Anda di halaman 1dari 39

MAKALAH TEKNIK ENERGI

ENERGI PASANG SURUT / TIDAL

Disusun Oleh:
1. Reyhan Zakaria 1431010045
2. Raininta Juliantika 1431010046
3. Anis Zaenuwar Sabichi 1431010049
4. Adi Gumelar Cakra Prabowo 1431010055
5. Kurnia Arifiani Kusuma 1431010060
6. Restia Eka Puspita 1431010066
7. Enik Eliyawati 1431010068
8. Leonard Alvin Tanan 1431010072
9. Muhamad Fikri Salim 1431010077

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR

SURABAYA

2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, kami ucapkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
Makalah Teknik Energi tentang Energi Pasang Surut / Tidal.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah teknik energi tentang energi
pasang surut atau tidal dapat memberikan manfaat maupun pengetahuan terhadap
pembaca.

Surabaya, Nopember 2017

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas lautan kurang lebih 5,6
juta Km2 dengan garis pantai sepanjang 81.000 Km. Menurut Bakosurtanal,
Indonesia memiliki kurang lebih 8.175 pulau yang membentang dari Sabang sampai
Merauke. Dari jumlah tersebut, hanya terdapat 5 pulau besar yaitu Pulau Sumatera,
Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, dimana selebihnya merupakan pulau pulau
kecil.
Keberadaan pulau pulau kecil ini tentu saja tidak dapat diabaikan begitu
saja. Pulau-pulau tersebut, terlebih lagi pulau-pulau kecil terluar di wilayah perairan
Indonesia, sangat berperan penting dalam menjaga pertahanan dan keamanan
negara dari ancaman pencurian sumber daya oleh negara lain dan permasalahan
perbatasan antar negara. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengembangkan
sistem pertahanan di pulau-pulau kecil tersebut dengan cara membangun berbagai
sarana dan prasarana pendukung untuk pertahanan dan menjaga kedaulatan negara.
Permasalahan yang timbul adalah ketika eksistensi pulau-pulau ini terisolasi dari
pulau-pulau utama, sehingga pasokan energi, terutama energi listrik yang sangat
dibutuhkan di era modern terputus dan menjadi penghambat pembangunan sarana
dan prasarana serta perekonomian penduduk di pulau-pulau tersebut.
Indonesia yang terletak pada zona melintasnya arus laut membuat perairan
di Kepulauan Indonesia memiliki potensi arus laut yang sangat besar dan
keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Gaya gravitasi bulan dan matahari
menyebabkan perbedaan pasang surut air laut siang dan malam. Julat pasang surut
di perairan Indonesia berkisar antara 1 meter hingga 3 meter dapat menjadi sumber
energi potensial untuk dikembangkan, terutama di pulau-pulau kecil yang tersebar
di seluruh perairan Indonesia. Energi pasang surut tersebut merupakan energi
terbaharukan yang dapat digunakan sebagai energi alternatif selain energi yang
diperoleh dari hasil olahan minyak dan gas bumi. Namun, energi pasang surut dapat
dimanfaatkan sebagai energi alternatif apabila memenuhi berbagai persyaratan.
Selain itu, dibutuhkan pula peralatan pendukung untuk dapat menggunakan energi
tersebut.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini yaitu :
1. Mengetahui dan memahami mengenai pasang surut dan proses terjadinya
2. Mengetahui dan memahami energi pasang surut dan pemanfaatannya
3. Mengetahui dan memahami mengenai Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut
PLTPs
4. Mampu melakukan konservasi terhadap energi

I.3 Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari penulisan makalah ini adalah
1. Penulis dapat mengetahui gambaran terjadinya pasang surut air laut,
2. Penulis dapat mengetahui proses pemanfaatan pasang surut air laut menjadi
energi.
BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Pasang Surut


II.1.1 Pengertian Pasang Surut
Pasang surut adalah naik turunnya muka laut dan gerak horizontal dari
massa air secara berkala akibat adanya gaya tarik benda-benda angkasa terhadap
massa air di bumi. Pasang-surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan
efek sentrifugal, yakni dorongan ke arah luar pusat rotasi. Hukum gravitasi Newton
menyatakan, bahwa semua massa benda tarik menarik satu sama lain dan gaya ini
tergantung pada besar massanya, sertajarak di antara massa tersebut. Gravitasi
bervariasi secara langsung dengan massa, tetapi berbanding terbalik terhadap jarak.
Sejalan dengan hukum di atas, dapat dipahami bahwa meskipun massa bulan lebih
kecil dari massa matahari tetapi jarak bulan ke bumi jauh lebih kecil, sehingga gaya
tarik bulan terhadap bumi pengaruhnya lebih besar dibanding matahari terhadap
bumi. Kejadian yang sebenarnya dari gerakan pasang air laut sangat berbelit-belit,
sebab gerakan tersebut tergantung pula pada rotasi bumi, angin, arus laut dan
keadaan-keadaan lain yang bersifat setempat. Gaya tarik gravitasi menarik air laut
ke arah bulan dan matahari dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut
gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi,
yaitu sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari
(WARDIYATMOKO & BINTARTO,1994).
Sedangkan menurut Pariwono (1989), fenomena pasang surut diartikan
sebagai naik turunnya muka laut secara berkala akibat adanya gaya tarik benda-
benda angkasa terutama matahari dan bulan terhadap massa air di bumi. Sedangkan
menurut Dronkers (1964) pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan
naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi
gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh
matahari, bumi dan bulan. Pengaruh benda angkasa lainnya dapat diabaikan karena
jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih kecil.
II.1.2 Tipe-Tipe Pasang Surut
a. Pasang surut harian ganda (semi diurnal tide)
Dalam satu hari terjadi dua kali pasang dan dua kali air surut dengan tinggi
yang hamper sama dan pasang surut terjadi secara berurutan secara teratur.
Periode pasang surut rata-rata adalah 12 jam 24 menit. Jenis harian tunggal
misalnya terdapat di perairan sekitar selat Karimata, antara Sumatra dan
Kalimantan.
b. Pasang surut harian tunggal (diurnal tide)
Dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air surut. Periode
pasang surut adalah 24 jam 50 menit. Pada jenis harian ganda misalnya
terdapat di perairan Selat Malaka sampai ke Laut Andaman.
c. Pasang surut campuran condong ke harian ganda (mixed tide prevailing
semidiurnal)
Dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut, tetapi tinggi
dan periodenya berbeda. Pada pasang-surut campuran condong ke harian
ganda (mixed tide, prevailing semidiurnal) misalnya terjadi di sebagian
besar perairan Indonesia bagian timur
d. Pasang surut campuran condong ke harian tunggal (mixed tide prevailing
diurnal)
Pada tipe ini dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air
surut, tetapi kadang-kadang untuk sementara waktu terjadi dua kali pasang
dan dua kali surut dengan tinggi dan periode yang sangat berbeda.
Sedangkan jenis campuran condong ke harian tunggal (mixed tide,
prevailing diurnal) contohnya terdapat di pantai selatan Kalimantan dan
pantai utara Jawa Barat.
Sedangkan menurut WIBISONO (2005), sebenarnya hanya ada tiga tipe
dasar pasang-surut yang didasarkan pada periode dan keteraturannya, yaitu
sebagai berikut:
a. Pasang-surut tipe harian tunggal (diurnal type): yakni bila dalam waktu
24 jam terdapat 1 kali pasang dan 1 kali surut.
b. Pasang-surut tipe tengah harian/ harian ganda (semi diurnal type): yakni
bila dalam waktu 24 jam terdapat 2 kali pasang dan 2 kali surut.
c. Pasang-surut tipe campuran (mixed tides): yakni bila dalam waktu 24
jam terdapat bentuk campuran yang condong ke tipe harian tunggal atau
condong ke tipe harian ganda.

