Anda di halaman 1dari 48

1

MAKALAH IMUNOBIOLOGI

Cluster of Differentiation 40 (CD40)

Oleh :

1. Anas Fadli Wijaya NIM : 091724353004


2. Cut Indriputri NIM : 091724353010
3. Dwi Setiyo Prihandono NIM : 091714353017
4. Yoannita Wendy H. NIM : 091714352018

FAKULTAS PASCA SARJANA IMMUNOLOGI


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2018
2

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah
memberikan kekuatan dan kemampuan sehingga makalah ini bisa selesai tepat pada
waktunya. Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas Mata Kuliah Imunobiologi.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dan mendukung dalam penyusunan makalah ini, khususnya kepada Prof. Dr. Yoes
Prijatna Dachlan, dr, M.Sc, SpPar(K) selaku dosen pengampu mata kuliah
Imunobiologi.
Kami sadar makalah ini belum sempurna dan memerlukan berbagai perbaikan,
oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan
semua pihak.

Surabaya, 18 Maret 2018

Penulis
3

DAFTAR ISI

Halaman
Halaman Judul
Kata Pengantar.......................................................................... .......................i
Daftar Isi.......................................................................................................... ii
BAB I Pendahuluan
1. Latar Belakang........................................................................... ......... 1
2. Rumusan Masalah........................................................................... .... 2
3. Tujuan ................................................................................................. 2
4. Manfaat ............................................................................................... 3
BAB II Pembahasan
1. Gambaran Umum CD dan CD40 ........................................................ 4
2. Interaksi CD40 terhadap Imunitas Selular .......................................... 5
3. Interaksi CD40 terhadap Imunitas Humoral ...................................... 5
4. Sinyal Transduksi CD40
5. CD40 dan Kaitannya dengan Penyakit pada Manusia ........................ 5
BAB III Penutup
a. Kesimpulan ........................................................................................ 17
b. Saran ................................................................................................... 18
Daftar Pustaka
4

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem imun merupakan suatu sistem dalam tubuh yang sangat rumit, karena
diantaranya terdapat peran-peran ganda dalam upaya menjaga keseimbangan
internal tubuh. (Subowo, 2014) Sistem imun berfungsi dalam mempertahankan
kondisi tubuh terhadap benda asing dan patogen di lingkungan hidup sekitar seperti
bakteri, virus, fungus dan parasit. Sistem ini melibatkan banyak organ, molekul, sel,
dan berbagai jalur yang saling berhubungan. (Owen, 2013)
Sistem imun dapat dibagi menjadi sistem imun alami dan adaptif. (Roitt, 2017)
Sistem imun alami memberikan perlindungan segera terhadap infeksi, sedangkan
imunitas adaptif berkembang lebih lambat namun memberikan perlindungan yang
lebih spesifik terhadap infeksi. Pertahanan lini pertama pada imunitas alami
dilakukan oleh barier epitelial kulit dan mukosa serta sel dan antibiotik alami yang
berada di epitel, yang mana berfungsi untuk menghambat masuknya mikroba. Bila
mikroba menghancurkan epitel dan memasuki jaringan atau sirkulasi, mereka akan
diserang oleh fagosit, limfosit spesifik, dan beberapa protein plasma, termasuk
protein dari sistem komplemen. Keseluruhan mekanisme imunitas alami ini secara
spesifik mengenali dan bereaksi terhadap mikroba. Selain memberikan pertahanan
awal terhadap infeksi, respon imun alami juga meningkatkan respons imun adaptif.
(Abbas, 2016)
Sistem imun adaptif terdiri atas limfosit dan produk-produknya, misalnya
antibodi. Respon imun adaptif sangat penting terutama untuk pertahanan terhadap
mikroba infeksius yang bersifat patogenik yang mampu melewati pertahanan lini
pertama atau imunitas alami. Sementara mekanisme imunitas alami mengenali
struktur-struktur yang sama-sama dimiliki oleh berbagai kelas mikroba. Sel-sel
imunitas adaptif (limfosit) mengekspresikan reseptor yang secara spesifik
mengenali berbagai molekul yang diproduksi oleh mikroba serta molekul-molekul
non-infeksius. (Abbas, 2016)
5

Dalam respons imun adaptif, juga memerlukan berbagai macam sinyal


molekuler. Sinyal yang utama adalah pengikatan antigen kognitif ke reseptor
antigen yang diekspresikan oleh limfosit T dan B. Beberapa sinyal sekunder
melibatkan pengikatan molekul kostimulator yang diekspresikan oleh limfosit T
dan B dengan masing-masing ligandnya. Karena perannya yang penting dalam
imunitas, salah satu yang terbaik dari beberapa molekul kostimulator adalah
reseptor CD40. Reseptor ini merupakan anggota dari keluarga reseptor Tumor
Necrosis Factor (TNF) yang diekpresikan oleh sel B, makrofag, sel dendritik, dan
sel epitel basal. (Janeway, 2017) CD40 mengikat ligand CD40L, yang
diekspresikan oleh sel T dan sel non-imun lainnya selama proses inflamasi. CD40
berfungsi menyediakan sinyal kostimulator penting untuk aktivasi, proliferasi,
diferensiasi sel B, sinyal anti-apoptosis untuk sel B di pusat germinal, merangsang
produksi sitokin oleh makrofag dan sel dendritik dan meregulasi molekul adhesi
pada sel dendritik. CD40 juga memainkan peran penting dalam regulasi dari sistem
imun selular dan humoral. (Owen, 2013)
Mengingat pentingnya peran reseptor CD40 dalam sistem imunitas, maka
dalam makalah ini, penulis mencoba untuk menjabarkan mengenai CD dan CD40
secara umum, interaksi CD40 pada sistem imun seluler dan humoral serta jalur
transduksi sinyal CD40.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan CD dan CD40?
2. Bagaimanakah interaksi CD40 pada sistem imun seluler?
3. Bagaimanakah interaksi CD40 pada sistem imun humoral?
4. Bagaimanakah jalur transduksi sinyal CD40?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari Cluster of Differentiation (CD) dan CD40.
2. Untuk mengetahui interaksi CD40 pada sistem imun seluler
3. Untuk mengetahui interaksi CD40 pada sistem imun humoral
4. Untuk mengetahui jalur transduksi sinyal CD40.
6

D. Manfaat
Manfaat dari makalah ini adalah dapat menjadi wawasan bagi pembacanya
mengenai peran reseptor CD40 dalam sistem imunitas, baik dari segi interaksi
CD40 pada sistem imun seluler dan humoral maupun jalur transduksi sinyal CD40.
7

BAB II
PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum CD dan CD40


8

B. Interaksi CD40 dalam Imunitas Seluler

Interaksi CD40-CD40L memberikan efek mendalam pada DC, sel B, dan sel
endotel. Telah dibuktikan bahwa keterlibatan CD40 pada permukaan DC dapat
meningkatkan produksi sitokin, induksi molekul-molekul ko-stimulator, dan
memfasilitasi presentasi silang antigen (Quezada SA, et al,2004 ). Secara
keseluruhan, sinyal CD40 dapat mengaktivasi dan mematangkan DC untuk secara
efektif memicu aktivasi dan diferensiasi sel-T. Pensinyalan CD40 sel B mendorong
pembentukan sel germinal centre (GC), peralihan isotipe imunoglobulin (Ig),
hipermutasi somatik (SHM) Ig untuk meningkatkan afinitas terhadap antigen, dan
pembentukan sel B memori dan sel plasma yang berumur panjang (Danese, 2004).
Selain itu, telah dibuktikan bahwa jalur transduksi sinyal CD40 sangat penting
untuk kelangsungan hidup banyak jenis sel termasuk sel B GC, DC, dan sel endotel
dalam kondisi normal maupun peradangan (Bishop, 2007).

1. Interaksi CD40:CD40L dalam meningkatkan efektivitas APC


Ekspansi sel T spesifik antigen tergantung pada interaksinya dengan APC.
Variasi sel yang menunjukkan kemampuannya sebagai APC yaitu sel B,
makrofag dan DC. Interaksi antara sel T dan sel B dapat menginduksi aktivasi
dan proliferasi sel T. Sinyal pertama dimulai ketika TCR berikatan dengan
kompleks peptida-MHC pada permukaan APC. Sinyal kedua membutuhkan
ikatan TCR dengan ko-stimulator pada permukaan APC.
Molekul-molekul ko-stimulator ini memberikan rangsangan pada sel T
bersama dengan rangsangan oleh antigen. Ko-stimulator sel T yang paling
umum adalah dua protein terkait yang disebut B7-1 (CD80) dan B7-2 (CD86),
yang keduanya diekspresikan pada APC. Protein B7 tersebut dikenali oleh suatu
reseptor yang disebut CD28, yang ditampilkan pada sebagian besar sel T.
Diperlukannya kostimulasi memastikan bahwa limfosit T naif diaktifkan
sepenuhnya oleh antigen mikroba dan bukan oleh bahan asing yang tidak
berbahaya atau oleh self antigen. (Abbas, 2016)
9

Rangkaian molekul lain yang berperan dalam respon sel T adalah ligan
CD40 (CD40L atau CD154) pada sel T yang teraktivasi dan CD40 pada APC.
Molekul-molekul tersebut tidak langsung meningkatkan aktivasi sel T.
Sebaliknya, CD40L yang diekspresikan pada sel T berikatan pada CD40 APC
dan mengaktifkan APC untuk mengekspresikan lebih banyak kostimulator B7
dan mensekresikan sitokin (misalnya IL-12) yang meningkatkan diferensiasi sel
T. Dengan demikian, interaksi CD40-CD40L meningkatkan aktivasi sel T
dengan membuat APC lebih baik dalam merangsang sel T. Interaksi CD40L
pada sel T dengan CD40 pada sel-sel APC meningkatkan ekspresi ko-stimulator
pada APC tersebut dan produksi sitokin yang menstimulasi sel T, sehingga
memberikan mekanisme umpan balik positif (amplifikasi) untuk aktivasi sel T
yang diinduksi APC. (Janeway, 2017)

Gambar 2.1 Aktivasi sel-T melalui tiga sinyal. Yang pertama melibatkan T-cell receptor
(TCR) yang dipicu oleh antigen pada APC (antigen presenting cells). Sinyal kedua atau
“costimulation signal” dikirimkan ketika B7-1 / CD80 dan B7-2 / CD86 pada permukaan
APC berikatan dengan CD28 pada sel-T. Dua sinyal ini mengaktifkan tiga jalur transduksi
(jalur Nuclear Factor-κB atau Nf-κB, jalur mitogen-activated protein (MAP) kinase dan
jalur kalsium-kalsineurin) yang menghasilkan produksi berbagai faktor, termasuk
interleukin-2 ( IL-2), rantai α dari reseptornya, CD25, dan Ligan CD40. CD40
diekspresikan pada semua APC (termasuk sel B) dan ligannya (CD40L atau CD154) pada
CD4 + sel T yang aktif dan pada subset sel T CD8 + dan sel NK. Stimulasi CD40 pada
APC oleh CD40L memicu sinyal penting untuk produksi antibodi oleh sel B dan sangat
kuat menginduksi ekspresi B7 dan Major Histocompatibility Complex (MHC) pada APC.
IL-2 yang mengikat reseptornya mengaktifkan jalur mTOR (jalur "target rapamycin") -
sinyal ketiga - menghasilkan proliferasi klonal sel T. (Snanoudj, 2007)
10

