Anda di halaman 1dari 15

Berikut ini beberapa kiat mengurangi lupa dalam belajar, berdasarkan baca-

baca literatur dan diskusi dengan teman-teman.


1. Overlearning (belajar lebih)
Overlearning (belajar lebih) artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan
dasar atas materi pelajaran tertentu. Ini bukan berarti anak harus terus-terusan
belajar, tetapi diciptakan suatu cara yang menyebabkan anak tidak sengaja secara
lebih mengakses materi pelajaran. Cara yang bisa digunakan adalah dengan
menempelkan materi pelajaran di tembok, sehingga anak bisa setiap hari melihat.
Seringnya anak mengakses materi pelajaran tersebut menyebabkan materi tersebut
dapat mengendap dalam ingatan siswa, sehingga tidak mudah dilupakan.
2. Extra study time (tambahan waktu belajar)
Extra study time (tambahan waktu belajar) ialah upaya penambahan alokasi waktu
belajar atau penambahan frekuensi (kekerapan) aktivitas belajar. Penambahan
alokasi waktu belajar materi tertentu berarti anak menambah jam belajar. Kiat ini
dipandang cukup strategis karena dapat melindungi memori dari kelupaan.
3. Mnemonic device (muslihat memori)
Mnemonic device (muslihat memori) yang sering juga hanya disebut mnemonic itu
berarti kiat khusus yang dijadikan "alat pengait" mental untuk memasukkan item-
item inforrnasi ke dalam sistem akal anak. Caranya adalah dengan membuat
singkatan untuk materi yang terdiri dari beberapa item. Contoh: jika hendak
mempermudah mengingat nama Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, dan Nabi
Musa, dapat menyingkatnya dengan ANIM. Bisa juga dengan membuat item-item
informasi dalam materi pelajaran menjadi syair sebuah lagu yang dapat dihapal dan
dinyanyikan siswa.
4. Menghapal bagian materi di berbagai tempat
Trik ini dilakukan oleh seorang teman, di mana dia memerintahkan anak untuk
menghapal suatu materi di suatu tempat dan kemudian menghapal materi lainnya di
tempat yang berbeda. Orang tua kemudian membantu anak dengan menanyakan
materi yang dihapalkan di suatu tempat. Hal ini menyebabkan apabila anak
mengingat tempat dia menghapal, dia akan mengingat materi yang dihapalkannya.
Trik ini, menurut teman yang sudah mencobanya terbukti cukup efektif untuk
mengurangi lupa.
Kiat yang disajikan di atas, belum mencakup semua cara dan teknik untuk
mengurangi lupa, dan barangkali ada yang mau berbagi kiat lainnya untuk
mengurangi lupa ? Semoga kiat ini dapat dimanfaatkan untuk membantu anak
mengurangi lupa terhadap materi pelajaran yang dipelajarinya.
http://rizki-nisa.blogspot.com/2013/12/kiat-mengurangi-lupa-dalam-belajar.html

Pemprosesan Informasi Dalam Belajar

Teori belajar pemrosesan informasi/sibernetik merupakan teori belajar yang relatif


baru dibandingkan teori-teori belajar lainnya. Menurut teori sibernetik, "belajar" adalah
pemrosesan informasi. Teori ini lebih mementingkan sistem informasi dari pesan atau materi
yang dipelajari. Bagaimana proses belajar berlangsung, sangat ditentukan oleh sistem
informasi dari pesan tersebut. Oleh sebab itu, teori sibernetik berasumsi bahwa tidak ada satu
jenispun cara belajar yang ideal untuk segala situasi. Sebab cara belajar sangat ditentukan
oleh sistem informasi.
Asumsi teori belajar sibernetik (Lusiana, 1992):

1. Antara stimulus dan respon terdapat suatu seri tahapan pemrosesan informasi di mana
pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu.
2. Stimulus yang diproses melalui tahapan-tahapan tadi akan mengalami perubahan
bentuk atau pun isinya.
3. Salah satu dari tahapan mempunyai kapasitas terbatas.

Komponen pemrosesan informasi dipilah berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas,


bentuk informasi, serta proses terjadinya. Komponen tersebut adalah:
1. Sensory Receptor (SR)
Sensory Receptor (SR) merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. Di
dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, bertahan dalam waktu sangat singkat,
dan informasi tadi mudah terganggu atau berganti.

2. Working Memory (WM)


Working Memory (WM) diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi perhatian
oleh individu. Karakteristik WM adalah memiliki kapasitas terbatas (informasi hanya mampu
bertahan kurang lebih 15 detik tanpa pengulangan) dan informasi dapat disandi dalam bentuk
yang berbeda dari stimulus aslinya. Artinya agar informasi dapat bertahan dalam WM,
upayakan jumlah informasi tidak melebihi kapasitas disamping melakukan pengulangan.

