Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM PERAWATAN INSTRUMENTASI

ANALITIK
SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2018/2019
MODUL : Perawatan Elektroda Konduktivitas dan
Konduktometer
PEMBIMBING : Dra. Mentik Hulupi, MS

Tanggal Praktikum : 24 Mei 2019


Tanggal Penyerahan : 28 Mei 2019

Oleh :
Kelompok : II
Nama : 1. Depi Rapika (171431006)
2. Dila Dilalah (171431007)
3. Elida Amelia (171431008)
4. Elsa Rizki Ramadhani P (171431009)
Kelas : 2A-Analis Kimia

PROGRAM STUDI DIPLOMA III ANALIS KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2019
TUJUAN PERCOBAAN
1. Mahasiswa dapat memperlakukan elektroda konduktivitas dan konduktometer
dengan tepat dan benar.
2. Mahasiswa dapat merawat elektroda konduktivitas agar masa paki lebih lama.
LANDASAN TEORI
Konduktometer adalah instrumen untuk mengukur hambatan rumit
menggunakan tegangan bolak-balik /dua arah (berlawanan dengan pengukuran
hambatan murni dari konduktor logam, cair, bersama-sama dengan sel pengukur,
hambatan dan kapasitas). Tegangan dua arah digunakan pada dua frekuensi minimum
yang sesuai. Keadaan ohmik-syok didapatkan, namun dengan pemilihan frekuensi
pengukuran yang digunakan, tetapan sel dan bahan elektroda. Dengan keadaan ini
konduktivitas listrik dapat ditentukan dari pengukuran hambatan.
Konduktometer adalah alat yang digunakan untuk menentukan daya hantar suatu
larutandan mengukur derajat ionisasi suatu larutan elektrolit dalam air dengan cara
menetapkan hambatan suatu kolom cairan selain itu konduktometer memiliki
kegunaan yang lain yaitu mengukur daya hantar listrik yang diakibatkan oleh gerakan
partikel di dalam sebuah larutan.
Menurut literatur faktor-faktor yang mempengaruhi daya hantar
adalah perubahan suhu dan konsentrasi. Dimana jika semakin besar suhunya maka da
ya hantar pun juga akan semakin besar dan apabila semakin kecil suhu yang digunak
an maka sangat kecil pula daya hantar yang dihasilkan dan begitu dengan sebaliknya
antara konsentrasi dan daya hantar. Oleh sebab itu pengaruh suhu dan konsentrasi
dapat mempengaruhi daya hantar.
Konduktometri merupakan metode analisis kimia berdasarkan daya hantar
listrik suatu larutan. Daya hantar listrik (G) suatu larutan bergantung pada jenis dan
konsentrasi ion di dalam larutan. Daya hantar listrik berhubungan dengan pergerakan
suatu ion di dalam larutan ion yang mudah bergerak mempunyai daya hantar listrik
yang besar.
Teori tentang konduktometri merupakan kebalikan dari teori hokum ohm
tentang hambatan listrik. Berdasarkan dan berangkat dari hokum ohm tersebut, maka
disusunlah teori tentang konduktovitas (daya hantar jenis) yang merupakan kebalikan
dari resistivitas, resistivitas adalah tahanan dari suatu larutan yang diukur pada jarak 1
cm antara elektroda-elektrodanya :
G = 1 / R = k (A/ l )

R =ρl / A

k= 1 / ρ

Keterangan: G : Konduktansi (ohm-1)

I : Panjang material (meter)

k : Konduktovitas (ohm-1cm-1)

ρ: Hambatan jenis atau resistivitas (ohm cm)

Daya hantar listrik (G) merupakan kebalikan dari tahanan (R), sehingga
dayahantar listrik mempunyai satuan ohm-1 . Bila arus listrik dialirkan dalam
suatularutan mempunyai dua elektroda, maka daya hantar listrik (G) berbanding
lurusdengan luas permukaanelektroda (A) dan berbanding terbalik dengan jarak
keduaelektroda (l).
Konduktivitas larutan elektrolit pada temperatur konstan, tergantung pada
jenis ion dan konsentrasinya. Jika larutan semakin encer, maka konduktovitasnya
akan menurun. Ini terjadi karena jumlah ion persatuan luas semakin sedikit.
Akan tetapi, keampuan tiap ion dalam meneruskan muatan akan semakin besar karena
tidak adanya hambatan antar ion pada larutan encer. Karena konsentrasi larutan pada
umumnya dinyatakan dalam satuan molar(mol/liter), Maka pada konduktometri
terdapat istilah konduktovitas molar (Λ), yang mempunyai hubungan dengan
konsentrasi secara:
Λo=ΛoKation+Λoanion