Ligasi CD40 pada DC dan sel T juga menstimulasi sel T untuk


memproduksi IFN-γ yang berfungsi mengaktifkan DC atau APC lainnya dalam
membunuh mikroba. Selain itu, ligasi CD40 juga menstimulasi DC untuk
memproduksi beberapa sitokin; IL-8, macrophage inflammatory protein (MIP)-
1 , TNF- , dan IL-12. Produksi kemokin seperti IL-8 dan MIP-1 oleh DC
penting untuk perekrutan sel-sel imun. Sedangkan produksi TNF- , oleh DC
penting untuk aktivasi sel B atau DC itu sendiri serta IL-12 yang diproduksi oleh
DC dan makrofag penting untuk meregulasi sel Th menjadi sel Th1 yang mana
sel Th1 sendiri dibutuhkan lagi untuk aktivasi makrofag.
Ligasi CD40 pada makrofag dan sel T dapat meningkatkan efek makrofag
seperti; peningkatan aktivitas tumorisidal, aktivitas mikrobisidal, sintesis
sitokin, produksi kolagen, dan produksi nitrit oksida (NO). Ligasi CD40 pada
monosit menginduksi produksi beberapa sitokin oleh monosit, seperti; IL-1 ,
IL-1β, TNF- , IL-6, IL-8, IFN-γ, dan NO. Monosit/makrofag yang teraktivasi
juga dipertahankan dari apoptosis.
Defisiensi CD40L pada tikus mengakibatkan rendahnya produksi IFN-γ,
TNF, dan NO oleh makrofag. NO dibutuhkan untuk membunuh mikroba
intraselular. (Grewal IS dan Flavell RA, 1997)
2. Interaksi CD40-CD40L antara Makrofag dengan Sel Th1
Sel Th CD4+ mengaktifkan fagosit dan limfosit B melalui protein membran
plasma dan sitokin yang disekresi. Protein permukaan sel yang paling penting
yang terlibat dalam fungsi efektor sel T CD4+ adalah ligan CD40. Gen CD40L
ditranskripsikan dalam sel T CD4+ dalam menanggapi pengenalan antigen dan
kostimulasi, sehingga CD40L diekspresikan pada sel T helper yang teraktivasi.
CD40L terikat pada reseptornya yaitu CD40 yang diekspresikan terutama pada
makrofag, limfosit B, dan sel dendritik. Pengikatan CD40 merangsang sel-sel ini
dan dengan demikian CD40L merupakan faktor penting dalam aktivasi
makrofag dan limfosit B oleh sel T helper. (Abbas, 2016)
Sel T helper CD4+ dapat berdiferensiasi menjadi beberapa subset sel efektor
utama. Setiap subset sel T CD4+ berkembang sebagai respons terhadap tipe
11

mikroba. Mikroba yang berbeda memproduksi sitokin yang berbeda dari sel
dendritik dan sel lainnya, dan sitokin ini memicu diferensiasi sel T yang
teraktivasi oleh antigen menjadi satu subset atau subset yang lain.
Subset sel Th1 diinduksi oleh mikroba yang difagosit oleh makrofag. Sel
Th1 bekerja melalui ligan CD40 dan IFN-γ, meningkatkan kemampuan
makrofag untuk membunuh mikroba yang difagositosis. Makrofag menelan dan
berupaya menghancurkan mikroba sebagai bagian dari respons imun alami.
Efisiensi proses tersebut sangat ditingkatkan oleh interaksi sel Th1 dengan
makrofag. Ketika mikroba ditelan ke dalam fagosom makrofag, peptida mikroba
dipresentasikan pada molekul MHC kelas II dan dikenali oleh sel T CD4+. Bila
sel T ini termasuk dalam subset sel Th1, mereka akan mengekspresikan ligan
CD40 (CD40 L/CD154) dan mengekspresikan IFN- γ. Ikatan CD40L dengan
CD40 pada makrofag berfungsi bersama dengan ikatan IFN- γ pada reseptornya
pada makrofag yang sama memicu jalur sinyal biokimia yang menyebabkan
aktivasi beberapa faktor transkripsi. Faktor transkripsi ini menginduksi ekspresi
gen yang menyandi protease dan enzim lisosomal yang menstimulasi sintesis
reactive oxygen species (ROS) dan nitrit oksida (NO), yang semuanya
merupakan penghancur mikroba yang kuat. Hasil akhir aktivasi yang
diperantarai CD40 dan IFN- γ adalah makrofag menjadi mikrobisidal yang kuat
dan dapat menghancurkan sebagian besar mikroba yang ditelan. Jalur aktivasi
makrofag ini oleh CD40L dan IFN- γ disebut sebagai aktivasi makrofag klasik,
yang berbeda dengan aktivasi makrofag alternatif yang diperantarai Th2.
(Janeway, 2017)

Gambar 2.1. Aktivasi makrofag oleh limfosit Th1 (Abbas, 2016)


12

3. Efek intraksi CD40-CD40L pada sel karsinoma (induksi apoptosis melalui


aktivasi ligan sitotoksik)
CD40, anggota dari TNFR superfamili, diekspresikan pada kebanyakan
jenis sel yang berbeda, termasuk sel B, makrofag, sel dendritik, sel endotel, dan
fibroblast, cenderung memiliki peran sentral dalam regulasi imun humoral dan
pertahanan host. Studi laboratorium telah menunjukkan bahwa CD40 juga
diekspresikan dalam sel epitel normal basal pada epitel skuamosa berlapis dan
dalam sejumlah karsinoma, termasuk ovarium, nasofaring, kandung kemih, dan
payudara. Ligan untuk CD40 (CD40L) (gp39 atau CD154) adalah protein
transmembran tipe-II dan mempunyai massa 39 kDa dengan homologi TNF
yang dapat diinduksi pada sel T setelah aktivasi melalui reseptor sel T. Ekspresi
CD40L juga telah dilaporkan pada sel B, monosit, dan sel NK, dan bentuk
terlarut dari molekul ini (sCD40L) telah dideteksi dalam serum pasien dengan
keganasan hematologi.
Penelitian secara in vitro menunjukkan bahwa ligasi CD40 memberikan
sinyal anti-apoptosis dan proliferasi untuk sel B normal dan menghambat
pertumbuhan limfoblastoid dan sel limfoma Burkitt. Ligasi CD40 juga
menginduksi apoptosis pada sel karsinoma yang diperantarai oleh TNF­α, FasL,
dan obat-obatan sitotoksik. Dalam penelitian tersebut, telah diselidiki
mekanisme di mana CD40 mentransduksi sinyal kematian pada sel karsinoma.
Telah diiidentifikasi bahwa domain membran proksimal CD40 berperan penting
dalam induksi apoptosis yang melibatkan aktivasi ligan sitotoksik keluarga TNF.
(Eliopoulos AG et al, 2000)

4. Efek interaksi CD40-CD40L pada sel tumor


CD40 banyak diekspresikan di berbagai sel tumot atau kanker. CD40
banyak ditemukan pada kanker : melanoma, prostat, paru, nasofaring, kandung
kemih, serviks, ovarium, limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin dan keganasan
hematologik (leukemia limfositik kronik/CLL, leukemia limfositik akut/ALL,
limfoma dan myeloma multipel).
13

Seperti pada sel B normal, ligasi CD40 pada keganasan sel-B tertentu
menyebabkan peningkatan ekspresi faktor-faktor anti-apoptosis seperti Bcl-XL,
TNF α induce protein 3 (A20), Bcl 2 related protein A1a (Bfl-1), survivin, dan
cFLIP. Faktor-faktor ini melindungi sel dari apoptosis yang diinduksi oleh agen
apoptosis, seperti, ligan Fas (FasL), TNF related apoptosis-induced ligand
(TRAIL) atau DNA-damaging agents. Gen Bcl-Xl dan Bcl2 mengontrol
pelepasan protein pro-apoptosis (chytochrome c, AIF dan smac/DIABLO) pada
mitokondria dengan cara berintegrasi dengan gen pro-apoptosis (Bak dan Bax).
Sedangkan cFLIP bekerja dengan cara mencegah aktvasi kaspase inisiator
(kaspase 8).
Telah diketahi bahwa ikatan CD40 yang rendah dapat memfasilitasi
pertumbuhan sel ganas. Studi dengan limfoma non-Hodgkin, limfoma Burkitt,
dan leukemia limfositik kronis (CLL) menunjukkan bahwa sel-sel tersebut
mengekspresikan CD40L sel T yang rendah, dan melalui jalur autokrin, sel-sel
tersebut dapat mempertahankan proliferasi. Selain itu, rendahnya tingkat
ekspresi CD40L juga melindungi sel-sel tersebut dari apoptosis.
Studi membuktikan bahwa satu jenis sel kanker dapat mengekspresikan
CD40 dan CD40L sekaligus (autokrin) yang dapat meningkatkan proliferasi dan
invasi sel kanker. Hal ini dibuktikan dengan biopsi tumor payudara yang
mengekspresikan CD40, juga mengekspresikan CD40L, dan ekspresi bersama
ini memberi efek onkogenik secara in vitro. Selanjutnya, ekspresi bersama CD40
dan ligannya, dalam sel epitel manusia menginduksi peningkatan proliferasi,
motilitas, dan invasi. Oleh karena ekspresi pasangan reseptor/ligan, tumor dapat
memanipulasi kedua kompartemen sel T dan APC yang berkontribusi terhadap
pembentukan lingkungan mikro imunosupresif tumor.
Sebaliknya, aktivasi sementara CD40 oleh CD40L sel T pada karsinoma dan
beberapa keganasan sel B menghasilkan efek anti-proliferasi dan apoptosis
secara langsung. Oleh stimulasi CD40, sel-sel karsinoma dapat diinduksi untuk
mengalami apoptosis oleh peningkatan ekspresi Bcl2-associated X protein dan
peningkatan regulasi ligan sitotoksik dari TNF family, seperti FasL, TNF, dan
TRAIL. CD40L menghambat pertumbuhan karsinoma kandung kemih dan
14

ovarium secara in vitro dan meningkatkan efek apoptosis, yang disebabkan oleh
obat anti­neoplastik, TNF­α, Fas, dan ceramide. Pengamatan ini dikonfirmasi
secara in vivo, di mana CD40L sendiri atau dalam kombinasi dengan kemoterapi
secara signifikan dapat menghambat pertumbuhan tumor payudara atau
ovarium. Oleh karena itu, aktivasi CD40 dapat memiliki efek anti-tumor secara
langsung pada beberapa tumor, bahkan tanpa adanya tambahan respon imun dan
sel. Efek sitotoksik langsung CD40L pada tumor yang mengekspresikan CD40
telah dipelajari dengan menggunakan tikus, di mana diamati bahwa
penghambatan karsinoma payudara dan pertumbuhan sel B limfoma dapat
diamati tanpa adanya pengaruh sistem imun.
Singkatnya, aktivasi CD40 dapat menginduksi berbagai jalur transduksi
sinyal termasuk protein pro-apoptosis dan anti-apoptosis. Jelas bahwa fungsi
stimulasi CD40 langsung pada keganasan tergantung pada keadaan diferensiasi
sel dan jenis keganasan. (Elgueta et al, 2009)