3. Long Term Memory (LTM)


Long Term Memory (LTM) diasumsikan:
a) berisi semua pengetahuan yan telah dimiliki individu,
b) mempunyai kapasitas tidak terbatas,
c) sekali informasi disimpan di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang.

Adapun implikasi teori pemrosesan informasi terhadap kegiatan pembelajaran adlah

sebagai berikut:

1. Model pemrosesan informasi dari belajar dan ingatan memiliki signifikasi yang besar bagi

perencanaan dan desain pembelajaran dalam proses pendidikan. Belajar dimulai dengan

pemasukan stimulasi dari reseptor dan diakhiri dengan umpan balik yang mengikuti

performance pembelajar.

2. Secara keseluruhan stimulasi yang diberikan kepada pembelajar selama pembelajaran

berfungsi mensupport yang terjadi pada pembelajaran.

Konsep Sensasi

Sensasi merupakan tahap pertama stimulus mengenai indera. Sensasi merupakan

pengalaman elementer yang tidak memerlukan penguraian verbal. Sensasi adalah proses

manusia dalam dalam menerima informasi sensoris [energi fisik dari lingkungan] melalui

penginderaan dan menerjemahkan informasi tersebut menjadi sinyal-sinyal “neural” yang

bermakna. Fungsi alat indera dalam menerima informasi sangat penting, melalui alat indera,

manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungannya, memperoleh pengetahuan dan

kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya. Ketajaman sensasi dipengaruhi oleh faktor
personal, perbedaan sensasi dapat disebabkan perbedaan pengalaman atau lingkungan budaya

disamping kapasitas alat indera yang berbeda.

Konsep Perhatian (Attention)

Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi
menonjol dalam kesdaran pada saat stimuli lainnya melemah (Kenneth E. Andersen). Faktor
eksternal yang mempengaruhi perhatian dimana hal ini ditentukan oleh faktor-faktor
situasional personal. Faktor situasional terkadang disebut sebagai determinan perharian yang
bersifat eksternal atau penarik perhatian (attention getter) dan sifat-sifat yang menonjol,
seperti :

 Gerakan (Movement) secara visual tertarik pada objek-objek yang bergerak.


 Intensitas Stimuli (Stimulus Intensity), kita akan memerharikan stimuli yang
menonjol dari stimuli yang lain
 Kebaruan (Novelty), hal-hal yang baru dan luar biasa, yang beda, akan menarik
perhatian.
 Perulangan (Repeatation), hal-hal yang disajikan berkali-kali bila deisertai sedikit
variasi akan menarik perhatian.

Konsep Persepsi

Sensasi adalah bagian dari persepsi. Persepsi adalah pengalaman tentang objek,
peristiwa atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi & menafsirkan
pesan. Persepsi memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Menafsirkan
makna informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi, persepsi tetapi juga atensi,
ekspektasi, motivasi dan memori ( Desiderato, 1976).

Contoh : Anda melihat kawan anda melihat etalase di toko. Anda menyergapnya dari
belakang, “udah lupa sama aku ya..”, orang tersebut memablik dan anda terkejut ternyata ia
bukan kawan anda tetapi orang yang tidak anda kenal.

Konsep Memori

Dalam komunikasi intrapersonal, memori memegang peranan penting dalm


memperngaruhi persepsi maupun berpikir. Memori adalah system yang sangat berstruktur
yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan
pengetahuannya untuk membimbing perilakunya ( Schlessinger dan Groves, 1976). Setiap
stimuli menenai indera kita, setiap saat pula stimuli itu direkam secara sadar atau tidak sadar.
Memori melewati tiga proses :

a. Perekaman (encoding) adalah pencatatan informasi melalui reseptor indera dan sirkit syaraf
internal.

b. Penyimpanan (strorage) adalah menentukan berapa lama informasi itu berada beserta kita,
dalam bentuk apa dan dimana, penyimpanan bisa aktif atau pasif. Secara aktif bila kita
menambahkan informasi tambahan, kita mengisi informasi yang tidak lengkap dengan
kesimpulan kita sendiri (inilah desas-desus menyebar lebih banyak dari volume asal). Secara
pasif terjadi tanpa penambahan.

c. Pemanggilan (retrieval), dalam bahasa sehari-hari, mengingat lagi adalah menggunakan


informasi yang disimpan.

Adapun faktor yang mempengaruhi pemprosesan informasi dalam belajar yaitu:


1. Faktor internal (psikologis dan fisiologis) dan eksternal
2. Tidak semua individu mampu melatih memori secara maksimal
3. Proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung
4. Tingkat kesulitan mengungkap kembali informasi-informsi yang telah disimpan dalam
ingatan
5. Kemampuan otak tiap individu tidak sama.