Tipe pasang-surut ini penting diketahui untuk studi lingkungan, mengingat


bila di suatu lokasi dengan tipe pasang-surut harian tunggal atau campuran condong
harian tunggal terjadi pencemaran, maka dalam waktu kurang dari 24 jam,
pencemar diharapkan akan tersapu bersih dari lokasi. Namun pencemar akan pindah
ke lokasi lain, bila tidak segera dilakukan clean up. Berbeda dengan lokasi dengan
tipe harian ganda, atau tipe campuran condong harian ganda, maka pencemar tidak
akan segera tergelontor keluar. Dalam sebulan, variasi harian dari rentang pasang-
surut berubah secara sistematis terhadap siklus bulan. Rentangpasang-surut juga
bergantung pada bentuk perairan dan konfigurasi lantai samudera.
Pasang-surut (pasut) di berbagai lokasi mempunyai ciri yang berbeda karena
dipengaruhi oleh topografi dasar laut, lebar selat, bentuk teluk dan sebagainya. Di
beberapa tempat, terdapat beda antara pasang tertinggi dan surut terendah (rentang
pasut), bahkan di Teluk Fundy (Kanada) bisa mencapai 20 meter. Proses terjadinya
pasut memang merupakan proses yang sangat kompleks, namun masih bisa
diperhitungkan dan diramalkan. Pasut dapat diramalkan karena sifatnya periodik,
dan untuk meramalkan pasut, diperlukan data amplitudo dan beda fasa dari masing-
masing komponen pembangkit pasut. Ramalan pasut untuk suatu lokasi tertentu
kini dapat dibuat dengan ketepatan yang cukup cermat (NONTJI, 2005).

II.1.3 Teori Pasang Surut (Pasut)


a. Teori Kesetimbangan (Equilibrium Theory)
Teori kesetimbangan pertama kali diperkenalkan oleh Sir Isaac Newton
(1642-1727). Teori ini menerangkan sifat-sifat pasut secara kualitatif. Teori
terjadi pada bumi ideal yang seluruh permukaannya ditutupi oleh air dan
pengaruh kelembaman (Inertia) diabaikan. Teori ini menyatakan bahwa
naik-turunnya permukaan laut sebanding dengan gaya pembangkit pasang
surut (King, 1966). Untuk memahami gaya pembangkit passng surut
dilakukan dengan memisahkan pergerakan sistem bumi-bulan-matahari
menjadi 2 yaitu, sistem bumi-bulan dan sistem bumi matahari.Pada teori
kesetimbangan bumi diasumsikan tertutup air dengan kedalaman dan
densitas yang sama dan naik turun muka laut sebanding dengan gaya
pembangkit pasang surut atau GPP (Tide Generating Force) yaitu
Resultante gaya tarik bulan dan gaya sentrifugal, teori ini berkaitan dengan
hubungan antara laut, massa air yang naik, bulan, dan matahari. Gaya
pembangkit pasut ini akan menimbulkan air tinggi pada dua lokasi dan air
rendah pada dua lokasi (Gross, 1987).
b. Teori Pasut Dinamik (Dynamical Theory)
Pond dan Pickard (1978) menyatakan bahwa dalam teori ini lautan yang
homogen masih diasumsikan menutupi seluruh bumi pada kedalaman yang
konstan, tetapi gaya-gaya tarik periodik dapat membangkitkan gelombang
dengan periode sesuai dengan konstitue-konstituennya. Gelombang pasut
yang terbentuk dipengaruhi oleh GPP, kedalaman dan luas perairan,
pengaruh rotasi bumi, dan pengaruh gesekan dasar. Teori ini pertama kali
dikembangkan oleh Laplace (1796-1825). Teori ini melengkapi teori
kesetimbangan sehingga sifat-sifat pasut dapat diketahui secara kuantitatif.
Menurut teori dinamis, gaya pembangkit pasut menghasilkan gelombang
pasut (tide wive) yang periodenya sebanding dengan gaya pembangkit
pasut. Karena terbentuknya gelombang, maka terdapat faktor lain yang
perlu diperhitungkan selain GPP. Menurut Defant (1958), faktor-faktor
tersebut adalah:
- Kedalaman perairan dan luas perairan
- Pengaruh rotasi bumi (gaya Coriolis)
- Gesekan dasar
II.1.4 Faktor Terjadinya Pasang Surut
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pasang surut berdasarkan teori
kesetimbangan adalah rotasi bumi pada sumbunya, revolusi bulan terhadap
matahari, revolusi bumi terhadap matahari. Sedangkan berdasarkan teori dinamis
adalah kedalaman dan luas perairan, pengaruh rotasi bumi (gaya coriolis), dan
gesekan dasar. Selain itu juga terdapat beberapa faktor lokal yang dapat
mempengaruhi pasut disuatu perairan seperti, topogafi dasar laut, lebar selat, bentuk
teluk, dan sebagainya, sehingga berbagai lokasi memiliki ciri pasang surut yang
berlainan (Wyrtki, 1961).

II.1.5 Alat-Alat Pengukuran Pasang Surut


Beberapa alat pengukuran pasang surut diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Tide Staff.
Alat ini berupa papan yang telah diberi skala dalam meter atau centi
meter. Biasanya digunakan pada pengukuran pasang surut di lapangan.Tide
Staff (papan Pasut) merupakan alat pengukur pasut paling sederhana yang
umumnya digunakan untuk mengamati ketinggian muka laut atau tinggi
gelombang air laut. Bahan yang digunakan biasanya terbuat dari kayu,
alumunium atau bahan lain yang di cat anti karat.
Syarat pemasangan papan pasut adalah :
a. Saat pasang tertinggi tidak terendam air dan pada surut terendah masih
tergenang oleh air
b. Jangan dipasang pada gelombang pecah karena akan bias atau pada daerah
aliran sungai (aliran debit air).
c. Jangan dipasang didaerah dekat kapal bersandar atau aktivitas yang
menyebabkan air bergerak secara tidak teratur
d. Dipasang pada daerah yang terlindung dan pada tempat yang mudah untuk
diamati dan dipasang tegak lurus
e. Cari tempat yang mudah untuk pemasangan misalnya dermaga sehingga
papan mudah dikaitkan
f. Dekat dengan bench mark atau titik referensi lain yang ada sehingga data
pasang surut mudah untuk diikatkan terhadap titik referensi
g. Tanah dan dasar laut atau sungai tempat didirikannya papan harus stabil
h. Tempat didirikannya papan harus dibuat pengaman dari arus dan sampah
2. Tide gauge
Merupakan perangkat untuk mengukur perubahan muka laut secara
mekanik dan otomatis. Alat ini memiliki sensor yang dapat mengukur
ketinggian permukaan air laut yang kemudian direkam ke dalam komputer.
Tide gauge terdiri dari dua jenis yaitu :
a. Floating tide gauge (self registering). Prinsip kerja alat ini berdasarkan naik
turunnya permukaan air laut yang dapat diketahui melalui pelampung yang
dihubungkan dengan alat pencatat (recording unit). Pengamatan pasut
dengan alat ini banyak dilakukan, namun yang lebih banyak dipakai adalah
dengan cara rambu pasut.
b. Pressure tide gauge (self registering). Prinsip kerja pressure tide gauge
hampir sama dengan floating tide gauge, namun perubahan naik-turunnya
air laut direkam melalui perubahan tekanan pada dasar laut yang
dihubungkan dengan alat pencatat (recording unit). Alat ini dipasang
sedemikian rupa sehingga selalu berada di bawah permukaan air laut
tersurut, namun alat ini jarang sekali dipakai untuk pengamatan pasang
surut.
3. Satelit
Sistem satelit altimetri berkembang sejak tahun 1975 saat
diluncurkannya sistem satelit Geos-3. Pada saat ini secara umum sistem satelit
altimetri mempunyai tiga objektif ilmiah jangka panjang yaitu mengamati
sirkulasi lautan global, memantau volume dari lempengan es kutub, dan
mengamati perubahan muka laut rata-rata (MSL) global. Prinsip Dasar Satelit
Altimetri adalah satelit altimetri dilengkapi dengan pemancar pulsa radar
(transmiter), penerima pulsa radar yang sensitif (receiver), serta jam berakurasi
tinggi. Pada sistem ini, altimeter radar yang dibawa oleh satelit memancarkan
pulsa-pulsa gelombang elektromagnetik (radar) kepermukaan laut. Pulsa-pulsa
tersebut dipantulkan balik oleh permukaan laut dan diterima kembali oleh
satelit.
Prinsip penentuan perubahan kedudukan muka laut dengan teknik
altimetri yaitu pada dasarnyasatelit altimetri bertugas mengukur jarak vertikal
dari satelit ke permukaan laut. Karena tinggi satelit di atas permukaan ellipsoid
referensi diketahui maka tinggi muka laut (Sea Surface Height atau SSH) saat
pengukuran dapat ditentukan sebagai selisih antara tinggi satelit dengan jarak
vertikal. Variasi muka laut periode pendek harus dihilangkan sehingga
fenomena kenaikan muka laut dapat terlihat melalui analisis deret waktu (time
series analysis). Analisis deret waktu dilakukan karena kita akan melihat variasi
temporal periode panjang dan fenomena sekularnya. (http://gdl.geoph.itb.ac.id)

