasar,
4. Filter Halus.

Lantai kerja dari pecahan batu dan pasir digunakan di bangunan atau
pekerjaan dimana aliran air-tanah akibat rembesan dan/atau drainase
bisa diabaikan.

Lantai kerja filter kasar dan halus dipasang di bawah bangunan air atau
pekerjaan drainase atau pekerjaan lain di atas urugan tanah atau
batuan lapuk yang perlu drainase, dan dimana aliran air-tanah akibat
rembesan dan/atau drainase diperkirakan cukup besar sehingga ada
potensi erosi dan kehilangan butiran halus dari bahan pondasi atau
urugan.

Bahan lantai kerja harus dari jenis dan dipasang dan dipadatkan
menurut garis, permukaan, elevasi dan dimensi yang ditunjukkan dalam
gambar atau seperti diperintahkan Direksi sesuai ketentuan berikut.

B. Bahan-Bahan

Bahan-bahan lantai kerja harus terdiri atas campuran kerikil dan pasir
atau pecahan batu bergradasi baik yang bebas dari bahan organik,
lempung atau bahan merusak lainnya.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 130
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Persyaratan ukuran butir dan gradasi untuk bermacam jenis bahan


lantai kerja adalah sebagai berikut, kecuali ditentukan lain oleh Direksi

1. Lantai Kerja Hancuran Batu


Lantai kerja hancuran batu terdiri atas hancuran batu bergradasi baik
dari mesin pemecah batu (crusher'), dengan ukuran butir maksimum
75 mm dan butiran yang lebih lolos dari Saringan No. 16 (1,19 mm)
tidak lebih dari 20%.
2. Lantai Kerja Pasir
Lantai Kerja pasir terdiri atas pasir alam bersih atau hasil mesin
pemecah batu dengan ukuran butir maksimum 5 mm dan butiran
yang lebih halus dari Saringan No. 200 (0,074 mm) tidak lebih dari
20%.
3. Lantai Kerja Filter Kasar
Lantai kerja filter kasar terdiri atas campuran pasir dan kerikil atau
hasil pecahan mesin pemecah batu dengan ketentuan berikut :
- Ukuran butir maksimum 50 mm,
- Bagian yang lolos Saringan 19,4 mm tidak kurang dari 70%
sampai 100%,
- Bagian yang lolos Saringan NO.4 (4,75 mm) tidak kurang dar
20% dan tidak lebih dari 65%,
- Bagian yang lolos Saringan No. 16 (1,19 mm) tidak lebih dari
20%
4. Lantai Kerja Filter Halus
Lantai kerja filter halus terdiri atas pasir atau pecahan batu dari
mesin pemecah batu dengan ketentuan berikut :
- Ukuran butir maksimum 5 mm,
- Bagian yang lolos Saringan No. 16 (1,19 mm) tidak kurang dari
60% sampai 100%,
- Bagian yang lolos Saringan No. 50 (0,3 mm) tidak kurang dari
20% dan tidak lebih dari 65%,
- Bagian yang lolos Saringan No. 200 (0,074 mm) tidak lebih dari
20%.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 131
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

C. Kontrol Kandungan Air dan Kepadatan


Tidak ada persyaratan khusus mengenai kandungan air bahan lantai
kerja ini, tetapi bahan ini harus dibasahi secara merata sebelum
dipasang atas persetujuan Direksi, agar pemadatannya sempurna.

Kecuali ditentukan lain oleh Direksi, bahan ini dipadatkan sampai


mencapai Kepadatan Relatif tidak kurang dari 70% kalau diukur
menurut ASTM Standard D 2049 atau USBR Earth Manual Test
Designation E 12.

D. Penempatan dan Pemadatan


Pemilihan, penempatan dan penyebaran bahan lantai kerja ini harus
sedemikian rupa sehingga sebaran dan distribusinya di seluruh lapisan
bebas dari lensa, kantong, atau lapisan yang mempunyai tekstur,
gradasi, kandungan air atau kepadatan yang sangat berbeda dengan
bahan sekitarnya.

Bahan lantai kerja harus dipadatkan dengan alat yang sesuai dengan
kondisi tempatnya. Jenis alat yang digunakan harus mendapat
persetujuan Direksi.

Bahan lantai kerja harus ditempatkan secara menerus menjadi lapisan


horizontal dengan ketebalan yang memungkinkan pemadatannya
mencapai kepadatan sesuai dengan ketentuan Sub-Bab 4.4.3 dari Bab
ini di seluruh lapisan, disamping itu ketebalan lapisan sebelum
dipadatkan tidak lebih dari 15 cm, kecuali kalau diperintahkan atau
disetujui lain oleh Direksi.

E. Pengukuran dan Pembayaran


Pengukuran untuk pembayaran bahan lantai kerja ini dilakukan
berdasar volume dalam meter Kubik bahan terpadatkan sesuai
dengan garis, permukaan dan elevasiyang ditunjukkan dalam
gambar atau seperti diperintahkan Direksi.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 132
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Pembayaran bahan lantai kerja dilakukan menurut harga satuan


dalam meter kubik sesuai ketentuan dalam Sub-Bab 4.1.4.

5.6.6.5. Pekerjaan Penyimpanan Sementara dan Pembuangan


A. Umum
Kontraktor harus mengelola tempat-tempat pembuangan dan penyimpanan
sementara untuk bahan galian yang tidak bisa dipakai yang berasal dari
penggalian, tempat pengambilan tanah atau lombong batu atau tempat
untuk menyimpan sementara bahan galian yang akan dipakai untuk
pekerjaan yang tidak dapat secara spesifik dimasukkan dalam pekerjaan
tertentu. Tempat dan luas daerah pembuangan dan penyimpanan
sementara tersebut harus seperti ditunjukkan dalam gambar atau seperti
diperintahkan atau disetujui Direksi.
Tempat pembuangan atau penyimpanan sementara yang ditunjukkan
dalam Gambar atau diperintahkan Direksi harus dibersihkan dari tanaman
dan tanah penutup dengan cara yang berlaku dalam Spesifikasi Teknik ini.
Pengupasan hanya perIu dilakukan apabila dianggap perlu oleh Kontraktor,
atau diperintahkan Direksi untuk mencegah kontaminasi terhadap bahan
atau untuk menjamin stabilitas buangan dan/atau simpanan sementara.
Apabila diperlukan, pengupasan harus dilakukan sesuai dengan ketentuan
mengenai pengupasan yang berlaku dalam Spesifikasi Teknik ini.
Daerah pembuangan dan penyimpanan umumnya harus diratakan dan
dipotong sehingga terbentuk permukaan yang teratur sesuai dengan
ketentuan Direksi.
Bahan buangan atau simpanan harus diletakkan sedemikian rupa sehingga
terbentuk timbunan yang rapih dan teratur yang tidak mengganggu
kegiatan atau fasilitas pekerjaan lain.
Bahan buangan atau simpanan harus diletakkan dan dilindungi sedemikian
rupa sehingga tidak tererosi hujan atau aliran permukaan.
Buangan atau simpanan sementara di dekat sungai, alur f saluran atau
bangunan drainase permanen harus terlindung dari erosi oleh aliran sungai
atau air permukaan, disamping itu harus disediakan sarana untuk mengatur
atau membelokkan aliran untuk mencegah kontaminasi di jalan air tersebut.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 133
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Pekerjaan itu meliputi tetapi tidak terbatas pada pembuatan saluran


gendong (catch drain), saluran elak, mulut saluran-buang (outfall) talang
dan gorong-gorong untuk drainase di sekitar atau melalui daerah
pembuangan dan penyimpanan.
Bangunan pelindung erosi di tempat pembuangan permanen harus
berupa bangunan permanen.
Tempat buangan harus dibangun sesuai gambar atau seperti perintah
Direksi. Apabila ditentukan, ditunjukkan dalam gambar atau
diperintahkan Direksi bahan buangan harus ditempatkan secara
berlapis-Iapis secara teratur dan dipadatkan dengan alat pemadat atau
dengan cara yang diperintahkan atau disetujui Direksi.
Permukaan buangan permanen yang sudah selesai diurug harus rata
dan rapih dan harus dimiringkan untuk drainase sesuai perintah atau
persetujuan Direksi; dan harus dirawat agar rapih dan teratur, serasi
dengan bentang alam sekitarnya.
Apabila ditunjukkan dalam gambar atau diperintahkan Direksi, tempat
buangan permanen harus ditutupi tanah penutup dan ditanam rumput,
semak atau pohon

B. Pengukuran dan Pembayaran


Kecuali apabila ditentukan secara spesifik dalam Spesifikasi dan
dimasukkan dalam Daftar Volume Pekerjaan, tidak ada pembayaran
khusus untuk penyiapan, drainase, perawatan dan rehabilitasi daerah-
daerah buangan dan simpanan sementara. Semua biaya yang terkait
dianggap sudah termasuk dalam harga satuan dan harga jumlah bulat
(lump sum) yang terkait seperti tercantum dalam Daftar Volume
Pekerjaan untuk beraneka-macam butir pekerjaan galian dan urugan.

5.6.6.6. Rehabilitasi Daerah Kerja


A. Umum
Setelah pekerjaan selesai, tempat kerja dan tempat pengambilan bahan
galian (borrow area), lombong batu, tempat pembuangan dan

ENGINEERING CONSULTANT
E - 134
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

pengumpulan, jalan hantar sementara dan semua daerah kerja lainnya


yang ditunjukkan dalam gambar atau diperintahkan Direksi, kecuali
daerah yang akan terendam air waduk, harus direhabilitasi sesuai
perintah Direksi. Tempat-tempat tersebut harus bersih, rapih, ber-
drainase baik dengan lereng galian yang stabil, sehingga bisa diterima
Direksi.
Apabila Direksi memandang perlu, Kontraktor harus melandaikan lereng
buangan (spoilbank), permukaan bahan timbunan, dan galian
sementara menjadi sekurang-kurangnya vertikal : horizontal = 1 : 2,5 ;
dan/atau menstabilkannya dengan cara-cara lain; dan/atau membuat
drainase permanen tambahan yang mungkin diperlukan.
Di tempat yang ditunjukkan dalam Gambar atau diperintahkan Direksi,
Kontraktor harus memasang kembali tanah penutup yang dikupas pada
waktu mulai pekerjaan atau pengambilan bahan galian dan/atau
menyebar campuran benih rumput yang disetujui Direksi. Tanah
penutup harus dihamparkan menjadi lapisan-Iapisan yang ketebalan
dan pengerjaannya menggunakan alat yang sesuai dengan perintah
Direksi.

B. Pengukuran dan Pembayaran


Kecuali apabila secara spesifik ditentukan dalam Spesifikasi dan
dicantumkan dalam Daftar Volume Pekerjaan, tidak ada pembayaran
khusus untuk pekerjaan yang termasuk dalam Pasal ini. Semua biaya yang
terkait harus dianggap sudah dimasukkan dalam harga satuan dan harga
jumlah bulat untuk butir-butir pekerjaan konstruksi yang tercantum dalam
Daftar Volume Pekerjaan.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 135
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 136
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Gambar 5.14. Bagan Alir Kegiatan Supervisi Pembangunan Bendungan Teritip

ENGINEERING CONSULTANT
E - 137
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 138
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Gambar 5.15. Diagram Alir Pengawasan Pekerjaan Saluran Pengelak

ENGINEERING CONSULTANT
E - 139
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Gambar 5.16. Diagram Alir Pengawasan Pekerjaan Clearing

ENGINEERING CONSULTANT
E - 140
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Gambar 5.17. Detail Bagan Alir Pengawasan Pekerjaan Saluran Pengelak

ENGINEERING CONSULTANT
E - 141
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 142
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Gambar 5.18. Detail Bagan Alir Pengawasan Pekerjaan Tubuh Bendungan

Gambar 5.19. Detail Bagan Alir Pengawasan Pekerjaan Instrumentasi

ENGINEERING CONSULTANT
E - 143
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Gambar 5.20. Diagram Alir Pengawasan Pekerjaan Bangunan Pelimpah

ENGINEERING CONSULTANT
E - 144
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Gambar 5.21. Detail Bagan Alir Pengawasan Pekerjaan Intake

ENGINEERING CONSULTANT
E - 145
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

5.7. KRITERIA PERENCANAAN


5.7.1. Rencana Teknis Bangunan Pelimpah
A. Puncak Pelimpah (Crest Spillway)
Kriteria dasar desain penampang pelimpah adalah untuk mendapatkan
koefisien debit yang besar dan menghindari tekanan negatif sewaktu aliran
melimpas bebas pada permukaan mercu pelimpah.
Profil permukaan pelimpah direncanakan memakai tipe OGEE, dengan
kemiringan hulu adalah tegak. Metode yang dipakai untuk menentukan bentuk
penampang sebelah hilir dari titik tertinggi mercu pelimpah adalah lengkung
HAROLD yang dinyatakan dengan persamaan :
X1,85 = 2 x Hd0,85 x Y
dengan :
Hd = tinggi tekan rencana (m)
X = jarak horisontal dari titik tertinggi mercu ke titik permukaan mercu
sebelah hilir.
Y = jarak vertikal dan titik tertinggi mercu ke titik permukaan mercu
sebelah hilir.