Pemanfaatan pemprosesan informasi dalam belajar yaitu :


 Membantu terjadinya proses pembelajaran sehungga individu mampu beradaptasi pada
lingkungan yang selalu berubah.
 Menjadikan strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang berorientasi pada
proses lebih menonjol.
 Kapasilitas belajar dapat disajikan secara lengkap.
 Prinsip perbedaan individual terlayani.

Lupa Menurut Psikologi Belajar

PENDAHULUAN
Otak merupakan perangkat yang paling kompleks di dunia. Trilyunan sel otak
memiliki fungsi spesifik tetapi saling berhubungan. Mengendalikan seluruh aspek fisik dan
psikis manusia. Baik secara sadar maupun tak sadar Kapasitas penyimpanan memori di
dalam otak jauh melebihi kapasitas hardisk komputer terbesar sekalipun. Otak memiliki
kemampuan menangani algoritma rumit secara bersamaan dalam jumlah tak terbatas, jauh
melebihi kemampuan prosesor komputer tercanggih sekalipun. Tapi sayangnya manusia
tidak mampu mengoptimalkan seluruh potensi otak tersebut, sehingga otak tidak
memungkinkan semua jejak ingatan itu tersimpan terus dengan sempurna, melainkan
berangsur-angsur akan menghilang. Tetapi ketika orang yang bersangkutan diminta untuk
mengingat kembali hal yang sudah mulai terlupakan sebagian itu.

Manusia cenderung untuk menyempurnakan sendiri bagian-bagian yang terlupa


tersebut dengan cara mengkreasikan sendiri detil-detil ceritera itu. Akibatnya, sebuah
ceritera tentang suatu peristiwa yang pernah disaksikan oleh seseorang akan berubah-ubah
dari masa ke masa. Makin lama jarak waktu antara kejadian awal dengan saat berceritera,
maka makin banyak perubahannya.

Maka dari itu penulis mengangkat judul “Lupa Menurut Psikologi Belajar” agar kita
semua mengetahui segala hal yang berkaitan dengan lupa yang semoga dapat bermanfaat
untuk para pembacanya.

PEMBAHASAN

A. Pengertian Lupa

Lupa merupakan istilah yang sangat populer di masyarakat. Dari hari ke hari dan
bahkan setiap waktu pasti ada orang-orang tertentu yang lupa akan sesuatu, entah hal itu
tentang peristiwa atau kejadian di masa lampau atau sesuatu yang akan dilakukan, mungkin
juga sesuatu yang baru saja dilakukan. Fenomena dapat terjadi pada siapapun juga, tak
peduli apakah orang itu anak-anak, remaja, orang tua, guru, pejabat, profesor, petani dan
sebaginya. (syaiful Bahri Djamarah, 2008: 206)

Soal mengingat dan lupa biasanya juga ditunjukkan dengan satu pengertian saja,
yaitu retensi, karena memang sebenarnya kedua hal tersebut hanyalah memandang hal yang
satu dan sama dari segi berlainan. Hal yang diingat adalah hal yang tidak dilupakan, dan hal
yang dilupakan adalah hal yang tidak diingat. (Sumadi Suryabrata, 2006: 47)

Lupa ialah peristiwa tidak dapat memproduksikan tanggapan-tanggapan kita, sedang


ingatan kita sehat. (Agus Suyanto, 1993: 46), adapula yang mengartikan lupa sebagai suatu
gejala di mana informasi yang telah disimpan tidak dapat ditemukan kembali utnuk
digunakan. (Irwanto, 1991: 150).

Muhibbinsyah (1996) dalam bukunya yang berjudul psikologi pendidikan


mengartikan lupa sebagai hilangnya kemampuan untuk menyebut kembali atau
memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari secara sederhana. Gulo
(1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidak mampuan mengenal atau
mengingat sesuatu yang pernah dialami atau dipelajari, dengan demikian lupa bukanlah
peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita.

B. Proses Terjadinya Lupa

Daya ingatan kita tidak sempurna. Banyak hal-hal yangpernah diketahui, tidak dapat
diingat kembali atau dilupakan.

Dewasa ini ada empat cara untuk menerangkan proses lupa keempatnya tidak saling
bertentangan, melainkan saling mengisi.

1. Apa yang telah kita ingat, disimpan dalam bagian tertentu diotak kalau materi yang harus
diingat itu tidak pernah digunakan, maka karena proses metabolisme otak, lambat laun jejak
materi itu terhapus dari otak sehingga kita tidak dapat mengingatnya kembali. Jadi, karena
tidak digunakan, materi itu lenyap sendiri.

