Anda di halaman 1dari 30

NAMA: JOVANY NANDA CHAIRULIA

NIM: 1813101010016
SCAL 1

Tema: Oklusi Statis dan Oklusi Dinamis


SCAL A

a. Oklusi statis
1. Apa itu oklusi statis?
Oklusi didefinisikan sebagai "setiap kontak gigi antara rahang atas dengan
rahang bawah" (van Blarcom 1994, Lotzmann 1999). Oklusi statis berarti
kontak gigi tanpa pergerakan mandibula. (TMJ Disorders and Orofacial
Pain, Axel Buman and Ulrich Lotzmann, Page. 51)

2. Bagaimana yang disebut oklusi statis (jelaskan dan apa saja syaratnya)
Oklusi statis dapat dibagi menjadi oklusi sentris, kebiasaan, dan maksimal.

 Oklusi sentrik adalah kontak gigi yang terjadi dengan kondilus pada
posisi kondilus sentris. Istilah ini dapat berlaku untuk satu kontak
tunggal (kontak prematur) atau kontak maksimum di banyak titik.
 Oklusi kebiasaan adalah oklusi statis yang biasanya diasumsikan oleh
pasien. Ini menentukan posisi kondisioner kebiasaan. Dalam beberapa
kasus oklusi kebiasaan mungkin sama dengan oklusi sentrik. Dalam
situasi ini posisi condylar kebiasaan akan sama dengan posisi condylar
centric.
 Oklusi maksimal menggambarkan oklusi statis di mana terdapat jumlah
maksimum kontak. Jumlah kontak yang ditujukan untuk perawatan
tergantung pada konsep oklusi yang digunakan.
Gambar (1) oklusi sentrik (2) oklusi kebiasaan (3) oklusi maksimal.
. (TMJ Disorders and Orofacial Pain, Axel Buman and Ulrich Lotzmann,
Page. 51)

3. Bagaimana bisa terjadi oklusi statis?

Pada saat gigi RA dan RB bertemu atau kontak gigi yang terjadi dengan
kondilus dengan posisi kondilus sentris.

Pada saat oklusi statis, mandibula berada dalam 2 posisi utama:

1. Posisi kontak retrusi (relasi sentrik) yaitu letak ujung mandibula berada
dalam posisi retrusi. Peter E. Dawson. Page 57

2. posisi intercusp (oklusi sentrik) adalah posisi gigi yang memungkinkan


terjadinya kontak maksimum ketika gigi beroklusi.
Okeson JP. Management of Temporomandibular Disorder and
Occlusion 7th ed. Missouri, Mosby. 2013. Page : 52
4. kapan kita menggunakan prinsip oklusi statis?

Pada saat Clenching (mengatupkan gigi RA dan RB). Clenching adalah


aktifitas parafungsional yang terkait dengan pemuatan gigi dalam
hubungan statis dan sering terjuadi selama jam bangun. Okeson JP.
Management of Temporomandibular Disorder and Occlusion 7th ed.
Missouri, Mosby. 2013. Page : 305

5. Secara klinis, bagaimana gambaran dari oklusi statis?

Postural Resting Position

Pada posisi istirahat postural, pusat mandibula sejajar dengan garis tengah
atas ( titik kontak mesial dari incisivus central bawah bertepatan dengan
garis tengah mandibula).

Initial tooth Contact

Pada posisi istirahat postural, pusat mandibula sejajar dengan garis tengah
atas ( titik kontak mesial dari incisivus central bawah bertepatan dengan garis
tengah mandibula)
Habitual Occlusion

Fase final dari aksi penutupan, setelah initial tooth contact, mandibula
bergerak ke kiri. Deviasi mandibula dalam habitual occlusion disebabkan
oleh tooth interferences, yaitu pergeseran midline tulang mandibula yang
hanya hadir pada intercuspal maximum yang menandakan maloklusi
fungsional (lateroklusi)

Rakosi T, Jonas I, Graber TM.Color Atlas of Dental Medicine


Orthodontic – Diagnosis. Thieme Medical Publisher, 1993. page 134

b. Oklusi Dinamis

1. Apa itu oklusi dinamis?


Istilah "oklusi dinamis" mencakup semua kontak gigi yang terjadi selama
pergerakan mandibula ke lateral, kedepan (anterior) dan kebelakang
(posterior) (Lotzmann 1981, van Blarcom 1994).
Sering disebut “artikulasi”
Pada gerakan lateral akan ditemukan sisi kerja (working side) yang
ditunjukkan dengan adanya kontak antara cusp bucal RA degan RB; dan sisi
keseimbagan (balancing side). Working side dalam oklusi dinamik digunakan
sebagai panduan oklusi (occlusal guidace).
Okeson JP.Management of Temporomandibular Disorder and Occlusion
7th ed. Missouri, Mosby. 2013. page 81-82
2. Bagaimana yang disebut oklusi dinamis (jelaskan dan apa saja syaratnya)
Oklusi dinamis didefinisikan sebagai kontak gigi selama gerakan mandibular.
Gerak fungsional dari mandibula dan karena itu gigi geligi rahang bawah
berkontak dengan gigi geligi rahang atas juga disebut sebagai oklusi dinamis.
(Nisha Garg, Amit Garg- Textbook of Operative Dentistry-Jaypee
Brothers (2015) page 35)