Sedang bentuk profil bagian hulu diperoleh dengan persamaan :


X1 = 0,282 x Hd
X2 = 0,175 x Hd
R1 = 0,5 x Hd
R2 = 0,2 x Hd

X1.85=2.0
d2 = 0.282
H Hd0.85 Y
Hd
d1 = 0.175 Koordinat
d
Hd X
R2 = 0.2
R1 = 0.5 Hd
Hd Y

Gambar 5.22. Pelimpah Tipe OGEE

ENGINEERING CONSULTANT
E - 146
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Namun demikian hasil analisis di atas perlu dikontrol dengan kondisi debit
banjir abnormal (QPMF) yang mungkin terjadi. Bila terjadi Q PMF tidak
diperkenankan terjadi over topping, namun bila ini terjadi, maka perlu
dipertimbangkan dimensi pelimpah yang lebih memadai.
Beberapa kegiatan yang dilakukan sehubungan dengan bangunan pelimpah
adalah :
- Penelusuran Banjir Melalui Pelimpah
Pada prinsipnya penelusuran banjir pada Bendungan didasarkan pada
persamaan kontinuitas sebagai berikut :
ds / dt = IO
Bila dinyatakan dalam finite interval waktu :
St-1-St = (1/2)*(It + It+1)*t - (1/2)*(Ot - Ot-1)*t
atau dengan,
I t I t 1 S t Ot S t 1 Ot 1

2 t 2 t 2
It = Aliran masuk waduk pada permulaan waktu t
It+1 = Aliran masuk waduk pada akhir waktu t
Ot = Aliran keluar dari waduk pada permulaan waktu t
Ot+1 = Aliran keluar dari waduk pada akhir waktu t
St+1 = Tampungan waduk pada akhir waktu t
Persamaan di atas dikembangkan oleh L.G. Puls dari US Army Corps of
Engineers.
Persamaan Outflow melalui pelimpah bebas, dirumuskan sebagai berikut:
Q = C * B * H3/2
dengan :
C = Koefisien limpahan (1,7 ~ 2,2 m1/2/det)
B = Lebar efektif pelimpah
= L - 2*(n*Kp + Ka)*H
L = Lebar kotor mercu pelimpah
N = Jumlah pilar
Kp = Koefisien kontraksi pada pilar
Ka = Koefisien kontraksi pada dinding samping

ENGINEERING CONSULTANT
E - 147
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

H = Tinggi energi di atas ambang pelimpah


= h +v2/2g
h = Tinggi air di atas pelimpah (m)
= Koefisien pembagian kecepatan aliran
v = Kecepatan aliran rerata di muka ambang pelimpah (m/det)
g = Percepatan grafitasi = 9,81 m/detik2

B. Saluran Pengarah
Saluran pengarah aliran berfungsi sebagai penuntun dan pengarah aliran agar
aliran tersebut senantiasa dalam kondisi hidrolik yang baik. Pada saluran
pengarah aliran ini, kecepatan masuknya aliran air supaya tidak melebihi 4
m/detik dan lebar saluran makin mengecil ke arah hilir. Apabila kecepatan
tersebut melebihi 4 m/detik, maka aliran akan bersifat helisoidal dan kapasitas
pengalirannya akan menurun. Di samping itu aliran helisoidal tersebut akan
meningkatkan beban hidrodinamis pada bangunan pelimpah.
Kedalaman dasar saluran pengarah aliran biasanya diambil lebih besar dari
1/5 x tinggi rencana limpasan di atas mercu ambang pelimpah. Selain
didasarkan pada kedua persyaratan tersebut, bentuk dan dimensi saluran
pengarah aliran biasanya disesuaikan dengan kondisi topografi setempat
serta dengan persyaratan aliran hidrolis yang baik.
Persyaratan hidrolik pada saluran pengarah adalah :
P H/5
V 4m/det
dengan :
H = tinggi rencana limpasan di atas mercu ambang pelimpah (m)
P = kedalaman dasar saluran pengarah aliran (m)
V = kecepatan masuknya aliran air (m/det)
Agar terbentuk aliran yang tenang dengan fluktuasi muka air kecil, angka
froudenya 0,40.
C. Saluran Transisi
Rencana teknis saluran transisi tersebut didasarkan pada perhitungan-
perhitungan hidrolika, untuk memperoleh profil muka air pada saluran tersebut

ENGINEERING CONSULTANT
E - 148
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

maka akan ditinjau debit-debit tertentu yaitu debit banjir rencana Q 1000 dan
QPMF sebagai kontrol. Metode analisis untuk menggambarkan profil muka air
pada saluran tersebut didasarkan pada persamaan Energi Spesifik. Saluran
transisi direncanakan agar debit banjir rencana yang akan disalurkan tidak
menimbulkan air balik (back water) di bagian hilir saluran samping dan
memberikan kondisi yang paling menguntungkan, baik pada aliran di dalam
saluran transisi tersebut maupun pada aliran permukaan yang akan menuju
saluran peluncur.
Untuk menjaga agar air dari saluran transisi yang akan mengalir ke saluran
peluncur dalam kondisi hidraulik yang baik, maka pada hilir saluran transisi
direncanakan terjadi aliran kritis. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk
mendapatkan kondisi aliran yang baik pada saluran peluncur maka di bagian
akhir dari saluran transisi ditempatkan suatu konstruksi pelimpah (sill) sebagai
kontrol hidraulik seperti pada Gambar 5.15. di bawah ini.

Gambar 5.23. Penampang Memanjang Saluran Transisi


Diantara titik 3 dan 2 terjadi kehilangan tinggi tekan yang diakibatkan oleh
kontraksi, sehingga persamaan Bernoulli yang berlaku adalah :
2 2
v2 v
z 2 y 2 cos z c y c cos c he
2g 2g

he adalah kehilangan tinggi tekan akibat kontraksi vertikal, dengan persamaan


:
2
vc
he f .
2g

f adalah koefisien akibat kontraksi vertikal (0.15)


Sedangkan pada penampang 3 dapat dihitung ketinggian air kritis dengan
persamaan :

ENGINEERING CONSULTANT
E - 149
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

q2
yc 3
g

Untuk mendapatkan kedalaman air pada saluran transisi yang merupakan


saluran terbuka maka dalam hal ini berlaku persamaan aliran tidak seragam
(non uniform flow). Kemiringan dasar saluran transisi yang kecil sekali
sehingga digunakan persamaan :
2 2
v2 v
z2 y2 z1 y1 1 h f
2g 2g

dengan :
y1 = kedalaman aliran masuk ke dalam saluran transisi (m)
y2 = kedalaman aliran pada hilir saluran transisi (m)
v1 = kecepatan aliran masuk ke dalam saluran transisi (m/dt)
v2 = kecepatan aliran pada hilir saluran transisi (m/dt)
= koefisien aliran (Coriolis)
z = ketinggian dasar saluran terhadap garis datum (m)
2
L.n 2 v rerata
hf = 4
Rrerata 3

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa saluran transisi


direncanakan agar dapat mengalirkan debit banjir rencana dalam kondisi
hidraulik yang baik pada saat didalam saluran transisi maupun yang akan
menuju saluran peluncur. Untuk menjaga agar aliran dalam kondisi hidraulik
yang baik di hilir saluran direncanakan terjadi aliran kritis atau angka Froude
1.

D. Saluran Peluncur
Saluran peluncur ini diusahakan memiliki trase yang lurus. Perhitungan profil
muka air pada saluran peluncur ini pada dasarnya sama dengan perhitungan
pada saluran transisi, hanya saja dalam hal ini kehilangan tinggi tekan akibat
turbulensi diabaikan mengingat bentuk salurannya yang prismatis.
Dalam merencanakan saluran peluncur harus memenuhi persyaratan berikut
(Suyono S., 1989 : 205) :

ENGINEERING CONSULTANT
E - 150
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Agar air yang melimpah dari saluran pengatur mengalir dengan lancar tanpa
hambatan-hambatan hidraulik
Agar konstruksi saluran peluncur cukup kokoh dan stabil dalam menampung
semua beban yang timbul
Agar biaya konstruksinya diusahakan seekonomis mungkin.
1. Profil Muka Air Saluran Peluncur
Dalam kajian ini perhitungan garis permukaan aliran di dalam saluran
peluncur digunakan persamaan-persamaan sebagai berikut (Suyono
Sosrodarsono, 1989:208) :
2 2
v1 v
z 1 y1 z2 y2 2 h f H el. dasar saluran y hv
2g 2g

H 1 el. dasar saluran 1 y1 hv1 h f

he el. dasar saluran 2 y 2 hv 2 H 1

2
n 2 v rerata
hf 4
L
R rerata 3

dengan :
y1 = kedalaman air pada potongan 1 (m)
y2 = kedalaman air pada potongan 2 (m)
z = tinggi dasar saluran dari garis persamaan (m)
v1 = kecepatan aliran pada potongan 1 (m/dt)
v2 = kecepatan aliran pada potongan 2 (m/dt)
L = jarak horisontal pada titik yang ditinjau (m)
= sudut kemiringan dasar saluran
hf = kehilangan tinggi tekan (m)
he = perbedaan elevasi muka air potongan 1 dan 2
n = koefisien kekasaran Manning

ENGINEERING CONSULTANT
E - 151
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Gambar 5.24. Skema aliran air pada saluran peluncur

1. Free Board (Tinggi Jagaan)


Tinggi jagaan pada saluran peluncur ditentukan berdasarkan persamaan
sebagai berikut (Bendungan Urugan, Suyono Sosrodarsono, 1981) :
Fb = 0.6 + 0.037 * V * d1/3
Dimana :
Fb = tinggi jagaan (m)
V = kecepatan aliran (m/detik)
d = kedalaman air (m)
2. Kontrol Stabilitas Aliran
Sebagai kontrol stabilitas aliran pada pelimpah dan saluran peluncur
dapat dianalisa menggunakan persamaan sebagai berikut (Reff. KP
03, paragraf 5.8.3) :
Angka Vendernikov ( V) : 2*b*V
3*P g . d * cos

Angka Montuary ( M2) : V


g * I * L* cos
dimana :
b = lebar saluran (m)
v = kecepatan saluran (m/detik)
P = perimeter basah saluran (m)
g = kecepatan gravitasi ( = 9.81 m/detik2)
d = kedalaman air rata-rata (m)

ENGINEERING CONSULTANT
E - 152
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

= gradien garis energi rata-rata (rad)


I = tan
L = panjang saluran peluncur (m)

E. Peredam Energi
Sebelum aliran air yang melintasi bangunan pelimpah dikembalikan ke dalam
sungai, maka aliran dengan kecepatan yang tinggi dalam kondisi superkritis
tersebut harus diperlambat dan dirubah pada kondisi aliran sub kritis. Hal ini
untuk mengurangi besarnya energi gerusan yang tinggi dalam aliran tersebut
hingga mencapai tingkat yang normal, sehingga aliran tersebut tidak
membahayakan kestabilan alur sungai. Untuk mengurangi energi tersebut,
maka di ujung hilir saluran peluncur biasanya dibuat suatu bangunan yang
disebut peredam energi pencegah gerusan.
Berdasarkan dengan tipe Bendungan urugan dan kondisi topografi serta sistim
kerjanya maka peredam energi mempunyai berbagai tipe, antara lain :
Tipe Loncatan
Peredam energi loncatan biasanya dibuat untuk sungai-sungai yang
dangkal (dengan kedalaman yang lebih kecil dibandingkan kedalaman
loncatan hidrolis aliran di ujung udik peredam energi). Tetapi tipe ini hanya
cocok untuk sungai dengan dasar alur yang kokoh.
Tipe Kolam Olakan (Stilling Basin)
Secara umum tipe kolam olakan dibedakan menjadi 3 tipe utama :
1. Kolam olakan datar
2. Kolam olakan miring ke hilir
3. Kolam olakan miring ke hulu
Akan tetapi yang paling umum dipergunakan adalah kolam olakan datar.
Selanjutnya kolam olakan datar dibedakan menjadi 4 macam, yang
dibedakan oleh rezim hidrolika alirannya dan kondisi konstruksinya.
a. Kolam Olakan Datar Tipe I
Tipe ini digunakan untuk debit yang kecil dengan kapasitas peredaman
energi yang kecil pula dan kolam olakannya berdimensi kecil. Tipe ini
biasanya dibangun untuk suatu kondisi yang tidak memungkinkan

ENGINEERING CONSULTANT
E - 153
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

pembuatan perlengkapan-perlengkapan lainnya pada kolam olakan


tersebut.
b. Kolam Olakan Datar Tipe II
Kolam olakan ini dilengkapi dengan gigi-gigi pemencar aliran di pinggir
hulu dasar kolam dan ambang bergerigi di pinggir hilirnya. Kolam
olakan tipe ini digunakan untuk aliran dengan tekanan hidrostatis yang
tinggi dan dengan debit yang besar (q = 45 m 3/dt/m, tekanan hidrostatis
> 60 m dan bilangan froude > 4.5)
Gigi-gigi pemencar aliran berfungsi untuk untuk lebih meningkatkan
efektifitas peredaman, sedangkan ambang bergerigi berfungsi untuk
menstabilkan loncatan hidrolis dalam kolam olakan tersebut. Kolam
olakan tipe ini sangat sesuai untuk Bendungan tipe urugan dan
penggunaanya cukup luas.

