Anda di halaman 1dari 13

“Kerajaan-kerajaan Islam Sebelum

Penjajahan Belanda ”

DISUSUN OLEH :

 KHOIRUN NA’IMAH
 BELLA ANJANI
 RIO SANTOSO

DOSEN PENGAMPU : ROFI’I,S.Pd.I

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM


AS-SHIDDIQIYAH
TAHUN AKADEMIK 2014 /2015
JL. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kec. Lempuing Jaya Kab. OKI
Sum-sel 30657
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas


rahmatNya kami dapat merampungkan makalah ini untuk memenuhi tugas mata
kuliah Sejarah Peradaban Islam.

Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat dalam mengantarkan mahasiswa-


mahasiswi dalam memahami “Kerajaan-kerajaan Islam Sebelum Penjajahan
Belanda ” yang merupakan salah satu indikator/tema dari mata kuliah SPI.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Bapak Rofi’I,S.Pd.I selaku dosen
pengampu mata kuliah Sejarah Peradaban Islam yang telah membimbing kami dalam
mempelajari mata kuliah SPI, dan rekan-rekan yang selalu mengingatkan tugas-tugas
ini dan memberikan ide-ide yang positif untuk kami.

“Tidak ada gading yang tak retak”, dengan segala kerendahan hati, kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca.

Lempuing Jaya, Desember 2014

Penyusun

STAI AS-SHIDDIQIYAH S. PERADABAN ISLAM


ii
DAFTAR ISI

Halaman Depan.........................................................................................................i

Kata Pengantar..........................................................................................................ii

Daftar Isi ....................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang........................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera ........................................ 2


2.2 Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa ................................................ 3
2.3 Kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan, Maluku dan Sulawesi .. 5
2.4 Hubungan Politik dan keagamaan Antara
Kerajaan-Kerajaan Islam ............................................................. 8

BAB III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN ..........................................................................................9

3.2 SARAN ....................................................................................................9

Daftar Pustaka ................................................................................................. 10

STAI AS-SHIDDIQIYAH iii S. PERADABAN ISLAM


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Secara keseluruhan, masuknya Islam di Indonesia di mulai dari daerah


pesisir seperti Pasai, Gresik, Goa, Talo, Cirebon, Banten dan Demak. Ini
terjadi karena terdapat pelabuhan sebagai pusat perdagangan dan interaksi
antar kawasan Realitas ini mencerminkan bahwa masyarakat Islam periode
awal adalah masyarakat kosmopolit. Sebagai masyarakat kosmopolit dengan
budaya kota yang dinamis, tentu saja umat Islam Nusantara telah
berhubungan dengan masyarakat Islam di negara lain.
Sebagaimana Islam di daerah lain, Islam di Jawa juga berangkat dari
pesisir. Namun dalam perkembangannya, dari berangkat dari pesisir ini
kemudian melebat menjadi tradisi pedalaman yang dimulai dari Pajang dan
kemudian ke Mataram. Proses pergeseran dari pesisir menuju ke pedalaman,
yang ditengarai oleh Kuntowijoyo sebagai pergeseran Islam Kosmopolit
menuju Islam agraris dan islam yang mistik, inilah oleh Ricklefs disebut
sebagai idiosyncretics yaitu Islam yang bercampur dengan tradisi pra-Islam.1
Untuk itu pada makalah ini akan sedikit dipaparkan mengenai kerajaan-
kerajaan Islam di Sumatera, di Jawa, di Kalimantan, di Maluku dan di
Sulawesi. Serta akan di paparkan juga mengenai hubungan politik dan
keagamaan antara karajaan-kerajaan slam.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera
2. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa
3. Kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan, Maluku dan Sulawesi
4. Hubungan Politik dan keagamaan Antara Kerajaan-Kerajaan Islam