3. Bagaimana bisa terjadi oklusi dinamis?


 Ketika mandibula bergerak ke posisi lateral, terdapat 2 sisi yaitu sisi
working side dan sisi balancing side.
 Normalnya sisi balancing side, ketika tidak adanya gigi yang berkontak
 Jika pada sisi working side yang berkontak hanya gigi kaninus saja, maka
paduan tersebut disebut canine guidance.
 Jika pada sisi working side yang berkontak terdapat lebih dari 1 gigi
(bukan gigi kaninus saja), maka padua ntersebut disebut group function.

• Dalam studi Panek, et al dikatakan bahwa hanya sekitar 26% dari


populasi umum yang memiliki canine guidance. Maka, selain canine
guidance yang paling mungkin terjadi adalah group function.

• Gigi yang terlibat dalam group function adalah caninus, premolar,


dan terkadang cusp mesiobukal molar pertama.
 Kontak antara bukal -bucal
Bucal- bucal lebih baik selama gerakan laterotrusif dibanding kontak
antara puncak lingual-lingual.

a. Gigi posterior selama pergerakan


laterotrusif.
Kontak dapat terjadi antara puncak bukal
yang berlawanan yang diinginkan terjadi
pada group function. Kontak antara
lingual-lingual tidak diinginkan terjadi selama group function.

B. Gigi posterior selama mediotrusif. Kontak terjadi antara cusp lingual


gigi rahang atas dengan cusp bukal gigi rahang bawah.

Jaffrey P. Okeson. Management of Temporo Mandibular Disorders


7th edition. Missouri, Mosby. 2013 p. 81-83

4. Kapan kita menggunakan prinsip oklusi dinamis?


Prinsip oklusi dinamis digunakan pada saat pasien dengan gejala/tanda
kelainan patologis oklusal datang kepraktek dokter gigi untuk perawatan.
Dokter gigi harus menentukan konfigurasi oklusal mana yang paling baik
untuk menghilangkan kelainan patologis tersebut.
Contoh : pasien yang hanya memiliki gigi molar 1 rahang atas kanan dan
molar 1 rahang bawah kanan. Saat mulut menutup, hanya 2 gigi tersebut yang
menyediakan pemberhentian oklusi untuk mandibular. Semisal diberikan
tekanan sebesar 40 pounds, hanya 2 gigi tersebut yang menahan tekanannya.
Karena hanya sisi kanan yang ada kontak, posisi RB lama kelamaan akan
menjadi tidak stabil. Kondisi ini tidak memberikan stabilitas yang cukup agar
mandibular dapat berfungsi secara efisien.
5. Secara klinis, bagaimana gambaran dari oklusi dinamis?

1. Anterior guidance / canine guidance


Saat mandibular bergerak kekanan kiri dalam gerakan laterotrusive, hanya
gigi kaninus RA/RB yang berkontak secara bersamaan membuat gigi
posterior tidak berkontak lagi. Kondisi ini paling ideal dikarenakan gigi
kaninus adalah gigi yang paling ideal untuk menerima beban horizontal
saat dilakukan gerakan esentrik.

2. Group function guidance


Keadaan dimana saat dilakukan gerakan laterotrusive, gigi kaninus dan
gigi premolar berkontak. Kontak sampai gigi m2 dan m3 pada working
side masih dianggap sebagai group function
3. Anterior guidance
Saat mandibular bergerak kedepan menuju kontak protrusive, tekanan
horizontal yang merusak dapat mengenai gigi. Gigi anterior yang paling
baik untuk menerima tekanan tersebut dan menghilangkannya. Maka dari
itu, saat gerakan protrusive, gigi anterior sebaiknya berkontak bukan gigi
posterior.
Tema : Analisa Fungsional
SCAL B
1. Apa yang dimaksud dengan analisa fungsional?
Metode diagnosis disharmoni oklusal atau maloklusi yang menempatkan
penekanan yang tepat pada tujuan biologis dan fungsional ortodontik,
prosthetics, atau restoratif dari pada hanya pada tujuan anatomi atau
kosmetik. (JADA. Volume 39, Issue 4, October 1949, Pages 404-406. Functional
analysis of Occlusion. John R.ThompsonM.S., D.D.S., M.S.D.*F. Winston Craddock
Cert.Dent.(N.Z), M.S.D.†)