Gambar 5.25. Model Kolam Olakan Tipe II

c. Kolam Olakan Datar Tipe III


Pada hakekatnya prinsip kerja kolam olakan ini sangat mirip dengan
sistem kerja kolam olakan datar tipe II, akan tetapi lebih sesuai untuk
mengalirkan air dengan tekanan hidrostatis yang rendah dan debit yang
agak kecil (q < 18.5 m3/dt/m, V < 18 m/dt dan bilangan froude > 4.5).
Untuk mengurangi panjang kolam olakan, biasanya dibuatkan gigi-gigi
pemencar aliran di tepi hulu dasar kolam, gigi-gigi penghadang aliran

ENGINEERING CONSULTANT
E - 154
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

dapa dasar kolam olakan. Kolam olakan tipe ini biasanya untuk
bangunan pelimpah pada Bendungan urugan yang rendah.

Gambar 5.26. Model Kolam Olakan Tipe III

d. Kolam Olakan Datar Tipe IV


Sistem kerja kolam olakan tipe ini sama dengan sistem kerja kolam
olakan tipe III, tetapi penggunaannya yang cocok adalah untuk aliran
dengan tekanan hidrostatis yang rendah dan debit yang besar per unit
lebar, yaitu untuk aliran dalam kondisi super kritis dengan bilangan
froude antar 2.5 s/d 4.5. Biasanya kolam olakan ini digunakan pada
bangunan pelimpah suatu Bendungan urugan yang sangat rendah.

Gambar 5.27. Model Kolam Olakan Tipe IV

ENGINEERING CONSULTANT
E - 155
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Tipe Bak Pusaran


- Kolam Olakan Tipe Bak Pusaran (Roller Bucket)
Peredam energi tipe bak pusaran adalah bangunan peredam energi
yang terdapat di dalam aliran air dengan proses pergesekan antara
molekul-molekul air akibat adanya pusaran vertikal di dalam kolam.
Biasanya bak pusaran ini membutuhkan pondasi batuan yang kukuh
dan air yang terdapat di hilirnya cukup dalam.
Bak pusaran ini mempunyai bentuk serta modifikasi yang beraneka
ragam, disesuaikan dengan kondisi topografi dan geologi tempat
kedudukannya serta kondisi fluktuasi permukaan air di hilir kolam
tersebut.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 156
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Gambar 5.28. Kolam Olak Tipe Bak Pusaran

5.7.2. Rencana Teknis Bangunan Pengambilan (Intake)


Sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai penyadap aliran sungai, mengatur
pemasukan air dan sedimen serta menghindarkan sedimen dasar sungai dan
sampah masuk ke intake, maka dalam perencanaannya harus memperhatikan
hal-hal sebagai berikut :
A. Tata Letak
Tata letak intake diatur sedemikian rupa sehingga memenuhi fungsinya dan
biasanya diatur sebagai berikut :
sedekat mungkin dengan bangunan pembilas.
merupakan satu kesatuan dengan pembilas.
tidak menimbulkan pengendapan sedimen dan turbulensi aliran udik
intake.
B. Bentuk dan Ukuran Hidraulik
1. Lantai Intake
Ketinggian lantai intake bila intake ditempatkan pada bangunan pembilas
dengan underslice :
sama tinggi dengan plat lantai underslice
sampai dengan 0.50 m di atas plat underslice
tergantung kepada keaadan

ENGINEERING CONSULTANT
E - 157
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Bila intake ditempatkan pada bangunan pembilas tanpa underslice, maka


ketinggiannya di atas lantai udik Bendungan :
0.50 m, jika sungai mengangkat lanau.
1,00 m jika sungai mengangkut pasir dan kerikil
1,50 m jika sungai mengangkut kerakal dan bongkah
tergantung keadaan
2. Lebar dan tinggi lubang
Lebar lubang intake dapat dihitung dengan berbagai rumus pengaliran,
diantaranya :
Qi = c x b x h1/2 atau
Qi = x b x a 2gz
dimana :
Qi = debit intake, m3/det
c dan = koefisien pengaliran
a = tinggi bukaan lubang, m
g = percepatan gravitasi
z = kehilangan tinggi energi, m
Tinggi pintu atau h berbanding dengan lebar pintu (b), dapat diambil
dengan perbandingan sebagai berikut :
b:h = 1:1
b:h = 1,5 : 1 atau
b:h = 2:1

5.7.3. Analisis Hidrolika


Analisa hidrolika merupakan kegiatan analisa teknis yang bertujuan untuk
mengetahui apakah dimensi konstruksi bangunan yang direncanakan tersebut
sudah sesuai perilaku hidrolis aliran yang direncanakan akan melewatinya.
Dengan adanya analisa ini kemungkinan terjadinya over desain terhadap
bangunan yang direncanakan dapat dihindari seoptimal mungkin. Beberapa hal
yang harus diperhatikan sehubungan dengan perencanaan hidrolis saluran antara
lain :

ENGINEERING CONSULTANT
E - 158
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

1. Rumus Aliran
Untuk merencanakan desain saluran pengelak, saluran tailrace, peluncur
maupun bangunan pelengkap lainnya perlu diketahui nilai debit yang
direncanakan akan melewatinya. Adapun persamaan yang digunakan adalah
sebagai berikut :
Persamaan Manning dan Strikcler :
V = 1/n . R2/3 . I1/2 atau V = K . R2/3 . I1/2
Q = A.V
dimana :
V = kecepatan (m/detiik)
R = radius hidrolik = A/P (m)
P = perimeter basah (m)
I = kemiringan saluran/sungai
A = luas basah (m2)
Q = debit (m3/detik)
n = koefisien kekasaran Manning
k = koefisien kekasaran Strickler
2. Koefisien Kekasaran
Nilai koefisien kekasaran dijelaskan pada tabel di bawah ini :
Tabel 5.9. Koefisien Kekasaran
Koefisien Kekasaran
Material
N k
Pasangan Beton 0.014 70
Pasangan Tanah 0.022 0.028 35 40
Pasangan batu bata 0.017 60
Sungai 0.045 22

3. Analisa Kehilangan Energi Untuk Saluran Terbuka


a. Kehilangan Karena Faktor Gesekan
hf = f * L * V2 = I * L
R 2g
f = 2 g n2
R1/2
dimana :

ENGINEERING CONSULTANT
E - 159
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

hf = kehilangan karena gesekan (m)


f = koefisien gesekan
g = kecepatan gravitasi ( = 9.81 m/detik2)
L = panjang (m)
V = kecepatan (m/detik)
I = kemiringan hidrolis
R = radius hidrolis (m)

b. Kehilangan Total Tinggi Energi


1. Kehilangan total tinggi energi di saluran atau saluran tertutup.
H = Hmasuk + Hfr + Hb + Hkeluar
dimana :
Hmasuk,keluar = kehilangan tinggi energi masuk dan keluar (m)
Hfr = kehilangan tinggi energi akibat gesekan disepanjang
pipa atau saluran
Hb = kehilangan tinggi energi pada tikungan (m)
Kehilangan tinggi energi masuk dan keluar dinyatakan dengan rumus
sebagai berikut :
Hmasuk : masuk (Va V)2............... persamaan (1)
2g
Hkeluar : keluar (Va V)2.............. persamaan (2)
2g
dimana :
Hmasuk,keluar : tinggi energi masuk dan keluar (m)
masuk,keluar : kefisien kehilangan tinggi energi masuk dan keluar
Va : kecepatan rata-rata yang dipercepat dalam
bangunan (m/detik)
V : kecepatan rata-rata dibagian hulu atau hilir (m/detik)

ENGINEERING CONSULTANT
E - 160
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Gambar 5.30. Harga-harga Koefisien Kehilangan Tinggi Energi


Masuk dan Keluar

2. Kehilangan tinggi energi pada siku dan tikungan saluran tertutup


Perubahan arah aliran dan sebaran kecepatannya memerlukan
kehilangan air ekstra. Kehilangan tinggi energi pada siku dan tikungan
dapat dinyatakan sebagai berikut :
HB = KB .Va2
2g
dimana :
KB = koefisien kehilangan tinggi energi untuk siku dan tikungan saluran
tertutup
Tabel 5.10. Harga-harga KB Untuk Siku
Sudut (derajat)
Profil 0 0 0
5 10 15 22.50 300 450 600 700 900
Bulat 0.02 0.03 0.04 0.05 0.11 0.24 0.47 0.80 1.10
Segi 0.02 0.04 0.05 0.06 0.14 0.30 0.60 1.00 1.40
Empat
c. Kehilangan Energi Pada Pipa
Total kehilangan energi pada sistem saluran tertutup (pipa) dapat
dinyatakan sebagai berikut (Design of Small Dam, hal 455 - 460) :
HT = hL + Hv
HL = ht + he + hb + hf + hex + hc + hg
dimana,
HT : total kehilangan energi (m)

ENGINEERING CONSULTANT
E - 161
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

hL : komulatif kehilangan pada Sistem (m)


hV : kehilangan kecepatan pada valve (m)
ht : kehilangan pada rak sampah (m)
he : kehilangan masuk (m)
hb : kehilangan belokan (m)
hf : kehilangan friksi (m)
hex : kehilangan perluasan (m)
hc : kehilangan penyempitan (m)
hg : kehilangan di pintu atau di valve (m)
hv : kehilangan kecepan keluar di outlet

1. Kehilangan pada penyaring (trashrack)


Vn 2 a1 V 12
ht = Kt 2 g = Kt 2
an 2 g
Selanjutnya,
an an
Kt = 1,45 0,45 ag - 2
ag
dimana,
Kt : Koef kehilangan penyaring/trashrack (empiris)
an : Luas bersih (netto) yang melewati rak jeruji
(ambil 0,85 ag)(m2)
ag : Luas kotor (gross) rak jeruji dan pendukung (m 2)
Vn : Kecepatan yang melewati penyaring/trashrack (m/det)
V1 : Kecepatan yang melewati valve atau pintu (m/det)
a1 : Luas aliran

2. Kehilangan di pintu masuk


Ve 2 a1 V 12
he = Ke 2 g = Ke 2
ae 2 g

1
Ke = 1
C2
dimana,
Ke : Koefisien kehilangan masuk

ENGINEERING CONSULTANT
E - 162
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ae : Luas aliran section masuk (m2)


C : Koefisien debit
a1 : Luas aliran (m2)
Ve+V1 : Kecepatan secara berurutan yang melewati daerah masuk
(m/det)

3. Kehilangan di belokan
Vb2 a1 V 12
hb = Kb 2 g = Kb 2
ae 2 g
dimana,
Kb : koefisien kehilangan di belokan
ab+a1 : luas aliran pada belokan (m2)
Ve+V1 : Kecepatan aliran secara berurutan yang melewati belokan
(m/det)

4. Kehilangan friksi
a. Section Bulat
f *L V2
hf = *
D 2g

124,5n 2
f=
D4 / 3

dimana,
hf : koefisien gesek
n : koefisien kekasaran manning (untuk beton dapat dipakai n
= 0,008 samapai 0,014)
D : diameter pipa (m)
V : kecepatan rata-rata yang melewati section (m/det)

b. Bentuk tapak rumah sisi vertikal


f '*L V 2
hf = *
R 2g

ENGINEERING CONSULTANT
E - 163
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

2 gn 2
f =
D4 / 3
BH 0,5r
R=
B 2 H r

dimana,
hf : Koefisien gesek
n : Koef kekasaran manning (untuk beton dapat dipakai n =
0,008 sampai 0,014)
R : Radius hidraulik pada saluran (m)
H : Tinggi sisi vertikal saluran (m)
B : Lebar saluran (m)
R : Radius tapak saluran (m)
V : Kecepatan rata-rata (m/det)

5. Kehilangan friksi
V 12 V 22
hex = Kex *
2g 2 g

dimana,
Kex : Koef kehilangan perluasan
V1 : Kecepatan perluasan pada upstream (m/det)
V2 : Kecepatan perluasan pada downstream (m/det)

6. Kehilangan pada penyempitan


V 22 V 12
Hc = Kc *
2g 2 g

dimana,
Kc : Koefisien kehilangan penyempitan (=0,10 untuk
penyempitan yang berangsur-angsur dan 0,50 untuk
penyempitan mendadak, lihat Design of Small Dam, hal.
458)
V1 : Kecepatan penyempitan pada upstream (m/det)
V2 : Kecepatan penyempitan pada downstream (m/det)

ENGINEERING CONSULTANT
E - 164
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