II.2 Energi Pasang Surut


a. Pengertian Energi Pasang Surut
Energi pasang surut (Tidal Energy) merupakan energi yang terbarukan.
Prinsip kerja nya sama dengan pembangkit listrik tenaga air, dimana air
dimanfaatkan untuk memutar turbin dan mengahasilkan energi listrik. Energi
diperoleh dari pemanfaatan variasi permukaan laut terutama disebabkan oleh efek
gravitasi bulan, dikombinasikan dengan rotasi bumi dengan menangkap energi
yang terkandung dalam perpindahan massa air akibat pasang surut.

Gambar 1. Proses Pasang


Pada gambar 1, terlihat bahwa arah ombak masuk ke dalam muara sungai
ketika terjadi pasang naik air laut. Dalam proses ini air pasang akan ditampung ke
dam sehinggal pada saat air surut air pada dam dapat dialirkan untuk memutar
turbine.

Gambar 2. Proses Surut

Ketika surut, air mengalir keluar dari dam menuju laut sambil memutar
turbin seperti yang terlihat pada gambar 2 di atas. Pasang surut menggerakkan air
dalam jumlah besar setiap harinya, dan pemanfaatannya dapat menghasilkan energi
dalam jumlah yang cukup besar. Dalam sehari bisa terjadi hingga dua kali siklus
pasang surut. Oleh karena waktu siklus bisa diperkirakan (kurang lebih setiap 12,5
jam sekali), suplai listriknya pun relatif lebih dapat diandalkan daripada pembangkit
listrik bertenaga ombak.

b. Metodelogi Pemanfaatan Pasang Surut


Pada dasarnya ada dua metodologi untuk memanfaatkan energi pasang
surut:
a. Dam pasang surut (tidal barrages)
Cara ini serupa seperti pembangkitan listrik secara hidro-elektrik yang
terdapat di dam/waduk penampungan air sungai. Hanya saja, dam yang
dibangun untuk memanfaatkan siklus pasang surut jauh lebih besar daripada
dam air sungai pada umumnya. Dam ini biasanya dibangun di muara sungai
dimana terjadi pertemuan antara air sungai dengan air laut. Ketika ombak
masuk atau keluar (terjadi pasang atau surut), air mengalir melalui terowongan
yang terdapat di dam. Aliran masuk atau keluarnya ombak dapat dimanfaatkan
untuk memutar Turbin Pembangkit listrik tenaga pasang surut (PLTPs) terbesar
di dunia terdapat di muara sungai Rance di sebelah utara Perancis. Pembangkit
listrik ini dibangun pada tahun 1966 dan berkapasitas 240 MW. PLTPs La
Rance didesain dengan teknologi canggih dan beroperasi secara otomatis,
sehingga hanya membutuhkan dua orang saja untuk pengoperasian pada akhir
pekan dan malam hari. PLTPs terbesar kedua di dunia terletak di Annapolis,
Nova Scotia, Kanada dengan kapasitas hanya 16 MW.
Teknologi pasang surut dengan membangun dam merupakan teknologi
yang paling lama digunakan. Ekstrasi energi didapat dari perbedaan ketinggian
antara air di dalam dam dan diluar dam (laut). Dam yang dibangun untuk
memanfaatkan siklus pasang surut jauh lebih besar daripada dam air sungai
pada umumnya. Dam ini biasanya dibangun di muara sungai dimana terjadi
pertemuan antara air sungai dengan air laut. Saat pasang air mengalir memasuki
dam sampai kondisi tertentu lalu air tersebut ditahan, bila laut sudah surut air
dialirkan kembali ke laut melewati turbin air sehingga energi listrik diperoleh.

Gambar 1 Prinsip Kerja Barrage Tidal System

Aplikasi
Pembangkit listrik tenaga pasang surut (PLTPs) terbesar di dunia
terdapat di muara sungai Rance di sebelah utara Perancis. Pembangkit listrik ini
dibangun pada tahun 1966 dan berkapasitas 240 MW. PLTPs La Rance didesain
dengan teknologi canggih dan beroperasi secara otomatis, sehingga hanya
membutuhkan dua orang saja untuk pengoperasian pada akhir pekan dan malam
hari. PLTPs terbesar kedua di dunia terletak di Annapolis, Nova Scotia, Kanada
dengan kapasitas hanya 16 MW.
Dalam perkembangannya sistem dam ini berdampak pada lingkungan,
walau berhasil menghasilkan energi listrik lumayan besar, namun ekologi air
berbagai jenis satwa yang berhubungan antara muara dan laut tidak berkembang
biak dengan baik.
Teknologi ini dapat menghasilkan daya listrik yang cukup besar.
Kelemahannya dari sistem DAM ini adalah berdampak negatif bagi lingkungan,
terutama dari sisi ekologis pesisir. Kebaradaan DAM ini menyababkan hewan-
hewan dan tumbuhan yang berkembang di daerah estuari akan kehilangan
habitatnya. Selain itu, pembangunan DAM juga membutuhkan biaya yang tidak
sedikit.
b. Turbin lepas pantai (offshore turbines)
Pilihan lainnya ialah menggunakan turbin lepas pantai yang lebih
menyerupai pembangkit listrik tenaga angin versi bawah laut. Keunggulannya
dibandingkan metode pertama yaitu: lebih murah biaya instalasinya, dampak
lingkungan yang relatif lebih kecil daripada pembangunan dam, dan persyaratan
lokasinya pun lebih mudah sehingga dapat dipasang di lebih banyak tempat.
Beberapa perusahaan yang mengembangkan teknologi turbin lepas
pantai adalah: Blue Energy dari Kanada, Swan Turbines (ST) dari Inggris, dan
Marine Current Turbines (MCT) dari Inggris. Teknologi MCT bekerja seperti
pembangkit listrik tenaga angin yang dibenamkan di bawah laut. Dua buah
baling dengan diameter 15-20 meter memutar rotor yang menggerakkan
generator yang terhubung kepada sebuah kotak gir (gearbox). Kedua baling
tersebut dipasangkan pada sebuah sayap yang membentang horizontal dari
sebuah batang silinder yang diborkan ke dasar laut. Turbin tersebut akan
mampu menghasilkan 750-1500 kW per unitnya, dan dapat disusun dalam
barisan-barisan sehingga menjadi ladang pembangkit listrik. Demi menjaga
agar ikan dan makhluk lainnya tidak terluka oleh alat ini, kecepatan rotor diatur
antara 10-20 rpm (sebagai perbandingan saja, kecepatan baling-baling kapal
laut bisa berkisar hingga sepuluh kalinya). Dibandingkan dengan MCT dan
jenis turbin lainnya, desain Swan Turbines memiliki beberapa perbedaan, yaitu:
baling-balingnya langsung terhubung dengan generator listrik tanpa melalui
kotak gir. Ini lebih efisien dan mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan
teknis pada alat. Perbedaan kedua yaitu, daripada melakukan pemboran turbin
ke dasar laut ST menggunakan pemberat secara gravitasi (berupa balok beton)
untuk menahan turbin tetap di dasar laut. Adapun satu-satunya perbedaan
mencolok dari Davis Hydro Turbines milik Blue Energy adalah poros baling-
balingnya yang vertikal (vertical-axis turbines). Turbin ini juga dipasangkan di
dasar laut menggunakan beton dan dapat disusun dalam satu baris bertumpuk
membentuk pagar pasang surut (tidal fence) untuk mencukupi kebutuhan listrik
dalam skala besar.
Turbin lepas pantai ini lebih menyerupai pembangkit listrik tenaga angin
versi bawah laut. Bentuk dari tidal turbine sangat beragam seperti halnya wind
turbine. Tidal turbine terbesar dipasang Scotlandia berbobot 1300 ton dengan
tinggi sekitar 22 m, dengan kecepatan aliran laut 2.65 m/s mampu
menghasilkan daya sampai dengan 4000 Twh setiap tahun, diharapkan turbin
ini mampu digunakan lebih dari 1000 rumah tangga.

