Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

ACUTE LIMB ISCEMIC

A. KONSEP MEDIS

1. Defenisi

Menurut Inter-Society, Konsensus Pengelolaan Penyakit Arteri Peripheral

(TASC II), Akut Limb Iskemik (ALI) adalah suatu penurunan perfusi ke

jaringan extremitas yang terjadi secara tiba tiba dan mengancam

kelangsungan hidup (viabilitas) jaringan extremitas.

Akut Limb Iskemik (ALI) adalah oklusi akut dari suatu arteri pada

ekstremitas dimana terjadi penurunan secara tiba-tiba atau perburukan

perfusi ke anggota gerak yang menyebabkan ancaman potensial terhadap

viabilitas ekstremitas (Rahmad, 2011).

Akut Limb Iskemik (ALI) merupakan suatu keadaan penurunan perfusi/

perburukan perfusi secara tiba tiba pada anggota gerak yang menyebabkan

ancaman potensial terhadap viabilitas anggota gerak.Penyakit ini disebabkan

oleh thrombus, embolus, trauma vaskular, aneurisma serta penyebab

lainnya.Oleh karena penyakit ini mempunyai prognosis yang cenderung

buruk, maka perlu untuk mengenal tanda-tanda atau gejala penyakit ini.

2. Etiologi

Beberapa kemungkinan penyebab Akut Limb Iskemik (ALI), berdasarkan

sumber pustaka diantaranya:

a. Trombosis
Trombosis adalah pembentukan bekuan darah (trombus) di dalam

pembuluh darah, menghambat aliran darah melalui sistem peredarah

darah.Gambaran klinis terjadinya trombosis adalah riwayat nyeri hilang

timbul sebelumnya, tidak ada sumber terjadinya emboli dan

menurunnya (tidak ada) nadi perifer pada tungkai bagian distal.

b. Emboli

Sekitar 80% emboli timbul dari atrium kiri, akibat atrial fibrilasi atau

miokard infark.Kasus lainnya yang juga berakibat timbulnya emboli

adalah katup prostetik, vegetasi katup akibat peradangan pada

endokardium, paradoksikal emboli (pada kasus DVT) dan atrial

myxoma.Aneurisma aorta merupakan penyebab dari sekitar 10%

keseluruhan kasus yang ada, terjadi pada pembuluh darah yang sehat.

c. Akut Trauma Vaskular

Terjadi akibat trauma vaskular

3. Faktor Resiko dibagi menjadi dapat dirubah dan tidak dapat dirubah

Menurut Rangkuti mengatakan bahwa beberapa faktor resiko untuk penyakit

arteri perifer yaitu:

a. Yang dapat dirubah :

 Merokok

Nikotin mengganggu saraf simpatis, sehingga menyebabkan

ketagihan merokok dan juga merangsang pelepasan adrenalin yang


menyebabkan peningkatan tekanan darah dan merusak

arteri.Carbonmonoksida (CO) menimbulkan desaturasi O2 sehingga

suplay O2 kejaringan tubuh berkurang.

 Diabetes melitus

Semakin tinggi kadar gula dalam darah akan mempungaruhi

viskositas darah, sehingga resiko timbulnya aterosklerosis

meningkat.

 Hiperlipidemia

Dengan peningkatan kadar lemak dalam darah, sehingga lemak

beresiko akan menempel pada dinding dipembuluh darah.

 Hipertensi

Tekanan darah tinggi yang berlangsung secara terus menerus akan

mengakibatkan meningkatnya tekanan pada dinding arteri, sehingga

akan menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah arteri.

b. Yang tidak dapat dirubah :

 Usia

Proses degeneratif akan mempengaruhi struktur pembuluh darah.

Semakin bertambahnya usia elastisitas dinding pembuluh darah

akan menurun disertai adanya penumpukan plak, sehingga

menyebabkan terjadinya aterosklerosis akan meningkat.