7. Kehilangan akibat pintu air


Vg 2 a V 12
hg = Kg 2 g = Kg 2
a 2g
dimana,
Kg : Koef kehilangan di pintu air
Ag+a2 : luas aliran pada pintu (m2)
Vg+V1 : Kecepatan yang melewati pintu (m/det)
8. Kehilangan keluar
Vv 2 a1 V 12
hv = Kv 2 g = Kv 2
ag 2 g
dimana,
Kv : Koef kecepatan energi keluar (=0,10, lihat Design of Small
Dam, hal 460)
Av+a1 : luas aliran pada daerah keluar (m2)
Vv+V1 : Kecepatan yang melewati daerah keluar (m/det)

5.8. VERTIKAL DRAIN


5.8.1. Prinsip Vertikal Drain
Laju konsolidasi yang rendah pada lempung jenuh dengan permeabilitas
rendah dapat dinaikkan dengan menggunakan drainase vertikal (vertical
drain) yang memperpendek lintasan pengaliran dalam lempung. Kemudian
konsolidasi terutama diperhitungkan akibat pengaliran horisontal radial,
yang menyebabkan disipasi kelebihan tekanan air pori yang lebih cepat,
pengaliran vertikal kecil pengaruhnya. Dalam teori, besar penurunan
konsolidasi akhir adalah sama, hanya laju penurunannya yang terpengaruh.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 165
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Karena tujuannya adalah untuk mengurangi panjang lintasan pengaliran,


maka, jarak antara drainase merupakan hal yang terpenting. Drainase
tersebut biasanya diberi jarak dengan pola bujur sangkar atau segitiga.
Jarak antara drainase tersebut harus lebih kecil daripada tebal lapisan
lempung dan tidak ada gunanya menggunakan drainase vertikal dalam
lapisan lempung yang relatif tipis.
Untuk mendapatkan desain yang baik, koefisien konsolidasi horisontal dan
vertikal (Ch dan Cv) yang akurat sangat penting untuk diketahui. Biasanya
rasio Ch/Cv terletak antara 1 dan 2, semakin tinggi rasio ini, pemasangan
drainase kemungkinan menjadi berkurang akibat proses premasan
(remoulding) selama pemasangan (terutama bila digunakan paksi),
pengaruh tersebut dinamakan pelumasan (smear). Efek pelumasan ini
dapat diperhitungkan dengan mangasumsikan suatu nilai Ch yang sudah
direduksi atau dengan menggunakan diameter drainase yang diperkecil.
Masalah lainnya adalah diameter drainase pasir yang besar cenderung
menyerupai tiang-tiang yang lemah, yang mengurangi kenaikan tegangan
vertikal dalam lempung sampai tingkat yang tidak diketahui dan
menghasilkan nilai tekanan air pori berlebihan yang lebih rendah dan begitu
pula halnya dengan penurunan konsolidasi. Efek ini minimal bila
menggunakan drainasi cetakan karena fleksibilitasnya.
Pengalaman menunjukkan bahwa drainasi vertikal tidak baik untuk tanah
yang memiliki rasio kompresi sekunder yang tinggi, seperti lempung yang

ENGINEERING CONSULTANT
E - 166
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

sangat plastis dan gambut, karena laju konsolidasi sekunder tidak dapat
dikontrol oleh vertikal drain.

5.8.2. Jenis Vertikal Drain


Pada prinsipnya drainase ini dapat dikatakan menjamin aliran air tanpa
hambatan atau dapat dikatakan kecil ke arah vertikal yaitu ke arah lapisa
porus yang berada di atas muka tanah atau bahkan dua lapisan porus di
atas dan di bawah lapisan lunak (berada dalam tanah) dan juga tidak
menimbulkan masalah padabidangkontakantara tanah dan drain.Tipe
vertikal drain bergantung pada material yang digunakan dan dibagi menjadi
dua bagian besar, yaitu:
a.Vertikal drain konvensional.
b. Vertikal drain sintesis.

5.8.2.1. Vertikal Drain Konvensional


Tipe ini klasik yang sudah banyak digunakan. Bahan yang digunakan
adalah bahan bergradasi atau pasir (sand drain). Umumnya terdiri dari
pasir atau kerikil yang mempunyai permeabiitas tinggi.Metode tradisional
dalam membuat vertikal drain adalah dengan membuat lubang bor pada
lapisan lempung dan mengurung kembali dengan pasir yang bergradasi
sesuai diameternya sekitar 200 - 400 mm dan saluran drainasi tersebut
dibuat sedalam lebih dari 30 m. Pasir harus dapat dialiri air secara efisien
tanpa membawa partikel-partikel tanah yang halus.Drainasi cetakan juga
banyak digunakan dan biasanya Iebih murah daripada drainasi urugan
untuk suatu daerah tertentu. Salah satu jenisnya adalah drainasi prapaket
(prepackage drain) yang terdiri dari sebuah selubung filter, biasanya dibuat
dari polyprophylene, yang diisi pasir dengan diameter 65 mm. Jenis ini
sangat fleksibel dan biasanya tidak terpengaruh oleh adanya gerakan-
gerakan tanah lateral.

5.8.2.2. Vertikal Drain Sintetis


Ada beberapa macam dari vertikal drain sintetik dan dapat dikategorikan
dalam beberapa kategori (Magnan, 1983) :

ENGINEERING CONSULTANT
E - 167
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

a. Vertikal drain sintesis dari bahan karton.


b. Vertikal drain dari bahan plastik.
c. Vertikal drain dari bahan pasir yang dibungkus dengan material sintetik.
d. Vertikal drain dari bahan serabut kelapa.
Vertikal drain sintetik umunya berbentuk strip dan terdiri dari dua
komponen utama yaitu inti plastik yang dibungkus dengan material
geosintesis. Inti plastik berfungsi sebagai penyalur air dan pembungkus
sebagai filter bagi partikel tanah halus.Dibanding dengan vertikal drain dari
bahan pasir (sand drain), vertikal drain sintesis mempunyai beberapa
keuntungan menurut Young (1997), diantaranya :
1. Gangguan tanah akibat pemasangan lebih kecil.
2. Alat-alat pemasangan lebih ringan.
3. Meniadakan kontrol kualitas pasir dilapangan.
4. Kualitas vertikal drain sintesis lebih seragam.
5. Menjamin jalur drainase yang kontinyu.
6. Kontaminasi partikel halus jauh lebih kecil.
7. Menahan deformasi yag besar tanpa menghilangkan fungsinya.
8. Lebih cepat pemasangannya.
9. Lebih ekonomis.
Karena alasan-alasan tersebut metode sand drain semakin jarang
digunakan dan banyak yang memilih menggunakan vertikal drain jenis
sintesis.

5.8.3. Penggunaan Vertikal Drain


Vertikal drain dapat dipergunakan dalam berbagai aplikasi, diantaranya di
bawah embankment jalan raya, jalan kereta api atau landas pacu pesawat
serta di bawah pondasi tanki minyak yang berdiri di atas tanah lunak, pada
konstruksi-konstruksi tersebut. Vertikal drain terutama digunakan untuk
mempercepat proses konsolidasi sehingga pada waktu konstruksi yang
sebenarnya didirikan, tidak akan dialami penurunan atau beda penurunan
yang berlebihan yang dapat menyebabkan gangguan operasi sarana-
sarana tersebut atau bahkan merusak strukturnya. menunjukkan aplikasi
di oprit jembatan, bila oprit jembatan masih dapat mengalami penurunan

ENGINEERING CONSULTANT
E - 168
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

pada waktu operasi maka akan timbul beda elevasi antara oprit jembatan
dengan jembatannya yang biasanya tidak turun (sangat kecil) karena
berdiri di atas pondasi dalam.Bila dalam pelebaran suatu jalan, elevasi
jalan baru harus dibuat sama dengan jalan lama, sedangkan penggalian
tanah disamping jalan lama dapat menimbulkan gangguan stabilitas, maka
vertikal drain merupakan solusi yang tepat. Bila diperlukan suatu
embankment yang tinggi dan dihadapi masalah stabilitas, vertikal drain
dapat dipakai untuk mempercepat keluarnya tegangan air pori dan
meningkatkan tegangan efektif tanah sehingga kestabilan tanah pondasi
embankment tersebut menjadi lebih baik . Pada proyek reklamasi vertikal
drain digunakan untuk mempercepat proses penurunan dan meningkatkan
stabilitas sehingga proses pengurukan dapat berjalan dengan balk dan
cepat. Vertikal drain juga dapat dikombinasikan dengan metode
prakompresi hampa udara (vacuum drainage) atau pemadatan dinamis
(dynamic consolidation) untuk mempercepat disipasi tegangan air pori
yang timbul pada waktu dilakukan proses pemadatan. Dalam proses
prakompresi hampa udara, pemasangan vertikal drain tidak boleh
mnencapai lapisan permeabel yang mengandung sumber air karena ini
akan berakibat tersedotnya air dari lapisan permeabel tsb. Pemancangan
tiang pancang dlbawah lereng galian akan menimnbulkan tegangan air
pori yang dapat membahayakan kestabilan lereng galian tersebut. Disini
vertikal drain akan sangat berguna untuk mempercepat proses keluarnya
tegangan air pori sehingga kestabilan lereng tidak banyak terganggu.

5.8.4. Transformasi Tampang Vertikal Drain


Ukuran band drain atau prefabricated vertikal drain adalah 100 mm kali 5
mm dengan bentuk penampang persegi panjang. Pada saat dilakukan
perhitungan terhadap prefabricated vertikal drain tersebut maka
penampang dari prefabricated vertikal drain akan dimodelkan menjadi
berbentuk lingkaran dengan perhitungan diameter ekivalen yang
diasumsikan sebagai keliling persegi panjang dibagi (Hansbo,1960).

ENGINEERING CONSULTANT
E - 169
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

INSTALLATION EXTRACTING
DRIVING MANDREL CUTTING FLODRAIN
EQUIPMENT MANDREL
Gambar 5.31. Instalasi Vertikal Drain Menggunakan Mandrel

Penurunan dari tanah yang dilengkapi vertikal drain ini dibedakan atas dua
kondisi :
1. Kondisi free strain, terjadi bila akibat beban urugan, penurunan tanah
dianggap bebas penurunan yang terjadi kemungkinan tidak semua
merata.
2. Kondisi equal strain, terjadi bila penurunan tanah akibat urugan
dianggap merata semua besarnya.

5.8.5. Desain Vertikal Drain


Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa perencanaan sistem
drainase vertikal ini berhubungan dengan lama penurunan atau waktu
konsolidasi. Perhitungan waktu konsolidasi dapat dilakukan dengan rumus
sebagai berikut :
Tv x H 2
t=
Cv
dimana :
- H = Tebal lapisan (m)

ENGINEERING CONSULTANT
E - 170
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

- Cv = Koefisien konsolidasi (lihat di Lampiran Tabel Harga Cv di setiap


lapisan)
- Maka waktu sampai 90% konsolidasi tercapai adalah :
t = T90% (Hdr)2/Cv, dengan asumsi konsolidasi satu arah (vertikal saja),
sehingga
- Hdr = 10 meter
- T90% = 0.848
- t = 0.848 x (13)2/5 = 14.94 tahun
Melihat lamanya penurunan hingga mencapai 14.94 tahun, maka
diperlukan sistem percepatan pemampatan tanah lempung dengan
menggunakan Prefabricated Vertical Drain atau PVD.
PVD ini dipasang dengan pola segitiga dengan berbagai macam jarak
spasi antar titik PVD yaitu 0,80 m; 1,00 m; 1,25 m; 1,50 m dan 2,00 m.
Untuk menghitung waktu percepatan dengan adanya PVD ini dapat
dihitung dengan rumus:
t =(D2/8Ch)*{2 F(n)}*ln(1/1-Uh)
dimana:
- F(n) = faktor hambatan yang disebabkan jarak spasi antar PVD, yang
dapat ditabelkan pada Tabel 5.11. di bawah ini.
Tabel 5.11. Menghitung F(n) Dengan PVD Berpola Segitiga
D
Jarak PVD, dw1 dw2
No. a b equivalen F(n)
s (m) (cm) (cm)
(cm)
1 0.80 10.00 0.50 6.688 5.250 84.00 2.023
2 1.00 10.00 0.50 6.688 5.250 105.00 2.246
3 1.25 10.00 0.50 6.688 5.250 131.25 2.469
4 1.50 10.00 0.50 6.688 5.250 157.50 2.651
5 2.00 10.00 0.50 6.688 5.250 210.00 2.939

- S = Jarak PVD (m)


- a = Panjang penampang PVD (cm)
- b = Lebar penampang PVD (cm)
- dw1 = Diameter equivalen penampang PVD = 2(a + b)/p
- dw2 = Diameter equivalen penampang PVD = (a + b)/2

ENGINEERING CONSULTANT
E - 171
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

- D = Diameter equivalen pemasangan PVD = 1.05 s (untuk


pemasangan segitiga)
- F(n) = faktor hambatan yang disebabkan karena jarak antara PVD
- F(n) = ln (D/dw) -
- t = (D2/8Ch)*{2 F(n)}*ln(1/1-Uh)
Dari hasil perhitungan (lihat Lampiran Tabel Perhitungan Sc pvd untuk setiap
jarak spasinya) maka didapat suatu grafik hubungan antara Sc pvd dengan t,
waktu percepatan yang didapatkan pada Gambar dibawah ini :

Gambar 5.32 Hubungan Antara Scpvd dengan t (minggu)

Gambar 5.33. Hubungan Antara U dengan t (minggu)


Sehingga dengan memperhatikan waktu efektif dan biaya efektif, maka
dipakai pemasangan PVD dengan pola segitiga dengan jarak spasi antar

ENGINEERING CONSULTANT
E - 172
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

titik pemasangan PVD sebesar 1,25 m, dengan waktu yang dicapai adalah
6 minggu (U 70%).

