Anda di halaman 1dari 14

STEP 7

1. Apa yang dimaksud dengan cemas?

Kecemasan adalah Ketegangan, rasa tak aman atau kekhawatiran yg timbul


karena dirasakan akan terjadi sesuatu yg tidak menyenangkan, tetapi sumbernya
sebagian besar tidak diketahui.

 Cemas Normal
suatu penyerta yang normal dari pertumbuhan, dari perubahan, dari pengalaman
sesuatu yang baru dan belum dicoba, dan dari penemuan identitasnya sendiri dan arti
hidup.
Ex. anak masuk sekolah pertama kali
 Cemas Patologis
respon yang tidak sesuai terhadap stimulus yang diberikan berdasarkan pada
intensitas atau durasinya.

(Sinopsis Psikiatri, Kaplan & Sadock ed. 7 jilid dua)

2. Apa saja gejala gangguan cemas

 Ketegangan motorik: keeganggan pada bagian otot motorik tubuh


( misalyan Kedutan otot atau rasa gemetar,Otot tegang/kaku/ pegal linu

 Sistem saraf tak sadar disebut juga saraf otonom adalah sistem saraf yang bekerja tanpa
diperintah oleh sistem saraf pusat dan terletak khusus pada sumsum tulang belakang.

 Sistem saraf otonom àneuron-neuron motorik yang mengatur kegiatan organ-organ dalam
(jantung, paru-paru, ginjal, kelenjar keringat, otot polos sistem pencernaan, otot polos
pembuluh darah)

Tanda-tanda fisik yang dapat dijumpai:

 detak jantung meningkat


 napas pendek-pendek dan cepat
 merasa gerah, berkeringat
 rasa tidak nyaman di perut
 diare
 sulit menelan
 mual
 gemetaran
 pusing
 telinga mendenging
 serasa mau pingsan
3. Apa saja tingkat kecemasan

TINGKAT KECEMASAN (ANXIETY)


Kecemasan (Anxiety) memiliki tingkatan Gail W. Stuart (2006: 144)
mengemukakan tingkat ansietas,diantaranya.
1. Ansietas ringan
Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari, ansietas ini
menyebabkan individu menjadi waspada dan meningkatkan lapang persepsinya.
Ansietas ini dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta
kreativitas.
2. Ansietas sedang
Memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting dan
mengesampingkan yang lain. Ansietas ini mempersempit lapang persepsi individu.
Dengan demikian, individu mengalami tidak perhatian yang selektif namun dapat
berfokus pada lebih banyak area jika diarahkan untuk melakukannya.
3. Ansietas berat
Sangat mengurangi lapang persepsi individu. Individu cenderung berfokus
pada sesuatu yang rinci dan spesifik serta tidak berpikir tentang hal lain. Semua
perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Individu tersebut memerlukan
banyak arahan untuk berfokus pada area lain.
4. Tingkat panik
Berhubungan dengan terperangah, ketakutan, dan teror. Hal yang rinci
terpecah dari proporsinya karena mengalami kehilangan kendali, individu yang
mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. Panik
mencakup disorganisasi kepribadian dan menimbulkan peningkatan aktivitas motorik,
menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang
menyimpang, dan kehilangan pemikiran yang rasional
Gail W. Stuart. (2006). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Alih Bahasa:
Ramona P. Kapoh & Egi Komara Yudha. Jakarta: EGC.