Gambar 2.2 Peran gen Bcl-2 dan Bcl-XL dalam menginduksi apoptosis dan
pertahanan sel.
15

5. Efek interaksi CD40-CD40L dalam menginduksi Apoptosis


Proses apoptosis yang dimediasi CD40 dapat terjadi dalam imunitas
humoral dan selular. Aktivasi melalui reseptor antigen yang berkombinasi
dengan glikoprotein permukaan dikenali oleh antibodi CD40 yang mencegah
sentrosit mengalami apoptosis. Studi terakhir menyimpulkan bahwa proteksi
terhadap apoptosis dependen Fas didukung oleh ikatan reseptor Ig. Beberapa
studi menyebutkan ligasi CD40 mencegah apoptosis pada sel B. Proses ini
berkorelasi dengan peningkatan gen Bcl-XL dan Bcl-2 dan penurunan ekspresi
c-myc. Ligasi CD40 pada sel B normal, menginduksi proliferasi dan mencegah
apoptosis sel B. Sebaliknya, ligasi CD40 pada sel B limfoma, mencegah
proliferasi dan menginduksi apoptosis. Selain sel B, ligasi CD40 juga berperan
pada ; ekspansi klon CD4+, mencegah apoptosis pada monosit, dan menetralkan
Fas pada dendritik sel.
CD40 menginduksi kematian pada sel non-limfositik yang mengalami
perubahan (mesenkimal dan jaringan epitel) dengan menginduksi apoptosis pada
sel karsinoma atau limfoma. (Schonbeck U and Libby P, 2001)

C. Interaksi CD40 dalam Imunitas Humoral

Interaksi CD40 ; CD40L (CD154) mempunyai peran penting terhadap


pembentukan respon imun humoral-thymus dependent (TD). Interaksi tersebut
dibutuhkan untuk pembentukan imunoglobulin spesifik yang mempunyai afinitas
tinggi. (Kawabe T et al, 2011) Selain itu, interaksi CD40/CD154 lebih lanjut
dibutuhkan untuk mengekspresikan faktor-faktor ko-stimulasi, yang dibutuhkan
untuk pensinyalan antigen-spesifik melalui TCR dan pensinyalan melalui sistem
CD80/CD86 (B7), yang berinteraksi dengan CD28 pada sel T. Faktor ko-stimulasi
seperti CD80/CD86 pada limfosit B atau APC lainnya, pada gilirannya dapat
memperkuat aktivasi limfosit T. (Schonbeck U dan Libby P, 2001)
Kekurangan CD40;CD40L dapat mengakibatkan sindrom x-linked hyper-
immunoglobulin M (X-HIGM). Aktivasi CD40 pada sel B oleh CD40L sangatlah
penting untuk; aktivasi sel B, proliferasi dan diferensiasi; pembentukan germinal
16

centre (GC); pengalihan isotipe antibodi; pematangan afinitas; dan pembentukan


sel B memori dan plasma yang berumur panjang. (Kawabe T et al, 2011)

Gambar 2.3. Aktivasi dan diferensiasi sel B oleh sel T melalui pengikatan CD40
dan CD40L. Keterlibatan CD40 pada sel B mengakibatkan sel B mengalami
ekspansi klonal dan perubahan genetik pada imunoglobulin : rekombinasi kelas dan
pematangan afinitas melalui hipermutasi somatik dan seleksi. Proses ini
mendukung produksi antibodi (sel plasma) dan perkembangan high affinity sel B
memori dalam merespon paparan antigen asing. (Kawabe T et al, 2011)
1. Aktivasi sel B
Imunoglobulin pada permukaan sel B yang kemudian disebut sebagai B-cell
receptor (BCR) mempunyai dua peran dalam aktivasi sel B untuk merespon
patogen. Seperti reseptor antigen pada sel T, BCR juga dapat menginduksi signal
kaskade ketika berikatan dengan antigen. Peptida antigen yang dipresentasikam
oleh sel B melalui molekul MHC kelas II dapat dikenali oleh sel T helper spesifik
antigen yang telah berdiferensiasi terhadap patogen yang sama (dalam hal ini
diperankan oleh sel Tfh). Hal penting dalam pengaktifan sel B oleh sel T ialah
selain menggunakan TCR dan molekul MHC kelas II, proses ini juga
membutuhkan sinyal antara CD40 pada sel B dan CD40L (CD154) pada sel T.
(Janeway, 2017)
17

Gambar 2.4 Penanganan suatu antigen tergantung thymus (thymus-dependent) oleh sel
B dan presentasi ke sel T teraktivasi. Antigen yang ditangkap oleh reseptor permukaan
Ig akan dicerna di dalam endosome, diproses, dan diekspresikan pada permukaan sel B
dengan MHC kelas II. Sinyal ko-stimulasi melalui interaksi CD40-CD40L (CD154)
diperlukan untuk aktivasi sel B naif oleh sel T-helper. Selain stimulasi oleh CD40L, sel
T-helper juga memberikan stimulasi tambahan ke sel B dalam bentuk sitokin seperti IL-
4. (Roitt, 2017)

Sel B membutuhkan ko-stimulasi melalui kompleks ko-reseptor sel B untuk


aktivasi yang efisien. Seperti halnya sel T, sel B juga membutuhkan dua bentuk
ko-stimulasi untuk membentuk respon efektor yang efisien. Bentuk ko-stimulasi
tersebut dapat terjadi melalui BCR dengan antigen kognitifnya yang didukung
oleh kompleks ko-reseptor sel B (CD19 dan CD21) yang berikatan dengan
molekul komplemen C3b.
Bentuk ko-stimulasi lain yang dibutuhkan oleh sel B setelah berikatan
dengan antigen ialah ikatan antara CD40L pada sel T dengan CD40 pada sel B.
Bentuk ko-stimulasi ini mensyaratkan bahwa sel B telah mencerna antigen,
diikuti dengan pemrosesan dan presentasi pada molekul MHC kelas II ke sel T
yang spesifik. Jika sel B menampilkan kombinasi MHC-peptida yang dikenali
oleh sel T (Roitt, 2017), maka sinyal akan dirangsang untuk menghasilkan
berbagai sitokin (seperti IL-21, IL-4, IL-6, TGF-B, IFN-y ). (Janeway, 2017)
18

Gambar 2.5 signal kedua yang dibutuhkan dalam aktivasi sel B yang melibatkan CD40.
Sinyal oleh BCR ditingkatkan dengan adanya ko-reseptor CD19 dan CD21 yang
berinteraksi dengan komplemen C3b pada mikroba yang diopsonisasi. Untuk thymus-
dependent antigens, sinyal kedua diperankan oleh sel Tfh yang mengenal fragmen
peptida yang dipresentasikan sel B melalui molekul MHC kelas II. CD40L pada sel Tfh
yang berikatan dengan CD40 pada sel B mengaktifkan sinyal non-canonical NFkB via
NFkB-inducing kinase (NIK). (Janeway, 2017)

Sama seperti sel T yang memerlukan sinyal ko-stimulasi dari DC dalam


bentuk ligan B7 untuk aktivasi, T-dependent B-cell juga membutuhkan ko-
stimulasi dari sel T helper yang diperlukan untuk ekspansi klonal dan
diferensiasi ke sel efektor. Setelah berikatan dengan antigen kognitif, BCR
mengalami aktivasi. Dalam internalisasi BCR, bersama dengan antigen yang
ditangkap, antigen kemudian diproses dan disajikan melalui molekul MHC kelas
II (Gambar 2.3). Untuk melanjutkan proses pematangan baik ke sel plasma atau
sel memori, sel B harus menghadapi sel T yang mampu mengenali salah satu
peptida antigenik yang dipresentasikan oleh sel B dari antigen yang telah
diinternalisasi atau diproses. (Roitt, 2017)
19

Gambar 2.6. Ko-stimulasi sel B dependen CD40-CD40L oleh sel T-helper. Sel T dan
sel B yang diaktifkan secara independen dapat berinteraksi jika sel B menyajikan
kompleks peptida-MHC yang tepat untuk stimulasi sel T. Keberhasilan presentasi
antigen oleh sel B ke sel T-helper yang teraktivasi akan menghasilkan ko-stimulasi sel
B dependen CD40L serta penyediaan sitokin, seperti IL-4, oleh sel T yang penting
untuk switching kelas antibodi, ekspansi klonal dan diferensiasi ke sel efektor. (Roitt,
2017)

Pada saat aktivasi oleh DC, sel T mengekspresikan CD40L, yang mana
akan berikatan dengan reseptornya yakni CD40 pada DC maupun sel B yang
distimulasi oleh antigen yang selanjutnya akan menginduksi proliferasi dan
diferensiasi sel B yang dimulai dari ekstrafolikular sampai di germinal centre
(GC). CD40L yang berikatan dengan CD40 menyebabkan pembentukan CD40
trimerik dan menginduksi TRAFs (TNF receptor-associated factors).
TRAF yang dibentuk menginisiasi kaskade enzim dan mengaktifkan faktor
transkripsi NF-kB (nuclear factor of kappa B) dan AP-1 (activating protein-1)
yang mana secara kolektif akan menstimulasi proliferasi sel B dan
meningkatkan sintesis dan sekresi Ig.
20

Setelah interaksi awal sel B oleh sel T helper pada daerah antara folikel
dan zona sel T (TB border), aktivasi sel B selanjutnya dapat berlangsung pada
dua lokasi yang berbeda, satu di luar folikel (extrafolikular), dan yang lainnya
di GC (intrafolikular). (Abbas et al, 2018)

Gambar 2.7 Aktivasi sel B dependen sel T. (1) Respon imun diinisiasi oleh
pengenalan antigen oleh sel B dan sel T. (2) Sel T dan sel B aktif kemudian bermigrasi
ke daerah T-B border dan saling berikatan. (3) Proliferasi dan diferensiasi sel B di
daerah ekstrafolikular dan (4) Proliferasi dan diferensiasi sel B berumur panjang di
GC. (TRENDS in imunology)

2. Pembentukan Germinal Centre (GC)


Karakteristik dari respon antibodi T-dependent ialah adanya pematangan
afinitas, peralihan isotipe, dan pembentukan sel plasma dan sel memori yang
berumur panjang. Berbagai reaksi ini terjadi di dalam GC yang dibentuk di
dalam folikel limfoid selama respon imun T-dependent.
21

GC dibentuk sekitar 4 sampai 7 hari setelah inisiasi sel B oleh sel T.