2. Mungkin pula materi itu tidak lenyap begitu saja, melainkan mengalami perubahan-
perubahan secara sistematis, mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. Penghalusan: materi berubah bentuk ke arah bentuk yang lebih simatris, lebih halus dan
kurang tajam, sehingga bentuk yang asli tidak diingat lagi.

b. Penegasan: bagian-bagian yang paling mencolok dari suatu hal adalah yang paling
mengesankan. Karena itu, dalam ingatan bagian-bagian ini dipertegas, sehingga yang diingat
hanyalah bagian-bagian yang mencolok, sedangkan bentuk keseluruhan tidak begitu diingat.

c. Asimilasi: bentuk yang mirip botol misalnya, akan kita ingat sebagai botol, sekalipun bentuk
itu bukan botol. Dengan demikian, kita hanya ingat sebuah botol, tetapi tidak ingat bentuk
yang asli. Perubahan materi di sini disebabkan bagaimana wajah orang itu tidak kita ingat
lagi.
3. Kalau mempelajari hal yang baru, kemungkinan hal-hal yang sudah kita ingat, tidak dapat
kita ingat lagi. Dengan kata lain, materi kedua menghambat diingatnya kembali materi
pertama. Hambatan seperti ini disebut hambatan retroaktif. Sebaliknya, mungkin pula
materi yang baru kita pelajari tidak dapat masuk dalam ingatan, karena terhambat oleh
adanya materi lain yang terlebih dahulu dipelajari, hambatan seperti ini disebut hambatan
proaktif.

4. Ada kalanya kita melakukan sesuatu. Hal ini disebut represi. Peristiwa-peristiwa
mengerikan, menakutkan, penuh dosa, menjijikan dan sebagainya, atau semua hal yang
tidak dapat diterima oleh hati nurani akan kita lupakan dengan sengaja (sekalipun proses
lupa yang sengaja ini terkadang tidak kita sadari, terjadi diluar alam kesadaran kita). Pada
bentuknya yang ekstrim, represi dapat menyebabkan amnesia, yaitu lupa nama sendiri,
orang tua, anak dan istri dan semua hal yang bersangkut paut dirinya sendiri. Amnesia ini
dapat itolong atau disembuhkan melalui psikoterapi atau melalui suatu peristiwa yang
sangat dramatis sehingga menimbulkan kejutan kejiwaan pada penderita. (Ahmad Fauzi,
1997: 52-54)

C. Faktor-Faktor Penyebab Lupa

Pertama, lupa terjadi karena gangguan konflik antara item-item informasi atau
materi yang ada dalam sistem memori siswa. Dalam interfence theory (teori mengenai
gangguan), gangguan konflik ini terbagi menjadi dua macam, yaitu:

1) proactive interference, 2) retroactive interference (Reber, 1988; Best, 1989; Anderson,


1990)

Seorang siswa akan mengalami gangguan proaktifapabila materi pelajaran yang


sudah lama tersimpan dalam subsistem akal permanennya mengganggu masuknya materi
pelajaran baru. Peristiwa ini terjadi apabila siswa tersebut mempelajari sebuah materi
pelajaran yang sangat mirip dengan materi pelajaran yang telah dikuasainya dalam tenggang
waktu yang pendek. Dalam hal ini, materi yang baru saja dipelajari akan sangat sulit diingat
adatu diproduksi kembali.

Sebaliknya, seorang siswa akan mengalami gangguan retroaktifapabila materi


pelajaran baru membawa konflik dan gangguan terhadap kembali materi pelajaran lama
yang telah lebih dahulu tersimpan dalam subsistem akal permanen siswa tersebut. Dalam
hal ini, materi pejaran lama kan sangat sulit diingat atau diproduksi kembali. Dengan kata
lain, siswa tersebut lupa akan materi pelajaran lama tersebut.

Kedua, lupa dapat terjadi pada seorang siswa karena adanya tekanan terhadap item
yang telah ada, baik sengaja ataupun tidak. Penekanan ini terjadi karena adanya
kemungkinan.
a. Karena item informasi (berupa pengetahuan, tanggapan, kesan dan sebagainya) yang
diterima siswa kurang menyenangkan, sehingga ia dengan sengaja menekannya hingga ke
alam ketidaksadaran.

b. Karena item informasi yang baru secara otomatis menekan item informasi yang telah ada,
jadi sama dengan fenomena retroaktif.

c. Karena item informasi yang akan direproduksi (diingat kembali) itu tertekan ke alam bawah
sadar dengan sendirinya lantaran tidak pernah digunakan.

Itulah pendapat yang didasarkan para repression theory yakni teori represi/
penekanan (Reber, 1988). Namun, perlu ditambahkan bahwa istilah “alam ketidaksadaran”
dan “alam bawah sadar” seperti tersebut di atas, merupakan gagasan Sigmund Freud, bapak
psikologi analisis yang banyak mendapat tantanganm baik dari kawan maupun lawannya itu.

