Anda di halaman 1dari 17

REFERAT

PERDARAHAN UTERUS ABNORMAL

PEMBIMBING :

dr. Johanes Taolin,SpOG

DISUSUN OLEH :

Vebio Romatua Pangidoan


1361050081

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU KANDUNGAN DAN KEBIDANAN
Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong
Periode 25 Febuari 2019 - 4 Mei 2019
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
Jl. Mayjen Sutoyo No.2,Cawang-Kota Jakarta Timur

1
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...…………………………………………………………………..2

BAB I PENDAHULUAN .…………………………………………………….3


1.1 Latar Belakang ……………………………………………………….3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………….5

2.1 Definsi ………………...…………………………………………………5


2.2 Epidemiologi ………..…………………………………………………… 6
2.3 Klasifikasi ……………...………………………..…………………………6
2.4 Etiologi …………………………….………………………………..…… 8
2.5 Patofisiologi ………….……………………………………………...…… 10
2.6 Manifestasi klinis …….. ………………………………………………… 12
2.7 Diagnosis……………… ………………………….………………………13
2.8 Tatalaksana………………………………………………………..……… 15

BAB III KWSIMPULAN……………………………………………………...17

BAB I

2
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Gangguan perdarahan uterus abnormal merupakan suatu penyakit, dimana


salah satunya adalah Disfungsional Uterine Bleeding. Disfungsional uterine
bleeding merupakan suatu perdarahan dari uterus yang tidak ada hubungannya
dengan sebab organik, dimana terjadi perdarahan abnormal di dalam atau diluar
siklus haid oleh karena gangguan mekanisme kerja poros hipotalamus-hipofisis-
ovarium-endometrium. Perdarahan disfungsional dapat terjadi pada setiap umur
antara menarche dan menopause. Tetapi, kelainan ini lebih sering dijumpai sewaktu
masa permulaan dan masa akhir fungsi ovarium. Klasifikasi jenis endometrium
yaitu jenis sekresi atau nonsekresi sangat penting dalam hal menentukan apakah
perdarahan yang terjadi jenis ovulatoar atau anovulatoar.1

Adapun gambaran terjadinya perdarahan uterus disfungsional antara lain


perdarahan sering terjadi setiap waktu dalam siklus haid. Perdarahan dapat bersifat
sedikit-sedikit, terus-menerus atau banyak dan berulang-ulang dan biasanya tidak
teratur. Penyebab perdarahan uterus disfungsional sulit diketahui dengan pasti tapi
biasanya dijumpai pada sindroma polikistik ovarii, obesitas, imaturitas dari poros
hipotalamik-hipofisis-ovarium, misalnya pada masa menarche, serta ganguan stres
bisa mengakibatkan manifestasi penyakit ini.2

Diagnosis perdarahan uterus disfungsional memerlukan suatu anamnesis yang


cermat. Karena dari anamnesis yang teliti tentang bagaimana mulainya perdarahan,
apakah didahului oleh siklus yang pendek atau oleh oligomenorea/amenorea, sifat
perdarahan, lama perdarahan, dan sebagainya. Selain itu perlu juga latar belakang
keluarga serta latar belakang emosionalnya. Pada pemeriksaan umum perlu
diperhatikan tanda – tanda yang menunjukkan ke arah kemungkinan penyakit
metabolik, penyakit endokrin, penyakit menahun dan lain – lain. Pada pemeriksaan
ginekologik perlu dilihat apakah tidak ada kelainan – kelainan organik yang
menyebabkan perdarahan abnormal ( polip, ulkus, tumor, kehamilan terganggu ).
Pada seorang perempuan yang belum menikah biasanya tidak dilakukan kuretase
tapi wanita yang sudah menikah sebaiknya dilakukan kuretase untuk menegakkan

3
diagnosis. Pada pemeriksaan histopatologi biasanya didapatkan endometrium yang
hiperplasia. 2

Penanganan atau penatalaksanaan perdarahan uterus disfungsional sangat


komplek, jadi sebelum memulai terapi harus disingkirkan kemungkinan kelainan
organik. Adapun tujuan penatalaksaan perdarahan uterus disfungsional adalah
menghentikan perdarahan serta memperbaiki keadaan umum penderita. Terapi yang
dapat diberikan antara lain kuretase pada panderita yang sudah menikah, tetapi pada
penderita yang belum menikah biasanya diberikan terapi secara hormonal yaitu
dengan pemberian estrogen, progesteron, maupun pil kombinasi. Adapun tujuan
pemberian hormonal progesteron adalah untuk memberikan keseimbangan
pengaruh pemberian estrogen. Dan pemberian pil kombinasi bertujuan merubah
endometrium menjadi reaksi pseudodesidual.2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Definisi
Perdarahan uterus abnormal merupakan perdarahan yang ditandai dengan adanya
perubahan pada siklus menstruasi normal baik dari interval atau panjang siklus, durasi
maupun jumlah perdarahan.1 Siklus menstruasi yang normal biasanya memiliki interval atau