Selama proses berlangsung, beberapa sel B yang teraktifasi di ekstrafolikular
bermigrasi kembali ke folikel untuk berproliferasi dan membentuk folikel baru.
Folikel ini bernama germinal centre disebut demikian karena banyak sel-sel
baru dibentuk di sana. Setiap GC mengandung satu atau beberapa klon sel B
yang spesifik terhadap antigen.
Di dalam GC terdapat 2 zona; zona gelap (dark zone) dan zona terang
(light zone). Proliferasi sel B terjadi di dalam dark zone. Sel-sel yang
berproliferasi disebut juga sentroblas yang dibentuk sekitar 6-12 jam, jadi
dalam 5 hari 1 limfosit dapat menghasilkan 5000 progeni. Progeni dari
proliferasi sel B ini disebut sentrosit yang akan berdiferensiasi dan diseleksi di
light zone. Sel B GC mengekspresikan reseptor transkripsi Bcl-6 (B cell
lymphoma gene – 6). Interaksi CD40 dan CD40L (CD154) reseptor-ligan
mempengaruhi pembentukan dan kelangsungan hidup GC serta sel B memori.
Salah satu fungsi utama yang melibatkan CD40/CD40L dalam pembentukan
GC ialah mempertahankan kelangsungan hidup sentrosit yang baru.
Pensinyalan CD40 pada sel GC lebih lanjut dapat meningkatkan ekspresi
imunoglobulin permukaan, dan meningkatkan perkembangan sel B menjadi sel
memori. Sesuai dengan hipotesis ini, penelitian lebih lanjut menunjukkan
bahwa ligasi CD40 berperan secara tidak langsung dalam GC, karena
pensinyalan CD40 secara dua arah dapat mengaktifkan limfosit T untuk
menginduksi sekresi sitokin yang diperlukan untuk pembentukan GC dan
limfosit B untuk mengekspresikan reseptor sitokin masing-masing.
Dalam GC lanjutan, aktivasi dua arah dapat juga menyebabkan limfosit B
menjadi sel-sel memori. Arpin et al menunjukkan bahwa stimulasi jangka
panjang dari sinyal CD40 pada limfosit B GC dengan adanya IL-2 dan IL-10
dapat menyebabkan diferensiasi sel B menjadi sel-sel memori, sedangkan
kekurangan ligan dalam sistem ini menghasilkan diferensiasi terhadap sel
plasma. (Schonbeck U and Libby P, 2001)
22

Gambar 2.8. Reaksi GC dalam lymph node. Sel B aktif bermigrasi ke dalam folikel
dan berproliferasi, membentuk dark zone GC. Sel B tersebut kemudian mengalami
hipermutasi somatik gen V Ig dan bermigrasi ke light zone, dimana sel B akan
berikatan dengan DC yang mempresentasikan Ag dan sel Tfh. Sel B dengan reseptor
Ig berafinitas tinggi akan diseleksi untuk bertahan dan berdiferensiasi dan
menghasilkan Ab dan sel memori. Sel yang mensekresikan Ab bermigrasi ke bone
marrow dan menetap sebagai plasma sel berumur panjang, dan sel B memori masuk
ke dalam resirkulasi limfosit. (Abbas et al, 2018)

Pembentukan GC tergantung pada CD40L pada sel Tfh yang berinteraksi


dengan CD40 pada sel B. Interaksi ini sangat penting untuk proliferasi sel B,
yang diperlukan untuk ekspansi sel B di GC, dan menginduksi ekspresi enzim
AID (activation induced deaminase), yang diperlukan untuk peralihan isotipe
dan pematangan afinitas. (Abbas et al, 2018)
3. Proliferasi dan DIferensiasi sel B
Penelitian awal melaporkan bahwa CD40L melalui antibodi CD154 atau
anti-CD40 rekombinan pada limfosit B manusia meningkatkan volume sel,
23

yang berkorelasi dengan induksi intraseluler, permukaan sel, dan marker


terlarut, seperti molekul adhesi, menyebabkan agregasi homotypic. Selain itu,
CD40L memicu ekspresi sitokin larut IL-6, IL-10, TNF- , TNF-β, dan TGF-
β. Sebaliknya, CD40L mengurangi ekspresi CD8.
Induksi proliferasi sel B adalah fungsi awal yang digunakan untuk
mengisolasi anti-CD40 pertama. Subpopulasi sel B naif maupun aktif,
termasuk sel B naif, memori, GC CD5− dan CD5+ merespon CD40L dengan
peningkatan laju proliferasi. CD40L mendukung proliferasi jangka panjang
dengan menghasilkan sinyal ko-stimulatoris, misalnya, melalui
immunoglobulin cross-linking multivalen atau sitokin, seperti IL-4 dan IL-10.
Menariknya, IFN- secara signifikan menghambat proliferasi yang dimediasi
CD40 pada limfosit B.
Selain itu, NF-kB, kontrol proliferasi sel B dapat melibatkan
phosphoinositide 3-kinase (PI3K) subunit p85 dan variansinya p55 dan
p50 . Mice yang secara genetik kekurangan protein ini menunjukkan
kurangnya jumlah limfosit B matur di perifer dan respon proliferatif terhadap
CD40L. (Schonbeck U and Libby P, 2001)
Pada umumnya sel T yang berperan dalam pengaktifan sel B ialah sel T
folikular helper (Tfh). Ketika sel Tfh mengenali kompleks MHC-peptida di
permukaan sel B, sel Tfh kemudian memberikan signal pertahanan kepada sel
B dan menginduksi proliferasi. Sinyal yang diperankan oleh CD40 dan CD40L
akan memproduksi beberapa sitokin. Salah satu sitokin yang berperan penting
ialah IL-21. Signal IL-21 akan mengaktifasi faktor transkripsi STAT-3 dan
meningkatkan proliferasi serta diferensiasi sel B menjadi sel plasma dan sel
memori. Sitokin lain yang diproduksi ialah IL-6, TGF-β, IFN-γ, dan IL-4.
Sitokin-sitokin ini memberikan sinyal yang dapat meregulasi tipe antibodi yang
diproduksi (Gambar 2.9).
Selain menghasilkan berbagai sitokin, siynal CD40 juga dapat
mengaktifkan faktor transkripsi jalur non-canonical NF-kB dan meningkatkan
pertahanan sel B dengan menginduksi ekspresi molekul anti-apoptosis seperti
24

Bcl-2. (Janeway, 2017) Stimulasi jangka panjang dari sinyal CD40 pada sel B
GC dengan adanya IL-2 dan IL-10 dapat menyebabkan diferensiasi sel B
menjadi sel-sel memori, sedangkan kekurangan ligan dalam sistem ini hanya
menyebabkan diferensiasi menjadi sel plasma tanpa sel memori. (Schonbeck
U and Libby P, 2001)

Gambar 2.9. Sel Tfh memberikan beberapa sinyal yang mengaktifkan sel B dan
mengontrol diferensiasi subsequennya. Setelah antigen berikatan dengan BCR yang
memberikan sinyal awal untuk aktivasi, sel Tfh kemudian memberikan sinyal
tambahan ketika berikatan dengan kompleks MHC II-peptida pada permukaan sel B
(gambar pertama). Di samping mengekspresikan CD40 ligan, sel Tfh juga
mensekresikan beberapa sitokin penting, diantaranya IL-21, yang mana mengaktifkan
faktor transkripsi STAT3 yang meningkatkan proliferasi dan pertahanan sel B. Sel Tfh
juga memproduksi sitokin yang akan meregulasi isotipe kelas imunoglobulin. Setelah
diberikan signal, sel B yang teraktivasi kemudian mulai berproliferasi (gambar kedua),
masuk ke dalam germinal senter (GC) yang kemudian menjadi sel plasma atau sel
memori (gambar ketiga). (Janeway, 2017)

Pada dasarnya sel B dapat juga teraktivasi tanpa melalui bantuan sel T
(thymus-independent) yang melibatkan sinyal CD40 (Gambar 2.5). Respon ini
dapat memproduksi antibodi tanpa melalui sel T. Berbagai jenis antigen yang
mengandung polisakarida pada dinding selnya dapat berikatan dengan BCR
pada sel B. sinyal lainnya dapat juga siperankan oleh komponen
lipopolisakarida (LPS) yang dapat mengaktifkan sinyal TLR pada sel B yang
selanjutnya akan mengaktifkan faktor transkripsi NFkB. (Janeway, 2017)
25

Gambar 2.10. Thymus-independent antigens. Sinyal awal dapat terjadi melalui ikatan
antara BCR dengan antigen polivalen, sedangkan sinyal kedua diperankan oleh Toll-
like receptor (TLR) yang mengenal antigen-associated TLR ligand seperti
lipopolisakarida (LPS) bakteri, atau DNA bakteri. (Janeway, 2017)

Namun demikian, aktivasi sel B tanpa melalui sinyal CD40, sel B dapat
dengan cepat mengalami apoptosis dan dihilangkan. Proses ini dilakukan oleh
kelas khusus sel T yang disebut T-helper folikel (Tfh), sub-unit dari sel T CD4+
yang mengekspresikan reseptor permukaan sel CXCR5, yang menargetkan sel
Tfh dapat bermigrasi ke folikel sel B di organ limfoid sekunder. Dengan
demikian, sel B dan sel T memberikan rangsangan bersama dalam upaya
memperkuat sinyal aktivasi. Akibatnya, sel limfosit B bertindak sebagai APC
dan seperti yang disebutkan di atas, sangat efisien karena kemampuannya
memusatkan antigen dengan memfokuskan ke permukaan imunoglobulin.
(Roitt, 2017)

4. Peralihan isotipe Heavy Chain


Pensinyalan CD40 sangat penting untuk menginduksi peralihan isotipe
heavy chain atau rantai berat imunoglobulin. Meskipun beberapa penelitian
26

menunjukkan bahwa keterlibatan CD40 dengan tidak adanya rangsangan lain


cukup untuk menginduksi peralihan imunoglobuln pada sel B, namun beberapa
penelitian juga menunjukkan bahwa peralihan ini memerlukan ko-mediator
lainnya, misalnya, sitokin yang berasal dari sel T, seperti IL-4 atau IL-10.
Penelitian lebih lanjut juga menunjukkan bahwa modulasi dua arah dari sintesis
imunoglobulin via sitokin: IL-2 dan IL-10 secara khusus meningkatkan
produksi IgM, IgG1, dan IgA, sedangkan IL-4, memberikan co-signaling
penting untuk memproduksi IgG4 dan IgE.
Sintesis IgM memerlukan IL-2, IL-4, IL-5, dan IL-10. Co-signaling
melalui sitokin juga terlibat dalam produksi IgD yang dimediasi CD40;
Namun, hanya sedikit data yang ada mengenai sintesis kelas imunoglobulin ini.
(Schonbeck U and Libby P, 2001)
Pada respon T-dependent, beberapa progenitor sel B aktif yang
mengekspresikan IgM dan IgD, mengalami peralihan isotipe (kelas) rantai
berat dan menghasilkan antibodi dari kelas yang berbeda, seperti γ, α, dan ε.
(Gambar 2.6) Beberapa peralihan isotipe terjadi pada sel B bagian
extrafollicular, yang dikendalikan oleh sel T helper extrafollicular, tetapi
kebanyakan berlangsung di GC, yang dikendalikan oleh sel Tfh di light zone.
Kapasitas sel B untuk menghasilkan isotipe antibodi yang berbeda
memberikan plastisitas yang luar biasa dalam respon imun humoral dengan
menghasilkan antibodi dengan fungsi efektor yang berbeda serta terlibat dalam
pertahanan terhadap berbagai jenis agen infeksi. Sel B mengubah isotipe
antibodi yang dihasilkan dengan mengubah daerah konstan rantai berat.
Peralihan isotipe dalam merespon berbagai mikroba diatur oleh sitokin
yang diproduksi oleh sel T helper. IFN-γ menginduksi sel B untuk
menghasilkan IgG dan IL-4 menginduksi IgE. Respon terhadap virus dan
bakteri intaselular melibatkan IgG, yang memblok masuknya mikroba ke
dalam sel host dan juga meningkatkan fagositosis oleh makrofag.
Virus dan bakteri intraselular mengaktifkan sel T helper naif menjadi sel
Th1 yang memproduksi sitokin IFN-γ dan menginduksi sel Tfh. Sedangkan
parasit cacing ataupun alergen dapat mengaktifkan sel T helper naif menjadi
27

sel Th2 dan mengnduksi sel Tfh. Respon humoral terhadap parasit cacing pada
umumnya diperankan oleh IgE yang melibatkan eosinofil dan sel mast. IgE
juga brperan dalam reaksi hipersensitivitas tipe-I (alergi).
Selain itu, sel B pada jaringan mukosa akan berdiferensiasi dan
menghasilkan IgA yang dapat menembus sel eiptel menjadi secretory-IgA
(sIgA). Peralihan IgA distimulasi oleh TGFβ yang dihasilkan oleh banyak sel
termsuk sel T-helper. Sitokin dari TNF-family, BAFF dan APRIL juga
menstimulasi peralihan IgA. Karena sitokin ini diproduksi oleh sel myeloid,
sitokin ini dapat menstimulasi IgA tanpa melalui sel T. (Abbas et al, 2018)