4. Sebutkan macam-macam gangguan kecemasan

F40–F48 GANGGUAN NEUROTIK, GANGGUAN SOMATOFORM DAN


GANGGUAN YANG BERKAITAN DENGAN STRES
F40 Gangguan Anxieta Fobik
F40.0 Agorafobia
.00 Tanpa gangguan panik
.01 Dengan gangguan panik
F40.1 Fobia sosial
F40.2 Fobia khas (terisolasi)
F40.8 Gangguan anxietas fobik lainnya
F40.9 Gangguan anxietas fobik YTT
F41 Gangguan Anxietas Lainnya
F41.0 Gangguan panik (anxietas paroksismal episodik)
F41.1 Gangguan anxietas menyeluruh
F41.2 Gangguan campuran anxietas dan depresif
F41.3 Gangguan anxietas campuran lainnya
F41.8 Gangguan anxietas lainnya YDT
F41.9 Gangguan anxietas YTT
F42 Gangguan Obsesif-Kompulsif
F42.0 Predominan pikiran obsesional atau pengulangan
F42.1 Predominan tindakan kompulsif (obsesional ritual)
F42.2 Campuran tindakan dan pikiran obsesional
F42.8 Gangguan obsesif kompulsif lainnya
F42.9 Gangguan obsesif kompulsif YTT
F43 Reaksi Terhadap Stres Berat dan Gangguan Penyesuaian (F43.0-F43.9)
F44 Gangguan Disosiatif (Konversi) (F44.0-F44.9)
F45 Gangguan Somatoform (F45.0-F45.9)
F48 Gangguan Neurotik Lainnya (F48.0-F48.9)
PPDGJ III

5. Apa yang dimaksud dengan gangguan cemas menyeluruh?

Gangguan kecemasan adalah sekelompok kondisi yang memberi gambaran


penting tentang kecemasan yang berlebihan, disertai respons perilaku,
emosional, dan fisiologis. Individu yang mengalami gangguan kecemasan
dapat memperlihatkan perilaku yang tidak lazim seperti panik tanpa
alasan, takut yang tidak beralasan terhadap objek atau kondisi kehidupan,
melakukan tindakan berulang-ulang tanpa dapat dikendalikan, mengalami
kembali peristiwa yang traumatik, atau rasa khawatir yang tidak dapat
dijelaskan atau berlebihan.
6. GANGGUAN ANXIETAS MENYELURUH
Gambaran esensial dan gangguan ini adalah adanya anxietas yang menyeluruh dan menetap (bertahan
lama), Gejala yang dominant sangat bervariasi, tetapi keluhan tegang yang berkepanjangan, gemetaran,
ketegangan otot, berkeringat, kepala terasa ringan, palpitasi, pusing kepala dan keluhan epigastnik adalah
keluhankeluhan yang lazim dijumpai. Ketakutan bahwa dirinya atau anggota keluarganya akan menderita
sakit atau akan mengalami kecelakaan dalam waktu dekat, merupakan keluhan yang seringkali diungkapkan

 
PEDOMAN DIAGNOSTIK
Pasien harus menunjukan gejala primer anxietas yang berlangsung hampir setiap hari selama beberapa
minggu, bahkan biasanya sampai beberapa bulan. Gejala-gejala ini biasanya mencakup hal-hal berikut :
kecemasan tentang masa depan, ketegangan motorik, overaktivitas otonomik
 
(Dr. Evalina Asnawi Hutagalung, Sp.KJ,SIMPOSIUM SEHARI KESEHATAN JIWA, IKATAN
DOKTER INDONESIA)

6. Apa yang dimaksud dengan panic?

1. GANGGUAN PANIK
 Ada dua kriterla Gangguan panik : gangguan panik tanpa agorafobia dan gangguan panik
dengan agorofobia kedua gangguan panik ini harus ada serangan panik.
GAMBARAN KLINIS
Serangan panik pertama seringkali spontan, tanpa tanda mau serangan panik, walaupun serangan panik
kadang-kadang terjadi setelah luapan kegembiraan, kelelahan fisik, aktivitas seksual atau trauma
emosional. Klinisi harus berusaha untuk  mengetahui tiap kebiasaan atau situasi yang sering mendahului
serangan panik.  Serangan sering dimulai dengan periode gejala yang meningkat dengan cepat selama 10
menit.

Gejala mental utama adalah ketakutan yang kuat, suatu perasaan ancaman kematian dan kiamat. Pasien
biasanya tidak mampu menyebutkan sumber ketakutannya. Pasien mungkin merasa kebingungan dan
mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian.