4
panjang selama 28±7 hari, durasi selama 4±3 hari, dan jumlah perdarahan sebanyak 30 - 80
ml.3
Terdapat beberapa terminologi yang menunjukkan adanya perubahan tersebut seperti
menoragia yaitu durasi menstruasi yang lebih lama dari tujuh hari atau jumlah perdarahan
lebih dari 80 ml, metroragia yaitu perdarahan intermenstrual, menometroragia yaitu gabungan
antara menoragia dan metroragia, hipomenore yaitu perdarahan dengan durasi yang lebih
pendek atau jumlah perdarahan yang lebih sedikit dari menstruasi normal, oligomenore yaitu
siklus menstruasi dengan interval lebih lama dari 35 hari.4
Perdarahan uterus abnormal dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu perdarahan
anovulasi dan ovulasi. Perdarahan anovulasi mempunyai karakteristik perdarahan yang
iregular dengan jumlah perdarahan yang bervariasi dari sedikit hingga banyak. Yang
termasuk dalam perdarahan anovulasi diantaranya amenorea (tidak terjadinya menstruasi
selama lebih dari tiga bulan), oligomenore, metroragia, dan perdarahan uterus disfungsi
(perdarahan uterus abnormal yang terjadi tanpa adanya keadaan patologi pada panggul).
Perdarahan ovulasi mempunyai karakteristik perdarahan yang regular tetapi dengan durasi
yang lebih lama dan jumlah perdarahan yang lebih banyak. Yang termasuk perdarahan
ovulasi yaitu menoragi.5
Menstrual Disorders Working Group of the International Federation of Gynecology
and Obstetrics membagi parameter klinis menstruasi pada usia reproduksi berdasarkan dari
frekuensi menstruasi, keteraturan siklus dalam 12 bulan, durasi menstruasi, dan volume darah
menstruasi. Berikut parameter klinis menstruasi:6

Tabel 1. Parameter klinis menstruasi6

Parameter Menstruasi Definisi Klinis Batasan (persentil ke-5-95)


Frekuensi menstruasi (hari) Sering < 24
Normal 24 – 38
Jarang > 38
Keteraturan siklus dalam 12 Absen Tidak ada perdarahan
bulan (hari)
Reguler 2 – 20
Ireguler > 20
Durasi (hari) Memanjang >8
Normal 4,5 – 8

5
Memendek < 4,5
Volume darah (ml) Banyak > 80
Normal 5 – 80
Sedikit <5

2. 2 Epidemiologi
Perdarahan uterus abnormal merupakan keluhan yang sering dijumpai pada wanita
pada usia reproduksi.1 Menurut penelitian Lee et al., keluhan ini banyak terjadi pada masa
awal terjadinya menstruasi. Sebanyak 75% wanita pada tahap remaja akhir memiliki
gangguan yang terkait dengan menstruasi. Penelitian yang dilakukan Bieniasz J et al. pada
remaja wanita menunjukan prevalensi amenorea primer sebanyak 5,3%, amenorea sekunder
18,4%, oligomenorea 50%, polimenorea 10,5%, dan gangguan campuran sebanyak 15,8%.8
Berdasarkan data yang didapatkan di beberapa negara industri, sebanyak seperempat
penduduk perempuan pernah mengalami menoragia, 21% mengeluh siklus menstruasi yang
memendek, 17% mengalami perdarahan intermenstrual, dan 6% mengalami perdarahan
pascakoitus.2
2. 3 Klasifikasi perdarahan uterus abnormal berdasarkan jenis pendarahan
a. Pendarahan uterus abnormal akut didefinisikan sebagai pendarahan haid
yang banyak sehingga perlu dilakukan penanganan segera untuk mencegah
kehilangan darah. Pendarahan uterus abnormal akut dapat terjadi pada kondisi
PUA kronik atau tanpa riwayat sebelumnya.
b. Perdarahan uterus abnormal kronik merupakan terminologi untuk
pendarahan uterus abnormal yang telah terjadi lebih dari 3 bulan. Kondisi ini
biasanya tidak memerlukan penanganan yang segera seperti PUA akut.
c. Perdarahan tengah (intermenstrual bleeding) merupakan pendarahan haid
yang terjadi diantara 2 siklus haid yang teratur. Pendarahan dapat terjadi kapan
saja atau dapat juga terjadi di waktu yang sama setiap siklus. Istilah ini
ditujukan untuk menggantikan terminologi metroragia.