Ketiga, lupa dapat terjadi pada siswa karena perubahan situasi lingkungan antara
waktu belajar dengan waktu mengingat kembali (Anderson, 1990). Jika seorang siswa hanya
mengenal atau mempelajari hewan jerapah atau kudanil lewat gambar-gambar yang ada di
sekolah misalnya, maka kemungkinan ia akan lupa menybut nama hewan-hewan tadi ketika
melihatnya di kebun binatang.

Keempat, lupa dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat siswa terhadap
proses belajar mengajar dengan tekun dan serius, tetapi karna sesuatu hal sikap dan minat
siswa tersebut menjadi sebaliknya (seperti karena ketidaksenangan kepada guru) maka
materi pelajaran itu akan mudah terlupakan.

Kelima, menurut law of disuse (Hilgard & Bower 1975), lupa dapat terjadi karena
materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan atau dihafalkan siswa. Menurut
asumsi sebagian ahli, materi yang diperlakukan demikian denga sendirinya akan masuk ke
alam bawah sadar atau mungkin juga bercampur aduk dengan materi pelajaran baru.

Keenam, lupa tentu saja dapat terjadi karena perubahan urat syaraf otak. Seorang
siswa yang terserang penyakit tertentu seperti keracunan, kecanduan alkohol, dan geger otak
akan kehilangan ingatan item-item informasi yang ada dalam memori permanennya.

Meskipun penyebab lupa itu banyak aneka ragamnya, yang paling penting untuk
diperhatikan para guru adalah faktor pertama yang meliputi gangguan proaktif dan
retroaktif, karena didukung oleh hasil riset dan eksperimen. Mengenai faktor keenam, tentu
saja semua orang maklum.

Kecuali gangguan proaktif dan retroaktif, ada satu lagi penemuan baru yang
menyimpulkan bahwa lupa dapat dialami seorang siswa apabila item informasi yang ia serap
rusak sebelum masuk ke memori permanennya. Item yang rusak (decay) itu tidak hilang dan
tetap diproses oleh sistem memori siswa tadi, tetapi terlalu lemah untuk dipanggil kembali.
Kerusakan item informasi tersebut mungkin disebabkan karena tennggang waktu (delay)
antara waktu diserapnya item informasi dengan saat proses pengkodean dan transformasi
dalam memori jangka pendek siswa tersebut (Best, 1989; Anderson, 1990).

Apakah materi pelajaran yang terlupakan oleh siswa benar-benar hilang dari ingatan
akalnya? Menurut pandangan ahli psikologi kognitif, “tidak!” materi pelajaran itu masih
terdapat dalam subsistem akal permanen siswa namun terlalu lemah untuk di panggil atau
diingat kembali. Buktinya banyak siswa yang mengeluh “kehilangan ilmu”, setelah
melakukan relearning (belajar lagi) atau mengikuti remedial teaching berfungsi
memperbaiki atau menguatkan item-item informasi yang rusak atau lemah dalam memori
para siswa tersebut, sehingga mereka berhasil mencapai prestasi yang memuaskan.
(Muhibbin Syah, 1996: 160)

D. Lupa Versus Hilang

Kerapkali pengertian “lupa” dan “hilang” secara spontan dianggap sama, padahal apa
yang dilupakan belum tentu hilang dalam ingatan begitu saja. Hasil penelitian dan refleksi
atas pengalaman belajar di sekolah, memberikan petunjuk bahwa segala sesuatu yang
pernah dicamkan dan dimasukan dalam ingatan, tetap menjadi milik pribadi dan tidak
menghilang tanpa bekas. Dengan kata lain, kenyataan bahwa seseorang tidak dapat
mengingat sesuatu, belum berarti hal itu hilang dari ingatannya, seolah-olah hal yang
pernah dialami atau dipelajari sama sekali tidak mempunyai efek apa-apa. (Winkel, 1989:
291) sejumlah kesan yang telah didapat sebagai buah dari pengalaman belajar tidak akan
pernah hilang, tetapi kesan-kesan itu mengendap ke alam bawah sadar. Bila diperlukan
kembali kesan-kesan terpilih akan terangkat ke alam sadar. Penggalian kesan-kesan terpilih
bisa karena kekuatan “asosiasi” atau bisa juga karena kemauan yang keras melakukan
“reproduksi” dengan pengandalan konsentrasi. Oleh karena itu, tepat apa yang pernah
dikemukakan oleh gula (1982) dan Reber (1988) bahwa lupa sebagai ketidakmampuan
mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. (Muhibbin Syah,
1999: 151) jadi, lupa bukan berarti hilang, sesuatu yang terlupakan tentu saja masih dimiliki
dan tersimpan di alam bawah sadar, sedangkan sesuatu yang hilang tentu saja tidak
tersimpan dalam alam bawah sadar.