Gambar 2 Tidal Turbine di Dalam Laut


Keunggulannya dibandingkan metode pertama yaitu: lebih murah biaya
instalasinya, dampak lingkungan yang relatif lebih kecil daripada pembangunan
dam, dan persyaratan lokasinya pun lebih mudah sehingga dapat dipasang di
lebih banyak tempat. Sistem ini tidak memerlukan bendungan, namun langsung
terpasang di lautan lepas, gaya dorong dihasilkan dari pegerakan energi kinetik
arus laut, dikarenakan densitas air lebih tinggi dari pada angin, offshore turbine
dapat menghasilkan energi yang lebih besar dengan ukuran yang sama untuk
wind turbine.

Aplikasi
Beberapa perusahaan yang mengembangkan teknologi turbin lepas
pantai adalah: Blue Energy dari Kanada, Swan Turbines (ST) dari Inggris, dan
Marine Current Turbines (MCT) dari Inggris.

Gambar 3 Macam-Macam Jenis Turbin Lepas Pantai yang Digerakkan


oleh Arus Pasang Surut. (a) Seagen Tidal Turbines Buatan MCT. (b) Tidal
Stream Turbines Buatan Swan Turbines. (c) Davis Hydro Turbines dari Blue
Energy. (d) Skema Komponen Davis Hydro Turbines Milik Blue Energy.

Prinsip Kerja
Teknologi MCT bekerja seperti pembangkit listrik tenaga angin yang
dibenamkan di bawah laut. Dua buah baling dengan diameter 15-20 meter
memutar rotor yang menggerakkan generator yang terhubung kepada sebuah
kotak gir (gearbox). Kedua baling tersebut dipasangkan pada sebuah sayap yang
membentang horizontal dari sebuah batang silinder yang diborkan ke dasar laut.
Turbin tersebut akan mampu menghasilkan 750-1500 kW per unitnya, dan
dapat disusun dalam barisan-barisan sehingga menjadi ladang pembangkit
listrik. Demi menjaga agar ikan dan makhluk lainnya tidak terluka oleh alat ini,
kecepatan rotor diatur antara 10-20 rpm (sebagai perbandingan saja, kecepatan
baling-baling kapal laut bisa berkisar hingga sepuluh kalinya).
Dibandingkan dengan MCT dan jenis turbin lainnya, desain Swan
Turbines memiliki beberapa perbedaan, yaitu: baling-balingnya langsung
terhubung dengan generator listrik tanpa melalui kotak gir. Ini lebih efisien dan
mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan teknis pada alat. Perbedaan
kedua yaitu, daripada melakukan pemboran turbin ke dasar laut ST
menggunakan pemberat secara gravitasi (berupa balok beton) untuk menahan
turbin tetap di dasar laut.
Adapun satu-satunya perbedaan mencolok dari Davis Hydro
Turbines milik Blue Energy adalah poros baling-balingnya yang vertikal
(vertical-axis turbines). Turbin ini juga dipasangkan di dasar laut menggunakan
beton dan dapat disusun dalam satu baris bertumpuk membentuk pagar pasang
surut (tidal fence) untuk mencukupi kebutuhan listrik dalam skala besar.

Kelebihan dan Kekurangan


Adapun kelebihan dan kekurangan dari tidal energy (energi pasang
surut), diantaranya :
Kelebihan:
a. Setelah dibangun, energi pasang surut dapat diperoleh secara gratis
b. Tidak menghasilkan gas rumah kaca ataupun limbah lainnya
c. Tidak membutuhkan bahan bakar
d. Biaya operasi rendah
e. Produksi listrik stabil
f. Pasang surut air laut dapat diprediksi
g. Turbin lepas pantai memiliki biaya instalasi rendah dan tidak menimbulkan
dampak lingkungan yang besar
Kekurangan:
a. Biaya pembangunan sangat mahal
b. Meliputi area yang sangat luas sehingga merubah ekosistem lingkungan
baik ke arah hulu maupun hilir hingga berkilo-kilometer.
c. Hanya dapat mensuplai energi kurang lebih 10 jam setiap harinya, ketika
ombak bergerak masuk ataupun keluar

c. Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut


1. Prinsip Kerja Pembangkit Litrik Tenaga Pasang Surut (PLTPs)
Bentuk lain dari pemanfaatan energi laut dinamakan energi pasang
surut. Ketika pasang datang ke pantai, air pasang ditampung di dalam
reservoir. Kemudian ketika air surut, air di belakang reservoir dapat
dialirkan seperti pada PLTA biasa. Agar bekerja optimal, kita membutuhkan
gelombang pasang yang besar. dibutuhkan perbedaan kira-kira 16 kaki
antara gelombang pasang dan gelombang surut. Hanya ada beberapa tempat
yang memiliki kriteria ini. Beberapa pembangkit listrik telah beroperasi
menggunakan sistem ini. Sebuah pembangkit listrik di Prancis sudah
beroperasi dan mencukupi kebutuhan listrik untuk 240.000 rumah.
Teknologi pembangkit listrik pasang surut (PLPS) mungkin sudah
dikuasai penuh para ilmuwan di Indonesia. Karena, pada prinsipnya
teknologi tersebut tidak berbeda dengan pembangkit listrik tenaga air
(PLTA), seperti yang diterapkan di waduk Jatiluhur dan waduk-waduk
lainnya. Di mana air laut ketika pasang ditampung dalam suatu wilayah
yang di bendung dan pada waktu pasang surut air laut dialirkan kembali ke
laut.
Pemutaran turbin dilakukan dengan memanfaatkan aliran air ketika
masuk ke dalam dam dan ketika keluar dari dan menuju laut. Kendala utama
penerapan teknologi PLPS ini ada dua. Pertama, pemerintah belum pernah
memanfaatkan energi pasang surut untuk menghasilkan listrik, sehingga
tenaga ahli Indonesia yang telah menguasai teknolgi pembangkit listrik
tenaga air belum pernah merancang dan menerapkan atau membangun
secara langsung dari awal.
Kedua, untuk pembangunan wilayah ini akan merendam wilayah
daratan yang luas. Apalagi bila harus merendam beberapa desa di sekitar
muara atau kolam. Di sini akan muncul masalah sosial, bukan hanya
masalah teknologi.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan para ahli Indonesia untuk
penerapan teknologi ini adalah efisiensi propeler ketika air masuk dan air
keluar. Kalau di PLTA arah air penggerak turbin hanya satu arah, sedangkan
pada pembangkit listrik pasang surut ini dari dua arah. Selain itu, yang patut
menjadi perhatian, adalah material yang digunakan. Untuk air laut
diperlukan material khusus disesuaikan dengan kadar garam dan kecepatan
airnya.
Kapasitas listrik yang dihasilkan PLPS sebaiknya untuk kapasitas
besar, di atas 50 Mega Watt, agar bisa ekonomis seperti PLTA. Sumber
energi PLPS ini banyak berada wilayah timur Indonesia, mulai dari Ambon
hingga ke Papua. Di wilayah ini kebutuhan listrik masih kecil dan
membutuhkan power cable bawah laut yang sangat panjang untuk bisa
membawa listrik ke pulau Sulawesi yang membutuhkan listrik dalam
jumlah besar.
Di negara lain, beberapa pembangkit listrik sudah beroperasi
menggunakan ide ini. Salah satu PLPS terbesar di dunia terdapat di muara
sungai Rance di sebelah utara Prancis. Pembangkit listrik ini dibangun pada
1966, dengan kapasitas 240 Mega Watt.
PLPS La Rance didesain dengan teknologi canggih dan beroperasi
secara otomatis, sehingga hanya membutuhkan dua orang saja untuk
pengoperasian pada akhir pekan dan malam hari. Sementara PLPS
terbesar kedua di dunia terletak di Annapolis, Nova Scotia, Kanada dengan
kapasitas yang mencapai 160 Mega Watt.
2. Bagian-Bagian dari Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut (PLTPs)