Pola pendarahan secara umum pada penggunaan kontrasepsi dapat terkait dengan
jumlah, lama maupun keteraturan dari pendarahan. Kelainan pendarahannya dapat berupa
pendarahan ringan, jarang dan kadang pendarahan lama. Berdasarkan pola pendarahan
yang ditemukan seringkali kelainan tersebut tidak akan menyebabkan anemia defisiensi
besi.11 Pola pendarahan yang penting secara klinik pada perempuan usia 15 - 44 tahun dapat
dilihat pada tabel
Tabel 2. Pola pendarahan yang penting secara klinik pada perempuan usia 15 - 44
tahun

6
Scheduled bleeding Menstruasi atau pendarahan regular pada
penggunaan kontrasepsi hormonal kombinasi
(menggunakan pembalut)
Unscheduled bleeding Pendarahan di luar siklus haid

- Frequent bleeding Pendarahan lebih dari lima episode

- Prolonged bleeding Satu atau lebih episode pendarahan yang


berlangsung selama 14 hari atau lebih

- Irregular bleeding Pendarahan yang terjadi antara 3 dan 5


episode dengan kurang dari 3 hari bleeding
free interval berlangsung selama 14 hari atau
lebih
- Pendarahan sela (Breakthrough bleeding) Pendarahan di luar siklus haid (unscheduled
bleeding) pada perempuan yang
menggunakan kontrasepsi hormonal
Pendarahan bercak (spotting) Pendarahan yang tidak memerlukan pembalut

a. Episode Pendarahan yang digunakan untuk menggambarkan pola pendarahan dari


waktu ke waktu, dimulai pada hari pertama menggunakan metode kontrasepsi dan
berlangsung setidaknya 90 hari.
b. Definisi pendarahan bercak (spotting) dan pendarahan sela (breakthrough bleeding)
yang digunakan pada pedoman ini.

2. 4 Etiologi
Penyebab terjadinya perdarahan uterus abnormal akut maupun kronis merupakan
multifaktorial. Menstrual Disorders Working Group of the International Federation of
Gynecology and Obstetrics menyatakan sistem klasifikasi dan terminologi standarisasi untuk
etiologi pada gejala perdarahan uterus abnormal. Klasifikasi utama PUA berdasarkan FIGO .
Sistem klasifikasi ini telah disetujui oleh dewan eksekutif FIGO sebagai sistem klasifikasi
PUA berdasarkan FIGO. Terdapat 9 kategori utama yang disusun berdasarkan akronim
“PALM-COEIN” 13.

7
Kelompok “PALM” adalah merupakan kelompok kelainan struktur penyebab PUA
yang dapat dinilai dengan berbagai teknik pencitraan dan atau pemeriksaan histopatologi.
Kelompok “COEIN” adalah merupakan kelompok kelainan non struktur penyebab PUA yang
tidak dapat dinilai dengan teknik pencitraan atau histopatologi. PUA terkait dengan
penggunaan hormon steroid seks eksogen, AKDR, atau agen sistemik atau lokal lainnya
diklasifikasikan sebagai “iatrogenik”.
Keterangan:

A. Polip (PUA-P) Polip adalah pertumbuhan endometrium berlebih yang bersifat


lokal mungkin tunggal atau ganda, berukuran mulai dari beberapa milimeter sampai
sentimeter. Polip endometrium terdiri dari kelenjar, stroma, dan pembuluh darah
endometrium.14
B. Adenomiosis (PUA-A) Merupakan invasi endometrium ke dalam lapisan
miometrium, menyebabkan uterus membesar, difus, dan secara mikroskopik tampak sebagai
endometrium ektopik, non neoplastik, kelenjar endometrium, dan stroma yang dikelilingi
oleh jaringan miometrium yang mengalami hipertrofi dan hiperplasia.13,15
C. Leiomioma uteri (PUA-L) Leiomioma adalah tumor jinak fibromuscular pada
permukaan myometrium.13 Berdasarkan lokasinya, leiomioma dibagi menjadi: submukosum,
intramural, subserosum.13
D. Malignancy and hyperplasia (PUA-M) Hiperplasia endometrium adalah
pertumbuhan abnormal berlebihan dari kelenjar endometrium. Gambaran dari hiperplasi