Ortodontik modern tidak hanya terbatas pada evaluasi statis gigi dan
struktur pendukungnya, tetapi juga mencakup semua unit fungsional dari
sistem pengunyahan (menurut Eschler, 1952), Le. Sistem stomatognatik.
Oleh karena itu, saat ini, analisis fungsional merupakan bagian penting
dari pemeriksaan klinis. Ini tidak hanya signifikan untuk evaluasi etiologi
maloklusi tetapi juga untuk menentukan jenis perawatan ortodontik yang
ditunjukkan. Rakosi. Page 123

2. Apa saja yang termasuk analisa fungsional?


 Pemeriksaan hubungan antara posisi istirahat dan intersuspasi
maksimum (pemeriksaan hubungan antara posisi istirahat – kebiasaan
oklusi),
 Pemeriksaan sendi temporomandibular,
 Pemeriksaan disfungsional orofasial. Rakosi. Page 123

3. Bagaimana pemeriksaan fungsional dari masing2 kelainan


Pemeriksaan Hubungan : posisi istirahat postural – kebiasaan oklusi

 Penentuan posisi istirahat postural


Otot orofasial harus santai.Pelatihan otot untuk menetukan posisi istirahat
postural bisa dilakukan dengan “Tapping Test” yang berfungsi untuk
membantu merilekskan oto-otot sebelum dilakukakn pemeriksaan
 Metode Fonetik
Pasien diminta untuk mengucapkan konsonan atau kata-kata
tertentu berulang-ulang “Mississippi”. Mandibula kembali ke
posisi istirahat postural 1-2 detik setelah latihan.
 Metode perintah
Pasien “diperintahkan” untuk melakukan fungsi yang di pilih
(missal : menelan) setelah itu mandibular kembali secara spontan
ke posisi istirahat.
 Metode tanpa perintah
Pasien terganggu (missal : dokter berbicara kepada pasien ) agar
tidak melihat jenis pemeriksaan yang dilakukan.Saat terganggu
pasien rileks,meyebabkan otot rileks dan mandibular ke posisi
istirahat postural.
 Metode Campuran
Paling cocok untuk anak-anak.pasien diamati ketika menelan dan
berbicara. Dalam kasus anak yang lebih besar “Tes ketuk”
dilakukan untuk mengendurkan otot-otot.

Teknik :
1. Postur kepala untuk menetukan posisi istirahat
Posisi istirahat fisiologis mandibula tergantung pada postur
kepala.oleh karena itu registrasi klinis harus dilakukan dalam
kondisi standard.posisi pasien harus santai,duduk tegak dan
menatap lurus ke depan.
2. Paduan manual mandibular saat melakukan “Tes
Ketukan”
Dagu diletakkan diantara ibu jari dan jari telunjuk,tujuannya
untuk pembukaan pasif dan gerakan mandibular dalam suksesi
cepat untuk mengendurkan otot pengunyahan sebelum
menentukan posisi istirahat. Verifikasi apakah otot-otot telah
santai dengan meraba otot submental.

3. Speculum posisi istirahat


Penentuan posisi mandibular menggunakan speculum posisi
istirahat,menurut A.M.Schwarz instrument ditempatkan secara
lateral diantara bibir untuk mengamati hubungan rahang
fungsional.pengalaman klinis menunjukkan penentuan posisi
istirahat fisiologis menjadi sulit menggunakan speculum
karena instrument mengganggu segel bibir dan seluruh
mekanisme reflex tonus istirahat.
b. Pemeriksaan Sendi temporo Mandibula
Tujuan utama pemeriksaan klinis ini adalah untuk menilai keparahan
dari clicking, rasa sakit, dan dysfunction , dimana itu merupakan
karakteristik pathologi gejala TMJ.

Clincal Eximination
Ketika auskultasi dilakukan dengan stetoskop, clicking dan krepitus
pada sendi dapat didiagnosis selama gerakan anteroposterior dan
eksentrik dari mandibula.
Sendi clicking dibedakan sebagai berikut: initial, menengah
(Intermediete), terminal, dan timbal balik (Reciprocal Clicking). Initial
Clicking adalah tanda dari kondilus retruded sehubungan dengn disc.
Clicking Intermediate adalah tanda ketidakrataan permukaan condylar
dan articular disc, yang saling bergeser selama gerakan. Clicking
terminal paling sering terjadi dan merupakan efek dari kondilus yang
bergerak terlalu jauh ke anterior, sehubungan dengan disc, pada
pembukaan rahang maksimum. Clicking resiprokal terjadi selama
pembukaan dan penutupan, dan menyatakan ketidaksesuaian antara
perpindahan kondilus dan disc. Clicking sendi jarang terjadi pada anak-
anak.