Tujuh komponen utama sebuah Pusat Pembangkit Tenaga Listrik Energi


Air Pasang Surut adalah:
1. Bangunan ruangan mesin
2. Tanggul (bendungan) untuk membentuk kolam
3. Pintu-pintu air untuk jalan air dari kolam ke laut atau sebaliknya
4. Turbin yang berputar oleh dorongan air pasang dan air surut.
5. Generator yang menghasilkan listrik 3.500 volt.
6. Panel penghubung.
7. Transformator step up dari 3.500 volt ke 150.000 volt.
3. Jenis-Jenis Turbin yang Digunakan
Ada beberapa jenis turbin yang digunakan dalam Pembangkit Listrik
Tenaga Pasang Surut (PLTPs) yaitu :
a. Seagen Tidal Turbines buatan MCT
Teknologi MCT bekerja seperti pembangkit listrik tenaga angin yang
dibenamkan di bawah laut. Dua buah baling dengan diameter 15-20
meter memutar rotor yang menggerakkan generator yang terhubung
kepada sebuah kotak gir (gearbox). Kedua baling tersebut dipasangkan
pada sebuah sayap yang membentang horizontal dari sebuah batang
silinder yang diborkan ke dasar laut. Turbin tersebut akan mampu
menghasilkan 750-1500 kW per unitnya, dan dapat disusun dalam
barisan-barisan sehingga menjadi ladang pembangkit listrik. Demi
menjaga agar ikan dan makhluk lainnya tidak terluka oleh alat ini,
kecepatan rotor diatur antara 10-20 rpm (sebagai perbandingan saja,
kecepatan baling-baling kapal laut bisa berkisar hingga sepuluh
kalinya).

Gambar Seagen Tidal Turbines buatan MCT

b. Tidal Stream Turbines buatan Swan Turbine


Dibandingkan dengan MCT dan jenis turbin lainnya, desain Swan
Turbines memiliki beberapa perbedaan, yaitu: baling-balingnya
langsung terhubung dengan generator listrik tanpa melalui kotak gir. Ini
lebih efisien dan mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan teknis
pada alat. Perbedaan kedua yaitu, daripada melakukan pemboran turbin
ke dasar laut ST menggunakan pemberat secara gravitasi (berupa balok
beton) untuk menahan turbin tetap di dasar laut.

Gambar Tidal Stream Turbines buatan Swan Turbine

c. Davis Hydro Turbines dari Blue Energy


Adapun satu-satunya perbedaan mencolok dari Davis Hydro
Turbines milik Blue Energy adalah poros baling-balingnya yang
vertikal (vertical-axis turbines). Turbin ini juga dipasangkan di dasar
laut menggunakan beton dan dapat disusun dalam satu baris bertumpuk
membentuk pagar pasang surut (tidal fence) untuk mencukupi
kebutuhan listrik dalam skala besar.

Gambar Davis Hydro Turbines dari Blue Energy


II.2.1 Menghitung Energi yang Dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga
Pasang Surut (PLTPs)
Energi pasang surut merupakan energy yang dihasilkan dari
pergerakan masa air (hydropower) secara besar karena terjadi pasang surut
dilaut. Energi pasang surut, menurut cara ekstrasi yang digunakan, dapat
dibagi menjadi dua, yaitu ekstrasienergykinetic, berdasarkan pergerakan
aliran bebas air laut, serta ekstrasienergy potensial, yang didapat berdasarkan
beda ketinggian selama terjadinya pasang surut air laut (Gorlov, 1998). Energi
pasang surut dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
E = gA zdz = 0.5 gAh2

Dimana E adalah energi, g adalah percepatan gravitasi, adalah massa


jenis air laut, A adalah luas permukaan laut, z adalah koordinat permukaan
laut dan h adalah amplitudo gelombang laut. Rata-rata besarnya energi yang
dihasilkan dari siklus pasang surut dengan nilai g = 10.15 kN m-3 adalah
sebesar E = 1.4 h2 ( watt per jam) atau E = 5.04 h2 (Kilojoule). Untuk Energi
kinetik yang dihasilkan dapat dihitung dengan rumus T = 0.5 mV2 dengan m
adalah massa dan V adalah kecepatan. Total energi yang bisa dihasilkan dari
satu siklus pasang surut ini adalah jumlah dari besar energi kinetik dan energi
potensial yang diperoleh.
Persamaan untuk menghitung daya listrik adalah:

P=fQH

Dengan :
P = daya listrik dalam kW
Q = debit air (m3)
H = tinggi pasang surut terbesar (m)
F = faktor efisiernsi 0,70,8.
II.2.2 Macam-macam Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut
Tidal Fences : biasanya dibangun antara pulau-pulau kecil atau antara daratan
dan pulau-pulau. Putaran terjadi karena arus pasang surut untuk menghasilkan
energi.

Teknologi Tidal Fence skala besar digunakan juga sebagai jem-batan


penghubung antarpulau di antara selat. Menggunakan instalasi yang hampir
sama dengan Tidal Power namun terpisah dengan turbin arus antara 5 sampai
8 knot (5.6 sampai 9 mil/jam) dapat dimanfaatkan energi lebih besar dari
pembangkit listrik tenaga angin karena densitas air 832 kali lebih besar dari
udara (5 knot arus = velositas angin 270 km/jam).
Skala besar pembangkit tenaga arus ini sepanjang 4 km telah dimulai
dikerjakan di kepulauan Dalupiri dan Samar, Filipina sekaligus membuat
jembatan penghubung pada empat pulaunya. Proyek ini disponsori oleh Blue
Energy Power System-Canada yang telah mengomersialkan diri dengan
berbagai modul turbin dalam berbagai skala. Diestimasi energi yang nantinya
dihasilkan di Filipina ini maksimum sebesar 2200 MW dengan minimum rata-
rata sebesar 1100 MW setiap hari. Hal ini didasarkan dengan kecepatan arus
rata-rata sebesar 8 knots pada kedalaman sekitar 40 meter. Modul turbin Davis
yang dipakai dapat mengonversi listrik pada lokasi tertentu seperti di sungai
sebesar 5 kW sampai 500 kW sedangkan instalasi di laut bisa menghasilkan
200 MW sampai 8000 MW.
Barrage Tidal Plants: adalah jenis yang paling umum dari pembangkit
pasang surut. Menggunakan bendungan untuk menjebak air, dan ketika
mencapai ketinggian yang sesuai karena air pasang, air dilepaskan agar
mengalir melalui turbin yang akan menggrakkan generator listrik.