1 Rasyid Rizani, S.HI., M.HI (Hakim pada Pengadilan Agama Bajawa – NTT). Kerajaan-Kerajaan
Islam di Indonesia Sebelum Masa Penjajahan Belanda.http://konsultasi-hukum-
online.com/2013/06/kerajaan-kerajaan-islam-di-indonesia-sebelum-masa-penjajahan-belanda/#.
12 November 2013. Pukul 19:30 WIB

STAI AS-SHIDDIQIYAH 1 S. PERADABAN ISLAM


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera


A. Samudera Pasai
Kerajaan Samudera Pasai adalah Kerajaan Islam pertama di
Indonesia. Kerajaan ini terletak di pesisir timur laut Aceh. Kemunculannya
pertama kalidiperkirakan abad ke-13 M, sebagai hasil dari proses Islamisasi
daerah-daerah pinggir pantai yang pernah disinggahi para pedagang-pedagang
muslim sejak abad ke-7, ke-8, dan seterusnya. Bukti berdirinya kerajaan ini
adalah dengan adanya nisan kubur yang terbuat dari batu granit asal Samudera
Pasai. Dan nisan itu, dapat diketahui bahwa raja pertama kerajaan itu
meninggal pada bulan Ramadhan tahun 696 H, yang diperkirakan bertepatan
dengan tahun 1297 M.
Malik Al-Shaleh adalah raja pertama kerajaan samudera pasai dan
merupakan pendiri kerajaan itu. Hal ini diketahui melalui tradisi Hikayat Raja-
Raja Pasai, Hikayat Melayu, dan juga hasil penelitian atas berbagai sumber
yang dilakukan sarjana-sarjana Barat, khususnya Belanda, seperti Snouck
Hurgronye, J.P.Molquette, J.L.Moens, J.Hushoff Poll, G.P.Rouffaer,
H.K.J.Cowan, dan lain-lain.
Dari segi politik , munculnya kerajaan samudera pasai pada abad ke- 13
M itu sejalan dengan suramnya peranan kerajaan sriwijaya, yang sebelumya
memegang peranan penting di kawasan Sumatera dan sekelilingnya.2[2]
Dalam kehidupan perekonomiannya, kerajaan maritim ini, tidak
mempunyai basis agraris.Basis perekonomiannya adalah perdagangan dan
pelayaran.Pengawasan terhadap perdagangan dan pelayaran itu merupakan
sendi-sendi kekuasaan yang memungkinkan kerajaan memperoleh penghasilan
dan pajak yang besar.
Kerajaan Samudera Pasai berlangsung sampai tahun 1524 M. Pada tahun
1521 M, kerajaan ini ditaklukkan oleh Portugis yang mendudukinya selama
tiga tahun, kemudian tahun 1524 M dianekasasi oleh raja Aceh, Ali
Mughayatsyah. Selanjutnya, kerjaan Samudera Pasai berada di bawah
pengaruh kesultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam.3[3]

2[2]Dr. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo


Persada.1993), hlm.205.

3[3] Ibid. Badri Yatim. Hlm. 208-210.

STAI AS-SHIDDIQIYAH 2 S. PERADABAN ISLAM


B. Aceh Darussalam
Kerajaan Aceh terletak di daerah yang sekarang dikenal dengan nama
Kabupaten Aceh Besar yang terletak di ibu kotanya. Kerajaan Aceh berdiir
pada abad ke-15 M oleh Muzaffar Syah (1465-1497 M). Dialah yang
membangun kota Aceh Darussalam.4[4]Menurutnya, pada masa
pemerintahannya Aceh Darussalam mulai mengalami kemajuan dalam bidang
perdagangan karena saudagar-saudagar Muslim yang sebelumnya berdagang
dengan Malaka memindahkan kegiatan mereka ke Aceh, setelah Malaka
dikuasai oleh Portugis (1511 M).