8
endometrium dapat dikategorikan sebagai: hiperplasi endometrium simpleks non atipik dan
atipik, dan hiperplasia endometrium kompleks non atipik dan atipik.16, 17
E. Coagulopathy (PUA-C) Terminologi koagulopati digunakan untuk merujuk
kelainan hemostasis sistemik yang mengakibatkan PUA.13
F. Ovulatory dysfunction (PUA-O) Kegagalan terjadinya ovulasi yang menyebabkan
ketidakseimbangan hormonal yang dapat menyebabkan terjadinya pendarahan uterus
abnormal.13
G. Endometrial (PUA-E) Pendarahan uterus abnormal yang terjadi pada perempuan
dengan siklus haid teratur akibat gangguan hemostasis lokal endometrium.13
H. Iatrogenik (PUA-I) Pendarahan uterus abnormal yang berhubungan dengan
penggunaan obat-obatan hormonal (estrogen, progestin) ataupun non hormonal (obat-obat
antikoagulan) atau AKDR.13
I. Not yet classified (PUA-N) Kategori ini dibuat untuk penyebab lain yang jarang
atau sulit dimasukkan dalam klasifikasi (misalnya adalah endometritis kronik atau
malformasi arteri-vena).13
Tabel 3. Penyebab perdarahan iregular berkaitan dengan usia dan usia reproduktif10
Kelompok usia
15-20 20-30 30-45 45-55 55+
STI: Servisitis (terutama Hormon replacing therapy
Kanker endometrium
Chlamydia)
Ektropion servikal
Polip endometrium
Endometrium hiperplasia
Uterine fibroid
Alat kontrasepsi dalam rahim
Hamil dan komplikasinya: keguguran/ hamil ektopik
Kontrasepsi steroid (terutama progesteron)
Endometriosis
Trauma / operasi

2. 5 Patofisiologi
Endometrium terdiri dari dua lapisan yang berbeda yaitu lapisan fungsionalis dan
lapisan basalis Lapisan basalis terletak di bawah lapisan fungsionalis, berkontak langsung
dengan miometrium, dan kurang responsif terhadap hormon. Lapisan basalis berfungsi
sebagai reservoir untuk regenerasi pada saat menstruasi sedangkan lapisan fungsionalis
mengalami perubahan sepanjang siklus menstruasi dan akhirnya terlepas saat menstruasi.
Secara histologis, lapisan fungsionalis memiliki epitel permukaan yang mendasari pleksus
kapiler subepitel.
Uterus divaskularisasi oleh dua arteri uterina. Di lateral bawah uterus, arteri uterina
pecah menjadi dua cabang yaitu arteri vaginalis yang mengarah ke bawah dan cabang