Teluk yang ujungnya sempit sangat cocok diterapkan. Ketika air


pasang menghasilkan tingkat air yang berbeda di dalam dan di luar dam,
pintu-pintu air akan terbuka, air yang mengalir melewati turbin akan
menjalankan generator untuk menghasilkan listrik. Pemanfaatan energi ini
memerlukan daerah yang cukup luas untuk menampung air laut (reservoir
area) dan bangunan dam bisa dijadikan jembatan transportasi. Tidal Power
dibedakan menjadi dua yaitu kolam tunggal dan kolam ganda. Pada sistem
pertama energi dimanfaatkan hanya di saat periode air surut atau air naik.
Sedangkan sistem kolam ganda memanfaat-kan aliran dalam dua arah.
Perbedaan tinggi antara permukaan air di kolam dan permukaan air laut pada
instalasi ini semakin tinggi semakin baik. Di Jepang, sistem ini telah mulai
dikembangkan di Laut Ariake, Kyushu yang memiliki variasi pasut tertinggi.
Di muara sungai Severn, Inggris juga telah mulai direncanakan instalasi
berskala besar untuk 12 GW listrik.
Tidal Turbines: Terlihat seperti turbin angin, sering tersusun dalam baris
tapi berada di dalam air. Arus pasang surut memutar turbin untuk
menciptakan energi.

Teknologi ini berfungsi sangat baik pada arus pantai yang ber-gerak
sekitar 3.6 dan 4.9 knots (4 dan 5.5 mph). Pada kecepatan ini, Turbin arus
berdiameter 15 meter dapat menghasilkan energi sama dengan turbin angin
yang berdiameter 60 meter. Lokasi ideal turbin arus pasut ini tentunya dekat
dengan pantai pada kedalaman antara 20-30 meter. Energi listrik yang
dihasilkan menurut Perusahaan Marine Current Turbine-Inggris adalah
lebih besar dari 10 MW per 1 km2, dan 42 lokasi yang berpotensi di Inggris
telah teridentifikasi perusahaan ini. Lokasi ideal lainnya yang dapat
dikembangkan terdapat di Filipina, Cina dan tentunya Indonesia.
Penelitian pemanfaatan energi arus pasut sejak tahun 1920 te-lah
dilakukan oleh beberapa ne-gara seperti Perancis, Amerika Serikat, Rusia
dan Kanada. Se-telah lebih dari 40 tahun, stasiun Frances La Rance adalah
satu-satunya industri Pembangkit Listrik Tenaga Arus Pasang Surut dengan
skala besar di dunia. Memproduksi 240 MW listrik lewat instalasi Tidal
Power melewati daerah estuari sungai Rance, dekat Saint Malo. Instalasi ini
telah ada sejak 1966 dan menyuplai 90 persen kebutuhan listrik wilayah itu.
Di Rusia, Murmansk memanfaatkan 0,4 MW listrik dari jenis yang sama.
Tidak jauh dari Indonesia, ada Australia yang memanfaatkannya di
Kimberly dan Cina sebesar 8 MW. Di Canada stasiun Annapolis Royal,
Nova Scotia telah memproduksi sekitar 20 MW listrik Tidal Turbine untuk
keperluan masyarakatnya. Di kota Hammerfest, Norwegia, listrik telah
sukses dibangkitkan dengan memanfaatkan arus pasang di pantai dan
mencukupi sebagian kebutuhan listrik kota dengan modul turbin Blades.

II.3 Kelebihan dan Kekurangan Energi Pasang Surut


Tenaga pasang surut pada dasarnya adalah bentuk tenaga air yang
menghasilkan daya listrik melalui pemanfaatan dari aliran pasang surut.
Listrik tenaga pasang surut walaupun memiliki potensi besar masih belum
banyak digunakan. Prinsip kerja dari tenaga pasang surut tidak terlalu rumit:
sekali air pasang datang, air akan disimpan dalam bendungan, dan ketika air
surut, air di bendungan akan disalurkan melalui pipa untuk menggerakkan
turbin, yang kemudian menghasilkan listrik.
Listrik tenaga pasang surut memiliki beberapa keunggulan. Pertama,
tenaga pasang surut adalah sumber energi terbarukan karena pasang surut di
planet kita disebabkan oleh interaksi gaya gravitasi antara Bulan dan
Matahari, serta rotasi bumi, yang berarti bahwa listrik tenaga pasang surut
tidak akan habis selama paling tidak beberapa milyar tahun.
Satu keunggulan besar yang dimiliki tenaga pasang surut
dibandingkan beberapa sumber energi terbarukan lainnya (terutama energi
angin) adalah bahwa tenaga pasang surut merupakan sumber energi yang
sangat handal. Hal ini dapat dipahami karena kita bisa memprediksi kapan
air pasang akan naik dan kemudian surut, karena pasang-surutnya air laut
jauh lebih siklik daripada pola cuaca yang acak.
Dan juga, listrik tenaga pasang surut tidak menghasilkan gas rumah
kaca seperti bahan bakar fosil, dan limbah berbahaya seperti ini juga
dikhawatirkan akan terjadi pada penggunaan energi nuklir. Waduk dan
bendungan kecil yang diperlukan untuk memanfaatkan tenaga pasang surut
juga dapat memainkan peran yang sangat penting dalam melindungi kota-
kota terdekat atau pelabuhan dari gelombang berbahaya pada saat terjadi
badai.
Listrik tenaga pasang surut merupakan sumber energi yang sangat
efisien, dengan efisiensi 80%, ini berarti bahwa efisiensi energi pasang surut
hampir tiga kali lebih besar dari batubara dan minyak bumi yang memiliki
efisiensi 30%, dan juga secara signifikan lebih tinggi dari efisiensi energi
surya dan angin.
Kelemahan utama energi pasang surut adalah pembangkit listrik
pasang surut sangat mahal untuk dibangun, yang berarti listrik tenaga
pasang surut masih tidak efektif dalam hal biaya bila dibandingkan dengan
pembangkit bahan bakar fosil. Meskipun begitu, pembangkit listrik pasang
surut dibangun hanya sekali dan biaya pemeliharaannya relatif rendah. Dan
pula, di kehidupan nyata energi pasang surut hanya dapat dilakukan di
pantai dengan diferensial pasang surut yang baik, artinya tidak banyak
lokasi yang benar-benar cocok untuk jenis pembangkit listrik tenaga pasang
surut, dan juga hanya menghasilkan listrik selama ada gelombang pasang
yang rata-rata terjadi sekitar 10 jam setiap hari.
Listrik tenaga pasang surut juga dapat memiliki dampak negatif
terhadap lingkungan; turbin pembangkit dapat mengganggu gerakan kapal
dan hewan laut yang besar di sekitar kanal, sedangkan bangunan
pembangkit listrik tenaga pasang surut dapat mengganggu migrasi ikan di
lautan, dan bahkan membunuh populasi ikan ketika melewati turbin.
Tidak ada keraguan sedikitpun bahwa tenaga pasang surut memiliki
potensi besar, namun juga terdapat beberapa kelemahan serius yang
menghambat listrik tenaga pasang surut memiliki nilai komersial tinggi.
Masih perlu banyak pengembangan agar teknologi listrik tenaga pasang
surut menjadi efektif dalam hal biaya, karena potensi besar saja tidak cukup
untuk membuat tenaga pasang surut kompetitif dengan bahan bakar fosil
yang dominan di saat ini.
II.4 Potensi Pengembangan Energi Pasang Surut di Indonesia
Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikelilingi oleh dua lautan
yaitu Samudera Indonesia dan Samudera Pasifik serta posisinya yang berada di
garis katulistiwa sehingga kondisi pasang surut, angin, gelombang, dan arus laut
cukup besar. Hasil pengukuran tinggi pasang surut di wilayah laut Indonesia
menunjukkan beberapa wilayah lepas laut pesisir daerah Indonesia memiliki
pasang surut cukup tinggi.
Keadaan pasang surut di perairan Nusantara ditentukan oleh penjalaran
pasang surut dari Samudra Pasifik dan Hindia serta morfologi pantai dan
batimeri perairan yang kompleks dimana terdapat banyak selat, palung dan laut
yang dangkal dan laut dalam. Keadaan perairan tersebut membentuk pola
pasang surut yang beragam. Di Selat Malaka pasang surut setengah harian
(semidiurnal) mendominasi tipe pasut di daerah tersebut. Berdasarkan
pengamatan pasang surut di Kabil, Pulau Batam diperoleh bilangan Formzhal
sebesar 0,69 sehingga pasang surut di Pulau Batam dan Selat Malaka pada
umumnya adalah pasut bertipe campuran dengan tipe ganda yang menonjol.
Pasang surut harian (diurnal) terdapat di Selat Karimata dan Laut Jawa.
Berdasarkan pengamatan pasut di Tanjung Priok diperoleh bilangan Formzhal
sebesar 3,80. Jadi tipe pasut di Teluk Jakarta dan laut Jawa pada umumnya
adalah pasut bertipe tunggal. Tunggang pasang surut di perairan Indonesia
bervariasi antara 1 sampai dengan 6 meter. Di Laut Jawa umumnya tunggang
pasang surut antara 1 1,5 m kecuali di Selat madura yang mencapai 3 meter.
Tunggang pasang surut 6 meter di jumpai di Papua (Diposaptono, 2007).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, beberapa daerah di
Indonesia yang mempunyai potensi energi pasang surut, yaitu: Bagan Siapi-
api, Teluk Palu, Teluk Bima di Sumbawa, Kalimantan Barat, Irian Jaya, Pantai
selatan di Pulau Jawa (Dewi Surinati, 2007 dalam SOEPARDJO, 2005). Namun
daerah yang cocok untuk pemasangan turbin lepas pantai yaitu di daerah Bagan
Siapi-api dan Irian Jaya yang memiliki beda tinggi pasang surut yang cukup
tinggi. Harapannya, Indonesia dapat mempunyai energi pasang surut ini.
Dengan menggunakan energi pasang surut, Indonesia dapat mengurangi jumlah
karbon karena tidak menggunakan bahan bakar dari fosil, selain itu energi
pasang surut ini merupakan energi terbarukan. Dalam pembangunan turbin
lepas pantai ini, dibutuhkan perencanaan yang tepat dan akurat serta biaya yang
cukup banyak. Meski demikian, manfaat yang kita dapatkan jauh lebih besar
dibandingkan pembangunan fisik berupa gedung atau jembatan yang terkadang
kurang bermanfaat karena terbengkalai.
Di beberapa negara maju, tidal energy telah dikembangkan meski dalam
waktu pengembangannya membutuhkan waktu yang relatif lama. Tidal
energy dapat dikonversi menjadi energi listrik yang relatif besar. Di muara
sungai Rance, Perancis-tidal energy yang dihasilkan berkapasitas 240 MW. Di
Annapolis, Nova Scotia, Kanada-tidal energy yang dihasilkan berkapasitas 16
MW. Di Sihwa, Korea Selatan-tidal energy yang dihasilkan berkapasitas 254
MW dengan membentuk sebuah dam.Tidal energy pada tiap negara berbeda-
beda tergantung tinggi pasang surut dan banyaknya turbin yang dipasang.