4. Patofisiologi

Penyebab dari Akut Limb Iskemik adalah trombus/embolus yang sebagian

besar berasal dari jantung kemudian menuju ke arteri besar selanjutnya

berhenti pada pembuluh darah yang lebih kecil dari embolus lalu menumpuk

dan menutup aliran darah pada pembuluh yang lebih kecil terutama pada

daerah yang bercabang seperti pada arteri iliaka, femoralis, poplitea, tibialis

dan dorsalis pedis akhirnya saluran darah ke arah distal berhenti dan dapat

menimbulkan Akut Limb Iskemik (ALI).

Perjalanan Akut Limb Iskemik (ALI) yang cukup kompleks ini, dapat

menimbulkan beberapa masalah pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang

menunjukkan suatu masalah keperawatan yang kompleks pula, diantaranya

gangguan perfusi jaringan, gangguan rasa nyaman nyeri, intoleransi aktivitas,

cemas, resiko tinggi perdarahan dan resiko tinggi cedera serta banyak lagi

yang satu sama lain saling berhubungan dan perlu segera ditangani.

5. Tanda dan Gejala

Secara umum manifestasi klinis yang dapat ditemukan pada kasus Akut

Limb Iskemik (ALI) merupakan tanda dan gejala yang sangat khas dengan

sebutan istilah “6P” yang terdiri dari:

1. Pain (nyeri).

2. Parasthesia (tidak mampu merasakan sentuhan pada ekstremitas).

3. Paralysis (kehilangan sensasi motorik pada ekstremitas).

4. Pallor (pucat).
5. Pulseless (menurunnya/tidak adanya denyut nadi).

6. Perishingly cold /Poikilothermia (dingin pada ekstremitas).

Pada awalnya tungkai tampak pucat, tetapi setelah 6-12 jam akan terjadi

vasodilatasi yang disebabkan oleh hipoksia dari otot polos vaskular. Kapiler

akan terisi kembali oleh darah teroksigenasi yang stagnan, yang

memunculkan penampakan mottled (yang masih hilang bila ditekan). Bila

tindakan pemulihan aliran darah arteri tidak dikerjakan, kapiler akan ruptur

dan akan menampakkan kulit yang kebiruan yang menunjukkan iskemia

irreversibel. Nyeri terasa hebat dan seringkali resisten terhadap

analgetik.Adanya nyeri pada ekstremitas dan nyeri tekan dengan

penampakan sindrom kompartemen menunjukkan tanda nekrosis otot dan

keadaan kritikal (yang kadangkala irreversibel).

Defisit neurologis motor sensorik seperti paralisis otot dan parastesia

mengindikasikan iskemia otot dan saraf yang masih berpotensi untuk

tindakan penyelamatan invasif (urgent). Tanda-tanda diatas sangat khas

untuk kejadian sumbatan arteri akut yang tanpa disertai kolateral.Bila oklusi

akut terjadi pada keadaan yang sebelumnya telah mengalami sumbatan

kronik, maka tanda yang dihasilkan biasanya lebih ringan oleh karena telah

terbentuk kolateral. Adanya gejala klaudikasio intermiten pada ekstremitas

yang sama dapat menunjukkan pasien telah mengalami oklusi kronik

sebelumnya. Keadaan akut yang menyertai proses kronik umumnya

disebabkan trombosis.
6. Klasifikasi

Berdasarkan Rutherfort klasifikasi Akut Limb Iskemik (ALI) di kategorikan

sebagai berikut:

a. Kelas I :

Perfusi jaringan masih cukup,walaupun terdapat penyempitan arteri,

tidak ada kehilangan sensasi motorik dan sensorik, masih bisa dengan

obat-obatan.pada pemeriksaan Doppler signal audible.

b. Kelas IIa :

Perfusi jaringan tidak memadai pada aktifitas tertentu. Timbul

klaudikasi intermiten yaitu nyeri pada otot ekstremitas bawah ketika

berjalan dan memaksakan berhenti berjalan,nyeri hilang jika klien

istirahat dan sudah mulai ada kehilangan sensorik.

c. Kelas IIb:

Perfusi jaringan tidak memadai,ada kelemahan otot ekstremitas dan

kehilangan sensasi pada ekstremitas. Harus dilakukan intervensi

selanjutnya seperti revaskularisasi ataupun embolektomi.

d. Kelas III:

Telah terjadi iskemia berat yang mengakibatkan nekrosis, kerusakan

syaraf yang permanen, irrevesibel, kelemahan ekstremitas, kehilangan

sensasi sensorik, kelainan kulit atau gangguan penyembuhan lesi

kulit.Intervensi tindakan yang dilakukan yaitu amputasi.

7. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa

ALI adalah:

a. Doppler ultrasonography

Penting dilakukan untuk mengetahui lokasi kelainan.

b. Angiografi

Untuk mengetahui letak obstruksi, gambaran cabang arteri dan bagian

distal yang dialiri dan untuk mendiagnosa adanya emboli sehingga dapat

melakukan tindakan intervensi selanjutnya.

c. MSCT

Untuk melihat lokasi dan penyebab kelainan, adanya diseksi terutama

pada diseksi aorta.

d. Elektrokardiografi (EKG)

Mengidentifikasi gangguan irama jantung penyebab Akut Limb Iskemik

(ALI) misal AF.

e. Echokardiografi

Untuk mengetahui adanya sumber emboli misalanya adanya tombus

myxom

8. Penatalaksanaan Medis

Akut Limb Iskemik (ALI) merupakan keadaan yang darurat yang memerlukan

tatalaksana (revaskularisasi) segera, meminimalisir waktu revaskularisasi


penundaan dalam melepaskan oklusi merupakan hal yang terpenting karena

dapat mengurangi resiko kehilangan anggota gerak meningkat dengan durasi

dari iskemik akut. Pada suatu penelitian, angka amputasi ditemukan

meningkat terhadap interval antara onset dari ALI dan eksplorasi yaitu 6%

dalam 12 jam, 12% dalam 13-24 jam, dan 20% setelah 24 jam.

a. Therapy Awal

 Preoperative anticoagulation dengan IV heparin untuk menghindari

penambahan bekuan darah. Pre intervensi antikoagulan dengan kadar

teraupetik heparin juga mengurangi morbiditas dan mortalitas.

 Analgesik yang tepat

 Pemantauan sederhana untuk meningkatkan perfusi yang masih ada

yaitu hindari penekanan berlebihan pada area yang sakit dan hindari

suhu yang ekstrim

b. Catheter directed thromboliysis

 Akut Limb Iskemik (ALI) class I , IIa

 Recent acute thrombosis

 Kontraindikasi tombolitik

c. Terapi trombolitik

Therapi tromolitik dapat dilakukan pada oklusi akut tanpa ditemukan

tanda iskemi anggota gerak.Diberikan secara PIAT (Peripheral Intra


Arterial Trombolitik) bila tidak ada kontraindikasi. Obat trombolitik yang

sering dipakai :

 Urokinase : drip 4000 IU/menit selama 2 jam dilanjutkan 2000

IU/menit selama 2 jam dilanjutkan 1000 IU selama 24 – 27 jam

 r TPA : Drip 0.5 – 2.0 mg /jam selama 12 – 24 jam.

 Streptokinase : Drip 5000 IU /jam selama 48 jam.

Monitoring trombolitik :

 Bila fibrinogen < 150 mg / dl kadar fibrinogen dinilai ulang dalam 24

jam nilai normal fibrinogen 180-350 mg/dl

 Bila fibrinogen < 100 mg / dl trombolitik harus dihentikan

 Trombolitik juga dihentikan bila :

1. Rekanalisasi berhasil pada dosis yang diharapkan

2. Rekanalisasi tidak berhasil pada dosis yang diharapkan

3. Perdarahan

Kontraindikasi penggunaan trombolitik :

 Absolute

1. Gangguan perdarahan aktif

2. Perdarahan gastrointestinal dalam 10 hari terakhir

3. Gangguan serebrovaskular dalam 6 bulan terakhir

4. Pembedahan intracranial atau pembedahan spinal dalam 3 bulan

terakhir

5. Cedera kepala dalam 3 bulan terakhir


 Relatif

1. Pembedahan besar atau trauma dalam 10 hari terakhir

2. Hipertensi ( sistolik > 180 mmHg atau diastolic > 110 mmHg )

3. Resusitasi kardiopulmoner dalam 10 hari terakhir

d. Pembedahan

Terapi pembedahan untuk iskemik yang mengancam ekstremitas.