Palpasi sendi temiporomandibular selama manuver pembukaan akan


mengungkapkan kemungkinan rasa sakit pada tekanan daerah kondilus.
Selain itu kondilus kanan dan kiri dapat diperiksa untuk sinkronisasi
tindakan

Temuan klinis lokal dari sendi temporomandibular. Kompilasi


temuan patologis temporomandibular ont perlu dicatat dengan
analisis fungsional klinis.
 Auskultasi sendi temporomandibular
yang dibuat oleh temporomandibular sendi dapat dievaluasi dengan
stetoskop. Bahkan sedikit suara abnormal dapat didaftarkan. Juga
waktu clicking selama pembukaan dan penutupan harus dicatat:
Awal, menengah, akhir, atau timbal balik (resiprokal).

 Palpasi lateral sendi temporomandibular


Berikan sedikit tekanan pada proses condyloid dengan jari telunjuk
Palpate kedua belah pihak secara bersamaan. Daftarkan setiap
kelembutan ke pasipasi sendi dan segala penyimpangan dalam
pergerakan condylar selama pembukaan dan penutupan manuver.
Koordinasi aksi antara kepala condylar kiri dan kanan harus
diperiksa pada saat yang sama.
 Palpasi posterior sendi temporomandibular
Posisikan jari-jari kecil di meatus auditorius eksternal dan palpasi
permukaan posterior kondilus selama gerakan pembukaan dan
penutupan mandibula. Palpasi harus dilakukan sedemikian rupa
sehingga kondilus menggeser jari kelingking saat menutup oklusi
penuh

 Palpasi otot lateral pterigoid


Area proyeksi nyeri otot ptherygoid lateral teraba dengan
proklamasi dekat ke leher pada kondilus dan kapsul sendi. Secara
kranial di belakang tuberositas maksila. Pemeriksaan dilakukan
dengan mulut terbuka dan mandibula dipindahkan lateral. Pada
tahap awal disfungsi TMJ, otot sering sakit pada palpasi di satu sisi
saja. pada stadium lanjut, nyeri biasanya bilateral.
 Palpasi otot temporalis Otot temporalis diraba secara bilateral
dan ekstra
Bagian anterior, medial, dan posterior otot diperiksa secara
terpisah. Palpasi dilakukan saat otot berkontraksi secara isometrik.
Kiri: Tempel tendensi temporal pada proses koronoid di daerah
posterolateral vestibulum atas, teraba. Mulut pasien harus setengah
terbuka untuk pemeriksaan
 Palpasi otot masseter
Otot masseter superfisial teraba di bawah matanya, bagian dalam
lengkung zygomatik Bagian dalam teraba pada tingkat yang sama
kira-kira 2 janda jari di depan tragus. Kiri: Selama kontraksi otot
isometrik maksimum, lebar masseter superfisial dan arah
tarikannya dapat didaftarkan di sekitar sudut gonial. Penempelan
otot ini harus diperiksa untuk mengetahui adanya nyeri akibat
tekanan. Kadang-kadang titik pemicu dapat terjadi yang bisa sangat
menyakitkan.
 Merekam jarak interincisal maksimum
Pada pembukaan rahang maksimum, jarak antara tepi insisal
insisivus sentral atas dan bawah diukur dengan Boley Gauge. pada
overbite cames jumlah ini ditambahkan ke nilai yang dihilangkan
sedangkan pada open bite dikurangi. Luasnya bukaan rahang
maksimum antara tepi insisal biasanya 40-45 mm. Dalam kasus
dengan disfungsi TMJ, hipermobilitas terbuka terdaftar pada tahap
awal dan batasan pada tahap selanjutnya
 Membuka dan Menutup Gerakan Mandibula
Pergerakan pembukaan dan penutupan mandibula serta
protrusif, retrusif dan lateral diperiksa sebagai bagian dari analisis
fungsional. Ukuran dan arah tindakan ini dicatat selama
pemeriksaan klinis. Penyimpangan dalam kecepatan hanya dapat
didaftarkan dengan perangkat elektronik (mis. Kinesiograph).
Tanda-tanda pertama dari masalah sendi
temporomandibular awal termasuk penyimpangan jalur pembukaan
dan penutupan mandibula pada bidang sagital dan frontal. Pada
pasien dengan maloklusi dan gigi tidak selaras, distribusinya pada
gerakan mandibula adalah hasil dari pola kontraksi otot yang
asinkronik. Penyimpangan gerakan yang khas termasuk
inkonsistensi kurva pembukaan dan penutupan dan gerakan zigzag
yang tidak terkoordinasi. Jenis "C" dan "S"dari deviasi adalah
tanda-tanda khas gangguan fungsional.
Analisis oklusal pada artikulator sebagian besar tidak. Ini
hanya ditunjukkan pada pasien dengan gejala nyata penyakit sendi
temporomandibular.
Pemeriksaan Radiografi