Gambar 2.11. Peralihan rantai berat isotipe Ig. Sel B yang diaktifkan oleh sinyal sel
T helper (CD40L, sitokin) mengalami peralihan isotipe Ig yang berbeda, yang
memediasi fungsi efektor yang berbeda. Semua isotipe mampu menetralkan mikroba
dan racun. (Sumber : Abbas et al, 2018)
Sinyal CD40 bekerja sama dengan sitokin untuk menginduksi peralihan
isotipe. Ikatan CD40 menginduksi ekspresi enzim acivation-induced
demainase (AID), yang sangat penting untuk peralihan isotipe dan pematangan
28

afinitas. Pentingnya pensinyalan CD40 dan AID dalam peralihan isotipe Ig


dibuktikan dengan analisis pada tikus dan manusia yang kekurangan CD40,
CD40L, atau AID. Dalam kasus ini, respon antibodi terhadap antigen
didominasi oleh antibodi IgM, dan sangat sedikit untuk isotipe lainnya.
Mekanisme molekuler peralihan isotipe adalah proses yang disebut switch
recombination, di mana DNA rantai berat Ig dalam sel B dipotong dan
digabungkan kembali sehingga ekson VDJ yang terbentuk sebelumnya yang
mengkodekan domain V ditempatkan berdekatan dengan daerah downstream
C dan intervensi DNA dihapus (gambar 2.8). Peristiwa rekombinasi DNA ini
melibatkan urutan nukleotida yang disebut daerah peralihan (switch region),
yang terletak di intron antara segmen J dan C pada ujung 5 dari setiap lokus
CH, selain gen δ.
Switch region mempunyai panjang 1 hingga 10 kilobase, mengandung
banyak tandem dari sequens DNA rich-GC, dan ditemukan di upstream dari
setiap gen rantai berat. Upstream dari setiap switch region merupakan ekson
kecil yang disebut I ekson (untuk inisiator transkripsi) yang didahului oleh
promotor daerah I. Sinyal dari sitokin menginduksi transkripsi dari promotor
daerah I tertentu yang membaca melalui ekson I, switch region, dan ekson CH
yang berdekatan.
Transkrip ini dikenal sebagai transkrip germline. Mereka tidak
diterjemahkan ke dalam protein tetapi diperlukan untuk peralihan isotipe.
Transkrip germinal ditemukan di locus μ dan di downstream lokus rantai berat
di mana sel B yang diaktifkan diinduksi untuk dialihkan.
Di setiap wilayah switch, transkrip germline memfasilitasi generasi DNA
double-stranded. Akibatnya, VDJ yang disusun kembali ekson hanya upstream
dari switch region μ dalam sel B yang memproduksi IgM berekombinasi
dengan gen rantai berat Ig segera setelah downstream switch region transkriptif
aktif.
29

Gambar 2.12. Mekanisme peralihan isotipe rantai berat. Ketika sel B yang diaktifasi
antigen mendapat sinyal dari sel T helper (CD40L dan misal IL-4), sel B mengalami
perubahan ke Ig isotipe selain IgM (dalam contoh ini, IgE). Rangsangan ini memulai
transkripsi germline melalui lokus Iε-Sε-Cε, dan gen CH proksimal yang dihapus,
yang mengarah ke rekombinasi VDJ exon upstream dari μ locus dengan gen Cε.
Daerah switch ditunjukkan oleh lingkaran berlabel Sμ, Sγ, dan Sε. Iμ, Iγ dan Iε
mewakili situs inisiasi untuk transkripsi germline. (Perhatikan bahwa ada beberapa
gen Cγ yang terletak di antara Cδ dan Cε dan gen Cα di bagian doenstream dari Cε,
tetapi tidak ditampilkan.) (Sumber : Abbas et al, 2015)

Sitokin menentukan wilayah CH mana yang akan ditranskripsi di


germline. Misalnya, IL-4 menginduksi transkrip germline melalui lokus Iε-Sε-
Cε. Pada tahap awal terjadi transkrip germline dalam sel B yang
mengekspresikan IgM dan kemudian rekombinasi di daerah switch Sμ dengan
30

daerah switch Sε. DNA intervensi hilang, dan ekson VDJ kemudian berdekatan
dengan Cε. Hasil akhirnya adalah produksi IgE dengan domain V yang sama
dengan IgM asli yang diproduksi oleh sel B tersebut. (Abbas et al, 2018)
Mekanisme molekuler menunjukkan bahwa sitokin, seperti IL-4,
memodulasi peralihan isotipe melalui aktivasi DNA-binding proteins tertentu,
misalnya, IL-4 nuclear factor berinteraksi dengan elemen responsif IL-4 di ε
switch region, sehingga mendorong ekspresi transkrip germline Cε serta
peralihan isotipe menjadi IgE.
Transkripsi germline Cε dan peralihan isotipe dihambat oleh IFNγ dan
IFN , TGFβ, retinoic acid, dan IL-6. Mengenai interaksi sinergis CD40 dan
IL-4 pada produksi imunoglobulin, studi terbaru menemukan bahwa terdapat
formasi tambahan seperti; STAT-6 dan NFkB/Rel protein-containing nuclear
complexes. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa transcription factor B
cell-specific activator protein (BSAP) merupakan titik penggabungan dari dua
jalur pensinyalan, karena dapat meningkatkan aktivasi yang dimediasi IL-4 dan
CD154 di human ε germline promotor. (Schonbeck U and Libby P, 2001)
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Torabizadeh et al, 2018
mengungkapkan bahwa mutasi fungsional pada gen CD40L (NM_000074:
exon5: c.T464C) menyebabkan perubahan pada asam amino p.L155P yang
dikaitkan dengan X-linked hyper-IgM syndrome.
Sindrom hiper-IgM (HIGM), yang pertama kali dideskripsikan pada tahun
1960, merupakan kelompok gangguan genetika heterogen yang ditandai oleh
serum IgM yang meningkat atau normal dan konsentrasi serum IgG, IgA, dan
IgE yang sangat rendah, dengan jumlah sel B perifer yang normal. HIGM
dihasilkan dari mutasi beberapa gen yang mengarah ke rekombinasi kelas
imunoglobulin. (Notarangelo LD and Hayward AR, 2000)
Penelitian lain yang dilakukan oleh Tang WJ et al, 2014, mengungkapkan
bahwa hasil isolasi sel T dari 11 pasien yang mengalami HIGM, tidak
mengekspresikan CD40L (Gambar 2.8).
31

Gambar 2.13. Analisis flow cytometric ekspresi CD40L pada pasien ke-4 terhadap
kontrol (IgG < 0.33 g/L, IgA < 0.06 g/L) (Sumber : Tang WJ et al, 2014)

Cacat pada ligan CD40 (CD40L, CD154) menghasilkan sindrom hiper-


IgM yang paling umum (HIGM1 atau XHIGM), yang diwariskan sebagai sifat
resesif terkait-X, dan menyumbang 65% hingga 70% kasus. CD40L
diekspresikan terutama pada sel T CD4 yang diaktifkan, dan berinteraksi
dengan CD40 yang diekspresikan pada sel B, monosit, makrofag, dan sel
dendritik. Interaksi CD40L-CD40 menyediakan sinyal kostimulatoris untuk sel
T, dan mengarah ke aktivasi sel T. Keterlibatan CD40 oleh CD40L pada sel B
mengarah pada proliferasi sel B dan class-switch recombinan (CSR). IGM X-
linked (X-HIGM, HIGM1) adalah tipe yang paling sering, disebabkan oleh
mutasi pasa gen CD40L, dan dianggap sebagai gabungan imunodefisiensi pada
sel T dan sel B. (Tsai HY, 2012)

5. Pematangan Afinitas
Pematangan afinitas merupakan suatu proses peningkatan afinitas antibodi
terhadap antigen tertentu sebagai respon humoral T-dependent, dan sebagai
hasil dari mutasi somatik gen Ig yang diikuti oleh seleksi positif sel B yang
memproduksi antibodi dengan afinitas tertinggi.
Proses pematangan afinitas menghasilkan antibodi dengan kemampuan
tinggi untuk mengikat antigen sehingga dapat menetralkan dan menghilangkan
mikroba secara efisien. (Gambar 2.12). Interaksi sel T helper dan
CD40:CD40L dibutuhkan untuk mutasi somatik, oleh karena itu pematangan
afinitas hanya terjadi pada respons antibodi terhadap antigen T-dependent.
32

Dalam proliferasi sel-sel B GC di dark zone, gen Ig V mengalami mutasi


inti yang sangat tinggi. Angka ini diperkirakan 1 kali 103 V gen pasangan basa
per pembelahan sel, yang sekitar seribu kali lebih tinggi daripada angka mutasi
spontan pada gen mamalia lainnya. Oleh karena itu, mutasi pada gen Ig V juga
disebut sebagai somatic hypermutation. Gen V dari rantai berat dan ringan
yang diekspresikan di masing-masing sel B mengandung total sekitar 700
nukleotida; ini berarti bahwa mutasi akan terakumulasi di daerah V yang
diekspresikan pada tingkat rata-rata hampir satu per pembelahan sel. Mutasi
gen Ig V terus terjadi pada progeni sel B individu. (Abbas et al, 2015)

Gambar. 2.14. Pematangan afinitas. Pada awal tahapan respon imun, antibodi yang
diproduksi mempunyai afnitas yang rendah. Selama reaksi di GC, mutasi somatik dari
gen Ig V dan seleksi sel B dengan afinitas tinggi terhadap reseptor antigen
menghasilkan antibodi dengan afinitas yang tinggi terhadap antigen. (Sumber : Abbas
et al, 2015)