II.5 Syarat-syarat Pemilihan Lokasi Pembuatan PLTPs


Syarat-syarat untuk memilih lokasi pembuatan pembangkit energi listrik pasang
surut ini adalah:
1. Tinggi air pasang pada lokasi harus memadai sepanjang tahun.
2. Kuala atau estu arium harus mempunyai geomorfologi yang dengan
tanggul yang relatif pendek dapat dikembangkan sebagai
kolam penampung air.
3. Lokasi yang diusulkan tersebut tidak mempunyai endapan yang luar
biasa jika membawa endapan lumpur ke dalam laut diperlukan usaha untuk
mengangkat endapan ke atas suatu kolam penampungan.
4. Lokasi yang dipilih harus bebas dari serangan ombak besar.
5. Lokasi yang dipilih harus sedemikian rupa sehingga tidak timbul masalah
akibat pembendungan kuala, seperti perubahan pola air pasang surut
II.6 Konservasi Energi yang Perlu dilakukan
Konservasi energi sendiri mengandung arti sebagai suatu usaha untuk
tetap menggunakan energi secara rasional tapi tetap mempertahankan
produktifitas dan terpenuhinya syarat-syarat kelola perusahaan. Penggunaan
energi rasional diantaranya dengan penghematan dan efisiensi energi. Jadi
harus dibedakan antara penghematan energi dengan konservasi energi.
Penghematan energi bisa saja dilakukan dengan hanya mengurangi penggunaan
energinya tapi kenyamanan dan produktitas menjadi turun. Sementara
konservasi energi adalah penerapan kaidah-kaidah dalam pengelolaan energi
tidak hanya mengurangi pemakaian energinya tapi juga menerapkan pola
operasi yang efisien, pemasangan alat tambahan yang meningkatkan performa
sistem sehingga pemakaian energinya lebih rendah tapi tidak mengurangi
kenyamanan dan produktifitas. Jadi pada intinya konservasi energi merupakan
panduan bagaimana menghemat energi dengan benar dan berisi metode-metode
dan alat alat yang bisa dipakai untuk penghematan energi tanpa mengurangi
produktifitas dan kenyamanan. Sementara efisiensi energi artinya perbandingan
antara penggunaan energi dengan hasil produksinya. Yang dimaksud
produksinya bisa kenyamanan, gerak dan lain-lain. Jadi efisiensi energi yang
tinggi berarti pemakaian energinya rendah tapi produksi tinggi. Dengan
demikian konsep konservasi energi lebih luas dibandingkan dengan efisiensi
energi.
Berikut beberapa konservasi yang perlu dilakukan :
a. Konservasi di sisi pembangkit, yang didahului oleh audit energi
b. Mengurangi pemakaian listrik yang bersifat konsumtif, keindahan,
kenyamanan
c. Mengganti peralatan yang tidak effisien
d. Mengatur waktu pemakaian peralatan listrik
e. Pendekatan terhadap pihak-pihak yang terkait dengan implementasi
khususnya dalam pembangunan dan pengembangan energi pasang surut,
seperti instansi pemerintahan, pihak swasta, lembaga swadaya dan
kemasyarakatan, serta media informasi dan komunikasi massa.
II.7 Kendala Pada Pembangkitan Tenaga Air Pasang Surut
Dari sejarah perkembangannya di atas terlihat bahwa manusia sudah
agak terlambat dalam mempergunakan tenaga air pasang surut. Ada sejumlah
alasan yang meyebabkan pembangkit tenaga listrik dengan penggerak tenaga
air pasang surut. Pembangkit jenis ini tertinggal pengembangannya
dibandingkan dengan jenis pembangkitan tenaga listrik energi lain. Beberapa
alasannya itu adalah sebagai berikut:
a. Karena pembangkit listrik energi air pasang surut bergantung pada
ketinggian yang berbeda dari permukaan laut dan kolam penampung. Pola
pengaturan ketinggian air dilakukan dengan perluasan kolam atau jumlah
kolam dan sistem putaran ganda (putaran dua arah) yang dapat berfungsi
pada saat pasang naik dan pasang surut
b. Perbedaan tinggi air pasang terbatas hanya beberapa meter, bila baling-
baling turbin atau pipa turbin secara teknologi perkembangannya kurang
baik terpaksa menggunakan cara konvensional yaitu turbin tipe Koplan
sebagai alternatifnya. Hal ini tidak cocok lagi mengingat perkembangan
teknologi yang dapat membolak-balikkan putaran turbin dan generator.
c. Jarak air pasang ialah perubahan ketinggian permukaan ari sehingga turbin
harus bekerja pada variasi jarak yang cukup besar dari ketinggian tekanan
air. Hal ini akan mempengaruhi efisiensi stasiun pembangkit.
d. Lamanya perputaran tenaga listrik dalam sebuah pusat pembangkit listrik
dengan energi air pasang surut. Setiap hari merupakan alasan yang tepat
untuk menentukan dasar tipe pembangkitan, tetapi waktu terjadinya
peristiwa tidak boleh berubah. Setiap hari terjadi keterlambatan hampir
mendekati satu jam. Jadi jika tenaga listrik generator pada suatu hari bekerja
dari pukul 10.00 siang sampai jam 3.00 sore hari berikutnya ia akan
beroperasi dari jam 11 siang sampai jam 4 sore dan begitu seterusnya
e. Adanya perubahan ini mengakibatkan kesukaran dalam rencana persiapan
operasi setiap harinya dalam sentral pembangkitan listrik. Dengan bantuan
program komputer halangan ini baru dapat diatasi.
f. Air laut merupakan cairan yang mudah mengakibatkan pembangkit tenaga
listrik akan berkarat
g. Diperlukan teknologi khusus untuk membangun konstruksi di dalam laut.
h. Pembangunan pembangkit tenaga listrik energi pasang surut ini
dikhawatirkan mengganggu manfaat alami teluk yang berfungsi juga
sebagai daerah perikanan dan pelayaran.