Segera lakukan pembedahan revaskularisasi untuk indikasi Akut Limb

Iskemik (ALI) kelas IIb dengan dua cara yaitu fogarty catheter dan bedah

revaskularisasi.

9. Komplikasi

a. Hiperkalemia

Potasium mungkin dilepaskan ketika integritas terganggu oleh iskemia

yang menyebabkan pelepasan kalium dari sel.

Sindrom kompartemen adalah nyeri saat flexi/extensi, kelemahan otot,

tidak mampu respon terhadap stimulasi sentuhan, pucat, nadi lemah/tidak

teraba.Pembengkakan jaringan dalam kaitannya dengan reperfusi

menyebabkan peningkatan pada tekanan intracompartment tekanan,

penurunan aliran kapiler, iskemia, dan kematian jaringan otot (pada >30

mmHg).Penanganannya adalah dengan dilakukannya fasciotomy. Terapi

trombolitik, akan menurunkan risiko compartment syndrome dengan

reperfusi anggota gerak secara berangsur-angsur.

b. Asidosis metabolic
c. Edema ekstremitas
d. Disritmia

B. KONSEP KEPERAWATAN

1. Pengkajian

Menanyakan gejala yang muncul pada kaki yang berhubungan dengan

keparahan dari iskemi anggota gerak

a. Riwayat penyakit sekarang

Gejala pada ALI berhubungan secara primer terhadap nyeri atau fungsi,

onset serangan dan waktu nyeri yang tiba – tiba , dan bagaimana

intensitasnya. Durasi dan inensitas nyeri adalah penting dalam membuat

keputusan medis. Onset tiba – tiba dapat memiliki implikasi etiologi,

sedangkan kondisi dan lokasi nyeri dapat membantu menegakkan

diagnosis banding.

b. Riwayat penyakit dahulu

Hal ini penting untuk ditanyakan apakah klien pernah mengalami nyeri

pada kaki sebelumnya (seperti klaudikasio), apakah telah diintervensi

untuk sirkulasi yang buruk pada masa lampau, apakah pernah

didiagnostik memilki penyakit jantung.Klien juga sebaiknya ditanyakan

tentang faktor resiko aterosklerotik seperti hipertensi, diabetes, merokok,

hiperlipidemia, riwayat keluarga yang memiliki penyakit jantung, dan

stroke.
2. Pemeriksaan Fisik

a. Pulsasi

Apakah defisit pulsasi bersifat akut atau kronis

b. Warna dan temperature

Warna pucat dapat terlihat khususnya pada keadaan awal, namun pada

fase lanjut sianosis lebih sering ditemukan dan rasa dingin yang tidak

ditemukan pada ekstremitas lainnya.

c. Kehilangan fungsi sensoris

Klien yang mengalami kehilangan sensasi sensorik biasanya mengeluh

kebas atau parastesia.

d. Kehilangan fungsi motorik.

Secara umum Defesit motorik merupakan indikasi untuk tindakan yang

lebih lanjut.Untuk mendeteksi kelemahan otot awal, fungsi intrinsik dari

otot kaki harus dikaji dan harus membandingkan dengan extremitas

lainnya.Kekuatan otot di nilai dari angka 0-5:

0 : Otot sama sekali tidak mampu bergerak,tampak berkontraksi,bila

lengan/tungkai dilepaskan akan jatuh 100 % pasif.

1 : Tampak kontraksi atau ada sedikit gerakan dan ada tahanan sewaktu

jatuh.