Dan untuk mengetahui Hawal dan Hakhir setelah terjadinya settlement dapat
dilihat pada Gambar 5.26 berikut ini:

Gambar 5.34. Grafik Hubungan antara Hawal dan Hakhir


Setelah Terjadi Settlement
Sedangkan untuk mengantisipasi perhitungan perbedaan settlement (S)
dapat digunakan konstruksi camber pada tubuh bendungan.

5.8.6. Verifikasi Pemodelan Vertikal Drain


Salah satu parameter yang penting pada analisis konsolidasi adalah
koefisien permeabilitas tanah (k) yang bisa diperoleh dari pengujian
laboratorium seperti : falling-heat test, constan-heat test, dan pengujian
lapangan. Umumnya tanah lempung mempunyai koefisien permeabilitas
yang relaitif kecil dibanding dengan tanah pasir, sehingga proses
konsolidasi pada tanah lempung relatif lebih lama dibanding pada tanah
pasir.
Untuk mempercepat proses konsolidasi, dibuat suatu konstruksi vertikal
drain, yang ditanamkan ke dalam lapisan tanah secara vertikal. Pola
penanaman vertikal drain yang terpasang dilapangan setempat-setempat,
dengan jarak tertentu, sementara di dalam program plaxis fasilitas

ENGINEERING CONSULTANT
E - 173
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

pengimlementasikan vertikal drain bersifat menerus (plane strain). Untuk


dapat mengimplementasikan vertikal drain yang terpasang di lapangan ke
dalam program, maka haruslah terlebih dahulu diverifikasi kedalam bentuk
plane strain yang akan menghasilkan koefisien permeabilitas tanah (k)
yang baru, selanjutnya dengan koefisien permeabilitas tanah (k) yang baru
tersebut proses pensimulasian pada program plaxis dapat dilakukan.
Menurut D. Russell, C.C Hird, dan I.C Pyrah, 1999 proses pengekivalenan
tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
a. Jarak antara vertikal drain pada kondisi plane strain dapat diubah
(perubahan geometri), dengan permeabilitas yang dibuat tetap pada
kondisi axisymetris dan plane strain (kax = kpl).
b. Permeabilitas pada kondisi plane strain dapat diubah (perubahan
permeabilitas), dengan geometri yang dibuat sama.
c. Mengkombinasikan perubahan geometri dan permeabilitas.
D.Russell,et.al, 1995 mengekivalenkan koefisien permeabilitas tanah dari
kondisi axisymetris menjadi plane strain dengan cara menyamakan debit
air yang masuk ke kondisi axisymetris sama dengan ke kondisi plane strain.
Pengekivalenan koefisien permeabilitas (k) dilakukan dengan rumusan
sebagai berikut:
dimana :

kax = Permeabilitas tanah arah horizontal kondisi axisymetris


kpl = Permeabilitas tanah arah horizontal kondisi plane strain
ks = Permeabilitas tanah pada daerah smear zone
B = dari jarak vertikal drain untuk kondisi plane strain
R = Jari-jari ekivalen kondisi axisymetris

5.9. HORISONTAL DRAIN


Dibuat untuk mengurangi tekanan air tanah pada badan lereng di daerah
keruntuhan. Dengan menggunakan metode ini, beban akan berkurang

ENGINEERING CONSULTANT
E - 174
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

serta akan meningkatkan kestabilan lereng. Diameter lubang drainase


adalah 89mm - 150mm. Panjang pengeboran dilakukan untuk mencapai
seberang daerah keruntuhan. Kemiringan pengeboran sekitar 10 derajat ke
atas, sehingga aliran air dalam pipa drainase terjadi secara gravitasi. Pipa
PVC dapat digunakan sebagai jalur drainase. Pipa PVC dibuat berlubang
dengan diameter 8mm yang disusun 3 baris dengan jarak 100mm pada
daerah serapan air. Daerah pipa berlubang di bungkus dengan geotekstil
non-woven untuk menjaga filtrasi sehingga butiran tanah tidak masuk ke
dalam pipa. Di ujung atas pipa di grout.

Gambar 5.35. Dokumentasi Horizontal Drain


Horizontal Drain box merupakan teknologi terbaru untuk drainase yang
efektif dan ekonomis bunker pasir lapangan golf. The HDB terdiri dari kotak
drain polietilen dilengkapi dengan layar terjepit di antara dua penggarang
dukungan fiberglass dilepas.
Desain inovatif ini memungkinkan untuk tidak hanya membersihkan layar,
tetapi untuk inspeksi dan pembilasan dari struktur menyediakan sistem
bunker drainase benar-benar berguna.
Kotak tersebut kemudian dihubungkan dengan pipa polyethylene ADS
bergelombang untuk memindahkan air dari bunker ke dalam sistem
drainase kursus itu. HDBs sekarang digunakan di lebih dari 400 program di
Amerika Serikat.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 175
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Ukuran 12 16 48 inci, HDB menyediakan area drainase 52 kaki pipa


berlubang 4-inci dan dapat mudah digunakan dalam konstruksi baru dan
mudah ditambahkan ke bunker yang ada. Dua fiberglass tungku terbuka,
dalam hubungannya dengan mesh kontrol debu, filter debu dan tanah liat
dan mudah diperbaiki.

E.2. PROGRAM KERJA


5.10. UMUM
Dengan terdapatnya constraint waktu yang disediakan untuk Pekerjaan
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan
yaitu selama 37 (tiga puluh tujuh) bulan, maka Konsultan akan berusaha
menyusun program kerja seefektif mungkin agar pekerjaan dapat
diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Untuk itu perlu dibuat rencana dan jadual pelaksanaan pekerjaan yang
mantap. Pada paragraf berikut ini dapat diikuti penjelasan mengenai
rencana dan jadwal pelaksanaan pekerjaan.

5.11. PERSIAPAN KONSTRUKSI


Paket pekerjaan jasa konstruksi pembangunan Bendungan Teritip menurut
rencana akan dilaksanakan mulai Oktober 2013Oktober 2016 (sekitar 37
bulan masa kalender) sejalan dengan proses tender pengadaan Jasa
Konsultansi yang sedang berjalan ini.
Gambar yang tercantum pada dokumen penawaran, akan menjadi gambar
kontrak yang mencerminkan gambaran pekerjaan yang akan dilaksanakan
oleh Kontraktor untuk konstruksi pembangunan Bendungan Teritip. Gambar
yang ada akan menjadi dasar untuk mengestimasi biaya penawaran yang
akan menjadi dasar Kontraktor untuk menentukan rencana program kerja,
rencana asal material konstruksi, dan hal-hal lain yang berkartan dengan
jasa konstruksi.
Pemeriksaan Gambar Disain akan menjadi hal yang perlu disiapkan oleh
Konsultan dalam Tahap Persiapan Konstruksi ini. Pemeriksaan Gambar
Disain Final dalam kaitannya dengan Gambar Konstruksi yang akan
dipersiapkan oleh Kontraktor untuk kemudahan dan kecepatan rencana

ENGINEERING CONSULTANT
E - 176
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

kerja akan menjadi bantuan kepada pihak Proyek agar pekerjaan


konstruksi pembangunan Bendungan Teritip dapat diselesaikan tepat
waktu, mutu tercapai, dan biaya konstruksi yang terkendali.

5.12. PEKERJAAN SUPERVISI KONSTRUKSI


5.12.1. Umum
Konsultan pada pekerjaan supervisi dengan pemahaman terhadap KAK
sebagai telah diuraikan sebelumnya, akan bertindak sebagai Wakil dari
Engineer (Engineer Representative) sebagaimana disebutkan dalam
Dokumen Kontrak, sehingga jasa konsultasi yang akan dilakukan oleh
konsultan pada tahap konstruksi ini adalah merupakan asisten konsep
dengan tugas utama adalah membantu sepenuhnya pihak Pemilik Proyek
dan akan melakukan pengambilan keputusan melalui diskusi dengan pihak
Pemilik Proyek.
Konsultan akan melaksanakan aktivitas yang berkaitan dengan supervisi
pekerjaan sipil dengan gambaran pekerjaan sebagai berikut:
Finalisasi Gambar Disain dan persiapan Gambar Kerja
Review dan persetujuan program kerja Kontraktor
Modifikasi Gambar kerja
Supervisi dan kontrol progress, kualitas dan program keselamatan
Pengawasan dan Evaluasi Pekerjaan Investigasi tambahan
Inspeksi, Testing, dan Kontrol Pengiriman selama proses Fabrikasi
Sertifikat Pembayaran
Mempersiapkan Laporan Pemeriksaan, Pengujian, dan aktivitas
lapangan
Commissioning, dan Penerimaan hasil test
Pekerjaan Sub-Kontrak
Bantuan dalam aspek Lingkungan
System Pelaporan
Operasional dan Pemeliharaan

ENGINEERING CONSULTANT
E - 177
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

5.12.2. Evaluasi Program Kerja Kontraktor


Dengan memperhatikan kondisi pada suatu saat dan kinerja progress
yang sedang berlangsung, maka sangat penting untuk membuat suatu
sistematika untuk monitor schedule beserta variasi aktivitas kerja lapangan,
sehingga progress pekerjaan bisa dijaga dengan baik.
Untuk keperluan ini, system scheduling dengan metode Network
Planning dalam hal ini CPM akan menjadi salah satu metode yang paling
mudah dikontrol untuk memonitor jadwal konstruksi beserta keterkaitan
kerja dan lintasan kritis untuk setiap item pekerjaan.
Dalam waktu tidak lebih dan enampuluh (60) hari sejak Surat Perintak
Kerja, Kontraktor harus mengirim bagan alir Network Planning yang
mengimplementasikan seluruh rencana kerja konstruksi. Konsultan akan
mengevaluasi, merevisi dan menyetujui, sesegera mungkin, program kerja
detail Network Planning untuk masing-masing pekerjaan-pekerjaan utama.
Program Network Planning ini harus dengan teliti menjelaskan hubungan
dan keterkaitan aktivitas kerja beserta lintasan kritis yang menyertai
masing-masing pekerjaan dan perkiraan rencana lamanya kegiatan
masing-masing pekerjaan.
Lebih lanjut, Konsultan akan memonitor progress kerja dalam
kaitannya dengan schedule konstruksi yang telah disetujui dan akan
mengevaluasi dan merevisi untuk setiap urutan komponen kerja yang
merupakan progress.
Sebagai tambahan, Kontraktor akan mengirim / mengajukan dokumen-
dokumen berikut dengan batasan waktu untuk memonitor progress
pekerjaan:
1. Rencana dalam bentuk barchart yangakan menjelaskan rencana
kerja dalam waktu 6 bulan mendatang,
2. Dokumen yang menjelaskan Metode Pelaksanaan Konstruksi,
3. Daftar / List peralatan konstruksi,
4. Prediksi kebutuhan tenaga kerja,
5. Bagan Organisasi Manajemen di Lapangan / Site, dan
6. Kebutuhan akan tenaga ahli.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 178
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Konsultan akan mengevaluasi dan mengirim jawaban terhadap


dokumen Kontraktor berdasarkan rencana Network Planning yang
disetujui.

5.12.3. Memeriksa Gambar Konstruksi yang dipersiapkan oleh Kontraktor


Konsultan akan mempersiapkan Gambar Disain yang sesuai dengan
perhitungan dan meliputi Gambar Kontrak.
Konsultan akan melakukan koordinasi pekerjaan memeriksa Gambar
Konstruksi dengan memperhatikan item-item sebagai berikut:
Kondisi aktual topografi dan kondisi geologi yang berbeda dengan
kondisi pada tahap disain.
Metode konstruksi, quality assurance dan program keselamatan
yang direncanakan oleh Kontraktor
Rencana fabrikasi, testing dan pengiriman pekerjaan instrumentasi,
dan lain-lain yang juga akan meliputi hal-hal sebagai berikut

Konsultan akan secara menerus memeriksa Gambar Konstruksi dan


apabila dianggap perlu akan membuat gambar disain yang lebih rinci
sesuai dengan kondisi lapangan yang sejalan dengan konsep untuk
keperiuan koordinasi pekerjaan yang baik, cepat dan efisien.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 179
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 180
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 181
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja
5.12.4. Supervisi dan kontrol progress, kualitas dan program keselamatan
Untuk menjamin agar pekerjaan supervisi konstruksi pembangunan
bendungan in! dapat diselesaikan dengan mutu seperti yang disyaratkan,
Konsultan dalam melaksanakan Pekerjan Pengawasan / Supervisi
Konstruksi Berupa Supervisi Pembangunan Bendungan Teritip di Kota
Balikpapan, Kalimantan Timur ini akan membagi kegiatan sebagai berikut :

5.12.4.1. Kegiatan Sebelum Pelaksanaan Konstruksi


Kegiatan ini adalah merupakan kegiatan awal yang sangat penting bagi
suksesnya pelaksanaan konstruksi karena pada periode ini segala
sesuatu yang berhubungan dengan evaluasi desain maupun persiapan
Kontraktor, akan dilakukan secara detail, diantaranya adalah:
"Pre Construction Meeting", berupa pertemuan antara Pemimpin
Proyek, Konsultan danKontraktor.
Dalam pertemuan ini akan dibahas bersama mengenai dokumen
kontrak pelaksanaanpekerjaan. Hal-hal penting yarig dapat
menimbulkan perbedaan penafsiran akandibahas secara lebih
seksama untuk mendapatkan kesamaan persepsi, supaya
tidakmenimbulkan masalah di kemudian hari.