Tanda fisik adalah takikardia, palpitasi, sesak nafas dan berkeringat. Pasien seringkali mencoba untuk
mencari bantuan. Serangan biasanya berlangsung 20 sampai 30 menit.
Agorafobma : pasien dengan agorafobia akan menghindari situasi dimana ia akan sulit mendapatkan
bantuan. Pasien mungkin memaksa bahwa mereka harus ditemani setiap kali mereka keluar rumah.
 
PEDOMAN DIAGNOSTIK AGORAFOBIA
 Kecemasan berada di dalam suatu tempat atau situasi dimana kemungkinan sulit meloloskan diri
 Situasi dihindari, misal jarang bepergian
 Kecemasan atau penghindaran fobik bukan karena gangguan mental lain, misal fobia sosial

PEDOMAN DIAGNOSTIK GANGGUAN PANIK


 Serangan panik rekuren dan tidak diharapkan
 Sekurangnya satu serangan , diikuti satu atau lebih : kekawatiran menetap akan mengalami
serangan tambahan, ketakutan tentang arti serangan, perubahan perilaku bermakna berhubungan
dengan serangan
 Serangan panik bukan karena efek fisiologis langsung atau suatu kondisi medis umum
 Serangan panik tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain. misal gangguan obsesif -
kompulsif.
 Gangguan panik bisa dengan agorafobia atau tanpa agorafobia

TERAPI
Konseling dan medikasi.
Konseling: ajari pasien untuk diam ditempat sampai serangan panik berlalu, konsentrasikan diri untuk
mengatasi anxietas bukan pada gejala fisik, rileks, latihan pernafasan. Identifikasikan rasa takut selama
serangan. Diskusikan cara menghadapi rasa takut saya tidak mengalami serangan jantung, hanya panik,
akan berlalu.

Medikasi : banyak pasien tertolong melalui konseling dan tidak membutuhkan medikasi. Bila serangan
sering dan berat, atau secara bermakna dalam keadaan depresi beri antidepresan (imipramin 25 mg malam
hari, dosis bisa sampai 100 150 mg malam selama 2 minggu ). Bila serangan jarang dan terbatas beri anti
anxietas, jangka pendek (lorazepam 0,5 1 mg 3 dd 1 atau alprazolam 0,25 1 mg 3 dd 1) hindari pemberian
jangka panjang dan pemberian medikasi yang tidak perlu.
  
7. Apa pengertian obsesif konvulsif?

3. GANGGUAN OBSESIF-KOMPULSIF
Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif-kompulsif pada populasi umum diperkirakan adalah 2-3 persen.
OBSESIF adalahpikiran, perasaan, ide yang berulang, tidak bisa dihilangkan dan tidak dikehendaki.
KOMPULSIF adalah tingkah-laku yang berulang, tidak bisa dihilangkan dan tidak dikehendaki.
 
PEDOMAN DIAGNOSIS
= Pikiran, impuls, yang berulang
= Perilaku yang berulang
= Menyadari bahwa obsesif-kompulsif adalah berlebihan atau tidak beralasan
= Obsesif-kompulsif menyebabkan penderitaan
= Tidak disebabkan oleh suatu zat atau kondisi medis umum.
 
TERAPI
Konseling dan medikasi : mengenali, menghadapi, menantang pikiran yang berulang dapat mengurangi
gejala obsesd, yang pada akhirnya mengurangi perilaku kompulsif. Latihan pernafasan. Bicarakan apa yang
akan dilakukan pasien untuk mengatasi situasi, kenali dari perkuat hal yang berhasil mengatasi situasi. Bila
diperlukan bisa diberi Klomipramin 100 - 150 mg, atau golongan Selected Serotonin Reuptake Inhibitors.
Konsultasi spesialistik bila kondisi tidak berkurang atau menetap.
  (Dr. Evalina Asnawi Hutagalung, Sp.KJ,SIMPOSIUM SEHARI KESEHATAN JIWA, IKATAN DOKTER
INDONESIA)