9
asenden yang mengarah ke atas. Cabang asenden dari kedua sisi uterus membentuk dua arteri
arkuata yang berjalan sejajar dengan kavum uteri. Kedua arteri arkuata tersebut membentuk
anastomose satu sama lain, membentuk cincin yang melingkari kavum uteri. Arteri radialis
merupakan cabang kecil arteri arkuata yang berjalan meninggalkan arteri arkuata secara tegak
lurus menuju kavum uteri. Arteri radialis memiliki fungsi untuk memperdarahi miometrium
lalu pada saat memasuki lapisan endometrium, arteri radialis memberi cabang arteri yang
lebih kecil ke arah lateral yaitu arteri basalis. Arteri basalis memiliki fungsi untuk
memperdarahi lapisan basalis endometrium dan tidak sensitif terhadap stimulus hormon.
Arteri radialis kemudian memasuki lapisan fungsionalis endometrium dan menjadi arteri
spiralis. Arteri spiralis sangat peka terhadap stimulus hormon dan bertugas untuk
memperdarahi lapisan fungsionalis endometrium.
Sebelum terjadinya menstruasi, pada arteri ini terjadi peningkatan statis aliran darah,
kemudian terjadi vasodilatasi dan perdarahan dari arteri spiralis dan dinding kapiler. Maka
dari itu darah menstruasi akan hilang melalui pembuluh darah tersebut. Hal ini diikuti dengan
terjadinya vasokonstriksi yang menyebabkan iskemi dan nekrosis endometrium. Jaringan
nekrotik tersebut lalu luruh saat menstruasi.2, 4, 11
Perdarahan uterus disfungsional anovulasi merupakan pendarahan tidak teratur yang
berkepanjangan dan berlebihan disebabkan oleh terganggunya fungsi aksis hipotalamus-
hipofisis-ovarium. Hal ini sering terjadi pada wanita dalam usia ekstrim, yaitu pada masa
perimenarchal dan perimenopausal. Pada masa tersebut terjadi perubahan siklus antara
ovulasi dan anovulasi sehingga mengakibatkan keketidakteraturan pola menstruasi serta
kehilangan darah dalam jumlah yang banyak. Mekanisme anovulasi tidak diketahui secara
pasti, tetapi diketahui bahwa estrogen dapat menyebabkan proliferasi endometrium
berlebihan dan hiperplasia dengan peningkatan dan melebar pembuluh darah dan supresi
arteri spiralis. Pembuluh darah superfisial pada permukaan endometrium yang hiperplasia
menjadi besar, berdinding tipis, dan melengkung. Perubahan tersebut yang menjadi sumber
terjadinya peningkatan kehilangan darah. Paparan estrogen secara terus menerus memiliki
efek langsung terhadap pasokan darah uterus dengan mengurangi tonus pembuluh darah.
Efek tidak langsung dari estrogen melalui penghambatan terlepasnya vasopresin yang
menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan aliran darah. Estrogen juga merangsang ekspresi
VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor) stroma yang dapat menyebabkan terganggunya
angiogenesis.12
Perdarahan uterus disfungsional ovulasi ditandai dengan episode reguler kehilangan
menstruasi berat, dengan 90% dari kerugian pada 3 hari pertama seperti pada menstruasi
normal. Tidak ada gangguan aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium dan gonadotropin dan
10
profil steroid tidak berbeda dengan yang terlihat pada siklus menstruasi normal. Penurunan
kadar estrogen dan progesteron pada akhir fase luteal memicu banyak proses yang mengarah
terjadinya disintegrasi diikuti epitelisasi kembali lapisan fungsional endometrium selama
menstruasi. Defek utama terdapat dalam mengontrol proses volume darah yang hilang selama
menstruasi, terutama proses vasokonstriksi dan hemostasis. Perubahan fase folikular aliran
darah endometrium pada wanita dengan perdarahan uterus disfungsional ovulasi
mempengaruhi gangguan fungsi yang terjadi dalam jaringan. Jumlah estrogen di kelenjar dan
stroma serta reseptor progesteron di endometrium dapat meningkat saat fase sekresi akhir
pada wanita yang menderita perdarahan uterus disfungsional. Salah satu faktor yang berperan
dalam membatasi kehilangan banyak darah selama menstruasi yaitu prostaglandin.
Pelepasaan prostaglandin (PG) di endometrium dipengaruhi oleh kadar steroid yang
bersirkulasi. PGF2α merupakan salah satu substansi poten untuk mencegah agregrasi platelet
dan formasi plak hemostatik. Peningkatan reseptor PGE2 dan PGI2 menjadi faktor
predisposisi terjadinya vasodilatasi pada wanita dengan menoragia. Peningkatan sintesis
PGI2 menjadi prekursor dalam perdarahan uterus disfungsional ovulasi. Pengobatan
antiprostaglandin efektif dalam pengobatan perdarahan uterus disfungsional dengan
mengurangi sintesis PG di endometrium dan disertai penghambatan menempelnya PGE pada
reseptornya.12

2. 6 Manifestasi klinis
Manifestasi klinis yang terjadi pada perdarahan uterus abnormal adalah sebagai
berikut:4
 Menoragia dan metroragia
Adanya perubahan pola dalam siklus menstruasi berupa interval yang normal
teratur tetapi jumlah darah dan durasinya lebih dari normal merupakan menoragia.
Interval yang tidak teratur dengan jumlah perdarahan dan durasi yang lebih dari
normal merupakan metroragia. Banyak gangguan yang bersifat patologis yang
menyebabkan menoragia, metroragia ataupun keduanya (menometroragia).
 Perdarahan pascakoitus
Perdarahan pascakoitus merupakan perdarahan yang paling umum dijumpai
pada wanita berusia 20 - 40 tahun serta pada mereka yang multipara. Lesi yang
dijumpai pada perdarahan pascakoitus biasanya jinak. Berdasarkan observasi yang
dilakukan pada 248 wanita dengan perdarahan pascakoitus didapatkan bahwa
seperempat dari kasus tersebut disebabkan oleh eversi serviks. Penyebab lain yang
dapat mendasari diantaranya polip endoserviks, servisitis, dan polip endometrium.
Pada servisitis, penyebab yang paling sering adalah infeksi Chlamydia trachomatis.