Evaluasi Gambar Rencana dan Spesifikasi Teknis.


Gambar Rencana yang telah dibuat perlu dicek kembali sebelum
pekerjaan Konstruksi dilaksanakan, sehingga beberapa bagian dari
Gambar Rencana yang mungkin tidak sesuai dengan keadaan saat
ini dapat dilakukan dievaluasi dan perbaikan teriebih dahulu. Dalam
Spesifikasi Teknis juga kadang-kadang dijumpai pasal-pasal yang
tidak mungkin untuk dilaksanakan dengan kondisi setempat, karena
itu perlu diadakan evaiuasi.

Evaluasi terhadap Program Mobilisasi Kontraktor


Umumnya, pada saat pelelangan Kontraktor memberikan program
yang sangat baik, akan tetapi pada saat pelaksanaan akan berusaha
membuat perubahan yang kadang-kadang jauh berbeda. Evaluasi
ini akan meliputi:

ENGINEERING CONSULTANT
E - 182
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja
Evaluasi terhadap Base Camp, Kantor, Laboratorium.
Peralatan yang dimiliki atau disewa.
Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan.
Daftar Personil yang akan ditempatkan di Proyek.
Evaluasi terhadap Rencana Kerja Kontraktor.

Evaluasi ini dimaksudkan untuk menentukan penjelasan dari


Kontraktor terhadap Rencana Kerjanya dalam melaksanakan
pekerjaan konstruksi, diantaranya adalah:
Metoda Pelaksanaan yang dilakukan.
Hasil Test mutu bahan yang dipergunakan.
Prosedur permintaan persetujuan pekerjaan.
Sistem pelaporan.
Rapat Koordinasi.

Perlu adanya koordinasi antara Pemimpin Satuan Kerja, Konsultan


Supervisi dan Kontraktor datam melaksanakan pekerjaan akan
memberikan hasil yang baik. Rapat koordinasi diharapkan rutin
(secara mingguan atau bulanan) selama pekerjaan konstruksi.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 183
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 184
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja
Survai Lapangan; Konsultan bersama-sama dengan Kontraktor
melaksanakan peninjauan untuk menentukan lingkup pekerjaan.
Selanjutnya menentukan titik referensi yang akan digunakan dalam
waktu pelaksanaan. apabila masih terdapat perbedaan dari hasil
evaluasi, maka pada saat itu dibuat perbaikan seperlunya dan
menghitung kembali volume pekerjaan yang sebenarnya akan
dilaksanakan. Selanjutnya apabila terdapat perbedaan volume maka
akan dibuatkan Dokumen Perubahan Volume (Addendum).

ENGINEERING CONSULTANT
E - 185
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 186
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja
Penelitian Bahan Yang Digunakan; Untuk mendapatkan hasil yang
maksimal dan sesuai dengan Dokumen Kontrak, maka penelitian
terhadap bahan yang akan digunakan dalam pekerjaan ini sangat
penting mengingat bahan tersebut akan permanen dan tidak akan
dibongkar lagi. Bahan yang perlu mendapat penelitian lebih awal
ialah : bahan timbunan, besi beton, semen, mortar, pasir, batu pecah
(split), batu, pintu air dan sebagainya. Apabila diperlukan Konsultan
akan meninjau pabrik pembuat fasilitas hidromekanik. Data-data
hasil penelitian ini akan merupakan dasar pengawasan pekerjaan
selanjutnya. Semua penelitian tersebut hams dilakukan oleh
Kontraktor dan mengajukan permintaan persetujuan kepada
Pemimpin Satuan Kerja melalui Konsultan.

Konsultan menyelesaikan pemeriksaan pengujian yang dilakukan


oleh Kontraktor dan uji coba material untuk memastikan keseuaian
dengan spesifikasi yang ada dalam dokumen kontrak. Konsultan
akan meninjau ulang pengujian-pengujian yang ada dalam
spesifikasi dan prosedur test yang diajukan oleh Kontraktor dan
merekomendasikan untuk perubahan jika perlu.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 187
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 188
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

5.12.4.2. Kegiatan Waktu Pelaksanaan Pekerjaan


Dalam periode pelaksanaan ini kegiatan pengawasan meliputi kegiatan
rutin yang ditentukan dalam Dokumen Kontrak. Apabila tahap kegiatan
sebelum pelaksanaan telah diselesaikan dengan baik, maka tahap waktu
pelaksanaan ini tidak menemui kesulitan yang berarti. Pekerjaan pokok
pada waktu pelaksanaan pekerjaan adalah meliputi pekerjaan
pengawasan sebagai berikut:
Kegiatan Pengawasan; Pengawasan pelaksanaan pekerjaan fisik
merupakan tugas rutin dan KonsuKan sebagai pembantu Pemimpin
Proyek. Pengawasan terbagi atas:
a. Pengawasan Pelaksananan konstruksi
b. Pengawasan Waktu Pelaksanaan
c. Pengawasan Mutu Pekerjaan
d. Pengawasan Biaya Proyek
e. Pengawasan Administrasi

a. Pengawasan Waktu Pelaksanaan Pekerjaan


Waktu pelaksanaan perlu pengawasan yang ketat agar supaya tidak
kemunduran waktu polaksanaan. Untuk melaksanakan pengawasan ini
konsultan akan selalu mengacu kepada program kerja yang telah disusun
oleh Kontraktor dan telah mendapatkan persetujuan dari Pemimpin
Proyek. Konsultan akan selalu mengingatkan dan mencarikan jalan
keluar apabila pelaksanaan pekerjaan mengaiami keterlambatan.

b. Pengawasan Mutu Pekerjaan


Pengawasan mutu ini terdiri dari beberapa urutan pekerjaan, antara lain:
o Kontraktor harus mengajukan permintaan (request) untuk mulai
sesuatu pekerjaan. Pekerjaan tidak dapat dimulai sebelum
persetujuan diberikan oleh Konsultan. Dalam pengajuan tersebut
Kontraktor harus menjelaskan lokasi pekerjaan, jenis pekerjaan,
peralatan yang digunakan, pekerjaan yang diperlukan dan perkiraan
selesai suatu tahap serta perkiraan volume pekerjaan.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 189
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja
o Pengajuan untuk memeriksa pemasangan profit atau patok.
Pekerjaan tidak dapat dimulai sebelum pemasangan profit atau patok
mendapat persetujuan dari Konsultan.
o Pengajuan persetujuan terhadap campuran bahan. Sebelum
melakukan pekerjaan yang memerlukan campuran bahan, maka
Kontraktor harus mengajukan permintaan persetujuan atas campuran
yang diinginkan, dalam bentuk pemeriksaan visual maupun
pemeriksaan laboratorium.
o Pengajuan terhadap hasil pemadatan
o Setiap suatu lapisan yang telah dipadatkan Kontraktor harus
mengajukan persetujuan terhadap kepadatan yang telah dilakukan
tersebut.
o Setiap hari Kontraktor bersama-sama dengan Konsultan membuat
laporan mengenai kegiatan yang dilakukan termasuk pencatatan
terhadap kemajuan dan kejadian-kejadian panting lainnya.
o Konsultan menyelesaikan pemeriksaan pengujian yang dilakukan oleh
Kontraktor dan uji coba material untuk memastikan keseuaian dengan
spesifikasi yang ada dalam dokumen kontrak. Konsultan akan
meninjau ulang pengujian-pengujian yang ada dalam spesifikasi dan
prosedur test yang diajukan oleh Kontraktor dan merekomendasikan
untuk perubahan jika perlu.

c. Pengawasan Biaya Proyek


Disadari sepenuhnya pentingnya pengendalian semua biaya yang
berhubungan dengan proyek, untuk itu konsuttan akan berusaha
sepenuhnya dalam hat pengendalian biaya proyek mulai dari permulaan
pekerjaan sampai akhir tahap konstruksi.
Berkaitan dengan hat tersebut akan diusahakan agar tidak terjadi
keterlambatan pekerjaan, mempertahankan pekerjaan tambah kurang
seminimal mungkin dan menjamin prosedur konstruksi yang seefisien
mungkin.

d. Pengawasan Administrasi

ENGINEERING CONSULTANT
E - 190
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja
Pengawasan administrasi yang akan dilakukan antara lain
o Semua data lapangan tersebut disimpan oleh Konsultan dan
dikirimkan secara berkala kepada Pemimpin Satuan Kerja.
o Setiap bulan Konsultan memeriksa surat penagihan dari Kontraktor
untuk pembayaran dan apabila tidak sesuai dengan data yang akan
disampaikan kepada Pemimpin Satuan Kerja untuk ditinjau kernbali,
selanjutnya Pemimpin Satuan Kerja akan memproses pembayaran
kepada Kontraktor.
o Apabila selama pelaksanaan proyek terdapat hal-hal yang menurut
pertimbangan Pemimpin Proyek perlu diubah atau disesuaikan, maka
Konsultan akan mengevaluasi perubahan tersebut dan mengusulkan
ke Pemimpin Satuan Kerja.
o Pembuatan Dokumen Perubahan (Change Order) untuk disetujui oleh
Pemimpin Satuan Kerja dan Kontraktor.

5.12.4.3. Kegiatan Setelah Pelaksanaan


Setelah selesainya penyerahan pekerjaan kepada Pemimpin Satuan
Kerja maka Konsultan akan mdakukan kegiatan-kegiatan antara lain.
Mengumpulkan semua gambar pelaksanaan yang telah selesai
dikerjakan oleh Kontraktor. Selanjutnya mengevaluasi/memeriksa
ulang gambar tersebut dan akhimya dijilid merupakan "As built
drawing".
Mengevaluasi perhitungan volume akhir dari pekerjaan.

5.12.4.4. Rencana Pelaksanaan Pengawasan


Konsultan akan mempersiapkan dengan baik rencana pengawasan teknik
dengan maksud agar pelaksanaan pekerjaan fisik dan Kontraktor dapat
terlaksana dengan baik.
Secara garis besar kegiatan pelaksanaan supervisi konstruksi
pembangunanbendungan terdiri atas tiga tahapan kegiatan menurut
waktu sebagai berikut:
a. Prakonstruksi
b. Pelaksanaan Konstruksi

ENGINEERING CONSULTANT
E - 191
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja
c. Pasca konstruksi
Agar tercapai kriteria desain seperti yang terdapat dalam gambar
pelaksanaan dan spesifikasi teknis perlu adanya Pengawasan Teknis dan
Pengawasan Administrasi.

1) Periode Prakonstruksi / Mobilisasi Kontraktor


Untuk proyek-proyek pada umumnya periode mobilisasi akan
berlangsung sekitar satu bulan. Selain kegiatan mobilisasi pada periode
ini Kontraktor akan melakukan kegiatan persiapan dan kegiatarvkegiatan
tambahan yang diperlukan sebelum dimulainya pelaksanaan konstruksi.
Kegiatan Konsultan dalam rangka penggawasan terhadap pekerjaan
Kontraktor dapat diuraikan sebagai berikut: a. Mengevaluasi Program
kerja yang diajukan oleh Kontraktor yang terdiri dari
Evaluasi dan Pemeriksaan Program Mobilisasi Kontraktor
Evaluasi program kerja Kontraktor, berdasarkan :
i. peralatan, personil danketersediaan material dari Kontraktor.
ii. Pertemuan dan konsuitasi dengan InstansMnstansi yang ada
kaitannya denganpelaksanaan dan kelancaran pekerjaan.
iii. Mengevaluasi dan member! saran tentang rencana persiapan
teknis lapangandan metode yang harus dilaksanakan oleh
Kontraktor.
iv. Merekomendasikan dan mengawasi inspeksi khusus, serta
pengetesan yangdiperlukan untuk menunjang agar
spesifikasi dapat dicapai seperti yangdisyaratkan.
v. Dalam rangka pelaksanaan survai lapangan dan
review design, akandilaksanakan kegiatan-kegiatan
sebagai berikut:
Menentukan Ibkasi patok BM yang akan digunakan
sebagai titik kontrol pada pengukuran.
Mengawasi pelaksanaan pekerjaan pengukuran untuk
survey lokasi detail dan potongan metintang.
Mengawasi pelaksanaan investigasi geologi untuk
menentukan lokasi pengambilan material timbunan

ENGINEERING CONSULTANT
E - 192
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja
Mengawasi pelaksanaan pengumpulan data lapangan.
Mengumpulkan kriteria perencanaan awal untuk
mengantisipasi kemungkinan adanya perubahan-
perubahan yang harus dilakukan, seperti: Data koefisien
gempa yang digunakan. Data parameter tanah dan bahan
yang digunakan. Data lainnya yang dianggap panting.