Gangguan-gangguan yang menyebabkan terjadinya lupa, baik dalam ingatan jangka


panjang maupun jangka pendek ditunjang oleh hasil-hasil penelitian, bahwa informasi-
informasi yang baru didapat membingungkan informasi-informasi yang lama disebut
“inhibisi retroaktif” atau gangguan retroaktif. Sebaliknya, bila informasi-informasi yang
lama menyulitkan orang untuk mengingat kembali informasi-informasi yang baru
dinamakan “inhibisi proaktif” atau gangguan proaktif. (Mahmud, 1990: 136)

E. Lupa-Lupa Ingat

Lupa-lupa ingat berlainan dengan lupa-lupaan, dan tidak sama dengan melupakan.
Lupa-lupaan berarti pura-pura lupa. Melupakan berarti melalaikan, tidak mengindahkan.
Baik lupa-lupaan mengandung unsur kesengajaan. Sedangkan lupa-lupa ingat berarti tidak
lupa, tetapi tidak ingat benar, (masa samar, tetapi kurang pasti), agak lupa.

Kadang-kadang kita mengingat sesuatu dari ingatan jangka panjang kita dan merasa
seolah-olah kita hampir mengingatnya, tetapi tidak mengingat betul apa yang ingin kita
ingat itu, entah itu nama seorang teman, tempat berlangsungnya kejadian tertentu, tanggal
lahir seorang pahlawan nasioanl dan sebaginya. “hampir ingat” ini disebut”gejala ujung
lidah”.
Pengorganisasian struktur kognitif yang kurang baik dan sistematik berpotensi
kearah lupa-lupa ingat. Kerancuan struktur kognitif menyebabkan sejumlah kesan menjadi
samar-samar, kesan berbentuk bayang-bayang dalam ketidakpastian. Sesuatu hal yang
direpresentasikan dalam bentuk kesan mengapung diantara alam bimbang sadar dan alam
bawah sadar, sehingga ingatan yang timbul karena kesadaran akibat adanya rangsangan dari
luar atau usaha mengingat-ingat terjelma dalam bentuk gejala ujung lidah, hampir ingat
atau lupa-lupa ingat, yang berarti tidak lupa, Cuma kurang pasti. (Syaiful Bahri Djamarah,
2008: 207-209)

F. Teori-Teori Mengenai Lupa

Lupa merupakan suatu gejala di mana informasi yang telah disimpan tidak dapat
ditemukan kembali untuk digunakan. Ada empat teori tentang lupa, yaitu Decay theory,
Interference theory, Retrieval failure, motivated forgetting, dan lupa karena sebab-sebab
fisiologis. Teori-teori ini khususnya merujuk pada memori jangka panjang.

1. Decay theory

Teori ini beranggapan bahwa memori menjadi semakin aus aus dengan berlalunya
waktu bila tidak pernah diulang kembali (rehearsal). Teori ini mengandalkan bahwa setiap
informasi di simpan dalam memori akan meninggalkan jejak (memory trace). Jejak-jejak ini
akan rusak atau menghilang bila tidak pernah dipakai lagi. Meskipun demikian, banyak ahli
sekarang menemukan bahwa lupa tidak semata-mata disebabkan oleh ausnya informasi.

2. Teori interferensi

Teori ini beranggapan bahwa informasi yang sudah disimpan dalam memori janga
panjang masih ada dalam gudang memori (tidak mengalami keausan). Akan tetapi proses
lupa terjadi karena informasi yang satu menggangu proses mengingat informasi lainnya.
Bisa terjadi bahwa informasi yang baru diterima mengganggu proses mengingat informasi
yang lama, tetapi bisa juga sebaliknya.

Bila informasi yang baru kita terima, menyebabkan kita sulit mencari informasi yang
sudah ada dalam memori kita, terjadilah interferensi retroaktif. Dalam hidup sehari-hari kita
mengalami hal ini.

Adalagi yang disebut interferensi proaktif, yaitu informasi yang sudah dalam memori
jangka panjang mengganggu proses mengingat informasi yang baru saja disimpan.

3. Teori retrieval failure

Teori ini sebenarnya sepakat dengan teori interferensi bahwa informasi yang sudah
disimpan dalam memori jangka panjang selalu ada, tetapi kegagalan untuk mengingat
kembali tidak disebabkan oleh interferensi. Kegagalan mengingat kembali lebih disebabkan
tidak adanya petunjuk yang memadai. Dengan demikian, bila syarat tersebut dipenuhi
(disajikan petunjuk yang tepat), maka informasi tersebut tentu dapat ditelusuri dan diingat
kembali.