11
Menurut penelitian Bax et al., risiko relatif infeksi klamidia pada wanita dengan
pendarahan pascakoitus adalah 2,6 kali lebih tinggi daripada kelompok kontrol tanpa
perdarahan.
Pada beberapa wanita, perdarahan pascakoitus dapat berasal dari neoplasia
serviks atau saluran kelamin. Pada neoplasia intraepitel serviks dan kanker yang
invasif, epitel menjadi tipis dan rapuh sehingga mudah lepas dari serviks. Pada wanita
dengan perdarahan pascakoitus, neoplasia intraepitel seviks ditemukan sebanyak 7 –
10%, kanker yang invasif sebanyak 5%, dan kanker endometrium sebanyak kurang
dari 1%.
Dalam studi lain, Jha dan Sabharwal melaporkan bahwa sejumlah perempuan
dengan perdarahan pascakoitus memiliki lesi patologis yang diidentifikasi dengan
kolposkopi. Sebagian besar wanita dengan perdarahan yang tidak dapat dijelaskan
pascakoitus harus menjalani pemeriksaan kolposkopi jika sumber perdarahan belum
dapat diidentifikasi.
 Nyeri pelvis
Adanya kram yang menyertai perdarahan diakibatkan dari peran
prostaglandin. Dismenore yang terjadi bersamaan dengan perdarahan uterus abnormal
dapat disebabkan oleh polip, leiomioma, adenomiosis, infeksi, dan komplikasi
kehamilan.
Nyeri yang dirasakan saat berhubungan seksual dan nyeri nonsiklik jarang
dirasakan pada wanita dengan perdarahan uterus abnormal. Jika nyeri ini dirasakan,
maka penyebabnya adalah kelainan dari struktural atau infeksi. Lippman et al.,
melaporkan peningkatan tingkat dispareunia dan nyeri panggul nonsiklik pada wanita
dengan leiomioma uterus. Sammour et al., menyatakan adanya korelasi nyeri panggul
yang meningkat seiring dengan adanya invasi miometrium dengan adenomiosis.

2. 7 Diagnosis
A. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Pada sifat perdarahan ditanyakan apakah pasien mengalami perdarahan setelah
berhubungan seksual atau perdarahan terjadi secara tiba-tiba. Waktu terjadinya
perdarahan ditanyakan apakah perdarahan terjadi saat sedang menstruasi dalam
bentuk perdarahan berlebih atau perdarahan terjadi diantara siklus haid atau saat
pasien sudah menopause. Kehamilan adalah salah satu konsiderasi utama pada wanita
usia subur yang mengalami perdarahan uterus abnormal.13 Beberapa hal yang dapat
menyebabkan perdarahan adalah abortus, plasenta previa, kehamilan ektopik, dan
lain-lain. Pada riwayat konsumsi obat ditanyakan apakah pasien sedang menggunakan
obat-obatan yang mengganggu sistem hormon seperti penggunaan KB hormonal,
12
tamoxifen atau obat-obat yang mengganggu proses pembekuan darah. Riwayat
penyakit keluarga dan riwayat penyakit sistemik dari pasien juga perlu ditelusuri
untuk mencari penyakit yang dapat berperan dalam terjadinya perdarahan uterus
abnormal seperti defisiensi faktor pembekuan darah, diabetes mellitus, gangguan
tiroid, dan lain-lain. Keganasan pada genitalia juga dapat memicu terjadinya
perdarahan uterus abnormal.
Setelah melakukan anamnesis maka pemeriksaan fisik dilakukan untuk
mencari tanda dari penyebab perdarahan uterus abnormal.