Pertama, mutasi dikelompokkan dalam wilayah V, sebagian besar di


daerah antigen-binding complementary-determining. Kedua, terdapat lebih
banyak mutasi di IgG dari pada antibodi IgM. Ketiga, kehadiran mutasi
berkorelasi dengan peningkatan afinitas antibodi terhadap antigen yang
menginduksi respons.
Mekanisme yang mendasari mutasi somatik pada gen Ig belum terlalu
dipahami. Jelas bahwa penyusunan kembali ekson Ig VDJ menjadi sangat
rentan terhadap mutasi. Enzim AID, yang dibahas sebelumnya dalam peralihan
33

isotipe, memainkan peran penting dalam pematangan afinitas. Aktivitas DNA


deaminase mengubah residu C menjadi residu U di daerah mutasi. U dapat
diubah menjadi T ketika terjadi replikasi DNA, sehingga menghasilkan tipe
umum dari C bermutasi menjadi T, atau U dapat dieksisi oleh uracil N-
glycosylase, dan daerah abasic. (Abbas et al, 2015)

6. Seleksi Positif Sel B GC


Formasi germinal centre (GC) tergantung pada CD40L pada sel Tfh yang
berinteraksi dengan CD40 pada sel B. Interaksi ini sangat penting untuk
proliferasi sel B, yang diperlukan untuk ekspansi sel B di GC, dan menginduksi
sel B dalam mengekspresikan activation-induced deaminase (AID), yang
diperlukan untuk isotype switching dan pematangan afinitas. Formasi GC akan
mengalami kerusakan pada manusia maupun tikus yang mengalami kecacatan
genetik dalam perkembangan atau aktivasi sel T dalam hal ini terjadi mutasi
pada CD40 atau ligannya. (Abbas et al, 2018)
Seleksi Sel B dengan afinitas yang tinggi terhadap antigen terjadi secara
bertahap. Awalnya ditemukan melalui pengujian in vitro, bahwa sel B naif
dapat tetap hidup dengan melakukan cross-linking reseptor sel B dan ligasi
CD40 pada permukaan selnya.
Secara in vivo sinyal-sinyal ini dikirimkan oleh antigen dan oleh sel Tfh.
Rincian seleksi di GC menunjukkan bahwa seleksi positif dari sel B bergantung
pada kemampuan sel B untuk menangkap antigen, dan untuk menerima sinyal
yang dikirimkan oleh sel Tfh. Diperkirakan bahwa hipermutasi somatik terjadi
di centroblast di zona gelap (dark zone); ketika centroblast mengurangi laju
proliferasinya dan menjadi centrosit, ia kemudian meningkatkan jumlah
reseptor sel B di permukaannya dan bergerak ke zona terang (light zone), di
mana ada banyak FDCs. Antigen dapat terperangkap dan disimpan untuk
waktu yang lama dalam bentuk kompleks imun pada FDC.
Kemampuan sentrosit untuk mengikat antigen menentukan kemampuan
relatifnya untuk memperoleh antigen, dalam persaingan dengan sentrosit yang
terkait klonal lainnya yang mempunyai mutasi yang berbeda. Sentrosit yang
34

reseptornya mengikat antigen lebih baik akan menangkap dan menyajikan


lebih banyak peptida pada molekul MHC kelas II pada permukaan sel nya.
Sel Tfh di GC mengenali peptida ini dan diaktifkan untuk mengirim sinyal
ke sel B yang mendorong kelangsungan hidup sel B. Centrocytes yang
mutasinya mengurangi afinitas terhadap antigen akan menangkap lebih sedikit
antigen, dengan demikian akan menerima sinyal survival yang lebih lemah dari
sel Tfh. Sel B yang berhasil akan mengekspresikan kembali CXCR4 dan
kembali ke zona gelap, di mana mereka akan menjalani tahap selanjutnya, yang
pada dasarnya menjadi centroblast lagi.
Sel B GC yang gagal mendapatkan antigen yang cukup dari FDC untuk
melibatkan sel Tfh, akan diapoptosis dan dihilangkan. Proses migrasi sel B ini
di dalam germinal senter dikenal sebagai model re-siklus siklik. Dengan cara
ini, afinitas dan spesifitas sel B terus disempurnakan selama respon di GC,
melalui pematangan afinitas. Proses seleksi dapat sangat ketat: meskipun 50-
100 sel B dapat menjadi benih GC, kebanyakan dari mereka tidak
meninggalkan klon, dan pada saat GC mencapai ukuran maksimum, biasanya
hanya terdiri dari satu atau beberapa klon sel B.
Di GC, sel Tfh dan sel B berinteraksi untuk memberikan sinyal yang
penting untuk kedua sel. Tikus yang kekurangan ICOS akan mengalami
kendala dalam reaksi GC dan mengurangi respon antibodi kelas-switched
karena fungsi sel Tfh yang rusak. Pensinyalan CD40 dalam sel B diaktifkan
oleh CD40L pada sel Tfh dan meningkatkan ekspresi molekul survival Bcl-
XL, kerabat Bcl-2. Interaksi ini juga termasuk pemberian sinyal oleh reseptor
keluarga SLAM melalui protein adaptor SAP. (Janeway, 2017)
Pada imunitas humoral, tepatnya di Germinal Centre (GC), sel B
mengalami hipermutasi somatik, pematangan afinitas, dan rekombinasi class-
switching untuk menghasilkan sel B memori dan sel plasma yang berumur
panjang, yang merupakan sumber antibodi berafinitas tinggi terhadap patogen.
GC adalah komponen penting dalam imunitas humoral, disregulasi GC
dikaitkan dengan imunodefisiensi, penyakit autoimun, dan kanker.
35

Seleksi positif high-afinity dari sel B di GC adalah kunci untuk


pematangan afinitas, meskipun demikian, proses seleksi positif yang lebih
terperinci belum diketahui dengan pasti. Pada tahap awal, sel dengan afinitas
yang tinggi terhadap antigen harus mendapatkan sinyal yang memadai untuk
kelangsungan hidup, proliferasi atau keduanya. Sinyal ini pada dasarnya akan
melibatkan BCR secara langsung, namun dapat juga mencakup sinyal yang
dikumpulkan oleh sel B berdasarkan presentasi antigen (Ag) ke sel T. Sinyal
ini dapat berupa sitokin (seperti IL-21) dan reseptor permukaan, namun yang
diharapkan lebih efektif adalah sinyal CD40. Kurangnya CD40 atau ligannya,
atau pemberian anti-CD40L selama reaksi di GC, mengakibatkan hilangnya sel
B GC secara total. (Luo W, 2018)
Proses pematangan afinitas menghasilkan antibodi dengan peningkatan
kemampuan untuk mengikat antigen, menetralisir dan menghilangkan mikroba
dengan lebih efisien. Sel T helper dan CD40:CD40L diperlukan untuk mutasi
somatik dan sebagai hasilnya, pematangan afinitas terjadi janya pada respon
antibodi terhadap antigen T-dependen.
Stimulasi berulang oleh protein antigen T-dependen mengarah ke
peningkatan jumlah mutasi pada gen Ig dari sel B GC spesifik antigen.
Beberapa mutasi ini mungkin berguna karena akan menghasilkan antibodi yang
berafinitas tinggi. Namun, kebanyakan mutasi juga dapat menyebabkan
penurunan atau bahkan hilangnya ikatan antigen. Oleh karena itu, langkah
berikutnya dan penting dalam proses pematangan afinitas adalah pemilihan sel
B afinitas tinggi yang paling berpotensi.
Sel B yang mengikat antigen di GC dengan afinitas tinggi dipilih untuk
bertahan hidup (gambar 2.8). Respons awal terhadap antigen menghasilkan
produksi antibodi, beberapa di antaranya membentuk kompleks dengan antigen
residual dan dapat mengaktifkan komplemen. Sel dendritik folikular
mengekspresikan reseptor untuk Fc portion antibodi dan untuk produk aktivasi
komplemen, termasuk C3b dan C3d. Reseptor-reseptor ini mengikat dan
menampilkan antigen yang dapat membentuk kompleks dengan antibodi dan
produk komplemen.
36

Antigen juga dapat ditampilkan dalam bentuk bebas di GC. Sementara itu,
sel B GC yang telah mengalami mutasi somatik bermigrasi ke light zone yang
kaya akan FDC GC. Sel-sel B ini mati oleh apoptosis kecuali sel B yang dapat
mengenal antigen. Sel B dengan reseptor afinitas tinggi terhadap antigen paling
efektif mengikat antigen meskipun dalam konsentrasi rendah, dan sel B ini
dapat bertahan hidup melalui beberapa mekanisme.
Pertama, pengenalan antigen oleh sel B menginduksi ekspresi protein anti-
apoptosis dari Bcl-2 family. Kedua, sel B yang berafinitas tinggi akan memiliki
kemampuan endositosis, mempresentasi antigen dan berinteraksi dengan
sejumlah sel Tfh di GC. Sel T helper ini dapat memberi sinyal melalui CD40L
untuk mendukung kelangsungan hidup sel. Ketiga beberapa sel Tfh
mengekspresikan Fas ligan, yang dapat mengenali Fas reseptor kematian pada
sel B GC dan memberikan sinyal apoptosis. Sel B berafinitas tinggi, yang
paling mampu mengenali dan merespon antigen, dapat mengaktifkan inhibitor
endogen Fas ketika BCR mengenali antigen dan dengan demikian terlindung
dari kematian, sementara sel B yang mempunyai afinitas rendah akan
mengalami apoptosis.
37

Gambar 2.15. Seleksi sel B di GC. Mutasi Somatik dari gen V pada sel B GC
menghasilkan antibodi dengan afinitas yang berbeda untuk antigen. Ikatan sel B
dengan antigen yang dipresentasikan oleh folikular DC diperlukan untuk
mempertahankan sel B dari kematian sel terprogram. Sel B juga dapat
mempresentasikan antigen ke sel Tfh GC, yang meningkatkan kelangsungan hidup sel
B. (Abbas et al, 2015)