4. Teori motivated forgetting


Menurut teori ini, kita akan cenderung melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan.
Hal-hal yang menyakitkan atau tidak menyenangkan ini cenderung ditekan atau tidak
diperbolehkan muncul dalam kesadaran. Teori ini didasarkan atas teori psikoanalisis yang
dipelopori oleh Sigmund Freud. Dari penjelasan di atas, jelas bahwa teori ini juga
beranggapan bahwa informasi yang telah disimpan masih selalu ada.

5. Lupa karena sebab-sebab fisiologis

para peneliti sepakat bahwa setiap penyimpanan informasi akan disertai berbagai
perubahan fisik di otak. Perubahan fisik ini disebut engram. Gangguan pada engram ini akan
mengakibatkan lupa yang disebut amnesia. Bila yang dilupakan adalah berbagai informasi
yang telah disimpan dalam beberapa waktu yang lalu, yang bersangkutan dikatakan
menderita amnesia retrograd. Bila yang dilupakan adalah informasi yang baru saja
diterimanya, ia dikatakan menderita amnesia anterograd. Karena proses lupa dalam kedua
kasus ini erat hubungannya dengan faktor-faktor biokimiawi otak, maka kurang menjadi
fokus perhatian bagi para pendidik.

G. Meningkatkan Kemampuan Memori

Secara umum usaha-usaha untuk meningkatkan kemampuan memori harus


memenuhi tiga ketentuan sebagai berikut:

1. Proses memori bukanlah suatu usaha yang mudah. Oleh karena itu, perlu diperhatikan
bahwa pengulangan/rekan. Mekanisme dalam proses mengingat sangat membantu
organisme dalam menghadapi berbagai persoalan sehari-hari. Seseorang dikatakan “belajar
dari pengalaman” karena ia mampu menggunakan berbagai informasi yang telah
diterimanya di masa lalu untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapinya saat ini.

2. Bahan-bahan yang akan diingat harus mempunyai hubungan dengan hal-hal lain. Khusus
mengenai hal ini, konteks memegang peranan penting. Dari uraian di depan jelas bahwa
memori sangat dibantu bila informasi yang dipelajari mempunyai kaitan dengan hal-hal
yang sudah dikenal sebelumnya. Konteks dapat berupa peristiwa, tempat, nama sesuatu,
perasaan tertentu dan lain-lain. Konteks ini memberikan retrievel cues atau karena itu
mempermudah recognition.

3. Proses memori memerlukan organisasi. Salah satu pengorganisasian informasi yang sangat
dikenal adalah mnemonik (bahasa Yunani: mnemosyne, yaitu dewi memori dalam mitologi
Yunani). Informasi diorganisasi sedemikian rupa (dihubungkan dengan hal-hal yang sudah
dikenal) sehingga informasi yang kompleks mudah untuk diingat kembali.

Salah satu metode mnemonik yang biasa dilakukan adalah metode loci (method of
loci; loci= locus= tempat). Individu diminta untuk membayangkan suatu tempat yang ia
kenal dengan baik, misalnya rumahnya. Ia membayangkan dari bagian rumah itu, misalnya
dari ruang tamu sampai kekamarnya. Ia membayangkan benda-benda apa saja yang akan
ditemui didekat pintu masuk, di ruang tamu, dekat pintu kamarnya dan di dalam kamarnya.
Kemudian ia diasosiasikan benda-benda tersebut dengan informasi baru yang harus diingat.
Metode mnemonik lain yang biasa dipakai adalah metode menghubung-hubungkan
(link method), yaitu menghubungkan informasi yang harus diingat satu dengan lainnya
sehingga mempunyai arti, walu kadang-kadang agak lucu.

Orang yang baru belajar musik sering harus menghafal tanda-tanda yang amat
kompleks. Untuk itu cara seperti berikut sering banyak membantu:

a. Nada-nada yang naik ½ (kruis/ #) = Gudeg Djogja Amat Enak Banyak Fitamin

b. Nada-nada yang turun ½ (mol) = Fajar Bandung Elok Amat Dekat Garut Ciamis

Seorang mahasiswa psikologi yang ingin menghafalkan spektrum warna harus


menempuh jalan sebagai berikut:

Mau Jadi Koboi Harus Bisa Naik Unta = Merah Jingga Kuning Hijau Biru Nila Ungu

Pengorganisasian juga bisa dilakukan dengan membuat suatu akronim sekaligus


sebagai suatu kesatuan informasi (chunk) seperti dalam jembatankeledai yang pernah kita
singgung di depan (LUBER, ANDAL kota BERIMAN, dan lain-lain). (Irwanto, 1991: 152-158)