2.2 Tumbuh dan Berkembangnya Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa


A. Demak
Dibawah pimpinan Sunan Ampel Denta , walisongo bersepakat
mengangkat Raden Patah menjadi raja pertama kerajaan Demak, kerajaan
Islam pertama di Jawa. Raden Patah dalam menjalankan pemerintahannya,
terutama dalam persoalan-persoalan agama, dibantu oleh para ulama, Wali
Songo.
Palembang dan Banjarmasin mengakui kekusaan Demak.Sementara
dareah Jawa Tengah bagian selatan sekita Gunung Merapi, Pengging, dan
Pajang berhasil dikuasai berkat pemuka Islam, Sayikh Siti Jenar dan Sunan
Tembayat.

B. Pajang
Usia kesultanan ini tidak panjang, kekuasaan dan kebesarannya diambil
alih oleh kerajaan Mataram. Sultan atau raja pertama kerajaan ini adalah Jaka
Tingkir yang berasal dari Pengging, di lereng Gunung Merapi.
Selama pemerintahan Sultan Adiwijaya, kesusasteraan dari kesenian
keraton yang sudah maju di Demak dan Jepara lambat laun dikenal di
pedalaman besar Jawa. Pengaruh agama islam yang kuat di pesisir menjalar
dan tersebar ke daerah pedalaman.
Riwayat kerajaan Pajang berakhir tahun 1618.Kerajaan Pajang waktu itu
memberontak terhadap Mataram ketika itu di bawah Sultan Agung.Pajang
dihancurkan, rajanya melarikan diri ke Giri dan Surabaya.

4[4]Ibid. Badri Yatim. Hlm. 210-212.

STAI AS-SHIDDIQIYAH 3 S. PERADABAN ISLAM


C. Mataram
Awal kerajaan Mataram adalah ketika Sultan Adijaya dari Pajang
meminta bantuan kepada Ki Pamanahan yang berasal dari daerah pedalaman
untuk menghadapi dan menumpas pemberontakan Aria Panangsang.
Senopati dipandang sebagai Sultan Mataram pertama, setelah Pangeran
Benawa anak Sultan Adiwijaya menawarkan kekuasaan atas Pajang kepada
Senopati.
Senopati kemudian berkeinginan menguasai semua Raja bawahan
Pajang, tetapi ia tidak mendapat pengakuan dari para penguasa Jawa Timur
sebagai pengganti Raja Demak dan kemudian Pajang.
Masa pemerintahan Amangkurat I hampir tidak pernah reda dari
konflik.Tindakan pertama pemerintahannya adalah menumpas pendukung
Pangeran Alit dengan membunuh banyak ulama yang dicurigai.Ia yakin ulama
dan santri adalah bahaya bagi tahtanya. Pada tahun 1677 M dan 1678 M,
pemberontakan para ulama muncul kembali dengan tokoh spiritual Raden
kajoran.Pemberontakan-pemberontakan seperti itulah yang mengakibatkan
runtuhnya Kraton Mataram.5[5]

D. Cirebon
Kesultanan Cirebon adalah kerajaan Islam pertama di Jawa
Barat.Kerajaan ini didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati lahir
tahun 1448 dan wafat 1568 M dalam usia 120 tahun. Setelah Cirebon resmi
berdiri sebagai sebuah kerajaan Islam yang bebas dari kekuasaan Pajajaran,
Sunan Gunung Jati berusaha meruntuhkan kerajaan Pajajaran yang masih
belum menganut islam.
Keutuhan Cirebon sebagai suatu kerajaan hanya sampai Pangeran
Girilaya.Sepeningggalnya Cirebon diperintah oleh dua putranya, Marta Wijaya
atau Sepuh dan Kartawijaya atau Panembahan Anom.Panembahan Sepuh
memimpin kesultanan Kasepuhan sebagai Rajanya yang pertama denagn gelar
Samsuddin, sementara Panembahan Anom memimpin kesultanan Kanoman
dengan gelar Badruddi.
E. Banten
Sejak sebelum zaman islam, ketiak masih berada di bawah kekuasaan
raja – raja Sunda, Banten sudah menjadi kota yang berarti. Kekuasaan Sunan
Gunung Jati atas Banten diserahkan kepada putranya, Hasanuddin. Hasanuddin
kawin dengan putri Demak dan diresmikan menjadi Panembahan Banten tahun
1552.