Gambar 2.16. Penempatan anatomi dan perekrutan seluler untuk pembangkitan sel
Tfh. (A;i) Sel Naive CD4 + T diaktifkan di area interfollicular atau zona sel T dari
jaringan limfoid setelah mengenali kompleks peptida-MHC kelas II di DC. (I) DC
memberikan sinyal yang mengatur peningkatan CXCR5 dan menurunkan ekspresi
CCR7 pada sel T CD4+ yang memungkinkan sel T untuk bermigrasi ke folikel sel B.
(ii) Pada daerah batasan sel T-sel B, sel pra-Tfh berinteraksi dengan sel B yang
diaktifkan yang menampilkan Ag secara kognitif. Hal ini menghasilkan sel pra-Tfh
yang memberikan bantuan kepada sel B untuk berdiferensiasi menjadi plasmablasts
38

extrofolikular berumur pendek (short-lived plasma cell) atau migrasi ke dalam folikel
untuk membentuk GC. Stimulasi berkelanjutan dan presentasi Ag oleh sel B
mendorong perkembangan sel Tfh secara penuh. (iii) Dalam GC, sel Tfh terus
memberikan bantuan kepada sel B, mendukung reaksi GC dan memfasilitasi
pembentukan sel plasma berumur panjang (long-lived plasma cell) dan sel B memori.
Sinyal timbal balik yang disediakan oleh sel B juga penting untuk mempertahankan
sel Tfh. (B) Awal priming dari sel T CD4+ naif oleh DC menginduksi ekspresi Bcl-6
dan CXCR5; ini membutuhkan interaksi ICOS / ICOS-L. DC dapat menghasilkan IL-
6 dan IL-27, yang mempromosikan ekspresi Bcl-6 dan c-Maf, serta produksi IL-21
oleh sel T CD4+, dengan cara yang bergantung pada STAT3. Relokasi yang dimediasi
CXCR5 dari Bcl-6+ CXCR5+ sel pra-Tfh ke batas sel T-sel B memungkinkan
interaksi selanjutnya dengan sel-sel B yang spesifik. Program Tfh dicetak setelah
interaksi selanjutnya dengan sel B di GC. Interaksi ini tergantung pada pembentukan
konjugat sel T sel-B yang stabil, yang membutuhkan pensinyalan sel-intrinsik CD4 +
T melalui reseptor terkait-SAP (CD84) dan melibatkan CD40L/CD40, ICOS/ICOS-
L, dan CD28/CD86. IL-21 yang dihasilkan oleh sel Tfh dapat bertindak dengan cara
autokrin untuk mempertahankan sel Tfh pada berbagai tahap diferensiasi. Demikian
pula, IL-6 yang berasal dari sel B, dan mungkin IL-27, dapat berkontribusi pada
pemeliharaan sel Tfh. Sel Tfh memediasi diferensiasi sel B GC ke dalam memori dan
sel plasma melalui penyediaan CD40L dan IL-21. (Ma CS et al, 2012)

D. Signaling CD40;CD40L

1. Jalur Transduksi Sinyal CD40 dependen dan Independen TRAF


Ikatan CD40 oleh CD40L menginduksi perekrutan protein adaptor yang
dikenal TNFR - associated factor (TRAFs) ke domain sitoplasma CD40. Protein
TRAF mengaktifkan jalur transduksi sinyal yang berbeda termasuk transduksi
sinyal canonical dan non-canonical nuclear factor κB (NFkB), mitogen-activated
protein kinase (MAPKs), phosphoinositide 3­kinase (PI3K), serta fosfolipase Cγ
(PLCγ). Bukti terbaru menunjukkan bahwa sinyal dapat terjadi independen
terhadap protein TRAF seperti janus family kinase 3 (Jak3), yang ditemukan
dapat mengikat langsung ke domain sitoplasma CD40. Pengikatan Jak3 telah
terbukti menginduksi fosforilasi signal transducer and activator of transcription
(STAT5). Bersama-sama, jalur kompleks ini menimbulkan berbagai sinyal
penting yang dimediasi melalui CD40 untuk menyampaikan beragam proses
selular.
39

Gambar 2.17. Sinyal CD40 dependen dan independen protein TNFR-associated


factor (TRAF). Setelah aktivasi CD40, TRAF 1, 2, 3, 5, dan 6 direkrut ke tail CD40,
mengarahkan jalur sinyal yang berbeda. Selanjutnya, jak 3 dapat mengikat membran
sitoplasma proksimal CD40. Jalur transduksi sinyal dependent atau independen
protein TRAF mengatur proses seluler dan imunitas yang berbeda. (Elgueta, 2009)

Jalur NFkB, yang terletak di bagian hilir direrekrut protein TRAF ke


domain sitoplasmik CD40. Jalur canonical NFkB dimulai dengan
pembentukan inhibitor kompleks κB (IκB) kinase (IKK), yang mengandung
subunit katalisis IKKα, IKKβ, dan subunit pengatur IKKγ atau NEMO.
Aktivasi NFkB mengarahkan degradasi dependent ubiquitin dan proteasomal-
menginduksi, translokasi heterodimer NFkB p50 ⁄ p65 dan p50 ⁄ c-Rel ke
nukleus. Jalur non-kanonikal NFkB diinduksi ketika protein kinase NFkB-
inducing kinase (NIK) mengaktifkan IKKα, yang mengarah ke proteolisis
prekursor p100 yang memproduksi protein p52, yang berhubungan dengan
avian rel B dan mentranslokasi ke dalam nukleus. Hasilnya adalah bahwa
kedua jalur pensinyalan dapat meregulasi gen target yang berbeda (Bonizzi G,
2004).
40

Gambar 2.18. Peran TRAF 2 dan 3 dalam penghambatan non-canonical NFkB.


Selama tidak terdapat stimulasi, TRAF2 dan TRAF3 membentuk kompleks dengan
cellular inhibitor of apoptosis 1 dan 2 (cIAP1 dan cIAP2) dan NFkB-inducing kinase
(NIK). cIAP 1 ⁄ 2 mendegradasi NIK, menghambat jalur non-canonical NFkB. Setelah
CD40⁄CD40L berikatan, kompleks tersebut menjadi tidak stabil, memungkinkan
pelepasan NIK dari kompleks sehingga menginduksi transduksi sinyal non-canonical
NFkB. (Elgueta et al, 2009)

Deskripsi awal dari peran yang dimainkan TRAF3 dalam pensinyalan


CD40 mengusulkan bahwa ia berfungsi sebagai pengatur negatif dari jalur
kanonik NFkB. Hipotesis ini didasarkan pada percobaan di mana protein
negatif dominan-TRAF3 yang diekspresikan dalam sel B memimpin induksi
jalur NFkB kanonik dan jalur pensinyalan Jnk pada keterlibatan CD40 . Hasil
ini dikuatkan dalam percobaan di mana pensinyalan CD40 dipelajari pada sel
B defisien-TRAF3; itu juga mengamati bahwa fosforilasi Jnk dan akumulasi
NIK ditingkatkan, serta perekrutan TRAF2 ke rakit lipid menunjukkan bahwa
TRAF3 mengatur TRAF2 dan NIK, seperti yang telah dibahas di atas.
41

Sebaliknya, itu diamati pada sel epitel bahwa overekspresi yang diberlakukan
pada TRAF3 menginduksi pensinyalan NFkB kanonik selama stimulasi CD40,
menunjukkan bahwa TRAF3 memiliki peran yang berbeda dalam berbagai
jenis sel. Oleh karena itu, dalam sel B, TRAF3 secara negatif mengatur jalur
NFkB kanonik dan non-kanonik, serta pensinyalan Jnk; sedangkan di sel epitel,
ia mampu menginduksi pensinyalan NFkB kanonis. Percobaan tambahan
diperlukan untuk menentukan peran TRAF3 dalam pensinyalan NFkB
non-kanonik dan Jnk di sel epitel.
Sangat sedikit yang diketahui tentang peran TRAF5 dalam pensinyalan
CD40 meskipun TRAF5 tidak mampu mengikat langsung ke domain
sitoplasmik CD40. Selama pensinyalan CD40, TRAF5 membentuk
heterotrimers dengan TRAF3 . Peran pensinyalan TRAF5, selama stimulasi
CD40, ditunjukkan pada sel B yang diterapi dengan RNA campur kecil
(siRNAs) khusus untuk TRAF5 atau defisien untuk TRAF5 di mana jalur
NFkB kanonik dan non-kanonik yang ablated. Itu terjadi dalam pengurangan
produksi antibodi, proliferasi, ekspresi molekul kostimulatoris. Percobaan
lebih lanjut diperlukan untuk sepenuhnya memahami fungsi TRAF5 dalam
pensinyalan CD40.
Seperti protein TRAF lainnya, interaksi fisik TRAF6 dengan CD40
ditunjukkan oleh uji ragi dua hibrida ( 15 ). Dalam MEFs TRAF6-deficient atau
sel-sel epitel di mana TRAF6 telah dibungkam oleh siRNA, sel-sel ini
menunjukkan pengurangan atau pembatalan dalam aktivasi NFkB kanonik,
Jnk, p38, dan Akt, setelah keterlibatan CD40. Menariknya, TRAF6 mampu
berinteraksi dengan TRAF2 dan dengan demikian mengatur secara positif
TRAF2. Ini menunjukkan bahwa TRAF6 mungkin masih memiliki peran
fungsional dalam pensinyalan CD40, tanpa mengikat langsung ke CD40.
Dalam kondisi ini, stimulasi CD40 mampu meningkatkan upregulasi CD80 dan
mendorong aktivasi Jnk dibandingkan dengan sel B defisien pada TRAF6. Data
ini melibatkan TRAF6 sebagai pengaturan beberapa fungsi fisiologisnya
melalui interaksinya dengan TRAF2 dan independen dari rekrutmennya ke
situs pengikatan TRAF6 dari CD40 (Rowland, 2007).
42

CD40 dapat menginduksi rekrutmen limfoma B limfoma jalur TRAF6 /


Casitas B (Cbl-b) / Casitas B-lineage lymphoma (c-Cbl) / PI3K kompleks, yang
mengarah ke fosforilasi Akt. Anggota keluarga Cbl adalah molekul adaptor,
yang memiliki sifat ligase E3-ubiquiting . Tergantung pada jenis sel, mereka
mengatur secara positif atau negatif berbagai macam protein kinase dan
adaptor seperti PI3K, sarkoma onkogen Rous sarkoma (Src) tirosin, limpa
tirosin kinase, protein reseptor terikat faktor pertumbuhan 2, dan Src homologi
2 domain-mengandung mengubah protein C1 . Dalam studi menggunakan DC
yang mengalami defisiensi-C dirangsang secara in vitrodengan CD40L, ablasi
diamati dalam Akt aktivasi tanpa efek dalam induksi jalur NFkB kanonik.
Temuan ini menunjukkan bahwa di DC, Akt aktivasi Akt independen dari
pensinyalan NFkB (Arron Jr, et al, 2001). Cbl-b menginduksi fosforilasi Akt
melalui PI3K, dan setelah keterlibatan CD40, pemblokiran PI3K membatalkan
aktivasi Akt, menunjukkan bahwa di DC, Cbl-b mengaktifkan PI3K, yang
menginduksi fosforilasi Akt selama pensinyalan CD40 ( Davies CC, 2004).
Secara fisiologis, pemblokiran PI3K secara drastis mempengaruhi
kelangsungan hidup DC ( 51 ). Mekanisme yang melibatkan efek
anti-apoptosis dari aktivasi PI3K / Akt tergantung pada penghambatan protein
pro-apoptosis, caspase 9, leukemia sel B (Bcl) / limfoma 2-terkait agonis
kematian sel Baru-baru ini, mekanisme kedua ditentukan; PI3K dapat
mengaktifkan target mamalia rapamycin, yang menginduksi ekspresi protein
anti- apoptosis caspase 8 dan Fas terkait melalui domain kematian-seperti
apoptosis regulator p43 (cFLIPp43). Oleh karena itu, CD40, mungkin melalui
TRAF6, menginduksi aktivasi pensinyalan PI3K yang melindungi sel dari
apoptosis. (Davies CC, 2004).
Berbeda dengan hasil yang dijelaskan di atas, sel B defisien dalam Cbl-b
memiliki peningkatan jalur NFkB dan Jnk, menunjukkan bahwa dalam sel B
Cbl-b adalah pengatur negatif dari jalur sinyal ini . Dalam hal ini, Cbl-b
direkrut melalui TRAF2 ke ekor sitoplasma CD40 dan kurangnya Cbl-b
meningkatkan perekrutan TRAF2 ke CD40, menunjukkan peran negatif Cbl-b
dalam perekrutan TRAF2 . Bersama-sama, hasil ini mengusulkan bahwa dalam
43