Λo adalah konduktivitas molar ion pada larutan sangat encer (konsentrasi mendekati
nol)
Sel pengukur konduktivitas terdiri dari dua elektroda yang masing-masing
permukaannya bersifat inert. Umumnya digunakan platinum sebagai sebagai bahan
elekrtoda. Elektroda yang halus dan mengkilap digunakan untuk konduktivitas < 20
s/cm, sedangkan untuk konduktivitas sangat tinggi digunakan elektroda yang
diplatinasi (dilapisi oleh platina hitam). Untuk mencegah kesalahan pengukuran
karena perubahan medan listrik, maka pengukuran dilakukan pada volume yang
tertentu. Oleh karena itu pengukur yang dicelup selalu dikelilingi oleh bahan gelas atau
plastik.

Pembersihan Elektroda Konduktivitas


Elektroda yang digunakan untuk mendeteksi konduktivitas suatu cairan
biasanya menjadi terlapisi oleh pengotor. Tingkat pengotoran tersebut bergantung
pada jenis sampel yang diuji/ diukur. Disamping itu juga dipengaruhi oleh apakah
elektroda tersebut dibilas dengan air suling dan disimpan dengan benar setiap setelah
menggunakannya.
Elektroda yang terkontaminasi akan menyebabkan berkurangnya keefektifan
luas permukaan dan elektroda terhadap larutan. hal tersebut menjadikan nilai
konduktivitas yang terbaca pada konduktometer menjadi lebih rendah, kecuali
dilakukan kalibrasi secara rutin. Jika diikuti dengan pengukuran yang benar maka
kualitas peralatan konduktivitas memerlukan pengkalibrasian hanya beberapa kali saja
dalam setahun. Indikator yang digunakan untuk menunjukkan apakah elektroda sudah
bersih adalah pergeseran kurva kalibrasi.

Berikut ini pencucian yang diperbolehkan untuk menjaga tidak tergores atau rusak
pada permukaan yang peka atau permukaan eletroda yang terplatinisasi.
Kontaminan Larutan pencuci Langkah Kerja
Zat yang larut dalam Air bebas ion Rendam atau sikat dengan
air sikat lembut
Dikondisikan kembali dalam
buffer pH 4 atau 7 selama 1
jam
Minyak dan oli Air hangat dan deterjen Rendam atau digosok dengan
cair sikat lembut maksimum 10
menit
Bilas dengan baik
menggunakan air bebas ion
Re-kondisikan dengan buffer
pH 4 atau 7 selama 1 jam
Minyak dan pelumas Alkohol Rendam maksimum 5 menit,
kuat gosok dengan sikat lembut
Bilas secara baik dengan air
bebas ion
Re-kondisikan dengan buffer
pH 4 atau 7 selama 1 jam
Pelapisan kapur dan Asam asetat 10% Rendam hingga pelapisnya
hidroksida terlarut maksimum 5 menit
Bilas secara benar dengan air
bebas ion
Re-kondisikan dengan dapar
pH 4 atau 7 selama 1 jam.
Catatan: perendama tidak diperkenankan melewati batas waktu yang sudah ditentukan.
Karena dapat mengurangi kinerja atau kegagalan pengukuran konduktivitas oleh
elektroda.

Penyiapan Elektroda Konduktivitas

Simpan elektroda dalam air bila tidak digunakan. Jika ada kontaminan tidak
hilang dengan proses pembilasan, maka kontaminan tersebut cenderung menggores/
merusak permukaan elektroda jika dibiarkan kering.
Perawatan sel/elektroda dan kalibrasi pengukur konduktivitas (konduktometer)
Kalibrasi pada konduktometer diperlukan untuk meyakinkan tampilan
pembacaan yang tepat. Untuk itu diperlukan larutan baku untuk kalibrasi yaitu KCl.
Ketergantunagn suhu dan kompensasi suhu
Konduktivitas dari elektrolit sangat bergantung pada suhu karena mobilitas
daru ion-ion dan jumlah molekul yang terdisosiasi sangat berhubungan erat dengan
suhu. Membandingkan nilai pengukur harus mengubah pada suhu yang terdifinisi.
Suhu pembanding umumnya 25°C. Derajat yang menunjukkan pengaruh suhu
terhadap konduktivitas dinyatakan dalam rumus berikut:
Gt = Gtcal (1+(t-tcal))
Dimana:

Gt = konduktivitas pada berbagai suhu t dalam °C

Gtcal = konduktivitas pada suhu kalibrasi tcal dalam °C yaitu 25°C

 = koefisien suhu larutan pada tcal dalam°C

ALAT DAN BAHAN


1. Alat yang Digunakan
 Elektroda konduktivitas  Gelas Kimia 50 mL (5 buah)
 Keonduktometer  Labu Takar 50 mL (5 buah)
 Spatula  Gelas Kimia 250 mL (1 buah)
 Buret 50 mL  Batang Pengaduk
 Gelas kimia 100 mL (1 buah)  Pipet tetes (1 buah)
 Labu takar 250 mL (1 buah)  Hot plate
2. Bahan yang Digunakan
 Padatan KCl
 aquades
 Larutan KCl 0,1000 M

PROSEDUR KERJA

Rendam elektroda Membuat Mengencerkan KCl menjadi


dalam aquades larutan KCl 0,1 0,05 M; 0,06M; 0,07; 0,08M;
±10 Menit M 0,09M

Mengukur konduktivitas larutan KCl 0,05M; mengkalibrasi


0,06M; 0,07M; 0,08M; 0,09M; 0,1M pada suhu konduktometer
ruangan

Mengukur konduktivitas larutan KCl 0,08M pada


suhu ruangan, 30°C, 35°C, 40°C, 45°C, 50°C
KESELAMATAN KERJA
Gunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai dan pahami SOP alat
konduktometer yang digunakan. Pastikan untuk mengkalibrasi alat sebelum
menggunakan dan rendam elektroda dengan aquades sebelum digunakan selama 10
menit. Elektroda harus dibilas setiap hendak dipakai dan hati-hati dalam
menggunakannya. Cuci bersih peralatan gelas yang digunakan dan selalu bekerja
dengan teliti.

DATA PENGAMATAN DAN PENGOLAHAN DATA


A. DATA PENGAMATAN
1. Nilai Konduktivitas KCl pada suhu ruangan (26,4°C)
No Konsentrasi Konduktivitas
KCl (M) (mS/cm)
1 0,05 4,93
2 0,06 5,56
3 0,07 6,70
4 0,08 7,36
5 0,09 8,33
6 0,1 9,45

2. Nilai Konduktivitas KCl 0,08M pada setiap suhu yang berbeda


No Suhu (°C) Konduktiviats
(mS/cm)
1 26,4 7,36
2 30 7,48
3 35 7.74
4 40 7,86
5 45 7,93
6 50 8,03
B. PENGOLAHAN DATA
1. Pembuatan larutan KCl 0,1M
0,1 Mx250x74,5
berat KCl yang harus ditimbang = = 1,8625 gram
1000
2. Pengenceran KCl 0,1 M
a) V₁ × N₁ = V₂ × N₂ V₂ = 35 mL
50 mL × 0.05 M = V₂ × d) V₁ × N₁ = V₂ × N₂
0,1 M 50 mL × 0.08 M = V₂ ×
V₂ = 25 mL 0,1 M
b) V₁ × N₁ = V₂ × N₂ V₂ = 40 mL
50 mL × 0.06 M = V₂ × e) V₁ × N₁ = V₂ × N₂
0,1 M 50 mL × 0.09 M = V₂ ×
V₂ = 30 mL 0,1 M
c) V₁ × N₁ = V₂ × N₂ V₂ = 45 mL
50 mL × 0.07 M = V₂ ×
0,1 M
Nilai tetapan elektroda pada suhu 26.4 ℃
K= (Kterukur/Ktabel) x Kelektroda
K= (11.09/13.226) x 0.79
K= 0.6624

3. Grafik

Kurva Kalibrasi
10
Konduktivitas (mS/cm)

7 y = 90.2x + 0.29
R² = 0.9935
6

4
0.05 0.06 0.07 0.08 0.09 0.1 0.11
Konsentrasi (mol/L)
Kurva Pengaruh Suhu terhadap Konduktivitas
8.2
8.1

Konduktivitas (mS/cm)
8
7.9
7.8
7.7 y = 0.0285x + 6.657
7.6 R² = 0.9494
7.5
7.4
7.3
20 25 30 35 40 45 50 55
Suhu ( ͦC)

PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini bertujuan untuk menentukan apakah elektroda
konduktivitas dengan konduktometer berfungsi dengan baik atau tidak.
Konduktometer sendiri merupakan instrument yang digunakan untuk mengukur
hambatan rumit menggunakan tegangan bolak-balik (dua arah) (berlawanan dengan
pengukuran hambata murni dari konduktor logam, cair, bersama-sama dengan sel
pengukur, hambatan dan kapasitas). Tegangan dua arah digunakan pada dua frekuensi
minimum yang sesuai.
Konduktivitas dari elektroda sangat bergantung pada suhu karena mobilitas
dari ion-ion dan jumlah molekul yang terdisosiasi sangat berhubungan erat dengan
suhu. Semakin tinggi suhu, maka semakin cepat pergerakan ion-ion sehingga daya
hantar listriknya pun semakin besar (nilai konduktivitas semakin besar). Selain itu
konduktivitas dipengaruhi pula oleh jenis larutan. Larutan yang dapat diukur hanyalah
larutan yang dapat mengahantarkan listrik, yaitu larutan elektrolit. Larutan non-
elektrolit tidak dapat menghantarkan listrik sehingga tidak dapat ditentukan nilai
konduktivitasnya. Pengaruh lain adalah konsentrasi larutan yang diukur. Semakin
besar konsentrasi larutannya, semakin banyak pula ion-ion dalam larutan, semakin
besar pula daya hambat listrik yang diberikan, maka semakin tinggi nilai
konduktivitasnya.
Dengan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi konduktivitas dari
elektroda tersebut, maka untuk menentukan apakah suatu elektroda masih bekerja
dengan baik dapat ditentukan dengan pengaruh-pengaruh tersebut, yaitu dengan
melihat pengaruh konsentrasi larutan tertentu yang berbeda pada suhu yang sama dan
pengaruh suhu yang berbeda dengan konsentrasi larutan tertentu dan konsentrasi tetap.
Larutan yang digunakan pada percobaan ini adala larutan KCl. Terlebih dahulu dibuat
KCl 0,1M. kemudian larutan tersebut diencerkan menjadi 0,05M;0,6M;0,08M; dan
0,09M.
Sebelum dilakukan pengukuran, konduktometer dan elektroda harus
dikalibrasi terlebih dahuli menggunakan KCl 0,1000M. Dari kalibrasi ini diperoleh
nilai tetapan elektroda sebesar 0,6624 cm-1. Kalibrasi ini bertujuan untuk
mengkondisikan alat sesuai dengan standar. Setelah itu dilakukan pengukuran larutan
KCl dengan konsentrasi yang berbeda pada suhu yang sama yaitu pada 26,4°C.
Berdasarkan hasil percobaan terlihat adanya kenaikan nilai konduktivitas dengan
meningkatnya konsentrasi, dapat dilihat dari grafik yang telah disajikan sebelumnya.
Kemudian dilanjutkan dengan pengukuran konduktivitas larutan KCl 0,08 M pada
suhu yang berbeda yaitu pada suhu 26,4°C, 30°C, 35°C, 40°C, 45°C, dan 50°C. hasil
percobaan ini pun menunjukkan adanya kenaikan nilai konduktivitas dengan
meningkatnya suhu larutan, dapat juga dilihat dari grafik yang telah disajikan
sebelumnya. Kedua percobaan yang telah dilakukan sesuai dengan teori sehingga
dapat dikatakan bahwa elektroda konduktivitas dan konduktometer yang digunakan
masih bekerja dengan baik.

SIMPULAN
1. Nilai tetapan elektroda hasil kalibrasi sebesar 0,6624 cm-1
2. Semakin tinggi konsentrasi suatu larutan maka semakin besar nilai
konduktivitasnya
3. Semakin tinggi suhu dari suatu larutan maka semakin besar nilai
konduktivitasnya
4. Berdasarkan hasil praktikum didapatkan bahwa elektroda yang digunakan
dalam keadaan baik dan layak digunakan.
DAFTAR PUSTAKA
Khopkar. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Lestari, Listiana Cahya, dkk. TT. Potensiometri dan Konduktometri. Departemen
Kimia Fakultas MIPA: Institut Pertanian Rawaatu
Nofitasari, Amanah Firdausa. 2018. Konduktometri.
http://docplayer.info/68281146-Konduktometri.hmtl// Diakses pada 25 Mei
2019.
Widiastuti, Endang. TT. Modul Praktikum Perawatan Instrumentasi Analitik:
Perawatan Elektroda Konduktivitas dan Konduktometer. Politeknik Negeri
Bandung: Bandung

Anda mungkin juga menyukai