8. Apa perbedaan antara phobia, panic dan obsesif kompulsif?

2. GANGGUAN FOBIK
Penelitian epidemiologis di Amerika Serikat menemukan 5 10 persen populasi menderita gangguan ini. 
FOBIA adalah suatu ketakutan yang tidak rasional yang menyebabkan penghindaran yang disadari
terhadap obyek, aktivitas, atau situasi yang ditakuti.
Fobia spesifik: takut terhadap binatang, badai, ketinggian, penyakit, cedera, dsb
Fobia sosial: takut terhadap rasa memalukan di dalam berbagai lingkungan sosial seperti berbicara di
depan umum, dsb
  
PEDOMAN DIAGNOSTIK
 Rasa takut yang jelas, menetap dan berlebihan atau tidak beralasan (obyek /situasi)
 Pemaparan dengan stimulus fobik hampir selalu mencetuskan kecemasan
 Menyadari bahwa rasa takut adalah berlebihan
 Situasi fobik dihindari

TERAPI
Konseling dan medikasi: dorong pasien untuk dapat mengatur pernafasan, membuat daftar situasi yang
ditakuti atau dihindari, diskusikan cara-cara menghadapi rasa takut tersebut. Dengan konseling banyak
pasien tidak membutuhkan medikasi. Bila ada depresi bisa diberi antidepresan lmipramin 50 150 mg/ hari.
Bila ada anxietas beri antianxietas dalam waktu singkat, karena bisa menimbulkan ketergantungan. Beta
blokerdapat mengurangi gejala fisik.  Konsultasi spesialistik bila rasa takut menetap
 
1. GANGGUAN PANIK
 Ada dua kriterla Gangguan panik : gangguan panik tanpa agorafobia dan gangguan panik dengan
agorofobia kedua gangguan panik ini harus ada serangan panik.

GAMBARAN KLINIS
Serangan panik pertama seringkali spontan, tanpa tanda mau serangan panik, walaupun serangan panik
kadang-kadang terjadi setelah luapan kegembiraan, kelelahan fisik, aktivitas seksual atau trauma
emosional. Klinisi harus berusaha untuk  mengetahui tiap kebiasaan atau situasi yang sering mendahului
serangan panik.  Serangan sering dimulai dengan periode gejala yang meningkat dengan cepat selama 10
menit.

Gejala mental utama adalah ketakutan yang kuat, suatu perasaan ancaman kematian dan kiamat. Pasien
biasanya tidak mampu menyebutkan sumber ketakutannya. Pasien mungkin merasa kebingungan dan
mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian.

Tanda fisik adalah takikardia, palpitasi, sesak nafas dan berkeringat. Pasien seringkali mencoba untuk
mencari bantuan. Serangan biasanya berlangsung 20 sampai 30 menit.
Agorafobma : pasien dengan agorafobia akan menghindari situasi dimana ia akan sulit mendapatkan
bantuan. Pasien mungkin memaksa bahwa mereka harus ditemani setiap kali mereka keluar rumah.
 
PEDOMAN DIAGNOSTIK AGORAFOBIA
 Kecemasan berada di dalam suatu tempat atau situasi dimana kemungkinan sulit meloloskan diri
 Situasi dihindari, misal jarang bepergian
 Kecemasan atau penghindaran fobik bukan karena gangguan mental lain, misal fobia sosial

PEDOMAN DIAGNOSTIK GANGGUAN PANIK


 Serangan panik rekuren dan tidak diharapkan
 Sekurangnya satu serangan , diikuti satu atau lebih : kekawatiran menetap akan mengalami
serangan tambahan, ketakutan tentang arti serangan, perubahan perilaku bermakna berhubungan
dengan serangan
 Serangan panik bukan karena efek fisiologis langsung atau suatu kondisi medis umum
 Serangan panik tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain. misal gangguan obsesif -
kompulsif.
 Gangguan panik bisa dengan agorafobia atau tanpa agorafobia

TERAPI
Konseling dan medikasi.
Konseling: ajari pasien untuk diam ditempat sampai serangan panik berlalu, konsentrasikan diri untuk
mengatasi anxietas bukan pada gejala fisik, rileks, latihan pernafasan. Identifikasikan rasa takut selama
serangan. Diskusikan cara menghadapi rasa takut saya tidak mengalami serangan jantung, hanya panik,
akan berlalu.