jenis sel yang berbeda, Cbl-b dapat mengatur jalur yang berbeda tergantung
pada protein TRAF yang berinteraksi (Qiao G,et al,2007)
Sebagian besar penelitian yang menyelidiki sinyal CD40 menunjukkan
jalur yang bergantung pada protein TRAF. Namun, diamati pada sel B, daerah
proksimal membran dari ekor CD40 berisi domain yang mengikat untuk Jak3
menunjukkan bahwa dalam sel B, setelah stimulasi CD40, Jak3 tidak
terfosforilasi, menunjukkan bahwa perekrutan Jak3 ke membran sitoplasma
CD40 tidak berfungsi. Namun, monocytes mampu menginduksi fosforilasi
Jak3 setelah keterlibatan CD40. Selanjutnya, penghambatan Jak3 di APC,
setelah stimulasi CD40, menghalangi pematangan APC). Selain itu, Jak3
menginduksi faktor transkripsi STAT5, yang dapat dimerisasi dan translokasi
ke nukleus, dan memimpin ekspresi gen dari sitokin inflamasi, seperti TNFα,
interferon­γ (IFN­γ), dan interleukin­6 (IL­6)Hasil ini menunjukkan bahwa
Jak3 mampu mengikat CD40 dan menginduksi pematangan DC melalui
STAT5.
Kesimpulannya, CD40 pada dasarnya memediasi sinyal melalui protein
TRAF, yang dapat mengaktifkan atau menghambat jalur sinyal yang berbeda,
tergantung pada jenis sel. Protein TRAF mendorong berbagai proses seluler
dan imunitas dan memahami jalur ini akan meningkatkan kemampuan kita
untuk mengembangkan strategi dalam intervensi terapeutik berbagai macam
penyakit terkait kekebalan tubuh.

E. CD40 : CD40L dan Kaitannya dengan Penyakit Hyper-IgM syndrome


Informasi rinci pertama mengenai pentingnya signaling CD40 dalam
patogenesis penyakit in vivo telah ditetapkan oleh penemuan bahwa mutasi pada
gen CD40L (CD154) menyebabkan imunodefisiensi terkait-X, diistilahkan sebagai
X-linked hyper-IgM syndrome (HIGM). HIGM ditandai oleh adanya gangguan
dalam perubahan isotipe (kelas) rantai berat sel B, sehingga IgM merupakan
antibodi serum yang paling banyak, dan juga oleh defisiensi berat imunitas seluler
terhadap mikroba intraseluler. Penyakit ini disebabkan oleh mutasi pada gen
kromosom X yang menyandi ligan CD40 (CD40L), protein sel T helper yang
44

berikatan dengan CD40 pada sel B, sel dendritik, dan makrofag sehingga
memerantarai sel-sel tersebut yang tergantung sel T. Kegagalan mengekspresikan
CD40L yang fungsional mengakibatkan respons sel B yang tergantung sel T
menjadi terganggu, seperti perubahan isotipe dan pematangan afinitas pada
imunitas humoral, serta gangguan dalam aktivasi makrofag yang tergantung sel T
pada imunitas seluler. Suatu bentuk resesif autosomal yang jarang hyper-IgM
ditunjukkan pada subjek dengan mutasi enzim activation-induced deaminase (AID,
suatu enzim yang berperan dalam proses perubahan isotipe dan hipermutasi
somatik. (Schonbeck, 2000)
Peran sentral interaksi CD40-CD40L dalam respons imun dibuktikan oleh
penelitian pada tikus yang kekurangan CD40 atau CD40L. Pada hewan ini, respon
thymus dependent (TD) terhadap antigen asing, seperti produksi imunoglobulin,
peralihan isotipe Ig, dan hipermutasi somatik mengalami gangguan. Fenotip serupa
(X-HIGM) diamati pada pasien dengan sindrom hiperimunoglobulin M, penyakit
genetik yang dihasilkan dari mutasi pada gen CD40L. Menariknya, individu dengan
X-HIGM ini juga tampaknya rentan terhadap perkembangan tumor pankreas dan
hati. Pekerjaan kami baru-baru ini juga berimplikasi pada jalur CD40 dalam
kematian hepatosit selama penolakan allograft hati melalui interaksi kooperatif
dengan Fas, anggota lain dari superfamili TNFR. (Eliopoulos AG et al, 2000)

Gambar 2.19 Imunodefisiensi kongenital yang berhubungan dengan defek pada aktivasi
dan fungsi efektor limfosit (Abbas, 2016)
45

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran
46

DAFTAR PUSTAKA

Abbas A.K. et al. Cellular and Molecular Immunology. 8th edition. 2015. Elsevier
Saunders : Philadelphia
Abbas A.K. et al. Cellular and Molecular Immunology. 9th edition. 2019. Elsevier
Saunders : Philadelphia
Abbas, A.K. and Lichtman, A.H. 2016. Basic Immunology, Functions and
Disorders of the Immune System, 5th ed. Philadelphia: Saunders Elsevier.
Arron J.R, et al. A positive regulatory role for Cbl family proteins in tumor necrosis
factor-related activation-induced cytokine (trance) and CD40L-mediated Akt
activation. J Biol Chem. 2001 ; 276: 30011–30017.
Bishop G.A, Moore C.R, Xie P, Stunz L.L, Kraus Z.J. TRAF proteins in CD40
signaling. Adv Exp Med Biol. 2007 ; 597:131–15
Bonizzi G and Karin M. The two NF-kappaB activation pathways and their role in
innate and adaptive immunity. Trends Immunology. 2004 ; 25:280–288.
Danese S, Sans M, Fiocchi C. The CD40 ⁄ CD40L costimulatory pathway in
inflammatory bowel disease. 2004 ; 53:1035–1043.
Davies C.C, Mason J, Wakelam M.J, Young L.S and Eliopoulos A.G. Inhibition of
phosphati- dylinositol 3-kinase- and ERK MAPK-regu- lated protein synthesis
reveals the pro- apoptotic properties of CD40 ligation in carcinoma cells. J
Biol Chem. 2004 ; 279: 1010–1019.
Gallagher E, et al. Kinase MEKK1 is required for CD40-dependent activation of
the kinas- es Jnk and p38, germinal center formation, B cell proliferation and
antibody produc- tion. Nat Immunol. 2007 ; 8:57–63.
Grewal I.S. and Flavell R.A. 1997. The CD40 Ligand. Immunologic Research.
Humana Press Inc : New Haven
Janeway C.A. Paul T, Mark W and Mark J.S. 2001. Immunobiology. 9th Edition.
New York: Garland Publishing.
47

Kawabe T et al. CD40/CD40 Ligand Interactions in Immune Responses and


Pulmonary Immunity. Invited Review Article. Nagoya University School of
Health Sciences : Japan
Ma C.S. et al. The Origins, Function, and Regulation of T Follicular Helper Cells.
Journal of Experimental Medicine. 2012. Garvan Institute of Medical Research
: Australia
Murphy K and Weaver C. Janeway’s Immunobiology. 9th edition. 2017. Garland
Science/Taylor & Francis Group : United States of Amerika
Notarangelo L.D. and Hayward A.R. X-linked immunodeficiency with hyper-IgM
(XHIM). Clin Exp Immunol. 2000;120:399–405.
Owen J.A, Punt J, Stranford S.A. and Jones P.P. 2013. Kuby Immunology, 7th ed.
New York: Freeman and Company.
Qiao G, et al. Negative regulation of CD40- mediated B cell responses by E3
ubiquitin ligase Casitas-B-lineage lymphoma protein-B. J Immunol 2007 ;
179:4473–4479.
Quezada S.A, et al. CD40/CD154 inter- actions at the interface of tolerance and
immunity. Annu Rev Immunol. 2004 ; 22:307–328.
Roitt et al. Roitt’s Essential Immunology. Thirteenth edition. 2017. Wiley
Blackwell : UK
Roitt I.M, Delves P.J, Martin S.J, and Burton, D.R. 2017. Rott’s Essential
Immunology, 13th Ed. Blackwell Science Ltd, Osney Mead Oxford OX2 OEL.
Rowland S.L, Tremblay M.M, Ellison J.M, Stunz L.L, Bishop G.A, Hostager B.S.
A novel mechanism for TNFR-associated factor 6- dependent CD40 signaling.
J Immunol. 2007 ; 179:4645–4653.
Schonbeck U and Libby P. The CD40/CD154 receptor/ligand dyad. Review. 2001.
CMLS Cellular and Molecular Life Science : USA,
Snanoudj R, Frangié C, Deroure B, François H. The blockade of T-cell co-
stimulation as a therapeutic stratagem for immunosuppression: Focus on
belatacept. Biologics: Targets & Therapy. 2007 ; 1(3) 203–213
Subowo. 2014. Imunobiologi. Bandung: Sagung Seto.
Tang WJ et al. Clinical, molecular, and T cell subset analyses in a small cohort of
Chinese patients with hyper-IgM syndrome type 1. Journal of Human
Immunology 75. 2014. Elsevier : Amerika
48

Torabizadeh M et al. X-linked hyper-IgM syndrome associated with pulmonary


manifestations: A very rare case of functional mutation in CD40L gene in Iran.
Current Research in Translational Medicine. 2018. Elsevier : Amerika

Tsai HY et al. X-linked hyper-IgM syndrome with CD40LG mutation: Two case
reports and literature review in Taiwanese patients. Journal of Microbiology,
Immunology and Infection. 2015. Elsevier : Amerika
Xie P, Hostager B.S, Munroe M.E, Moore C.R and Bishop G.A. Cooperation
between TNF receptor-associated factors 1 and 2 in CD40 signaling. J
Immunol. 2006 ; 176: 5388–5400.

Daftar Singkatan ;

AID : Activation-Induced Deaminase;


APRIL : A Proliferation Inducing Ligand
BAFF : B cell Activating Factor
Bcl-6 : B-Cell Lymphoma – 6
BSAP : Transcription Factor B cell-Specific Activator Protein
cFLIP : cellular FLICE – Like Inhibitory Protein
cIAP : Cellular Inhibitor Apoptosis
EOL-3 : Eosinophilic Leukemia Cell Line - 3
fMLP : Formylmethionyl – Leucyl - Phenylalanine
ICOS : Inducible Co-Stimulator
MAPK : Mitogen Activated Protein Kinase
NFAT : Nuclear Factor of Activated T-cells
NIK : NFkB-inducing kinase
PD-1 : Programmed Cell Death Protein - 1
PI3K : Phospoinositide 3 Kinase
PLCγ : Phospholipase Cγ
PMA : Phorbol 12 – Myristate 13 - Acetate
SLAM : Signaling Lymphocytic Activation Molecule
STAT-3 : Signal Transducer and Activator of Transcription - 3
STAT-6 : Signal Transducer and Activator of Transcription - 6
TRAF : TNF Receptor Associated Factor
UNG : Uracil-DNA glycosylase;