5[5] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo


Persada.1993), hlm.205.

STAI AS-SHIDDIQIYAH 4 S. PERADABAN ISLAM


Pada tahun 1568, disaat kekuasaan Demak beralih ke Pajang, Hasanuddin
memerdekakan Banten. Itulah sebabnya oleh tradisi ia di anggap sebagai raja
islam pertama di Banten.6[6]

2.3 Tumbuh Dan Berkembangnya Kerajaan – Kerajaan Islam Di


Kalimantan, Maluku Dan Sulawesi
A. Kalimantan
Kalimantan terlalu luas untuk berada di bawah satu kekuasaan pada
waktu datangnya islam. Daerah barat laut menerima islam dari Malaya, daerah
timur dari Makassar dan wilayah Selatan dari Jawa.

a) Berdirinya Kerajaan Banjar Di Kalimantan Selatan


Kerajaan Banjar merupakan kelanjutan dari kerajaan Daha yang
beragama hindu. Berawal dari pertentangan dalam keluarga istana, antara
pangeran Samudra sebagai pewaris sah kerajaan Daha dengan pamannya
pangeran Temanggung.Atas bantuan Patih Asih, Pangeran Samudera dapat
menghimpun kekuatan perlawanan.Patih masih mengusulkan kepada pangeran
Samudra untuk meminta bantuan kepada kerajaan Demak. Sultan Demak
bersedia membantu asal pangeran Samudra nanti masuk islam. Sultan Demak
kemudian mengirim bantuan seribu orang tentara beserta seorang penghulu
bernama Khatib Dayan untuk mengislamkan orang Banjar.
Pangeran Samudra setelah masuk islam diberi nama Sultan Suryanulloh
atau Suriansyah yang dinobatkan sebagai raja pertama dalam kerajaan islam
Banjar.

b) Kutai Di Kalimantan Timur


Menurut risalah Kutai, dua orang penyebar Islam tiba di Kutai pada masa
pemerintahan Raja Mahkota. Salah seorang di antaranya adalah Tuan di
bandang, yang dikenal dengan Dato’Ri Bandang dari makassar; yang lainnya
adalah Tuan Tunggang Parangan. Setelah pengislaman itu, Dato’Ri Bandang
kembali ke Makassar sementara Tuan Tunggang Parangan tetap di Kutai.
Melalui yang terakhir inilah Raja Mahkota tunduk kepada keimanan Islam.
Setelah itu, segera dibangun sebuah mesjid dan pengajaran agama dapat
dimulai. Yang pertama sekali mengikuti pengajaran itu adalah Raja Mahkota
Sendiri, kemudian pangeran, para menteri, panglima dan hulubalang, dan
akhirnya rakyat biasa. Sejak itu, Raja mahkota berusaha keras menyebarkan

6[6] DE GRAFF dan PIGEAUD, Kerajaan Islam Pertama Jawa, (Jakarta: PT. Pustaka
Utama Grafiti.1985), hlm.133

STAI AS-SHIDDIQIYAH 5 S. PERADABAN ISLAM


Islam dengan pedang. Proses Islamisasi di Kutai dan daerah sekitarnya
diperkirakan terjadi pada tahun 1575. penyebaran lebih jauh ke daerah-daerah
pedalaman dilakukan terutama pada waktu puteranya, Aji di Langgar, dan
pengganti-penggantinya, meneruskan perang ke daerah Muara Kaman. 7[7]