Medikasi : banyak pasien tertolong melalui konseling dan tidak membutuhkan medikasi. Bila serangan
sering dan berat, atau secara bermakna dalam keadaan depresi beri antidepresan (imipramin 25 mg malam
hari, dosis bisa sampai 100 150 mg malam selama 2 minggu ). Bila serangan jarang dan terbatas beri anti
anxietas, jangka pendek (lorazepam 0,5 1 mg 3 dd 1 atau alprazolam 0,25 1 mg 3 dd 1) hindari pemberian
jangka panjang dan pemberian medikasi yang tidak perlu.
  
3. GANGGUAN OBSESIF-KOMPULSIF
Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif-kompulsif pada populasi umum diperkirakan adalah 2-3 persen.
OBSESIF adalahpikiran, perasaan, ide yang berulang, tidak bisa dihilangkan dan tidak dikehendaki.
KOMPULSIF adalah tingkah-laku yang berulang, tidak bisa dihilangkan dan tidak dikehendaki.
 
PEDOMAN DIAGNOSIS
= Pikiran, impuls, yang berulang
= Perilaku yang berulang
= Menyadari bahwa obsesif-kompulsif adalah berlebihan atau tidak beralasan
= Obsesif-kompulsif menyebabkan penderitaan
= Tidak disebabkan oleh suatu zat atau kondisi medis umum.
 
TERAPI
Konseling dan medikasi : mengenali, menghadapi, menantang pikiran yang berulang dapat mengurangi
gejala obsesd, yang pada akhirnya mengurangi perilaku kompulsif. Latihan pernafasan. Bicarakan apa yang
akan dilakukan pasien untuk mengatasi situasi, kenali dari perkuat hal yang berhasil mengatasi situasi. Bila
diperlukan bisa diberi Klomipramin 100 - 150 mg, atau golongan Selected Serotonin Reuptake Inhibitors.
Konsultasi spesialistik bila kondisi tidak berkurang atau menetap.
 
(Dr. Evalina Asnawi Hutagalung, Sp.KJ,SIMPOSIUM SEHARI KESEHATAN JIWA,
IKATAN DOKTER INDONESIA)
9. Apa diagnosis dan diagnosis banding dari scenario?

Axis 1 : f.41.1
Axis 2: tidak ada
Axis 3: tidak ada
Axis 4: masalah pendidikan
Axis 5: 60
10. Mengapa pasien mengeluh berdebar debar, sesak nafas disertai keringat dingin
(hiperaktivitas otonomik) serta keluhan sering merasa kawatir, ketakutan dan sulit
konsentrasi
Stresor dapat menyebabkan pelepasan epinefrin dari adrenal melalui mekanisme berikut ini:

Ancaman dipersepsi oleh panca indera, diteruskan ke korteks serebri, kemudian ke sistem limbik dan
RAS (Reticular ActivatingSystem), lalu ke hipotalamus dan hipofisis. Kemudian kelenjar adrenal
mensekresikan katekolamin dan terjadilah stimulasi saraf otonom (Mudjaddid, 2006).

Hiperaktivitas sistem saraf otonom akan mempengaruhi berbagai sistem organ dan menyebabkan
gejala tertentu, misalnya: kardiovaskuler (contohnya: takikardi), muskuler (contohnya: nyeri kepala),
gastrointestinal (contohnya: diare), dan pernafasan (contohnya: nafas cepat).