Hanya dalam kasus tertentu pemeriksaan radiografi diindikasikan untuk


anak-anak dengan gangguan fungsional sendi temporomandibular.
Berbeda dengan orang dewasa, temuan radiografi patologis jarang terjadi
pada usia dini ini. Beberapa teknik radiografi yang diambil dalam oklusi
kebiasaan dan / atau dalam posisi open mouth, cocok untuk pemeriksaan
sendi temporomandibular (proyeksi posteroanterior menurut
Clementschitsch, radiografi menurut Schüller atau Parma, tomografi).
Saat menganalisis radiograf, temuan berikut didaftarkan: Posisi kondilus
sehubungan dengan fossa, lebar ruang sendi, perubahan bentuk dan
struktur kepala kondilus dan / atau fossa mandibula.

Pemeriksaan Disfungsi Orofasial


 Menelan
Penelanan pada dewasa normal terjadi tanpa menggerakkan otot-otot
ekspresi wajah. Gigi kontak sebentar dan lidah tetap berada di dalam
mulut (Gbr. 350). Menelan yang tidak normal disebabkan oleh dorongan
lidah, baik sebagai tindakan menyodorkan sederhana atau sebagai
"sindrom dorongan-lidah". Gejala-gejala berikut membedakan sindrom
ini:
1) Penonjolan ujung lidah,

2) Tidak ada kontak gigi dengan molar

3) Kontraksi otot-otot oral selama siklus deglutitional.


Selama beberapa tahun pertama, bayi menelan secara visual, gigi yaitu
dengan lidah di antara gigi. Ketika gigi sulung selesai, menelan
visceral secara bertahap digantikan oleh menelan somatik. Jika menelan
visceral bertahan setelah usia empat tahun, maka dianggap sebagai
disfungsi orofasial. Menelan infantil jarang ditemukan pada anak yang
lebih besar dan, bahkan jika itu terjadi, maka hanya sebagai jenis
campuran visceral / somatik menelan.
 Disfungsi Lidah
1. Pemeriksaan palatographic
Bahan impresi yang tepat diaplikasikan ke lidah pasien dengan spatula.
Setelah konsonan dilakukan atau gerakan lidah dilakukan (mis. menelan),
palatogram dapat didokumentasikan secara fotografis menggunakan
surface mirror (cermin permukaan)

a. Palatogram selama pelafalan “S”


Pelafalan yang akurat dari “S” selama artikulasi, mandibula sedikit
diturunkan dan didorong kedepan. Lidah bersandar pada gigi dan
prosesus alveolar, dan groove terbentuk di pusat melalui yang mana
melalui aliran udara diarahkan ke gigi incisivus sentral.

b. Stigmatism interdental (lisping)


Selama pelafalan bunyi “S”, lidah biasanya menonjol dan terlihat jelas
diantara gigi anterior.

c. Stigmatism palatal
Pengucapan abnormal ini disebabkan oleh suara friksi fisiologis antara
lidah dan palatum keras.
d. Stigmatism lateral
Disisi kiri, lidah bersandar pada gigi anterior. Kolom udara keluar
disisi kiri.

e. Stigmatism bilateral
Palatogram pada jenis ini dirunjukan denga artikulasi yang rusak pada
pasien dengan mikroglossia

f. Stigmatism akibat laterofleksi ke sisi kiri


Selama pembentukan huruf ”S” yang tidak akurat, ujung lidah
dinaikkan terlalu tinggi dan bersandar pada gigi seri atas. Ujung lidah
menyimpang ke kiri midline dan aliran udara ke lateral.
 Disfungsi Bibir
 Lip sucking
Temuan ekstraoral : bibir bawah berada dibelakang incisivus atas. Pada
banyak pasien, malposisi pada bibir terjadi bersamaan dengan
hiperaktifitas otot mentalis. Kanan : chepalogram lateral menunjukkan
bahwa disfungsi bibir bawah menyebabkan penonjolan lebih lanjut dari
gigi incisivus atas dan menghambat perkembangan prosesus alveolar
anterior bawah.

 Lip thrust
Dalam kasus ini, karakteristik lip thrust ditunjukkan pada sepertiga bagian
awah wajah dengan hiperaktivitas otot mentalis. Kanan : pada banyak
pasien, kebiasaan jenis bibir ini dikombinasikan dengan inklinasi lingual
terhadap gigi incisivus.

 Respirasi/pernafasan
Mirror test
Cermin diletakkan di depan kedua lubang hidung. Pada pernafasan hidung,
cermin akan mengabur dengan uap air kental selama ekspirasi.
Evaluasi otot alar

1. Respirasi nasal
Ukuran dan bentuk hidung eksternal pada saat hidung bernafas
selama inspirasi (kiri) dan ekspirasi (kanan). Perubahan yang sangat
mencolok pada penampang lubang hidung adalah tipikal untuk
pernafasan hidung.