2 : Mampu menahan tegak yang berarti mampu menahan gaya grafitasi

(saja) tapi dengan sentuhan akan jatuh


3 : Mampu menahan tegak walaupun sedikit di dorong tetapi tidak

mampu melawan tekanan/dorongan dari pemeriksa.

4 : Kekuatan kurang dibandingkan sisi lain.

5 : Kekuatan utuh

Secara khusus pada Akut Limb Iskemik (ALI)

0 : tidak dapat menggerakkna jari, dropfoot positif

 : dropfoot negatif dengan gangguan pergerakan jari sebagian

 : normal (bebas menggerakkan jari)

3. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan yang dapat ditemukan pada kasus Akut Limb Iskemik

(ALI) diantaranya :

a. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan diabetes

mellitus, gaya hidup kurang gerak, hipertensi, kurang pengetahuan

tentang faktor pemberat (mis., merokok,gaya hidup monoton, trauma

obesitas, asupan garam imobilitas)

b. Nyeri akut berhubungan dengan agens ciderabiologis (mis., infeksi,

iskeia, neoplasma), agens cedera fisik (mis., abses, amputasi, luka bakar,

terpotong, mengangkat berat, prosedur bedah, trauma, olahraga

berlebihan), agens cidera kimiawi (mis., luka bakar, kapsaisin, metilen

klorida, agens mustard)


c. Intoleran aktivitas berubungan dengan gaya hidup kurang gerak,

imobilitas, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, tirah

baring.

d. Hambatan mobilitasi fisik berhubungan dengan agens farmaseutikal,

ansietas, depresi, disuse, fisik tidak bugar, gangguan fungsi kognitif,

gangguan metabolism, gangguan musculoskeletal, gangguan

neuromuscular, gangguan sensori perseptual, gaya hidup kurang gerak,

indeks massa tubuh di atas persentil ke-75 sesuai usia, intoleran aktivitas,

kaku sendi keengganan memulai pergerakan.

e. Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian, ancaman pada status

terkini, hereditas, hubungan interpersonal, kebutuhan yang tidak

dipenuhi, konflik nilai, konflik tentang tujuan hidup, krisi maturasi, krisis

situasi, pajanan pada toksin, penularan interpersonal, penyalahgunaan zat,

perubahan besar (mis., status ekonomi, lingkungan, status kesehtan,

fungsi peran, status peran).

4. Perencanaan

Perencanaan asuhan keperawatan pada Akut Limb Iskemik (ALI) yang

disusun berdarakan diagnosa keperawatan yang muncul diantaranya:

a. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan diabetes

mellitus, gaya hidup kurang gerak, hipertensi, kurang pengetahuan

tentang faktor pemberat (mis., merokok,gaya hidup monoton, trauma

obesitas, asupan garam imobilitas)


Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan gangguan

perfusi jaringan dapat teratasi.

Kriteria hasil:

 Keluhan baal dapat terkontrol.

 Akral hangat.

 Fase pengisian kapiler < 2 detik.

 Vasokonstriksi perifer berkurang.

 Tekanan darah dalam batas normal 110/70-130/90 mmHg.

 Frekuensi nadi 60-100 x/menit, nadi teraba kuat pada lokasi kelainan.

 Saturasi oksigen perifer > 95%.

Intervensi:

 Kaji tingkat keadekuatan perfusi jaringan.

 Kaji capilari refil time, perhatikan waktu pengisian kapiler, lihat

ada/tidaknya sianosis perifer, tanda vasokonstriksi jaringan, ukur

pertambahan bengkak, tanda kematian jaringan perifer.

 Observasi tanda-tanda vital: TD, N, P, S, Saturasi O2.

 Perhatikan tingkat efektifitas terapi yang telah didapatkan klien.