II.8 Contoh PLTPs di Indonesia dan di Dunia


1. Pembangkit Listrik Tenaga Pasang-Surut Komersial Pertama Dunia
Mulai beroperasi (The worlds first commercial tidal power
goes online)
Tanggal 2 April 2008 boleh dikatakan sebagai salah satu hari penting
dalam teknologi energi terbarukan. Pada hari itu, pembangkit listrik tenaga
pasang-surut komersial pertama di dunia mulai dioperasikan.

Sea Gen (Source: seageneration)


Turbin air ini diberi nama SeaGen (Sea Generation), dibuat oleh Marine
Current Turbines Ltd., sebuah perusaan yang berbasis di Bristol, Inggris.
Lokasi yang dipilih adalah selat antara Strangford dan Portaferry, Irlandia
Utara, sekitar 400 meter dari garis pantai.
Lokasi SeaGen, selat antara Stangford dan Portaferry, Irlandia Utara
(Source:Google Earth)
SeaGen memiliki dua buah rotor berdiameter 16 meter, empat kali lebih besar
dari pada pendahulunya. Tahun 2003, perusahaan yang sama, membuat
SeaFlow dengan kapasital 300kW (bukan komersial) di Lynmouth, Devon.

Rotor SeaGen (Source: seageneration)


Pembangkit yang awal proyek dimulai 2005 ini memiliki kapasitas 1.2 MW,
cukup untuk memberikan tenaga listrik bagi sekitar seribu rumah, dan bekerja
18 20 jam sehari. Dalam 12 hari, pembangkit ini ditargetkan telah tersambung
dengan jaringan listrik lokal. ESB Independent Energy telah bersedia membeli
listrik dari SeaGen. Yang paling penting, setiap watt listrik yang dihasilkan dari
pembangkit ini tidak menghasilkan sedikit pun gas rumah kaca.
Proses instalasi (Source: seageneration)
Proyek yang menghabiskan dana 5.2 juta Pounds (sekitar Rp. 95 Miliar) ini
merupakan salah satu bentuk tindakan nyata yang dilakukan pemerintah Inggris
selaku penandatangan Prokol Kyoto untuk mengatasi pemanasan global.
Namun demikian, proyek ini dikhawatirkan akan mengganggu ekosistem di
perairan setempat, terutama mamalia laut. Untuk meninjau kemungkinan ini
Marine Current Turbines Ltd telah menyediakan 2 juta Pounds untuk memotitor
dampak lingkungan dari proyek ini.

2. Rancangan dan Ujicoba Prototipe Pembangkit Listrik Pasang Surut


di Sulawesi Utara
Rancangan turbin air dipakai turbin model Propeller tipe undershot yang
sesuai dengan beda tinggi yang rendah dan debit air yang sedikit. Untuk
material turbin menggunakan bahan dari fiberglass atau baja tahan karat karena
air yang digunakan untuk memutar turbin adalah campuran air laut dan air
tawar. Hasil perhitungan jumlah energi berdasarkan rancangan dam adalah
85,56 kJoule dan daya listrik adalah 30,38 kW untuk luas waduk 1800 m2. Hasil
analisis jumlah energi dan daya listrik yang didapat cukup memenuhi kebutuhan
daya listrik di lokasi tersebut baik bagi pengusaha ataupun bila ada masyarakat
yang tinggal di sekitar lokasi. Untuk pelaksanaan uji coba pembangkit listrik
dibuat prototipe dam menggunakan kayu dan papan dua lapis yang diisi dengan
karung plastik berisi pasir dan dilengkapi dengan 2 pintu air, di mana pada pintu
keluar dipasang turbin air yang memutar generator (Gambar 3).
Prototipe turbin untuk uji coba dibuat dari pelat baja seperti Gambar 4.
Dudukan turbin terbuat dari balok kayu. Turbin air yang dibuat dilengkapi
dengan pulley dan belt untuk dihubungkan dengan generator. Dalam uji coba
dilakukan pengukuran putaran turbin dan generator serta pengukuran tegangan
dan daya listrik. Pengukuran putaran turbin adalah 15 rpm dan putaran
generator adalah 355 rpm. Hasil pengukuran tegangan adalah 15 volt. Tegangan
yang dihasilkan rendah karena generator yang digunakan putarannya 1500 rpm.
Prototipe pembangkit untuk uji coba seperti Gambar 5.

Dengan dibangunnya pembangkit listrik pasang surut dapat memberikan


energi listrik bagi beberapa pengusaha yang ada di sekitar lokasi tersebut
seperti PT Minahasa Lagoon yang bergerak di bidang diving dan cottage. Juga
ada pengusaha restoran di sekitar lokasi yang selama ini menggunakan genset
sebagai pembangkit listrik untuk memperoleh penerangan dan kebutuhan
listrik lainnya. Sebagai informasi bahwa lokasi itu merupakan salah satu tempat
wisata dari masyarakat Sulawesi Utara dan sekitarnya untuk tamasya dan
mandi di pantai.
BAB III

PENUTUP

III.1 Kesimpulan
Setelah membaca berbagai artikel yang di dapat dan penulis bahas kembali
dalam makalah ini maka disimpulkan sebagai berikut:
1. Fenomena pasang surut diartikan sebagai naik turunnya muka laut secara
berkala akibat adanya gaya tarik benda-benda angkasa terutama matahari dan
bulan terhadap massa air di bumi.
2. Energi pasang surut air laut adalah energi yang dihasilkan akibat terjadinya
fenomena pasang surut air laut.
3. Energi Pasang Surut Air Laut dapat digunakan sebagai energi alternatif yang
mana energi ini berasal dari fenomena pasang surut laut.

III.2 Saran
1. Gunakanlah energi secara bijak.
2. Kembangkan energi-energi alternatif dengan memanfaatkan potensi-potensi
yang ada di Indonesia.
3. Jangan terlalu bergantung pada energi fosil, karena suatu saat energi tersebut
akan habis.
DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, Thicon. 2008. Pemanfaatan Energi Laut 2: Pasang Surut. http://


majarimagazine.com/2008/01/energi-laut-2-pasang-surut/ (diunduh 02
April 2012)

Muhammad. 2007. Pasang Surut Laut dan Keadaanya di Indonesia. http://


rageagainst.multiply.com/journal/item/35?&show_interstitial=1&u=%2Fjo
urnal%2Fitem (diunduh 04 April 2012)

Suardi, Yogi. 2007. Pasang Surut. http://www.ilmukelautan.com/oseanografi/


fisika-oseanografi/402-pasang-surut (diunduh 04 April 2012)