2. Respirasi oronasal
penampang nares eksternal dengan pasien dengan respirasi oral
yang berlaku selama inhaling (kiri) dan ekshaling (kanan).

Referensi : Rakosi T,Jonas,Graber TM.Color Atlas of Dental Medicine


Orthodontic-Diagnosis Thieme Medical Publisher,1993,hal : 123-163
4. Apa manfaat diketahuinya kelainan fungsional
 Dapat menghindari Sebagian besar kebingungan tentang oklusi,
hubungan sentris, dan TMD adalah hasil dari informasi yang salah
tentang struktur artikulasi TMJ.
 Menghindari Kesalahpahaman yang paling umum menyangkut
kapasitas TMJ untuk menerima pemuatan tekan.
 Jika TMJ tidak stabil, oklusi tidak akan stabil, sehingga merupakan
risiko untuk melakukan perubahan oklusal tanpa mengetahui
kondisi TMJ.
 Juga sangat penting bahwa TMJ berada dalam kondisi stabil yang
dapat dipertahankan setiap kali ada perubahan yang dimaksudkan
pada oklusi. Dengan demikian analisis TMJ adalah bagian penting
dari proses pemeriksaan. Diagnosis dan klasifikasi kondisi struktur
intracapsular
 Dapat menentukan treatment (penatalaksanaan dan perawatan)
yang benar

Dawson PE. Functional Occlusion: From TMJ to Smile Design.


Elsevier Health Science, 2006. P : 42

5. Bagaimana gambaran klinis dari kelainan fungsional


1. Gambaran klinis Kelainan Fungsional
a. kerusakan kondilous – disc complex
 perpanjangan komplek kondilous muncul diakibatkan karena
kerusakan dari fungsi rotasi normal pada kondilous
 faktor etiologi yang paling umum biasanya diakibatkan terjadinya
trauma seperti pukulan ke rahang yang mengakibatkan
pemanjangan ligamen
 ada 3 jenis gangguan dari komplek disc- condyle ;
a. perpindahan disk dengan reduksi
b. perpindahan disk dengan penguncian intermiten
c. perpindahan disk tanpa pegunrangan
 jika lamina retrodiscal inferior dan ligamen distal collateral
memanjang maka disk dapat diposisikan lebih ke anterior
B. ketidakcocokan struktural permukaan artikular
• Permukaan artikular yang tidak kompatibel secara struktural dapat
mentebabkan beberapa gangguan
• Faktor etiologi yang umum terjadi adalah macrotrauma seperti
pukulan ke rahang dengan gigi bersamaan sehingga menyebabkan
pembebanan dari arrteri artikular wajah sehingga menyebabkan
perubahan pada permukaan sendi ,dan akan menyebabkan ratanya
kondilous atau fossa dan termasuk juga penipisan dan perforasi

c. gangguan peradangan sendi


• Gangguan peradangan pada TMJ ditandai dengan rasa sakit yang
terjadi secara bersinambung, karena rasa sakit itu terus menerus
sehngga dapat menghasilkan dapat menghasilkan efek rangsangan
sekunder . ini biasanya muncul sebagai nyeri yang disebut,
sensitivitas yang berlebihan untuk disentuh( allodynia)
• Trauma juga dapat timbul dari mulut terbuka lebar , tindakan atau
gerakan kasar terkadang peradangan juga bisa terjadi menyebar
dari struktur yang berdekatan.
• karakteristik klinis : ligament kapsular dapaf diraba dengan jari di
atas lateral kondilus

6. Apa kaitannya kelainan fungsional dengan tumbuh kembang


 Kelainan fungsional terhadap facial midline pada wajah secara
garis vertical.

 Gangguan tumbuh kembang pada gigi (rotasi dan sliding)


 Maloklusi
 Kelainan pertumbuhan mandibula.
 Kelainan pernapasan
 Kelainan postur badan

7. Apa kaitannya kelainan fungsional terhadap kelainan sitem


stomatognati?
Kelainan fungsional dapat mempengaruhi sistem stomatognati.

 TMD (Temporomandibular Disorders)


Kelainan yang dapat menyebabkan gangguan fungsi rahang.
Gangguan ini umumnya dianggap sebagai ketidakharmonisan
oklusal.
 Otot – otot pengunyahan
Kondisi oklusal dapat mempengaruhi fungsi otot pengunyahan,
dimana terkait dengan parafungsi mandibula. Misalnya : bruxism,
kebiasaan mengunyah satu sisi.
Okeson JP. Management of Temporomandibular Disorder and
Occlusion 7th ed. Missouri, Mosby. 2013. Page : 102

8. Apa kaitannya kelainan fungsional terghadap gangguan oklusi


Masalah penting yang harus dipertimbangkan adalah salah satu faktor
etiologis yang terkait dengan TMD yaitu kondisi oklusal pasien (gangguan
oklusal). Kondisi oklusal dapat mempengaruhi fungsi otot pengunyahan.