 Minimalkan penekanan pada area ekstremitas (kurangi penekanan

akibat pakaian, selimut).

e. Nyeri akut berhubungan dengan agens ciderabiologis (mis.,

infeksi, iskeia, neoplasma), agens cedera fisik (mis., abses,

amputasi, luka bakar, terpotong, mengangkat berat, prosedur


bedah, trauma, olahraga berlebihan), agens cidera kimiawi (mis.,

luka bakar, kapsaisin, metilen klorida, agens mustard)

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan gangguan

rasa nyaman nyeri dapat teratasi.

Kriteria hasil:

 Klien mengatakan nyeri berkurang/terkontrol.

 Ekspresi nyeri berkurang ataupun hilang.

 Skala nyeri 2-3

 Sianosis berkurang.

 RR 16-20 x/menit

 Frekuensi nadi 60-100 x/menit, nadi teraba kuat pada lokasi kelainan.

Intervensi:

 Kaji skala, frekuensi, intensitas dan penyebab nyeri pada ekstremitas.

 Kaji juga pola aktivitas yang masih dapat ditoleransi oleh klien, serta

mekanisme mengatasi nyeri yang dapat dilakukan klien secara

mandiri.

 Ajarkan/ingatkan klien teknik relaksasi nafas dalam dan pengalihan

fokus.

 Berikan posisi yang nyaman pada klien.

 Minimalkan penekanan pada area ekstremitas (kurangi penekanan

akibat pakaian, selimut).


 Monitor tanda-tanda vital, terutama nilai saturasi O2 dan frekuensi

nafas.

 Kolaborasi pemberian terapi analgesik, sesuai indikasi

 Minimalkan aktivitas khususnya pada daerah kelainan.

a. Gangguan pemenuhan kebutuhan dasar berhubungan dengan kelemahan

anggota gerak ekstremitas bawah.

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan

dasar terpenuhi.

Kriteria hasil:

 Klien menunjukkan kemandirian dalam kebutuhan makan, minum

dan kebersihan diri.

 Klien tidak bergantung seluruhnya kepada perawat dalam melakukan

aktifitas.

 Klien menunjukkan kemandirian mobilitas.

 Klien mampu melakukan mobilitas fisik dengan bantuan minimal.

 Klien mampu melakukan mobilitas fisik di tempat tidur

Intervensi :

 Kaji tingkat aktivitas yang dapat di toleransi oleh klien.

 Motivasi klien untuk mobilisasi bertahap

 Monitor alat-alat yang dibutuhkan klien untukperawatan diri, makan,

berpakaian, toileting.

 Bantu klien sesuai kebutuhan


 Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan klien

 Kolaborasi dengan fisioterapy dalam latihan aktivitas.

b. Gangguan mobilitasi fisik berhubungan dengannyeri ekstremitas bawah

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan gangguan

mobilitas fisik dapat teratasi.

Kriteria hasil:

 Klien mampu melakukan aktivitas yang diinginkan secara bertahap.

 Klien dapat memenuhi perawatan diri sendiri.

 Klien mencapai peningkatan toleransi aktifitas yang dapat diukur,

dibuktikan oleh menurunnya kelemahan dan kelelahan.

Intervensi:

 Motivasi klienuntuk melakukan mobilisasi.

 Jelaskan akibat dari imobilisasi.

 Jelaskan manfaat latihan gerak aktif.

 Ajarkan untuk melakukan rentang gerak aktif pada anggota gerak

yang sehat.

 Evaluasi tingkat kemampuan klien dalam menggerakkan anggota

badannya yang sehat.

 Rubah posisi klien tiap 2 jam, dan libatkan kemampuan klien.

 Kolaborasi dengan fisioterapi dalam melakukan latihan gerak aktif/

pasif.
c. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit,

kondisi dan program pengobatan.

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan cemas dapat

teratasi

Kriteria hasil:

 Ekspresi wajah rileks.

 Klien mengatakan cemas berkurang.

 Klien mengerti dan mengerti dan koperatif dalam pemberian therapi

Intervensi:

 Kaji tingkat kecemasan klien.

 Orientasikan dan informasikan tentang semua prosedur yang akan

dilakukan terhadap klien.

 Informasikan dan jelaskan tentang kondisi dan prognosis klien