Kecemasan atau anxietas akan merangsang respon hormonal dari hipotalamus yang
akan mengsekresi CRF ( Corticotropin- Releasing Factor) yang meneybabkan sekresi
hormon-hormon hipofise. Salah satu dari hormon tersebut adalah ACTH (Adreno-
Corticotropin Hormon). Hormon tersebut akan merangsang korteks adrenal untuk
mengsekresi kortisol kedalam sirkulasi darah (2,15). Peningkatan kadar kortisol
dalam darah akan mengakibatkan peningkatan renin plasma, angiotensin II dan
peningkatan kepekaan pembuluh darah terhadap katekolmin (26), sehingga terjadi
peningkatan tekanan darah.
 Sistem saraf tak sadar disebut juga saraf otonom adalah sistem saraf yang bekerja tanpa
diperintah oleh sistem saraf pusat dan terletak khusus pada sumsum tulang belakang.

 Sistem saraf otonom àneuron-neuron motorik yang mengatur kegiatan organ-organ dalam
(jantung, paru-paru, ginjal, kelenjar keringat, otot polos sistem pencernaan, otot polos
pembuluh darah)

 Respon sistem saraf otonom terhadap rasa takut dan ansietas àaktivitas involunter
pada tubuh yang termasuk dalam mekanisme pertahanan diri.
 Serabut saraf simpatis “ mengaktifkan” tanda-tanda vital pada setiap tanda bahaya
untuk mempersiapkan pertahanan tubuh.
 Kelenjar adrenal melepas adrenalin (epinefrin), yang menyebabkan tubuh mengambil
lebih banyak oksigen, medilatasi pupil, dan meningkatkan tekanan arteri serta
frekuensi jantung sambil membuat konstriksi pembuluh darah perifer dan memirau
darah dari sistem gastrointestinal dan reproduksi serta meningkatkan glikogenolisis
menjadi glukosa bebas guna menyokong jantung, otot, dan sistem saraf pusat.
 Ketika bahaya telah berakhir, serabut saraf parasimpatis membalik proses ini dan
mengembalikan tubuh ke kondisi normal sampai tanda ancaman berikutnya
mengaktifkan kembali respons simpatis (Videbeck, 2008).
 Ansietas menyebabkan respons kognitif, psikomotor, dan fisiologis yang tidak
nyaman, misalnya kesulitan berpikir logis, peningkatan aktivitas motorik, agitasi, dan
peningkatan tanda-tanda vital. Untuk mengurangi perasaan tidak nyaman, individu
mencoba mengurangi tingkat ketidaknyaman tersebut dengan melakukan perilaku
adaptif yang baru atau mekanisme pertahanan. Perilaku adaptif dapat menjadi hal
yang positif dan membantu individu beradaptasi dan belajar, misalnya : menggunakan
teknik imajinasi untuk memfokuskan kembali perhatian pada pemandangan yang
indah, relaksasi tubuh secara berurutan dari kepala sampai jari kaki, dan pernafasan
yang lambat dan teratur untuk mengurangi ketegangan otot dan tanda-tanda vital.
Respons negatif terhadap ansietas dapat menimbulkan perilaku maladaptif, seperti
sakit kepala akibat ketegangan, sindrom nyeri, dan respons terkait stress yang
menimbulkan efisiensi imun (Videbeck, 2008).

 individu menjadi cemas à menggunakan mekanisme pertahanan àmengurangi rasa


cemas àkendali terhadap situasi yang menimbulkan stress. Kebanyakan mekanisme
pertahanan timbul dari alam bawah sadar sehingga individu tidak sadar
menggunakannya. Ketika pasien tidak dapat menjelaskan kecelakaan yang baru saja
dialaminya, pikirannya sedang menggunakan mekanisme represi (melupakan
peristiwa yang menakutkan secara tidak sadar).

 Beberapa individu menggunakan mekanisme pertahanan secara berlebihan à


menghambat pertumbuhan emosional, menyebabkan buruknya keterampilan
menyelesaikan masalah, dan menimbulkan kesulitan menjalin hubungan.

Sumber : Videbeck, 2008_Buku Ajar Keperawatan Jiwa.