Hubungan oklusal yang baik dan stabilitas adalah dasar dari


keberhasilan fungsi pengunyahan. Mencapai stabilitas oklusal yang baik
harus selalu menjadi tujuan utama dokter gigi yang terapinya akan
mengubah kondisi oklusal. Namun peran oklusi sebagai faktor etiologis
pada TMD tidak sama pada semua pasien. Bagian ini berupaya
mengekstrapolasi dan mengasimilasi informasi dari dokumentasi
penelitian yang tersedia mengenai hubungan ini. Faktor oklusal tentu
bukan satu-satunya faktor etiologi yang dapat berkontribusi terhadap
TMD. Empat faktor etiologi utama lainnya yaitu trauma, stres emosional,
nyeri yang dalam, dan parafungsi.
Singkatnya, kondisi oklusal dapat mempengaruhi TMD melalui dua
mekanisme.
 Satu mekanisme berkaitan dengan pengenalan perubahan akut pada
kondisi oklusal. Meskipun perubahan akut dapat menciptakan
respons ko-kontraksi otot protektif, yang mengarah ke kondisi
nyeri otot, paling sering otot-otot baru dikembangkan dan pasien
beradaptasi dengan sedikit konsekuensi.
 Cara kedua di mana kondisi oklusal dapat mempengaruhi
gangguan TM adalah dengan adanya ketidakstabilan ortopedi.
Okeson JP. Management of Temporomandibular Disorder and
Occlusion 7th ed. Missouri, Mosby. 2013. Page : 116
9. Bagaimana melakukan perawatan dari masing-masing kelainan
fungsional
Analisis fungsional saat ini memiankan peran penting pada pemeriksan
klinis. Tidak hanya siignifikan untuk menentukan etiologi dari maloklusi,
tapi juga untuk menentukan tipe perawatan orthodontic yang
diindikasikan.

3 aspek penting dalam analisis fungsional ortho :

1. Pemeriksaan posisi istirahata postural dan maksimum interkupasi


2. Pemeriksaan TMJ
3. Pemriksaan disfungsi orofasial

Mandibula dalam keadaan istirahat  sinergis dan antagonis dari sistem


orofasial ada pada tonus dasar dan seimbang secara dinamis.

Posisi istirahat diperiksa dengan keadaan pasien yang relax dan duduk
tegak. Kepala diposisikan dengan pasien diminta melihat lurus ke depan
posisi habitula). Atau bisa posisikan kepala pasien bidang frakfortnya
sejajar lantai.

Penentuan Posisi istirahat postural

Mandibula dalam posisi ini, biasanya 2-3 mmdi bawah dan di belakang
oklusi sentrik (dicatat pada area kaninus)

Ruang antar gigi ketika mandibula istirahat  freeway space atau


interocclusal clearance

4 metode menentukan posisi istirahat postural mandible pada pemeriksaan


klinis:

-Phonetic method : pasien diminta melafalkan beberapa konsonan.


Seperti huruf m atau kata mississippi. 1-2 detik setelah mengucapkan itu,
biasanya mencapai posisi istirahat postural
-command method : pasien diminta fungsi pilihan misalnya menelan.
Mandibula setelah itu akan secara spontan menuju posisi istirhat postural

-non command method : pasien di ditraksi, dengan cara dokter mengajak


bicara. Sambil dilihat ketika pasien relax, musculatur relax juga

-combined method : bagus buat anak anak. Diminta menelan, lalu tipping
test, lalu distraksi.

Pemeriksaan TMJ

 Dislokasi
 Hipermobiliti
 Limitation
 Deviase
 disfungsi orofasial

Perawatan Definitiv

Bertujuan secara langsung untuk engeliminasi faktor yang menjadi


etiologi dari terjadinya disorder. Karena ini langsung kepada etioogi nya,
maka diagnosis yang tepat angatlah penting. Disorder
temporomandibular terjadi ketika keadaan normalnya terganggu oleh
suatu peristiwa, peristiwa inilah etiologinya. Peristiwa yang biasanya
terjadi : lokal trauma dan meningkatnya stres emosional.