Pemeriksaan fisik untuk menilai stabilitas keadaan hemodinamik

Memastikan bahwa perdarahan berasal dari kanalis servikalis dan tidak
berhubungan dengan kehamilan

Pemeriksaan Indeks Massa Tubuh (IMT), tanda hiperandrogen,
pembesaran kelenjar tiroid atau manifestasi hipotiroid / hipertiroid,
galaktorea (hiperprolaktinemia) gangguan lapang pandang (adenoma
hipofisis), purpura dan ekimosis wajib diperiksa.7
Pemeriksaan ginekologi perlu dilakukan termasuk pemeriksaan pap smear dan
harus disingkirkan kemungkinan adanya mioma uteri, polip, hiperplasia endometrium
atau keganasan.13
B. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mencari penyebab dari perdarahan
uterus abnormal. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah darah lengkap
serta faktor pembekuan darah untuk menilai adanya gangguan koagulasi, kadar TSH
untuk menilai adanya gangguan tiroid, kadar β-hCG untuk pemeriksaan kehamilan,
kadar estrogen, FSH, prolaktin juga perlu diperiksa untuk menentukan apakah
perdarahan uterus abnormal berasal dari gangguan hormonal.14
Pencitraan pada umumnya menggunakan ultrasonography (USG) transvaginal
untuk melihat adanya kelainan struktural pada organ genitalia atau untuk mencari
adanya tumor atau anomali lainnya yang dapat menyebabkan perdarahan uterus
abnormal yang dialami oleh pasien.
Biopsi jaringan endometrium dilakukan apabila pasien berusia diatas 35 tahun
atau berusia dibawah 35 tahun tetapi dengan faktor risiko karsinoma endometrium
yaitu:

Siklus anovulasi kronis

Obesitas

Nulipara

Diabetes mellitus

Penggunaan tamoxifen13

2.6 Tatalaksana
13
Tujuan dari terapi pada perdarahan uterus abnormal adalah menyembuhkan
penyebab kelainan yang menyebabkan perdarahan tersebut. Berdasarkan algoritma
yang ada pertama harus dibedakan terlebih dahulu perdarahan termasuk anovulasi
atau ovulasi.
Pada tipe anovulasi, setelah mengevaluasi derajat risiko terjadinya karsinoma
endometrium dan menentukan perlu tidaknya dilakukan biopsi endometrium maka
terapi dapat dimulai. Apabila wanita tersebut tidak memiliki faktor risiko karsinoma
endometrium dan masih berusia dibawah 35 tahun maka akan diberikan obat
kontrasepsi oral kombinasi berupa ethinyl estradiol atau medroxyprogesterone asetat
selama 10-14 hari per bulan. Bila keluhan berlanjut maka lakukan biopsi
endometrium serta transvaginal USG untuk mencari penyebab perdarahan tersebut.
Apabila wanita tersebut memiliki faktor risiko karsinoma endometrium atau
berusia lebih dari 35 tahun maka lakukan biopsi endometrium. Hasil biopsi akan
menentukan tatalaksana yang diberikan, hasil biopsi yang normal akan mendapatkan
terapi yang telah disebutkan diatas. Sedangkan hasil biopsi berupa hiperplasia tanpa
atypia akan mendapatkan medrodyprogesterone asetat 10 mg selama 14 hari per
bulan atau megesterol 40 mg per hari atau dapat juga dipasang Alat Kontrasepsi
Dalam Rahim (AKDR) dengan levonogestrel (mirena), setelah 3-6 bulan ulangi
biopsi endometrium, apabila hasil masih menunjukan hiperplasia maka pasien dapat
dirujuk ke ginekologis yang lebih berpengalaman. Untuk hasil biopsi hiperplasia
dengan atipia sebaiknya pasien dirujuk langsung ke ginekologis, sedangkan untuk
hasil biopsi adenokarsinoma dianjurkan pasien dirujuk ke ginekologis onkolog.
Pada wanita dengan tipe perdarahan ovulasi dievaluasi terlebih dahulu apakah
perdarahan disebabkan oleh kelainan sistemis, kelainan anatomis dengan
menggunakan pemeriksaan lab dan pencitraan berupa USG transvaginal, bila
terdapat kecurigaan akan adanya massa maka dapat dilakukan juga biopsi jaringan
endometrium. Apabila tidak ditemukan kelainan anatomis dan gambaran USG
memberikan hasil yang normal maka pasien dapat diberikan 10 mg
medroxyprogesteron asetat selama 21 hari per bulan selama 3-6 bulan atau AKDR
mirena atau digunakan NSAID pada hari pertama haid sampai haid berakhir atau
dapat juga diberikan asam tranexamat sebanyak 2 kapsul 650 mg 3 kali sehari pada
hari ke 1 sampai ke 5 saat haid. Bila perdarahan masih berlanjut setelah pemberian
terapi selama 3-6 bulan maka dapat dipertimbangkan untuk dilakukan evaluasi ulang
dengan biopsi endometrium, histeroskopi atau dilakukan tindakan ablasi
endometrium, histerektomi.13
14
BAB III
KESIMPULAN