Respon Fisiologis terhadap Kecemasan:
 Kardio vaskuler; Peningkatan tekanan darah, palpitasi, jantung berdebar, denyut
nadi meningkat, tekanan nadi menurun, syock dan lain-lain.
 Respirasi; napas cepat dan dangkal, rasa tertekan pada dada, rasa tercekik.
 Kulit; perasaan panas atau dingin pada kulit, muka pucat, berkeringat seluruh tubuh,
rasa terbakar pada muka, telapak tangan berkeringat, gatal-gatal.
 Gastro intestinal; Anoreksia, rasa tidak nyaman pada perut, rasa terbakar di
epigastrium, nausea, diare.
 Neuromuskuler; Reflek meningkat, reaksi kejutan, mata berkedip-kedip, insomnia,
tremor, kejang, , wajah tegang, gerakan lambat.

(Kaplan, Sadock, 1997).


1) Kontrol pernafasan yang baik
Rasa cemas membuat tingkat pernafasan semakin cepat, hal ini disebabkan
otak "bekerja" memutuskan fight or flight ketika respon stres diterima oleh otak.
Akibatnya suplai oksigen untuk jaringan tubuh semakin meningkat,
ketidakseimbangan jumlah oksigen dan karbondiosida di dalam otak membuat tubuh
gemetar, kesulitan bernafas, tubuh menjadi lemah dan gangguan visual. Ambil
dalam-dalam sampai memenuhi paru-paru, lepaskan dengan perlahan-lahan akan
membuat tubuh jadi nyaman, mengontrol pernafasan juga dapat menghindari
srangan panik.

11. Sasaran terapi dan tatalaksana pada scenario?

Farmakoterapi
Benzodiazepin
Merupakan pilihan obat pertama. Pemberian benzodiazepin dimulai dengan dosis
terendah dan ditingkatkan sampai mencapai respon terapi, Penggunaan sediaan den
gan waktu paruh menengah dan dosis terbagi dapat mencegah terjadinya efek yang
tidak diinginkan. Lama pengobatan rata-rata adalah 2-6 minggu.
Buspiron
Buspiron lebih efektif dalam memperbaiki gejala kognitif dibanding dengan gejala
somatik. Tidak menyebabkan withdrawl. Kekurangannya adalah efek klinisnya baru
terasa setelah 2-3 minggu. Terdapat bukti bahwa penderita yang sudah menggunakan
benzodiazepin tidak akan memberikan respon yang baik dengan buspiron. Dapat
dilakukan penggunaan bersama antara benzodiazepin dengan buspiron kemudian
dilakukan tapering benzodiazepin setelah 2-3 minggu, disaat efek terapi buspiron sudah
mencapai maksimal.
SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor)
Sertraline dan paroxetine merupakan pilihan yang lebih baik daripada fluoksetin.
Pemberian fluoksetin dapat meningkatkan anxietas sesaat. SSRI efektif terutama pada
pasien gangguan anxietas menyeluruh dengan riwayat depresi.

Psikoterapi
Terapi Kognitif Perilaku
Pendekatan kognitif mengajak pasien secara langsung mengenali distorsi kognitif dan
pendekatan perilaku, mengenali gejala somatik, secara langsung. Teknik utama yang
digunakan adalah pada pendekatan behavioral adalah relaksasi dan biofeedback.
Terapi Suportif
Pasien diberikan reassurance dan kenyamanan, digali potensi-potensi yang ada dan
belum tampak, didukung egonya, agar lebih bisa beradaptasi optimal dalam fungsi sosial
dan pekerjaannya.
Psikoterapi Berorientasi Tilikan
Terapi ini mengajak pasien untuk mencapai penyingkapan konflik bawah sadar, menilik
egostrength, relasi obyek, serta keutuhan diri pasien. Dari pemahaman akan komponen-
komponen tersebut, kita sebagai terapis dapat memperkirakan sejauh mana pasien
dapat diubah menjadi lebih matur; bila tidak tercapai, minimal kita memfasilitasi agar
pasien dapat beradaptasi dalam fungsi sosial dan pekerjaannya.
Gangguan Cemas, Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Jiwa, Universitas
Tarumanegara