2) Periode Pelaksanaan Konstruksi


Kegiatan yang akan dilaksanakan pada periode pelaksanaan konstruksi
adalah
membantu Pemilik Proyek dalam:
a. Pengawasan dan pengendalian mutu dan progress pelaksanaan
pekerjaan, tenaga kerja, biaya dan keamanan petaksanaan
pekerjaan termasuk pekerjaan pengujian baik pengujian laboratorium
dan lapangan.
b. Memeriksa, menganalisa dan memberikan saran untuk persetujuan
atas usulanKontraktor meliputi antara lain: program, metode
pelaksanaan, jadwalpelaksanaan, usulan bahan/material yang akan
digunakan, gambar- gambar desain yang dibuat oleh
Kontraktor/suplier.
c. Mengkaji dan saran persetujuan terhadap gambar-gambar
peiaksanaan semuabangunan dan fasilitas-fasilitasnya, gambar-
gambar kerja, gambar-gambarpabrikasi, program dan jadwal
pelaksanaan dan lairvlain yang dibuat olehKontraktor / suplier.
d. Mengevaluasi hasil perhitungan ulang Kontraktor terhadap peralatan
konstruksimeliputi, jumlah, kualitas, kapasitas peralatan konstruksi.
e. Melakukan inspeksi, pengujian dan "Witnessing" pada pengujian di
bengkel /pabrik dari Kontraktor / supplier sebelum diangkat ke lokasi
pekerjaan danmenerbitkan sertrfikat pengujian, jika diminta oleh
pengguna jasa.
f. Bersama pengguna jasa atau pejabat yang ditunjuk, meneliti untuk
disetujuipengguna jasa gambar kerja, gambar pabrikan,

ENGINEERING CONSULTANT
E - 193
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja
program dan jadwalpelaksanaan yang disampaikan oleh
Kontraktor / supplier,
g. Melakukan inspeksi / pengawasan pekerjaan selama pelaksanaan
pekerjaan
h. Membuat analisa kualitas pelaksanaan pekerjaan secara rutin
berdasarkanlaporan dari pengawas lapangan, teknisi laboratorium
dan surveyor untukmenciptakan manajemen supervisi yang lebih baik
dan melakukan langkahlangkah perbaikan jika diperlukan.
i. Mengevaluasi diagram pelaksanaan pekerjaan dari Kontraktor, yang
berisi datamengenai lokasi pekerjaan, kuantitas pekerjaan, kualitas
pekerjaan, terutamauntuk pekerjaan utama (major works),
j. Mencatat aktifitas pelaksanaan dan progres pekerjaan untuk
penyiapan laporanpenyelesaian pekerjaan.
k. Meneliti volume, progres pekerjaan sebagai bahan dan sertifikat
pembayarankepada Kontraktor.
l. Melakukan inspeksi dan pengujian akhir pada saat pekerjaan selesai.
m. Membuat laporan penyelesaian pekerjaan untuk seluruh pekerjaan
bangunan termasuk gambar pada bangunan seluruh bangunan
dan fasilitas pelengkapnya.
n. Membantu pengguna jasa dalam pelaksanaan admininstrasi kontrak.
o. Melakukan tambahan survey dan investigasi apabila diperlukan.
p. Membantu pengguna jasa dalam penyelesaian terjadinya klaim dan
perselisihanyang mungkin terjadi antara pengguna jasa dan
Kontraktor.
q. Mengevaluasi hasil pekerjaan dalam kelayakan fungsi
sebagian ataukeseluruhan konstruksi.
r. Memberikan tuntunan petugas pemberi jasa untuk
pengoperasian danpelaporan peralatan tertentu yang terkait dengan
konstruksi bendungan.

3) Periode Paska Konstruksi

a. Segera setelah selesainya pekerjaan, akan diadakan pemeriksaan


lapangan, untuk memeriksa jika ada beberapa pekerjaan pelengkap

ENGINEERING CONSULTANT
E - 194
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

yang belum dapat diselesaikan atau kemungkinan adanya


penambahan pekerjaan tambahan.
b. Melaksanakan perhitungan kuantttas pekerjaan terlaksana untuk
setiap jenis pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan dan dapat
diterima.
c. Membantu penyiapan AsBuilt Drawing"
d. Mempersiapkan data untuk serah terima sementara pekerjaan.
e. Membantu membuat sertifikat pembayaran bulanan untuk Kontraktor
yang menyatakan kuantitas, kualitas dan biaya bahan-bahan.
Membuat rekomendasi bahwa peiaksanaan pekerjaan tidak
menyimpang dari syarat yang ditentukan.
f. Meninjau kembali dan mengevaluasi permintaan pembayaran
tagihan oleh Kontraktor.
g. Membuat arsip secara sistematis terhadap laporan hasil peninjauan,
data-data lapangan, evaluasi terhadap perfomance Kontraktor dan
pencapaian target kerja, persiapan rutin untuk data-data sertifikat
pembayaran bulanan
h. Mengadakan evaluasi terhadap manajemen konktraktor khususnya
yang berhubungan dengan penyediaan tenaga kerja, peralatan serta
material dalam usaha mencapai target kuantitas pekerjaan. Segera
akan dilaporkan kepada Pemimpin Proyek jika terjadi penyimpangan
yang akan mengganggu peiaksanaan pekerjaan.
i. Mengadakan peninjauan atau perhitungan terhadap kuantitas setiap
mata pekerjaan sehubungan dengan adanya perubahan akaibat
kondisi lapangan serta membuat usulan kepada Pemimpin Proyek
untuk membuat daftar perubahan kuantitas (CCO).
j. Membantu menyelesaikan perselisihan antara Kontraktor dengan
Pemilik Proyek.
k. Mempersiapkan data untuk serah terima sementara, meliputi:
Data pemeriksaan lapangan (meliputi catatan harian seluruh
staf supervisi)
Sertifikat bulanan beserta data pendukungiiya,
Data mengenai pengujian rutin yang dilaksanakan.
Masa pembayaran mobilisasi serta statusnya.
Arsip surat menyurat Team Leader
Foto-foto peiaksanaan konstruksi.
Gambar pekerjaan terpasang serta kuantitas terpasang.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 195
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Usulan untuk Kontraktor mengenai pemeliharaan pekerjaan


selama masa pemeliharaan.
Daftar peralatan Kontraktor dan rencana demobilisasinya.
l. Memberikan informasi kepada Pemimpin Proyek mengenai
perkiraan waktu penyelesaian pekerjaan 100%.
m. Selalu berhubungan dengan Pemilik Proyek pada setiap langkah
dari semuaaktivitas pekerjaan.

5.12.4.5. Tahapan Pelaksanaan Pengawasan Konstruksi Bendungan


Pada tahap ini kegiatan dilakukan dalam kurun waktu 3 bulan ini
pekerjaan yang bisa ditangani untuk kegiatan supervisi pengawasan
konsultan adalah:
A. Pekerjaan Design
1. Pengukuran daerah genangan & tapak bendungan (setting out )
Kegiatan pengukuran & setting out dilakukan untuk mendapatkan
gambaran detail kondisi awal tapak bangunan bendungan dan
daerah genangan, sehingga dapat diketahui apabila terjadi
perubahan antara design konstruksi dengan kondisi eksisting
site.
2. Selain itu gambaran kondisi awal tersebut juga digunakan untuk
estimasi volume konstruksi yang akan dilaksanakan serta
estimasi perilaku daerah genangan berkaitan dengan proses
sediment transport di waduk bendungan teritip.
i. Kegiatan ini secara langsung dilaksanakan dan
dibiayai oleh konsultan dibawah tanggung jawab
Team leader dan TA Geodesi Pelaksanaan.
kegiatan ini waktunya bisa dioverlapkan dengan
kegiatan review desain dan kegiatan investigasi
geoteknik.
3. Review Desain
Investigasi geologi, bor inti total kedalaman 170 m,
Tespit 18 titik.
Analisa teknis konstruksi

ENGINEERING CONSULTANT
E - 196
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja
Kegiatan investigasi geologi diperlukan untuk kroscek terakhir
kondisi geologi tapak bangunan sebelum dilakukan pelaksanaan
konstruksi. Sehingga bisa diketahui apabila terjadi perbedaan
dengan design. Investigasi geologi dilakukan pada tapak
konstruksi diversion dan konstruksi lokasi tapak spillway. Selain
pengeboran inti, investigasi geologi juga akan melakukan uji test
pit untuk mencari material borrow area untuk timbunan tubuh
bendungan.
Kegiatan ini secara langsung dilaksanakan dan dibiayai oleh
konsultan dibawah tanggung jawab Team leader dan TA. Geologi,
Mektan
Kegiatan geologi bisa berjalan sendiri, dan sesuai kerangka
acuan kerja dan arahan dari balai bendungan.
4. Pengadaan peta Quickbird tahun 2013.
Kegiatan pengadaan ini adalah satu upaya untuk mengetahui
potret detail terhadap kondisi DAS sungai teritip dan terutama
kondisi site rencana bendungan saat sebelum ada proyek. Hal ini
dilakukan untuk antisipasi apabila di daerah DAS terdapat kondisi
yang segera perlu ditangani berkaitan dengan konservasi DAS
untuk menjaga sumber air sungai Teritip.
Pengadaan peta Quickbird tahun 2013 akan dibeli langsung
setelah SPMK keluar.
B. Pengawasan pekerjaan fisik awal, diantaranya:
3. Pembuatan jalan akses
Jalan akses merupakan sarana penunjang utama kegiatan
konstruksi bendungan, sehingga kendala kendala yang mungkin
terjadi pada mobilisasi proyek bisa di minimalkan untuk
meningkatkan produktifitas proyek. Jalan akses dibuat dari
konstruksi beton yaitu jalan yang menghubungkan antara wilayah
diluar lokasi proyek dengan lokasi proyek, sedangkan jalan kerja
merupakan akses mobilitas alat kerja pada saat masa konstruksi,
direncanakan di lokasi site bendungan

ENGINEERING CONSULTANT
E - 197
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja
Pembuatan jalan akses yang dilakukan bisa segera dilaksanakan
setelah SPMK diturunkan, dan overlap dengan kegiatan
pengukuran dan kegiatan iinvestigasi. Kegiatan ini dilakukan
bersamaan dengan mendatangkan alat dan bahan yang
diperlukan untuk kegiatan awal yaitu clearing dan pembuatan
konstruksi diversion.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 198
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 199
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

4. Kegiatan Pekerjaan Tanah


Tahapan kegiatan ini antara lain clearing tapak bendungan dan galian
pondasi tubuh bendungan. Pembersihan ini dilakukan untuk
menghilangkan top soil eksisting di tapak konstruksi terutama dari
material organik yang ada. Sedangkan rencana galian pondasi
dilaksanakan sesuai dengan design termasuk pelaksanaan perbaikan
pondasi dengan mengganti tanah galian dengan timbunan material
pilihan (selected material) yang menjadi pondasi dari tubuh bendungan.

Pada tahap ini yang dikerjakan oleh Konsultan adalah :


- Pengawasan land clearing
- Pengawasan galian tanah pada jalan akses, bangunan pengelak,
pondasi tubuh bendungan dan saluran pengelak.
- Pengawasan timbunan tanah pada jalan akses, bangunan
pengelak, pondasi tubuh bendungan dan saluran pengelak.
- Ketiga pengawasan pekerjaan di atas di lakukan secara
bertahap bersamaan setelah 3 (tiga) minggu sejak awal
pekerjaan.

Program pengujian ini perlu memperhatikan hal-hal berikut.


1. Uji mutu harus dilakukan berkali-kali pada saat mulai
pengurugan. Setelah persyaratan penggilasan benar-benar
dilakukan dan petugas pemeriksa memahami perilaku material
dan prosedur pemadatan yang berlaku, maka jumlah pengujian
dapat dikurangi. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi
frekuensi dan lokasi uji mutu serta data contoh uji. Frekuensi uji
tergantung pada jenis material dan kondisi kritis urugan yang
akan dipadatkan dikaitkan dengan keseluruhan pekerjaan
(contoh: inti kedap air memerlukan uji mutu yang lebih teliti
daripada berm yang random). Pengambilan contoh sebaiknya
dilakukan pada lokasi yang mewakili daerah yang sedang

ENGINEERING CONSULTANT
E - 200
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja
diselidiki, agar diperoleh contoh tanah yang tepat, karena bila
contoh terlalu kecil hasilnya tidak tepat.