Perdarahan uterus abnormal didefinisikan sebagai perdarahan yang ditandai


dengan adanya perubahan pada siklus menstruasi normal baik dari interval atau
panjang siklus, durasi maupun jumlah perdarahan.
Perdarahan uterus abnormal dapat diklasifikasikan sebagai perdarahan
anovulasi dan ovulasi. Klasifikasi ini penting untuk memberikan petunjuk mengenai
etiologi dari perdarahan tersebut dan untuk menentukan terapi yang akan diberikan.
Diagnosa dari perdarahan uterus abnormal dilakukan dengan anamnesa,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang untuk menemukan penyebab dari
perdarahan tersebut. Perlu ditanyakan sifat perdarahan, waktu perdarahan, penyakit
sistemik yang sedang diderita dan riwayat pengobatan. Pemeriksaan fisik dilakukan
sesuai dengan arah kecurigaan yang dilakukan dari anamnesis sambil mencari tanda-
tanda dari penyakit sistemik atau kelainan yang menyebabkan perdarahan tersebut.
Pemeriksaan penunjang yang digunakan adalah pemeriksaan laboratorium darah,
biopsi serta pencitraan berupa USG dan histerosalphingogram.

15
Perdarahan uterus abnormal adalah keluhan yang sering dijumpai pada praktek
sehari-hari pada wanita usia reproduksi maupun menopause, oleh karena itu petugas
layanan primer diharapkan memiliki kemampuan untuk mendiagnosa serta
menangani dan merujuk pasien dengan keluhan semacam ini.

DAFTAR PUSTAKA

1. Singh S et al. Abnormal Uterine Bleeding in Pre-Menopausal Women. Journal of


Obstetrics and Gynaecology Canada. 2013 May;5:1–28.
2. Prawirohardjo S. Ilmu Kandungan. Edisi Ketiga. Jakarta: PT. Bina Pustaka; 2011.
3. Rimsza ME. Dysfunctional Uterine Bleeding. Pediatrics in Review. 2002 Jul;23
(7):227–33.
4. Hoffman BL et al. Williams Gynecology. 2nd ed. United States: The McGraw-Hill
Companies; 2012.
5. Sweet MG, Schmidt TA, Weiss PM, Madsen KP. Evaluation and Management of
Abnormal Uterine Bleeding in Premenopausal Women. 2012 Jan 1;85 (1):35–43.
6. Fraser IS, Critchley HOD, Broder M, Munro MG. The FIGO Recommendations on
Terminologies and Definitions for Normal and Abnormal Uterine Bleeding. Seminars
in Reproductive Medicine. 2011;383–90.
7. Affandi B et al. Konsensus Tatalaksana Pendarahan Uterus Abnormal Karena Efek
Samping Kontrasepsi. Jakarta: HIFERI & POGI.
8. Sianipar O et al. Prevalensi Gangguan Menstruasi dan Faktor-faktor yang
Berhubungan pada Siswi SMU di Kecamatan Pulo Gadung Jakarta Timur. Maj
Kedokt Indon. 2009 Jul;59 (6):308–13.
9. Munro MG, Crihley HO, Broder MS, Fraser IS. FIGO Classification System
[PALM-COEIN] for Causes of Abnormal Uterine Bleeding in Nongravid Women of

16
Reproductive Age. FIGO Working Group on Menstrual Disorders. Int J Gynaecol
Obstet 2011;113:3-13.
10. The Royal Australian & New Zealand College statement C-Gyn6. Guidelines or
Referral for investigation of intermenstrual and Postcoital Bleeding. July 2004.
11. Chittacharoen A, Theppisai U, Linasmita V, Manonai J. Sonohysterography in the
Diagnosis of Abnormal Uterine Bleeding.
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1447-0756.2000.tb01322.x/abstract.24
May 2010. Web.
12. Livingstone M, Fraser IS. Mechanisms of anormal uterine bleeding. Human
Reproductive Update. 2002;8(1): 60-7.
13. Sweet MG, Schmidt-Dalton TA, Weiss PM, Madsen KP. Evaluation and management
of abnormal uterine bleeding in premenopausal women. Am Fam Physician.
2012;85(1):35–43.
14. Dysfunctional Uterine Bleeding Workup: Laboratory Studies, Imaging Studies,
Procedures [Internet]. [cited 2015 Jul 22].
Available from: http://emedicine.medscape.com/article/257007-workup.

17