H. Kiat Mengurangi Lupa dalam Belajar

Kiat terbaik untuk mengurangi lupa adalah dengan cara meningkatkan daya ingat
akal siswa. Banyak ragam kiat yang dapat dicoba siswa dalam meningkatkan daya
ingatannya, antara Barlow (1985), Reber (1988), dan Anderson (1990) adalah sebagai
berikut:

1. Overlearning

Overlearning (belajar lebih) artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan
dasar atas materi pelajaran tertentu. Overlearning terjadi apabila respons atau reaksi
tertentu muncul setelah siswa melakukan pembelajaran atau respons tersebut dengan cara
di luar kebiasaan. Banyak contoh yang dapat dipakai untuk overlearning, antara lain
pembacaan teks pancasila pada setiap hari senin dan sabtu memungkinkan ingatan siswa
terhadap P4 lebih kuat.

2. Extra Study Time

Extra Study Time (tambahan waktu belajar) ialah upaya penambahan alokasi waktu
belajar materi tertentu berarti siswa menambah jam belajar. Penambahan frekuensi belajar
berarti siswa meningkatkan kekerapan belajar materi tertentu. Kiat ini dipandang cukup
strategis karena dapat melindungi memori dari kelupaan.

3. Mnemonic Device

Mnemonic device (muslihat memori) yang sering juga disebut mnemonic itu berarti
kiat khusus yang dijadikan “alat pengait” mental untuk memasukkan item-item informasi ke
dalam sistem akal siswa.

4. Pengelompokkan
Maksud kiat pengelompokkan (clustering) ialah menata ulang item-item materi
menjadi kelompok-kelompok kecil yang dianggap lebih logis dalam arti bahwa item-item
tersebut memiliki signifikansi dan lafal yang sama atau sangat mirip.

5. Latihan Terbagi

Lawan latihan terbagi (distributed practice) adalah massed practice (latihan


terkumpul) yang sudah dianggap tidak efektif karena mendorong siswa melakukan
cramming. Dalam latihan terbagi siswa melakukan latihan-latihan waktu-waktu istirahat.
Upaya demikian dilakukan untuk menghindari camming, yakni belajar banyak materi secara
tergesa-gesa dalam waktu yang singkat. Dalam melaksanakan istributed practice, siswa
dapat menggunakan berbagai metode dan strategi belajar yang efisien.

6. Pengaruh Letak Bersambung

Untuk memperoleh efek positif dari pengaruh letak bersambung (the serial position
effect), siswa dianjurkan menyusun daftar kata0kata (nama, istilah dan sebagainya) yang
diawali dan diakhiri dengan kata-kata yang harus diingat. Kata-kata yang harus diingat
siswa tersebut sebaiknya ditulis dengan menggunakan huruf dan warna yang mencolok agar
tampak sangat berbeda dari kata-kata yang lainnya yang tidak perlu diingat. Dengan
demikian, kata yang ditulis pada awal yang akhir daftar tersebut memberi kesan tersendiri
dan diharapkan melekat erat dalam subsistem akal permanen siswa. (Muhibbin Syah, 1996:
160-164)

PENUTUP

SIMPULAN

Lupa adalah hilangnya kemampuan menyebut atau melakukan kembali informasi


dan kecakapan yang telah tersimpan dalam memori.

Faktor-faktor yang menyebabkan lupa meliputi :

1. Adanya konflik-konflik antara item-item informasi atau materi pelajar yang ada di sistem
memori seseorang.

2. Adanya tekanan terhadap item atau materi yang lama baik disengaja atau tidak disengaja.

3. Perbedaan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan waktu memanggil kembali item
tersebut.

4. Perubahan situasi dan minat terhadap proses dan situasi tertentu.

5. Tidak pernah latihan / tidak pernah dipakai

6. Kerusakan jaringan syaraf otak.

Cara mengurangi lupa:

1. Belajar dengan melebihi batas penguasaan atas materi pelajaran tertentu.

2. Menambah waktu belajar sehingga dapat memperkuat terhadap materi yang dipelajari.
3. mengelompokkan kata atau istilah tertentu dalam susunan yang logis.
Jenuh belajar adalah yaitu suatuv situasi dan kondisi yang menunjukkan tidak adanya hasil
belajar yang berhasil guna meskipun telah melaksanakan proses belajar pada waktu tertentu

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri. 2008, Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta.

Mahmud, M. Dimyati. 1991. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Terapan. Yogyakarta: PBFE.

Purwanto, M. Ngalim. 1999. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Suyanto, Agus. 1993. Psikologi Umum. Jakarta: Bumi Aksara. Cet. 9

Syah,Muhibbin. 2007. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

http://kumpulanmakalahdanartikelpendidikan.blogspot.com/2011/01/lupa-menurut-psikologi-
belajar.html