B. Maluku
Islam mencapai Kepulauan rempah-rempah atau yang sekarang lebih
dikenal dengan Maluku ini yaitu pada pertengahan terakhir abad ke-15. Sekitar
tahun 1460 M raja Ternate Vongi Tidore memeluk agama Islam, ia menikahi
seoarang wanita keturunan ningrat dari Jawa. Namun, H.J. de Graaf
berpendapat bahwa raja pertama yang benar-benar muslim adalah Zayn Al-
’Abidin (1486-1500 M).
Pada masa itu gelombang perdagangan muslim terus mengalami
peningkatan sehingga raja menyerah kepada tekanan para pedagang Muslim itu
dan memutuskan belajar tentang Islam pada madrasah Giri. Di Giri ia dikenal
dengan nama Raja Bulawa atau Raja Cengkeh, mungkin karena ia membawa
cengkeh ke sana sebagai hadiah. Ketika kembali dari Jawa ia mengajak
Tahubahahul ke daerahnya, yang terakhir ini kemudian dikenal sebagai
penyebar utama agama Islam di Kepulauan Maluku.8[8]
Karena usia Islam masih muda di Ternate Portugis yang tiba di sana pada
tahun 1522 M, berharap dapat menggantikannya dengan agama kristen.
Harapan itu tidak dapat terwujud karena usaha-usaha yang telah dilakukan
mereka hanya mendatangkan hasil yang sedikit.
Berkenaan dengan Ambon, sejarawan Ambon satu-satunya yaitu Rijali
menceritakan bahwa perdana Jamilu dari hitu (salah satu dari semenanjung di
Ambon) menemani penguasa dari Ternate Zayn Al-‘Abidin dalam
perjalanannya ke Giri. Menurut de Graaf pernyataan ini hanya menunjukkan
bahwa hubungan antar Hitu dengan Ternate memang sangat dekat.
Tersebarnya Islam di Hitu lebih dikarenakan datangnya seorang qadi
yaitu Ibrahim yang menjadi seorang qadi di Ambon dan memberikan
pengajaran kepada seluruh guru agama islam di pulau ini. Ambon bahkan
mendirikan sebuah masjid bergonjong tujuh yang mengingatkan orang kepada
Giri, bangunan yang didirikan dalam bentuk yang sama.riwayat setempat
menguatkan pendapat ini yang menybutkan bahwa sumber Islam di Ambon

7[7] Uka Tjandrasasmita, Sejarah …, op. cit., hlm. 25

8[8] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo


Persada.1993), hlm.205.

STAI AS-SHIDDIQIYAH 6 S. PERADABAN ISLAM


adalah Jawa, meskipun Pasai dan makkah juga disebut-sebut. Dalam riwayat
itu disebutkan bahwa pendiri sebuah kampung di Kailolo adalah Usman yang
memperoleh Islam dari seorang guru agama dari Jawa,yang mengadakan
perjalanan dari Mekah ke Gresik.
Komunikasi antara Maluku dan Giri memang masih bertahan sampai
abad ke-17. Bahkan Demak dan Jepara merupakan sekutu-sekutu Hitu dalam
peperangan melawan Portugis yang menempatkan diri di Leitimor,
semenanjung Ambon yang penduduknya masih menyembah berhala. Di daerah
inilah Portugis berhasil memperkenalkan Kristen kepada penganut agama
berhala itu.