Definitiv terapi berdasarkan faktor oklusal

Terapi oklusal menjadi pertimbangan untuk yang ditujukan langsung


untuk mengubah posisi mandibula dan pola kontak oklusal pada gigi. Ada
dua tipe : reversible dan irreversible

- Reversible Occlusal Therapy :

Mengubah kondisi oklusal pasien hanya sementara, baik diseesaikan


dengan menggubakan alat oklusal. Ini merupakan perangkat akrilik yang
dikenakan pada gigi pada satu lengkung yang memiliki permukaan
berlawanan, yang akan menciptakan dan mengubah posisi mandibula dan
pola kontak gigi

- Irreversible Occlusal Therapy :

Merupakan perawatan yang secara permanen mengubah posisi oklusi dan


posisi mandibula. Contohnya selektif grinding dan restorativ prosedur
yang memodifikasi kondisi oklusil. Contoh lain adalah terapi ortodontik
dan prosedur bedah. Ada juga alat yang di desain untuk mengubah
pertumbahan dan reposisi permanen mandibula.

Definitiv terapi berdasarkan faktor stres emosional

Peningkatan stres emosional dapat memengaruhi fungsi otot dengan


meningkatkan aktivitas resting (protective co-contractive), meningkatkan
bruxisme. Dapat juga berpengaruh mengaktifkan sistem saraf simpatetik,
yang hal tersebut dapat menjadi sumber sakit otot. Aktivasi sistem saraf
autonomik juga berhubungan dengan disorder psikofisiologis lain yang
biasanya berhubngan dengan disorder temporomandibular, sperti irritable
bowel syndrome, premenstrual syndrome, interstitial cystitis,
fibromyalgia.
Terait psikologis pasien, konsul ke terapisnya.

Tipe terapi emosional :


- Edukasi dan training awarness kogntif
- Batasi penggunaan
o Pasien diinstruksikan untuk memfungsikan temporomandibular
tidak sakit, bilang : kalau sakit jangan lakukan. Artinya pasien
minta muali mengganti makanan menjadi yang lebih lembut,
makan sedikit sedikit, dan mengunyah pelan-pelan
- Penghindaran sukarela
o Pasien diinstrusikan apabila ada kontak gigi selain ketika
mengunyah, menelan dna berbicara, maka harus
dilepaskan/dihindari. Kemudia oral habits lain sperti cheek biting,
ngunyah es batu, ngapit gagang telepon pake mandibula ke bahu,
ngunyah permen karet, dan lain lain juga harsu dihentikan.
o Contoh lain misalnya stres emosional salah satunya karena sering
macet dijalan, maka besok-besok harus cari rute lain. Pokoknya
menghindari etiologinya.
- Terapi relaksasi

Definitive terapi berdasarkan faktor trauma


Dapat terjadi dalam 2 bentuk : macrotrauma dan microtrauma.
Makrotrauma contohnya kecelakaan olahraga dn kecelakaan motor.
Pada kasus ini terapi definitif hanya berpengaruh kecil. Sekali kena trauma
makrotrauma, terapi nya terapi supportive. Yang bisa dilakukan adalah
sebelum terjadi makrotrauma, lakuakna pencegahan, misalnya ketika
olahraga menggunakan pelindung.
Mikrotrauma lebih ke trauma kecil yang dilakukan berulang ulang
dalam periode waktu yang lama. Contoh bruxisme dan menggeretak gretak
gigi. Pada kasus ini definitif terapi bertujuan meningkatkan hubungan baik
condyle-disc. Bisa menggubakan alat oklusal.

Definitiv terapi berdasarkan deep pain input


Dentist harus dapat mengevaluasi secara keseluruhan, apabila
pasien engeluhkan sakit di bagian wajah apakah TMD atau bukan. Karena
area kepala leher merupakan area yang sangat kompleks. Aka keberhasilan
sangat ditentukan dari keberhasilan pemeriksaan dan diagnosis

Defintiv terapi berdasarkan aktivitas parafungsional


Aktivitas parafungsional ini banyak macamnya, namun biasanya
yang sering ditemui adalah bruksisme dan menggretak gigi (clenching).
Harus di edukasikan kepada pasien bahwa kontak gigi itu hanya terjadi
pada saat mengunyah, menelan, dan berbicara. Selama waktu selain itu,
mandibula diposisikan terpisah dri gigi.
Perawatan Supportive
Terapi ini ditujukan langsung untuk mengubah simptom yang dirasakan
pasien, dan tidak ada hubungannya dengan mengubah etiologi. Harus
diingat terpai supportiv ini Cuma ke simptomatic nya aja, tapi tidak dapat
menggantikan terapi definitif. Ada dua bentuk : terapi farmakologi dan
terapi fisik.
Kelas biasa pada terapi farmakologi dalam manajemen TMD adalah
analgesik,antiinflamatory, relaksasi otot, anxiolytics, antidepressants,
anticonvulsives, injectables,and topicals.
Terapi fisik dpat dibagi menjadi beberapa tipe : thermotherapy,
coolant therapy, ultrasound, phonophoresis, iontophoresis,electrogalvanic
stimulation therapy, transcutaneous
electrical nerve stimulation, and laser.
(Jeffrey P. Okeson. Management of Temporomandibulr Diorder and
Occlusion)