2. Rencana pengambilan contoh dan pengujian yang sistematik


harus dilakukan pada awal pekerjaan. Uji mutu biasanya didesain
seperti biasa dan dilaksanakan di lokasi yang telah ditentukan
dalam desain, tidak tergantung pada kelancaran pemadatan yang
sedang dilaksanakan. Uji mutu harus dilaksanakan untuk setiap
760 m3 sampai dengan 2.280 m3 material yang dipadatkan
secara rutin daripada bagian urugan yang sempit. Pada lapisan
urugan pertama di atas fondasi, pengujian harus lebih sering
dilakukan untuk menjamin pelaksanaan konstruksi yang
memadai. Lokasi pengambilan contoh data harus ditentukan atas
petunjuk tenaga ahli desain dan sesuai dengan desain uji
semula. Sebagai petunjuk praktis pengambilan contoh data
adalah satu untuk setiap 22.800 m3 urugan inti dan setiap 22.800
m3 sampai dengan38000 m3 material yang dipadatkan di luar
inti. Karena contoh data khususnya untuk menentukan kuat geser
urugan, sebaiknya diambil dari zona luar, yang merupakan
bagian yang mengalami kelongsoran. Untuk bendungan dengan
inti lempung plastis yang sempit di tengah dengan kadar air
optimum basah agar bersifat kedap dan lentur, dan zona
lempung bersih yang lebar di sampingnya, maka contoh tanah
harus diambil dari bagian luar inti bendungan (shell).

3. Selain uji mutu secara rutin, harus dilakukan pula pengujian di


lokasi, yang diragukan pemadatannya oleh pengawas. Jika
kontraktor menginginkan pengurugan di daerah yang terbatas,
prosedur pemadatan harus dilakukan secara khusus (misalnya
dengan alat pemadat bertenaga), penempatan peralatan, dan
berdekatan dengan abutmen

ENGINEERING CONSULTANT
E - 201
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja
Beberapa formulir kegiatan tanah ini sebagai pedoman pada
pelaksanaan kegiatan di lapangan disajikan sebagai berikut :

ENGINEERING CONSULTANT
E - 202
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 203
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 204
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 205
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 206
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 207
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja
5. Konstruksi horizontal drain
Merupakan fasilitas dalam tubuh bendungan untuk mematuskan aliran
seepage (rembesan). Konstruksi horizontal drain merupakan hamparan
material yang mempunyai nilai permeabilitas cukup besar ( maksimal
10-3), dalam hal ini adalah material pasir atau kerikil.
Tenaga ahli Bendungan dibantu dengan inspector quality akan
bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.

6. Pemasangan vertikal drain


Vertical drain (PVD : prefabricated vertical drain) adalah salah satu
konstruksi penunjang tubuh bendungan yang berfungsi untuk
mempercepat proses konsolidasi tanah pondasi tubuh bendungan.
Vertical drain merupakan material pabrikasi (jenis geotekstile) yang
ditanam di tanah soft soil tapak pondasi bendungan. Dimana material
tersebut berfungsi mengeluarkan air pori dalam tanah untuk di patuskan
ke horizontal drain.
Tenaga ahli Bendungan dan Geologi dibantu dengan inspector quality
akan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan intalasi pemasangan
vertical drain

7. Pekerjaan Beton
Lingkup kegiatan ini terdiri dari :
6. Konstruksi diversion
Konstruksi diversion adalah konstruksi yang dibuat untuk
mengelakkan aliran sungai sementara selama masa konstruksi
bendungan. Rencananya konstruksi diversion dibuat dari material
beton K-225 dengan dimensi sesuai dengan hasil design 3,5 m x 2
dengan panjang 150 meter.
T.A. Bendungan akan dibantu dengan T.A. kontruksi dalam
pengawasan pelaksanaan konstruksi diversion tersebut.
Pelaksanaan konstruksi diversion, akan berjalan setelah pekerjaan
jalan akses dilaksanakan dan bisa dilakukan bersamaan dengan
kegiatan tersebut.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 208
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

7. Pembetonan spillway
Kegiatan ini terdiri dari kegiatan konstruksi bangunan pelimpah
antara lain lantai apron, dinding pelimpah, mercu pelimpah, saluran
transisi, saluran peluncur dan kolam olak termasuk saluran
outlet/tailrace.
Metode dan tahapan pekerjaan konstruksi beton adalah :
Galian pondasi sesuai dengan peil rencana serta perbaikan
struktur tanah pondasi apabila diperlukan.
Pemasangan under drain (perforated drain) untuk minimalisasi
gaya uplift.
Konstruksi lantai kerja.
Pembesian beton dan pemasangan bekisting.
Pengecoran atau pembetonan.

8. Konstruksi Intake
Konstruksi intake dalam pembangunan bendungan Teritip ini
direncanakan dari konstruksi beton. Proses dan pelaksanaan
pekerjaan ini dilakukan simultan dengan kegiatan konstruksi
bangunan pelimpah.
TA konstruksi di bantu dengan inspector dan quality enginner akan
bertanggung jawab terhadap pengawasan pelaksanaan konstruksi
spillway.

Beberapa formulir kegiatan pembetonan sebagai pedoman pada


pelaksanaan kegiatan di lapangan disajikan sebagai berikut :

ENGINEERING CONSULTANT
E - 209
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 210
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 211
Dokumen Usulan Teknis Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 212
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 213
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 214
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 215
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 216
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

10. Pemasangan instrument dipondasi bendungan


Adapun beberapa instrument yang akan dipasang setelah pelaksanaan
perbaikan pondasi tubuh bendungan dan horizontal drain, sesuai
dengan kebutuhan adalah :
- Instrument piezometer untuk pondasi, untuk mengetahui tekanan air
pori di pondasi tubuh bendungan mengingat kondisi geologi eksisting
adalah soft soil. Tujuannya pembacaan tekan air pori tersebut (pure
water pressure) guna menentukan proses penimbunan bertahap
(stagging process)
- Inklinometer multilayer, untuk mengetahui pergerakan horizontal
tubuh bendungan.
- Settlement plate, untuk mengetahui besar penurunan selama masa
konstruksi yang berkaitan dengan volume material timbunan
terpasang.

Pelaksanaan pekerjaan pemasangan instrument ini secara langsung


akan diawasi oleh TA instrumentasi dibantu oleh TA geologi

11. Timbunan tubuh bendungan


Konstruksi tubuh bendungan merupakan kegiatan yang cukup kompleks
dalam proses pelaksanaannya yang melibatkan banyak kegiatan dan
banyak personil, dimana didalam kegiatan tersebut termasuk
didalammnya adalah
- kegiatan pemilihan dan pengambilan material timbunan dari borrow
area kelokasi tapak tubuh bendungan.
- Proses penghamparan material timbunan
- Proses pemadatan material tubuh bendungan per layer
- Inspeksi kepadatan timbunan (sandcone test)
Kegiatan ini diawasi TA bendungan dibantu oleh quality engineer khusus
untuk timbunan tubuh bendungan.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 217
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

5.12.5. Kontrol Pelaksanaan Program Keselamatan Konstruksi


Keselamatan dianggap sesuatu yang utama pada semua jenis pekerjaan
konstruksi. Konsultan mengharuskan Kontraktor untuk mengambil semua
tindakan yang mungkin untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja
maupun kejahatan-kejahatan terhadap area pekerjaan, peralatan dan
material, dan seluruh pekerja.
Kendali keselamatan pada masa konstruksi terdiri dan beberapa unsur
kegiatan sebagai berikut:

1. Orgasinasi Pengendalian Keselamatan (Safety Comitte)


2. Rapat Organisasi Pengendalian Keselamatan
3. Program Pengendalian Keselamatan

1. Organisasi Pengendalian Keselamatan


Kontraktor diwajibkan membentuk Organisasi Pengendalian
Keselamatan yang terdiri dan unsur Otoritas Keamanan, Pemilik
Proyek, Konsultan dan Kontraktor. Kontraktor juga menugaskan
pelaksana senior mereka sebagai petugas pengendali
keselamatan. Pelaksana senior tersebut bertanggungjaawab
terhadap ketentuan Kontraktor. Kontraktor akan menyampaikan
bagan organisasi pengendalian keselamatan dan merinci program
keselamatan kerja kepada pihak pemilik proyek untuk dievaluasi.

2. Rapat Organisasi Pengendalian Keselamatan


Segera setelah pembentukan organisasi pengendalian
keselamatan, Konsultan melaksanakan rapat organisasi yang
dihadiri semua unsur terkait diatas. Didalam rapat tersebut
diuraikan kondisi/informasi yang ada diiingkungan pekerjaan,
sistem transportasi pelaksanaan pekerjaan, prinsip pokok metode
pelaksanaan pekerjaan Kontraktor dan keselamatan lokal.
Pengendali Keselamatan dan pihak Kontraktor wajib
menyampaikan ketersediaan perangkat yang menunjang program
keselamatan sesuai peraturan yang berlaku di Indonesia.

3. Program Pengendalian Keselamatan


Program Pengendalian Keselamatan akan ditinjau oleh
Konsultan. Program pengendalian keselamatan ini meliputi:

ENGINEERING CONSULTANT
E - 218
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Sarana transportasi menuju jalan umum,


Pengendalian lalulintas di lokasi pekerjaan,
Stabilitas alam dan lereng hasil galian,
Pekerjaan konstruksi di/dalam air,
Pekerjaan Pengelasan,
Lampu kerja di malam hari,
Pengendalian untuk meminimalkan dampak lingkungan
sepanjang masa pekerjaankonstruksi merupakan tujuan
utama.

5.12.6. Pengawasan dan Evaluasi Pekerjaan Investigasi tambahan


Seluruh kegiatan investigasi tambahan diluar volume yang tercantum
dalam Kerangka Acuan Kerja kegiatan Supervisi Lanjutan Pembangunan
Bendungan Teritip, Kota Balikpapan akan menjadi beban dan tanggung
jawab Kontraktor, Konsultan hanya membantu pihak Pemilik Proyek dalam
memberikan saran dan pengawasan dan evaluasi teknis.
Sepanjang pekerjaan investigasi tambahan dirasa pertu dan disetujui oleh
Pemilik Pekerjaan, maka Konsultan akan membantu Pemilik Proyek dalam
pengawasan investigasi tambahan yang dilakukan oleh Kontraktor
menyangkut hal-hal sebagai berikut:
Pencarian altematif Borrow / Quarry Area
Pencarian altematif source material untuk pekerjaan beton, dan
Hal-hal lain yang dipandang pertu oleh Pihak Pemilik
Konsultan akan membantu pihak Pemilik Proyek dalam pekerjaan-
pekerjaan yang disebutdiatas dengan tanggung jawab hasil pekerjaan ada
di pihak Kontraktor.

5.12.7. Inspeksi, Testing, dan Kontrol Pengiriman selama proses Fabrikasi


Salah satu tanggung jawab personil Konsultan, dalam hal ini
Hydromechanic Engineer atau engineer lainnya, apabila dianggap pertu
oleh pihak Pemilik Proyek adalah mengadakan inspeksi, pengujian dan
monitoring selama proses pembuatan di tempat fabrikasi.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 219
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Konsultan akan mengimplementasikan pekerjaan ini untuk meyakinkan


bahwa pekerjaan Kontraktor berasal dari sumber yang memenuhi
pekerjaan disyaratkan.

E.3. ORGANISASI dan PERSONIL


Berfungsinya sistem manajemen proyek sangat tergantung oleh struktur
organisasi yang jelas. Hubungan kerja diantara PU, Konsultan, Kontraktor dan
badan lain yang berkaitan dalam proyek pembangunan Bendungan Teritip ini
dapat digambarkan pada Gambar 5.28 berikut.
Hubungan kerja yang jelas juga akan mempermudah Konsultan dalam
menyiapkan berbagai prosedur, mendistribusikan berbagai informasi,
menyelenggarakan berbagai rapat yang dibutuhkan sepanjang periode pekerjaan.
Ketiga belah pihak utama dalam organisasi proyek terdiri dan BWS Kalimantan III
sebagai Pemilik / Engineer, Konsultan sebagai Wakil Engineer (Engineer
Representative), dan Kontraktor sebagai Pelaksana.
Organisasi konsultan sebagai Wakil Engineer (Engineer Representative)
akan diuraikan secara detail pada Gambar 5.29. Secara singkat organisasi
konsultan akan dipimpin oleh seorang Team Leader yang membawahi berbagai
tenaga ahli dengan berbagai keahlian yang dibutuhkan. Adapun uraian tugas dan
tanggung jawab setiap tenaga ahli akan diuraikan dalam bagian G.

ENGINEERING CONSULTANT
E - 220
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Gambar 5.35 Hubungan Kerja diantara Pemilik Pekerjaan, Konsultan, Kontraktor

ENGINEERING CONSULTANT
E - 221
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

Gambar 5.36 Struktur Organisasi Penyedia Jasa

ENGINEERING CONSULTANT
E - 222
Dokumen Usulan Teknis
Bagian E
Supervisi Lanjutan Pembangunan Bendungan Teritip, Kota Balikpapan Pendekatan, Metodologi dan Program Kerja

ENGINEERING CONSULTANT
E - 223