C. Sulawesi
Di Sulawesi Kerajaan Gowa-Tallo merupakan Kerajaan kembar yang
saling berbatasan biasanya disebut Kerajaan Makasar. Kerajaan ini terletak di
semenanjung barat Daya pulau Sulawesi yang merupakan daerah transit yang
sangat strategis.
Sejak Gowa-Tallo tampil sebagai pusat perdagangan laut, Kerajaan ini
mejalin hubungan baik dengan Ternate yang telah menerima Islam dari
Gresik/Giri. Di bawah pemerintahan Sultan Babullah Ternate mengadakan
perjanjian persahabatan dengan Gowa-Tallo. Ketika itulah raja Ternate
berusaha mengajak penguasa Gowa-Tallo untuk menganut agama Islam, tetapi
gagal. Baru pada waktu Datu’ Ribandang datang ke Kerajaan Gowa-Tallo
agama Islam mulai masuk di dalam Kerajaan ini. Alauddin (1591-1636 M)
adalah sultan pertama yang menganut Islam yaitu pada tahun 1605 M.
Penyebaran Islam setelah itu berlangsung sesuai dengan tradisi yang
telah ama diterima oleh para raja keturunan To Manurung. Tradisi itu
mengharuskan seorang raja untuk memberitahukan hal baik kepada yang lain.
Karena itu Kerajaan kembar Gowa-Tallo menyampaikan pesan Islam kepada
Kerajaan-kerajaan lain seperti Luwu, Wajo, Soppeng dan Bone. Raja Luwu
segera menerima pesan Islam itu. Sementara itu, tiga Kerajaan Wajo, Soppeng
dan Bone yang terikat dalam aliansi Tallumpoeco (tiga kerajaan)
dalam perebutan hegemoni dengan Gowa-Tallo. Wajo menerima Islam tanggal
10 Mei 1610 M dan Bone, merupakan saingan politik gowa sejak pertengahan
abad ke-16 tanggal 23 November 1611 M. Raja Bone yang pertama masuk
Islam dikenal dengan gelar Sultan Adam. Namun meski sudah Islam
peperangan-peperangan antara dua Kerajaan yang bersaing itu pada masa-masa
selanjutnya masih sering terjadi dan bahkan melibatkan Belanda untuk
mengambil keuntungan politik daripadanya.

STAI AS-SHIDDIQIYAH 7 S. PERADABAN ISLAM


2.4 Hubungan Politik dan Keagamaan antara Kerajaan-kerajaan Islam.
Hubungan antara satu kerajaan Islam dengan kerajaan Islam lainnya
pertama-tama memang terjalin karena persamaan agama. Hubungan itu pada
mulanya, mengambil bentuk kegiatan dakwah, kemudian berlanjut setelah
kerajaan-kerajaan Islam berdiri. Demikianlah misalnya antara Giri dengan
daerah-daerah Islam di Indonesia bagian timur, terutama Maluku. Adalah
dalam rangka penyebaran Islam itu pula Fadhillah Khan dari Pasai datang ke
Demak, untuk memperluas wilayah kekuasaan ke Sunda Kelapa.
Dalam bidang politik, agama pada mulanya dipergunakan untuk
memperkuat diri dalam menghadapi pihak-pihak atau kerajaan-kerajaan yang
bukan Islam, terutama yang mengancam kehidupan politik maupun ekonomi.
Persekutuan antara Demak dengan Cirebon dalam menaklukkan Banten dan
Sunda Kelapa dapat diambil sebagai contoh. Contoh lainnya adalah
persekutuan kerajaan-kerajaan Islam dalam menghadapi Portugis dan Kompeni
Belanda yang berusaha memonopoli pelayaran dan perdagangan.
Meskipun demikian, kalau kepentingan politik dan ekonomi
antarkerajaan-kerajaan Islam itu sendiri terancam, persamaan agama tidak
menjamin bahwa permusuhan tidak ada. Peperangan di kalangan kerejaan-
kerajaan Islam sendiri sering terjadi. Misalnya, antara Pajang dan Demak,
Ternate dan Tidore, Gowa-Tallo dan Bone. Oleh karena kepentingan yang
berbeda di antara kerajaan-kerajaan itu pula, sering satu kerajaan Islam
meminta bantuan kepada pihak lain, terutama Kompeni Belanda, untuk
mengalahkan kerajaan islam yang lain.
Hubungan antarkerajaan-kerajaan Islam lebih banyak terletak dalam
bidang budaya dan keagamaan. Samudera Pasai dan kemudian Aceh yang
dikenal dengan Serambi Mekah menjadi pusat pendidikan dan pengajaran
Islam. Dari sini ajaran-ajaran Islam tersebar ke seluruh pelosok Nusantara
melalui karya-karya ulama dan murid-muridnya yang menuntut ilmu ke sana.
Demikian pula halnya dengan Giri di Jawa Timur terhadap daerah-daerah
di Indonesia bagian timur. Karya-karya sastera dan keagamaan dengan segera
berkembang di kerajaan-kerajaan Islam. Tema dan isi karya-karya itu
seringkali mirip antara satu dengan yang lain. Kerajaan Islam itu telah merintis
terwujudnya idiom kultural yang sama, yaitu Islam. Hal ini menjadi pendorong
terjadinya interaksi budaya yang makin erat. 9[9]

9[9] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo


Persada.1993), hlm.205.

STAI AS-SHIDDIQIYAH 8 S. PERADABAN ISLAM


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Beberapa kerajaan Islam di Sumatera antara lain: pertama, Kerajaan
Perlak, berdiri abd ke-3 H/abad ke-7 M, didirikan oleh Sayid Abdul Aziz Syah.
kedua, Kerajaan Samudera Pasai, berdiri abad ke-13 didirikan oleh Malek Al-
Saleh. Ketiga, Kerajaan Aceh Darussalam, berdiri tahun 1524 M didirikan oleh
Mughayat Syah. Keempat, Kerajaan Siak berdiri tahun1723 M didirikan oleh
Sultan rahmat Abdul Jalil Syah. Kelima, Kerajaan Palembang, berdiri tahun
1659 M didirikan oleh Sulta Abdurrahman Khalifatul Mukminin Syah.
Beberapa kerajaan di Jawa yaitu Kerajaan Demak yang diprakarsai oleh
Walisongo dan raja pertamanya adalah Raden Fatah (1478-1518 M). Kerajaan
Pajang, raja pertamanya adalah Jaka Tingkir atau Pangeran Adijaya. Kerajaan
Mataram, didirikan oleh Panembahan Senopati. Kerajaan Cirebon yang berada
di Jawa Barat dan didirikan oleh Sunan Gunungjati. Dan kerajaan Banten,
didirikan oleh Sunan Gunungjati.
Kerajaan di Kalimantan, di Maluku dan di Sulawesi. Di Kalimantan ada
Kerajaan Banjar dan kerajaan Kutai. Sementara di Sulawesi terdapat Kerajaan
Gowa-Tallo(Kerajaan Kembar), Kerajaan Wajo, Kerajaan Soppeng dan
Kerajaan Bone.
Hubungan kerajaan Islam satu dengan kerajaan Islam lainya pertama-
tama memang terjalin kerena persamaan agama. Hubungan itu pada mulanya
mengambil bentuk kegiatan dakwah, kemudian berlanjut setelah Kerajaan-
kerajaan Islam berdiri. Dalam bidang politik, agama pada mulanya
dipergunakan untuk memperkuat diri dalam menghadapi pihak-pihak atau
Kerajaan-kerajaan yang bukan Islam, terutama yang mengancam kehidupan
politik maupun ekonomi. Hubungan antar Kerajaan-kerajaan Islam lebih
banyak terletak dalam bidang budaya dan keagamaan.

3.2 Saran
Demikianlah makalah ini dibuat, kami menyadari dalam penulisan
makalah ini banyak sekali kesalahan dan kekurangan, untuk itu kritik dan saran
yang konstruktif demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Besar
harapan kami, semoga makalah ini dapat memberikan sedikit manfaat bagi
para pembaca pada umumnya dan khususnya bagi pemakalah.

STAI AS-SHIDDIQIYAH 9 S. PERADABAN ISLAM


Daftar Pustaka

Amin, Samsul Munir.2009 Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah.


DE GRAFF dan PIGEAUD,1986. Kerajaan Islam Pertama Jawa, Jakarta: PT.
Pustaka
Gadjahnata dan Sri Edi Swsono .1986. Masuk dan Berkembangnya Islam di
Sumatera Selatan. Jakarta: UI-Press.
Yatim, Badri. 2010.Sejarah Peradaban Islam 2. Jakarta: Rajagrapindo Persada.

STAI AS-SHIDDIQIYAH 10 S. PERADABAN ISLAM